Anda di halaman 1dari 9

Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat,

Gambaran tingkat pengetahuan remaja dan perilaku seksual


disekolah terhadap resiko HIV/AIDS

Gilang andru firmansyah1, Fajar adjie prasetyo2.


Universitas Ahmad Dahlan
Jl. Prof. DR. Soepomo Sh, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota yogyakarta, Daerah
Istimewa Yogyakarta 55164, (0274) 563515
Firman21gilang@gmail.com

Abstract

Pengetahuan HIV/AIDS pada remaja di tingkat sekolah menengah bisa dibilang masih sangat
rendah. Artikel ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan HIV/AIDS
pada remaja di tingkat menengah. Jenis penelitian ini adalah dengan cara desain potong lintang.
Populasi penelitian ini adalah semua individu sampel riskesdas 2010 pada ewmaja yang
berumur setara dengan tingkat sekolah menengah. Kriteria didalam arikel ini adalah semua
remaja di tingkat sekolah menengah atas. Data yang digunakan dalam riskesda tahun 2010
dengan rncian kuisioner RKD10.RT dan RKD10.IND data yang diambil ialah meliputi tempat
dan keterangan anggota rumah tangga ( wilayah, umur, jenis kelamin, pendidikan, status
ekonomi), pengetahuan HIV/AIDS dan perilaku seksual. Pengetahuan HIV/AIDS merupakan
nilai yang komporsit dari beberapa pertanyaan yang diajukan di dalam RKD10.IND. Blok CO2
sampai CO3. Pengetahuan HIV dan AIDS diinformasikan baik jika sama dengan median, dan
kurang jika dibawah nilai median yang sudah dicantumkan. Hasil persentase dari tingkat
pengetahuan HIV dan AIDS dengan bisa dibilang baik adalah pada remaja di perkotaan sebesar
54 % dan di pedesaan berkisar 46.6 %. Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan kategori baik
pada remaja dengan pendidikan diatasSMP sebesar 58.6 % lebih tinggi dibandingkan dengan
pendidikan dibawah SMP dengan hasil 48.3%

1. Pendahuluan
United National Programme on HIV/AIDS (UNAIDS). Badan yang dibua khusus untuk
menangani AIDS dan dibentuk oleh PBB. Badan tersebut melaporkan bahwa pada tahun 2009
jumlah penderita HIV/AIDS pada seluruh dunia didapatkan hasil bahwa 33.3 juat penduduk
(Sofia, 2015).
Human immunodeficienty virus (HIV) dilihat dari seluruh dunia masih banyak masalah
kesehatan ini yang sangat serius didalam dunia kesehatan yang dalam tempo ini sangat
mengkhawatirkan dalam kehidupan manusia. Dan pada tahun 2004 hanya didapatkan 16 dari 33
provinsi dapat dilihat dari data tersebut terdapat kasus HIV/AIDS, dan pada tahun 2019

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)
1802  ISSN: 1978 - 0575

didapatkan data bahwa penyakit HIV/AIDS ini sudah menyebar luas di dalam 33 provinsi di
indonesia (Tjolleng et al., 2013)
Aquired Immuno deficiency syndrome (AIDS). AIDS merupakan salah satu penyakit yang
berbahaya yang memiliki tingkat kematian 100% dalam jurun waktu 5 tahun dan dapat diartikan
dalam kurun waktu 5 tahun tersebut semua orang yang sudah terkena AIDS disini sakan
dipastikan meninggal dunia. penyakit (Sofia, 2015).
Berdasarkan faktor risiko penyebaran HIV/AIDS sampai pada tahun 2008 data yang
diperoleh terbanyak adalah pada pengguna narkoba suntik, rentang usia pada penyakit HIV ini
adalah pada usia produktif dan dapat berpengaruh terhadap sistem reproduksi individu tersebut.
Penderita HIV ini sangat berpengaruh terhadap masa depan individu tersebut untuk dapat
mencari nahkan dan pada saat melakukan pekerjaan yang tidak efektif dan produktif(Burhan et
al., 2014).
Kebanyakan masyarakat tidak mengetahui unutk kasus penyakit HIV/AIDS ini adalah
penyakit yang mematikan dikarenakan masyarakat hanya mengetahui bahwa penyakit HIV/AIDS
ini adalah penyakit kutukan yang diberikan kepada individu terebut yang terkena penyakit
HIV/AIDS tersebut akan meninggal begitu cepat bagi para penderitanya. Dari hasil wawancara
yang dilakukan pada suatu daerah yang diperoleh dari salah satu tokoh masyarakat daerah
tersebut pada tahun 2016 mennunjukan bahwa penyakit HIV/AIDS ini adalah suatu penyakit yang
secara tidak langsung membuat individu tersebut diasingkan dikarenakan sesuatu hal seperti
menjijikan,jorok,dan penyakit ini dapat ditularkan melalui media bahan pakaian, tempat duduk
yang sering digunakan oleh penderita, dan pernah menyentuh atau hidup bersma dengan
penderita hiV/AIDS tersebut(Junita & Dewi, 2010)
Kebanyakan waita yang terkena HIV/AIDS disini adalah wanita yang dilihat dari profil
umur individu tersebut. Interfensi yang biasaya terjadi adalah pada wanita usia 20-30 tahun dalam
artian lebih lanjut adalah banyak individu wantia usia produktif banyak terkena penyakit HIV/AIDS
ini. Dalam artian pada wanita usia 45 tahun keatas lebih sedikit wanita yang terkena penyakit
HIV/AIDS ini. Menurut beberapa pihak seperti para ahli dibidang kebidanan didapatkan hasil yang
pada masa wanita usia produktif adalah masa masa wanta melahirkan (Hartati et al., 2009)
Kasus HIV ini sebenarnya sudah lama ditemukan, namun pada setiap pemikiran maupun
perilaku diskriminatif sering saja teruang kembali yang dimana sidah cukup sering individu yang
sudah di diagnosis terkena penyakit VIV/AIDS (ODHA) tersinggung, yang lebih khusus bagi para
perempuan dari pada para laki laki dan terjadi beban terhadap kaum perempuan untuk
mengerjakan sesuatu hal untuk masa depannya. Dan memang sewajarnya kaum perempuan
banyak yang memiliki tingkat rsiko lebih tinggi terkena HIV/AIDS dari pada laki laki dan beberapa
faktor yang menyebabkan kaum perempuan lebih banyak terkena hiv?aids ini dikarenakan
beberapa faktor yaitu faktor biologis, faktor ketidaksetaraan gender(David, 2016)

Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat


 1803

2. Method
dalam penelitian ini kami menggunakan metode pendekatan deskriptif. Yang meneliti
bahwa studi tersebut berdasarkan fakta yang terjadi pada kehidupan sehari hari secara detail
dan dari berbagai data data responden. Pertimbangan menggunkan metode diskriptif disini
adalah untuk menggambarkan secara lebih terperinci suatu penyakit HIV/AIDS dalam tingkat
pengetahuan remaja terhadap perilaku seksual pada sekolah menengah atas(Burhan et al.,
2014)
Fokus penelitian ini berpacu terhadap suatu keadaan secara fakta dimana pengaruh
tingkat pengetahuan remaja terhadap perilaku seksual di sekolah sekolah menengah atas
mengenai peyakit HIV/AIDS.variable ini tingkat pengetahuan remaja dan perilaku seksual pada
remaja disekolah menengah atas, yang jika tidak diberikan pengetahuan lebih untuk
pengenalan penyakit HIV/AIDS ini akan berdampak pada masa depan individu tersebut
Responden yang diambil dari penelitian ini adalah responden yang sedang menginjak
pendidikan di sekolah menengah atas yang sedang dalam masa reproduksi yang sangat bagus.
Ketika seorang individu memiliki masa tingkat reproduksi yang bagus dengan rentan usia 20-35
taun pada wanita dengan tingkat reproduki yang bagus atau bisa disebut juga wanita usia subur
(WUS)
Cara penentuan dilakukan dengan cara deskriptif sampling unruk mendapatkan
informasi yang jelas terhadap tingkat pengetahuan pada remaja dan perilaku seksual terhadap
sekolah menengah. Dalam penelitian ini subjek tidak ditemukan diawal. Karena pada penelitian
dengan metode deskriptif ini lebih didasarkan pada data yang diperoleh oleh peneliti
Pengumpulan data adalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif dengan cara
desain potong lintang. Data yang digunakan dalam artikel ini adalah data yang berasal dari
RISKESDAS 2010 dengan kuisioner RKD10.RT dan RKD10.IND pada data artikel yang telah
dibuat ini adalah dengan data jumlah responden sampai dengan 70.00 responden dengan
seluruh wilayah di negara indonesia yang telah dikunjungi oleh beberapa tim dari kesehatan
masyarakat. Sampel individu yang digunakan untuk kesehatan masyarakat adalah dengan
sampel sejumlah 315.000 indiv(Sudikno, Bona Simanungkalit, 2011)

3. HASIL

Karakteristik Remaja
Data yang di analisi berjumlah 14.355 remaja pada sekolah menegah atas yang ada di
Indonesia. Bisa dilihat dari tingkat pendidikan SMA di dapatkan 73,1% ,dan karakteristik remaja
juga di perkotaan di dapatkan 60,4% dan di perdesaan di dapatkan sebesar 39,6%,mungkin
perbandingan nilai di perkotaan dan diperdesaan bias terjadi di sebabkan oleh tingkat
perekonomian keluarga dan adat dari suatu daerah, itu bias jadi penyebabnya tingkat
pengetahuan di daerah perkotaan dan di perbeda dan dapat dilihat dari tabel 1 pengetahuan
tentang HIV AIDS karakterisktik remaja.(Sudikno, Bona Simanungkalit, 2011)

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)
1804  ISSN: 1978 - 0575

Table 1. karakteristik remaja

Variable n = 14.355 %

Wilayah pedesaan 5.691 39.6

Perkotaan 8.664 60.4

Jebis kelamin laki laki 7.402 51.6

Perempuan 6.953 48.4

Pendidikan <=SMA 10.487 73.1

> SMA 3.868 26.9

Status ekonomi kuantil 1 2.709 18.9

Kuantil 2 2.957 20.6

Kuantil 3 2.963 20.6

Kuantil 4 3.013 21.0

Kuantil 5 2.713 18.9

Table 2. pengetahuan tentang penularan HIV dan AIDS pada remaja

Pertanyaan n = 14355 %

Hubungan seksual yang tidak aman ya 13569 94.5

Tidak 282 2.0

Tidak tahu 504 3.5


Penggunaan jarum suntik bersama ya 13101 81.0
Tidak 556 3.9
Tidak tahu 698 4.9
Transfusi darah ya 11636 81.0
Tidak 1230 8.6
Tidak tahu 1489 10.4
Penularan dari ibu ke bayi saat ya 9247 64.4
Persalinan Tidak 2428 16.9
Tidak tahu 2680 18.7
Penularan dari ibu ke bayi saat hamil ya 8790 61.2

Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat


 1805

Tidak 2618 18.3


Tidak tahu 2.947 20.5
Makan sepiring dengan orang ya 4478 31.2
Pengidap HIV dan AIDS Tidak 7247 50.5
Tidak tahu 2630 18.3
Melalui makanan yang disiapkan ODHA ya 2780 19.4
Tidak 8660 60.3
Tidak tahu 2915 20.3
Melalui gigitan nyamuk ya 4562 31.8
Tidak 6857 47.7
Tidak tahu 2936 20.5

Pengetahuan tentang penularan HIV dan AIDS


Pengetahuan tentang penularan HIV dan AIDS meliputi dari15 pertanyaan pada
penjawaban kuisioner,yang mejawab dengan benar tentang hubungan seksual yang tidak
aman mendapatkan hasil 94,5% yang menjawab tidak di dapatkan hasil 2,0%,dan yang
menjawab tidak tahu di dapatkan hasil 3,5%, Pada pertanyaan penggunaan jarum suntik
bersamaan yang menjawab ya di dapatkan hasil 81,0%. Yang menjawab tidak di dapatkan
hasil 3,9% dan yang menjawab tidak tahu di dapatkan 4,9% dan dapat di simpulan rata rata
pertanyaan yang di jawab benar dan siswa yang tidak memahi tentang pengetahuan
penularan HIV lebih sedikit hal ini dapat di lihat secara rinci pada tabel 2 yang di atas
pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS..

Tabel 3. Pengetahuan HIV dan AIDS pada remaja di indoneia menurut karakteristik

Karakteristik n=14.355 pengetahuan HIV/AIDS


Kurang (%) Baik (%)

Wilayan perdesaan 5691 53.4 46.6


Perkotaan 8664 46.0 54.0

Jenis kelami laki laki 7402 48.8 51.2


Perempuan 6953 49.1 50.9

Pendidikan <=SMP 10487 51.7 48.3


>SMP 3868 41.4 58.6

Status ekonomi Kuantil 1 2709 55.4 44.6


Kuantil 2 2957 52.5 47.5

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)
1806  ISSN: 1978 - 0575

Kuantil 3 2963 49.2 50.8


Kuantil 4 3013 45.5 54.5
Kuantil 5 2713 42.2 57.8

Pengetahuan HIV/AIDS pada remaja menurut karakteristik


Pengetahuan remaja adalah pegetahuan tentang suatu penularan dan pencegahan yang
harus di hindari oleh seorang individu untuk terkena HIV/AIDS. Dari data yang didapatkan
adalah dengan hasil HIV/AIDS pada remaja sebesar 48.9 %.dan beberapa individu yang
sudah menjawab pertanyaan mengenai HIV/AIDS yang sudah ditanyakan adalah 0.3%
pada tabel ke 3 dalam pengetahuan HIV/AIDS pada remaja menurut karakteristik adalah
dengan hasil yang didapatkan pada wilayah perdesaan dengan hasil 46.6% dan pada
perkotaan didapatkan dengan hasil 54.0% dengan tingkat pengetahuan HIV/AIDS pada
remaja menurut karakteristik. Dan pada jenis kelamin pada laki laki didapatkan hasil 51.2%
dan padaperempuan didapatkan hasil 50.9%, dan pada tingkat pendidikan didapatkan
hasil yang kurang dari SMP adalah 49.3% dan pada hasil lebih dari SMP didapatkan hasil
58.6%, dan pada tingkat status ekonomi didapatkan dengan kategori kuantil 1,kuantil
2,kuantil 3,kuantil 4, kuantil 5 didapatkan hasil dengan 44.6%, 47.5%, 50.8%, 54.5%,
57.8%. (Sudikno, Bona Simanungkalit, 2011)

1.2 Discussion
Penulis harus mendiskusikan hasil dan bagaimana mereka dapat dengan mudah untuk
ditafsirkan dalam perspektif studi sebelumnya dan hipotesis kerja. Temuan dan implikasinya
harus didiskusikan dalam konteks seluas mungkin. Agar penelitian di masa depan juga dapat
disorot dan sebuah penilitian harus dapat di perguanaka di masa depan, agar penelitian tersebut
da[at di perluas lagi dengan aspek aspek yang baru yang akan ada di masa depan nanti.
Dan bisa di lihat dri tabel di atas, rata-rata tingkat penegetahuan tentang HIV-AIDS di
kalangan remaja hamper merata, tetapi sebenarnya itu semua belum cukup untuk di katakan
sempurna masih ada beberapa persen dari itu yang belum paham tentang pengetahuan dan
pencegahan HIV-AIDS, itu semua di pengarhui oleh tingkat perekonomian keluarga yang kurang
untuk memberikan pendidikan se dini mungkin itu akan mempengaruhi juga prilaku untuk remaja
melakukan prilaku sex bebas dan mereka tidak tahu apa akibat dari perbuatan yang mereka
lakukan ,dan ada juga pengaruh dari factor- factor lainnya yang menyebabkan mereka
mempercayai adatnya di sekitar situ ketimbang dari pengetahuan tentang kesehatan terutama
tentang HIV-AIDS, itu semua di akibatkan dari pengetahuan yang kurang dan tidak di beri arahan
sejak dulu .
Dari hasil penelitian ini semoga bisa membantu agar untuk memberikan pengetahuan
terhadap remaja yang belum mengetahui hal tentang kesehatan terutama masalah HIV-AIDS,dan
semoga hasil dari penelitian ini dapat membantu remaja-remaja yang kurang mampu dari segi

Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat


 1807

ekonominya untuk mendapatkan pengetahuan,terutama yang terdapat di desa-desa yang tidak


terjangkau akan masuknya informasi informasi tentang kesehatan. Hal ini akan membantu untuk
tingkat penyakit masyrakat juga tidak akan lebih menyebar luas lagi dan remaja juga semakin
paham tentang pengetahuan kesehatan terutama tentang masalah-masalah penyakit HIV-AIDS.

4. Conclusion
Pada bagian ini sangat wajib. Harap merangkum pencapaian utama dari sebuah penilitian
atau hasil dari penilitian di dalam sini, bertujuan guna untuk menjelaskan hasil dari peneilitian
secara jelas dan terperinci,agar dapat di pahami dengan lebih mudah dan orang yang membaca
dapat mengerti dari hasil dari penilitian .
Dari hasil yang di dapatkan kita dapat ambil bahwa tingkat pendidikan seseorang untuk
dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan sesorang juga, dari ilmu-ilmu pengetahuan kita dapat
belajar berbagai ilmu pengetahuan salah satunya tentang masalah kesehatan, ilmu pengetahuan
itu juga kita belajar secara membaca banyak banyak buku soal ilmu kesehatan. Tetapi masalah
dari kurang pengetahuan seseorang khususnya pada remaja yang telah di teliti di akibatkan
mereka yang rata rata tinggal di daerah desa da nada juga desa yang masih kental dengan
kepercayaan suatu adatnya dari peninggalan nenek moyang. Hal ini seharunya harus di tanganin
agar tingkat pertumbuhan penyakit khususnya di Indonesia tidak semakin tinggi. Pemerintah
harus bisa memberikan tenaga tenaga ahli seperti guru dan tenaga kesehatan untuk membantu
memberikan pengetahuan tentang masalah kesehatan yang ada di daerah desa yang belum
tersentuh dengan dengan pemberian ilmu pengetahuan apalagi oleh teknologi, sehingga mereka
bisa dapat ilmu pengetahuan sejak dini.
Dalam hal ini pasti akan bakalan merubah tingkat jumlah pengetahuan seseorang
khususnya remaja akan semakin meningkat lagi yang awalnya tingkat pengetahuan di desa
hanya terdapat 46,6% mungkin bisa naik menjadi lebih baik lagi bahkan bisa saja naik menjadi
100%, itu semua tergantung dari system pemerintah agar bisa membantu orang orang yang
kurang mampu dan warga yang tinggal di desa desa yang jauh untuk di jangka oleh kabar kabar
atau teknologi ,dari hal itu semua jika telah tercapai tingkat pengetahuan seseorang khususnya
remaja dalam hal HIV-AIDS pun akan meningkat juga. Tidak hanya itu juga efek dari ilmu
pngetahuan juga akan mempengaruhi juga karakteristik dari seseorang, jika seseorang
mempunyai ilmu pengetahuan dan tingkat wawasan yang luas itu semua akan menjadi kan
pondasi mereka untuk tidak melakukan hal hal menyimpang sex .
Bisa di lihat dari daerah perkotaan dan di desa sangat beda jauh presentasi tingkat
karakterisknya seseorang tentang HIV-AIDS itu semua di akibatnya tidak dapat pengetahuan
yang seharusnya di dapatkan oleh setiap orang dan agar membentuk karakteristik seseorang
khususnya remaja.

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)
1808  ISSN: 1978 - 0575

References

Belakang, L. (2010). Kesehatan Mental dan Ketahanan pada Anak yang Terkena Dampak HIV /
AIDS : Tinjauan Literatur dan Rekomendasi untuk Penelitian Masa Depan.

Farrell, M. R., Freston, J. A., Fish, P. D., Heath, M. C., & Willis, P. J. (1983). Acquired immune
deficiency syndrome. British Medical Journal (Clinical Research Ed.), 286(6371), 1143.

Fatmawati. (2016). Aborsi Dalam Perspektif Hukum Islam (Meluruskan Problema Perempuan di
Mata Publik). 9(1), 151–163. https://media.neliti.com/media/publications/285765-aborsi-
dalam-perspektif-hukum-islam-melu-1a99d924.pdf

Ford, N., Vitoria, M., Hirnschall, G., & Doherty, M. (2013). Getting to zero HIV deaths: Progress,
challenges and ways forward. Journal of the International AIDS Society, 16, 22–24.
https://doi.org/10.7448/IAS.16.1.18927

Haghgoo, S. M., Joula, H., Mohammadzadeh, R., Sabour, S., Yousefi, R., Ghahramani, G., &
Rahimi, A. A. R. (2015). Epidemiology of HIV/AIDS in the east Azerbaijan Province,
Northwest of Iran. Jundishapur Journal of Microbiology, 8(8), 1–6.
https://doi.org/10.5812/jjm.19766v2

Harli, M., Widjanarko, B., & Agushybana, F. (2019). Persepsi Orang Tua terhadap Pemberian
Imunisasi MR pada Anak Sekolah Dasar Berbasis Agama. Jurnal Promosi Kesehatan
Indonesia, 14(2), 81. https://doi.org/10.14710/jpki.14.2.81-91

Nuraeni, T., Devi Indrawati, N., Rahmawati, A., & Studi Diploma III Kebidanan Fakultas Ilmu
Keperawatan dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Semarang, P. (2010). Sikap
Terhadap Konseling Dan Tes Hiv/Aids Secara Sukarela Di Puskesmas Karangdoro
Semarang.

Octavianty, L., Rahayu, A., Rosadi, D., & Rahman, F. (2015). Pengetahuan, Sikap Dan
Pencegahan Hiv/Aids Pada Ibu Rumah Tangga. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 11(1), 53.
https://doi.org/10.15294/kemas.v11i1.3464

Purnomo, K. I., Murti, B., Suriyasa, P., Program, 1, Magister, S., Keluarga, K., & Uns, P. (2013).
Perbandingan Pengaruh Metode Pendidikan Sebaya Dan Metode Ceramah Terhadap
Pengetahuan Dan Sikap Pengendalian Hiv/Aids Pada Mahasiswa Fakultas Olahraga Dan
Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha. Jurnal Magister Kedokteran Keluarga, 1(1),
49–56. http://jurnal.pasca.uns.ac.id

Purwaningsih, S. S., & Widayatun. (2008). Perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia. Jurnal
Kependudukan Indonesia, 3(2), 11–16.
http://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/view/170/202

Sari, F., Dewi, E. K., & Kahija, Y. F. La. (2015). Makna Perilaku Minum Obat Pada Pasien
Hiv/Aids Rawat Jalan Di Vct Rsup Dr.Kariadi Semarang. Jurnal Psikologi Undip, 13(2),
190–195. https://doi.org/10.14710/jpu.13.2.190-195

Shaluhiyah, Z., Musthofa, S. B., & Widjanarko, B. (2015). Stigma Masyarakat terhadap Orang
dengan HIV/AIDS. Kesmas: National Public Health Journal, 9(4), 333.
https://doi.org/10.21109/kesmas.v9i4.740

Sudikno, Bona Simanungkalit, S. (2011). PENGETAHUAN HIV DAN AIDS PADA REMAJA DI
INDONESIA (Analisis Data Riskesdas 2010). Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol., 1(3),
145–154. https://doi.org/10.1201/b18539

Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat


 1809

Sofia, M. (2015). Peranan Pengetahuan, Keyakinan dan Sikap Mengenai HIV-AIDS terhadap
Perilaku Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013. Jurnal Ipteks Terapan, 8(4),
199–209. https://doi.org/10.22216/jit.2014.v8i4.16

Sugiharto, M., & Budisuari, M. A. (2017). Review of Implementation of Complete Basic


Immunization Performed by Midwifes in Bangkalan District , 2015. Jurnal Kesehatan
Reproduksi, 8(2), 187–202. https://doi.org/10.22435/kespro.v8i2.5533.187-202

Suherlim, R., & Subawa, A. A. N. (2015). Karakteristik Penderita HIV pada Ibu Hamil di Klinik
Prevention Mother to Child Transmission ( PMTCT ) Poli Kebidanan RSUP Sanglah
Denpasar Periode Juli 2013 – Juni 2014 Program Studi Pendidikan Dokter , Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana SMF Patolog. 1, 193–201.
http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/article/view/21924

Superkertia, I. G. M. E., Astuti, I. Wi., & Lestari, M. P. L. (2016). Hubungan antara Tingkat
Spiritualitas dengan Tingkat Kualitas Hidup pada Pasien HIV/AIDS Di Yayasan Spirit
Paramacitta Denpasar. Jurnal Keperawatan Coping NERS, 49–53.
https://ojs.unud.ac.id/index.php/coping/article/view/14077

Sofia, M. (2015). Peranan Pengetahuan, Keyakinan dan Sikap Mengenai HIV-AIDS terhadap
Perilaku Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013. Jurnal Ipteks Terapan, 8(4),
199–209. https://doi.org/10.22216/jit.2014.v8i4.16

Tjolleng, A., Komalig, H. A. ., & Prang, J. D. (2013). Dinamika Perkembangan Hiv/Aids Di


Sulawesi Utara Menggunakan Model Persamaan Diferensial Nonlinear Sir (Susceptible,
Infectious and Recovered). Jurnal Ilmiah Sains, 13(1), 9.
https://doi.org/10.35799/jis.13.1.2013.1802

Uyun, Q., & Siddik, I. N. (2018). Khusnudzon Dan Psychological Well Being Pada Orang
Dengan Hiv/Aids. Psikis: Jurnal Psikologi Islami, 3(2), 86.
https://doi.org/10.19109/psikis.v3i2.1735

Wahyu, S., Taufik, T., & Ilyas, A. (2012). Konsep Diri dan Masalah yang Dialami Orang
Terinfeksi HIV/Aids. Konselor, 1(2), 1–12. https://doi.org/10.24036/0201212695-0-00

Zeth1, A. H. M., Asdie2, A. H., Mukti3, A. G., Mansoden4, J., & 1. (2010). Kecenderungan atau
Sikap Keluarga Penderita Gangguan Jiwa Terhadap Tindakan Pasung (Studi Kasus di
RSJ Amino Gondho Hutomo Semarang). Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, 13(4),
206–219.

Title of manuscript is short and clear, implies research results (First Author)

Anda mungkin juga menyukai