Anda di halaman 1dari 31

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep ASI Eksklusif

1. ASI Eksklusif

Pada awal bulan, bayi yang paling beresiko terhadap berbagai

penyakit. Air Susu Ibu (ASI) eksklusif membantu melindungi terhadap

diare dan infeksi umum lainnya. ASI diberikan minimal 6 bulan tanpa

makanan pendamping ASI (PASI) inilah yang disebut dengan ASI

eksklusif. ASI mengandung growth factor yang berguna diantaranya untuk

perkembangan mukosa usus. ASI akan melindungi bayi terhadap infeksi

dan juga merangsang pertumbuhan bayi yang normal (Proverawati &

Rahmawati, 2010).

Menyusui (breast-feeding) memberi sang bayi makanan melalui

kecupan ke puting susu sang ibu kandung pasca kelahiran. Definisi

menyusui inilah yang dikategorikan sebagai ASI Eksklusif. Menyusui

tanpa melalui puting susu ibu kandung bagi si bayi tidak dikategorikan

menyusui dan tidak dikategorikan ASI Ekskulusif. Karena hanya sekedar

memberi makanan berupa ASI. Jadi, menyusui melalui kecupan keputing

susu sang ibu kandung oleh sang bayi disebut breast-feeding (Jelliffe DB

and Jelliffe EFP, 1978 dalam Sitepoe, 2013).

Setelah enam bulan, seorang anak membutuhkan jenis makanan dan

minuman tambahan, akan tetapi proses menyusui harus terus dilakukan

sampai bayi berusia dua tahun. Jika ada bayi di bawah usia enam bulan

9
10

tidak mendapatkan berat badan yang ideal, maka bayi tersebut harus lebih

sering disusui, jangan sampai berpindah ke makanan tambahan dahulu.

Bayi dibawah enam bulan tidak memerlukan cairan lain selain ASI. Bayi

yang tidak mendapatkan berat badan yang cukup atau sakit disebabkan

oleh pemberian ASI yang kurang (Proverawati & Rahmawati, 2010).

Bagi negara sedang membangun, kebutuhan ASI bagi bayi pasca

nifas adalah 600-750 cc setiap hari, sedangkan produksi susu sang ibu

mencapai 600-700 cc per hari, (Chaves et al, 1976 dalam Sitepoe, 2013).

Susu yang pertama diproduksi kelenjar susu adalah kolostrum, 24-

36 jam sesudah kelahiran sang bayi sampai umur 5 hari atau sampai umur

7 hari. Kolostrum disusul dengan susu transisional pada manusia, yang

terakhir diproduksi adalah ASI (Air Susu Ibu) (Sitepoe, 2013).

Kolostrum adalah cairan berwarna kuning kental dan mengandung

zat kekebalan tubuh (antibodi). Sebagai cairan dari ASI yang pertama kali

keluar, jumlah kolostrum memang sedikit, namun sesuai dengan

kebutuhan bayi yang baru lahir (Adiningrum, 2014).

Kolostrum bukan saja berfungsi sebagai nutrisi bagi sang bayi,

tetapi juga berfungsi sebagai memberikan imunitas tubuh. Fungsi

kolostrum lainnya adalah sebagai faktor pada pertumbuhan dan sebagai

laksansia (obat pencahar untuk memperlancar buang air besar) (Sitepoe,

2013).
11

2. Pentingnya ASI Eksklusif

Pentingnya ASI eksklusif harus menjadi perhatian, dan tanggung

jawab orangtua. Sebagai orangtua, mereka juga harus mulai menyadari

akan dampak pada bayi jika ASI eksklusif ini tidak di berikan pada bayi

dengan maksimal. Pertumbuhan bayi pada usia 0-6 bulan bisa sangat

terhambat dan kemungkinan besar juga bayi tidak sehat. Dengan ibu

memberikan ASI-nya secara maksimal maka ibu akan mentransfer

imunitasnya kepada bayi, sehingga apabila ibu sehat maka bayi juga bisa

sehat.

Perhatian akan pentingnya ASI eksklusif juga harus datang dari

lingkungan sekitar, hal ini dikarenakan agar pemberian ASI eksklusif di

terapkan dalam kebiasaan atau budaya yang harus dilestarikan. Karena

meskipun ada susu formula yang orangtua andalkan sebagai pengganti

ASI eksklusif, susu formula tidak akan sebaik ASI. Karena banyak sekali

kandungan susu formula yang tidak terdapat pada ASI, ASI lebih memiliki

fungsi menyeluruh pada bayi sedangkan susu formula hanya memacu

sebagian saja. (Dinkes Pamekasan, 2013).

3. Manfaat ASI Eksklusif

ASI memiliki banyak manfaat untuk bayi. Oleh karenanya,

disarankan untuk menyusui bayi secara eksklusif selama enam bulan dan

tetap melanjutkan menyusui sampai usia anak dua tahun. Bayi yang diberi

ASI akan lebih sehat dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula.
12

Pemberian susu formula pada bayi dapat meningkatkan risiko

infeksi saluran kemih, saluran napas, dan telinga. Bayi juga bisa

mengalami diare, sakit perut, alergi makanan, asma, diabetes, dan penyakit

saluran pencernaan kronis. Sebaliknya, ASI membantu mengoptimalkan

perkembangan sistem saraf serta perkembangan otak bayi (Adiningrum,

2014).

a. Manfaat ASI bagi bayi

Pemberian ASI membantu bayi untuk memulai kehidupannya dengan

baik. Kolostrum mengandung antibodi yang kuat untuk mencegah

infeksi dan membuat bayi lebih kuat.

b. Manfaat ASI bagi ibu

Pemberian ASI membantu ibu memulihkan diri dari proses

persalinannya. Pemberian ASI selama beberapa hari pertama membuat

rahim berkontraksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan.

Wanita yang menyusui bayinya akan cepat pulih atau turun berat

badannya ke berat badan sebelum hamil.

c. Manfaat ASI bagi semua orang

ASI selalu bersih dan bebas dari hama yang menyebabkan infeksi.

4. Komposisi ASI

a. Komposisi ASI: air 85,5% dan 14,5% adalah bagian padat yang terdiri

dari berbagai nutrisi lainnya: karbohidrat, protein, lemak, vitamin,

mineral, dan lain-lain (Sitepoe, 2013).


13

b. Kadar air: 87,1%/100gr. Air memegang peranan penting dalam

kehidupan khusus sang bayi pasca kelahiran, yakni untuk

mempertahankan suhu tubuh karena banyak penguapan (Sitepoe,

2013).

c. Kadar lemak: lemak dalam ASI 4,5 gr/100 cc. Lemak penyusun ASI

berfungsi sebagai sumber energi, pelarut vitamin yang larut dalam

lemak, dan pelarut asam lemak esensial. Penyusun lemak adalah asam

lemak polyunsaturated: asam linoleat, arachidonat, dan lain-lain

(Sitepoe, 2013).

Komposisi lainnya penyusun lemak ASI adalah kolesterol, yang

dapat disintesis di dalam kelenjar susu (Lawrence RA, 1989 dalam

Sitepoe, 2013). Kolesterol berguna untuk jaringan saraf dan

komponen otak. Lemak ASI lainnya adalah trigliserida, yang akan

dicerna dengan bantuan enzim lipase di tubuh sang bayi.

d. Karbohidrat dalam air susu: karbohidrat pada air susu berupa

disakarida, yaitu laktosa yang terdiri dari glukosa dan galaktosa.

Kadar galaktosa ASI 6,94 gr/100 gr. Laktosa di dalam alat pencernaan

akan diubah oleh enzim lactase menjadi glukosa dan galaktosa.

Laktosa berfungsi menyerap kalsium (Ca), vitamin D, membantu

pembentukan jaringan otak, dan membantu fungsi Lactobacillus bifida

(Jellife, 1978 dalam Sitepoe, 2013)

e. Protein air susu: protein ASI disusun terbesar oleh: laktalbumin,

laktalglobulin, lactoferrin, dan sebagainya yang digunakan untuk

pembuatan enzim anti-bakteri (Jellife, 1978 dalam Sitepoe, 2013).


14

f. Asam amino: berfungsi sebagai neurotransmitter, berperan penting

dalam maturasi otak bayi. DHA adalah pusat kecerdasan dan di jala

mata. ARA yang ditemukan di seluruh tubuh dan bekerja bersama-

sama dengan DHA untuk mendukung visual dan perkembangan

mental bayi (Proverawati & Rahmawati, 2010).

g. Vitamin dalam air susu: kadar vitamin B kompleks pada ASI

tergantung pada gizi sang ibu yang melahirkan. Jika sang ibu

kekurangan vitamin B kompleks akan memengaruhi ASI. Karena itu

vitamin B kompleks merupakan keharusan untuk dikonsumsi oleh ibu-

ibu breast feeding (Kon SK, 1972 dalam Sitepoe, 2013). Kadar

vitamin C dalam ASI tergantung pada konsumsi vitamin C sang ibu

melahirkan. Ibu breast feeding harus mengkonsumsi vitamin C untuk

mempertahankan kadar vitamin C pada ASI (Kon SK, 1972 dalam

Sitepoe, 2013).

h. Mineral dalam air susu: mineral dalam air susu dibedakan menjadi

dua, yaitu macroelemen antara lain kalsium (Ca), posfor (P), natrium

(Na) dan microelemen misalnya besi (Fe), judium (J) (Sitepoe, 2013).

i. Lactobacillus: berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme

seperti E.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi (Proverawati

& Rahmawati, 2010).

5. Kebutuhan Nutrisi Ibu Menyusui

Makanan ibu, kualitas, kuantitas atau jenisnya hampir tidak

berpengaruh pada aktivitas menyusui ibu. Untuk sebagian besar ibu dan
15

bayi, tidak menjadi masalah apa yang dikonsumsi ibu, kapan ibu makan,

dan seberapa banyak makanan yang dikonsumsi.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa bayi bisa tumbuh

dengan baik, bahkan ketika makanan ibunya tidak bagus atau asupan

makanannya terbatas. Umumnya, pertumbuhan bayi melemah ketika

aktivitas menyusui terganggu, bayi yang disusui bertambah usia, aktivitas

menyusui berhenti, dan tidak tersedia makanan padat yang cukup

(Welford, 2011).

Seorang ibu yang menyusui memang sebaiknya mengkonsumsi

jenis makanan yang mengandung gizi seimbang, tetapi tidak perlu

mengkonsumsi jenis makanan tertentu atau bahkan menghindari beberapa

jenis makanan. Seorang ibu yang menyusui tidak perlu minum susu untuk

dapat menghasilkan susu. Seorang ibu yang menyusui sebaiknya

mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Namun, apabila terdapat

riwayat alergi di keluarga, misalnya alergi seafood dan alergi susu sapi,

maka ibu menyusui perlu lebih hati-hati dalam mengkonsumsi jenis-jenis

makanan tersebut (Newman, 2009).

Seorang ibu mampu memproduksi ASI secara cukup, kecuali

apabila seorang ibu masuk ke kategori sangat kurang gizi untuk periode

yang cukup lama. Umumnya, bayi akan mendapatkan ASI sesuai dengan

kebutuhannya. Banyak ibu yang khawatir apabila ia tidak banyak makan

maka akan mempengaruhi produksi ASI-nya. Sebetulnya tidak perlu

kawatir, banyak atau tidaknya makanan yang dikonsumsi ibu tidak

berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas ASI. Ada ibu yang makan
16

lebih banyak selama menyusui, ada yang makan lebih sedikit, dua-duanya

sah-sah saja dan tidak mempengaruhi ASI. Seorang ibu boleh saja makan

makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan seleranya (Newman, 2009).

Rasa ASI ternyata bisa dipengaruhi apa yang dikonsumsi sang ibu.

Akan tetapi tidak 100% rasa ASI akan sama seperti apa yang di makan

oleh ibu. Rasa makanan yang dikonsumsi ibu menyusui hanya akan terasa

samar-samar pada ASI dan hanya bertahan maksimal 8 jam.

B. Konsep Perkembangan Anak Usia 3-5 Tahun

1. Perkembangan Psikologis

Pada usia pra-sekolah anak mulai menyadari dan mempelajari

kondisi lingkungan di sekitarnya. Anak mulai membangun karakter

dirinya, salah satunya dengan meniru perilaku lingkungan sekitar.

Pengaruh lingkungan terutama orangtua, salah satunya dapat membentuk

perilaku makan pada anak.

Anak usia pra-sekolah sudah dapat memahami keberadaan dirinya,

dan menyadari bahwa dirinya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada

lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, anak mulai menunjukkan keeksi-

sannya dengan menuntut otonomi bagi dirinya. Sifat itu di antaranya,

ditunjukkan dengan perilaku menolak makanan, merengek, dan

menggunakan makanan sebagai alat untuk memerdekakan dirinya (Garrow

dan James, 1996 dalam Saraswati, 2012).

Menurut Liu dan Stein (2005), pada tahapan usia 6-36 bulan anak

secara bertahap mulai mengurangi ketergantungannya pada orangtua dan


17

menyadari kebutuhan akan otonomi bagi dirinya. Dengan kemampuan

berbahasa dan perkembangan motoriknya, anak mengembangkan

kemampuannya untuk makan secara mandiri.

Selain itu, pada tahapan ini anak juga memiliki rasa ingin tahu yang

begitu tinggi. Mereka tertarik dengan banyak hal dan merasa harus

memenuhi rasa ingin tahunya. Pada usia ini, mereka sibuk mengeksplorasi

dunia di sekitarnya (Wardlaw dan Hampl, 2007). Kesibukan anak

mengeksplorasi lingkungannya terkadang mengalihkan anak dari

makanannya.

Sebaliknya, anak cenderung memiliki rasa curiga jika disediakan

makanan yang baru dikenalnya (Wardlaw dan Hampl, 2007). Hal ini

dikarenakan anak memiliki indera pengecap (papilla) yang lebih sensitif

dibandingkan dengan orang dewasa. Akibatnya, mereka cenderung

memiliki kesukaan terhadap makanan tertentu yang berganti-ganti selama

waktu tertentu. Jika hal ini terus dibiarkan nantinya anak akan sulit

diperkenalkan terhadap jenis makanan baru (neofobia).

Namun, perlu diingat bahwa sifat dan karakter ini berbeda-beda

pada setiap anak. Grundy, S. M. et. al (2004) dikutip dalam Saraswati

(2012) membagi karakter anak ke dalam tiga kelompok. Menurutnya,

karakter ini dapat dihubungkan dengan perilaku makan pada anak.

Kelompok pertama (± 40%) yaitu mereka yang mudah beradaptasi dengan

aturan yang ada dan menerima makanan baru dengan baik. Kelompok

kedua (10%) merupakan anak yang sulit. Mereka kerap menolak dan

bersikap negatif terhadap makanan yang baru dikenalnya. Kelompok


18

ketiga (15%) adalah mereka yang lambat untuk beradaptasi. Mereka

menunjukkan penolakan terhadap jenis makanan tertentu dengan intensitas

yang tidak begitu parah. Sisanya berada diantara karakter tesebut. Mereka

menunjukkan beberapa sikap dari karakter yang berbeda.

2. Perkembangan Psikososial

Ciri pada fase ini adalah banyak berinisiatif, rasa ingin tahu besar,

sering bertanya, banyak bicara, aktif bermain, bekerja, aktif di luar rumah.

Konflik akan timbul bila ketika anak merasa tidak mampu kemudian ia

dicela. Bila pada fase ini terdapat hambatan akan timbul kesulitan belajar,

anak pasif, takut, kurang inisiatif (Rohmah, 2014).

Menurut Erikson, anak usia pra-sekolah berada pada tahap ke-3:

inisiatif vs kesalahan. Tahap ini dialami pada anak usia 4-5 tahun

(preschool age). Pada usia ini, anak secara normal menguasai rasa

otonomi dan memindahkan untuk menguasai rasa inisiatif. Anak pra-

sekolah adalah seorang pembelajar yang energik, antusiasme dan

pengganggu dengan imajinasi yang aktif.

C. Konsep Perilaku Picky Eating

1. Pengertian Perilaku

Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulan atau suatu

tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan

tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan

berbagai faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa


19

interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak

sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu

(Wawan & Dewi, 2010).

2. Bentuk Perilaku

Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon

organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek

tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam, yakni:

a. Bentuk pasif adalah respon internal yaitu yang terjadi didalam diri

manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain,

b. Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara

langsung.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap

adalah merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau rangsangan

yang masih bersifat terselubung dan disebut covert behaviour.

Sedangkan tindakan nyata seseorang sebagai respon seseorang terhadap

stimulus (practice) adalah merupakan overt behaviour (Wawan &

Dewi, 2010).

3. Teori Perilaku

Salah satu teori-teori perilaku yaitu, teori ABC atau lebih dikenal

dengan model ABC ini mengungkapkan bahwa perilaku adalah merupakan

suatu proses dan sekaligus hasil interaksi antara:

Antecedent→Behaviour→Concequences
20

a. Antecedent: adalah suatu pemicu (trigger) yang menyebabkan

seseorang berperilaku, yakni kejadian-kejadian di lingkungan kita.

Antecedent ini dapat berupa alamiah dan buatan manusia atau “man

made” (interaksi dan komunikasi dengan orang lain).

Kejadian-kejadian di lingkungan yang dialami oleh anak yang

mempengaruhi proses makan pada anak, yaitu:

1) Interaksi antara ibu dan anak yang kurang baik.

2) Perilaku makan orang tua yang tidak sehat dan kurang baik.

3) Kurangnya pendidikan ibu tentang gizi pada anak.

4) Keanekaragaman makanan yang sedikit yang diberikan oleh ibu

kepada anak.

b. Behaviour: reaksi atau tindakan terhadap adanya “antecedent” atau

pemicu tersebut yang berasal dari lingkungan.

Reaksi yang ditimbulkan akibat kejadian yang dialami oleh anak di

lingkungan, yaitu:

1) Interaksi ibu dan anak yang kurang baik dapat menimbulkan reaksi:

anak tidak mau mengkonsumsi makanan yang disajikan oleh ibu;

menolak makanan dengan cara berlama-lama makan sambil

bermain.

2) Perilaku makan orang tua yang tidak sehat dan kurang baik dapat

menimbulkan reaksi: anak hanya ingin mengkonsumsi makanan

yang dimakan oleh orang tuanya saja karena kebiasaan makan

orang tua yang sering dilihat oleh anak.


21

3) Kurangnya pendidikan ibu tentang gizi pada anak dapat

menimbulkan reaksi: anak hanya diberikan variasi makanan yang

sedikit sehingga anak sering menolak makanan baru yang

disajikan, anak memiliki nafsu makan yang buruk.

4) Keanekaragaman makanan yang sedikit yang diberikan oleh ibu

kepada anak menimbulkan reaksi: anak hanya ingin makan

makanan tertentu saja, anak makan dengan variasi makanan yang

sedikit.

c. Concequences: kejadian selanjutnya yang mengikuti perilaku atau

tindakan tersebut (konsekuensi). Bentuk konsekuensi:

1) Positif (menerima), berarti akan mengulang perilaku tersebut.

2) Negatif (menolak), berarti akan tidak mengulang perilaku tersebut

(berhenti) (Notoatmodjo, 2014).

Pada anak, perilaku reaksi yang ditimbulkan merupakan fase yang

umum pada perkembangan anak yang tidak selalu menyebabkan

masalah kesehatan atau sosial, namun reaksi tersebut dapat berakibat

buruk bagi anak, seperti gagal tumbuh, penyakit kronis dan kematian

jika tidak ditangani (Manikam dan Perman, 2000 dalam

Kusumawardhani, et., al., 2013).

Kekurangan mikro dan makronutrien juga dapat dialami oleh anak

yang pada akhirnya dapat mengganggu pertumbuhan fisik yang ditandai

dengan berat badan dan tinggi badan kurang atau berat badan sulit

untuk ditingkatkan dan juga gangguan pertumbuhan kognitif (Dubois,

2007; Judarwanto, 2005)


22

4. Definisi Picky Eating

Beberapa para ahli mendefinisikan picky eating, tetapi belum ada

definisi baku yang jelas mengenai definisi picky eating tersebut.

International Klasifikasi Penyakit menggambarkan gangguan makan dari

bayi dan masa kanak-kanak, yang meliputi kesulitan makan, seperti

penolakan makanan, dan perbuatan aneh pada saat makan makanan yang

cukup, dan tidak adanya penyakit (Ong, et. al., 2014).

Dalam beberapa penelitian mengenai picky eating, perilaku picky

ini hanya merupakan asumsi ibu dalam menggambarkan perilaku memilih-

milih makanan pada anak. Istilah picky eating juga umum disepadankan

dengan neophobic dan problem feeders (Carruth, et. al., 2004 dalam

Saraswati, 2012) serta fussy eaters dan choosy (Dubois, et. al., 2007).

Menurut Carruth, et. al (1998) dalam Saraswati (2012) picky eating

merupakan perilaku menolak suatu jenis atau kelompok makanan tertentu,

yang dianggap sesuai untuk mereka oleh orang tuanya. Karakteristik

umum dari picky eaters termasuk makan jumlah terbatas makanan,

menolak makanan (terutama buah-buahan dan sayuran), yang tidak mau

mencoba makanan baru, hanya menerima beberapa jenis makanan, lebih

memilih minuman atas makanan, dan memiliki preferensi yang kuat

makanan (Ong, et. al., 2014).

Pendapat lain yang hampir serupa menggambarkan picky eating

sebagai perilaku memakan sedikit sekali jenis makanan atau pemilih,

makan dalam jumlah sedikit, makan lambat, dan tidak tertarik terhadap

makanan (Dubois, et. al., 2007).


23

Dapat disimpulkan dari teori konsep ABC, perilaku picky eating

yaitu gangguan makan pada anak yang menimbulkan perilaku seperti

penolakan makan (terutama buah dan sayuran), makan dalam jumlah

sedikit, makan lambat, tidak tertarik terhadap makanan dan perbuatan-

perbuatan untuk menolak suatu makanan.

5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Picky Eating

Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan pilih-pilih makan

pada anak. Faktor-faktor ini memiliki interaksi yang dinamis satu sama

lainnya (Winters, 2003 dalam Kusumawardhani et al., 2013).

a. Faktor psikologis

Kebanyakan orang pada umumnya berasumsi jika anak balita

terlalu kecil untuk merasa sedih. Berdasarkan penelitian terbaru

menyatakan bahwa depresi klinis ternyata tidak mengenal umur.

Faktor psikologis/perilaku pada anak dengan kesulitan makan

meliputi: kecemasan, perhatian yang mudah teralihkan, memiliki

keinginan yang kuat, serta gangguan mengendalikan diri. Riwayat

tersedak, dipaksa ataupun dimarahi saat makan dapat menjadi

penyebab psikologis kesulitan makan pada anak (Adriani dan

Wirjatmadi, 2012).

Orang tua yang membiarkan anaknya menangis berlama-lama dan

sepuas-puasnya adalah sikap yang buruk dalam mendidik, karena

menangis seperti itu membuat anak merasakan kepedihan yang hebat

dan merasa kesepian. Anak seolah-olah dibiarkan sendirian dan tidak


24

diperdulikan, tidak di bantu dalam mengembangkan fungsi psikis

yang paling dibutuhkan yaitu: kemampuan untuk berhubungan dan

menerima kehangatan dan keramahan orang lain. Akibat dari situasi

tersebut anak dapat mengalami depresi (Gunarsa, 2010 dalam

Kusumawardhani et al., 2013).

Anak yang menderita depresi secara persisten selalu terganggu,

menarik diri dan lethargic. Anak yang depresi juga kehilangan minat

untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya sangat mereka sukai

termasuk perubahan kebiasaan makan (Adriani dan Wirjatmadi,

2012). Hilangnya nafsu makan akan menyebabkan anak menjadi picky

eater yang biasanya dimulai dari kehilangan nafsu makan dari yang

ringan hingga berat (Judarwanto, 2005).

b. Jenis kelamin anak

Pada masyarakat tradisional, wanita mempunyai status yang lebih

rendah dibandingkan laki-laki. Keadaan ini dapat mengakibatkan

angka kematian bayi dan malnutrisi masih tinggi pada wanita (Adriani

dan Wirjatmadi, 2012).

Berdasarkan penelitian Antolis (2012) dalam Kusumawardhani et

al. (2013) yang dilakukan di Semarang, mayoritas anak yang

mengalami kesulitan makan (picky eater) adalah anak wanita sebesar

(58%). Sedangkan menurut Carruth, et al. (2004) prevalensi picky

eater secara konsisten meningkat untuk kedua jenis kelamin antara 4

dan 24 bulan, mulai dari 17% menjadi 47% untuk pria dan 23%

sampai 54% untuk perempuan.


25

c. Interaksi ibu dan anak

Proses makan pada anak memerlukan suatu interaksi ibu dan anak

yang baik, hal tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk

diperhatikan. Ineteraksi yang positif seperti kontak mata, komunikasi

dua arah, pujian dan sentuhan dan interaksi yang negatif seperti

memaksa makan, membujuk, mengancam dan melemparkan makanan

dapat mempengaruhi psikologis anak yang akhirnya dapat

berpengaruh terhadap nafsu makan anak (Claude & Bonnin, 2006).

Perilaku pilih-pilih makanan secara signifikan terkait dengan

keadaan psikologis atau stress ibu ketika memberi makan, hal ini

dapat berdampak negatif pada hubungan antara ibu dan anak (Daniel

dan Jacob, 2012 dalam Priyanti, 2013). Masalah makan bisa menjadi

indikator kesulitan emosi antara anak dan orang tua khususnya ibu

karena makan merupakan proses yang kompleks, dinamis, dan

merupakan interaksi yang efektif antara pengasuh, anak dan

lingkungan (Louise, 1999; Wardlan, 1999 dalam Kusumawardhani et

al., 2013).

Interaksi ibu dan anak mempunyai hubungan yang kuat pada

perilaku makan dan berat badan anak (Oliveria, 2008 dalam

Kusumawardhani et al., 2013). Pemberian makan merupakan salah

satu hal yang penting dari pengasuhan orang tua terhadap anak.

Perilaku anak di waktu makan, jadwal makan yang teratur, kualitas

dan kuantitas makan serta variasi makanan dapat perhatian dari orang

tua. Contoh dalam perilaku makan dapat dilakukan oleh orang tua.
26

Kebiasaan dan perilaku makan orang tua dapat direfleksikan kepada

anaknya (Cooke, L. J et al, 2007).

Kecemasan orang tua dapat terjadi saat anak mengalami kesulitan

dalam hal makan, hal itu dapat mengganggu hubungan dalam keluarga

dan semakin memperburuk perilaku makan anak. Hubungan interaksi

yang dilakukan dengan penuh rasa sayang dan kecintaan antara

pemberi makan/pengasuh dengan anak, terutama ibu/orang tua dan

seluruh anggota keluarga lain sangat penting dalam upaya pembinaan

makan/pola asuh makan yang benar dan baik dalam keluarga,

sehingga sangat bermanfaat sebagai salah satu upaya pencegahan

kesulitan makan (Samsudin,1992 dalam Kusumawardhani et., al.,

2013).

Interaksi ibu dan anak berhubungan dengan perkermbangan mental

anak. Studi klinis menunjukkan perbedaan dalam nilai indeks

perkembangan mental dan pertumbuhan antara anak-anak picky eaters

dengan anak-anak non-picky eater. Nilai Mental Development

Index (MDI) dari anak picky eater yang berumur 1-3 tahun adalah 14

poin lebih rendah dibandingkan dengan anak yang non-picky eater

(Chatoor, 2004 dalam Kusumawardhani et., al., 2013).

d. Perilaku makan orang tua

Anak picky eating merupakan hasil dari meniru pola makan orang

tuannya. Hal tersebut dapat dimulai dari meniru pola makan

lingkungan terdekatnya yang juga pilih-pilih makanan. Pada anak sulit

makan mengalami gangguan oral motor yang mengakibatkan


27

gangguan mengunyah dan menelan sehingga mereka akan pilih-pilih

atau menolak makanan dengan tekstur tertentu terutama yang berserat

seperti sayur, daging sapi atau nasi. Anak seperti ini hanya mau

makanan yang tidak berserat dan yang crispy seperti telor, mie,

nugget, biskuit, kerupuk dan sejenisnya. Gangguan oral motor

biasanya sering disebabkan karena gangguan fungsi saluran cerna

seperti alergi atau intoleransi makanan lainnya. Alergi atau gangguan

genetik lainnya seringkali diturunkan oleh salah satu orang tuanya.

Jadi bila salah satu orang tua mempunyai masalah kesulitan makan

maka hal tersebut dapat diturunkan pada anak bukan karena anak

meniru pola makan orang tua tetapi karena masalah itu diturunkan

secara genetik (Judarwanto, 2005).

Ibu yang memilih-milih makanan mempengaruhi perilaku pilih-

pilih makan anak-anak mereka. Seorang anak mungkin akan kurang

bersedia untuk mencoba makanan baru yang ibunya belum pernah

merasakannya. Anak-anak akan kurang menerima makanan asing jika

mereka mengamati perilaku orang tua mereka juga memilih-milih

makan. Perilaku ibu akan terus mempengaruhi perilaku pilih-pilih

makan anak (Carruth dan Skinner, 2000 dalam Kusumawardhani et.,

al., 2013). Daniel dan Jacob (2012) dalam Priyanti (2013)

menyatakan anak-anak dengan riwayat keluarga pilih-pilih makanan

secara signifikan lebih cenderung menjadi picky eating.


28

e. Riwayat pemberian ASI eksklusif

Tidak banyak diketahui bahwa rasa ASI berubah sesuai dengan

makanan yang dikonsumsi ibu. Rasa yang berubah-ubah pada ASI ini

merupakan stimulasi bagi indera pengecapan bayi (Hendarto, Aryono

dan Pringgadini, Keumala, 2008 dalam Kusumawardhani, et al.,

2013). Bayi mengalami pengalaman pertama tentang rasa makanan

sejak masih dalam kandungan. Rasa cairan ketuban berubah-ubah

bergantung jenis makanan yang dikonsumsi oleh ibu. Rasa dari

makanan yang dikonsumsi oleh ibu selama kehamilan disalurkan ke

cairan ketuban yang tidak hanya dirasakan oleh janin tetapi juga

meningkatkan penerimaan dan kenikmatan bayi pada saat masa

penyapihan ASI (Nasar, 2010 dalam Kusumawardhani, et al., 2013).

Paparan selera makanan dimulai dari konsepsi dan terus dengan

pengalaman pemberian makan pada bayi. Telah terbukti bahwa

menyusui bayi menyebabkan pengaruh yang lebih luas dari selera

makanan dibandingkan dengan susu formula. Variasi rasa tersebut

diberikan oleh ASI untuk membantu anak-anak dengan penerimaan

makanan baru di kemudian hari. Namun, bahkan dengan gizi yang

baik selama kehamilan dan menyusui, penerimaan makanan baru pada

anak mungkin memerlukan paparan berulang-ulang hingga 10 kali

(Ong, et al., 2014).

Anak yang mengalami picky eater diketahui tidak diberi ASI

secara eksklusif atau selama 6 bulan. Perilaku anak menjadi picky

eater dikarenakan anak terlau cepat/dini dikenalkan makanan, anak-


29

anak yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan cenderung tidak

mengalami picky eater karena anak sudah terpajan dengan berbagai

variasi rasa melalui ASI. Selain itu, anak-anak dapat membangun pola

interaksi ibu dan anak secara beragam selama anak menyusu kepada

ibunya daripada anak yang minum susu formula (Galloway et., al.,

2003).

Semakin lama seorang ibu menyusui bayinya maka semakin

rendah ibu-ibu memaksa makan pada saat anak berumur satu tahun.

Menyusui secara eksklusif dan tidak memaksakan anak makan dapat

mengurangi terjadinya picky eater pada anak (Taveras, 2004). Umur

saat pemberian makanan tambahan yang kurang tepat, terlalu dini atau

terlambat dapat berpengaruh terhadap kejadian picky eater pada anak

yang dihubungkan dengan keterampilan makan anak (Sunarjo, 2006

dalam Kusumawardhani, et al., 2013).

f. Keragaman asupan makanan

Anak usia prasekolah kerap menjadi sangat selektif terhadap

makanannya (Holden dan Mac Donald, 2000 dalam Saraswati, 2012).

Dalam menghadapi makanan baru, anak cenderung menghadapinya

dengan campuran antara rasa penasaran (neofilia) dan kewaspadaan

(neofobia) (Cooke, 2007).

Hipotesis mengenai paparan berulang (mere exposure) yang

dikemukakan oleh Zajonc (1968) dalam Cooke (2007) menyatakan

bahwa dengan pengulangan paparan rasa dapat mengurangi neofobia


30

dan mengubah rasa tidak suka menjadi suka. Hipotesis tersebut

terbukti, salah satunya, melalui penelitian Carruth, et. al (2004).

Berdasarkan penelitian cross sectional yang dilakukan terhadap

3000-an anak usia 4-24 bulan, mayoritas pengasuh utama anak

mengenalkan makanan baru kepada anak mereka secara berulang.

Mereka umumnya menawarkan jenis makanan baru sebanyak 3-5 kali

sebelum memutuskan bahwa anak tidak menyukainya. Dikatakan oleh

Cooke (2007) bahwa anak suka apa yang mereka kenal dan makan apa

yang mereka suka.

Sebaliknya, perilaku picky eater juga dapat mempengaruhi variasi

asupan anak. Dalam penelitian Carruth, et al (1998), anak yang

mengalami picky eating mempunyai variasi dan diversitas makanan

yang lebih rendah jika dibandingkan dengan anak yang tidak

mengalami picky eating.

g. Pendidikan ibu

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting

dalam tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik

maka orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama

tentang cara pengurusan anak yang baik. Pendidikan formal maupun

informal diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan gizi ibu.

Pendidikan formal sangat diperlukan oleh ibu rumah tangga dalam

meningkatkan pengetahuan dalam upaya mengatur dan mengetahui

hubungan antara makanan dan kesehatan atau kebutuhan tubuh

termasuk kebutuhan zat gizi bagi anggota keluarganya.


31

Pendidikan dapat dikaitkan dengan pengetahuan, berpengaruh

terhadap pemilihan bahan makanan dan pemenuhan kebutuhan gizi.

Seorang yang berpendidikan rendah biasanya akan berprinsip yang

penting mengenyangkan, sehingga porsi bahan makanan sumber

karbohidrat lebih banyak dibandingkan dengan kelompok bahan

makanan lainnya. Sebaliknya kelompok orang dengan pendidikan

tinggi memiliki kecenderungan memilih bahan makanan sumber

protein dan akan berusaha menyeimbangkan dengan kebutuhan gizi

lain. Seorang ibu dengan pendidikan yang tinggi akan dapat

merencanakan menu makanan yang sehat, bergizi dan bervariasi bagi

dirinya dan keluarganya sehingga dapat terhindar dari rasa bosan dan

dapat mengurangi perilaku terlalu memilih-milih makanan pada anak.

Diketahui ibu dari anak picky eater ditemukan mempunyai pendidikan

yang rendah (Adriani dan Wirjatmadi, 2012; Chatoor, 2009).

h. Tingkat pendapatan keluarga

Tingkat pendapatan keluarga cukup dominan dalam mempengaruhi

konsumsi pangan. Meningkatnya pendapatan akan meningkatkan

peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang

lebih baik, sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan

menurunnya daya beli pangan baik secara kualitas maupun kuantitas.

Tidak dapat dipungkiri dalam kenyataan, motif ekonomi berperan

dalam menentukan perilaku individu. Terpenuhinya kebutuhan

ekonomi seseorang atau keluarga akan mempengaruhi pengembangan

potensinya, oleh karena itu kebutuhan fisiologis menempati posisi


32

pertama dalam memandang aktualisasi perilaku manusia

(Sulistyoningsih, 2012; Dariyo, 2007 dalam Priyanti, 2013).

Tingkat penghasilan juga ikut menentukan jenis pangan yang akan

dibeli dengan adanya tambahan penghasilan. Jadi penghasilan

merupakan faktor penting bagi kuantitas dan kualitas makanan. Antara

penghasilan dan gizi jelas ada hubungan yang menguntungkan

(Adriani dan Wirjatmadi, 2012). Pendapatan yang tinggi diimbangi

pengetahuan gizi yang cukup akan menyebabkan seseorang menjadi

sangat konsumtif dalam pola makannya sehari-hari, sehingga

pemilihan suatu bahan makanan lebih didasarkan kepada

pertimbangan selera dibandingkan aspek gizi (Sulistyoningsih, 2012).

Penghasilan keluarga dapat mempengaruhi perencanaan menu

makanan yang sehat, bergizi dan bervariasi sehingga dapat terhindar

dari rasa bosan dan dapat mengurangi perilaku terlalu memilih-milih

makanan pada anak. Ditemukan bahwa ibu yang anaknya picky eating

mempunyai pendapatan keluarga yang rendah (Chatoor, 2009).

i. Pengasuh anak

Pengasuh anak merupakan termasuk pada siapa dan bagaimana

pengasuhan dilakukan. Orang yang paling banyak mengasuh anak

adalah orang yang paling sering berhubungan dengan anak dengan

maksud mendidik dan membesarkan anak termasuk dalam hal makan.

Hal ini menyangkut kualitas hubungan antara pengasuh dan anak,

disamping itu pengasuh anak harus tetap dan berhubungan dengan

anak secara berkesinambungan. Ketika anak makan dan rewel, lalu


33

orang tua/pengasuh merespon dengan tidak sabar dan memaksa anak

makan maka anak akan menganggap peristiwa makan menjadi hal

yang tidak menyenangkan dan nafsu makan anak pun menjadi

menurun. Akibatnya, anak pun jadi susah makan. Dalam hal pola

asuh, orang tua yang tidak mengajari anak untuk mengonsumsi

makanan yang bervariasi atau hanya menyediakan makanan yang

tetap dapat membuat anak tidak belajar mengenal rasa dan jenis

makanan yang beragam. Akibatnya, anak menjadi pilih-pilih makanan

(picky eater) (Judarwanto, 2005).

6. Ciri-ciri Anak Picky Eating

Gangguan proses makan di mulut sering disertai gangguan

kesulitan makan. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau

atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi

makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara

fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa

paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara

baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala

kesulitan makan pada anak adalah

a. Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah

masuk di mulut anak.

b. Makan berlama-lama dan memainkan makanan.

c. Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau

menutup mulut rapat.


34

d. Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari

orang tua.

e. Tidak menyukai banyak variasi makanan atau suka pilih-pilih makan.

f. Tidak menyukai buah atau sayuran (Judarwanto, 2014).

7. Cara-cara Menghadapi Anak Picky Eating

Menurut IDAI (2015), berikut ini merupakan cara-cara untuk

menghadapi anak picky eating, yaitu:

a. Children see, children do. Kebiasaan makan orang tua akan sangat

berpengaruh terhadap kebiasaan anak. Jika orang tua tidak mau makan

sayur misalnya, wajar saja jika anak pun meniru enggan makan sayur.

Selalu sajikan menu makanan yang berimbang setiap harinya.

b. Sajikan makanan dalam porsi kecil.

c. Biasanya, jika anak disuruh memakan sesuatu, mereka akan langsung

menolak. Sebaliknya, jika anak yang memegang kendali, mereka

cenderung lebih tertarik. Sebaiknya sajikan makanan di meja yang

terjangkau.

d. Jika ingin memberikan makanan baru, jangan langsung menyerah jika

anak langsung menolak. Paparkan makanan baru tadi pada anak

sebanyak 10-15 kali.

e. Berikan contoh makan yang menyenangkan. Jika anak melihat orang

lain makan makanan serupa, anak akan lebih tertarik mencoba.

f. Orangtua harus tetap tenang. Jangan panik atau marah-marah saat

anak menolak makanan tertentu.


35

D. Hubungan ASI Eksklusif dengan Picky Eating

Menurut literatur yang berkembang, pengalaman makan awal dapat

memiliki dampak penting pada penerimaan makanan dan rasa pada kemudian

hari, dimana ini merupakan salah satu penentu utama dari konsumsi makanan

pada anak-anak. Di antara pengalaman awal makan adalah pemberian susu

(susu formula atau ASI) yang merupakan pengenalan rasa pertama pada anak

(Schwartz et al., 2013 dalam Arifah, 2014). Saat ini, manfaat dari pemberian

ASI khususnya pada awal imunitas bayi telah menjadi jelas dan diakui

internasional melalui kebijakan gizi yang merekomendasikan untuk menyusui

secara eksklusif sampai usia 6 bulan. Di luar manfaat ASI untuk

metabolisme, ASI memberi dampak sensoris yang lebih baik pada anak.

Dibandingkan dengan paparan susu formula, paparan susu ibu dapat

mengakibatkan perbedaan sensorik dari segi aroma dan rasa. Mengenai

aroma, beberapa volatil senyawa dari makanan dicerna oleh ibu cenderung

untuk ditransmisikan ke dalam susunya.

Dengan demikian, ASI dapat menanggung komponen rasa yang

berbeda yang mungkin berdampak pada perilaku bayi pada saat mendapat

makanan pendamping ASI (sekitar 6 bulan) seperti yang telah ditunjukkan

dalam beberapa penelitian. Mengenai rasa, ASI mengandung beberapa

senyawa yang menanggung rasa, seperti laktosa (rasa manis), glutamat (rasa

umami), Na (rasa asin) dan urea (rasa pahit). Konsentrasi senyawa-senyawa

tersebut mungkin berbeda antara ASI dan susu formula. ASI mengandung

konsentrasi glutamat 14 kali lipat lebih tinggi, konsentrasi Na 2 - 4 kali lipat

lebih rendah dibanding susu formula. Konsentrasi glutamat yang tinggi ini
36

mungkin berhubungan dengan penerimaan rasa umami pada anak usia 6

bulan saat diberi makanan pendamping (Schwartz et al., 2013 dalam Arifah,

2014).

Pilihan dalam hal makanan atau food preference tidak hanya

ditentukan secara genetik saja, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman

makan seperti pengenalan makanan secara berulang-ulang, suasana makan,

lingkungan sosial dan keadaan psikologi. Tahun-tahun awal kehidupan anak

dikenal sebagai periode kritis untuk perkembangan pola makan anak (Shim et

al., 2011) Kesukaan seorang anak terhadap rasa makanan tertentu dimulai

sejak anak menyusu. Anak yang secara genetik sangat peka terhadap rasa,

juga akan peka terhadap tekstur, bahkan terhadap lingkungannya. Kesukaan

ini juga dapat dipengaruhi diet maternal selama laktasi. Pada bayi yang

menyusu dengan ibu yang suka makan sayuran, ketika diperkenalkan dengan

makanan pendamping ASI akan cenderung lebih mudah menerima rasa dari

sayuran. Dibandingkan dengan anak berusia 8 tahun, anak usia 2-4 tahun

akan lebih mudah menerima rasa baru (Chatoor, 2009).

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa anak Picky Eating diberi ASI

kurang dari 6 bulan. Perilaku Picky Eater dibentuk karena anak terlalu dini

mengenal makanan. Anak yang menyusu ASI cenderung tidak Picky karena

anak sudah dipajankan dengan variasi rasa melalui ASI. Selain itu, juga

membangun pola interaksi ibu-anak yang beragam selama menyusu daripada

anak yang meminum susu formula. Sudah diketahui bahwa menyusu ASI

mengurangi pengawasan ibu terhadap durasi dan jumlah asupan selama

menyusu dan anak yang mampu mengontrol asupannya akan mempunyai


37

asupan energi yang lebih besar saat Batita. Pemberian ASI pada anak

meningkatkan kesempatan anak untuk mempelajari rasa di dalam semua

makanan yang dikonsumsi oleh ibu dan kemungkinan memberikan

perlindungan berkembangannya Picky Eating pada anak (Shim et al., 2011).

E. Penelitian Terkait

Berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif, terdapat beberapa

penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Penelitian yang pernah

dilakukan oleh Ramadani dan Hadi (2010) dengan judul “dukungan suami

dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Air Tawar Kota

Padang, Sumatera Barat”, diperoleh hasil sebanyak 55,4% ibu memberikan

ASI eksklusif kepada bayinya karena 57% ibu mengatakan mendapat

dukungan dari suaminya. Ada hubungan antara dukungan suami dengan

pemberian ASI eksklusif dimana ibu yang mendapat dukungan dari suami

mempunyai kecenderungan untuk memberikan ASI secara eksklusif sebesar 2

kali dibanding ibu yang kurang mendapat dukungan dari suaminya setelah

dikontrol pekerjaan suami, dukungan petugas kesehatan, dan pekerjaan ibu.

Penelitian lain terkait dengan ASI eksklusif, yaitu berdasarkan

penelitian Giri, Suryani, dan Murdani (2013) dengan judul “hubungan

pengetahuan dan sikap ibu tentang pemberian ASI serta pemberian ASI

eksklusif dengan status gizi balita usia 6-24 bulan di kelurahan kampung

Kajanan Kecamatan Buleleng”, hasil penelitian tersebut yaitu pemberian ASI

berhubungan secara positif signifikan dengan status gizi balita usia 6-24

bulan, dimana ibu yang memberikan ASI Eksklusif kemungkinan memiliki


38

balita dengan status gizi di atas garis merah lebih besar dari pada ibu yang

tidak memberikan ASI eksklusif dan secara simultan semakin tinggi

pengetahuan dan sikap ibu serta adanya pemberian ASI eksklusif, maka status

gizibalitanya pun berada diatas garis merah.

Berdasarkan penelitian terkait ASI eksklusif yang dilakukan oleh

Yulianah, Bahar, Salam (2013) dengan judul “hubungan antara pengetahuan,

sikap dan kepercayaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja

puskesmas Bonto Cani Kabupaten Bone tahun 2013” dengan hasil

penelitiannya yaitu pemberian ASI Eksklusif oleh ibu-ibu yang berada di

wilayah kerja Puskesmas Bonto Cani Kabupaten Bone masih tergolong

sangat rendah (12,5%), tingkat pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif

sebagian besar berada dalam kategori kurang (64,4%), sikap ibu-bu terhadap

ASI Eksklusif sebagian besar masih negatif (71,2%).

Berkaitan dengan picky eating penelitian terkait yang dilakukan

sebelumnya, yaitu penelitian Nurjannah (2013) dengan judul “faktor-faktor

yang berhubungan dengan terjadinya picky eater (sulit makan) pada anak

balita di TK Negeri Pembina kecamatan Simpang Tiga kabupaten Pidie”,

hasil penelitian dari 50 responden anak yang mengalami gangguan proses

makan mayoritas berasal dari anak yang sulit makan (87,5%) dan sebaliknya

anak yang tidak mengalami gangguan proses makan mayoritas berasal dari

anak yang tidak sulit makan (94,1%). anak yang mengalami gangguan

psikologis mayoritas berasal dari anak yang sulit makan (60,0%) sebaliknya

anak yang tidak mengalami gangguan psikologis mayoritas berasal dari anak

yang tidak sulit makan (71,1%).


39

Penelitian yang dilakukan oleh Nafratilawati (2014) dengan judul

“hubungan antara pola asuh dengan kesulitan makan pada anak prasekolah

(3-5 tahun) di TK Leyangan kabupaten Semarang”, berdasarkan penelitian

yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa anak yang mendapat pola asuh

permisif yang mengalami kesulitan makan sejumlah 62,5%, karena biasanya

memberikan pengawasan yang sangat longgar, sedangkan anak yang

mendapat pola asuh otoriter yang mengalami kesulitan makan sejumlah

54,2% karena cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti.

Dengan demikian, pemberian ASI eksklusif yang kurang dapat

mempengaruhi asupan nutrisi anak dengan perilaku makan orang tua dan pola

asuh orang tua yang diberikan kepada anak.