Anda di halaman 1dari 19

Perancangan Manajemen Sumber Daya Teknologi Informasi

di Lembaga Pemerintah (Studi kasus: Badan Litbang


Pertanian)
Andy Pramurjadi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
Jl. Tentara Pelajar No 3C, Bogor, Jawa Barat
a.pramurjadi@gmail.com

Abstrak— Dalam pelaksanaannya, Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang)


Pertanian sebagai bagian dari instansi pemerintah yang menghasilkan dan menyebarkan
teknologi inovatif hasil penelitian dan pengembangan tak terlepas dari dukungan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Agar dukungan TIK dapat selaras dengan
pencapaian tujuan organisasi, diperlukan upaya untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas sumber daya manusia (SDM) pelaku Teknologi Informasi (TI), untuk
pelayanan maksimal kepada internal maupun kepada pemangku kepentingan lainnya.
Upaya tersebut dilakukan dengan menerapkan perancangan Manajemen Layanan
Teknologi Informasi (Information Technology Service Management, ITSM). Berkaitan
dengan hal tersebut, Badan Litbang Pertanian dituntut mampu memberikan pelayanan
prima dalam menjalankan tugas dan fungsinya, dengan didukung oleh ITSM dan Sistem
Informasi Manajemen (SIM), sistem pengolah data dan informasi berbasis Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK). Dengan demikian, diharapkan perencanaan
Manajemen Sumber Daya Teknologi Informasi yang mampu meningkatkan pelayanan
Badan Litbang Pertanian kepada pengguna internal dan stakeholder, serta memastikan
layanan teknologi informasi dapat berjalan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
(tupoksi) serta tujuan Badan Litbang Pertanian.

Kata kunci: Sumber daya; TI, TIK, ITSM, SIM, perencanaan, manajemen, stakeholder,
pengguna internal
I. PENDAHULUAN

Sumber daya manusia (SDM) memiliki posisi yang sangat strategis dalam suatu
organisasi. SDM memegang peranan penting dalam melakukan aktivitas untuk mencapai
tujuan. Guna mencapai kondisi yang diharapkan, diperlukan adanya manajemen terhadap SDM
secara memadai sehingga tercipta SDM berkualitas, loyal, dan berprestasi.
Peran teknologi informasi dalam membantu peningkatan kinerja organisasi sudah
menjadi keharusan pada saat ini untuk mempercepat proses operasional perusahaan.
Pemberdayaan teknologi informasi (TI) juga sudah menjadi kebutuhan yang harus dimiliki dan
dipenuhi semua organisasi. SDM TI pun dibutuhkan bagi organisasi, termasuk instansi
pemerintah dalam menjalankan visi dan misinya.
SDM TI di instansi pemerintah harus mempunyai kemampuan untuk mengelola aplikasi,
sistem, jaringan, dan internet. Untuk itu pengelolaan teknologi menjadi suatu keharusan bagi
setiap perusahaan untuk dapat meraih keunggulan yang kompetitif. Dengan demikian,
ketersediaan SDM TI yang cukup dalam organisasi harus menjadi titik perhatian utama.

II. PROFIL ORGANISASI

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas
Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia, tugas melaksanakan penelitian dan
pengembangan pertanian berada di Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian,
satu unit Eselon I di bawah Kementerian Pertanian. Dalam struktur organisasi, Badan Litbang
Pertanian memiliki 14 Eselon II, 19 Balai Penelitian, dan 32 Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) di setiap provinsi, serta 1 (satu) Satuan Kerja Pengkajian Teknologi
Pertanian. Lokasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Litbang Pertanian yang tersebar di
seluruh provinsi di Indonesia adalah potensi dan kekuatan Badan Litbang dalam mengakselerasi
inovasi teknologi yang dihasilkan untuk dimanfaatkan oleh pengguna dengan memadukan
kebutuhan spesifik lokasi.
Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Litbang menyelenggarakan fungsi: a) Penyiapan
perumusan kebijakan penelitian dan pengembangan pertanian, b) Perumusan program
penelitian dan pengembangan pertanian, c) Pelaksanaan penelitian dan pengembangan
pertanian, d) Evaluasi pelaksanaan penelitian dan pengembangan pertanian, dan e) Pelaksanaan
administratif.

II.1 Struktur Organisasi

Gambar 1. Struktur Organisasi Badan Litbang Pertanian

Dalam menjalankan tugas dan fungsi, pengelolaan operasional dan administrasi Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian dilakukan oleh Sekretariat Badan Litbang Pertanian.
Tugas pokok dari Sekretariat Badan Litbang Pertanian adalah memberikan pelayanan teknis
dan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.
Sekretariat Badan Litbang Pertanian terdiri dari empat (4) bagian, yaitu: i) Bagian
Perencanaan, ii) Bagian Kepegawaian, iii) Bagian Umum, dan iv) Bagian Kerja Sama dan
Hubungan Masyarakat. Manajemen sumber daya TI dikelola oleh Sekretariat Badan dan berada
pada Sub-Bagian Data dan Informasi (Subag. Datim) di bawah koordinasi Bagian Perencanaan.

II.2 Tujuan Organisasi

Tujuan dari Badan Litbang Pertanian adalah sebagai berikut:


a) Menghasilkan varietas unggul baru dan mengembangkan teknologi benih, bibit, pupuk,
alat, dan mesin pertanian, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan
ternak, serta teknologi pascapanen dalam rangka mendukung peningkatan produksi, nilai
tambah, daya saing, dan ekspor.
b) Meningkatkan kapasitas dan kompetensi lembaga (capacity building) untuk
menghasilkan, mengembangkan, mendiseminasikan, dan mempromosikan teknologi
berbasis sumber daya lokal dalam penyediaan dan perbanyakan benih, bibit, pupuk,
aneka obat, alat, dan mesin pertanian, teknologi pascapanen, serta bioteknologi.
c) Menghasilkan, mengembangkan, dan mendiseminasikan teknologi mutakhir terutama
bioteknologi bidang pangan yang mampu mengantisipasi perubahan iklim global,
gangguan OPT, serta preferensi pengguna teknologi dalam rangka peningkatan
produksi, diversifikasi pangan, nilai tambah, dan daya saing.
d) Meningkatkan efektivitas berbagai metode dan media diseminasi inovasi teknologi
pertanian kepada petani dalam rangka mendukung pengembangan sistem pertanian
industrial.
e) Mengkaji dan mengembangkan berbagai model kerja sama kelembagaan antarpelaku
usaha untuk mendiseminasikan hasil inovasi dan kelembagaan kepada petani dan
pengguna secara proporsional untuk mendukung pengembangan sistem pertanian
industrial.
f) Menghasilkan rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian yang bersifat antisipatif
dan responsif untuk mendukung pengembangan sistem pertanian industrial, serta
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

II.3 Indikator Kinerja Badan Litbang Pertanian


Berikut ini adalah sasaran dan indikator kinerja utama Badan Litbang Pertanian untuk periode
2010 – 2014:

Tabel 1. Sasaran dan Indikator Kinerja Utama Badan Litbang Pertanian


No Sasaran Indikator Kinerja

1 Terciptanya varietas unggul,  Jumlah varietas unggul baru padi, jagung,


galur/klon dalam rangka kedelai, dan tanaman pangan lainnya;
peningkatan produksi dan  Jumlah varietas unggul baru dan tanaman
produktivitas mendukung hortikultura (tanaman sayuran, buah tropika dan
pencapaian swasembada dan sub tropika, dan hias);
swasembada berkelanjutan,  Jumlah varietas/klon unggul tanaman perkebunan
dengan produktivitas tinggi dan bermutu;
 Jumlah galur unggul/harapan ternak dan
tanaman pakan ternak (TPT) spesifik lokasi.
2 Terciptanya inovasi teknologi  Jumlah teknologi baru pengelolaan sumber daya
produksi dan pengelolaan lahan dan lingkungan pertanian secara
sumber daya pertanian berkelanjutan, serta formula pupuk;
mendukung pencapaian  Jumlah teknologi baru pengelolaan sumber daya
swasembada dan swasembada lahan dan lingkungan pertanian secara
berkelanjutan. berkelanjutan, serta formula pupuk;
 Jumlah prototipe alat dan mesin untuk
peningkatan efisiensi sistem produksi pertanian,
kualitas, nilai tambah dan daya saing produk,
serta limbah pertanian;
 Jumlah teknologi vaksin ternak isolate lokal,
diagnostik dan formula obat biofarmaka untuk
hewan, jumlah teknologi budidaya dan panen;
 Jumlah teknologi dan manajemen antisipasi,
adaptasi, dan mitigasi perubahan iklim, dan
jumlah teknologi spesifik lokasi.
3 Terciptanya inovasi teknologi Jumlah teknologi penanganan segar produk
pascapanen berbasis sumber pertanian, teknologi dan produk diversifikasi
daya lokal mendukung pangan, subsitusi pangan impor, dan teknologi
diversifikasi pangan dan pengembangan produk bernilai tambah serta
peningkatan nilai tambah, daya berdaya saing.
saing, dan ekspor.
4 Tersedianya kebijakan Jumlah kebijakan untuk penguatan daya saing,
pengembangan kelembagaan perlindungan usaha pertanian, penguatan
agribisnis dan agroindustri kelembagaan dan kebijakan untuk mendorong
untuk peningkatan pertumbuhan sektor pertanian serta pedesaan.
kesejahteraan petani.
No Sasaran Indikator Kinerja

5 Meningkatnya diseminasi dan  Jumlah teknologi yang terdiseminasi kepada


promosi inovasi teknologi stakeholder;
pertanian, serta jejaring kerja  Jumlah kerja sama penelitian nasional dan
sama nasional dan internasional.
6 Meningkatnya jumlah  Jumlah publikasi hasil litbang pertanian;
publikasi di jurnal ilmiah  Prosentase perpustakaan digital;
nasional dan internasional, hak  Jumlah invensi yang memperoleh HKI;
kekayaan intelektual (HKI),  Jumlah invensi yang dilisensi dunia industri.
serta komersialisasi hasil

II.4 Indikator kinerja organisasi TI di Badan Litbang Pertanian

Badan Litbang Pertanian sebagai Unit Kerja Eselon I di lingkungan Kementerian


Pertanian memiliki fungsi sebagai penyelenggara kegiatan penelitian dan pengembangan
pertanian. Dalam rangka mendukung pencapaian visi dan pewujudan misinya, Badan Litbang
Pertanian memerlukan keberadaan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang memadai, yaitu
sistem pengolah data dan informasi berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang
mampu :
1) mengolah data dan informasi secara efisien dan efektif dalam mendukung fungsi penelitian
dan pengembangan;
2) menyimpan data dan informasi secara aman;
3) mendiseminasikan data dan informasi secara akurat, lengkap dan tepat waktu kepada
pengguna (pihak internal maupun eksternal Badan Litbang Pertanian);
4) menyediakan akses data dan informasi setiap kali diperlukan kepada para pengguna sesuai
kebijakan akses yang dirumuskan;
5) mendukung komunikasi data dan informasi antarunit kerja dengan tingkat keandalan yang
tinggi.

Tugas untuk mengembangkan SIM dan mengelola elemen-elemen TIK (perangkat


komputer, jaringan komunikasi, dan perangkat lunak), dikelola oleh Sekretariat Badan Litbang
Pertanian yang merupakan Unit Kerja Eselon II di bawah Badan Litbang Pertanian.
Pengelolaan terhadap SIM dan elemen-elemen TIK tersebut perlu dilakukan melalui kerangka
tata kelola TIK yang terdiri dari kebijakan, prosedur, organisasi, dan SDM.
Sampai sejauh ini, indikator kinerja organisasi TI secara tertulis belum ada di Badan
Litbang Pertanian. Namun, indikator kinerja tersebut dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan pada Subbag Datim di Sekretariat Badan Litbang Pertanian. Berikut ini adalah
identifikasi indikator kinerja organiasasi TI, dilihat dari ruang lingkup kegiatan-kegiatan yang
ada di Subbag Datim.

Tabel 2. Sasaran dan Indikator Kinerja Organisasi TI di Badan Litbang Pertanian


No Sasaran Indikator Kinerja

1 Menyempurnakan aplikasi Sistem Paket penyempurnaan fitur dalam Portal


Portal Badan Litbang Pertanian; litbang;
2 Mengembangkan aplikasi berbasis Jumlah aplikasi pendukung manajemen Badan
web mendukung manajemen Litbang Pertanian yang berbasis elektronik/web,
Badan Litbang Pertanian; layanan e-form, webmail, dan lainnya;
3 Menyajikan data dan informasi Jumlah data dan informasi yang up to date
sumber daya penelitian dan secara rutin dalam Portal Litbang;
pengembangan pertanian yang
terekam secara online;
4 Menyusun standar pengelolaan Paket standar pengelolaan SI/TI Badan Litbang
SI/TI Badan Litbang Pertanian; Pertanian;
5 Memberikan layanan bantuan Prosentase peningkatan kualitas jaringan LAN
teknis pengembangan situs web dan situs web di unit pelaksana teknis;
dan jaringan LAN;
6 Meningkatkan kompetensi SDM Jumlah kompetensi SDM dalam penguasaan
dalam penguasaan SI/TI. SI/TI meningkat.

II.5 Pimpinan tertinggi organisasi TI di Badan Litbang Pertanian

Pimpinan tertinggi organisasi TI di Badan Litbang Pertanian dijabat oleh Kasubbag


Datim, yang merupakan jabatan struktural eselon III Badan Litbang Pertanian di bawah Bagian
Perencanaan. Kasubbag Data dan Informasi berperan sebagai penanggung jawab dari kegiatan
Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Manajemen Badan Litbang Pertanian. Sub kegiatan
pada Subbag Datim adalah: a) Pengembangan Sarana jaringan dan Back Office, b)
Pemeliharaan dan Pengembangan Front Office, c) Standarisasi Pengelolaan SI/TI dan
Pengelola SI/TI, dan d) Peningkatan Kompetensi SDM.

III. SIKLUS MANAJEMEN SDM


Secara garis besar, siklus manajamen SDM di instansi pemerintah dimulai dari: a)
perencanaan SDM, b) rekrutmen pegawai, c) seleksi dan penempatan, d) pengembangan karir,
e) penilaian kinerja, dan f) pemberhentian atau pensiun. Badan Litbang Pertanian juga
mengacu pada siklus manajemen SDM tersebut, termasuk SDM TI di lingkupnya.

a. Perencanaan SDM
Perencanaan SDM dilakukan dengan menetapkan formasi dan jumlah SDM, dalam hal
ini yang diperlukan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Penetapan formasi PNS dilakukan oleh
Badan Kepegawaian Negara (BKN), sedangkan penetapan tenaga honorer yang diperlukan
direncanakan oleh internal instansi pemerintah masing-masing, disesuaikan dengan kebutuhan
SDM yang diperlukan.
Ketentuan mengenai formasi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun
2000 tentang Formasi PNS. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000, Formasi
Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut dengan formasi adalah jumlah dan susunan
pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan dalam suatu satuan organisasi negara untuk
mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu.

b. Rekrutmen Pegawai
Setelah proses penetapan formasi ditentukan, selanjutnya adalah tahap rekrutmen atau
pengadaan calon PNS berdasarkan formasi yang ada. Rekrutmen calon PNS diajukan oleh
instansi pemerintah kepada BKN berdasarkan jumlah yang disediakan dan spesifikasi pangkat
Pegawai Negeri Sipil sesuai jenjang pendidikan. Sejalan dengan kebijakan pemerintah,
pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari pelamar umum dilakukan berdasarkan
kebutuhan organisasi untuk mengisi formasi yang lowong tersebut.
Sedangkan rekrutmen tenaga honorer dilakukan langsung oleh masing-masing instansi
pemerintah. Hal ini diatur dalam Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara 9 Tahun 2012
Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil pada Lampiran 1, yaitu:
pengangkatan tenaga honorer yang penghasilannya dibiayai dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dilakukan secara bertahap dan sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan keuangan negara mulai formasi Tahun Anggaran 2005 sampai
dengan formasi Tahun Anggaran 2012.
c. Seleksi dan Penempatan
Tahap seleksi dilakukan dengan mengadakan Tes Kompetensi Dasar (TKD) bagi semua
pelamar dan Tes Kompetensi Bidang (TKB) sesuai kebutuhan jabatan masing-masing
instansi. Setelah melakukan seleksi melalui tes TKD dan TKB, kemudian ditetapkan dan
diumumkan hasil seleksi, yang kemudian dilakukan pemanggilan.

d. Pengembangan Karier
Pengembangan karier dalam PNS dilakukan berdasarkan jabatan struktural dan fungsional
yang hanya dapat diduduki Pegawai Negeri Sipil setelah memenuhi syarat yang ditentukan.
Bentuk dari pengembangan karier tersebut berupa pendidikan kilat (diklat), pelatihan atau
pembinaan, beasiswa sekolah.

e. Penilaian Kinerja
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2011 tentang
Penilaian Prestasi Kerja PNS. Peraturan ini sekaligus merupakan penyempurnaan dari PP
Nomor 10 Tahun 1979 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan PNS yang dianggap tidak
sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dan kebutuhan hukum.
Sebelum keluarnya peraturan yang baru ini, bagi PNS, penilaian kinerja diatur dalam PP
10 Tahun 1979 melalui Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3), komponen penilaian
dalam DP3 antara lain adalah kesetiaan, prestasi kerja, tanggung jawab, ketaatan, kejujuran,
kerja sama, prakarsa, dan kepemimpinan bagi PNS yang menduduki jabatan. Namun seiring
dengan adanya reformasi birokrasi, sistem penilaian kinerja PNS melalui DP3 dinilai tidak lagi
komprehensif untuk dijadikan sebagai alat pengukur kinerja.
Berbeda dengan DP3, pada PP Nomor 46 Tahun 2011, penilaian prestasi kerja terdiri dari
dua unsur yaitu Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan perilaku kerja dengan bobot nilai unsur SKP
sebesar 60 persen dan perilaku kerja sebesar 40 persen. Penilaian SKP meliputi aspek-aspek
seperti kuantitas, kualitas, waktu, dan biaya. Sementara penilaian perilaku kerja meliputi
orientasi pelayanan, integritas, komitmen, disiplin, kerja sama, dan kepemimpinan.

f. Pemberhentian atau Pensiun


Pemberhentian PNS terjadi karena telah melewati batas usia maupun pensiun dini yang
diatur dengan ketentuan batas usia pensiun, baik untuk jabatan struktural maupun fungsional.
Selain itu ada juga pemberhentian secara tidak hormat dikarenakan sanksi disiplin kepegawaian
atau melakukan pelanggaran-pelanggaran yang bertentangan dengan perundang-undangan
yang berlaku.

IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

IV.1 Kondisi Sumber Daya TI di Badan Litbang Pertanian Saat Ini


IV.1.1 Jenjang Karier TI Saat Ini
Pimpinan tertinggi organisasi TI di Badan Litbang Pertanian dijabat oleh Kasubbag
Datim, yang merupakan jabatan struktural eselon III Badan Litbang Pertanian di bawah Bagian
Perencanaan. Kasubbag. Data dan Informasi berperan sebagai penanggung jawab dari kegiatan
Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Manajemen Badan Litbang Pertanian. Secara
strukutur organisasi, jenjang karier TI di Badan Litbang digambarkan sebagai berikut:

Kepala Badan

Sekretaris Badan

Kabag. Perencanaan Kabag. Kepegawaian Kabag. Umum Kabag. Kerja


Sama & Humas

Kasubbag. Data &


Informasi

Koordinator

Staf Staf Pengelola Staf Pengelola Staf Pengelola


Pengelola Website & Webmail Aplikasi Jaringan

Gambar 2. Struktur Jenjang Karier TI di Badan Litbang Pertanian Berdasarkan Tupoksi

Badan Litbang Pertanian belum membuat struktur jenjang karier untuk SDM TI. Namun
dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Subbag Datim, dapat terlihat kebutuhan
keterampilan personel untuk melaksakan kegiatan yang menjadi tupoksinya. Berikut ini
penjabaran dari standar pengelolaan TI oleh Subbag Datim:
A. Pengembangan Sarana Jaringan dan Back Office
1) Review sistem portal dan infrastruktur jaringan yang ada, serta kebutuhan
pengembangan web database;
2) Penyempurnaan manajemen jaringan dan sistem portal
Penyempurnaan sistem portal dan manajemen jaringan meliputi pemeliharaan dan
pengembangan sarana portal seperti manajemen bandwidth, penataan domain,
pengembangan web berbahasa Inggris, dan lain-lain;
3) Pengembangan web database berdasar analisis kebutuhan
- Perancangan Basis data. Basis data adalah kumpulan data yang saling berhubungan
antara satu dengan lainnya. Basis data (database) merupakan komponen yang
penting dalam sistem informasi. Pada tahap ini akan dilakukan suatu
penyempurnaan rancangan basis data.
- Perancangan atau Desain Interface dibuat dengan tujuan supaya pemakai mudah
mengerti (user friendly). Perancangan interface ini meliputi perancangan tampilan
utama (front-end) yang diinginkan serta tampilan admin (back-end) untuk
pengelola (admin system).
- Perancangan program mengacu pada skema modul yang telah dibuat pada langkah
perancangan basis data;
4) Penyempurnaan sistem webmail
Layanan webmail Badan Litbang Pertanian yang dikenal dengan IAARD WebMail,
digunakan untuk para pimpinan, peneliti atau fungsional lain serta tenaga atau staf
Badan Litbang Pertanian dalam bentuk layanan surat elektronik.

B. Pemeliharaan dan Pengembangan Front Office


1) Review keragaan data yang ada
Review keragaan data yang dilakukan untuk mendapatkan informasi yang telah ada
maupun yang belum ada, serta yang sering ditanyakan atau dicari oleh pengunjung.
2) Pengumpulan data
Dari hasil review, data yang belum tersedia dikumpulkan dari berbagai sumber, antara
lain, dari UK dan UPT.
3) Entri dan updating data
Pembaharuan (updating) data situs web mutlak untuk dilakukan baik data atau
informasi yang bersifat statis, semi statis, dan dinamis.
4) Analisis pemanfaatan Portal dan web database
Hasil analisis diperoleh dari statistik pengunjung website dan daftar kata kunci yang
sering digunakan oleh pengunjung website. Selain itu juga dari email yang dikirim serta
pertanyaan maupun komentar yang masuk di website dan mail server. Hasil tersebut
kemudian dijadikan laporan untuk mengetahui kinerja pengelola website mapun portal
informasi Badan Litbang Pertanian.

C. Standarisasi Pengelolaan SI/TI lingkup Satuan Kerja Badan Litbang Pertanian


1) Pembahasan materi standarisasi
Hasil rancangan panduan yang telah disusun pada tahun sebelumnya dikaji ulang secara
materi dan tata cara penyusunan untuk kemudian dilakukan perbaikan. Selain panduan
di-review pula SOP dan ISO terkait pengelolaan SI/TI, maupun penyempurnaan
Template CMS Badan Litbang Pertanian.
2) Penyusunan Standar Pengelolaan
Dari hasil pembahasan materi dilakukan penyempurnaan panduan, SOP, dan ISO sesuai
dengan masukan.
3) Sosialisasi
Sosialisasi standar pengelolaan SI/TI dilakukan melalui kegiatan rapat, koordinasi, dan
pelatihan (workshop), maupun bantuan teknis.

D. Peningkatan Kompetensi SDM


1) Pembahasan materi workshop/koordinasi
Peningkatan kompetensi sumber daya manusia bidang SI/TI dilakukan melalui
kegiatan bantuan teknis, koordinasi, dan workshop pengelolaan SI/TI, termasuk
pengelola situs web. Penentuan materi kegiatan dilakukan melalui pembahasan dalam
bentuk rapat dan diskusi.
2) Penyusunan Jadwal, peserta, dan narasumber
Dari pembahasan materi, dilakukan penyusunan jadwal kegiatan, peserta dan
narasumber yang akan diundang. Peserta dan narasumber disesuaikan dengan tema dan
materi yang telah ditetapkan.
3) Pelaksanaan kegiatan
Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Lamanya
pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan tema dan materi yang telah ditetapkan.
Kegiatan koordinasi dan workshop diharapkan menghasilkan rumusan.
IV.1.2 KOMPETENSI DALAM JENJANG KARIER TI
Satu hal yang menjadi kunci dalam mengimplementasikan pengelolaan sumber daya
manusia (SDM) yang efektif adalah dengan peningkatan dan pengembangan kompetensi
SDM pada setiap tugas dan pekerjaan. Hal ini dikarenakan kompetensi individu biasanya
sangat terkait dengan tugas dan kinerja organisasi, yakni peningkatan kompetensi individu
yang akan diikuti dengan peningkatan kualitas kerja dan kinerja organisasi.
Secara tidak langsung, Badan Litbang Pertanian telah melakukan kompetensi teknis pada
bidang TI. Kompetensi tersebut terdiri dari aspek pengetahuan dan aspek keterampilan,
yang dapat diukur melalui beberapa indikator. Aspek pengetahuan diukur dengan indikator:
(1) tingkat pendidikan formal; (2) pelatihan teknis yang pernah diikuti; dan (3) kemampuan
menguasai pekerjaan. Sedangkan aspek keterampilan diukur dengan indikator: (1) petunjuk
teknis pekerjaan; dan (2) ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaan. Pendidikan formal
merupakan dasar utama dalam memperoleh pengetahuan umum dan keterampilan,
meskipun pendidikan non-formal seperti pelatihan dan kursus juga mampu meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, profesionalitas, produktivitas serta daya saing.

IV.2 Evaluasi Manajemen SDM TI di Badan Litbang Pertanian


Badan Litbang Pertanian menyadari pentingnya penyelarasan antara manajemen SDM
IT dengan proses perencanaan teknologi untuk organisasi. Sudah dibentuk seksi atau
bagian yang secara resmi bertanggung jawab untuk manajemen SDM IT, walaupun
pembagian tugas dan fungsi untuk masing-masing individu di dalamnya belum terdefinisi
dengan baik. Kasubbag Datim menyadari kebutuhan manajemen SDM di bidang IT, namun
proses manajemen SDM tersebut masih dilaksanakan secara informal dan reaktif.
Kebutuhan kompetensi dan kemampuan SDM TI yang baik belum terlihat nyata di Badan
Litbang Pertanian, khususnya Kasubbag Datim selaku eksekutif yang bertanggung jawab atas
perencanaan, penyelarasan, penyiapan, implementasi, dan evaluasi TIK di dalam suatu
organisasi.atau Chief Information Officer (CIO). Peningkatan kompetensi dan kemampuan
personel TI dilakukan dengan menyewa dan mengelola personel TI. Namun sayangnya, hal
tersebut dilakukan karena didorong kebutuhan proyek insidentil, bukan oleh pemahaman
kontinuitas ketersediaan staf IT internal yang terampil.
Pelatihan untuk pegawai di Badan Litbang Pertanian baru bersifat informal dan hanya
diperuntukkan bagi yang memiliki kemampuan dasar operasional TI saja, belum
memerhatikan tuntutan penguasaan teknologi yang semakin berkembang saat ini. Akibatnya,
mutu personel TI kurang terampil menghadapi rencana pengembangan TIK di Badan Litbang
Pertanian yang “dua langkah” lebih maju. Dengan keadaan seperti ini, dapat dipastikan bahwa
personel yang terampil dan dapat menguasai teknologi saat ini akan berpindah pada pihak
ketiga (outsourcer). Berdasarkan hal tersebut di atas, berikut adalah tabel mengenai identifikasi
masalah dan potensi risiko pada organisasi TI di Badan Litbang Pertanian.

Tabel 3. Evaluasi dan Identifikasi Potensi Risiko Manajemen SDM TI Badan Litbang Pertanian

No Hasil Evaluasi Potensi risiko


1 Proses pengelolaan SDM TI masih Kualitas SDM kurang berkembang seiring
bersifat reaktif dan informal; kebutuhan perusahaan dan perkembangan
teknologi;
2 Belum ada standardisasi Tidak ada acuan yang pasti dalam mengukur
pengukuran dan identifkasi kompetensi SDM TI, kualitas SDM TI tidak
kemampuan SDM TI; terjamin;
3 Belum adanya pembagian tugas dan Kurangnya kualitas SDM dalam mendukung
fungsi yang sesuai dengan jenjang organisasi TI akibat tumpang tindihnya
karier SDM TI. pekerjaan dan tidak adanya unsur ekspektasi
bagi personel TI untuk meningkatkan karier.
IV.3 Usulan Perbaikan Manajemen SDM Bidang TI di Badan Litbang Pertanian
Melihat kebutuhan kerja yang ada dan permasalahan yang terjadi pada Badan Litbang
Pertanian, serta berdasarkan kategori kompetensi TIK, maka dibutuhkan kompetensi teknis
yang setara dengan kompetensi seorang pendukung teknis (technical support). Merujuk pada
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Teknologi Informasi dan
Komunikasi, maka keahlian atau unit kompetensi yang dibutuhkan seorang pendukung
teknis dapat dibagi kepada empat (4) unsur, yaitu: perangkat keras (hardware), perangkat
lunak (software), perangkat jaringan, dan keamanan.
Sebagai alternatif lain, pemberian pelatihan-pelatihan mengenai teknis jaringan
komputer dan perangkat juga sangat baik untuk dilakukan. Pelatihan dirasa cukup efektif
untuk mengembangkan pengetahuan dan kompetensi pegelola di bidang TIK. Sebab tidak
dapat dimungkiri, pengetahuan teknis menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki SDM TI.
Ada berbagai macam kebutuhan SDM TI sesuai ragam dan jenis perusahaan. Akan tetapi
menurut SKKNI (Sistem Kompetensi Kerja Nasional Indonesia), jenis-jenis pekerjaan bidang
Teknologi Informasi dapat dikategorikan menjadi lima jenis dan masing-masing telah
dipetakan kompetensi kebutuhannya sebagai berikut:
 Operator, Kompetensi yang harus dimiliki terdiri atas: Kompetensi umum, inti, dan
spesialisasi. Kompetensi operator juga banyak disebut sebagai kompetensi dasar SDM
yang berkecimpung di bidang TI.
 Programer, Kompetensi yang harus dimiliki terdiri atas: Keahlian bidang manajemen,
kompetensi pemrograman umum, pemrograman basis data, pemrograman web/internet,
kompetensi pemrograman multimedia, pemrograman sistem, kompetensi pengembangan
pengujian perangkat lunak, kompetensi pemrogaman dengan program aplikasi.
 Jarkom (Jaringan Komunikasi dan sistem), Kompetensi yang harus dimiliki terdiri atas:
kompetensi umum, inti, spesialisasi bidang implementasi jaringan, dan spesialisasi bidang
pemeliharaan jaringan.
 CTS (Computer Technic Support), Kompetensi yang harus dimiliki terdiri atas:
kompetensi umum, inti, dan pilihan yang merupakan dukungan terhadap TI.
 Multimedia dan audiovisual; Kompetensi yang harus dimiliki terdiri atas: kompetensi
umum, inti, dan khusus yang merupakan kemampuan teknis visual.

Menurut PPAUME ITB dan APJII yang mengacu pada Australian National Training
Authority ANTA, kompetensi khusus yang harus dimiliki oleh masing-masing SDM TI pada
suatu organisasi TI adalah Web Developer/Programmer (pengembang web/pembuat
program), Web Designer (desainer web), Database Administrator (pengelola basis
data), System Administrator (pengelola sistem), Network Administrator (pengelola
jaringan), Help Desk (operator), dan Technical Support (dukungan teknis). Berdasarkan hasil
evaluasi dan deskripsi tentang SDM TI di atas, perbaikan yang harus dilakukan Badan Litbang
Pertanian terkait dengan Manajemen SDM TI termaktub pada Tabel 4.

Tabel 4. Usulan Perbaikan Berdasarkan Hasil Evaluasi Manajemen SDM TI Badan Litbang
Pertanian

No Hasil Evaluasi Potensi Risiko Usulan Perbaikan


1 Proses pengelolaan SDM Kualitas SDM kurangMelakukan manajemen
TI masih bersifat reaktif berkembang kualitas personel IT melalui
seiring
dan informal. kebutuhan perusahaan dan assesement, evaluasi,
perkembangan teknologi. pelatihan, program rotasi dan
review kinerja secara berkala.
2 Belum ada standardisasi Tidak ada acuan yang pasti Menentukan kebutuhan
pengukuran dan dalam mengukur kompetensi kompetensi minimal SDM TI
identifkasi kemampuan SDM TI, sehingga kualitas dan menentukan standar
SDM TI. SDM TI tidak terjamin. jenjang karier.
3 Belum adanya pembagian Kurangnya kualitas SDM Pembenahan struktur
tugas dan fungsi yang dalam mendukung organisasi TI di Subbag
sesuai dengan jenjang organisasi TI akibat Datim.
karier SDM TI. tumpang tindihnya
pekerjaan dan tidak adanya
unsur ekspektasi bagi
personel TI untuk
meningkatkan karier.

Pada tabel 4, unsur yang paling penting untuk dilakukan perbaikan pada manajemen
SDM TI di Badan Litbang Pertanian adalah pembenahan struktur organisasi TI di Subbag
Datim. Struktur organisasi, telah menggambarkan proses bisnis, tugas dan fungsi, peran, serta
kompetensi dan jenjang karier yang jelas bagi personel TI di Badan Litbang Pertanian. Berikut
ini rekomendasi struktur organisasi TI di Subbag Datim Badan Litbang Pertanian.

Gambar 3. Rekomendasi Struktur Organisasi TI di Subbag Datim, Badan Litbang


Pertanian
Berdasarkan struktur organisasi pada Gambar 3, maka terlihat jelas jabatan,
kompetensi, dan jenjang karier bagi personel TI di Badan Litbang Pertanian. Selain itu
terbentuk pula tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing jabatan tersebut, sebagai
berikut:
a) Kasubbag TI yang berperan sebagai CIO:
 Merumuskan rencana strategis terkait kebijakan, pengembangan, dan mengkaji
pendayagunaan sumber daya teknologi komunikasi dan informasi (TIK);
 Menyusun Key Performance Indikator dalam kegiatan operasi TIK;
 Mengelola proyek yang berkaitan dengan pengembangan TIK;
 Mengembangkan kompetensi dan mengevaluasi sumber daya manusia untuk
pemanfaatan TIK;
 Melakukan analisis dan menyediakan standar tata kelola TIK;
 Merancang pemanfaatan data dan informasi untuk pengambilan keputusan,
perumusan kebijakan teknis, perencanaan, monitoring, dan evaluasi;
 Me-review, mengontrol, dan mengkoordinasikan kegiatan TIK dengan personel
internal Subbag Datim;
 Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kabag Perencanaan, Sekretaris
Badan, dan Kepala Badan Litbang Pertanian.

b) Seksi Pengembangan Produk TI:


 Menyusun arsitektur sistem informasi dan teknologi;
 Menyusun sumber daya TI bagi pelaksanaan kebijakan teknis untuk pengembangan
TIK;
 Mengontrol dan mengkoordinasikan pengembangan TIK kepada staf-staf di
bawahnya;
 Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kasubbag Datim.

c) Seksi Pelayanan Produk TI:


 Menyediakan standardisasi sistem dan informasi TIK di Badan Litbang Pertanian
dan UK/UPT lingkup Badan Litbang Pertanian;
 Mengendalikan kualitas data dan informasi pada semua produk layanan TI;
 Mengkontrol dan mengkoordinasikan pelayanan produk TI kepada staf-staf di
bawahnya;
 Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kasubbag Datim.

d) Staf-staf di bawah Seksi Pengembangan Produk dan Seksi Layanan Produk TI:
 Staf Pengambangan Aplikasi, di antaranya adalah: i) Bertindak sebagai pengembang
aplikasi (mengembangkan aplikasi sesuai dengan arsitektur sistem informasi dan
teknologi yang telah dibuat), ii) memberikan pelatihan pada tahap deployment dan
memelihara aplikasi-aplikasi TIK., iii) melakukan upgrade aplikasi sesuai dengan
instruksi Seksi Pengembangan Produk TI, dan iv) memberi laporan pengembangan
aplikasi kepada Seksi Pengembangan Produk TI.
 Staf infrastruktur TI, di antaranya adalah: i) menyediakan infrastruktur TIK yang
sesuai dengan arsitektur sistem informasi dan teknologi, ii) menyediakan pola
pengembangan aplikasi jaringan teknologi TIK, iii) melakukan pemeliharaan dan
perbaikan yang diperlukan atas infrastruktur TI, dan iv) memberi laporan
pengembangan aplikasi kepada Seksi Pengembangan Produk TI.
 Staf Data Processing/Back Office, di antaranya adalah: i) mengkompilasi, mengolah
data back office sesuai tanggung jawabnya, ii) Menguji validitas data dan memberikan
masukan terhadap produk layanan TI yang akan dikembangkan, iii) memberi laporan
kepada Seksi Layanan Produk TI.
 Staf Layanan TI/Front Office, di antaranya adalah: i) Menyediakan informasi terhadap
pengguna internal lingkup Badan Litbang Pertanian dan stakeholder, ii) melakukan
input dan update data pada produk layanan TI yang menjadi tanggung jawabnya, iii)
menguji tampilan antarmuka dan informasi pada produk layanan TI, iv) memberikan
masukan terhadap produk layanan TI yang telah dihasilkan, dan v) memberi laporan
kepada Seksi Layanan Produk TI.
 Staf Keamanan Informasi, di antaranya adalah: i) melakukan pengamanan data dan
informasi, ii) melaksanakan proses recovery dan backup data serta informasi, iii)
menguji vulnerabilitas produk layanan TI, iv) memberikan masukan terkait dengan
keamanan informasi terhadap produk layanan TI yang telah dihasilkan, dan v)
memberi laporan kepada Seksi Layanan Produk TI.
Referensi

Marudur, P D. Kompetensi Pengelola dalam Mengatasi Permasalahan Teknis pada Pusat


Layanan Internet Kecamatan, Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi: Vol 1 No 1
Desember 2012. Bandung
Badan Litbang Pertanian, Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Tahun 2010-2014.
Astika, B I M. 2010. Pengaruh Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Dan Kemampuan Kerja
Terhadap Prestasi Kerja Karyawan Pada PT. Sumber Alam Semesta Di Bangli.
Thesis. Universitas Udayana, Denpasar.
Suderadjat, H. 2010. Pengembangan Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia Aparatur
Pemerintah Daerah. Jurnal Ilmu dan Budaya Universitas Nasional: Vol 32, No 23 (2010).
Universitas Nasional:Jakarta