Anda di halaman 1dari 18

TUGAS RUTIN 5

EKONOMI PENDIDIKAN

DISUSUN OLEH :
FITRI ANNISA HARAHAP
NIM. 8196166002

PROGRAM MAGISTER

PENDIDIKAN EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
PRODUKTIVITAS PENDIDIKAN

Kata produktivitas berasal dari bahasa Inggris yakni productivity. Kata itu merupakan
gabungan dari dua kata yaitu product dan activity. Secara sederhana, kata itu diartikan sebagai
kegiatan untuk menghasilkan sesuatu, baik berupa barang maupun  jasa, yang lebih tinggi atau
lebih banyak. Akan tetapi pengertian produktivitas tidak sesederhana itu.  Para ahli dan institusi
banyak mendefinisikan produktvitas dengan berbagai definisi. Masing-masing mendefinisikan
sesuai dengan sudut pandang yang berbeda.
Sebagai salah satu alat manajemen dalam melakukan perbaikan, produktivitas digunakan
dalam segala aspek kehidupan. Baik dalam proses produksi barang maupun jasa. Upaya
perbaikan dari suatu aktivitas akan dicirikan dengan meningkatnya produktivitas.
Hanya saja, parameter pengukuran produktivitas berbeda-beda antara satu aktivitas dengan
aktivitas lainnya. Pengukuran produktivitas produksi barang berbeda dengan jasa. Tidak
terkecuali di bidang pendidikan. Bagaimana mengukur produktivitas di bidang pendidikan,
adalah hal yang sangat penting, untuk mengetahui kualitas pendidikan di Tanah Air.

A. Konsep Produktivitas Dibidang Pendidikan


 Pengertian Produktivitas
Kata produktivitas didefinisikan secara beragam baik  oleh para ahli maupun oleh
lembaga atau  institusi. Di antara definisi yang banyak dikemukakan dalam berbagai
publikasi adalah sebagai berikut:
    Menurut Dewan Produktivitas Nasional mendefinisikan produktivitas dalam tiga segi
yakni psikologis, ekonomis, dan teknis.
Secara psikologis, produktivitas adalah “sikap mental yang selalu mempunyai pandangan
bahwa kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik
dari hari ini”.
Secara ekonomis, produktivitas adalah “usaha memperoleh hasil (output) sebesar-
besarnya dengan pengorbanan sumber daya (input) yang sekecil-kecilnya.
Secara teknis, produktivitas diformulasikan sebagai rasio output terhadap input.
 International Labour Organization (ILO) mendefinisikan produktivitas sebagai: “hasil
integrasi empat elemen utama, yaitu tanah (bangunan), modal, tenaga kerja, dan
organisasi”.
 Peter Drucker mendefinisikan produktivitas sebagai “Keseimbangan antara seluruh
faktor-faktor produksi yang memberikan keluaran yang lebih banyak melalui
penggunaan sumber daya yang lebih sedikit”.
 Sedangkan Sinungan menjelaskan produktivitas dalam beberapa kelompok sebagai
berikut :

1. Rumusan tradisional bagi keseluruhan produksi tidak lain adalah ratio apa yang
dihasilkan (output) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang digunakan.

2. Produktivitas pada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu mempunyai
pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin dan hari
esok lebih baik dari hari ini.

3. Produktivitas merupakan interaksi terpadu serasi dari tiga faktor esensial, yakni :
Investasi termasuk pengetahuan dan tekhnologi serta riset, manajemen dan tenaga
kerja.

Secara umum produktivitas merupakan perbandingan dari dua unsur yakni “hasil yang
dicapai” dan “keseluruhan sumber daya yang digunakan”. Secara sederhana dapat
digambarkan dengan\ notasi sebagai berikut:

                                   Jumlah Keluaran


Produktivitas   =
                                   Jumlah Masukan

Yang menjadi fokus kemudian apa saja yang menjadi keluaran dan masukan dari
sebuah aktivitas.  Keluaran dari produksi barang misalnya jumlah barang yang dihasilkan
dalam periode waktu tertentu. Sedangkan masukannya adalah jumlah tenaga kerja, bahan
baku, serta sarana pendukung. Jadi, “keluaran” yang dimaksud akan berbeda antara satu
aktivitas dengan aktivitas lain. Demikian pula “masukan”. Oleh karena itu sangat penting
untuk mengetahui bagaimana mengukur  produktivitas sebuah aktivitas.
Demikian pula halnya dengan menilai produktivitas sekolah. Misalnya yang menjadi
acuan menilai produktivitas sekolah adalah “jumlah lulusan yang banyak”, maka ketika kita
akan mengitung produktivitasnya, kita perlu mengetahui jumlah siswa yang masuk k
sekolah tersebut dan kemudian akhirnya berhasil lulus/ tamat dari sekolah tersebut. Misalkan
pada SMP x jumlah siswa yang mendaftar pada tahun ajaran 2011/2012 sejumlah 100 orang
siswa (masukan), sedangkan siswa yang berhasil tamat pada angkatan tersebut adalah
sebanyak 80 orang siswa (keluaran), maka dapat kita hitung produktivitasnya sebagai
berikut:
               80
Produktivitas   = = 0,8
                100

Dari perhitungan produktivitas di atas diketahui bahwa produktivitas SMP x adalah


sebesar 0,8 yang jika dipersentasekan sebesar 80 %. Produktivitas SMP x termasuk tinggi
karena berhasil meluluskan 80% siswanya.

 Mengukur Produktivitas
Produktivitas merupakan alat manajemen yang penting dalam segala aktivitas.
Pengukuran produktivitas diperlukan untuk menentukan perubahan pelayanan ke arah yang
lebih efektif dan efisien. Pengukuran produktivitas dapat dilakukan baik terhadap individu
maupun terhadap institusi.
Dalam prakteknya, mengukur produktivitas tidaklah semudah membagi antara jumlah
keluaran dan jumlah masukan. Mengapa? Karena keluaran dan masukan yang dimaksud
belum tentu mudah diukur. Dalam produksi barang, mungkin masih bisa diukur berapa
jumlah bahan baku dan berapa jumlah produk yang dihasilkan. Tapi bagaimana untuk
bidang jasa? Tentu indikatornya makin kompleks.
Secara lebih rinci, pengukuran produktivitas dapat dilakukan melalui dua parameter
utama, yakni efektifitas dan efisiensi. Produktivitas makin tinggi manakala aktivitas makin
efektif dan makin efisien. Apa perbedaan antara efektif dan efisien, dapat dijelaskan dalam
analogi sebagai berikut: efektif adalah melakukan hal yang benar (do the right things),
sedangkan efisien adalah melakukan satu hal dengan cara yang benar (do the things right).

 Konsep Produktivitas Bidang Pendidikan


Seperti halnya definisi produktivitas secara umum, produktivitas pendidikan mengacu
pada pengertian umum, hanya saja konteksnya dalam bidang pendidikan. Alumni IKIP
Bandung mendefinisikan produktivitas pendidikan sebagai “Ukuran yang menerangkan
bagaimana sumber-sumber yang ada diatur dan digunakan untuk mencapai serangkaian hasil
pendidikan dengan menggunakan sumber-sumber yang sekecil mungkin. Rasio antara
masukan dan keluaran seimbang yang menggambarkan kombinasi dari pada efektivitas dan
efisiensi”.
Pengertian produktivitas dalam pendidikan juga mengacu pada dua unsur yakni “hasil
yang dicapai dari proses pendidikan” dan “keseluruhan sumber daya yang digunakan untuk
terlaksananya proses pendidikan”. Hasil yang dicapai dapat merujuk pada tujuan pendidikan
itu sendiri. Apa sebenarnya yang menjadi tujuan pendidikan itu sendiri.
Untuk memberi gambaran produktivitas dalam pendidikan dapat dilihat dari analogi
tentang kegiatan pelatihan membuat tempe. Mana yang akan dijadikan acuan untuk menilai
produktivitas pelatihan tersebut, apakah “dapat menyelesaikan pelatihan membuat tempe”,
atau “lulusan pelatihan mampu membuat tempe”.  
Demikian pula halnya dengan menilai produktivitas sekolah. Mana yang menjadi
acuan menilai produktivitas sekolah, apakah “jumlah lulusan yang banyak”, atau “lulusan
yang perilakunya berubah menjadi lebih baik”. Ini hal yang tidak sederhana. Oleh karena itu,
dalam mengukur produktivitas sekolah perlu parameter yang jelas dan rinci. Parameter ini
diperlukan agar ukuran produktiviitas dapat sejalan dengan tujuan aktivitas dilakukan.
B. Mengukur Produktivitas Pendidikan

Seperti halnya mengukur produktivitas umumnya, mengukur produktivitas pendidikan


dapat dilihat dari dua parameter yakni efektivitas dan efisiensi.
 Efektivitas
Ukuran efektif  dalam bidang pendidikan dapat dilihat dari berbagai parameter prestasi
yang dapat dicapai, yakni:
     Input banyak dan merata. Efektivitas pendidikan dapat dilihat dari jumlah input
yang banyak. Maknanya, masyarakat membutuhkan layanan pendidikan teresebut.  
     Output banyak dan berkualitas. Efektivitas pendidikan dapat dilihat dari jumlah
output yang banyak yang berkaulitas. Jumlah banyak saja tidak cukup.  
     Relevansi dan manfaat. Apakah pendidikan yang dilakukan relevan dengan
kebutuhan dan memberi manfaat.
     Kemandirian. Makin mandiri sebuah proses pendidikan, makin efektif. Mengapa?
Karena proses pendidikan tidak tergantung pada pihak manapun.

 Efisiensi
Ukuran efisien dalam bidang pendidikan dapat dilihat dari berbagai parameter
suasana dari proses pendidikan, yakni:
       Waktu / biaya sedikit. Makin singkat waktu yang dibutuhkan untuk proses
pendidikan dan biaya sedikit maka proses pendidikan makin efisien.
      Etos kerja yang tinggi. Etos kerja yang tinggi di kalangan pengelola pendidikan,
maka proses pendidikan makin efisien.
      Komitmen tinggi. Demikian pula komitmen yang tinggi dari pengelola pendidikan,
maka kegiatan pendidikan makin baik.
      Dipercaya banyak pihak. Yang tak kalah penting, lembaga pendidikan dikatakan
efisien apabila mendapat kepercayaan dari banyak pihak.
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Pendidikan

Produktivitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat


kompleks dan sangat erat kaitannya satu sama lain. Depdikbud ( 1998 ) mengemukakan
beberapa faktor yang perlu di perhatikan antara lain :
a) Faktor-faktor yang berhubungan dengan organisasi dan manajemen ; yakni kegiatan-
kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah dan
faktor-faktor yang tidak langsung berhubungan dengan proses pendidikan tersebut.
b) Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepala sekolah, hal ini meliputi kegiatan-
kegiatan yang bermanfaat untuk kelancaran pendidikan atau sekolah antara lain
manajemen perkantoran,kepegawaian,keuangan,kurikulum dan pengajaran dan
sebagainya.
c) Faktor-faktor yang berhubungan dengan guru, meliputi tanggungjawab  guru atas
pekerjaan dalam melaksanakan tugas pengajaran serta usaha bimbingan bagi peserta
didik.
d) Faktor-faktor yang berhubungan dengan anggaran pendidikan, meliputi usaha
pendayagunaan anggaran, baik anggaran rutin maupun anggaran pembangunan yang
menunjang kelancaran penyelengaraan pendidikan di sekolah.
e) Faktor-faktor yang berhubungan dengan lingkungan sekolah, hal ini berhubungan
dengan faktor-faktor eksternal seperti, letak geografis sekolah, struktur dan tingkat
pendidikan masyarakat.
f) Faktor-faktor berhubungan dengan pengawasan dan pengendalian, hal ini berkaitan
dengan pengawasan melekat dari para pemimpin sebagai penunjang pengawasan
fungsional yang merupakan tindakan efektif apabila dilaksanakan secara sistematik,
sistematis dan berencana.
g) Faktor-faktor yang berhubungan dengan disiplin nasional sebagai kunci keberhasilan
dalam pengelolaan. Hakekat disiplin disini tidak lain adalah kepatuhan terhadap norma
yang disepakati dalam suatu sistem.
Jika  faktor produktivitas diatas dihubungkan dengan MBS, dapat dikemukakan bahwa
karakteristik umum sekolah yang produktif dapat di lihat dari bentuk dan sifat organisasi
sekolah tersebut. Hal tersebut antara lain berupa peningkatan jumlah dan kwalitas 
kemampuan yang di miliki oleh peserta didik setelah mengikuti pembelajaran. Untuk
mendorong sekolah yang produktif perlu diperhatikan berbagai faktor yang memiliki
pengaruh terhadap tinggi rendahnya produktifitas, seperti moral, etika kerja, motivasi,
jaminan sosial, sikap, disiplin, kesehatan, kesempatan berprestasi, lingkungan dan suasana
kerja teknologi, kebijakan pemerintah dan besarnya pendapatan, serta sarana produksi.
Faktor-faktor tersebut harus senantiasa di perhatikan dalam MBS untuk menghasilkan
sekolah yang produktif, efektif, dan efisien.
D. Fungsi Produktivitas Pendidikan

Allan Thomas  menyoroti produktivitas pendidikan dalam tiga fungsi penting. Yakni,
fungsi administrasi, psikologi, dan ekonomi.
 Fungsi Produksi Administrasi
Merupakan fungsi manajerial yang berkaitan dengan berbaga pelayanan untuk memenuhi
kebutuhan siswa  dan guru. Yang menjadi masukan di sini adalah ruang belajar,
perlengkapan mengajar, sumber belajar, dan  kualifikasi pengajaran yang memungkinakn
pembelajaran dapat berlansgung dengan baik. Sedangkan keluarannya dapat berupa lama
waktu belajar.
 Fungsi Produksi Psikologi
Merupakan fungsi produksi pendidikan yang menunjuk pada fungsi layanan yang dapat
mengubah perilaku peserta didik. Masukannya dapat berupa waktu mengajar, kualitas
mengajar, sikap dan perilaku guru, serta fasilitas yang digunakan. Keluarannya berupa
perubahan perlaku siswa.
 Fungsi Produksi Ekonomi
Merupakan produksi yang terkait dengan perhitungan ekonomi dalam proses pendidikan.
Masukannya berupa biaya pendidikan dan biaya lain yang terait langsung atau tidak
langsung. Sedangkan keluarannya adalah kompetensi yang relevand engan dunia kerja
yang bisa mendapatkan penghasilan tinggi dan mampu hidup mandiri.
E. Strategi Peningkatan Produktivitas Pendidikan

Bagaimana meningkatkan produktivitas pendidikan? Ini adalah pertanyaan yang


sangat penting untuk mendapat penjelasan. Mengapa? Karena lembaga pendidikan di
manapun menginginkan produktivitasnya meningkat dari waktu ke waktu. Hanya saja,
persoalan yang dihadapi setiap lembaga pendidikan berbeda-beda, sehingga upaya untuk
meningkatkan produktivitas juga berlainan.
Berikut beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas
dalam bidang pendidikan:
1.    Peningkatan Sistem pada faktor-faktor produktivitas
Peningkatan sistem pada faktor produktivitas diharapkan akan dapat meningkatkan
produktivitas. Faktor-faktor produktivitas, menurut Muchdarsyah Sinungan, yaitu
manusia, modal, metode, lingkungan internal, produksi, lingkungan eksternal, lingkungan
internasional, dan umpan balik.  John Bernaudin & Joycl menyebut faktor produktivitas
adalah knowledge, skill, ability, dan attitude and behaviour.

2.    Peningkatan Produktivitas Individu


Peningkatan produktivitas kerja individu akan terakumulasi menjadi produktivitas
kelompok atau institusi. Hal-hal yang dapat meningkatkan aktivitas individu antara lain
tingkat pendidikan dan keahlian, jenis teknologi dan hasil produksi, kondisi kerja,
kesehatan, kemampuan fisik dan mental, sikap, keankaragaman tugas, sistem kompensasi,
kepuasan dan keamanan kerja, kepastian pekerjaan dan perspektif dan ambisi. Jika semua
sesuai dengan tuntutan individu maka produktivtas akan meningkat.
3.    Peran Organisasi dan Manajemen
Peningkatan produktivitas juga dapat diupayakan melalui fungsi manajamen yang
optimal mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan kontrol.
4.    Total Quality Management
TQM adalah sebuah konsep implementasi manajemen dengan fokus produktivtas sebagai
suatu sistem manajemen untuk mencapai hasil yang efektif dan efisien.

Analisis Biaya Terkini dalam Pendidikan


Secara bahasa biaya (cost) dapat diartikan pengeluaran, dalam istilah ekonomi, biaya/pen
geluaran dapat berupa uang atau bentuk moneter lainnya. Pengertian biaya dalam ekonomi adala
h pengorbananpengorbanan yang dinyatakan dalam bentuk uang, diberikan secara rasional, mele
kat pada proses produksi, dan tidak dapat dihindarkan. Bila tidak demikian, maka pengeluaran te
rsebut dikategorikan sebagai pemborosan. Dan biaya pendidikan menurut Prof.Dr. Dedi Supriadi
, merupakan salah satu komponen instrumental (instrumentalinput) yang sangat penting dalam p
enyelenggaraan pendidikan (di sekolah). Biaya dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas
, yakni semua jenis pengeluaran yang berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan, baik dala
m bentuk uang maupun barang dan tenaga.

Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas,yang didalamnya akan 
terdapat saling keterkaitan pada setiap komponennya,yang memiliki rentang yang bersifat mikro 
(satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional),yang meliputi sumbersumber pembiayaan pen
didikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaanya, 
akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahanperubahan yang terjadi pada semua tataran,
khususnya sekolah, dan permasalahanpermasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pend
idikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifik mengenal pembiayaan pendidikan i
ni.
Didalam prosesnya hampir dapat dipastikan bahwa pendidikan tidak dapat berjalan tanpa
dukungan biaya yang memadai. Implikasi diberlakukannya kebijakan desentralisasi pendidikan,
membuat para pengambil keputusan sering kali mengalami kesulitan dalam mendapatkan
referensi tentang komponen pembiayaan pendidikan. Kebutuhan tersebut dirasakan semakin
mendesak sejak dimulainya pelaksanaan otonomi daerah yang juga meliputi bidang pendidikan.
Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya
akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat
mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber
pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi
dalam penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi
pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait
dengan pembiayaan pendidikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifik mengenal
pembiayaan pendidikan ini.
Lembaga pendidikan sebagai produsen jasa pendidikan, seperti halnya pada bidang usaha
lainnya menghadapi masalah yang sama, yaitu biaya produksi, tetapi ada beberapa kesulitan
khusus mengenai penerapan perhitungan biaya ini. J. Hallack mengemukakan tiga macam
kesulitan, yaitu berkenaan dengan (1) definisi produksi pendidikan, (2) identifikasi transaksi
ekonomi yang berhubungan dengan pendidikan, dan (3) suatu kenyataan bahwa pendidikan
mempunyai sifat sebagai pelayanan umum.
Secara garis besarnya biaya pendidikan dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Biaya Langsung dan Biaya Tak Langsung.

Biaya langsung merupakan pengorbanan yang secara langsung mempengaruhi


penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Misalnya, gaji guru
dan pegawai, pembelian buku perpustakaan, pembelian alat dan bahan-bahan laboratorium untuk
praktek, perlengkapan meja kursi, biaya untuk membeli peralatan olahraga, biaya untuk membeli
komputer. Biaya langsung ini terwujud dalam pengeluaran uang yang secara langsung
membiayai penyelenggaraan pembelajaran. Biaya langsung berasal dari pemerintah pusat,
provinsi, kabupaten/kota, dan masyarakat/orang tua siswa. Biaya langsung untuk pengajaran
akan berpengaruh terhadap output pendidikan sehingga siswa dapat memperoleh manfaatnya
secara langsung. Sedangkan biaya tak langsung merupakan biaya yang disebabkan hilangnya
pendapatan peserta didik karena sedang mengikuti proses pembelajaran. Bebasnya beban pajak
karena sifat sekolah yang tidak mencari keuntungan, bebasnya sewa perlengkapan sekolah yang
tidak dipakai secara langsung dalam proses pendidikan. Biaya tak langsung tidak tercantum
dalam RAPBS, sedangkan sumber dan besarnya biaya langsung sebagian besar tercantum dalam
RAPBS sehingga penelitian ini lebih difokuskan pada biaya langsung.
2. Private Costs dan Social Costs
Private cost  merupakan biaya yang dikeluarkan keluarga untuk membiayai sekolah anaknya.
Biaya pribadi meliputi berbagai iuran sekolah, uang transport, biaya studi tour, biaya pakaian
seragam sekolah, buku dan alat tulis, tas sekolah, buku/LKS, uang saku, biaya les privat, dan
pengeluaran lain yang dibayar secara pribadi . Biaya sosial merupakan biaya yang dikeluarkan
oleh masyarakat untuk membiayai sekolah, termasuk di dalamnya mencakup biaya yang
dikeluarkan keluarga secara perseorangan. Jadi biaya sosial adalah biaya pribadi ditambah biaya
yang ditanggung oleh masyarakat. Namun tidak semua biaya sosial dapat dimasukkan ke dalam
biaya pribadi. Biaya merupakan kerugian sosial yang ditanggung oleh masyarakat sebagai akibat
dari investasi pendidikan, misalnya pengangguran terdidik atau dapat dikatakan bahwa biaya
sosial merupakan kerugian yang ditanggung oleh masyarakat/orang tua murid setelah
menyekolahkan anaknya hingga lulus, namun anaknya belum bekerja. Jadi dalam penelitian ini
biaya pribadi dan biaya sosial tidak termasuk dalam perhitungan yang digunakan, karena kedua
biaya tersebut merupakan biaya yang dikeluarkan/ menjadi tanggungan masing-masing orang tua
siswa yang besarnya akan berbeda satu dengan yang lain.
3. Monetary dan Non Monetary Cost
Biaya monetary adalah nilai pengorbanan yang terwujud dalam pengeluaran uang, dapat
berupa biaya langsung dan biaya tidak langsung. Sedangkan non monetary cost adalah nilai
pengorbanan yang tidak diwujudkan dengan pengeluaran uang. Jadi, biaya moneter adalah biaya
yang dapat dihitung dan diukur berdasarkan nilai keuangan, sedangkan biaya non moneter adalah
biaya yang tidak bersifat keuangan, misalnya pendapatan yang hilang tersebut. Biaya pendidikan
yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah biaya langsung berupa uang pada tingkat
sekolah, karena biaya tersebut telah diperhitungkan dalam anggaran. Sehingga biaya moneter
dan biaya non moneter tidak diperhitungkan dalam penelitian ini.
Ada 2 pendekatan menentukan biaya Satuan Pendidikan yaitu Pertama, pendekatan mikro,
pendekatan yang menganalisis biaya pendidikan berdasarkan pengeluaran total (total cost) dan
jumlah biaya satuan (unit cost) menurut jenis dan tingkat pendidikan, Kedua, Pendekatan makro,
pendekatan yang ditentukan dengan perhitungan biaya satuan dalam sistem pendidikan  dalam
kaitannya dengan anggaran yang dikeluarkan Negara untuk sisitim pendidikan nasional
(RAPBN).
Ada 4 unsur-unsur untuk biaya pendidikan  yaitu
1. Jenis biaya yang statistik yang disimpan oleh Pemerintah
2. Biaya tidak langsung depresiasi fasilitas pendidikan. Biaya penyusutan merupakan bagian
dari total biaya operasi sistem pendidikan.
3. Bunga atas pengeluaran modal
4. Biaya total pembebasan dari pajak properti dan pajak penjualan

Adapun maksud didalam menganalisis  biaya pendidikan adalah :


1. Informasi tentang biaya gedung dan operasional sekolah
2. Mengungkapkan himpunan sumber daya yang dapat digunakan.
3. Sarana kontrol Selama operasi internal dari sistem pendidikan .
4. Masukan yang penting dalam jenis-jenis penelitian tertentu.

Didalam konteks organisasi ,  analisis biaya pendidikan adalah :


1. Di sekolah tingkat kabupaten, Sebagai bagian dari tanggung jawab anggota dewan
sekolah dan pengawas sekolah untuk mengoperasikan sistem pendidikan yang efisien.
2. Kepala Sekolah supaya dapat mengontrol anggaran sekolahnya
3. Supaya guru memperimbangkan/mengambil keputusan atas biaya (umumnya kecil) yang
diamanatkannya.
4. Siswa dapat mempertimbangkan (biaya kesempatan) bagaimana mereka akan membagi
waktu di antara berbagai mata pelajaran pada kurikulum .

Cara-cara Memperkirakan Biaya Pendidikan

Ada dua cara untuk memperkirakan biaya pendidikan, yaitu (1) memperkirakan biaya
atas dasar sumber-sumber pembiayaan, dan (2) memperkirakan biaya atas dasar laporan dari
lembaga-lembaga pendidikan.
Cara yang pertama dilakukan dengan cara meneliti laporan dari sumber-sumber
pembiayaan pendidikan. Menurut sifatnya sumber-sumber ini dibedakan atas (1) pengeluaran
yang menyeluruh, dan (2) pengeluaran menurut status, tingkat, dan sifatnya. Pengeluaran
menyeluruh terdiri atas (a) sumber-sumber pemerintah, yang terdiri atas (1) pemerintah pusat, (2)
pemerintah daerah, dan (3) bantuan luar negeri. Pengeluaran menurut status dan sifatnya.
Menurut statusnya pengeluaran dibedakan atas pengeluaran dari lembaga pendidikan pemerintah
dan pengeluaran pendidikan swasta. Kemudian menurut tingkatnya, yaitu TK, SD, SLTP, SLTA
(SMU dan SMK), dan perguruan tinggi. Selanjutnya menurut sifatnya pengeluaran dibedakan
atas pengeluaran berulang, pengeluaran modal, dan pengeluaran lainnya.
Cara yang kedua, ialah menggunakan secara langsung laporan dari lembaga-lembaga
pendidikan. Untuk keperluan membuat perkiraan tersebut harus dipenuhi syarat-syarat sebagai
berikut. Yang pertama, dan yang terpenting adalah harus ada laporan dari lembaga-lembaga
pendidikan. Kedua, laporan tersebut harus dibuat menurut pola standar fungsional yang seragam.
Ketiga, laporan harus memperlihatkan keseluruhan biaya operasi dari lembaga tersebut.
Pemilihan unit-unit untuk penetapan biaya dilakukan dengan cara menghitung biaya: per lulusan,
biaya menurut tingkatan pendidikan, biaya unit per anak didik, rata-rata biaya kehadiran sehari-
hari, biaya modal per tempat, biaya rata-rata per kelas, dan biaya berulang rata-rata per pendidik.
Proyeksi biaya unit meliputi pembiayaan modal dan biaya berulang. Untuk itu perlu
memperkirakan luasnya akibat tujuan kuantitatif dan kualitatif dalam memperhitungkan rata-rata
biaya unit berulang untuk tahun yang bersangkutan.

Analisis Biaya Manfaat
Analisis biaya manfaat merupakan metodologi yang banyak digunakan dalam melakukan 
analisis investasi pendidikan. Metode ini dapat membantu para pengambil keputusan dalam men
entukan pilihan diantara alternatif alokasi sumbersumber pendidikan yang terbatas tetapi member
ikan keuntungan yang tinggi.

Dalam konsep dasar pembiayaan pendidikan ada dua hal penting yang perlu dikaji atau di
analisis, yaitu biaya pendidikan secara keseluruhan (total cost) dan biaya satuan per siswa (unit
cost). Biaya satuan ditingkat sekolah merupakan Aggregate biaya pendidikan tingkat sekolah bai
k yang bersumber dari pemerintah, orang tua, dan masyarakat yang dikerluarkan untuk menyelen
ggarakan pendidikan dalam satu tahun pelajaran. Biaya satuan permurid merupakan ukuran yang 
menggambarkan seberapa besar uang yang dialokasikan sekolah secara efektif untuk kepentinga
n murid dalam menempuh pendidikan. Oleh karena biaya satuan ini diperoleh dengan memperhit
ungkan jumlah murid pada masing-masing sekolah, maka ukuran biaya satuan dianggap standar 
dan dapat dibandingkan antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Analisis mengenai biaya 
satuan dalam kaitannya dengan faktorfaktor lainyang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan 
menggunakan sekolah sebagai unit analisis. Dengan menganalisis biaya satuan, memungkinkan k
ita untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sumbersumber di sekolah, keuntungan dari inv
estasi pendidikan, dan pemerataan pengeluaran masyarakat, pemerintah untuk pendidikan. Disam
ping itu, juga dapat menjadi penilaian bagaimana alternatif kebijakan dalam upaya perbaikan ata
u peningkatan sistem pendidikan.

Komponen  Biaya Pendidikan meliputi:

1. Peningkatan KBM  13. Peningkatan pembinaan kegiatan siswa
2. Pembinaan tenaga kependidikan  14. Rumah tangga sekolah

3. Pengadaan alat-alat belajar  15. Kesejahteraan

4. Pengadaan bahan pelajaran  16. Perawatan

5. Sarana kelas  17. Pengadaan alat-alat belajar

6. Sarana sekolah  18. Pembinaan tenaga kependidikan

7. Pembinaan siswa  19. Pengadaan bahan pelajaran

8. Pengelolaan sekolah

9. Pemeliharaan dan penggantian sarana dan prasarana pendidikan

10. Biaya pembinaan, pemantauan, pengawasan dan pelaporan.

11. Peningkatan mutu pada semua jenis dan jenjang pendidikan;

12. Peningkatan kemampuan dalam menguasai iptek.

C. Cara-cara Memperkirakan Biaya Pendidikan

Ada dua cara untuk memperkirakan biaya pendidikan, yaitu (1) memperkirakan biaya
atas dasar sumber-sumber pembiayaan, dan (2) memperkirakan biaya atas dasar laporan dari
lembaga-lembaga pendidikan.

Ø Cara yang pertama dilakukan dengan cara meneliti laporan dari sumber-sumber


pembiayaan pendidikan. Menurut sifatnya sumber-sumber ini dibedakan atas: (1)
pengeluaran yang menyeluruh, dan (2) pengeluaran menurut status, tingkat, dan
sifatnya.

Pengeluaran menyeluruh terdiri atas: (a) sumber-sumber pemerintah, yang terdiri


atas: (1) pemerintah pusat, (2) pemerintah daerah, dan (3) bantuan luar negeri.
Pengeluaran menurut status dan sifatnya; Menurut statusnya: pengeluaran dibedakan
atas pengeluaran dari lembaga pendidikan pemerintah dan pengeluaran pendidikan swasta.
Kemudian menurut tingkatnya, yaitu TK, SD, SLTP, SLTA (SMU dan SMK), dan
perguruan tinggi. Selanjutnya menurut sifatnya: pengeluaran dibedakan atas pengeluaran
berulang, pengeluaran modal, dan pengeluaran lainnya.

Ø Cara yang kedua, ialah menggunakan secara langsung laporan dari lembaga-lembaga


pendidikan. Untuk keperluan membuat perkiraan tersebut harus dipenuhi syarat-syarat
sebagai berikut: Yang pertama, dan yang terpenting adalah harus ada laporan dari
lembaga-lembaga pendidikan. Kedua, laporan tersebut harus dibuat menurut pola standar
fungsional yang seragam. Ketiga, laporan harus memperlihatkan keseluruhan biaya operasi
dari lembaga tersebut.

Sumber-sumber dana pendidikan antara lain meliputi: Anggaran rutin (DIK); Anggaran
pembangunan (DIP); Dana Penunjang Pendidikan (DPP); Dana BP3; Donatur; dan lain-lain yang
dianggap sah oleh semua pihak yang terkait. Pendanaan pendidikan pada dasarnya bersumber
dari pemerintah, orang tua dan masyarakat (pasal 33 No. 2 tahun 1989). Sejalan dengan adanya
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sekolah dapat menggali dan mencari sumber-sumber dana
dari pihak masyarakat, baik secara perorangan maupun secara melembaga, baik di dalam
maupun di luar negeri, sejalan dengan semangat globalisasi.

Dana yang diperoleh dari berbagai sumber itu perlu digunakan untuk kepentingan
sekolah, khususnya kegiatan belajar mengajar secara efektif dan efisien. Sehubungan dengan itu,
setiap perolehan dana, pengeluarannya harus didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan yang telah
disesuaikan dengan rencana anggaran pembiayaan sekolah (RAPBS).

Tujuan Analisis Manfaat Biaya

Setelah memahami bentuk biaya, tujuan dari analisis biaya adalah untuk memberikan
kemudahan, memberikan informasi pada para pengambil keputusan untuk menentukan
langkah/cara dalam pembuatan kebijakan sekolah, guna mencapai efektivitas maupun efisiensi
pengolahan dana pendidikan serta peningkatan mutu pendidikan.
Secara khusus,  analisis manfaat biaya pendidikan bagi pemerintah menjadi acuan untuk
menetapkan anggaran pendidikan dalam RAPBN, dan juga sebagai dasar untuk meningkatkan
kualitas SDM dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sedangkan bagi masyarakat,
analisis manfaat biaya pendidikan ini berguna sebagai dasar/pijakan dalam
melakukan ”investasi”  di dunia pendidikan. Hal ini dirasakan penting untuk diketahui dan
dipelajari, karena menurut sebagian masyarakat pendidikan hanya menghabis-habiskan uang
tanpa ada jaminan/prospek peningkatan hidup yang jelas dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/184596780/Makalah-Analisis-Produkivitas-Pendidikan
http://hasanaryantouinjkt.blogspot.com/2009/11/ekonomi-pendidikan-analisa-manfaat.html
http://revafebrianti.blogspot.com/2016/12/fungsi-produksi-dalam-pendidikan.html