Anda di halaman 1dari 15

Makalah Wawasan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni

Ilmu Pengetahuan

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2:


ABDUL HAYAT (H041191083)
FARIHAH MULYANI PATRIOT (H041191059)
FIRAZH AHMADILLA MA’GA (H041191006)
LULU DWIYANTI (H041191036)
NADA FAKHIRA (H041191075)
NI KADE FIONIKA CINTYA (H041191053)
NOER ZAKIAH DERAJAT SAM (H041191035)

MATA KULIAH WAWASAN IPTEKS


DEPARTEMEN BIOLOGI
UNIT PELAKSANA TEKNIS MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena atas

Rahmat dan Hikmat yang telah dilimpahkan kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah yang berjudul “Ilmu Pengetahuan”.

Terselesainya makalah ini tidak lepas dari dukungan beberapa pihak yang

telah memberikan kepada kami berupa motivasi, baik materi maupun moril. Oleh

karena itu, kami bermaksud mengucapkan banyak terima kasih kepada semua

pihak yang telah membantu untuk menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna,

maka dari itu semua kritik dan saran dari manapun datangnya penyusun sangat

harapkan. Karena seperti pepatah “Tiada Gading yang Tak Retak” maka tiada

manusia yang diciptakan sempurna, sehingga lebih dan kurangnya penyusun

mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita

semua.

Makassar, 22 Maret 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………i

Kata Pengantar…………………………………………………………………...ii

Daftar Isi………………………………………………………………………....iii

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang…………………………………………………………1

I.2 Rumusan Masalah……………………………………………………...2

I.3 Tujuan………………………………………………………………….2

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Tinjauan tentang Ilmu…………………………………………………3

II.2 Tinjauan tentang Pengetahuan………………………………………..6

II.3 Hubungan Ilmu dan Pengetahuan……………………………………10

BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan…………………………………………………………12

III.2 Saran………………………………………………………………..12

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………13
BAB I

PENDAHULUAN

I.1  LATAR BELAKANG

Pada hakekatnya, manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal yang ada

maupun yang sedang terjadi disekitarnya. Sebab manyak sisi kehidupan yang

menjadi pertanyaan dalam dirinya. Oleh sebab itu, timbul pengetahuan (yang

suatu saat) setelah melalui beberapa proses yang beranjak  menjadi ilmu.

Manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitu

dilengkapi dengan akal alat indera. Dengan  akal manusia berpikir, dan denagn

alat indera manusia medapat pengetahuan. Misalnya dengan telinga, manusia

mengetahui suara, dengan mata manusia mengetahui warna. Dengan lidah,

manusia mengetahui rasa (pahit, manis, kecut, asing, dan lain sebagainya).

Dengan penciuman, manusia mengetahui bau (wangi/busuk). Dengan kulit

manusia mengetahui testur (kasar/halus). Dengan akal dan pikiran manusia

memperoleh ilmu. Akal dan pikiran memproses setiap pengetahuan yang diserap

oleh indera- indera yang dimiliki manusia.

Ketika mengamati atau menilai suatu perkara, kita biasanya menggunakan

kalimat-kalimat seperti, saya mengetahuinya, saya memahaminya, saya mengenal,

meyakini dan mempercayainya. Berdasarkan realitas ini, bisa dikatakan bahwa

pengetahuan itu memiliki derajat dan tingkatan. Disamping itu, bisa jadi hal

tersebut bagi seseorang adalah pengetahuan, sementara bagi yang lainnya

merupakan bukan pengetahuan. Terkadang seseorang mengakui bahwa sesuatu itu

diketahuinya dan mengenal keadaannya dengan baik, namun, pada hakikatnya, dia

salah memahaminya dan ketika dia berhadapan dengan seseorang yang sungguh-
sungguh mengetahui realitas tersebut, barulah ia menyadari bahwa ia benar-benar

tidak memahami permasalahan tersebut sebagaimana adanya.

Untuk mengetahui sebuah hal atau perkara secara mendalam, maka

dibutuhkan ilmu atau cabang ilmu yang mengkaji secara spesifik tentang sebuah

objek. Namun, sebelum sampai pada sebuah ilmu tentu dibutuhkan pengetahuan.

Pengetahuan merupakan sarana untuk memperoleh, memelihara, dan

meningkatkan ilmu. Jadi ada hubungan antara ilmu dan pengetauan.

I.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah dalam

makalah ini adalah Bagaimana hubungan antara Ilmu  dengan Pengetahuan?

I.3 TUJUAN

Untuk mendeskripsikan  hubungan antara Ilmu (science) dan Pengetahuan

(knowledge).
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 TINJAUA TENTANG ILMU

1. Defenisi Ilmu (Science)

     Secara etimologi ilmu berasal dari bahasa arab ilm yang berarti memahami, mengerti,

atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti

memahami suatu pengetahuan. Misalnya ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-

masalah sosial, dan sebagainya.

          Menurut kamus, science is the systematic study of the nature and behaviour of the

material and physical universe, based on observation, experiment, and measurement, and

the formulation of laws to describe these facts in general terms, Sains adalah studi

sistematis tentang sifat dan perilaku alam semesta material dan fisik, berdasarkan

pengamatan, eksperimen, dan pengukuran, dan perumusan hukum untuk menggambarkan

fakta-fakta ini secara umum (the free Dictionary).

2. Menurut para ahli defenisi ilmu

a) Dr. Sheldon Gottlieb, Science is an intellectual activity carried on by humans that

is designed to discover information about the natural world in which humans live and

to discover the ways in which this information can be organized into meaningful

patterns. Ilmu pengetahuan adalah kegiatan intelektual yang dilakukan oleh manusia

yang dirancang untuk menemukan informasi tentang dunia alami di mana manusia

hidup dan untuk menemukan cara di mana informasi ini dapat diatur dalam pola yang

bermakna
b) Hatta, Mohammad, menyatakan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang teratur

tentang pekerjaan hokum sebab- akibat dalam suatu golongan masalah yang sama

sifatnya, baik menurut kedudukannya (jika dilihat dari luar) maupun menurut

hubungannya (jika dilihhat dari dalam).

c) M. Izuddin Taufiq, mengemukakan bahwa Ilmu adalah Ilmu adalah penelusuran

data atau informasi melalui pengamatan, pengkajian dan eksperimen, dengan tujuan

menetapkan hakikat, landasan dasar ataupun asal usulnya.

d) Thomas Kuhn, Ilmu adalah Ilmu adalah himpunan aktivitas yang menghasilkan

banyak penemuan, bail dalam bentuk penolakan maupun pengembangannya.

e) Dr. Maurice Bucaille, Ilmu adalah Ilmu adalah kunci untuk mengungkapkan

segala hal, baik dalam jangka waktu yang lama maupun sebentar.

f) Ns. Asmadi, Ilmu adalah Ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang padat

dan proses mengetahui melalui penyelidikan yang sistematis dan terkendali (metode

ilmiah).

g) Poespoprodjo, Ilmu adalah Ilmu adalah proses perbaikan diri secara

bersinambungan yang meliputi perkembangan teori dan uji empiris.

h) Dr. H. M. Gade, Ilmu adalah Ilmu adalah falsafah. yaitu hasil pemikiran tentang

batas-batas kemungkinan pengetahuan manusia.

i) Francis Bacon, Ilmu adalah Ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan

hanya fakta-fakta yang dapat menjadi objek pengetahuan.

j) Charles Singer, Ilmu adalah Ilmu adalah suatu proses yang membuat pengetahuan

(science is the process which makes knowledge).

k) Sonny Keraf & Mikhael Dua, menyatakan bahwa Ilmu adalah keseluruhan sistem

pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis.


3. Syarat- Syarat Ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus tentang apa

penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut

sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma

ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu, antara lain:

a) Objektif, Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan

masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam.

Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji

keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni

persesuaian antara tahu dengan objek, sehingga disebut kebenaran objektif; bukan

subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

b) Metodis, adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan

terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensinya, harus ada cara

tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari bahasa Yunani

“Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu

yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah

c) Sistematis, Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu

objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis

sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu ,

dan mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan

yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu

yang ketiga.

d) Universal, Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang

bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º.

Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu


sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan

ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk

mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan

tertentu pula.

II. 2 TINJAUAN TENTANG PENGETAHUAN

1. Defenisi Pengetahuan (Knowledge)

Secara etimologi, pengetahuan berasal dari bahasa inggris knowledge yang berarti

pemgetahuan. Berdasarkan the encyclopedia of phylosophy, Edwards, Paul (1972)

Pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (Knowledge is justified true belief).

Menurut Notoatmodjo 2007, Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan

ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui

mata dan telingan. Dalam wikipedia dijelaskan; Pengetahuan adalah informasi atau

maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi

tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara

Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.

Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta dari suatu

kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang

terhadap obyek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu

yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya.

Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang

yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru.


Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah pelbagai gejala yang ditemui dan

diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang

menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum

pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi

masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk,

rasa, dan aroma masakan tersebut.

2.  Jenis- Jenis Pengetahuan

a) Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk

pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata seperti

keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip. Pengetahuan diam seseorang biasanya sulit

untuk ditransfer ke orang lain baik secara tertulis ataupun lesan. Kemampuan berbahasa,

mendesain, atau mengoperasikan mesin atau alat yang rumit membutuhkan pengetahuan

yang tidak selalu bisa tampak secara eksplisit, dan juga tidak sebegitu mudahnya untuk

mentransferkannya ke orang lain secara eksplisit. Contoh sederhana dari pengetahuan

implisit adalah kemampuan mengendara sepeda. Pengetahuan umum dari bagaimana

mengendara sepeda adalah bahwa agar bisa seimbang, bila sepeda oleh ke kiri, maka

arahkan setir ke kanan. Untuk berbelok ke kanan, pertama belokkan dulu setir ke kiri

sedikit, lalu ketika sepeda sudah condong ke kenan, belokkan setir ke kanan. Tapi

mengetahui itu saja tidak cukup bagi seorang pemula untuk bisa menyetir sepeda.

Seseorang yang memiliki pengetahuan implisit biasanya tidak menyadari bahwa dia

sebenarnya memilikinya dan juga bagaimana pengetahuan itu bisa menguntungkan

orang lain. Untuk mendapatkannya, memang dibutuhkan pembelajaran dan


keterampilan, namun tidak lantas dalam bentuk-bentuk yang tertulis. Pengetahuan

implisit seringkali berisi kebiasaan dan budaya yang bahkan kita tidak menyadarinya

b) Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau disimpan

dalam wujud nyata berupa media atau semacamnya. Dia telah diartikulasikan ke dalam

bahasa formal dan bisa dengan relatif mudah disebarkan secara luas. Informasi yang

tersimpan di ensiklopedia (termasuk Wikipedia) adalah contoh yang bagus dari

pengetahuan eksplisit. Bentuk paling umum dari pengetahuan eksplisit adalah petunjuk

penggunaan, prosedur, dan video how-to. Pengetahuan juga bisa termediakan secara

audio-visual. Hasil kerja seni dan desain produk juga bisa dipandang sebagai suatu

bentuk pengetahuan eksplisit yang merupakan eksternalisasi dari keterampilan, motif

dan pengetahuan manusia. Bagaimana membuat pengetahuan implisit menjadi eksplisit

merupakan fungsi utama dari strategi Manajemen Pengetahuan.

c) Pengetahuan Empiris

Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal

sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa

didapatkan dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional.

Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif

bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang

ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui

pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. Misalnya, seseorang yang sering

dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan

tentang manajemen organisasi.

d) Pengetahuan Rasionalisme
Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi.

Rasionalisme lebih menekankan pengetahuan yang bersifat apriori; tidak menekankan

pada pengalaman. Misalnya pengetahuan tentang matematika. Dalam matematika, hasil

1 + 1 = 2 bukan didapatkan melalui pengalaman atau pengamatan empiris, melainkan

melalui sebuah pemikiran logis akal budi.

3. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

a) Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau

kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan

pelatihan, maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan

manusia.

b) Media

Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi

contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.

c) Informasi

Pengertian informasi menurut Oxford English Dictionary, adalah "that of which one is

apprised or told: intelligence, news". Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah

sesuatu yang dapat diketahui, namun ada pula yang menekankan informasi sebagai

transfer pengetahuan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain

sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai

suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memanipulasi,

mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu.

Sedangkan informasi sendiri mencakup data, teks, gambar, suara, kode, program

komputer, basis data. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada


hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu

dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan pengamatan

terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi.

II. 3 HUBUNGAN ILMU (SCIENCE) DAN PENGETAHUAN (KNOWLEDGE)

Ilmu (Science) berhubungan dengan pengetahuan (knowledge). Setiap ilmu

merupakan pengetahuan, namun tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Hal ini

disebabkan karena adanya pengetahuan-pengetahuan yang tidak ilmiah, misalnya

mitos.

Contohnya: mitos orang Jawa tentang peristiwa terjadinya pelangi yang dikatakan

sebagai tangga menuju pemandian bagi dewi-dewi khayangan. Adapun hujan

yang acapkali rintik-rintik dikatakan sebagai air mata dewi-dewi tadi yang

menangisi salah seorang dewi yang tertinggal di bumi dan tidak bisa kembali ke

khayangan karena selendangnya diambil maling yang mengintip mereka sewaktu

mandi. Kisah ini merupakan pengetahuan tipe mitos yang tetap hidup dan

bermanfaat, namun bukan ilmu dan tidak ilmiah/scientifik.

Menambah ilmu, pasti menambah pengetahuan, tapi kalau menambah

pengetahuan belum tentu menambah ilmu. Ilmu akan bertambah bila pengetahuan

bertambah, dan pengetahuan akan menjadi tidak berguna saat anda tidak

mempunyai ilmu. Ilmu adalah hal yang di dapat setelah meng-implementasikan

pengetahuan yang di terima. Ilmu adalah praktek dari pengetahuan. Apa yang

kamu ketahui adalah pengetahuan, jika kamu mempraktekkannya maka kamu

berilmu. Ilmu adalah sekumpulan pengetahuan/ fakta yang tersusun secara logis

dan sistematis dan dapat diukur serta diuji kebenarannya, untuk mendapatkan

ilmu diperlukan pengetahuan, demikian juga didalam memperoleh pengetahuan


dibutuhkan juga ilmu. Jadi hungann ilmu dan pengetahuan sangat erat, karena

antara ilmu dan pengetahuan sulit untuk dipisahkan.

BAB III

PENUTUP

III. 1 KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tentang hubungan ilmu dengan pengetahuan,

maka dapat disimpulkan bahwa hubungan ilmu dengan pengetahuan adalah dua

hal yang tidak bias dipisahkan karena untuk memperoleh ilmu dibutuhkan

pengetahuan, demikian juga untuk memperoleh pengetahuan dibutuhkan ilmu.

III. 2 SARAN

Adapun saran dari kami, sehubung dengan bahasan makalah ini untuk mahasiswa

sedapat mungkin mampu memahami dan mengetahui bagaimana hubungan antara ilmu

dan pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali Press

Hatta, Mohammad. 1960. Alam Pikir Yunani, I dan II. Jakarta: Tintamas.

Edward, Paul. 1972. The Encyclopedia of Phylosophy. New York: Macmillan Publishing