Anda di halaman 1dari 18

A.

Konsep Dasar Penyakit


1. Anatomi fisiologi

Gambar Anatomi Tonsil

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin
Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang
terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal
(Ruiz JW, 2009).
a. Tonsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa
tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot
palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval
dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang
meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa
tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar.
Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:
1. Lateral – muskulus konstriktor faring superior
2. Anterior – muskulus palatoglosus
3. Posterior – muskulus palatofaringeus
4. Superior – palatum mole
5. Inferior – tonsil lingual (Wanri A, 2007)
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi
invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat
dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat
retikular dan jaringan limfatik difus. Limfonoduli merupakan bagian penting
mekanisme pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur
pembuluh limfatik. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan
pusat germinal (Anggraini D, 2001).
b. Fosa Tonsil
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot
palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau
dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior (Shnayder, Y, 2008).
Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar dinding faring
terdapat nervus ke IX yaitu nervus glosofaringeal (Wiatrak BJ, 2005).

2. Definisi
Tonsilektomi adalah operasi pengangkatan tonsil palatina baik unilateral maupun
bilateral. Tonsilektomi adalah mengeluarkan seluruh tonsil dengan pembedahan. (Kamus
Kedokteran, 2014).
Tonsilektomi adalah pengangkatan tonsil dan struktur adenoid, bagian jaringan
limfoid yang mengelilingi faring melalui pembedahan (Nettina, 2016)
General anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral
disertai hilangnya kesadaran (Latief, 2017).

3. Etiologi
Menurut Firman S (2016), penyebabnya adalah infeksi bakteri streptococcus
atau infeksi virus. Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme
lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri
maupun virus, sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis. Menurut
Mansjoer (2011) etiologi tonslitis adalah :

a) Streptokokus Beta Hemolitikus


Streptokokus beta hemolitikus adalah bakteri gram positif yang dapat berkembang
biak ditenggorokan yang sehat dan bisa menyebabkan infeksi saluran nafas akut.
b) Streptokokus Pyogenesis
Streptokokus pyogenesis adalah bakteri gram positif bentuk bundar yang tumbuh
dalam rantai panjang dan menyebabkan infeksi streptokokus group A. Streptokokus
Pyogenesis adalah penyebab banyak penyakit penting pada manusia berkisar dari
infeksi khasnya bermula ditenggorakan dan kulit.
c) Streptokokus Viridans
Streptokokus viridans adalah kelompok besar bakteri streptokokus komensal yang
baik a-hemolitik, menghasilkan warna hijau pekat agar darah. Viridans memiliki
kemampuan yang unik sintesis dekstran dari glukosa yang memungkinkan mereka
mematuhi agregat fibrin-platelet dikatup jantung yang rusak.
d) Virus Influenza
Virus influenza adalah virus RNA dari famili Orthomyxo viridae (virus
influenza). Virus ini ditularkan dengan medium udara melalui bersin pada manusia
gejala umum yang terjadi yaitu demam, sakit tenggorokan, sakit kepala, hidung
tersumbat. Dalam kasus yang buruk influenza juga dapat menyebabkan terjadinya
pneumonia.

4. Manisfestasi klinis
Tanda dan gejala tonsilofaringitis akut adalah :
a. Nyeri tenggorok dan nyei telan
b. Sulit menelan
c. Demam
d. Mual
e. Kelenjar limfa leher membengkak
f. Faring hiperemis
g. Edema faring
h. Pembesaran tonsil
i. Tonsil hyperemia
j. Otalgia ( sakit di telinga )
k. Malaise

5. Patofisiologi
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas
akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem
limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya
proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar
masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring
serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan
timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.

Invasi kuman patogen (bakteri / virus)

Penyebaran limfogen

Faring & tonsil

Proses inflamasi

Tonsilofaringitis akut Hipertermi

Edema faring & tonsil Tonsil & adenoid membesar


Skema

Nyeri telan Obstruksi pada tuba eustakii

Sulit makan & minum Kurangnya Infeksi sekunder


pendengaran

Resiko Otitis media


perubahanstatus
nutrisi < dari
kebutuhan tubuh

Gangguan persepsi sensori :


pendengaran
6. Anastesi General
Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit ketika
dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang menimbulkan rasa sakit, dalam
hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan untuk menciptakan kondisi optimal bagi
pelaksanaan pembedahan (Sabiston, 2011).
General anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara sentral
disertai hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan general anestesi terdapat beberapa
teknik yang dapat dilakukan adalah general anestesi denggan teknik intravena anestesi
dan general anestesi dengan inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan
teknik intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau gabungan keduanya inhalasi dan
intravena (Latief, 2007).
General anestesi menurut Mangku dan Senapathi (2010), dapat dilakukan
dengan 3 teknik, yaitu :
a. General Anestesi Intravena
Teknik general anestesi yang dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat anestesi
parenteral langsung ke dalam pembuluh darah vena
b. General Anestesi Inhalasi
Teknik general anestesi yang dilakukan dengan jalan memberikan kombinasi obat
anestesi inhalasi yang berupa gas dan atau cairan yang mudah menguap melalui alat
atau mesin anestesi langsung ke udara inspirasi.
c. Anestesi Imbang
Merupakan teknik anestesi dengan mempergunakan kombinasi obat-obatan baik obat
anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi atau kombinasi teknik general
anestesi dengan analgesia regional untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan
berimbang, yaitu :
1) Efek hipnosis, diperoleh dengan mempergunakan obat hipnotikum atau obat
anestesi umum yang lain.
2) Efek analgesia, diperoleh dengan mempergunakan obat analgetik opiat atau obat
general anestesi atau dengan cara analgesia regional.
3) Efek relaksasi, diperoleh dengan mempergunakan obat pelumpuh otot atau
general anestesi, atau dengan cara analgesia regional.

Obat-obat General Anestesi Pada tindakan general anestesi terdapat beberapa


teknik yang dapat dilakukan adalah general anestesi dengan teknik intravena anestesi
dan general anestesi dengan inhalasi, berikut obat-obat yang dapat digunakan pada
kedua teknik tersebut :

Obat-Obat General Anastesi Obat-Obat General Anastesi Inhalasi


Intravena
1. Atropine Sulfat 1. Nitrous Oxide
2. Pethidin 2. Halotan
3. Atrakurium 3. Enfluren
4. Ketamine HCL 4. Isofluran
5. Midazolam 5. Sevofluran
6. Fentanyl
7. Rokuronium bromide 8)Prostigmin
Sumber : Omoigui, 2009
7. Komplikasi
Tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan anestesi umum
maupun lokal, sehingga komplikasi yang ditimbulkannya merupakan gabungan
komplikasi tindakan bedah dan anestesi. Sekitar 1:15.000 pasien yang menjalani
tonsilektomi meninggal baik akibat perdarahan maupun komplikasi anestesi dalam 5-7
hari setelah operasi.
a. Komplikasi anestesi
b. Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang menjalani tonsilektomi
dan adenoidektomi (brookwood ent associates).Komplikasi ini terkait dengan
keadaan status kesehatan pasien. Adapun komplikasi yang dapat ditemukan berupa:

a) Laringospasme
b) Gelisah pasca operasi
c) Mual muntah
d) Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi
e) Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hippotensi dan henti jantung
c. Hipersensitif terhadap obat anestesi
d. Komplikasi bedah
1) Perdarahan Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1% dari jumlah kasus).
Perdarahan dapat terjadi selama operasi, segera sesudah operasi atau di rumah.
Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35.000 pasien. Sebanyak 1 dari 100
pasien kembali karena masalah perdarahan dan dalam jumlah yang sama
membutuhkan transfusi darah. Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama
dikenal sebagai early bleeding, perdarahan primer atau “reactionary haemorrage”
dengan kemungkinan penyebabnya adalah hemostasis yang tidak adekuat selama
operasi. Umumnya terjadi dalam 8 jam pertama. Perdarahan primer ini sangat
berbahaya, karena terjadi sewaktu pasien masih dalam pengaruh anestesi dan
refleks batuk belum sempurna. Darah dapat menyumbat jalan napas sehingga
terjadi asfiksia. Perdarahan dapat menyebabkan keadaan hipovolemik bahkan
syok. Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam disebut dengan late/delayed bleeding
atau perdarahan sekunder. Umumnya terjadi pada hari ke 5-10 pascabedah.
Perdarahan sekunder ini jarang terjadi, hanya sekitar 1%. Penyebabnya belum
dapat diketahui secara pasti, bisa karena infeksi sekunder pada fosa tonsilar yang
menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan perdarahan dan trauma makanan
yang keras.
2) Nyeri pascaoperasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf
glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang
menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh
mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi. Nyeri tenggorok muncul pada
hampir semua pasien pascatonsilektomi. Penggunaan elektrokauter menimbulkan
nyeri lebih berat dibandingkan teknik “cold” diseksi dan teknik jerat. Nyeri
pascabedah bisa dikontrol dengan pemberian analgesik. Jika pasien mengalami
nyeri saat menelan, maka akan terdapat kesulitan dalam asupan oral yang
meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi. Bila hal ini tidak dapat ditangani di
rumah, perawatan di rumah sakit untuk pemberian cairan intravena dibutuhkan.

3) Komplikasi lain
Dehidrasi, demam, kesulitan bernapas, gangguan terhadap suara
(1:10.000), aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal,
stenosis faring, lesi di bibir, lidah, gigi dan pneumonia.

8. Penatalaksanaan
Metode Tonsilektomi yaitu :

a. Guillotine Tonsilektomi/Sluder.
Biasanya dilakukan pada jaringan tonsil yang diduga hubungannya dengan
jaringan sekitarnya masih longgar, misal pada anak. Dengan metode ini operasi lebih
cepat dan jaringan tonsil dapat diangkat seluruhnya dengan menimbulkan manipulasi
yang tidak begitu banyak. Perdarahan yang terjadi lebih sedikit dibanding dengan
metode Diseksi.
b. Diseksi Tonsilektomi
Pada Diseksi jaringan tonsil dipisahkan dari daerah sekitarnya satu per satu.
Tonsilektomi secara Diseksi ini umumnya dilakukan pada penderita dengan dugaan
jaringan tonsil sudah mengadakan perlengketan dengan jaringan sekitarnya sehingga
kalau dilaksanakan metode Guillotine, maka jaringan tonsil tidak akan dapat
diangkat sebersih mungkin.
c. Pengobatan yang diberikan setelah tonsilektomy.
1) Diberikan cairan IV selama 24 jam untuk menghindari dehidrasi.
2) Diberikan 1,5 mg Kodein Fosfat/Kg BB setiap 3 jam untuk mengatasi nyeri.
d. Perawatan pasca tonsilektomi
a. Baringkan pasien pada satu sisi tanpa bantal.
b. Ukur nadi dan tekanan darah secara teratur.
c. Awasi adanya gerakan menelan karena pasien mungkin menelan darah yang
terkumpul di faring dan.
d. Napas yang berbunyi menunjukkan adanya lendir atau darah di tenggorok. Bila
diduga ada perdarahan, periksa fosa tonsil. Bekuan darah di fosa tonsil diangkat,
karena tindakan ini dapat menyebabkan jaringan berkontraksi dan perdarahan
berhenti spontan. Bila perdarahan belum berhenti, dapat dilakukan penekanan
dengan tampon yang mengandung adrenalin 1:1000. Selanjutnya bila masih
gagal dapat dicoba dengan pemberian hemostatik topikal di fosa tonsil dan
hemostatik parenteral dapat diberikan. Bila dengan cara di atas perdarahan
belum berhasil dihentikan, pasien dibawa ke kamar operasi dan dilakukan
perawatan perdarahan seperti saat operasi.Mengenai hubungan perdarahan
primer dengan cara operasi, laporan di berbagai kepustakaan menunjukkan hasil
yang berbeda-beda, tetapi umumnya perdarahan primer lebih sering dijumpai
pada cara guillotine. Komplikasi yang berhubungan dengan tindakan anestesi
segera pasca bedah umumnya dikaitkan dengan perawatan terhadap jalan napas.
Lendir, bekuan darah atau kadang-kadang tampon yang tertinggal dapat
menyebabkan asfiksi.

2. Konsep Keperawatan
A. Pengkajian
Pengakajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan
utnuk mengumpulkan data atau informasi tentang klien, agar dapat mengidentifikasi,
mengenai masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien baik fisik,
mental, sosial dan lingkungan (Nasrul Effendi, 2015).
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, agama, pekerjaan, tanggal MRS,
diagnosa medis dan nomor register.
2. Riwayat Keperawatan
a. Alasan dirawat
b. Keluhan Utama
sakit tenggorokan, nyeri telan, demam dll
c. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien, hal yang dilakukan untuk mengurangi keluhan.
Daerah yang terserang baik atas atau bawah sehingga klien pergi kerumah
sakit serta hal atau tindakan yang dilakukan saat klien dirumah sakit.
Serangan, karakteristik, insiden, perkembangan, efek terapi dll

d. Riwayat kesehatan lalu


Masalah-masalah yang pernah dialami oleh klien sebelum mrs, penyakit-
penyakit yang sebelumnya perna diderita klien sehingga klien dapat mrs.
1. Riwayat kelahiran
2. Riwayat imunisasi
3. Penyakit yang pernah diderita ( faringitis berulang, ispa, otitis media)
4. Riwayat hospitalisasi
e. Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh keluarga baik penyakit
yang sama dengan klien, penyakit keturunan seperti diabetes meletus,
hipertensi maupun penyakit menular seperti hepatitis, tb paru.
3. Riwayat psikososial dan spiritual.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Pengkajian umum
Usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda – tanda vital dll
b. Pernafasan
1. Kesulitan bernafas, batuk
2. Ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :
a) T0 : bila sudah dioperasi
b) T1 : ukuran yang normal ada
c) T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
d) T3 : pembesaran mencapai garis tengah
e) T4 : pembesaran melewati garis tengah
c. Nutrisi
Sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan
minum, turgor kurang
d. Aktifitas / istirahat
Anak tampak lemah, letargi, iritabel, malaise
e. Keamanan / kenyamanan
Kecemasan anak terhadap hospitalisasi
5. Pemeriksaan Penunjang
B. Diagnose kepeawatan

1. Hipertermia berhubungan dengan penyakit.


2. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mekanis,
inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri.
3. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan
melalui rute normal (diare), abnormal (perdarahan).
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis, fisik, proses inflamasi dan
insisi pembedahan.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena
faktor biologi.

C. Intevensi dan rasional


1. Hipertermia berhubungan dengan penyakit.
Tujuan: Hipertermia teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24
jam dengan kriteria hasil:
a. C/axilaSuhu: 36-37
b. Pernapasan 12-21x/mnt
c. Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
d. Nadi 60-100x/mnt
Intervensi:
a. Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi
R/mengetahui keadaan klien
b. Anjurkan untuk banyak minum ± 2 L/hari
R/memenuhi kebutuhan cairan
c. Anjurkan untuk cukup istirahat
R/mempercepat pemulihan kondisi
d. Anjurkan untuk menggunakan pakaian yang tipis
R/ mengurangi rasa panas
e. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
R/mencukupi kebutuhan pasien
f. Beri kompres hangat
R/vasodilatasi pembuluh darah
g. Kolaborasi/lanjutkan pemberian therapi antipiretik; nama, dosis, waktu,
cara, indikasi
R/mempercepat penyembuhan

2. Bersihan jalan nafas tidak efektif


berhubungan dengan obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri.
Tujuan : pasien dapat mempertahankan jalan nafas yang paten. Dengan kriteria
hasil:
 Pasien tidak mengeluh sesak, Pernapasan 12-21x/mnt,
Intervensi :
a. Posisikan anak pada kesejajaran tubuh yang tetap.
R/untuk memungkinkan ekspansi paru yang lebih baik dan perbaikan
pertukaran gas.
b. Hisap sekresi jalan nafas sesuai kebutuhan.
R/pengisapan sekresi dapat melonggarkan jalan nafas.
c. Bantu anak dalam mengeluarkan sputum.
Beberapa anak belum bisa mengeluarkan sputum sendiri.
d. Beri ekspektoran sesuai dengan kebutuhan.
R/ekspektoran dapat membantu mengencerkan dahak.

3. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan


volume cairan melalui rute normal (diare), abnormal (perdarahan).
Tujuan: Resiko defisit volume cairan teratasi setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil:
 BB dalam batas normal
 Tekanan darah 120-129/80-84mmHg
 Nadi 60-100x/mnt
 C/axilaSuhu: 36-37
 Finger print <3 detik BAK 3-5x/hari Tidak ada perdarahan,
Intevensi:
a. Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi
R/mengetahui keadaan pasien
b. Anjurkan untuk banyak minum ± 2 L/hari
R/memenuhi kebutuhan cairan
c. Hitung balance cairan
R/mengetahui klebihan dan kekurang cairan
d. Anjurkan untuk bed rest
R/mempercepat pemulihan kondisi
e. Kolaborasi/lanjutkan pemberian terapi elektrolit; nama, dosis, waktu, cara,
indikasi
R/mempercepat penyembuhan
f. Kolaborasi/lanjutkan program therapi transfusi
R/mempercepat pemulihan kesehatan pasien

4. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis, fisik, proses


inflamasi dan insisi pembedahan.
Tujuan: Nyeri akut teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
1x24jam dengan kriteria hasil:
 Pasien tidak mengeluh nyeri, Tekanan darah 120-129/80-84mmHg, Nadi 60-
100x/mnt,
Intervensi:
a. Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi
R/mengetahui kondisi pasien
b. Monitor derajat dan kualitas nyeri (PQRST)?
R/mengetahui rasa nyeri yang dirasakan
c. Ajarkan teknik distraksi/relaksasi/napas dalam
R/mengurangi rasa nyeri
d. Beri posisi nyaman
R/untuk mengurangi rasa nyeri
e. Beri posisi semifowler
R/memenuhi kebutuhan oksigen.
f. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
R/memenuhi kebutuhan pasien
g. Anjurkan untuk cukup istirahat
R/mempercepat proses penyembuhan
h. Kolaborasi/lanjutkan pemberian analgetik; nama, dosis, waktu, cara,
indikasi
R/mengurangi rasa nyeri

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


ketidakmampuan dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena
faktor biologi.
Tujuan: Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi setalah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam dengan kriteria hasil:
o Pasien tidak mengeluh lemas, Makan habis 1 porsi, Pasien tidak mual, Pasien
tidak muntah, Berat badan normal/ideal, Konjungtiva merah muda, Rambut
tidak rontok.
Intervensi:
a. Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi
R/mengetahui keadaan pasien
b. Timbang berat badan
R/mengetahui perubahan berat badan pasien
c. Monitor adanya mual dan muntah
R/mengetahui keadaan pasien
d. Monitor tonus otot, rambut merah dan mudah patah
R/mengetahui status kesehatan pasien
e. Monitor intake makanan/minuman
R/mengetahui nutrisi yang dikonsumsi pasien
f. Anjurkan untuk cukup istirahat
R/mempercepat pemulihan kondisi
g. Anjurkan makan sedikit dan sering
R/supaya tidak mual dan tidak muntah
h. Anjurkan pasien untuk meningkatkan makanan yang mengandung zat
besi, Vitamin B12, tinggi protein, dan Vitamin C
R/mempercepat pemulihan kondisi pasien
i. Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat; nama, dosis, waktu, cara, indikasi
R/mempercepat penyembuha
\

DAFTAR PUSTAKA

Boies, Lawrence R., et al. BOIES : Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC ; 2011

NANDA NIC-NOC Intenasional, Definisi Dan Klasifikasi 2017-2018. Jakata EGC

Mansjoer, Arif. 2014.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Media Aeus Calpius

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa
Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2014.
LAPORAN PENDAHULUAN
TONSILECTOMY DENGAN GENERAL ANASTESI
Oleh :

BELTZA RELIA, S. Kep

113063J118006

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SUAKA INSAN

BANJARMASIN

2019