Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS KEPERAWATAN MATERNITAS

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXII


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Nama Mahasiswa : Imelda Widiyatama


NIM : J230195106
Tempat Praktik : Ruang MELATI 1 RSUD Dr. Moewardi Surakarta
Tanggal Pengkajian : 16 Januari 2020

I. Identitas Pasien
NamaPasien : Ny. S
Tanggal lahir : 01 Januari 1957
Usia : 63 tahun
Alamat : Sragen
Diagnosa Medis : G0P0A0 Ca. Ovari
II. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien Ny. D berusia 63 tahun datang ke RSUD DR Moewardi karena mendapat rujukan
dari RSUD Sragen karena perut yang semakin lama semakin membesar1 bulan sebelum
masuk rumah sakit, pasien mengatakan nyeri skala 7 seperti ditusuk tusuk di area perut
dan tidak menyebar dan memberat jika aktivitas, perut terasa mbeseseg.
III. Keluhan Utama
Pasien mengatakan perut semakin lama semakin membesar dan nyeri pada perut
P : aktivitas
Q : seperti ditusuk-tusuk
R : perut
S : skala 7
T : terus menerus
IV. Tanda dan Gejala
Pasien mengalami perut yang semakin lama semakin membesar1 bulan sebelum masuk
rumah sakit, pasien mengatakan nyeri skala 7 seperti ditusuk tusuk di area perut dan
tidak menyebar dan memberat jika aktivitas, perut terasa mbeseseg. BB sebelum sakit:
58 kg BB setelah sakit:49 kg penurunan berat badan 9 kg dalam 3 bulan terakhir.Nafsu
makan berkurang, BAB sulit sudah 5 hari tidak BAB. Bising usus 5 kali per menit, teraba
massa solid dengan batas atas setinggi proceccus xipoideus batas bawah kesan masuk
panggul. Pasien dan keluarga mengatakan cemas dengan keadaan pasien dan berharap
pasien sembuh total.
V. Hasil Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. BB/TB saat ini : 49 kg /153 cm
4. Tanda vital saat ini : TD : 131/69 mmHg, N : 108 x/menit, RR : 24
x/menit, S : 36,9 oC,
5. Status ostetrik saat ini : P0A0
6. Kepala leher :
a. Kepala : bentuk simetris, rambut berwarna hitam, tidak rontok, tidak ada nyeri
tekan
b. Mata : bentuk simetris kanan dan kiri, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik,
pupil isokor 3mm/3mm, reflek terhadap cahaya baik
c. Hidung : bentuk simetris, tidak ada discharge, tidak ada nyeri tekan,
d. Mulut : mulut bersih, tidak ada stomatitis, tidak ada nyeri
e. Telinga : bentuk telinga simetris kanan dan kiri, tidak ada discharge, tidak ada
nyeri tekan
f. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
7. Jantung :
a. Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
b. Palpasi : ictus cordis teraba di ics 5 mid klavikula
c. Perkusi : suara redup
d. Auskultasi : bunyi jantung normal (S1 dan S2 reguler), tidak ada bunyi tambahan,
8. Paru :
a. Inspeksi : pengembangan dada simetris
b. Palpasi : tidak ada retraksi dada, tidak ada nyeri tekan
c. Perkusi : suara redup
d. Auskultasi : pola nafas normal, tidak ada suara nafas tambahan,
9. Payudara : payudara simetris, aerola terlihat hiperpigmentasi, puting menonjol, warna
normal, tidak ada nyeri, ASI dapat keluar.
10. Kulit : Turgor kulit < 3 detik,
11. Abdomen :
a. Inspeksi : tidak ada bekas luka
b. Auskultasi : terdengar suara peristaltik usus 5x/menit,
c. Perkusi : suara redup pada kuadran kiri atas dan kiri bawah kuadran kanan atas
dan kanan bawah
d. Palpasi : Teraba massa solid dengan batas atas setinggi procesus xipoideus batas
bawah kesan masuk panggul
12. Ekstremitas : terdapat edema pada ekstermitas bawah kanan dan kiri, akral hangat,
terpasang infus pada tangan kiri
13. Genitalia : Tidak terdapat discharge yang keluar dijalan lahir.
VI. Pengobatan
No Obat Dosis Rute
1. Infus Nacl 3 % 8 tpm IV
2. Injeksi Ranitidine 50 mg/8 jam IV
3. Injeksi Ketorolac 30 mg/8 jam IV
4. Injeksi Ampicilin 1 g/12 jam IV
5. Injeksi Metronidazole 500 mg/8 jam IV
6. Injeksi Methyl 62,5 mg/12 jam IV
Prednisolone

VII. Hasil Pemeriksaan Penunjang


1. Laboratorium (Tanggal 12 Januari 2020)
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
Hematologi Rutin
Hemoglobin 8,8 g/dl 12.0 – 15.6
Hematokrit 28 % 33 – 45
Leukosit 33,8 ribu/ul 4.5 – 11.0
Trombosit 550 ribu/ul 150 – 450
Eritrosit 3,49 juta/ul 4.10 – 5.10
Golongan darah B
Kimia Klinik
Glukosa darah sewaktu 106 mg/dl 60 – 140
SGOT u/l <31
SGPT u/l <34
Biologi
HbsAg Rapid Non Reaktive Nonreaktive

2. Hasil Pemeriksaan EKG ( Tanggal 12 Januari 2020)


Hasil pemeriksaan EKG disimpulkan yaitu Sinus rhythm
VIII. Analisa Data
No Data Fokus Masalah Etiologi
DS:
Pasien mengatakan sudah 5 hari
belum BAB, sebelum masuk rumah
Kelemahan otot
sakit BAB sudah sulit, feses keras.
abdomen,
Pasien mengatakan tidak nafsu
Ketidakcukupan
makan, makan hanya 2 sendok
1 Konstipasi asupan nutrisi,
sekali makan frekuensi 3 kali.
aktivitas fisik
Aktivitas fisik pasien hanya
kurang dari yang
ditempat tidur selama sakit
dianjurkan
DO:
Bising usus 5 kali/menit
Terdapat distensi abdomen
2 DS : Nyeri akut Agen cidera
Pasien mengatakan nyeri pada biologis(Ca.
perut yang semakin lama semakin Ovarium)
membesar
P : aktivitas
Q : seperti ditusuk-tusuk
R : perut
S : skala 7
T : terus menerus

DO :
Teraba massa solid dengan batas
atas setinggi proceccus xipoideus
batas bawah kesan masuk panggul.
Pasien dan keluarga mengatakan
cemas dengan keadaan pasien dan
berharap pasien sembuh total.
Tanda vital saat ini
TD : 131/69 mmHg, N : 108
x/menit, RR : 24 x/menit, S : 36,9
o
C,
Pasien tampak menahan nyeri,
pasien tampak focus dengan dirinya
3. DS : Ansietas Krisis situasional,
Pasien dan keluarga mengatakan ancaman kematian
cemas dengan penyakitnya dan
berharap pasien bias sembuh total.
DO :
Pasien dan keluarga tampak cemas,
pasien dan keluarga terus-terusan
menanyakan prognosa penyakit
pasien dan pengobatan yang akan
dijalankan

IX. Diganosa Keperawatan


1. Konstipasi berhubungan dengan Kelemahan otot abdomen, Ketidakcukupan
asupan nutrisi, aktivitas fisik kurang dari yang dianjurkan
2. Nyeri akut berhubungan dengan Agen cidera biologis(Ca. Ovarium)
3. Ansietas b.d Krisis situasional, ancaman kematian
X. Intervensi Keperawatan
No Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Dx
1 Pasien dapat defekasi dengan 1. Tentukan polaU1. Untuk dapat
teratur (setiap hari) defekasi bagi klien mengetahui tingkat
Kriteria hasil : dan latih klien untuk kekurangan kandungan
1)    Defekasi dapat dilakukan menjalankannya Hb, albumin, dan
satu kali sehari. glukosa dalam darah.
2)    Konsistensi feses lembut b. 
3)    Eliminasi feses tanpa perlu 2)    2. Atur waktu yang 2. Untuk mengembalikan
mengejan berlebihan tepat untuk defekasi keteraturan pola
klien seperti sesudah defekasi klien
makan

3)     3. Berikan cakupanc.  3. Untuk memfasilitasi


nutrisi berserat refleks defekasi
sesuai dengan
indikasi
d. 

4)     4. Berikan cairann4. Nutrisi serat tinggi


jika tidak untuk melancarkan
kontraindikasi 2-3 eliminasi fekal
liter per hari

5.    Pemberian e. 5. Untuk melunakkan


laksatif atau eliminasi feses
enema sesuai
indikasi

f.    Untuk melunakkan


feses
2. Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri 1. TTV merupakan
keperawatan diharapkan nyeri 1. Kaji TTV pasien indicator untuk
bisa teratasi dengan kriteria 2. Lakukan memantau intensitas
hasil: pengkajian nyeri nyeri
1.Mampu mengontrol nyeri secara 2. Mengetahui skala
(mampu menggunakan komprehensif nyeri, letak, dan
teknik nonfarmakologi untuk 3. Kaji sesuatu intensitas nyeri
mengurangi nyeri) yang bisa 3. Dapat mendorong
2.Menyatakan rasa nyaman dilakukan pasien pasien untuk
setelah nyeri berkurang untuk melakukannya saat
3.Skala nyeri berkurang mengurangi merasa nyeri
4.TTV dalam rentang normal nyeri 4. Hal ini dapat
4. Kaji factor yang dihindarkan
memperberat 5. Hal ini dapat
nyeri mengurangi factor
5. Kurangi factor penyebab nyeri
presipitasi nyeri 6. Kenyamanan dapat
6. Kendalikan mengurangi nyeri
factor 7. Istirahat dapat
lingkungan agar merileksasikan
nyaman kondisi tubuh
7. Tingkatan 8. Untuk mengurangi
istirahat nyeri yang dapat
8. Ajarkan teknik dilakukan mandiri
non farmakologi 9. Pemberian obat
untuk analgesic dapat
mengurangi menurunkan nyeri
nyeri (nafas dengan teknik
dalam, distraksi, farmakologi
massage,
guideimagery)
9. Kolaborasi
dengan dokter
untuk pemberian
analgetik
Setelah dilakukan intervensi 1. Bina 1. Hubungan saling
selama 3x24 jam, diharapkan hubungan percaya adalah
Ansietas dapat diminimalkan saling dasar hubungan
sampai dengan diatasi percaya terpadu yang
antara mendukung
 kriteria hasil : perawat- klien dalam
o klien tampak pasien mengatasi
tenang 2. Pahami rasa perasaan cemas
o klien menerima takut/ 2. perasaan adalah
tentang ansietas nyata dan
penyakitnya pasien membantu
o gangguan tidur 3. Kaji tingkat pasien untuk
hilang ansietas dan terbuka sehingga
diskusikan dapat
penyebab mendiskusikan
bila mungkin dan
4. Temani atau menghadapinya
atur supaya 3. Identifikasi
ada masalah spesifik
seseorang akan
bersama meningkatkan
pasien sesuai kemampuan
indikasi. individu untuk
5. Kaji ulang menghadapinya
keadaan dengan lebih
umum pasien realistis.
dan TTV 4. dukungan yang
6. Berikan terus menerus
waktu pasien mungkin
untuk membantu
mengungkap pasien
kan mengurangi
masalahnya ansietas/ rasa
dan dorongan takut ke tingkat
ekspresi yang yang dapat
bebas, diatasi.
misalnya rasa 5. Sebagai
marah, takut, indikator awal
ragu dalam
7. Berikan menentukan
penjelasan intervensi
pada pasien berikutnya
tentang 6. Agar pasien
penyakitnya. merasa diterima
8. Jelaskan 7. Dapat
semua mengurangi rasa
prosedur dan cemas pasien
pengobatan  akan
9. Diskusikan penyakitnya
perilaku 8. Ketidaktahuan
koping dan kurangnya
alternatif dan pemahaman
tehnik dapat
pemecahan menyebabkan
masalah timbulnya
ansietas
9. Mengurangi
kecemasan
pasien

XI. Implementasi
No Tanda
Hari/tanggal Jam Implementasi Respon
Dx tangan
Kamis, 07.00 2 - Melakukan DS: Imelda
13-01-2020 pengkajian nyeri Pasien mengatakan
konprehensif nyeri sudah mulai
berkurang
P : aktivitas
Q : seperti ditusuk-
tusuk
R : perut
S : skala 4
T : Hilang timbul
DO:
KU: sedang, compos
mentis
TD : 130/80 mmHg,
N : 78 x/menit,
RR : 22 x/menit,
S : 37 oC,
Pasien tampak menahan
nyeri
07.30 2 - Mengajarkan dan DS : I
melakukan teknik Pasien mengatakan
relaksasi nafas mengerti tentang nafas
dalam dalam, nyeri berkurang
P : aktivitas
Q : seperti ditusuk-
tusuk
R : perut
S : skala 3
T : Hilang timbul
DO :
Pasien mencoba
melakukan teknik
relaksasi nafas dalam,
skala nyeri menjadi 3
08.00 1,2 Melakukan injeksi DS: Imelda
ranitidine 30 mg, Pasien mengatakan
ketorolac 50 mg dan nyeri sudah mulai
metronidazole 500 berkurang dan tidak ada
mg mual

DO:
Pasien tampak tidak
menahan nyeri dan
akan istirahat
09.30 3 Mengkaji kecemasan DS: Imelda
pasien dan penyebab Pasien mengatakan
kecemasan cemas dengan
kondisinya dan takut
operasi, pasien
mengatakan takut tidak
bias sembuh
DO:
Ekspresi wajah pasien
tampak cemas ketika
bercerita dan pasien
keringat dingin
09.45 3 Memberikan DS: Imelda
penjelasan pada Pasien mengatakan
pasien tentang mengerti dengan
penyakitnya penjelasan perawat
tentang penyakitnya
DO:
Pasien tampak tenang
10.30 1 Mengedukasi pasien DS:Pasien mengatakan Imelda
untuk banyak akan banyak minum,
minum 2-3 liter sudah minum 1 botol
untuk memperlancar aqua sedang 600 cc dari
BAB pagi
DO:Pasien belum BAB
11.45 1 Memberikan DS: Imelda
cakupan nutrisi Pasien mengatakan
berserat sesuai akan makan buah
dengan indikasi pepaya
DO:Buah papaya habis
tampak habis dimakan
pasien
12.00 2 Memberikan injeksi DS :
ampicillin 1 gram Pasien mengatakan
dan sedikit sakit saat
methylprednisolone diberikan injeksi
62,5 gram DO:
Telah masuk obat
sesuai advis.

12.35 3 Menjelaskan semua DS:


prosedur dan Pasien mengatakan
pengobatan  mengerti dengan
penjelasan perawat dan
bersedia untuk
melakukan semua terapi
dari rumah sakit
DO:
Pasien tampak pasrah
14.00 3 Memotivasi keluarga DS:
untuk selalu bersama Keluarga mengatakan
pasien akan selalu menemani
pasien
DO:
Tampak kakak pasien
menemani pasien

XII. Evaluasi
No Tanda
Hari/tanggal Jam Evaluasi
Dx tangan
S:Pasien mengatakan belum ada BAB sejak 6
hari yang lalu, nafsu makan sedikit, setiap
makan mual muntah, sudah makan pepaya
O:Nasi tampak habis 3 sendok, minum air 1
Kamis,
14.00 1 botol aqua 600 cc bising usus 5x/menit Imelda
13-01-2020
A:Masalah konstipasi belum teratasi
P:-Anjurkan untuk makan sedikit tapi sering
-Motivasi pasien untuk makan tinggi serat
-Motivasi pasien untuk minum 2-3 liter per hari
Kamis, 14.05 2 S : Pasien mengatakan nyeri masih terasa tetapi Imelda
13-01-2020 sudah berkurang
P : Ketika bergerak/beraktivitas
Q : seperti ditusuk tusuk
R : perut
S : skala 3
T : hilang timbul
O : Keadaan umum baik, compos mentis.
TD: 130/87 mmHg
N: 98x/menit
RR: 23 x/menit
S : 36,8 oC
A : Masalah nyeri teratasi sebagian
P : -Ajarkan pasien untuk melakukan teknik
relaksasi nafas dalam
-Obervasi keadaan umum
-Observasi vital sign
-Kaji nyeri secara komprehensif

14.10 3 S : Pasien mengatakan cemas sudah berkurang Imelda


dan mau berusaha mengikuti prosedur
pengobatan dan sudah pasrah dengan gusti
Allah
O : Keadaan umum baik, compos mentis.
TD: 130/87 mmHg
N: 98x/menit
RR: 23 x/menit
S : 36,8 oC
A : masalah cemas teratasi sebagian
P:
- Motivasi keluarga untuk selalu
menemani pasien
- Bantu pasien mengekspresikan
perasaannya Lakukan perawatan luka
- Kolaborasi dengan spiritual untuk
menguatkan pasien
XIII. Lampiran Teori
KANKER OVARIUM

A. Definisi
` Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beranekaragam, dapat
berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat-sifat
histiologis maupun biologis yang beraneka ragam.
Terdapat pada usia peri menopause kira-kira 60%, dalam masa reproduksi 30% dan
10% terpadat pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak (benigna), tidak jelas
jinak tapi juga tidak jelas atau pasti ganas (borderline malignancy atau carcinoma of low –
maligna potensial) dan jelas ganas (true malignant).
Kanker ovarium sebagian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Kanker
ovarium disebut sebagai silent killer. Karena ovarium terletak di bagian dalam sehingga
tidak mudah terdeteksi 70-80% kanker ovarium baru ditemukan pada stadium lanjut dan
telah menyebar (metastasis) kemana-mana.
(Birrer, 2015)

B. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala dari tumor ovarium adalah (Tidy, 2012):
1. Asimtomatis
2. Rasa nyeri atau sakit pada abdomen bagian bawah dan punggung bagian bawah
3. Apabila terjadi pemecahan, dapat menyebabkan nyeri perut dan demam
4. Dispareunia
5. Perut bengkak dengan massa yang dapat diraba dari pelvis. Terdengar suara
dullnes apabila dilakukan perkusi dan tidak menghilang ketika kandung kemih
telah kosong.
6. Efek penekanan seperti sistem perkemihan dapat menyebabkan frekuensi
berkemih berubah atau pengembalian pembuluh vena berubah dapat
menyebabkan varises vena dan oedem tungkai
7. Pemilinan, infark dan perdarahan : menyebabkan rasa sakit
8. Pecah
a. Pecahnya kista yang berukuran besar dapat menyebabkan peritonitis dan syok
b. Pecahnya kista mukus dapat menyebarkan sel-sel yang terus mengeluarkan
mukus dan dapat menyebabkan kematian yang disebabkan dari terjadinya ikatan
dengan organ dalam
9. Ascites : dapat menunjukkan adanya keganasan atau sindrom meigs
10. Endokrin : hormon yang disekresikan tumor dapat menyebabkan virilisasi,
ketidakteraturan menstruasi atau perdarahan post menopause. Hal ini jarang
ditemukan.
C. Patofisiologi
Kebanyakan teori patofisiologi kanker ovarium meliputi konsep yang dimulai
dengan dedifferentiation dari sel-sel yang melapisi ovarium. Selama ovulasi, sel-sel
ini dapat dimasukkan ke dalam ovarium, di mana mereka kemudian berkembang biak.
Kanker ovarium biasanya menyebar ke permukaan peritoneum dan omentum.
Karsinoma ovarium bisa menyebar dengan ekstensi lokal, invasi limfatik,
implantasi intraperitoneal, penyebaran hematogen, dan bagian transdiaphragmatic.
Penyebaran intraperitoneal adalah karakteristik yang paling umum dan diakui dari
kanker ovarium. Sel-sel ganas dapat implan di mana saja dalam rongga peritoneal
tetapi lebih cenderung untuk menanamkan di situs statis sepanjang sirkulasi cairan
peritoneum. Seperti dibahas selanjutnya, mekanisme penyebaran mewakili pemikiran
untuk melakukan pementasan bedah, operasi debulking, dan administrasi kemoterapi
intraperitoneal. Sebaliknya, penyebaran hematogen secara klinis yang tidak biasa
pada awal proses penyakit, meskipun tidak jarang terjadi pada pasien dengan penyakit
lanjut. (Fujin, 2013)
D. Pathway

(Fujin, 2013)
E. Pemeriksaan Penunjang
1. USG Ginekologi
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang dalam diagnosis suatu
tumor ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan
septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites. Walaupun ada
pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT-Scan, MRI, dan positron tomografi
akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian
tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dari
ultrasonografi.
2. CT-Scan (Computed Tomography Scanning) dan MRI (Magnetic Resonance
Imaging).
3. Laparoskopi
4. Parasentesis cairan asites
Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada
penderita dengan asites yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan
pecahnya dinding kista akibat bagian yang diduga asites ternyata kista yang
memenuhi rongga perut. Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan apabila
penderita mengeluh sesak akibat desakan pada diafragma.
Bila terdapat cairan ascites yang tidak dapat diterangkan asalnya atau
sebabnya (misalnya akibat Cirrhosis hepatis), laparatomi eksploratif harus
dijalankan.
5. Tumor marker
Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering
digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai
keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk
jenis sel germinal, antara lain Alpha-fetoprotein (AFP), Lactic acid
dehidrogenase (LDH), human placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline
phosphatase (PLAP) dan human chorionic gonadotrophin (hCG).
(Sahil, 2016)
F. Penatalaksanaan
Pada dasarnya setiap tumor ovarium yang diameternya lebih dari 5 sentimeter
merupakan indikasi untuk tindakan laparatomi, karena kecenderungan untuk
mengalami komplikasi. Apabila tumor ovarium tidak inemberikan gejala dan
diameternya kurang dari 5 sentimeter, biasanya merupakan kista folikel atau kista
lutein.
Pengobatan baku dari kanker ovarium stadium awal adalah dengan pembedahan
radikal berupa pengangkatan tumor secara utuh, pengangkatan uterus beserta kedua
tuba dan ovarium, pengangkatan omentum, pengangkatan kelenjar getah bening,
pengambilan sampel dari peritoneum dan diafragma, serta melakukan bilasan rongga
peritoneum di beberapa tempat untuk pemeriksaan sitologi. Tindakan pembedahan
ini juga dimaksudkan untuk menentukan stadium dari kanker ovarium tersebut
(surgical staging). Setelah pembedahan radikal ini, jika diperlukan diberikan terapi
adjuvant dengan kemoterapi, radioterapi atau immunoterapi.
1. Operasi
Terapi standar terdiri atas histerektomi abdominal total (TAH),
salpingoooforektomo bilateral (BSO) dan omentektomi serta APP (optional).
Nodus retroperitoneal harus dipalpasi dan dibiopsi jika mencurigakan.
Sebanyak mungkin tumor (untuk memperkecil) harus diangkat untuk
mengurangi keseluruhan massa tumor. Namun pembedahan lebih radikal
belum terbukti menambah manfaat.
Dapat didahului frozen section untuk kepastian ganas dan tindakan
operasi lebih lanjut. Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga
kepastian klasifikasi tumor dapat ditetapkan untuk menentukan terapi.
Pada sebagian kasus, penyakit terlalu luas untuk histerektomi total,
adneksektomi dan omentektomi.pada kasus-kasus seperti ini sebaiknya
sebanyak mungkin tumor diangkat untuk meningkatkan hasil terapi tambahan
(kemoterapi dan terapi radiasi). Operasi tumor ganas diharapkan dengan cara
“debulking” (cytoreductive) – pengambilan sebanyak mungkin jaringan tumor
sampai dalam batas aman. Dengan debulking memungkinkan kemoterapi
maupun radioterapi menjadi lebih efektif.
2. Radiasi untuk membunuh sel-sel tumor yang tersisa, hanya efektif pada jenis
tumor yang peka terhadap sinar (radiosensitif) seperti disgerminoma dan tumor
sel granulosa. Radioterapi sebagai pengobatan lanjutan umumnya digunakan
pada tingkat klinik T1 dan T2 yang diberikan kepada panggul saja atau
seluruh rongga perut.
3. Kemoterapi merupakan terapi tambahan awal yang lebih disukai karena terapi
radiasi mempunyai keterbatasan (misalnya merusak hati atau ginjal). Setelah
mendapatkan radiasi atau kemoterapi, dapat dilakukan operasi ke dua
(eksplorasi ulang) untuk mengambil sebanyak mungkin jaringan tumor.
4. Untuk memastikan keberhasilan penanganan dengan radioterapi atau
kemoterapi, lazim dilakukan laparatomi kedua (second-look laparotomi),
bahkan kadang sampai ketiga (third-look laparatomi). Hal ini memungkinkan
kita membuat penilaian akurat proses penyakit, hingga dapat menetapkan
strategi pengobatan selanjutnya. Bisa dihentikan atau perlu dilanjutkan dengan
alternatif pengobatan lain.
(Widayawati, 2011)
DAFTAR PUSTAKA
Birrer M. Ovarian Cancer: Targeting the Untargetable. American Society of Clinical
Oncology Educational Book. 2014;34:13-15.
Fujin C., Zhongli C., Minshan C., Yingbo C., Zhongping C., Nianji C., et al.,editors.
Buku Ajar Onkologi Klinis. Edisi 2. Jakarta: Badan Penerbit FK UI; 2013.
Foundation for Women’s Cancer [internet]. Ovarian Cancer. Foundation for Women’s
Cancer. 2016. [cited 17 April 2016]. Available from:
www.foundationforwomenscancer.org
Robbins., Kumar., Abbas., Aster.. Buku Ajar Patologi. Edisi 9. Jakarta: Elsevier;
2015.
Sahil F.M. Penatalaksanaan Kanker Ovarium pada Wanita Usia Mudan dengan
Mempertahankan Fungsi Reproduksi. [Internet]. 1st ed. Medan: Repository
USU; 2007 [cited 17 April 2016]. Available from:
http://www.repository.usu.ac.id
Widayati P., Ariyanto A., Lestari W. Produksi KIT Immunoradiometricassay (IRMA)
CA-125 untuk Deteksi Dini Kanker Ovarium. April 2011.