Anda di halaman 1dari 3

Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan opini saya terhadap pelanggaran HAM

menurut pasal dari undang undang dasar 1945. Di Indonesia kerap sekali terjadi pelanggaran
HAM yang dilakukan oleh berbagai kalangan. Bentuk dari pelanggaran itu pun beragam jensinya
mulai dari diskriminasi, pembunuhan, hingga pelecehan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini
hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah. Menurut saya undang undang
HAM yang paling sering dilanggar ialah UUD 1945 pasal 28I ayat (1) yang berbunyi sebagai
berikut " Hak untuk hidup, Hak untuk tidak disiksa, hak untuk kerdekaan pikiran dan hati nurani,
hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum,
dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang
tisak dapat dikurangi dalam keadaan apapun". Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanya
pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah. Mengapa saya memilih pasal
tersebut ? Karena saya merasakan sendiri dari pelanggaran tersebut, untuk mencari kasusnya pun
tidak susah cukup melihat tayangan berita di TV. Tanpa disadari setiap hari selalu muncul kasus
kasus baru yang berkaitan dengan pasal 28I ayat (1). Salah satu contoh kasus besar yang pernah
terjadi di Indonesia yaitu kasus semanggi yang terjadi pada tanggal 11-13 November 1998 pada
masa pemerintahan transisi Indonesia, yang menyebabkan 17 warga sipil tewas. Sekali lagi saya
tegaskan bahwa ini hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah. Menurut
saya UUD 1945 pasal 28 ayat (1) adalah pasal yang paling sering dilanggar baik berupa dalam
bentuk penyiksaaan bahkan pembunuhan. Menurut saya pula bahwa pasal tersebut paling penting
untuk dijamin perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhannya. Karena apabila pasal
tersebut pelaksanaannya tidak ada yang melanggar maka angka kematian di Indonesia akan
berkurang dan penduduk Indonesia akan lebih merasa aman dan nyaman hidup di Indonesia ini.
Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk
salah. Jika UUD 1945 pasal 28 ayat (1) dilaksanakan dengan baik maka penyelenggaraan hukum
di Indonesia jauh lebih baik, sehingga tidak adanya beda antara manusia di mata hukum. Selain
itu jumlah konflik di Indonesia akan jauh lebih sedikit. Sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanya
pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah. Dari semua Kasus yang berkaitan
dengan UUD 1945 pasal 28 ayat (1) saya berpendapat bahwa hal yang paling penting untung
menghilangkan pelanggaran tersebut ialah rasa saling menghormati antar mausia dan
mendekatkan diri kepada tuhan yang maha esa. Selain itu kita harus menyamakan semua
kedudukan manusia sehingga tidak membedakan suku, agama, dan ras. Sekali lagi saya tegaskan
bahwa ini hanya pendapat saya dan tidak menutup kemungkinan untuk salah. Jika dilihat dari
pelaksanaan penegakan hukum akan jauh lebih baik jika diperbaiki sehingga pelanggaran
tersebut bisa diminimalisir. Para pelaku penegak hukum mungkin bisa memberikan hukuman
sehingga memberikan efek jera bagi orang yang melanggar, yang berkaitan dengan UUD 1945
pasal 28 ayat (1). Saya percaya bahwa dengan hal seperti itu jumlah pelanggaran HAM di
Indonesia bisa berkurang.Untuk terakhir kalinya saya tegaskan bahwa ini hanya pendapat saya
dan tidak menutup kemungkinan untuk salah.
Saya juga ingin membahas tentang Masa Reformasi. Kata ini sering didengung-dengungkan
dalam setiap sendi kehidupan bangsa. Tidak seperti zaman orde baru, kondisi kehidupan
Indonesia mulai berganti. Dari waktu dimana kebebasan hanyalah mitos, sampai waktu dimana
kebebasan sampai kebablasan. Harus diakui, kondisi Indonesia di zaman orde baru lebih stabil
dibandingkan zaman reformasi, akan tetapi hak seseorang untuk berpendapat terbelenggu yang
merupakan salah satu pelanggaran HAM. Ya, kebebasan. Dengan hal ini, kita dapat melakukan
apa yang kita mau. Kebebasan tersebut antara lain kebebasan beragama, kebebasan berpendapat,
kebebasan berorganisasi, dan lain-lain. Kebebasan yang paling sering menjadi perbincangan
adalah kebebasan berpendapat.
Kebebasan berpendapat adalah keadaan dimana seseorang bisa mengekspresikan dirinya sesuai
apa yang dipikirkan dan mengeluarkan aspirasi/pendapat yang logis. Kebebasan berpendapat
bermanfaat untuk memberikan pemikiran setiap orang demi kepentingan bersama. Contohnya
seperti rapat, musywarah, dan forum. Kebebasan berpendapat juga digunakan untuk mengkritisi
suatu hal seperti saat teman keliru, kinerja pemerintah, permasalahan sosial, dan lain-
lain. Kebebasan berpendapat sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Pancasila. Hal ini
juga didukung dengan status Indonesia yang demokratis dimana peran rakyat memberikan
aspirasi untuk pemerintah sangat diperlukan.
Akan tetapi, kebebasan ini sering disalahgunakan. Banyak peristiwa memilukan yang terjadi.
Peristiwa tersebut seperti demo yang anarkis, saling hujat di media sosial, dan banyaknya
pemberitaan yang tidak mendidik. Ini semua terjadi karena salah kaprahnya orang Indonesia
tentang hakikat dari kebebasan, terutama kebebasan berpendapat. Orang Indonesia berpikir
bahwa dengan kebebasan mereka bisa berbuat seenaknya tanpa pikir panjang. Sampai-sampai
ada pendapat yang bohong alias “hoax”.
Ada juga pelecehan yang mengarah pada suku, ras, dan agama yang lebih dikenal dengan SARA.
SARA sekarang merupakan masalah yang serius karena dapat mengancam keutuhan NKRI.
SARA juga tidak sesuai dengan semboyan Indonesia yaitu ‘’ Bhineka Tunggal Ika “. Kebebasan
ini juga digunakan untuk kepentingan politik seperti politik hitam saat pemilu, saling
menjatuhkan antar petinggi negara, dan berusaha menurunkan seorang pemimpin. Ini adalah hal
yang memalukan karena kebebasan yang seharusnya untuk kepentingan bersama, malah
dijadikan senjata demi ambisi pribadi.
Di Indonesia, kebebasan berpendapat diatur dalam UUD 1945 Pasal 28F yang berbunyi “Setiap
orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi
dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan,
mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia”. Ini berarti kita berhak untuk berpendapat dengan dilindungi UUD. Walau begitu, kita
juga harus tetap berpendapat dengan santun dan beretika serta memiliki alasan yang logis.
Sekarang kebebasan berpendapat semakin terlihat jelas. Seperti saat pemilu rakyat diberi hak
pilih untuk menentukan pejabat seperti kepala daerah, DPRD, DPR, DPD, dan presiden-wakil
presiden. Berkembangnya ilmu teknologi dan informasi turut membaantu dalam menyampaikan
pendapat pada khalayak umum bagi setiap orang. Selain untuk rakyat, kebebasan ini juga
digunakan oleh media pers. Hal ini diperkuat dalam UU no 40 tahun 1999 tentang pers. Pers
Indonesia semakin banyak dalam variasi dan jumlah. Rakyat Indonesia pun menjadi tahu apa aja
yang sedang terjadi di negeri ini.
Jadi, kebebasan berpendapat ini bagaikan cahaya di gelapnya malam. Jika cahaya tersebut ada
dalam jumlah dan waktu yang tepat, pasti dapat menerangi sekelilingnya. Tetapi, jika cahaya ini
melebihi batas dan waktu yang tidak tepat, maka sekelilingnya akan tersilaukan oleh terangnya
cahaya.
Sudah sepatutnya kita menggunakan kebebasan ini untuk hal yang lebih baik demi kepentigan
bersama, bukannya kepentingan pribadi dan golongan. Hal ini membuat saya memikirkan sebuah
pepatah “diam adalah emas, berbicara yang bermanfaat dan benar adalah berlian, tetapi berbicara
yang tidak bijak dan salah adalah tong kosong “.
Sekian dari saya dan saya ucapkan terima kasih.