Anda di halaman 1dari 5

PENGANGKATAN DAN

PEMINDAHAN PENDERITA

A. TUJUAN INSTRUKSIONIL UMUM


Setelah selesai membaca bab ini peserta diharapkan dapat mendemonstrasikan
cara pengangkatan dan pemindahan penderita yang aman, baik bagi penderita
maupun petugas paramedik.

B. TUJUAN INSTRUKSIONIL KHUSUS

1. Dapat menjelaskan cara pengangkatan dan pemindahan yang aman.

2. Dapat mendemonstrasikan pengangkatan dan pemindahan penderita,


baik yang urgen maupun non-urgen, serta dapat menunjukkan serta
memakai alat-alat yang diperlukan.
PENGANGKATAN DAN PEMINDAHAN PENDERITA

I. PENDAHULUAN
Manusia bukan kambing, karena itu pengangkatan penderita membutuhkan cara-
cara tersendiri. Setiap hari banyak penderita diangkat dan dipindahkan, dan banyak
pula petugas paramedik yang menderita cedera karena salah mengangkat, mungkin
karena tidak tahu, tetapi mungkin pula karena sikap acuh.
Keadaan dan cuaca yang menyertai penderita beraneka-ragam, dan tidak ada satu
rumus pasti bagaimana mengangkat dan memindahkan penderita. Tulisan ini
bertujuan memberikan garis-garis besar yang harus diperhatikan saat mengangkat
dan memindahkan penderita.

II. MEKANIKA TUBUH PADA SAAT PENGANGKATAN


Tulang yang paling kuat di tubuh manusia adalah tulang panjang, dan yang paling
kuat di antaranya adalah tulang paha (femur). Otot-otot yang beraksi pada tulang-
tulang tersebut juga paling kuat.
Dengan demikian maka pengangkatan haras dilakukan dengan tenaga terutama pada
paha, dan bukan dengan membungkuk.

Angkatlah dengan paha, bukan dengan pungung

Di antara kelompok otot, maka kelompok fleksor lebih kuat dibandingkan kelompok
ekstensor. Dengan demikian pada saat mengangkat tandu, tangan haras menghadap
ke depan, dan bukan ke belakang.
Semakin dekat beban ke sumbu tubuh, semakin ringan pengangkatan. Dengan
demikian maka usahakan agar tubuh sedekat mungkin ke beban (tandu dsb) yang
akan diangkat.
Kaki menjadi tumpuan utama saat mengangkat. Jarak antara kedua kaki yang paling
baik saat mengangkat adalah berjarak sebahu kita.
Kenali kemampuan diri sendiri. Bila merasa tidak mampu, mintalah pertolongan
petugas lain, dan jangan memaksakan mengangkat karena akan membahayakan
penderita, pasangan dan kita sendiri.

III. PANDUAN DALAM MENGANGKAT PENDERITA


1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita.
Nilailah beban yang akan diangkat secara bersama, dan bila merasa tidak mampu,
jangan paksakan.
Selalu komunikasi secara teratur dengan pasangan kita.
2. Kedua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit di depan kaki sebelahnya.
3. Berjongkok, jangan membungkuk, saat mengangkat. Punggung harus selalu
dijaga lurus.
4. Tangan yang memegang menghadap ke depan.
Jarak antara kedua tangan yang memegang (misalnya tandu) minimal 30 cm.
5. Tubuh sedekat mungkin ke beban yang harus diangkat. Bila terpaksa, jarak
maksimal tangan kita ke tubuh kita adalah 50 cm.
6. Jangan memutar tubuh saat mengangkat.
7. Panduan di atas juga berlaku saat menarik atau mendorong penderita.

IV. PANDUAN UNTUK MEMINDAHKAN PENDERITA


Pemindahan penderita dapat secara :
a. Emergensi
b. Non-emergensi

Pemindahan penderita dalam keadaan emergensi contohnya adalah :


1. Ada api, atau bahaya api atau ledakan
2. Ketidak-mampuan menjaga penderita terhadap bahaya lain pada TKP (benda
jatuh dsb)
3. Usaha mencapai penderita lain, yang lebih urgen
4. lngin RJP penderita, yang tidak mungkin dilakukan di tempat tersebut.

Apapun cara pemindahan penderita, selalu ingat kemungkinan patah tulang leher
(servikal) bila penderita trauma.

1. Pemindahan emergensi
a. Tarikan baju
Kedua tangan penderita harus diikat untuk mencegah naik ke arah kepala
waktu baju ditarik. Bila tidak sempat, masukkan kedua tangan dalam celananya
sendiri.
b. Tarikan selimut.
Penderita ditaruh dalam selimut, yang kemudian ditarik
c. Tarikan lengan
Dari belakang penderita, kedua lengan paramedik masuk di bawah
ketiak penderita, memegang kedua lengan bawah penderita.
d. Ekstrikasi cepat
Dilakukan pada penderita dalam kendaraan yang harus dikeluarkan
secara cepat.

2. Pemindahan non-emergensi
Dalam keadaan ini dapat dilakukan urutan pekerjaan normal, seperti kontrol TKP,
survai lingkungan, stabilisasi kendaraan dsb.
a. Pengangkatan dan pemindahan secara langsung
Oleh 2 atau 3 petugas. Harus diingat bahwa cara ini tidak boleh dilakukan
bila ada kemungkinan fraktur servikal. Prinsip pengangkatan tetap harus
diindahkan.
b. Pemindahan dan pengangkatan memakai seperei.
Sering dilakukan di rumah sakit. Juga tidak boleh dilakukan bila ada dugaan
fraktur servikal.

V. PERLENGKAPAN UNTUK PEMINDAHAN PENDERITA


1. Brankar (wheeled stretcher)
Hal-hal yang harus diperhatikan :
a. Penderita selalu diselimuti
b. Kepada penderita/keluarga selalu diterangkan tujuan perjalanan
c. Penderita sedapat-mungkin selalu dilakukan "strapping" (fiksasi) sebelum
pemindahan.

d. Brankar berjalan dengan kaki penderita di depan, kepala di belakang, supaya


penderita dapat melihat arah perjalanan brankar. Posisi ini dibalik bila akan
naik tangga (jarang terjadi).
Sewaktu dalam ambulan menjadi terbalik, kepala di depan (dekat pengemudi)
supaya paramedik dapat bekerja (bila perlu intubasi dsb).
Pada wanita in-partu, posisi dalam ambulan boleh dibalik, supaya paramedik
dapat membantu partus.
e. Jangan sekali-kali meninggalkan penderita sendirian di atas brankar. Penderita
mungkin berusaha membalik, yang berakibat terbaliknya brankar.
f. Selalu berjalan berhati-hati.

2. Tandu sekop (scoop stretcher, orthopaedic stretcher)


Alat yang sangat bermanfaat untuk pemindahan penderita. Bila ada dugaan fraktur
servikal, maka alat yang dipilih adalah LSB (long spine board).
Harus diingat bahwa tandu sekop bukan alat transportasi, dan hanya alat pemindah.
Waktu proses pengangkatan, sebaiknya 4 petugas, masing-masing satu pada sisi
tandu sekop, karena kemungkinan akan melengkung (alat ini mahal harganya, karena
terbuat dari logam khusus).

3. Long spine board


Sebenarnya bukan alat pemindahan, tetapi alat fiksasi. Sekali penderita di fiksasi atas
LSB ini, tidak akan diturunkan lagi, sampai terbukti tidak ada fraktur servikal, karena itu
harus terbuat dari bahan yang tidak akan mengganggu pemeriksaan ronsen.
Pemindahan penderita ke atas LSB memerlukan teknik khusus yaitu memakai "log
roll". Setelah penderita di atas LSB selalu dilakukan "strapping", lalu LSB diletakkan di
atas stretcher.

4. Short spine board dan KED (Kendrick extrication device)


Lebih merupakan alat ekstrikasi.
Setelah selesai ekstrikasi, tetap penderita harus diletakkan pada alat pemindah yang
lain.