Anda di halaman 1dari 7

Gbkgjbnk76Ilmu Pertanian (Agronomi) dan Tumbuhan

(Botani) dalam Al-Qur’an
04 Des 2017 Tinggalkan komentar

by Moch. Barkah Yunus in News

A. Latar Belakang

AL-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Melalui
perantara malaikat Jibril. Setiap kata dan huruf yang terdapat dalam al-Qur’an memiliki makna
yang mendalam. Seperti halnya kisah-kisah para nabi yang terdapat dalam al-Qur’an, kisah
tersebut tidak hanya sekedar kisah biasa seperti halnya kisah-kisah terdahulu, seperti dongeng.
Begitu juga dengan huruf dan kata uang terdapat dalam al-Qur’an, penggunaan kata dan huruf
dalam al-Qur’an memiliki perbedaan dengan huruf dan kata yang biasanya digunakan oleh
manusia. Huruf dan kata yang di gunakan Allah dalam ayat yang mirip atau serupa memiliki
makna dan tujuan yang berbeda pula. Al-Qur’an juga mengajarkan kepada kita cara lain untuk
mendekati Tuhan, yaitu dengan cara merenungi tanda-tanda Nya.

Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang alam semesta, seperti bumi,
geografi, agronomi, botani, dan lain sebagainya. Seperti yang telah kita ketahui al-Qur’an
bukanlah kitab sains, tetapi di dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan sains.
Allah tidak menjelskan secara detail segala seseuatu di dalam al-Qur’an, tetapi Allah
memberikan gambaran besar dan petunjuk kepada manusia untuk menggunakan akal yang
mereka miliki. Seperti halnya dalam Qs. Al-Baqarah : 265, Ayat tersebut menjelaskan tentang
teori pertanian. Dalam wahyu yang diturunkan oleh Allah tidak memuat pernyataan yang
saintifik, melainkan Allah menunjukan tanda-tanda yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk
menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola
lingkungan hidupnya

Agronomi dan Botani  Sebuah kemukjizatan Ilmiah Al-qur’an [ Agronomi merupakan


ilmu bercocok tanam. Cabang penting ilmu-ilmu pertanian ini merupakan salah satu ilmu terapan
yang berbasis biologi/botani yang mempelajari pengaruh dan manipulasi berbagai
komponen biotic  (hidup) dan abiotik (tidak hidup) terhadap suatu individu atau
sekumpulan individu tanaman untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Cakupan aspek
biotik meliputi individu itu sendiri, individu lain yang sejenis, atau individu lain yang berbeda
jenis. Cakupan aspek abiotik meliputi semua komponen tidak hidup yang memengaruhi
kehidupan individu yang dipelajari, seperti tanah, cuaca dan iklim dan,topografi.
Ayat-ayat Al-quran tentang pertanian [ Al-quran memang memiliki kesempurnaan yang luar
biasa semua ilmu pengetahuan di bahas didalam nya tak terkecuali ilmu pertanian,yang di bahas
didalamnya,Allah,swt,memberikan sebuah pengertian dan cara manusia untuk bercocok tanam
pertanian untuk kehidupanya untuk makan sebagai melengkapi kebutuhan jasmaninya,dengan
protein,vitamin,karbohidrat,lemak,gizi dan lain sebagainya yang semuanya ada di
tumbuhan,maka untuk itu allah menurunkan segudang ilmu pertanian melalui ayatnya.

Al-Qur’an sering menggunakan pertanian dan tumbuhan sebagai bukti kekuasaan Allah. Ayat-
ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang pertanian dan tumbuhan tidak hanya satu, atau du ayat
saja, melainkan sangat banyak ayat yang menjelaskan tentang pertanian dan, tumbuhan. Seperti
yang terdapat dalam Qs. Al-Baqarah : 265, 266 , Al-Baqarah : 61 dan lai sebagainya.

Surat Al-Baqarah Ayat 265

Arab-Latin: Wa maṡalullażīna yunfiqụna amwālahumubtigā`a marḍātillāhi wa taṡbītam min


anfusihim kamaṡali jannatim birabwatin aṣābahā wābilun fa ātat ukulahā ḍi'faīn, fa il lam yuṣib-
hā wābilun fa ṭall, wallāhu bimā ta'malụna baṣīr Terjemah

Arti: Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan
Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi
yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan
lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu perbuat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari ilmu pertanian (Agronomi) dan tumbuhan (Botani)?


2. Bagaimana ayat mengenai pertanian (Agronomi) dan tumbuhan (Botani)?
3. Bagaimana tafsiran ayat mengenai pertanian (Agronomi) dan tumbuhan (Botani)?

A. Pengertian Ilmu Pertanian (Agronomi) dan Tumbuhan (Botani)

1. Pengertian Pertanian (Agronomi)

Menurut Lipps (1070) pertanian atau Agronomy adalah the study of applied of the science of soil
management and of the production of crops (studi tentang aplikasi ilmu pengelolaan tanah dan
produksi tanaman). Sedangkan menurut Menurut Samsu’ud Sadjad, agronomy menurut bahasa
berasal dari kata agros yang berarti lapang, dan nomos yang berarti pengelolaan, sehingga
agronomi berarti pengelolaan lapang produksi dengan sasaran produksi fisik yang maksimum.
Menurut Sri Setyati Harjadi, agronomi adalah ilmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman
pertanian dan lingkungannya untuk memperoleh produksi yang maksimum.
Dari beberapa pendapat diatas dapat diambul kesimpulan, Agronomy adalah ilmu yang
membahas tentang pengelolaan tanah dan produksi kehidupan tumbuhan. [1]

2. Pengertian Tumbuhan (Botani)

Botani adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan dan pertumbuhan bagi
kehidupan, klasifikasi dan tata nama tumbuhan.[2] Ruang lingkup botani tidak hanya dalam
tumbuhan saja tetapi mempelajari jamur (mikologi), bakteri (bakteriologi), lumut kerak
(likenologi), dan lain sebagainya.[3]

Tumbuhan merupakan bagian yang sangat mendasar bagi kehidupan di bumi, karena tumbuhan
yang menghasilkan oksigen, makanan, serat, bahan bakar, dan obat-obatan yang diperlukan oleh
manusia maupun yang lainnya. Melalui fotosintesis, tumbuhan menyerap karbon dioksida,
sebuah gas rumah kaca yang dalam jumlah besar dapat mempengaruhi iklim global. Selain itu,
tumbuhan juga dapat mencegah erosi tanah dan berpengaruh dalam siklus air.

B. Ayat dan Tafsir Ayat Ilmu Pertanian (Agronomi) dan Tumbuhan (Botani)

1. Teori Pertanian tentang Tanah yang Lebih Tinggi dari Permukaan Air

ِ ‫ض ۡعفَ ۡي ِن فَإِن لَّمۡ ي‬


‫ُص ۡبهَا‬ َ َ‫ت ٱهَّلل ِ َوت َۡثبِيتًا ِّم ۡن أَنفُ ِس ِهمۡ َك َمثَ ِل َجنَّ ۢ ِة بِ َر ۡب َو ٍة أ‬
ِ ‫صابَهَا َوابِ ٌل فَأت َۡت أُ ُكلَهَا‬ َ ‫َو َمثَ ُل ٱلَّ ِذينَ يُنفِقُونَ أَمۡ ٰ َولَهُ ُم ۡٱبتِغَٓا َء َم ۡر‬
ِ ‫ضا‬
٢٦٥ ‫صي ٌر‬ ‫هَّلل‬
ِ َ‫َوابِ ٌل فَطَ ٌّل ۗ َوٱ ُ بِ َما ت َۡع َملُونَ ب‬

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah
dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang
disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat
tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang
kamu perbuat.” (Qs. Al-Baqarah : 265)

Dataran tinggi yang terdapat dalam ayat diatas memiliki hikmah yang penting, karena tumbuhan
yang ditanam di atas tanah yang lebih tinggi dari air tanah, maka pepohonannya lebih banyak
tumbuh dan akarnya tumbuh lebih dalam dan panjang ke dalam tanah. Oleh sebab itu, berlipat
ganda jumlah pembuluh kapiler yang menghisap ke dalam tanah, maka semakin banyak mineral
yang dihisapnya untuk menyuburkan batang dan daun-daunnya secara umum.

Tumbuhan yang ditanam di tanah yang sejajar dengan air tanah, maka ia tidak akan mendapat
peredaran udara yang mencukupi dilahan pertanian. Hal tersebut dapat menyebabkan banyak
akarnya yang mati sehingga melemahkan pepohonan dan tidak mampu menyebar dengan bebas
didalam tanah.

Telah terbukti ketika air tanah meninggi, maka penyakit-penyakit akan timbul pada tumbuhan.
Kemudian daun-daunnya menjadi kekuning-kuningan, dan kadang-kadang tumbuhan tersebut
mati secara tiba-tiba. Jika air tanah lebih tinggi dari permukaan bumi, atau dekat darinya, maka
tumbuhan tersebut akan mati dalam waktu dua bulan.[4]

 
2. Jenis-jenis Tumbuhan

‫صلِهَ ۖا‬
َ َ‫ت ٱأۡل َ ۡرضُ ِم ۢن بَ ۡقلِهَا َوقِثَّٓائِهَا َوفُو ِمهَا َو َعد َِسهَا َوب‬
ُ ِ‫ك ي ُۡخ ِر ۡج لَنَا ِم َّما تُ ۢنب‬ ۡ َّ‫َوإِ ۡذ قُ ۡلتُمۡ ٰيَ ُمو َس ٰى لَن ن‬
ُ ‫صبِ َر َعلَ ٰى طَ َع ٍام ٰ َو ِح ٍد فَ ۡٱد‬
َ َّ‫ع لَنَا َرب‬
٦١.……………… ۗۡ‫صرًا فَإ ِ َّن لَ ُكم َّما َسأ َ ۡلتُم‬ ْ ُ‫ٱهبِط‬
ۡ ‫وا ِم‬ ۡ ‫خَي ۚ ٌر‬ ۡ ‫قَا َل أَت َۡست َۡب ِدلُونَ ٱلَّ ِذي هُ َو أَ ۡدن َٰى بِٱلَّ ِذي هُ َو‬

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu
macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia
mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya,
bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu
mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti
kamu memperoleh apa yang kamu minta”. (Qs. Al-Baqarah : 61)

Ayat diatas menelaskan tentang Bani Isra’il yang mana Allah sudah menganugerahkan kepada
mereka makanan yang terus turun dari langit, yaitu manna dan salwa, tetapi mereka tidak
mensyukuri nikmat yang telah diberikan, bahkan mereka meminta untuk digantikan dengan
makanan-makanan yang tumbuh dari bumi seperti sayur-sayuran, kacang dal, timun, bawang
merah dan bawang putih. Kemudian Nabi Musa a.s berkata kepada mereka “Adakah kamu
hendak menukar sesuatu yang baik dengan yang hina?”. Menurut Hamka, Nabi Musa a.s berkata
demikian karena mereka masih teringat dengan makanan mereka sewaktu berada di mesir,
dimana adanya timun, bawang putih, bawang merah dan kacang. Tetapi, pada waktu itu mereka
adalah hamba dalam keadaan hina. Dan kini mereka telah berhijrah meninggalkan negri itu
karena Allah hendak membebaskan mereka dari keadaan yang sedemikian.[5]

ُ ٌ‫صابَهُ ۡٱل ِكبَ ُر َولَهۥُ ُذرِّ يَّة‬


‫ض َعفَٓا ُء‬ َ َ‫ت َوأ‬ ِ ‫ب ت َۡج ِري ِمن ت َۡحتِهَا ٱأۡل َ ۡن ٰهَ ُر لَ ۥهُ فِيهَا ِمن ُك ِّل ٱلثَّ َم ٰ َر‬ ٍ ‫أَيَ َو ُّد أَ َح ُد ُكمۡ أَن تَ ُكونَ لَهۥُ َجنَّةٌ ِّمن نَّ ِخي ٍل وَّأَ ۡعنَا‬
ٰ ۗ
٢٦٦ َ‫ت لَ َعلَّ ُكمۡ تَتَفَ َّكرُون‬ ِ َ‫ٱحتَ َرقَ ۡت َك َذلِكَ يُبَيِّنُ ٱهَّلل ُ لَ ُك ُم ٱأۡل ٓ ٰي‬
ۡ َ‫صا ٌر فِي ِه نَا ٌر ف‬ َ َ ‫فَأ‬
َ ‫صابَهَٓا ِإ ۡع‬

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-
buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang
masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah.
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya”
(Qs. Al-Baqarah : 266)

Pada permulaan ayat ini menggambarkan suasana sebuah kebun yang disukai oleh peladang dan
petani di tanah Arab dan seluruh Timur Tengah, yaitu kebun kurma dan anggur yang didalamnya
terdapat sungai-sungai yang mengalir.[6] Menurut Al-Razi, sifat kebun ini memiliki tiga perkara
yang diterangkan, yaitu:

1. Terdiri dari kurma dan anggur


2. Mempunyai sungai
3. Mempunyai buah-buahan lain didalamnya.[7]

Ibnu Katir dalam kitab Tafsirnya mengambil hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari.
Yaitu Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibn Abbas, dia bercerita: “Pada suatu hari, Umar Ibn al-
Khattab berkata pada sahabat Nabi s.a.w “Menurut kalian, berkenaan dengan siapakah ayat ini
diturunkan? “Apakah ada salah seorang diantara kalian yang mempunyai kebun kurma dan
anggur yang dibawahnya mengalir sungai-sungai?” Mereka menjawab “Allahu a’lam (Allah
lebih mengetahui).” Mendengar jawaban itu, Umar al-Khattab marah seraya berkata “Jawablah,
kami mengetahui atau kami tidak mengetahui”. Maka Ibn Abbas berkata “Aku sedikit ragu
mengenai tafsir ayat itu, ya Amirul Mukminin”. Lalu, Umar berkata, “Wahai anak saudaraku,
katakanlah dan janganlah engkau merendahkan dirimu”. Kemudian Ibn Abbas berkata “Ayat ini
memberikan perumpamaan dengan sebuah amal.” “Amal (perbuatan) apa?” tanya Umar. Ibn
Abbas menjawab, “Seorang kaya yang beramal dengan ketaatan kepada Allah s.w.t, kemudian
Allah mengirimkan syaitan kepadanya, maka dia berbuat banyak maksiat sehingga semua
amalnya terhapus”.[8]

Kesimpulan dari dua ayat diatas adalah, jenis tumbuhan yang dinyatakan dalam ayat tersebut dal,
timun, bawang putih, bawang merah, anggur dan kurma. Selain itu ayat tersebut juga
menerangkan mengenai perkaitan tumbuhan-tumbuhan tersebut dengan sesuatu kaum. Kaum
Nabi Musa, yaitu Bani Israil menggemari sayur-sayuran seperti dal, timun, bawang putih dan
bawang merah. Justeru, perkataan “hina” dalam ayat tersebut bukanlah bererti makanan-
makanan tersebut hina, tetapi yang menjadi fokus dalam ayat ini adalah sikap Bani Israil yang
walaupun diberi makanan dari syurga, yaitu manna dan salwa, mereka tetap tidak bersyukur.
Melihat kepada ayat yang kedua, kurma dan anggur pula digambarkan sebagai dua jenis tanaman
yang digemari oleh masyarakat Arab.

3. Tumbuhan diciptakan berpasang-pasangan (Jantan dan Betina)

…..٣……… ‫ت َج َع َل فِيهَا زَ ۡو َج ۡي ِن ۡٱثن َۡي ۖ ِن‬


ِ ‫َو ِمن ُكلِّ ٱلثَّ َم ٰ َر‬

“Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan”. (Qs. Ar-Ra’du : 3)

Ilmu pengetahuan moderen menetapkan bahwa bunga tumbuhan yang bermacam-macam terbagi
menjadi tiga jenis, yaitu bunga jantan, bunga betina, dan bunga betina-jantan (gabungan dari
bagian jantan dan betina). Seperti pohon kurma, ada korma jantan dan korma betina. Pohon
jagung pada suatu saat menjadi bunga jantan dan pada waktu lain menjadi bunga betina.

Cara penyerbukan antara jantan dan betina diantaranya adalah, ada bunga yang menahan
serangga di dalam batangnya, misal bunga Jackfie Short. Tanaman tersebut memiliki dua jenis
bunga, yaitu bunga jantan bunga betina. Bunga tersebut terkandung dalam ruang sempit di
pertengahan batangnya. Penyerbukan dilakukan dilakukan oleh sejenis lalat kecil yang masuk ke
bagian yang sempit. Ketika mendekati bagian yang sempit ia tertahan oleh dinding batang yang
mengeluarkan zat lilin yang licin. Sehingga, ia tidak dapat hinggap. Pada saat itu serangga
tersebut berputar dengan penuh kegilaan di tempat itu, maka melekatlah serbuksari di badannya.
Beberapa saat setelah itu bagian yang sempit tersebut menjadi keras. Sehingga, ia dapat keluar
setelah seluruh badannya dipenuhi oleh serbuk sari.[9]

Buah merupakan hasil dari produksi tumbuhan. Fase sebelum menjadi buaha adalah menjadi
bunga. Bunga memiliki organ betina (putik) dan jantan (benang sari). Apabila serbuk sari jatuh
pada putik bunga maka peristiwa penyerbukan itu terjadi yang pada akhirnya akan membentuk
buah.

Akantetapi, pada spesies tertentu, buah dapat dihasilkan tanpa adanya proses fertilisasi
(Pembuahan). Seperti Pisang, Nanas, Jeruk, Anggur, dan lain sebagainya.[10]

4. Tumbuhan Menciptakan Makanan

‫أۡل‬
ٍ ‫ض َكمۡ أَ ۢنبَ ۡتنَا فِيهَا ِمن ُكلِّ زَ ۡو‬
٧ ‫ج َك ِر ٍيم‬ ِ ‫أَ َو لَمۡ يَ َر ۡو ْا ِإلَى ٱ َ ۡر‬

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di
bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (Qs. Asy-Syu’ara : 7)

Tumbuhan merupakan makhluk hidup yang menciptakan makanan untuk makhluk hidup lain,
seperti manusia dan hewan. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh manusia ataupun hewan. Manusia
dan hewan hanya dapat mengkonsumsi hewan, tetapi tidak dapat menyusun (menyintesis)
senyawa sederhana (anorganik) menjadi senyawa organik yang dapat mencukupi kebutuhan
energi tubuh dan unsur pembangun untuk tubuh makhluk hidup lain. Sedangkan tumbuhan dapat
menyusun senyawa anorganik menjadi senyawa organik yang dapat mencukupi kebutuhan
manusia dan hewan, seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan vitamin.

Dalam perkembangannya tumbuhan butuh mineral untuk persenyawaan membentuk senyawa


organik. Unsur-unsur yang terdapat didalamnya seperti C (karbon), H (hidrogen), O (oksigen), N
(nitrogen), S (sulfut = belerang), P (fosfor), K (kalium), Na (natrium), dan sebagainya. Sebagian
didapat dari tanah, sebagian lagi didapat dari udara.

Dengan bantuan dari daya isap akar, bartang, dan daun, air memasuki tubuh tumbuhan.
Kemudian air bersenyawa dengan CO2 (karbon dioksida).  Bersenyawa didalam daun dengan
bantuan klorofil dan sinar matahari. Terjadilah proses penyusunan makanan dalam tubuh
tumbuhan.

Pada proses selanjutnya, makanan yang disintesis tumbuhan tersebut akan dimanfaatkan sendiri
oleh tumbuhan. Sebagian disimpan dalam buah-buahan, biji-bijian, ubi-ubian, dan lain
sebagainya. Bentuk simpanan ini seperti padi, jagung, apel, pepaya, pisang, sagu, dan
sebagainya.[11]

[1] http://elisa.ugm.ac.id, diakses pada: senin, 1 Mei 2017, jam 12.00 WIB

[2] http://www.forda-mof.org, diakses pada Rabu, 3 Mei 2017, jam 14.45 WIB

[3] http://www.medrec07.com, diakses pada Rabu, 3 Mei 2017, jam 14.45 WIB

[4] Muhammad Kamil Abdushshamad, Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an, terj. Alimin,
Gha’neim Ihsan (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2002), hlm. 136-137
[5] Hamka, Tafsir Al-Azhar, j.1, (Jakarta: Pembimbing Masa, 1982), hlm. 208

[6] Hamka, Tafsir Al-Azhar, j.3,…………….. hlm. 55

[7] Fakhr al-Din Muhammad bin ‘Umar al-Razi, Tafsir Fathr al-Razi, j.7, (Beirut: Dar al-
Fikr,t.th), hlm. 63

[8] Imam Ibn Katir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, (Beirut: Dar al Kutub al-Ilmiyyah, 2012),
hlm.306-307

[9] Muhammad Kamil Abdushshamad, Mukjizat Ilmiah dalam Al-Qur’an,………………… hlm.


143-144

[10] Zakir Naik, Miracles of Al-Qur’an & As-Sunnah, (Solo: Aqwam, 2015), hlm. 44

[11] Nurul Maghfirah, 99 Fenomena Menakjubkan dalam Al-Qur’an, (Bandung, Mizan, 2015),
hlm. 50