Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGREN PEDIS

DISUSUN OLEH :
FARIDA QONITA
18016

AKADEMI KEPERAWATAN YAPPI SRAGEN


TAHUN PELAJARAN
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGREN PEDIS

A. Konsep Dasar Medik


1. Pengertian

Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya


jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses
nekrosis yang disebabkan oleh infeksi (Sudoyo , 2016)
Ganggren adalah akibat dari kematian sel dalam jumlah besar,
ganggren dapat diklasifikasikan sebagai kering atau basah. Ganggren
kering meluas secara lambat dengan hanya sedikit gejala, ganggren kering
serimh dijumpai di ekstremitas umumnya terjadi akibat hipoksia lama.
Gangren basah adalah suatu daerah dimana terdapat jaringan mati yang
cepat peluasannya, sering ditemukan di organ-organ dalam, dan berkaitan
dengan infasi bakteri kedalam jaringan yang mati tersebut. Ganggren ini
menimbulkan bau yang kuat dan biasanya disertai oleh manifestasi
sistemik. Ganggren basah dapat timbul dari ganggren kering.
Ganggren diabetik adalah nekrosis jaringan pada bagian tubuh
perifer akibat penyakit diabetes mellitus. Biasanya gangren tersebut terjadi
pada daerah tungkai. Keadaan ini ditandai dengan pertukaran sekulitis dan
timbulnya vesikula atau bula yang hemoragik kuman yang biasa
menginfeksi pada gangren diabetik adalah streptococcus (Sjamsu, 2014).
Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-
hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah
sedang atau besar di tungkai. Sudoyo (2016).
Jadi dapat disimpulkan bahwa gangren adalah kematian jaringan,
biasanya berhubungan dengan berhentinya aliran darah ke daerah yang
terkena.
2. Klasifikasi
Smeltzer (2011) membagi gangren diabetik menjadi enam tingkatan,
yaitu :
a. Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan
disertai kelainan bentuk kaki.
b. Derajat I : Ulkus superfisial terbatas pada kulit.
c. Derajat II : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
d. Derajat III : Abses dalam, dengan atau tanda osteomielitis.
e. Derajat IV : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa
selulitis.
f. Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.
Sedangkan Sudoyo (2016) membagi gangren diabetik menjadi dua
golongan :
a. Gangren diabetik akibat Iskemia
Gangren diabetic jenis ini disebabkan penurunan aliran darah ke
tungkai akibat adanya mikroangiopati (aterosklerosis) dari pembuluh
darah besar
di tungkai, terutama di daerah
betis. Gambaran klinis :
1) Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat
2) Pada perabaan terasa dingin
3) Pulsasi pembuluh darah kurang kuat
4) Didapatkan ulkus sampai gangren
b. Gangren diabetik akibat neuropati
Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada gangguan
dari sirkulasi. Klinis dijumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan,
mati rasa, oedem kaki dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.
3. Etiologi
Faktor – faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki
diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen.
a. Faktor endogen :
1) Genetik
2) Metabolik
3) Angiopati diabetik
4) Neuropati diabetik
b. Faktor eksogen :
1) Trauma
2) Infeksi
3) Obat
Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh pada ulkus atau
gangrene kaki diabetik secara garis besar menurut Smeltzer (2011)
dibedakan
menjadi 2 yaitu :
1) Faktor endogen: neuropati, angiopati, menurunnya system imun
2) Faktor eksogen: trauma, dan Infeksi
Berbagai faktor resiko yang dapat mempengaruhi timbulnya
gangren diabetik adalah neuropati, iskemia, dan infeksi Smeltzer (2011).
Iskemia disebabkan karena adanya penurunan aliran darah di tungkai
akibat mikroangiopati (aterosklerosis) dari pembuluh darah besar di
tungkai terutama pembuluh darah di daerah betis. Hal ini disebabkan
karena beberapa faktor resiko lebih banyak dijumpai pada diabetes
mellitus sehingga memperburuk fungsi endotel yang berperan terhadap
terjadinya proses atherosklerosis. Kerusakan endotel ini merangsang
agregasi platelet dan
timbul trombosis, selanjutnya akan terjadi penyempitan pembuluh darah
dan timbul hipoksia. Iskemia atau gangren diabetik dapat terjadi akibat
dari atherosklerosis yang disertai trombosis, pembentukan mikrotrombin
akibat infeksi, kolesterol emboli yang berasal dari plak atheromatous dan
obat – obat vasopressor.
4. Manifestasi Klinis
Ulkus Diabetikum akibat mikriangiopatik disebut juga ulkus panas
walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh
peradangan dan biasanya teraba pulsasi arteri dibagian distal. Proses
mikroangipati menyebabkan sumbatan pembuluh darah, sedangkan secara
akut emboli
memberikan gejala klinis 5 P yaitu :
a. Pain (nyeri).
b. Paleness (kepucatan).
c. Paresthesia (kesemutan).
d. Pulselessness (denyut nadi hilang)
e. Paralysis (lumpuh).
Bila terjadi sumbatan kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola
dari fontaine:
a. Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas (kesemutan).
b. Stadium II : terjadi klaudikasio intermiten.
c. Stadium III : timbul nyeri saat istitrahat.
d. Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia (ulkus)
(Smeltzer 2011).
5. Patway

Intoleransi
aktivitas

Gangguan citra Nyeri


tubuh
6. Patofisiologi
Sebagian besar gambaran patologik dari diabetes mellitus dapat
dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin
berikut:
a. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang
mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200
mg/dl.
b. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang
menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai
dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
c. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.
Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat
mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi
sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang
ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ),
akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat
menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan
diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium,
klorida, potasium, dan pospat.
7. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sudoyo (2016) pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi 4 hal
yaitu :
a. Postprandial
Dilakukan 2 jam setelah makan atau setelah minum. Angka diatas 130
mg/dl mengindikasikan diabetes.
b. Hemoglobin glikosilat: Hb1C adalah sebuah pengukuran untuk menilai
kadar gula darah selama 140 hari terakhir. Angka Hb1C yang
melebihi
6,1% menunjukkan diabetes.
c. Tes toleransi glukosa oral
Setelah berpuasa semalaman kemudian pasien diberi air dengan 75 gr
gula, dan akan diuji selama periode 24 jam. Angka gula darah yang
normal dua jam setelah meminum cairan tersebut harus < dari 140
mg/dl.
d. Tes glukosa darah dengan finger stick, yaitu jari ditusuk dengan sebuah
jarum, sample darah diletakkan pada sebuah strip yang dimasukkan ke
dalam celah pada mesin glukometer, pemeriksaan ini digunakan hanya
untuk memantau kadar glukosa yang dapat dilakukan dirumah.
8. Komplikasi
a. Dry Gangren
Dry Gangren terjadi ketika ada memperlambat atau hambatan dalam
aliran darah ke bagian tubuh seperti jari-jari kaki dan jari-jari.
b. Gangren Basah
Gangren basah terlihat setelah cedera serius atau gigitan embun beku
atau bahkan daerah yang dibakar menjadi terinfeksi dan infeksi masuk
sampai ke dalam jaringan.
c. Gangren Gas
Gangren juga dapat disebabkan oleh bakteri khusus yang disebut
Clostrifium. Ini disebut gangren gas. Ini adalah infeksi umum yang
dilihat selama perang.
d. Gangren Internal
Gangren dapat juga mempengaruhi organ-organ internal ketika lairan
darah ke organ-organ terhalang. Fournier’s Gangren
Ketika ganren mempengaruhi penis dan alat kelamin disebut
Fournier’s gangren.
9. Penatalaksanaan
Pengobatan dan perawatan pengobatan dari gangren diabetik
sangat dipengaruhi oleh derajat dan dalamnya ulkus, apabila dijumpai
ulkus yang dalam harus dilakukan pemeriksaan yang seksama untuk
menentukan kondisi ulkus dan besar kecilnya debridement yang akan
dilakukan.
Dari penatalaksanaan perawatan luka diabetik ada beberapa tujuan
yang ingin dicapai, antara lain :
a. Mengurangi atau menghilangkan faktor penyebab
b. Optimalisasi suanana lingkungan luka dalam kondisi lembab
c. Dukungan kondisi klien atau host (nutrisi, kontrol DM, kontrol faktor
penyerta)
d. Meningkatkan edukasi klien dan
keluarga Perawatan luka diabetik :
a. Mencuci luka
Mencuci luka merupakan hal pokok untuk meningkatkan,
memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka serta
menghindari kemungkinan terjaadinya infeksi. Proses pencucian luka
bertujuan untuk membuang jaringan nekrosis, cairan luka yang
berlebihan, sisa balutan yang digunakan dan sisa metabolik tubuh pada
permukaan luka. Cairan yang terbaik dan teraman untuk mencuci luka
adalah yang non toksik pada proses penyembuhan luka (misalnya
NaCl 0,9%).
b. Debridement
Debridement adalah pembuangan jaringan nekrosis atau slough pada
luka. Debridement dilakukan untuk menghindari terjadinya infeksi
atau selulitis, karena jaringan nekrosis selalu berhubungan dengan
adanya peningkatan jumlah bakteri. Setelah debridement, jumlah
bakteri akan menurun dengan sendirinya yang diikuti dengan
kemampuan tubuh secara efektif melawan infeksi. Secara alami dalam
keadaan lembab tubuh akan membuang sendiri jaringan nekrosis atau
slough yang menempel pada luka (peristiwa autolysis). Terutama untuk
menghindari resiko infeksi. Terapi Antibiotika Pemberian antibiotika
biasanya diberikan peroral yang bersifat menghambat kuman gram
positip dan gram negatip. Apabila tidak dijumpai perbaikan pada luka
tersebut, maka terapi antibiotika dapat diberikan perparenteral yang
sesuai dengan kepekaan kuman. (Corwin, 2014).
c. Nutrisi
Faktor nutrisi merupakan salah satu faktor penting yang berperan
dalam penyembuhan luka. Penderita dengan ganren diabetik biasanya
diberikan diet B1 dengan nilai gizi : yaitu 60% kalori karbohidrat, 20%
kalori
lemak, 20% kalori protein.
d. Pemilihan jenis balutan
Tujuan pemilihan jenis balutan adalah memilih jenis balutan yang
dapat mempertahankan suasana lingkungan luka dalam keadaan
lembab, mempercepat proses penyembuhan hingga 50%, absorbsi
eksudat / cairan luka yanag keluar berlebihan, membuang jaringan
nekrosis / slough (support autolysis ), kontrol terhadap infeksi /
terhindar dari kontaminasi, nyaman digunakan dan menurunkan rasa
sakit saat mengganti balutan dan menurunkan jumlah biaya dan
waktu perawatan (cost effektive). Jenis
balutan: absorbent dressing, hydroactive gel, hydrocoloid. (Corwin, 2014).
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas penderita
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk
rumah sakit dan diagnosa medis.

b. Keluhan Utama
Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang
menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau,
adanya nyeri pada luka.
c. Riwayat kesehatan sekarang :
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri, kesemutan pada
ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan
bola mata cekung. Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah,
kesemutam,
lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
d. Riwayat kesehatan lalu
Biasanya klien DM mempunya riwayat hipertensi, penyakit jantung
seperti Infark Miokard, gout.
e. Riwayat kesehatan keluarga :
Biasanya ada riwayat anggota keluarga yang menderita DM
f. Pengkajian Pola Kesehatan
1) Pola persepsi – penanganan kesehatan
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan
tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang
dampak gangren kaki diabetik sehingga menimbulkan persepsi
yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak
mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, lebih
dari 6 juta dari penderita DM tidak menyadari akan terjadinya
resiko kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi
(Corwin, 2014).
g. Pola nutrisi metabolik
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi
insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga
menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak
minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut
dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme
yang dapat mempengaruhi status kesehatan penderita. Nausea,
vomitus,
berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
h. Pola eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya dieuresis osmotik
yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan oengeluaran
glukosa pada urine (glukosuria). Pada eliminasi alvi relatif tidak
ada
gangguan.
i. Pola aktivitas dan latihan
kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat
dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan
bahkan sampai terjadi koma. Adanya luka gangren dan kelemahan
otot-otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita tidak mampu
melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita
mudah
mengalami kelelahan.
j. Pola tidur dan istirahat
Istirahat tidak efektif adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka
sehingga klien mengalami kesulitan tidur.
k. Pola kognitif persepsi
Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa
pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan
mengalami penurunan, gangguan penglihatan.
l. Pola persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan
penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang
sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan
dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan
gangguan peran pada keluarga (self esteem).
m. Pola peran hubungan
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita
malu dan menarik diri dari pergaulan.
n. Pola seksualitas reproduksi
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ
reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi seks,
gangguan kualitas maupun ereksi, serta memberi dampak pada
proses ejakulasi serta orgasme. Adanya peradangan pada daerah
vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria.
Resiko lebih tinggi terkena kanker prostat berhubungan dengan
nefropati (Corwin, 2014).
o. Pola koping toleransi
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik,
perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi
psikologis yang negatif berupa marah, kecemasan, mudah
tersinggung dan lain- lain, dapat menyebabkan penderita tidak
mampu menggunakan
mekanisme koping konstruktif / adaptif
p. Pola nilai kepercayaan
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh
serta luka pada kaki tidak menghambat penderita dalam
melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah penderita.
q. Pemeriksaan Diagnostik
2) Gula darah meningkat biasanya > 200 mg/dl
3) Aseton plasma (aseton) : positif secara mencolok
4) Osmolaritas serum : meningkat tapi < 330 m osm/lt
5) Gas darah arteri pH rendah dan penurunan HCO3 (asidosis metabolik)
6) Alkalosis respiratorik
7) Trombosit darah : mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis,
hemokonsentrasi, menunjukkan respon terhadap stress/infeksi.
8) Ureum/kreatinin : mungkin meningkat/normal lochidrasi/penurunan
fungsi ginjal.
9) Amilase darah : mungkin meningkat > pankacatitis akut.
10) Insulin darah : mungkin menurun sampai tidak ada (pada tipe I),
normal sampai meningkat pada tipe II yang mengindikasikan
insufisiensi insulin.
11) Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
12) Urine : gula dan aseton positif, BJ dan osmolaritas mungkin
meningkat.
13) Kultur : kemungkinan infeksi pada luka.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan integritas kulit
b. Nyeri
c. Intoleransi aktivitas
d. Gangguan citra tubuh
3. Rencana Asuhan Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN NIC


KRITERIA HASIL
1. Kerusakan NOC : 1) Kaji luas dan
Integritas Kulit Tercapainya proses penyembuhan keadaan luka serta
Definisi : luka. proses penyembuhan.
kerusakan 2) Rawat luka dengan
jaringan epidermis Kriteria Hasil : baik dan
dan dermis a. Berkurangnya oedema sekitar benar :
Data pendukung : luka. Membersihkan luka
- Kerusakan Pus dan jaringan secara aseptik
lapisan kulit berkurang menggunakan larutan
- Gangguan c. Adanya yang tidak iritatif,
permukaan kulit jaringan granulasi. angkat sisa balutan
- Invasi struktur a. Bau busuk luka yang menempel pada
tubuh b. berkurang. luka dan nekrotomi
Outcome jaringan yang mati.
Kontrol resiko
3) Kolaborasi dengan
proses infeksi
dokter untuk
Definisi :
pemberian insulin,
tindakan
pemeriksaan kultur
individu
pus pemeriksaan gula
dalam
darah pemberian anti
mencegah,
biotik
mengurangi
dan
menurunkan
ancaman
infeksi.

2. Ganguan rasa NOC : 1) Kaji tingkat,


nyaman ( nyeri ) Rasa nyeri hilang/ berkurang. frekuensi, dan reaksi
nyeri yang dialami
Definisi : Kriteria hasil : pasien.
Pengalaman a. Klien secara verbal 2) Jelaskan pada
sensorik dan mengatakan nyeri berkurang pasien tentang
emosional yang atau hilang. sebab-sebab timbulnya
tidak b. Klien dapat nyeri.
menyenangkan melakukan metode 3) Atur posisi pasien
yang muncul atau tindakan untuk senyaman mungkin
akibat kerusakan mengatasi nyeri. sesuai keinginan
jaringan yang c. Elspresi wajah pasien.
aktual atau klien rileks. 4) Lakukan massage saat
potensial atau d. Tidak ada keringat rawat
digambarkan dingin, tanda vital luka.
dalam hal dalam batas normal.(S : 36– 5) Kolaborasi dengan
kerusakan 37,5 0C, N: 60– 80 x /menit, dokter untuk
sedemikian rupa. T : 120/80mmHg, RR : pemberian analgesik.
18–20 x /menit).
3. Intoleransi NOC : 1) Mempertimbangkan
aktivitas Outcome : perawatan diri : kebudayaan klien
ADL ketika melakukan
Definisi : ketidak perawatan.
mampuan Kriteria Hasil: 2) Mempertimbangkan
beraktivitas a. Kebersihan mulut usia klien
b. Makan 3) Monitor kemampuan
Data-data c. Pakaian klien untuk perawatn
pendukung : d. Tempat tidur diri mandiri
- Tekanan darah e. Posisi tubuh 4) Monitor kebutuhan
yang tidak f. Berjalan klien
normal ketika terhadap
beraktivitas kebersihan
- Immobility diri,
- Melaporkan pakaian,dan
adanya makan
kelemahan 5) Beri dukungan hingga
- Melaporkan klien
adanya kelelahan mampu melakukan
aktivitas sendiri
6) Dorong pasien untuk
menunjukka
n aktivitas
keseharian
yang normal
7) Kaji
kebutuha
n yang
memerlukan
bantuan
8) Bina aktivitas
keseharian klien
sehari hari
4. Gangguan citra NOC : 1) Kaji
tubuh Body Image Self esteem perasaan/persepsi
pasien tentang
Definisi : Kriteria Hasil : perubahan gambaran
Konfusi dalam a. Berinteraksi dan beradaptasi diri berhubungan
gambaran mental dengan lingkungan. dengan keadaan
tentang diri-fisik b. Tanpa rasa malu anggota tubuhnya
individu dan rendah diri. yang kurang
c. Yakin akan kemampuan berfungsi secara
yang dimiliki. normal.
2) Lakukan pendekatan
dan bina
hubungan saling
percaya dengan
pasien.
3) Tunjukkan rasa
empati, perhatian
dan penerimaan pada
pasien.
4) Bantu pasien untuk
mengadakan
hubungan dengan
orang lain.
5) Beri kesempatan
kepada pasien
untuk
mengekspresikan
perasaan kehilangan.
6) Beri dorongan pasien
untuk
berpartisipasi dalam
perawatan
diri dan hargai
pemecahan
masalah yang
konstruktif dari pasien
DAFTAR PUSTAKA

Sjamsu Hidayat R. De Jong Wim 2014, Buku Ajar Ilmu Bedah, Ediasi 2 Jakarta, EGC

DT : Smeltzer C Suzanne, 2011, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Jakarta, EGC

Corwin, Elizabeth. J, 2014, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta, EGC

Sudoyo, Aru.W, dkk, 2016, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jakarta, FKUI