Anda di halaman 1dari 18

TAKE HOME EXAM

STRATEGI OPTIMALISASI KOMUNIKASI PADA PELAYANAN


KEPERAWATAN DI KOMUNITAS PADA KONTEKS VARIASI
BUDAYA

Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memenuhi Proses Penilaian

Salah Satu Mata Ajar “Keperawatan Kultural”

Dosen: Diyan Indriyani, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat

Disusun Oleh:

Bayu Viqi Darmawan

NIM: 1611011042

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu
menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Kultural.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Sosial dan Budaya Dalam
mengoptimalkan Komunikasi Keperawatan khususnya di pelayanan masyarakat dari berbagai
Budaya, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi, referensi. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu
yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing kami meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah di masa yang akan datang dan
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Jember, Desember 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang
selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu tidak
dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan manusia lainnya.
Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan manusia dengan
kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok inilah yang disebut sebagai
interàksi sosial. Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan
yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor
Wilbur Schramm menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata
kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi
tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia
tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi (Schramm; 1982).
Apa yang mendorong manusia sehingga ingin berkomunikasi dengan manusia
lainnya. Teori dasar Biologi menyebut adanya dua kebutuhan, yakni kebutuhan untük
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya. Harold D. Lasswell salah seorang peletak dasar ilmu
komunikasi lewat ilmupolitik menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab,
mengapa manusia perlu berkomunikasi :
Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui
komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang ada untuk
dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam
sekitamya. Melalui komunikasi manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau
peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia dapat mengembangkan
pengetahuannya, yakni belajar dan pengalamannya, maupun melalui informasi yang
mereka terima dari lingkungan sekitarnya.
Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya.
Proses kelanjutan suatu masyarakat Sesungguhnya tergantung bagaimana masyarakat
itu bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian di sini bukan saja terletak
pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap gejala alam seperti banjir,
gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku manusia, tetapi juga
lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam tantangan. Dalam lingkungan
seperti ini diperlukan penyesuaian, agar manusia dapat hidup dalam suasana yang
harmonis. Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi.
Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota
masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan.
Misalnya bagaimana orang tua mengajarkan tatakrama bermasyarakat yang baik
kepada anak-anaknya. Bagaimana sekolah difungsikan untuk mendidik warga negara
Bagaimana media massa menyalurkan hati nurani khalayaknya, dan bagaimana
pemerintah dengan kebijaksanaan yang dibuatnya untuk mengayomi kepentingan
anggota masyarakat yang dilayaninya.
Ketiga fungsi tersebut menjadi patokan dasar bagi setiap individu dalam
berhubungan dengan sesama anggota masyarakat. Profesor David K. Berlo
dari Michigan State Universitymenyebut secara ringkas bahwa komunikasi sebagai
instrumen dan interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi sikap
orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam menciptakan
keseimbangan dengan masyarakat (Byrnes, 1965). Jadi komunikasi jelas tidak dapat
dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai
anggota masyarakat. Ia diperlukan untuk mengatur tata krama pergaulan
antar manusia, sebab berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh langsung
pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat, apakah ia seorang
dokter, dosen, manajer, pedagang, pramugari, pemuka agama, penyuluh lapangan,
pramuniaga dan lain sebagainya. Pendek kata, sekarang ini keberhasilan dan
kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan termasuk karir
mereka, banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.
Komunikasi massa adalah proses penyampaian informasi kepada khalayak
massa dengan media massa. Media massa hanyalah salah satu faktor yang
membentuk proses komunikasi massa tersebut, yaitu sebagai alat atau saluran..
Iklan merupakan berita pesanan untuk mendorong, membujuk orang agar
tertarik pada barang yang ditawarkan. Secara garis besar iklan dibagi menjadi dua,
yang pertama iklan komersil yaitu iklan yang bertujuan untuk meningkatkan
pemasaran suatu produk dan jasa. Yang kedua iklan non komersil yaitu bagian dari
kampanye sosial dengan tujuan mengajak, menghimbau atau menyampaikan gagasan
demi kepentingan umum. Iklan non nkomersil lebih dikenal dengan iklan layanan
masyarakat.
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................ i

Kata Pengantar ................................................................................................. ii

Daftar Isi ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Peranan proses komunikasi antar budaya ..................................... 3
B. Fungsi komunikasi dalam situasi perbedaan budaya .................... 3
C. Desain optimalisasi strategi komunikasi .......................................
D. Prinsip-prinsip dalam Komunikasi dalam budaya ........................ 3
E. Komunikasi antar budaya dan sosialisasi...................................... 4
F. Komunikasi dalam konteks budaya .............................................. 5
G. Media penerapan komunikasi kultural .......................................... 6
H. Faktor budaya dalam pelayanan .................................................... 7
BAB III STUDI KASUS
A. Kasus 1(unit perspekstif transcultural) ......................................... 8
BAB IV PEMBAHASAN KASUS
A. Pembahasan kasus 1 ....................................................................... 9
BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan ................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 10
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana peranan proses komunikasi antar budaya?
2. Bagaimana fungsi komunikasi dalam situasi perbedaan budaya?
3. Apa saja yang meliputi desain strategi komunikasi?
4. Bagaimana Komunikasi antar budaya dan sosialisasi?
5. Bagaimana komunikasi dalam konteks budaya?
6. Bagaimana pentingnya faktor budaya dalam komunikasi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui peranan proses komunikasi antar budaya.
2. Untuk mengetahui fungsi komunikasi dalam situasi perbedaan budaya.
3. Untuk mengetahui desain strategi komunikasi.
4. Untuk mengetahui komunikasi antar budaya dan sosialisasi.
5. Untuk mengetahui komunikasi dalam konteks budaya.
6. Untuk mengetahui pentingnya faktor budaya dalam komunikasi.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Peranan proses komunikasi antar budaya


Bahasa bisa diberikan dalam bentuk verbal dan nonverbal, sebagai pesan yang
digunakan oleh manusia untuk mengadakan kontak dengan realitas lingkungannya,
mempunyai persamaan dalam hal berikut :
a. Menggunakan system lambang atau simbol
b. Merupakan sesuatu yang dihasilkan oleh individu manusia
c. Orang lain juga memberikan arti pada simbol yang dihasilkan.
Istilah "Bahasa menunjukkan bangsa" artinya bahasa dapat menjadi ciri atau
identitas suatu bangsa.Berbicara identitas berarti berbicara harga diri atau
kebanggaan. Dengan memahami bahasa orang lain berarti berusaha menghargai orang
lain. Tetapi memahami bahasa di sini tidak berarti harus memahami semua bahasa
yang dipakai oleh mitra bicara kita.
Tanda dan simbol merupakan alat dan materi yang digunakan dalam
interaksi. Kemampuan manusia untuk menggunakan simbol-simbol menjadikannya
sebagai makhluk yang unik, yang membedakannya dari makhluk hidup
lainnya. Tetapi kemampuan unik dan proses melakukan simbolisasi yang
sesungguhnya rumit biasanya dianggap enteng saja oleh manusia itu sendiri, kecuali
ketika mereka menghadapi masa sulitnya memperoleh kata yang tepat untuk
menggambarkan sesuatu.
Bahasa terdiri dari symbol-simbol (kata-kata) dan aturan-aturan
penggunaannya, yang memiliki karakteristik unik dari manusia, yakni kecakapan dan
kemampuannya dalam menggunakan suara dan tanda sebagai pengganti dari benda
dan perasaan. Kemampuan ini mencakup hal penerimaan, penyimpanan, pengolahan
dan menyebarkan symbol-simbol.Lambang-lambang komunikasi bisa berupa suara,
bahasa, gerak, gambar, dan warna.
Dalam pengertian yang paling mendasar, bahasa adalah suatu system symbol
yang telah diatur, disepakati bersama dan dipelajari, yang digunakan untuk mewakili
pengalaman-pengalaman dalam komunitas geografik atau cultural tertentu.
Kebudayaan mengajarkan pada manusia untuk member nama pada benda-
benda, orang-orang, gagasan-gagasan berdasarkan segi praktisnya, kegunaannya dan
pentingnya agar bisa dipahami.
Secara verbal, yakni secara vocal bahasa memiliki peranan dan fungsi yang
sangat penting dalam pembentukan kebudayaan. Komunikasi nonverbal memainkan
peranan penting pula dalam kehidupan manusia, walaupun hal ini seringkali tidak
disadari. Baik secara sadar maupun tidak sadar, dengan maksud maupun tidak dengan
maksud tertentu, kita mengirimkan dan menerima pesan nonverbal, bahkan kita
membuat penilaian dan keputusan berdasarkan data nonverbal tersebut. Pesan atau
perilaku yang nonverbal ini menyatakan pada kita tentang menginterpretasikan pesan-
pesan lain yang terkandung didalamnya. Misalnyaapa orang yang menyatakan pesan
itu serius, bercanda, mengancam dan lain-lain.
Komunikasi nonverbal sama dengan komunikasi tanpa kata-kata, bisa terjadi
jika individu berkomunikasi tanpa menggunakan suara, bisa pula dengan adanya
ekspresi wajah, sentuhan, waktu, gerak, syarat, bau, perilaku dan lain-lainnya.
Jelasnya bahwa komunikasi nonverbal merupakan proses yang dijalani oleh seorang
individu atau lebih pada saat menyampaikan isyarat nonverbal yang memiliki potensi
untuk merangsang makna dalam pikiran individu atau individu lain.
Sedangkan peran perawat transkultural dalam menerapkan komunikasi perlu
dijadikan hal yang utama sebagai jembatan antara sistem perawat yang dilakukan oleh
masyarakat awam dengan perawatan profesional melalui pelayanan keperawatan.
Keperawatan lintas budaya merupakan bidang studi dan praktik formal yang berfokus
pada analisis komparatif budaya dan sub budaya di dunia dalam kaitanya dengan
keperawatan kultural, kepercayaan tentang kesehatan dan penyakit, nilai-nilai dan
praktik yang bertujuan untuk menggunakan pengetahuan ini dalam memberikan
pelayanan keperawatan sesuai budaya tertentu atau sesuai budaya universal kepada
semua orang. Keperawatan lintas budaya memberikan kerangka budaya kerja untuk
memenuhi kebutuhan keperawatan kesehatan dari kelompok dengan latar budaya
beraneka ragam.

Dalam melakukan pencapaian keperawatan ada 6 fenomena kultural yang


dipertimbangkan, yaitu :

1. Komunikasi : verbal, non verbal bahasa utama


2. Ruang pribadi : tindakan lebih menonjol dari kata-kata
3. Organisasi sosial : Prilaku didapat, ciri khas budaya, nilai-nilai berorientasi
internal, kepercayaan keagamaan, pembuatan keputusan dalam keluarga.
4. Waktu : cara mengkaji waktu, konsep waktu
5. Lingkungan : mengevaluasi sistem kesehatan, lokus kontrol
6. Variasi biologis : struktur tubuh, genetik, atribut fisik, karakteristik psikologis

B. Komunikasi antar budaya dalam situasi perbedaan budaya


Dalam komunikasi antarpribadi, yang dimaksudkan adalah dua atau lebih
orang terlibat dalam komunikasi. Apabila ditambah dimensi perbedaan kebudayaan
kedalamnya, maka merupakan komunikasi antarpribadi dengan factor-faktor
kebudayaan yang mempengaruhinya.
Komunikasi antar pribadi sangat erat dengan persepsi mengenai oranglain dan
akibat dari persepsi tersebut, merupakan sifat hubungan yang terbentuk. Misalnya kita
mempersiapkan orang lain memiliki nilai-nilai yang sama dengan diri sendiri maka
kita akan lebih tertarik padanya. Atau kita mendapatkan bahwa seseorang selain
bersifat ramah, juga luas pengetahuannya mengenai sesuatu topic yang kita senangi,
maka komunikasi antarpribadi meningkat dan terus berkembang berdasarkan persepsi
tadi.
Homofili sebagaimana diuraikan pada landasan teori, yakni derajat kesamaan
antara individu-individu yang terlibat dalam interaksi antarpribadi.Seringkali kita
mendapatkan bahwa kita lebih percaya pada orang-orang yang sudah kita kenal dari
pada orang yang masih asing. Kadang-kadang sesudah berkenalan dengan seseorang,
kita merasakan telah menemukan kecocokan dengannya. Salah satu hal yang dapat
menjelaskan keadaan ini adalah persepsi akan identifikasi, yakni dirasakan terdapat
semacam hubungan karena adanya kesamaan, baik dari segi penampilan, unsur,
pendidikan, etnis, tempat tinggal atau wilayah geografis, pandangan politik dan
sebagainya.
Kredibilitas, yakni percaya tidaknya seseorang kepada orang lain tergantung
pada beberapa factor yang mempengaruhi kreativitas komunikasi, seperti :
a. Kompetensi
Maksudnya adalah kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu yang dipersepsikan
dengan orang lain.
b. Karakter
Maksudnya adalah persepsi tentang moral, nilai-nilai, etika dan integritas dari
komunikasi
c. Ko-orientasi
Maksudnya adalah derajat kesamaan yang dipersepsikan mengenai tujuan-tujuan
dan nilai
d. Kharisma
Maksudnya adalah derajat tentang kepercayaan akan kualitas-kualitas
kepemimpinan khusus yang dipersepsikan, terutama dalam keadaan krisis dan
menentukan.
e. Dinamika
Maksudnya adalah derajat tentang entusiasme dan perilaku-perilaku nonverbal
yang dipersepsikan.
f. Jiwa sosial
Maksudnya adalah derajat tentang keramahan yang dipersepsikan.
Ketertarikan antar pribadi (interpersonal attraction), orang biasanya
mengembangkan, sikap positif terhadap orang-orang lain dari segi kehadirannya,
penghargaan terhadap kemampuannya dan kekaguman akanpenampilan. Dari segi
pandangan antarbudaya, factor penarikan tersebut dapat dilihat secara
tersendiri. Keindahan fisik, misalnya tidak saja ditentukan secara pribadi, tetapi juga
banyak oleh norma-norma budaya.
Hubungan di dalam kerja secara antarpribadi, banyak prinsip manajemen dan
prosedur kerja standar yang ternyata tidak dapat diterapkan dalam situasi antarbudaya,
sehingga diperlukan restrukturisasi organisasi dan perubahan gaya manajemen untuk
memenuhi kebutuhan kebudayaan.

C. Prinsip-prinsip dalam Komunikasi dalam budaya


Komunikasi berasal dari kata kerja “communicâre”, dalam bahasa Latin
yang berarti menjadikan lazim/umum, membagi, berpartisipasi (mengikutsertakan)
atau menanamkan, akan tetapi komunikasi melampaui definisi tersebut, dimana
komunikasi mencakup keseluruhan bidang interaksi dan tingkah laku manusia.
Semua tingkah laku, baik verbal mapun nonverbal yang ditampilkan oleh individu
disebut sebagai komunikasi. Komunikasi merupakan keterampilan dasar dalam
semua interaksi keperawatan. Dalam komunikasi terkandung sistem tingkah laku
yang terpola dan teratur yang memungkinkan terjadinya seluruh interaksi antara
perawat dan klien. Di dalamnya terdapat pertukaran pesan yang memiliki arti.
Komunikasi dan budaya sangat erat berhubungan. Komunikasi merupakan alat
bagaimana budaya ditransmisikan dan dipelihara atau dipertahankan.

Budaya mempengaruhi bagaimana perasaan diekspresikan serta ekspresi


verbal dan nonverbal apa yang tepat untuk digunakan. Contohnya, orang Amerika
lebih suka menutupi perasaannya dan secara umum jarang menggunakan bahasa
sentuhan, sebaliknya budaya ketimuran lebih terbuka dalam mengekspresikan
perkabungan / duka, kemarahan, atau kegembiraan serta lebih banyak menggunakan
sentuhan.

D. Desain strategi dalam mengoptimaslkan komunikasi


Strategi komunikasi, yang meliputi desain pilihan :
1. Komunikator kesehatan
2. Pesan-pesan kesehatan
3. Media kesehatan
4. Komunikan kesehatan (audiens sasaran komunikasi)
5. Meredupsi hambatan komunikasi
6. Menentukan atau memilih konteks komunikasi kesehatan dan lain-lain

E. Komunikasi antar budaya dan sosialisasi


Strategi dalam mengoptimalkan komunikasi antar budaya yang dilakukan, meliputi:
1. Melakukan negoisasi yang melibatkan masyarakat didalam pertemuan antar
budaya yang membahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang
sedang dipertentangkan. Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia
dapat berarti kedalam satu konteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau
diperjuangkan.
2. Melalui pertukaran sistem simbol yang tergantung dari persetujuan antar subyek
yang terlibat dalam komunikasi. Sebuah keputusan dibuat untuk berpartisipasi
dalam proses pemberian makna yang sama.
3. Sebagai pembimbing perilaku budaya yang tidak terprogram namun bermanfaat
karena mempunyai pengaruh terhadap perilaku kita.
4. Menunjukan fungsi sebuah kelompok sehingga kita dapat membedakan diri dari
kelompok lain dan mengidentifikasinya dengan berbagai cara.
F. Komunikasi dalam konteks setiap budaya
Pesan baik verbal maupun non verbal sebenarnya terikat dengan budaya. Jika
dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan yang
sama, maka ada kecenderungan pihak tersebut mempunyai bahan yang sama untuk di
komunikasikan.
Dalam keperawatan budaya mempengaruhi cara klien dan perawat melakukan
komunikasi satu sama lain dalam berbagai situasi. Perawat belajar mengetahui makna
budaya dalam komunikasi. Pengaruh budaya menetapkan batas bagaimana seseorang
bertindak dan berkomunikasi.

G. Media penerapan komunikasi kultural

Komunikasi dan budaya saling berkaitan erat. Melalui komunikasi, budaya


ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan pengetahuan tentang budaya
ditransmisikan dalam kelompok dan untuk orang-orang diluar kelompok. Berkomunikasi
dengan klien dari latar belakang etnis dan budaya sangat pentung untuk memberikan
perawatan yang kompeten secra budaya. Ada variasi budaya dalam komunikasi baik verbal
maupun nonverbal. Perbedaan budaya yang paling jelas adalah dalam komunikasi verbal :
kosa kata, struktur tata bahasa, kualitas suara, intonasi, ritme, kecepatan, pronaunsiasi dan
keheningan. Komunikasi verbal menjadi sulit ketika melibatkan interaksi orang-orang yang
berbeda bahasa.

Klien memungkinkan untuk berkomunikasi verbal dengan yang lain. Untuk klien dengan
bahasanya tidak sama dengan pelaku kesehatan, perantara mungkin diperlukan. Seorang
translator mengubah bahan tertulis (seperti pamphlet pendidikan pasien) dari satu bahasa ke
bahasa yang lain. Seorang penerjemah adalah seorang individu yang menengahi komunikasi
antara orang-orang yang beda bahasa tanpa menambah dan mengurangi arti atau pemaknaan.
Komunikasi nonverbal Untuk berkomunikasi secara efektif dengan klien yang berbeda
budaya. Perawat perlu menyadari 2 aspek dari perilaku nonverbal komunikasi:

1. Apa perilaku nonverbal yang berarti kepada klien.


2. Perilaku nonverbal dalam kebudayaan klien.
3. Nonverbal komunikasi dapat mencakup penggunaan keheningan, gerakan mata,
ekspresi wajah, postur tubuh.
4. Beberapa kebudayaan memerlukan keheningan dalam komunikasi. Memberikan
kesempatan untuk berbicara, atau memberikan privasi kepada orang lain. Beberapa
kebudayaan mengambarkan keheningan itu sebagai tanda hormat dan setuju.Ekspresi
wajah bisa berbeda-beda diantara kebudayaan. Giger and Davidhizar (1999)
mengatakan Italia, Yahudi, Afrika, Amerika, dan Spanyol lebih cepat tersenyum dan
menggunakan ekspresi wajah. Lebih tertutup dalam mengkomunikasikan perasaannya
khususnya kepada orang lain.

H. Pentingnya faktor budaya dalam penerapan komunikasi di pelayanan


Beberapa faktor yang menyebabkan pentingnya budaya dalam pelayanan :
1. Mobilitas
2. Saling kebergantungan ekonomi
3. Teknologi komunikasi
4. Pola imigrasi
5. Kesejahteraan politik
Desain sosisl dalam komunikasi kesehatan merupakan media penyebar luasan pesan-
pesan sosial kepada masyarakat dengan cara penyampaian yang berpedoman pada metode
periklanan komersial.
Desain budaya dalam komunikaspi kesehatan merupakan pengetahuan, norma, moral,
hukum, serta kemampuan-kemampuan yang meliputi kebiasaan oleh manusia sebagai
anggota masyarakat untuk berpola pikir, merasakan dan bertindak dalam pelayanan
kesehatan.
BAB III
STUDI KASUS

A. Kasus I (Unit Perspektif Transkultural)

Seorang pasien laki-laki berusia 56 tahun korban tabrak lari, masuk ke unit
perawatan sebuah rumah sakit. Pasien mengalami fraktur dekstra dan terpasang
traksi. Pasien juga mengalami perdarahan abdomen dan telah dilakukan tindakan
laparatomy eksplorasi. Pasien dalam status NPO ( nothing per oral). Dilihat dari
wajahnya, pasien adalah seorang keturunan India. Ia berteriak-teriak meminta
minum dalam bahasa Inggris.Perawat berusaha untuk menjelaskan bahwa saat ini
pasien tidak boleh minum. Pasien tidak dapat berbahasa Indonesia dengan baik
sementara di ruang perawatan tersebut tidak ada perawat yang lancar berbahasa
Inggris.

Bagaimana peran perawat bila dihadapkan pada situasi di atas ? Menunjukan


peranan Independent dari perawat dengan :

1. Mengenal budayanya (nilai, kepercayaan, prilaku, kebiasaan)


2. Mengenal etnik / suku /latar belakang dari pasien (bahasa)
3. Apa yang sebaiknya dilakukan perawat untuk membantu pasien ?
4. Yaitu perawat memulai melakukan pengkajian dengan melihat dari sisi
latar belakang budaya kultural yang di miliki oleh klien dan latar
belakang social juga ketrampilan bahasa yang dimilikinya.
5. Perawat harus bersikap terbuka dengan cara menerima pasien sesuai
dengan perbedaan budayanya
6. Memanggil dengan nama belakang klien / nama lengkap
7. Ciptakan hubungan saling percaya
8. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana , verbal & non verbal (isyarat
& tulisan)
9. Mencari bantuan dari orang terdekat pasien yang bisa dan mengerti
bahasa Indonesia
10. Mencarikan penerjemah, bila pasien masih tidak dapat mengerti & bila tidak
ada keluarga. Kriteria penerjemah sebaiknya sbb :
a. Jenis kelamin yang sama
b. Umurnya lebih dewasa
c. Mempunyai status social yang sama dengan klien
d. Yang mempunyai pemahaman tentang budaya India
e. Mengerti tentang kesehatan
BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

A. Penjelasan dari kasus


Dalam paparan kasus tersebut disini perawat membutuhkan suatu pengumpulan
data untuk mengetahui apa yang menjadi pokok masalah yang dialami oleh pasien
tersebut salah satunya focus pada penyakit. Tindakan keperawatan yang akan
diberikan pasien ini memiliki 3 kriteria konsep, meliputi:
1. Culture care preservation : prinsip yang membantu serta memfasilitasi dan melihat
fenomena budaya yang bertujuan sebagai penetu dalam meningkatkan derajat
kesehatan dan hgaya hidup yang diinginkan. Contohnya memberitahukan bahwa
ia tidak boleh minum dengan bahasa verbal serta non verbal seharusnya berupa
gambar, tulisan tangan atau bisa isyarat.
2. Culture care accommodation : prinsip membantu serta merefleksikan cara cara
untuk beradaptsi lalu mengadakan negosiasi dan mempertimbangkan kondisi
kesehatan dan gaya hidup individu atau klien contohnya meletakkan peralatan
yang dibuthkan klien seperti tisu, pulpen dan kertas.
3. Culture care repattening : prinsip merekonturksikan dan mengubah desain dalam
membantu memperbaiki kondisi kesehatan serta pola hidup daerah yang lebih
baik. Contohnya klien di anjurkan bedrest total selama masa perawatan di rumah
sakit dikarenakan ada traksi dan post operasi laparotomy eksplorasi.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi kesehatan merupakan suatu proses penyampaian pesan kesehatan
oleh komunikator melalui saluran/media tertentu pada komunikan dengan tujuan yang
mengarah pada keadaan sehat, baik secara fisik, mental maupun sosial. Komunikasi
itu sendiri adalah pertukaran pesan verbal maupun nonverbal antara si pengirim
dengan si penerima pesan, sedangkan kesehatan memiliki pengertian keadaan (status)
sehat, baik secara fisik, mental maupun sosial. Komunikasi juga melibatkan
keterampilan yang sangat penting dalam kehudupan manusia. Model komunikasi
merupakan suatu deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya
komunikasi.
Sedangkan sosial hanyalah sebagai salah satu cara modern untuk
berkomunikasi. Dalam komunikasi antarpribadi, yang dimaksudkan adalah dua atau
lebih orang terlibat dalam komunikasi. Apabila ditambah dimensi perbedaan
kebudayaan kedalamnya, maka merupakan komunikasi antarpribadi dengan factor-
faktor kebudayaan yang mempengaruhinya.
DAFTAR PUSTAKA

Alo, Lilliweri.2008.Dasar – Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Arni, Dr. Muhammad.2002. Komunikasi Organisasi. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Anonymous.2008. Transparansi KomunikasiKesehatan.http://sbektiistiyanto.com/2008/02/tr


ansparansi-komkes.ppt

Jufri, Andry.2013.Makalah Komunikasi Kesehatan. http://andryjufri.com/2013/01/makalah-


komunikasikesehatan.html

Maulana, Arif. 2012. Pengembangan Komunikasi Kesehatan Perlu Ditingkatkan.


http://www.unpad.ac.id/2012/10/pengembangan-komunikasi-kesehatanperluditingkatkan/

Rullyana, Gema.2012.Kenapa Manusia Berkomunikasi?.


http://gemarullyana.com/2012/11/normal-false.html