Anda di halaman 1dari 234
CT RORY Ryn MATARAM » SS = Lin Tenet ateatye kan bagian ke-2 riwayat Mangkurat I yang meme- Se eter ST a oo matian Sultan Agung, se- re ramen test aL eare omen a ae di dalam Istana dan an dalam negeri ker: yang menyebabkan Mar urat I terpaksa menir galkan Ibu Kota. Kedudu- Pea Ma raetey ang terus menciut, Pale ois iy saree er ed arr) dari luar, pemberontakan dari dalam, dan tidak kurang pentingnya peri laku putra mahkota yang kacau. Kendati mendapat bantuan dari VOC, akhir- nya serangan Trunajaya dan sekutunya tidak terben- dung. Dalam suasana anarki dan panik, { sudah jompo meninggalkan kediamann De meee Cetht tm Hermanus Johannes de Graaf (1899~19| pertama kalinya mengenal sejarah Indone| COC os eu a cute a Colenbrander, Koloniale Geschiedeni: | jana sejarah Universitas Leiden, Negeri Bd Deen ou Spr me carer | tahun kemudian ia kembali ke alma materf ECO UML eC URE ME Team) \pembiinuhan Kapten Tack di istana ‘Pernah mengajar pada Universitas Iago! Universitas Leiden, De Graaf, yang p, Ere started Rae renee eta Carle CC CCT CREM Te ta. Seeey RUM TUHNYA _(STANA MATARAM SERI TERJEMAHAN JAVANOLOGI Hasil Kerja Sama Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara dengan Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal—,Land— en Volkenkunde 6 RUNTUHNYA ISTANA MATARAM Oleh: DR.H.J. DE GRAAF KAN DAD << Gan Snes * = z ‘ ‘ e Perpustakaan‘ Nasional: katalog dalam terbitan GRAAF, H.J. de (Hermanus Johannes), 1899-1984 Runtuhnya Istana Mataram/oleh H:J. de Graaf; terjemahan ; Cet. | ; Jakarta: Pustaka Utama Grafiti 1987. 5 4 vi, 221 hal.; 21. cm. — (Seri terjemahan Javanologi; no. 6). * Judul asli: De. regering van Sunan Mangkurat | Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677. Il. Opstand en Ondergang .. ISBN 979-444-036-1 1. Indonesia - Sejarah - Jaman kuno - Mataram |. Judul. I. Seri 959.8. RUNTUHNYAISTANA MATARAM H.J.de Graaf Dari judul asli De Regering van Sunan Mangkurat | Tegal-Wangi, Vorst van Mataram, 1646-1677. Il. Opstand en Ondergang Diterbitkan sebagai No. 39 seri Verhandelingen van het KITLV © 1962, KITLY, Leiden Terjemahan bahasa Indonesia: Pustaka Utama Grafiti dan KITLV No. 070/87 al Kulit Muka: Edi RM Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti Kelapa Gading Boulevard TN—2 No. 14-15 Perumahan Kelapa Gading Permai Jakarta 14240 Anggota Ikapi Cetakan Pertama, 1987 Percetakan PT Temprint, Jakarta angkurat I telah mengalami mimpi-mimpi terburuk pada masa akhir kekuasaannya. Hanya dalam beberapa tahun saja sebelum ia tutup usia sebagai pelarian, pengaruhnya meluncur cepat ke titik nadir. Disintegrasi yang tidak terhindarkan toh ia usahakan membendungnya dengan cara penyingkiran pejabat tertentu seraya melaku- kan promosi untuk tokoh-tokoh yang dianggapnya mudah dikendalikan. Akan tetapi potensi pembangkangan yang menjurus pada pemberontakan terjadi juga. Yang memprakarsai, kalau ditelusuri, sebenarnya terhitung kerabat istana juga, tetapi faktor sejarah telah mempengaruhi loyalitas para bawahan tersebut. Paling tidak kekuasaan Mataram terancam dari empat penjuru, yang tidak selalu bersamaan. Dalam proses politik, seperti lazimnya, koalisi-koalisi terjadi sesuai dengan situasi. VOC dengan kepentingan dagangnya yang ditunjang militer berperalatan lebih canggih banyak mengendurkan pengaruh Mataram di daerah pesisir. Sementara itu, pelarian politik dan petualang Makassar ering membuat penguasa lokal tidak berdaya. Dari Madura Raden Trunajaya terus mengkonsolidasikan pasukannya dan kemudian merebut beberapa daerah di Jawa Timur, terutama Surabaya. Di wilayah Kediri basis Pangeran Kajoran dengan pasukan Islamnya semakin kuat. Dan pada puncaknya, manuver VOC ke Surabaya dan Madura demi menghabisi basis pertahanan Trunajaya terhenti tiba-tiba. Pasukan Pangeran Kajoran dan pasukan Madura berhasil menusuk Mataram setelah melakukan semacam long march dari Kediri. Pembelotan beberapa penggede Mataram menuntaskan kejatuhan Plered. VOC terperangah. Logika militer Speelman ternyata tidak klop dengan apa yang terjadi. Bagaimana mungkin ribuan pasukan Mataram tidak mampu menahan serangan pemberontak? Dan mengapa Sunan memilih mengungsi daripada bertempur habis-habisan? Bahkan ia pun tidak mendelegasikan kekuasaannya kepada putra mahkota Pangeran Adipati Anom untuk menyelamatkan keraton! Boleh jadi inilah logika kekuasaan khas Jawa: bahwa pusat kekuasaan pada dasarnya tidak diwariskan dan tidak perlu diperta- hankan bila tanda-tanda kepergiannya sudah tampak. Jatubnya istana Mataram dan disusul mangkatnya Mangkurat { bukanlah berarti tahta Mataram tidak berlanjut. Tetapi Mataram memang kian lemah sehingga dalam batas tertentu kemandiriannya pudar. VOC, yang semakin kuat, lebih banyak "menentukan’. Titik ini dapat dikatakan sebagai awal masa “keterbukaan” budaya keraton Jawa dan sekaligus merupakan tonggak peralihan yang penting dalam sejarah Jawa. Dapatkah bersandarnya eksistensi Mataram kepada VOC ini dianggap sebagai permulaan zaman penjajahan yang sebenamya? Wallahualam. Jakarta, Agustus 1987 Daftar Isi Pendahuluan BAB I 7 Masa Muda Putra Mahkota ( Q ee-qlanest D) BAB Il Komplotan dengan Pangeran Purbaya BAB Ill Kejengkelan Putra Mahkota BAB IV Putra Mahkota Mencari Dukungan Raden Kajoran, 1670 @) BAB V Persekutuan dengan Raden Trunajaya 1670 49 BAB VI Raden Trunajaya Menetap di Madura, 1670-1671 58 BAB VII Orang-Orang Makassar Pengembara 1670—1674 66 BAB VIII Orang Makassar Diburu 1674—1675 BAB IX Tindakan Makassar yang Pertama Terhadap Jawa 1674-1676 BAB X Jawa dan Belanda Melawan Makassar April—September 1676 96 BAB XI Pengkhianatan dan Kekalahan Putra Mahkota Juli—Oktober 1676 120 BAB XII Kemenangan Madura 135 BAB XIII Penyeberangan Raden Kajoran dan Pertahanan Terhadap Serangannya BAB XIV Speelman di Jepara Januari—Maret 1677 BAB XV Speelman di Surabaya April—Juli 1677 BAB XVI Serangan Besar-besaran atas Mataram April—Juni 1677 BAB XVII Lari dan Mangkat Tegalwangi Juni—Juli 1677 Pendahuluan engan jilid ini rangkaian riwayat hidup ‘raja-raja Jawa untuk sementara diakhiri. Mungkin masih akan ada kesempatan untuk mendahuluinya dengan suatu tinjauan mengenai Kerajaan Demak: Dalam tulisan ini pun akan dapat diperbaiki beberapa hal yang tidak tepat, yang telah terselip di dalam uraian tentang riwayat hidup Senapati dan Sultan Agung. Jika jilid pertama riwayat hidup Mangkurat, kecuali mengenai tahun-tahun pertama pemerintahannya, terutama mengemukakan perhatiannya kepada hubungan raja ini dengan tetangga-tetangganya, di antaranya VOC Belanda yang memainkan peranan terbesar, maka jilid ini terutama menguraikan kejadian-kejadian dalam negeri Kerajaan Mataram. Di luar dugaan kejadian- kejadian ini dengan cepat sekali menyebabkan keruntuhan Mataram karena pemberontakan di dalam negeri dan kekerasan dari luar negeri. Sementara itu, Kompeni yang semula merupakan lawan kemudian menjadi pelindungdinasti, sehingga pada akhir kisah ini sang putra Raja yang terusir dari Keraton, karena putus asa, lalu merangkul Batavia. Dengan ini ditetapkanlah garis kebijaksana- an politik Mataram selama berabad-abad. Oleh karena itu, saya kira pada tempatnyalah kisah ini berhenti di sini. Mengenai sumber-sumber yanghampir seluruhnya berasal dari sumber Belanda, serta penggunaannya, kiranya dipersilakan memperhatikan pendahuluan jilid pertama riwayat hidup ini. Dalam penyusunan jilid ini saya mendapat bantuan dari Dr. Th. Pigeaud, yang bersedia membaca naskahnya sekali lagi dengan teliti, seperti juga naskah jilid pertama, yang dibubuhi catatan penting. Dr. J. Noorduyn bersedia memberikan tuntunan dalam menelaah silsilah Makassar yang berbelit-belit dan belum saya kenal sehingga dapat dihindarkan © terjadinya salah pengertian. 1 Kepada kedua tokoh itu saya sampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya. Masa Muda Putra Mahkota 1-1 Masa muda putra mahkota sampai tahun 1659 bu putra mahkota yang kemudian menjadi Mangkurat II adalah putri Pangeran Pekik dari Surabaya. Put~ “‘u terkenal sebagai Kanjeng Ratu Pangayun, yang kemudian menjadi Katu Kulon, tetapi akhirnya, setelah meninggal, dinamakan Ratu_Ageng. la meninggal tidak lama setelah lahirnya putra mahkota itu (Sadjarah Dalem, generasi 135, 1), ketika bayi itu baru berumur 40 hari (Jonge, Opkomst, jil. VIL, hlm. 190). Karena pada waktu Ratu Kulon meninggal, makam kerajaan belum selesai dibangun, ratu itu dikebumikan di Girilaya. Seperti diketahui (Graaf, Sultan Agung, him. 221), putra mahkota ini ialah putra ketiga. Pangeran muda ini bernama Raden Mas Rahmat. Apakah ia diberi nama Raden Rahmat karena meniru nama tokoh keramat dari Ngam| nta, Surabaya, yang amat disegani oleh keluarga ibunya? Paparab pangeran tersebut ialah Raden Mas Kuning. Dalam sumber-sumber Belanda dari masa itu terdapat juga nama-nama lain seperti Pangeran Mas atau "prince des Rijcx” (Goens, "Reijsbeschrijving”, hlm. 122, 153; Daghregister, 4 April 1661); pada tahun 1659 ia dinamakan Pangeran Anom (Daghregister, 12 Juli 1659), dua tahun kemudian Pangeran Adipati (Daghregister, 12 September 1661). Tatkala itu sudah menjadi kebiasaan bahwa seorang pangeran muda setelah 40 hari berada di luar keraton, selanjutnya mendapat pendidikan tersendiri (Verslag Verspreet dalam K.A. No. 1158, hlm. 1441). Ada alasan untuk membenarkan bahwa para pendidik sang putra mahkota itu adalah keluarga ibunya yang sudah meninggal itu. Pada tahun 1652, ketika putra mahkota telah mencapai usia untuk berumah tangga, ada rencana untuk mengawinkannya dengan putri Sultan 7 Banten. Rencana ini akan merupakan pengesahan kerja sama yang diusahakan antara kedua negara Muslim itu. Tetapi ada suatu keberatan penting yang menjadi rintangan, yakni tuntutan Mataram agar Banten mengirimkan salah seorang anaknya atau keluarga dekatnya ke Istana Mataram. Syarat seperti itu pemnah diajukan oleh Mataram kepada Cirebon dan telah terlaksana pula. Para Penguasa Cirebon harus bermukim di ibu kota Mataram sebagai tanda bahwa mereka benar-benar termasuk hamba kerajaan (Goens, “Reijsbeschrijving”, hlm. 122). Tetapi tidak pernah seorang keluarga Kerajaan Banten bersedia tinggal di Mataram, sehingga perkawinan yang direncanakan itu batal. Pada tahun berikutnya ada berita tentang rencana perkawinan dengan Cirebon. Sebelum tanggal 2 April tahun 1653 Residen Barent Volsch mendapat berita bahwa Sunan sudah pasti akan mengawinkan putranya dengan putri raja Cirebon (Daghregister, 13 April 1653). Volsch khawatir akan mengeluarkan biaya, karena akan diundang untuk menghadiri pesta perkawinan itu. Pada akhir bulan itu masalah perkawinan belum selesai sehingga kedua belah pihak mungkin harus berpisah tanpa mencapai kata sepakat (Daghregister, 6 Mei 1653). Tetapi perundingan berjalan terus. Putri Sunan juga dalam waktu 12 hari akan kawin dengan putra raja Cirebon, karena sedang diadakan persiapan secara besar-besaran, demikian diberitakan empat bulan kemudian dari Banten, yang rupanya telah memutarbalikkan kejadian yang sebenarnya (Daghregister, 8 September 1653). Tetapi tidak ada hasilnya. Pada tanggal 6 Oktober 1653 dilaporkan oleh utusan Van Goens tentang pembatalan rencana perkawinan itu (Goens, “Reijsbeschrijving”, hlm. 153). Alasannya ialah bahwa Pangeran menganggap putri Cirebon asal keturunannya‘terlalu rendah. Suatu penilaian yang mengherankan, karena tertuju kepada seorang ket wali yang termasyhur. Cerita tutur memberikan gambaran yang lebih gamblang tentang kegagalan ini (Babad BP, jil. X, hlm. 18~ 19; Meinsma, Babad, hlm. 156; Serat Kandha, hlm. 979-991). Dalam cerita itu dikisahkan bagaimana Raja memanggil putranya Tumeng- gung Adipati Anom dan mengirimkannya ke dalem Adipati Cirebon, yang pada waktu itu mempunyai seorang putri yang cerdas, yang cocok sekali untuk menjadi menantu raja. Seyogyanya melihatnya dahulu (nontoni, Jawa). Kalau wanita itu berkenan di hati, maka putri itu akan diterima dalam Keraton oleh Raja. Maka, pergilah putra mahkota ke dalem Adipati Cirebon. Adipati Cirebon pun segera menangkap maksud kunjungan itu. Karena itu, ia menyuruh putrinya menyajikan sirih kepada putra mahkota. Pemuda ini melihat bahwa gadis itu memang cantik sekali, tetapi agak pemarah; ia khawatir gadis itu pada suatu waktu dapat bersikap kasar. Makin lama ia duduk di sana, makin berkurang gairahnya memandang gadis itu. Karena itu, sekembalinya dari Cirebon dengan terus terang dikatakannya kepada ayahnya, bahwa ia tidak 4 setuju dengan gadis Cirebon itu. Sudah tentu sangat mungkin bahwa menurut pandangan cerita tutur, perasaan tidak senang putra mahkota itulah yang akhirnya menentukan. Maka, orang pun memikirkan suatu ikatan perkawinan dengan Banten. Misalnya dengan kemanakan Sultan, karena putri Sultan waktu itu sudah kawin. Semula putri itulah yang ditawarkan, tetapi ditolak; hal itu kemudian amat disayangkan. Baru pada tahun 1656 diperoleh berita bahwa juga usaha kedua untuk mengadakan ikatan dengan Kerajaan Banten ini berakhir dengan kegagalan (Daghregister, 7 Desember 1656). Selanjutnya dicarilah wanita-wanita cantik di mana-mana, menurut Tumenggung Pati hanya 100 orang, tetapi menurut desas-desus, 2.000 orang wanita. Sunan menginginkan menantu dari bawahannya sendiri. Siapakah yang akhirnya terpilih tidak pernah diketahui, karena tentang hal ini Sadjarah Dalem dengan sengaja tidak memuat berita, dan cerita tutur pun tidak banyak memberi keterangan Perkawinan itu dilangsungkan awal tahun 1657; hal itu juga dinyatakan sumber berikut. Baik Babad Sangkala maupun Babad Momana menyebut terjadinya perkawinan putra mahkota dengan Rara Oyi, putri Mangunjaya, yang kebenarannya sangat diragukan, masing-masing tahun 1579 J. dan 1578 J., yang dimulai tanggal 9 Oktober 1657 dan 20 Oktober 1656. Mungkinkah suatu bilangan tahun yang benar karena suatu fakta yang tidak benar dapat ditelusuri, dan bahwa sekitar tahun 1657 bukannya perkawinan berdasarkan percintaan bebas dengan Rara Oyi, yang terjadi tetapi perkawinan resmi dengan seorang wanita cantik yang sayangnya tidak ‘dikenal? Apakah dari perkawinan ini lahir seorang putra yang pada tahun 1668 sudah cukup besar untuk mendapat perhatian utusan Belanda Verspreet untuk diberi hadiah tersendiri? Tidak mungkinlah anak ini adalah Mangkurat Mas alias pun Kencet, karena Valentijn menyatakan sekitar tahun 1670 sebagai tanggal kelahirannya (Valentijn, Oud en Nieuw, jil. IV, hlm. 146). Pada tahun 1678 (23 Maret) Sunan Mangkurat Il hanya mempunyai seorang putra dan seorang putri, keduanya dari seorang wanita tunggal. Putranya. Raden Mas, berusia empat atau lima tahun dan "sering dan hampir selalu sakit” (Speelman kepada H.R. dalam Jonge, Opkomst, jil VII, him. 185 dan berikutnya, ditambah dari R.A.). Anak ini tentunya bisa saja yang disebut Valentijn Mangkurat Mas. Putrinya, Ratu Woh, meninggal dalam perjalanan di masa perang tahun 1678, sekitar pertengahan bulan September (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 222). Ibu anak-anak itu bahkan lebih hidup dari suaminya. Anak yang diberi hadiah oleh Verspreet itu mestinya sudah meninggal sebelum tahun 1678, mungkin sudah sebelum jatuhnya Keraton Mataram. + Sering disebut bahwa Putra Mahkota itu suka bermain cinta. Dalam tahun o Mi cee 1670 ia dikatakan setiap malam "keluyuran dan memperkosa wanita dan gadis muda” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 185). Lebih dari tiga tahun kemudian Jacob Couper membandingkannya dengan kakaknya, Pangeran Singasari, "yang merupakan pangeran sejati yang dicintai seluruh bangsa Jawa.” Sebaliknya, Pangeran Adipati Anom, karena "keroyal- annya, menyebabkan para pembesar dan rakyat kecil amat membencinya ..., bahkan para pembesar istana pun pantang mempunyai istri cantik, karena tentulah selama lima atau enam hari dimintanya dan digaulinya, barulah dikembalikannya kepada suaminya” (Japara, 21 September 1673, K.A. No. 1185). Sekalipun dari kehancuran Keraton Raja masih dapat menyelamatkan dua orang permaisuri dan enam orang selirnya Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 145), istri dan anak perempuan para bawahannya bahkan anak-anak perempuan Cina yang cantik-cantik tidak aman baginya. Semua itu membuat dirinya tidak populer di tempatnya di Jepara. Speelman, sekalipun di depan Pemerintah Tinggi membela Raja, menganggapnya "sudah tenggelam dalam nafsu berahinya”, dan mengkhawatirkan bahwa nanti setelah pemulihan tahtanya "ia akan menjadi lebih ganas dan lebih tidak terkekang lagi daripada sebelumnya, dan masih agak bisa menahan diri karena wibawa ayahnya.” Untuk melegakan hati orang-orang yang dekat dengannya, karena itu Speelman berbicara dengan Raja, baik secara empat mata maupun secara terbuka. Bagi orang Jawa cara yang tersebut belakangan itu merupakan hal yang tidak mudah dilakukan (Instruksi untuk Saint-Martin, tanggal 23 Maret 1677, Ms. RA). I-—2 Mangkatnya Pangeran Pekik. Awal tahun 1659 Dari sumber-sumber Belanda yang tidak dapat dibantah kebenarannya ternyata Sunan Mangkurat I telah memerintahkan menghukum mati bapak mertuanya, Pangeran Pekik, bersama banyak anggota keluarganya pada awal tahun 1659. Pada tanggal 7 Maret 1659 (Daghregister) orang-orang Jawa memberitakan dari sebuah kapal yang dikirimkan kepala daerah Jepara ke Batavia, bahwa Sunan “telah menyuruh bunuh dengan keris Pangeran Surabaya, putra sulung pamannya, dan orang terpercaya di Kerajaan, juga bapak mertua dan iparnya, dan juga kakak perempuannya dan anak perempuannya yang dikawininya, beserta tujuh orang putra-putranya di Mataram.” Menurut cerita tutur, Pangeran Pekik dari Surabaya yang dihukum mati itu memang benar bapak mertua Mangkurat | Tegalwangi. Sedangkan, karena perkawinannya dengan saudara perempuan Sultan Agung, ia menjadi ipar dan paman karena perkawinan putranya dan penggantinya. Tampaklah bahwa telah terjadi kekacauan dalam penggambaran Belanda mengenai hubungan ganda keluarga rangkap Pangeran Pekik dengan Kerajaan Mataram. Mengenai alasan pembunuhan itu tiada terdapat kepastian, karena di sini sebagian naskah hilang. Dan selanjutnya "... tetapi akan menyeret banyak orang lainnya.” Mungkin yang dimaksudkan di sini akibat dahsyat pembunuh- an itu. Setelah terjadinya kejahatan itu, tiga dari empat orang penguasa pesisir diperintahkan Sunan agar pergi ke Surabaya mengamankan semua anggota lainnya keluarga pangeran yang malang itu, mencatat harta bendanya dan Kemudian membawa mereka ke Mataram. Pembunuhan itu rupanya dilakukan di depan mata atau di dekat mereka. Bahwa seorang di antara Keempat penguasa pesisir tidak dikirimkan, hal ini mengikuti kebiasaan sebelumnya (bandingkan Graaf, "Vlucht”,, jil. I, hlm. 112). Jelas ternyata balas dendam Raja tidak segera dapat terpuaskan. Dari sebuah surat Residen Evert Michielsen tanggal 13 April 1659 diperoleh beberapa keterangan lagi (Daghregister, 26 April 1659). Pembunuhan itu terjadi pada tanggal 21 Februari 1659. Selain pangeran itu, juga dua orang kakaknya, seorang putranya, dua kemanakannya dan 60 orang di antara para panglimanya yang terpenting terbunuh. "Sebabnya . .. menurut desas-desus, karena mereka mau membunuh Sunan dan seseorang telah disogok dengan janji akan diberi kedudukan dan ang jika mau membunuh Sunan dan untuk itu diberikan kepada orang tersebut, pakaian dan keris, dan karena itulah rencana jahat itu bocor.” Pangeran yang tua itu memang dipersalahkan telah melakukan kejahatan yang berat: percobaan pembunuhan terhadap raja yang sedang memerintah, merencanakannya dengan orang lain yang diberi hadiah. Seperti kita lihat nanti, di dalam cerita tutur memang terdapat jejak-jejak rencana seperti itu. Dengan tidak kurang 600 (?) perahu besar para penguasa pesisir berlayar ke Surabaya, tetapi ketika mereka masih dalam pelayaran, Sunan segera mengirimkan berita pengampunan melalui darat: sudah cukuplah bila orang-orang itu dikirimkan ke Mataram tanpa membawa senjata. Para penguasa pesisir, setelah daftar harta benda para korban, mendapat perintah agar segera menghadap sehingga mereka langsung melanjutkan perjalanan ke ibu kota. Mengenai nasib warga Surabaya itu selanjutnya tidak lagi diperoleh berita apa pun (Daghregister, 26 April 1659). Seandainya pun pikiran dan perasaan Sunan yang aneh itu dipertimbang- kan, tindakan-tindakan penindasan yang dilakukan oleh Raja bagaimanapun menunjukkan adanya suatu pemberontakan kuat, yang akhirnya lumayan juga. Melihat cara Surabaya baru masuk kerajaan setelah perjuangan lama dan getir dan kenyataan bahwa di bagian timur akan meledak pemberontakan Trunajaya, maka mudahlah dapat diduga bahwa kejadian-kejadian ini tidak membayangkan keadaan yang tenang, seperti yang hendak dikesankan oleh 7 kisah dalam cerita tutur. Suatu kisah yang mencolok mengenai drama itu terdapat dalam suatu naskah yang ditulis dengan tangan, milik Koninklijk Instituut, berjudul: Catatan mengenai Pantai Timur Jawa. (Hoorn, Notitién). Naskah ini sangat mungkin disusun sekitar tahun 1700 oleh Gubernur Jenderal Jan van Hoorn. Sebelum mangkatnya Pangeran Pekik, gubernur jenderal ini mungkin telah menggunakan ikhtisar sejarah Jawa, yang atas permintaan Laksamana C. Speelman disusun oleh sekretaris negara kedua Mangkurat, Surawikram: "yang di kalangan orang Jawa termasyhur namanya sebagai salah seorang ahli yang cerdas dan terpenting mengenai sejarah kuno Jawa” (him. 7). Juga Valentijn memakai penulis sejarah Jawa:ini, sekalipun kutipannya agak lebih pendek. Karena itu, ikhtisar Van Hoornlah yang lebih diutamakan (hlm. 194-199). Pangeran Giri dari Gresik memang kemanakan Pangeran Surabaya, tetapi sudah lama membenci pamannya itu. la dapat menyembunyikan perasaan benci itu sedemikian rupa sehingga Pangeran Surabaya baru dapat mengeta- * huinya setelah terlambat. Pangeran Giri, setelah berpikir matang, pergi ke istana, berlaku seolah-olah dihinggapi kesedihan yang tidak terhingga, dan bersujud di depan Mangkurat I sambil mencium kakinya. Setelah lama sekali bersujud demikian, akhimya dengan sekujur badan gemetar ia mengaki datang dengan maksud lebih baik mati secara jujur daripada hidup sebagai bajingan. Karena diancam akan dibunuh, katanya ia telah dibujuk supaya membunuh Sunan. Raja yang marah sekali itu bertanya siapakah pendurhaka itu, dan Pangeran Giri menyebut nama Pangeran Surabaya bersama ketiga putranya. Tanpa mengadakan pengusutan lebih Janjut Sunan mengirimkan beberapa pembesar Istana ke tempat tinggal Pangeran Surabaya, yang harus mereka bunuh bersama putra-putranya. Kepala mereka harus dipersembahkan kepada Sunan. Setiba mereka di tempat tinggal pangeran itu, "mereka pura-pura . . . diutus untuk bermusyawarah dengan pangeran itu tentang beberapa hal penting’’, tetapi dalam pertemuan yang pertama mereka segera membunuh pemuka Surabaya itu berikut keempat putranya (atau putra yang keempat dapat meloloskan diri dari senjata algojonya). Kepala para korban itu dibawa dan diperlihatkan kepada Sunan. Sebagai hadiah, Pangeran Giri memperoleh “seorang istri cantik yang dibawanya ke Giri”. Sejak itu ia menjalani hidup kebatinan yang mendalam sehingga tidak lama kemudian dianggap sebagai seorang keramat. Pada waktu itu, menurut Hoorn, Notitién, putra yang kemudian akan menjadi Mangkurat [I baru berusia 11 tahun, boleh dikatakan belum memahami arti kejahatan itu, tetapi kawan-kawannya menerangkan hal itu kepadanya dan menghasutnya agar mau bertindak terhadap tokoh dari Giri 8 itu. Selama ayahnya masih hidup, ia harus berhati-hati, tetapi dengan sabaria menunggu saat dapat membalas dendam. Kisah ini rupanya bermaksud menjelaskan mengapa Sunan kemudian begitu benci terhadap Panembahan Giri, dan juga untuk membenarkan kebenciannya itu. Pada tahun 1680 niat Raja untuk menghancurkan tokoh keramat ini memang mencolok. Dan niat demikian membuatnya berusaha keras untuk menghancurkan kawan sekomplotannya dahulu, Raden Truna- jaya (Graaf, “Truna-Djaja”). Jadi, memang, kebenciannya terhadap orang tua yang sudah beruban ini luar biasa, dan hal ini kiranya dapat dimengerti karena orang tua itu dianggapnya turut serta dalam komplotan pembunuhan terhadap kakeknya dan paman-pamannya yang tercinta. Permusuhan Panembahan Giri terhadap tetangganya dari Surabaya itu merupakan suatu warisan sejarah. Sudah semasa kemerdekaan Surabaya, hubungan itu tidak begitu baik. Pada tahun 1635 setelah rujuk kembali dengan Mataram, Surabaya turut serta dengan ekspedisi penaklukan terhadap raja ulama itu dan membawanya ke ibu kota Mataram. Sebaliknya, kedatangan panembahan itu di Mataram merupakan suatu hal yang tidak biasa. Dan tidak benar pula bahwa Putra Mahkota masih berusia 11 tahun ketika pembunuhan itu terjadi. Haruskah 11 tahun itu dibaca sebagai 21 tahun? . Namun, sulit pula mengesampingkan sepenuhnya peranan jahat Giri dalam masalah pembunuhan itu. Surawikrama mungkin saja telah menghiasi kisah itu dengan perjumpaan pribadi antara Sunan dan tokoh Giri itu. Dalam cerita tutur Jawa belakangan tidak terdapat peranan buruk Giri ini. Berakhirnya nyawa Pekik secara menyedihkan dalam cerita tutur dapat dihubungkan dengan dua fakta (Babad B.P., jil. XI hlm. 1~27; Meinsma, Babad, hlm. 152-159; Serat Kandha, hlm. 967—986) berikut: 1. Penawaran seekor ayam hutan, seekor bekisar yang semula tampaknya betina, tetapi kemudian ternyata bisa berkokok. Pangeran Pekik ingin menawarkan ayam yang aneh ini kepada menantunya, sesuai dengan kebiasaan bahwa Raja sering juga mengumpulkan hewan yang aneh-aneh. Tetapi Sunan menjadi marah sekali karena menyangka ada sindiran politik yang tersembunyi di baliknya. Hanya dengan jalan ber-pépé (duduk berjemur di panas matahari) Pangeran Pekik terlepas dari amarah Raja. 2. Penculikan Rara Oyi, calon pengantin bagi Sunan itu. Cucu Pekik, putra mahkota, jatuh cinta pada gadis yang cantik jelita ini. Oleh karena itu, kakeknya yang lembut hati itu berusaha sekuat tenaga menyuap Ngabei Wirareja dan istrinya yang bertugas menjaga gadis itu, agar putra mahkota dapat bersatu dengan jantung hatinya. Untuk kejahatan yang tidak dapat dimaafkan ini, Pangeran Pekik dan istrinya, berikut keluarganya dan anggota komplotan lainnya, harus membayar dengan jiwa. Negabei Wirareja dengan 9 > istri dan anak-anaknya dibuang ke Ponorogo dan kemudian dibunuh. Kisah yang pertama mungkin ada sedikit hubungannya dengan Pangeran Pekik, dan merupakan gambaran terselubung mengenai komplotan yang timbul di dalam otaknya terhadap menantunya, Sunan, seperti diberitakan dalam sumber-sumber Belanda. Tetapi kisah yang kedua tidak dapat dihubungkan dengan Pangeran Surabaya ini, dan lebih banyak harus dihubungkan dengan Pangeran Purbaya dan akan dibicarakan juga sehubungan dengan pangeran tersebut (him. 2224). Tetapi sayang, kisah yang mengharukan mengenai Pangeran Pekik dan istrinya itu harus kita lepaskan — karena cinta buta kakek kepada cucu yang sudah setengah piatu itu, yang mendorongnya melakukan perbuatan gila dan berbahaya, yang dikisahkannya dengan luar biasa mengharukan. Tetapi kisah ini harus kita pandang sebagai karya sastra. Mengenai hukuman itu sendiri cerita tutur tidak banyak berbicara, dan Serat Kandha-lah (him. 986-987) yang paling banyak memberi keterangan. Amarah Raja begitu hebat sehingga diperintahkannya alat-alat penegak hukumnya agar segera membunuh bapak mertuanya dan bibi ibu mertuanya, berikut semua anak mereka yang tidak bersalah. Pangeran Pekik dan istrinya kemudian dicekik dengan tali. Babad B.P. (jil. XI, hlm. 27) dan Meinsma, Babad, him. 159 menyebut jumlah keluarga yang terbunuh sampai 40 jiwa. Mencekik ‘orang sampai mati merupakan cara yang biasa digunakan untuk menghukum pejabat tinggi. Menurut Babad Momana, Pangeran Pekik dengan istri-(istri)-nya dimakam- Kan di Banyusumurup atau Toyasumurup tahun 1578 J. (mulai 31 Oktober 1655 M.), yang dibenarkan oleh cerita tutur rakyat (Adam, Plaatsnamen, him. 1 )- Kaum priayi dilarang menginjak pekuburan yang seram di dekat Imogiri ini. Juga orang lain yang melakukan kejahatan terhadap Raja dikuburkan di sana (Babad Alit No. 19, him. 34). Matinya Pangeran Pekik dan kerabatnya ini juga ada sangkut-pautnya dengan matinya beberapa orang pembesar Mataram lainnya. Pertama, matinya kaki tangan Pangeran Pekik, yaitu Ngabei Wirareja, dan istrinya. Mereka bersama semua anak dan cucunya dibuang ke hutan angker Lodaya dahulu, dan beberapa waktu kemudian semuanya dibunuh. Babad B.P. dan Meinsma, Babad menyebut Ponorogo sebagai tempat pembuangan yang menurut peta Valentijn berbatasan dengannya. Tetapi ada kemungkinan bahwa Ngabei Wirareja ini dan kawan-kawannya bukan berkomplot dengan Pangeran Pekik, tetapi dengan Pangeran Purbaya. Selama kunjungannya pada Tumenggung Surabaya (bekas Tumenggung Pati) Residen Jepara Evert Michielsen menerima berita bahwa seorang Keluarga Pangeran Surabaya (Pangeran Pekik), yaitu Raden Sejanapura, terbunuh. 10 Ini dapat menggusarkan hati Tumenggung Surabaya karena ia (menurut berita simpang siur tanggal 18 Juli 1661) bersemenda dengan sang korban. Konon seorang kakak perempuan Raden Sejanapura mula-mula kawin dengan Sunan dan kemudian dengan Tumenggung Surabaya ini. Selanjutnya ketakutan dan kemarahan Raja tampak mencapai puncaknya pada tahun 1659 ini, sepanjang yang dapat ditelusuri dari sumber-sumber yang datangnya secara tidak teratur. Dibandingkan dengan ini pemberhentian dua orang pejabat tertinggi di istana Mataram, yang pernah membawahkan keempat penguasa pesisir itu, adalah permainan kanak-kanak saja. Konon penyebab kejatuhan mereka ialah kemewahan pakaian kuda mereka. Masih tiga pejabat tinggi lagi yang diberhentikan, karena “terlalu banyak memeras” rakyat (Daghregister, 21 Juli 1659). Menurut desas-desus, Sunan beberapa bulan kemudian ingin membunuh “ketiga orang pangeran terkemuka di Kerajaan” (Daghregister, 7 Oktober 1659). Setelah itu tinggal tiga orang pangeran dan pembesar lagi di seluruh kerajaan “yang menjadi besar bukan karena raja sendiri”. Ketiga pangeran yang terancam itu kemudian menghadap ke istana “dengan rambut sudah terikat dan seraya berkata bahwa jika Sri Baginda menginginkan nyawa mereka, maka mereka pun berserah diri bersujud di bawah kakinya.” Lalu Sunan memerintahkan mereka pergi, dan salah seorang di antaranya harus hidup di luar Mataram. Yang belakangan ini konon menyatakan, “lebih baik mati di negerinya, Mataram, daripada harus hidup di pembuangan’. Namun Raja memerintahkan ia “dibuang di sebuah pulau kecil tanpa pohon atau rumput (Mesigit Watu) ... yang terletak di tepi Laut Kidul, agar di sana ia mengakhiri hidupnya yang terakhir dalam keadaan sengsara.” Sepucuk surat yang dikirimkan Michielsen dari Mataram tanggal 19 November 1659 memuat ucapan bahwa Sunan "tidak akan berhenti berusaha sebelum (ia) memusnahkan semua pejabat tinggi dan menggantikan mereka dengan abdi-abdi pengikutnya sehingga tampaknya (ia) tidak mempercayai lagi pembesar-pembesar dari kalangan keluarganya sendiri.” Jadi, yang dimaksudkan oleh raja yang mabuk kuasa itu adalah para pangeran kerabatnya sendiri, dan mereka yang sejak dahulu memegang pemerintahan. Dia baru saja lagi memecat “tiga orang pembesar terpenting kerajaan” yaitu Raden Miena Poera (Wirapura?), kepala daerah di Tuban, dan Raden Miena Saraya (Wiraseraya?), nama-nama yang tidak menentu. Yang ketiga, "Pangoran Macke Bommy”, dengan mudah kita ketahui adalah Pangeran Mangkubumi. Seluruh Mataram karena itu menjadi kacau, dan Raja mengambil tindakan pengamanan. Jika Sunan pergi “meninggalkan istana ia dikawal oleh lebih dari 2.000 orang prajurit tombak.” Tiada seorang pun yang berani berbicara dengannya, sehingga Michielsen mengkhawatirkan bahwa keadaan Raja akan kian memburuk. "Semoga pada suatu saat ia jenuh mengalirkan darah orang” i (Daghregister, 10 Desember 1659). Keadaan guncang jiwanya dapat diketahui dari berita bahwa “ia gemetar bila selembar daun berdesir di seluruh negerinya”, apalagi bila ia dilihatnya "salah seorang abdinya datang beserta Pengiring, sehingga merangsang hatinya yang haus darah, tidak dapat tenang.” Niscaya rasa ketakutan inilah yang mendorong Sunan memperkuat tempat tinggalnya secara khusus, yang berarti memberatkan beban rakyat (Daghregis- ter, 13 November 1659). Selanjutnya adalah aneh, bahwa justru dalam tahun ketakutan dan kekerasan itu, orang tahu, Raja makin gemar mengumpulkan burung kecil-kecil di istana (Daghregister, 21 Juli 1659). Tampaknya ini lebih damai daripada hasratnya yang cenderung untuk mengadu berbagai macam binatang seperti dituturkan oleh Babad Sangkalaning Momana (1583 J., mulai 6 September 1660 M.). Babll Komplotan dengan Pangeran Purbaya II—1 Persekongkolan putra mahkota dengan Pangeran Purbaya, 1660-1670 erbunuhnya Pangeran Pekik dan keluarganya pada awal tahun 1659 tentu menimbulkan kesan_yang mendalam pada cucunya, Putra Mahkota. Tidak hanya cerita tutur Jawa, tetapi berita dari Valentijn, Oud en Nieuw, (jil. IV, hlm. 118-119) pun membenarkan bahwa ”Panembahan Giri” merupakan seorang peserta dalam pembunuhan itu. Ketika diketahui oleh Pangeran siapa yang membujuk ayahnya agar melakukan pembunuhan itu, maka dibencinya si biang keladi itu. Tetapi baru sekian tahun kemudian, yaitu pada bulan April 1680, ia mendapat kesempatan untuk membalas kematian "kakeknya dan tiga orang pamannya’, karena pada pendapatnya, Sunan juga terlibat dalam peristiwa itu. Tidak mengherankan bahwa ia oleh ayahnya "dikekang dan sama sekali tidak diberi wewenang” (Hoorn, Noritién, hlm. 199). Mungkin kiranya sebagai tindakan pembangkangan pertama yang dilakukan oleh Pangeran Adipati Anom ialah pengiriman perutusan olehnya pada tahun 1659 ke Batavia dan kemudian ke ten, sambil membagi-bagikan hadiah di mana-mana (Daghregister, 13 Juni 1659). Tetapi lebih mungkinlah perutusan itu berangkat setahu Sunan sebelumnya, dan berkunjung hanya atas nama Putra Mahkota karena ayahnya tidak ingin mendapat malu andai kata perutusan itu tidak diterima dengan baik. Kesan yang lebih memberontak ditimbulkan oleh perutusan yang beberapa bulan kemudian tiba di Batavia dan sambil menyampaikan hadiah, atas nama Pangeran Adipati Anom, meminta seekor kuda Persia kepada Pemerintah Kompeni (surat tanggal 30 Januari 1660, him. 6). Sekalipun kandang kuda Kompeni pada saat itu justru agak kosong, Batavia tidak mau menjengkelkan hati putra mahkota, disertai permohonan maaf, "karena (kuda itu) tidak 13 sebagus apa yang diharapkannya.” Dalam waktu singkat diharapkan datangnya kuda-kuda dari Persia yang lebih bagus. Seperti diketahui, mempunyai atau menginginkan seekor kuda yang sangat besar, misalnya kuda Persia jika dibandingkan dengan kuda pribumi, bisa dipandang sebagai suatu sikap memberontak. Berita tegas pertama mengenai permusuhan antara Sunan dan putranya terdapat pada bulan September 1660, yang dimuat dalam laporan perjalanan Evert Michielsen. Ketika itu ia mendengar dari Tumenggung Surabaya bahwa Raja menghendaki nyawa putranya sendiri. Rasa permusuhan ini mungkin juga disebabkan oleh seekor kuda besar milik Putra Mahkota itu® Pada tahun 1661 terdengar desas-desus yang lebih gawat. Dikatakan bahwa bersama para pembesar lainnya, pangeran muda itu telah terbunuh (Daghregister, 4 April 1661). Sekalipun tidak benar, berita ini merupakan Petunjuk tentang adanya hubungan buruk antara ayah dan anak. Petunjuk seperti itu juga diterima residen Banten, David Luton, dari penerjemah Inggris Thomas Harmagon. Si penerjemah yang baru datang dari Jepara ini menerangkan, “Sunan.. . baru-baru ini menyuruh membunuh lebih dari 50 orang panglima yang berada di bawah pimpinan Tumenggung Pati.” Alasan untuk hukuman berat ini ialah karena mereka berniat menyerang Sunan. Ini rupanya berhubungan dengan suatu percobaan para pengikut Putra Mahkota untuk merebut kekuasaan bagi gustinya. Ini juga sesuai dengan keterangan tersebut di atas bahwa untuk menjaga keselamatannya, Sunan sedang sibuk mengubah tempat tinggalnya sehingga merupakan sebuah pulau, dan untuk itu dikerahkan tenaga 300.000 orang, sehingga karenanya para penguasa pesisir tidak bisa meninggalkan tempat (Daghregister, 11 September 1661). Tidak mengherankan, jika dalam suasana seperti itu tersiar desas-desus di Banten "bahwa juga di kalangan raja (orang terkemuka) Mataram terjadi perpecahan besar” (Daghregister, 23 April 1661), sedangkan "di kalangan pembesar Mataram terdapat heboh besar karena Sunan selama tiga minggu tidak keluar dari istananya, dan tidak ada seorang pembesar pun muncul di tempat pacuan seperti biasanya” (Daghregister, 16 April 1661). Maka, dapat diketahui bahwa penegakan hukum di Kerajaan mengalami hambatan. Dan bahwa permainan tombak berkuda setiap minggu pun tidak lagi diadakan adalah suatu pertanda buruk. Niscaya Sunan sudah termakan hatinya oleh perasaan curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada bulan Maret 1661 sejumlah abdi Putra Mahkota merencanakan komplotan pembunuhan terhadap Sunan. Sunan pun membalasnya dengan pertumpahan darah, dan mengambil berbagai tindakan untuk melindungi diri. Selanjutnya ia memang mendapat ancaman keras dari ayahnya, tetapi sampai saat itu masih selamat. Mungkin pendukung sang pangeran terlalu kuat sehingga Sunan tidak berani 14 secara terbuka bertindak terhadap putranya. Menurut Evert Michielsen, yang pada bulan Oktober 1661 berlabuh dengan kapal kici (jacht) di pantai Jepara, Sunan sudah mencoba membunuh Pangeran Puger dan Pangeran Purbaya, tetapi "karena banyak keluarga terpandang dan dukungan terhadap mereka”, ia tidak berani melakukannya secara terbuka (Daghregister, 25 November 1661). Bila rencana membunuh kedua pangeran itu terpaksa diurungkan, maka ia pun jadinya bisa saja membatalkan niatnya untuk membunuh putranya. Disebutnya nama Pangeran Purbaya menimbulkan dugaan bahwa pangeran ini, sejak dahulu seperti juga kemudian, bersama dengan Pangeran Adipati Anom berkomplot terhadap Baginda. Maka tepatlah Raja mengucilkan diri menghadapi begitu banyak lawannya di Keraton. Betapa terancam kedudukannya itu nyata pada perubahan-perubahan dalam rencana pembalasan dendamnya tersebut. Sekalipun pada tanggal 28 Oktober 1662 Residen Luton menerima surat yang memberitakan bahwa Sunan dalam "usahanya membunuh pembesar-pembesar yang paling utama dan yang paling kaya di kerajaannya memperlihatkan cara-cara yang lamban” (Afg. briefb. 1662, hlm. 557), juga terlihat bahwa ia lebih banyak mencari "cara_ tidak terang-terangan, dengan menggunakan racun, guna melampiaskan nafsu membunuhnya daripada melakukannya secara terbuka.” Orang-orang (Belan- da) di Batavia karena itu merasa heran tentang kesabaran orang Jawa, yang menghadapi segala sesuatu dengan tenang “tetapi dapatlah diperkirakan bahwa pada suatu waktu Raja akan mengalami keguncangan besar dalam kerajaannya.” Dan* memang demikianlah. Tetapi sejarah masih harus menunggu 15 tahun lagi sebelum saat itu tiba. Sementara, nama Pangeran Purbaya masih tercantum dalam berita. Pada tanggal 4 Desember 1662 Residen Luton menulis tentang apa yang terjadi di kerajaan Sunan selama tiga minggu sebelumnya. Di deers antai, terd: kegiatan besar tetapi simpang siur; kapal-kapal perts rkuat, orang-orang diperintahkan berlayar, beberapa rol menuj Bali dan beberapa kapal Iainnya menuju Cirebon. Tetapi orang menduga bahwa "di balik kedok ini Sunan mencoba membunuh Pangeran Purbaya, seperti juga setiap hari ia menyuruh agar membunuh banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan” (Daghregister, 1 Januari 1663). Beberapa “bulan kemudian terdengar lagi desas-desus demikian: ada rencana ekspedisi ke Bali, ada lagi berita kemudian Sunan akan membunuh Pangeran Purbaya (Daghregister, 15 April 1663). Apakah dengan membunuh pamannya, ia ingin memukul orang yang dianggapnya sebagai anak emas pamannya itu, yaitu putra mahkota? Tetapi memang karena sakit parah, Sunan pada tahun itu tidak bisa mengambil tindakan keras. Bahkan ia juga tidak dapat menerima para utusan. ‘Atau memang kegemarannya bermain layangJayang — yang merupakan hiburan umum — mengambil waktu yang begitu banyak sehingga ayam-ayam . 15 jagonya diistirahatkan karenanya (Laporan Umum, 21 Desember 1663; Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 94). Antara lain dikatakan bahwa Raja bersama para pembesamya "mengadakan ... musyawarah sungguh-sungguh, tentang apakah tidak perlu ... agar layang-layang bisa terbang dengan lebi harus menebang 18 pohon besar yang tegak di depan Istana.” Il—2 Pemberontakan kaum agama, 1663—1664 Tentu mungkin juga menghubungkan berita peperangan ini dengan Kejadian-kejadian lainnya. Pada tahun 1663 Sunan diberitakan "sangat marah kepada pangoran Maes Ingiery” (pangeran Mas ing Giri), pasti bukan karena kesetiaannya yang berlebih-lebihan (Daghregister, 5 September 1663). Pemberi berita, Residen Luton, yang rupanya tidak tahu di mana letak Ingery, menarik kesimpulan: “tentu akan ada jiwa yang melayang.” Jadi telah timbul ketegangan lagi? Apakah Sunan menyesali pembunuhan atas bapak mertuanya beserta keluarganya, dan ingin menghukum mereka yang telah membujuknya berlaku demikian? Ataukah dengan demikian ia ingin menciptakan hubungan yang lebih baik dengan putranya? Berbalik sikap seperti itu tidak aneh bagi raja ini. Bagaimanapun, ini adalah soal hidup atau mati. Sang Pangeran Giri memang sudah sering dipanggil, tetapi terus terang dinyatakannya, “Saya tidak mau datang. Kalau saya harus mati, maka saya ingin mati di sini bukan di Mataram. Atau saya harus mendapat kebebasan untuk mempertanggungjawabkan diri saya kepada Sunan” (Daghregister, 22 Juni 1664). Apakah ia menduga akan terjadi serangan atas Giri, seperti yang telah terjadi pada tahun 1635, dan akan terjadi lagi pada tahun 1680? Apakah kegiatan di pelabuhan-pelabuhan tersebut di atas hanyalah pengantar ke arah itu, tetapi tidak berkembang lebih lanjut? Bagaimanapun, Sunan tidak berani menyerang Giri. Mungkin karena ia sendiri tidak merasa aman di dalam negerinya. Sebab, bahkan di dalam kerajaan sendiri pun timbul perlawanan yang kuat, juga dari pihak “kaum agama”. "Salah seorang kiai di Mataram” konon menyampaikan ramalan kepada Sunan "bahwa Kota Mataram dalam tahun-tahun mendatang akan mengalami kekurangan bahan makanan, Karena tikus dalam jumlah ribuan akan menyerbu sawah dan ladang, dan dalam sekejap mata memusnahkan apa saja yang tumbuh dari tanah, sehingga di daerah sekitarnya tidak ada sesuatu apa pun yang dapat menghasilkan.” Residen menganggap "tikus-tikus” itu sebagai petunjuk mengenai “berbagai pembesar” yang dibenci raja. Dengan demikian, beberapa orang ulama ada menyebut tentang pemberontakan oleh “kaum agama”. Tetapi kejadian itu barulah tidak timbul beberapa tahun kemudian. Namun, akhirnya meledak juga: yaitu pemberontakan Raden Kajoran yang oleh generasi kemudian diberi 16 nama julukan: Ambalik, si pengkhianat.' Il—3 Keluarga Tepasana Dalam pada itu, bertepatan dengan tahun 1584 J. (mulai 2 Agustus 1661) juga tahun meninggalnya Pangeran_Tepasana. Keluarga Tepasana masih bertalian darah dengan raja-raja yang berkuasa. Yang disebut pertama, menurut pejabat istana Jagapati? Tepasana adalah kemanakan Panembahan Krapyak. Ayahnya adalah putra Ki Gede Pamanah- an dari Mataram, pendiri dinasti Mataram. Mula-mula bernama Raden Bagus Kadawung, kemudian Adipati Pringgalaya (Sadjarah Dalem, generasi 131:14). Pangeran Adipati Tepasana ini juga mengawini saudara perempuan Panem- bahan Krapyak, yaitu Raden Ajeng Denok (Sadjarah Dalem, generasi 132:4). Juga ada seorang saudara laki-laki Panembahan Krapyak bernama Pringgalaya, dan nama julukan Sumendi (Babad B.P., jil. X. hlm. 17 Sadjarah Dalem, generasi 32:17). Putranya bernama Padureksa dan menjadi kepala gandek (Serat Kandha, hlm. 904; Babad B.P., jil. X, hlm. 28). Tetapi karena begitu berjasa dalam perang Blambangan ia dianugerahi nama Pangeran Tepasana (Meinsma, Babad, hlm. 145). Sultan Agung pun mempunyai abang bernama Pangeran Pringgalaya (Serat Kandha, hlm. 903; Sadjarah Dalem, generasi 133:14), tetapi tiada berita sama sekali tentang keturunan Pangeran ini. Tampaklah bahwa Senapati, Krapyak, dan Sultan Agung masing-masing mempunyai abang yang bernama Pringgalaya dan paling tidak dua orang di antaranya mempunyai seorang putra bernama Pangeran Tepasana. Kelompok keluarga ini berulang-ulang memperlihatkan kecenderungan memberontak. Pangeran Tepasana yang pertama, menurut laporan Jagapati, mungkin pada tahun 1630 memberontak terhadap Sultan Agung dan kemudian diturunkan gelamya menjadi Raden. Dengan hanya 100 orang pengikut ia boleh menetap intu gerbang” Taji. Pada tahun 1677 Jagapati melaporkan meninggalnya Pangeran Tepasana itu sudah terjadi 20 tahun sebelumnya, jadi seKitar tahun 1657. Baik Raffles, Babad Momana, maupun Babad Sangkala memperlihatkan kecocokan angka tahun, yaitu 1584 J. (mulai 2 Agustus 1661 M), yang tidak begitu banyak berbeda dengan laporan Jagapati. Sebagai keterangan tambahan Babad Momana menerangkan: Dhadhalipun setubanda, 1 Pada masa inilah sebuah babad tahunan (menurut Rouffaer. Gencalogiche, tahun 1587 J mulai awal Juli 1664 M.) menyebut amarah Sunan kepada putranya yang tertua, yang dibuang selama tiga bulan ke Lipura. Tetapi saat pembuangan ini lebih tepat bila ditetapkan terjadinya kemudian. 2 Menurut Speelman, yang pada tanggal 16 Maret 1677 menerima laporan dari pejabat itu, "Pangeran Tepasana seorang negarayan dan pandai memerintah” (KA. No. 1218, him. 1634). CusW Dass ‘ OO Gan 46 Se? mY ingriku Raden Tepasana dipun telasi, jadi: bendungan besar lenyap (karena banjir?); ketika itulah Raden Tepasana dibunuh (karena tidur di bendungan?). Juga Babad Sangkala memberitakan hal yang sama pada tahun itu: Kala dyan Tepasana keli, nunggang sarah; tan antara tinundhung saking wisamanya saputra garwa; duk pinejahan ing Katembi, yang berarti: ketika itu Raden Tepasana hanyut, mengambang di atas sepotong kayu, tidak lama kemudian ia bersama istri dan anak-anak diusir dari rumahnya, lalu dibunuh di Katembi. Dengan menggabungkan kedua keterangan itu, maka terdapatlah laporan seperti berikut: Raden Tepasana rupanya diberi tugas mengawasi suatu bendungan, ia lalai, dan hampir menjadi korban kelalaiannya itu, jika tidak berpegang seraya mengapung pada dahan lepas. Tetapi akhirnya ia terkena hukuman juga, ia tertangkap juga oleh pengadilan, sehingga bersama istri dan anak-anaknya ia diusir dari rumahnya, dan dibunuh di Katembi. Tentu saja ia harus dijadikan kambing hitam. Selanjutnya tidaklah mengherankan lagi, jika kemudian seorang putra Pangeran Tepasana yang bernama Anggayuda, selama pemberontakan besar yang dilakukan Raden Trunajaya, juga memberontak terhadap Mangkurat I. Juga abang Tepasana yang kedua, bernama Raden Wangsakartika, ternyata gelap riwayat hidupnya di masa lalu sebelum rukun kembali dengan kemanakannya, Sultan Agung (Serat Kandha, hlm. 910, 917). Il—4 Ratu Malang Kini kita menjelang episode tokoh yang disebut Ratu Malang yang banyak dibicarakan orang, yang sudah menggerakkan banyak pena dan yang mengharukan hati banyak orang. Cerita tutur pribumi mengungkapkan hal ini cukup panjang lebar, kecuali Serat Kandha yang tidak memuat cerita ini. Babad B.P. (jil. X, hlm. 73-76) dan Meinsma, Babad (him. 151-153) dapat dikatakan memberi cerita yang sama sebagai berikut: Sunan memerintahkan mencari seorang wanita cantik. Menurut Babad B.P. (jl. X, hlm. 73), Pangeran Blitar mencalonkan anak perempuan Ki Wayah, seorang dalang wayang gedog. Wanita cantik ini sudah kawin dengan Kiai Dalem dan dalam keadaan hamil dua bulan. Hal ini tidak menjadi halangan baginya untuk masuk Keraton. Raja memberikan gelar Ratu Wetan kepadanya, dan ia menyebabkan Raja tidak melupakan wanita-wanita lain. Itulah sebabnya ia disebut orang Ratu Malang (yaitu yang melintang di jalan). Lahimnya putra Kiai Dalem tidak mengurangi kecintaan Sunan terhadap wanita itu. Kiai Dalem disuruhnya bunuh. Kemudian, Ratu Malang siang dan ~ malam meratapi kematian suaminya. Ia jatuh sakit dan meninggal dengan gejala-gejala yang mencurigakan: muntah dan kotorannya encer. Setelah Ratu Malang meninggal, semua inang dan dayang-dayang Keraton 18 dimasukkan dalam kurungan bambu di pelataran di depan keputren. Ketika terbaring sakit di tempat tidur, Ratu Malang selalu memanggil-manggil Kiai Dalem, sehingga Raja menduga bahwa penyakitnya disebabkan oleh semua orang yang tinggal di dalem (istana). Jenazahnya dibawa ke Gunung Kelir, tetapi liang lahad tidak ditutup karena Sunan tergila-gila mencintainya: "siang dan malam bersama anaknya ia menjaga di samping jenazah Ratu Malang.” Kepergian Raja menimbulkan kekacauan di Keraton. Keluarga dan para bupati memohon kepadanya supaya kembali pulang. Pada suatu malam Sunan mendengar dalam mimpinya bahwa Ratu Malang telah menemani kembali suaminya, Kiai Dalem. Setelah terbangun, dilihatnya jenazah Ratu Malang sudah tidak berbentuk manusia lagi. Setelah itu ia kembali ke Keraton dan dengan marah diperintahkannya agar menutup liang lahad. Setelah itu suasana kembali tenang. Tahun yang disebut dalam cerita tutur babad besar, 1578 J. (mulai 31 Oktober 1655 M.), mungkin tidak benar. Keterangan yang lebih tepat diberikan oleh babad tahunan. Babad Sangkala mencatat pada 1570 J. (mulai 26 Januari 1648 M.) terjadi perkawinan Putri Kranon (paringkahnya Putri Kranon kagarwa), putri yang dijadikan garwa atau istri. Kranon adalah tempat asalnya. Babad Momana menyatakan peristiwa ini pada 1571 J. (mulai 15 Januari 1649 M.), dan menambahkan sebagai penjelasan: inggih Ratu Mas Malat. Kata terakhir ini, yang berarti menghukum, mungkin mengandung arti semacam “malang”. Bahwa memang wanita tersebut yang dimaksudkan dengan nama tambahan itu akan menjadi lebih jelas nanti. Kedua babad tahunan tersebut mencatat meninggalnya wanita itu pada i588 J. (mulai 14 Juli 1665 M.), yang lebih tepat daripada 1578 J. (1655 M.) menurut babad-babad rigalah. Babad Sangkala juga menyebutkan bulannya: sasi Sapar, yang dimulai pada tanggal 13 Agustus 1665, dan menamakan permaisuri itu: ratu estri; Babad Momana berbicara tentang Ratu Mas Malat, sinaré ing redi Kelir; ingriku para abdi cstri kang kacelak sami dipun telasi, artinya: Ratu Malat, dimakamkan di Gunung Kelir; kemudian semua abdi wanita terdekat dengannya dibunuh. Kita memang menghadapi drama Ratu Malang di sini. Jika dari cerita babad timbul kesan bahwa segala sesuatu terjadi dalam waktu singkat, maka dari babad-babad tahunan dapat diketahui perkawinan itu sempat berlangsung selama 17 tahun. Karenanya, anak tiri Sunan juga dilahirkan sekitar tahun 1649. Cinta tidak kunjung padam terhadap istri yang dikasihi ini pastilah menimbulkan kejengkelan pada para penghuni keputrén, sehingga itulah sebabnya ia diberi nama julukan “Malat” seperti tersebut di atas. Soal asal wanita itu sebagian telah dibenarkan oleh laporan Jagapati seperti 19 telah disebut terdahulu, dan kemudian sebagian dil pertanyaan Speelman mengenai “keadaan putra kelim: Natabrata, pejabat istana itu menjawab: Kiai Waya dari keluarga terkemuka Pajang mempunyai seorang putri yang ketika itu kawin dengan Kiai Dain, dan dari perkawinan itu (ia) ... mendapatkan seorang putra, Natabrata; kemudian Kiai Dain meninggal dan istrinya menjadi janda, yang oleh Sunan diambil dan dikawini ... dinamakannya Ratu Wétan, tetapi dari wanita itu ia tidak mempunyai anak, dan meninggal tanpa meninggalkan anak. Karena nama Waya dan Dain masing-masing mendekati nama Wayah dan Dalem, maka nama-nama ini tidak menimbulkan kesulitan; tetapi ternyata bahwa Kiai Wayah, dalang wayang gedog itu, adalah seorang keturunan keluarga terkemuka di Pajang. Kata wayah memang agak aneh kedengarannya Karena sesungguhnya berarti cucu, tetapi bisa juga merupakan julukan bagi seorang tua yang amat dihormati. Bandingkanlah nama itu dengan Kiai. Selain itu bukannya tidak mungkin bahwa memang di Pajang hidup keluarga "kerohanian”, yaitu dalang-dalang wayang. Ini mengingatkan kita pada dalang-dalang topeng dari Desa Palar, seperti tersebut dalam Javaanse volksvertoningen, paragraf 366 karya Th. Pigeaud. Juga ternyata bahwa Kiai Dalem tidak meninggal karena dibunuh, tetapi dengan cara yang wajar. Baru setelah itu Sunan mengawini jandanya. Karena perbuatan jahat Sunan Mangkurat Tegalwangi memang sudah terlalu banyak, maka tidak ada gunanya lebih mementingkan cerita tutur yang belakangan daripada berita pejabat istana Jagapati yang lebih dahulu dan selayaknya lebih dapat dipercaya. Perkawinan itu, menurut berita ini, berlangsung tanpa peristiwa-peristiwa yang menggemparkan. Cerita babad rupanya memandang Raja lebih jahat daripada yang sebenarnya. Juga cerita dalam bentuk aslinya ini lebih mudah dapat dimengerti. Jika wanita inilah memang yang begitu lama dapat memikat hati Sunan yang penuh tingkah itu, maka mungkin benar pula ialah yang menemani Sunan pergi ke Segarayasa dalam kereta kecil yang ditarik kerbau, seperti disebut dalam sebuah surat dari Jepara (Daghregister, 11 Juli hlm. 139-140). Juga mungkin putranyalah yang menjadi sasaran petcobaan pembunuhan yang gagal, yang dilakukan oleh Ngabei Martanata, bintang yang sedang naik di cakrawala Mataram. Karena putra tersebut pada waktu itu mestinya sudah mencapai usia kawin, yaitu sekitar 14 tahun, maka ia sudah mulai berpengaruh di istana.* Karena sasaran pembunuhan juga adalah Tumenggung Mataram gkapi pula. Atas yaitu Pangeran 3 Berita lain yang lebih samar-samar mengenai usianya mengatakan: ia pada tahun 1677 disebut sebagai “gusti yang baik” (Daghregiser. April 1677. hlm. 91). Nama kecilnya menurut Rouffaer ialah: Resika 20 Wirajaya, maka bolehlah kita menganggap ia bersikap membela kepentingan Ratu Malang. Ini berarti hendak mengubah garis pewarisan tahta bagi kepentingan putra ratu tersebut. Seandainya demikian, keturunan dinasti Mataram tidak akan dapat naik tahta dan harus menyingkir bagi keturunan seorang dalang wayang gedog, yang mungkin bahkan ada pertaliannya dengan dinasti Pajang yang telah silam. Maka, bukan kebetulan jika pada tahun 1663 di Istana justru terjadi pertukaran pikiran yang gawat tentang perubahan garis pewarisan tahta. Raja ketika itu diberitakan sering kali mengajukan pertanyaan kepada para pembesarnya, "siapakah dari anak-anaknya — jika kelak ia meninggal — berhak menempati kedudukannya?” Atas pertanyaan yang pelik ini tiada seorang pun berani memberi jawaban, melainkan mereka semua "menekuri bumi tanpa berani mengangkat muka.” Sudah tentu tiada seorang pun yang ingin mengambil risiko besar. Dipandang dari sudut ini maka percobaan pembunuhan dengan racun oleh Sunan tampak lebih jelas. Pada tanggal 18 Oktober 1663 Residen melaporkan bahwa sudah dua kali Raja mencoba "hendak meracuni pangeran de Patty, putranya yang tertua, tetapi pangeran ini “telah diberi tahu sebelumnya tentang rencana itu oleh para dayang Sunan’” (Daghregister, 26 Oktober 1663). Percobaan pembunuhan yang sampai dua kali ini menimbulkan perhatian besar di luar Kerajaan. Pemerintah Batavia mengemukakan pendapat- nva dalam laporan umumnya tanggal 21 Desember 1663 bahwa kejahatan yang mengerikan itu "akan melampaui segala kekejamannya yang terdahulu”, sehingga hampir-hampir tidak dapat dipercaya kebenarannya (Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 100). Kita akan kembali nanti kepada para dayang yang memberitahukan hal ity kepada Pangeran. Dengan demikian, jelaslah bahwa sudah sejak masa hidupnya di Istana telah banyak dihebohkan Ratu Wetan atau Ratu Malang ini, sebagaimana nama ejekan yang diberikan kepadanya. Tetapi kiranya menimbulkan kesan yang lebih mendalam. Dapat dimengerti bahwa Sunan curiga ketika istrinya meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala aneh. la menjadi risau sendiri terhadap hal-hal remeh. Andai kata peracunan yang menjadi penyebab — dan betapa serinj hal itu dipergunjingkan di kalangan istana Jawa — maka si pelaku tentunya harus dicari di kalangan terdekat si korban, yaitu di kalangan para dayang yang pernah sekali berkomplot dengan Putra Mahkota pembangkang itu untuk melawan Raja. Maka, dapat dimengerti, sekalipun tidak dapat dimaafkan, jika Sunan kemudian melakukan kejahatan yang akan menodai namanya sepanjang sejarah. Anehnya, berita-berita Belanda sebelumnya tidak ada yang memuat 21 peristiwa pembunuhan besar-besaran atas para dayang istana itu. Peristiwa ini rupanya sengaja hendak dirahasiakan. : Laporan Jagapati mengenai Ratu Malang itu oleh Speelman diberi tambahan keterangan bahwa masih ada tindakan luar biasa Sunan terhadap wanita itu yang dicatat di tempat lain. Sayangnya, catatan yang amat pentin; tidak dapat ditemukan kembali. Agak lebih jelas ialah instruksi Laksamana Speelman kepada Isaac de Saint-Martin, yang sekali lagi memuat berita tentang putra Ratu Malang Gonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 191). Dengan tepat dikatakannya bahwa putra itu “menurut kesaksian umum bukanlah anak Sunan, tetapi anak istrinya sebelum menjadi permaisuri. Wanita ini, demi menyenangkan hati Sunan, banyak berbuat yang tidak-tidak sehingga ketika ia meninggal dipe- rintahkannya pembunuhan terhadap beratus-ratus wanita dengan membiar- kan mereka merintih mati kelaparan dengan memilukan, serta banyak pembunuhan kejam lainnya .. . sehingga pastilah akan menggerakkan Tuhan untuk menghukumnya.” Keterangan ini ada di dalam catatan Speelman. Valentijn yang juga mengetahui cerita tentang pembunuhan masal terhadap wanita itu mengatakan memperolehnya dari sebuah tulisan oleh "Penulis rahasia negara, Surawikrama, yang hidup pada masa Tuan Speelman. dan sebagai salah seorang abli terkemuka mengenai masalah-masalah Jawa kuno dan cerita ini ditulis atas permintaan Tuan Speelman.” Memang tokoh Jawa ini, seperti ternyata dari daftar promosi (Daghregister. 2 Juni 1680, hlm. 326), menjadi "sekretaris negara” Sunan sehingga banyak mengetahui cerita-cerita tutur dan kepustakaan sejarah Jawa. Namanya muncul pertama kali ketika ia pada tanggal 19 April 1679, dengan beberapa orang utusan Jawa lainnya, berlabuh di Teluk Batavia (Daghregister, hlm. 143). Baru pada tanggal 17 Juli berikutnya, ia pulang kembali — sesudah hampir selama tiga bulan tinggal di Batavia. Speelman, ketika itu direktur jenderal, mungkin minta kepada Tumenggung Surawikrama agar memberikan bahan-bahan tentang sejarah Jawa. Tetapi catatan Speelman yang berangka tahun 1677 sudah mencantumkan namanya. Mungkin Speelman sudah berkenalan dengan Surawikrama, dan minta bahan-bahan keterangan dari dia, ketika masih i di Jepara. Bagaimanapun, laporan Speelman berasal dari sumber pertama dan patut diketahui. Cerita Valentijn adalah sebagai berikut: (Valentijn, Oud en Nieww, jil. IV, hlm. 105): Konon di bawah pemerintahan Sunan ini ada salah seorang istrinya "bernama Njaij Maas Maling”, yang bisa memperoleh segala apa saja dari Raja. Ketika wanita itu pada suatu waktu meninggal, Sunan menjadi sedemikian sedihnya sehingga ia mengabaikan segala masalah kerajaan. Setelah pemakaman istrinya, diam-diam ia kembali ke makam istrinya tanpa diketahui seorang pun "dan begitu kasihnya kepada wanita itu sehingga ia tidak dapat menahan diri, dan turut membaringkan dirinya di dalam kuburan.” Sementara itu, para wanita lain di Istana kalang kabut mengatakan, "Baginda hilang dan tidak dapat ditemukan di mana pun.” Setelah dicari kian kemari, akhirnya ditemukan “dalam kubur dekat jenazah istrinya yang sudah berbau busuk.” Hampir tidak dapat Pangeran Purbaya "memaksanya pergi dari tempat itu, dan mengajaknya kembali ke istana.” Tidak lama kemudian Raja memerintahkan agar 43 orang selirnya, sekalipun sama sekali tidak bersalah atas kematian istrinya itu, “ditahan di suatu tempat tertentu tanpa diberi makan atau minum, dan siapa saja yang kelaparan, dipaksa makan sesama mereka yang sudah mati, sampai akhirnya seorang saja yang tinggal. Kepada selir yang masih hidup ini Raja bertanya, mengapa ia tidak mati juga. Selir itu menjawab, 'Hamba tidak tahu, Sri Baginda.’ ‘Baiklah’, katanya, “Tetapi kau akan menyusul istriku yang sudah mati.’ Setelah itu diperintahkannya selir itu dikuburkan hidup-hidup di sebelah makam permaisurinya. Selain selir-selir ini masih ada 350 orang lagi yang melayang jiwanya.” Sebuah berita lain yang lebih samar-samar terdapat di bagian lain dalam laporan Valentijn (Valentijn, Oud en Nieuw, jil. IV, hlm. 99) berbunyi: “Jika beberapa orang di antara istri atau selirya yang tercantik menjadi sedih atau sakit, atau meninggal, maka semua dayang mereka atas perintah Raja tidak hanya dibunuh, tetapi banyak di antara mereka juga dikuburkan hidup-hidup bersama yang meninggal itu . . ., semata-mata karena amarahnya terhadap para hamba-sahaya wanita itu, yang dianggapnya lalai schingga menyebabkan kematian istrinya.” Berita kekejaman seperti itu rupanya sudah menjadi kebiasaan sehingga agaknya merupakan bagian dalam cerita tutur di kemudian hari. Selain itu cerita yang terbawa waktu juga menjadi lebih aneh. Tampak pula bahwa Pangeran Purbaya memainkan peranan sebagai anggota keluarga yang lebih tua dan lebih bijaksana, sekalipun ketika itu hubungan dengan kemanakannya buruk. Juga mencolok dalam laporan Valentijn—Surawikrama yang penuh rona itu bahwa untuk pertama kalinya timbul julukan Nyai Mas Maling (yakni, pencuri) bagi Ratu Wetan mungkin untuk menunjukkan keserakahannya. Kesedihan yang dideritanya membuat Raja terganggu akalnya. Sebagai seorang arif Pangeran Purbaya berhasil membawa Raja yang telah kehilangan akal sehat itu kembali ke Keraton. Jumlah wanita yang dikurung tercatat 43 orang, sekalipun, ada 350 wanita lagi yang konon turut terbunuh sehubungan dengan peristiwa itu. ‘Ada berita pula yang selain memberitakan peristiwa penguburan hidup- 23 hidup para dayang bersama dengan si mati, juga mengemukakan alasan amarah Raja: kelalaian para dayang itulah yang pada pendapatnya menjadi penyebab ia kehilangan permaisurinya. Raffles, History (jil. I, hlm. 161) menamakannya Ratu Pamalang dan menulis keterangan khusus bahwa setelah kematian istrinya itu, Raja "mengurung enam puluh orang dayang-dayang istrinya di dalam sebuah kamar gelap dan tidak diberi makan sampai mereka mati semua.” Dengan memberikan ikhtisar tentang kejadian-kejadian tersebut, kami menganggap bahwa kekejaman Sunan telah terbukti. Kekejamannya itu berupa tindakan balas dendam atas abdi-abdi istrinya yang dipersalahkannya menyebabkan kematian istrinya. Cerita tutur Jawa, yang tercatat baru belakangan, membenarkan pendapat ini. Akhirnya cerita tutur mengetahui makamnya, yaitu di Antakapura di Redi Kelir, dan tiga tahun kemudian di tempat itu dibangun sebuah nisan (Babad Momana 1591 J.; mulai 11 Juni 1668 M.). Ke sanalah putranya, Raden Natabrata, menyingkir setelah Keraton Mataram runtuh pada tahun 1677 (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 154). Sumber-sumber Belanda dari masa itu tidak menyebutkan secara langsung pembunuhan atas Ratu Malang, tetapi menggambarkan akibatnya pada diri Sunan. Demikianlah pada tanggal 6 Oktober 1667 diberitahukan kepada utusan Wagenaer bahwa Sunan meminta maaf "karena tidak melepaskan tembakan meriam untuk menghormati duta; disebabkan kesedihannya ... karena kehilangan istrinya yang tercinta” (Daghregister, 30 Oktober 1667, hlm. 374). Tahun berikutnya pada tanggal 15 September Residen Couper menulis dari Jepara, "Di Istana segala sesuatu sunyi, tetapi Sunan menyuruh agar dicarikan wanita cantik, mungkin supaya ia mendapatkan lagi wanita seperti permaisuri “yang sudah mangkat itu; jika tidak, kata Sri Baginda, karena selalu dirongrorig abdi-abdi saya, maka saya akan hidup lebih lama; karena kalau mereka sangat menginginkan kematian saya, umur saya akan bertambah panjang,” (Jonge, Opkomsr, jil. VI, hlm. 176). ‘Apakah ia benar-benar mendapatkan seorang wanita yang menyerupai es yang sudah meninggal itu boleh diragukan. Sebab, sepuluh tahun mudian Laksamana Speelman diberi tahu oleh Jagapati bahwa setelah kematian istrinya, Raja tidak mau tahu lagi “soal wanita selama empat atau lima tahun” (K.A. No. 1218, hlm. 1634). Anak tirinya masih amat disayanginya, tetapi Raja setiap kali melihat anak itu "setiap kali merasa sedih karena teringat akan ibunya’’. Karena itu, anak tiri itu disuruhnya pergi ke Wawala. di barat daya Mataram dekat Jagabaya. Karena, begitulah katanya. "bila Ananda saya biarkan bersama di sini, maka selalu saya terbayang ibu Ananda”. 24 Wanita yang kematiannya, menurut berita Belanda, mengguncangkan jiwa Sunan itu tidak mungkin lain kecuali Ratu Malang yang terbunuh itu, sekalipun catatan tentang tanggalnya menimbulkan kesulitan. Menurut babad tahunan, sang ratu meninggal pada tahun 1588 J. (mulai 14 Juli 1665 M.). Berita Wagenaer rupanya menunjuk pada suatu peristiwa yang belum lama terjadi yaitu pada tanggal 6 Oktober 1667. Kalau kita perhatikan benar-benar pemberitaan Babad Sangkala, yaitu bahwa pembunuhan terjadi pada bulan Sapar, yang dimulai pada tanggal 13 Agustus 1665, maka masih terdapat selisih satu setengah tahun dengan tanggal berita Wagenaer. Tetapi tidak perlu terlalu kita pikirkan selisih-selisih waktu seperti itu. Babad Momana mencatat terbunuhnya Pangeran Silarong pada 1591 J. (mulai 11 Juni 1668 M.), sedangkan surat dari Jepara tanggal 26 Desember 1669 mencatatnya sebagai peristiwa yang baru saja terjadi (jonghst) Mungkin pembunuhan terhadap Ratu Malang terjadi pada awal tahun 1667. II-5 Penculikan perawan dan hukumannya, 1668-1670 Setelah Ratu Malang meninggal. seperti telah kita ketahui, Raja menyuruh agar dicarikan seorang penggantinya yang layak. Tetapi berita-berita Belanda juga menyebutkan bahwa Pangeran Adipati Anom yang bekerja sama dengan pamannya, Pangeran Purbaya, menculik seorang perawan muda dari keluarga yang berkedudukan tinggi. Dalam laporannya tanggal 6 November 1668 Abr. Verspreet memberitakan bahwa Sunan sangat mencurigai putra sulungnya, yang mendapat dukungan Pangeran Purbaya. Sebab, keduanya itu dikatakan "baru-baru ini dengan menggunakan wewenang mereka, tanpa diketahui Sunan, memasukkan ke dalam istana (putranya itu) . .. seorang putri pribumi berketurunan tinggi, yang dipandang Sunan . . . sebagai suatu tindakan tidak baik dan akan membawa akibat buruk” (Jonge, Opkomst, jil. V1. hlm. 179). Kemudian diberitakan Sunan mencoba mengambil keuntungan dari peristiwa ini untuk memecah hubungan antara paman dan putranya. [a memang mencela penculikan itu tetapi segera “memuji” kembali putranya, “dengan berusaha membebaskannya (seolah-olah karena dipengaruhi Pange- ran Purbaya)”. Tujuannya ialah membakar hati putranya agar membenci Pangeran Purbaya, "dan bahkan berusaha agar melakukan perbuatan jahat.” Tetapi ketika Raja menyadari bahwa ia salah perhitungan dan niatnya itu bahkan diberitahukan kepada Pangeran Purbaya, “maka putra itu harus merasakannya” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 180). Siksaan apa yang dilakukan Sunan terhadap putranya tidak disebutkan. Tetapi menurut Verspreet, soal itu lebih serius daripada apa yang diduga di Batavia. Baru setelah delapan bulan laporan disampaikan, Residen Amelis Valeé 258 menulis lagi pada tanggal 10 Juli 1669, bahwa “dari Mataram diterima berita bahwa di sana istana Pangeran Adipati dan beberapa rumah lainnya-dibakar habis” (Daghregister, 15 Juli 1669, hlm. 362). Tahun berikutnya pada tanggal 30 Juni-1670, dilaporkan dari Jepara tentang dilaksanakannya hukuman besar-besaran_terhadap Putra, Mahkota beserta kaki tangannya, dan pangeran iusir dari Mataram”|sekalipun menurut beberapa orang hanya untuk waktu singkat saja. Sebagai alasan dikemukakan silih berganti diadakannya komplotan atau dilakukannya perbuatan di Iuar batas (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 184-185). Kebanyakan peristiwa yang disebut di sini juga dikisahkan dalam cerita tutur Jawa, walaupun dalam hubungan lain. Kejadian-kejadian setelah meninggalnya Ratu Malang sampai dengan hukuman terhadap putra mahkota diuraikan dengan panjang lebar dalam cerita tutur (Babad B.P., jil. XI, him. 11—16 dan hlm. 19—28; Serat Kandha, hlm. 976-979 dan him. 981-987; Meinsma, Babad, hlm. 154—155 dan hlm. 156—159). Sementara itu, di antara kejadian-kejadian tersebut diberitakan tentang adanya usaha mengawinkan Pangeran Adipati Anom dengan seorang putri Cirebon, yang berlangsung lebih awal, yakni tahun 1653. Juga di sini Pangeran Pekik dan istrinya muncul tidak pada tempatnya, karena mereka itu sudah dihukum mati pada tahun 1659. Dalam segala kejadian yang menyebut nama Pangeran Pekik seharusnya lebih tepat Pangeran Purbaya. Rupanya, beberapa cerita dicampuradukkan, dan saudara kakek pangeran mahkota dikacaukan sebagai kakeknya sendiri. Menurut cerita tutur, setelah kematian istrinya yang tercinta itu Raja menyuruh dua orang mantri kapedhak, Nayatruna dan Yudakarti, supaya mencari seorang pengganti yang sama cantiknya. Babad B.P. bukan menyebut nama Nayatruna fetapi mantri jero Wangsatruna. Adapun wanita yang dicarinya harus berasal dari suatu daerah dengan air sumur yang baunya segar, dan ini mereka temukan (malahan) di tepi Kali Mas, Surabaya. Di daerah itu Pangeran Pekik mempunyai seorang mantri, Ngabei Mangunjaya, yang menawarkan kepada mereka anak perempuannya yang bernama Oyi yang telah mencapai usia gadis cilik dan masih senang sekali akan bunga (Babad B.P.: usia 11 tahun; Serat Kandha, hlm. 977: usia 8 tahun). Memang para utusan terpesona melihat gadis cantik itu, dan anak tersebut mereka bawa. Anak itu dihadapkan kepada Sunan, tetapi dianggap Sunan masih agak terlalu muda. Karena itu, gadis tersebut dipercayakan kepada kepala mantri kapedhak, Ngabei Wirareja (Babad B.P., jil. XI, hlm. 15), atau lurah kapedhak Yudawangsa. Setelah saatnya kelak bolehlah ia masuk Keraton. Sejenak cerita ini terputus oleh rencana perkawinan Pangeran Adipati dengan putri Cirebon seperti sudah dibicarakan di halaman lain. Setelah rencana itu gagal, pada suatu waktu secara kebetulan Pangeran Adipati masuk 26 pendapa Wirareja; maka berjumpalah ia dengan Oyi yang sedang membatik bersama ibu angkatnya. Sebagaimana layaknya, larilah gadis itu ketakutan, tetapi sempat ia menoleh sebentar dan merapikan rambutnya. Sejak itu sang pangeran mabuk kepayang kepada gadis itu. Ditanyakannya siapakah gadis cantik yang lari itu. Dan Wirareja menerangkan bahwa mutiara indah itu diperuntukkan bagi ayahnya (Babad B.P., jil. X, hlm. 20), bahkan menjelang hari Kamis mendatang membuat sang Pangeran semakin mabuk kepayang. Ia jatuh sakit karena cintanya itu. Berbaring berselimut kain dodot dan mengunci diri di dalam kamar, tidak makan dan tidak tidur (Serat Kandha, hlm. 982; Babad B.P., jil. X, hlm. 21). Kakeknya, yang amat sayang kepadanya, diberi tahu tentang hal itu dan kemudian memutuskan untuk menghibur hatinya, apa pun juga taruhannya. Bersama istrinya, Ratu Pandan (Babad B.P., jil. X, hlm. 22), mereka pergi dengan tandu ke rumah Wirareja. Dan dengan memberi hadiah-hadiah serba mahal dapatlah ia dibujuknya agar menyerahkan gadis cilik itu kepada cucunya. Dengan tandu gadis cilik itu dibawa ke kadipaten. Maka, sang putra mahkota pun serasa hidup kembali. Sang kakek memikul segala tanggung jawab, demi kegembiraan dan kebahagiaan si cucu. Tidak lama setelah itu Raja mendengar kabar tentang penculikan itu. la marah sekali dan diperintahkannya agar nyawa Pangeran Surabaya berikut seluruh keluarganya dihabisi — seluruhnya berjumlah 40 jiwa. Menurut Babad B.P., (jil. X, hlm. 28), kadipaten diobrak-abrik dan putra Raja itu dibuang ke Lipura. Wirareja diusir ke Ponorogo dan di sana kemudian dihukum mati. Serat Kandha (hlm. 985—987) memberikan keterangan yang lain dari yang lain, yaitu bahwa hubungan antara Pangeran Adipati Anom dan. Oyi tidak terjadi secara gelap, tetapi diresmikan oleh “ulama”. Jumlah korban seluruhnya bahkan tercatat sampai 60 orang. Ngabei Wirareja berikut istri dan semua anaknya mula-mula dibuang ke hutan belantara Lodaya, tetapi beberapa waktu kemudian, atas perintah Raja, mereka semua dibunuh. Demikianlah menurut cerita tutur yang penuh dengan gambaran serba menegangkan dan mengharukan. Sayang, bagian-bagian tertentunya tidak selalu dapat dikaitkan dengan Pangeran Pekik, melainkan lebih banyak dengan Pangeran Purbaya. Namun, cerita-cerita Jawa itu memungkinkan berita-berita Belanda yang lepas-lepas iru dapat disusun satu sama lain dengan cara yang masuk akal. Tetapi tidak selalu demikian halnya, misalnya berita bahwa Raja menyuruh agar “ahli persenjataannya yang tertinggi” atau "lurah bengkel persenjataannya” dibunuh dengan keris, karena sebilah keris yang “sangat berharga” hilang dari kamar senjata (Daghregister, 8 Agustus 1668). Istri dan anak-anak si korban melarikan diri ke Jepara, tetapi dibawa kembali ke Mataram bersama dua orang Jawa yang telah membantunya. Mereka semua, demikian dugaan orang, akan dihukum mati. 27 7 H—6 Kesulitan-kesulitan lain. 1666-1669 Selain itu masih terdapat lebih banyak kesulitan lagi antara ayah dan putra. Pada tanggal 8 Juni 1666 diberitakan dari Jepara, ada 15 atau 16 abdi Raja, di antaranya seorang yang berkedudukan sangat tinggi, dipenggal kepalanya. Dan baik Tumenggung Mataram maupun Nitinegara merasa khawatir sekali akan nasib mereka (Jonge, Opkowst, jil. VI, hlm. 173-174). Alasan hukuman yang kejam ini ialah, karena tidak setahu Sunan "sejumlah besar padi dan beras diangkut dari lumbungnya tanpa pertanggungjawaban yang jelas.” Juga “telah dicuri orang tembaga-tembaga yang atas perintah ayahnya harus dipasang di masjid” Keraton. Konon, juga putranya dicurigai turut serta dalam pencurian itu. Karena hal ini terjadi menjelang hari raya Garebek Besar (14 Juni 1666), maka tentu saja Raja merasa sangat terpukul. Dua tahun kemudian ternyata terjadi lagi perselisihan antara Sunan dan putranya karena beberapa tahun sebelumnya Sunan pernah_ berjanji “menjelang bulan Maulud atau awal bulan Puasa akan turun dari tahta.” Demikianlah tertulis tanggal 9 Agustus 1668 dari Jepara Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 175). Garebek Maulud tahun 1668 bertepatan dengan tanggal 20 Agustus sedangkan bulan Puasa tentunya setengah tahun sebelum atau sesudahnya. Tetapi kita berpegang saja pada Garebek Maulud, karena hari besar ini merupakan peristiwa paling baru pada waktu berita itu ditulis. Sulit untuk menerangkan apa yang telah mendorong Raja mengumumkan dirinya hendak turun tahta pada beberapa tahun sebelumnya. Kematian istrinyakah yang menjadi alasan? Tetapi ini agak singkat, baru "beberapa tahun”. Ataukah rencana ini terjadi pada tahun 1663, ketika ia sedang mempertimbangkan perubalian penggantian tahta? Dugaan ini lebih cocok daripada pemberian titimangsa yang samar itu. Bagaimanapun, sejak itu tidak ada pikiran lagi pada Sunan untuk melepaskan tahtanya. Itulah sebabnya "pangeran ini dibuang dari istana dan ... dijaga dengan kuat.” Tetapi delapan hari kemudian hubungan itu membaik: "Perselisihan yang timbul ... konon dapat diselesaikan” (Jonge, Opkowst, jil. VI, hlm. 175~—176). Tetapi yang tidak dapat dipulihkan ialah akibat dibunuhnya dengan keris "salah seorang pembesar terkemuka bawahan Pangoran de Patty (Anom)...dan pada suatu waktu, ketika ia dipanggil ke Istana dengan beberapa alasan menyampaikan kegusarannya pada Sri Baginda”’ (Japara, 27 Juli 1669; Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 175). Il-7 Belanda dan pertengkaran ayah-anak, 1667—1668 Betapa buruk hubungan di Istana tampak oleh para utusan Belanda yang mengunjungi ibu kota pada tahun 1667 dan 1668. Zacharias Wagenaer, yang pada bulan Oktober 1667 memohon hendak 28 menghadap, setibanya diJepara pada tanggal 1 Oktober segera mendengar dari tuan rumahnya, kepala daerah Jepara Kiai Wiradika, atas nama Sunan mengatakan, “kepada siapa pun bahkan kepada putranya yang tertua, Pangeran Adipati, tidak boleh diberikan hadiah sekecil apa pun.” Keesokan harinya Kiai Wiradika berubah pendapat: Pangeran boleh juga diperhatikan “asal secara diam-diam dan tidak setahu Sunan”, tetapi Wagenaer cepat memutuskan tidak hendak memenuhi usul ini (Daghregister, 30 Oktober 1667). Juga ia tidak menyampaikan hadiah untuk putra mahkota melalui ayahnya, karena adanya suasana gelap dan suram yang sedang meliputi Sunan. Bahkan ketika putra mahkota mengirimkan dua orang abdinya ke Semarang untuk menerima hadiahnya, Wagenaer tidak mau membantunya karena dilarang oleh Sunan. Pada tahun berikutnya, ketika Abraham Verspreet melakukan perjalanan dan berkunjung ke Istana, berbagai pembesar memperingatkannya “ia jangan diam-diam berkunjung atau memberi hadiah kepada Pangeran Adipati Anom.” Peringatan seperti itu secara terselubung sudah disampaikan juga kepadanya di Semarang. Karena itu, ditinggalkannya enam ekor kelinci — titipan dari Letnan Frederik Mulder kepada salah seorang anggota perutusan untuk disampaikan kepada Pangeran Adipati Anom, Di Mataram ia berusaha “tidak kelihatan bersama pangeran sekalipun membalas salam kami kepadanya . . . ia minta kedatangan kami.” Pangeran itu ingin sekali bertemu dengan orang-orang Belanda "pada waktu malam di sebuah rumah di belakang penginapan kami.” Verspreet meminta maaf, memohon agar untuk sementara pangeran “bersabar” dan mengirimkan utusannya ke Semarang. Di sana dapat dilakukan pembicaraan dengan lebih tenang tentang berbagai_persoalan Gonge, Opkomst, jil. VI, him. 179). Sekalipun Verspreet lebih berani daripada utusan yang terdahulu, kedua utusan itu mendapat kesan yang sangat mendalam tentang adanya perpecahan antara sang ayah dan putranya. . II-8 Mangkatnya Wiramenggala, 1670 Hubungan Raja dengan pamannya, Pangeran Purbaya, juga menjadi semakin buruk setelah Raden Aria Wiramenggala, saudara kandungnya, terbunuh dengan kekerasan. Pada tahun 1667 Raden Aria Wiramenggala bersama seorang tumenggung Mataram, Wirajaya, dibuang ke os desa di luar Keraton (Daghregister, 14 April 1667), yang dibenarkan oleh Babad Momana, meskipun seperti biasa titimangsanya lebih dini beberapa tahun (1588 J.; mulai 14 Juli 1665 M.). Tiga tahun kemudian hidupnya berakhir dengan menyedihkan, bersama dengan Raden Tanureksa yang beserta semua kerabat laki-lakinya berjumlah 27 jiwa terbunuh dengan keris (Jonge, Coons jil. VI, hlm. 184—185). Raden Aria 29 Wiramenggala bahkan ditusuk dengan keris oleh saudaranya sendiri, yang juga dibuang yaitu Pangeran Purbaya. Dari berita pendek dalam Babad Momana pada tahun 1592 J. (mulai 1 Juni 1669 M.), bahkan dapat diduga matinya Wiramenggala ada sangkut pautnya dengan meledaknya sebuah gudang mesiu. Terbaca di sana: gedhong sundawa njeblag, ingriku Wiramenggala dipun telasi; artinya: gudang mesiu meledak, karena itulah Wiramenggala dibunuh. Apakah Wiramenggala dipersalahkan melaku- kan peledakan dengan sengaja atau karena kelalaiannya? Daftar tahunan lainnya tidak membenarkan hal ini. Chronological Table Raffles memberitakan, pada tahun 1592 J. itu ada “perintah Sunan kepada Aria Purbaya agar membunuh Wiramenggala”, dan baru kemudian “ledakan gudang mesiu yang mengakibatkan para pengawal mati dengan menyedihkan.” Juga Babad Sangkala menguatkan urutan demikian, dan menegaskan bahwa Pangeran Purbaya harus menjadi algojo terhadap saudaranya: Adipati Purbaya tinuding mejahi Wiramenggala.* Tetapi pada tahun 1669 itu masih banyak lagi orang yang dibunuh. Il-9 Mangkatnya Pangeran Silarong, 1669 Suatu berita dari Jepara tanggal 26 Desember 1669 memberikan gambaran suram tentang keadaan di dalam Keraton: "Sunan gemar sekali akan pembunuhan, dan baru-baru ini di Mataram Pangeran Silarong dibunuh dengan keris ... dan kesulitan menimpa lebih banyak pembefar lain” (Jonge, Opkowst, jil. VI, hlm 183-184). Juga cerita tutur menganggap kematian Pangeran Silarong demikian penting, schingga diuraikan dengan amat panjang lebar, khususnya dalam Babad B.P., (jil. X, hlm. 71-73 dan him. 76—78). Karena kami juga mempunyai keterangan-keterangan lain, kejadian ini layak diberikan tinjauan khusus. Menurut Sadjarah Dalem (generasi 133: 12), Pangeran Silarong lahir dari istri kedua Panembahan Krapyak, Lungayu, dari Ponorogo. Mula-mula ia bernama Raden Cakra dan kemudian Pangeran Adipati Silarong. Seperti sudah kita baca, pada tahun 1624 ia turut serta dalam ekspe¢ Madura sebagai pengawas agung (Serat Kandha, him. 753). Setelah kekalahan dan gugurnya panglimanya, yaitu Sujanapura, ia memberi laporan ke Mataram (Serat Kandha, him. 769). . 4 Van Goens dengan agak berlebihan menulis bahwa di kalangan orang Jawa “dengan ringan hati ayah membunuh anak. saudara membunuh saudara, dan anak membunuh ayah asalkan. yang demikian berkenan di hati raja.” (Goens, Gezantschapsrcizen, him. 261262), Memang ‘Tumenggung Pati diberitakan juga harus membunub istrinya dengan keris (Graaf, Sunan ‘Mangku Rat. jl I. him. 145) dan putra mahkota harus membunub Rara Oyi yang dikasihinya itu. o Lebih kurang 12 tahun kemudian bersama kakaknya, yaitu Pangeran Pringgalaya, ia ditugasi ke Blambangan sebagai panglima pasukan dengan posisi komando tengah (Meinsma, Babad, hlm. 144; Serat Kandha, hlm. 908). Ketika itu ia dikisahkan membunuh seorang pertapa. Pada saat-saat terakhir pertapa itu meramalkan bahwa suatu ketika arwahnya akan menitis pada seorang raja yang cacat pada lengan kiri bagian atas; pada waktu itulah ia akan membunuh Silarong. Akan kita lihat bahwa raja yang mempunyai cacat demikian itu ialah Sunan Mangkurat Tegalwangi. Juga setelah kemenangan Blambangan, Pangeran Silarong menyampaikan laporan kepada Sultan Agung. Pada akhir masa pemerintahan Sultan Agung, pangeran tersebut tampaknya tidak disenangi lagi oleh Sultan, yang menurut cerita tutur disebabkan oleh peristiwa berikut: Pada suatu malam Pangeran Silarong berjaga di Istana. Ketika itu Sultan Agung gusar pada salah seorang kawan mainnya, Ki Juru Taman, yang hendak dibunuhnya, karena pernah mengejeknya. Ini menimbulkan kekacauan di dalam Istana. Karena itu, Ki Juru Taman dipanggil Sultan pada suatu malam menghadapnya dan setiba di Istana ia ditusuk dengan tombak. Darah memancar dari lukanya, tetapi tubuh Ki Juru Taman hilang dari penglihatan. Sultan alu memerintahkan Pangeran Silarong supaya membuang darah korban ke sungai; tidak boleh ada tersisa dan bekasnya. ‘Akan tetapi Pangeran Silarong menyimpan sedikit darah dan tanah yang terkena darah,itu di dalam daun pisang. Masing-masing dapat menjadi penawar bisa satu sama lain. Keesokan harinya Pangeran Silarong hendak pulang makan. Segenggam nasi bercampur sedikit darah itu diberikannya kepada seekor anjing, yang segera juga mati terkapar. Bahkan anjing yang mati itu segera membusuk dan bulunya rontok semua. Silarong merasa amat senang melihat apa yang terjadi, alu dicampurnya darah itu dengan minyak kelapa, dan disimpannya dengan hati-hati di suatu tempat. Ketika hal itu diketahui orang, ia diusir dari Keraton karena dituduh menjadi tukang teluh, dan sejak itu ia tinggal di Waladana. Setelah tinggal di sana beberapa waktu lamanya, ia membuat pager banon, pagar yang terbuat dari batu bata. Akhirnya Sultan pun sakit keras. Maka, Pangeran Silarong segera didatangkan ke Mataram, yang ketika itu di situ sudah banyak pula pembesar menunggu. Tidak lama kemudian Sultan meninggal. Pangeran Silarong tidak segera kembali ke Waladana. Ia ingin menunggu sampai putra Sultan Agung dilantik, agar ia pun dapat menyatakan sembahnya. Tetapi kesetiaannya terhadap Raja tidak juga mendapat sambutan, betapapun lamanya ia sudah menunggu. Selama pemberontakan Pangeran Alit ia berada dekat Sunan; setelah itu kembali ia disuruh ke Desa Waladana. Cerita panjang lebar ini pada beberapa bagian didukung oleh berita . 31 Belanda. Van Goens menyebut Pangeran Silarong sebagai salah seorang di antara dua belas panglima tentara Mataram. Seperti Pangeran Blitar, ia dikatakan memimpin 40.000 orang prajurit dan 1.000 prajurit bersenapan (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 225). Juga dalem-nya tercantum pada peta Van Goens, bernomor 2. Apakah ia tinggal di sana setelah kembali dari Waladana, jadi selama tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Sultan Agung, dan tahun-tahun pertama pemerintahan putranya? Setengah tahun setelah berita Van Goens itu, pada bulan November 1656 diberitakan dari Jepara bahwa Pangeran Silarong dan Tumenggung Singaranu diusir dari kampung halamannya, dan disita harta bendanya karena mereka mencoba bersikap lebih berkuasa daripada Sri Baginda (Daghregister, 7 Desember 1656, hlm. 34). Ini bukan berarti pemberontakan orang-orang tua; mungkin suatu hal yang tidak penting tetapi menimbulkan rasa tidak senang pada Raja atau menyinggung perasaannya karena ternoda kehormatannya. Soal itu dianggap amat penting artinya sehingga orang menyimpulkan tindakan penutupan pelabuhan-pelabuhan adalah sebagai akibat peristiwa tersebut “untuk mencegah larinya orang-orang itu.” Hal ini tampaknya ilebih-lebihkan. Mungkinlah pada waktu itu Pangeran Singaranu dibuang ke faladana untuk kedua kali. Barulah tiga belas tahun kemudian muncul kembali nama Pangeran Silarong dalam dokumentasi Kompeni, yakni dalam suatu surat dengan titimangsa hari Natal kedua 1669 yang dikirimkan dari Jepara, memberitakan kematiannya. Saatnya berbeda sedikit saja daripada cerita tutur, 1591J. (mulai 11 Juni 1668 M.), yang juga terdapat dalam Babad Momana. Hanya Babad Sangkala yang mencatat tahun 1590 J. (mulai 23 Juni 1667 M.). Bersama para korban lainnya dari Tegalwangi, Pangeran Silarong beristirahat di makam Banyusumurup yang suram. Mengenai kematiannya ini cerita tutur memuat keterangan dengan panjang lebar, khususnya Babad B.P., (jil. X, hlm. 76-78). Babad ini menceritakan apa yang dialami Silarong setelah bagian yang menggambarkan_ peristiwa meninggalnya Ratu Malang (ditetapkan pada awal 1667). Sebagaimana kebanyakan orang Jawa, Pangeran Silarong pun gemar burung dara. Seekor burung dara berwarna gambir, milik seorang kawula Kawah, ditukarkannya dengan minyak buatan Mataram berbahaya, angling upas, yang harus dicampakkannya. Seekor burung dara berwarna abu-abu, milik Ki Citra Tegalampel, ditukarkannya dengan obat penawar racun. Obat ini memiliki daya yang menakjubkan, dengan berbagai cara dan pemakaian, sehingga banyak orang dapat menjadi sakit, mati, atau sembuh karenanya. Oleh karena itu, Citra dinamakan Citratawa (= tawar, penawar). Obat inilah yang turut . o> menjadikan Pajang Waladana termasyhur (Babad B.P., jil. X, hlm. 77). Raja pun mendengar tentang hal itu, lalu menyuruh mengadakan pemeriksaan dan mengetahui segala-galanya. Sesudah itu Raja menyuruh gandek memanggil pamannya. Tetapi karena terlalu lama ditunggu tidak kunjung datang, maka disuruhnya menyelidiki sebabnya. Ternyata, bahwa Silarong telah berada di Kuwel. Timbullah amarah Raja; diperintahkannya kepada para algojonya, Martalulut dan Singanegara (bandingkan Graaf, Sultan Agung, hlm. 140), agar membunuh Pangeran Silarong. Kedua algojo itu segera berangkat dan berjumpa dengan pangeran Silarong di Biru. Di sana ia dibunuh dan dikuburkan di Gunung Wujil.° Enam bulan kemudian mayatnya dipindahkan ke Mataram dan dikuburkan di Bacingah. Sebuah candra sangkala menyebutkan tahun 1591 J. yang telah dikemukakan. Kesan atas pembunuhan ini pastilah sangat mendalam. Serat Kandha (him. 980) bercerita bagaimana Sunan menyuruh agar membunuh "pamannya yang baik itu, Pangeran Silarong, di Wareng (Bareng)”. "Seluruh ... rakyat menyayangkan dan merasa sangat sedih akan kematiannya, mereka mengutuk Raja dan memohon (sic) kepada Tuhan agar menjatuhkan amarah-Nya di atas kepalanya.” Tetapi, raja ini rupanya tidak mempedulikan suatu apa pun. Sepefti biasanya (Daghregister, 8 September 1675), ia menghabiskan banyak waktu dengan permainan adu jago. Dan untuk kesempatan semacam itu ia pergi "sering dengan naik kuda ... dan berpakaian serba mewah.” ‘Ada beberapa tokoh, seperti Dr. Ng. Poerbatjaraka, yang menghubungkan permainan racun ini dengan wabah yang konon melanda Mataram. Memang terdapat pada tahun 1665 banyak kematian di Kerajaan (Daghregister, 13 April 1665), dan beberapa pembesar juga menjadi korban (Daghrgistr. 25 Juni 1665). 6 Serat Kandha menamakan gunung itu Gunung Wii Bab III Kejengkelan Putra Mahkota III—1 Pangeran Singasari ekacauan di Istana sekitar tahun_1670 diperhebat karena tingkah laku_enam orang pangeran lainnya, yang "semuanya, khususnya yang tertua, mempunyai kelompok pengikutnya sendiri dan kebanyakan juga bertentangan antara yang satu dan yang lain” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 179-180). Dari keenam pangeran ini, Pangeran Singasari-lah yang terutama menarik perhatian. _— — Menurut Sadjarah Dalem (generasi 135: 6), ibunya ialah Kanjeng Ratu Wetan, kemudian bermama Ratu Kulon. Informan-informan Speelman menamakannya "Mas Pallaboan, anak perempuan rakyat biasa yang bernama Patra Kilassa dari Pasuruan.” Apakah kata Pallaboan ini berasal dari kata Blambangan sehingga wanita itu diberi nama tempat asalnya? Ketika tempat tinggalnya diduduki pasukan Mataram, dalam usia yang “masih sangat muda” ia dibawa ke Mataram "bersama rampasan wanita lainnya’. Karena usianya yang masih sangat muda itulah ia tidak segera diterima dalam keputren, tetapi dipelihara dulu oleh Saralati. Menurut Sadjarah Dalem, gadis itu diambil sebagai salah seorang anak olehnya. Bila sudah dewasa kelak, gadis itu akan dibawa ke Istana. Peristiwa ini mestinya terjadi sebelum tahun 1646, karena putra Raja yang tertua, Pangeran Puger, pada tahun 1677 berusia 30 tahun. Mungkin gadis itu dilahirkan sekitar tahun 1630 dan dirampas oleh pasukan ekspedisi Sultan Agung di Pasuruan ketika menyerbu Blambangan. Sekitar tahun 1645 ia diperistri oleh Tegalwangi. Pada tahun 1677 ia masih hidup Uonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 190-191). Putranya yang kedua, Pangeran Singasari, bernama Raden Mas Pandonga (doa). Mungkin nama itu sehubungan dengan ketakwaannya kepada Tuhan, 34 dan masyarakat pun memandangnya demikian. Kemudian ia pun terkenal sebagai orang alim. Di Jenar ia tinggal di sebuah padepokan (Laporan Lurah Mas Martajaya; K.A. No. 1218 hlm. 1902). Pada malam hari ia berada di masjid untuk bersembahyang (Valentijn, Oud en Nieuw, jil. IV, hlm. 122). Selama kunjungan putra mahkota ke Jepara ia tidak menolak dijamu dengan segelas anggur, dan setelah itu dengan wajar dan tersenyum ia berkata, "Ya, saya bukan seorang kiai, seperti Pangeran Singasari” (Japara, tanggal 16 September 1676; K.A. No. 1210). Tetapi musuh-musuhnya berkasak-kusuk tentang kemunafikannya sebagai kiai yang suci (Laporan Jagapati, K.A. No. 1218). Holsteyn memberi penilaian yang lebih baik dengan memandangnya "sebagai orang yang hidup lebih sederhana” daripada kakak sulungnya (K.A. No. 1210, him. 1141). Menurut tulisan tanggal 23 Juli 1970, Sunan "menyerahkan tahtanya atau memerintahkan untuk naik tahta” kepada putranya yang ketiga, bemama Raden Aria Tiron (Daghregister, 27 Juli 1670). Menurut Pigeaud, nama itu gelar pejabat tinggi agama di Istana. Couper (Jonge. Opkomst, jil. VI. hlm. 185 dan 191) menerangkan, Raden Aria Tiron ini sama dengan Pangeran Singasari di kemudian hari, dan namanya memang tercantum dalam daftar-daftar nama pada Speelman (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 190) dan Valentijn Cage Oud en Nieuw, jil. IV, hlm. 109) — bersama kakaknya Pangeran Puget ketiga. Pigeaud menganggapnya sebagai siasat belaka, yang dilakukan sebagai penangkal suatu bencana yang ditakuti. Pemerintahan pangeran itu tidak berlangsung lama; menurut Couper, ia hanya delapan hari "menduduki singgasana kerajaan.” Memang pada tanggal 8 Agustus 1670 dikabarkan dari Jepara, Sunan telah mengambil kembali tampuk pemerintahan yang dititipkan pada Pangeran Aria Tiron “setelah hal itu rupanya disesalkannya.” Raja yang sementara itu kemudian sama sekali disingkirkan. Sebaliknya, Pangeran Adipati Anom diberi kehormatan untuk memegang pemerintahan atas daratan Tuban “yang dianggap sebagai tindakan sangat luar biasa oleh Raja yang memang selalu cepat berubah pendirian itu, sehingga orang Jawa pun merasa heran.” Kejadian yang mungkin ada hubungannya dengan peristiwa itu ialah munculnya berita bahwa Sunan dan bekas kepala daerah Jepara, Ngabei Wangsadipa, sehari setelah pengangkatan sementara itu tidak dapat ditemu- kan di mana pun juga. Bersembunyikah mereka? Setelah diangkat sebagai penguasa daerah Tuban, menurut tulisan tanggal 25 November 1670, putra mahkota diberi pula tanah Surabaya dan Gresik (Daghregister, 3 Desember 1670), kecuali kalau Tubanlah yang dimaksud dengan kedua tempat ini. Sebagai keturunan raja Mataram dan Surabaya memang dialah yang paling cocok menduduki jabatan penting itu, asal saja ia benar-benar dapat membuktikan dirinya layak diberi kepercayaan itu. 25 Rupanya, Sunan sudah mengampuninya sepenuhnya, sehingga dapat berkata kepada putranya, "Mataram kepunyaanmy, karena itu apa yang baik dan apa yang buruk (artinya: segala-galanya) menjadi tanggung jawabmu.” Dengan demikian, wibawa putra mahkota akan menjadi lebih besar daripada sebelumnya (Japara, 21 Juni 1671; Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 186). Ill—2 Ratu Blitar Sementara itu, bentrokan antara Pangeran Adipati Anom dan adiknya Pangeran Singasari berjalan terus. Selanjutnya yang menjadi soal ialah istri Pangeran Singasari yang bernama Ratu Blitar. Tentang hal ini cerita tuturJawa memberitakan sebagai berikut (Meinsma, Babad, hlm. 155): Putra mahkota diberitakan berbuat serong dengan istri Pangeran Singasari. Tetapi Raden Ayu Singasari mempunyai seorang kekasih lagi, yaitu Raden Dobras, putra Pangeran Pekik. Perbuatan serong terakhir ini diketahui Pangeran Singasari, dan amarahnya meledak karenanya. Ketika putra mahkota tahu bahwa istri Singasari juga berbuat serong dengan Raden Dobras, diberi tahunya adiknya perihal penyelewengan istrinya itu. Pangeran Singasari Jalu membawa Raden Dobras ke suatu kebun di pegunungan, lalu dibunuhnya. Magereve dilemparkannya ke dalam sumur. Setelah diuruk kemudian i pohon pisang. Keesokan harinya Pangeran Pekik menyuruh putranya mencari Dobras. Ketika mayat itu ditemukan di dalam sumur, disuruhnya mengeluarkan mayat itu. ’ Valentijn juga mengetahui kisah ini walaupun ada perbedaannya. Nama istri Pangeran Singasari disebutnya Ratu Blitar. Konon, pada suatu malam putra mahkota bersama beberapa orang kawan, di antaranya "Radin du Bras”, injungi istri Pangeran Singasari sejak pukul 12 sampai pukul 3 dinihari, ngeran Singasari sedang bersembahyang di masjid. Ketika suami yang itu pulang, mereka lari; tetapi Radin du Bras tidak sempat kabur, ‘ap. Karena ia tidak mau mengkhianati putra mahkota, dan b segala pertanyaan yang diajukan, ia ditikam dengan keris oleh Pangeran Sidgasari, dan dengan diam-diam dikuburkan di belakang rumah. Pangeran itu tidak memukul bende atau mencanangkan tanda bahaya lainnya, sebagaimana\kebiasaan yang berlaku. Lalu perkaranya disidangkan. Putra mahkota menuduh adiknya mengun- dang kawannya makan di rumah, dan setelah itu kawan tersebut tidak pulang kembali. Pangeran Singasari menyangkalnya: setelah pulang malam-malam dari masjid ia menjumpai seorang pencuri, lalu dibunuhnya tanpa mengenal siapa dia bahkan setelah orang-orang datang membawa obor. Sunan bertanya kepada para abdi Singasari, apakah pada malam itu di Singasaren terdengar keributan. Karena mereka menjawab tidak mendengar apa-apa, Raja menyatakan putra mahkota tidak bersalah. Seandainya memang 36 . : ie terjadi apa-apa, para abdi itulah yang seharusnya membunyikan tanda bahaya. Setelah itu, melalui selir seorang mantri yang paling terkemuka, diperintah- kannya agar 34 orang abdi Pangeran Singasari dibunuh di alun-alun. Keputusan terakhir itu sungguh menimbulkan keheranan! Cerita Valentijn dengan demikian lebih panjang daripada cerita tutur yang hanya terdapat dalam Meinsma. Babad. Rupanya, kisah itu mengenai pertengkaran hebat antara adik dan kakak, dan dalam hal ini istri Singasari memainkan peranan yang istimewa. Keterangan lebih luas diberikan oleh sepucuk surat dari Jepara tanggal 15 April 1675. Sunan diberitakan telah menerima kembali putranya yang tertua, dan mengampuni tingkah lakunya yang tidak keruan itu, dan khususnya pembunuhan atas 33 orang pengikut Pangeran Singasari; dan diperintah- kannya untuk menghilangkan segala pikiran tentang kejadian itu. Termyatalah bahwa kematian 33 atau 34 orang pengikut Pangeran Singasari itu bukanlah berdasarkan hukum pengadilan, tetapi merupakan pembunuhan. Kerukunan yang diperintahkan dari atas itu baru terwujud tiga tahun kemudian. Tidak mengherankan bahwa pada tanggal 24 Juni 1672 Residen melaporkan dari Jepara, seluruh Jawa merasa takut (terhadap Pangeran Adipati) (K.A. No. 1180). Mencalolgbrhwajcidak lemajsesudalt peenekaran aietrsatdara aaa disebutkan terjadinya letusan Gunung Merapi. Berkat sumber-sumber Belanda, dapat diketahui letusan itu terjadi pada tanggal 4 Agustus 1672 (Djawa XX, 1940, hlm. 122). Karena itu, cerita-cerita tutur ini dapat dihubungkan dengan berita dalam suatu tulisan tanggal 12 Agustus 1672 dari Jepara, yang segera disusul dengan berita tentang letusan gunung itu. Dalam berita itu memang diterangkan bahwa Sunan marah sekali kepada dua orang putranya, yaitu Pangeran Adipati Anom dan Raden Aria Tiron (Pangeran Singasari). Raja telah menyuruh ikat 4.000 orang abdi karena mereka akan diadu, dan sementara itu "salah seorang kerabat Raja terbunuh” (Jonge, V, hlm. 186—187). Suatu berita kemudian menyatakan dugaan “Pangeran Adipati akan membalas dendam” (tanggal 30 Agustus 1672, Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 187). Dua minggu sesudah itu segala sesuatunya pun tenang kembali di Istana (Japara, 15 September 1672, K.A. No. 1180, him. 979). Sekalipun demikian, putra mahkota untuk sementara berada di bawah angin. Para pengikutnya di Jepara, antara lain Kartisedana, dihadapkan kepada pilihan: menyerah kepada Kiai Wiraatmaka atau diusir dari kota (Japara, 28 September 1672; K.A. No. 1180). Karenanya, begitulah pendapat orang, "Kartisedana akan terperanjat ... karena ia sendiri yang bersandar pada Pangeran.” Sulit untuk diragukan apakah kedua pangeran itu benar-benar terlibat 37 dalam persoalan gawat mengenai seorang wanita, Ratu Blitar. Kenyataan kuat mengenai pertengkaran ini ialah adanya Ratu Blitar itu sendiri. Karena wanita itulah putra mahkota, ketika telah menjadi sunan, pada tahun 1677 sering kali merepotkan pelindungnya, Laksamana Speelman (Jonge, Opkomistyjil. VII, him. 158~160). Setelah berpisah bertahun-tahun, kedua kekasih ini akhirnya bertemu pada tahun 1679 (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 253 catatan). Pangeran Singasari sementara itu sudah meninggal (pada tahun 1678, Jonge, Opkomst, jil. VIL, hlm. 227). Il|—3 Pangeran Adipati Anom mencari hubungan dengan Batavia, 1667-1675 Baik pada tahun 1666 maupun 1667 Pangeran Adipati Anom mencari hubungan dengan para utusan Belanda yang mengunjungi ibu kota Mataram. Karena takut kepada ayahnya, perutusan Belanda menghindari hubungan yang terlalu dekat dengan putranya itu. Putra mahkota kemudian mencoba segera mencari hubungan dengan Batavia melalui para utusan. Mengenai identitas perutusan pertama tahun 1667 tidak terdapat kepastian. Hadiah yang dibawanya sedikit saja: gula 5 pon, minyak, telur, ngsa, dan burung merak, dan pada surat pengantar tidak terdapat tanda e. Oleh karena itu, Pemerintah Kompeni menyuruh agar surat itu dijawab saja oleh Syahbandar Jan Wesenhagen, dan tidak mengirimkan hadiah balasan seperti yang diminta: emas, perak, dan batu permata (Daghregister, 9 Mei 1667). Apakah Pangeran menjadi jera karena sambutan dingin terhadap hadiah yang dikirimnya itu? Diulangnya usahanya mencari hubungan itu tiga tahun kemudian, dan dilanjutkannya berulang kali sampai tahun 1675. Terhitung sejak perutusan tahun 1667, seluruhnya sembilan perutusan Pangeran telah sampai di Batavia. Dalam daftar di bawah ini perutusan diberi nomor dari 1 sampai 9. Tampaklah bahwa beberapa orang ds antara para utusan itu telah sering kali pergi ke Batavia, misalnya Lurah Sendi yang kemudian memperoleh jabatan sebagai kepala daerah Surabaya dengan nama Tumenggung Urawan (Daghregister, 20 Oktober 1677, hlm. 267). . Tidak pernah para utusan ini datang di Batavia dengan tangan kosong. Kebanyakan hadiah itu berupa hasil pertanian seperti beras dari Surabaya. Hanya terkadang berupa barang berharga seperti tombak bermata tiga yang berlapiskan perak, trisula, (perutusan ke-4 dan ke-5). Adakalanya berupa hasil laut, misalnya udang kering atau ikan pindang dalam periuk (perutusan ke-2). Pernah satu kali pangeran mengirimkan uang 4.000 ringgit, suatu jumlah yang besar (perutusan ke-7). Yang lebih aneh ialah apa yang ingin diharapkannya sebagai balasan: kuda 38 Titimangsa Nama utusan Daghregiste, 9 Mei 1667 si Kedaleman, Si Wangsasuta, si Kartijaya, Daghregister, 27. Agustus dan 13 September 1670 si Suta dan si Natapraja Daghregister, 20 November Lurah Lor, Sastrajiwa, dengan © 1670 pengawas Sastranala dan Sastradria Daghregister, 23 September Lurah Sendi, Lurah Suta, si 1671 Natapraja, si Kartiwangsa Daghegister, 15. April Lurah Sendi, Nampa Sutadria, 1672 Martajiwa, Kartisedana. Daghregister, 27 Mei 1673 Kartiwangsa. Daghregister, 24 September Lurah Martajiwa, Casterien (2), 1673 Lurah Jagawira, Sasmita, Sutanangdita Daghregister, 4 Oktober Guru bahasa) Kartiwangsa. 1673 ster, 2 Januari si Nayakarti, si Promadita (2). 1675 Persia (perutusan ke-2, ke-3 dan ke-5), juga seekor kuda betina Persia (perutusan ke-42), busur dan anak panah serta hulu keris buatan Jepang (perutusan ke-3), ayam Belanda (perutusan ke-4), trompet (perutusan ke-6), pakaian dan berlian (perutusan ke-8), gadis Makassar (perutusan ke-8)! Berulang kali ia meminta penerangan teknis, misalnya tentang cara membuat kereta, mesiu, cara menggergaji (perutusan ke-4), cara memotong dan memberi lapisan email pada cincin berlian. Yang demikian itu memang diperlukannya, jika tidak untuk kepuasan langsung, mungkin juga untuk mempertinggi wibawa sang pangeran, apalagi kuda Persia. Kuda Persia sudah dipesannya melalui perutusan ke-2 (Daghregister, 28 Agustus 1670). Dimintanya agar dua atau tiga ekor kuda yang hendak diberikan oleh Batavia itu dimuat ke dalam kapal di laut terbuka agar orang-orang Mataram yang ada di Batavia tidak mengetahuinya. Orang-orang Mataram yang dimaksudkan itu ialah utusan saudaranya, Pangeran Aria Tiron (kelak bernama Pangeran Singasari), yang empat hari kemudian — setelah menempuh perjalanan darat selama tiga bulan — akan tiba pula di Batavia (Daghregister, 17 September 1670). Karena kedua saudara itu saling membenci, dapat dimengerti mengapa Pangeran Adipati Anom menghendaki agar pengiriman kuda tunggang yang sangat mahal itu dilakukan tanpa diketahui para abdi saudaranya. Dengan membayar 350 rial, ia sesungguhnya hanya memperoleh seekor kuda (Japara, 1 November 1670; K.A. No. 1167), yang sama sekali tidak boleh diketahui Sunan. Sebagai tambahan Pemerintah Kompeni mengirimkan pula 3» oy sebuah kotak emas, pakaian, dan anggur minuman (Daghregister, 20 November 1670). Tetapi putra mahkota itu pun masih juga belum puas. Belum sampai setahun kemudian, diulanginya permintaannya akan kuda melalui para utusannya. Dua orang di antara mereka, Lurah Lor dan Lurah Sastrajiwa, melihat di kandang Kompeni ada dua ekor kuda Persia. Apakah Pemerintah Kompeni tidak pernah minta maaf dengan alasan tidak mampu? Memang setelah itu dari Batavia dikirimkan seekor kuda lagi (Daghregister, 23 September 1671), meskipun agak lambat. Kuda yang kedua ini amat disenanginya. Kiranya, “tidak akan ada lagi kuda yang lebih baik di Istana” (Japara, 20 Agustus 1671; K.A. No. 1173). Orang Jawa bahkan berpendapat “kuda itu cerdas’. Barangkali justru hal ini merupakan keberatan. Sebab, belum sampai setahun Pangeran Adipati Anom menulis, "tidak pantaslah” baginya untuk menghadap ayahnya dengan naik Kuda itu, karena “surai kuda itu tidak memungkinkannya”. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan Jawa tentang surai kuda. Karena itu, diulanginya permintaannya akan kuda dan juga seekor kuda betina Persia. Apakah pangeran itu hendak beternak kuda? Sayang, dua ekor kuda yang dikirimkan Pemerintah Kompeni dari Batavia ke Mataram itu mati (Daghregister, 15 April 1672), sehingga ia terpaksa memintanya sekali lagi. Memiliki kuda yang bagus agaknya sangat penting bagi pangeran itu Tetapi selain keuntungan dan wibawa, putra mahkota juga mengharapkan! persahabatan dari Kompeni. Bahkan ia mencoba agar ayahnya pun mempunyai hubungan yang lebih baik dengan pihak Belanda. Pemerintah Kompeni Batavia, yang tahu bahwa putra mahkota ini kelak akan menggantikan ayahnya, menyambut baik sikap itu. Masalah ini dalam jangka lama akan mempunyai akibat-akibat penting bagi nasib Jawa. Tampaklah pula bahwa putra mahkota mencari hubungan lagi dengan Banten, dan mengirimkan perutusan juga ke sana seperti yang dilakukannya ke Batavia (Daghregister, 30 November, 2 dan 7 Desember 1669; Daghregister, 16 April 1670; Daghregister, 14 dan 15 November 1672). Pemerintah Kompeni Batavia, yang sangat ingin mengetahui seluk beluk hubungan itu sedalam-da- lamnya. menerima berita dari residennya di Banten bahwa perutusan Mataram itu hanya ingin memelihara pertalian persahabatan. Tetapi tidak banyak keuntungan yang diperoleh pangeran itu dari sini. Jadi, tampaklah bahwa kedua pangeran yang bersengketa itu, tetapi terutama putra mahkota, berusaha mencari dukungan dan hubungan dengan luar negeri, tanpa Pangeran Adipati Anom banyak memperoleh manfaat dari padanya. Yang lebih penting ialah bantuan yang dicari dan diperolehnya di dalam negeri, yakni dari keturunan para pangeran Kajoran yang masyhur itu. 40 BabIV Putra Mahkota Mencari Dukungan Raden Kajoran, 1670 ¥ IV—1 Pendekatan pada Kajoran atinya Pangeran Pekik beserta keluarganya yang dibicarakan di halaman lain di dalam cerita tutur merupakan pengantar bagi peristiwa-peristiwa yang baru terjadi kira-kira 11 tahun kemudi- an, yakni pada tahun 1670: yaitu hubungan Pangeran Adipati Anom dengan Panembahan Rama ing Kajoran. £* -Marilah kita lihat dahulu apa yang diberitakan cerita tutur tentang hal ini (Babad B.P., jil. XI, hlm. 28 ~31; Serat Kandha him. 991-995, Meinsma, Babad, him. 159-160). d Setelah pembunuhan atas kakeknya beserta keluarganya, putra mahkota boleh kembali ke dalem-nya, tetapi hatinya tetap duka karena peristiwa yang 4 mengerikan itu. Para sentana dan bupati mendorongnya agar menyatakan diri sebagai raja. Di dalam hatinya bergulat sikap hormat dan takut kepada ayahnya dengan rasa kasihan terhadap penduduk Mataram yang malang. Setelah itu diputuskannya untuk mencari seorang tokoh tempat bersembunyi, sebagai “tabir” (warana), guna merebut Mataram. Teringatlah ia kepada kakeknya, Kajoran, seorang pertapa yang sakti. Kepada pertapa inilah dikirimkannya tiga orang lurah bawahannya. Nama ketiga orang lurah itu tidak terdapat di dalam Serat Kandha, tetapi ada pada sumber-sumber lain. Di dalam Babad B.P. mereka itu bernama: Pranantaka, Sendi, dan Ki Ondakara; di dalam Meinsma, Babad: Pranataka, _ Sumending, dan Andakara. Sebelum membicarakan tokoh terpenting, yaitu pertapa besar dari Kajoran itu, baiklah dipastikan bahwa nama ketiga abdi Pangeran Adipati Anom itu pasti bukan isapan jempol. Sebab, Sendi atau Sumending dikenal sebagai Lura Sindy (Daghregister, 23 41 September 1671) atau Zindy (Daghregister, 15 April 1672), sebagai utusan yang dikirim putra mahkota ke Batavia. Mungkin dialah juga orangnya yang pada bulan Oktober 1677 diangkat sebagai kepala daerah Surabaya dan akan terkenal sebagai Adipati Urawan (Daghregister, 21 Oktober 1677). Dengan wewenang jabatannya itulah ia menandatangani kontrak-kontrak dengan Kompeni tanggal 19 dan 20 Oktober 1677 (Daghregister, 29 Oktober 1677). Dengan ini tidaklah dapat kita begitu saja menganggap dua orang lainnya itu sebagai hasil khayalan. IV—2 Raden Kajoran Ambalik Mengenai pertapa yang terhormat itu pada mulanya sedikit saja menarik perhatian, sekalipun namanya terdapat dalam buku J.KJ. de Jonge (Jonge, Opkomst, jil. VII). Pertama-tama penyair WJ. Hofdijk yang memberi arti penting kepada tokoh ini dalam eposnya In 't Harte van Java — Di Jantung Jawa (Amsterdam, 1881). Dalam eposnya itu pertapa tersebut digambarkan sebagai jiwa pemberontakan besar, sebagai raksasa di tengah-tengah manusia-manusia kerdil, yang berniat merebut Jawa (Hofdijk, Java, him. 9-10). Sikap mula-mula yang mengabaikan Raden Kajoran itu dapat dimengerti Seorang tokoh istimewa seperti Kajoran, yang bertahun-tahun sebelumnya bekerja diam-diam di pedalaman yang belum terjamah oleh manusia, tidak mungkin segera menarik perhatian pihak Belanda. Mereka lebih banyak punya perhatian pada orang Makassar yang lincah atau Raden Trunajaya yang gagah © © perkasa. Raden Kajoran memang menjadi tokoh yang sangat menonjol dalam cerita tutur, tetapi dalam babad peranannya dipandang remeh. Namun di samping orang-orang Madura dan para pembantunya dari luar Madura, pertapa itu mendapat perhatian sepenuhnya. » Untuk memahami tokoh seperti Raden Kajoran kita harus mengetahui silsilahnya. Sampai saat ini masih ada saja orang Indonesia yang sangat terpengaruh oleh teladan para leluhurnya, yang entah terpikirkan entah tidak. ‘Maka sang individu masih terpengaruh oleh nenek moyangnya. Demikian pula dengan Raden Kajoran. Silsilah Kajoran dijumpai dalam “buku silsilah”, Tjandrakanta, kumpulan beraneka ragam tulisan Raden Ngabei Tjondrapradana dari Solo, jilid I. Dalam kunjungan saya ke Kajoran pada tahun 1940, kepada saya diperlihatkan seberkas tulisan tangan dengan isi yang sama. Dari keterangan pada halaman 153 dan seterusnya dalam buku yang isinya tidak teratur ini, tersusunlah silsilah yang sudah terbit dalam risalah saya Masalah Kajoran” dalam Djawa XX (1940), him. 54. 42 IV-3 Silsilah Kajoran Dengan mempelajari silsilah ini, diperoleh gambaran berikut: Raden Kajoran Ambalik (= penyeberang, yang berpihak pada musuh) — dengan namaitulah ia dikenal — menjadi wakil tertua keturunan keempat setelah Said Kalkum ing Wotgaleh yang terhormat itu, kemudian bemama Panembahan Mas ing Kajoran. Cikal bakal keturunan Kajoran ini konon ialah saudara laki-laki tokoh agama kerajaan yang termasyhur, Kiai Ageng Pandanarang, sering disebut sebagaiSunan Tembayat atau Sunan Bayat, yang telah dibicarakan dalam biografi Sultan Agung. Selanjutnya, putra Said Kalkum, yang bernama Pangeran Maulana atau Agung Mas, kawin dengan dua anak perempuan Kiai Ageng Pandanarang. Sehingga keturunannya, dengan demikian juga jadinya termasuk Raden Kajoran Ambalik, menurut garis keturunan perempuan juga berasal Iangsung dari Kiai Ageng Pandanarang. Ada pula menantu Sunan Bayat lainnya, Kiai Ageng Giring, yang di dalam babad menjadi saingan kuat Kiai Ageng Pamanahan, pendiri dinasti Mataram. Dari keturunan ini lahir tokoh yang dikenal sebagai pemberontak, Wana- kusuma, yang selepas tahun 1680 berjuang melawan Sunan dan Kompeni. Juga seorang pejabat tinggi kerajaan yang kemudian, Raden Adipati Nerangkusuma, mempunyai darah Tembayat. Walaupun ia tidak bersikap melawan terhadap dinasti Mataram, ia merupakan lawan hebat pihak Belanda. Banyak pemimpin pemberontak merasa bangga karena berasal dari Tembayat. Dalam hal ini justru Raden Kajoran inilah yang memberi contoh pada mereka itu. Tentang hal ini bacalah satu-satunya terjemahan surat yang tersimpan dalam Arsip Kolonial, yang ditujukan kepada "saudaranya”, yaitu Adipati Martapura, kepala daerah Jepara (K.A. No. 1219, hlm. 1054-1055). Dalam tulisan itu dikatakan bahwa Raden Kajoran berdoa "untuk memper- oleh bantuan buyut kita dari daerah Tembayat, Kajoran, dan Semarang”. Artinya, ia tidak hanya merasa bangga karena leluhumya bersemayam di pekuburan megah Kajoran, melainkan juga karena keluarganya berasal dari Tembayat. Bahwa Semarang muncul, mudah dimengerti; bukankah Sunan Bayat mulai memegang jabatan sebagai bupati Semarang? Ikatan semenda dengan Tembayat ini bukanlah tanpa arti, karena Tembayat selalu tidak disenangi pihak Keraton.‘Kunjungan Sultan Agung pada tahun 1633 harus dilihat sebagai pengecualian. Hubungan keluarga dengan Tembayat dengan demikian merupakan sikap tidak setuju dengan dinasti yang sedang memerintah. Pada umumnya juga tidak ada ikatan keluarga antara keturunan Tembayat dan keluarga Mataram, dengan satu pengecualian: Kajoran. q Menurut Sadjarah Dalem, seorang putri Panembahan Agung ing Kajoran, menantu Kiai Ageng Pandanarang, kawin dengan putra Kiai Ageng 43 eq Pamanahan, Senapati, dan sejak itu bernama Raden Ayu Mataram; sedangkan saudara laki-laki Pangeran Agung ing Kajoran kawin dengan putri pendiri dinasti Mataram. Sadjarah Dalem membenarkan hal ini. Dari perkawinan Senapati dengan putri Kajoran itu lahir dua orang putra: Pangeran Adipati Riyamenggala dan Pangeran Adipati Jayaraga ing Panaraga (generasi 132: 7 dan 9); putri Mataram yang kawin dengan Panembahan Agung ing Kajoran disebut Rara Subur. Jadi, Senapati dan Panembahan Agung ing Kajoran beripar ganda. Kemudian'seorang putri Senapati, Raden Ayu Wangsacipta, kawini dengan Pangeran Raden ing Kajoran (generasi 132: 14). Kedua sumber membenarkan hal ini. Setelah itu masih beberapa generasi berlalu sebelum keluarga Kajoran dan Mataram mempunyai pertalian keluarga melalui perkawinan lagi. Adik perempuan Panembahan Rama (Pangeran Kajoran Ambalik) bernama Raden Ayu Panembahan Raden, karena kawin dengan Kanjeng Panembahan Raden, putra Pangeran Mas Adipati ing Pajang, dan mempunyai seorang putri bernama Ratu Kilen. Adapun Ratu Kilen disebut menjadi ibu Pangeran Puger. Sadjarah Dalen tidak membenarkan hal ini, dan hanya memastikan bahwa ibu seorang putri yang mati muda bernama Mas Ayu Wulan dan kawin dengan Mangkurat I dikatakan berasal dari Kajoran. Bagaimanapun, ikatan keke- luargaan menjadi jauh lebih renggang (Sadjarah, generasi 135: 9). Pada penggantian pangeran putri yang segera meninggal oleh Pangeran Puger yang kemudian menjadi Sunan Pakubuwana I, dapat kita lihat adanya usaha menempatkan keluarga Kajoran sebagai kepala keluarga Pakubuwana. Mungkin ada perbedaan mengenai bagian-bagiannya, tetapi pada pokoknya cerita-cerita tutur itu sependapat bahwa pada mulanya terdapat hubungan baik antara keluarga Kajoran dan keluarga Mataram yang terwujud dalam perkawinan kedua belah pihak. ~ Mungkin keluarga Mataram berpendapat, mengikat tali perkawinan dalam keluarga yang sudah terkenal sejak dahulu merupakan cara yang ketika itu berguna untuk mempertinggi wibawa. Dengan Pajang pun keluarga Kajoran selalu mempunyai hubungan keluarga: salah seorang putri Pangeran Agung ing Kajoran kawin dengan Kanjeng Tumenggung Pangeran Sindusena, putra raja Pajang, yang di sini tidak disebut sebagai sultan, melainkan sekadar sebagai Prabu Wijaya dari Pajang. yang dapat menunjukkan tingkat ketuaan usianya dalam silsilah. Sebelum keluarga Mataram berwibawa, keluarga Kajoran Tupanya sudah mempunyai pengaruh besar. Bahwa Pangeran Adipati Anom memanggil eyang kepada Raden Kajoran Panembahan Rama memperkuat kepercayaan di antara kedua silsilah itu. Jika keduanya itu diletakkan berdampingan, tampak bahwa generasi Panembahan Rama menempati kedudukan dua tingkat lebih tinggi daripada generasi putra 44 mahkota. Melihat hubungan yang terjalin antara kedua keluarga itu, tidak mengherankan sama sekali jika Pangeran Adipati Anom mengundang Raden Kajoran yang mulia itu guna diminta nasihatnya. IV—4 Keluarga Purbaya Selain kawin dengan raja-raja Mataram, banyak juga putri Kajoran yang kawin dengan para pangeran keturunan raja. Pertama-tama diberitakan tentang mereka yang kawin dengan empat orang Purbaya pertama dalam silsilah. Pangeran Purbaya I kawin dengan putri Pangeran Agung ing Kajoran; Pangeran Purbaya II dengan putri Pangeran Raden ing Kajoran; Pangeran Purbaya III dengan putri Kanjeng Panembahan Raden, yaitu kemanakan Pangeran Kajoran Ambalik; Pangeran Purbaya IV dengan putri Panembahan Purbaya Il, jadi juga kemanakan Pangeran Kajoran Ambalik ini. Sementara itu, kita lihat bahwa seperti Purbaya III dan Purbaya IV termasuk generasi yang sama, demikianlah pula halnya dengan istri masing-masing. Juga haruslah diperhatikan bahwa, menurut sumber Belanda, berbeda dengan sumber Jawa, Panembahan Purbaya II selalu membangkang terhadap kemanakannya, Sunan Mangkurat I, dan berkomplot dengan putranya, Pangeran Adipati Anom. Oleh karena itu, keluarga Purbaya juga terdapat di kalangan pihak pemberontak. Selanjutnya kita dapati bahwa keluarga Kajoran mempunyai pertalian dengan beberapa anggota keluarga Wiramenggala, sekalipun berita-berita mengenai hal itu tidak jelas dan tidak lengkap. Sudah kita ketahui bahwa ada seorang selir dari Kajoran yang selain kepada Pangeran Adipati Jayaraga ing Panaraga, juga memberikan seorang putra kepada Senapati, yaitu Raden Gatot, yang kemudian bernama Pangeran Adipati Riyamenggala. Dalam Sadjarah Dalem namanya tercatat sebagai Wiramenggala. Jadi, ia saudara tiri Pangeran Purbaya I. Dalam silsilah itu tidak ditemukan nama Raden Aria Wiramenggala yang antara tahun 1666 dan 1670 — menurut sumber Belanda — sebagai saudara Purbaya Il dan yang menemukan ajalnya di tangan Purbaya Il sendiri atas perintah Raja (Daghregister, 6 Juli 1670). Seorang bemama Raden Kartanadi yang tidak lain adalah Pangeran Adipati Wiramenggala, diberitakan menjadi menantu Mangkurat J. Ia pun putra Panembahan Raden, jadi kemanakan Raden Kajoran Ambalik. Selama pemerintahan Sultan Agung keluarga Kajoran masih menikmati karunia Raja. Dalam sebuah piagam raja ini, bertanggal 20 April 1641, nama Pangeran Kajoran disebut segera setelah Panembahan Cirebon (Holle, "Preanger-Regentschappen”, TBG XVII 1869, hlm. 349). 45 Jadi, tampaklah bahwa keluarga Kajoran merupakan keturunan yang di satu pihak erat pertaliannya dengan raja-raja Mataram yang memerintah, terutama dalam masa paling awal, dan di pihak lain secara teratur pula mengadakan ikatan keluarga dengan pangeran-pangeran terkemuka, yakni dari keluarga Purbaya dan Wiramenggala, yang terutama mencolok pada keluarga Purbaya. Dengan demikian, mereka menjadi agak menjauhkan diri dari pihak penguasa yang sah dan berada di pihak oposisi. Ini tentunya terjadi setelah wafatnya Sultan Agung, yaitu dalam masa pemerintahan penggantinya. Mengenai Pangeran Kajoran Ambalik, Tjandrakanta (Tjandrapratata, Serat) hanya menyebutkan saudara-saudara lelaki dan perempuannya saja, tidak disebutkan anak-anak. Sumber Belanda mengisi sedikit kekosongan ini. Pertama-tama disebutkan beberapa orang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, yang tidak sama dengan nama-nama yang disebut dalam Tjandrakanta, yakni: 1. Seorang adik laki-laki yang tidak mempedulikan segala-galanya; 2. Seorang adik laki-laki Raden Kahunan yang oleh Raden Kajoran ditetapkan sebagai penguasa Jawa Tengah; 3. Abang yang tertua, mungkin ‘bernama Pangeran Pamingak; 4. Seorang abang, Wirameja, mertua Pangeran Puger; 5. Seorang saudara perempuan yang tidak disebut namanya, yang pada saat terakhir tetapi terlambat mencoba menyelamatkan Raden Kajoran. Tentang anak-anak mereka, diketahui sebagai berikut: ke-1 dan ke-2. Dua orang putri yang kawin dengan Pangeran Wiramenggala dan Raden Trunajaya. ke-3. Raden Wirakusuma, panglima besar kaum pemberontak. ke-4. Raden Panganteen atau nama nya Beere; ke-5 dan ke-6. Raden Kartanegara dan Wangsadika; mereka bersama putra- putranya menemui ajal; ke-7. Kartipada, kemudian menjadi salah seorang pemberontak. Jelaslah, Raden Kajoran tidak berdiri sendiri tetapi menjadi kepala keluarga besar. IV—5 Tempat Kajoran Keturunan ini mempunyai tempat kedudukan, yaitu di Kajoran, kira-kira empat kilometer sebelah selatan Klaten. Di sana sampai tahun 1940 masih terdapat sebuah tempat tinggal yang megah tetapi sudah agak ambruk, yang pernah menjadi dalem keluarga Kajoran, letaknya di atas pekarangan luas dan dikelilingi pagar. Penghuni waktu itu, Raden Ngabei Mohamad Usman, masih dapat menunjuk tempat dikirleluhurnya yang besar itu. Sebuah sumur buatan leluhur mengeluarkan air yang berkhasiat untuk pengobatan. Di sebelah timur terdapat pemakaman kecil, dengan tiga pusara sederhana, yakni dari Raden 46 Kajoran Ambalik, Riyamenggala, dan Pangeran Bima. Selama berabad-abad Kajoran merupakan desa perdikan. Sebuah makam yang lebih tua terletak 500 meter lebih ke selatan. Makam itu tampak agak terbengkalai, mungkin disebabkan banjir yang melanda daerah ini. Hanya makam Pangeran Agung ing Kajoran yang masih agak baik keadaannya. Masjid kecil di dekatnya bahkan tetap terpelihara dengan baik. Bangunan kecil itu disebut masjid air, dengan serambinya yang sangat besar. Setelah pemberontakan Raden Kajoran Ambalik yang gagal, dalem-nya dirampok dan dibakar. Sampai tahun 1682, sekalipun terancam bahaya besar, para pemberontak dari keluarga Kajoran masih melakukan upacara ziarah di makam-makam keramat ini Pangeran Kajoran Ambalik dengan demikian berasal dari keluarga setengah raja dan setengah “ulama”, memiliki sebuah dalem dan juga sebuah makam keramat. Selain itu ia tidak hanya membanggakan kafena kemashyuran Jeluhurnya. [a sendiri juga memiliki sifat-sifat luar biasa. Menurut keterangan babad, ia kuat sekali bertapa, lagi pula sakti. Baiklah diingat pula cerita tutur yang menunjuk tempatnya berdikir. Bahkan di kalangan istana pun keahliannya itu dihargai. Karena itu, ia tidak begitu diperhitungkan orang Belanda. Speelman menyebutnya "seorang pemburu iblis atau peramal”, juga: "Nabi kaum iblis” (Daghregister, 28 Juli 1677, hlm. 239). Tetapi penduduk dengan rasa gentar menyebutnya Panembahan Rama — bapak yang mulia. Bagi kita ada sebuah berita dalam Babad Alit (hlm. 30) yang penting, yaitu mengenai kedua putri Pangeran Kajoran. Putri yang tua kawin dengan Pangeran Wiramenggala, adik Pangeran Purbaya, dan yang muda dengan Raden Trunajaya (Babad Alit, him. 40). Pangeran Wiramenggala dituduh memberontak kepada Raja, dan itulah sebabnya Mangkurat I menyuruh agar ia dibunuh oleh kakaknya sendiri, Pangeran Purbaya. Ketika ia meninggal, ternyata istrinya, cucu Kiai ing Giring Ill, dalam keadaan hamil tiga bulan. Anak yang manis kemudian ditukar dengan putra Sunan, yang lahir “tan prayogi”, yakni dalam keadaan terbungkus. Demikianlah menjadi kenyataan suatu ramalan lama dari Kiai ‘Ageng Giring: seorang cucu dari Kajoran akan naik tahta Mataram sebagai Pakubuwana I. Cerita ini selanjutnya masih terkenal di daerah Yogya—Solo, dan nyatanya dipercaya kebenarannya. Pertukaran yang romantis ini sebenarnya tidak mungkin terjadi, karena Pangeran Puger ketika untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai Sunan pada tahun 1677 usianya tidak mungkin lebih dari tujuh tahun. Kesimpulan agak pasti ialah bahwa cerita tutur yang lahir di kalangan keturunan atau pendukung Kajoran itu masih tetap ingin mempersembahkan kejayaan anumerta kepada pemimpin-pemimpinnya yang sudah tiada. 47 Tetapi agaknya kita dapat membenarkan bahwa hukuman yang kejam atas Raden Aria Wiramenggalaitulah yang menjadi alasan lebih kuat bagi Raden Kajoran Ambalik untuk berpihak pada para pembangkang. Bab V Persekutuan dengan Raden Trunajaya, 1670 V—1 Raden Trunajaya diperkenalkan kepada putra mahkota iga sumber Jawa (Babad B.P., jil. X1, hlm. 33-37; Seat Kandha, hlm. 995-999; Meinsma, Babad, hlm. 159-161) hampir,sama dalam menggambarkan cara Raden Kajoran memperkenalkan menantunya, Raden Trunajaya, kepada putra mahkota Babad B.P. menceritakan betapa Raden Kajoran Ambalik terkenang kembali akan menantunya, Raden Trunajaya. Adapun Raden Trunajaya adalah Demang Mlaya (pada Rouffaer: Raden Demang Mlayakusuma) yang tewas dalam perang melawan Pangeran Danupaya (Serat Kandha: Pangeran Alit; Meinsma, Babad: Pangeran Alit). Ketika itu Raden Trunajaya masih kecil (Serat Kandha, him. 995: 7 tahun). Ayahnya digantikan oleh adiknya, Adipati grat, sebagai adipati Madura, tetapi orang-orang Madura sebenarnya menginginkan Raden Trunajaya. Selama masih muda, Raden Trunajaya tinggal pada pamannya. Setelah dewasa ia mempunyai hubungan rahasia dengan putri pamannya, yang menyebabkan jiwanya terancam. Tetapi orang Madura (di Mataram?) merasa kasihan terhadapnya, dan membantunya melarikan diri ke dalem Pangeran Adipati Anom. Para abdi putra mahkota telah disogok dengan berbagai hadiah oleh Cakraningrat, sehingga tidak timbul masalah apa pun. Selanjutnya Raden Trunajaya mengembara selama beberapa waktu; akhirnya ia diterima sebagai menantu oleh Raden Kajoran. Menantu ini amat disayangi oleh Raden Kajoran. Sebagai pertapa ia tahu, Raden Trunajaya akan menjadi pahlawan besar, dan akan mengguncangkan seluruh Jawa. Karena itu, diperlakukannya menantunya itu baik-baik; dan kepada putra mahkota dikatakannya bahwa menantunya akan menjadi wakil yang pantas jika ditempatkan di Madura. Saat terwujudnya ramalan itu hampir tiba. Telah menjadi kehendak Yang Maha Esa bahwa Mataram yang 49 sudah tua akan musnah. Nama Mataram akan lenyap. Pangeran Adipati Anom ingin berkenalan dengan Raden Trunajaya. Setelah itu Raden Kajoran menjelaskan kepada Raden Trunajaya apa yang akan menjadi tugasnya, dan menunjuk juga pada kemungkinan akan timbulnya akibat-akibat yang buruk. Pemuda itu bersedia menghadapi segala akibat, bahkan seandainya menghadapi maut sekalipun. Pangeran Adipati Anom merasa sangat gembira ketika mendengar pernyataan itu, dan diperintahkannya agar Raden Trunajaya berangkat ke Sampang, Madura, tetapi harus bertindak dengan bijaksana. Ia harus membujuk rakyat; dan mencegah penduduk Sampang menghadap ke Istana untuk berdatang sembah, sehingga Adipati Cakraningrat akan terkucil seorang diri. Pejabat-pejabat rendahan, atau para prabot, harus tinggal di Madura. Kemudian ia pun harus membujuk pesisir dan mancanegara. Menurut Serat Kandha, putra mahkota berjanji kepada Trunajaya akan mengangkatnya sebagai tumenggung. Ia harus bisa tutup mulut; putra mahkota akan menanggung segala pembiayaannya. Menurut Meinsma, Babad, putra mahkota memberi perintah kepada bawahannya agar segera memberi- kan uang, pakaian, dan alat-alat perang kepada Raden Trunajaya. Raden Trunajaya dan Raden Kajoran kemudian kembali ke Kajoran, dan di sana Raden Kajoran masih memberikan banyak pelajatan kepada menantu- nya. Menurut Serat Kandha, hlm. 997, Raden Trunajaya harus tinggal di Surabaya sebagai raja, sekalipun akan menimbulkan kemarahan Mataram. Jika saatnya telah tiba dan terjadi kekacauan di Mataram, ia akan diperintahkan oleh putra mahkota menghancurkan Keraton Mataram, atau, menurut Meinsma, Babad, putra mahkota akan menyusulnya. Siapakah sesungguhnya Raden Trunajaya ini? V-—2 Silsilah Raden Trunajaya Mengenai para leluhur Raden Trunajaya kita peroleh keterangan yang paling baik dari pemberitahuannya sendiri kepada utusan Belanda, Piero, seorang Mor, dalam pembicaraannya yang terakhir (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 92). Karena silsilah ini saat itu (10 Februari 1667) masih dapat diragukan, maka Raden Trunajaya kiranya tidak berani menyimpang terlalu jauh dari yang sebenarnya, dan pasti tidak tentang keluarganya yang terdekat. Ia menyebut nama ayahnya “Rading Damang Maleya ... putra Pangeran Magirie”. Nama Pangeran Magirie dapat ditemukan kembali dalam "Geschiede- nis van het Madoeresche Vorstenhuis” atau Sejarah Kerajaan Madura (TBG XX, him. 258 dan selanjutnya) sebagai Pangeran Cakraningrat I, yang dimakamkan di Imogiri. Makam ini terdapat di luar Madura karena ia tewas dalam perang melawan Pangeran Alit di alun-alun, seperti sudah dibicarakan di halaman Jain. Putranya, Raden Demang Melaya, menurut Palmer, "Madoera”, lahir dari 50 seorang selir. Tetapi, menurut Rouffaer, wanita itu disebut sebagai ganwa, permaisuri. Sumber-sumber Jawa juga mendukung silsilah ini. Menurut sumber Madura itu selanjutnya, Cakraningrat I digantikan oleh putranya, yang kedua dari Ratu Ibu, putri Sunan Giri yang bernama Nyi Ageng Sawu. Wanita ini hidup lebih lama daripada suaminya dan kini dikuburkan di makam raja-raja Airmata sendirian, karena suaminya dimakamkan di Imogiri. Apakah ayahnya, Panembahan Giri, sama dengan Kawisguwa, yang pada tahun 1634 dibawa Sultan Agung ke Mataram? Cerita tutur Madura menamakan putra yang kedua itu Pangeran Undagan,” dan menceritakan seolah-olah ia segera menggantikan ayahnya dengan gelar Pangeran Cakraningrat II. Hal ini tidak benar, karena gelar Cakraningrat baru terdapat pada keturunan ini pada tahun 1680. Sebelumnya mereka hanya bernama Pangeran Sampang. Juga bahwa ia akan segera menggantikan ayahnya, harus diragukan. Pada akhir tahun 1656 ada seorang pangeran Sampang yang menjadi korban kesewenang-wenangan Sunan Mangkurat (Daghregister, 7 Desember 1656, hlm. 33). Bersama dengannya juga, ibu dan dua saudara laki-lakinya menemui ajal. Dan Pangeran Sampang ini tidak mungkin sama dengan pangeran yang pada tahun 1647 tewas dalam perang melawan Pangeran Alit, yang dalam cerita tutur terkenal sebagai Cakraningrat (1). Ia pun bukanlah Cakraningrat II yang baru meninggal pada tahun 1707. Yang paling dapat diterima ialah jika ia disamakan dengan Raden Demang Melaya, yang diangkat sebagai penguasa atas Madura dari tahun 1647 sampai 1656. Demang ini mendapatkan namanya dari sebuah tempat di Madura yang bernama Melaya. Menurut sebuah surat Raden Trunajaya kepada Sunan Mangkurat II, demang ini memangku jabatan mantri anom. Apa sebabnya ia sampai dihukum, hanya dapat diduga-duga saja. Apakah karena fungsinya yang dibatasi, sehingga ia melakukan perlawanan? Mantri anom selanjutnya merupakan pejabat keraton, yang bertugas sebagai gandek atau mantri untuk patih (lihat: Gericke, Woordenbock). Menurut Couper, seorang mantri seperti itu boleh memasuki dalem (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 105). Fungsi itu rupanya berdasarkan kepercayaan. Barangkali ia tidak pernah tinggal di Madura karena telah menjadi rencana Sunan untuk mengikat vazal-vazalnya di Istana. Tetapi ayah ini tidak terlepas sama sekali dari Madura. Dalam surat terakhir kepada "kommandeur” Couper Raden Trunajaya memberikan alasan mengapa ia memberontak, yaitu bahwa ia "mempunyai hak di Madura” Gonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 181). Dari siapakah ia memperoleh hak itu jika 7 Putra yang pertama bernama Atmajanehara; selain itu ada seorang putri, Ratu Martapati. SL hen Me tidak dari ayahnya? Pamannya, Adipati Cakraningrat Il, sebaliknya tidaklah demikian, setidak-tidaknya ia "tidak berhak ada di dalam daerahnya” (Djawa XX, him. 30). ‘Trunajaya setelah kekalahannya, merendahkan diri di hadapan Sunan Mangkurat II; maka pada tahun 1679 diterimanya dari Sunan gelar ayahnya: Demang Melaya, juga separuh dari tanah Madura; jadi, gelar ditambah dengan daerah. Ini membuat kita dapat menerima pendapat bahwa ayahnya pun pernah mempunyai kekuasaan teritorial atas Madura.® V-3 Masa kanak-kanak Raden Trunajaya Ketika ayah Raden Trunajaya pada tahun 1656 dibunuh bersama sejumlah abdinya, maka putranya yang berusia tujuh tahun, mungkin karena masih kecil, tidak turut terbunuh. Ia disingkirkan oleh abang ayahnya, Raden Undagan, yang ketika itu terkenal sebagai Pangeran atau Adipati Sampang. Adapun Pangeran Sampang kemudian lebih terkenal sebagai Pangeran atau Panembahan Cakraningrat II, dan diberitakan biasanya tinggal di Mataram (Daghregister, 20 Agustus 1664), sehingga menurut babad Madura sedikit sekali ia berhubungan dengan para abdinya di Madura (TBG XX, 1873, hlm. 260). Tetapi agak dapat dipastikan ia mempunyai sejumlah abdi Madura di sekitarnya.? Pada bulan Mei tahun 1677 Raden Trunajaya tidak menyangkal "dididik dan dibesarkan oleh Sunan” (Jonge, Opkomst, jil. VI, hm. 118). Apakah Raja juga mendidik anak-anak para vazal (raja-raja taklukan) yang tinggal di ibu kota? Bagaimanapun, Laporan Umum tanggal 5 Juli 1677 memandang Raden Trunajaya sebagai seorang pangeran Mataram “yang dididik di lingkungan Sunan yang sudah tua ini” (Jonge, Opkomst, jil. VIL hlm. 167). Sebuah berita dari tahun 1679 juga membicarakan — dengan maksud tertentu — rasa 8 Menurut keterangan Rouffaer, ia juga pemah menjadi Adipati Sampang. 9 Sebuah cerita rutur lainnya. yang kebenarannya mungkin harus lebih diragukan, memandang Raden Trunajaya sebagai putra Sunan. Ibunya. seorang selir Raja dan hamil karenanya, konon selama hamil telah melakukan beberapa kejahatan, sehingga diusir oleh Raja: setelah itu raja Sampang yang lama (Cakraningrat 1) dipanggilnya ke Istana dan diperintahkan mengambil wanita itu, dengan larangan mendekatinya sebelum wanita itu melahirkan; juga diperintahkan supaya mengawininya, mendidik anaknya dan setelah dewasa mengirimkannya ke Istana. Cerita yang sudah tercatat oleh Jan Franszen Holsteyn ini banyak persemaannya dengan sejarah Raden Patah (Meinsma, Babad. him. 20). Valentijn memberikan cerita yang serupa, yang mungkin diperolehnya dari Gubernur Jenderal Jv. Hoorn (Valentin, Oud en Nieuw, jl IV. him. 106~107 dan naskah H 73 dari KITLV). 52 prihatin Raja sebagai seorang ayah. Mungkin ketika itu dan di sekitar masa itu ia dikenal sebagai Nilaprawata (Djawa XX, hlm. 30). Setelah beberapa tahun berlalu, pamannya mencurigai Raden Trunajaya mempunyai hubungan rahasia dengan salah seorang kemanakan perempuan- nya, lalu mengusirnya. Bahkan Pangeran Sampang diberitakan hendak menghabisi nyawanya, sehingga ia hanya dapat diselamatkan oleh kebaikan hati orang-orang Madura yang tinggal di Mataram. Ada sebuah berita yang menunjuk kepada fakta-fakta ini — termuat dalam sebuah surat Raden Trunajaya kepada Speelman, bahwa ia "dicurigai telah berbuat salah terhadap paman saya, yang ingin membunuh saya, padahal saya tidak bersalah” (K.A. No. 1218, hlm. 1696). Sekali lagi ia menunjuk kembali kepada hal itu dalam sebuah tulisan yang disampaikan pada tanggal 18 November 1679 kepada penguasa tertinggi Jacob Couper: Adipati Sampang ingin membunuhnya “tanpa suatu kesalahan”. "Raja Mataram tidak menyelidiki masalah itu ... tetapi juga ingin membunuh saya” (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 281). Dalam sebuah surat kepada komplotannya yang lama, yang kemudian menjadi Sunan Mangkurat II, ia menyatakan dengan nada meluap-luap, "Mengapa mereka ingin merusakkan diri saya di Mataram? Saya juga diburu dan hendak dibunuh, dan itulah yang dilakukan Adipati Sampang tanpa membawa masalahnya kepada raja Mataram untuk diselidiki” (Djawa XX, hlm. 30). Orang-orang Sampanglah yang menyelamatkan jiwanya ketika itu. Mung- Kin mereka itu orang-orang Madura yang tinggal di Mataram, baik yang termasuk maupun yang tidak termasuk abdi Adipati Sampang. Sudah pasti ia tidak akan begitu mudah dapat melarikan diri ke Madura; dan jika ini berhasil, kelak pasti ia tidak akan kembali lagi. Ada suatu petunjuk samar-samar mengenai kegiatan orang-orang Sampang ini. Couper memberitakan pada tanggal 14 Mei 1680 dari Surabaya bahwa seseorang bernama Angantaka "menjadi satu-satunya sebab mengapa Trunajaya memberontak terhadap Raja” (K.A. No. 1249, hlm. 2079). Itulah sebabnya Adipati Cakraningrat II "setelah tujuh tahun, memerintahkan agar membunuh dengan diam-diam” orang itu. Hilangnya orang itu mestinya terjadi pada tahun 1673. Di antara para panglima Raden Trunajaya, yang pada tahun 1677 di bawah pimpinan Adipati Wiramenggala menyerang Mataram dari utara, terdapat juga seorang demang bernama Angantaka (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 137, 149), yang mungkin sama dengan Demang Angantaka yang gigih dari Balega itu, yang pada tahun 1680 tidak mau menyerah kepada Adipati Cakraningrat II. Mungkin ia putra Demang Angantaka yang sakit hati itu, yang pada tahun 1673 dibunuh atas perintah Adipati Cakraningrat II. la berasal dari Balega dan karena itu mestinya pernah menjadi abdi Pangeran Sampang, sehingga ia mungkin sekali termasuk orang-orang Sampang yang 53 melindungi Raden Trunajaya. Putranya, "seorang pemuda yang angkuh .... tetapi tidak gila”, melanjutkan perjuangan itu, karena khawatir akan mengalami nasib yang sama seperti ayahnya. V—4 Raden Trunajaya di Kajoran Dalam tahap selanjutnya, Raden Trunajaya mencoba agar diterima mengabdi kepada matahari yang sedang naik, yakni Pangeran Adipati Anom, tetapi tidak bethasil; semua penduduk Kadipaten telah disuap oleh Adipati Sampang. Rupanya, Adipati Sampang menanggalkan rencana pembunuhan- nya dan mencoba mencapai tujuannya dengan memakai akal yang licin. Bahkan Raden Trunajaya tidak diperkenalkan kepada putra mahkota. Bahwa ia benar-benar ingin mengabdi kepada pangeran itu, ditegaskannya kemudian dalam suatu tulisan yang dialamatkan kepada pangeran tersebut dengan kata-kata: "Hamba mohon dengan sangat agar dapat diterima di dalam barisan pengabdi Sunan (tatkala itu masih putra mahkota), tetapi jalan hamba ke sana dipotong oleh Adipati Sampang, karena ia telah menyuap semua mantri Mataram, bahkan putra-putra Sunan” (Djawa XX, hlm. 160). Ahli intrik Cakraningrat itu tidak hanya mencegah agar Sunan memperlakukan kemanakannya itu dengan baik, melainkan juga agar kemanakannya tersebut tidak bisa bekerja di bawah pimpinan putranya. Itulah sebabnya Raden Trunajaya menggabungkan diri dengan pihak oposisi. Selama beberapa waktu ia tidak mempunyai tempat tinggal dan berkelana tanpa tujuan tertentu. Kemudian ia diterima oleh Pangeran Kajoran Ambalik sebagai menantu, dan sejak itu amat disayangi oleh pangeran itu. Perkawinan ini dikukuhkan oleh pejabat Istana, Jagapati (Japara, 15 Maret 1677, K.A. No. 1218, him. 1634): "Kiai Kajoran beberapa tahun yang lalu memberikan salah seorang putrinya sebagai istri kepada Trunajaya.” Kemudian ia memang bercerai dengan wanita ini, tetapi hal ini tidak merenggangkan tali persahabatannya dengan Raden Kajoran. Pada tahun 1678 Speelman melihat Raden Kajoran atau Panembahan Rama dan bekas menantunya "Trunajaya” masih sebagai sekutu yang setia (instruksi untuk Saint Martin, 23 Maret 1678; Jonge, Opkowst, jil. VII, him. 198). Cerita tutur juga berpendapat bahwa hubungan. mereka baik sekali, karena sang bapak mertua menganggap menantunya seorang pahlawan besar yang akan dapat mengguncangkan seluruh Jawa. Orang dapat menarik kesimpulan akhir bahwa Panembahan Rama yang mulia itu sama sekali tidak menolak terjadinya keguncangan seperti itu. V—5 Persekutuan Raden Trunajaya dan putra mahkota. sekitar 1670 Rupanya, sumber-sumber Belanda tidak memberitakan sesuatu pun tentang hubungan antara Raden Kajoran dan putra mahkota, tetapi ada memuat agak banyak mengenai suatu perjanjian antara Raden Kajoran dan Raden 54 Trunajaya. Tokoh Madura ini pada tanggal 10 Februari 1677 memberitahukan kepada utusan Belanda, seorang Mor bernama Piero atau Piroe, bahwa "sebelum mulai perang, ia telah mengadakan perjanjian dengan Pangeran Adipati (Anom)” (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 93). Pada tanggal 5 Juli tahun itu Pemerintah Kompeni menulis, "sudah beberapa tahun” putra mahkota dengan diam-diam mulai merencanakan kejahatan darf mengadakan korespondensi dengan Pangeran Madura (Truna- jaya) ... yang menguasai wilayah dan bermukim di Pulau Madura, dan - memberi kesempatan kepadanya untuk menyerang pangeran yang pertama, Pangeran Adipati, dan melaksanakan rencananya yang jahat itu berdasarkan beberapa perjanjian rahasia (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 167). Adanya perjanjian lisan juga disinggung oleh Raden Trunajaya sendiri dalam salah satu suratnya yang terakhir kepada komplotannya yang lama (Djawa XX 1940, hlm. 160). Memang setelah mala petaka di Gegodog "konon Singasari Adipati Anom yang marah dan sakit hati itu di depan ayahnya dan seluruh Istana dengan terang-terangan” menyatakan bahwa Raden Trunajaya telah meminta agar diadakan pemberontakan bersenjata terhadap Kerajaan “berdasarkan beberapa perjanjian tertentu yang dibicarakan di antara mereka” (Jonge, Opkomst, jil. VII, hm. 194—195). Jadi, ada suatu perjanjian yang dibuat secara lisan. Bahkan tentang saat perjanjian itu dibuat, sumber-sumber Belanda dapat memberikan keterangan sedikit karena Daghregister tanggal 12 Juni 1671 memuat berita dari Jepara tanggal 7 Juni 1671: menurut desas-desus "Pangeran Madura, Pangeran Purbaya, atau salah seorang pembesar lainnya di istana Raja dicurigai ... telah melakukan komplotan bersama dengan Pangeran Adipati untuk menjatuhkan Raja dari tahtanya, karena ada kemungkinan akan diambil tindakan bersenjata terhadap mereka.” Yang dimaksudkan dengan Pangeran Madura itu sudah tentu Raden Trunajaya. Maka, terdapat suatu penegasan lagi tentang adanya komplotan itu, kali ini dengan mendapatkan kerja sama dari tokoh lama yang terkenal sebagai pemberontak, yakni Pangeran Purbaya. Bagaimanapun perjanjian itu dibuat beberapa waktu sebelum awal Juni 1671, mungkin sudah pada tahun 1670, sewaktu ketegangan antara putra mahkota dan ayahnya telah mencapai puncaknya. Hal ini dapat dilihat dengan saat tewasnya Wiramenggala, dan pengangkatan Pangeran Singasari untuk sementara. Pengangkatan putra mahkota pada tahun 1670 sebagai penguasa Surabaya, dengan mempunyai seorang wakil di sana, akan memudahkan hubungannya dengan Trunajaya setelah keberangkatannya ke Madura. Kiranya menarik jika kita mengetahui hal-hal apakah yang dibicarakan antara kedua pelaku komplotan itu, dan perjanjian apakah yang mereka adakan. Hanya mengenai hal yang terakhir ini kita memperoleh sedikit 35 keterangan dari sumber-sumber Belanda. Pemerintah Kompeni semula masih belum mengetahui "perjanjian rahasia ini, yang lebih banyak merupakan dugaan daripada berdasarkan kenyataan” (Laporan Umum 15 Juli 1677; Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 167). Antaranya karena pemberitahuan Raden Trunajaya sendiri, maka terdapat lebih banyak keterangan tentang hal ini. Setelah pertempuran di Gegodog (13 Oktober 1676) ia diberitakan melalui surat bahkan memohon kepada putra mahkota “agar diperbolehkan memegang pemerintahan atas Madura menurut hak para leluhunya” (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 255: sebuah surat dari Raden Trunajaya kepada Tumenggung Suranata, diterima pada 9 Januari 1679). Apakah surat ini untuk mengingatkan kembali kepada perjanjian lama? Tidak ada jawaban atas surat itu. Sebaliknya, cerita tutur (Serat Kandha, him. 996) bahkan berpendapat, kedudukan sebagai tumenggung telah dijanjikan kepada Trunajaya. Hal ini ~ mungkin disinggung dalam surat-suratnya yang kemudian yang menganjurkan diadakannya kerja sama untuk mendirikan sebuah kerajaan baru di Majapahit seperti dahulu. Tetapi juga diberitakan, kepadanya dijanjikan kekuasaan atas daerah- daerah tertentu. Ketika ia menulis surat kepada sekutu lamanya yang waktu itu telah diangkat sebagai sunan — dari tempat persembunyiannya di daerah Malang (K.A. No. 1249, hlm. 2047) — dinyatakannya bahwa perintah untuk Kembali ke Madura tidak dapat dipatuhinya “karena nyata baginya telah mendengar sesuatu di hadapan Sri Baginda, yang selanjutnya masih diusahakannya” (Djawa XX, him. 30). Hal ini mestinya berarti bahwa ia boleh menyeberang dari Madura ke Jawa, tapi tidak boleh pergi lebih jauh dari Surabaya. Mengenai kehadirannya di Kediri ia meminta maaf karena orang Belanda telah “mengalahkannya dari Surabaya”. Sesungguhnya ini keluar dari sikap agak merendah. Speelman berpendapat, berdasarkan desas-desus antara Raden Kajoran dan bekas menantunya, Raden Trunajaya, bahkan “secara tertulis telah diadakan pembagian daerah kerajaan.” Bagian yang akan diperoleh Raden Trunajaya ialah daerah pantai di sebelah timur Lasem, sedangkan di pedalaman kekuasaannya akan meliputi daerah sebelah timur Majapahit. Daerah selebihnya akan berada di bawah Kekuasaan Raden Kajoran (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 198). Sudah tentu ada kemungkinan Raden Trunajaya memainkan peranan ganda, dan dapat menarik perjanjian dari bapak mertuanya akan kekuasaan atas daerah yang lebih luas daripada yang akan diperoleh dari putra mahkota. Adapun bagian untuk Pangeran Adipati Anom pertama-tama akan berupa pengakuan terhadapnya sebagai pewaris tahta. Soal pengakuan tersebut pada masa itu penting artinya karena adanya saingan dari saudaranya, Aria Tiron atau Pangeran Singasari. Hal ini juga disinggung oleh Raden Trunajaya ketika iamenyatakan "tiada seorang pun yang dapat memerintah negeri Jawa dengan 56 lebih baik daripada Sri Baginda.” Sementara itu, seperti diberitakan cerita tutur, Raden Trunajaya sudah tentu segera memberi bantuan dengan tindakan-tindakan yang nyata untuk mewujudkan tuntutan putra mahkota sebagai pewaris tahta, agar terlaksana pengangkatan putra mahkota menjadi sunan. a. Bab VI Raden Trunajaya Menetap di Madura 1670-1671 VI—1 Raden Trunajaya di Madura ada 19 Oktober 1671 diberitakan dari Jepara, syahbandar Cina di sana menerima surat dari rekannya Kartisarana yang memberitakan bahwa di Teluk Sampang ada sebuah sampan lepas ke laut, dan semua awak kapal telah dipukuli sampai mati. Pemilik perahu itu, rupanya seorang bangsa Eropa, konon bernama Kees (K.A., No. 1173). Dalam surat lain yang lebih belakangan, yang dipetik dari Daghregister, * tanggal 9 Januari 1672, ditemukan lebih banyak lagi. Kees yang terbunuh itu ternyata orang yang tidak punya kewarganegaraan dan berasal dari Banda. Kejahatan itu terjadi "pada musim hujan yang lalu”, jadi selambat-lambatnya dalam bulan April 1671. Yang bertanggung jawab atas pembunt tersebut ialah putra Pangeran Sampang. Tiada seorang pun yang luput, kecuali dua orang wanita yang ditahan di istana pembesar itu dan tidak diperkenankan keluar. Keterangan ini diterima oleh residen Jepara yang sedang berkunjung di Gresik, dan segera ia menyeberang ke Surabaya untuk meneruskan apa yang didengamya kepada "utusan Pangeran Adipati.” Utusan ini tampak “lemas”, tetapi akhirnya berkata bahwa siapa pun tidak "berhak menuntut keadilan tentang hal itu tanpa bukti, dan adakah yang berani menjadi saksi di hadapan putra Pangeran?” Residen Jepara kemudian mempertimbangkan untuk mendapatkan salah seorang dari kedua wanita itu "sekalipun ia sudah dibeli oleh salah seorang Cina dengan harga sangat mahal.” Rencana yang bagus ini tidak pernah terlaksana. Baru dalam surat tanggal 10 November 1672 dari Jepara kita memperoleh sedikit keterangan lagi tentang pembunuhan itu. Penduduk asal Banda itu bernama Francen, lengkapnya: Cornelis Francen; “putra” Pangeran Madura itu adalah Raden Trunajaya. Atas pembunuhan yang kejam dan keji ini "tidak dapat diperoleh keadilan atau ganti kerugian”. 58 Panembahan Sampang, yang secara tertulis dimintai keadilan, tidak memberi jawaban sama sekali. Dengan demikian, jika disimpulkan, tampak bahwa Raden Trunajaya (yang dikatakan sebagai paman dan bukan putra Pangeran Sampang"®) setidak- tidaknya dalam triwulan pertama tahun 1671 sudah begitu berpengaruh di Madura Barat, sehingga dapat melakukan tindakan kekerasan terhadap Kompeni tanpa akibat apa pun. Bahwa pamannya membisu, dapat dimengerti, karena ia merasa malu: ia tidak lagi mampu menjalankan kekuasaannya di Madura. Dalam hubungan ini kiranya tidak begitu keliru untuk menetapkan bahwa penyeberangan Raden Trunajaya ke Madura terjadi pada sekitar pergantian tahun 1670-1671, yang cocok sekali dengan saat diadakannya perjanjian. Mungkin kejadian berikut ini pun mempunyai hubungan dengan kedatang- an Raden Trunajaya di Madura. Pada tanggal 6 Oktober 1672 sebuah kapal dagang yang bernama Zalm dengan nakodanya Jacob Groes tiba di Teluk Gresik, dan bertemu dengan kapal Kruyskerke yang datang dari Bali. Setelah bersandar antara satu dan dua jam, para nakoda kedua kapal itu dipanggil agar menghadap kepada para pembesar daerah dan dua orang utusan Mataram. Mereka diminta supaya menyerang kapal-kapal perompak yang ada di sana, dan yang telah menyita beberapa perahu dari Gresik dan memukuli awak kapal itu sampai mati (Daghregistet, 20 Oktober 1672). Nakoda-nakoda Belanda itu mula-mula enggan melakukannya, tetapi "karena terus-menerus didesak”, maka akhirnya mereka m: melaksanakannya. Maka, pada malam hari bersama beberapa perahu ill berlayar ke pantai Madura dan menjatuhkan sauh dua depa dari kapal perompak itu, dan kapal-kapal perompak itu "setelah diteriaki segera menyambutnya dengan melepaskan tembakan dari bermacam-macam senapan sambil berteriak-teriak.” Seorang serdadu tewas dan seorang kelasi lukauka. Agar tidak membuang waktu, tali sauh Zalm diputuskan dengan kapak, layar dinaikkan dan tembakan dilepaskan lagi, sekalipun kapal Kruyskerke dan kapal-kapal kecil Jawa hanya menonton saja. Namun para perompak dapat digiring ke pantai, "sampai sejauh pertengahan kapal itu”, tiba di tempat yang dangkal dan berkarang, tetapi dari sana mereka memasuki laut Kembali. Sementara itu, kapal Zalm sibuk memperbaiki tali-temali yang rusak terkena tembakan. Sedikitnya tujuh orang perompak tewas, dan dikuburkan di darat. Ada pula yang jatuh ke laut. Selanjutnya mereka berlayar pada dinihari ke arah barat dan berlabuh di pantai Pulau Jawa, di balik Pulau Manggarai. Di pantai yang dangkal itu mereka memperbaiki kapal mereka. 10 Di tempat lain anak perempuan saudara perempuan Raden Trunajaya selalu disebutkan sebagai anak perempuannya sendiri Jonge, Opkowst, jil. VII, him. 75). 59, Kapal terbesar mendapat kerusakan paling berat. Orang-orang Jawa kemydian mengirimkan sepuluh perahu dengan 1.000 orang awak untuk mengusjr para perompak dari tempat yang dangkal itu, tetapi mereka kembali tanpa:hasil. Pada tanggal 7 Oktober 1672 para utusan Mataram berkunjung ke kapal "dengan membawa makanan dan minuman dan menyatakan terima kasih . . . atas daya upaya kami baginya”. dengan perjanjian akan mengembalikan sauh yang dikapak itu. Bahwa yang dihadapi bukan perompak biasa dapat dibuktikan dari tindakan mereka yang berani di dekat pantai Madura dan dari sikap para utusan Mataram yang turut mencampuri masalah itu. VI-2 Awal kekuasaan Raden Trunajaya Speelman dengan tegas menyatakan dalam "memo pendek untuk ... Couper, sebagai . . . pengantar Raden Martapati ke Arosbaya” (K.A. No. 1218, him. 1724), bahwa Raden Trunajaya meletakkan “landasan_ pertama pemberontakannya” di Pamekasan dan “mendapat dukungan sepenuhnya dari orang-orang di sana”. Laksamana Speelman merasa yakin bahwa jika Sampang dan Sumenep, yang pada pendapatnya merupakan daerah-daerah yang bersikap baik, mau menyerah saja dulu, maka Pamekasan yang berkeras kepala itu akan mengikuti pula. Sayang, mengenai Pamekasan ini begitu sedikit diketahui. Dahulu ada seorang bernama Wiranegara, sebagai penguasa setempat; anaknya, Wiradipa, pada tahun 1677 menyatakan sumpah setia kepada Speelman sebagai kuasa Sunan (Jonge, Opkomst, jil. VIL, hlm. 129). Juga Raden Trunajaya pernah berbicara mengenai Pamekasan dengan kata-kata yang diliputi teka-teki. Pangeran Adipati Anom, salah seorang komplotannya, bersama dengannya di sana. Pada tanggal 23 Juli 1677 diterima kabar bahwa Raden Mogatsari, bekas Kepala Daerah Pamekasan, berada bersama para pemberon- tak di Kediri tentunya dengan Raden Trunajaya, yang telah melarikan diri ke sana (Laporan Wangsantaka, K.A. No. 1218, hlm. 1879). Bagaimanapun, berita bahwa Raden Trunajaya pertama-tama menaklukkan Pamekasan yang terletak di tengah Pulau Madura kiranya dapat diterima kebenarannya. Mungkin dari sana selanjutnya ia menuju ke arah timur. Ketika Speelman pada tahun 1677 menujukan perhatiannya pada Madura, yang berkuasa di sebelah barat pulau itu adalah Mas Aria Jayengpati. Tokoh ini berasal dari Sampang; dahulu pernah menjadi kepala daerah Sumenep (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 128—129), dan tentunya pengikut Pangeran Sampang. Pasti antara tahun 1648 dan 1671, tetapi benar setelah 1656, ia telah menggantikan Gubernur Pangeran Anggadipa yang tadinya diangkat oleh Sultan Agung. yakni ketika pangeran itu difitnah oleh Pangeran Sampang (Werdisastra, Bhabad). Konon Pangeran Anggadipa setelah itu meninggal di Sumenep, tempat tinggal keturunannya, dan dikuburkan di Sumengasta, Desa 60. Kebunagung. Tetapi siapakah yang menggantikan Jayengpati di Sumenep? Satu-satunya pengikut Raden Trunajaya, juga setelah ia jatuh, yang masih dapat mempertahankan diri di Madura ialah Tumenggung Yudanegara dari Sumenep. Adapun mengenai riwayat hidupnya sedikit banyak telah diketahui. Pada tahun 1680 Pangeran Cakraningrat II (bekas pangeran Sampang) merasa iri terhadap Tumenggung Yudanegara karena ia "dahulu sebagai pangeran kedudukannya lebih rendah (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 39). Tetapi sebaliknya, pangeran ini dahulu pernah menipu ayah tumenggung itu Gonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 27). Seperti apa yang dinyatakannya sendiri segera setelah Raden Trunajaya sampai di Madura, ia pun segera bergabung dengannya. Tentang ini ia memberikan penjelasan. Ayahnya selalu mengakui Pangeran Surabaya, kakek Sunan jadi Pangeran Pekik yang terkenal itu, sebagai atasannya yang sah, ketika Raden Trunajaya muncul di Pulau Madura dan menyatakan dirinya bertindak atas perintah cucu Pangeran Pekik, yaitu putra mahkota, maka ia terbujuk olehnya. Karena itu, Tumenggung Yudanegara mengakui kekuasaan Raden Trunajaya. Raden Trunajaya juga mengatakan mendapat perintah dari Pangeran Adipati Anom agar menguasai Madura demi kedaulatan Sri Baginda (Surabaya, 13 Maret 1680; K.A. No. 1249, hlm. 2057 dan seterusnya). Kerja sama ini ternyata tidak memberikan keuntungan kepadanya, karena pada akhir tahun 1679 ia diangkat dengan gelar Macan Wulung, sebagai penguasa atas Sumenep dan Pamekasan (Surabaya, 13 Maret 1680; Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 39). Bahwa ia dapat memperoleh simpati dan dukungan dari rakyat Sumenep dapat dimengerti. Menurut cerita tutur, Macan Wulung-Yudanagara termasuk keluarga yang tua dan sejak semula tinggal di Sumenep, yakni dinasti yang pada masa penaklukan Madura tahun 1624 melakukan perlawanan yang gigih terhadap tentara Sultan Agung, tetapi akhirnya menyerah. Mengenai hal ini, dan kedatangan Raden Trunajaya di Madura terdapat berita-berita panjang lebar dalam Bhabad Songennep karya Raden Werdisastra dan Raden Sastrawijaya. Dari karya ini sudah dikutip serba sedikit di dalam sejarah Sultan Agung. Kita memotong cerita pada saat larinya Raden Bugan, cucu raja Sumenep yang tewas itu, Pangeran Ellor II. Raden Bugan yang masih muda disuruh belajar pada Kiai Cirebon, seorang guru yang termasyhur. Setelah ia menjadi dewasa, gurunya menasihatinya agar kembali ke Sumenep dan mengabdi pada penguasa Sumenep, Jayengpati. Kelak akan ada "Ratu Tapa” yang akan menolongnya. Setelah menempuh perjalanan laut yang penuh keajaiban — ketika i Raden Bugan menggunakan lembing Serangdayun sebagai dayung — tibalah ia di Pulau Mandangéh (Pulau Kambing, di sebelah selatan Sampang). Di sana 61 Raden Bugan memang berjumpa dengan Raden Trunajaya yang sedang bertapa. la putra bangsawan, keturunan Cakraningrat; ibunya berasal dari Koda Panolé Songenep, ahir di Sampang. Tempat kelahiran ini masih dinamakan Pababaran. Kedua orang itu pun lalu menjalankan tapa bersama. Setelah itu Raden Trunajaya memberikan petunjuk-petunjuk kepada sahabatnya: ia harus meneruskan perjalanannya ke Sumenep dan menawarkan jasanya kepada Raja. Kemudian Raden Trunajaya akan menyerang Sumenep, tetapi tidak akan menghancurkan kota; Raden Bugan harus menyambutnya sebagai seorang saudara. Tidak seorang pun boleh mengetahui perjumpaan ini. Selanjutnya pergilah Raden Bugan bersama gurunya menghadap raja Sumenep, dan di sana benar-benar diangkat sebagai kabayan dengan gelar Wangsajaya. Karena rajin dan jujur, pangkatnya terus meningkat menjadi ajek kabayan. Sementara itu, Raden Trunajaya menaklukkan banyak daerah, dan lalu menamakan diri Pangeran Trunajaya. Pada suatu hari ia berangkat ke Sumenep, dan beristirahat di Bangkoneng, perbatasan Pamekasan—Sumenep. Keesokan harinya secara tertulis ditantangnya Raden Aria Jayengpati. Jayengpati segera memanggil ajek kabayan Wangsajaya. Para mantrinya justru menyarankan kepada Jayengpati agar tampil bertempur sendiri. Tetapi Wangsajaya bersedia melawan\musuh meski hanya dengan 700° orang. Kesediaannya itu diterima dan berangkatlah Wangsajaya ke medan perang. Setiba di Desa Parén Duwan, malam harinya Wangsajaya menyelinap ke dalam kubu sahabatnya Raden Trunajaya; mereka duduk bersama membicara- kan soal yang mereka hadapi. Laskar Sumenep yang kehilangan pemimpinnya kemudian mundur. Raden Aria Jayengpati menjadi sangat herandan gusar. Sementara itu, Raden Trunajaya terus maju menuju Istana. Aria Jayengpati cepat-cepat melarikan diri ke jurusan barat; Wangsajaya diangkat oleh Raden Trunajaya sebagai penggantinya dengan nama Tumeng- gung Yudanagara. Setelah memberitahukan silsilahnya kepada Laskar Sumenep, maka mereka itu pun dengan sangat gembira menyambut kedatangannya, dan dengan senang hati mengakui kekuasaannya. Demikian- lah, Sumenep menjadi kian sejahtera. Tidak lama kemudian Tumenggung Yudanagara kawin dengan Nyi Kané, putri Kiai Jimantara di Sampang, seorang kerabat Raden Trunajaya, dan mendapatkan empat orang putri. Mengenai kisah yang panjang ini ada satu dua hal yang perlu dikemukakan. Pertama-tama harus diragukan apakah Tumenggung Yudanagara pernah menjadi murid seorang Kiai di Cirebon. Sekalipun lalu lintas pantai banyak ilalui para santri, lebih mudah dapat diterima Panembahan Giri sebagai guru, masih juga ditegaskan kini oleh cerita tutur yang diturunkan secara lisan di Sumenep. Konon pada bulan April tahun 1680, ia menentang gurunya; 62 karena itulah makamnya terpencil dan dalam keadaan terbengkalai. Mungkin itulah sebabnya Werdisastra (Bhabad) menyebutkan Kiai Cirebon sebagai guru. Selain itu cerita tersebut bersifat khas Madura. Pulau Mandangin menurut Pigeaud merupakan suatu tempat kuno di Madura yang keramat, sedangkan Kuda Panoléh ialah leluhur orang Madura yang diliputi mitos. Rupanya, Macan Wulung pada tahun 1680 sudah lama bermukim di Sumenep. Di sana ia mempunyai empat orang putri, dua di antaranya sudah bersuami. Karena itu, paling lambat pada tahun 1660 mestinya ia sudah kembali ke Sumenep. Sebagai kabayan, Raden Aria Jayengpati pun mengabdi kepada atasannya, yang kemudian menjadi Pangeran Cakraningrat. Maka, tidak keliru jika Pangeran Cakraningrat menyebut Macan Wulung sebagai abdinya yang dahulu menempati kedudukan lebih rendah. Kedudukan ini kiranya menggusarkan keturunan raja-raja Sumenep. Karena itu, sudah tentu terdapat ketegangan antara dia dan Raden Aria Jayengpati, seperti dinyatakan oleh cerita tutur Sumenep. Apakah masalah ini diatasi oleh Raden Trunajaya dengan mengangkat keduanya di daerah masing-masing? Macan Wulung, keturunan Sumenep, berkuasa atas Sumenep; Jayengpati, sesungguhnya orang Sampang, berkuasa atas bagian barat Pulau Madura, yang lebih cocok baginya. Dengan demikian, tidak perlu lagi peperangan seperti diakui oleh Werdisastra, Bhabad: kota tidak dihancurkan; tanpa perlawanan, Jayengpati pergi ke jurusan barat — malahan ke jurusan tempat datangnya musuh. Segala sesuatu jadinya berjalan cukup lancar. Hanya gelar Tumenggung Yudanagara barulah diberikan kepada orang Sumenep itt lebih lama waktunya daripada yang dikatakan oleh cerita tutur, yakni setelah pengampunannya pada tahun 1680, dan tidak oleh Raden Trunajaya, melainkan oleh Sunan. Di Madura Barat, Mas Aria Jayengpati telah mengkhianati atasannya, yaitu Pangeran Sampang, berjumpa dengan Raden Martapati yang setia, ipar dan wakil pangeran adipati Sampang (laporan Couper tanggal 31 Mei 1677). la kawin dengan salah seorang saudara perempuan pangeran ini schingga kewibawaannya bertambah. Ketiga putrinya kawin dengan pembesar- pembesar Madura, sehingga ia mempunyai kerabat di Madura Timur dan Barat. Ketiga menantu itu ialah: Anggayuda, abang Almarhum Anggadipa, wakil Sunan di Sumenep; “Jcatta Naaija” (sic), putra Adipati Puspanagara (7), saudara tiri Pangeran Madura yang lama (Cakraningrat 1); dan Puspatinaya, putra Tumenggung Suryapati, anak saudara perempuan Cakraningrat 1. Perkawinan-perkawinan ini menunjukkan bahwa yang bersangkutan merupa- kan orang yang berpengaruh yang sudah bertahun-tahun memegang jabatan tinggi. 63 Sebelum Jayengpati berkuasa di kawasan barat, terjadi pertempuran sengit. Raden Trunajaya menyatakan menaklukkan Madura hanyalah berkat belas kasih Tuhan dan bantuan nabi, yang memberi kekuatan kepadanya untuk "melawan kekuasaan orang Madura” (K.A. No. 1218, hlm. 1696). Terjadi pula kekejaman-kekejaman. Anak perempuan Mas Aria Jayengpati sendiri, Mustika, membenci Raden Trunajaya; suaminya, (Suta)-truna, dibunuh dan anak perempuannya diperkosa oleh Raden Trunajaya, sehingga tampak jelas kebenciannya itu dari sorot matanya setiap kali ia menyebutkan namanya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 122, 129). Dalem Raden Martapati dihancurkan, dan penghuninya dibuang ke hutan Koanyar. Di dekat reruntuhan tempat tinggalnya, sebuah "bangunan yang indah sekali”, didirikan sebuah kubu pertahanan di Arosbaya. Di Pacuran didirikan keraton Raden Trunajaya yang baru, Maduretna. ‘Ada kesan yang kuat sekali bahwa Raden Aria Jayengpati pun dapat mempertahankan kewibawaannya hanya dengan kekejaman. Rupanya, ia diberi kekuasaan atas seluruh Pulau Madura, termasuk Sumenep dan Bangkalan. Dengan demikian, pemindahannya dari timur ke barat bisa berarti suatu promosi. (Karena namanya yang tidak berbau feodal itu, hampir tidak mungkin Macan Wulung mempunyai kedudukan yang mandiri). Setelah perebutan kekuasaan, Raden Trunajaya menyuruh para pengikut- nya menyebut gelarnya: pangeran. Madura kini diperintah oleh para pengikutnya, yaitu selain Jayengpati yang telah disebut Mandawacana, Mas Jenala, Wangsadangu, Wirabajra, dan Wangsabraja (Laporan Syahbandar Nayacitra, Surabaya, 12 Juni 1677, K.A. No. 1218). Tetapi tidak diketahui kapan masing-masing mulai memerintah karena nama mereka baru kita kenal sejak pertengahan tahun 1677. Raden Trunajaya iuga mempunyai keluarga: seorang ipar, Mas Aria Singapadu; mungkin dari perkawinan dengan seorang saudara perempuan — karena tidak ada seorang pun saudara laki-laki yang disebut, ibunya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 237), dan beberapa orang selir. Juga masih ada dua orang saudara sepupu dari kakeknya, Puspanagara dan Mas Citrawangsa (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 128-129). Bagi paman Raden Trunajaya ditaklukkannya Madura membawa akibat yang pedif’sekali. Hanya Serat Kandha (hlm. 998-999) memuat sedikit berita tentang hal ini: "Rakyat Madura seperti ... mantri-mantri umumnya yang secara bergilir harus mengabdi di Mataram pada . . . Adipati Cakradiningrat . dijaga begitu ketat di Madura sehingga mereka tidak punya kesempatan Kembali lagi kepada gusti mereka di Mataram, dan mengenai hal itu adipati yang baru ... telah membuat ketentuan yang keras sekali sehingga akhirnya Adipati Cakraningrat tidak lagi ... melihat seorang abdinya pun datang kembali ke Mataram, sehingga ia terpaksa, tanpa rakyat sama sekali, tinggal . - . 64 di Mataram; apa alasannya ... tidak dapat diduganya.” Dengan demikian, rakyat di sekeliling Pangeran Sampang semakin berkurang, sedangkan rakyat Raden Trunajaya semakin banyak. Mengenai hal ini mungkin terdapat petunjuk dalam laporan Couper mengenai kunjungan- nya ke Keraton pada bulan Februari—Maret 1677, ketika membicarakan kekuatan laskar Jawa termasuk kepala daerah Jepara Ngabei Wangsadipa, yang bersama Speelman akan menyerang Raden Trunajaya. Pada waktu itu Pangeran Madura atau Pangeran Sampang berdiri, lalu duduk di depan keempat pangeran yang menjalankan kekuasaan bagi Sunan, ayah mereka yang sakit, dan memohon agar diperbolehkan turut dengan Kiai Wangsadipa berangkat ke timur, “untuk berdaya upaya agar banyak orang Madura meninggalkan Trunajaya dan memihak kepada dirinya” (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 112). Keempat bersaudara itu melihat ada manfaatnya permohonan itu, tetapi kedua orang bendaharawan yang ketika itu berkuasa di Istana tidak berani menyampaikannya kepada Sunan. Pangeran Sampang akhimnya tidak turut serta, dan rakyat Madura tetap memperlihatkan kesetiaannya pada Raden Trunajaya.'* Selanjutnya akan dibicarakan kerja sama antara Raden Trunajaya dan Makassar yang mencari dukungan, sekalipun kerja sama ini tidak segera menjadi begitu akrab seperti yang dikehendaki oleh cerita tutur dan cara penulisan sejarah yang tidak mendalam. 11 Petunjuk yang lebih kuat mengenai ditinggalkannya Pangeran Sampang oleh para pengikutnya adalah hadimya seorang "Mas Mandy”, putra Santamarta, pada Raden Trunajaya di Kediri tanggal 1 Agustus 1677, yang pernah menjadi lurah dan kepala para pembesar dan abdi Pangeran Sampang (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 129). 65 7 Bab VII Orang-Orang Makassar Pengembara 1670-1674 ‘ViI—1 Orang-orang Makassar di kawasan barat rang-orang Makassar, yang sejak tahun 1674 mengganggu keamanan di pantai timur Jawa, dapat dibagi atas dua kelompok: yang beroperasi di kawasan barat di bawah pimpinan Kraeng Bonto Marannu, dan di kawasan timur di bawah pimpinan Kraeng Galesong. Kraeng Bonto Marannu ialah putra Kraeng Sumanna (Daghregister, 23 September 1666). Menjelang penandatanganan perjanjian perdamaian dengan Kompeni, pada tanggal 1 Desember 1660 ia menggantikan penguasa kerajaan Kraeng Karunrung (Stapel, Verdrag, hlm. 67). Sebaliknya, dari sahabat Portugis ini, Kraeng Sumanna lebih banyak berkawan dengan orang Belanda. Ia meninggal sudah pada akhir tahun 1666 (Stapel, Verdrag, hlm. 93). Putranya kira-kira lahir tahun 1630, karena ia kawin pada tanggal 12 Desember 1647 (Dagboek). Pada bulan November 1666 Bonto Marannu bertindak sebagai panglima tertinggi untuk Buton (Stapel Verdrag, hlm. 107—108), tetapi pada tanggal 4 Januari 1667 ia menyerah bersama putranya yang sulung (Stapel, Verdrag, him. 112) dan kedua saudara laki-lakinya. Seorang putra yang lain menjadi kraeng daerah Bonthain, sedangkan ayahnya bekerja pada armada (Stapel, Verdrag, him. 131). Pada tanggal 1 Agustus 1667, ketika terjadi pertempuran di depan tempat Galesong, pada malam hari ia melarikan diri dengan membawa serta sebuah senapan indah pemberian Speelman dan sebuah keris emas (Stapel, Verdrag, him. 141), dan meninggalkan putranya serta saudara perempuannya pada Speelman. Karena suatu perkara pengkhianatan baru, yang ketiga, putranya yang sampai saat itu turut makan di meja. Speelman, dimasukkan ke kurungan 66 (Stapel, Verdrag hlm. 152). Dalam pertindingan pada bulan November 1667 orang Makassar meminta- kan maaf bagi Bonto Marannu (Stapel, Verdrag him. 182), dengan menyerahkan senjata-senjata yang dicuri dan 176 keping emas ai/16 tail. Speelman menyatakan sangat keberatan (Stapel, Verdmg, him. 183), dan menuntut supaya yang melarikan diri itu diserahkan. Tetapi Bonto Marannu tetap menghilangkan (Stapel, Verdrag, hlm. 190 catatan 1). Berdasarkan pasal 15 perjanjian Bongaya dituntut penyerahannya dan raja Bima yang juga tidak hadir, bersama putra-putra mereka (pasal 28). Tetapi tuntutan itu tidak dapat dipenuhi, dan pada tahun 1669 ternyata mereka telah melarikan diri ke Mandar. Dari sana dengan bantuan Kraeng Karunrung, raja Bima kembali ke tanah airnya. Di Mandar Bonto Marannu sebenarnya diberi akta pengampunan khusus, tetapi akta tidak pernah sampai padanya. Pada tahun 1669 ia tinggal di "Chinrana, dan kemudian di Majenne” (Cenrana dan Majene) dalam keadaan miskin (Speelman, Notitie, him. 52), "mengalami kekurangan dalam segala- galanya, sebagai orang yang tidak terpandang” (Speelman, Notitie, jil. 1, him. 33). Karena orang Makassar pengikut Kraeng Bonto Marannu lama bermukim di Banten, maka harus diselidiki hubungan apakah yang terdapat antara kota ini dan orang Makassar sebelum mereka datang ke sana. Mula-mula di sana terdapat seorang tokoh berasal dari Makassar yang bernama Syekh Yusuf.'? | Tokoh ini menurut Ligtvoet ("Gowa”) dilahirkan sekitar tahun 1626. Menurut cerita tutur, ia berdarah kerajaan (Dagboek, hlm. 160 catatan). Menurut sumber-sumber yang sama, pada tanggal 22 September 1644 ia berpamitan hendak menunaikan ibadat haji ke Mekah. Empat minggu kemudian berangkatlah Kraeng Paranggi dengan perahunya, dan "Tuwang” (Syekh Yusuf) sebagai salah seorang penumpangnya, dari pantai Galesong menuju Banten. Dengan demikian, keberangkatannya naik haji melalui pelabuhan yang penting ini. Berapa lama ia di kota suci itu tidak dapat diketahui, schingga kita tidak dapat menentukan kapan mulainya ia tinggal di Banten setelah kembali dari Mekah. Mungkin tidak pernah ia kembali ke tanah airnya, sekalipun sewaktu-waktu ia mengadakan hubungan dengan negerinya. Tulisan-tulisan hasil karyanya sampai di Makassar. Menurut Valentijn, ia bahkan kawin dengan seorang saudara perempuan Sultan (Haan, Priangam, U1 paragraf 393). 12 Kecuali dari F. de Haan, dalam Priangan (III paragraf 393, hlm. 445—464), keterangan dari: WJ. Drewes, Sech Jocsocp Makasar (Dyawa, VI 1926, him. 8: Cense, "De Verering van Sjaich Jusuf in Zuid~Celebes” (Bingkisan Budi, Berita-berita Belanda tidak menyebutnya sebelum tahun 1672. Menurut Daghregister, 15 Maret tahun itu, Sultan Muda dari Banten belajar Qur'an dari * seorang rohaniwan Makassar yang pernah berada di Mekah. Suasana keagamaan yang ketat di dalam Istana ketika itu boleh dianggap karena pengaruhnya. Seluruh rakyat, baik laki-laki maupun perempuan, diperintah- kan melepaskan pakaian Jawa yang kuno, dan mengenakan pakaian seperti yang menjadi kebiasaan di Mekah. Banyak orang yang segera mengikuti peraturan ini. Juga diambil tindakan terhadap peminum candu, dan beberapa latihan rohani guna memperoleh kekebalan mungkin telah diperkenalkan olehnya atau disebarkan lebih luas.'? Melihat pengaruhnya yang luas itu, mestinya ia telah tiba di Banten lama sebelum tahun 1672, dan karena itu datangnya orang-orang Makassar di sana bukanlah di luar pengetahuannya. Mungkin malahan prakarsa Syekh Yusuflah yang memanggil orang-orang Makassar dari Banten, seperti yang telah terjadi pada tahun 1674 (Daghregister, 31 Oktober 1674).!* Tidak secara tiba-tiba, mereka datang di Banten. Semangat juang mereka ditakuti, jumlah mereka yang besar diperhitungkan. Orang Banten sudah dapat menduga bahwa setelah kemenangan Speelman atas Goa, maka merekalah yang akan mendapat giliran. Memang setelah tercapainya perdamaian berdasarkan kemenangan tampak bahwa kebanggaannya sangat berkurang (Daghregister, 6 September 1669), tetapi Banten mempersiapkan diri untuk memberi perlawanan yang gigih. Meriam-meriam disiapkan, begitu pula bermacam-macam senapan. Mereka setiap hari juga sibuk mengadakan latihan yang diikuti oleh lebih kurang 100 orang ahli tembak menurut cara-cara orang Eropa. Karena itu, dapat dimengerti bahwa pertahanan Banten hendak diperkuat dengan menggunakan orang-orang Makassar yang telah berani melawan Kompeni. Orang-orang Makassar itu sendiri sama sekali tidak terpengaruh oleh kekalahan yang telah mereka derita. Beberapa orang di antara mereka yang bertolak dari Batavia dengan perahunya sendiri menerangkan di Jepara kepada seorang Portugis bernama Josia de Silva bahwa di Makassar persoalannya belum selesai dan berita tentang hal itu sudah sampai kepadanya. Setelah tercapainya perdamaian, ucapan ini terdengar mengandung ancaman yang cukup serius. Sehubungan dengan ucapan tersebut, dan melihat kejadian-kejadian selanjutnya, maka tibanya sebuah kapal Makassar di Banten menimbulkan banyak kecurigaan. Di atas kapal itu ada dua pangeran atau kraeng dan 13 HJ. de Graaf, "De herkomst van de Kaapse ‘Chalifah’ ”, Tydskrif vir Werenskap en Kuns, 1950, hm. 112—115 14 Juga raja Siam konon menginginkan kedatangan para pengembara Makassar itu karena mereka dianggap sebagai rakyat pemberani dan gagah perkasa. 68 keluarganya. Lima bulan lamanya mereka menempuh pelayaran sampai ke Gresik (Daghregister, 3 Desember 1670). Residen berusaha mengetahui_niat mereka, tetapi tidak ada keterangan dapat diperolehnya. Selain itu persinggahan mereka di Gresik pun sudah tampak mencurigakan. Orang dapat menduga, tentu ada hubungan dengan Panembahan Giri, yang selama pemberontakan Trunajaya memainkan peranan bermuka dua. Orang-orang Makassar yang datang kemudian juga pernah singgah di pantai timur Jawa sebelum sampai di Banten. Memang seharusnyalah unsur pan-Islamisme diperhitungkan. Sekitar pertengahan bulan Agustus tahun 1671 muncul di Jepara seorang bernama Kassi’-jala bersama sekelompok orang Makassar yang terdiri atas 150 jiwa (Daghregister, 24 Agustus 1671). Maksudnya menunggu kedatangan Kraeng Bonto Marannu dan Kraeng Luwu’, selanjutnya bersama dengan mereka berlayar ke Banten. Inilah berita pertama mengenai rencana kepindahan orang Makassar ke Banten. Memang pada tanggal 19 Agustus Kraeng Bonto Marannu dengan sekelompok pengikut yang terdiri atas 800 orang tiba di Banten dalam tiga kapal dan sebuah perahu besar (Daghregister, 22 Agustus 1671). Rupanya, kedatangannya itu sudah ditunggu-tunggu, karena Sultan segera mengizin- kannya menghuni rumah di daerah Pontang. Tidak lama kemudian ia diizinkan “bersama dengan . .. rombongannya tinggal di kota, dan memilih tempat tinggal di dekat pasar di sebelah timur’’ (Daghregister, 5 September 1671). Tetapi masih banyak lagi orang Makassar yang diharapkan akan datang dari timur. Karena itu, Pangeran Wangsapati dikirimkan dengan kapal untuk menyambut mereka (Daghregister, 11 September 1671). Memang menjelang tanggal 19 September 1671 tiba di Banten Kraeng Luwu’, berasal dari Mandar atau Makassar. Selain para istrinya, 300 orang laki-laki pengikutnya turut serta. la mendapat tempat tinggal di kediaman Pangeran Lor (Daghregister, 21 September 1671). Kraeng Luwu’ ini tokoh penting, dia raja Luwu’ yang masih muda, putra saudara perempuan Kraeng Bonto Marannu. Pada tahun 1667 ia bersama tentara Makassar berada di Buton, dan di sana bersama para pemimpin lainnya ditawan oleh Spelman. Ketika itu usianya sekitar 15 tahun. Speelman kemudian mengirimkannya ke Batavia. Tetapi pada bulan November 1668 ia berhasil melarikan diri dari Batavia ke Banten, sehingga ia bukan orang asing di negeri itu (Daghregister, 6 Desember 1668; 22 Juli 1669, him. 370). Pada sekitar pergantian tahun ia kembali ke Makassar melalui Semarang. Dan selanjutnya ia muncul lagi di Banten. Setiap hari jumlah mereka bertambah. Mereka terkenal sebagai musuh bebuyutan Kompeni; dan Pemerintah Kompeni selanjutnya berpendapat: “maka itu kami tidak akan mendapatkan tetangga yang baik dan Sri Baginda 69 mungkin juga tidak akan mendapat abdi-abdi yang baik” (Daghregister, 20 Februari 1672). Ramla fing tepat! Pada bulan Oktober 1671 Kare Mamu bergabung dengan ketiga pemimpin Makassar itu yang ketika itu dianggap termasuk pembesar penting yang harus diperhitungkan. Pada tahun 1669 bersama dengan orang-orang penting lainnya — dan dihadiri pula oleh Speelman — ia menghadap Pemerintah Kompeni di Batavia dengan sikap merendah (Daghregister, 20 Desember 1669). Ia keturunan raja, putra dan saudara seibu penguasa Kerajaan Kraeng Pattingalloang, satria terbesar di seluruh Makassar, bersikap sebagai prajurit yang gagah perkasa, dan sudah tiga kali, sekalipun dengan luka-luka yang sangat parah, berhasil meloloskan diri dari tangan Belanda. Pada awal tahun 1672 pejuang ini berjanji kepada Sultan akan menyerahkan 3.000 orang Makassar, baik dari Makassar maupun dari pantai utara Jawa pada permulaan musim panas (Daghregister, 20 Februari 1672). Tawaran indah ini diterimanya dengan gembira. Raja diizinkan meminjaminya sebuah kapal besar untuk mengambil orang-orang itu. Tetapi ketika membuang sauh di dekat Pontang, mata-mata Sultan memberitahukan -bahwa di atas kapal itu terdapat budak-budak rampasan dari Banten. Karena itu, Pangeran Lor mendapat perintah untuk membujuk pahlawan Makassar itu agar bersedia turut ke Banten. Sementara itu, kapalnya akan didatangi. Jika tidak dengan cara demikian, Raja khawatir akan ada yang mengamuk. Di atas kapal itu memang terdapat lima orang budak Banten, sedangkan Kare Mamu mengatakan tidak mengetahuinya sama sekali. Berkat bantuan Kraeng Bonto Marannu dan Kraeng Luwu’, perbuatannya itu diampuni, dan ia diperbolehkan melanjutkan perjalanannya setelah dua tiga hari. Sementara itu, Raja bersama para Kraeng Makassar berada di Pontang (Daghregister, 21 Januari 1673). Ini merupakan mendung pertama di langit yang cerah. Lebih banyak awan akan menyusul. Merawat ratusan orang Makassar bersama keluarga mereka tanpa imbalan yang memadai, lama-kelamaan tentu saja jadi menyusahkan bagi raja Banten. Karena itu, dapat dimengerti apabila Raja bermaksud hendak mempekerjakan_ mereka, yakni menggali terusan dari Pontang ke Tanara. Untuk pekerjaan itu pun telah dipekerjakan para pemadat yang sudah tidak dapat diperbaiki lagi (Daghregister, 15 November 1671). Penggalian terusan itu dimaksudkan untuk menghubungkan Sungai Cidurian dengan Sungai Ciujung-Cipontang. Pemerintah Kompeni meragukan apakah orang-orang Makassar dengan sukaréla mau melakukan pekerjaan kasar itu (Daghregister, 16 November 1671). Sesungguhnyalah orang-orang Makassar itu dipaksa semua oleh kraeng-kraeng mereka untuk bekerja di Pontang (Daghregister, 25 November 1671). VII—2 Perpecahan antara Banten dan Bonto Marannu, 1673— 1674. Pada bulan Agustus tahun 1673 Sultan Banten mendapatkan kegulitan dengan para tamunya dari Makassar itu, walaupun sebagian karena kesalahannya sendiri. la telah mengambil dan meniduri istri Kraeng Lipouw, ketika sang suami kebetulan sedang tidak ada. Menurut sebuah berita kemudian, Sultan baru pada bulan Juli 1674 mengawini wanita itu secara resmi dengan cara kemegahan. Karena kejadian ini, Kraeng Bonto Marannu gusar, dan dengan semua pengikutnya mendatangi pantai timur Jawa (Daghregister, 23 Januari 1674). Tetapi bukan pihak Banten saja yang bersalah sehingga terjadi perpecahan itu. Ahli bedah Denmark bernama Johan Petri Cortemiinde pada ta1 29 September 1673 berjalan-jalan dengan beberapa orang kawan. Terlihat oleh mereka iring-iringan pawai orang-orang kaya keluar dari gerbang istana, membawa dua orang Makassar terkemuka. Perhatian rakyat besar sekali; lebih kurang 50.000 orang berkerumun menonton kejadian itu! Raja sendiri akan menghukum orang Makassar dengan tusukan tombak di depan gerbang, setelah seorang algojo memotong tangan kanan mereka. Kedua orang Makassar itu konon telah menyelinap ke dalam kamar Raja, dan mencuri banyak perhiasan, pakaian mahal-mahal dan beberapa buah senjata yang terbaik. Tetapi semua pemuka Makassar tegak di hadapan Sultan, berlutut, dan minta ampun. Hati Sultan menjadi lunak dan hukuman itu diubah_ menjadi pembuangan kembali ke Makassar (Cortemiinde, Dagboek, hlm. 105). Pengampunan ini tidak banyak membawa manfaat. Sekitar pertengahan Januari 1674 dua orang Makassar mengamuk. Sejak itu Sultan menyuruh memperketat penjagaan di istananya, dan orang Makassar dilarang memasuki Kota Banten: Raja rupanya khawatir. . terhadap orang-orang yang mengamuk (Daghregister, 23 Januari 1674). Tiga orang Makassar yang dicurigai telah mengamuk, dan atas perintah Raja kemudian dibunuh (Daghregister, 25 Januari 1674). Tetapi alasan sebenarnya diberitakan Residen W. Caeff empat hari kemudian: yang bersalah itu dibunuh . . . karena istri cantik mereka diambil Raja. Para pembunuhnya diberi upah 100 ringgit dan beberapa helai pakaian (Daghregister, 29 Januari 1674). Apakah di antara para korban itu terdapat pula putra Bonto Marannu? Pada bulan Oktober 1674 sang* ayah pernah mengadukan kematian putranya itu kepada Pemerintah Tinggi (Daghregister, 10 Oktober 1674, him. 278). Putra ini mencoba mengeluarkan istrinya dari istana Raja, tetapi gagal (Daghregister, 25 Januari 1675, hlm. 39). Sampai tahun 1675 duduk persoalan yang sebenarnya bagi Pemerintah Kompeni masih gelap. Nasib malang putra kraeng itu dinyatakan sebagai akibat sikapnya yang kurang hati-hati. Selain itu hubungan antara kedua belah pihak semakin buruk. Mulai bulan Januari 1674, berlaku jam malam bagi orang Makassar setelah matahari nl terbenam. Barang siapa r ketentuan itu akan dibunuh. Orang-orang Banten pun tidak boleh memberikan hunian rumah, kecuali kalau mereka dijamin sepenuhnya (Daghregister, 6 Januari 1674). Setelah Bonto Marannu pergi, Sultan memerintahkan agar orang-orang Makassar yang masih ada diusir dari Banten, dan menyusul mereka yang sudah pergi (Daghregister, 28 Maret 1674). Kisah bahwa Kraeng Bonto Marannu tidak secara diam-diam berangkat, tetapi setahu dan atas perintah Sultan untuk mencari Kraeng Lipouw dan membujuknya agar memberikan surat talak bagi istrinya, kiranya dimaksudkan sebagai pembalut luka yang berdarah, seperti juga kepada Bonto Marannu akan diberikan uang muka 1.000 ringgit, sedangkan 200 ringgit akan diberikan kepada barang siapa yang mau membunuh Kraeng Lipu. Selanjutnya ng Lipu diberitakan tinggal di Batavia (Daghregister, 29 Januari 1674). Kepastian menjadi jelas setelah diperoleh berita bahwa dari pantai timur Jawa kedua orang pemimpin Makassar itu menyatakan perang terhadap Sultan Banten (Daghregister, 28 Maret 1674). Segera pula Raja menyuruh mempersiap- kan sepuluh kapal untuk mengangkut orang-orang Makassar yang masih tersisa di Banten. VII—3 Kejahatan orang-orang Makassar, 1674 Tidak lama setelah meninggalkan Banten orang-orang Makassar melakukan perompakan. Berita pertama tentang hal ini berasal dari seorang warga Banda bernama Gabriél Naske. la memberitakan pada tanggal 12 Februari 1674 dari Gresik bahwa pengikut Kraeng Bonto Marannu, dengan armada antara 25 dan 30 kapal, berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Madura: Arosbaya, Sampang, dan Sumenep. Yang menimbulkan pertanyaan ialah berita bahwa beberapa orang pembesar Jawa juga turut serta, bahkan putra Wiraatmaka, kepala daerah Jepara. Berbagai perahu Ambon dan Banda sudah meninggalkan kawasan itu. Enam perahu yang telah berkumpul di Gresik dengan tenang menunggu kedatangan musuh (Daghregister, 5 April 1674). Mereka yang berkepentingan berpendapat bahwa sepanjang pantai tidak lagi dapat dilalui dengan aman, kecuali jika Kompeni bertindak. Juga berita Couper tentang desas-desus bahwa di sekitar ujung timur .. . dekat Madura, mereka diserang oleh lebih kurang 70 kapal perompak Makassar, yang sudah banyak membajak perahu dan mengancam semua kapal pribumi (Daghregister, 12 April 1674), merupakan tanda bahaya yang cukup besar. Para perompak bertindak secara nekat di mana-mana (Daghregister, 14 September 1674). Orang-orang Jawa yang setengah mati ketakutan sudah meminta bantuan Kompeni. Tetapi tanpa wewenang dari Pemerintah Kompeni, para pembesar Belanda tidak dapat memenuhi permintaan bantuan itu. Tetapi hal itu memang diperlukan, karena tanpa mengusir kapal-kapal perompak, pengangkutan bahan-bahan kebutuhan hidup ke Batavia . . . tidak nR dapat dilakukan. Tidak satu perahu pun yang ini meninggalkan Jepara (Daghregister, 21 September 1674). Hanya dengan pengawalan Belanda, para abdi Arung Palakka dan orang-orang Mor dari Batavia dapat sampai di kota tersebut. Kapal-kapal baru Kompeni di galangan milik Daniél Dupree di Rembang telah diselamatkan. Tetapi pada bulan Juni 1674 para perompak menantang Belanda dengan menyerang sebuah perahu dari kapal kici De Rijsende Sonne di Sungai Juwana. Tiga dari enam orang penumpang dipukuli sampai mati, seorang penumpang luka-luka. Setelah merampas 100 rial — sisa pembayaran untuk penyerahan kayu — para perompak menghilang. Wakil kepala daerah Jepara memang segera berlayar dengan 12 buah perahu ke tempat kejadian itu. Tetapi sia-sia saja. Tersiarlah desas-desus bahwa Kepala Daerah pun turut serta dalam perompakan itu, sehingga pantai Jawa’ tidak bisa lagi dilalui tanpa terancam oleh bahaya besar (Daghregister, 6 Juli 1674, him. 184). Juga Couper berpendapat, perompakan itu terjadi tidak tanpa persetujuan secara diam-diam dari orang Jawa (Daghregister, 11 Juli 1674). Para pembunuh awak kapal De Rijsende Sonne beberapa hari kemudian hampir tertangkap oleh bupati Gresik, Kartiwangsa, tetapi pada saat terakhir sempat melarikan diri (Daghregister, 19 Juli 1674). Penguasa daerah Juwana, sebagai pembesar di daerah tempat terjadinya pembunuhan, sejak itu membebani setiap penduduk kota dengan denda 5 ringgit. Walaupun bagi Belanda hal ini dilihatnya sebagai penggarukan uang, diharapkan juga agar dengan demikian timbul rasa takut pada orang-orang Makassar itu (Daghregister, 6 Agustus 1674). Kecurigaan orang Belanda itu bukan tanpa alasan. Menjelang akhir tahun suasana di pantai Jawa tengah agak mereda. Sebabnya ialah karena para perompak bersarang di ujung timur. Vil—4 Permukiman orang Makassar kawasan barat di Demung, Oktober 1674 . Setelah berangkat secara mendadak dari Banten, para pengikut Kraeng Bonto Marannu belum tahu pasti di mana mereka akan menetap. Mula-mula selama beberapa waktu mereka menjelajahi perairan Madura, tetapi awal September 1674 Kraeng Bonto Marannu muncul dengan enam konting di perairan Jepara dan mengganggu keamanan wilayah itu. Bahkan ia begitu nekat turun ke darat dan menyatakan secara pribadi ingin memohon kepada penguasa Mataram agar mendapatkan tempat tinggal di daerah itu. Tetapi orang percaya bahwa permohonannya itu tidak akan dipenuhi (Daghregister, 14 September 1674). Walau demikian, ia pergi juga ke Semarang. Pada pertengahan bulan September ia sudah kembali bersama keenam perahunya, setelah dalam perjalanan merompak sebuah konting lagi. Jadi, tidak mungkin ia meneruskan perjalanan ke Mataram, dan ini sesuai dengan berita dari Jan Franszen Holsteyn bahwa Kraeng Bonto Marannu dan Daeng > B Manggappa datang di istana Sunan memohon menghadap kepada Sri Baginda agar diizinkan menetap dengan aman di sini (pantai timur Jawa), tetapi permohonan itu tidak pernah dikabulkan. Tetapi mereka hanya tetap tinggal di sana dengan izin Pangeran Adipati (Anom). Karena tidak berhasil memperoleh izin dari Sunan, mereka berhubungan dengan putranya, dan memperoleh hasil yang lebih baik. Bahwa sejak itu mereka dapat berbuat sekehendaknya tanpa dihukum membuktikan kelunak- an sikap para pejabat Jepara dalam menghadapi perompakan konting itu. Persetujuan antara putra mahkota dan pihak Makassar itu sulit diartikan lain daripada izin untuk menetap di ujung timur, sedangkan para pengembara itu merasa wajib mendukung putra mahkota dalam melaksanakan rencananya * yangluas. Sementara itu, tiada oranglain yang mengetahui hal ini. Sebaliknya, sampai bulan Desember 1674, Batavia berpendapat bahwa para pengikut Kraeng Bonto Marannu ingin menetap di Bima (Daghregister, 21 September, 15 November, 15 dan 24 Desember 1674). Desas-desus kemudian mengatakan, mereka mempunyai suatu permukiman tetap di Jawa. Disebutkan pula mereka telah mengumpulkan senapan, yakni 60 senapan besar dan 300 senapan biasa di Gombong (dekat Pasuruan) (Daghregister, 21 September 1674). Menurut berita dari Banten sebulan kemudian, Kraeng Bonto Marannu dengan 6.000 orang berada di Blambangan, dan di sana menunggu kedatangan seorang pemuka Makassar. Baru pada tanggal 18 Januari 1675 Pemerintah Kompeni mengetahui tempat tinggal Kraeng Bonto Marannu "yaitu Kampung Demon atau di sekitarnya” (Dahregister, 25 Januari 1675, him. 32). Letak Kampung Demon menurut peta sekarang mungkin di Kota Besuki. Rupanya, sejak kira-kira bulan Oktober 1674 orang-orang Makassar menetap di sana untuk selama-lamanya. Bahwa setelah itu orang-orang Makassar mengadakan hubungan dengan Pangeran Adipati Anom memang tidak dapat dibuktikan dengan pasti. Tetapi kemungkinan itu ada. Putra mahkota sebagai penguasa atas Surabaya dan Gresik mempunyai petugas-petugas di sana yang dapat memberikan segala berita kepadanya tentang apa yang terjadi. Di Jepara ada Syahbandar Kartisedana — yang berasal dari Benggala — yang mempunyai hubungan akrab bagaikan budak dengan putra mahkota, dan pasti akan menyampaikan berita kepadanya tentang hal-hal penting. Perjanjian yang mungkin diadakan antara orang-orang Makassar di bawah pimpinan Kraeng Bonto Marannu dan Pangeran Mataram terjadi dengan jarak yang sedemikian rupa dari Madura, sehingga Raden Trunajaya semula tidak banyak mempunyai sangkut paut dengan hal itu. Baru secara berangsur-angsur kemudian terjadi sedikit hubungan antara orang Makassar dan Madura, tetapi tidak menjadi akrab dan tidak berlangsung lama pula. Ini disebabkan oleh kepentingan masing-masing terlalu banyak berbeda. 4 . Kiranya masihy perlu dibicarakan apa yang terjadi dengan beberapa kelompok orang Makassar lainnya, yang tidak ad sangkut pautnya dengan Perjanjian antara Kraeng Bonto Marannu dan Pangeran Adipati Anom. Baru sesudah itu akan dapat dibicarakan akibat-akibat perjanjian tersebut, VII—5 Orang Makassar di kawasan timur Peranan besar akan dimainkan kelak oleh salah seorang pemimpin Makassar, yang semula giat di kawasan yang letaknya lebih ke timur, yaitu Kraeng Galesong. Ketika untuk pertama kali diberitakan, ia ada di sana bersama Kraeng Tallo’, dan seorang lagi yang bernama Sulong, nama lainnya Pasuling, yang menurut tulisan raja Bima meninggal pada akhir tahun 1675 (Daghregister, 13 Desember 1675, hlm. 339). Selain itu tidak banyak yang diketahui tentang tokoh ini. Sebaliknya, Raja Tallo’ dibicarakan panjang lebar dalam Notitie Spelman (Speelman, Notitie, jil. I, hlm. 56). Nama selengkapnya berbunyi: Harunarra- syid Tuammenangarilampana. Lahir pada tahun 1640, meninggal pada tanggal 16 Juni 1673 di Sumbawa. Bersama raja Makassar dan kepala pemerintahnya, Kraeng Karunrung, ia termasuk tiga orang pangeran yang terpenting. Speelman banyak mengungkapkan akhlaknya (Spelman, Notitie, jil. Il, hm. 61). Sudah pasti Kraeng Tallo’ ini bukan orang yang terlalu cerdas, tidak jahat, tidak pula baik, bukan pengecut, bukan juga pemberani. Perhatiannya hanya tertuju kepada hal lain kecuali makan, tidur, dan mencari hiburan — tiada lain. Baru setelah perdamaian ia lebih memperlihatkan kegiatan, dan juga mulai bertindak secara diam-diam. Ia disenangi rakyat, tetapi tidak disegani. Pada pendapat Speelman, ia dengan mudah dapat diarahkan kepada kepentingan Kompeni. Tetapi sudah, ada pihak lain yang mengendalikannya. Di lingkungannya terdapat saudara lakilakinya yang bemmama Daeng Manggap- pa, yang nanti akan dibicarakan. Tetapi tokoh yang paling menonjol ialah Kraeng Galesong yanglebih muda. Menurut Dagtock, ia dilahirkan pada tanggal 29 Maret 1655. Catatan Ligtvoet menyebutkannya sebagai putra raja Gowa Hasanuddin Tuammenangariballa’- pangkana (Dagboek, hlm. 114). Sebelum penaklukan daerah Galesong, ia diangkat di sana sebagai kraeng, tetapi Speelman memberikan kekuasaan kepada Daeng Malewa, karena ayahnya, kakeknya, dan moyangnya sudah berkuasa di sana sebelum raja Gowa. Di Buton Daeng Malewa ini menyerah kepada Speelman, dan sejak itu sampai perdamaian Bongaya ia tetap memangku jabatan itu, mungkin juga sesudahnya. Karena itu, merupakan alasan yang kuat bagi Kraeng Galesong yang masih muda, dan yang telah diturunkan dari kekuasaannya itu, untuk bergabung dengan kaum pembang- kang. Pertama-tama ia disebut demikian dalam suatu tulisan dari Jepara tanggal . 7s lt ) 31 Mei 1673 (Daghregister, 6 Juni 1675), yang memberitakan, Kota Bima yang dirampok habis-habisan oleh Kraeng itu dan kawan-kawannya, Kraeng Tallo’ dan Sulong. Laporan yang terlengkap tentang hal itu terdapat dalam surat-surat dari raja Bima dan raja Dompu, yang disampaikan kepada Pemerintah Kompeni oleh para utusan mereka pada tanggal 22 Agustus 1673 (Daghregister). Raja Tallo dan “Clessan” (Galesong?) telah menghancurkan tempat mereka sampai habis. Para penyerbu sesudah itu tidak meninggalkan tempat itu, tetapi bergabung dengan teman-teman mereka yang sudah berada di sana. Selain itu, daerah tempat tinggal di tepi pantai juga dimusnahkan. Separuh dari jumlah perahu yang ada dibakar, sisanya dirampas. Sebagian penduduk terbunuh, sebagian lagi diculik. Kayu sapan yang disediakan untuk Kompeni dibakar, sedangkan perjanjian denganaKompeni yang dibuat di Makassar tidak berlaku lagi (Daghregister, 25 Januari 1675, hlm. 32). Peristiwa ini menimbulkan beberapa persoalan. Menurut pasal 14 Perjanjian Bongaya, Bima, yang semula mengakui kekuasaan Makassar, bersama semua daerah yang ada di bawah kekuasaannya, diserahkan kepada Kompeni. Sebagian besar orang Makassar sudah pergi dari sana ketika itu, tetapi ada beberapa orang yang masih tinggal, dengan akibat seperti yang telah diketahui. Selain itu seorang Banda, yang membawa dua buah perahu dan berlabuh di sana, terbunuh bersama tiga belas orang awak perahunya. Peristiwa ini ikut menjelaskan mengapa Kompeni lebih banyak menaruh perhatian pada rencana orang Makassar di Bima, daripada apa yang hendak mereka perbuat di Jawa. Sebuah berita dari Jepara tanggal 15 September 1674 (Daghregister, 21 September 1674) memuat rencana serangan yang kedua atas Bima. Kraeng Galesong dan menantunya masing-masing akan menjadi raja Bima dan raja Dompu, dan Kraeng Bonto Marannu akan menjadi kepala pemerintahan kedua kerajaan itu. Berita seperti itu tetap menjadi perhatian Batavia, tetapi akhimya orang-orang Makassar berkonsentrasi di Jawa Baru pada akhir tahun 1675 terdengar berita yang pasti bahwa Kraeng Galesong, seperti juga Bonto Marannu, berada di Jawa Timur (Daghregister, 13 Desember 1675). Mungkin ia sudah lebih dahulu berada di sana. Sebab, pada awal tahun itu Daeng Manggappa menyatakan ingin bermusyawarah dengan Kraeng Galesong, dan sesudah itu pergi ke Gresik (Daghregister, 25 Januari 1675, hlm. 33). Juga terdapat kepastian bahwa sudah sebelum bulan April tahun 1675 ia melakukan serangan atas Gresik — tetapi gagal — dan terpaksa kembali kepada Kraeng Bonto Marannu dalam keadaan payah Jepara, 30 April 1675). Selanjutnya kita lihat bagaimana Batavia memberikan tanggapannya terhadap para perantau Makassar itu. Bab VIII Orang Makassar Diburu 1674-1675 VIII—1 Tindakan Kompeni terhadap orang Makassar kawasan timur, 1674 ersarangnya orang Makassar di Sumbawa, kawasannya yang dulu, ditanggapi Kompeni sebagai hal yang sangat gawat. Jauh lebih banyak perhatian ditujukannya pada hal itu daripada bermukimnya para pengembara tersebut pada tetangganya Banten. yang mencurigakan. Sudah dalam bulan September 1673 pimpinan orang Makassar mengi- rimkan sebuah kapal dan dua buah sekoci ke Bima, dan sejumlah 100 sampai 150 buah perahu dihancurkan di sini. Sisanya konon menyingkir ke Lombok atau sekitar itu (Daghregister, 4 Oktober dan 28 Desember 1673). Tetapi karena memperhitungkan kemungkinan kembalinya orang Makassar ini, Pemerintah Kompeni mengirimkan sebuah armada di bawah Jan Franszen Holsteyn ke sana. Pada tanggal 28 Desember 1673 satuan yang terdiri dari delapan buah kapal ini, katanya untuk keperluan daerah-daerah bagian timur Nusantara, meninggalkan pelabuhan Batavia (Daghregister). Perintah tugasnya adalah: memberi hukuman kepada orang Makassar di Bima dan di mana pun berada. Sesudah itu tidak boleh tinggal di sana lebih dari 10 sampai 12 hari. Sekaligus mereka membawa pulang kembali suatu perutusan Bima, yang sangat mengharapkan hal ini. Ekspedisi ini berlangsung dengan sangat mengecewakan. Di Sumbawa tidak banyak yang dapat dilakukan, kecuali memperingatkan raja di sana, agar berusaha sendiri membersihkan para pembajak. Ketika armada hendak memasuki Teluk Bima yang sempit hal ini gagal karena kelalaian nakoda kapal komando. Malam hari kapal melintasinya dan ketika pimpinan menujukan arah ke Salayar atau Makassar, ia tiba di Buton (21 Januari 1674). Sebagian memang masih dapat juga melayari Teluk Bima, tinggal di sana selama empat > ca hari dan kemudian berangkat tanpa hasil apa-apa. Sebuah kapal, Gouden Leeuw, kandas pada karang dan tenggelam: Para utusan Bima harus kembali ke negeri mereka dengan kapal pribumi, sedangkan Jan Franszen dengan kapal yang sama tiba di Bone, dan dari sini menuju Makassar melalui darat. Namun, ia tidak putus asa dan berlayar lagi ke Sumbawa, dan mendarat pada tanggal 9 Juli 1674. Karena “menemukan segalanya di kalangan rakyat kacau-balau”, diputuskannya atas permintaan Raja, membuat benteng di sana. Diperintahkannya 31 orang Belanda dan 21 orang pribumi mendudukinya dan mempersenjatainya dengan 9 buah meriam. Maksudnya, akan tinggal di sana selama musim hujan. Ini bertentangan dengan instruksi. Raja Tambora yang kecil memang menyambut dengan gembira, bahwa “dengan datangnya Kapten Jan Franszen, hati kami bagaikan sebatang pohon, yang daun-daunnya mulai kering dan ketika hujan tiba, mulai lagi berdaun dan berbunga; demikianlah jadinya hati kami semua”. Tetapi Pemerintah Kompeni tidak begitu gembira, karena masih belum ditemukan jejak orang-orang Makassar yang berkeliaran. Bagaimanapun, pendudukan ini ada akibatnya, yaitu bahwa setidak- tidaknya satu kelompok pengembara, yaitu kelompok Manggappa, lari ke arah barat dan mencoba mencapai kesepakatan dengan Sultan Banten; tentang ini kelak akan dibicarakan lebih banyak. Berita bahwa Kraeng Galesong juga telah mengungsi ke Bali, tidak dipercayai orang Belanda, mengingat sifat orang Bali yang tidak begitu ramah dan begitu sadar diri. Sementara itu, tidak terdapat kemajuan sama sekali; dikhawatirkan Bima akan diserang lagi, dan kali ini atas hasutan Kraeng Karunrung (Daghregister, 21 September 1674 dan 25 Januari 1675). Karena itu, Pemerintah Kompeni memutuskan sekali lagi mengirimkan suatu armada kecil ke sana di bawah pimpinan Nakoda Gerrit Coster, yang “sangat berpengalaman dalam pelayaran di kawasan itu dan mengenal raja-raja”. Begitu armada yang baru ini akan memasuki perairan Sumbawa, Jan Franszen harus mengambil alih pimpinan. Memang hingga sekarang ia belum menghasilkan sesuatu yang memuaskan sekali, tetapi pegawai Kompeni yang biasa bergaul dengan bangsa-bangsa asing itu hanya sedikit, dan karena itulah ia dipertahankan. Armada kedua meninggalkan pelabuhan Batavia pada tanggal 25 Januari 1675 (Daghregister) dan tiba pada bulan Februari di Kepulauan Nusa Tenggara. Karena harapan akan menemukan bajak laut, mereka menelusuri pantai Jawa, Selat Madura, Bali, dan Lombok menuju Sumbawa, tetapi tanpa menangkap apa-apa. Para pengembara bersembunyi di anak sungai dan muara. Sepucuk surat sempat ditinggalkan untuk Bonto Marannu di Gresik. Masuk akal bahwa dengan mendekatnya satuan ini Kraeng Galesong melarikan diri ke Jawa Timur. Dalam bulan April 1675 ia memang muncul di si B Sejak itu tidak terdapat lagi orang Makassar dalam jumlah yang berarti dekat Sumbawa. Karena itu, Jan Franszen tidak perlu tinggal lebih lama di sini. Namun, ia masih sempat menyisihkan waktunya dengan menengahi perselisihan-perselisihan di antara orang Sumbawa; untuk ini ia dipanggil kembali. Benteng, yang dalam ejekan disebut "Succelenburg” ("benteng Morat-marit”), harus diratakan. Pada tanggal 1 Oktober 1675 (Daghregister) panglima armada yang canggung ini berada di Batavia kembali, “setelah kira-kira 21 bulan lamanya morat-marit ke mana-mana”. Hasil negatifnya ialah orang Makassar diusir dari Sumbawa ke Jawa. Di sini mereka ini selama empat tahun lagi menyusahkan Kompeni. Mengenai seorang dari mereka, yaitu Daeng Manggappa yang telah disebut terdahulu, akan kita paparkan dalam bab berikut. Vili-2 Daeng Manggappa ke Banten akhir tahun 1674 Jadi, tindakan armada Belanda merabuat sebagian orang Makassar terpaksa mencari daerah yang lebih aman (Daghregister, 10 Oktober 1674). Di antara mereka juga terdapat Daeng Manggappa, saudara Kraeng Harunarrasyid, seorang putra Raja Tallo’. Pada tahun 1672 ia digolongkan Speelman dalam kelompok orang Makassar sebagai perampok, yang tanpa memiliki surat-surat dari “kommandeur” Makassar, boleh saja dipukuli sampai mati atau ditangkap siapa saja tanpa dihukum (Daghregister, 24 Oktober 1672). Sebab, ia telah mencoba menghasut takyat Pangeran Mas dari Pasir di Kalimantan agar melawan rajanya. Setahun kemudian ia termasuk dalam kelompok pemberontak Makassar di bawah pimpinan Raja Tallo’, bersama Kraeng Galesong (Daghregister, 28 Desember 1673). Mereka menyulitkan keadaan raja Bima dan raja Dompu. Tetapi dalam sebuah tulisan yang diterima di Batavia pada tanggal 7 September 1674 (Daghregister), Raja Bone Arung Palakka yang termasyhur itu memberitakan bahwa Raja Tallo’ telah meninggal di Bima (pada tanggal 16 Juni 1673). Mangkatnya raja itu sudah tentu dapat mempercepat keberang- katan Daeng Manggappa dari sana. Pada bulan Oktober 1674 ia menyeberang ke jepara melalui Gresik, berpura-pura dipanggil oleh Sultan Banten, dalih yang mungkin saja benar (Daghregister, 31 Oktober 1674). Pada tanggal 9 November 1674 akhirnya tibalah ia di Banten, dengan membawa 19 perahu bersama 700—800 orang Makassar. Menurut keterangannya, ia datang hanya untuk meminta mesiu dan senjata, agar dalam musim hujan masih bisa menghasut orang Bima. Bonto Marannu menunggu kedatangannya di Blambangan, dan mereka akan menyeberang bersama-sama ke Bima; di sana Kraeng Jarannika (lahir 21 April 1641) akan bergabung dengan mereka (Daghregister, 15 November 1674; Daghregister, 25 Januari 1675, hlm. 30). Rencana yang bagus sekali ini ternyata tidak terlaksana sama sekali. Raja 79 Banten sudah bermusyawarah tentang hal itu dengan para pembesarnya, tetapi ia tidak begitu berniat untuk bersama orang Makassar melawan Kompeni, sekutu Bima. Ia pun kurang berminat untuk berperang melawan kaum seiman (Daghregister, 4 Januari 1675, hlm. 8). Sebaliknya kepala pemerintahan Kiai Aria Mangunjaya tidak lama lagi akan menikah dengan saudara perempuan Daeng Manggappa; ini menjadi petunjuk adanya usaha memperkuat tali persaudaraan (Daghregister, 15 Desember 1674). Karena itu, Corn. Speelman, sang ahli urusan Makassar, pada tanggal 22 Desember 1674 menulis surat panjangkepada Daeng Manggappa meminta agar ia tidak bertindak melakukan sesuatu terhadap Bima dan Dompu, sekutu Kompeni. Melalui seorang utusan, Speelman mengundangnya agar datang ke Batavia, tetapi ia tidak berani datang karena tuduhan-tuduhan yang dilemparkan terhadap dirinya. Karenanya, utusan itu menyampaikan undangan baru, disertai salinan surat Kraeng Bonto Marannu yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal. Dalam surat itu Kraeng tersebut mengeluh tentang pembunuhan yang dilakukan orang-orang Banten terhadap putranya. Rupanya, Speelman bermaksud mengasingkan Daeng Manggappa dari tuan rumahnya (Daghregister, 22 Desember 1674). Tetapi Daeng Manggappamembalas surat itu dengan nada kasar (Daghregister, 4 Januari 1675). Dikatakannya bahwa ia tidak mempunyai hubungan sedikit pun dengan perjanjian perdamaian Bongaya. Satu-satunya maksud kunjung- annya ke Bima ialah menyelidiki siapakah yang menghancurkan makam pemimpinnya (pamannya, Kraeng Tallo’). Raja Bima diberitakan telah menggali mayat Kraeng itu dan membakarnya (Daghregister, 13 Desember 1675). Sebelum berbicara dengan Speelman, ia hendak bermusyawarah dengan Kraeng Galesong, dan suratnya itu diakhiri dengan kata-kata, "Apa yang saya pandang paling baik bagi diri saya, itulah yang akan saya lakukan. Sementara itu, pendatang baru ini lebih banyak menyulitkan daripada menyenangkan tuan rumahnya. Mereka mengembara di Banten dan sekitarnya; agaknya dengan maksud jahat. Ketika terjadi kebakaran yang menghancurkan dua pertiga kota, empat orang di antara mereka dibunuh dengan keris (Daghregister, 6 dan 11 Januari 1675). Sultan berniat "mengusir” mereka, tetapi atas permintaan Kiai Aria Mangunjaya, pangeran Madura, dan lain-ain, perintah itu ditangguhkan. Tetapi setiap orang Makassar yang masih berada di jalan pada malam hari boleh dibunuh. Mereka umumnya dicurigai sebagai penyebab kebakaran itu. Sultan memberi beras kepada mereka yang menderita kerugian akibat kebakaran itu, termasuk Daeg Manggappa dengan para pengikutnya. Selanjutnya Raja mulai membuat orang Makassar menjadi sakit hati lagi dengan melakukan kesalahan besar, yakni mengganggu istri mereka. Pada bulan Maret 1675 seorang kemanakan perempuan Daeng Manggappa berusia 80 = 15 atau 16 tahun, diambil dengan paksa . . .dan kemudian dikawininya. Orang Makassar begitu marah, begitulah beritanya, sehingga semuanya mereka dalam waktu singkat hendak pulang kembali ke Makassar (Daghregister, 23 Maret 1675) — suatu rencana yang sungguh-sungguh menggembirakan Pemerintah Kompeni (Daghregister, 6 April 1675). Demikianlah pada akhir April 1675 mereka berangkat. Setelah minta diri dengan hormat dari Sultan, berangkatlah Daeng Manggappa bersama 800 pengikutnya, dengan menggunakan 14 atau 15 perahu tanpa diketahui masyarakat Banten (Daghregister, 4 Mei 1675). Bagi orang Banten umumnya kepergian mereka itu melegakan hati, karena mereka sangat membenci perampok-perampok itu, yang sebelum berangkat masih menculik kira-kira 50 orang budak. Mereka menuju ke Jawa Timur dan muncul di sana pada akhir tahun. Vill—3 Bencana kelaparan, 1674—1676 Sementara itu, bencana kelaparan hebat melanda Pulau Jawa yang malang, terutama disebabkan oleh musim kering yang panjang. Menurut laporan tertulis Couper (tanggal 16 November 1674), harga beras pada akhir tahun 1674 di Mataram naik sampai 25 rial sekoyan. Kiai Nayacitra dari Semarang bahkan menyatakan telah membayar 30 rial untuk sekoyan. Menjelang awal tahun harga-harga meningkat terus. Pada tanggal 16 Maret 1675 diberitakan dari Jepara, beras di pasar sudah mencapai harga 52/2 ringgit sekoyan dan mungkin masih akan naik terus, karena tidak ada pemasukan beras dari Iuar. Di daerah pegunungan padi tidak tumbuh dengan baik, “batang padi memang tinggi dan subur, tetapi bulir padi .. diserang hama.” Hujan tidak kurang, kini sawah-sawah bahkan tergenang air. Pada tanggal 7 April 1675 Residen mengatakan tidak mungkin dapat memperoleh 10 liter beras di satu tempat. Di Mataram harga beras sudah naik sampai 150 ringgit sekoyan. Kebanyakan orang hidup dari akar-akar pohon, ubi, dan sebagainya. Tetapi Tuhan rupanya ... akan memberi kemudahan. Tanaman di seluruh daerah pedalaman tampak rimbun dan tumbuh subur, sehingga dua bulan lagi pasti akan membawa panen yang bagus. Namun, sementara itu kekurangan pangan dan harga yang mahal masih akan terasa. Alangkah kecewanya ketika ternyata panen tidak memenuhi harapan. Pada bulan Mei 1675 Couper mencari keterangan di mana-mana mengenai keadaan tanaman padi, tetapi keterangan yang diperolehnya begitu buruk sehingga kecuali jika Tuhan berkenan menurunkan hujan, tiada harapan lagi akan» panen padi yang cukup banyak di pantai timur Jawa (Japara, 25 Mei 1675). Untuk Batavia dan Banten pun tidak cukup, apalagi untuk pulau-pulau yang jauh letaknya, seperti Kalimantan, yang biasanya memperoleh bahan makanan dari Jawa. 81 Sekalipun panen agak dapat melegakan, pada bulan November 1675 terjadi lagi kekurangan bahan pangan. Walaupun ekspor beras pada bulan Oktober 1675 sudah dilarang, harga tetap naik sampai 40, 45, 50, dan 55 ringgit sekoyan (Japara, 4 November 1675). Tetapi di Jawa Timur panen masih lumayan. Di sebelah timur Gresik beras bahkan dijual ke luar. Awal tahun 1676, konon harga beras telah menurun (Daghregister, 23 April 1676). Tiga kapal bermuatan beras dan minyak kelapa dari daerah ini singgah di Jepara, tetapi segera mengangkat sauh lagi tanpa membongkar muatan setelah mendengar harga beras di Batavia 80 ringgit (Japara, 4 November 1674). Pada akhir tahun 1675 masih terdapat kekurangan beras, tetapi harapan akan masa depan cukup baik, juga di Batavia (Daghregister, 17 Januari 1676). Tetapi sebelum panen tiba, harga-harga tidak menurun. Karena itu, penjualan kain masih terhalang. Pada tanggal 24 Maret 1676 ada berita dari Couper bahwa di Jepara beras masih dijual dengan 130 ringgit sekoyan sehingga orang Jawa yang miskin harus makan umbi-umbian (Daghregister, 10 April 1676). Beberapa bulan kemudian keadaan menjadi baik, berkat panen yang berlimpah-limpah. Syahbandar Juwana menjamin dapat menyerahkan beras dalam waktu sebulan 100 koyan dengan harga 25 ringgit (Daghregister, 2 Juni 1676). Karena itu, kenaikan harga beras kemudian mungkin disebabkan oleh kerusakan-kerusakan akibat perang (Daghregister, 3 Agustus 1676). Telah kita lihat bahwa Jawa Tengah dari tahun 1674 sampai tahun 1676 parah dilanda kekurangan beras. Tetapi belum lagi orang Jawa yang malang itu sempat dapat bernapas lega kembali karena panen yang baik, perang meletus sehingga membawa mala petaka baru. Khususnya Jawa Tengah menderita sekali; bagian timur Jawa tidak begitu parah. Kesengsaraan ini pastilah mengguncangkan lahir batin. Dan karena segala penderitaan ini — ditambah lagi dengan meletusnya Gunung Merapi pada tahun 1672 — maka tenaga manusia di ibu kota kerajaan pada saat-saat yang menentukan justru menjadi sangat sulit. Di antara bencana dan pertanda buruk lainnya, bencana ran itu hanya disebutkan sedikit di dalam cerita tutur: hujan jatuh pada waktu yang tidak semestinya (Babad B.P., jil. XI, hlm. 28; Meinsma, Babad, hlm. 159; Serat Kandha, him. 989). Ini merupakan gambaran yang bermaksud memperlembut keadaan yang sebenarnya. Mengenai bencana-bencana lain Serat Kandha memberi keterangan panjang lebar, dengan gambaran yang baik sekali menurut caranya sendiri: "'Gempa yang dahsyat, banyak gunung tinggi meletus sehingga banyak desa. . . di sekelilingnya ... tertutup tanah dan batu-batu besar dari gunung. Sumber-sumber air dari Gunung Merapi meluap dan airnya mengalir deras, menggenangi tanah-tanah datar selama beberapa hari. Terjadi gethana 82. matahari, sampai segala-galanya tidak tampak. Turunlah hujan abu, dan berbagai penyakit melanda seluruh Mataram, mengakibatkan kematian manusia dan kebinasaan kerbau serta sapi dalam jumlah yang tidak terhingga =” Penduduk berpendapat, mereka benar-benar sedang mengalami perubah- an zaman, Vill—4 Keadaan istana, 1674-1675 Sepintas lalu keadaan di Istana Mataram pada tahun 1674 tampak tenang. Couper menulis, Sunan yang sudah menjadi agak lanjut usia tidak lagi mencoba hal-hal yang baru. Sri Baginda tidak punya selir yang sesuai dengan seleranya, demikian tersiar desas-desus aneh di kalangan orang Jawa (Daghregister, 16 November 1674). Ternyata, idam-idamannya itu tidak lama kemudian menjadi kenyataan. Karena tidak lama sesudah itu pedagang Van der Schuer memberitakan: beberapa orang utusan Mataram telah menculik istri kedua putra Kiai Wiraatmaka yang "masih muda dan cantik” untuk dijadikan istri Sunan (Daghregister, 6 Desember 1674). Agaknya selir-selir itu mahal sekali biayanya, karena Sunan selalu mengeluarkan banyak uang untuk wanita-wanita cantik ... yang biasanya masing-masing memakan biaya empat atau lima, bahkan sepuluh ribu rial atau lebih. Padahal, jumlah wanita itu begitu banyak sehingga untuk mereka semua seharusnya disediakan biaya yang amat tinggi, dan hanya terpaut sedikit dari seluruh pendapatannya (K.A. No. 1211, him. 5; Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 76). Biasanya wanita-wanita itu dipelihara selama beberapa waktu, dan kemudian dihadiahkan kepada seorang pejabat Istana dengan sejumlah uang sebagai pesangon. Tetapi Raja ingin menjangkau lebih jauh. Ia ingin memiliki sebutir berlian yang lebih besar daripada yang dahulu dihadiahkan oleh Van Goens (Daghregister, 2 April 1674). Seekor kuda yang dahulu dihadiahkan kepadanya juga sudah menjadi tua, sehingga perlu diganti. Pada akhir tahun 1674 Sunan menyuruh Kiai Surawangsa — yang baru saja diangkat sebagai kepala gudang — agar menukarkan dua ekor kuda hitam dan 40 kuintal beras dengan berbagai macam tekstil luar negeri: laken merah, ikat pinggang sutera hijau, cindai, dan sebagainya (Daghregister, 30 Desember 1674). Pertengahan tahun 1675 para bendaharawan Istana, Nitisatra dan Nitipraja, mendapat perintah agar menyuruh para kepala daerah Jepara, Demak, dan Semarang berlayar ke Patani untuk membeli gajah (Japara, 15 Agustus 1675). Apakah Raja ingin _ tampak megah agar kewibawaannya bertambah tinggi? Tetapi usia tua juga membawa penyakit. Istirahat Sunan juga dikatakan karena akibat usia tua dan lemah sehingga harus banyak tinggal di dalam (Daghregister, 11 September 1675). Tidak terdengar lagi berita-berita baru. Memang beberapa minggu kemudian ia merasa jauh lebih sehat, tetapi 83 saul sementara itu timbul kesulitan-kesulitan lain. Melihat penyakit Sunan, para pangeran mengetahui bahwa ayahandanya akan wafat. Maka, mulailah mereka melakukan kegiatan yang mengganggu ketenteraman. Pergulatan antara putra mahkota, yang mendapat "amarah besar” dari Sunan, dan saudaranya, Pangeran Aria Tiron, meletus kembali (Daghregister, 6 Juli 1674). Pangeran Adipati Anom menghadap ayahnya dengan mengutarakan berbagai alasan sehingga ayahnya tidak berani mengambil tindakan (Daghregister, 2 September 1674). Timbul juga masalah yang berhubungan dengan ini, yaitu beberapa orang pembesar, antara lain para penguasa pesisir, mengadu kepada Sunan tentang putranya. Mereka ternyata tidak diberi wewenang bertindak melainkan diperintahkan segera pergi, dan menyampaikan pengaduan mereka kepada Jaksa Agung. Setelah ada keputusan dari Jaksa Agung, barulah mereka boleh naik banding kepada Raja; kalau tidak, mereka diancam denda 500 rial atau istri mereka diusir dari Istana. Pangeran Aria Tiron, yang kemudian bernama Pangeran Singasari, menuntut keadilan atas 32 orang pengikutnya yang setahun sebelumnya dibunuh atas perintah Pangeran Adipati Anom. Tuntutannya: 64 orang pengikut putra mahkota harus menebus dengan jiwa mereka. Tetapi pangeran ini, bila menghadap ke Istana, selalu ditemani oleh Pangeran Purbaya yang tua itu, Pangeran Sampang, dan saudaranya, Pangeran Demenang (Pangeran Puger?), disertai pula oleh para pengiring. Apakah tanpa memberi tahu siapa pun ia pergi ke Suracala bahkan terus sampai ke gua Nyai Loro Kidul di Langse? Perjalanan ke gua yang penuh rahasia ini sebenarnya merupakan hak istimewa Raja (Rouffaer, 1598 J., mulai tanggal 28 Maret 1675). Tetapi putra mahkota melangkah lebih jauh lagi. Seperti diketahui, ia telah mengadakan perjanjian dengan para perantau Makassar. Dengan mengguna- kan kekuasaannya di ujung timur mungkin ia memerintahkan kepada bupati Gresik dan bupati Surabaya supaya membiarkan para perampok itu bebas berbuat sekehendaknya. Rupanya, dengan demikian tiada terkandung maksud lain kecuali hendak merebut kekuasaan.'* 15 Pada masa itu juga terjadi peristiwa penahanan tethadap seorang Eropa (Beland2?). menggoreskan pada batu gilang di Kotagede suatu catatan yang menandakan kesedihannya, Dalam Babad Sangkala Rouffaer (Rouffaer, Genealogische) termuat bertahun 1599 J. (mulai tanggal 16 Maret 1676) terdapat berita: Di Pamancingan tertangkap seorang Belanda bernama Kerem, yang dibawa ke ibu kota dan dirantai pada batu gilang di Kotagede, tetapi 3 bulan kemudian, menurut beberapa orang, diserahkan ke Batavia. Menurut berita lain, ia dibunuh, J BabIX Tindakan Makassar yang Pertama Terhadap Jawa 1674-1676 IX—1 Serangan Makassar yang pertama, 1674—1675 ula-mula kelompok orang Makassar Kraeng Bonto Marannu hanya merampas perahu tetapi pada akhir tahun 1674 dari Demung mereka mulai menyerang kota-kota. Kota pertama yang jatuh ke tangan mereka ialah pelabuhan beras yang penting, Gerongan. Pelabuhan ini, yang terletak di Delta Brantas tidak jauh dari Surabaya, penting artinya bagi Kompeni. Tidak lama kemudian ternyata ada kerja sama antara orang Makassar dan orang Jawa. Yang menimbulkan tanda tanya ialah sikap pejabat-pejabat Jawa di Semarang, Demak, dan Jepara. Keluhan pihak Belanda tentang terbunuhnya para awak perahu milik warga Batavia Struys sama sekali tidak dihiraukan (Daghregister, 7 Maret 1675). Diberitakan bahwa putra mahkota telah memerintahkan agar tidak mengambil tindakan terhadap orang Makassar yang melakukan perampasan itu. Beberapa orang bupati, seperti dari Gresik dan Surabaya, (jadi bukan para kepala daerah) menaati perintah itu. Tetapi kemudian atas perintah Sunan mereka semua dibunuh. Serangan orang-orang Makassar atas Gresik dan Surabaya dapat ditangkis juga, tetapi Pemerintah Kompeni menganggap, “kegiatan perampokan di kalangan orang Jawa ... sebagai suatu kejahatan (Daghregister, 12 Maret 1675). Serangan ulangan yang pernah gagal itulah barangkali peristiwa yang disebut dalam sepucuk surat dari Jepara tanggal 30 April 1675 (K.A. No. 1193). Kraeng Galesong dan putra Kraeng Tenetiye (Tanete?) muncul dengan 25 perahu yang bersenjata lengkap di perairan Gresik. Para awak yang berjumlah 500 orang itu "berbaju zirah, bersenjata tajam . . . pistol dan perisai bundar.” Mereka mendarat (dan penduduk melarikan diri ke daerah 85 pegunungan) ketika kapal-kapal kecil Belanda Blompot, Rat van Avonture, dan Hengelaer tampak. Pihak Belanda menyampaikan pesan kepada orang-orang Makassar agar tidak melakukan tindakan permusuhan, dan segera pergi. Jika tidak, akan digunakan kekerasan. Perahu Makassar yang terbesar kemudian menaikkan bendera putih. Tetapi, kata orang, begitu perahu-perahu Belanda pergi, orang-orang Makassar akan melanjutkan lagi kegiatannya. Karena itu, aneh juga kedengarannya bahwa menurut sebuah berita orang-orang Belanda ketika itu menyerahkan 15 peti mesiu dan 300 peluru senapan kepada orang-orang Makassar. Tetapi akhirnya orang-orang Makassar itu mundur juga melalui Selat Madura menuju Demung. Konon mereka “dicaci maki ... sebagai pengecut” oleh Kraeng Bonto Marannu, pemimpin mereka. Kraeng ini juga tidak mau menerima surat dari Pemerintah Kompeni, karena itu para nakoda meninggalkan saja surat tersebut pada seorang Cina bernama Canhun, sebab setelah berkali-kali surat itu disampaikan, Kraeng Bonto Marannu tetap menolaknya dengan alasan bahwa isinya .. . tidak ada hubungan dengan dirinya (Daghregister, 25 Januari 1675, hlm. 39-40). Bukan hanya di Surabaya dan Gresik saja para bupati dicurigai. Di Jepara pun orang tidak percaya kepada Syahbandar Kartisedana, yang berasal dari Benggala dan terkenal sebagai pengikut paling setia putra mahkota. Syahbandar ini diberitakan mempunyai empat atau lima kapal kecil yang kadang-kadang memasuki pelabuhan dengan hasil rampasan yang dikatakan sebagai barang dagangan. Tetapi ia dapat memberikan penjelasan begitu rapi kepada Kepala Daerah Wiraatmaka sehingga hampir seluruh urusan Jepara diserahkan kepadanya. Orang Jawa harus memenuhi setiap permintaan syahbandar itu, juga permintaan yang tidak diucapkannya dengan terang-te- rangan, sedangkan para pedagang asing, termasuk orang Belanda, mengeluh tentang "kekurangajarannya”. Tindakan kekerasan gerombolan Makassar di segala pelosok menimbulkan rasa takut dan kekacauan. Pada tengah malam tanggal 16—17 April 1675 tersiar desas-desus di Jepara bahwa para perompak telah menaklukkan Gresik dan merampas kota itu habis-habisan; perahu-perahu mereka, yang diper- senjatai dengan lengkap dan membawa banyak awak, sudah muncul di Teluk Jepara. Gong-gong dipukul, api unggun dinyalakan di mana-mana untuk memanggil rakyat dari segala penjuru agar berkumpul di suatu tempat ketinggian Danareja. Dari sana Kiai Wiraatmaka meminta kepada Residen agar memanggil sebuah kapal Belanda yang sedang memuat kayu di Demak. Pemimpin tertinggi Belanda, Couper, memberitahukan bahwa tidak biasa menerima amanat pada jauh malam demikian sehingga harus membukakan pintu gerbang. Ia akan memperhatikan -hal itu dan memberitahukan kkeputusannya esok harinya. Orang Belanda tidak tahu siapa yang harus lebih 86. ~ ditakuti, orang Makassar atau orang Jawa. Sebab, beberapa hari sebelumnya terjadi serangan: perampasan atas sebuah kapal milik Cina Rembang, terbunuhnya tiga orang Cina dan beberapa orang penumpang lainnya (Japara, 30 April 1675). IX—2 Akibat serangan Makassar yang pertama di dalam negeri, 1675 Kejadian-kejadian di pantai menggema sampai di daerah pedalaman. Pangeran Adipati Anom dituduh mau merebut kekuasaan selagi ayahnya masih berkuasa. Karena itu, ia dibenci oleh Sunan, dan adiknya Pangeran Singasari ditetapkan sebagai pengganti ayahnya. Beberapa orang pangeran, Pangeran Puger dengan Pangeran Sampang (!), memang telah menyatakan dukungannya terhadap putra mahkota; tetapi banyak pangeran lainnya bersumpah akan mendukung keputusan Sunan. Akibat-akibat yang gawat mungkin akan timbul karenanyg. Kekuasaan putra mahkota atas Gresik dan Surabaya sudah dicopot (Japara, 21 Februari 1675; Jonge, Opkowst, jil. VI, him. 192). Kekuasaan atas Surabaya selanjutnya ditawarkan kepada raja ulama, Pangeran Mas Giri, tetapi ia menolak dengan alasan ingin meneruskan hidup menyepi sebagai ulama. Apakah ia tidak mau mengikat diri pada kekuasaan yang dikecamnya? Kebencian terhadap putra mahkota tidak berlangsung lama. Sejak awal April 1675 ia diampuni, dan diberitakan telah rukun kembali dengan adiknya, Pangeran Singasari (Daghregister, 20 April 1675). Tetapi ternyata hubungan antara keduanya tidak akrab benar. Awal Agustus 1675 Sunan merasa sangat prihatin tentang masa depan kerajaannya bila ia telah tiada. Pertengkaran dan kerusuhan yang sudah ada tentu akan meningkat, karena kedua pangeran muda ini... . telah mempersiapkan tombak, senapan, dan senjata api. Pangeran ‘Adipati Anom dan Pangeran Singasari dijuluki dua jagoan, yang bila Sunan tiada lagi akan bertarung merebut kekuasaan (Japara, 15 Agustus 1675; Jonge, Opkomst, jil. VI, him. 193). Kekacauan itu mula-mula dianggap sebagai akibat kesehatan Raja yang menurun. Namun, setelah Raja sembuh kembali, ternyata tidak seorang pun di antara kedua pangeran itu mau menghiraukan ayahnya. Masing»masing ingin tampak sebagai yang paling hebat (Japara, 21 September 1675; K.A. No. 1193). Kedudukan putra mahkota yang membaik kembali itu ternyata pula dari permohonan yang disampaikan oleh abdi-abdinya kepada Residen di Jepara. Sekitar bulan Desember, residen Belanda tersebut diminta oleh para abdi itu agar berkunjung ke Semarang dengan membawa sejumlah uang perak, untuk dibuat menjadi barang kerajinan perak bagi gusti mereka. Semua pangeran sementara itu telah menyiapkan tombak, senapan, dan senjata api (Daghregister, 29 September 1675). 87 po IX—3 Tindakan-tindakan pertahanan, 1675 Serangan-serangan Makassar rupanya telah menggugah Sunan dan para abdinya untuk melakukan kegiatan lebih banyak lagi. Demikianlah syahban- dar Juwana mendapat perintah agar menyusuri pantai dan “mencari mesiu sebanyak-banyaknya karena mungkin Sunan akan memerangi para perampok Makassar” (Daghregister, 19 Juni 1675). Niat samar-samar ini empat minggu kemudian mengambil bentuk yang jelas: Raja ingin menghajar dan mengenyahkan mereka dari daerahnya. Para penguasa pesisir Jawa juga menerima perintah dari Mataram agar orang Makassar di wilayah kekuasaan mereka memakai pakaian pribumi; jika tidak, mereka akan diusir (Daghregister, 3 Agustus 1675). Orang Makassar yang tinggal di tengah-tengah masyarakat Jawa dengan demikian harus menyesuai- kan penampilan dirinya sehingga tampak sebagai orang Jawa. Penduduk Makassar di Jepara menyatakan bersedia memenuhi peraturan tersebut. Tetapi sedikit saja hasil yang dicapai peraturan tersebut. Karena itu, tidak mengherankan jika para penguasa pesisir tertinggi, Raden Sidayu dan Singawangsa, atas prakarsa mereka sendiri segera mengambil tindakan tanpa menunggu perintah Sunan. Dari Mataram mereka memerintahkan kepala daerah Pasuruan — suatu pos penting — menyerang Makassar (Japara, 7 Desember 1675; Jonge, Opkowst, jil. VI, hlm. 194). Juga dikirimkan sejumlah orang ke sana. Apakah ini sama dengan 10.000 orang yang konon sedang menuju ke sana, tetapi setelah menerima berita bahwa Pangeran Adipati bersahabat dengan orang Makassar, kemudian kembali lagi dan tidak meneruskan perjalanan? (Daghregister, 10 Maret 1675). Pada pokoknya, tindakan-tindakan tersebut tidak berhasil. Hasil lebih penting barangkali akan diperoleh dengan diangkatnya seorang penguasa daerah baru di Jepara, yakni Ngabei Wangsadipa, sebagai pengganti Kiai Wiraatmaka. Dalam bab berikut perhatian khusus akan diberikan kepada hal ini. IX—4 Serangan Makassar yang kedua, 1675-1676 Sepanjang keterangan yang dapat diperoleh hanya Kraeng Bonto Marannu dengan pengikutnya saja yang ikut serta dalam serangan Makassar atas Jawa pada tahun 1674—1675. Tetapi jumlah perompak pada akhir tahun 1675 sangat meningkat. Hal itu diketahui dari berita yang diterima di Batavia mengenai Daeng Tulolo. Tokoh penting Makassar ini adalah kemanakan Raja Tallo’, yang mengungsi bersama raja tersebut ketika terjadi perang besar Speelman melawan Makassar. Pada tahun 1669 ia bersama dengan pangeran-pangeran Tallo’ lainnya tiba di Batavia, dan mereka dinamakan: "putra-putra Crain Tamalaba, '¢ paman (raja) Tallo” (Daghregister. 20 Desember 1669, hlm. 480—486) Lima tahun kemudian ia tiba kembali di Batavia. Speelman, ahli urusan Makassar, menanyakan tentang perjalanannya. Dalam laporan Speelman mengenai pertemuan ini terdapat daftar nama semua orang Makassar yang mengembara di Jawa Timur. Selain menyebut nama Kraeng Bonto Marannu daftar itu juga memuat banyak nama orang Makassar lainnya, yang sudah beberapa waktu lamanya tidak dapat ditemukan lagi. Pertama-tama, setelah Bonto Marannu, terdapat Daeng Manggappa. yang pada akhirbulan April 1674 menghilang dari Banten ke arah timur. Dan sebagai nama ketiga tercatat Kraeng Galesong, yang sudah kita kenal dalam hubungannya dengan Kraeng Bonto Marannu. Peranan kedua tokoh ini lama-kelamaan menjadi penting. Sekalipun sudah lama tersiar desas-desus yang kuat bahwa orang-orang Makassar bertekad untuk bersama-sama menyerang Bima lagi, ternyata kemudian tekad itu sama sekali tidak terlaksana. Bahkan Daeng Tulolo menegaskan, sejak keberangkatannya dari sana tidak terjadi sesuatu apa pun. Di Bima ada seorang residen, yakni Jan Franszen Holsteyn yang telah disebut sebelumnya. Memang dari Makassar Kraeng Karuntung pernah menulis surat kepadanya untuk berziarah ke makam almarhum raja Tello’. Tetapi Daeng Tulolo tidak ingin membicarakan saran itu. Pada pendapatnya, lebih baiklah Kraeng onto Marannu dan Daeng Manggappa melakukan hal itu. Sekalipun keduanya mereka itu tidak melakukannya. Speelman masih tetap memper- hitungkan kemungkinan terjadinya serangan atas Sumbawa. Bagaimanapun, tidak pernah mereka berada di pulau yang letaknya jauh itu. Mereka lebih banyak berputar-putar di sekitar Selat Madura, dan memang di sanalah kita melihat mereka menetap pada akhir tahun 1675. Apakah mereka bersama dengan kawannya dan sekutunya di Jawa dan” Madura telah mempersiapkan serangan yang kedua? Mungkin saja. Karena tingkah laku Daeng Tulolo yang serba rahasia. sekalipun dari gaya bicara dan tingkah lakunya dapat diduga ia lebih banyak tahu tentang hal itu (Daghregister, 13 Desember 1675, hlm. 339). Rupanya, mereka merencanakan tidak membatasi serangan awal Desember 1675 itu atas Gresik dan empat kota lainnya saja, tetapi dalam waktu singkat bahkan akan merebut seluruh Jawa. Pernyataan Daeng Tulolo bahwa rencana demikian hanya ada pada para pemimpin bawahan, dan bertentangan dengan kehendak Kraeng Bonto Marannu dan Daeng Manggappa. agaknya sama sekali tidak benar. Demikianlah, berkumpulnya para perantau Makassar di Jawa Timur itu 16 Kraeng Tamalaba ialah saudara sebapak Kraeng Pattingalloang, dan bekas bupati Talo’, yang turut menandatangani perjanjian perdamaian, dan tidak lama kemudian meninggal. 89. didukung oleh dua kekuatan yang bertentangan. Pertama-tama oleh Sultan Banten yang, agaknya, setelah mengundang dan menerima mereka dengan ramah, bersikap menjauh, karena gangguan yang terjadi pada istri-istri mereka. Selanjutnya Kompeni terlalu khusus menaruh perhatian terhadap pameran kekuatan orang Makassar di kerajaan kecil Bima dan Dompu di Sumbawa. Laksamana Kompeni Jan Franszen Holsteyn yang kurang cakap itu memang berhasil_menghalau, tetapi tidak dapat membasminya. Pada pendapat atasannya, ia telah sekian lamanya tidak banyak berhasil ... membasmi orang-orang Makassar itu sama sekali. Bahwa para perantau ini memilih daerah tidak bertuan, Demung, di dekat Madura, sebagai tempat persembunyian, sudah tentu mendapat persetujuan diam-diam dari Pangeran Adipati Anom — dengan atau tanpa diajak oleh Raden Trunajaya. Pemerintah Kompeni menganggap hal itu tampaknya (lebih banyak) atas prakarsa Pangeran Madura daripada atas kehendak sendiri Gonge, Opkowst, jil. VI, him. 167). Bahwa Kraeng Galesong kawin dengan putri, anak saudara perempuan tokoh Madura itu, dianggap sebagai petunjuk yang jelas bahwa Pangeran Maduralah yang mengambil prakarsa. IX—5 Komplotan antara Galesong dan Trunajaya, 1675 Agaknya pada tahun 1675 terlaksana pertalian yang lebih erat antara Kraeng Galesong dan Raden Trunajaya. Ikatan ini secara tidak langsung ditunjukkan oleh Raden Trunajaya dalam keterangannya kepada seorang Mor utusan Belanda, Piero (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 93), pada tanggal 10 Februari 1677. Panembahan ini — gelar yang sudah dimilikinya ketika itu — mengatakan bahwa sebelum timbul permusuhan ia telah mengadakan erjanjian dengan Pangeran Adipati Anom. Mestinya perjanjian itu dibuat Tada tahun 1670—1671. Tetapi putra mahkota tidak menepatinya. Apakah dalam hal ini sang pemberontak besar melihat bahwa Pangeran Adipati Anom akan rukun kembali dengan ayahnya, setelah terjadinya serangan-serangan pertama Makassar yang gagal atas Gresik dan Surabaya (Daghregister, 20 April 1675)? Karena itulah ia memberikan kemanakannya kepada Kraeng Galesong sebagai istri, dengan syarat agar Galesong merebut Surabaya dan Gresik baginya. Akan kita lihat bahwa usaha ini memang dilakukan pada waktu serangan Makassar yang kedua. Selain itu dari perkawinan antara Galesong dan kemanakan Trunajaya itu Iahir seorang anak pada bulan Januari 1677. Jadi, perkawinan mereka tentu sudah terjadi setidak-tidaknya beberapa waktu sebelum April 1676, dan tahun 1675 lebih besar kemungkinannya daripada tahun 1676. Kemungkinan ini lebih besar mengingat keterangan-keterangan mengenai kejadian ini di dalam Laporan Umum tanggal 5 Juli 1677 (Jonge. Opkomst, jil. VI, hlm. 167). Pertama-tama diceritakan soal kedatangan para 90 pemuka: Bonto Marannu, Galesong, Manggappa. dan Panaragang;'” nama- nama itu mungkin diambil dari laporan Speelman tentang pertemuannya dengan Daeng Tulolo (Daghregister, 13 Desember 1675). Lalu diikuti dengan keterangan tentang perkawinan putri Madura dengan Crain Glisson. Setelah itu tentang orang Makassar dan Melayu pengikutnya serta prajurit-prajurit yang terbaik dengan sejumlah besar perahu mula-mula menyeberang dari Madura ke daratan Jawa, dan di sana atas nama mereka sendiri merebut sebagian besar daerah pantai yang terletak di seberang Madura. Pemberitaan ini hanya dapat menunjuk pada kejadian-kejadian dalam tahun 1675-1676, karena Raden Trunajaya baru pada akhir tahun 1676 membuka kedoknya. Dengan demikian, perkawinan itu agaknya dirayakan pada akhir tahun 1675. Setelah memperoleh pangkalan yang kuat di Demung dan berusaha mendapatkan dukungan dari penguasa Madura yang baru, mulailah Makassar — sesuai dengan perjanjian — menyerang Jawa. Mereka merebut empat pelabuhan laut yang baik dengan jumlah penduduk yang banyak: Pasuruan, Pajarakan, Gombong, dan Gerongan; semua dibakar (Japara, 14 November 1675; Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 193). Bukan tanpa perlawanan orang Jawa menyerahkan pusat-pusat perdagang- an itu. Menurut surat dari Jepara, putra Kiai Darmayuda, kepala daerah Pasuruan, membunuh seorang Makassar bernama Kraeng Mamar (Mamut?). Surat Speelman tanggal 14 Juni 1677 memuat cerita dari Syahbandar Garuda. Lurah Nayapatra, yang empat hari sebelumnya datang mengunjunginya dari Pasuruan. Adik Darmayuda, Lurah Sutaprana, dikatakannya bertempur di Gombong melawan orang Makassar yang datang menyerang di bawah pimpinan Kraeng Pagarago (Panaragan?) dan Daeng Mamut. Pertama-tama Sutaprana, kemudi- an orang-orang Makassar, melarikan diri ke Demung. Tetapi tiga minggu kemudian mereka datang kembali, menyerang Gombong dan terus menuju ke Pasuruan yang juga mereka hancurkan. Setelah bertempur tujuh hari mereka memusnahkan dua tempat itu dan daerah sekelilingnya, dan memaksa laskar Jawa melarikan diri. Lebih dari 50 buah perahu mereka bawa ke Demung (Surat Speelman tanggal 14 Juni 1677; KA. No. 1218, hlm. 1772). Setelah menyerang kota-kota di sebelah selatan dan timur Surabaya; selanjutnya mereka menyerang juga tempat-tempat di sebelah utara dan barat kota pelabuhan itu. Gresik mendapat giliran pertama. Penduduknya, takut kalau akan mengalami serangan ulangan, memagari pantai di depan kota mereka dengan bambu, dan sebagian mengungsi ke Gunung Giri. Panembah- 17 Nama Jengkap Panaragang: Mapparabung Nurudin Daeng Mattalli’ Kraeng Panaragang. lahir tanggal 13 Desember 1651, meninggal 23 Juli 1687, putra raja Bima; dan setelah tahun 1682 menjadi raja Bima (Ligtooet. "Gowa’’). oO an Giri lalu menyampaikan berita tentang hal itu kepada Sunan (Daghregister, 30 November 1675). Mula-mula Gresik tampaknya akan dapat bertahan karena laskar Makassar yang menyerang Grissee ... mendapat perlawanan kuat dari orang Jawa sehingga kehilangan sejumlah orang: sepuluh orang dan dua prajurit yang memakai "baju zirah” (Japara, 25 November 1675). Para perompak kemudian berkubu di pantai Madura, di seberang Gresik. Ternyata. keadaan segera memburuk lagi. Surat tanggal 7 Desember 1675 dari Jepara memberitakan musnahnya Gresik dan Jortan (Jonge, Opkovst, jil. VI, him. 193), yang menimbulkan ketakutan hebat di Surabaya. Penduduk sudah melarikan diri (Daghregister, 29 Januari 1676). Dalam surat susulan tanggal 28 Desember 1675 residen Jepara memberitakan bahwa kota perdagangan Surabaya yang penting itu juga telah dihancurkan sama sekali, dan orang Jawa, yang berjumlah 7.000—8.000 orang, terusir ke hutan. Batavia mendapat laporan yang panjang lebar juga tentang serangan Makassar itu pada tanggal 10 Maret 1676 — dapat dikatakan dari tangan pertama — yakni dari nakoda Melayu Soutana. Nakoda itu hendak berlayar dari Gresik ke Pasir di Kalimantan. Tetapi perahunya ditambatkan dahulu di Gresik, karena ia hendak berkunjung ke Rembang. Sekembalinya dari Rembang, ternyata Gresik sudah dibakar musnah oleh laskar Makassar. Di sana dijumpainya Kraeng Bonto Marannu, Kraeng Galesong, Kraeng Panaragan. Daeng Mammangung. Daeng Manggappa, Daeng Lomo Tibon, dan putra Raja Wasya, serta kira-kira 800 orang Makassar dan 300 orang Bugis. Juga ada 1.000 orang Melayu di bawah pimpinan Encik Amar. Para perompak itu memakai 150 perahu. Gresik dan Surabaya telah mereka bakar, sedangkan Sampang, Madura, Sumenep, Arosbaya, Sedekari, Gombong, Gedongbatu, Pasuruan, dan daerah sekitarnya jatuh ke tangan mereka. Markas besar mereka di Demung. Berita paling aneh dari orang Melayu yang punya banyak keterangan itu ialah para pemimpin tersebut memiliki cap (meterai) dan surat pengukuhan dari Pangeran Adipati Anom, putra sulung raja Mataram, sehingga setiap orang yang mengetahuinya tidak berani mengambil tindakan apa pun (Daghregister, 10 Maret 1676). Pangeran Madura, Pangeran Sampang, dan Pangeran Surabaya telah menyatakan kesetiaannya kepada putra mahkota. Tetapi para pembesar dari daerah yang lebih jauh di sebelah barat, di antaranya pembesar Cirebon yang terpenting, masih berpihak kepada Sunan. Sikap putra mahkota yang tidak setia itu menurut orang Melayu tersebut diakibatkan oleh rencana Sunan untuk mengangkat putranya yang lebih muda, “Pangeran Probatarany (sic) dari Singasary” sebagai pewaris tahta tanpa memperhitungkan sebab dan akibat. Cerita tutur sedikit sekali menceritakan perampokan-perampokan oleh 92 Jaskar Makassar yang pertama itu. Semuanya disatukan dan terjadi di satu tempat saja, yaitu Pajarakan, kira-kira terletak di Probolinggo sekarang (Babad BP., jil. XI, hlm. 38-39; Meinsma, Babad, hlm. 163). Yang menarik perhatian, ialah bahwa menurut sumber-sumber Jawa, penyebab kekalahan di pihak Jawa adalah ketidakhadiran para penguasa setempat, yang waktu itu sedang berada di Mataram. Babad B.P. menegaskan, Ngabei Pajarakan pada waktu itu sedang berada di Mataram. Juga Meinsma, Babad, menulis, tidak ada penduduk Demung seorang pun yang berani melawan orang Makassar, karena bupati mereka juga berada di Mataram. Serat Kandha bahkan menerangkan, rakyat jelata melarikan diri ke kabupaten-kabu- paten, tetapi yang ternyata sudah kosong. Ngabei Darmayuda dari Pasuruan baru menerima berita tentang mala petaka itu dari para pengungsi yang meninggalkan daerah pantai, yakni para kamituwa dari Pajarakan dan Demung (Meinsma, Babad). Berita itu sangat mengharukan hati Ngabei; ke- mudian ia mengajak para bupati bawahannya, Ngabei Prabalingga, Naladika dari Caruban, Wiragati dan Wirasaba, Ngabei Pajarakan, Ngabei Wangsagati dari Gombong, berkumpul di bawah pohon beringin di alun-alun dan ber-pépé (Babad B.P., jil. XI, hlm. 39). Sekalipun mereka tidak berada di tempat mala petaka, Darmayuda dan bawahannya merasa bertanggung jawab, karena musibah itu terjadi di wilayah kekuasaan mereka. Bahwa di dalam laporan Kiai Lurah Nayapatra hanya diceritakan perlawanan yang dilakukan oleh adik Darmayuda memang memperkuat pendapat bahwa Ngabei Darmayuda tidak ada di tempat saat terjadinya serangan Makassar itu. Tetapi ia telah menyerahkan segala urusan kepada adiknya. Berita-berita kemudian menyebutkan, para perompak selain berkuasa sepenuhnya di seluruh Madura, juga di Sidayu dan Tuban bahkan telah memaksa bupati Lasem dan Juwana "bersumpah setia” (Daghregister, 10 April 1676). Sementara itu, di Jepara terjadi keguncangan dan kekacauan yang amat besar. Rakyat kecil dan bahkan para bupati segera mengumpulkan harta bendanya bila keadaan menjadi gawat, dan melarikan diri ke pedalaman (Daghregister, 29 Januari 1676). Orang Portugis, Cina, dan Melayu dengan membawa harta benda mereka berlindung di dalam benteng Kompeni, serta berjanji mengumpulkan 150 orang untuk melawan musuh. Di Jepara terdapat kira-kira 70-80 orang Makassar. Kepada mereka diminta agar berangkat saja, tetapi tidak ada yang berani menangkap mereka, entah karena takut diamuk atau karena hal lain. Orang Jawa semakin bersandar pada Kompeni sebagai pelindung terhadap orang Makassar. Kepala daerah Jepara, Wiraatmaka, yang sama sekali bukan sahabat Belanda, atas nama Sunan Mataram mengajukan permintaan bantuan. Dengan kekuatan sendiri orang Jawa tidak mampu mengusir orang 93 Makassar (Daghregister, 29 Januari 1676). IX—6 Kedatangan Ngabei Wangsadipa yang ketiga di Jepara, 3 Januari 1676. Keputusan Sunan mengangkat Ngabei Wangsadipa sebagai penguasa Jepara mestinya terjadi pada akhir tahun 1675. Jadi, memang sebagai akibat penyerbuan Makassar yang kedua. Pada tanggal 3 Januari 1676 ngabei dengan suatu upacara memasuki kota pelabuhan, setiap orang gembira sekali menyambutnya (Daghregister, 10 April 1676, hlm. 68). Tugasnya dimulainya dengan mengambil tindakan terhadap rekan lama- nya, yaitu Kiai Wiraatmaka, yang, dalam pertanggungjawabannya mengenai pendapatan dan harta benda Sunan, menunjukkan kekurangan sebesar 44.000 ringgit. Selain itu ia telah merampas harta milik banyak orang. Kepada para korban perampasan itu, Wangsadipa memberi ganti rugi, juga kepada Kompeni. Kompeni juga menerima kembali lima buah meriam dan sebuah jangkar kapal Stompneus yang tenggelam pada tahun 1673. Tentang utang Kiai Wiraatmaka kepada Kompeni sedikit pun belum terbayar, walaupun ia diancam akan disiksa agar mengembalikan uang yang disembunyikannya. Residen berpendapat, penguasa yang baru ini — tokoh yang tidak asing di Jepara — memperlihatkan sifat-sifat Jawa yang luwes, juga dalam pergaulan, tetapi agak terlalu mudah percaya kepada orang. Jabatan syahbandar telah dipercayakannya lagi kepada Mirmagati yanglicik itu, padahal ia masih terlibat perselisihan besar dengan Kiai Wiraatmaka tentang pendapatan dan harta benda Sunan. Sudah dua kali kita temukan Ngabei Wangsadipa sebagai penguasa di Jepara. Di Istana, menurut tutur, ia menjadi lurah para sarageni (Babad B_P., jil. XI, him. 40; Meinsma, Babad, hlm. 163), atau kepala bagian artileri (Serat Kandha, him. 1002). Di kemudian hari sarageni merupakan kesatuan prajurit Sunan yang dipersenjatai dengan senapan, tetapi pada zaman dahulu mereka bertugas sebagai penembak meriam. Dengan demikian, penempatan Ngabei Wangsadipa di Jepara benar-benar tepat, karena di sana terdapat begitu banyak senjata artileri. Menurut kebiasaan, ia tiba di Jepara bersama seluruh keluarganya. Putra-putranya sering kali disebut-sebut dalam cerita tutur dan surat-surat Kompeni, tetapi jarang memainkan peranan yang penting. IX—7 Meriam-meriam Wangsadipa Mengenai meriam-meriam yang ada pada Kiai Wangsadipa, tiga cerita tutur yang dipakai sebagai sumber menyebutkan sebuah meriam bernama si Guntur Geni, yang menurut dr. K.C. Crucq pastilah sama maksudnya dengan meriam Pancawura yang hebat itu. Tetapi meriam yang hebat ini tidak mungkin dapat 94 diseret dari keraton ke Jepara. Karena itu, menurut dr. Crucq, yang dimaksudkan tentu sepasang meriam yang bernama Kumbarawa dan Kumbarawi atau salah satu dari keduanya. Sumber Belanda kemudian menyebutkan sebuah meriam besar yang dapat menembakkan peluru seberat 18 kg yang mereka sebut "zultan”. Meinsma, Babad, juga menyebut Kumbarawi sebagai salah satu meriam yang ada di Jepara. Lalu ada lagi sebuah meriam yang dalam Babad B.P. (jil. XII, hlm. 40) bernama Gulubedil, dalam Meinsma, Babad (hm. 163) hanya Gulu saja, dan dalam Serat Kandha, namanya makin berubah, menjadi Selugu. Barangkali yang dimaksudkan dengan tiga nama ini hanya satu meriam saja. Meriam ini, yang ditempatkan di Gunung Danareja, selanjutnya akan banyak memainkan peranan. er Bab X Jawa dan Belanda Melawan Makassar, April—September 1676 X-1 Ancaman membongkar loji, Maret—April 1676 engumuman armada Belanda yang hendak membasmi kekuatan Makassar semula terdengar amat menggembirakan sebagian orang Jawa. Tetapi pada banyak orang yang tidak beritikad baik dan curiga timbul anggapan yang sangat keliru, seolah-olah kita ingin berkom- plot dengan Makassar (Daghregister, 10 April 1676). Ini aneh, karena sesungguhnya bantuan itu diberikan atas permintaan Sunan melalui Wiraatmaka (Daghregister, 26 Februari 1676). Mereka yang merasa tidak senang mula-mula meragukan akan kedatangan armada itu. Tetapi ketika armada itu berlabuh di Teluk Jepara pada tanggal 3 Maret 1676, lima hari kemudian tiga orang pembesar Mataram datang memeriksanya: "seorang bendaharawan Istana dan dua pengawal Raja”, yang menurut penjelasan mereka dikirimkan untuk menyambut kedatangan kapal-kapal Belanda. Setelah melakukan inspeksi, mereka kembali ke Istana, dan meninggalkan pesan akan kembali lagi dalam waktu sepuluh hari dengan membawa jawaban Sunan. Mereka juga menjanjikan beberapa sekoci yang akan berguna sekali untuk pendaratan. Tetapi bantuan itu ternyata mengecewakan. Bukan hanya karena terlambat, melainkan juga karena adanya kecurigaan pada penguasa daerah dan para pejabat lain. Sehingga di balik sikap hormat, mereka menahan kapal-kapal dan perahu-perahu Belanda di luar pos penjagaan (Daghregister, 11 April 1676). Segala sesuatu berjalan begitu lamban sehingga sama sekali tidak merupakan bantuan (Daghregister, 10 April 1676). Keluhan yang disampaikan kepada Kepala Daerah tidak membawa hasil, karena orang Jawa yang telah kehilangan kepercayaan rupanya tidak mau percaya kepada siapa pun dan saling mencurigai. Tawaran mesiu yang cukup banyak ditolak; juga tidak diizinkan membawa masuk ke loji beberapa tong mesiu guna pe nakaian sendiri. Om 96 Pada tanggal 13 Maret 1676, tepat sepuluh hari setelah keberangkatan para utusan itu, mereka tiba kembali dari Mataram dengan surat panjang dari Sunan. Isinya tidak lebih dari ucapan terima kasih atas bantuan yang dikirimkan (Daghregister, 10 April 1676). Secara lisan para utusan minta agar Belanda segera bertindak. Mereka sendiri akan menyusul kemudian. Pada tanggal 16 Maret berangkatlah armada itu, dengan diiringi enam perahu Jawa yang berukuran kecil (Daghregister, 11 April 1676). Untuk sementara tidak banyak yang dapat dihasilkan: armada Makassar berhasil luput dari armada Belanda itu. Ini menimbulkan kecurigaan di pihak Jawa. Sementara itu, pada tanggal 2 April muncul enam anggota pengawal Sunan (Raden Putrajaya, Kartiwangsa, Sutadita, Sutajaya, Anggaduta, dan Sutapra- ja), membawa surat untuk penguasa daerah Jepara. Melalui Wangsadipa, Sunan memerintahkan agar Belanda segera pergi dengan membawa segala barangnya. Setelah suasana kembali menjadi tenang, barulah kelak mereka boleh berkunjung lagi dan melanjutkan perdagangan. Yang menyebabkan pengusiran ini ialah adanya desas-desus di Mataram bahwa Makassar berhasil merebut Tuban dan Sidayu padahal armada Belanda berada di sana. Ngabei Wangsadipa membantahnya, kemudian berunding dengan para utusan itu. la berpendapat biarlah orang Belanda untuk sementara berada di tempatnya; sementara ia akan memberitahukan kepada Sunan tentang duduk perkara yang sebenarnya. Ia ingin mendapatkan surat dari armada Jan Franszen Holsteyn. Karena seperti yang pernah diberitahukan oleh Residen, di kalangan orang Jawa terdengar desas-desus bahwa bantuan Belanda hanyalah pura-pura saja. Residen menyatakan yang sebaliknya, bahwa orang-orang Belanda tinggal di Jepara dengan izin Raja dan dalam segala hal akan menaati perintahnya (Daghregister, 11 April 1676). Berdasarkan surat dari Jan Franszen untuk Pemerintah Kompeni yang baru tiba dan dibuka oleh Residen, penjelasan diberikan kepada pihak Jawa. Kemudian di depan “musyawarah pembe- sar-pembesar Jawa”, antara para penguasa setempat dan para utusan Mataram, Residen mengeluh tentang kelambanan mereka. Orang-orang Mataram akhirnya mengatakan bahwa orang-orang Belanda lebih bersemangat daripada orang Jawa dalam memperlihatkan pengabdian mereka kepada Sunan. Pada tanggal 17 April 1676, untuk keempat kalinya, para utusan Jawa tiba kembali di Jepara. Mereka ialah enam pengawal raja yang pernah datang sebelumnya, dengan ulangan perintah agar loji Kompeni dibongkar dan semua barang Kompeni dibawa. Mereka bahkan akan menunggu sampai 24 jam sampai sesudah orang Belanda berangkat (Japara, 18 April 1676). Kepala daerah sendiri yang menyampaikan perintah itu, dan kemudian menerangkan: jika pihak Belanda dapat menjamin bahwa armada kita tidak akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Sunan, dan mereka tidak akan melakukan kejahatan terhadap orang Jawa, maka ia tidak akan menyuruh loji 7 chal cate us Mi ees i i ee ids A el | a dibongkar, sekalipun Iehernya yang menjadi taruhan. Residen merasa heran akan kecurigaan pihak istana. Dengan mendekatnya saja kapal-kapal Belanda, sesungguhnya orang-orang Makassar jadi menyingkir meninggalkan beberapa tempat yang didudukinya. Ngabei Wangsadipa menjawab, bahwa “beberapa orang pembesar di istana -+.meniup-niupkan berita palsu tentang kita.” Tetapi ia masih memberikan waktu sepuluh hari kepada pihak Belanda; selanjutnya mereka haruslah berdagang seperti biasa dan menagih utang. Sementara itu, Pemerintah Kompeni dapat peringatan. Couper tidak mengerti sama sekali terhadap Raja yang sering berubah pendirian itu, yang "justru merugikan bagi kesejahteraannya sendiri” (Daghregister, 22 April 1676). Pihak Pemerintah Kompeni menegaskan lagi itikad baiknya, tetapi juga memperingatkan residennya agar mematuhi perintah pengosongan yang tidak diharapkannya itu. Ketika sikap Belanda ini pada tanggal 23 April 1676 diberitahukan kepada kepala daerah, maka ia menyatakan terima kasih dan selanjutnya ia akan lebih yakin menyampaikan kepada rajanya maksud dan niat baik Residen (Daghregister, 14 Mei 1676). Dengan demikian, ia menaruh kepercayaan kepada Pemerintah Kompeni dan merasa diperkuat oleh adanya jaminan akan niat baik itu. Rasa persahabatannya dengan Kompeni sudah sangat mendalam, sesuatu yang jarang terdapat pada orang Jawa terhadap Belanda. Sementara itu, pada tanggal 1 Mei 1676 dua orang utusan segera datang membawa amanat dari Mataram: Sunan sepenuhnya menerima jaminan dari kepala daerah mengenai orang Belanda, dan menyerabkan segala kebijaksanaan di Jepara kepadanya. Kepala daerah sekadar minta agar boleh menggunakan seorang kepala tukang kayu Belanda dan bahan besi untuk membangun sebuah kapal kici. Apakah ia ingin menguji loyalitas Belanda? »Mengenai sebab-musabab timbulnya kecurigaan: semua residen dan kepala daerah menduga kiranya ada beberapa niat palsu dan jahat dari dua bendaharawan Istana, Nitisastra dan Wangsaita, tetapi para utusan Mataram melemparkan dugaan itu kepada pangeran ulama di Giri, yang leluhurnya Arab, penyebar agama Islam pertama di Jawa. Setelah Giri dibakar oleh laskar Makassar, Sunan memanggil raja-ulama itu agar menghadap (Japara, 1 Mei 1676). Tetapi ia tidak mau datang, kecuali Sri Baginda menyuruh pergi orang-orang Belanda yang lebih bersahabat dengan orang Makassar daripada dengan orang Jawa itu. Tentu saja beberapa orang pembesar Mataram, yakni para bendaharawan Istana, terpengaruh oleh tuntutan itu. Dan karena itulah dikeluarkan perintah angkat kaki kepada Kompeni. Ultimatum dari Giri itu menimbulkan kemarahan pada pihak Pangeran. 98 Putra-putra Sunan dan Pangeran Purbaya merasa sangat gusar karenanya. Pangeran Purbaya bahkan marah sekali kepada Nitisastra, yang telah menyampaikan jawaban dari Giri yang sangat kasar itu. Bahkan Nitisastra dicaci maki dan dinyatakan sebagai pengkhianat. Karena itulah, pihak Belanda cenderung hendak menarik kembali armadanya. Dari uraian di atas terdapat kesan yang kuat bahwa sekelompok orang, yang bersahabat dengan Kompeni dan mempunyai banyak pengaruh kepada Sunan, berusaha mencari kerja sama dengan Batavia. Di bawah mereka jaminan bersungguh-sungguh Kompeni mempunyai kekuatan. Apakah pengaruh Van Goens masih bertuah? Bertentangan dengan mereka terdapat orang-orang anti-Belanda yang dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Pan-Islamisme seperti Panembahan Giri. Agaknya kedua bendaharawan Istana itu termasuk kelompok ini. Ancaman pengusiran juga terdapat dalam cerita tutur. Penempatannya ada di antara ekspedisi-ekspedisi Prawirataruna yang secara kronologis jauh terpisah, dengan demikian berarti beberapa bulan lebih lambat (Babad B.P., jil. XL hlm. 50-51; Meinsma, Babad, hlm. 164—165; Serat Kandha, blm. 1008-1012). Sebelum berangkat dari Mataram, Prawirataruna mendapat perintah agar mengajukan pilihan kepada pihak Belanda di Jepara: turut pergi ke Demung atau menghilang dari Jepara. Karena itu, setibanya di Jepara, pihak Belanda dipanggil oleh Ngabei Wangsadipa. Mereka yang menghadap berjumlah empat orang, yakni kepalanya, Kapten Dulkup, Sersan Drop, seorang kopral dan seorang juru tulis. Pada Meinsma, Babad, tercantum: Kapten Dulkup, juru tulis, dan Sersan Onderop. Sedangkan Serat Kandha hanya menyebutkan Dolkop, tetapi selain orang Belanda itu juga terdapat orang Inggris dan orang Portugis. Semua sumber sepakat bahwa kapten itu menyatakan bersedia mematuhi perintah Raja tanpa syarat. Nama itu mungkin merupakan penyimpangan ba dari nama depan Couper: Jacob. Dalam cerita tutur dikatakan bantuan Kompeni hanya diberikan He adanya ancaman pengusiran. Tetapi, menurut berita Belanda, Kompeni memberikannya secara spontan dan tanpa paksaan; karena itu, merupakan bukti itikad baiknya belaka. Tentunya, yang terakhir itulah yang paling dapat diterima, karena dalam hal ini kepentingan Batavia dan Mataram berjalan sejajar. X-—2 Pengiriman Jan Franszen Holsteyn, Februari 1676 Melihat kekhawatiran Pemerintah Kompeni terhadap orang-orang Makas- sar yang berkumpul di Sumbawa, maka tidak mengherankan, tindakan cepat yang dilakukan terhadap mereka di ujung timur Jawa. Tambahan lagi, Residen Couper menerima surat kepala daerah Jepara 9 = i” can Wiraatmaka dari Mataram atas nama Sunan, yang berisikan permintaan bantuan supaya mengusir perampok-perampok itu, yang tidak mungkin dapat diusir atau dihancurkan oleh orang Jawa sendiri (Daghregister, 29 Januari 1676). Karena itu, instruksi pemimpin armada Belanda itu mudah menimbul- kan kesan seakan-akan ekspedisinya hanya terjadi berdasarkan permintaan atas nama Sunan Mataram (Daghregister, 26 Februari 1676). Dengan nada demikianlah pula keterangan diberikan kepada penguasa atau para bupati di Jepara. Sayang bahwa Jan Franszen Holsteyn yang lamban itulah yang memegang komando ekspedisi, yang terdiri dari 8 kapal dan 300 serdadu. Mereka sangat mengharapkan kerja sama dari pihak Jawa, khususnya untuk menyediakan perahu-perahu kecil. Kalau perlu, Jan Franszen bersedia membelinya. Melalui utusan ia pun dapat melapor kepada Raja apabila ancaman bahaya datang. Hal inilah yang hendak disembunyikan oleh para penguasa pesisir agar Sunan tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Pada pokoknya, musuh hanya akan diperangi di laut, dan tidak dibiarkan masuk ke darat térlalu jauh. Mesiu dan timah boleh dijual kepada pihak Jawa, bahkan jika perlu dipinjamkan, asalkan mereka benar-benar mau melawan musuh. Keramahan dalam pergaulan dianjurkan, tetapi jangan melupakan kepenting- an dagang. Demikianlah instruksi Jan Franszen Holsteyn yang mengangkat sauh pada tanggal 26 Februari 1676 (Daghregister). Pengumuman armada Belanda itu menimbulkan macam-macam kesan kepada orang Jawa di pesisir, seperti sudah dibicarakan sebelumnya. Ketika armada itu berada di Teluk Jepara, para bendaharawan Istana (mantri gedong) datang membawa surat dari Sunan. Surat ini seperti biasa bernada dingin dan penuh harga diri, “Bahwa Paduka Yang Mulia . . . mengirimkan beberapa kapal untuk membantu saya, untuk itu saya tetap berterima kasih; saya serahkan laut kepada pihak Belanda, dan daratan serta sungai-sungai kepada pibak Jawa untuk mengejar dan menghancurkan orang-orang Makassar; ya, selanjutnya saya tidak menge- tahuinya, tetapi ingin saya menerima kembali meriam-meriam saya dari Gresik dan Surabaya” (Daghregister, 10 April 1676). Kerja sama itu sama sekali tidak beres jalannya. Dengan hanya enam perahu dan sejumlah awak yang tidak cukup serta persenjataan seadanya dari pihak Jawa — selanjutnya masih harus datang lagi — Jan Franszen dapat melanjutkan pelayaran ke Rembang. Di sana orang-orang Makassar merampok habis- habisan (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 198). Tetapi perompak-perompak itu sudah menghilang pada waktunya seperti dikabarkan dari Lasem pada tanggal 22 Maret. Karena berbagai sebab — badai, memuat barang-barang keperluan hidup — baru pada tanggal 3 April 1676 mereka tiba di Selat Madura. Ketika itu tampak adanya keengganan pada pihak orang Jawa; mereka tidak mau melawan beberapa perahu Madura atau Makassar yang muncul di sana. 100 Mereka hanya sekadar ikut, begitulah keterangan mereka, untuk melihat apa yang akan dilakukan orang Belanda. Di Teluk Soca keadaan lebih parah lagi. Jan Franszen melihat di pantai tiga puluh perahu Madura. Ia hendak menyerangnya. Tetapi terlebih dahulu ia menanyakan jenis perahu-perahu itu kepada beberapa orang Jawa, yakni seorang kepala para abdi Gresik, "Jouw Soeta’, mungkin juga Wangsadita atau Puspawangsa, yang pada malam sebelumnya berada di Madura. Jawabannya ialah bahwa orang Madura semula bersekutu dengan orang Makassar, tetapi kemudian bersahabat kembali dengan Mataram. Hampir-hampir Jan Franszen tidak percaya akan apa yang baru didengar- nya, karena perahu-perahu itu telah menunjukkan sikap permusuhannya dengan melepaskan tembakan-tembakan. Karena itu, ia sekali lagi mengirim- kan orang-orang Jawa itu ke sana, dengan disertai penerjemahnya, untuk “menyampaikan protes, karena soal itu bukan urusan kami, melainkan urusan Raja (Sunan)” (Laporan J. Franszen Holsteyn, Batavia, 4 Oktober 1676). Setelah kembali para utusan mengatakan bahwa mereka semua orang Jawa, yang tunduk pada Mataram. Perahu-perahu itu dipersiapkan untuk melin- dungi desa-desa mereka terhadap perompak. Kemudian ternyata bahwa Wangsadita dan Puspawangsa telah disuap dengan berbagai hadiah. Karena laporan-laporan selanjutnya bertentangan, maka laksamana Belanda itu mengirimkan nakoda Leendeert Rus dan Jeremias van Vliet ke sana. Setelah kembali, mereka menerangkan telah berbicara dengan Raja Trunajaya sendiri. Mereka tidak melihat hal-hal lain kecuali 5 sampai 6 ribu orang Jawa yang sedang sibuk sekali memperkuat pertahanan dengan batu-batu yang mereka gali dari tanah. Pada waktu pulang mereka diberi lima ekor sapi oleh Raden Trunajaya, dan sebagai kehormatan dilakukan tembakan meriam 9 kali, yang disambut dengan lima tembakan dari kapal kici. Setelah berita yang menggembirakan ini, Franszen Holsteyn memutuskan untuk meninggalkan pantai Soca pada tanggal 5 April 1676 dan berlayar ke Surabaya, karena penguasa di kota itu meminta bantuan Belanda. Sikap pemimpin armada Belanda yang mudah percaya itu, pada beberapa orang Jawa tertentu, menimbulkan kecurigaan, yang tidak mudah dihilangkan. Satu setengah bulan kemudian pemimpin armada Jawa, Prawirataruna, bertanya kepada Jan Franszen mengapa ia bersikap menghindari musuh. Sudah tentu orang Makassar justru memperbesar kecurigaan ini dengan menyiarkan desas-desus bahwa Kompeni berhubungan akrab dengan mereka. Jan Franszen sementara itu memang menimbulkan kecurigaan, karena dengan jalan bermusyawarah, ia berusaha memecah hubungan antara Makassar dan 101 Jawa.'* X—3 Sebab-musabab kecurigaan pihak Jawa Pada tanggal 18 April sejumlah 80 kapal Makassar muncul di dekat armada Belanda. Dari kapal-kapal itu keluarlah beberapa orang utusan Makassar. Sambil membawa semacam bendera perdamaian mereka berkunjung ke kapal Jan Franszen, dan menyampaikan surat dari Kraeng Bonto Marannu. Surat itu berusaha menjelaskan dan meminta maaf tentang tindakan mereka yang kelihatannya salah, sambil menyatakan tidak bermaksud bermusuhan dengan Kompeni, dan mereka ingin menempatkan diri sebagai bawahan. Jawaban kepada mereka mengatakan bahwa mereka harus pergi dari pantai Jawa, meninggalkan semua barang dan meriam yang telah mereka rampas, dan dengan dikawal kapal-kapal Kompeni harus kembali ke Makassar. Kemudian para utusan itu berlayar kembali ke Demung. Ketika armada Belanda tiba di sana pada tanggal 2 Mei, musyawarah pun dilanjutkan lagi. Para utusan Makassar menghendaki agar tuntutan Kompeni dinyatakan secara tertulis. Kompeni memenuhi permintaan itu, disertai pesan, dalam waktu 24 jam mereka harus memberi jawaban. Tuntutan itu terdiri dari 8 pasal: 1. penyerahan meriam dan senapan; 2. pembebasan semua orang Jawa; 3. pembebasan semua orang Cina berikut harta miliknya; 4. Kraeng Bonto Marannu, KraengGalesong, dan KraengManggappa harusberlayarke Makassar dengan kapal Belanda; 5. semua pengikut mereka harus ikut ke Makassar; 6. pembayaran ganti rugi untuk perahu yang mereka rampas dan penyerahan para pembunubh; 7. penyeraban pembesar-pembesar Melayu bersama pengikut mereka; 8. pembayaran denda 10.000 ringgit. Keesokan harinya pihak Makassar menyatakan tidak sanggup memenuhi 18 Hubungan Raden Trunajaya dengan orang Makassar digambarkan dengan cara lain oleh * cerita rutur.fika kenyataannya orang Jawa tidak lagi meragukan ketidaksetiaan Trunajaya, maka dalam cerita-cerita babad masih sering dipertahankan gambaran yang baik, sekalipun kenyataannya tidak demikian (Babad BP., jil. XI, hlm. 56—58; Meinsma. Babad, him. 165~ 166; Serat Kandha, hlm. 1012~1017). Raden Prawirataruna. Jaksamana armada Jawa. dalam babad-babad itu dikatakan mencoba membawa Trunajaya ke jalan yanglebih benar, setelah armada itu membuang sauh di ‘ujung Surabaya. Kepada Raden Trunajaya di Madura, yang baru saja kembali dari kunjungannya pada Raja Galesong di Demung, dikirimkan ‘seorang utusan yang menjumpainya dalam keadaan sakit di tempat tidur, kepala dan tubuh diolesi dengan obat-obat yang ditumbuk halus (Serat ‘Kandha, blm. 1013~ 1014), karena ia merasa tidak dapat melawan armada Raden Prawirataruna. Dengan keras disangkalnya ia menghalangi orang-orang Madura berkunjung ke Mataram untuk menyampaikan sembah sujud, Tetapi ia akan mengirimkan semua tenaga yang sanggup berperang ke Surabaya. Karena sakit, ia tidak dapat curut serta. Utusan yang berangkat itu diberi pakaian dan ‘ongkos perjalanan. Raden Prawirataruna memutuskan persoalan sementara dibiarkan demikian saja, dan setelah membuat perhitungan dengan Makassar, ia akan menghantam Madura. 102 syarat itu. Tetapi mereka mau menyerahkan meriam yang dirampas kepada Kompeni, dan bukan kepada pihak Jawa, dan baru pada musim hujan yang akan datang mereka akan bertolak ke Makassar. Setelah penolakan ini pihak Belanda menyatakan perang kepada mereka. Dan mulailah lagi ditembaki kapal-kapal dan benteng tempat tinggal mereka. Makassar telah memperkuat pertahanannya di lima tempat, dan mempersiap- kan perahu-perahu mereka di sungai. Untuk menghadapi mereka, armada Belanda dibagi menjadi 5 satuan. Sementara itu, telah terjadi bentrokan dengan pasukan darat Jawa yang bergerak maju, yang kini akan dibicarakan. X—4 Ekspedisi Panji Karsula, Maret—Juni 1676 Mengenai ekspedisi Panji Karsula seperti tersebut dalam cerita tutur, dapat dicari keterangannya dalam (Babad B.P. jil. XI, hlm. 39-50). Serat Kandha memberi sedikit keterangan saja (hlm. 999— 1008), dan Meinsma, Babad, sama sekali tidak memberitakan hal ini. Babad B.P., mengisahkan sebagai berikut: Setelah menerima laporan Darmayuda, Raja memerintahkan kepadanya agar kembali bertugas di bawah pimpinan Panji Karsula yang berasal dari Japan. Mereka mendapat sejumlah prajurit Panumping dan 1.000 orang Numbakanyar yang akan ikut serta dengan mereka. Setelah itu Sunan kembali ke Istana, sedangkan pasukan Mataram berkumpul di Taji. Para pembesar Mancanagara bagian timur khususnya ditempatkan di bawah pimpinan Darmayuda. Panji Karsula mengambil alih pimpinan dari Darmayuda, tetapi agaknya sudah mempunyai firasat tentang ajalnya yang akan tiba. Kemudian diadakan musyawarah tentang susunan pimpinan yang harus dibentuk: Anggajaya memimpin sayap kiri, Darmayuda sayap kanan, sedangkan Panji Karsula sendiri memimpin bagian tengah tentara Mataram itu (1.000 orang menurut Serat Kandha, him. 1001). Melalui Japan mereka tiba di Demung; di sana 2.000 orang Makassar berada dalam benteng. Ketika mendengar bahwa pasukan Jawa mulai datang, Galesong memberi semangat tempur kepada pasukannya. Setelah terjadi pertarungan hebat, laskar Makassar mundur kembali ke hutan. Dan selanjutnya orang-orang Mataram, tanpa mengindah- kan peringatan Panji Karsula, mulai mengadakan perampokan. Setelah itu mereka beristirahat, tetapi seenaknya saja, tanpa membuat pertahanan. Pada malam hari, setelah Galesong membakar semangat para pengikutnya, mereka menyerang pasukan Mataram di perkemahan terbuka. Setelah pertempuran singkat, perkemahan orang Mataram terbakar. Orang Mataram ari tunggang langgang meninggalkan istri dan anak. Selanjutnya giliran orang Makassarlah merampok. Panji Karsula melarikan diri ke Japan. Di sana ia menderita sakit perut yang parah, tidak dapat diobati, kemudian meninggal. Darmayuda menyerah (Serat Kandha, hlm. 1007), demikian pula banyak bupati daerah timur. 103 Mendengar berita yang menyedihkan itu, Raja menjadi sangat marah dan mengirimkan armada di bawah pimpinan Prawirataruna. Sementara itu, orang-orang Belanda diharuskan meninggalkan Jepara. ‘Apa yang diceritakan sumber Belanda mengenai ekspedisi yang berakhir dengan malapetaka ini? Berita pertama, mengenai tentara yang dikirim dari Mataram itu, diterima dari penguasa pesisir, Ngabei Rangga Sidayu. Pada tanggal 24 Maret 1676 ia memberitahukan kepada Residen Couper bahwa Sunan mengirimkan 50.000 orang melalui darat ke Gresik dan Surabaya. Rupanya, itu dimaksudkan untuk mengadakan kerja sama dengan armada Kompeni. Penguasa pesisir itu pribadi akan mengantar pasukan tersebut ke sana dengan 40 kapal. Para pemimpin pasukan daratnya ialah Tumenggung Butaijo, Raden Wiraatmaja, dan Aria Pulangjiwa, yang tidak disebut dalam cerita tutur. Mungkin tugas mereka hanyalah membawa pasukan itu sampai Japan (Mojokerto), dan di sini pimpinan tertinggi akan diambil alih — menurut babad — oleh Kiai Panji Karsula. Walaupun jumlah 50.000 itu tampaknya cukup banyak, pastilah terlalu dini bahwasanya sudah pada pertengahan Maret 1676 pasukan Mataram itu dikirim ke ujung timur (Jawa: Bang Wetan). Kapten Jan Franszen pada tanggal 6 April 1676 memang mendapat berita bahwa pewaris tahta Mataram telah tiba di Japan. Tapi baru pada tanggal 21 bulan itu dikirimkan seorang utusan untuk minta berbicara dengan salah seorang panglima Jawa, yang kemudian kembali dengan membawa amanat bahwa panglima tertinggi "Kai Pandji” (maksudnya: Kiai Panji Karsula) merencanakan hendak pergi ke Sidekare dan Bangil. Di sana ia berharap dapat berbicara dengan pemimpin Belanda (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 199). Pasukan Jawa memang sudah bergerak maju, tapi tiba di daerah Surabaya ternyata telah menyusut menjadi 30.000 orang, dan "tidak diperoleh beras sedikit pun dari Sunan; dengan demikian dapat diduga apa yang dapat diharapkan dari padanya”, demikianlah surat Couper tanggal 1 Mei 1676 dari Jepara. Setelah kedatangan puluhan ribu orang itu, harga beras naik sampai 25 ringgit. Mereka terus bergerak maju dan pada tanggal 27 April tiba di Gombong. Di sana Jan Franszen turun ke darat untuk mengadakan pertemuan pertama dengan Kiai Panji Karsula. Tercapai kata sepakat, mereka akan bertemu Kembali di perairan Demung antara 10 dan 12 hari lagi. Sementara itu, sudah terjadi beberapa kali bentrokan bersenjata. Kira-kira setahun kemudian peristiwa itu dilaporkan oleh Lurah Nayapatra, syahbandar di Garuda, kepada Speelman (Surabaya, 10 Juni 1677. K.A., No. 1218, him. 1772). Memang tanpa banyak kesulitan Bangil dapat diduduki, tetapi laskar 104 Makassar yang mengundurkan diri membakari rumah-rumah yang masih ada dan menculik penduduk Desa Bugul. Mereka dikejar oleh Darmayuda, bekas kepala daerah Pasuruan, dan terjadilah pertempuran yang menewaskan 17 orang Makassar dan hanya 3 orang Jawa. Ketika Kiai Panji Karsula menerima berita itu, ia menyusul dengan pasukan induk dan menduduki Pasuruan. Setelah itu mereka bergerak terus. Sebelum sampai di Demung, pada tanggal 24 Mei 1676 terjadilah pertempuran nahas, yang menewaskan Prawirataruna yang datang melalui laut. Sekalipun sudah diberi nasihat oleh Jan Franszen, ia tidak mau menunggu sampai bala bantuan tiba. Tentang kejadian ini akan ada pembicaraan lagi. Tidak lama kemudian diberitakan kepada Jan Franszen bahwa tentara Mataram sudah mendekati Panarukan. Komandan Belanda itu sekali lagi turun ke darat hendak -berbicara dengan Kiai Panji Karsula. Dengan sungguh-sungguh Jan Franszen menyarankan agar mulai_melancarkan serangan. Dan pasukan Jawa, dengan dukungan tembakan gencar dari kapal-kapal Kompeni, mulai menyerang. Tetapi rupanya tidak terjalin kerja sama yang baik. Orang Belanda dituduh hanya menembak dengan peluru palsu. , Untuk menyangkal tuduhan itu pihak Belanda terpaksa menempatkan beberapa orang Jawa di dekat meriam-meriam agar mereka dapat menyaksikan sendiri mesiu dan peluru yang digunakan. Ternyata, serangan sekali saja dari pihak Makassar sudah cukup membuat seluruh tentara Mataram berantakan. Usaha apa pun yang dilakukan Jan Franszen tidak berhasil mendorong orang Jawa agar mau kembali ke medan pertempuran. Menurut laporan lain Jan Franszen, telah diadakan perjanjian untuk melancarkan "serangan umum” terhadap pertahanan musuh di Panarukan pada tanggal 30 Mei. Tetapi pada waktu dan tempat yang telah ditentukan itu tiada seorang Jawa pun yang muncul. Sementara itu, empat atau enam "jagoan” Makassar berhasil mengusir 80 prajurit Jawa berkuda. Setelah itu, menurut pengakuan orang Jawa sendiri dan laporan dari kapal Grootebrock seluruh pasukan Jawa yang berkekuatan 100.000 orang itu dapat dihancurkan dan dibakar hanya oleh 100 orang Makassar. Para panglima Jawa mengatakan tidak sanggup berperang melawan Makassar, dan menyerahkan hal itu kepada pihak Belanda. Meskipun armada Belanda dapat membakar kira-kira tiga puluh perahu Makassar, mereka merasa terlalu lemah untuk memukul kekuatan Makassar di darat yang bersembunyi di hutan-hutan dan rawa-rawa (Daghregister, 20 Juli 1676). Mengenai kegagalan yang sangat menyedihkan ini, Lurah Nayapatra dengan nada bergurau mengisahkan, mula-mula terjadi sedikit bentrokan di Panarukan. Dan dalam kejadian itu seorang bernama Sutaprana mendapat 105 luka ringan. Kemudian terjadi “pertarungan umum” yang tidak dapat diketahui siapa menang dan siapa kalah. Kemudian masing-masing pergi meninggalkan medan pertempuran. Bagaimanapun tidak pernah terjadi pertempuran sengit. Sejauh keterangan yang simpang-siur itu masih dapat disimpulkan, rupanya, terjadi dua kali bentrokan; dan bentrokan yang kedua menimbulkan malapetaka pada pasukan Jawa. Markas mereka dibakar, dan kekuatan mereka runtuh. Akan tetapi Darmayuda (Serat Kandha, hlm. 1007) tidak membelot. Sebaliknyalah, ia menyelamatkan diri dan memasuki daerah Pegunungan Tengger, dan pada tahun 1680 masih mengembara di sana (Surabaya, 13 Maret 1680; K.A. No. 1249, hlm. 2057). Sekarang marilah kita tinjau pertempuran di laut. X—5 Pertempuran laut, April—Agustus 1676 Cerita tutur menyebut dua pertempuran di laut. Pertama, percobaan pendaratan di Demung (Babad B.P., jil. XI, hlm. 58-72; Meinsma, Babad, him. 166-167; Serat Kandha, him. 1017-1025). Kedua babad itu memperlihatkan Persamaan besar, Serat Kandha memperlihatkan perbedaan yang jauh. Dikisahkan, bagaimana armada Belanda sampai di Panarukan. Raja Galesong sudah siap siaga. Sekutu Mancanagara ditempatkan di garis belakang, sedangkan ia sendiri dan pasukan Makassar bergerak di depan dan langsung menuju pantai. Hanya orang-orang Mataram saja yang mendarat di sana, bahkan sudah membuat pertahanan; tetapi yang dari pesisir belum tiba. Menurut Serat Kandha, hlm. 1017, pemimpin pasukan Raden Prawirataruna berlayar mendahului di depan. Dan tanpa menunggu pasukan Mancanagara, Belanda, dan Inggris (sic) datang, ia mendarat dengan para prajurit Mataram. Laskar Makassar melihat orang-orang Mataram mendarat, dan mengetahui kekuatannya yang tidak seberapa. Mereka segera menyerang, mengamuk, dan membunuh sebagian besar musuhnya, sedangkan sisanya mundur. Panji Wirabumi dan Suramenggala luka-luka. Pasukan Mataram yang bersenjata api itu kocar-kacir, sekalipun laskar Makassar hanya bersenjatakan tombak dan belati (Meinsma, Babad, him. 166). Dengan sisa pasukan sebanyak 40 orang, Raden Prawirataruna melancarkan serangan balasan, tetapi terpaksa mundur lagi karena kekuatan pasukan Makassar lebih besar dan mendapat dukungan dari sejumlah prajurit Mancanagara (Serat Kandha, him. 1019). Seluruh keluarga Raden Prawirataru- na dibunuh, dan ia sendiri, dalam keadaan luka, melarikan diri ke pantai. Banyak perahu terbalik oleh karena prajurit yang berebut naik (Serat Kandha, him. 1020). Raden Prawirataruna melindungi pasukannya yang mundur dan mencoba mengobarkan kembali semangat mereka dengan pidato. (Meinsma, Babad, hlm. 166-167). Tetapi mereka terus dikejar oleh laskar Makassar yang bersenjatakan lembing pendek dan lebar; dan pasukan Mataram pun terbunuh 106 semua. Raden Prawirataruna tewas. Setelah itu muncullah orang-orang Belanda, Ambon, dan Ternate (menurut Serat Kandha, hlm. 1020: para bupati Mancanagara, Belanda dan Inggris) dengan perahu mayang. Mereka menghujani tembakan atas laskar Makassar dengan tembakan sehingga banyak yang tewas. Sisanya melarikan diri ke kubu pertahanan mereka (Serat Kandha, him. 1021). Mayat Prawirataruna dengan susah payah dapat direbut, diangkut ke atas kapal, dimasukkan peti, dan dibawa ke Mataram. Di sana peristiwa itu menimbulkan kejutan yang hebat. Tentang pertempuran kedua, Meinsma, Babad, menceritakannya ringkas saja, sedangkan Babad BP. dan Serat Kandha secara agak panjang lebar (Babad 5. |. XI, hlm. 68-71; Meinsma, Babad, hlm. 167; Serat Kandha, him. 1022-1025). Naskah Serat Kandha itu tidak selalu jelas sehingga masih memerlukan penafsiran. Atas nasihat Bupati Suramenggala (Babad B.P., jil. XJ, hlm. 68-69), yang sudah jera karena diterjang ombak dan angin laut, dan tambahan lagi selalu mencurigai Kompeni dan orang-orang Sampang, sebagian armada berlayar ke Sungai Paiton, dan menyerang musuh di sana. Lain-lainnya, seperti Singawangsa (Babad B.P. jil. XI, him. 69) dan orang-orang Eropa (Serat Kandha, him. 1022), memilih lautan bebas. Di Paiton para prajurit mendarat, sedangkan para awak kapal tetap di kapal. Orang-orang Makassar yang mengetahuinya segera berdatangan dengan perahu-perahu jukung kecil, tanpa memperlihatkan tingkah laku yang mencurigakan. Dengan mendadak mereka membakar perahu-perahu Jawa yang terdampar karena air surut. Para awak kapal yang terperanjat tidak mampu mengadakan perlawanan; mereka berusaha mendorong perahu-pe- rahunya dengan galah-galah panjang ke lautan bebas, tetapi sia-sia. Akhirnya mereka pun harus meninggalkan perahu dan melarikan diri. Dengan demikian, lenyap pula perbekalan berupa bahan makanan, senjata api, dan pakaian- pakaian yang indah. Selanjutnya pertempuran dilanjutkan di darat. Orang-orang Jawa yang hanya bersenjatakan tombak melarikan diri. Kedua pemimpinnya, Surameng- gala dan Surawangsa, tidak dapat menahan anak buabhnya, sekalipun Suramenggala memberikan perlawanan gigih. Mereka semua menyelamatkan diri (Babad B.P., jil. XI, hlm. 70-71). Kapal-kapal Mancanagara segera mendatangi perahu-perahu yang terbakar itu, untuk memadamkan api dan menampung kawan-kawan mereka yang melarikan diri. Setelah bermusyawarah diputuskan untuk kembali ke Jepara melalui Surabaya, dan menunggu di sana. Mereka tidak berani kembali ke Mataram karena takut menjadi sasaran kemarahan Raja. ‘Apakah yang diberitakan sumber-sumber Belanda tentang kekalahan yang beruntun ini? 107 ait Pertama kali disebutnya pengiriman armada Jawa untuk melawan Makassar, adalah dalam pemberitahuan penguasa pesisir Rangga Sidayu kepada Residen Couper pada tanggal 24 Maret 1676: di samping laskar Mataram yang berkekuatan 50.000 juga armada 40 perahu layar akan berangkat ke ujung timur (Daghregister, 10 April 1676). Armada ini akan bekerja sama dengan angkatan perang Kompeni. Dengan demikian, tampak bahwa ketika itu pihak yang menang di Istana ialah mereka yang pro-Belanda. Hal ini juga diperkuat dengan reaksi Sunan yang menyatakan kegembiraannya terhadap bantuan Kompeni dan kepercayaannya terhadap persahabatan Pemerintah Kompeni yang tidak tergoyahkan. Sekalipun sahabat Kompeni Ngabei Wangsadipa diangkat sebagai penguasa Jepara, tindakan mereka begitu lamban dan bermalas-malas, sehingga sama sekali tidak merupakan bantuan. Bahkan tampaknya tidak ada kepercayaan di antara orang Jawa sendiri dan tiada kesetiaan (Japara, 24 Maret 1676). Karena pada tanggal 2 April 1676 masih belum terjadi sesuatu, Residen merasa terdorong untuk mengeluarkan isi hatinya dalam rapat para pejabat Jawa di Jepara, yang membuat mereka merasa malu semua dan bertengkar, Karena kapal-kapal mereka yang bergerak begitu lamban. Terhadap Kiai Rangga Sidayu yang selama dua belas hari bersikap plin-plan, Couper berkata, “Apa lagi yang ditunggu, Tuan? Apakah Tuan ingin kami mintakan perintah yang kedua dari Sunan?” Ini menimbulkan tanggapan baik! Tiga hari kemudian 20 kapal dengan pembesar-pembesar Jawa mengarungi laut bergabung dengan satuan Kompe- ni. Tidak lama kemudian mereka disusul oleh 20 kapal lagi yang berasal dari pantai barat (Daghregister, 16 April 1676). Kedua puluh kapal itu memang muncul pada tanggal 7 April, membawa sejumlah besar prajurit pengawal Sunan. Di Semarang dan Juwana tampak kesibukan mempersenjatai kapal-kapal; beberapa kapal bahkan diperlengkapi dengan meriam besar Gonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 198). Hanya di Semarang kegiatan itu tidak begitu lancar, dan orang Jawa merosot kembali .. . ke sikap lamban mereka yang lama, ditambah dengan perasaan curiga terhadap Kompeni. Pemimpin mereka bernama Ngabei Prangmadana (Perangwadana). Pada tanggal 8 April 1676 armada Jawa bertolak ke timur. Karena sangat banyak abdi Istana turut serta dalam ekspedisi ini, Sunan menjadi kehilangan banyak abdinya, sehingga — menurut kabar — ia terpaksa dilayani oleh putra-putranya sendiri di Istana (Japara, 8 April 1676). Pendapat Belanda tentang dua eskader ini sangat tidak baik; "Kekacauan dan tidak adanya pimpinan di kalangan para pembesar yang berangkat ke timur itu sangat parah sehingga tidak banyak yang dapat diharapkan dari bantuan mereka itu.” Armada itu pun tidak banyak mencapai kemajuan. Sepuluh hari kemudian Couper memberitakan bahwa di Juwana mereka lamban sekali 108 dalam mempersiapkan sejumlah kapal (Japara, 18 April 1676). Sampai Sunan pun gusar karena begitu banyak waktu yang terbuang (Japara, 1 Mei 1676). Baru pada tanggal 24 April 1676 mereka berangkat dari Lasem (Daghregister, 18 Mei 1676). Mereka menunggu kedatangan Raden Singawangsa, penguasa pesisir bagian barat yang sudah sepuluh hari mengembara ke luar daerah ujung timur, yang tampaknya tidak ingin tergesa-gesa. Ngabei Wangsadipa telah melaporkannya ke Mataram dengan menjelaskan bahwa jika Sri Baginda berkenan mengeluarkan perintah agar beberapa orang dibiarkan mengganas, maka yang lain tentu akan memperlihatkan kesiapsiagaan yang lebih besar Qapara, 1 Mei 1676). Jadi, untuk memberi semangat kepada yang lain. Ngabei Singawangsa ini juga mempunyai kecurigaan yang mendalam terhadap orang Belanda. Ketika Jan Franszen menyuruh bawahannya menyerahkan empat kepala orang Makassar, disertai pernyataan apakah itu bukan merupakan tanda bukti tentang niatnya yang baik, dijawab olehnya, "Walaupun 1.000 kepala diserahkan, ia tetap tidak dapat dipercaya karena persekongkolannya dengan orang Makassar, dan tujuannya mengenai Jawa tidak lain seperti terhadap Aceh, yang hendak dimasukkan ke dalam jaringnya” (Japara, 28 Mei 1676). Akhirnya pada tanggal 17 Mei 1676 eskader Jawa di bawah pimpinan Raden Prawirataruna dan Rangga Sidayu bergabung dengan unit kapal Jan Franszen di Demung. Angkatan laut Mataram ketika itu berkekuatan sekitar seratus perahu layar (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 200). Antara 17 dan 24 Mei terjadi pertempuran kecil; menurut Jan Franszen di Paiton; menurut Rangga Sidayu di “Katta”. Baik pasukan Jawa maupun pasukan pribumi pembantu Kompeni ikut ambil bagian dan dipimpin dari sebuah korakora. Tujuan pasukan ini tampaknya untuk membuat parit-parit pertahanan. Beberapa orang dari kedua belah pihak tewas. Menurut pihak Belanda, serangan berhasil baik berkat siasat bertahan yang rapi. Tidak begitu jelas peristiwanya (Daghregister, 20 Juli 1676; Surat Rangga Sidayu diterima di Jepara pada tanggal 28 Juni 1676). Cerita tutur tidak menyebutkan pertempuran kecil itu, dan hanya berbicara tentang suatu pendaratan. Tanpa mengindahkan nasihat Jan Franszen yang ingin menunggu kedatangan pasukan angkatan darat, Raden Prawirataruna pada tanggal 24 Mei 1676 mulai melakukan pendaratan di ujung barat Demung di Sungai Tempuran (Tempora, di sebelah barat Besuki). Ia bermaksud membuat pertahanan di sana, untuk melindungi orang-orang yang mengambil air. Atas permintaan pimpinan armada Jawa, tiga kapal Belanda berlayar sedekat- dekatnya dengan pantai, untuk memudahkan pendaratan. Kira-kira pada siang hari, kebetulan Hari Paskah, Raden Prawirataruna "yang pertama-tama mendarat, dan dengan demikian melompat ke dalam ranjang mautnya” (Daghregister, 10 Juni 1676, hlm. 128). Sebab, setelah mendarat dengan 1.000 109 orang (atau 2.000 orang: Daghregister, 10 Juni 1676), dan merasa sudah menang, ia terpancing oleh laskar Makassar agar bergerak ke arah sungai, tanpa memperhitungkan kekuatan tempurnya, atau membuat pertahanan sebagai pelindung jika harus bergerak mundur. Serangan kedua dari laskar Makassar, sebanyak 40 orang (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 200) atau 70—80 orang (Daghregister, 20 Juli 1676), sudah cukup banyak untuk melemparkan kembali orang-orang Jawa itu ke pantai. Banyak di antara mereka tidak segera dapat naik kembali ke atas kapal, sehingga terbunuh di laut. Perahu-perahu konting Jawa terus berlayar dengan meninggalkan 150 orang kawan mereka di pantai, termasuk pemimpin armada dan saudaranya. Mereka bersembunyi di sana selama tiga jam tanpa ada satu perahu Jawa pun yang datang untuk menolong. Akhirnya mereka pun tewas oleh lawan. Pada malam harinya mayat-mayat dengan kepala sudah terpenggal itu diangkat dari air oleh para awak sebuah kapal kecil Kompeni, korakora, dan diserahkan kepada pihak Jawa. Sementara itu, separuh dari armada Jawa, dua eskader di bawah pimpinan Ngabei Singawangsa dan Rangga Sidayu, dengan tenang berlabuh, padahal masih berkekuatan 5.000 orang (Daghregister, 20 Juli 1676). Juga Rangga Sidayu tidak menyetujui pendaratan yang terlalu cepat itu. Akan tetapi. seperti ditulisnya, ia tidak dapat menahan kehendak Raden Prawirataruna. Akhimya mereka bersepakat untuk mendaratkan pasukan rendahan saja; para pembesar akan melindunginya dengan tembakan dari kapal. Juga Laksamana (Jan Franszen) menyetujuinya dan mengirimkan sebuah perahu dan korakora. Setelah gong berbunyi, Raden Prawirataruna mendaratkan anak buahnya. Pihak Makassar yang keluar dari kubu pertahanan menderita kekalahan dan terpukul mundur. Sekalipun dicegah oleh para pembesar lainnya, Raden Prawirataruna ikut mendarat. la berkata kepada Rangga Sidayu, "Paman Rangga Sidayu, mengapa sikap Paman demikian? Jika tidak sekarang, kapan dapat merebut suatu tempat untuk mengambil air dengan lebih aman!” Setelah pendaratannya itu, laskar Makassar muncul kembali dengan naik kuda dan menyerang. Beberapa prajurit Jawa tewas, tetapi pasukan Jawa sisanya kembali ke perahu mereka. Raden Prawirataruna berusaha naik ke atas perahu Raden Perangwadana, tapi karena terlalu banyak muatannya, kapal itu terbalik. Di situlah di depan mata orang Belanda, Raden Prawirataruna tewas. Dengan sengit Rangga Sidayu dalam laporannya menyalahkan orang-orang Belanda yang bersikap pasif. Mereka menembak tetapi tidak mengenai musuh seorang pun. Laksamana Belanda tidak melaksanakan perjanjian yang diucapkannya di Jepara, dan yang juga diucapkannya kepada Raden Prawirataruna: hendak memusnahkan semua laskar Makassar, dan menangkap sendiri kraeng-kraeng itu dan menyerahkannya kepada Sunan di Mataram. Bukan itu yang dilakukannya, mereka malah bermusyawarah dengan pihak 110 Makassar. Begitulah kedua belah pihak saling menuduh pihak lain teledor, dan mungkin benar. Tentang Raden Prawirataruna perlu diperhatikan juga sikap pemberaninya yang tanpa perhitungan, kesalahan yang harus ditebus dengan nyawanya. Kapal kecil Kompeni itu tidak bisa berbuat lain kecuali mengangkat mayat-mayat dari air dan menumpuknya di dalam kapal. Di samping kecurigaan di pihak Belanda terhadap pihak Jawa, dan sebaliknya, pada pihak Jawa pun saling mencurigai sesamanya. Rangga Sidayu, yang tidak lama kemudian gugur di Gegodog, termasuk salah seorang Jawa yang paling dapat dipercaya oleh pihak Belanda. Mengenai pertempuran terakhir yang fatal itu surat Jepara tertanggal 30 Juli 1678 (Daghregister, 3 Agustus 1676) melaporkan sebagai berikut: karena curiga, armada Jawa meninggalkan armada Belanda, dan kira-kira 10 kilometer di sebelah barat Demung menurunkan sauh di Sungai Sidapaksa. Orang-orang Makassar ketika itu mengadakan musyawarah dengan pimpinan armada Jawa, sehingga mereka berpura-pura bersahabat dengan orang-orang Jawa itu . . . da- pat berbicara dengan ramah tamah (sekitar 12 Juni 1675). Tetapi pada malam hari, tanggal 19 Juni 1676, dengan tiba-tiba mereka menyerang orang-orang Jawa yang sedang tidur, membunuh 150 orang dan sisanya melarikan diri. Lima puluh perahu dibakar. Setelah itu mereka kembali ke Demung sambil membawa serta hasil rampasannya. Jumlah kapal dan perahu yang telah dimusnahkan menurut laporan-laporan terakhir meningkat sampai 70 buah (Daghregister, 13 Agustus 1676) dan 90 buah (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 202). Pada pertengahan bulan Juni tahun 1676 musyawarah akan diadakan lagi, tetapi lebih kecil. Pemimpin-pemimpin Jawa mendarat di Demung dan berunding untuk mengadakan perjanjian. Tetapi setelah banyak terjadi keributan, mereka diserang oleh orang-orang Makassar, termasuk tiga buah kapal kepala daerah Sabdakarti. Namun, tatkala kapal-kapal itu hendak diseretnya ke Demung, orang-orang Belanda berhasil merampasnya, dan musuh itu pun berlompatan ke laut (Daghregister, 13 Agustus 1676). Dengan demikian, terhindar terjadinya peristiwa yang lebih hebat. Selain terjadi bentrokan kecil-kecilan seperti itu ada tiga pertempuran besar yang disebut dalam cerita tutur. Pertama, pendaratan di Demung, tempat Raden Prawirataruna gugur pada tanggal 24 Mei 1676; kedua, pertempuran di Panarukan, tempat Kiai Panji Karsula terpukul mundur pada tanggal 30 Mei 1676; ketiga, serangan atas armada Jawa di Paiton atau Sidapaksa pada tanggal 19 Juni 1676. Cerita tutur Jawa mengisahkan pertempuran-pertempuran ini dalam urutan kedua, pertama, ketiga, mungkin karena tentara Kiai Panji Karsula bergerak lebih dahulu daripada gerakan armada. 11 X—6 Armada Jan Franszen setelah Prawirataruna tewas, Mei—Juni 1676. Setelah menderita kekalahan, dan Raden Prawirataruna tewas pada Hari Paskah tanggal 24 Mei 1676, armada Jawa menghilang ke arah barat (Daghregister, 20 Juli 1676). Selama satu bulan tidak sebuah kapal Jawa pun yang tampak. Laskar Jawa menunggu perintah lebih lanjut dari Mataram, dan menyerahkan segala sesuatu kepada Jan Franszen. Pemimpin Belanda ini tidak bisa berbuat lebih banyak kecuali melepaskan tembakan meriam beberapa kali dan melakukan gerakan di daerah pantai. Sementara itu, sekitar seratus buah perahu musuh dapat direbut. Jumlah itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan 5 sampai 6 ratus perahu milik mereka yang diduga. Pada tanggal 15 Juni 1676 datang lagi orang-orang Makassar menemui Jan Franszen di atas kapal dengan membawa surat dan bendera damai kecil, berikut denda 11 tail emas hitam. Maka, sekali lagi perundingan diadakan. Untuk mencegah segala perselisihan dan prasangka yang tidak baik pihak Belanda mengirimkan sebuah amanat kepada armada Jawa di Sidayu, yang pada tanggal 30 Juni muncul kembali dengan 100 kapal. Karena pimpinan pasukan Jawa, yaitu Rangga Sidayu dan Ngabei Singawangsa, juga menyatakan berhak mengadakan perundingan, maka disusunlah bersama beberapa pasal- tuntutan ... Mirmagati dikirim ke darat bersama seorang sersan Belanda untuk membicarakan tempat yang akan digunakan untuk berunding. Tetapi para kraeng Makassar bukannya mengirimkan utusan seperti yang mereka janjikan, bahkan keesokan harinya dibukanya pagar perlindungan mereka untuk mempertunjukkan perbentengannya yang telah diperluas dan diperkuat. Karenanya itu, armada Jawa segera mundur ke Pajarakan, tidak seperti yang diduga Jan Franszen, yaitu karena takut dan putus asa, tetapi karena merasa khawatir adanya komplotan antara Belanda dan Makassar. Karena itulah dikemukakan dalih kekurangan persediaan air dan perbekalan. Dari seorang budak Ternate yang telah menyeberang ke pihak Belanda juga diterima kabar bahwa laskar Makassar telah memperluas pertahanan mereka, dengan bantuan 2.000 orang Blambangan yang membawa 40 gerobak bermuatan persediaan bahan makanan. Sebaliknya, armada Belanda menderita kekalahan 125 orang tewas, di antaranya hanya empat orang pribumi. Banyak yang menderita sakit, mereka harus diangkut ke tempat aman, perahu-perahu memerlukan perbaikan — sebuah perahu malah bocor. Perbekalan hampir habis, karena itu ransum dikurangi, sehingga suasana di kalangan awak kapal menjadi buruk. 112 ” X—7 Gerakan armada Jawa yang terakhir, Agustus—Oktober 1676 Selain berita tentang mundurnya®laskar Jawa, Batavia juga mendengar bahwa 148 kapal angkatan laut Mataram pun sudah mundur semuanya (Daghregister, 25 Agustus 1676, hlm. 206). Konon, untuk melindungi Jepara terhadap serangan Madura, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap laskar Makassar, dan juga semua senjata api mereka telah terampas. Memang seluruh armada itu muncul pada tanggal 7 Agustus 1676 di Teluk Jepara. Kedua pemimpinnya, Rangga Sidayu dan Singawangsa, hampir tidak dapat dibujuk agar menyediakan 50 sampai 60 kapal untuk membantu pemimpin armada Belanda Christiaen Poleman kini yang sudah siap. Akan tetapi pada tanggal 11 September 1676, Couper memberitakan sudah 18 kapal lagi berlayar ke arah timur. Namun, mereka takut terhadap serangan Madura, bila sampai di muka Selat Madura, mereka tidak dapat menyusul armada Belanda yang sudah berangkat pada tanggal 19 Agustus. Ditambahkan lagi oleh Couper, kepada mereka dengan nada yang Klasik, "Mereka juga laki-laki, dan dengan berani dan tanpa ragu setiap satu orang Jawa tidak takut menghadapi . . . dua orang Madura. Tiada kematian yang lebih mulia daripada gugur di medan kehormatan dalam melaksanakan tugas raja, menegakkan keadilan melawan sekelompok pemberontak.” Raden Singawangsa yang penuh kecurigaan itu menjawab bahwa orang Jawa merasa takut. Dengan nada tajam Couper berkata, "la mengukur jiwa orang lain dengan dirinya sendiri.” Karenanya, semua yang hadir senang melihat bagaimana Residen dapat menutup mulut Singawangsa yang berhati perempuan dan Rangga Sidayu — pelita Sunan yang konon dapat menerangi seluruh pantai utara Jawa (Japara, 11 September 1676), walaupun mereka semua kelihatannya seperti dungu dan tidak kenal malu (Daghregister, 16 September 1676). Sikap seperti itu diperlihatkan dengan jelas oleh Raden Singawangsa; ketika Pangeran tiba, ia diam-diam menyelinap ke Pekalongan, yang oleh pen di Jepara kemudian diberitakan pergi ke Istana. Rekannya Rangga Sidayu begitu mujur, dan tewas di Gegodog bersama dengan pasukan Pangeran. Memang benar, seluruhnya atau sebagian armada Jawa mulai berlayar atas perintah putra mahkota (Japara, 16 September 1676), sekalipun pelayaran itu tidak begitu lancar jalannya. Ketika putra mahkota dengan tentaranya pada tanggal 23 September 1676 tiba di Lasem, di sana ia menunggu kedatangan Raden Singawangsa dan armadanya. Rupanya, ada maksud untuk mengada- kan kerja sama antara kekuatan angkatan darat dan angkatan laut. Dua hari kemudian penguasa pesisir tertinggi baru kelihatan di Pulu Mandalika. Sudah tentu dalam perang melawan tentara Madura—Makassar Raden Singawangsa tidak turut serta. Armada kaum pemberontak tidak perlu merasa takut kepadanya. Dan ketika laskar Madura pada bulan November 1676 3 ae * bethasil menyudutkan Jepara, Raden Singawangsa pun, tidak mau turut mempertahankan kota itu, dengan mengemukakan alasth, "Biarlah Kepala Daerah bertempur melawan Belanda, kami tetap tidak akan pogpbantunyall (Daghregister, 2 Desember 1676, hlm. 328). Setelah itu rupanya ia memainkan peranan yang sangat diragukan pada waktu didudukinya Pekalongan oleh Madura (Daghregister, 1 Januari 1677), dan yang membuatnya jengkel ketika daerah itu direbut kembali oleh Pangeran Martasana. Pada tanggal 20 Maret 1677 ia harus menyampaikan pertanggungjawabannya di Istana kepada keempat pangeran yang memerintah Ketika itu (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 109). X-—8 Kraeng Galesong lari ke Madura, awal Juli 1676 Sekitar 10 Juli 1676 diterima berita dari Panarukan, bagaimana bahwa orang-orang Makassar telah meninggalkan pertahanannya di darat, dan dengan kapal melarikan diri ke arah timur — menyusur pantai, sekalipun banyak juga tembakan yang dilepaskan terhadap mereka. Setelah itu seluruh pantai ditemukan dalam keadaan kosong, kapal-kapal lain terbakar dan lebih Kurang dua puluh lima awak yang paling terampil turut dalam armada (Daghregister, 20 Juli 1676). Siapakah orang-orang Makassar yang dapat melarikan diti ini; ke manakah mereka pergi? Mengenai yang terakhir ini, pada tanggal 8 Agustus 1676 Couper menulis, orang-orang Makassar telah meninggalkan Panarukan, dan pergi ke Sampang untuk bertemu dengan Raden Trunajaya, sambil merampok dan merampas semua perahu yang masuk dan yang keluar (Daghregister, 13 Agustus 1676). Temyatalah, mereka telah melarikan diri kepada Raden Trunajaya di Madura. Dalam tulisan itu dapat dibaca mengenai Kraeng Galesong dengan rombongannya pada bulan September 1676 (Laporan Poleman; Daghregister, 29 September 1676). Pasti orang Makassar inilah yang menyelinap dari blokade Belanda. Ini dibenarkan oleh surat tanggal 4 Oktober 1676 yang meffiberitakan bahwa Kraeng Galesong beserta kira-kira 80 kapal telah menembus blokade di depan Panarukan. Oleh kapal Schelvisch dan kapal-kapal lainnya ia tidak dapat dicegah dan . . . mereka tiba di tempat Raden Trunajaya di Madura (Batavia, 4 Oktober 1676). Kemudian nama Galesong tidak ditemukan lagi di kalangan orang Makassar yang masih tinggal di Jawa (Daghregister, 20 September 1676). Sebaliknya, menurut desas-desus yang santer terdengar ia tidak ... akan berkumpul kembali dengan orang-orang Makassar lainnya, Montenarano dan Manggappa. Hanya dengan kekerasan ia akan dapat ditarik dari Madura (Daghregister, 29 September 1676, hlm. 237); dan ia memang oleh Trunajaya tidak akan ... dikeluarkan. Pelariannya tidak mengendurkan semangatnya. Sebaliknya, tamu dan tuan rumah berniat dalam waktu pendek dengan segala kekuatan akan bergerak di 4 % semua daerah pesisir Jawa sampai ke Semarang, dan dari sana akan melanjutkan gerakannya itu ke Mataram (Daghregister, 13 Agustus 1676, him. 192). Pada akhir bulan Agustus mereka mengancam akan datang ke Jepara (Daghregister,@5 Agustus 1676). Yang terpenting dari semuanya ini ialah bahwa juga Raden Trunajaya bersama-sama dengan orang-orang Madura, secara tera seran hendak sungguh-sungguh memerangi Mataram. Sampai berapa jauh ia memperhitungkan kepentingan teman sekomplotannya, yaitu Pangeran Adipati Anom, sejarah yang akan menunjukkannya. X-—9 Kenaikan gelar Raden Trunajaya, Agustus 1676? Mungkin setelah Kraeng Galesong datang, Raden Trunajaya menamakan dirinya Raja atau Panembahan Maduretna. Gelar panembahan itu untuk pertama kalinya ditemukan dalam laporan Poleman (Daghregister, 29 September 1676). Ia disebut sebagai Panembahan Maduretna dalam laporan seorang Mor utusan Belanda, Piero (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 837). la menamakan dirinya Raja Maduretna dalam suratnya yang diterima oleh Batavia pada tanggal 7 November 1676 (Daghregister). Hampir bersamaan dengan itu di Madura Kraeng Galesong berani menggunakan gelar Adipati bahkan gelar Adipati Anom (Laporan Umum tanggal 15 Agustus 1677; K.A. No. 1218, hlm. 1789). Menarik perhatian pula dalam laporan itu juga dibicarakan kegiatan seorang kiai terkemuka dan peziarah yang tinggal di pegunungan belakang Gresik dan dipuja-puja sebagai dewa, bernama Pangeran Mas Giri. Oleh ulama Islam yang cerdik ini, begitu Poleman, diramalkan bahwa di Kerajaan Mataram tidak lama lagi akan terjadi perubahan besar, dan ramalan itu dipercaya oleh setiap orang. Selain itu ia menyuruh menyiarkan desas-desus bahwa pemerintah Mataram, selama orang Belanda ada di sana, akan menjadi tidak tenteram. Ia berhasil menjadikan ocehannya itu dianggap sebagai ramalan oleh semua pembesar, yang akan terbukti kebenarannya. Ia pun, pada pendapat banyak orang, agaknya memberi bantuan kepada orang-orang Makassar. Keterangan Poleman tersebut di atas perlu dijelaskan. Pada umumnya diketahui bahwa Pangeran Adipati Anom cenderung berpihak pada Kompeni, dan karena sikapnya itu Sunan pun juga mempunyai kecenderungan demikian. Raja ulama dari Giri itu melawan aliran yang pro Belanda ini, dan karena karismanya yang besar ia dapat mempengaruhi banyak orang. Jadi, ia meramalkan runtuhnya Mataram (perubahan yang besar), apabila orang mencari bantuan pada Batavia, dan mau menerima orang Belanda di Jepara. Bukan hanya pada orang Jawa, juga pada orang Makassar ia berpengaruh. Kakek dan ayah raja ulama ini telah sering kali menobatkan orang lain menjadi raja atau mengakuinya sebagai raja. Tidak lama sebelum tokoh Giri ini wafat, ia sekali lagi memainkan peranannya dengan kewibawaannya. 115 Karena itu, ada kemungkinan baik Raden Trunajaya maupun komplotannya Kraeng Galesong — justru pada. saat kegiatan Giri¥ meningkat ini — memperoleh gelar baru dari raja-ulama Giri itu. Oleh karena itu, bukan secara kebetulan apabila justru pada masa itu kewibawaan Raden Trunajaya diam-diam meluas sehingga banyak daerah Jawa ... dan banyak orang Jawa terkemuka yang memujanya sebagai orang yang berkuasa, sekalipun ia sendiri pura-pura mengeluh tentang pemerintah Mataram yang tidak terurus. Sementara itu, laskar Makassar pun mengembangkan kekuatannya. Armada mereka berkekuatan 80 kapal. Perompakan semakin merajalela dan mengeri- kan terutama di selat antara Madura dan Jawa. Sejumlah 21 perahu telah mereka rampas. Menarik perhatian bahwa mereka tidak melakukan pembu- nuhan, melainkan hanya melucuti persenjataan orang-orang Jawa dan setelah itu membebaskannya (Japara, 18 Agustus 1676). Sementara itu, mereka sesumbar, pada malam terang bulan mendatang akan mendarat di kota-kota pesisir sampai Semarang, dan selanjutnya akan menuju Mataram (Japara, 8 Agustus 1676). Sebagai tanggal disebutkan pada hari ke-12 mendatang, jadi 12 Jumadilakir (= 23 Agustus 1676) (Surat Couper dari Jepara, tanggal 13 Agustus 1676). X—10 Ekspedisi Poleman, Agustus—September 1676 Karena pasukan armada di bawah pimpinan Jan Franszen telah menjadi sangat lemah akibat terserang penyakit dan tidak ada lagi disiplin, pada tanggal 28 Juli 1675, Pemerintah Kompeni memutuskan mengirim Sersan Mayor (kepala milisi) Christoffel Poleman beserta tiga kapal dan 300 orang serdadu. Pergantian komando ini harus secepat-cepatnya diberitakan kepada penguasa Jepara dan Istana Mataram, dengan harapan mereka akan menyediakan cukup banyak perahu kecil bagi Poleman. Ada keinginan dapat mengakhiri kerusuhan sebelum musim hujan (Daghregister, 1 September 1676). Setelah berbaris dan berpawai di depan Gubernur Jenderal, ketiga kompi serdadu itu pada tanggal 6 Agustus naik kapal. Nama ketiga orang kapten pasukan itu kemudian akan terkenal, yaitu Abraham Daniel van Renesse, Francoys Tack, dan Joan Albert Sloot. Pada tanggal 16 Agustus Poleman tiba di Jepara dan keesokan harinya melihat sisa armada Jawa datang dari timur, masih berkekuatan 148 layar, tetapi tanpa semangat. Laskar Jawa itu hanya ingin mempertahankan Jepara semata-mata, dan hampir tidak dapat dibujuk untuk menyediakan 50 sampai 60 perahu pendarat. Karena itu, Residen Couper dengan hati cemas mempertimbangkan hendak angkat tangan terhadap nasib orang Jawa, dan __-menutup kantor dagangnya di Jepara. Adapun tentang dirinya sendiri ia akan _» smohion diberhentikan dari jabatannya pada akhir musim panas. Pemerintah ey 116 4, Kompeni mengizinkan permintaan terakhir itu, tetapi tidak menghiraukan usul menutup kantor dagang (Daghregister, 25 Agustus 1676, hlm. 205—207). Poleman melanjutkan perjalanan dan tiga hari kemudian pada tanggal 30 Agustus tiba di Demung. Di sana ia menjumpai para awak kapal dalam keadaan cukup sehat, tetapi terdapat banyak kekurangan pada pihak pimpinan. Memang dinyatakan bahwa justru pada saat itu mereka berniat menyerang musuh pada keesokan harinya, tetapi tidak banyak yang dapat diharapkannya dari serangan itu (Daghregister. 20 September 1676, hlm. 224). Sebaliknya, Poleman sekali lagi memilih jalan perundingan dengan menyarankan kepada orang Mataram agar secara damai kembali ke kampung halamannya. Tetapi para pengembara hanya ingin mengulur-ulur waktu saja sehingga orang dengan sendirinya harus kembali tanpa hasil apa pun menghadapi musim hujan yang hampir tiba. Sebelum musim angin ribut tiba, Poleman ingin memperoleh hasil. Karena itu, ia memutuskan hendak melakukan tipu daya perang untuk mengelabui Jawan. la minta izin untuk mengambil air di Tempuran. Setelah permintaan itu diizinkan, dimintanya. tetapi dengan nada memerintah, untuk mengosongkan daerah pagar kubu musuh agar dapat mengambil air dengan bebas (bagaikan tidak ada musuh). Segera daerah sekitar pagar perkubuan itu diduduki, dan pada malam harinya penjagaan diperkuat. Di kemudian hari orang-orang Makassar masih sering mempersalahkan pihak Belanda karena kecurigaan ini, dan tepatlah memang. Sementara itu, dilakukan pengintaian, dan selanjutnya pendaratan oleh 900 orang. Pada tanggal 4 September seluruh pasukan mulai bergerak, tetapi segera diserang dari segala jurusan. Serangan balasan itu dapat digagalkan. Keesokan harinya kubu lawan diserang dan direbut. Pasukan Belanda bergerak maju lagi dan mencapai sebuah sungai. Di sungai itu terdapat 500 kapal Melayu, penuh dengan peralatan perang dan perbekalan. Kapal-kapal itu, berikut beberapa rumah, dibakar. Maka, sampailah mereka di Sungai Lobawang, dan berhasil menduduki beberapa perkubuan. Pada tanggal 6 September mereka sampai di kubu laskar Makassar, Kraeng Manggappa, Kraeng Bonto Marannu, dan Kraeng Panaragan yang terletak di Desa Massouhy, Desa Domongh, Cotta Loukadiangh dan Desa Pallandinge, yang sudah ditinggalkan pula oleh penduduknya. Rumah semuanya, 1.000 buah perahu dan banyak desa yang sudah dibakar, tetapi Kraeng Galesong tidak terdapat pada nama-nama Makassar. Mereka yang tidak mau menyerah kini melarikan diri ke pegunungan. Sedangkan pasukan Kompeni kembali ke Lobawang melalui Pallandingen, menyusur daerah pegunungan, sampai Tempuran. Setelah semua perkul ay rr tanggal 8 September. Dalam waktu empat hari mereka sudah mencapai hasil. Poleman menganggap lawan sudah begitu hancur, sehingga mereka, selama beberapa tahun mendatang tidak akan dapat lagi mencapai kekuatannya yang semula. Sang komandan tidak menduga bahwa dalam beberapa tahun mendatang justru ia sendirilah yang akan tewas di tangan mereka. Mirmagati, panglima pasukan Jawa yang turut serta, sekalipun dilarang, tidak ada yang dilakukannya kecuali merampok. Selanjutnya, atas permintaan pihak Jawa, armada Belanda menyeberang ke Sampang, untuk melihat apakah di sana tidak ada musuh lagi, dan apakah orang Madura akan menyatakan diri bersahabat atau bermusuhan dengan Sunan (Daghregister, 20 September 1676, him. 226). Tidak begitu jelas benar bagaimana cara Poleman berlayar ke Madura. Laporannya yang diserahkan pada tanggal 29 September 1676 (Daghregister,) memang jelas dan padat, tetapi tidak memuat keterangan-keterangan khusus. Kraeng Galesong tidak dapat ditemukannya di Sampang atau Soca, Madura. Agaknya Poleman telah mencoba mencarinya di tempat-tempat itu. la pun rupanya tidak berjumpa dengan Raden Trunajaya, sekalipun ada beberapa orang utusan yang sempat berbicara dengan pembesar Madura itu. Kepada perutusan, tokoh Madura itu mengeluh tentang pemerintahan Jawa yang tidak berfungsi. la pun berjanji akan menyerahkan lebih dari 200 koyan beras kepada Poleman, asal saja ia mau menunggu beberapa hari lagi. Tetapi Mayor Poleman tidak dapat menunggu. Hanya sebentar ia tinggal di sana, tetapi cukup lama untuk menyusun laporan yang panjang lebar. Nada laporan itu tidak begitu optimistis seperti yang dapat diharapkan berdasarkan kemena- ngannya itu. la menganggap kekuatan Makassar yang telah dikalahkan itu begitu besar, sehingga apabila dibiarkan, bahkan masih bisa menyapu bersih raja Mataram dengan seluruh kerajaannya. Tidak banyak yang ia harapkan dari pasukan yang dikirimkan di bawah pimpinan Pangeran Adipati Anom, melihat mala petaka yang dialami laskar Jawa di Tempuran. Menurut penglihatan mayor itu, Raden Trunajaya makin kuat sehingga amat diseganinya. Untuk merebut Madura, ia memerlukan 700 pasukan Eropa dan 1.000 sampai 2.000 tentara pribumi, dan setelah itu perlu dilakukan pendudukan tetap di sana. Karena itu, dinasihatkannya agar Batavia melihat dahulu siapa nanti yang akan mempunyai pengaruh besar. Bahkan penaklukan Jawa, yang kelihatannya mudah belaka mengingat sikap lemah orang Jawa, lama-kelamaan memerlukan banyak kekerasan. Bila orang Jawa sesudah dihancurkannya angkatan laut belum dapat mempertahankan diri, kiranya mereka harus merangkul lagi kekuatan Kompeni yang disegani. Demikianlah, laporan ini membenarkan bahwa pekerjaan Poleman di 118 kawasan timur memang tidak menyelesaikan masalah Makassar. Sebaliknya, kita baru menghadapi serangkaian panjang kerusuhan yang masih akan meresahkan Jawa selama enam tahun. Bab XI Pengkhianatan dan Kekalahan Putra Mahkota, Juli-Oktober 1676 XI-1 Pengiriman Pangeran Adipati Anom dan kawan-kawan engenai pengiriman pasukan baru di bawah pimpinan putra mahkota, cerita tutur memberitakan sebagai berikut (Babad B.P., jil. XI, hlm. 72—77; Meinsma, Babad, him. 167; Serat Kandha, hlm. 1026— 1028): Raja sedang bersemayam di Pancaniti, dan murka karena kekalahan pasukan Mataram. Pangeran Adipati (Anom), Pangeran Singasari, Pangeran Martasana, Pangeran Puger, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Pringgalaya menyampaikan laporan, disusul dengan laporan dari Tumenggung Mataram, Raden Wiraatmaja, Tumenggung Wiramenggala, Tumenggung Mangunnaga- ra, dan Ngabei Wirapati. Sunan memerintahkan putranya yang tertua bersama Pangeran Purbaya, Pangeran Blitar, Aria Pamot, Rajamenggala, Wirapati, dan Wirajaya memimpin dua pertiga kekuatan pasukan Mataram menuju Demung. Sepertiga sisa pasukan harus tetap berada di ibu kota. la harus dapat memukul Kiai Trunajaya sampai mati. Juga Cakraningrat harus turut serta, karena orang-orang Sampang mungkin masih ingat padanya. Pangeran Adipati dan Singasari menyembah dan Raja masuk ke dalam Istana. Para prajurit dipersiapkan, dan para wanita menangis karena ditinggal pergi suami. Rajamenggala di depan sekali, Pangeran Adipati Anom di belakangnya. Tidak ada orang Madura yang muncul, sehingga Cakraningrat tinggal seorang diri. Meinsma, Babad, dan Serat Kandha hanya dalam satu hal menyimpang, yaitu di dalamnya tidak terdapat peristiwa desersi pada pasukan Madura. Akan kita ketahui kemudian bahwa pengiriman Pangeran Adipati Anom dengan pasukannya yang besar itu tidaklah terjadi selancar dan semudah 120 seperti digambarkan dalam cerita tutur. Pengiriman bersama putra mahkota dan Pangeran Singasari (Aria Pamot), dua musuh bebuyutan satu sama lain, tentunya menimbulkan banyak hambatan. Bagaimanapun, rencana pengiriman pasukan ini baru diputuskan setelah jenazah Prawirataruna tiba kembali di Mataram pada awal Juni 1676 (Daghregister, 9 Juni 1676). Lagi pula, menurut pihak nda, keputusan itu disebabkan oleh surat Jan Franszen Holsteyn vantage im, yang diduga sampai di tangan Sunan sekitar pertengahan Juni. Setelah selesai melakukan operasi-operasinya di pantai timur Jawa, Kapten Jan Franszen Holsteyn mengirimkan surat pendek kepada kepala daerah Jepara Ngabei Wangsadipa, yang memuat banyak keluh kesah tentang betapa kecilnya hati orang Jawa (Daghregister, 24 Juni 1676). Dengan diketahui residen, Wangsadipa meneruskan surat itu ke Istana Mataram, dengan harapan surat tersebut dalam waktu dekat dapat menimbulkan perubahan. Yang pertama-tama memberikan reaksi ialah putra mahkota. Ia menulis surat kepada Ngabei Wangsadipa bahwa Sunan, setelah menerima surat Kapten Jan Franszen, memerintahkan kepada para panglima angkatan darat dan angkatan laut agar menggunakan segala kekuatan untuk menghancurkan Makassar. Di kalangan Istana timbul perasaan lega atas bantuan dan itikad baik pihak Belanda (Daghregister, 14 Juli 1676). Apakah surat itu hanya merupakan pernyataan simpati saja dari putra mahkota yang pro-Belanda sulit dapat diketahui. Kemudian putra mahkota dan salah seorang saudaranya menawarkan diri turut serta dalam operasi penghancuran itu, tetapi tidak diizinkan oleh Sunan. Namun, beberapa hari kemudian, Istana menerima berita yang lebih baik. Kepala daerah Jepara memberitakan, berkat surat Holsteyn itu Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Singasari, kedua putra terkemuka Sunan, bersama dengan banyak pembesar penting lainnya pada pertengahan bulan Juli 1676 memimpin pasukan yang berkekuatan 40.000 orang. Di daerah pesisir harus dibuat lalanang, kapal perang besar yang dapat memuat 100 orang (Daghregister, 20 Juli 1676, hlm. 165). Dalam surat yang asli tanggal 15 Juli juga disebut tentang persenjataan 15 meriam; dan nama para pemimpin yang disebut antara lain, Pangeran Purbaya, Pangeran Blitar, Ngabei Jayamenggala, Ngabei Pranatgata, Raden Aria Pranalika, dan Raden Aria Wiranatapada. Tetapi ternyata berita ini terlalu dini disiarkan. Mungkin rencana ekspedisi itu sudah dibuat dalam garis besar, tetapi pelaksanaannya masih tethalang oleh banyak kesulitan. 121 XI—2 Keberangkatan Pangeran Adipati Anom, Juli 1676 Berdasarkan Surat Couper tanggal 30 Juli 1676 diberitakan dari Jepara bahwa pasukan Mataram yang besar itu memang akan bergerak. Tetapi putra mahkota oleh ayahnya diperintahkan tetap tinggal di Mataram (Daghregister, 3 Agustus 1676). Tentunya hal itu bukan tanpa alasan. Dikhawatirkan bahwa ia dengan menguasai tentara, bersama dengan para pemberontak Madura dan Makassar akan dengan mudah berhasil merebut kekuasaan dan seluruh kerajaan (Daghregister, 13 Agustus 1676). Penyebar desas-desus ini ialah Pangeran Singasari yang memberitahukan kepada Raja bahwa Adipati Anom mengajak orang Makassar agar berperang (Japara, 13 Agustus 1676). Demikian Ngabei Wangsadipa. Sunan, yang masih belum bisa turun dari kasilnya, memanggil pangeran itu dan berkata, "Saya mendapat kabar, tetapi Anda jangan marah. Kata orang Anda yang mendesak orang Makassar supaya berperang,” Pangeran Adipati Anom segera bersumpah demi kepercayaannya, dan sumpah yang seberat-beratnya bahwa tidak pernah pikiran semacam itu terkandung dalam hatinya. Konon Sunan sekali lagi berkata, "Jangan marah; saudaramu Singasari berkata demikian pada saya, tetapi janganlah marah Kepada saudaramu; saya hanya menyampaikan cerita saja.” Pangeran menjawab, “Nou Houn,” artinya ia agak merendah, dan setelah itu berpamitan. Sesungguhnya yang dimaksudkan ialah: kula nuwun, saya mohon diperkenankan. Laporan yang panjang lebar ini menggambarkan perasaan khas seorang ayah yang sudah tua, lemahi, dan sangat mencintai anak-anaknya, serta seorang putra yang suka berkhianat, dan mengucapkan sumpah palsu. Ramai pula didesas-desuskan bahwa putra mahkota menempatkan dua orang lurahnya yang terkemuka di antara orang-orang Makassar di Demung, yaitu Soutabieda dan Satang Poutangh. Untuk menyangkal fitnahan ini, putra mahkota menyuruh kedua orang itu berjalan-jalan di lapangan pacuan agar terlihat oleh semua pembesar ..., sehingga dengan demikian membungkam mulut penyebar desas-desus. Karena itu, bintang putra mahkota naik lagi. Peringatan Pangeran Singasari kepada ayahandanya juga tidak membawa hasil. Karena itu, putra mahkota bersama saudara-saudaranya dan pamannya diperintahkan berangkat melawan Makassar. Menurut laporan Jan Franszen, Pangeran Adipati Anom berhasil mempengaruhi ayahnya dengan tipu muslihat politik; bahkan ia berhasil memperoleh wewenang yang tidak terbatas atas semua penduduk di luar pintu gerbang Mataram ... ya, bahkan dapat menghukum mati mereka yang bersalah. Suatu hak prerogatif raja! Sebaliknya, kebebasan gerak putra mahkota — karena saudaranya dan keluarganya pun ikut dalam ekspedisi — tentu saja menjadi sangat terbatas; tetapi mungkin memang itulah yang dimaksudkan oleh ayahnya. 122 Pasukan yang berangkat pada pertengahan Juni 1676 itu ternyata satu setengah bulan kemudian belum juga tiba di pantai. Padahal, dua orang bendaharawan Istana pada tanggal 27 Agustus 1676 dari Jepara memberitakan 40.000 tentara di bawah pimpinan Pangeran Adipati Anom, Pangeran Singasari, Pangeran Blitar, dan Pangeran Purbaya kali ini benar-benar sudah tampak. Melalui Jepara mereka akan berbaris menuju Gresik, dan dari sana ke Demung (Daghregister, 16 September 1676). Sementara itu, 20.000 orang tentara berikut 30 pembesar, ngabei, dan aria, sudah tiba dari Mataram untuk menjaga keamanan Jepara yang di bawah kekuasaan Ngabei Wangsadipa. Ngabei ini tidak boleh meninggalkan posnya, dan juga tidak boleh memberikan kapal kepada para pangeran agar jiwa mereka tidak terancam bahaya. Karena diterjang barisan pasukan besar itu, sawah ladang hancur sehingga Jepara terancam kekurangan bahan makanan. Akhimnya pada tanggal 11 September 1676 tibalah Pangeran Purbaya, Pangeran Blitar, dan Pangeran Singasari di Jepara. Pangeran Adipati Anom diharapkan datang dua hari kemudian (Daghtegister, 16 September 1676). XI-—3 Kaum pemberontak menyeberang ke Jawa, September 1676 Sementara itu, kaum pemberontak tidak diam menunggu sampai orang Mataram datang. Cerita tutur tentang hal ini mengisahkan sebagai berikut (Babad B.P. jil. XI, hlm. 78—79; Meinsma, Babad, hlm. 168—169; Serat Kandha, him. 1031-1032): Trunajaya berangkat ke Surabaya, dan membuat pertahanan di sana. la menamakan dirinya Panembahan Maduretna atau bahkan Maduretna Panatagama (Meinsma, Babad). Laskar Makassar di bawah pimpinan Kraeng Galesong bersatu dengannya, seperti telur dan sarangnya. Trunajaya menerima Galesong sebagai menantunya, dan tujuan mereka berdua hendak merebut Mataram. Karena merasa takut, Surabaya tidak memberikan perlawanan. Banyak penduduk pesisir mengelu-elukannya. Orang-orang Madura datang di Gresik, Tuban, Rembang, dan Lasem. Penggambaran ini perlu dikoreksi. Sesudah pertempuran di Gegodog, Raden Trunajaya masih tetap ada di Madura. Gelar yang digunakannya memang benar; hanya gelar Panatagama itu tidak disebut-sebut dalam berita-berita Belanda. Dalam sebuah surat kepada Pemerintah Kompeni ia menamakan dirinya Raja Maduretna. Perkawinan Galesong dengan kemanakan Raden Trunajaya terjadi lebih dahulu, sedangkan kekuasaan atas daerah pesisir baru kemudian. Sebaliknya, sekitar saat itu memang terjadi penyeberangan pasukan Madura dan Makassar ke Jawa. Sekitar pertengahan September 1676 Chr. Poleman masih belum melihat mereka sama sekali. Tentu tidak lama sesudah itulah kaum pemberontak baru 123 muncul. Menurut surat putra mahkota kepada Ngabei Wangsadipa, yang disebut juga dalam sebuah surat dari Jepara, tanggal 28 September 1676, Kraeng Galesong dan kaum pelarian Makassar bersama orang-orang Jawa dari Kediri bersatu, dan dengan kekuatan 9.000 orang mulai bergerak. Dengan demikian, penyeberangan ke Jawa pasti terjadi antara tanggal 15 dan 25 September 1676. Sementara itu, rupanya diperoleh pula hubungan dengan orang-orang Jawa Mancanagara, yang disebut Kediri, yang kemudian memang ikut dalam iring-iringan pasukan mereka. Bahwa laskar Makassar tiba-tiba melakukan kegiatan lagi, rupanya, menimbulkan kejutan yang tidak menyenangkan pada putra mahkota. Sebab, Poleman pernah menyatakan telah melumpuhkan kekuatan Makassar, tetapi kenyataannya mereka muncul kembali. Tidak mengherankan bila Pangeran Adipati Anom sangat gusar karena merasa tertipu oleh Mayor Poleman (Japara, 19 Oktober 1676). Couper menyatakan protes terhadap pendapat pangeran itu, dan menyebut Mirmagati sebagai saksi mata atas kekalahan Makassar. Tetapi pertempuran di Gegodog menunjukkan bahwa kaum pemberontak yang kalah itu masih mempunyai kekuatan cadangan. XI—4 Pertempuran di Gegodog, 13 Oktober 1676 Dalam cerita tutur Jawa, pertempuran di Gegodog diberi tempat yang luas: Babad B.P., jil. XII, hlm. 3-12; Meinsma, Babad, hlm. 167—170; Serat Kandha, hlm. 1028-1039. Hanya Babad B.P. (jil. XII, hm. 3) memuat cerita panjang lebar tentang kedatangan pasukan Mataram di Jepara dan perkemahan mereka; Pangeran Adipati Anom di rumah Ngabei Wangsaprana; Pangeran Singasari di sebelah selatan pura; Pangeran Purbaya di Kasatusan; Pangeran Blitar di Bayularangan dan Pangeran Sampang di luar kota. DiJepara orang-orang dari kawasan barat pesisir bergabung dengan pasukan induk. Tiga hari digunakan untuk beristirahat dan bermusyawarah. Atas permintaan putra mahkota, Pangeran Purbaya menerangkan kerja sama yang erat antara orang Madura dan orang Makassar. Daerah pesisir dan Bangwetan menyatakan patuh kepada Raden Trunajaya di Surabaya. Juga bagian-bagian timur Jawa menyembahnya sebagai Panembahan Maduretna Panatagama (Meinsma, Babad, him. 168). Karena itu, Raden Trunajaya lupa akan Perjanjiannya dengan Pangeran Adipati Anom, padahal tanpa bantuannya tidak mungkin ia bisa mencapai kemajuan yang begitu besar. Ini memang mengganggu pikiran putra mahkota. Tetapi ia diputuskannya untuk berjalan terus, karena malu pulang kembali. Karena itu, diperintahkannya agar pasukan berangkat keesokan harinya dan Ngabei Wangsadipa harus menjaga Jepara (Babad B.P., jil. XII, hlm. 5) bersama dengan pihak Belanda (Meinsma, Babad, him. 168), dan bahkan Inggris! (Serat Kandha, him. 1029). 124 Pasukan itu bergerak menyusur pantai, sedangkan perbekalan diangkut dengan kapal. Pasukan pesisir dan Mancanagara berada di depan, diikuti berbagai kesatuan Mataram. Di Gegodog atau Masahar (Babad B.P., jil. XII, him. 7) mereka berhadapan dengan lawan yang terdiri dari orang-orang Madura, Makassar, dan Mancanagara. Pasukan Madura dipimpin oleh Mangkuyuda, Dandangwacana, Wangsaprana; laskar Makassar selain dipimpin oleh Kraeng Galesong, juga oleh Daeng Marewa dan Daeng Makinci(ng), Busung Mernung (Babad B.P., jil. XII, hlm. 7; Meinsma, Babad, him. 169). Orang-orang Madura tampil di depan, di belakangnya berbaris orang-orang Makassar, sedangkan orang-orang Mancanagara berbaris paling belakang (Meinsma, Babad). Terjadilah pertempuran sengit. Mula-mula dengan senjata api, yang menimbulkan kepulan asap tebal, kemudian dengan senjata tajam (Babad B.P., jil. XII, hlm. 8). Banyak yang tewas di kalangan kaum pemberontak, tetapi mereka bertahan dengan berani; setelah itu banyak orang Mataram yang tewas sehingga menimbulkan keguncangan di kalangan mereka (Meinsma, Babad, hlm. 169). Atau: Mereka yang tahu benar keadaan mundur dan menyebabkan teman-temannya yang tidak tahu kehilangan semangat tempur, padahal hingga kini mereka berjuang gagah berani. (Serat Kandha, hlm. 1034). Kekecutan hati putra mahkota juga mempengaruhi semangat pasukannya. Di antara pasukan Mataram yang tewas adalah Kiai Ngabei Wirajaya, Panji Wirabumi, dan Kiai Rangga Sidayu (Babad B.P., jil. XII, hlm. 9; Meinsma, Babad, him. 169). Kecuali Pangeran Purbaya, juga Tumenggung Rajamenggala, Aria Pamot, dan Pangeran Blitar masih bertahan (Babad B.P., jil. XII, hlm. 8). Setelah kudanya mati, Pangeran Purbaya masih mempertahankan diri dengan bersenjata keris bernama Panji (Babad B.P., jil. XII, hlm. 10; Meinsma, Babad, hlm. 170). Karena kekebalannya, ia hanya dapat dibuat tidak berdaya oleh banyak orang, dan tulang-tulangnya diremukkan. Tetapi sebelum itu ia mengucapkan kata-kata berikut: Kepada tiga orang raja turun-temurun ia telah berbakti, tetapi tidak pernah terjadi seperti sekarang ini: karena banyak yang tewas atau terluka, laki-laki menjadi penakut seperti perempuan. Mataram ditakdirkan runtuh; ia tidak sudi menyaksikannya. Kemudian Pangeran Blitar menolongnya, dan mengangkut jenazahnya (hanya dalam Babad B.P., jil. XII, hlm. 10). Jenazahnya dimasukkan dalam peti dan dibawa ke Mataram. Ini terjadi pada tanggal 5 Ruwah Dal 1599 (13 Oktober 1676). Banyak prajurit Mataram yang ketakutan, kemudian melarikan diri atau meninggalkan tugas; para pangeran dan bupati terseret dan turut melarikan diri ke Jepara (Babad B.P., jil. XII, hlm. 12). Kaum pemberontak mencoba menangkap mereka, tetapi tidak berhasil. Demikian hebatnya mereka merampok sehingga hal ini dijadikan peribahasa. Menurut Serat Kandha (hlm. 1038), pasukan Mataram dan Mancanagara 125 juga diserang oleh berbagai penyakit, sedangkan bahan makanan tidak ada. Karena itu, putra mahkota terpaksa lari ke Jepara. Orang Madura dan Mancanagara di bawah pimpinan Dandangwacana dan Wangsapati berusaha Keras menangkap mereka yang melarikan diri itu. Jalannya pertempuran ini dilukiskan dengan gaya sastra yang kuat, khususnya mengenai gugurnya Purbaya. Tetapi dalam karya seni ini terdapat juga unsur-unsur sejarah. Misalnya, adanya pasukan Mataram di Jepara yang memang menarik perhatian; mengenai masa itu pihak Belanda mendapat keterangan cukup banyak. Dalam surat yang ditulis Ngabei Wangsadipa antara keberangkatan Poleman dari Jepara (pada tanggal 19 Agustus) dan kedatangan pasukan Jawa yang baru di sana (tanggal 12 September) diterangkan keberangkatan pasukan baru ini dari Mataram, disertai separuh dari para penasihat Mataram ... dan juga para pembesar dari daerah pesisir, para pengawal, para pangeran agung Singasari, Purbaya, Blitar, Raden Wiranapada (Wiranatapada?), Kiai Jaya- menggala, Pangeran Sampan, dan Pangeran Cirebon. Apakah benar-benar para pembesar ini ikut serta, boleh diragukan, tetapi surat ini rupanya bermaksud membuat Pemerintah Kompeni kagum. Anehnya, nama putra mahkota yang menjadi panglima tidak disebutkan. Pada tanggal 12 September 1676, masih sebelum kaum pemberontak menyeberang ke daratan Jawa, Pangeran Adipati Anom dengan tentaranya sudah tiba di Jepara, dan segera mengundang Residen Couper dalam pertemuan bersama yang dihadiri paling sedikit 1.000 orang Jawa. Residen menyambut hormat Pangeran dan menyampaikan hadiah berupa bafta brootchia (bahan katun sederhana dari Benggala) serta sepasang pistol. Setelah mengambil tempat dengan jarak tertentu dari putra mahkota — sudah tentu di tanah — dinyatakannya, sebenarnya lebih baiklah jika dapat ia berjumpa putra mahkota tiga atau empat bulan sebelumnya. Pada pendapatnya, ketika itu Kekuatan Makassar lama telah dapat dibasmi, tidak seperti sekarang, Pemerintahan jadi rusak dan timbul kecurigaan terhadap Kompeni. Diharap- kan dengan kekuatan perkasa Poleman, segala sesuatu dapat diusahakan demi kejayaan Mataram. Putra mahkota menjawab dengan sangat hormat, menyatakan terima kasih atas bantuan yang ikhlas, juga atas nama ayahnya. la datang kini untuk bermusyawarah dengan pihak Belanda mengenai pemulih- an keamanan kerajaan. Setelah itu dengan tegas diperintahkannya agar Penguasa-penguasa pesisir serta para pembesar yang penakut itu bersama dengan pasukan penyerbu melalui lautan dan daratan bergerak menuju Gresik (Daghregister, 20 September 1676). Setelah itu berakhirlah musyawarah tersebut. Pangeran Singasari tidak hadir dalam pertemuan itu, tetapi muncul seorang diri ke loji dengan berkuda, setelah matahari terbenam, untuk meminta 126 sebuah senapan kepada Residen. Setelah diperolehnya, ia menghilang lagi. Tetapi Pangeran Adipati Anom dengan diam-diam datang ke loji pada malam hari pukul 9.00 hanya dikawal oleh tujuh-delapan orang, melalui sungai dengan berperahu. Dalam suasana persahabatan ia ingin berbicara dengan Couper perihal laskar Makassar. Kemudian dimintanya agar Kompeni mau menolong melindungi Kerajaan Mataram sebagai kawan setia, dan tiada akan dilupakannya, bila pada suatu ketika mewarisi kerajaan, ia akan memberi imbhlan tanda setia kepada Kompeni ... . sebagai balas budi. Kita lihat ke arah mana pikiran putra mahkota tertuju. Keesokan harinya tanggal 13 September 1676, putra mahkota tampil lagi dengan iring-iringan besar, beserta Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar (Pangeran Singasari tidak turut serta), Kepala Daerah Ngabei Wangsadipa, dan pejabat istana Jagapati. Mereka melihat-lihat loji dan menyatakan penuh kepercayaan kepada Kompeni. Pangeran Singasari, yang sehari sebelumnya atas permintaannya memperoleh senapan, tidak menyinggung soal perang atau bantuan perang. Sebaliknya, Pangeran Purbaya minta nasihat dari Residen, bagaimana cara yang sebaik-baiknya untuk membasmi musuh di bagian timur dan seterusnya. Couper juga menggunakan kesempatan itu untuk memberitahukan kepada pangeran yang sudah lanjut usia, dan yang luas sekali pergaulannya tentang kesulitan yang dialami Kompeni dan warganya dari para panglima Jawa, dan juga mengenai kemungkinan akibat-akibatnya tidak menyenangkan. Pangeran Purbaya dengan hormat menyatakan terima kasih, dan berjanji hendak menyampaikan hal itu secara pribadi kepada Sunan. Pada tanggal 14 September 1676 Pangeran Adipati Anom menyusul bala tentara yang sudah bergerak maju menuju Gresik. Justru pada saat itu tiba berita dari armada Poleman bahwa kekuatan Makassar di Demung telah dihancurkan. Melalui pos, putra mahkota diberi tahu oleh kepala daerah tentang hal ini, dan ia pun segera kembali dengan memperlihatkan perasaan yang sangat gembira. Tetapi barulah hal ini dapat dipercayainya setelah saksi mata di kalangan orang-orang Jawa sendiri membenarkan berita itu. Setelah itu putra mahkota menyatakan, ”Sekarang orang-orang yang berniat jahat dan tidak percaya akan bantuan yang ikhlas dari Kompeni seharusnya merasa malu,” dan seterusnya. Sebelum ia berangkat ke garis depan, dua di antara kapal-kapal yang datang dari Demung harus mengadakan pertempuran semu, yang sangat menggem- birakan hatinya. Dikatakannya, "Seandainya menjadi raja, ia ingin menikmati permainan seperti itu sebanyak-banyaknya.” Setelah ia berangkat, Pangeran Singasari, yang sama sekali tidak tampak seperti pangeran itu, sekali lagi diberi hadiah sebuah senapan dan sebuah pistol. Kemudian berangkatlah ia seorang diri menyusul pasukan Mataram. 127 Semua pangeran yang disebut-sebut dalam cerita tutur memang hadir. Hanya Pangeran Sampang yang tidak. Menurut Babad B.P. (jil. XII, hlm. 31), mungkin karena ia menginap di luar kota. Hubungan antara Pangeran Adipati Anom dan kakaknya, Pangeran Singasari, tampak tidak serasi; tetapi dengan Pangeran Blitar, putra mahkota kelihatan lebih akrab. Pasukan Jawa dengan perlahan-lahan bergerak maju sehingga tidak dapat diharapkan tiba di Gresik sebelum tanggal 20 Oktober (Daghregister, 27 September 1676). Pasukan itu berkekuatan 30.000 orang. Poleman tidak yakin akan semangat juang mereka, karena terbukti seluruh laskar Jawa dapat dihancurkan oleh musuh yang berkekuatan lebih kecil. Karena itu, pada pendapatnya ada baiknya jika baik pasukan Jawa maupun pemberontak dibuntuti oleh satu atau dua orang Jawa yang dapat dipercaya dengan diberi upah tertentu, dan ditempatkan di tengah-tengah pasukan atau dengan cara lain. Gagasan Poleman itu disetujui oleh Pemerintah Tinggi (Daghregister, 6 Oktober 1676). Tetapi tidak ada tanda-tanda pelaksanaannya sama sekali. Setelah pasukan Jawa tiba di Juwana, mereka menyeberangi sungai dengan bantuan jembatan perahu (Japara, 26 September 1676). Poleman, yang sudah tiba kembali, dinasihati oleh Ngabei Wangsadipa agar berangkat lagi ke Jawa Timur, ia mohon dimaafkan; tak akan dapat lagi diperoleh kayu atau beras. Ini mungkin terjadi sekitar tanggal 18 atau 19 September. Seminggu kemudian mereka tiba di Lasem (Japara, 28 September 1676), kemudian tiba pula di Rembang, dan di sana Pangeran Adipati Anom berkunjung ke kapal layar Laeren. Kapten Jan Franszen menyuruh anak buahnya menyambut kedatangan putra mahkota dengan tembakan kehormatan dan minuman anggur. Namun, putra mahkota sangat menyesali Couper, yang dianggapnya telah menipunya (Daghregister, 2 Oktober 1676). Rupanya, Couper membayangkan bahwa Poleman akan kembali, tetapi ternyata ia terus berlayar ke Batavia. Pada tanggal 12 Oktober 1676 Couper memberitakan dari Jepara bahwa putra mahkota berada di Tuban, telah menahan 40 orang Madura (Daghregister, 10 Oktober 1676). Tetapi mereka segera dibebaskan kembali dan dikirimkan kepada Raja Trunajaya dengan disertai surat permintaan kepada pemberontak besar agar ia menyerah pada Mataram — kalau tidak, putra mahkota tidak akan kembali ke Istana sebelum menangkap Trunajaya. Surat demikian itu mungkin cocok dengan sikap loyal putra mahkota, tetapi tidak pembebasan orang-orang Madura. Diberitakan pula, Pangeran Adipati Anom setelah mendengar desas-desus bahwa Kraeng Galesong bersama 9.000 prajurit Madura, Makassar, dan Jawa yang telah menyeberang pada pihak musuh akan datang, kemudian berkemah di sebelah timur Tuban dan menunggu bantuan Yang Mulia; jadi untuk memastikan apakah bantuan dari Batavia akan datang. Bagaimanapun, tentaranya tidak bergerak maju. Dan nasib terburuk dikhawatirkan akan menimpa tentaranya, sekalipun jumlah 128 & mereka diperkirakan 90.000 orang. Bahwa tentara sebesar itu tidak meneruskan gerakannya tentulah menimbulkan kecurigaan. Apa yang terdengar setelah mala petaka itu terjadi memang membenarkan kecurigaan itu. XI-—5 Berita kekalahan Pada tanggal 16 Oktober tiba di Jepara pedagang-pedagang kayu (Cina) yang telah melarikan diri dari daerah Rembang dengan membawa berita buruk: tentara Pangeran Dipati yang berkekuatan 80.000 orang telah dikacaubalaukan hanya oleh 1.500 orang Madura dan Makassar, dan melarikan diri sampai Nanlasam (Daghregister, 23 Oktober 1676). Pangeran Purbaya, Kiai Wirajaya, dan Rangga Sidayu tewas. Putra mahkota ada di Juwana. Ketika Couper tiba di Rembang beberapa hari kemudian, ia dapat melihat sendiri kekalahan yang diderita. Semua rumah dan kapal telah dihancurkan dan dibakar, juga perahu-perahu milik Daniel Dupree yang sedang dikerjakan. Di pedalaman tampak banyak orang Madura bergerak maju. Pada saat Couper hendak berangkat muncul salah seorang di antara mereka, yaitu Ngabei Dipayuda. Secara tertulis ia meminta berbicara dengan Couper di daratan. Couper tidak menghiraukannya, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada orang-orang Jawa. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa Pangeran ‘Adipati Anom telah memerintahkan agar mereka bertindak demikian, dan harus terus bergerak maju melalui Juwana, Pati, Kudus, sampai Jepara. Maka, jelaslah sudah bahwa Pangeran Adipati tidak mempunyai itikad baik terhadap Kerajaan ayahnya sendiri. Sebab, tempat-tempat yang baru saja dilalui tentaranya keesokan harinya segera diduduki laskar Madura. Di samping itu, orang-orang Jawa dari Rembang dan dari kota lain menyebarkan desas-desus bahwa Adipati berseru pada laskar Madura dan Makassar agar melakukan perang ini, sehingga dengan demikian lebih memudahkan bagi kakak dan dirinya sendiri menguasai kerajaan. Memang Couper menganggap tewasnya Pangeran Purbaya, paman Adipati dan orang yang paling disayangi itu, tidak begitu mudah dapat dicocokkan dengan desas-desus, begitu juga permintaan bantuan kepada. Kompeni dalam melawan kaum pemberontak, selain kecurigaan bahwa akhimya — sebagai pembalasan — akan memberikan perlakuan yang setimpal terhadapnya. Tanggapan Residen yang terakhir itu memang tepat sekali. XI-—6 Dua buah laporan Keadaan menjadi agak diperjelas sesudah datang surat dari dua orang panglima pada waktu yang sama di Batavia. Mula-mula tibalah surat dari panglima pemenang, yang dengan gagah menamakan dirinya Raja Maduretna. 129 Pada tanggal 7 November 1676 (Daghregister) diserahkan surat-surat dari Daniel Dupree yang dikirim dari Madura ke Pemerintah Kompeni. Menurut pemberontak besar itu, tentara Mataram berkekuatan 200.000 orang bersenjata dan 100.000 rakyat jelata (kuli). Pasukan Madura sendiri yang kecil itu hanya berkekuatan 200 orang bersenjata dan 1.000 rakyat biasa. Tetapi di sebelah timur Tuban, di sebuah sungai besar (Solo), pasukan yang kecil itu menghadang musuhnya dan dengan berkat Tuhan dapat mengalah- kannya. Karena itu, orang-orang Mataram lari cerai berai, sampai ke Juwana. Di antara yang tewas ialah: Pangeran Purbaya, Ngabei Wiradayu, Ngabei Indabang, Ngabei Wirawangsa, Ngabei Anong-Anong, dan Ngabei Toncock. Dari pasukan rakyat jelata 1.000 orang tewas; dari kaum pemberontak hanya dua orang penjaga.!? Pada waktu itu juga para utusan Pangeran Adipati Anom, yaitu Lurah Sendi, Lurah Wiradipa, Lurah Sutawangsa, dan Lurah Gati, menyampaikan dua buah surat, yang satu untuk Gubernur Jenderal dan yang lain untuk Syahbandar Ockerse. Dalam surat yang pertama diberitakan tentang tewasnya pamannya yang tertua, Pangeran Purbaya, yang berperang melawan orang-orang dari Madura, Galesong dan Makassar. Pasukan Mataram dipukul mundur. Surat itu bernada lebih lugas. Namun, apa yang tidak disebutkan oleh Raden Trunajaya terdapat dalam surat itu dan juga di dalam cerita tutur, yaitu tentang adanya kerja sama antara Madura dan Makassar. Dalam suratnya kepada Ockerse, putra mahkota menyebutkan kekalahannya sebagai akibat kurangnya keberanian di pihak Mataram, dan memberitahukan selain tewasnya pamannya juga Rangga Sidayu dan Wirajaya. Dengan surat itu, apa yang terjadi di medan Pertempuran Gegodog tetap tidak sangat jelas. Mau tidak mau, suatu hipotesa harus dibuat. Mungkin putra mahkota bermaksud mengadakan Pertempuran semu melawan Raden Trunajaya, cara yang bukan tidak biasa terjadi di kalangan orang Jawa. Niat ini tidak dapat disembunyikannya terhadap Istana. Karena itu, ia harus disertai oleh Pangeran Purbaya, Ppamannya yang berwibawa itu, dan juga oleh saudara-saudaranya: Pangeran Blitar dan Pangeran Singasari, serta pembesar-pembesar lain. Hal ini pasti bukan menjadi rahasia bagi Pangeran Blitar. Itulah pula yang menimbulkan kesulitan bagi putra mahkota, 19 Dalam pembicaraannya dengan utusan Belanda, yaitu orang Mor bernama Piero, Raden Tranajaya menyebutkan Kiai Wiraangon. Kepala Pangeran Purbaya juga dibawa ke Melaya, Madura, sehingga jenazahnya pasti tidak dapat diselamatkan Pangeran Blitar secara utuh Gonge, Opkomst, jl. VI, lm. 92). Bagi Pangeran Blitar sudah tentu ada tugas lain yang jauh lebih penting. Sebaliknya, Couper dalam suratnya dari Jepara tanggal 19 Oktober 1676 memberitakan bahwa putra mahkota diselamatkan oleh saudara-caudaranya, Pangeran Blitar dan Pangeran Singasari. 130 dan penyebab keragu-raguannya di Tuban: penyerahan 40 tawanan perang, dengan disertai ancaman. Karena kehabisan akal ia tidak mau berbuat apa pun lagi, lalu berkubu di Gegodog, dan menunggu. Sikap bimbang putra mahkota dan desas-desus tentang pengkhianatan yang direncanakannya itu mematah- kan semangat bala tentaranya yang begitu banyak. Kebimbangan dan sikap kebingungan mengambil keputusan ini tentu menimbulkan rasa heran dan kesal di pihak musuh. Niat pihak musuh yang, semula cenderung hendak mengadakan perang semu segera pudar, karena timbulnya nafsu hendak melancarkan serangan benar-benar terhadap pasukan Jawa yang bimbang itu, agar tercapai kemenangan mutlak — terutama dari pihak Makassar yang sesungguhnya tidak menghiraukan persoalan-persoalan di pihak Jawa. Main-main jadi sungguhan. Bala tentara Jawa yang besar itu dengan mudah dapat dikocar-kacirkan. Sejumlah orang yang tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya dan sungguh-sungguh hendak bertempur mene- mui ajal. XI—7 Pangeran Adipati Anom mundur, Oktober—Desember 1676 Menurut cerita tutur (Babad B.P., jil. XII, hlm. 12, Meinsma, Babad,him. 170; Serat Kandha, hl. 1040-1042), Pangeran Adipati Anom bersama saudaranya, Pangeran Singasari, melarikan diri dan menginap satu malam di Jepara. Keterangan yang terakhir ini tidak benar, dan juga tidak sesuai dengan perjalanan yang ditempuhnya. Sebaliknya, dari pihak Belanda diberitakan, ia melakukan perjalanan melalui Juwana, Demak, dan Semarang ke Mataram. Tidak lama setelah kekalahannya itu putra mahkota mengirimkan surat kepada kepala daerah Jepara, yang meminta supaya disampaikan permohonan kepada Residen Couper agar menemuinya di Juwana (Daghregister, 23 Oktober 1676, hlm. 275). Karena itu, bergegaslah Couper pergi ke sana dan pada tanggal 25 Oktober berjumpa dengan putra mahkota yang tentaranya baru saja menderita kekalahan besar (Daghregister, 5 November 1676, hlm. 287). la mengeluh tentang nasibnya yang malang dan merasa sedih karena kehilangan pamannya, dan selanjutnya dengan sangat dimintanya bantuan. Ayahnya, karena lanjut usia dan badan yang lemah, tidak dapat menulis sendiri atau mengirimkan utusan, tetapi dia, selaku pemegang wewenang penuh dan pewaris, akan melakukannya. Couper juga menyaksikan bala tentara pangeran. Para prajuritnya, atau lebih tepat para pelarian itu, bukannya berkumpul di lapangan, tetapi ... tersebar dalam kelompok-kelompok kecil di desa-desa dan rumah-rumah di sekelilingnya, dan setiap waktu siap segera melarikan diri seketika laskar Madura datang apara, 23 Oktober 1676). Orang-orang Belanda- juga menyaksikan tempat-tempat yang dilalui tentara putra mahkota yang keesokan harinya segera diduduki oleh orang-orang Madura (Daghregister, 5 131 November 1676, him. 288). Rupanya, Pangeran Adipati Anom tidak dapat berjalan dengan aman (Japara, 29 Oktober 1676). Dari Juwana ia menarik tentaranya mundur ke Demak, dan selanjutnya melalui Semarang segera menuju ke Mataram, karena pada pendapatnya suasana di Demak masih belum aman. Tentaranya ditinggalkan di sana (Daghregister, 12 November 1676, him. 297). Bahwa pasukan yang ditinggal pergi begitu saja oleh panglimanya di kota suci itu masih mampu melakukan perlawanan yang kuat justru menimbulkan keheranan. Memang aneh jika diingat bahwa kepergian panglima yang demikian itu, dan yang menimbulkan kecurigaan bagi bawahannya, justru meningkatkan semangat tempur pasukannya daripada melemahkannya. Hari Minggu tanggal 18 November 1676, Pemerintah Kompeni mendapat berita lisan bahwa rakyat Mataram di Demak dan sekitamnya mempertahankan diri dengan gigih sekali terhadap serangan orang-orang Madura, dan dapat melakukan perlawanan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya (Daghregis- ter, 18 November 1676, hlm. 303). Cerita tutur juga mencatatnya dan menceritakan bahwa hal itu disebabkan oleh kuatnya kubu pertahanan kota (Meinsma, Babad, hlm. 170). Sementara itu, Serat Kandha menyebutkan, panglima pasukan yang mempertahankan diri itu, Kertajaya, mungkin bukan penduduk Demak, tetapi seorang pemimpin bala tentara Mataram. Seorang pemimpin Madura, Wangsapati, dikabarkan tewas. Pangeran Adipati Anom tiba di Semarang tanpa pasukan’ lagi, tetapi saudaranya yang berpengaruh itu, Pangeran Singasari, mungkin berada bersamanya. Setidaknya ia memang menerima perintah supaya menghadap ke Istana (Laporan Couper dari Batavia, 7 November 1676). Setelah sampai di sana kakak-beradik itu diperintahkan agar pulang ke dalem masing-masing, tanpa boleh melihat atau berbicara dengan ayahnya (Daghregister, 29 Desember 1676, him. 368). Untuk memperlihatkan kemarahannya, Raja segera menyerahkan kekuasaan atas istananya dan seluruh Mataram kepada putranya yang ketiga, Pangeran Martasana. Di Juwana putra pertama agaknya sangat mengkhawatirkan keadaan Kesehatan Raja dan ayahandanya itu. Selain itu Raja tidak dapat memutuskan suatu apa, sehingga beberapa orang pembesar yang setia . . . memperingatkan serta menyampaikan nasihat, agar Sri Baginda meninggalkan istananya dan menata kembali masalah-masalah yang dihadapinya. Raja yang lemah itu memberi jawaban bahwa andai kata para Pangeran, putra-putra-(nya), dan juga pembesar-pembesar lainnya mempu- nyai itikad yang baik, maka tidak perlu baginya roetenirage diri, sebelum musuh sampai ... di depan pintu gerbang. Pada awal Januari 1677 Sunan menyerahkan seluruh Mataram kepada Kkeempat putranya, masing-masing atas bagiannya sendiri seperti telah 132 ditentukan berikut kekuasaannya (Surat dari Tegal, 9 Januari 1677). Bahwa mereka itu bersatu rasanya tidak dapat dipercaya orang. Puger dan Martasana ingin berangkat ke medan perang saat itu, tetapi ditolak Sunan, karena terlebih dahulu ia ingin menunggu utusan Mataram kembali dari Batavia. Sementara itu, bencana kelaparan berkecamuk, sehingga Sunan harus membuka gudang-gudang padi miliknya. XI-—8 Kedudukan Ngabei Wangsadipa, November—Desember 1676 Pada tanggal 5 November 1676 muncul di Jepara beberapa orang kaya dari Mataram. Mereka membawa perintah dari Sunan tentang pengangkatan Negabei Wangsadipa sebagai penguasa tertinggi atas seluruh daerah pesisir Jawa. Semua bupati di dalam kawasan ini ditempatkan di bawah kekuasaannya (Daghregister, 2 Desember 1676, hlm. 327). Kekuasaannya itu ditegaskan dengan suratnya kepada Pemerintah Kompe- ni, dan bahkan diberikan penjelasan bahwa menurut perintah Sunan: "jika seluruh daerah pesisir . . . dipulihkan kembali dan dengan bantuan tuan-tuan Madura dapat direbut, dan rakyat serta segala yang ada di pulau itu dapat menaati perintah Tuan-Tuan; maka seluruh daerah pesisir itu pun bila Tuan-Tuan menghendaki, akan diserahkan oleh Sunan” (Daghregister, 2 Desember 1676, hlm. 326). Apakah ini bukan hanya basa-basi saja? Ja juga diberi kekuasaan “untuk dengan sekehendak hati saya membunuh mereka, baik yang besar maupun yang kecil, yang tidak mau patuh kepada saya.” Ia pun melaksanakan kekuasaannya itu dengan menghukum mati semua orang Jawa yang bersekutu dengan orang Madura (Daghregister, 2 Desember 1676, hlm. 327). Pemerintah Kompeni pun selanjutnya dapat mengharapkan penyerahan sapi, domba, ayam, dan bahan makanan lainain serta beras sampai sejumlah 100—200 pikul, yang rupanya dapat dilakukannya sebagai penguasa atas semua pelabuhan Mataram (Daghregister, 5 Desember 1676, him. 330). Akan tetapi kedudukan Ngabei Wangsadipa sesungguhnya masih belum mantap sama sekali. Ngabei Wangsadipa mungkin sekali cenderung berpihak pada Kompeni, tetapi orang-orang Jawa lainnya merasa tidak senang atas campur tangan Belanda dalam soal-soal Jepara. Tanggapan penguasa pesisir tertinggi Singawangsa sudah disebut terdahulu. Tekanan laskar Madura memperbesar kecurigaan itu. Nada yang sama tersirat dalam* surat perintah yang pada tanggal 25 November 1676 dibawa oleh empat priayi atas nama Sunan (Daghregister, 9 Desember 1676, him. 334): Kepala daerah hendaknya menyerahkan Kota Jépara kepada pemerintah Belanda dan bersama rakyat Mataram kembali ke Istana. Ngabei Wangsadipa merasa tidak senang meninggalkan Jepara, dan menyerahkan diri kepada lawannya. Pengosongan kota itu dianggapnya berlawanan dengan kesejahteraan Mataram sendiri, dan 133 perintah jtu sebagai akibat pengaruh beberapa orang yang beritikad jahat dan berhati dengki terhadap kesejahteraan kerajaan. Sebenarnya ia bahkan telah beberapa kali menawarkan tampuk pemerintahan dan soal-soal peradilan di Jepara kepada Van der Schuyr, tetapi tidak mendapat sambutan. Tetapi di daerah Jepara pun timbul tentangan. Pada tanggal 22 November terjadi gempa bumi, dan muncullah bermacam-macam ramalan dari pelbagai sesepuh orang Jawa, antara lain bahwa orang Belanda selanjutnya tidak akan ‘menenggang lagi orang Jawa melakukan syariat agamanya. Karena itu, dianjurkan agar mau memberikan sedikit sedekah. Sejak itu mereka dengan senang hati melakukan kewajiban sehari-hari seperti sediakala. Kepala daerah yang mudah percaya pada takhyul itu hendak ditakut-takuti mereka dengan ramalan bahwa ia di dalam Kota Jepara akan dibunuh oleh orang Madura. Karena itu, ia tidak berani memperlihatkan diri di luar daerah permukiman Belanda, sekalipun Van der Schuyr menugasi sepuluh orang di bawah pimpinan seorang sersan untuk mengawalnya. Bab XII Kemenangan Madura Oktober—Desember 1676 ‘ XII-1 Bergerak maju, Oktober—November 1676 etelah memperoleh kemenangan di Gegodog, orang-orang Madura dengan cepat bergerak maju ke arah barat. Sekitar tanggal 17 atau 18 Oktober 1676 mereka sudah mendekati Lasem (Daghregister, 23 Oktober 1676, hlm. 275). Rembang telah dihancurkan dan dibakar, yang dapat disaksikan pula oleh Residen ketika pada tanggal 24 Oktober mengunjungi kota itu. Perahu-perahu yang belum selesai dibangun di galangan milik Daniel Dupree pun tidak luput dari kehancuran. Di daerah pedalaman setiap hari terlihat banyak orang Madura lalulalang (Daghrgistr, 5 November 1676, hlm. 287). Karena kedatangan kapal-kapal Belanda, Juwana masih belum pate 4s oleh pasukan Madura, tetapi penduduknya sudah bersiap-siap hendak mengungsi. Penguasa daerah itu, dengan membayar imbalan berupa candu sepikul dan uang 100 ringgit, dapat menghindarkan pembakaran atas kotanya. Jepara dihinggapi suasana putus asa yang paling parah. Kepala daerah dan pembesar-pembesar lainnya dengan kepala terkulai duduk di paseban dan menyatakan kepada Residen bahwa Jawa akan musnah bila tidak dicegah oleh Kompeni, disertai keluhan tambahan mengenai tindakan-tindakan salah Mayor Poleman (Daghregister, 23 Oktober 1676). Pendeknya, betapa erperanjat dan putus asa orang Jawa hampir tidak dapat dipercaya Gecinepster, 5 November 1676). Pada saat itulah muncul musuh di depan gerbang. XII-2 Serangan atas Jepara, November 1676 Mengenai pengepungan Jepara, keterangan dalam cerita tutur yang panjang lebar mirip dengan berita saksi mata dari orang-orang Belanda (Babad B.P., jil. XII, him. 12-18; Meinsma, Babad, him. 170-171; Serat Kandha, him. . 135 oe ~ » = 1040-1044). » Setelah para pangeran mundur ke Ibu Kota, kaum pemberontak bergerak maju di bawah pimpinan Mangkuyuda dan Daeng Marewa. Mereka merampok, merampas, dan membakar begitu dahsyatnya sehingga lahir Perumpamaan: "seperti perompak Sampang” (Bajag Sampang tuhu kalamun baring). Demikian pula Juwana, Pati, dan Kudus jatuh ke dalam tangan mereka. Hanya Demak dapat mempertahankan diri dengan gigih. Gelar perang mereka dinamakan “prit aneba”, bagai kawanan burung pipit menyerbu padi di sawah (Babad B.P., jil. X11, him. 13). Laskar Madura mundur ke arah timur, dan meminta bala bantuan dari Madura dan bagian timur Jawa. Kemudian mereka menyerang Jepara. Ngabei : Wangsadipa melakukan patroli di dalam kota, bersama Kompeni yang i mempunyai dua brigade di sana. Putra-putra Ngabei Wangsadipa tegak di j depan: Kiai Jagapati, Kiai Wangsamenggala, Wangsaprana, Wiragati, Imareksa, dan Wiramantri (Babad B.P., jil. XII, hlm. 14). Opsir-opsir Belanda ialah: Mayor Ebron atau Bro, Kapten Belem atau Willem, dan seorang letnan. Pasukan Belanda, dengan panji-panji dan genderangnya, mengambil posisi di alun-alun dalam bentuk persegi empat. Di sana terjadilah pertempuran dengan senapan dan meriam. Laskar Madura melarikan diri, meninggalkan empat puluh orang yang tewas, dikejar oleh Ngabei Wangsadipa dan putra-putranya. Sekalipun laskar Madura itu memakai baju zirah dan kulit, mereka kalah. Mereka berkedudukan di Jagatamu atau Jogo Tressing (Serat Kandha 1043). Setelah kemenangan ini, *Ngabei Wangsadipa mengadakan musyawarah. Diputuskan untuk mengang- | Kut meriam-meriam ke atas Gunung Danareja, yang segera dilaksanakan. I Babad B.P. menyebut nama berbagai meriam: Kiai Gulu, Kiai Singalodra, Kiai Gunturgeni, dan Kiai Kumbarawi. Tembakannya menimbillkan kehancuran hebat, sehingga musuh lari ke Kudus, dan meninggalkan hasil rampasannya (Babad B.P., jil. XI him. 7). Ngabei Wangsadipa memberitahukan kemenangan ini kepada Baginda dengan mengirimkan salah seorang putranya ke Mataram, yang membawa potongan telinga kaum pemberontak yang mati. Dalam garis besar, penggambaran cerita tutur cocok dengan berita para petugas Kompeni di Jepara, seperti dikemukakan di bawah ini. Sebelum berita menyedihkan tentang kekalahan di Gegodog itu sampai Batavia, Pemerintah Kompeni — setelah mendengar berita-berita yang mengkhawatirkan dari Jepara — sudah memutuskan untuk segera mengi- rimkan tiga buah kapal dengan 200 orang prajurit (Realia, Keputusan 30 Oktober 1676). Mereka akan dipimpin oleh wakil kaum pedagang Everart van der Schuyr, pengganti Residen Couper. Pada tanggal 4 November 1676 pasukan itu meninggalkan Teluk Batavia (Daghregister). Berita tentang mala 136 7 * petaka yang timbul sehari sesudah itu (Daghregister, 5 November 1674) membenarkan manfaat pengiriman pasukan itu. Sementara itu, Jepara dicekam suasana putus asa yang hebat. Penduduk melarikan diri; di antara mereka bahkan sampai di Banten, tempat persinggahan kapal-kapal yang penuh dengan pengungsi berikut istri dan anak (Daghregister, 7 dan 12 November 1676, hlm. 292 dan 296). Demi kewaspadaan dan keamanan, segala harta benda dan kekayaan Kompeni dimuat ke dalam kapal kici Snauw. Karena Ngabei Wangsadipa yang sudah putus asa itu tidak dapat mengandalkan siapa pun, maka Couper merancang siasat pertempuran: di jalan yang menuju Kudus, di suatu tempat yang menyempit, akan ditempatkan 500 orang serdadu untuk melakukan pencegatan. Siasat ini tampaknya lebih baik daripada pertempuran di dalam kota. Ngabei Wangsadipa menyetujui rancangan itu (Laporan dan ikhtisar singkat dari Couper tanggal 7 November 1676), tetapi apakah rencana itu dilaksanakan? Setelah keberangkatan Couper pada tanggal 2 November 1676, ternyata kekacauan menjadi-jadi. Kudus jatuh, dan pengungsi berbondong-bondong, mengalir dari sana dan tempat-tempat lain ke Jepara (Daghregister, 2 Desember 1676, him. 327). Barangkali di antara mereka terdapat pula mata-mata Madura. Seluruh daerah itu, lautan dan daratan, menjadi tidak aman karena perampokan yang dilakukan oleh orang-orang Madura yang merantau. Pengiriman Wakil Kepala Daerah (Patih?) Wangsaprana dan Syahbandar Mirmagati tidak menghasilkan sesuatu. Satu-satunya berita yang terdengir mengenai pengiriman tersebut: Syahbandar kehilangan meriamnya, dan” dengan amat memalukan melarikan diri, sehingga ada perintah agar membunuhnya, ike selanjutnya ia tidak memperlihatkan sikap yang lebih baik. Pada tanggal 14 November 1676 Van der Schuyr tiba di Jepara, disambut oleh kepala daerah dan penduduk dengan perasaan lega. Oleh desakan dari pihak Jawa yang berulang kali, residen baru itu, bersama beberapa orang opsir dan seratus orang prajurit, mulai melakukan pengintaian atas Kota Jepara dan sekitamya. Tetapi ia menolak usul untuk menyerang orang-orang Madura yang membakar habis segala-galanya atau menduduki lima kubu pertahanan Wi: tanggal 20 November 1676 laskar Madura dengan berani menyerang kota sambil membakar apa saja yang merintangi. Mereka maju mendekati alun-alun. Semuanya nyaris jatuh ke tangan mereka jika tidak dihalangi oleh pasukan Belanda yang kecil itu (Daghregister, 2 Desember 1676, hlm. 328)!. Walaupun orang Madura berseru-seru menyatakan tidak berniat melawan Kompeni, dengan bantuan kepala daerah, mereka terpukul mundur setelah menderita banyak korban. Pembesar Jawa ini bertempur dengan berani, tetapi 137 tidak dapat berbuat banyak karena telah ditinggalkan para abdinya. Di pihak Belanda tidak seorang pun yang tewas, sedangkan di pihak Madura sebagian besar tewas. Bagaimanapun kejadian itu sebenarnya dapat disimpulkan dari kata-kata nasihat yang diucapkan oleh penguasa pesisir tertinggi Singawangsa, “Biarkan Wangsadipa dan orang-orang Belanda itu bertempur, kita tidak akan memberi bantuan kepadanya.” Hal ini menyebabkan Ngabei Wangsadipa sangat ketakutan, sehingga atas permintaannya ditempatkan satu kompi serdadu di benteng Gunung Danareja, sedangkan salah satu pos pertahanan terkuat di pantai, di dekat dermaga, dijaga para kelasi. Kubu-kubu pertahanan lainnya jadi dikosongkan dan sebuah meriam Jawa lalu diambil dan digunakan oleh Belanda. Keadaan demikian membuka kemungkinan untuk direbut musuh. Laskar Madura berkedudukan di luar kota, dan di sana mereka membuat pertahanan. Dua di antara pos mereka, harus merebut air bersih dari Belanda, tetapi gagal, walaupun sempat mengakibatkan orang Belanda terpaksa menggunakan air sumur yang keruh atau payau. Atas protes tertulis dari Residen — Jepara berada di bawah perlindungan Kompeni — orang Madura menjawab dengan sangat hormat: Tanpa perintah dari gusti mereka, Raja Maduretna, mereka tidak boleh meninggalkan tempat itu. Mereka diberi tugas merebut Jepara dan melawan pihak Jawa, tetapi tidak boleh melawan orang Belanda, ya, mereka bahkan tidak boleh mempertahan- kan diri dari serangan orang Belanda, meskipun harus menderita seratus atau dua ratus*korban jiwa! Tetapi pihak Belanda setelah bermusyawarah dengan Kepala Daerah memutuskan bertindak terus. Untuk menyerang kubu pertahanan Madura disiapkan beberapa meriam, antara lain sebuah meriam inggu besar yang dapat menembakkan peluru seberat 36 pon, yang dinamakan "zultan” oleh serdadu Belanda. Dari meriam ini dilepaskan beberapa kali tembakan, yang lebih mengejutkan daripada menghancurkan lawan. Keesokan harinya tidak tampak seorang prajurit Madura pun beserta pengikut-pengikutnya. Tetapi mereka mengangkut delapan meriam besi — yang sebelumnya direbut dari tangan Wangsaprana — serta 7 sampai 800 orang tawanan sebagian besar perempuan dan anak. Dengan mudah pasukan Jawa dapat membebaskannya. ‘Tetapi mereka biarkan saja. Seluruh kekuatan musuh terdiri dari 2.000 orang Madura dan 8.000 orang yang ikut-ikutan saja (Daghregister, 9 Desember 1676. him. 333; Japara, 30 November 1676; K.A. No. 1211). Dibandingkan dengan 199 pucuk meriam yang masih ketinggalan di Jepara, kehilangan 8 meriam kecil itu tidak berarti. Dan beberapa hari kemudian meriam-meriam ini dikembalikan oleh penduduk Kudus yang memang patuh (Daghregister, 19 Desember 1676, hlm. 344). Jadi, kota suci ini pun telah dikosongkan oleh orang Madura. 138 Kemenangan-kemenangan ini memperkuat kedudukan Ngabei Wangsadi- pa — juga di Istana Mataram. Dari Mataram ia menerima sepucuk surat yang memerintahkan agar bekerja sama dengan orang Belanda dengan penuh kepercayaan dan persahabatan, bahkan supaya sekali lagi mengajukan permintaan bantuan dan dukungan kepada Batavia (Daghregister, 20 Desember 1676, hlm. 345). Akan tetapi jabatan penguasa tertinggi atas daerah pesisir tidak diberikan kepadanya lagi. Sekalipun tugas yang harus dilakukan oleh pasukan Belanda memang berat — karena itu kepala daerah diminta supaya menyediakan daging dan bahan makanan bagi mereka — hasil tugas mereka boleh dibanggakan. Jepara hidup kembali! Penduduk kembali ke rumahnya yang sudah kosong atau terbakar habis (Daghregister, 9 Desember 1676, him. 334). Pada awal bulan Desember 1676 jumlah penduduk semakin bertambah, dan mereka memperlihatkan "sikap hormat dan segan terhadap kami, sama seperti terhadap kepala daerah dan bupatinya,” demikian diberitakan oleh Van der Schuyr. XII—3 Madura merebut semua pelabuhan sampai Cirebon, Desem- ber 1676—Januari 1677 Poleman memang tidak dapat menghancurkan kekuatan Makassar, tetapi berhasil merampas sebagian besar kapal mereka. Setelah itu, hanya laskar Maduralah yang tampak kuat, baik di darat maupun di laut. Jepara, yang ternyata terlalu kuat, tidak mereka serang. Tetapi sampai tanggal 23 Desember 1676 (Daghregister) Batavia masih berpendapat bahwa daerah pesisir sampai Semarang pun masih dapat disinggahi, bahkan dapat menyerahkan banyak beras kepada Kompeni. Di Banten para pembesar berpendapat lain tentang hal itu. Sultan mengirimkan empat kapal perang ke Cirebon, untuk menjalin hubungan yang lebih erat andai kata . . . laskar Madura yang sedang menuju arah barat itu pun sudah sampai di sana (Daghregister, 19 Desember 1676). Memang ternyata pada hari Natal (Daghregister) laskar Madura di .. . sebelah barat Jepara sudah jauh maju, dan bahkan telah merebut dan membakar kota yang penting, Semarang. Seharusnya, sebelum itu Demak pun yang telah begitu lama dengan gigih dapat mempertahankan diri — sehingga Batavia kagum karenanya — sudah jatuh pula. Tetapi pada awal bulan Desember, 11.000 prajurit Mataram yang sampai saat itu mempertahankan kota tersebut mulai meninggalkannya, mungkin karena kekurangan bahan makanan (Japara, 9 Desember 1676, K.A. No. 1211). Setelah itu, Residen van der Schuyr pada tanggal 7 Januari 1677 memberitakan kepada Speelman bahwa pada tanggal 11 dan 12 Desember, Demak berikut Semarang sudah jatuh; kedua tempat itu telah menjadi abu (Speelman mengabarkannya dari Tegal 9 Januari 1677, K.A. No. 1211). Kepala Daerah Semarang, Nayacitra, melarikan diri secara pengecut, . 139 sedangkan bawahannya, Astrayuda — umbul yang telah tua itu — menyeberang ke pihak musuh (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 200). Pada hari menjelang tahun baru, sebuah kapal Cirebon yang berlabuh di Banten memberitakan bahwa laskar Madura sudah merebut Pekalongan (Daghregister, 1 Januari 1677), yang diduga terjadi kira-kira sekitar hari Natal. Kepala daerah merangkap penguasa pesisir Singawangsa ikut dengan musuh. Tegal baru jatuh pada tanggal 2 Januari 1677 tanpa kekerasan. Mengenai hal ini kita mempunyai keterangan yang terinci. Armada Madura yang terdiri atas 24 konting muncul di teluk. Pemimpin-pemimpinnya bernama Ngabei Sindukarti, paman Raden Trunajaya, dan Ngabei Langlangpasir. Mereka selain memimpin orang Madura sendiri, juga banyak sekali orang dari Demak, Kendal, Kaliwungu, dan Pekalongan yang sekadar ikut-ikutan saja. Kepala Daerah Wirasuta, yang dipanggil ke pelabuhan, datang dengan 1.500 orang. Sampai larut malam diadakan pembicaraan; lalu Wirasuta berjanji akan memperkenankan mereka keesokan harinya masuk di dalem-nya. Demikianlah yang terjadi sehingga utusan Belanda Jacob Couper tidak dapat masuk. Orang-orang Madura itu hanya hendak membuat inventaris tentang persenjataan yang ada, dan pada tanggal 4 Januari akan meneruskan pelayaran mereka ke Cirebon dan Indramayu. Karena Wirasuta berjanji akan menyerahkan tiga buah perahu kepada mereka melalui lurah-lurahnya, maka dapat kita perkirakan bagaimana armada Madura yang terdiri atas 24 layar itu telah dibangun (Couper dari Tegal tanggal 3 Januari 1677). Setelah itu pada tanggal 5 Januari 1677 muncul orang-orang Madura di pelabuhan Cirebon (Speelman dari Tegal tanggal 9 Januari 1677). Perahu mereka yang berjumlah dua belas buah itu diperlengkapi dengan senjata api cukup banyak, hanya berkekuatan 150 orang. Cirebon ketika itu diperintah oleh Kepala Daerah Martadipa, karena para pangeran Cirebon sudah lama bermukim di Mataram. la menerima tujuh pasal syarat penyerahan yang disodorkan atas nama Raden Trunajaya, beberapa di antaranya benar-benar menarik. Syarat-syarat itu berbunyi sebagai berikut: 1. tidak perlu lagi membayar pajak; 2. perlindungan bagi wanita dan kanak-kanak; 3. tidak ada lagi sandera yang dikirimkan ke Mataram; 4. orang Cirebon selanjutnya berada di bawah rajanya sendiri; 5. di bawah jaminan hak-hak Sultan Banten; 6 asalkan saja orang Cirebon mendukungnya dengan senjata dan mengakuinya sebagai gusti pelindung; 7. raja Cirebon yang tinggal di Mataram, apabila daerahnya diserang oleh Madura, harus memasang janur sebagai tanda menyerah kalah. Sebagai penutup terdapat beberapa ancaman jika ultimatum itu ditolak. Memang diketahui kemudian semua rumah di daerah permukiman, sebagai tanda takluk berhiaskan janur. Dengan demikian, janur merupakan tanda pernyataan diri sebagai yang lebih rendah. Atau umbul-umbul kehormatan untuk menandakan perasaan gembira? 140 Setelah penyerahan terhadap Madura itu, kepala daerah diberi nama Reksanegara — yang justru menyindir apa yang sebelumnya tidak dilakukan- nya. Maka kebanyakan penduduk memutuskan melarikan diri, sekalipun kebebasan yang ditawarkan kepada orang Cirebon itu mestinya jauh lebih menyenangkan daripada belenggu berat Mataram yang menjerat leher. Tawaran perdamaian dari orang Banten agaknya tidak begitu menyenangkan bagi mereka. Teristimewa ketika di teluk kelihatan muncul enam kapal perang Banten (Daghregister, 1 Februari 1677). XII-3 Madura melawan Makassar Desas-desus mengenai pertikaian antara Makassar dan Madura sudah terdengar di Batavia sejak minggu-minggu terakhir bulan Desember 1676. Setelah mendapat pukulan di depan pantai Jepara, laskar Madura diberitakan mundur ke arah timur, dan laskar Makassar memisahkan diri, dan kembali ke Demung (Daghregister, 29 Desember 1676, hlm. 368). Karena pada tanggal 25 November 1676 perkubuan Madura di dekat Jepara ditemukan dalam keadaan kosong (Japara, 30 November 1676), dapat disimpulkan bahwa pertikaian dengan laskar Makassar sudah mulai sekitar awal Desember 1676. Pada tanggal 6 Januari 1676 kepala daerah Cirebon dapat memberikan laporan yang panjang lebar kepada para utusan Speelman (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 75). Raden Trunajaya dikatakan dapat mengusir orang-orang Makassar yang telah melepaskan diri dari kelompok mereka, karena perampokan dan keangkuhan yang tiada taranya. Dengan ancaman akan mengadakan perampokan di seluruh Madura, mereka menuntut agar Gresik, Surabaya, dan sebagainya diserahkan. Karena itu, Raden Trunajaya merasa dirinya begitu terhina sehingga ia memerintahkan pembunuhan terhadap empat pemimpin terkemuka Makassar, semuanya dari keluarga Tello. Orang-orang Makassar lainnya kemudian mundur ke Balambuang (Demung?). Juga Raja Blambangan tidak lagi menyatakan setia kepada Sunan. Hanya Kraeng Galesong yang tetap berada di Madura (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 75), Sementara nama ini agak sering disebut — nama Daeng Manggappa, Daeng Mamu, dan Daeng Massuro yang termasuk daftar mereka yang sudah mati — tidak ditemukan lagi dalam surat-surat Belanda. Kematian daeng itu bahkan dilaporkan dengan jelas (Daghregister, 27 April 1677). Mengenai pertikaian-pertikaian ini kita pun mempunyailaporan dari Raden Trunajaya yang disampaikan kepada utusan Kompeni, orang Mor yang bernama Piero itu. Cerita ini agak panjang lebar, tidak teratur alurnya, dan berakhir dengan permulaan kisah, yaitu perkawinan anak perempuannya (atau kemanakannya) dengan Kraeng Galesong. Perkawinan itu disertai syarat: Kraeng Galesong harus merebut Surabaya dan Gresik untuk kepentingan Raden Trunajaya. Syarat itu telah terpenuhi, tetapi Kraeng 141 Galesong ketika itu merampok pula kapal-kapal pedagang (pribumi) dan memusnahkannya (Jonge, Opkomst, jil. VIL hlm. 93). Dengan demikian, kejadian-kejadian ini adalah kenyataan pada permulaan 1676. Delapan hari sebelumnya, atas permintaan Piero, Raden Trunajaya menceritakan penyebab perang antara Madura dan Makassar, yaitu karena istri Kraeng Galesong (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 89). Ternyata, setelah penyeberangan Raden Trunajaya ke Jawa, Kraeng Galesong sering kali tidak berada di Jawa, mungkin lebih sering berada di Madura (longe, Opkowst, jil. - VIL him. 75), sehingga menggelisahkan pemuka Madura itu. Bila Kraeng Galesong berkunjung ke kota, Raden Trunajaya menghormatinya dengan menyediakan kuda dan payung. Tetapi pada kunjungannya yang terakhir ia tidak mau meninggalkan kapalnya, dan menuntut agar istrinya dikembalikan. Apakah istrinya disandera oleh Raden Trunajaya, sebagai jaminan atas kesetiaannya? Atas tuntutan itu, Raden Trunajaya mengirimkan jawaban, "Apa yang hendak Tuan perbuat dengan wanita itu di dalam perahu? Datanglah ke darat, di darat lebih baik daripada di dalam perahu, Tuan!” Karena Kraeng Galesong menolak, Raden Trunajaya menegaskan anak perempuan (kemanakan)-nya itu bukan keturunan sembarangan, karenanya tidak sudi mengirimkannya ke perahu. Galesong menjawab akan menyuruh orang mengambil istrinya. Raden Trunajaya ketika itu mengalah saja, dan mengirimkan sejumlah abdinya untuk mengantarkan wanita itu. Tetapi beberapa orang di antara para abdi itu dibunuh oleh bawahan Kraeng Galesong. Itulah sebabnya timbul perang. Perang mendahsyat. Pada tanggal 17 Januari 1677 terjadi pertempuran dari Pagi sampai sore di Madura (Jonge, Opkomst, jil. VIL hlm. 87). Galesong tidak dapat mempertahankan diri dan minta maaf kepada Raden Trunajaya, dengan menawarkan dirinya sendiri ... sebagai tanda menyerah. Setelah itu Raden Trunajaya meminta keterangan berapa orang pengikut Kraeng Galesong yang mati, dan berapa yang menderita luka-luka. Kraeng Galesong menjawab, yang tewas 70 orang dan yang luka-luka 10 orang ... perbandingan yang kiranya tidak mungkin. Selanjutnya ia berada di Sumenep bersama Encik Baran (orang Melayu?) dan semua orang Makassar. la mempunyai rencana hendak merebut seluruh Madura, khususnya Sumenep, yang tidak menunjukkan kesediaan menyerah. Apabila usaha perebutan itu gagal, mereka akan menuju Sumbawa melalui Kangean (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 89). Kedua rencana itu tidak terlaksana. Pada tanggal 27 Januari 1677 pertempuran masih berlangsung. Pembicara- an antara Raden Trunajaya dan utusan Belanda terputus karena ada orang datang membawa dua kepala orang Makassar yang telah terpenggal. Sambil memandangnya, Raden Trunajaya berkata, “Inilah kepala orang yang telah saya beri tempat, makan, dan perlakuan yang baik, karena mereka termasuk 142 rakyat saudaraku (Gubernur Jenderal); tetapi mereka tidak menginsafinya dan menginjak-injak kebaikan saya; karena itu, saya terpaksa . . . memperlakukan mereka seperti ini” (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 86). Kata-kata tersebut hanya dapat diterapkan pada rakyat Kraeng Galesong tepat sepenuhnya, karena setengah tahun sebelumnya mereka diterima oleh Raden Trunajaya dengan segala keramahan. Sekelompok lain yang terdiri dari 200 orang Makassar dan 1.000 orang Melayu pada tanggal 19 Januari 1677 merebut Sampang. Pemimpinnya ialah Kraeng Tellolo dan Datu Louadin (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 87). Selain itu juga disebut Daeng Mainu, Aru Siou, dan Haji Bouloubaulou (Jonge, Opkomst, jil. VIL, hlm. 88). Pada tanggal 10 Februari 1677 Raden Trunajaya menegaskan telah menerima surat dari Datu Louadin disertai permintaan maaf mengenai terbakarnya masjid di Siampan. Daeng Tellolo dan Daeng Momoe konon bertanggung jawab atas kebakaran itu. Dengan demikian, dapat diketahui selama Raden Trunajaya berada di Jawa terdapat dua kelompok orang Makassar yang merusakkan keamanan Madura, yaitu Kraeng Galesong dan pengikutnya di Madura Timur, dan Kraeng Tellolo serta pengikutnya di Madura Barat. Tetapi selain itu masih ada juga orang Makassar di Pasuruan dan Gombong; demikian surat Speelman tertanggal 16 April 1677 (Daghregister, 27 April 1677). Orang Jawa mengatakan memberi makan kepada mereka, itu berarti: mereka ibarat benalu yang hidup dari kaum tani. Dalam bentrokan dengan Madura mereka umumnya merasa lebih kuat, enam kali memperoleh kemenangan, dan karena itu tidak merasa takut kepada Raden Trunajaya. Kraeng Galesonglah orang yang paling berwibawa di kalangan mereka. Beberapa orang Melayu yang selama itu ikut merompak, menyampaikan niat hendak menyerah kepada Kompeni, tetapi Kompeni tidak segera mengambil keputusan. Sementara itu, orang-orang Melayu berlayar ke jurusan timur menuju Sumbawa, dan dari sana akan membantu Makassar lagi dengan 40 perahu. Demikianlah di mana-mana tidak tampak adanya kekuatan massa yang besar, tetapi kelompok-kelompok Makassar yang terpencar, dan bersama dengan orang-orang Jawa yang ikut dalam komplotan itu mereka mengganggu keamanan di Jawa dan sekitarnya. Kota-kota pelabuhan yang sudah dibuka oleh Sultan Agung tidak dapat membendung mereka, apalagi kaum tani Jawa yang tidak dapat membela dit 143 ry Bab XIII _ Penyeberangan Raden Kajoran dan * Pertahanan terhadap Serangannya XIMI—1 Penyeberangan Kajoran, akhir 1670 ementara itu, keadaan Sunan semakin parah. Menurut cerita tutur Jawa (Babad B.P., jil. XI, hlm. 18—19; Serat Kandha, him. 1045-1046; Meinsma, Babad, hlm. 171-172), Raden Trunajaya setelah melakukan serangan yang gagal terhadap Jepara, mulai melakukan serangan langsung terhadap Mataram. Untuk itu diangkat- nya seorang panglima yang gagah perkasa, Dandangwacana, yang diserahi memimpin pasukan besar dari Jawa bagian timur dan Mancanagara, berikut laskar Madura. Mereka bergerak melalui Jipang dan Jagaraga menuju Pajang. Sepanjang perjalanan mereka melakukan perampasan dan perampokan yang ganas sekali. Sokawati, Kaduwang, dan Pajang menyerah (Meinsma, Babad), sekalipun melakukan perlawanan (Babad B.P.); sedangkan Warung, Grobogan, Blora, Japan, Pamagetan, Madiun, dan Ponorogo berpangku tangan. Demikianlah Dandangwacana akhirnya tiba di Kajoran. Di sana Panembah- an Rama sudah mengumpulkan pengikutnya setelah beberapa hari berhasil membujuk penduduk supaya melepaskan diri dari Mataram (Serat Kandha). Di sinilah pemberontak-pemberontak lama dan yang baru berkumpul. Diluar cerita tutur, nama Dandangwacana hanya ditemukan dalam "Nadere verclaringe door den Sousouhonnan selffs” (Laporan Susuhunan) yang diberikan pada tanggal 19 dan 20 September 1677 atas dorongan Speelman, dan ditulis oleh seorang Melayu, juru tulis Sunan bernama Bagus Alim (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 147—155). Dalam keterangan itu Raja mengisahkan juga menurut Keterangan lisan orang kepercayaannya, Aria Mandaraka, bahwa setelah pertempuran yang membawa mala petaka di Masahar, daerah Sidayu (pertempuran di Gegodog), dan kembalinya para pembesar yang mengalami kekalahan ke Mataram itu, Raden Kajoran menyeberang kepada musuh. 144 Setelah memanggil para pengikutnya dari desa sekitarnya, Raden Kajoran bersama mereka pergi ke pintu gerbang Taji, disertai rakyat dari Sampang di bawah pimpinan Dandangwacana. Jumlahnya diperkirakan mencapai 100.000 orang. Perbedaan yang terpenting dengan cerita tutur ialah bahwa berita ini tidak banyak bercerita tentang orang-orang Madura. Bahkan penyeberangan yang terjadi_meluas itu mungkin yang menimbulkan kesan kepada Sunan membayangkan jumlah yang 100.000 orang tersebut. Tentu tidak perlu digambarkan seolah-olah mereka semua berdesak-desakan di depan pintu gerbang “tol” Taji. Berita dari Sunan itu juga memberitahukan saat menyeberangnya Kajoran, yaitu setelah kembalinya para pangeran Mataram dari medan perang, jadi kira-kira awal November 1676. Keterangan dari sumber Jawa ini sebagian didukung, dan sebagian dilengkapi, oleh berita-berita Belanda yang dikeluarkan pada waktu yang bersamaan. Baru dua minggu setelah pertempuran yang membawa mala petaka di Gegodog, pada tanggal 27 Oktober 1676, Asisten Th. Grimmel menulis dari Jepara bahwa putra mahkota bergegas kembali ke Mataram, karena banyak pembesar telah memberontak terhadap Sunan yang tidak lagi mengakuinya sebagai gusti mereka (Daghregister, 12 November 1676). Dalam sebuah tulisan kemudian, tanggal 22 November 1676, diberitakan tentang kekuasaan Mataram yang sudah kacau, yang dalam waktu pendek tidak dapat diharapkan penyelesaiannya dengan baik (Daghregister, 2 Desember 1676). Peristiwa yang sama besarnya menimbulkan kekhawatiran ialah segera ditariknya kembali ke daerah pedalaman pasukan-pasukan yang masih berkedudukan di pantai. Penarikan itu dilakukan pada tanggal 25 November 1676 oleh empat orang priayi utusan Mataram (Daghregister, 9 Desember 1676). Kira-kira 11.000 orang pasukan Jawa, mungkin dari Demak yang turut mengurangi, persediaan perbekalan yang tinggal sedikit, bergerak kembali ke Mataram melalui Jepara (Daghregister, 20 Desember 1676). Desas-desus yang simpang siur nama seorang pembesar pemberontak yang disebut terlalu dini dan disiarkan oleh beberapa orang Jawa yang tiba di Batavia dari timur, ialah bahwa Pangeran Purbaya, saudara laki-laki penguasa Mataram .... sekarang. . .lagi-lagi.. .tampil bersama pasukan sebanyak 20.000 orang, untuk membantu Pangeran Adipati merebut tahta ayahnya ... dan membunuh saudara-saudaranya, Pangeran Puger dan Pangeran Martasana (Daghregister, 5 Januari 1677). Rupanya, yang dimaksudkan di sini bukan Pangeran Purbaya II yang tewas di Gegodog, melainkan putranya — yaitu Purbaya IV — yang selama kira-kira lima tahun sudah berpihak pada kaum pemberontak (1677— 1682). Ia juga menikah dengan seorang putri Raden Kajoran. Bahwa nama Purbaya menurut cerita tutur tidak terdapat di 145 kalangan pemberontak dapat dipahami karena adanya cita-cita yang sama. Oleh karenanya, sikap perlawanan Pangeran Purbaya II terhadap kemanakan- nya, Mangkurat I, sama sekali tidak disebut. XIII—2 Pertahanan terhadap serangan Kajoran, November—Desember 1676 Setelah Raden Kajoran muncul di depan gerbang wilayah Mataram, Sunan bertindak untuk mengadakan perlawanan. Mengenai hal ini cerita tutur menyajikan kisah yang agak panjang lebar (Babad B.P., jil. XII, hlm. 12—25; Meinsma, Babad, hlm. 171-172; Serat Kandha, hlm. 1046-1049). Setelah terdengar berita buruk mengenai munculnya Kajoran di depan Taji, Raja mengadakan persidangan agung, yang menurut Babad B.P. selain dihadiri oleh para pangeran, juga oleh Raden Wirasari, Raden Wiraatmaja, Raden Wiramenggala. Sunan kelihatan murka, dan mengirimkan putranya Pangeran Adipati Anom beserta tentara Mataram ke Kajoran. Saudara-saudaranya akan menyertainya, juga Tumenggung Mataram dan Mangunagara. Setelah menyusun persiapan di Taji (Meinsma, Babad), mereka mencapai Kajoran yang lalu dikepung (Babad B. . XIL, him. 23). Pertempuran terjadi sehari penuh, bahkan sampai malam hari; banyak orang Kajoran dan Madura tewas atau terluka, karena kekuatan tentara Mataram yang lebih besar. Pada malam harinya pasukan Mataram mundur dan orang-orang Madura memperkuat pertahanan. Setelah diadakan musyawarah perang (Babad B.P., jil. XII, hlm. 24), Raden Kajoran tengah malam itu melarikan diri bersama istri, anak, dan kerabat serumah. Orang Madura mengikutinya. Kelak mereka akan kembali lagi dengan kekuatan yang lebih besar. Baru keesokan paginya orang-orang Mataram mengetahui hilangnya musuh mereka, dan setelah itu tempat tinggal Kajoran dirampok dan dibakar, Di Surabaya Raden Kajoran diterima dengan ramah oleh Raden Trunajaya. Sekian cerita tutur. Laporan dari Sunan, yang telah ada dikutip sesuatunya, pada beberapa bagian menyimpang dari cerita tutur. Mula-mula terjadi dua kali pertempuran antara pasukan Mataram dan kaum pemberontak (Jonge, Opkowst, jil. VII, him. 146). Setelah pemusatan kekuatan oleh 100.000 orang pemberontak diluar pintu gerbang Taji, Sunan mengirimkan Pangeran Blitar, Kiai Pulangjiwa dan Kiai Butaijo dengan separuh rakyat Mataram untuk melawan mereka. Di pintu gerbang Taji terjadi pertempuran, yang tidak menimbulkan korban jiwa pada pihak Mataram, dan hanya menewaskan empat orang Kajoran. Setelah itu orang-orang Kajoran mundur kembali ke Kajoran. Di sana mereka mengumpulkan lagi 150.000 orang. Untuk menghadapi 146 mereka, Sunan mengirimkan putra-putranya, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, dan Pangeran Singasari berikut Pangeran Purbaya Muda (III), kemanakan pangeran sepuh yang tewas di Gegodog. Dengan kekuatan 100.000 orang mereka mengambil posisi terhadap orang Kajoran di Taji. Sehari penuh mereka bertempur, dan akhirnya pasukan Kajoran melarikan diri. Setelah pertempuran kedua di Taji itu, Raden Kajoran tidak segera melarikan diri ke arah timur, tetapi masih beberapa lama berada di pantai selatan. Laporan Sunan itu memberi keterangan mengenai tanggal terjadinya pertempuran yang terakhir ini. Menurut Sunan, terjadinya sebulan sebelum tindakan Pangeran Martasana, saudaranya, diluar pintu gerbang Pingit (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 148). Karena ekspedisi Pangeran Martasana terjadi pada minggu ketiga atau keempat bulan Januari 1677, maka kekalahan Raden Kajoran yang kedua mestinya terjadi pada bulan Desember 1676. Dalam pertempuran ini Pangeran Martasana tidak turut serta. Karena itu, pada tanggal 14 Maret 1677 ia dapat berbicara dengan nada mengejek tentang kejadian itu kepada utusan Jacob Couper (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 98): Apabila saudara-saudaranya benar-benar membuktikan diri sebagai putra Sunan, niscaya Raden Kajoran tidak sempat melarikan dir. Karena terpecah-belah dan saling curiga, jadinya keadaan demikian rupa, sehingga musuh tidak hanya dapat melarikan diri, tetapi kaum wanitanya pun sambil menggendong anak dapat menyelamatkan diri. Masing-masing mereka itu ingin tampil di istana sebagai orang yang paling hebat demi kepentingan diri sendiri. Serangan yang gagal itulah yang didesas-desuskan dan tercatat dalam surat dari Jepara UJapara, 30 November 1676), seakan-akan Raden Trunajaya merencanakan hendak mengusik Jepara yang memang sudah diduduki orang Belanda, tetapi melalui darat langsung menuju Mataram untuk melaksanakan rencananya. Ini sudah tentu mengenai bala bantuan Madura. Mungkin desas-desus dari Banten tanggal 4 Februari 1677 berikut juga menunjuk pada hal itu: laskar Madura telah merebut semua pelabuhan Mataram, kecuali Jepara, bahkan telah mengepung Kota Mataram. Mengingat jarak yang jauh dan datangnya musim hujan, berita samar-samar itu dapat juga mengenai kejadian-kejadian selama pergantian tahun; karena surat Speelman yang dikirimkan dari Jepara tanggal 30 Desember 1676 baru sampai di Batavia pada tanggal 1 Februari 1677. Baik berita dari Jepara maupun yang berasal dari Banten menunjukkan betapa besar harapan Raden Trunajaya. Gambaran tentang perbuatan orang orang Madura di daerah pedalaman diberikan oleh Japoran salah seorang dari kalangan mereka Wangsenggati, yang pada tanggal 15 Januari 1679 datang menyerah kepada Kompeni. Orang Madura ini menceritakan bahwa sebelum kedatangan Raden 147 Trunajaya, ia meninggalkan Madura bersama dengan Adipati Wiramenggala dan Aria Supatra. Setelah menduduki Surabaya, Wangsenggati bersama Aria Supatra menuju Kertasana. Pasukannya ketika itu terdiri dari 500 orang Madura dan 1.000 orang Jawa-Surabaya. Setelah Kertasana direbut dan dibakar, mereka tidak segera melanjutkan gerakannya, tetapi membakar semangat orang Jawa dari Ponorogo dan Madiun agar memberontak. Yang pertama-tama menyambut baik ajakan ini ialah Tumenggung Jayadita dari Madiun, kemudian Ngabei Martawangsa dari Ponorogo; tetapi ia lalu masuk dalam barisan di bawah panji-panji Raden Kajoran, mungkin sekitar awal bulan November 1676. Sudah tentu Wangsenggati tidak ikut serta dalam pertempuran di Gegodog. Dari Kertasana mereka bersama 500 orang Madura dan 3.500 orang Jawa yang berangsur-angsur memihak pada mereka menuju Jipang. Di sana mereka ditahan oleh Raden Martalaya, yang tidak lama kemudian menyerah bersama pengikutnya (8.000 orang). Dengan tambahan 8.000 orang itu kekuatan pasukan mencapai 12.000 orang. Mereka menuju Grobogan yang ketika itu dikepalai oleh Derpakanda. Penduduknya, yang berjumlah kira-kira 2.000 orang, menyeberang. Peristiwa ini pasti terjadi sekitar pertengahan bulan November 1676, karena pada akhir bulan November 1676, Ngabei Wangsadipa, dalam suratnya kepada Direktur Jenderal, memberitakan bahwa orang-orang Madura sudah sampai di Juwana, Pati, dan Grobogan (Daghregis- ter, 2 Desember 1676). Selanjutnya mereka bergerak menuju Demak. Di sana pasukan Mataram, seperti telah diketahui, di luar dugaan memberikan perlawanan yang cukup lama. Tetapi setelah pasukan kembali ke Mataram, kota itu pada tanggal 11 Desember 1676 jatuh dan lebih kurang 7.000 penduduknya menyeberang. Hanya Bupati Suranata, yang dahulu bernama Martajaya, melarikan diri ke Mataram. Dari Demak kaum pemberontak meneruskan gerakannya menuju Sema- rang. XII—3 Tindakan Raden Kajoran di Ponorogo, Februari 1677 %” Bertentangan dengan cerita tutur, Raden Kajoran setelah mendapat pukulan di dekat Taji tidak segera melarikan diri ke Jawa Timur. Ketika syahbandar dan ahli berbagai bahasa Kiai Mirmagati berada di Mataram untuk meminta uang kepada Sunan atas permintaan Speelman, pada tanggal 5 Februari 1677 ia menulis dalam buku hariannya: 1.000 orang dari kawasan pantai selatan diduga akan datang dengan niat jahat. Saat itu mereka di Semangi atau Bengawan Solo — satu hari perjalanan dari Mataram. Empat hari kemudian ia mendengar berita yang dapat dipercaya dari Tanumenggala bahwa musuh diperkirakan berkekuatan 1.000 atau 5.000 148 atau 10.000 orang, di bawah pimpinan Raden Gogok, cucu Pangeran Tepasana, keluarga Sunan. Mereka sudah merebut beberapa desa yang ada di bawah kekuasaan Tanumenggala. Untuk menduduki desa-desa itu, mereka tidak memerlukan bantuan orang Makassar atau orang Sampang, tetapi menyatakan berjuang untuk Raden Trunajaya. Tetapi dalam perjalanan pulang, utusan Belanda pada tanggal 12 Februari 1677 membuat catatan mengenai "Cadjorangh. la tinggal di daerah pegunung- an di Pangaran (Ponorogo?) . .. tiga hari perjalanan ke arah timur Mataram, memakai nama Panambahan Amattagamaa (Panatagama), (dan) ... hidup menyendiri. Tetapi harus diketahui bahwa rakyat pantai selatan, karena hasutannya, telah mengangkat senjata terhadap Sunan.” Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan, pengaruh Raden Kajoran Ambalik tampak lebih nyata, sejak Februari 1677, meskipun ia lebih banyak memberikan ilham bagi orang lain daripada melakukannya sendiri. Dalam keterangan tambahan (sub 5) sekali lagi ditulis tentang kehidupan Raden Kajoran yang menyepi seperti pendeta, dan seluruh keluarganya pun disuruhnya berlaku demikian. Karena itu, ia sangat terhormat, sebab tidak mau mementingkan keduniawian. Bahwa Pangeran Tepasana berpihak pada kaum pemberontak tidak perlu diherankan. Ingatlah pada pembunuhan atas seorang keluarganya yang dilakukan pada tahun 1661 atas perintah Sunan. Dalam kerja sama dengan Raden Kajoran, laskar Madura masih terus bergerak di Jawa Tengah. Tentang ini kita ketahui dari Raden Trunajaya yang pada tanggal 5 Februari 1677 memberitakan kepada utusan Belanda bahwa semua penasihatnya telah dikirim ke Mataram dan ke tempat-tempat lain untuk berperang (Jonge, Opkomst, jil. VIL, hlm. 90). Bahkan ia menduga Sunan sudah meninggalkan Mataram dan menyerahkan kekuasaan atas rakyatnya kepada keempat putranya. Keterangan ini memang benar, sehingga menim- bulkan dugaan bahwa Raja pun telah meninggalkan Istana. Raden Trunajaya ketika itu berpengharapan besar dan membanggakan diri sebagai keturunan raja Majapahit, yang menyebutkan mereka merasa berhak atas Mataram (Jonge, Opkowst, jil. VII, him. 929-993). Pada awal Maret 1676 kaum pemberontak sekali lagi mengancam Mataram. Pembesar Istana Jagapati, yang atas perintah Speelman melakukan perjalanan ke Mataram antara tanggal 16 Februari dan 14 Maret 1677, memberitakan dalam buku hariannya pada tanggal 6 Maret bahwa Pangeran Kajoran akan mengepung Mataram. Saat itu ia sudah berkubu di seberang Semangi atau Bengawan Solo. Dengan demikian, ia telah memasuki daerah Pajang. Pasukannya berjumlah 20.000 orang dan setelah menduduki Mataram maksudnya bergerak maju lagi menuju Jepara, mungkin untuk mengusir orang-orang Belanda. 149 Ketika laporan perjalanan ini dibuat (Japara, 21 Maret 1677), karena kecurigaan yang beralasan mengenai kerja samanya dengan Trunajaya, Kajoran diserang dan diusir (sic) . . . dan diberitakan ia telah melarikan diri ke Kediri. Jadi, pada awal Maret 1677 sang pemberontak jadi telah menyingkir ke Kediri. Sementara itu, dari Mataram dilancarkan serangan balasan ke arah utara, yang dipimpin oleh salah seorang pangeran, yakni Pangeran Martasana. XIII—4 Ekspedisi Pangeran Martasana, Januari—Februari 1677 Kepahlawanan Pangeran Martasana tidak tercatat dalam cerita tutur, tetapi terdapat dalam berita-berita yang diperoleh orang Belanda. Sunan Mangkurat II sendiri menulis dalam "Keterangan Lebih Lanjut” (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 147 dan seterusnya) sebagai berikut: Tetapi sementara satu bulan berlalu (tepatnya sesudah satu bulan) dikirimlah Pangeran Martasana oleh ayahandanya, Sunan yang telah lanjut usia itu, ke luar gerbang Pingit. Sebab, menurut desas-desus, laskar Madura yang berkekuatan 2.000 orang dan dipimpin oleh Camlangpasir (Langlangpasir), Sindukarti, dan Angawangsa (mungkin Singawangsa, penguasa_pesisir Pekalongan yang telah menyeberang) telah merebut kota-kota Kendal, Kaliwungu, Semarang, dan Demak. Seperti diketahui, Semarang dan Demak Pada tanggal 11 dan 12 Desember 1676 telah jatuh ke tangan laskar Madura dan dibakar. Sunan melanjutkan: Setelah Pangeran Martasana tiba di Pingit, dikirimkan- nya enam orang pembesar: Raden Demang Malang, Pranatgata (Pranataka), Wirawangsa, Tamenghita, Raden Singanaya, dan Ranggadimenggala beserta 3.000 orang prajurit. Ketika mereka mendekati Kendal, laskar Madura melarikan diri ke Pati, tempat kedudukan Adipati Wiramenggala, sedangkan rakyat Kendal dan Kaliwungu menyembah kembali kepada Pangeran Martasana. Sebagian dari mereka dibawanya serta ke Mataram. Menurut Sunan Mangkurat II, ekspedisi Pangeran Martasana tersebut tidak pernah lebih jauh dari pintu gerbang Pingit, dan segala urusan diserahkan kepada bawahannya. Tetapi Martasana sendiri menilai apa yang telah diperbuatnya lebih tinggi. Sebab, pada tanggal 20 Maret 1677 kepada utusan Couper, ia membanggakan tindakannya yang gagah berani dan perkasa di sebelah barat daya Mataram terhadap orang-orang Sampang. Kedatangan Syahbandar Mirmagati di Semarang pada tanggal 31 Januari 1677 memungkinkan kita meninjau perbuatan kepahlawanan ini dengan lebih dekat. Di sana ia berjumpa dengan Kentol Anggadria yang dikirimkan oleh Pangeran Martasana, untuk mengembalikan pemerintahan Kaliwungu kepada Sunan. a telah berhasil melaksanakannya dan mengirimkan ke Mataram Bupati 150 Madura Kiai Nanawadana, saudara Kiai Raden Ardimenggala, bersama 100 penduduk yang memberontak dalam keadaan terbelenggu. Tetapi ia juga menerangkan, Pangeran Martasana berkemah dengan Pangeran Adilangu yang dikenal sebagai ulama bersama tentaranya di Pakiswiring. Sesungguhnya Pangeran Martasana tidak sampai di kota pantai itu; ia hanya mengutus para abdinya ke sana. Tetapi mengherankan pula kehadiran Pangeran Adilangu di Pakiswiring. Apakah tokoh keramat ini melarikan diri dari tempat tinggalnya? Seperti diketahui, ia memang telah mengusahakan adanya hubungan yang lebih erat antara Mataram dan Kompeni. Pada tanggal 12 Februari 1676 Mirmagati berangkat pulang. Di Taji ia bertemu dengan beberapa orang pembawa barang-barang Pangeran Marta- sana, tetapi pangeran itu tidak tampak. Ternyata, Pangeran Martasana telah Kembali ke Mataram melalui gerbang Trayem. Jika Pakiswiring sama dengan Pakis yang terletak antara Salatiga dan Magelang, ekspedisinya itu merupakan_ perjalanan perang di sekitar kompleks Merbabu—Merapi. Apakah para utusannya benar-benar sampai tiba di Pekalongan, harus diragukan; mungkin tidak. Pada tanggal 20 Maret 1677 muncul Ngabei Singawangsa di paseban yang sudah penuh sesak itu. la adalah bekas penguasa pesisir dan kepala daerah Pekalongan yang malangnya akan ditentukan nasibnya, dan bila terbukti bersalah akan hilanglah nyawanya. Pangeran Adipati Anom mengemukakan tuduhan berat, tetapi Pangeran Martasana membelanya. Sebenarnya ia sudah berangkat menuju Mataram, tetapi tidak dapat datang sebelum (Martasana) mengalahkan orang-orang Madura di dua daerah itu (Kendal dan Kaliwungu), karena ia segera menemui Martasana Gonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 109). Artinya, Pekalongan tidak perlu ~ dibebaskan oleh pasukan Pangeran Martasana; kepala daerahnya sendiri datang untuk menyerah. Ekspedisi Pangeran Martasana itu mempunyai dampak penting. Selama beberapa bulan para utusan Kompeni masih dapat berkunjung ke Mataram. Karena itu, dapat diadakan perundingan dengan Sunan, dan telah dilaksana- kan pula pembaruan perjanjian. Sementara itu, pasukan baru di bawah pimpinan Cornelis Speelman tiba di Jepara. 151 ye "- reo Bab XIV Speelman di Jepara, Januari—Maret 1677 XIV—1 Pengiriman Speelman, November 1676 alam satu hari, tanggal 7 November 1676 Pemerintah Kompeni menerima dua buah surat. Pada siang harinya dari sang pemenang: Raden Trunajaya, sedangkan pada sore harinya dari pihak yang kalah: Pangeran Adipati Anom. Kedua-duanya melaporkan per- tempuran di Gegodog yang sudah dibicarakan; kedua-duanya minta bantuan, putra mahkota dengan nada rendah hati, si pemberontak dengan nada kurang ajar. Surat Trunajaya meminta kepada “ayahnya” (Gubernur Jenderal) agar dipinjami meriam-meriam — yang ternyata tidak dipakai — juga mesiu dan peluru. Diharapkan pula agar “ayahnya” mendoakan kepada Tuhan untuk kemenangan “putranya”. Seluruh pantai dari Juwana sampai Pamanukan dan Blambangan sudah ada di bawah kekuasaannya, dan ia akan melakukan penertiban di sana. Nada surat ini tidak banyak menggugah perhatian Pemerintah Tinggi untuk menaruh simpati kepada pengirimnya. Surat dari Pangeran Mataram ditujukan kepada "Kakak, Capitain Moor” (Gubernur Jenderal itu juga), yang diandalkannya sebagai sumber bantuan dan tumpuan harapannya. Setelah bercerita tentang kekalahannya, ia menunjuk pada perjanjian antara Mataram dan Batavia. Secara tidak langsung dipersalahkannya Kompeni sebagai yang bertanggung jawab atas mala petaka itu. Orang-orang Makassar yang dikalahkan Kompeni itu merupakan abdi-abdinya. Dan hanya karena mereka mempunyai pemimpin-pemimpin ‘orang Makassar sajalah maka orang Madura pun berani berperang melawan Mataram. Tulisan ini pun tidak banyak menimbulkan rasa iba pada pihak Batavia. Tiadanya hadiah merupakan tanda yang cukup berarti tentang kedudukan putra mahkota — seorang pelarian melarat. yang akan mengalami kesulitan 152 bila pulang kembali ke rumahnya. Akhirnya pada tanggal 2 Desember 1676 (Daghregister) sampailah di Batavia permintaan bantuan dari kepala daerah Jepara, Ngabei Wangsadipa, yang baru saja dinaikkan kedudukannya menjadi penguasa pesisir tertinggi. Atas nama gustinya ia berjanji bahwa semua daerah pantai dan Madura, setelah tertumpasnya kaum pemberontak, akan terbuka bagi Kompeni. Juga pembebasan pembayaran bea dijanjikan dalam surat tersendiri kepada kawan lama Raja, yaitu Direktur Jenderal Rijklof van Goens. Satu dan lain hal untuk mendorong Pemerintah Kompeni agar melakukan campur tangan dalam urusan-urusan yang kacau di pantai timur Jawa. Pada tanggal 5 Desember 1676 diambil dua keputusan (Daghregister), melihat keadaan yang simpang siur dan suram di Kerajaan Mataram, juga bantuan yang diminta dari Residen, Everard van der Schuyr: Pertama, pengiriman 200 orang serdadu di bawah pimpinan Ses Jan Albert Sloot; Kedua, pengangkatan seorang pimpinan yang benar-benar mampu. Karena Speelman menawarkan diri, maka ia pun diterima. Ia akan ditemani oleh pendeta yang mulia Hubertus Leydecker, yang kemudian terkenal sebagai penerjemah Injil dalam bahasa Melayu, dan pedagang Jacobus Couper, bekas residen di Jepara, dan Cornelis van Woensel. Dua ratus orang serdadu itu akan berangkat malam itu juga, tetapi tidak akan digunakan untuk menyerang laskar Madura. Sebagai mediator mereka masih diharapkan dapat mendamaikan perselisihan antara pangeran Madura dan rajanya itu. Jika ternyata Pangeran Madura tidak bersedia, terpaksalah akan dicari jalan lain untuk mencapai tujuan tersebut — kata-kata yang jelas bernada ancaman. Baik terhadap Sunan maupun terhadap Raden Trunajaya, ditetapkan garis kebijaksanaan tertentu. Kepala Daerah Wangsadipa harus memberitahukan kedatangan Speelman kepada Sunan, agar Sunan dapat menerangkan dan menegaskan apa yang telah ditulis oleh kepala daerah itu atas nama dirinya. Juga kepada para utusan Madura dititipkan pesan untuk gusti mereka, agar berpikir-pikir dahulu tentang persoalan mereka, dan bahwa usul penengah itu ditawarkan demi kebaikan. Pada hari Natal kedua tahun 1676 Speelman memerintahkan pasukannya mengadakan pameran kekuatan di lapangan benteng. Dari sana mereka berbaris langsung menuju tempat mereka naik ke kapal. Seluruhnya ada lima kompi yang terdiri atas 441 orang, 131 orang di antaranya ditujukan untuk kawasan timur, sehingga masih ada 310 orang untuk Jepara. Karena sebelumnya sudah dua kali dikirimkan lebih dari 200 orang di bawah pimpinan Van der Schuyr dan Sloot, maka akan terkumpul di sana sekitar 720 orang militer Eropa. Ditambah lagi dengan empat kompi pasukan pribumi: 153 ‘ orang-orang Ambon, Melayu, Bali, dan bekas budak-budak belian. Akhirnya siap sedia pula 600 orang pelaut dan orang upahan lainnya. Tiga hari kemudian, pada tanggal 29 Desember 1676, Speelman menerima catatan yang panjang lebar, kemudian ia minta diri, diantar oleh seluruh Dewan sampai di luar dermaga, sedangkan seluruh pasukan: Kompeni dari Istana sampai pelabuhan tegak memberikan penghormatan secara militer (Daghregister). Pada malam harinya kapal armada mengangkat sauh dan drama besar pun akan dimulai. XIV—2 Speelman di Jepara, 15 Januari-25 Maret 1677 Laksamana Speelman, dibantu oleh musim hujan, dalam perjalanan ke Jepara hanya singgah di Tegal. Dari tanggal 7 sampai 10 Januari 1677 ia bersama armadanya berlabuh di teluk pelabuhan itu. Karena*gelombang dan badai dan tidak mungkin singgah ke Cirebon, Speelman mengirimkan seorang Mor, mungkin Piero atau Piru yang terkenal itu, sebagai utusan ke Cirebon. Kepala daerah memberitahukan kepada orang Mor itu bahwa mungkin tidak begitu sulit untuk memulihkan kekuasaan Mataram di daerah pantai. Tetapi untuk Cirebon ia lebih memilih kekuasaan Raden Trunajaya, karena kebebasan-kebebasan ... yang dijanjikan kepada rakyat dan yang sudah mereka nikmati (Jonge, Opkowst, jil. VI, hlm. 75). Utusan itu juga mengunjungi Tegal. Kepala Daerah Wirasuta bersedia menempatkan dirinya di bawah perlindungan Speelman, asalkan beberapa kapal Belanda tetap menjaga keamanan di teluk. Ia tetap setia kepada Sunan, juga ketika perahu-perahu laskar Sampang itu muncul. Speelman tidak bersedia meninggalkan sebuah perahu pun di teluk itu, dan ia membatasi diri pada perjanjian penjagaan keamanan, dan pengibaran bendera yang melambangkan kehadiran Belanda. Perjanjian itu isinya seluruhnya, sama sekali tidak memihak, hanya agar secara tidak langsung menakut-nakuti orang Madura menghentikan kegiatannya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 76). Bendera yang dikibarkan itu benar-benar berpengaruh, Karena terbukti dua buah perahu Madura, yang akan masuk pelabuhan, ternyata menjauh setelah melihat bendera Belanda tersebut. Peristiwa ini mendorong Speelman untuk meninggalkan dua kapal kecil di depan Tegal. Karena cuaca yang sangat buruk, armada Speelman baru pada tanggal 16 Januari tiba di Jepara (Daghregister, 20 Maret 1677 him. 66). Atas undangan yang ramah tamah dari Ngabei Wangsadipa, Speelman menginjakkan kaki pada tanggal 20 Januari di daratan. Sambutan atas kedatangannya itu berlangsung dengan penuh kehormatan menurut adat kebiasaan Jawa. Karena setiba di Jepara Speelman ingin mempunyai wewenang yang luas, maka sejak akhir Desember 1676 ia mengirimkan beberapa orang utusan ke 154 Mataram untuk memberitahukan kedatangannya, dan memperoleh perhatian yang diperlukan pada waktunya (Japara, 7 Januari 1677, K.A. No. 1218, him. 1581) — mungkin yang dimaksudkan surat kuasa dari Sunan untuk Spelman. Residen Van der Schuyr mengantar para utusan itu sampai ke Semarang, untuk membuka jalan ke Istana. Tetapi mereka harus menunggu lama sekali sebelum mendapat jawaban sehingga ada dugaan telah terjadi perpecahan. Setiba Speelman di Jepara pada tanggal 20 Januari 1677, para utusan ini masih belum Kembali. Ketika itu ia memutuskan untuk memperlihatkan sikap yang lebih keras terhadap Istana. Tetapi hal ini dilakukannya tanpa diketahui kepala daerah Jepara, Ngabei Wangsadipa, yang rupanya dalam waktu pendek telah menjadi sahabatnya. Baru seminggu setelah kedatangannya, Speelman dan Dewan memutuskan, atas permintaan Ngabei Wangsadipa, menduduki Gunung Danareja di Jepara dengan banyak alasan yang sehat dan untuk mendapatkan wibawa yang besar di kalangan orang Jawa (Daghregister, 20 Maret 1677, hlm. 71)2° Letnan Martinus van Ingen membuat gambar tentang daerah itu, dan ternyata daerah itu baik sekali untuk membuat apa saja, dalam arti untuk keperluan pertahanan. Daerah itu akan diduduki oleh 100 orang serdadu di bawah pimpinan seorang letnan. Di samping itu, harus diselidiki kemungkinan-kemungkinan dari kedua belah pihak. Sebab, pihak Belanda masih terus merasa ragu mengenai siapakah yang harus dipilih: Sunan atau bawahannya, si pemberontak itu. Surat yang ditulis oleh Raden Trunajaya setelah kemenangannya di Gegodog dan ditujukan kepada Pemerintah Kompeni dijawab dengan prasaran yang disampaikan kepada pemberontak itu melalui residen Jepara Qapara, 7 Januari 1677, K.A. No. 1218, hlm. 1581). Pada tanggal 1 Januari 1677 diterima jawaban, yang kemudian akan disusul beberapa utusan. Memang pada tanggal 3 Januari 1677 muncul sebuah kapal Madura yang dengan begitu saja hendak mengarungi hulu Sungai Jepara, tetapi dicegah dengan kekuatan senjata oleh Syahbandar. “Begitu berani mereka terhadap orang-orang yang tidak bersenjata,” kata Residen mengejek. Ia menyuruh bawahannya menyusul perahu Madura itu, tetapi tidak berhasil padahal perahu Jepara laju sekali. Juga Spelman merasa gusar mengenai tindakan yang. merintangi kedatangan para perunding Madura (Pekalongan, 10 Januari 1677). Inilah sebabnya ia tergesa-gesa mengirimkan pesan kepada Raden Trunajaya. Sampai bulan Maret 1677 ia tetap mengharapkan penyelesaian 20 _Selain dalam berbagai babad. kisah-kisah penuh keajaiban tentang Gunung Danareja dapat ditemukan dalam Rapporten. van de Commissic in Nederlandsch—Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera, 1910, diterbitkan olch K.BG., 's-Gravenhage, 1911, him. 162-166. 155 secara damai; sementara itu, dipertahankannya sebaik-baiknya sikap netralnya (Daghregister, 20 Maret 1677, hlm. 68). Khususnya di sekitar Jepara gencatan senjata terlaksana dengan baik. Sebab, menurut Speelman, keadaannya masih belum begitu jelas! Demikianlah setelah kedatangannya di Jepara, pada tanggal 20 Januari 1677 malam ia mengirimkan orang Mor yang bernama Piroe atau Piero sebagai utusan ke Surabaya beserta surat untuk Raden Trunajaya (Jonge, Opkowst, jil. VIL him. 83). XIV—3 Kunjungan Piroe kepada Raden Trunajaya, 27 Januari—10 Februari 1677 Kunjungan Piero kepada Raden Trunajaya berlangsung sangat istimewa Conge, Opkomst, jil. VII, hlm. 84—93). Di satu pihak tokoh Madura itu disebut sebagai Panembahan, Paduka Yang Mulia (Jonge, Opkowsst, jil. VII, hlm. 84), di pihak lain ia diperlakukan secara tidak begitu resmi, karena tingkah lakunya sendiri memang sering mengundang perlakuan demikian Utusan Kompeni yang bernama Piroe ini adalah seorang Mor, abli mengenai soal-soal Jawa, yang tahu benar tentang keadaan di daerah pantai. Tetapi tentang pribadi tokoh ini tidak ada keterangan lengkap pada kami. la ditemani seorang juru tulis Bali, dan pada tanggal 5 Februari 1677 ditambah pula dengan seorang asisten Willem Buytenhem, sedangkan dua orang nakoda, Daniel Dupree dan Francois Penneman, tampak datang pergi saja di kediaman Raden Trunajaya. Dari orang-orang ini rupanya Piroe belajar adat kebiasaan Belanda, bahkan juga beberapa patah kata Belanda. Ini memberi suasana yang agak bebas dalam pembicaraan dengan tokoh Madura itu. Masing-masing dapat saling mendatangi tanpa dipanggil, dan kadang-kadang dapat saling menerimanya juga. Sikap Raden Trunajaya ada kalanya berubah-ubah; hal yang lumrah bagi orang ketagihan minuman keras. Ketika menerima surat Spelman, sikapnya hormat setinggi-tingginya. la menyambut kedatangan Piroe untuk menerima surat Speelman, dan ditempelkannya surat itu sejenak pada dahinya sebelum membacanya. Di samping itu dengan sangat menggelikan ia membual tentang kemenangan-kemenangan yang telah tercapai dan yang akan dicapainya, dan angkuh menyombongkan diri sebagai keturunan raja yang kelak akan menjadi raja Majapahit (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 92—93). Tetapi sementara Sunan Mataram dalam pertemuan yang khidmat selalu memperlihatkan kewibawaan dan lebih banyak berdiam diri, maka Raden Trunajaya boleh dikatakan terus-menerus mengoceh tentang segala soal. Arus kata-katanya ini dimaksud- kan sebagai tameng untuk menolak undangan Speelman agar ia datang ke Jepara, serta untuk mengulur waktu. Selain itu ia masih menghadapi dua masalah lagi: pertama, sukses 156 pasukannya atau komplotannya di Mataram menjadi harapan besar baginya; kedua, kehadiran orang-orang Makassar di Pulau Madura yang dirasakannya mencekik leher. Seluruh Surabaya memang gentar terhadap laskar Makassar. Sekalipun ia sesumbar telah berhasil mencapai banyak kemenangan atas bekas sekutunya itu — bahkan diperlihatkannya juga kepala mereka yang telah dipenggal — harus diakuinya bahwa karena gangguan merekalah ia tidak dapat menyediakan bahan makanan, seperti beras, kacang, dan buncis, bagi Speelman. Kawanan laskar Makassar itu telah menghancurkan dan merampok segala-galanya, bahkan juga membakar masjid di Sampang. Di atas segala-galanya mereka menjadi perintang bagi Trunajaya untuk pergi ke Jepara, dan bertemu dengan Speelman. Ketika Piroe mengusulkan kemungkin- an pengiriman perutusan yang dikuasakan ke Jepara, Trunajaya menyatakan tidak ada lagi orang yang dapat dikirimkannya. Memang hanya sedikit orang berpangkat yang kelihatan berada di sekitar dirinya; hanya abdi-abdi rendahan sajalah. Sekalipun utusan Kompeni itu mendesak agar dikirim kembali dalam waktu tiga hari, baru dua minggu kemudian ia boleh meminta diri, betapapun telah diusahakan mendapatkan jawaban secepat-cepatnya. Dua pucuk surat dari Speelman masih diperlukan lagi untuk mendapatkan jawaban itu. Yang pertama, disampaikan oleh Piroe, isinya masih lunak; yang kedua, dibawa oleh Asisten Willem Buytenhem pada tanggal 5 Februari, yang membuat panas hati Raden Trunajaya. Dalam surat itu ia diminta hadir pribadi di Jepara. Tetapi yang dianggapnya sangat menghina ialah nada surat yang memperlakukan dirinya seolah-olah hamba Kompeni (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 90). Seorang Banten yang juga hadir di sana lebih membakar perasaannya lagi, "Ini bukan surat yang pantas dikirimkan kepada seorang raja.” Penneman mencoba menjelaskan bahwa ucapan Speelman yang bernada mendesak itu justru Keluar dari rasa persaudaraan, tetapi sia-sia belaka .... Raden Trunajaya menyatakan surat itu amat menyinggung perasaannya (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 91). Willem Buytenhem tidak boleh menghadap kepadanya, bahkan memberi penjelasan tentang isi surat itu pun tidak diperbolehkannya. Sekalipun Piroe berusaha menggambarkan kunjungan Raden Trunajaya ke Jepara menarik dan bermanfaat untuk menjadikan negerinya lebih besar dan mulia, tokoh Madura itu tidak dapat diperdayakan. Daripada pergi ke Jepara, lebih baik dicincang saja! Dalam kunjungannya yang terakhir pada malam hari tanggal 10 Februari utusan Kompeni diperbolehkan meminta diri dan kepadanya dititipkan sebuah surat untuk Laksamana Speelman (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 93). Karena hambatan musim hujan, surat itu baru dapat diserahkan kepada Speelman pada malam hati tanggal 24 Februari. Surat itu memuat permintaan bantuan dari pihak Belanda untuk melawan Makassar, dan pemberitahuan 157 bahwa ia ada di Surabaya. XIV—4 Speelman bimbang Pada tanggal 24 Februari 1677 malam setelah Piroe memberikan laporan kepada empat orang yang berwenang di Jepara mengenai pengalamannya dengan Raden Trunajaya, Speelman mendapat kesan bahwa memang tidak banyak yang dapat diharapkan dari pemberontak Madura itu. Dalam bulan Maret 1677, sebelum Couper kembali dari Mataram, jadi sebelum diketahui sampai di mana kemantapan pendirian Sunan, pihak Belanda di Jepara dengan perantaraan beberapa nakoda menerima berita lagi dari Raden Trunajaya. F. Penneman memberikan laporan mengenai hubungan yang telah diperolehnya dengan pemberontak itu (Catatan Penneman dari Japara, 24 Maret 1677, dalam K.A. No. 1218, him. 1641). Pada pendapatnya, Raden Trunajaya masih dapat diharapkan, asalkan diberikan jaminan baginya atas kawasan Gresik ke timur. Jika tidak, maka akan menjadi sangat sulit untuk dapat mengendalikannya. Rencananya untuk merebut Mataram sudah pasti, dan setelah itu ia akan duduk . . . di atas tahta. Karena cita-citanya inilah ia merasa malu sekali untuk meminta bantuan Belanda dalam melawan orang-orang Makassar. Asalkan Kompeni membiarkan dia melaksanakan rencananya, maka banyak keuntungan akan diperoleh. Setelah kemenangannya atas Makassar, ia pun bersedia datang ke Jepara, asalkan Sunan juga datang. Jika Sunan menyatakan keberatan, maka Trunajaya sendiri akan menjemputnya! Sekalipun beras sudah langka, Trunajaya berusaha mengumpulkan 200 koyan beras untuk Kompeni. Sebelum terkumpul semua, pengiriman tidak diizinkannya. Demikianlah surat Raden Trunajaya. Sementara itu, perang di daerah pedalaman masih terus berlangsung. Banyak hasil rampasan yang diserahkan kepada Trunajaya: gong, keris, tombak, pedang, berbagai macam senapan, uang dalam jambangan, dan tawanan. ‘Aneh juga bahwa Speelman merasa sangat terkesan oleh tulisan yang simpang siur itu, sehingga ia segera berjanji sungguh-sungguh kepada Raden Trunajaya untuk memberikan bantuannya guna melawan orang-orang Makassar yang telah menyeleweng itu (Daghregister, 20 Maret 1677, hlm. 67). Kepada letnan di gudang penyimpanan perahu diperintahkan agar berlayar dengan beberapa kapal kecil dan mengamat-amati keadaan. Tetapi sesaat kemudian perintah tersebut ditarik kembali, ketika diterima berita tegas bahwa Trunajaya dengan beberapa pasukan di bawah beberapa orang pemimpin sudah bergerak menuju Mataram (Daghregister, 20 Maret 1677, hlm. 68). Tetapi Laksamana Speelman masih memegang kartu baik untuk dimainkan terhadap Trunajaya, yaitu Sunan. 158 XIV—5 Empat amanat Speelman kepada Mataram, Januari—April 1677 Sejak tiba di Jepara pada tanggal 20 Januari 1677 Speelman telah empat kali mengirimkan utusan kepada Sunan, yaitu: Pertama, Syahbandar Mirmagati, 29 Januari sampai 21 Februari 1677 (K.A. No. 1218, him. 1600 dan berikutnya); Kedua, pembesar istana Jagapati, 14 Februari sampai 13 Maret 1677 (K.A. No. 1218, hlm. 1631 dan berikutnya); Ketiga, pedagang Jacob Couper, 6 Maret sampai 24 Maret 1677 (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 93-113); Keempat, dua orang lurah dari Jepara, pertengahan Maret sampai awal Juni 1677 (tidak ada laporan). Dengan demikian, tiga kali Speelman mengirimkan orang Jawa, dan satu kali orang Belanda yang ahli dalam urusan Jawa. Kiranya tidak ada utusan yang lebih terampil yang dapat digunakannya. Tetapi Sunan tidak dalam keadaan sehat, yang menurut dugaan Pemerintah Tinggi sebagai akibat terlalu banyak menikmati wanita dan minuman keras. Itulah sebabnya orang lain yang menjalankan pemerintahan, yaitu keempat putranya yang sudah dewasa, atau kedua kepala bendaharawannya. Selain sepucuk surat kepada Sunan, utusan yang pertama, Mirmagati, juga menyampaikan berita lisan yang diterimanya dari Speelman. Ia juga membawa surat untuk tiga orang pangeran, yaitu Adipati Anom, Puger, dan Singasari. Seperti layaknya para utusan yang berpangkat rendah tentu sambutannya sederhana. Sunan, sambil duduk di atas permadani di balai Sukasana, mendengarkan apa yang disampaikan Mirmagati. Putra mahkota tidak mau menerima surat di depan umum, tetapi di rumahnya. Kepada para pangeran dikemukakan masalah biaya tinggi yang harus dikeluarkan Kompeni untuk kepentingan kerajaan Jawa. Kompeni telah mengirimkan 2.500 petugas, pun sukarelawan yang sama banyaknya. Mirmagati melebihkan jumlah pendapat- an mereka: seorang kapten mendapat 200 ringgit setiap bulan, serdadu yang paling rendah menerima 4 sampai 5 ringgit — jumlah yang amat mengherankan bagi orang Jawa. Selain itu, Raja sudah lima kali dibantu oleh Kompeni. Juga harus diperhitungkan biaya yang telah dikeluarkan Ngabei Wangsadipa. Raden Trunajaya menawarkan biaya lebih banyak pula daripada yang dimintanya dari Mataram. Pangeran Adipati Anom berani memperde- ngarkan lagi suaranya, bersikap pro-Belanda secara mencolok, dan membela pendapat agar memberikan dukungan kepada Kompeni. Keesokan harinya tanggal 8 Februari 1677 dibicarakan jawaban yang harus diberikan kepada Speelman. Kepada Mirmagati ditanyakan mengapa Laksa- mana Speelman menyebut Sunan sebagai saudara. Dijawab oleh Mirmagati, Speelman berhak menyebut demikian karena bertindak sebagai wakil 159 Pemerintah Kompeni. Dalam penyusunan jawaban diminta bantuan dari Mirmagati, tetapi dengan alasan tertentu ditolaknya. Supaya kesulitan-kesulitan baru itu dapat diatasi, perlu diteliti surat-surat lama yang memakan waktu lama pula. Akhirnya, pada tanggal 11 Februari 1677 surat jawaban pun selesai, sekalipun tersusun dengan tersendat-sendat. Tetapi dari 20.000 ringgit yang diminta oleh Ngabei Wangsadipa, hanya 3.000 ringgit yang dibayarkan. Pada pukul empat sore di ruangan dalam diadakanlah upacara penyerahan jawaban secara khidmat oleh pengulu ageng Kiai Turagam, yang juga dihadiri oleh Sunan. Surat itu diletakkan di atas piring emas, tepat di tengah, dan di dalamnya tampak tulisan dengan huruf Arab dalam bahasa Jawa, atau Arab-pégon: "surat ini dari Sunan”. Raja yang agak lebih banyak berbicara daripada biasanya, bertanya mengenai kapten Jambi, yakni kawannya: Rijklof van Goens, bekas kepala daerah Jambi, yang meninggalkan kenangan menyenangkan. Sunan heran ketika Mirmagati menjawab bahwa sahabat Sunan itu masih hidup, dan ada di Batavia. Ja juga menerangkan bahwa Laksamana Speelman menjadi menantu Sebalt Wonderaer, yang pada tahun 1647 menyertai Van Goens. “Ia masih hidup? Sungguh panjang umur Laksamana itu,” kata Raja (Goens, Gezantschapsreizen, hlm. 38-39). Esok paginya Mirmagati pulang, dan pada tanggal 21 Februari 1677 tiba kembali di Jepara. XIV—6 Perutusan kedua Jagapati Speelman yang rupanya tidak sabar karena utusannya sudah begitu lama belum juga kembali — telah 14 hari belum ada berita dari Mataram — mengirimkan utusan kedua, yaitu Jagapati, disertai Wangsamenggala. Jagapati seorang pembesar Istana, dipandang oleh Speelman sebagai negarawan. Babad menyebutnya sebagai putra Ngabei Wangsadipa. Pendeknya mempunyai rumah di Desa Lusah — sebuah desa di bawah kekuasaannya. Pada tanggal 14 Februari 1677 ia berangkat, dan tepat 4 minggu kemudian ia pulang kembali, membawa serta catatan harian, yang di dalamnya hanya tercantum nama-nama hari, dan tanpa tanggal. Untunglah, kekurangan itu dapat diisi. Pada tanggal 24 Februari 1677 setelah tiba di ibu kota Mataram, tengah malam keduanya dipanggil oleh Pangeran Adipati Anom. Ternyata, sejak keberangkatan Mirmagati pada tanggal 12 Februari telah terjadi banyak sekali perubahan. Pangeran Martasana, yang membanggakan kepahlawanannya, menjadi tokoh yang terpenting. Karena itu, Jagapati dinasihati oleh putra mahkota agar tidak menghadap pada siang hari, dan lebih baik menyampaikan kesulitannya kepada Pangeran Martasana. [a menganggap dirinya sudah tergolong tua, yang tidak lagi mempedulikan segala sesuatu. Jika tidak, . 160 Pangeran Martasana akan lebih benci dan lebih marah daripada yang tampak sekarang. Memang Jagapati keesokan harinya pergi ke dalem Pangeran Martasana, tetapi baru dapat bertemu muka dengan pangeran itu dua hari kemudian, yaitu pada tanggal 27 Februari 1677. Maksudnya hendak memperoleh uang untuk Ngabei Wangsadipa. Pada hari-hari berikutnya permintaannya itu diajukannya kembali kepada Pangeran Puger dan Pangeran Singasari. Tetapi ia mendapat jawaban bahwa mereka berdua harus mencapai kata sepakat terlebih dahulu tentang hal itu. Jadi, harus ditunggu sampai diadakan pertemuan besar, yang akan dilangsungkan pada tanggal 4 Maret 1677. Kedua pangeran itu, dikelilingi oleh para abdinya, berjanji akan meneruskan permintaan tersebut kepada Sunan keesokan harinya. Dua hari setelah itu para utusan diberi 6.000 ringgit — dengan uang yang sudah dibawa oleh Mirmagati, jumlahnya menjadi 9.000 ringgit. Karena masih ada uang 1.000 ringgit lagi yang dapat dikeluarkan dari Jepara, jumlah seluruhnya menjadi 10.000 ringgit. Konon, pada hari itu Sunan mengucapkan kata-kata seperti berikut, "Tidak ada seorang pun yang begitu saya andalkan seperti saudara saya, Laksamana Speelman. Jika negara saya bisa menjadi baik kembali, maka apa saja yang terdapat di Mataram, jika diinginkannya, akan saya berikan .. ..” Semuanya ini disampaikannya kepada para pembesarnya — di hadapan para abdinya. la juga ingin diberi tahu tentang tindakan-tindakan yang diambil Speelman terhadap Madura. Juga disetujuinya pendudukan Belanda di tempat-tempat tertentu di Jepara. Jadi, ia memberi kepercayaan penuh kepada Speelman dan Ngabei Wangsadipa. Pada suatu malam diselenggarakan pertemuan singkat dan rahasia dengan Pangeran Adipati Anom — yang menamakan diri sebagai anak Laksamana Spelman. Memang ia selalu memandang Speelman sebagai seorang ayah. Tetapi untuk itu Speelman terlebih dahulu harus menghadap Pangeran Martasana. Hal ini harus disampaikan pribadi kepada Spelman. Jika tidak, akan ada laporan buruk kepada Sunan, ayahanda putra mahkota yang sangat ditakutinya. Pada tanggal 7 Maret berangkatlah orang-orang Jawa utusan Speelman itu. Seminggu kemudian mereka tiba di Jepara, dan menyampaikan laporan kepada Speelman. Empat orang utusan Mataram yang menyertai mereka menyampai- kan uang 9.000 ringgit yang dibawanya kepada Speelman. Setelah Mirmagati tiba kembali di Jepara pada tanggal 21 Februari 1677, Speelman segera memulai pembicaraan dengan Kepala Daerah Ngabei Wangsadipa, tentang jawaban Sunan yang telah diterimanya. Tentang ini jauh lebih sedikit lagi yang kita ketahui dibandingkan dengan surat Speelman. Tetapi yang pasti, tersebut di dalamnya bahwa Ngabei Wangsadipa yang tua itu diberi kuasa penuh (Daghregister, 20 Maret 1677). Akibat tukar pikiran ini ialah bahwa tersusun pembaruan sementara pada tanggal 25 Februari 1677 € 161 terhadap perjanjian lama dengan Sunan tahun 1646. Tiga hari kemudian, rancangan ini dibubuhi meterai dan ditandatangani. Dalam hal-hal tersebut di atas kepala daerah pasti tidak bersikap diam, dan selalu hanya sekadar menyetujui belaka. Di satu pihak tokoh ini, yang pada umumnya dihormati sebagai penganjur bersemangat kerja sama dengan Kompeni, berarti memungkinkan adanya perubahan mendasar pada perjanji- an perdamaian yang lama; di pihak lain tidak semua keinginan Batavia dapat disetujui olehnya. Sebab, suatu perjanjian yang sangat mengikat Mataram tentu tidak dapat diterima, karena hanya akan memberikan alasan kepada kelompok yang anti-Belanda untuk menolak bantuan Belanda. Dengan demikian, kedudukan Ngabei Wangsadipa pasti akan dirongrong dari dalam sehingga pasti pula ia pun akan kehilangan nyawanya. Karena itu, tidak mengherankan jika pembesar yang sudah tua ini, setelah memberikan parafnya pada rancangan perjanjian tersebut, menegaskan: bila Istana tidak menyetujuinya, ia akan meninggalkan jabatannya, dan lebih baik mati di depan Sunan. Pernyataannya itu pasti bukan sekadar kata-kata kosong belaka. Sudah tentu risiko yang dihadapi Speelman jauh lebih ringan. Andai kata tuntutannya akan ditolak Mataram, kesempatan masih terbuka baginya untuk mencapai persetujuan dengan Raden Trunajaya, yangia yakin bukannya tidak mungkin. Hasil yang akan berakibat mala petaka bagi Wangsadipa, karena persetujuan dengan pemberontak Madura tersebut Tupanya dipandang enteng saja oleh Speelman. Mungkin ia berpendapat sangat kecil kemungkinannya hal itu akan terjadi. Maka, ia pun tidak ragu untuk mengirimkan utusan yang ditugasi berusaha agar perjanjian sementara itu dapat diterima. Utusan itu ialah Jacob Couper karena ia dengan fasih dapat membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Jawa. XIV—7 Perutusan Couper, 5-25 Maret 1677 Dari empat perutusan ke Mataram itu yang terpenting adalah yang ketiga, yaitu Jacob Couper, yang terjadi antara tanggal 5 dan 25 Maret 1677. Couper berangkat 12 hari setelah kembalinya utusan yang pertama, Mirmagati, dan 9 hari sebelum kembalinya utusan yang kedua, Jagapati, yang dijumpainya di tengah jalan. Tugas kedua perutusan yang pertama terutama mengenai soal-soal keuangan, sedangkan tugas Couper mengadakan perubahan pada Perjanjian dengan Sunan, agar dapat mengikuti perkembangan keadaan. Tugas ini dapat diselesaikannya dalam waktu 9 hari, dari tanggal 12 sampai 21 Maret. Yang menemani Couper dalam perjalanan tugas itu selain enam orang militer, juga dua orang putra Wangsadipa, yaitu Kentol Nayamenggala dan Kentol Surapraja. Di Plered perutusan menginap di rumah Kentol Nayameng- gala (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 95). 162 Atas nasihat Jagapati dan putra mahkota yang disampaikan melalui abdinya Kiai Sendi, juga nasihat putra tertua Ngabei Wangsadipa, yaitu Tanumenggala yang bertugas sebagai pengawal Sunan, Couper memutuskan pertama-tama menemui Pangeran Martasana. Tetapi banyak hal yang harus diusahakan Couper sebelum mendapat izin bertemu dengan pangeran itu. Baru pada tanggal 14 Maret pukul 10, ia mendapat izin untuk menghadap, orang yang kelihatan cukup banyak menaruh perhatian terhadap rencana perjanjian baru. Tetapi bersamaan dengan itu dapat diketahui pula adanya perpecahan yang telah terjadi antara para pangeran (Jonge, Opkomst, jil. VII, blm. 98). Pangeran Singasari katanya tidak mau membayar bantuan Kompeni; Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Puger juga tidak, tetapi Pangeran Martasana dapat membujuk mereka agar mau memberi imbalan kepada Kompeni. Akhimya Pangeran Singasari kalah suara. Putra tiri Sunan, Adipati Natabrata, tidak mengemukakan pendapat sama sekali (Jonge, Opkowst, jil. VII, hm. 99— 100). Keesokan harinya (15 Maret) Couper berunding dengan Pangeran Puger. Tetapi pangeran ini akan membicarakan persoalan itu dengan para pangeran, saudara-saudaranya. Hari berikutnya diadakan kunjungan pada putra mahkota. Tetapi kunjungannya kepada Pangeran Singasari terlambat, karena pangeran ini sudah siap hendak berangkat ke alun-alun. Ja memutuskan menunda kunjungannya sampai keesokan harinya. Sementara itu, Couper berkesimpulan, Pangeran Adipati Anom tidak mendapatkan simpati dari saudara-saudaranya. Karena itu, ia berpendapat lebih baik mengatakan kepada mereka bahwa Belanda pun tidak senang pada putra mahkota. Hal ini akan memudahkan baginya dalam menyelesaikan masalahnya dengan mereka (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 101). Pada tanggal 15 Maret itu, keempat pangeran bersaudara tersebut bermusyawarah di paseban. Dan pada pukul 4 sore muncul Sunan dengan bertopang tongkat di balai Sukasana, menanyakan masalah yang mereka bicarakan, dan memerintahkan agar kepada perutusan Belanda diberikan penjagaan (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 102). Perintah ini dilaksanakan oleh + Tumenggung Mataram dan Tumenggung Jagabaya. Tetapi justru penjagaan oleh sejumlah 20 orang prajurit Mataram itu menjadi perintang bagi Couper untuk mengunjungi Pangeran Singasari pada keesokan harinya. Tidak lama kemudian perutusan datang dan disambut dengan khidmat oleh para pangeran di paseban. Setelah terjadi sedikit perbedaan pendapat, maka disampaikan oleh perutusan surat untuk Sunan yang bermeterai emas. Surat diterima oleh para pangeran karena Sunan dalam keadaan sangat lemah, dan tidak dapat menerima tamu. Surat dan rancangan perjanjian yang disusun oleh Kiai Mas Sutadaya, juru tulis Jawa pada Couper, dibacakan oleh sekretaris, Carik Surabaya. Tetapi karena surat itu ternyata terlalu sulit baginya, maka tugas akhirnya diambil alih oleh Couper (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 163 103-104). Pangeran Singasari tidak menyetujui perluasan daerah Kompeni, selain kewajiban membayar biaya, dan Couper menjelaskan soal ini Uonge, Opkomst, jil. VII, him. 104). Para pangeran tidak lagi memberikan pendapat mereka, dan mengutus bendaharawan dan sekretaris agar menghadap Sunan. Tetapi bendaharawan itu kelihatan bimbang. Setelah didesak dan dimaki-maki oleh Pangeran Martasana, akhirnya pergi juga ia ke Istana. Couper menyuruh Kiai Tanumenggala, yang sebagai mantri anom bisa masuk keluar Istana secara bebas, membuntutinya (Jonge, Opkowst, jil. VII. hlm. 105). Setelah surat itu dibacakan, Raja minta pendapat para putranya. Ketika mereka menyatakan keberatan terhadap perluasan daerah Kompeni sampai ke Pamanukan, maka Sunan pun tidak menyetujuinya, dan menyatakan bahwa saudaranya, Speelman, hanya ingin memberitahukan kepadanya tentang negeri Mataram yang tidak diperintah secara baik. Masing-masing pangeran itu bersama 1.000 orang prajurit, lalu diperintahkan mengantarkan Speelman ke Sampang. Tetapi para pangeran masih ingin bermusyawarah sekali lagi. Sementa Couper menyatakan ingin segera mendapat jawaban Gonge, Opkomst, ji him. 105-106). Perjanjian yang baru itu harus ditandatangani, dengan dihadirinya. Pada tanggal 17 Maret dilangsungkan pasewakan agung yang kedua. Kecuali mengenai penciutan atas wilayah kerajaannya, Sunan bersedia menandata- ngani semuanya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 106— 107). Couper menyetujui- nya, dan Carik Surabaya mencatatnya di pinggir kertas perjanjian itu. Pangeran Adipati Anom juga menyampaikan keinginan Sunan bahwa Raden Trunajaya harus dilenyapkan. Couper memberikan jawaban samar-samar, tetapi putra mahkota, yang mempunyai alasan tersendiri, mengulangi, "Katakanlah kepada Laksamana, itu satu permintaan Sunan!” Bahkan kepada Speelman, Pangeran itu menulis "dengan hati terbakar ingin melihat hancurnya Trunajaya” (Daghregister, 30 Maret dan 4 April 1677, hlm. 79 dan 90). Sekalipun ada keberatan pada Couper, tiga butir perjanjian itu akhirnya dikukuhkan dengan cap (meterai) kerajaan oleh Pangeran Adipati Anom, yang telah diberi kuasa untuk itu. Kemudian tiga pangeran lainnya juga membubuhkan meterai mereka ... dengan lak merah di atasnya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 107). Ketika ditanya mengenai uang yang harus dibayarkan, para pangeran serentak menerangkan bahwa perbendaharaan kerajaan sudah kosong setelah mengeluarkan 10.000 ringgit. Semua harta kekayaan sudah dibagi-bagikan di antara para bangsawan Mataram (Jonge, Opkowst. jil. VII, hlm. 108). Sementara itu, Couper bertanya apakah sebagai penggantinya dapat diberikan emas. 164 Tetapi yang diperolehnya tidak lebih dari kata-kata jaminan yang diucapkan dengan bersungguh-sungguh belaka (lihat juga: Jonge, Opkomst, jl. VII, hlm. 110). Setelah memohon jawaban secepatnya atas surat-surat itu, kepada Couper dikatakannya bahwa pada tanggal 20 Maret (hari Sabtu) Sunan pribadi akan menyerahkan surat itu kepadanya. Pada hari Sabtu tersebut Couper diminta supaya menghadap pada pukul 2 siang, setelah terlebih dahulu para pangeran berbicara dengan ayahandanya. Couper menerima sepucuk surat, juga sebatang tombak dan sebilah keris, sebagai tanda kehormatan pribadi. Utusan Belanda itu menerangkan bahwa 100 tombak dan keris pun tidak akan membuatnya begitu senang seperti menerima sepucuk surat pribadi dari Sunan yang sudah tiga hari dinantinya. Para pangeran menjelaskan bahwa Sri Baginda sudah terlalu parah sehingga tidak dapat duduk. Selanjutnya banyak sekali yang dibicarakan mengenai mandat bagi Ngabei Wangsadipa, untuk menyertai Speelman yang diizinkan pergi ke kawasan timur, tetapi tanpa pengiring. Selain itu Kiai Suta dari Tegal dan Brebes mendapat tugas menjaga Jepara selama ditinggalkan oleh ngabei itu. Kelihatannya akan lebih baik jika semua daerah di sebelah barat Jepara juga ada di bawah kekuasaan Ngabei Wangsadipa. sehingga ia mempunyai banyak bawahan (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 111-112). Pembicaraan dengan para pangeran selanjutnya hanya mengenai soal-soal formalitas saja, dan sedikit sekali yang sempat tercatat. Pada tanggal 21 Maret Couper bertolak pulang. Empat hari kemudian tiba di Jepara, tepat seperti yang direncanakan, kemudian menjumpai Speelman yang sudah siap-siap untuk berangkat. Sekalipun dari luar tampak ada persetujuan antara Istana Mataram dan benteng Batavia, kedudukan kepala daerah Jepara masih goyah. Kelompok anti-Belanda tidak berani secara terbuka melawan Speelman, ataupun utusannya, Jacob Couper. Tetapi secara diam-diam balas dendam mereka dilampiaskan kepada Ngabei Wangsadipa. Sekalipun Ngabei itu semula mendapat kuasa penuh dari Sunan dan sangat senang menyertai perjalanan Speelman ke Surabaya, tiba-tiba entah karena apa, konon ia diancam hukuman mati. Tanpa setahu atau perintah Raja, ia tidak boleh meninggalkan Jepara (Daghregister, 20 Maret 1677, hlm. 69). Rupanya, larangan ini datangnya dari atas. Ketika pada akhirnya ia sendiri yang harus memutuskan pergi atau tidak, ia mendapatkan dukungan bala tentara justru dari rakyat di bawah kekuasaan Raden Trunajaya. Hal itu disebabkan karena — sekalipun Ngabei Wangsadipa diberi kuasa atas semua pelabuhan Mataram — Pangeran Martasanalah yang menguasai daerah-daerah di sebelah barat Jepara, sehingga kepala daerah Jepara itu hanya menguasai pelabuhan-pelabuhan di sebelah timur yang sudah hancur dan tidak didiami rakyat lagi (Daghregister, 2 April 1677, him. 90). 165 we ha -— Terserah kepada Speelman dengan cara bagaimana, dan dengan kekuatan senjata apa, daerah-daerah di sebelah timur itu dapat direbut kembali. Pendapat ini semula tidak begitu terpikir olehnya. selama belum pasti terjadi perpecahan dengan Raden Trunajaya. Sementara itu, Kompeni membantu Ngabei Wangsadipa. Sebagai penghor- matan ia juga diberi cap emas — seperti pada keempat putra Sunan (Daghregister, 20 Maret 1677). Juga Kompeni berpura-pura tidak tahu tentang perbuatan istrinya yang telah menghambur-hamburkan uang 1.000 ringgit biaya perang yang dikumpulkan oleh Kota Jepara, karena kurang bijaksana untuk pada saat demikian melancarkan kecaman atas kejadian itu (Daghregis- ter, 30 Maret 1677, him. 78). Sekalipun demikian, ia tidak banyak dapat memenuhi berbagai keinginan Speelman. Dari 20 gonting beras yang diminta Speelman, ia hanya dapat menyerahkan 6 gonting; dari 400 kelasi hanya dapat disediakan 150 orang (Daghregister, 4 April 1677, hlm. 191—192). Selain itu, pada waktu armada berangkat ia hanya dapat memberikan janji akan mengirimkan lagi 4.000 orang Jawa, dan pertahanan di Gunung Jepara akan diperkuat, beras dan ternak untuk keperluan Belanda akan disediakan, serta pemeliharaan dinas pos antara Jepara, Surabaya, dan Batavia akan diselenggarakan. Speelman masih tetap menunggu kedatangan Couper walaupun telah lebih dari delapan hari seperti yang dijanjikan — yang sebetulnya memang terlalu pendek. Tetapi setelah dua setengah minggu habis kesabarannya dan ia pun memutuskan berangkat saja ke Surabaya. Pada tanggal 24 Maret 1677 ia menulis surat pemberitahuan kepada Pemerintah Tinggi bahwa keesokan harinya ia akan bertolak. Pada tanggal 25 Maret Ngabei Wangsadipa bersama semua pembesar dan bangsawan Jawa mengantarkan Speelman ke kapal. Ngabei yang sama sekali belum tahu akan hasil perutusan Couper itu sudah pasti memandang keberangkatan ini dengan perasaan cemas. Tetapi sebelum para pengantar turun dari kapal, tepat pada waktunya muncul Jacob Couper yang datang dari Mataram, tanpa uang ... tetapi membawa berita dan surat yang bukannya tidak menyenangkan, dari Sunan serta empat putranya berikut perjanjian yang telah diratifikasi (Daghregister, 4 April 1677, hlm. 89). Speelman menganggap perjanjian baru ini sangat berharga sehingga dengan demikian biaya pembuatan segel-segel emas itu dianggapnya berguna sekali. Sekalipun hasilnya tidak segera tampak, Speelman berpendapat bahwa dengan perjanjian baru pihak Jawa terikat pada Kompeni. Karena itu, ia dapat berangkat ke timur dengan hati lega. Naskah perjanjian baru itu dapat dibaca dalam “Corpus Diplomaticum Neerlando—Indicum’ (Heres, Corpus”, jil. III, hlm. 39). Isinya secara ringkas disajikan di bawah ii 166 Dengan disahkannya perjanjian tanggal 23 September 1646 (pasal 1) maka ditetapkanlah guna memberi bantuan kepada Sunan melawan musuh-musuh- nya, yang tidak berperang melawan Kompeni, asalkan Raja membayar biayanya (pasal 2). Sungai yang menjadi batas wilayah tetap Sungai Karawang, karena Raja menolak perluasan daerah sampai Sungai Pamanukan (pasal 3). Kedua belah pihak akan tukar-menukar budak, orang yang berutang, juga orang Kristen dan orang kafir (pasal 4). Barang dagangan Kompeni akan beredar di seluruh Kerajaan Mataram dan bebas dari cukai (pasal 5). Untuk keperluan perdagangannya, Kompeni boleh membangun loji dan menyewa tenaga kerja, yang tidak boleh dikenai pembayaran oleh para pembesar daerah lebih dari 1 rial per kepala per tahun (pasal 6). Para pedagang dan leveransir yang berdagang dengan Kompeni, yang membeli atau menjual, hanya dikenai pajak 2% dari harga pembelian dan penjualan (pasal 7). Setiap tahun Sunan menyerahkan kepada Kompeni di Batavia: 4.000 koyan beras bermutu baik menurut yang berlaku di pasar (pasal 8). Para warga Kompeni (orang-orang merdeka dan Cina), asalkan ada segelnya, harus membayar 3% atas pembelian dan penjualan satu rial untuk setiap koyan beras (pasal 9). Mengangkut barang melintasi perbatasan hanya diizinkan dengan surat pas dari Kompeni (pasal 10). Kompeni boleh menyerang musuhnya di teluk-teluk perairan Jawa; jika musuh yang menyerang, orang Jawa harus membantu (pasal 11). Bantuan harus diberikan kepada kapal-kapal Kompeni jika terdampar (pasal 12). ‘Akibatnya, beban keuangan yang berat menjerat leher Mataram: sampai akhir Juni 1677 jumlahnya 250.000 rial; di antaranya 125.000 rial harus segera dibayar, dan selanjutnya 62.500 rial pada tahun 1678 dan sebanyak itu pula pada tahun 1679. Selain itu harus menyerahkan beras 3.000 koyan di Batavia, yakni 1.000 koyan pada tahun 1677, begitu pula untuk tahun 1678 dan 1679. Dari tanggal 1 Juli 1677: 20.000 rial per bulan. Operasi pendudukan Gunung Danareja di Jepara dibebankan atas biaya Sunan. Pada tanggal 25 Juni 1677 dilakukan ratifikasi oleh Pemerintah Kompeni. XIV-8 Perutusan keempat, Pertengahan Maret—Awal Juni 1677 Kecuali mengejar mandat untuk Ngabei Wangsadipa dan pembaruan perjanjian dengan perantaraan ngabei itu, Speelman juga berusaha memper- oleh surat kuasa dari Sunan bagi dirinya sendiri untuk bertindak atas namanya. Karena itu, setelah Kiai Mirmagati tiba kembali, tetapi sebelum Jacob Couper kembali (jadi antara tanggal 14 dan 24 Maret 1677), dengan perantaraan empat pejabat Istana Mataram, Speelman menerima surat kuasa yang diserahkan oleh ... Wangsadipa dan sesama pembesar dari Istana Mataram, dengan wewenang mengadakan perundingan dengan raja Madura (Raden Trunajaya), baik dalam masa perang maupun masa damai, untuk 167 bertindak atas nama Sunan, menurut kebijaksanaan dan apa yang dianggap paling baik menurut keadaan. Alat ini dipandang penting sekali, baik oleh Speelman maupun Ngabei Wangsadipa, dan dengan persetujuan mutlak selanjutnya dibubuhi meterai dan dikukuhkan. Dua orang lurah Jepara akan menyertai empat pejabat Istana itu, dan akan kembali lagi dengan membawa surat kuasa itu setelah disetujui Sunan (Daghregister, 30 Maret 1677, him. 78—79). Selain itu menurut bunyi pasal 13 perjanjian dengan Kompeni yang diperbarui itu, pada hakikatnya Speelman ditunjuk sebagai wasit antara Sunan dan pihak lawannya; dan kepada keputusan wasit itu kedua belah pihak — jadi pihak Mataram juga — harus tunduk (Daghregister, 4 April 1677, hlm. 91). Tetapi baru beberapa bulan kemudian kedua pengantar surat Ngabei Wangsadipa tiba kembali di Jepara. Perjalanan pulang mereka terhalang oleh karena Semarang jatuh untuk kedua kalinya pada bulan April 1677. Baru pada sekitar awal Juni 1677, setelah mencari jalan keliling yang jauh, mereka berhasil membawa kembali surat kuasa untuk diberikan kepada Tuan Speelman dan telah dimeterai oleh Sunan dan empat putranya dari Mataram ke Jepara (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 123). Naskah ini dapat ditemukan dalam Heeres “Corpus” Il, him. 48. Sementara itu, Speelman sudah agak lama bertindak seolah-olah telah memiliki surat kuasa itu. Inilah gambaran keadaan ketika itu. Bab XV Speelman di Surabaya April—Juli 1677 XV—1 Perundingan dengan Raden Trunajaya, April 1677 ada tanggal 9 April 1677 armada Belanda membuang sauh di depan beting Selat Barat (Westgat). Spelman sudah begitu banyak tahu tentang Raden Trunajaya, sehingga ia memutuskan untuk terlebih dahulu mengirimkan Jacob Couper kepada "Yang Mulia’ itu (Daghregister, 27 April 1677, hlm. 108). Sementara itu, muncul juga dari Surabaya seorang warga dari Batavia bernama Willem Mauray, yang bercerita banyak mengenai berkibarnya bendera Belanda dan bendera putih di depan tempat tinggal Trunajaya dan mengenai macam-macam tingkah pembesar yang tidak menentu itu. Tiga hari setelah melewati beting itu Couper dapat menyelesaikan tugasnya dan tiba kembali pada tanggal 15 April 1677. Laporan mengenai pengalaman- nya bertanggal: Pulu Mangarai, 14 April 1677 (K.A. No. 1218, hm. 1644). Kedatangannya di tempat kediaman Raden Trunajaya rupanya diterima dengan ramah sekali, sekalipun agak dibuat-buat. Panembahan itu sebenarnya ingin memperlihatkan wajah yang cerah, tetapi dari sorot matanya tampak jelas ia sedang dilanda banyak kesulitan, sehingga mukanya kadang-kadang sejurus kelihatan gembira tetapi sesaat kemudian kembali tampak sedih. Pendek kata, ia kelihatan seperti tenggelam semalam suntuk dalam kenikmatan minuman keras. Tetapi seraya menerima kunjungan Couper ia masih juga mereguk beberapa gelas minuman keras. Adapun mengenai perundingan yang hendak diadakan, Couper membe- ritahukan kepada Raden Trunajaya tentang kedatangan Speelman yang ingin sekali berbicara dengannya. Raden Trunajaya pun menerangkan, sudah lama ia mengharapkan kedatangannya dan harapannya supaya "bila fajar tiba segera menjadi malam, dan bila malam tiba segera pula menjadi fajar, karena 169 saya sudah ingin segera bertemu saudara saya Tuan Laksamana. Marilah kita minum untuk kesehatan saudara saya itu! Saya harus duduk di bawah. Ambilkan botol!” Maka, turunlah ia dari kursinya dan duduk di lantai. Pertemuan itu tidak meningkat lebih jauh daripada minum, makan, dan saling bertukar hadiah tanpa ada sepotong pun pembicaraan yang penting. Sehingga Couper terpaksa kembali ke kapal armadanya tanpa mencapai hasil apa pun. Raden Trunajaya hanya menyatakan keinginannya menyambut kedatangan Speelman di darat, agar bersama-sama bergembira ria dan istirahat bersama, Couper menganggap tokoh Madura itu terlalu bersikap ragu dan curiga (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 115). Pada tanggal 17 April 1677 beberapa orang yang diberi kuasa oleh Raden Trunajaya, dengan diantar oleh Hans Reyger, melakukan kunjungan balasan. Mereka menyampaikan beberapa minuman dan makanan kepada Laksamana, dan pulang kembali dengan perasaan sangat gembira setelah diberi satu tong minuman keras (Laporan dalam K.A., No. 1281, hlm. 1710) untuk gustinya (Daghregister, 14 Mei 1677, him. 136). Mereka memperlihatkan sikap yang sangat hormat dengan minum untuk kesehatan Sunan, dan mengakuinya sebagai gusti mereka yang sah (Daghregister, 4 Mei 1677). Dua hari kemudian Speelman mengirimkan perutusan yang lebih besar kepada Raden Trunajaya, yakni Isaac de Saint-Martin, Jacob Couper bersama Para penerjemah Encik Alim dan Jabar, dan orang Mor, Piroe. Tiga orang yang disebut paling akhir ini berangkat terlebih dahulu, untuk memberitahukan kedatangan para utusan. Ternyata, memang perlu, karena menurut kete- rangan Hans Reyger, Panembahan sehari sebelumnya dalam keadaan mabuk penuh dan tidur pulas tidak sadar diri. Baru setengah jam berselang ia bangkit dari tempat tidurnya, dan tampil dengan pakaian adat istana Jawa kuno, yakni dengan dada telanjang, giwang emas bertabur berlian, kuluk putih dan juga dodot dengan celana. Beberapa orang wanita tua melayaninya. la duduk di atas sebuah bantal persegi, tepat berhadapan dengan para utusan, dan mengulur- kan tangan memberi salam kepada orang-orang Belanda menurut adat Belanda. Setelah membungkukkan badan dalam-dalam, pembicaraan segera dimulai dengan didahului penyerahan hadiah dari Laksamana: satu tong minuman keras, yang menimbulkan perasaan sangat gembira pada Panembah- an. Ia berkata, "Saya memang sudah lama ingin minum satu tong minuman keras.” Segera ia memberikan perintah kepada abdinya agar tong itu diangkut ke luar. Ketika diminta agar menemui Speelman di kapal, jawabnya, para abdinya akan merasa sangat takut. Bahkan ketika para utusan menawarkan dua sampai tiga orang sandera, ia tetap menolak. la mengharap Laksamana turun ke darat! la seakan-akan tidak mendengarkan ketika Van Oppijnen mengulangi Permintaan itu. Raden Trunajaya kadang-kadang menoleh ke kiri dan ke 170 kanan kepada para pengikutnya, lalu berbicara dalam bahasa Jawa, “Para saudara dan kemanakan, jangan khawatir, orang-orang yang hadir di sini tidak datang untuk berperang karena mereka kawan kita.” Couper, yang mengerti_ benar apa yang diucapkan oleh Raden Trunajaya itu, mencoba memancing lebih lanjut dengan berbicara tentang perutusan yang akan dikirimkan kepada pihak Makassar dan kepada Kiai Darmayuda dan Aria Blater. Sesungguhnya Speelman belum hendak mengirimkan perutusan itu sebelum membicarakan- nya dengan Raden Trunajaya. Terhadap pembicaraan orang Belanda itu Raden Trunajaya tidak memberikan tanggapan apa-apa selain membual. Rangga Wanengpati, putra ‘Tumenggung Mangunnagara, datang kepadanya dari Mataram dengan berita bahwa separuh Kerajaan Mataram sudah dihancurkan, dan akibat perbuatan Raden Kajoran mereka saling memerangi. Untuk membuktikan kebenaran pernyataannya itu, Raden Trunajaya menyuruh Rangga Wanengpati menegas- kan pernah melihat kapten Belanda dari Jepara, yaitu Couper, di ibu kota Mataram. Tetapi ia tidak dapat menunjuk kapten dari Jepara ini di antara para utusan itu, padahal Couper masih memakai pakaian yang sama. Baru ketika Raden Trunajaya berkata, "Lihatlah, orang yang kedua itu!” Rangga Wanengpati menegaskan, "Ya, saya pernah melihatnya di Istana Mataram.” Tetapi Mansur menerangkan, ia kenal putra-putra Mangunnagara, tetapi Rangga Wanengpati tidak termasuk di antara mereka itu. Ia yakin benar, ucapan itu tidak lebih dari kebohongan terselubung belaka. Selama pembicaraan ini Raden Trunajaya selalu memandangi bulu-bulu burung hiasan pada topi St. Martin, dan kemudian dimintanya dilepas topi laken kelabu berhiaskan sehelai bulu burung hitam yang tampak kumal dan kotor itu. Sambil berusaha memperbaiki lipatanlipatan 1, ia menyuruh abdinya pergi membeli topi. Salah seorang abdi berkata, "Topi mudah didapat tetapi bulu-bulu burung tidak.” “Tidak,” jawab gustinya, "yang saya maksudkan topinya bukan bulu-bulu burung, sebab itu mahal sekali; saya pun pernah diberi bulu-bulu burung semacam itu oleh seorang kakak dan kawan dekat.” Setelah itu ditanggalkannya kuluknya dan dipakainya topi itu. Couper menahan perasaan geli dan dianggapnya panembahan itu kurang waras. yang nyata pula dari wajahnya. Hal seperti itu memang tidak aneh bagi seorang pemabuk! Trunajaya pun tidak banyak menaruh perhatian pada ucapan- ucapan Speelman. Ketika Couper pada akhirnya meminta jawaban, Raden Trunajaya berjanji, “Akan saya kirimkan kepada saudara saya Tuan Laksamana melalui kawan-kawan saya.” Setelah minum segelas anggur lagi, berangkatlah mereka, tanpa mencapai hasil. Di luar pelabuhan setiap utusan memperoleh daging lembu seperempat badan dan beras dua karung kecil, tetapi jawaban yang dijanjikan itu masih belum terdengar juga. Pada tanggal 19 April 1676 beberapa orang utusan Raden Trunajaya datang 171 F "oO dengan hanya membawa makanan dan minuman saja, tetapi tanpa surat. Karena itu, pada tanggal 20 April Spelman mengirimkan kapten orang _ Melayu, Encik Bagus, untuk menjemput jawaban yang pernah dijanjikan itu (K-A., No. 1218, hlm. 1760). Tetapi Raden Trunajaya dengan terus terang mengatakan tidak berniat berkunjung ke armada. Rakyatnya merasa sangat khawatir akan dirinya, artinya khawatir akan ditahan di sana. Biarlah Laksamana Speelman saja yang datang ke darat, ujarnya Encik Bagus berpendapat, Laksamana harus datang dengan pengawal sebanyak 500 atau 600 orang. Tetapi Raden Trunajaya berpendapat 20 orang saja sudah lebih dari cukup, untuk membawa air, pinang, dan sebagainya. "Itu akan amat menyenangkan bagi saya,” katanya, “dan rumah saya adalah milik _ Laksamana berikut wanita mana saja dan suguhan apa saja. Dan kita akan tidur di atas satu tikar dan satu bantal; itulah tanda keakraban bagi kami yang hidup _... dalam persaudaraan.” ; Mula-mula makanan yang disajikan ditolak oleh sang utusan. Ja mengusul- kan agar mengadakan pembicaraan empat mata. Kemudian Panembahan menyuruh abdinya menghamparkan permadani, tetapi tiba-tiba ia berdiri dan berkata, "Saya harus buang air kecil sebentar.” Lalu pergilah ia beberapa saat. Setelah kembali tampak pada pinggangnya terselip keris, padahal sebelumnya ia tidak berkeris. Kemudian diiringi oleh sekelompok wanita yang bersenjata, ia duduk di atas permadani dan mengundang Encik Bagus supaya duduk juga. Utusan Spelman berusaha mendesak Raden Trunajaya agar secara te1us terang memberitahukan yang menjadi rencananya: "Jika Paduka percaya pada Laksamana, dan kita hanya berdua di sini, terangkanlah kepada saya apakah pendapat Paduka dan bagaimanakah keinginan Paduka untuk menjadi raja. dan apakah yang Paduka minta dari Laksamana ....” Panembahan lalu menerangkan bahwa ia tidak mempunyai keinginan apa pun, karena seluruh tanah Jawa berikut segala isinya sudah menjadi miliknya. Semua orang Jawa, kecuali Sunan, sudah menyembah padanya. la telah mengirimkan rakyatnya sebanyak 400.000 orang untuk melawan Makassar. Jika Speelman masih mau menunggu sebulan lagi, maka di seluruh lawa tidak akan ada sesuatu yang tidak dapat diserahkannya kepada Speelroan, apabila diinginkannya. Surabaya kini sudah miskin, tetapi jika pasuka‘. yang telah dikirimkannya itu pulang kembali, Spelman akan memperoleh ape saja yang dikehendakinya, "karena seluruh perdagangan harus diatur mei tangan Pada waktu santap bersama, diperintahkannya kepada rakyatniya supaya mempersiapkan 100 ekor lembu dan 100 koyan beras untuk Soeelman. Demikianlah, perutusan ini pun tidak membawa hasil sama sekoli. Pada tanggal 22 April 1676 Encik Bagus sekali lagi berangkat ke Surabaya. 172 Kali ini mungkin dengan ancaman yang sungguh-sungguh bahwa Spelman berniat mengadakan perundingan dengan Makassar yang bermusuhan dengan Trunajaya. Rupanya, ancaman ini benar-benar ada pengaruhnya, karena Trunajaya "meminta ... secara khusus supaya (Spelman) ... menunda pengiriman perutusannya kepada orang-orang Makassar sampai (ia) sempat berbicara mengenai hal itu ... dengan (Spelman) bila nanti bertemu” (Daghregister, 14 Mei 1677, hlm. 137). Pada pokoknya, dengan demikian, Trunajaya sudah bersedia mengadakan perundingan, yaitu suatu perundingan di antara garis demarkasi. Karena itu, pada tanggal 24 April 1677 Speelman dengan perahu kecil begitu merapat menghampiri daratan, sehingga ketika air surut perahu itu hampir kandas. Untuk menghilangkan segala kecurigaan, ia menyuruh tiga orang kaptennya kembali ke kapal. Sampai sore hari Speelman menunggu- nunggu. Ketika hari sudah gelap ia menyuruh Couper dan Van Oppijnen menanyakan mengapa Raden Trunajaya tidak datang. Juga ia ingin segera mengetahui apa yang hendak diberitahukan oleh Trunajaya. Takjub Speelman mendapat jawaban, "Niat Tuan tiada lain kecuali hanya hendak minum dan makan bersama saya, dan untuk itu Tuan sudah membawa makanan dan minuman” (Daghregister, 14 Mei 1677, hlm. 137). Jawaban ini dianggap Speelman sebagai penghinaan di muka umum. Lagi pula, ia meragukan maksud baik Raden Trunajaya. Tidak jauh dari situ ada tiga perahu dengan enam orang bersenjata dan berbaju zirah, serta kira-kira 120 orang bersenjata, sedangkan di balik tikungan pertama sungai terdapat 80 perahu yang lebih kecil, penuh dengan prajurit. Kesabaran Speelman, setelah lebih dari dua minggu menunggu-nunggu perundingan, sudah sampai pada batasnya. Ia menuntut agar Raden Trunajaya dengan pengiringnya datang dalam waktu dua kali 24 jam ke Kamal, Madura. Di sana ia dapat melanjutkan perundingan dengan Speelman, jika ia mau menganggap Sunan sebagai gustinya yang sah. Dalam waktu 24 jam diharapkan ada jawaban atas ultimatum ini, yang disampaikan oleh Kapten Van Oppijnen dan juru tulis Melayu, Encik Alim, pada tanggal 25 April. Karena belum juga ada jawaban, pada tanggal 27 April 1677 malam diumumkanlah pernyataan perang (Daghregister, 14 Mei 1677, hlm. 139; Jonge, Opkowst, jil. VU, him. 117). Selembar di antara enam salinan pernyataan perang itu dikirimkan kepada Panembahan Giri. Setelah itu barulah seorang abdi Raden Trunajaya, Kiai Litawangsa, membawa sepucuk surat dari gustinya (K.A. No. 1218, hlm. 1596). Dalam jawaban yang terlambat ini ia meminta maaf karena tidak dapat datang di tempat pertemuan sesuai dengan janji. Terlalu banyak orang Kompeni berada di tempat itu, karena itu ia tidak berani. Tetapi ia setuju akan kembali ke Madura dan menyatakan diri sebagai abdi Sunan. Seorang diri ia akan . 173 menghadap Sunan, dan Speelman hendaknya menunggu saja di pantai sampai ia kembali. Sudah tentu pernyataan simpang siur seperti itu tidak dapat dilayani. Perang pun akan segera pecah. XV — 2 Kubu-kubu pertahanan Surabaya Kubu-kubu pertahanan Raden Trunajaya di sekitar Surabaya dapat digambarkan sebagai berikut: Di sebelah barat Kali Mas terletak kota istana lama. Raden Trunajaya, yang menyadari bahwa pertahanan yang primitif ini tidak akan dapat menahan serangan orang Eropa, telah membangun di alun-alun sebelah utara kota itu benteng pertahanan berbentuk persegi yang terbuat dari batu. Karena buruknya, ditunjangnya benteng itu dengan batang-batang pohon kelapa. Di sekeliling tempat itu terdapat lapangan terbuka, yang ditanami penuh dengan sungga-sungga rencong. Hanya sedikit saja jalan masuk yang bebas dari ranjau (KA. No. 1218, hlm. 1713). Mungkin pada waktu membangun pertahanan itu ada sebagian tanah yang ditinggikan, dan tempat-tempat itu dapat dicari di dekat Jembatan Merah sekarang. Daerah pertahanan ini diperkuat dengan meriam yang banyak sekali. Bukan saja dapat mempertahankan istana dan sekitarnya, tetapi juga lalu lintas di sungai. Di sanalah diduga akan terjadi serangan utama. Semula rupanya tidak terpikirkan untuk menyusun pertahanan di sebelah timur Kali Mas. Pertahanan ini baru menjadi penting jika Speelman tidak masuk melalui Kali Mas tetapi mendarat di muara Sungai Ampel, sekarang Kali Pegirian. Kubu-kubu pertahanan di antara kedua anak sungai itu diperluas dan diperkuat di titik temu terdekat yang menghubungkan kedua anak sungai itu. Benteng pertahanan di situ bukan dari batu, melainkan dari bambu, batang pohon kelapa, yang ditanamkan pada tanah. Lubang-lubang dibuat untuk laras meriam. Selagi diadakan serangkaian perundingan yang terakhir, pihak Trunajaya sibuk membangun pertahanan itu dan menempatkan meriam- meriamnya. Tetapi semua kesibukan itu tidak dapat menutupi kenyataan bahwa kubu-kubu pertahanan di tepi sungai sebelah timur lebih lemah daripada yang di sebelah barat. Ampel, yang terletak di luar garis pertahanan, yang dipakai Speelman sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan terhadap kota, bahkan sama sekali tidak diperkuat. Kelalaian mengenai penyusunan kekuatan pertahanan di sebelah timur inilah yang menyebabkan mengapa benteng pertahanan dengan tembok batu, sungga-sungga rencong, dan meriam yang begitu banyak akhirnya dapat dikepung. Dan tanpa suatu pertempuran pun benteng itu jatuh ke tangan 174 Belanda. XV—3 Pendudukan Ampel, 4—5 Mei 1677 Melalui keputusan bersama dengan para pembantunya, Speelman melaku- kan pendaratan pada tanggal 2 Mei 1677. Menurut peta Speelman, pendaratan itu dilakukan di Sungai Ampel — Kali Pegirian sekarang. Sekalipun Trunajaya telah memperkuat pertahanan di sungai itu dengan tiga pucuk meriam yang letaknya menguntungkan, ia tidak memberikan perlawanan. Raden Trunajaya bahkan tidak mau diajak berunding dengan mengibarkan bendera perdamaian. Dari jauh kelihatan ia berjalan-jalan di antara pasukannya. Pada tanggal 5 Mei pasukan Belanda selanjutnya menduduki daerah Ngampeldenta, termasuk candi yang terdapat di sana yang penuh dengan seratus pojok persembunyian (Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 120). Daerah itu sampai sekarang kelihatannya masih tetap sama saja. Makam-makam keramat itu pun jatuh ke tangan Belanda. Raden Trunajaya berpesan dengan sungguh-sungguh kepada Belanda agar memeliharanya dengan baik. Speelman berkubu di daerah itu. Ke sana didatangkanlah perbekalan alat-alat perang dan dipasang empat pucuk meriam. Dalam menyusun kubu pertahanan itu meriam-meriam Raden Trunajaya di Surabaya tidak menjadi rintangan. Pada tanggal 6 Mei kubu-kubu pertahanan dan perkemahan: Belanda selesai dibangun. Garis-garis pertahanan Belanda dibangun berhadap- an dengan garis-garis pertahanan Madura. Sementara itu, telah terjadi bentrokan senjata kecil-kecilan yang meminta korban empat orang Kompeni, tetapi empat kali lebih banyak pada pihak Madura (Daghregister, 23 Juni 1677, him. 183). Dengan berlangsungnya serangkaian perundingan oleh kedua belah pihak, sekalipun dengan berlainan tujuan, pertempuran yang menentukan masih tertunda selama seminggu. XV—4 Perundingan terakhir dengan Trunajaya, Mei 1677 Setelah pada tanggal 5 Mei 1677 daerah Ngampeldenta diduduki oleh pasukan Kompeni, Spelman mencoba sekali lagi untuk mempersingkat perang dengan mengadakan perundingan. Seorang wanita Melayu, yang ditahan oleh Belanda dalam sebuah kapal Madura dan suaminya bertugas di pasukan Raden Trunajaya, disuruh kembali ke Surabaya. Kepadanya dibawakan pesan secara lisan bahwa tidak seorang pun perlu merasa takut untuk menyampaikan sembah di hadapan Sunan. Setelah dilakukan pendaratan di Ampel dan juga setelah wanita itu disuruh kembali ke Surabaya, tampak di samping bendera-bendera Trunajaya berkibar dua bendera putih di kubu pertahanan Surabaya. Orang tidak mengerti apa = 175 te sebabnya, karena kedua garis pertahanan sudah berdekatan sampai sejauh jarak tembakan pistol. Maka, dikirimkanlah Asisten Grimmel ke sana dengan membawa bendera putih, untuk menanyakan keinginan mereka dan untuk memberikan jaminan perlindungan kepada setiap utusan Trunajaya, dengan syarat utusan itu membawa bendera putih (7 Mei, K.A. No. 1218, hlm. 1713). Grimmel diterima oleh Trunajaya pribadi. Atas pertanyaan mengenai arti bendera-bendera putih itu, Raden Trunajaya hanya menerangkan bahwa ia sahabat dan saudara Laksamana Speelman. Grimmel berpendapat, jika memang demikian, tidak perlulah orang-orang Belanda disambut dengan peluru. Raden Trunajaya melemparkan kesalahan kepada penduduk desa Jawa. Ia bersedia membongkar pertahanannya, asalkan Laksamana Speelman hanya melepaskan tiga kali tembakan isyarat. Grimmel minta agar ucapannya itu dicatat tertulis, tetapi Raden Trunajaya menolak. Ia harus membicarakan soal itu terlebih dahulu dengan lurah-lurahnya, dan pendiriannya akan disampai- kan esok harinya kepada Speelman oleh utusannya yang membawa bendera putih. Dengan "Tabe Baije” (banyak tabik) berakhirlah pembicaraan yang kelihatan sangat mengganggu pikiran Raden Trunajaya itu. ~ Keesokan harinya (8 Mei 1677) dengan perantaraan Kiai Litawangsa, Speelman menerima sepucuk surat yang isinya membingungkan dan "nadanya benar-benar menggelikan”. Pengantar surat itu mencoba meyakinkan Speelman maksud baik Panembahan dan gustinya (Daghregister, 23 Juni 1677, him. 183). Speelman yang tidak kenal lelah itu pada pukul 4 sore hari itu juga mengirimkan tiga orang pejabat, yakni Kapten Renesse dan dua orang pedagang, Couper dan Leeuwenson. Sambil membawa bendera putih mereka menuju istana Raden Trunajaya. Pada hari itu perundingan tidak dapat diadakan karena timbulnya perbedaan pendapat mengenai caranya. Setiap utusan Belanda hanya diperbolehkan membawa seorang pengawal. Setelah menunggu lama, Raden Trunajaya berpendapat sudah terlambat untuk memulai perundingan — hari sudah menjelang pukul setengah enam, dan orang-orang Belanda harus Kembali ke pangkalannya. Pada hari Minggu tanggal 9 Mei, perundingan dilanjutkan. Pihak Belanda melihat pertahanan Trunajaya, yang sebelumnya lemah dan kurang sempurna, tampak menjadilebih kuat, sehingga memperbesar kecurigaan mereka. Setelah menunggu seperempat jam, mereka diperbolehkan menghadap ke Istana; mereka melihat betapa gelisah Raden Trunajaya sehingga debar jantung di dalam badannya tampak nyata, dan menimbulkan keheranan. Ia duduk dengan bertelanjang dada. Terasa pula ia hendak merendahkan diri, yaitu 176 tidak duduk di atas bantal laken bersulam emas, tetapi sekadar di atas bleketépe” belaka. Couper, si ahli bahasa, mempelajari surat Trunajaya yang isinya kacau dan hampir tidak dapat dipahami itu. la menuduh Belanda memprovokasi perang dan melanggar janji. Sebaliknya, Couper mengingatkan pada ultimatum yang pernah diberikan. Raden Trunajaya menjawab dengan kecut bahwa ia sudah merasa cukup diperingatkan, tetapi merasa heran terhadap siasat Speelman yang melakukan pengepungan. Mengapa tidak secara jantan memasuki Kali Mas! Terungkaplah kini betapa meleset perkiraannya. Couper menjawab, Spelman sebagai orang yang diberi kuasa oleh Sunan tidak perlu memberikan pertanggungjawaban kepada Raden Trunajaya. Sekali lagi diulanginya tuntutan agar Raden Trunajaya kembali ke Madura, dengan jaminan akan mendapat perlakuan baik, sesuai dengan keadilan dan kebijaksanaan, asal mengakui Sunan sebagai gustinya. Raden Trunajaya menyatakan bersedia kembali ke pulaunya atas kehendak sendiri; tetapi ia menentang kekuasaan Sunan, karena Sunan bukan Sultan. ‘Mengenai hal ini lama timbul perdebatan, yang diakhiri dengan ancaman Couper, "Kompeni telah memulai pekerjaan ini bukan untuk berhenti di tengah jalan, melainkan hendak terus melaksanakannya, meskipun perang akan berlangsung sepuluh tahun, dan Tuhan yang Mahakuasa niscaya akan memberikan tahmat-Nya pada senjata kebenaran.” Raden Trunajaya mengatakan, segala sesuatu telah diketahuinya benar- benar. Lalu ia berjanji akan bertemu dengan Speelman di depan garis pertahanan siang itu pukul setengah tiga, dan ia tidak akan mengajukan lebih dari satu permintaan, yang apabila dipenuhi oleh Speelman akan membuat segala sesuatu berjalan dengan baik. Akhimnya ia minta agar makam-makam keramat jangan diganggu atau dirusakkan. Setelah minum anggur demi keberhasilan perundingan, kemudian berjabat tangan, para utusan Spelman kembali ke kubunya setelah menyetujui pertemuan yang direncanakan itu. Sementara itu, di tempat yang telah ditentukan, didirikan rumah kecil dari bambu. Di situlah Speelman menunggu pada waktu yang telah ditentukan. Tetapi ketika Couper dan Leeuwenson, masing-masing disertai seorang pengawal, kira-kira pukul tiga menjemput Raden Trunajaya untuk menuju tempat perundingan, segera mereka diberi tahu bahwa Panembahan masih bermusyawarah dengan para pembesar. Setengah jam kemudian mereka menerima permintaan agar perundingan ditunda sampai keesokan harinya. Utusan Belanda menolak. Speelman sudah lama menunggu. Sebagai peringatan, trompet ditiup. Rupanya, Raden Trunajaya diberi tahu oleh salah seorang abdinya. Tidak lama kemudian datang berita bahwa panembahan permainan perang tombak berkuda, juga dinamakan seton karena dahulu biasa diadakan tiap Sabtu (ed.) c 177 enc al sedang berpakaian untuk pergi ke tempat Perundingan. Seorang abdi lain kemudian datang menyarankan lebih baik Couper dan Leeuwenson berangkat lebih dahulu. Akhirnya Raden Trunajaya pun tetap tidak muncul, dan abdinya disuruhnya menyampaikan berita bahwa ia takut akan tembakan dari begitu banyak senapan. Lagi pula, Laksamana Speelman yang harus datang padanya — sesuai dengan perjanjian. Panembahan tidak lagi mau berbicara. Sementara itu, di depan gerbangkubu pertahanan Raden Trunajaya terlihat enam meriam yang dapat menembakkan peluru satu kg, dan semua prajuritnya memegang senapan atau senjata lain, jelas memperlihatkan niat_ buruk. Speelman, yang sudah hilang kesabarannya, membatalkan rencana perunding- an. XV-—5 Serangan terhadap Surabaya, 13 Mei 1677 Selama dua hari kemudian bendera perdamaian masih berkibar di kedua belah pihak. Tetapi setelah ternyata Raden Trunajaya hanya mengulur waktu saja, maka diputuskan pada tanggal 11 Mei 1677 setelah mengadakan musyawarah secara mendalam .... terpaksa mengejamya sebagai pemberontak yang tidak mengenal kesetiaan. Sesaat kemudian dikibarkanlah bendera perang (Daghregister, 23 Juni 1677, hlm. 184). Disertai bunyi gemuruh, meriam-meriam Belanda mulai memuntahkan pelurunya, yang mengakibatkan pihak pemberontak memperlihatkan tanda- tanda menghentikan perlawanan. Karena itu, sekali lagi juru tulis Melayu disuruh menghubungi mereka. Tidak lama kemudian ia tiba kembali membawa jawaban buruk: "Apabila ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan, mereka akan menyampaikannya sendiri.” Sekali lagi dilepaskan 14 atau 15 kali tembakan. Maka, muncullah Kiai Litawangsa dengan bendera putih. Diadakanlah pembicaraan dengan Speel- man di lapangan terbuka. Permintaan Raden Trunajaya untuk menunda perundingan, agar lebih dahulu dapat mengumpulkan rakyat yang terpencar di Demak, Kudus, dan Pati, ditolak Speelman. Sementara itu, Speelman menuntut pengiriman sandera, diseberangkannya kaum pemberontak ke Madura, dan diserahkannya semua meriam kepada Sunan. Litawangsa berjanji akan menyampaikan tuntutan ini. Kemudian tidak terdengar lagi berita apa pun dari juru tulis Melayu, dan pedagang Van Woensel serta Couper. Hanya terbetik berita bahwa Raden Trunajaya menyatakan lebih baik mati daripada meninggalkan bentengnya. Jika ia tidak diberi waktu terserah apa yang ingin dilakukan orang Belanda. la akan menunggu saja. Pernyataan yang jantan! Setelah itu pertempuran berkobar lagi. Di bawah lindungan tembakan-tembakan meriam, beberapa rumah di antara garis pertahanan kedua pihak dibakar. Kemudian pihak lawan pun 178 melepaskan ‘tembakan-tembakan yang gencar, tetapi hanya mengenai pohon-pohon. Dalam bentrokan senjata itu pihak Belanda menderita kerugian sejumlah 18 orang serdadu tewas dan luka-luka, "tetapi orang Makassar yang dalam barisan kita memperlihatkan kesetiaan dan keberanian yang luar biasa sehingga mereka mengejar orang-orang Madura itu sampai ke dalam kubu pertahanan, tetapi yang ... dipertahankannya dengan berani (Daghregister, 23 Juni 1677, hlm. 184—185). Sementara itu, kedudukan pihak Belanda menjadi sulit karena aliran sungai tersumbat lima kilometer ke arah hilir, sehingga hanya tersedia air keruh. Lalu timbul berbagai penyakit berbahaya. Selain itu, mereka terancam bahaya, yaitu kemungkinan terputusnya hubungan dengan armada, yang memang sedang diusahakan oleh Raden Trunajaya melalui daerah persawahan (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 120). Pada tanggal 10 Mei 1677 Trunajaya mengirimkan orang-orang yang diberi kuasa untuk secepat kilat meminta bantuan dari Banten. Karena itu, jika keadaan medan perang demikian berlangsung lebih lama, kedudukan Belanda akan lebih berbahaya. Maka, Speelman dan para bawahannya pada tanggal 12 Mei memutuskan secara serempak dan berani ... langsung menyerang Trunajayay di Surabaya, bahkan keesokan harinya dilakukan penembakan meriam terus-menerus. Karena itu, sejak malam hari berikutnya sampai pagi terjadi penembakan dengan meriam yang dahsyat, yang menimbulkan kerugian besar pada pihak Trunajaya. Pada tanggal 13 Mei pagi hari dilakukan serangan frontal antara Kali Mas dan Kali Pegirian. Setelah garis pertahanan musuh dapat dijebolkan, pasukan Belanda menyeberangi kali dan menduduki bagian kota di sebelah barat kali. Raden Trunajaya bersama semus pengikutnya melarikan diri ke arah selatan. Dalam waktu dua jam Surabaya dapat direbut. Pihak Belanda kehilangan 46 orang yang tewas dan luka-luka, tetapi kebanyakan Karena kelalaiannya sendiri ... dan secara memalukan meninggalkan panji-panjinya. Rupanya, pertempuran berlangsung dahsyat. Hasil rampasan banyak juga: empat panji”!, 69 meriam besi dan 34 meriam 21 Hanya 3 dari 4 panji pada tanggal 24 Juni 1677 (Daghrogister) tiba di” Batavia dan digantungkan di ruang depan yang luas dalam benteng. Pada salah satu panji terdapat gambar aneh manusia Gengan anggota badan yang aneh, dan sebatang pohon yang dicabut berikut akamya di tngan. Oleh beberapa orang pribumi yang berpengalaman, diartikan sebagai manusia pemenang pertama yang dapat merebut Pulau Jawa. Dan Trunajaya telah beberapa kali menyamakan dirinya dengan kebesaran tokoh tersebut. Dr. Pigeaud berpendapat, gambar itu mungkin pahlawan dalam Ramayana. yaitu raja kera Hanoman. Seperti Raden Trunajaya, raja kera ini pun bercita-cita merebut sebuah pulau (Lanka. Ceylon), dan popularitasnya sejak dahulu sampai sekarang masih besar. 179 perunggu, di antaranya 20 meriam berukuran besar; 18 meriam perunggu berukuran kecil dapat dibawa lari oleh pasukan Trunajaya ke Kediri dan beberapa lainnya lagi dapat pula diangkut ke Madura. Selanjutnya Speelman mendirikan markas besarnya di Surabaya. XV-—6 Pos terdepan di Terung, Juni 1677 Setelah Surabaya jatuh dan Raden Trunajaya melarikan diri, Spelman tidak tahu benar apakah yang pertama-tama harus dilakukannya dengan kekuasaan terbatas dalam tangannya itu. Jumlah tentaranya telah berkurang akibat terserang penyakit; padahal susah baginya untuk dapat mengkonsolida- sikannya kembali, antara lain dengan merekrut tenaga dari awak kapal Seperti dikatakannya (Daghregister, 23 Juni 1677, hlm. 135), sesungguhnya ia memerlukan dua atau tiga pribadi sekaligus sehingga bisa bergerak ke sana-sini serentak. Pertama-tama Surabaya harus dijadikan pangkalan tetap, yang mampu menolak setiap serangan musuh. Kemudian ekspedisi ke pedalaman harus dilakukan untuk mengejar dan menghancurkan Trunajaya. Di samping itu juga kekuatan Makassar di Bang Wetan, serta para pengikut n Trunajaya di Madura pun, jelas tidak boleh diremehkan. Sebagai persiapan ekspedisi ke daerah pedalaman. pada tanggal 2 Juni Spelman mengirimkan letnan perbekalan Talbeecq, beberapa orang sukarela- wan Belanda dan pribumi, serta banyak orang Jawa, ke Terung di tepi Brantas, di tempat sungai bercabang membentuk delta. Rombongan ini harus menyelidiki gerakan apa yang harus ditempuh selanjutnya yang, mengingat itikad baik penduduk pedalaman Jawa, dapat diharapkan berhasil. Sementara itu, Spelman belum berani melakukannya, juga karena batas yang ditetapkan baginya oleh Pemerintah Kompeni untuk ekspedisi ke pedalaman itu hanya sejauh satu hari perjalanan. la minta penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini (Daghregister, 23 Juni 1677, him. 186). Empat belas hari setelah pengiriman rombongan yang pertama itu, dikirimkannya pula bala bantuan untuk memperkuat Terung, yang terdiri dari dua kapten Belanda, Saint-Martin dan Willem Hartsinck, bersama 55 orang serdadu Eropa, 20 orang Bali, 26 orang bekas budak, dan 16 kompi serdadu Makassar, berikut 480 orang Jawa Surabaya di bawah wakil kepala daerah Jepara Wangsaprana (Daghregister, 23 Juni 1677, him. 189). Pihak Belanda kini merasa sudah cukup kuat untuk memulai sesuatu. Letnan Talbeecq akan bergerak ke arah utara melalui Pegunungan Kendeng, untuk menjebak beberapa kelompok Madura, sedangkan Kapten Harman Egberts tanggal 20 Juni naik kapal dari Surabaya bersama 71 orang serdadu Eropa dan 79 orang Ambon, berlayar menuju Sidayu dan Tuban. 180 Kedua «kspedisi itu berjalan lancar. Tidak menderita kehilangan di pihaknya sebeliknya berhasil menewaskan banyak di pihak musuh. Kedua rombongan itu bergabung di Sidayu, yang sudah didiami kembali oleh 400 atau 500 o1ang penduduk yang beritikad baik. Adapun laskar Madura yang dikejarnya melarikan diri dan bergabung dengan Raden Trunajaya di Kediri. Kedua pasukan Belanda itu, setelah mencapai hasil sepenuhnya, bermaksud segera kembali bersama-sama ke Terung (Daghregister, 3 Juli 1677, hlm. 216). Untuk sementara gerakan pasukan Belanda dihentikan hingga di sana. Sementara itu, Speelman sudah lama pula mencari hubungan dengan pihak Makassar, yang diketahuinya sudah setengah tahun tidak mempunyai hubungan baik dengan orang Madura. XV-—7 Mencari hubungan dengan Makassar "Selama Speclnan mengangkat senjata tethadap Raden Trunajaya, ia tidak pernah lalai melambai-lambaikan bendera perdamaian ke pihak Makassar, khususnya mereka vang telah menetap di Jawa. Setibanya di Surabaya ia segera mengirimkan perutusan istimewa kepada orang Makassar di Pasuruan. Karena kepadanya beberapa orang Melayu memberitakan bahwa orang Makassar ingin menyerah kepada Kompeni (Daghregister. 27 April 1677. hlm. 109). Mungkin mereka dapat diadu domba dengan Raden Trunajaya. atau paling tidak diminta meninggalkan Pulau Jawa. Karena perundingan dengan Madura masih berlangsung, pengiriman perutus- an untuk sementara ditunda (Daghregister, 14 Mei 1677, hlm. 137). Tetapi seketika perundingan itu gagal, berangkatlah pada tanggal 30 April 1677J. van Oppijnen ke daerah Bang Wetan (Laporan Tertulis K.A. No. 1218, him. 1718). Dari tanggal 3 sampai 10 Mei ia mengadakan perundingan dengan pihak Makassar. Mereka bersikap seolah-olah sangat tanggap, tetapi ketika datang saatnya harus berbuat ternyata kosong belaka. Akhirnya Oppijnen meninggal dalam ekspedisi ini (Daghregister, 9 Agustus 1677, hlm. 261). Menurut Speelman. hasil yang mengecewakan ini disebabkan oleh berita tentang teriadinya pertengkaran antara Arung Palaka dari Bone dan orang Makassar di Sulawesi, sehingga hilanglah niat Kraeng Galesong untuk bersikap lunak terhadap Kompeni (Daghregister, 23 Juni 1677, him. 186). Dengan Darmayuda dan Pangeran Blitar, dua orang pembesar yang bergerak di daerah pedalaman, para utusan Belanda sama sekali tidak dapat hubungan Dengan demikian, usaha menarik keuntungan dari perselisihan antara Raden Trunajaya dan Kraeng Galesong itu tidak berhasil sama sekali. Tetapi. perhatian Spelman juga diarahkan ke Madura, basis dan titik tolak gerakan Trunajaya. XV—8 Speelman mencari hubungan dengan Madura, Mei 1677 Tiga hari setelah Surabaya dapat direbut, Spelman mengirimkan seorang berbangsa Timur ke Madura, bernama Genading. Ia seorang keturunan Choelia (K.A. No. 1218, hlm. 1724), yakni tergolong kaum pengupas kulit kayu manis dari Singhala. Di Arosbaya orang Timur ini mengadakan hubungan dengan seseorang bernama Tritayuda, yang keesokan harinya mengirimkan utusan untuk menemui berbagai tokoh, yakni Martapati, seorang buron di Kebanjar, Mas Aria Jangpati di Bringin, dan seorang pemimpin terkemuka Arosbaya, Santamarta. Mereka semua memutuskan dalam waktu dua hari akan datang di Arosbaya bersama keluarga bahkan akan menemui Speelman. Padahal, ada ancaman dari seseorang bernama "Catnalla”, yang bersama 40 orang kawanannya masih termasuk pengikut Raden Trunajaya. Orang-orang yang beritikad baik itu datang dengan 30 sampai 40 orang wanita dan anak-anak di Arosbaya, dan dari sana diangkut dengan kapal ke Gresik. Pada tanggal 23 Mei 1677 mereka bertemu dengan Speelman, sebagai pengemban kekuasaan dari Sunan. Mereka itu ialah: Raden Aria Martapati; Anggawijaya yang mewakili ayahnya, Mas Aria Jayengpati, dan Mas Mindi, putra Santamarta. Wangsaprana (bupati Gresik?) mendapat tugas menyenangkan mereka, dan berbincang-bincang dengan mereka setelah makan siang. Daftar nama mereka itu, termasuk keluarga masing-masing serta tokoh- tokoh terkemuka mereka, dapat ditemukan dalam surat Speelman tanggal 1 Agustus 1677, yang dimuat dalam Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 128—129. Mereka menetap di Surabaya dan hidup di bawah perlindungan Kompeni. Dari semua pelarian ini Raden Martapati dianggap sebagai yang terpenting oleh Spelman. Ia adipati Arosbaya, dan kakak ipar Pangeran Adipati Sampang (yang kemudian menjadi Cakraningrat Il) yang masih berada di Mataram. Karena itu, Speelman akan mencoba berusaha mengembalikan kedudukan Raden Martapati ini sebagai pembesar dengan cara yang sehormat-hormatnya. Tentang itikad baik Sampang dan Sumenep, Speelman tidak merasa ragu; yang diragukannya ialah Pamekasan, tempat Raden Trunajaya mendirikan landasan pertama pemberontakannya dan mendapatkan banyak dukungan. Jacob Couper itulah yang ditugasi memulihkan kedudukan Martapati (K.A. No. 1218, hlm. 1773). 182 XV-—9 Pemulihan kedudukan Raden Martapati yang gagal, 29 Mei—2 Juni 1677 Pada tanggal 26 Mei 1677 Couper berangkat dari Surabaya dan terlebih dahulu mengirimkan Raden Martapati bersama putra-putranya ke Gresik untuk memberitahukan kedatangannya. Keesokan harinya mereka semua naik kapal dan dua puluh orang itu ditempatkan dalam kabin-kabin sehingga berimpit-impitan seperti sarden dalam kaleng (Laporan Tertulis Couper, Surabaya, 31 Mei 1677, K.A. No. 1218, him. 1773). Pada tanggal 29 Mei Raden Martapati meminta agar istrinya, putri Cakraningrat I, dikirimkan terlebih dahulu. Memang ada beberapa perahu yang penumpangnya beberapa orang mantri yang sudah tua menyambut kedatangan Martapati. Mereka memberitahukan, Mas Aria Jayengpati dua hari sebelumnya sudah berangkat dengan maksud mengumpulkan semua orang yang masih menjadi pengikut Trunajaya di Kebanjar dan Maduretna. Perasaan Mas Aria Jayengpati tercermin dalam cerita berlebihlebihan yang disampai- kan kepada orang-orang yang mudah sekali percaya: Laksamana Speelman telah merebut semua meriam Trunajaya, tetapi tidak berani menembakkan sebuah peluru pun dan Kapten Jepara (Couper) dibunuh dengan tombak oleh Kiai Mangunnagara ketika merebut Surabaya. Juga di pelabuhan banyak orang berkumpul menyambut kedatangan Raden Martapati. Masing-masing membawa buah-buahan jeruk. Raden Martapati bersama orang-orang Belanda duduk di tengah rakyat, minum air kelapa muda (lambang keramahtamahan penyambutan?) dan kemudian mengundang orang-orang Belanda ke rumahnya yang lama. Couper baru memenuhinya ketika serdadu-serdadu yang ketinggalan sudah tiba. Di rumah itu segala sesuatu sudah hancur; alun-alun di depannya penuh dengan rumput liar. Semua lurah dan orang terkemuka dipanggil, tetapi baru datang pada sore hari. Couper alu mengucapkan pidato, yang memperingatkan mereka agar tetap setia dan patuh kepada Sunan dan pelindungnya, Kompeni, sambil menelanjangi kedustaan dan kepalsuan Trunajaya. Selesai pidato itu, semua hadirin dengan suara bulat menyatakan setia kepada Sunan dan Kompeni. Mereka merasa sangat berdosa terhadap rajanya, tetapi hal itu terjadi akibat paksaan. Couper juga menunjuk pada kebesaran jiwa Kompeni, yang tidak membunuh orang-orang Madura yang berdasarkan kesalahannya sebenarnya harus dihukum mati. Mengenai sikap para pengikut Raden Martapati, Couper merasa agak lega, tetapi Martapati sendiri tidak terlalu optimistis. Tidak,” katanya menerangkan, "selama Mas Aria Jayengpati Jenala Mandawacana dan Wangsadangu belum tertangkap dan ditahan.” Bahwa rakyat kecil senang padanya, diketahuinya pula. Nasihat Couper untuk mengirimkan utusan ke Sampang, Pamekasan, dan Sumenep sebenamya tidak 183 =a perlu; Raden Martapati telah memerintahkan hal itu. Para hadirin harus mengumpulkan lembu dan ayam, yang akan dibayar tunai oleh Kompeni. Speelman adalah orang tua pemurah hati, yang tidak akan mengambil suatu apa pun seharga selembar daun sirih dari orang miskin. Setelah Raden Martapati mengucapkan permintaannya lagi yang sungguh-sungguh agar jangan mencurigai Speelman, karena pekerjaan yang telah dimulai ini, jika perlu akan dilanjutkan sepuluh tahun lagi, para hadirin pun berseru serentak, "Setuju.” Senja hari diadakan peninjauan di kota, tampak jalan-jalannya yang lebar dan kering dan alun-alun watangan’) dalam keadaan terbengkalai. Malam hari diadakan jamuan makan di rumah Raden Martapati bersama istri dan putri-putrinya yang ingin memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, tetapi terasa kurang memuaskan bagi para tamu Belanda. Setelah makan malam, diterima berita, rakyat Pakurang di bawah pimpinan Kiai Mas Jenala merencanakan penyerangan. Berita ini menimbulkan kekhawatiran umum walaupun untuk menenangkan mereka, Couper telah menyatakan jaminannya. Penduduk dikumpulkan, dan diserukan supaya mempersenjatai diri dan mengadakan penjagaan semalam suntuk. Keesokan paginya, tanggal 30 Mei, Raden Martapati menerima surat dari pamannya, Citrawangsa, yang memberi kabar bahwa akan terjadi serangan oleh Mandawacana. Raden Martapati dibujuk dan dihasut oleh khatib dari Sambielangh agar meninggalkan istananya dan pergi berlayar. Kemudian Raden Martapati sekali lagi bertanya kepada rakyatnya, apakah mereka ingin mengabdi kepada Raja dan Laksamana Speelman. Mereka semua sekali lagi menjawal * Ja menyatakan sanggup berdiri di depan rakyat dan tewas sebagai abdi Sunan yang setia. Tetapi setelah mengucapkan kata-kata yang gagah dan berani ia berkata kepada Couper, “Pada saat yang gawat saya akan mereka tinggalkan”. Sementara itu, seorang Jawa kelahiran Arosbaya dari Pakurang (sekarang Maduretna) datang dengan membawa berita, Jenala dan Mandawacana sedang mengumpulkan rakyat. Couper lalu memberitahukan bahwa ia ingin kembali ke Surabaya, dan Raden Martapati tidak keberatan, asalkan Letnan Jochem Michielsen bersama 20 orang serdadu tetap tinggal. Couper tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan, dan menganggapnya tidak bijaksana, jalan keluar ditemukan- nya, yaitu: jika terjadi gangguan atau ancaman, Raden Martapati harus memanggil nakoda yang ada di teluk dan letnan. Setelah lama bertukar pikiran, akhirmya Raden Martapati pasrah, dan Couper pun berangkatlah. bleketépé: bahan dinding atau atap, sejenis welt, dibuat dari anyaman daun kelapa atau sejenisnya (ed.) 184 Tentu saja tidak banyak yang dapat diharapkannya dari kedudukan Raden Martapati yang goyah itu. Dan memang kejayaan Raden Martapati hanya bertahan tiga hari. Setelah tersiar desas-desus yang mirip isapan jempol, bahwa Sunan sudah kehilangan Mataram dan Trunajaya sudah merebut tahtanya, para utusan Speelman terpaksa berangkat tanpa membawa hasil apa pun. Lalu, akhimya Martapati yang setia itu, berikut istri, anak-anak dan seluruh isi rumahnya ... . sebanyak 100 orang, pada tanggal 2 Juni melarikan diri ... ke Surabaya (Daghregister, 23 Juni 1677, him. 187). Masih ada kartu penting ketiga di tangan Spelman, yaitu putri Mas Aria Jayengpati yang bernama Mustika. Ia janda Sutatruna, yang telah dibunuh secara kejam oleh Raden Trunajaya. Anak perempuannya diperkosa sang pemberontak. Sejak itu Mustika sangat membenci pemberontak Conge, Opkowst, jil. VIL, hlm. 122, 129). Wanita itu disuruh menulis surat kepada ayahnya, berisi nasihat supaya ayahnya secara sopan menemui Laksamana Speelman — orang yang mendapat kuasa penuh dari Sunan. Syahbandar Nayacitra akan menyampaikan surat itu. Sambutan tidak begitu hangat. Setelah berangkat dari Surabaya pada tanggal 8 Juni, keesokan harinya ia tiba di Kebanjar, dan pada tanggal 10 Juni ditahan di Banangka oleh Singabraja bersama 30 laskar Madura. Kiai Mandawacana dan Kiai Jenala diberi tahu tentang kedatangan Nayacitra. Pada tanggal 11 Juni Kiai Jenala menyuruhnya agar segera kembali. Mereka memberikan kepadanya sebuah perahu yang bocor disertai kata-kata, "Jika sayang nyawa, berangkatlah cepat!” Dalam perjalanannya, ia masih sempat menyampaikan surat itu kepada seorang abdi Mas Aria Jayengpati yang lama, Wangsanaka. Selain itu, keadaan orang Madura tidak begitu menyenangkan. Wirawajra, kebayan besar atau letnan para pengikut Trunajaya, banyak menindas dan meneror orang-orang yang dicurigai. Pemimpin-pemimpin Madura berada di Arosbaya: Mas Aria Jayengpati, Mas Mandawacana, Mas Jenala, Wangsadangu, Wirawajra, dan Wangsabraja. Mereka berpesta pora riang gembira, setiap hari disembelih dua atau tiga ekor kerbau dan mereka pun hanyut dalam minuman keras. Mereka menyuruh 2.000 rakyat jelata membangun tembok pertahanan yang kedua, tepat di belakang yang lama, yang dibangun untuk menahan serangan orang Makassar. Atas perintah Jayengpati, rumah indah Raden Martapati di Arosbaya dibongkar, dan kayu-kayunya dijadikan alat-alat_ untuk menempatkan meriam. Kemanakan Raden Martapati "Dree Tsielle Salarongh” dibunuh dan dipotong menjadi tiga bagian, karena memberi bantuan kepada Raden Martapati. Melalui jalan perundingan kiranya tidak banyak yang dapat dihasilkan dari 185 orang-orang seperti itu. Speelman menganggap perlu untuk berkunjung kepada Mas Aria Jayengpati yang tidak berakhlak dan tidak berpendirian dan kawan-kawannya di Madura dan mengadakan pembicaraan yang serius (Daghregister, 23 Juni 1677). XV-—10 Hari-hari terakhir Speelman di Jawa Timur, Juni— Agustus 1677 Keputusan untuk memasuki Madura, terutama daerah kedudukan Trunajaya di Arosbaya, diambil dalam sidang dewan perang tanggal 3 Juli 1677 di Sepanjang, dekat Brantas. Tujuannya setidak-tidaknya untuk menanamkan kewibawaan, andai kata penduduk di sana tidak bersedia mengakui lagi Sunan sebagai gustinya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 124). Jika tidak demikian, mereka akan merupakan ancaman besar, antara lain terhadap Gresik. Setelah itu, diharapkan jalan ke Mataram akan terbuka, dan sementara itu sekaligus akan dapat menyinggahi Raden Trunajaya di Kediri. Pelaksanaan pekerjaan ini tidak akan mudah. Dan ini menandakan betapa sedikit orang mengetahui keadaan pedalaman. Pada tanggal 7 Juli Speelman menurunkan sauh di depan Arosbaya, Tawaran pengampunan dari Sunan dan persahabatan dari Kompeni di bawah bendera perdamaian sama sekali tidak digubris. Karena itu esok harinya kota itu diserang, dan dalam waktu pendek dapat direbut, dijarah habis-habisan, dan sebagian dibakar. Tetapi seruan para utusan yang dikirimkan untuk mengumpulkan para pemimpin rakyat Madura agar mau menyatakan kesetiaan kepada Sunan masih juga tidak digubris. Selanjutnya, Speelman berniat menuju Kamal melalui Soca (Daghregister, 18 Juli 1667, him. 227). Sebuah berita yang menyedihkan dan datang tiba-tiba justru memberi dorongan yang lebih kuat kepadanya untuk segera bertindak agar orang Madura merasakan kekuatan senjatanya. Nakoda Harman van Harren pada tanggal 8 Juli bersama banyak orang, tanpa perintah Speelman, mendarat tanpa perhitungan di Kebanjar. Dua puluh enam orang tewas. Di antara korban terdapat dua orang pemegang buku dan tiga atau empat orang ahli bedah (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 125). Kehilangan yang sangat besar jadinya. Pada tanggal 11 Juli Speelman berangkat dari Arosbaya yang telah hancur dengan pasukan kecil berkekuatan 150 orang. Dalam satu hari saja ia sudah tiba di ibu kota Raden Trunajaya, Maduretna. Seperti juga semua desa yang telah dilalui, tempat ini dihancurkan karena tiada seorang pun penduduk yang bersedia menyembah Raja (Daghregister, 24 Juli 1677). Selanjutnya mereka maju sampai Soca. Tempat itu pun dibakar bersama 40 sampai 50 perahu. Tidak jauh di luar Maduretna tentara Speelman tiba-tiba diserang oleh 186 ribuan orang dengan dahsyat sekali dari segala jurusan, tetapi karena perlawanan mati-matian, 10 sampai 12 orang tokoh penting di pihak musuh terbunuh, dan mereka kemudian melarikan diri. Karena tidak mengetahui keadaan jalan, dan tidak dapat menemukan penunjuk jalan seorang pun, maka diputuskan untuk meneruskan perjalanan dengan kapal. Di Kamal Speelman menerima berita buruk dari Jepara mengenai jatuhnya Istana Mataram dan larinya Sunan ke Jepara. Dengan demikian, hancurlah seluruh rencananya untuk bergerak ke Mataram. Tindakan pertama yang paling mendesak ialah menyelamatkan Jepara. Diperintahkannya agar 78 orang serdadu pemberani dari pos Terung yang sudah tidak penting lagi itu segera berangkat ke Jepara (Jonge, Opkomst, jil. VII, him. 126). Tetapi sebelum itu Speelman ingin menghajar Kebanjar yang telah membunuh 27 orang Belanda. Inilah tindakan perangnya yang terakhir di Jawa Timur. Pada tangal 19 Juli 1677 armada Speelman tampak di depan pantai Kebanjar (Daghregister, 9 Agustus 1677, hlm. 259). Keesokan harinya didaratkan 400 orang, kebanyakan orang pribui i bawah lindungan tembakan. Setelah dilepaskan tembakan meriam kira-kira 15 kali, lawan yang diperkirakan berjumlah antara 5.000 dan 6.000 orang bergerak mundur sampai di luar jarak jangkauan tembakan senapan. Setelah setengah jam, perlawanan dapat dipatahkan. Karena di sini pun tidak seorang pun yang menyerahkan diri, maka banyak tempat tinggal rakyat, rumah, dan padi dalam jumlah besar dibakar dan dihancurkan. Di antara mereka yang terbunuh hanya dapat ditemukan 15 mayat, beberapa di antaranya masih dapat dikenal, dan dikuburkan semua. Sisanya ditumpuk dan dibakar. Kini tinggal mengakhiri pendudukan Surabaya. Ini dilakukan Speelman secara tuntas dan mendasar, dan pemerintahan kota diserahkan kepada orang-orangnya sendiri. Baru pada tanggal 18 Agustus 1677 ditinggalkannya Teluk Gresik, menuju tugas baru yang belum pernah terbayangkan. XV—11 Rencana Mataram Sementara itu, Mataram tidak pernah terlepas dari pikiran Speelman, tetapi bagaimana nasib kota itu sama sekali tidak diketahuinya. Dalam hati ia bertanya mengapa laskar Mataram tidak menyerang pengikut Raden Trunajaya yang terpencar dalam kelompok-kelompok kecil dan melarikan diri itu (Daghregister, 23 Juni 1677, hlm. 186). la ingin sekali mengetahui jawaban atas surat-surat yang telah dikirimkannya ke sana melalui daratan dan melalui Jepara pada tanggal 18 Mei — lima hari setelah Surabaya dapat direbut. Hatinya gusar karena jawaban itu tidak kunjung datang. Jika perlu, ia mengancam akan meninggalkan orang-orang Mataram yang lamban itu. 187 Sebab, tidakkah ia sudah berbuat lebih daripada yang diwajibkan menurut perjanjian? Karena desas-desus yang hanya membayangkan kekacauan semakin besar, pada tanggal 16 Juni 1677 Speelman merencanakan pengiriman perutusan bersenjata ke ibu kota Mataram, supaya dengan atau tanpa persetujuan, kepala-kepala bendaharawan langsung berbicara dengan Sunan. Akan tetapi, ia menyadari, tindakan seperti itu benar-benar keterlaluan. Karena itu, harus dicari jalan untuk menghadapi pemerintahan yang semrawut di Mataram itu dengan cara terhormat. Ia sendiri atau Saint Martin dan Couper, disertai 100 sampai 150 orang serdadu pemberani, akan bergerak melalui Jepara menuju Mataram. Seandainya tidak, tidak ada lagi yang dapat dilakukan. Pasukan melalui darat kemudian akan kembali ke Surabaya. Ya, pada pendapatnya dengan 1.500 orang, walaupun separuhnya terdiri dari orang Ambon dan Makassar, ia dapat bergerak melintasi Jawa menuju Batavia (Daghregister, 3 Juli 1677, him. 211). Dari segala rencana yang muluk-muluk itu tiada satu pun yang terlaksana. Adanya hanya suatu perintah pembatasan dari Pemerintah Kompeni tanggal 7 Juli 1677, cukup untuk menghentikan sama sekali segala rencana yang berani itu (Daghregister, 9 Agustus 1677, hlm. 260). Dan benarlah! Sementara itu, di Mataram terjadi peristiwa-peristiwa yang tiba-tiba mengubah sama sekali segi militer dan politik, yakni gerakan kaum pemberontak berhasil menembus jantung kerajaan, keraton Sunan. 188 Bab XVI Serangan Besar-besaran atas Mataram, April—Juni 1677 XVI—1 Peranan Raden Kajoran, April 1677 ugaan bahwa Raden Kajoran — sekalipun dalam pelarian dan perlindungan Raden Trunajaya di Kediri — dalam rencana serangan atas Mataram memainkan peranan istimewa, ya, bahkan mungkin sebagai otak gerakan pemberontakan itu, sangat masuk akal. Namanya muncul di berbagai berita Belanda pada waktu yang bersamaan. Berita paling awal berasal dari Raden Trunajaya sendiri, yang pada tanggal 19 April 1677 memberitahukan kepada para utusan Belanda bahwa separuh wilayah Mataram sudah dihancurkan, dan bahwa mereka bertengkar karena Raden Kajoran (K.A. No. 1218, hlm. 1710). Tepat satu hari kemudian Van der Schuyr menulis dari Jepara: Segala tindakan orang Madura hendaknya dianggap disebabkan oleh Raden Kajoran, yang sebelumnya atas nama Trunajaya . . . mengadakan tindakan dan sekarang ... telah memisahkan diri dari Trunajaya, tetapi masih tetap bermusuhan terhadap Mataram (Daghregister, 27 April 1677). Masih pada tanggal 17 Mei 1677 Van der Schuyr mengirimkan berita juga tentang pasukan Kajoran, yang bersama rakyat dari Ponorogo dan Madiun menutup jalan-jalan menuju Mataram (Daghregister, 23 Mei 1677). Akhirnya Sunan Mangkurat Il dalam ”Keterangan Lebih Lanjut” menyata- kan kepada saudaranya, Pangeran Martasana, bahwa Mangkuyuda, panglima Madura, datang karena Raden Kajoran dan Pangeran Purbaya (pembesar yang telah menyeberang) (Jonge, Opkomst, jil. VI, hlm. 149). Dari semua berita ini nyata bahwa pada bulan April 1677 Raden Kajoran melakukan serangan hebat terhadap Mataram, dan dialah yang menjadi otak penggeraknya. Dialah yang mendorong gerombolan-gerombolan yang berpen- 189 caran itu bergerak menuju Keraton Mataram. Menurut Spelman, karena Raden Kajoran inilah Keraton Mataram jatuh, karena nabi iblis-iblis sendiri inilah yang sejak dahulu sudah meramalkan bahwa harus raja lain yang memerintah Mataram (Daghregister, 28 Juli 1677, him. 239). XVI-—2 Serangan atas Keraton Mataram, April—Juni 1677 Sebagai sumber berita tentang serangan besar-besaran atas Mataram itu, di samping cerita tutur Jawa dan berita-berita Belanda di sana-sini, kita terutama juga mempunyai "Keterangan Lebih Lanjut”. Sunan Mangkurat II, yang atas desakan Laksamana Speelman pada tanggal 19 dan 20 September 1677 disampaikan kepada juru tulis Melayu Bagus Alim (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 147). Keterangan itu agak panjang lebar dan dapat dipercaya. Kemudian kita juga mengenal cerita dari Wangsenggati, seorang pemimpin Madura, yang pada tanggal 15 Januari 1679 membuat laporan mengenai pengalamannya kepada komandannya, Anthonie Hurdt. Oleh Anthonie Hurdt laporan itu dicatatnya dalam Buku Harian yang ditulis selama ikut gerakan militer ke Kediri bersama bala tentara Kompeni (K.A. No. 1240). Sayang sekali kedua laporan itu tidak mempunyai data kronologis. Tetapi dengan sedikit upaya dapat juga diperoleh data dengan menghubung-hubungkannya dengan sumber-sumber lain. Seperti cerita tutur, Sunan memberitakan serangan yang dua kali terjadi. Pertama-tama disebutnya Panglima Madura Mangkuyuda yang menempatkan kubunya di Layang, di sebelah timur Sungai Semangi atau Bengawan Solo. la membawa pasukan dari Surabaya, Gresik, Sidayu, Tuban, Jipang, Blora, Warung, Kediri, Madiun, Ponorogo, dan Kamagetan. Di antara para pemimpin pasukan itu terdapat putra Raden Kajoran: Raden Wirakusuma, dan putra Wiramenggala, saudara Almarhum Purbaya yang bernama Raden Wirayuda. Pasukan ini berkekuatan 100.000 orang dan rupanya merupakan kekuatan induk. Selain itu disebutkan oleh Raja berbagai nama pemimpin, yakni Adipati Wiramenggala, Aria Wangsenggati, Aria Supatra, Langispati, Demang Angan- taka, yang berkumpul di Semarang bersama orang-orang dari Pati, Kudus, Demak, Grobogan, Semarang, Kaliwungu, dan Kendal. Mereka berjumlah 50.000 orang, jadi tidak begitu kuat. Untuk memudahkan kiranya lebih tepat jika kelompok pertama yang lebih kuat disebut sebagai Kelompok Timur, dan yang kedua Kelompok Utara. Kelompok Timur menghimpunkan banyak orang Jawa asal Jawa Timur, sedangkan Kelompok Utara, yang lebih kecil itu, mengumpulkan pengikutnya dari daerah sekitar Pegunungan Muria. Dalam Kelompok Utara ini termasuk Wangsenggati yang menceritakan pengala- mannya. Pelaksanaan rencana besar itu mungkin dimulai sejak awal April 1677. Pada tanggal 14 bulan itu timbul kegelisahan di Jepara karena tersiar berita bahwa 190 orang-orang dari Kudus dan Pati akan menyerang kota pelabuhan. Selain penduduk kedua kota itu, juga tampak bergerak orang-orang dari Demak dan Grobogan. Empat nama kota tersebut adalah di antara tujuh kota yang rakyatnya disebut oleh Sunan turut serta dengan pasukan Adipati Wirameng- gala. Tiga kota lainnya ialah Semarang, Kendal, dan Kaliwungu, yang juga diduduki oleh pasukan Kelompok Utara. Mereka mengumpulkan pengikut dari setiap daerah yang telah mereka duduki. Mereka berusaha memperkuat diri dengan mengumpulkan pengikut seluas-luasnya. Di Semarang kaum pemenang menjumpai dua penguasa tertinggi, Astrayuda dan Nayacitra. Dari Astrayuda yang sudah lanjut usia (ayahnya pun. sudah bertahun-tahun memangku jabatan sebagai umbul) menerima berita tentang peristiwa itu Jonge, Opkowst, jil. VII, hlm. 200). Kedua pembesar itu segera berpihak pada Madura, yang juga membawa dengan paksa kira-kira 500 orang penduduk Semarang, karena mereka tidak mau ikut secara sukarela. Orang-orang Mataram pengikut Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Martasana, yang tinggal di daerah pendudukan, harus enyah (Daghregister, 27 April 1667). Karena pendudukan Semarang ini, dan jalan-jalan ke Mataram tertutup, maka berita-berita dari pedalaman sejak April sampai Juni 1677 langka sekali. Karena itulah apa yang terjadi di sana diliputi kabut rahasia yang gelap. Orang. Jawa yang menjadi kepala daerah Jepara pun bahkan tidak berusaha mengirimkan mata-mata ke Semarang dan tempat-tempat lain, dengan berpura-pura bahwa Mataram sudah dikepung orang Kajoran (Daghregister. 23 Mei 1677). Apakah Ngabei Wangsadipa yang pemberani itu juga sudah terkena demam Kajoran yang menggelisahkan di mana-mana? Setelah Semarang, Ambarawa mendapat giliran. Perlawanan yang tidak berarti di sana dapat dipatahkan dengan mudah. Juga 500 orang Jawa dari sana dipaksa mengikuti kau pemberontak. Dengan agak jelas kita dapat mengikuti gerakan Kelompok Utara, tetapi sebaliknya sedikit sekali dapat diperoleh berita tentang Kelompok Timur. Menurut Sunan, kelompok itu kiranya baru mulai bergerak lama setelah Kelompok Utara mencapai banyak kemenangan (Jonge, Opkowst, jil. VII, him. 149). Setelah berkemah di Layang, di sebelah timur Bengawan Solo, Panglima Mangkuyuda menunggu sebentar, sebelum menyeberang kali yang lebar itu. Kemudian berhenti di Biru, yang dibakarnya. Seluruh daerah di sekitarnya pun tunduklah. Sampai saat itu tentara Mataram hampir tidak melakukan perlawanan sama sekali. Menurut Sunan, hal itu disebabkan oleh Pangeran Martasana. Ketika saudara-saudaranya ingin bergerak menghadapi musuh, ia mencegahnya: para Ppenguasa setempatlah yang selayaknya mengadakan perlawanan, karena 191 serangan Mangkuyuda terjadi disebabkan oleh Raden Kajoran dan Pangeran Purbaya; dalam hal ini mereka bekerja sama dengan Pangeran Adipati dan Trunajaya. Apakah Pangeran Martasana takut akan dikhianati dari belakang, jika ia bergerak terlalu maju? Akhirnya semua hanya menunggu saja! Sementara itu, Kelompok Utara sudah mendekati pintu gerbang Pingit dan berhenti di sana. Baru pada saat itulah perlawanan dimulai. Sepasukan besar di bawah Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, dan Pangeran Singasari bergerak ke arah utara, dan dari belakang diikuti oleh Sunan yang memimpin sendiri tentaranya. Kemudian ia memerintahkan kepada Mantri Pranataka supaya menyerang musuh. Sejam kemudian terpaksa mereka mundur, tetapi dibiarkan saja. Setelah itu, Raja kembali pulang, dan menyerahkan pimpinan tentaranya kepada ketiga orang putranya, yang berkemah di Desa Pandan. Menurut Wangsenggati, pertempuran itu berlangsung sehari penuh. Tempat itu dapat direbut oleh kaum pemberontak, yang kemudian_berhasil mendapatkan 1.000 orang pengikut dari penduduk setempat. Dua hari kemudian Pangeran Martasana dengan sisa tentara Mataram bergerak menyerang Kelompok Timur. Di sebelah timur Kajoran, di Kali Kuning, terjadi pertempuran selama satu,jam yang berakhir dengan Pangeran Martasana melarikan diri dengan sangat kebingungan. Ketika dikemukakan- nya dalih bahwa Pangeran Adipati Anom bersekutu dengan musuh, Sunan berdiam diri saja Penggambaran peristiwa-peristiwa ini terlalu buruk bagi Pangeran Martasa- na. Sebuah berita Belanda yang ditemukan secara kebetulan memperlihatkan penggambaran yang lebih baik (Daghregister, 23 Mei 1677). Para pemberontak terpaksa mundur karena serangan tentara Pangeran Martasana, tetapi Raden Trunajaya, yang dalam menghadapi Speelman berpendapat bahwa daerah timur sudah dapat diatasi, memerintahkan kaum pemberontak itu (setelah diperkuat?) menyerang lagi. Demikianlah kedua pasukan berhadap-hadapan di suatu daerah sejauh dua hari perjalanan di sebelah utara Mataram. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Dapat disimpulkan, Martasana berhasil menahan gerakan musuh. Rupanya, waktu itu bulan April. Raden Trunajaya mengira jika tidak dapat menahan gerakan Speelman, sedikitnya ia dapat mengulur waktu dengan jalan terus-menerus melakukan perundingan, sampai pasukan-pasukannya di daerah pedalaman berhasil mencapai kemenangan besar. Dengan demikian, ia akan dapat memancing Speelman keluar dari Surabaya. Perhitungan yang benar-benar tepat! Tetapiysementara itu ada waktu untuk beristirahat. Pangeran Martasana dapat bertahan sejenak. Dan pasukan Kelompok Utara, walaupun mencapai kemenangan di Pingit, tidak bergerak langsung menuju Keraton Mataram, melainkan berbelok ke arah Kedu. Karena itu, jalan ke Semarang untuk 192 sementara menjadi terbuka. Selain itu, kepala daerah Tegal, Wirasuta, seorang yang bukannya tanpa nyali dan tanpa prakarsa, dengan bantuan beberapa warga Batavia dapat memukul mundur laskar Madura sampai Kendal. Karenanya, pengantar surat Ngabei Wangsadipa harus mencari jalan memutar yang jauh untuk mengantarkan surat kuasa yang telah bermeterai dari Sunan dan keempat putranya kepada Speelman di Jepara (Daghregister, 8 Juni 1677). Ngabei Wangsadipa juga telah menerima surat dari Pangeran Adipati Anom, berisi permintaan bantuan kepada orang-orang Palembang. Para pengikut Mataram yang setia ini pergi ke Jepara guna membantu gustinya, Sunan, dalam melawan musuh. Betapa gusar pihak Belanda ketika orang-orang Palembang ini oleh Ngabei Wangsadipa, bertentangan dengan nasihat Residen, dipakai sebagai pengawal pribadi (Daghregister, 27 April 1677). Selanjutnya mereka dikirimkan ke Semarang bersama beberapa orang lurahnya. Putranya, Kentol Nayamenggala, dengan 200 orang Jawa yang datang penuh sesak dalam 17 kapal, dapat merebut kembali kota ini, dan merampas selain empat meriam besi, juga sejumlah wanita dan anak-anak. Dengan demikian, suasana reda kembali, tetapi tidak lama. Sebab, pasukan Kelompok Utara, meskipun melalui jalan memutar, terus bergerak maju. Dari Kedu pasukan Madura bergerak ke "Wadij” (Waja, di dekat Bantul?). Pasukan Mataram di bawah pimpinan Pangeran Puger dapat memberikan perlawanan yang gagah selama satu hari, tetapi akhirnya terpaksa menyerah juga. Jumlah mereka yang mempertahankan diri itu 10.000 orang. Dari sana pasukan Madura bergerak ke Pintu Trayem. Dan di sana pun Jawan mereka, setelah bertempur satu hari, terpaksa melarikan diri. Sesudah itu pasukan Madura tiba di ambang ibu kota Mataram, tetapi karena perlawanan sengit dari Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Puger, mereka terpaksa mundur. Namun, akhirnya mereka pun sampai di depan Pintu Taji. Sementara itu, pasukan Kelompok Timur di bawah pimpinan Mangkuyuda telah mengalahkan pasukan Pangeran Martasana. Pangeran ini bersama pasukannya melarikan diri sampai di Jenar, dan tinggal di sana untuk beberapa Jama. Mangkuyuda selanjutnya bergerak terus ke Pandan, dan di sana berhadapan dengan pasukan Pangeran Adipati Anom. Terjadilah pertempuran yang diberitakan berlangsung tidak kurang dari 7 hari. Dari kedua belah pihak banyak yang tewas. Setelah itu, Pangeran Adipati Anom, Pangeran Puger, dan Pangeran Singasari dipanggil kembali oleh ayahnya sehingga pertempuran terhenti. Pasukan yang ditinggalkan oleh para panglima itu selanjutnya diserang oleh Mangkuyuda dan dapat diceraiberaikan. Enam meriam dirampas oleh musuh. Apakah mereka mungkin Jalu menyusun kubu di sana? Selanjutnya Mangkuyuda tiba di Telagawana, dekat Mataram, dan di sana pasukannya bergabung dengan pasukan Wiramenggala. Menurut Wangseng- , 193 gati, bergabungnya kedua pasukan ini terjadi di pintu pelabuhan Taji. Dan dengan demikian, pertempuran merebut Keraton Mataram memasuki tahap terakhir. Pangeran Martasana tidak dapat memainkan peranannya lagi. Tinggal tiga pangeran untuk mempertahankan kubu-kubu pertahanan terakhir. Mengenai apa yang mereka perbuat tersiar berita sangat aneh di luar negeri: katanya, telah terjadi pemberontakan di kalangan mereka sendiri. Dari 80.000 orang, 2.000 orang tewas. Antara lain juga disebutkan, Pangeran Adipati Anom yang menjadi biang keladi semuanya itu, menurut sebuah cerita Banten, lengannya terluka karena terkena tombak (Daghregister, 18 Juni 1677). Manakah yang benar dari semua desas-desus itu? Setelah penggabungan pasukan kaum pemberontak, ketiga pangeran itu bergerak maju dan membangun kekuatan di depan kubu musuh. Setelah satu malam di sana pertempuran berkobar lagi, yang banyak menguntungkan pihak Mataram: hanya sepuluh orang yang tewas, sedangkan di pihak laskar Sampang banyak. Selama lima belas hari (kira-kira dari tanggal 9 sampai 24 Juni 1677) kedua pasukan bertempur. Kemudian timbul perselisihan di antara ketiga pangeran, setidak-tidaknya Pangeran yang tertua ditinggalkan oleh Pangeran Puger dan Pangeran ‘Singasari. Mereka bersama pengikutnya masuk ke dalam istana, dan dari sana beserta keluarga mereka pergi ke Jagabaya. Pangeran Adipati Anom, yang tinggal seorang diri, keesokan harinya diserang oleh musuh dan terpaksa mundur ke Mataram. Kaum pemberontak mengejarnya sampai di ibu kota, sehingga terjadi kekacauan luar biasa. Ia pun berpendapat sudah tiba saatnya untuk melarikan diri bersama istri dan anak. Sunan yang tua itu masih menunggu tiga hari di dalam keraton yang sudah porak-peranda, kemudian ia pun pergi ke makam Imogiri yang keramat. Dari “Keterangan Lebih Lanjut” tulisan Sunan Mangkurat II itu mungkin akan timbul kesimpulan bahwa ia sebagai pangeran mahkota paling lama dapat bertahan terhadap serangan kaum pemberontak, tetapi telah ditinggalkan oleh kedua saudaranya secara memalukan. Kebenaran pendapat ini tidak dapat dipastikan, tetapi yang jelas dalam minggu-minggu terakhir memang ia tidak sebagai panglima tertinggi. Sebaliknya, menurut Umbul Astrayuda dari Semarang, yang menyaksikan jatuhnya keraton itu, jabatan tertinggi dengan gelar Susuhunan Ingalaga telah diberikan kepada Pangeran Puger di Telagawa- na, pada awal Juni 1677. Pangeran Adipati Anom dan Pangeran Singasari ada di sisinya sebagai pembantu, tetapi tanpa kekuasaan apa pun dan hanya untuk mematuhi ,perintahnya (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 138). Mataram ketika itu masih mempunyai sepuluh meriam besar dan 20.000 orang prajurit. Sekiranya ada pimpinan yang kuat, mungkin mereka masih mampu bertahan terhadap serangan musuh, yang jumlahnya — menurut 194 Astrayuda — hanya terdiri dari 1.000 orang Madura serta antara 20.000 dan 25.000 orang yang ikut-ikutan saja. Tetapi pertahanan Mataram hancur dari dalam, karena anarki dan pengkhianatan. Sejak pertempuran di Gegodog hampir tiada lagi pemerintahan yang mantap di Istana. Raja yang tua itu tetap ada di dalam Keraton, dan diberitakan menghabiskan waktu’ dengan menggembala kambing dan melampiaskan hawa nafsunya (Laporan Umum Kepada Pimpinan Kompeni di Belanda, 5 Juli 1677; Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 170). Dengan demikian, wibawanya yang lama sudah pudar, dan mendengar nama Trunajaya dan laskar Maduranya itu saja rakyat kecil sudah gemetar. Karenanya, pasukan Trunajaya hanya menghadapi perlawanan kecil saja. Lawan menjadi semakin kuat dari desa ke desa, dengan memaksa penduduk mengikutinya, sehingga akhimya mereka sampai di mulut jalan-jalan raya menuju Kota Mataram. Di sana mula-mula mereka hanya mondar-mandir saja, belum berani melakukan serangan seru, sampai merasa cukup kuat dan tidak takut lagi terhadap siapa pun (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 137). Dapat dikatakan Pangeran Puger, yang juga bingung seperti bawahannya, tanpa perlawanan telah menyerahkan keraton yang sudah berusia seratus tahun itu. XVI—3 Pengkhianatan para pembesar Setelah raja yang tua itu mengungsi, para pemberontak memasuki Keraton. Dalam lima hari berikut (28 Juni—3 Juli 1677) Umbul Astrayuda yang berasal dari Semarang itu melihat hampir semua rumah para pembesar habis terbakar. Yang tidak terbakar hanyalah keraton itu sendiri, masjid besar, istana Pangeran Purbaya, Pangeran Sampang, Pangeran Cirebon, dan Pangeran Aria Panular, putra Sunan yang bungsu. Hasil rampasan luar biasa banyaknya diangkut dengan kereta dan hewan, termasuk perbendaharaan kerajaan sebanyak 350.000 rial, berikut semua wanita, putri dan abdi wanita yang cantik-cantik, diboyong oleh Wangsenggati. Hanya meriam-meriam berat dan wanita tua yang ditinggalkan (Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 138). Bahwa istana Pangeran Purbaya tidak turut terbakar tidak peru mengherankan, melihat peranan yang dimainkan oleh leluhurnya selama puluhan tahun sebelumnya. Hal yang sama berlaku pula bagi kerabat Cirebon, karena pangeran-pangeran ini sejak tahun 1662 hidup dalam tahanan secara terhormat di Mataram, yang tentunya tidak akan mengukuhkan kesetiaan mereka. Tetapi mereka pun harus ikut digiring ke Kediri, yang tentunya sangat menyakitkan hati mereka. Pangeran Sampang, paman Raden Trunajaya, dapat menghindari mala petaka karena tepat pada waktunya menyeberang. Ia pun pergi ke Kediri dan selama lebih dari lima hari harus tinggal di dalam rumah sebelum 195 diperkenankan bertemu muka oleh kemanakannya. Bersama bangsawan- bangsawan Cirebon ia dibuang ke Coedock (setengah hari perjalanan di sebelah barat Kediri). Di Mataram ditempatkan tentara pendudukan yang berjumlah antara 20.000 dan 25.000 orang Jawa, sedangkan pasukan Madura hanya antara 600 dan 700 orang. Mangkuyuda dan Angantaka menempati Keraton sedangkan Wiramenggala menempati istana Pangeran Aria Panular (Jonge, Opkomst, jil. VIL, him. 139). Bab XVII Lari dan Mangkat Tegalwangi Juni—Juli 1677 XVII—1 Tanggal jatuhnya Plered, 28 Juni 1677 erikut ini diberikan keterangan yang ada pada kami yang dapat memastikan tanggal jatuhnya Plered: a. Nader Verclaringe, tulisan terkenal oleh Sunan Mangkurat I UJonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 50-52). b. Annotatie bij forma van Daghregister, gehouden by Christoffel van Outers, secunde ... op Japara, in zyn voyagie. .. naar Tigaal ... om aldaar te gaan verwellekomen en. . . na Japara over te scheepen den ouden Zouzouhoun- an Mattaram met de pangeran Adipati Anom (Laporan Christoffel van Outers, K.A. No. 1218, hlm. 1815) .. Translaatbrief of Ola door den Japaersen Gouverneur ng. Wangsa Dipa aan Admiral Cornelis Spelman (Surat terjemahan dari Wangsadipa kepada Speelman dalam: Jonge, Opkomst, jil. VII, hlm. 132-134). d. Laporan Umbul Astrayuda dari Semarang, saksi mata peristiwa perebutan Istana Mataram, termuat dalam surat Speelman tanggal 3 September 1677 Gonge, Opkomst, jil. VIL, hlm. 137-138). e. Cerita tutur Jawa (Babad B.P. jil. XII, hlm. 32; Meinsma, Babad, him. 174); saat Raja melarikan diri dari pura bertepatan pada hari Minggu malam, tanggal 19 bulan Sapar tahun Be 1600. Marilah data-data ini kita tinjau secara lebih mendalam. "Nader Verclaringe” memang tidak memuat data penanggalan, tetapi memberi ikhtiar peristiwa dari hari ke hari, tanpa melupakan sebuah kejadian pun, sehingga dapat diikuti dengan teliti apa yang terjadi sejak Keraton jatuh sampai pemakaman Sunan di Tegal. Apabila diambil saat Sunan meninggalkan istananya, sebagai hari yang pertama, maka diperoleh daftar berikut: hari pertama __ : dari Keraton ke pemakaman Imogiri. p 197 hari ke-2 : dari Imogiri ke Jagabaya. hari ke-3 : dari Jagabaya ke Rawa. hari ke-4 : dari Rawa ke Bocor. hari ke-5 : dari Bocor ke Patanahan. hari ke-6 : dari Patanahan ke Nampudadi: penyerahan pemerintahan dan pusaka. hari ke-7 : dari Nampudadi ke Pucang. hari ke-8 :dari Pucang melalui Ambanan dan Petarangan ke Banyumas. hari ke-9 sampai ke-11: istirahat. hari ke-12 : dari Banyumas melalui Pasir ke Ajibarang. hari ke-13 : dari Ajibarang ke Wanayasa (Winduaji); wafatnya Sunan. hari ke-14 dan ke-15: dari Winduaji ke Tegalwangi. hari ke-16 : pemakaman secara khidmat. Bandingkanlah data ini dengan "Annotatie bij forma van Daghregister” oleh Christoffel Outers: Petugas ini, yang dengan kapalnya berlabuh di depan Tegal berturut-turut di sana mendapat fakta-fakta tentang tanggal-tanggal berikut ini: 7 Juli (malam hari): Sunan tua menyerahkan pemerintahannya kepada putranya Pangeran Adipati Anom. 10 Juli (sudah larut malar): diterima surat, yang memberitakan bahwa karena sakit Sunan terpaksa tinggal beberapa hari di Aijer-Maas (Banyumas); selanjutnya keadaan kesehatannya membaik dan sudah melewati Ajibarang, sehari dan semalam perjalanan dari Tegal. 11 Juli « : seorang pengantar surat memberitakan bahwa Raja sudah tiba di... 12 Juli : dua utusan membawa berita tentang mangkatnya Sunan. 13 Juli kedatangan dan pemakaman jenazah Sunan di Tegal. Kejadian-kejadian ini sudah tentu terjadi sebelum tanggal Outers menerima beritanya, dan lebih lama selang waktunya, lebih jauh tempat kejadiannya dari Tegal. Satu-satunya fakta yang tanggalnya tidak dapat diragukan lagi ialah pemakaman Sunan pada tanggal 13 Juli 1677 di Tegalwangi, beberapa kilometer di sebelah selatan Tegal, karena Outers hadir di sana dengan dua belas orang serdadu. ‘Maka, dapat diperoleh persamaan sebagai berikut: 198 rt Berita yang diterimal dari Keraton ke Imogiri 28 Juni dari Imogiri ke Jagabaya 29 Juni dari Jagabaya ke Rawa 30 Juni dari Rawa ke Bocor 1 Juli dari Bocorke Patanahan 2 Juli dari Patanahan ke Nampudadi | 3 Juli dari Nampudadi ke Pucang 4 juli dari Pucang ke Banyumas 5 Juli istirahat di Banyumas 6-8 Juli dari Banyumas ke Ajibarang 9 Juli dari Ajibarang ke Wanayasa (Winduaji) 10 Juli 12 Juli dari Wanayasa (Winduaji) ke Tegalwangi 11-12 Juli pemakaman di Tegalwangi 13 juli Ini cocok dengan pemberitaan, mengingat bahwa kehadiran Sunan di Banyumas baru disebutkan pada tanggal 7 Juli, disertai pemberitaan tentang rute perjalanannya melalui Ajibarang. Dengan demikian, Sunan kiranya sudah meninggalkan Keraton pada tanggal 28 Juni 1677, empat hari lebih cepat dari berita yang pernah diterima (lihat: Graaf, "Vlucht”), ketika laporan Outers belum ada. Tetapi selanjutnya pun masih terdapat beberapa kesulitan pula. Demikianlah diberitakan bahwa Residen Van der Schuyr di Jepara pada tanggal 30 Juni 1677 menulis surat kepada Laksamana Speelman yang berada di Jawa Timur, tentang berita yang tidak menyenangkan mengenai direbutnya ibu kota Mataram, dan bahwa Sunan dengan para pangeran telah melarikan diri ke suatu tempat tertentu. Pembawa berita menyedihkan ini bernama Wangsapatra, yang seketika dibunuh oleh kepala daerah Jepara yang sedang kebingungan. Karena meragukan kebenaran berita tersebut, dikirimkannya seorang tertentu secara incognito. (Daghregister, 9 Juli 1677). Juga kita mempunyai alasan untuk meragukannya. Sunan melarikan diri tidak bersama putra-putranya, melainkan seorang diri. Karena itu, berita ini lebih menyerupai desas-desus jahat tentang peristiwa-peristiwa yang menda- hului peristiwa daripada merupakan berita yang dapat dipercaya. 199