Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

AGAMA ISLAM

SYIRIK DAN BAHAYANYA BAGI MANUSIA

Disusun oleh:

1. Dhiyaa Arzyelin P. (1901060013)


2. Hanestin Hat Ras P. (1901060018)
3. Silvia Putri (1901060039)
4. Intan Nur Rohmah (1901060045)

PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Dengan hormat,
Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat sehat sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
yang diberikan dosen pengampu dengan tepat waktu. Shalawat salam tetap
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW semoga kami mendapat syafaatnya di
akhirat kelak.
Terimakasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah membantu
secara aktif dan pasif dalam proses pembuatan makalah ini. Tak lupa kami
ucapkan terimakasih kepada dosen pengampu Bapak Arian Sahidi, M.Pd. yang
telah memberikan tugas serta bimbingan kepada kami sehingga mampu
menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan para
pembaca dan mengamalkannya. Namun, terlepas dari itu, kami memahami bahwa
makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga kami mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih
baik lagi. Sekian dan terimakasih.
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Purwokerto, 7 Maret 2020

Penulis
Daftar Isi
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II PEMBAHASAN 2
BAB III PENUTUP 11
Kesimpulan 11
DAFTAR PUSTAKA 12
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ada beberapa sebab yang mengakibatkan munculnya perbuatan
syirik yaitu al-jahlu (kebodohan), dhai’ful iman (lemahnya iman), dan
taqlid (ikut-ikutan secara membabi buta). Masyarakat pada saat sebelum
datangnya islam di duani disebut sebgai masyarakat jahiliyah
(kebodohan). Ketundukan orang arab jahiliyah pada kepercayaan mereka
sampai kepada Nabi Muhammad diutus, tak pelak jika seorang pemuka
agama sebelum Islam mempercayai akan datang seorang Nabi yang akan
memberikan pencerahan terhadap kehidupan masyarakat arab dan menjadi
utusan pamungkas. Namun, ironisnya kepercayaan mereka telah
bercampur aduk dengan prilaku menyimpang yakni kemusyrikan dan
tahayul. Menyembah kepada selain Allah menjadi marak seperti
menyembah berhala, matahari, bulan, batu, air dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya
adalah
1. Apakah yang dimaksud dengan syirik?
2. Apa saja jenis-jenis syirik?
3. Apa saja bentuk-bentuk syirik?
4. Apa penyebab terjadinya syirik pada manusia?
5. Bagaimana tindakan Rasulullah dalam menangkal syirik?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuannya adalah:
1. Kita dapat mengetahui pengertian syirik
2. Kita dapat memahami jenis-jenis syirik
3. Kita dapat ,mengetahui bentuk-bentuk syirik
4. Kita dapat memahami penyebab terjadinya syirik
5. Kita dapat meneladani sikap Rasulullah dalam menangkal syirik
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Definisi dari Syirik
Syirk ( ‫اإلش َْراك‬/‫)الشرك‬  dalam
ِ bahasa Arab mempunyai arti menyertai,
َ ُ
seperti ungkapan ‫ك فالَنًا فِي األ ْم ِر‬ َ
َ ‫أ ْش َر‬/َ‫ َش ِرك‬  artinya ia menyertai si Fulan dalam
urusan itu.  Dalam al-Qur’an Allah berfirman : ) ‫ ِر ْكهُ فِي‬JJJJJJ‫َوأَ ْش‬
ِ J‫أَ ْم‬ (  artinya :   Dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku. (QS.
‫ري‬J
Thaha/20 : 32).

Menurut istilah, syirik berarti seseorang menjadikan tandingan bagi


Allah dalam hal yang hanya menjadi hak Allah SWT.
Syirik merupakan dosa yang paling besar sebagaimana sabda
Rasulullah saw.  :
‫ ًّدا‬Mِ‫ َل هَّلِل ِ ن‬M‫ " أَنْ ت َْج َع‬: ‫ا َل‬Mَ‫ق‬  ‫؟‬  ِ ‫ َد هَّللا‬M‫ب أَ ْعظَ ُم ِع ْن‬ َّ ‫ي‬
ِ ‫ذ ْن‬M‫ال‬ ُّ َ‫سلَّ َم أ‬ َ ‫سأ َ ْلتُ النَّبِ َّي‬
َ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ  :  ‫عَنْ َع ْب ِد هَّللا ِ قَا َل‬
 ) ‫ " (رواه البخاري و مسلم‬... ‫َوه َُو َخلَقَ َك‬

Dari Abdullah ia berkata : Saya telah bertanya kepada Rasulullah


saw.  dosa apakah yang lebih besar menurut Allah ? Beliau menjawab : “
Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dial ah yang
menciptakanmu…” (HR. Bukhari dan Muslim )

Syirik merupakan perbuatan yang paling dibenci oleh Allah SWT


karena orang yang berbuat syirik berarti mensejajarkan Allah dengan hal
lain. Dengan kata lain, orang yang syirik tidak mengakui ke-Esa-an Allah
SWT, sehingga dalam hidupnya ia bergantung pada apa selain Allah Yang
Maha Esa. Syirik juga berarti menyamakan Allah SWT dengan hal-hal
lain.

2.2 Jenis-Jenis Syirik

1. Syirik Akbar

Hakikat daripada syirik akbar adalah menjadikan selain daripada


Allah SWT sebagai tujuannya dalam beribadah, misalnya; memohon
dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin,
atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya. Syirik
ini menyebabkan seseorang keluar daripada agama Islam sehingga jika
ia meninggal dalam keadaan demikian maka akan kekal di dalam
neraka.

Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam,


dan orang yang bersangkutan jika meninggal dalam keadaan demikian,
akan kekal di dalam neraka. Macam-macam syirik akbar:

1.) Syirik saat berdoa


Yakni orang yang meminta, memohon, dan memanjatkan
hajatnya dalam doa dengan tujuan kepada selain Allah SWT.
Padahal tiada yang kuasa mengabulkan semua doa kecuali Allah
SWT. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada


mempunyai apa-apa meskipun setipis kulit ari. Jika kamu meminta
kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau
mereka mendengar mereka tidak dapat memperkenankan
permintaanmu. (Q. S. Faathir : 13-140

2.) Syirik dalam sifat Allah


Salah satu sifat wajib pada dzat Allah SWT adalah Allah
Maha Mengetahui. Segala sesuatu yang ada di jagat raya, baik
yang kecil maupun besar, terlihat maupun tak nampak, Allah
mengetahui kesemuanya. Ketika seseorang percaya bahwa peramal
bisa melihat masa depan dan ia mempercayainya, maka itu adalah
syirik.

Sama halnya kita seseorang memercayai bahwa Nabi dan


Rasul mengetahui perkara-perkara ghaib yang tidak bisa diketahui
oleh manusia seperti halnya Allah SWT. Padahal, sudah jelas
ditegaskan bahwa sifat wajib Allah berarti hanya Allah SWT yang
memilikinya. Tidak pada Nabi, maupun Rasul.

3.) Syirik dalam Kecintaan


Allah itu pencemburu sehingga Ia tidak menyukai jika
hama-Nya mencintai selain kepada-Nya. Baik itu orang tua,
saudara, suami, istri, sahabat, pimpinan, atau siapapun. Janganlah
mencintai secara berlebihan selain kepada Allah. Cinta kepada
sesama mahkluk ciptaan Allah tidak boleh disetarakan apalagi
kurang dibandingkan dengan kecintaan kepada Allah SWT.

Adapun firman Allah yang artinya;

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang


menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun
orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”  (Q. S. Al-
Baqarah: 165).

4.) Syirik dalam ketaatan


Yakni patuh dan tunduk kepada selain Allah SWT, baik itu
ilmuan, ulama, atau siapapun. Tindakan seperti ini sangat mirip
dengan perbuatan menyembah berhala. Adapun firman Allah SWT
yang artinya;

“Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib


mereka sebagai Tuhan selain Allah.” (Q. S. At-Taubah: 31).

5.) Syirik khauf (takut)


Ketakutan yang dimaksud tentu adalah takut kepada selain
Allah SWT misalnya takut pada mayat, kuburan, setan, dan
menganggap bahwa kesemua itu bisa menyebabkan bahaya
atau mudharat pada dirinya. Termasuk juga takut pada seseorang
secara berlebihan sampai menyebabkan kelalaian terhadap
kewajibannya sendiri. Hal ini biasa terjadi pada seorang yang
bekerja dan takut pada atasannya, sampai meninggalkan shalatnya.
2. Syirik Ashghar
Merupakan semua perbuatan maupun ucapan yang oleh syara’
dinyatakan sebagai perbuatan syirik namun tidak sampai
menyebabkan keluar daripada agama Islam, namun bisa
menjadikan sebagai pengantar daripada dosa syirik akbar.
Macam-macam syirik asghar:

1.) Zhahir (nyata)
Yakni ketika seseorang mengucap sumpah atas selain
karena Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya;
“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah,
maka ia telah berbuat syirik”. (H. R. Ahmad, Shahih).
Selain itu, menggunakan benda-benda atau jimat seperti
gelang atau kalung yang dipakai dengan niatan sebagai
penangkal bahaya atau penyakit juga termasuk dalam
syirik asghar.

2) Khafi (tersembunyi)
Syirik jenis ini sumbernya berada di dalam hati seseorang,
bisa saja berupa niatan semata atau memang kepercayaan
namun tak ditunjukkan oleh perbuatan (hanya di dalam hati),
misalnya riya’ yang tersembunyi dalam hati.
2.3 Bentuk-Bentuk Syirik

1. Syirik di dalam ibadah (uluhiyyah)

Syirik di dalam uluhiyyah Allah bermakna menyekutukan Allah


di dalam ibadah. Atau dengan arti lain menyelewengkan ibadah kepada
selain Allah. Ini adalah definisi syirik ketika penyebutannya bersifat
mutlak. Karena kesyirikan ini yang paling menjamur, dan parahnya,
tidak banyak orang yang menyadari akan hal itu. Betapa banyak
manusia menduakan Allah di dalam penghambaan dirinya tanpa mereka
sadari.

Termasuk ibadah di antaranya adalah salat, zakat, puasa,


sembelihan, sumpah, doa, istigasah, cinta, takut, harap, dan segala
bentuk peribadahan seorang hamba kepada Allah. Oleh sebab itu,
termasuk bentuk kesyirikan ketika seseorang menyembelih kurban
untuk jin semisal sesajen, berdoa meminta pertolongan kepada orang
mati, atau penyelewangan ibadah lainnya kepada selain Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
‫َوأَ َّن ْال َم َسا ِج َد هَّلِل ِ فَاَل تَ ْدعُوا َم َع هَّللا ِ أَ َحدًا‬
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu ialah milik Allah. Maka janganlah
kalian menyembah sesuatu pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jinn:
18)

2. Syirik di dalam perbuatan Allah (rububiyyah)


Syirik di dalam rububiyyah Allah berarti meyakini adanya selain
Allah yang melakukan perbuatan-perbuatan Allah. Atau menyamakan
makhluk dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan
rububiyyah-Nya. Misalnya, memercayai adanya sang pencipta selain
Allah, pemberi rezeki, penurun hujan, dan pengatur alam semesta.

Syirik jenis ini umumnya sedikit. Karena kaum kafir Quraisy yang
diperangi oleh Rasulullah pun meyakini tauhid jenis ini.
Allah Ta’ala berfirman,
ْ ِ ‫ك السَّمْ عَ َواأْل َ ْبصَ ارَ َو َمنْ ي ُْخ ِر ُج ْالحَ يَّ مِنَ ْال َم ِّي‬
‫ت َوي ُْخ ِر ُج ْال َم ِّيتَ ِمنَ ال َح ِّي َو َم ْن‬ ِ ْ‫قُ ْل َمنْ َيرْ ُزقُ ُك ْم مِنَ ال َّسمَا ِء َواأْل َر‬
ُ ِ‫ض أَمَّنْ َيمْ ل‬
َ‫يُ َدبِّ ُر اأْل َ ْم َر فَ َسيَقُولُونَ هَّللا ُ فَقُلْ أَفَاَل تَتَّقُون‬
“Katakanlah wahai Muhammad, ‘Siapakah yang memberi
kalian rezeki dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai
pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang
hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup?
Siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan
menjawab, ‘Allah.’ Maka katakan, ‘Lantas mengapa kalian tidak
bertakwa?” (QS. Yunus: 31)

3. Syirik di dalam nama dan sifat-Nya (asma’ wa shifat)


Syirik di dalam al-asma’ wa ash-shifat bermakna menjadikan
sekutu bagi Allah, baik itu di dalam salah satu nama-Nya, atau salah
satu sifat-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
ِ َ‫ْس َك ِم ْثلِ ِه َش ْي ٌء َوهُ َو ال َّس ِمي ُع ْالب‬
‫صي ُر‬ َ ‫لَي‬
“Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha
mendengar lagi Maha melihat.” (QS. Asy-syura: 11)

2.4 Penyebab terjadinya syirik pada manusia

1. Mengagumi dan mengagungkan sesuatu


Secara fitrah manusia suka mengagumi kepahlawanan,
sesuatu yang agung dan luar biasa. Dari rasa kagum ini muncul
keinginan untuk mengagungkan. Pada dasarnya mengagumi dan
mengagungkan sesuatu itu bukanlah suatu cacat dan tidak
membahayakan keimanan. Bahkan dalam beberapa hal mengagumi
dan mengagungkan atau menghormati itu diperintahkan, seperti
mengagumi dan mengagungkan atau menghormati kedua orang
tua, mengagungkan Rasulullah saw. dan mengagungkan ulama.
Namun penyimpangan akan terjadi manakala mengagungkan itu
dilakukan secara berlebih-lebihan yang membawa kepada kultus,
yaitu memberikan sebagian sifat-sifat yang hanya dimiliki Allah
kepada makhluk. Dari penyimpangan inilah banyak timbul
kemusyrikan dalam sejarah umat manusia. Sebagai contoh kaum
Nabi Nuh as. mempunyai beberapa patung berhala yang mereka
jadikan tuhan yang disembah, seperti Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.
Yaghuts, Ya'uq dan Nasr ini dulunya nama orang-orang sholeh
yang hidup di antara zaman nabi Adam dan nabi Nuh. Mereka
punya para pengikut yang meneladani kehidupan mereka. Setelah
mereka wafat, para pengikutnya itu berkata : Seandainya mereka
kita gambar atau kita bikin patung, tentu kita akan lebih khusyu'
dalam beribadah jika kita ingat mereka. Lalu para pengikut itupun
membuat gambar atau patung orang-orang shaleh tersebut. Ketika
para pengikut itu meninggal dunia, datanglah generasi berikutnya.
Kepada generasi ini, Iblis membisikkan  dengan mengatakan :
Orang-orang tua kamu dulu menyembah mereka dan meminta
hujan kepada mereka. Akhirnya merekapun   menyembah gambar-
gambar atau patunpatung yang dibikin orang-orang tua mereka.
Dalam hal ini Allah berfirman  :
‫) َوقَالوا‬22( ‫) َو َم َكرُوا َم ْكرًا ُكبَّارًا‬21 ( ‫َصوْ نِي َواتَّبَعُوا َم ْن لَ ْم يَ ِز ْدهُ َمالُهُ َو َولَ ُدهُ إِاَّل خَ َسارًا‬
ُ َ ‫قَا َل نُو ٌح َربِّ إِنَّهُ ْم ع‬
)23( ‫ق َونَ ْسرًا‬ َ ‫وث َويَعُو‬ ً
َ ‫اَل تَ َذر َُّن آَلِهَتَ ُك ْم َواَل تَ َذر َُّن َو ّدا َواَل ُس َواعًا َواَل يَ ُغ‬
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah
mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan
anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian
belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka
berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan)
tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan
nasr". (QS. Nuh/71 : 21-23)
2. Cenderung mengimani yang konkrit dan lalai mengimani yang
abstrak
Dalam diri manusia terdapat dua kecenderungan fitrah yang
sempurna. Pertama, kecenderungan mengimani yang bersifat nyata
atau konkrit, yakni yang dapat ditangkap oleh indera baik
penglihatan, pendengaran,  ciuman, rasa atau sentuhan. Kedua,
kecenderungan mengimani yang ghaib, yakni yang tidak
tertangkap oleh indera. Kalau kecenderungan pertama di atas
selain  dimiliki oleh manusia,  juga oleh makhluk lain, namun
kecenderungan kedua khusus dimiliki oleh manusia. Inilah
karunia,  kemuliaan dan sekaligus keistimewaan yang diberikan
Allah kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain.
Namun fitrah manusia yang mempunyai kecenderungan
untuk mengimani yang ghaib ini sedikit demi sedikit akan  pudar
jika tidak diperhatikan dan diberikan santapan yang baik berupa
dzikir kepada Allah dan taqarrub kepada-Nya melalui amal shaleh.
Dengan demikian manusia mulai lalai mengimani yang ghaib dan
sedikit demi sedikit cenderung hanya mengimani yang bersifat
nyata.
Pada tahap pertama dari kelalaian ini, seorang musyrik
tidak mengingkari adanya Allah, tapi ia mencari bentuk nyata yang
menurut khayalannya bisa ditambahkan sebagian sifat-sifat Allah
seperti memberikan manfaat dan bahaya, mengetahui yang ghaib,
mengendalikan urusan bersama-sama dengan Allah. Sekalipun ia
mengetahui bahwa Allah adalah Pencipta, tidak ada satu
makhlukpun yang menyamainya, namun ia mengklaim bahwa
seseorang ( Nabi,  wali Allah, atau orang shalih), malaikat, jin, atau
berhala mampu memberikan manfaat atau bahaya, mengabulkan
permohonan, melapangkan rezeki bagi yang dikehendakinya,
mengetahui yang ghaib dan menyampaikannya kepada orang yang
mampu menerimanya.
Contoh bentuk  di atas adalah orang-orang Arab jahiliyah,
mereka mengetahui bahwa Allah itu ada dan sebagai Pencipta,
namun mereka menyekutukan Allah dengan jin, malaikat, berhala
yang mereka sembah, mereka menyangka bahwa sembahan-
sembahan itu dapat mendekatkan diri kepada Allah. Begitu juga
orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengklaim bahwa Uzair
dan Isa bin Maryam adalah anak Allah.
Dan pada tahap akhir,  kelalaian  di atas dapat membawa
seseorang untuk mengingkari adanya Allah. Hal ini seperti yang
terjadi pada orang-orang Mesir Kuno pada zaman Fir’aun yang
mengklaim bahwa  dewa Ra adalah sebagai pencipta, pemberi
rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, dan yang
membangkitkan dan menghisab manusia pada hari kiamat. Begitu
juga kepercayaan orang-orang Majusi yang mengatakan bahwa
Ahura Mazda adalah Allah. Sama dengan itu juga orang-orang
Nasrani yang mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah Allah.
Juga  orang-orang Yahudi yang berkata kepada nabi Musa bahwa
nereka tidak beriman kepada beliau sebelum melihat Allah secara
terang-terangan. Mereka juga menyembah anak sapi dan
menjadikannya sebagai tuhan.
3. Dikuasai nafsu
Di antara penyakit yang meninmpa fitrah manusia dan
membawa kepada kemusyrikan ialah selalu mengikuti kehendak
hawa nafsu. Hal ini karena ketika fitrah manusia bersih dan lurus,
ia akan menerima segala ajaran Allah denga ridha, dan berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakannya sebagai bentuk
penghambaan kepada Allah dan         mengharapkan ridha-Nya.
Namun ketika seseorang dapat dikalahkan hawa nafsunya, maka
iapun merasa sempit untuk menerima dan melaksanakan ajaran-
ajaran Allah dan lebih cenderung untuk mengikuti hawa nafsunya.
Mereka cenderung menolak pedoman ajaran-ajaran yang
bersumber dari Allah sekalipun hati kecil mereka mengakuinya
bahwa itu adalah benar. Karena kalau mereka mengakui, mereka
harus melaksanakan ajaran-ajaran Allah itu, sedangkan mereka
tidak suka melaksanakannya, karena hawa nafsu menguasai
mereka sehingga mereka merasa berat melaksanakannya. Oleh
karena itu mereka mengingkari bahwa ajaran Allah itu benar, dan
membuat ajaran atau aturan yang tidak ditentukan Allah, kemudian
mereka mengklaim atau mengaku bahwa ajaran yang mereka buat
itu adalah ajaran yang benar, dan lebih tepat untuk diikuti dari pada
ajaran atau hukum yang ditetapkan Allah. Dengan demikian
mereka jatuh pada bentuk syirik taat dan mengikuti. Dalam hal ini
Allah berfirman :
‫هَّللا‬ ‫هَّللا‬
‫ضلُّ ِم َّم ِن اتَّبَ َع ه ََواهُ بِ َغي ِْر هُدًى ِمنَ ِ إِن َ يَ ْه ِدي‬
‫اَل‬ َّ َ َ‫ك فَا ْعلَ ْم أَنَّ َما يَتَّبِعُونَ أَ ْه َوا َءهُ ْم َو َم ْن أ‬
َ َ‫فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْستَ ِجيبُوا ل‬
َ‫ْالقَوْ َم الظَّالِ ِمين‬
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu),
ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa
nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada
orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat
petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qashash/28 :
50)
4. Sombong dalam beribadah kepada Allah
Sombong juga merupakan penyakit yang dapat menimpa
fitrah manusia sehingga ia menyimpang dari bentuknya yang lurus
dan menjatuhkannya dalam kemusyrikan. Sombong ada beberapa
derajat, dimulai dari menganggap remeh terhadap manusia dan
berakhir dengan tidak mau beribadah kepada Allah.
Pada umumnya sifat sombong terdapat pada jiwa orang
yang berhasil memperoleh kesenangan kehidupan dunia, seperti
harta, jabatan, kekuasaan, ilmu pengetahuan dan semacamnya.
Namun sifat sombong bisa juga menimpa setiap jiwa yang sakit
sekalipun dari kalangan orang yang paling rendah.
Al-Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa kesombongan
dapat menyebabkan kufur dan syirik, sebagaimana dalam kisah
Namrudz :
ُ
‫ال أَنَا أحْ يِي‬ َ َ‫يت ق‬ ُ ‫ك إِ ْذ قَا َل ِإ ْب َرا ِهي ُم َربِّ َي الَّ ِذي يُحْ يِي َويُ ِم‬َ ‫أَلَ ْم تَ َر ِإلَى الَّ ِذي َحا َّج إِ ْب َرا ِهي َم فِي َربِّ ِه أَ ْن آَتَاهُ هَّللا ُ ْال ُم ْل‬
ِ ‫ت بِهَا ِمنَ ْال َم ْغ ِر‬ ْ ْ ُ ‫َوأُ ِم‬
‫ب فَبُ ِهتَ الَّ ِذي َكفَ َر َوهَّللا ُ اَل يَ ْه ِدي‬ ِ ‫ق فَأ‬ ِ ‫س ِمنَ ْال َم ْش ِر‬ ِ ‫ال إِ ْب َرا ِهي ُم فَإ ِ َّن هَّللا َ يَأتِي بِال َّش ْم‬
َ َ‫يت ق‬
َ‫ْالقَوْ َم الظَّالِ ِمين‬
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat
Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) Karena Allah Telah
memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika
Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan
mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan
mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan
matahari dari timur, Maka terbitkanlah dia dari barat," lalu
terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah/2 : 258)
Tentang kisah Fir’aun, Allah berfirman :
َ‫) فَأ َ َراهُ اآْل َيَة‬19( ‫ك إِلَى َربِّكَ فَت َْخ َشى‬ َ َ‫) َوأَ ْه ِدي‬18( ‫ك إِلَى أَ ْن تَ َز َّكى‬ َ َ‫) فَقُلْ هَلْ ل‬17( ‫ْاذهَبْ إِلَى فِرْ عَوْ نَ إِنَّهُ طَغَى‬
)24( ‫ا َربُّ ُك ُم اأْل َ ْعلَى‬Jَ‫ال أَن‬J َ َ‫) فَق‬23( ‫ادَى‬Jَ‫ َر فَن‬J‫) فَ َح َش‬22( ‫ َعى‬J‫ َر يَ ْس‬Jَ‫) ثُ َّم أَ ْدب‬21( ‫ى‬J‫َص‬ َ ‫ب َوع‬ َ ‫ َّذ‬J‫) فَ َك‬20( ‫رى‬Jْ َ ‫ْال ُكب‬
)25( ‫فَأ َ َخ َذهُ هَّللا ُ نَ َكا َل اآْل َ ِخ َر ِة َواأْل ُولَى‬
(17)  "Pergilah kamu kepada Fir'aun, Sesungguhnya dia
Telah melampaui batas, (18)  Dan Katakanlah (kepada Fir'aun):
"Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari
kesesatan)". (19)  Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar
supaya kamu takut kepada-Nya?" (20)  Lalu Musa memperlihatkan
kepadanya mukjizat yang besar. (21)  Tetapi Fir´aun mendustakan
dan mendurhakai. (22)  Kemudian dia berpaling seraya berusaha
menantang (Musa). (23)  Maka dia mengumpulkan (pembesar-
pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (24)  (seraya)
berkata:"Akulah Tuhanmu yang paling tinggi". (25)  Maka Allah
mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. (QS. An-
Nazi’at/79: 17-25)
Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa kesombongan
merupakan fenomena umum :
‫هَّلل‬ ْ
‫ذ بِا ِ إِنهُ ه َُو‬J ‫ُور ِه ْم إِاَّل ِك ْب ٌر َما هُ ْم بِبَالِ ِغي ِه فاست َِع‬
َّ ْ َ ِ ‫صد‬ ُ ‫ت هَّللا ِ بِ َغي ِْر س ُْلطَا ٍن أَتَاهُ ْم إِ ْن فِي‬
ِ ‫إِ َّن الَّ ِذينَ يُ َجا ِدلُونَ فِي آَيَا‬
ِ َ‫ال َّس ِمي ُع ْالب‬
‫صي ُر‬
Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang
ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada
dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan)
kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, Maka
mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya dia Maha
mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ghafir/40 : 56)
5. Adanya para penguasa yang memperbudak manusia untuk
kepentingan  mereka sendiri.
Di antara penyebab syirik yang terpenting dalam sejarah
kehidupan manusia adalah adanya para penguasa diktator atau
penguasa yang berbuat sewenang-wenang (thaghut), yang ingin
memperbudak dan menundukkan manusia untuk kepentingan dan
hawa nafsu mereka sendiri. Dengan demikian mereka menolak
untuk berhukum dengan hukum dan aturan Allah. Merekapun
membuat hukum dan aturan sendiri yang tidak disyari'atkan Allah,
sehingga mereka menentukan halal dan haram sesuai dengan
keinginan dan kehendak hawa nafsu mereka. Kemudian hukum
dan aturan yang mereka buat itu dipaksakan kepada manusia
karena kekuasaan  yang mereka miliki.
Para penguasa tersebut ketika mereka membuat aturan dan
hukum yang dipaksakan untuk dilaksanakan rakyatnya, pada
kenyataannya mereka menjadikan diri mereka sebagai tuhan-tuhan
yang disembah selain Allah; karena hanya Allah  lah yang berhak
menentukan hukum dan aturan, di mana hanya Allah lah yang
menciptakan dan hanya Dia yang Maha Mengetahui.
Jadi Allah SWT. dengan penciptaan dan pengendalian-Nya
terhadap seluruh makhluk, dan dengan ilmu-Nya yang sempurna
terhadap segala sesuatu adalah yang paling berhak mengatakan ini
halal dan itu haram, ini baik dan itu tidak baik, ini boleh dan itu
tidak boleh.  Jika ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya
mempunyai hak untuk menentukan halal dan haram, boleh dan
tidak boleh, maka berarti telah menjadikan dirinya sebagai sekutu
Allah, bahkan telah menjadikan dirinya sebagai tuhan selain Allah.
Dan orang yang mengikutinya dalam hal itu berarti ia telah
mempersekutukannya dalam beribadah bersama Allah, atau
menyekutukannya selain Allah.
Para penguasa   yang disebut al-Qur'an dengan " al-mala' "
atau para  para pemuka inilah yang pertama kali mendustakan para
rasul seperti para pembesar dari kaum nabi Hud sebagaimana
disebutkan dalam surat al-A'raf : 65-66 :
‫رُوا ِم ْن‬J َ‫ا َل ْال َمأَل ُ الَّ ِذينَ َكف‬JJَ‫) ق‬65( َ‫ون‬JJُ‫ ُرهُ أَفَاَل تَتَّق‬J‫َوإِلَى عَا ٍد أَخَاهُ ْم هُودًا قَا َل يَا قَوْ ِم ا ْعبُدُوا هَّللا َ َما لَ ُك ْم ِم ْن إِلَ ٍه َغ ْي‬
)66( َ‫ك ِمنَ ْال َكا ِذبِين‬ َ ُّ‫ك فِي َسفَاهَ ٍة َوإِنَّا لَنَظُن‬َ ‫قَوْ ِم ِه إِنَّا لَنَ َرا‬
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum `Aad saudara
mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-
kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu
tidak bertakwa kepada-Nya?" Pemuka-pemuka yang kafir dari
kaumnya berkata: "Sesungguhnya kami benar-benar memandang
kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami
menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta". (QS. Al-
A’rof/7 : 65-66)
2.5 Tindakan Rasulullah Dalam Menangkal Syirik
1. Sifat memuji akan menyebabkan bangga diri
Memuji seseorang termasuk perbuatan setan. Oleh sebab itu, kita
tidak boleh memuji seseorang apalagi memuji diri sendiri secara
berlebihan. Karena dengan memuji berlebihan dapat membuat
seseorang menjadi bangga diri.
2. Kebesaran adalah selendang Allah
Kebesaran hanyalah milik Allah
3. Tidak menyebut orang dengan sayyid
Sayyid sebenarnya adalah Allah SWT. Jadi, kita tidak boleh
menyebut orang dengan sayyid karena itu sama saja seperti kita
menyamakannya dengan Allah SWT.
4. Kelembutan dan Kemurnian Tauhid
5. Para sahabat juga turut memurnikan tauhid
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa
perbuatan syirik merupakan perbuatan dosa besar. Apalagi jika seseorang
melakukan syirik akbar, maka orang tersebut sudah keluar dari agama Islam
dan jika ia meninggal dunia akan kekal di dalam neraka. Namun, syirik
asghar juga berbahaya karena bisa menjadi pengantar pada dosa syirik
akbar. Agar kita tidak terjerumus pada perbuatan syirik, kita harus
menghindari perbuatan yang menjadi penyebab dari syirik. Selain itu, kita
juga bisa mengikuti cara Rasulullah saw dalam menangkal perbuatan syirik.
3.2 Saran
Kami menyadari jika makalah yang kami buat masih memiliki
banyak kekurangan. Oeh karena itu, kami akan memperbaiki makalah ini
dengan berpedoman pada sumber materi yang dapat dipercaya dan dapat
dipertanggungjawabkan. Selain itu, kami menerima semua kritik dari
pembaca agar dapat memotivasi kami dalam memperbaiki makalah ini.