Anda di halaman 1dari 6

Kasus Sewa Menyewa Tanah Wayan Wakil

Transaksi Pakai Akta Palsu, Notaris


Widastri dan AA Ngurah Agung
Ditetapkan Tersangka
Oleh : Baliberkarya.com | 24 September 2018 | Dibaca : 15285 Pengunjung

sumber foto :Baliberkarya

Baliberkarya.com-Denpasar. Kasus gugatan perdata yang


dilakukan oleh Notaris Ni Wayan Widastri dalam gugatannya Reg
Perkara: 943/PDT.G/2017/PN.DPS kepada tergugat yang bernama I
Wayan Wakil dimana di dalam gugatannya tersebut yang
bersangkutan menggunakan akta No 03 tertanggal 2 November 2007
yang dibuat di kantor Notaris Ir. I Wayan Adnyana Jalan Tukad
Pakerisan No. 62 Denpasar yang isinya adalah sewa menyewa tanah
tersebut selama 30 tahun makin terang benderang.

Dimana nilai kontrak sewa atas tanah tersebut adalah sebesar Rp 5,5
miliar. Namun keesokan harinya dibuat lagi oleh notaris akta 03 sewa
menyewa ditambah lagi 20 tahun, jadi total sewa menyewa tersebut
selama 50 tahun dengan disitu tertulis angka sekitar Rp 4 miliar lebih.
Dimana akta ini dibuat di notaris dan calon DPD RI bernama Ir. Wayan
Adnyana yang sekarang kantornya telah berpindah di Jalan Pulau
Flores, Denpasar.

Melihat fakta dan bukti adanya gugatan dari PN Denpasar oleh Ni


Wayan Widastri serta pertimbangan dokumen asli yang dimiliki
Wayan Wakil awal ikhwal daripada tanah ini baik juga alat bukti yang
akan disodorkan dalam persidangan maka Wayan Wakil pada tanggal
17 Januari 2017 melaporkan pertama, AA Ngurah Agung dan yang
disitu disebutkan sebagai ketua pengempon pura dan ada Ni Wayan
Widastri yang dikenal sebagai pejabat notaris di Kota Denpasar.

Dimana dalam akta perjanjian tersebut itu dibuat di dalamnya


disebutkan Ni Wayan Widastri mengaku sebagai pegawai swasta.
Padahal di tahun tersebut Ni Wayan Widastri telah mengantongi ijin
sebagai pejabat notaris. "Ini saja sudah ada pembohongan publik.
Belum lagi transaksinya, belum lagi nilai uangnya," ucap pengacara
kondang Togar Situmorang, SH., MH., MAP yang ditemui di
Denpasar, Senin (23/9).

Ia menilai uang yang diserahkan kepada AA Ngurah Agung mestinya


ada proses "clean and clear" artinya transaksi yang sah di mata
undang-undang. Salah satu buktinya yaitu adanya sertifikat hak milik
asli yang harus dihadirkan pada saat transaksi sewa menyewa tanah
tersebut, padahal sertifikat tersebut dalam proses itu tidak ada
dihadirkan dinotaris Wayan Adnyana.

"Kenapa tetap dibuatkan Aktanya yang diberi judul sewa menyewa.


Kenapa bisa dilakukan transaksi, padahal sertifikat masih dalam
proses perkara di tempat yang lain. Padahal pemilik lahan tersebut I
Wayan Wakil tidak pernah diberi tahu adanya transaksi sewa
menyewa diatas lahannya sehingga timbul pertanyaan itu. Karena
bukti-bukti sudah kuat dan dasar hukumnya bisa
dipertanggungjawabkan secara hukum maka Wayan Wakil
melaporkan kedua orang tersebut (A A Ngurah Agung dan Notaris Ni
Wayan Widastri) ke Polresta Denpasar. Dan setelah berlangsungnya
proses hukum dari bulan Januari hingga pada 21 September 2018
pihak penyidik Polresta Denpasar menyimpulkan hasil gelar perkara
dan menetapkan bahwa keduanya AA Ngurah Agung dan Notaris Ni
Wayan Widastri ditetapkan sebagai tersangka," tandasnya seraya
menyebutkan surat penetapan ini dibuat tembusan bagi keduanya
untuk dilakukan pemanggilan minggu depan.
Lantas Togar menunjukkan dasar penetapan tersangka yang
menyebutkan:
1. Rujukan : a. Laporan Polisi nomor: Lo-B / 68 / l / 2018 / Bali / Resta
Denpasar , tanggal 17 Januari 2018 atas nama pelapor I WAYAN
WAKIL, tentang tindak pidana pemalsuan akta otentik sebagaimana
dimaksud dalam pasal 266 KUHP.
b. Surat Perintah Penyidikan nomor: SP-Sidik / 42 / I / 2018 / Reskrim,
tanggal 17 Januari 2018.

2. Bersama ini kami beritahukan bahwa proses penyidikan terhadap


perkara yang saudara laporkan penyidik/penyidik pembantu telah
melakukan gelar perkara pada hari Rabu tanggal 19 September 2018.

3. Rencana kegiatan selanjutnya adalah penyidik/penyidik pembantu


akan menindaklanjuti rekomendasi: gelar perkara berupa
pemeriksaan terlapor AA NGURAH AGUNG dan terlapor NI WAYAN
WIDASTRI, SH sebagai tersangka, untuk perkembangan hasil
penyidikan selanjutnya akan kami sampaikan lebih lanjut dan apabila
ada hal-hal yang perlu ditanyakan atau ada masukan yang akan
disampaikan saudara dapat menghubungi BRIPKA I MADE AGUS
PURWA, SH selaku penyidik pembantu dengan No. HP 081xxx.

Perlu diketahui lahan yang disengketakan seluas 3,8 hektar lokasinya


di Banjar Cengkiling, Balangan, Pecatu, Badung. Padahal selama
berpuluh tahun I Wayan Wakil telah berdiam di lokasi tersebut.
Kaitannya status hukum mereka baik itu perdatanya, mereka
menggugat dan sudah diputus perdatanya di PN Denpasar dan
dimenangkan Wayan Wakil sebagai pemilik tanah. Dan untuk
pidananya yang dilaporkan di Polresta Denpasar tertanggal 21
September 2018 telah terbit surat penetapan tersangka Notaris I
Wayan Widastri dan AA Ngurah Agung.

Inilah bagain yang menarik karena tanah ini luas dan menjanjikan
harga fantastis bernilai miliran sehingga dengan berbagai cara
mereka selalu mencari celah untuk membuat masalah dan mencari
keuntungan tanpa melibatkan pemilik tanah yang sah yaitu Wayan
Wakil.

Berbagai modus kerap dilakukan oleh oknum tidak bertanggung


jawab untuk mengambil manfaat dari lahan yang dimiliki I Wayan
Wakil. Termasuk ada bos besar yang bernama Alim Markus selaku
pemilik PT Maspion Surabaya yang telah melakukan transaksi
dengan Wayan Wakil. "Padahal sampai detik ini pak Wayan Wakil
tidak pernah bertransaksi dengan seseorang yang bernama Alim
markus. Ini yang menimbulkan pertanyaan di benak kita," ujar Sang
Panglima Hukum.

Apa yang diungkapkan Togar bukan tanpa sebab, pasalnya apa yang
dilakukan oknum-oknum ini jelas telah melanggar hak hukum, dan
faktanya lahan tersebut masih dimiliki oleh I Wayan Wakil. "Kami
kedepannya juga akan mempertanyakan dan peranan orang-orang
ataupun notaris yang menyatakan seolah-olah transaksi ini sah,
merekapun akan kami perkarakan, pasti itu," ancam Togar dengan
mimik serius.

Togar akan melihat waktu yang tepat untuk memperkarakan orang


atau notaris lain yang terlibat setelah Notaris I Wayan Widastri dan
AA Ngurah Agung bisa ditahan. "Kita segera kirimkan somasi pada
mereka (notaris lain yang terlibat) menyangkut keterangan palsu
pada akta otentik yang mereka buat. Notaris yang kita laporkan ada
yang dari Bali juga dari Surabaya. Kan banyak itu notarisnya yang
terlibat dalam Alim Markus gate. Kita tunggu saja,"
pungkasnya.(BB).

Sumber:
https://baliberkarya.com/index.php/read/2018/09/24/201809240002/Transaksi-Pakai-
Akta-Palsu-Notaris-Widastri-dan-AA-Ngurah-Agung-Ditetapkan-Tersangka.html