Anda di halaman 1dari 8

BAB II

A. PERLAWANAN RAKYAT MALUKU

     Terjadi di Tidore


1)  Perlawanan di Ternate
Pertama pada tahun 1635 yang dipimpin oleh Kakiali. 1646 kembali terjadi perlawanan
rakyat Ternate terhadap VOC, yang dipimpin oleh Telukabesi. Pada tahun 1650, rakyat Ternate
yang dipimpin oleh Saidi mengalami kegagalan.
2)  Perlawanan di Tidore
Tidore dipimpin oleh Kaicil Nuku  atau Sultan Nuku.  Perlawanan fisik dan
perundingan berhasil mengusir Belanda, mengusir Kolonial Inggris dari Tidore.
3)  Perlawanan oleh Patimura
Bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin oleh
Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Benteng kompeni Duurstede  di Saparua diserbu
dan direbut rakyat Maluku. Meluas hingga ke Ambon dan ke pulau–pulau sekitarnya, dikuasai
oleh Kapitan Pattimura, Anthony Rybok, Paulus-paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu,
Latumahina, Said Perintah dan Thomas Pattiwael, kewalahan perlawanan rakyat Pattimura pada
tahun 1817 mendantangkan pasukan Kompeni dari Ambon yang dipimpin oleh kapten Lisnet.
Oktober 1817, menyerang rakyat Maluku secara besar-besaran, menangkap Kapitan
Pattimura (tahun 1817) dihukum mati pada tanggal 16 Desember 1817.

B. Perang Padri (1821-1837)

Terjadi di Sumatera Barat atau di tanah Minangkabau. Perselisihan antara kaum Padri
dengan kaum Adat yang kemudian mengundang campur tangan pihak Belanda.
Perang Padri pertama (tahun 1821-1825) dan perang Padri kedua (tahun 1830-1837)
1) Perang Padri Pertama
Di kota Lawas, berkembang ke daerah lainnya seperti Alahan Panjang. Kaum Padri dipimpi
oleh Datok Bandaro bertempur melawan kaum Adat yang dipimpin oleh Datuk Jati. Setelah
Datuk Bandaro meninggal dunia, pucuk pimpinan dipegang oleh Malim Basa (Tuanku Imam
Bonjol) dan dibantu oleh Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Nan Cerdik, dan
Tuanku Nan Gapuk. Tahun 1821, kaum Padri menyerbu pos Belanda di semawang dan
mengacaukan kedudukan Belanda di daerah Lintau. Belanda membangun benteng namaFirt van
der Capllen. Tahun 1822 didaerah Baso terjadi pertempuran antara Pasukan Padri yang dipimpin
oleh Tuanku Nan Renceh. 1823 terjadipertempuran lagi di Bonio dan Agam. Belanda dapat
merebut benteng pertahanan kaum Padri. 1825, kedudukan Belanda mulai sulit karena harus
berhadapan dengan kaum Padri dan juga harus menghadapi pasukan Diponegoro.
November 1825, Belanda dan Kaum Padri menandatangani perjanjian damai yang berisi tentang
pengakuan Belanda atas beberapa daerah sebagai wilayah kaum Padri dan untuk sementara
peperangan gelombang pertama berakhir.
Perang padri kedua :

Adat mulai banyak membantu kaum Padri dan kedua kaum tersebut menyadari bahwa perlunya
kerja sama. Perang antara rakyat Minangkabau melawan penjajah Belanda.
1831, penyerangan terhadap belanda di daerah Muarapalam. 1832, dipimpin oleh Tuanku Nan
Cerdik dan Tuanku Imam Bonjol melakukan penyerangan pos Belanda di Mangopo. 1833,
terjadi pertempuran besar di daerah Agam. 1834 hingga tahun 1835, pemerintah Belanda mulai
mengepung benteng Bonjol. Tahun 1837, pasukan Belanda melakukan penyerangan terhadap
benteng Bonjol. Pada tanggal 25 Oktkober 1837, benteng pertahanan Kota Bonjol jatuh ke
tangan Belanda. Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, kemudian dipindahkan ke Minahasa hingga
wafat dann dimakamkan di Pineleng.

C.PERANG DIPONEGORO

Di lingkungan istana terdapat golongan yang memihak Belanda, banyak juga yang menentang
Kolonial Belanda, seperti Pangeran Diponegoro (putra Sultan Hamengku Buwono III).
Kecurigaan yang berlebihan ini pada akhirnya menimbulkan permusuhan dan peperangan yang
disebut perang Diponegoro.

1)  Penyebab Umum Perang Diponegoro


a. Semakin menderitanya rakyat akibat kerja rodi dan berbagai macam pajak
b. Semakin sempitnya wilayah Kerajaan Mataram akibat dikuasai Belanda.
c. Selalu ikut campurnya Belanda dalam urusan pemerintahan Kerajaan
Mataram.
d. Masuknya budaya barat ke dalam keraton yang bertentangan dengan ajaran
agama.
e.  Kecewanya kaum bangsawan akan aturan Van der Capellen yang melarang
usaha perkebunan swasta di wilayah Kerajaan Mataram.
f.  Munculnya pejabat Kerajaan Mataram yang membantu pihak Belanda demi
keuntungan pribadi.
2) Penyebab Khusus Perang Diponegoro
Dipengaruhi oleh persoalan pribadi. Terjadi pada tahun 1825, tindakan sewenang-wenang
Belanda yang telah memasang tonggak untuk membangun jalan raya yang melintasi makam
leluhur Pangeran Diponegoro tanpa izin. Perang antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda
dibantu oleh Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, dan Kesultanan Yogyakarta.
Menggungakann strategi atau siasat perang gerilya, pusat pertahanan yang selalu berpindah-
pindah seperti di Gua Selarong, Dekso, lereng Gunung Merapi, dan Bagelan(Purworejo).
Terbukti bahwa pada tahun 1825 sampai 1826, pasukan diponegoro memperoleh kemenangan
hingga dapat merebut daerah Pacitan, Purwodadi, dan Klaten.
Penggungaan sistem Benteng Stelsel oleh Belanda mempersulit pergerakan pasukan Diponegoro
dan hubungan komunikasi antar pasukan. Pada tahun 1828, Kiai Mojo bersedia untuk diajak
berunding oleh pihak Belanda namun gagal dan justru ia ditangkap dan diasingkan ke Minahasa
sampai wafat pada tahun 1849. Jendral De Kock mengajak berunding Sentot Alibasa
Prawirodirjo, Tetapi selalu mengalami kegagalan. Pada tahun 1829, Sentot Alibasa
Prawirodirjo menyerah, ia dituduh memihak kaum Padri sehingga akhirnya ia diasingkan ke
Cianjur dan kemudian  dipindahkan ke Bengkulu hingga wafat pada tahun 1855.
Pangeran Mangkubumi menyerah pada tahun 1829 dan putranya sendiri yang bernama
Dipokusumo beserta patihnya menyerah pula pada tahun 1830. Jendral de kock ditanggapi
positif oleh Pangeran Diponegoro dan disepakati bersama bahwa perundingan akan dilaksanakan
pada tanggal 28 Maret 1830 di kota Magelang. Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dan
Batavia kemudian diasingkan lagi ke Manado. Ia kembali dipindahkan ke Makassar hingga wafat
pada tanggal 8 januari 1855

D. Perlawanan rakyat Aceh (1873-1904)

Aceh merupakan salah satu kerajaan di Indonesia yang kuat dan masih tetap bertahan hinga
abad ke-19. berdasarkanTraktat London tahun 1824 bangsa Inggris dan Belanda yang sudah
pernah berkuasa di Indonesia harus saling sepakat untuk menghormati keberadaan kerajaan
Aceh.
Berdasarkan Perjanjian (Taktat) Sumatera tahun 1871 atau yang lebih dikenal dengan Traktat
London ke-3, pihak Inggris melepas tuntutannya terhadap daerah Aceh. Kerajaan Aceh berusaha
mencari bantuan ke Turki serta menghubungi Kedutaan Italia dan Kedutaan Amerika Serikat di
Singapura. Sementara bantuan dari Turki belum datang, pada bulan Maret 1873, perangnya ke
Kutaraja atau Banda Aceh di bawah pimpinan Jendral Kohler, berusaha merebut dan
menduduki ibu kota dan Istana Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh berhasil, tetapi dalam
pertempuran tersebut Jendral Kohler  tewas tertembak. Mengawali terjadinya perang Aceh
yang berkepanjangan mulai tahun 1873 sampai 1904. pasukan Belanda melaksanakan operasi
Konsentrasi Stelsel sambil menggertak para pemimpin Aceh agar menyerah. Beberapa pimpinan
utama Aceh seperti Teuku Cik Di Tiro, Cut Nya’ Din, Panglima Polim, dan Cut Meutia
(bersama-sama dengan rakyat Aceh) untuk melancarkan serangan umum.
Pada bulan Desember 1873, Belanda mengirim pasukan perang ke Aceh dengan kekuatan 8.000
personil dibawah pimpinan Mayor Jendral Van Swiesten. Akan tetapi upaya Belanda untuk
menawan Sultan Mahmud Syah belum berhasil karena Sultan beserta para pejabat kerajaan
telah menyingkir ke Luengbata. Setelah Sultan Mahmud Syah meninggal karena sakit, ia
digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad Daudsyah.
Setelah Teuku Cik Di Tiro  sebagai pemimpin utama Aceh Wafat. Pucuk pimpinan dilanjutkan
oleh Teuku Umar dan Panglima Polim. Pada tahun 1893, Teuku Umar beserta pasukannya
memanfatkan kelengahan Belanda dengan tujuan mendapatkan senjata. Disambut baik dan
mendapat gelar Teuku Johan pahlawan. Pada tahun 1896, Teuku Umar bergabung kembali
dengan rakyat Aceh dengan membangun markas pertahanan Meulaboh.
Peristiwa Teuku Umar yang berhasil menyiasati Belanda dipandang sebagai kesalahan besar
Deykerhoff sebagai gubernur militer. Digantikan oleh Jendral Van Heutsz. Belanda memeberi
tugas kepada Dr. Snock Hurgronje  untuk menyelidiki perilaku masyarakat Aceh. Dr. Snock
Hurgronje dalam menjalankan tugasnya menggunakan nama smaran, yaitu Abdul gafar.
Untuk mengalahkan Aceh, lebih cepat dan tepat, Belanda menggunakan Strategi sebagai
berikut :
1.  menghancurkan dan menangkap seluruh  pemimpin dan ulama dari pusat
2.  membentuk pasukan gerak cepat (marschose marechausse)
3.  semua pemimpin dan ulama yang tertangkap harus menandatangani perjanjian
4.  setelah melakukan operasi militer, Belanda mengikuti kegiatan perdamaian
rehabilitasi (pasifikasi)
5.  bersikap lunak terhadap para bangsawan.
Atas usulan Dr. Snock Hurgronje, pemerintah Belanda memberi tugas kepda Jendral militer
Van Heutsz. Pada tahun 1899, pasukan gerak cepat pimpinanVan Heutsz, is gugur pada tahun
1899. dilanjutkan oleh istrinya Cut Nya’ Din, tetapi kemudian tertangkap dan diasingkan ke
Sumedang hingga akhir hayatnya.
Belanda menyandera keluarga raja dan keluarga Panglima Polim. Perlawanan Aceh berikutnya
dilanjutkan oleh Cut Meutia, tetapi perlawanan ini dapat dipadamkan dan pada tahun 1904
perang Aceh dinyatakan berakhir.
PERJUANGAN PAHLAWAN DALAM MERAIH
KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar belakang


Hingga saat ini mungkin jarang orang yang ingat tentang terbentuknya Negara Indonesia.
Sejarah merupakan hal yang penting bagi suatu Negara. Kata bung Karno bangsa yang besar
yaitu bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah atau sering kita kenal dengan ‘ JAS MERAH”
yang artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jadi, betapa pentingnya sejarah itu bagi
kemajuan suatu bangsa. Jika suatu negara ingin maju janganlah pernah melupakan sejarah
bagaimana Negara itu berdiri, di renungkan, di ingat, di pahami, dikoreksi dan selanjutnya kita
praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita sebagai Warga Negara Indonesia seharusnya mengetahui seluk beluk bagaimana
Negara Indonesia itu berdiri, dengan peristiwa apa Indonesia bisa berdiri. Selain kita mengetahui
sejarahnya kita juga harus tahu bagaimana para pahlawan terdahulu, mereka kerja keras melawan
penjajah melakukan pertempuran dengan penjajah. Semua itu dilakukan hanya untuk satu tujuan
yaitu KEMERDEKAAN INDONESIA.

B.     Rumusan Masalah


1.      Apa itu kemerdekaan ?
2.      Apa tujuan penjajah terhadap bangsa indonesia ?
3.      Usaha apa saja yang dilakukan rakyat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan?
4.      Bagaimana solusi yang tepat agar generasi muda mengetahui Sejarah Negara Indonesia?
C.     Tujuan Pembahasan
Dengan adanya pembahasan ini, diharapkan kita sebagai mahasiswa dapat memahami
dan mengerti terbentuknya bangsa Indonesia sehingga dalam diri kita tertanam jiwa para
pahlawan yang menyumbangkan hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia tercinta.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengerian Kemerdekaan


Merdeka adalah bebas dari segala belenggu (kekangan), aturan, dan kekuasaan dari pihak
tertentu. Merdeka merupakan sebuah kebebasan bagi makhluk hidup untuk mendapatkan hak
berbuat sekehendaknya. Misalnya seekor burung yang terlepas dari sangkar, maka burung
tersebut merdeka, karena dia bisa pergi kemanapun dan berbuat sesukanya. Dalam sebuah
negara, merdeka berarti bebas dari belenggu, kekuasaan dan aturan penjajah. Merdeka seperti ini
terbagi dua macam. Pertama adalah merdeka tanpa syarat dan kedua adalah merdeka bersyarat.

1.         Merdeka Tanpa Syarat


                                
Merdeka Tanpa Syarat adalah merdeka secara mutlak (penuh) dan tidak dibatasi oleh
syarat atau aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh negara bekas penjajahnya. Misalnya,
Indonesia merdeka tanpa syarat dari Belanda (walaupun ada sedikit persyaratan seperti hak-hak
kewarganegaraan bagi bekas-bekas stafnya dahulu, dan sejenisnya). Indonesia bebas
menentukan, memutuskan, ataupun melakukan apa saja terhadap dirinya tanpa dibatasi oleh
aturan yang dibuat oleh Belanda.Merdeka tanpa syarat biasanya diperoleh dari perjuangan
bangsa itu sendiri dan bukan pemberian dari penjajah maupun pemberian negara lain.

2.         Merdeka Bersyarat


                                
Merdeka bersyarat adalah merdeka namun masih dibatasi oleh syarat atau aturan-aturan
tertentu yang dibuat oleh negara bekas penjajahnya. Negara yang merdeka bersyarat bebas
menentukan, memutuskan, ataupun melakukan apa saja asalkan tidak melanggar aturan-aturan
tertentu yang dibuat oleh negara bekas penjajahnya tersebut. Merdeka bersyarat ini biasanya
diberikan oleh penjajah setelah melalui perundingan-perundingan yang dilakukan sebelumnya.
Negara yang memperoleh kemerdekaan bersyarat biasanya akan didikte dan selalu meminta ijin
kepada negara bekas penjajahnya jika hendak memutuskan maupun melakukan apapun
berdasarkan aturan-aturan tertentu yang dibuat oleh negara bekas p trgh enjajahnya. Namun jika
ada gangguan maupun permasalahan yang muncul di negara tersebut, biasanya negara bekas
penjajahnya akan turun tangan untuk membantu
B.     Tujuan Penjajah Terhadap Bangsa Indonesia
Pada awalnya, tujuan kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia hanya untuk membeli
rempah-rempah dari para petani Indonesia. Namun, dengan semakin meningkatnya kebutuhan
industri di Eropa akan rempah-rempah, mereka kemudian mengklaim daerah-daerah yang
mereka kunjungi sebagai daerah kekuasaannya. Di tempat-tempat ini, bangsa Eropa memonopoli
perdagangan rempah-rempah dan mengeruk kekayaan alam sebanyak mungkin. Dengan
memonopoli perdagangan rempah-rempah, bangsa Eropa menjadi satu-satunya pembeli bahan-
bahan ini. Akibatnya, harga bahan-bahan ini pun sangat ditentukan oleh mereka. Untuk
memperoleh hak monopoli perdagangan ini, bangsa Eropa tidak jarang melakukan pemaksaan.
Penguasaan sering dilakukan terhadap para penguasa setempat melalui suatu perjanjian yang
umumnya menguntungkan bangsa Eropa. Selain itu, mereka selalu turut campur dalam urusan
politik suatu daerah. Bangsa Eropa tidak jarang mengadu domba berbagai kelompok masyarakat
dan kemudian mendukung salah satunya. Dengan cara seperti ini, mereka dengan mudah dapat
mempengaruhi penguasa untuk memberikan hak-hak istimewa dalam berdagang.
Secara garis besar, kedatangan bangsa penjajah ke Indonesia dilandasi
keinginan mereka untuk:
                                      1.         Mencari kekayaan
                                      2.         Menunjukan jiwa penjelajah
                                      3.         Meyakini Keberadaan Prestor John
                                      4.         Menyebarkan agama
                                      5.         Mencari kehormatan negaranya
Sejak abad ke-13, rempah-rempah memang merupakan bahan dagang yang sangat
menguntungkan. Hal ini mendorong orang-orang Eropa berusaha mencari harta kekayaan ini
sekalipun menjelajah semudera. Keinginan ini diperkuat dengan adanya jiwa penjelajah. Bangsa
Eropa dikenal sebagai bangsa penjelajah, terutama untuk menemukan daerah-daerah baru.
Mereka berlomba-lomba meninggalkan Eropa. Mereka yakin bahwa jika berlayar ke satu arah,
maka mereka akan kembali ke tempat semula. Selain itu, orang-orang Eropa yakin bahwa di luar
Eropa ada Prestor John (kerajaan dan penduduknya beragama Kristen). Oleh karena itu, mereka
berani berlayar jauh. Mereka yakin akan bertemu dengan orang-orang seagama.
Di luar faktor yang disebutkan di atas, orang-orang Eropa yang sebagian besar beragama
Kristen terdorong pula untuk pergi ke mana pun guna mewartakan Injil (Gospel). Selain
menyebarkan Injil, mereka juga berusaha mencari kekayaan (Gold) dan kebanggaan serta
kejayaan (Glory) bagi negara.

BAB III
KESIPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Perjuangan rakyat indonesia sangatlah berat mulai dari zaman kerajaan samapai
datangnya beberapa penjajah yang membelenggu bangsa Indonesia berabad-abad, dan akhirnya
karena kegigihan pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka.

B.     Saran
Ingatlah darah-darah yang bertumpahan di tanah air ini demi mempertahankan kehormatan dan
memperjuangkan kemerdekaan. Oleh karena itu kita tanamkan jiwa pejuang terdahu yang
mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan indonesia sehingga kita dapat meneruskan
perjuangannya untuk membawah Indonesia menjadi negara yang mampu melahirkan generasi
emas.