Anda di halaman 1dari 15

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP )
Satuan Pendidikan : SMP Negeri 1 Pakis
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas/Semester : VII SMP/Semester 1
Tema : Manusia, Tempat dan Lingkungan
Sub Tema : Dinamika Kependudukan Indonesia
Pertemuan : 17, 18
Alokasi Waktu : 4 x 40 menit

A. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi,
gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian
tampak mata.
4. Mencoba, mengolah,dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai,
merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca,
menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan
sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator


Kompetensi Dasar Indikator
3.1 Memahami konsep ruang (lokasi, 3.1.1 Mendeskripsikan pertumbuhan
distribusi, potensi, iklim, bentuk muka penduduk
bumi , geologis, vegetasi dan fauna) 3.1.2 Memperkirakan pertumbuhan
dan interaksi antarruang di Indonesia penduduk di Indonesia berdasarkan
serta pengaruhnya terhadap kehidupan data yang ada
manusia dalam aspek ekonomi, sosial, 3.1.3 Mendeskripsikan kualitas penduduk
budaya, dan pendidikan. 3.1.4 Mengkategorikan kualitas
penduduk di Indonesia
3.1.5 Membandingkan kualitas penduduk
antar pulau di Indonesia
3.1.6 Mendeskripsikan keragaman etnik
di Indonesia
3.1.7 Menjelaskan keragaman budaya di
Indonesia
3.1.8 Menguraikan keragaman suku di
Indonesia
3.1.9 Menguraikan keragaman Bahasa di
Indonesia
3.1.10 Menguraikan keragaman budaya di
Indonesia
3.1.11 Menguraikan upacara adat di
Indonesia
3.1.12 Menguraikan keragaman religi di
Indonesia

4.1 Menjelaskan konsep ruang (lokasi, 4.1.1 Menggabungkan data informasi


distribusi, potensi, iklim, bentuk muka tentang jumlah penduduk dan
bumi, geologis, vegetasi dan fauna) persebaran penduduk di Indonesia
dan interaksi antarruang di Indonesia dengan teori tentang pertumbuhan
serta pengaruhnya terhadap kehidupan dan kualitas penduduk.
manusia Indonesia dalam aspek 4.1.2 Menyontohkan perilaku
ekonomi, sosial, budaya, dan melestarikan budaya Indonesia
pendidikan.

C. Tujuan Pembelajaran
1. Dengan memperhatikan indikator pembelajaran, penguatan pendidikan karakter siswa yang
diharapkan adalah :
1.1 Mensyukuri atas ciptaan Tuhan YME (Religius)
1.2 Cinta tanah air (Nasionalis)
1.3 Menjaga Lingkungan (Nasionalis)
1.4 Berfikir Kritis dan Kreatif ( Mandiri)
1.5 Kerjasama (Gotong Royong)
1.6 Tanggung Jawab (Integritas)

2. Dengan mengamati gambar, membaca buku, browsing internet, diskusi dan tanya jawab
siswa dapat:
3.1.1 Melalui membaca buku, siswa dapat mendeskripsikan pertumbuhan penduduk dengan
benar
3.1.2 Melalui browsing di internet, siswa dapat memperkirakan pertumbuhan penduduk di
Indonesia berdasarkan data yang ada dengan tepat
3.1.3 Melalui membaca buku siswa dapat mendeskripsikan kualitas penduduk dengan benar
3.1.4 Melalui diskusi dan tanya jawab, siswa dapat mengkategorikan kualitas penduduk di
Indonesia dengan tepat
3.1.5 Melalui browsing di internet, siswa dapat membandingkan kualitas penduduk antar
pulau di Indonesia dengan tepat
3.1.6 Melalui membaca buku, siswa dapat mendeskripsikan keragaman etnik di Indonesia
dengan tepat
3.1.7 Melalui pengamatan gambar, siswa dapat menjelaskan keragaman budaya di
Indonesia dengan benar
3.1.8 Melalui diskusi dan tanya jawab, siswa dapat menguraikan keragaman suku di
Indonesia dengan tepat
3.1.9 Melalui diskusi dan tanya jawab, siswa dapat menguraikan keragaman Bahasa di
Indonesia dengan tepat
3.1.10 Melalui browsing di internet siswa dapat menguraikan keragaman budaya di
Indonesia dengan tepat
3.1.11 Melalui browsing di internet dan diskusi, siswa dapat menguraikan upacara adat di
Indonesia dengan benar
3.1.12 Melalui diskusi dan tanya jawab, siswa dapat menguraikan keragaman religi di
Indonesia dengan tepat
4.1.1 Melalui model pembelajaran mind mapping, siswa dapat menggabungkan data
informasi tentang jumlah penduduk dan persebaran penduduk di Indonesia dengan
teori tentang pertumbuhan dan kualitas penduduk dengan tepat
4.1.2 Melalui pembelajaran problem based learning siswa dapat menyontohkan perilaku
melestarikan budaya Indonesia dengan tepat.

D. Materi Ajar
(Terlampir)

E. Pendekatan dan Model Pembelajaran


Pendekatan : Saintifik
Metode : Diskusi, Tanya Jawab
Model Pembelajaran : Mind Mapping, problem based learning

F. Sumber Belajar
1. Setiawan, Iwan.dkk. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Kurikulum dan Perbukuan,
Balitbang, Kemdikbud.
2. Setiawan, Iwan.dkk. 2016. Buku Guru Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Kurikulum dan
Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
3. Suparno, N. & Tamtomo, Haryo. 2016. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas
VII, Erlangga.
4. Gambar mengenai keragaman etnik dan budaya dalam masyarakat

G. Media dan Alat Pembelajaran


1. Media pembelajaran:
a. Lembar Kerja (LK)
b. Power point
2. Alat pembelajaran: Papan Tulis, Buku Pegangan Siswa, internet

H. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Alokasi Karakter
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu yang muncul
Awal 1. Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam 5 menit Bersyukur
dan berdoa secara khusyuk bersama (Religius)
(menghayati ajaran agama).
2. Melakukan presensi.
3. Menyanyikan lagu “dari Sabang Sampai
Merauke”. Nasionalisme
4. Apersepsi dengan cara guru memberikan
stimulus pada peserta didik dengan memberikan
pertanyaan mengenai kepadatan penduduk di
Indoensia.
5. Motivasi: Memberikan penjelasan pada peserta
didik mengenai pentingnya materi, supaya
peserta didik berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
6. Menginformasikan tujuan yang akan dicapai
selama pembelajaran.
7. Guru menginformasikan pembelajaran
menggunakan model kooperatif tipe mind
mapping
8. Guru memberikan pemanasan mengulas
pengalaman yang pernah dilakukan peserta didik
dan melalukan broadstreaming mengenai tujuan
pembelajaran yang sesuai dengan konteksnya.
Inti Pelaksanaan pembelajaran 70
Mengamati menit
1. Guru memberikan penjelasan materi tentang
pertumbuhan dan kualitas penduduk
2. Siswa memperhatikan beberapa gambar ilustrasi
tentang kepadatan penduduk dan salah satu contoh
grafik kualitas penduduk

Menanya
3. Siswa menanyakan tentang materi tambahan yang
Berfikir
didapat dari proses mengamati
Kreatif
4. Siswa membentuk kelompok yang beranggotakan (Mandiri)
5 sampai 6 siswa
5. Guru menyampaikan penjelasan tentang peraturan
mind mapping

Mengumpulkan Informasi
6. Siswa mencoba memahami materi melalui buku
pegangan siswa dan internet selama 5 menit
7. Siswa berdiskusi dengan kelompok tentang Kerjasama
pertumbuhan dan kualitas penduduk yang ada di
Indonesia, hasil pemahaman dari kegiatan (Gotong
membaca buku pegangan dan browsing di Royong)
internet.
Mengasosiasi
8. Siswa di instruksikan untuk membuat peta
konsep di lembar kerja yang telah disediakan
oleh guru selama 10 menit.
9. Siswa bersama dengan kelompok
menganalisis dan menuangkan hasil analisis
tentang pertumbuhan penduduk dan kualitas
penduduk di Indonesia ke dalam peta konsep
masing-masing.

Mengkomunikasikan
10. Setiap kelompok mempresentasikan hasil
diskusi dan pembuatan peta konsepnya,
masing-masing kelompok diberi waktu 5
menit dan kelompok yang lain memberikan
tanggapan
11. Siswa bersama guru menyimpulkan hasil
pembelajaran selama 5 menit
12. Siswa diberikan soal post test oleh guru
dengan estimasi waktu mengerjakan selama
10 menit
Penutup Kegiatan penutup pembelajaran model 5 menit
a. Peserta didik bersama guru menyimpulkan
materi yang telah dipelajari.
b. Memberikan penghargaan (misalnya pujian atau
bentuk penghargaan lain yang relevan kepada
kelompok yang berkinerja baik).
c. Refleksi: peserta didik bersama guru
merefleksikan pelajaran yang sudah di lakukan,
apabila sudah paham mengenai materi, maka
akan dilanjutkan pada tujuan selanjutnya.
Menutup pembelajaran dengan do’a dan (Religius)
mengucapkan salam.

Pertemuan 2
Alokasi Karakter
Kegiatan Deskripsi Kegiatan
Waktu yang muncul
Awal a. Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam 10 Bersyukur
dan berdoa secara khusyuk bersama (menghayati menit (Religius)
ajaran agama).
b. Melakukan presensi.
c. Mengulas materi sebelumnya dan dikaitkan
dengan materi yang akan dibahas pada Nasionalisme
pertemuan ini.
d. Apersepsi dengan cara guru mengajak siswa
untuk menyanyikan lagu “Rek Ayo Rek” (lagu
asal Jawa Timur) sebagai stimulus untuk
pembelajaran tentang keberagaman budaya
e. Motivasi: Memberikan penjelasan pada peserta
didik mengenai pentingnya materi, agar peserta
didik berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
f. Menginformasikan tujuan yang akan dicapai
selama pembelajaran.
g. Guru menginformasikan pembelajaran
menggunakan model kooperatif tipe problem
based learning
h. Guru memberikan pemanasan mengulas
pengalaman yang pernah dilakukan peserta didik
dan melalukan broadstreaming mengenai tujuan
pembelajaran yang sesuai dengan konteksnya.
Inti Pelaksanaan Model Pembelajaran 65
Mengamati menit
1 Guru memberikan penjelasan materi tentang
keragaman etnik di Indoensia
2 Siswa mengamati gambar tentang peta
persebaran keragaman budaya di Indonesia

Menanya
3 Siswa bertanya tentang materi pendalaman Berfikir
berkaitan dengan materi pokok yang telah Kreatif
diamati. (Mandiri)
4 Siswa membentuk kelompok yang
beranggotakan 5 sampai 6 siswa
5 Masing-masing kelompok menerima lembar
bersisi permasalahan yang berkaitan dengan
kelestarian budaya dan bahasa daerah di
Indonesia

Mengumpulkan informasi
Kerjasama
a. Masing masing kelompok mencari informasi
(Gotong
dengan cara membaca di buku atau browsing
Royong)
di internet tentang permasalahan yang sudah
di bagi.
Kelompok 1 dan 5 : latar belakang dan solusi
dari permasalahan / konflik Sampit
Kelompok 2 dan 6 : Bahasa daerah yang
sudah jarang digunakan oleh masing-masing
daerah, solusi yang tepat dan dapat dilakukan
oleh siswa
Kelompok 3 dan 7 : permasalahan
etnosentrisme dan solusi yang tepat untuk
mengatasinya
Kelompok 4 dan 8 : ragam upacara adat yang
ada di sekitar tempat tinggal siswa dan cara-
cara melestarikan upacara adat tersebut.
Mengasosiasikan
b. Masing-masing kelompok berdiskusi tentang
permasalahan yang telah dibagi.
c. Masing-masing kelompok menganalisis
solusi yang tepat berdasarkan permasalahan
yang ada disesuaikan dengan kapasitas
mereka sebagai pelajar.

Mengkomunikasikan
d. Beberapa kelompok dipilih untuk
mempresentasikan hasil kinerjanya, masing-
masing kelompok diberi waktu 5 menit.
Sedangkan kelompok yang lain memberikan
tanggapan sesuai dengan hasil diskusi
kelompok masing-masing.
e. Siswa bersama guru menyimpulkan hasil
pembelajaran selama 5 menit
f. Siswa diberikan soal post test oleh guru
berupa test lisan. (soal ditampilkan pada PPT
bagian akhir)
Penutup Kegiatan penutup pembelajaran model 5 menit
d. Peserta didik bersama guru menyimpulkan
materi yang telah dipelajari.
e. Memberikan penghargaan (misalnya pujian atau
bentuk penghargaan lain yang relevan kepada
kelompok yang berkinerja baik).
f. Refleksi: peserta didik bersama guru
merefleksikan pelajaran yang sudah di lakukan,
apabila sudah paham mengenai materi, maka
akan dilanjutkan pada tujuan selanjutnya. Yaitu
tentang keadaan alam Indonesia.
Menutup pembelajaran dengan do’a dan (Religius)
mengucapkan salam.

I. Penilaian
1. Penilaian Sikap
a. Teknik : Observasi melalui jurnal guru
b. Instrumen : Jurnal sikap spiritual dan sikap sosial
2. Penilaian Pengetahuan
a. Teknik : Penugasan
b. Instrumen : Kisi-kisi tugas
3. Penilaian Keterampilan
a. Teknik : Kinerja
b. Instrumen : Lembar penilaian keterampilan dalam mempresentasikan hasil belajar
Kompetensi Jenis Penilaian Instrumen Keterangan
Sikap Diskusi Rubrik Penilain Sikap Terlampir
Pengetahuan Tes Tulis Daftar Pertanyaan Terlampir
Keterampilan Performance Rubrik Terlampir
Penilaian
Keterampilan Diskusi dan Presentasi

Mengetahui, Malang, 15 Juli 2019


Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

Gatot Taufik Qurrohman, S.Pd Aries Wahyu Lestari, S.Pd


NIP. 196207291985121001
LAMPIRAN 1
DINAMIKA KEPENDUDUKAN INDONESIA
Indonesia adalah negara kepulauan dengan potensi sumber daya manusia yang sangat
besar. Jumlah penduduk yang tinggal di Indonesia mencapai 256 juta jiwa (Worl Population
Data Sheet/WPDS, 2015). Jumlah penduduk tersebut merupakan hasil dari dinamika penduduk.
Dinamika penduduk adalah perubahan jumlah penduduk pada suatu wilayah yang disebabkan
oleh tiga faktor yaitu, kelahiran (nartalitas), kematian (mortalitas), dan perpindahan (migrasi).
a) Jumlah Penduduk
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Berdasarkan Data
Kependudukan Dunia tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat di
dunia setelah Cina (1.372 juta jiwa), India (1.314 juta jiwa), dan Amerika Serikat (321 juta
jiwa). Jumlah penduduk Indonesia mencapai 256 juta jiwa
Tabel 1.2. Peringkat Jumlah Penduduk di Dunia
Peringkat Nama Negara Jumlah Penduduk
(Juta Jiwa)
1 Cina 1.372
2 India 1314
3 Amerika Serikat 321
4 Indonesia 256

Sumber: WPDS, 2015


Jumlah penduduk yang besar ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi
keuntungan bagi Indonesia dengan jumlah penduduk usia produktif yang berlimpah. Namun di
sisi lain bisa menjadi kerugian bila jumlah penduduk yang besar itu memiliki kualitas yang
rendah, dilihat dari pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
b) Persebaran Penduduk
Persebaran atau distribusi penduduk adalah bentuk penyebaran penduduk di suatu
wilayah atau negara, apakah penduduk tersebut tersebar merata atau tidak. Persebaran penduduk
dapat dikenali dari kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk merupakan indikator adanya
perbedaan sumber daya yang dimiliki suatu wilayah. Wilayah yang memiliki sumber daya yang
lebih baik, baik sumber daya fisik maupun manusianya, akan cenderung dipadati penduduk.
Kepadatan penduduk juga memberikan informasi kepada pemerintah tentang pemerataan
pembangunan. Wilayah yang penduduknya jarang menunjukkan pembangunan belum merata ke
berbagai wilayah.
Beberapa daerah di Indonesia penduduknya masih sangat sedikit, atau masih kekurangan
jumlah penduduk (under population). Contohnya di Papua, kepadatan penduduk rata-rata hanya
4 jiwa per kilometer persegi. Sementara pulau Jawa kepadatan penduduknya mencapai 945 jiwa
per kilometer persegi. Pulau Jawa dan Madura dengan luas 132 ribu km² berpenduduk 137 juta
jiwa pada tahun 2010. Pulau-pulau lain di Indonesia, dengan luas berkali lipat dari pulau Jawa
jika seluruh penduduknya dijumlahkan tidak dapat mencapai jumlah penduduk yang tinggal di
Pulau Jawa.
Kondisi persebaran penduduk yang tidak merata merupakan sebuah permasalahan
tersendiri bagi pelaksanaan pembangunan. Karena itu perlu dilakukan upaya pemerataan
penduduk yang seimbang, sehingga seluruh potensi bangsa Indonesia dapat dikembangkan
optimal. Salah satu cara untuk memeratakan jumlah penduduk di Indonesia adalah dengan
melalui perpindahan penduduk dari daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya.
Perpindahan penduduk tersebut tentu dapat dilakukan dengan keinginan sendiri maupun
diprogramkan oleh pemerintah.
Pulau Jawa adalah daerah yang sangat subur dan telah lama berkembang dengan
pertanian tradisional. Pada masa lalu, masyarakat masih mengembangkan pola ekonomi
tradisional berupa pertanian. Lokasi Pulau Jawa yang sebagian besar wilayahnya mudah
terjangkau menjadi salah satu penyebab persebaran penduduk di Pulau Jawa terus terjadi. Selain
itu, Pulau Jawa juga merupakan pusat perkembangan politik pada masa pengaruh Hindu,
Buddha, Islam, dan masa penjajahan. Saat ini, pusat pemerintahan yaitu Jakarta berada di Pulau
Jawa, demikian pula dengan kota-kota besar yang sebagian besar berada di Pulau Jawa. Tidak
mengherankan apabila sarana dan prasarana di Pulau Jawa lebih lengkap dari wilayah lainnya di
Indonesia.
2. Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk adalah pengelompokan penduduk berdasarkan usia/ umur, jenis
kelamin, mata pencaharian, agama, bahasa, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan
lain-lain. Komposisi penduduk diperlukan dalam suatu negara karena dapat dijadikan dasar
pengambilan keputusan ataupun penentuan kebijaksanaan dalam pelaksanaan pembangunan.
Gambaran mengenai komposisi penduduk perlu dikaji atau dipelajari karena berbagai alasan,
antara lain setiap penduduk pasti memiliki usia dan jenis kelamin yang berbeda sehingga
memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda pula.
a. Komposisi Penduduk
Berdasarkan Usia Komposisi penduduk berdasarkan usia/umur dapat dibuat dalam bentuk
usia tunggal, seperti 0, 1, 2, 3, 4, sampai 60 tahun atau lebih. Komposisi penduduk dapat juga
dibuat berdasarkan interval usia tertentu, seperti 0–5 tahun (usia balita), 6–12 tahun (usia SD),
13–15 tahun (usia SMP), tahun 16–18 (usia SMA), 19–24 tahun (usia Perguruan Tinggi), 25–60
tahun (usia dewasa), dan >60 tahun (usia lanjut). Selain itu, komposisi penduduk juga dapat
dibuat berdasarkan usia produktif dan usia nonproduktif, misalnya: usia 0–14 (usia belum
produktif), 15–64 (usia produktif), dan usia >65 (tidak produktif). Permasalahan dalam
komposisi penduduk lainnya adalah apabila jumlah penduduk dengan usia di bawah 15 tahun
dan usia di atas 65 tahun jumlahnya lebih besar dibandingkan usia produktif (15-65 th). Hal
tersebut dapat menyebabkan penduduk usia produktif menanggung hidup seluruh penduduk usia
nonproduktif. Sebaliknya, jika semakin kecil angka ketergantungan, akan semakin kecil beban
dalam menopang kehidupan penduduk usia nonproduktif.
b. Komposisi Penduduk
Berdasarkan Jenis Kelamin Komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin juga penting
untuk diketahui, karena dapat digunakan dalam menghitung angka perbandingan jenis kelamin
(sex ratio). Perbandingan tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan bentuk pemberdayaan
penduduk sebagai sumber daya manusia sesuai dengan karakteristiknya. Misalnya, berkenaan
dengan pekerjaan, tanggung jawab, serta bentuk pengembangan pendidikan dan pelatihan yang
sesuai dengan potensi dan kemampuan penduduk.
Pada zaman dahulu, kaum laki-laki lebih dominan untuk berusaha (bekerja) dan
mempertahankan diri. Pada saat itu, teknologi masih sangat sederhana sehingga hanya penduduk
yang memiliki tenaga dan kemampuan fisik yang kuat yang dapat bertahan hidup. Akan tetapi,
setelah teknologi berkembang dengan cepat dan modern, sesuai pula dengan prinsip emansipasi
wanita, ternyata hampir semua jenis pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh kaum laki-laki juga
dapat dikerjakan oleh kaum perempuan.
3. Pertumbuhan dan Kualitas Penduduk
Pertumbuhan penduduk adalah keseimbangan dinamis antara kekuatan yang menambah dan
kekuatan yang mengurangi jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang memengaruhi
pertumbuhan penduduk, yakni kelahiran, kematian, dan migrasi. Kelahiran dan kematian disebut
faktor alami, sedangkan migrasi disebut faktor nonalami. Kelahiran bersifat menambah,
sedangkan kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk. Migrasi yang bersifat menambah
disebut migrasi masuk (imigrasi), sedangkan migrasi yang bersifat mengurangi disebut migrasi
keluar.
Tingkat pertumbuhan penduduk di negara kita termasuk kategori sedang. Pada periode
2010-2014, angka pertumbuhannya mencapai 1,40% per tahun. Untuk menurunkan tingkat
pertumbuhan yang tinggi ini, pemerintah Indonesia melaksanakan program Keluarga Berencana.
Dengan program Keluarga Berencana, penduduk Indonesia telah mengalami penurunan dari
yang awalnya 2,31% pada periode 1971-1980 menjadi 1,49% pada periode 1990-2000.
Struktur penduduk Indonesia lebih banyak pada penduduk usia muda, hal ini sebagai akibat
dari masih tingginya tingkat kelahiran. Persentase penduduk 0 - 14 tahun pada tahun 1980
mencapai 40,3% dan pada tahun 1985 sedikit turun menjadi 39,%. Penduduk usia muda ini
pada tahun 2000 diperkirakan turun lagi menjadi 37,7% dan 34,%. Pertumbuhan penduduk
sangat banyak, yaitu nomor empat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.
Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan beberapa hal berikut ini: (a) Pertumbuhan
penduduk usia muda yang cepat menyebabkan tingginya angka pengangguran; (b) persebaran
penduduk tidak merata; (c) komposisi penduduk kurang menguntungkan karena banyaknya
penduduk usia muda yang belum produktif sehingga beban ketergantungan tinggi; (d) arus
urbanisasi tinggi, sebab kota lebih banyak menyediakan lapangan kerja;(e) menurunnya kualitas
dan tingkat kesejahteraan penduduk.
Masalah kependudukan Indonesia dalam hal kualitas adalah masalah dalam kemampuan
sumber daya manusianya. Di Indonesia, masalah kualitas penduduk yang terjadi dipengaruhi
oleh masih rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya tingkat kesejahteraan yang kemudian dapat
berpengaruh pada pendapatan per kapita masyarakat tersebut. Rendahnya pendapatan perkapita
dapat menyebabkan orang tua tidak mampu menyekolahkan anaknya, sehingga banyak anak
yang putus sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan penduduk
melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya
bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar, dan sebagainya. Walaupun
demikian, karena banyaknya hambatan yang dialami, maka hingga saat ini tingkat pendidikan
bangsa Indonesia masih tergolong rendah.
Selain itu, tingkat kesehatan juga merupakan salah satu penentu dari kualitas penduduk.
Tingkat kesehatan penduduk merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilan
pembangunan. Tingkat kesehatan suatu negara dapat dilihat dari besarnya angka kematian bayi
dan usia harapan hidup penduduknya. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian bayi dan
angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju.
Mata pencaharian merupakan salah satu dari beberapa tolok ukur kualitas penduduk. Akibat
pertambahan penduduk yang tinggi, maka jumlah angkatan kerja tidak seharusnya terserap.
Bahkan semakin ketatnya persaingan tenaga kerja, maka angkatan kerja muda yang merupakan
tenaga kerja kurang produktif pun ikut bersaing. Hal ini kurang menguntungkan usaha
pembangunan secara nasional karena golongan muda kurang produktif tersebut merupakan
beban. Masalah tenaga kerja dan kesempatan kerja merupakan masalah yang harus ditangani
secara serius karena sangat peka terhadap ketahanan nasional. Mayoritas penduduk Indonesia
bermata pencaharian sebagai petani, berbeda dengan di negara maju yang sebagian besar mata
pencaharian penduduknya berada di sektor Industri.
4. Keragaman Etnik dan Budaya
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang memiliki suku bangsa dan budaya yang
beragam. Suku bangsa sering juga disebut etnik. Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa berarti
sekelompok manusia yang mempunyai kesatuan budaya dan terikat oleh kesadaran budaya
tersebut, sehingga menjadi identitas. Kesadaran dan identitas biasanya dikuatkan oleh kesatuan
bahasa. Jadi, suku bangsa adalah gabungan sosial yang dibedakan dari golongangolongan sosial
sebab mempunyai ciri-ciri paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal-usul dan tempat
asal serta kebudayaan. Ciri-ciri suku bangsa memiliki kesamaan kebudayaan, bahasa, adat
istiadat, dan nenek moyang. Ciri-ciri mendasar yang membedakan suku bangsa satu dengan
lainnya, antara lain bahasa daerah, adat istiadat, sistem kekerabatan, kesenian daerah, dan tempat
asal.
Keberagaman bangsa Indonesia, terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang
mendiami berbagai lokasi yang tersebar. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter
tersendiri, baik dalam aspek sosial atau budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang
dilaksanakan tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.128 suku bangsa. Antarsuku bangsa di
Indonesia mempunyai berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di
Indonesia.
Kehidupan sosial budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Keragaman tersebut
dipengaruhi faktor lingkungan. Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan akan lebih
banyak menggantungkan kehidupannya dari pertanian, sehingga berkembang kehidupan sosial
budaya masyarakat petani. Sementara itu, daerah pantai akan memengaruhi masyarakatnya
untuk mempunyai mata pencarian sebagai nelayan dan berkembanglah kehidupan sosial
masyarakat nelayan.
Keragaman bangsa Indonesia tampak pula dalam seni sebagai hasil kebudayaan daerah di
Indonesia, misalnya dalam bentuk tarian dan nyanyian. Hampir semua daerah atau suku bangsa
mempunyai tarian dan nyanyian yang berbeda. Begitu juga dalam hasil karya, setiap daerah
mempunyai hasil karya yang berbeda dan menjadi ciri khas daerahnya masing-masing.
Keanekaragaman budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke merupakan aset yang
tidak ternilai harganya, sehingga harus tetap dipertahankan dan dilestarikan. Ada sebagian warga
Indonesia yang tidak mengetahui ragam budaya daerah lain di Indonesia, salah satunya budaya
melukis tubuh di Mentawai, Sumatra Barat, tindik sebagai tanda kedewasaan dan masih banyak
kebudayaan lain yang belum tereksplorasi.
Setiap daerah memiliki kebudayaan yang khas. Keragaman budaya tersebut dapat diketahui
melalui bentuk-bentuk pakaian adat, lagu daerah, tarian daerah, rumah adat, upacara adat dan
lain sebagainya.
a. Rumah Adat
Indonesia kaya akan budaya dengan terdapatnya wujud keanekaragaman budaya bangsa
kita yang tersebar di berbagai profinsi pada umumnya, hal yang paling kongkerit adalah adanya
rumah adat di setiap daerah profinsi di negara kita. Berikut ini tabel beberapa contoh rumah adat
di setiap daerah di Indonesia.
b. Pakaian Adat
Pakaian adat tradisional di Indonesia begitu banyak dan beragam, ini merupakan nilai-nilai
budaya Indonesia yang tak ternilai harganya yang seharusnya kita jaga dan lestarikan karena
kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikannya lantas siapa lagi? Jangan sampai kita
menjadi peduli ketika budaya-budaya kita diklaim oleh negara lain. Berikut ini ada dua contoh
pakaian adat dari daerah di Indonesia.
c. Tarian Daerah
Tari merupakan salah satu aspek seni untuk mengungkapkan perasaan melalui gerak.
Tarian setiap daerah memiliki ciri khasnya tersendiri, biasanya memiliki makna dan simbol
tertentu yang terkandung didalamnya. Berikut ini beberapa contoh dari tarian di beberapa daerah
di Indonesia.
LAMPIRAN 2
SOAL DAN KUNCI JAWABAN POST-TEST
No. Indikator Soal Jawaban
1 Menguraikan keragaman Sebutkan suku-suku yang Madura, Jawa, Osing,
suku di Indonesia mendiami pulau Jawa ! Tengger
2 Menguraikan keragaman Berapa jumlah bahasa daerah Diperkirakan ±726
bahasa di Indonesia yang dimiliki Indonesia ? bahasa daerah
3 Menguraikan keragaman Sebutkan 2 contoh upacara Mis: Upacara Kasadha
upacara adat di Indonesia adat ! di tengger gunung
Bromo, Upacara
pembakaran mayat di
Bali
4 Menguraikan keragaman Berapa agama yang diresmikan Ada 6. Yaitu islam,
religi di Indonesia pemerintah Indonesia ? Kristen, katholik,
hindu, dan buddha
LAMPIRAN 3
LEMBAR PENILAIAN SIKAP

No Tanggal Nama Siswa Catatan Perilaku Butir Sikap


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
LAMPIRAN 4
LEMBAR CATATAN PENILAIAN KETERAMPILAN

Instrumen Penilaian
Skor
No. Aspek yang Dinilai
0 1 2 3
1. Berpartisipasi dalam mempersiapkan bahan diskusi
2. Memberikan pendapat dalam memecahkan masalah
3. Memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain
4. Mengajukan pertanyaan ketika pembelajaran di kelas
Skor Maksimum 12

Rubrik Penilaian
No Aspek yang Dinilai Pedoman Penskoran
3= Berpartisipasi mempersiapkan bahan dengan
sangat baik
2= Berpartisipasi mempersiapkan bahan dengan
Berpartisipasi dalam
1. baik
mempersiapkan bahan diskusi
1= Berpartisipasi mempersiapkan bahan dengan
cukup baik
0=Tidak berprtisipasi
3= Memberikan pendapat dengan sangat baik
Memberikan pendapat dalam 2= Memberikan pendapat dengan baik
2.
memecahkan masalah 1= Memberikan pendapat dengan cukup baik
0= Tidak memberikan pendapat
3= Memberikan komentar dengan sangat baik
Memberikan komentar terhadap 2= Memberikan komentar dengan baik
3.
hasil kerja kelompok lain 1 = Memberikan komentar dengan cukup baik
0 = Tidak memberikan komentar
3= Mengajukan pertanyaan dengan sangat baik
Mengajukan pertanyaan ketika 2= Mengajukan pertanyaan dengan baik
4.
pembelajaran di kelas 1= Mengajukan pertanyaan dengan cukup baik
0= Tidak mengajukan pertanyaan

Nilai = (Skor Perolehan : Skor Maksimum) x 100

1. Pembelajaran Remedial
Berdasarkan hasil analisis penilaian, bagi siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar
diberikan kegiatan pembelajaran dengan bentuk remedial, yaitu :
a. Pembelajaran ulang jika 50% atau lebih siswa belum mencapai ketuntasan.
b. Pemanfaatan tutor sebaya, jika 11 – 49% siswa belum mencapai ketuntasan
c. Bimbingan perorangan , jika 1 – 10% siswa belum mencapai ketuntasan.
2. Pembelajaran Pengayaan
Berdasarkan hasil analisis penilaian, siswa yang sudah mencapai ketuntasan belajar
diberi kegiatan pembelajaran pengayaan untuk perluasan dan/atau pendalaman materi
(kompetensi) dalam bentuk tugas individu mengerjakan soal-soal dengan tingkat kesulitan
lebih tinggi.