Anda di halaman 1dari 7

EEAJ 2 (1) (2013)

Economic Education Analysis Journal


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/eeaj

PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN WEBSITE E-LEARNING


BERBASIS DOKUMEN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA POKOK BAHASAN MENGINDEKS DOKUMEN

Alin Budiani Rizky 

Prodi Pendidikan Ekonomi, Program Sarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Salah satu metode yang sesuai dengan materi mengindeks dokumen yaitu metode konvensional
Diterima Juli 2013 dengan menggunakan media pembelajaran website e-learningberbasis dokumen. Penelitian ini
Disetujui Agustus 2013 merupakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) siklus, faktor yang diteliti dalam penelitian ini :
Dipublikasikan Oktober faktor guru (cara guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan media pembelajaran
2013 menggunakan website e-learningberbasis dokumen), faktor siswa (aktifitas dan hasil belajar siswa),
________________ berdasarkan hasil perhitungan siklus I kemampuan kognitif siswa dari 30 siswa kelas X AP 2
Keywords: terdapat 16 siswa yang tuntas dan 14 siswa yang masih belum tuntas, dengan nilai rata-rata sebesar
Hasil Belajar; 69,46, sedangkan pada skor awal sebelum diadakan tindakan siklus I terdapat 19 siswa yang tuntas
Metode Konvensional dan 13 siswa belum tuntas dengan nilai rata-rata sebesar 69.93. Pada siklus II ada peningkatan
Mengggunakan Media hasil belajar dengan nilai rata-rata mencapai 80,3dan dari segi kognitif ada 1 siswa yang belum
Pembelajaran WebsiteE- tuntas.
learning Berbasis Dokumen
____________________
Abstract
___________________________________________________________________
One method that suits the material index documents by using the conventional method of learning media e-
learning website based documents. This study is a kind of classroom action research (PTK) cycle, factors
examined in this study: teacher factors (how teachers implement teaching and learning activities with learning
media using e-learning website based documents), student factors (activity and student learning outcomes), I
cycle calculation based on the results of the cognitive abilities of students of class X AP 2 there are 16 students
who completed and 14 students who are not yet complete, with an average value of 69.46, while the scores of
the measures before the beginning of the cycle I have 19 students 13 students who completed and not yet
finished with an average value of 69.93. In the second cycle there is an increase in the value of learning
outcomes with an average of 80.3in terms of cognitive and no one student is not yet complete.

© 2013 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi: ISSN 2252-6544
Kampus Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Semarang

100
Alin Budiani Rizky / Economic Education Analysis Journal 2 (1) (2013)

PENDAHULUAN model pembelajaran yang menarik yaitu dengan


cara memberikan suasana yang tidak monoton
Pendidikan merupakan suatu upaya dalam pembelajaran.
untuk memberikan pengetahuan, wawasan, Menurut Bruce Joyce dalam Rahyu
ketrampilan dan keahlian tertentu bagi (2011), model pembelajaran memiliki banyak
seseorang guna mengembangkan dirinya ragam, diantaranya adalah: a. Kelompok Model
sehingga mampu mengubah tingkah laku Sosial (cooperative learning) b. Kelompok Model
manusia kearah yang lebih baik dan sesuai Pengolahan Informasi c. Kelompok Model
dengan yang diharapkan. “Pendidikan akan Personal d. The Behavioral System Familly of
berlangsung dalam lingkungan keluarga, Models (Kelompok Model Sistem Perilaku).
lingkungan sekolah dan lingkungan Salah satu jenis model pembelajaran yang
masyarakat“(Munib, 2007:26). disebutkan diatas adalah model pembelajaran
Lingkungan sekolah merupakan kooperatif. Proses pembelajaran kooperatif
lingkungan pembelajaran yang melibatkan dilakukan dengan berdiskusi dengan teman
interaksi antara guru dengan siswa. “Interaksi mengajarkan siswa untuk saling membantu
yang paling signifikan adalah interaksi antara sesama teman, menghargai pendapat orang lain,
tenaga pengajar dengan murid sehingga dan ketrampilan dalam bersosialisasi serta
terwujud proses belajar yang sengaja diciptakan mengemukakan pendapat mereka.
untuk mengubah tingkah laku murid sesuai Menurut Anis (2011) macam-macam
dengan tuntutan tujuan pendidikan” (Satmoko, model pembelajaran kooperatif adalah: 1.)
1999:1). Pembelajaran yang berlangsung antara Model pembelajaran Tipe Think-Pair-Share, 2.)
guru dengan siswa disekolah harus berlangsung Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, 3.)
dengan baik agar dapat mencapai keberhasilan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student
dalam proses pembelajaran. Keberhasilan Team Achievement Divisions, 4.) Model
tersebut dapat dilihat dari pemahaman siswa, Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi
penguasaan materi dan hasil belajar siswa. Kelompok, 5.) Model Pembelajaran Kooperatif
Penyebab hasil belajar yang kurang Langsung, 6.) Model Pembelajaran Kooperatif
memuaskan dapat berasal dari dalam diri siswa Berbasis Masalah, 7.) Model Pembelajaran
dan berasal dari lingkungan siswa belajar. Kooperatif Tipe Team Game Tournament, 8.)
Kondisi fisik, emosional dan kesehatan tubuh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered-
merupakan faktor yang berasal dari dalam diri Heads Together.
siswa. Lingkungan keluarga, masyarakat dan Menurut Pietersz (2010:437-438)
sekolah merupakan salah satu faktor yang “penggunaan tipe NHT mampu meningkatkan
mempengaruhi hasil belajar siswa dari luar. pencapaian siswa, hal ini disebabkan karena
Salah satu faktor sekolah yang mempengaruhi adanya interaksi multi arah yang terjadi
belajar adalah model pembelajaran (Slameto, sehingga siswa tidak terkesan pasif di kelas”.
2010:64). Salah satu faktor sekolah yang Penerapan model pembelajaran NHT memiliki
mempengaruhi belajar adalah model interkasi siswa dengan siswa lebih besar
pembelajaran (Slameto, 2010:64). dibandingkan interaksi siswa dengan guru. Hal
Pemilihan model pembelajaran akan ini menyebabkan siswa lebih banyak belajar
menjadikan proses pembelajaaran lebih variatif, antar sesama siswa daripada belajar dari guru,
inovatif sehingga dapat meningkatkan aktivitas sehingga siswa yang merasa tidak bisa dan takut
dan kreativitas siswa, sehingga prestasi belajar bila harus bertanya menjadi berani bertanya
siswa dapat meningkat (Trianto, 2010:8-9). karena yang dihadapi temannya sendiri. Dengan
Sebagai seorang guru harus mencari alternatif demikian siswa akan termotivasi belajar dan
untuk menambah pemahaman siswa. Salah satu menjadi lebih paham terhadap suatu materi
alternatif untuk menambah pemahaman siswa (Wijaya, 2010:49).
dalam pembelajaran adalah dengan penggunaan
101
Alin Budiani Rizky / Economic Education Analysis Journal 2 (1) (2013)

“Model pembelajaran NHT atau siswa yang pintar membantu menjelaskan


penomoran berpikir bersama merupakan jenis sehingga semua anggota kelompok memahami
pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk soal tersebut. Hal ini dilakukan karena semua
mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai siswa dituntut untuk siap karena mereka tidak
alternatif terhadap struktur kelas tradisional” tahu nantinya siapa yang akan ditunjuk oleh
(Trianto, 2007:62). Model pembelajaran ini guru untuk menjawab pertanyaan sesuai nomor
dikembangkan untuk membangun kelas sebagai anggota yang sudah diberikan oleh guru. Harus
komunitas belajar yang menghargai semua siapnya siswa dalam materi tersebut menjadikan
kemampuan siswa. Hal ini disebabkan dalam siswa lebih mudah dalam menerima materi yang
model pembelajaran NHT, semua siswa dituntut mereka pahami sendiri dan dapat meningkatkan
untuk mengemukakan pendapat sesuai dengan hasil belajar siswa.
apa yang mereka pahami. Berdasarkan observasi dan wawancara
Model pembelajaran NHT dapat dengan salah satu guru di Jurusan Administrasi
memotivasi siswa siap semua, dapat melakukan Perkantoran dari beberapa mata diklat yang
diskusi dengan sungguh-sungguh, siswa yang diajarkan hasil belajar siswa yang masih rendah
pandai dapat mengajari siswa yang kurang yaitu pada mata diklat Mengelola Peralatan
pandai (Isnawati, 2012:4). Melalui model Kantor dilihat dari hasil ulangan siswa yang
pembelajaran NHT diharapkan siswa akan nilainya belum mencapai kriteria ketuntasan
termotivasi dalam mengikuti proses minimal (KKM). KKM untuk mata diklat
pembelajaran. Siswa dituntut untuk berperan mengelola peralatan kantor di SMK Negeri 1
aktif dalam kelompoknya sehingga tidak mudah Pemalang adalah 75. Kurikulum yang
merasa bosan dan tetap berkonsentrasi selama digunakan adalah kurikulum tingkat satuan
pembelajaran berlangsung, sehingga siswa dapat pendidikan, namun belum sepenuhnya
dengan mudah memahami pelajaran tersebut dilakukan sesuai dengan kurikulum KTSP.
dan memperoleh hasil belajar yang tinggi. Proses pembelajaran yang dilakukan masih
Penerapan model pembelajaran NHT belum berpusat pada siswa. Guru belum
akan menjadikan siswa tidak hanya melakukan menerapkan model pembelajaran yang
proses pembelajaran satu arah yaitu dari guru bervariasi.
akan tetapi dalam pembelajaran siswa ikut Kompetensi dasar menggunakan
berperan aktif. Siswa dapat melakukan peralatan merupakan kompetensi dasar yang
pembelajaran yang menyenangkan dan tidak menjelaskan pengetahuan tentang cara
membosankan karena siswa akan diajak berpikir penggunaan alat-alat kantor yang belum
bersama-sama. Semua siswa dituntut diketahui siswa. Tata cara penggunaan alat-alat
mempelajari dan memahami materi terlebih kantor seharusnya menjadi proses pembelajaran
dahulu kemudian berdiskusi dan yang menarik karena rasa penasaran siswa akan
mengemukakan pendapat sesuai dengan apa alat-alat kantor tersebut, akan tetapi karena
yang mereka pahami. Pembagian kelompok proses penyampaian materi yang dilakukan
didasarkan dari tingkat kemampuan siswa, dengan model pembelajaran yang kurang
dalam satu kelompok terdiri dari anggota yang bervariasi mengakibatkan kebosanan siswa
bervariatif mulai dari yang pintar, sedang dan dalam proses pembelajaran, sehingga minat
yang kurang pintar. Proses diskusi dilaksanakan siswa terhadap kompetensi dasar menggunakan
dengan tanya jawab soal yang diberikan oleh peralatan kantor menjadi berkurang karena
guru. penyampaian materi yang kurang menarik.
Proses tanya jawab dilakukan untuk Mengingat masih rendahnya hasil belajar
memastikan apakah semua anggota kelompok siswa dan pentingnya model pembelajaran yang
sudah memahami jawaban dari soal yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar siswa
diberikan oleh guru, apabila ada salah satu maka dibutuhkan penyelesaian untuk mengatasi
anggota yang belum memahami maka anggota masalah ini yaitu dengan menerapkan model
102
Alin Budiani Rizky / Economic Education Analysis Journal 2 (1) (2013)

pembelajaran baru yang akan lebih c. Menyiapkan materi pembelajaran


menyenangkan dan membuat minat belajar Menggunakan Peralatan Kantor yang akan
siswa meningkat sehingga dapat meningkatkan diajarkan
hasil belajar kompetensi dasar menggunakan d. Menyiapkan tugas yang akan dikerjakan
peralatan kantor siswa kelas X AP 1 jurusan siswa dalam proses pembelajaran
Administrasi Perkantoran. Melalui pemilihan menggunakan metode pembelajaran NHT
model pembelajaran yang tepat dan menarik e. Menyusun alat evaluasi untuk untuk
bagi siswa seperti halnya model pembelajaran mengetahui hasil belajar siswa dalam
kooperatif tipe NHT, diharapkan standar pembelajaran dengan metode NHT
ketuntasan belajar siswa dapat tercapai dan hasil f. Membuat lembar observasi untuk siswa
belajar siswa dapat meningkat. g. Menyusun kelompok belajar siswa.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka 2. Pelaksanaan
perlu dilakukan penelitian tindakan kelas Langkah-langkah pembelajaran dengan
dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar menggunakan model pembelajaran NHT adalah
Melalui Model Pembelajaran Numbered Head sebagai berikut :
Together (NHT) (Studi Kasus Pada Kompetensi a. Guru menjelaskan skenario model
Dasar Menggunakan Peralatan Kantor Siswa pembelajaran NHT pada kompetensi dasar
Kelas X AP 1 Administrasi Perkantoran SMK Menggunakan Peralatan Kantor
Negeri 1 Pemalang Tahun Ajaran 2011/2012)”. b. Guru menggali pengetahuan awal siswa
tentang apa saja dan bagaimana
METODE PENELITIAN pengoprasian mesin kantor
c. Guru membagi siswa dalam kelompok
Penelitian ini dilaksanakan pada siswa yang terdiri dari berbagai macam
kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pemalang yang kemampuan siswa mulai dari yang pintar,
berjumlah 40 siswa. Waktu pelaksanaan sedang dan kurang pintar kemudian
semester genap tahun pelajaran 2011/2012. memberikan nomor kepada masing-masing
Metode pengumpulan data yang digunakan anggota kelompok
adalah dokumentasi, tes dan nontes. Penelitian d. Guru memberikan arahan kepada siswa
ini dirancang sebagai suatu penelitian tindakan untuk mendiskusikan materi
kelas. Menurut Suyanto bahwa penelitian e. Guru membimbing diskusi yang
tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian dilaksanakan dengan cara tanya jawab
yang bersifat reflektif dengan melakukan antar anggota kelompok untuk memastikan
tindakan-tindakan tertentu agar dapat semua anggota telah mengetahui jawaban.
memperbaiki dan atau meningkatkan praktik- f. Guru memanggil suatu nomor secara acak
praktik pembelajaran di kelas secara profesional untuk menjawab pertanyaan.
(Subyantoro, 2007:6). Proses penelitian g. Guru memanggil satu nomor yang sama
dilaksanakan dalam dua siklus. Menurut dari kelompok lain untuk menanggapi
Suharsimi (2009:16), dalam penelitian ini tiap jawaban dari temannya yang sebelumnya
siklus terdiri dari empat tahap yaitu: sudah menjawab
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan atau h. Bersama dengan guru menarik kesimpulan
observasi, dan refleksi. Perincian langkah- i. Guru melakukan penilaian yang
langkah penelitian ini adalah sebagai berikut: sebenarnya
1. Perencanaan 3. Pengamatan
a. Membuat perangkat pembelajaran sebagai Peneliti bertugas sebagai pengamat
pedoman dalam proses pembelajaran pelaksanan kegiatan belajar mengajar (KBM)
b. Meminta bantuan guru untuk mengajar bersama dengan salah satu guru Jurusan
Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 1
Pemalang dan mahasiswa jurusan Pendidikan
103
Alin Budiani Rizky / Economic Education Analysis Journal 2 (1) (2013)

Administrasi Perkantoran angkatan 2007. kepada siswa dalam mengerjakan tugas masih
Pengamatan terhadap pelaksanaan aktivitas kurang,kemampuan guru dalam menggunakan
guru dan siswa dalam proses pembelajaran waktu secara efisien masih kurang. Hal tersebut
untuk mengetahui aktivitas siswa. Lembar ditunjukan pada data pengamatan aktivitas
observasi ini terdiri dari dua lembar yaitu lembar siswa pada siklus I, yaitu rekapitulasi nilai
observasi guru dan lembar observasi aktivitas observasi terhadap aktivitas siswa mencapai
siswa. 70,48%. Kinerja guru dalam pembelajaran
4. Refleksi dengan model NHT pada siklus I juga belum
Pada tahap ini guru menganilis hasil tes, maksimal, yaitu hanya sebesar 73,33%. Dilihat
hasil pengamatan keaktifan siswa dan kinerja dari hasil belajar kognitif siswa, ketuntasan
guru untuk penyempurnaan pada siklus klasikal sinswa pada siklus I hanya sebesar
selanjutnya. Indikator keberhasilan yang 67,50% yang berati belum mencapai kriteria
dijadikan tolak ukur dalam penelitian ini adalah keberhasilan.
hasil belajar siswa dengan Kriteria Ketuntasan Kurang optimalnya hasil belajar
Minimal (KKM) setiap individu dengan nilai 75 Kompetensi dasar Menggunakan Peralatan
dan ketuntasan klasikal 75% setiap kelas yang Kantor yang diperoleh siswa pada siklus I
ditentukan oleh pihak sekolah. tersebut perlu dilakukan pembenahan atau
perbaikan-perbaikan, sehingga di sini diperlukan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN siklus II. Siklus II ini diperlukan untuk
melakukan perbaikan pada siklus I. Perbaikan
Penerapan model pembelajaran yang dilakukan pada siklus II ini guru harus
kooperatif tipe NHT ternyata mampu mampu mengelola waktu dengan efesien agar
memberikan perubahan positif kegiatan belajar semua tahapan dalam skenario pembelajaran
mengajar Kompetensi dasar Menggunakan dapat terlaksana, Guru harus memberikan
Peralatan Kantor pada Mata diklat Mengelola perhatian dan bimbingan kepada tiap kelompok
Peralatan Kantor pada siswa kelas X AP 1 SMK yang mengalami kesulitan, Guru harus mampu
N 1 Pemalang. Secara umum pembelajaran memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam
yang dilakukan pada setiap siklus berjalan pembelajaran, Guru harus bersikap tegas dengan
dengan baik dan sesuai dengan apa yang telah menegur atau memberi sanksi kepada siswa
direncanakan sebelumnya, meskipun tidak yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru,
sepenuhnya mencapai kesempurnaan. Hal ini Guru harus mampu meyakinkan siswa agar
disebabkan pembelajaran kooperatif tipe NHT percaya diri ketika siswa menyampaikan
merupakan suatu pembelajaran yang masih pendapat dan ketika siswa nomornya dipanggil
asing bagi siswa. untuk menjawab pertanyaan.
Aktivitas siswa dan kinerja guru dalam Upaya perbaikan yang dilakukan pada
proses pembelajaran masih mempunyai siklus II ini ternyata mampu meningkatkan hasil
kekurangan, siswa merasa gugup ketika belajar siswa, yang semula pada siklus I
nomornya terpanggil untuk mewakili ketuntasan belajara klasikal siswa sebesar 67,5%
kelompoknya dalam menjawab pertanyaan, menjadi 85% pada siklus II. Aktivitas siswa juga
kinerja kelompok masih kurang optimal karena sudah baik, hal tersebut ditunjukan bahwa
masih ada beberapa siswa yang kurang aktif aktivitas siswa mencapai 79,52%. Proses
ketika mengikuti proses diskusi, ketika guru pembelajaran pada siklus II ini, ketika
menjelaskan materi masih ada siswa yang ramai nomornya terpanggil untuk maju ke depan siswa
dan tidak memperhatikan penjelasan dari guru, sudah siap dan tidak gugup untuk
kemampuan guru dalam mendorong siswa aktif menyampaikan jawaban dan pendapatnya untuk
melaksanakan aktivitas pembelajaran masih seluruh kelas, siswa aktif dalam berdiskusi dan
kurang, kemampuan guru dalam mengelola mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru.
kelas, membimbing dan memberi motivasi siswa sudah dapat memperhatikan penjelasan
104
Alin Budiani Rizky / Economic Education Analysis Journal 2 (1) (2013)

dari guru dengan baik dan siswa sudah berani dengan tujuan yang diharapkan, guru mampu
menyampaikan pendapat dan bertanya memberi motivasi kepada siswa untuk aktif
mengenai hal-hal yang kurang dimengerti dan dalam kelas, guru mampu mengelola kelas
ada kaitannya dengan materi yang diajarakan. dengan baik, sehingga kelas menjadi
Aktivitas guru dalam pembelajaran NHT pada terkondisikan, guru mampu mengelola waktu,
siklus II juga menunjukan peningkatan yang sehingga dalam pembelajaran NHT ini dapat
semula hanya 73,33% pada siklus I menjadi dilaksanakan dengan baik. Perbandingan hasil
80,83% pada siklus II. Guru sudah berperan tes data awal, siklus I, dan siklus II tersaji dalam
aktif dalam pembelajaran NHT sehingga tabel 1.
skenario pembelajaran dapat berjalan sesuai

Tabel 1. Perbandingan Hasil pada Data Awal, Siklus I dan Siklus II


No Hasil Data Awal Siklus I Siklus II
1 Rata-rata kelas 63,38 70,75 79,13
2 Keaktitifan siswa - 70,48% 79,52%
3 Kinerja guru - 73,33% 80,83%
Sumber: Data Penelitian Tahun 2012

Pembelajaran dengan menggunakan dalam kegiatan pembelajaran dan siswa juga


model pembelajaran NHT memerlukan waktu dapat saling bekerjasama dalam diskusi
yang lebih banyak dalam memahami materi kelompok. Hal ini senada dengan Trianto,
karena ada diskusi kelompok dan diskusi kelas. bahwa pemilihan model pembelajaran akan
Hal ini merupakan salah satu kelemahan dari menjadikan proses pembelajaaran lebih variatif,
model pembelajaran NHT. Kelemahan lain dari inovatif sehingga dapat meningkatkan aktivitas
NHT adalah dalam pembelajaran tidak semua dan kreativitas siswa, sehingga prestasi belajar
siswa dipanggil oleh guru untuk menjawab siswa dapat meningkat (Trianto, 2010:8-9).
pertanyaan, sehingga ada rasa kecewa dalam Selain itu hasil penelitian ini juga senada dengan
diri siswa karena sudah memahami jawaban pendapat pietersz (2010:437-438) yang
akan tetapi tidak ditunjuk oleh guru. Kelemahan menyatakan bahwa penggunaan tipe NHT
selanjutnya dari NHT adalah saat kerja mampu meningkatkan pencapaian siswa, hal ini
kelompok tanggung jawab dan kontribusi siswa disebabkan karena adanya interaksi multi arah
berprestasi tinggi lebih besar dibandingkan yang terjadi sehingga siswa tidak terkesan pasif
dengan temannya. dikelas.
Terlepas dari kelebihan dan kekurangan
tersebut berdasarkan hasil penelitian, Penerapan SIMPULAN
model pembelajaran NHT menunjukan hasil
belajar siswa pada siklus II dengan pembelajaran Berdasarkan hasil penelitian dan
NHT mampu mencapai ketuntasan klasikal pembahasan dapat disimpulkan bahwa model
sebesar 85% yang artinya indikator kerja telah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat
tercapi dengan baik, sehingga tidak perlu meningkatkan hasil belajar mata diklat
diadakan siklus selanjutnya. Peningkatan yang melakukan prosedur administrasi pada siswa
terjadi pada tiap siklus pada penelitian ini kelas X AP 1 SMK Negeri 1 Pemalang.
menunjukan bahwa pembelajaran kooperatif Peningkatan hasil belajar dalam proses
NHT dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pembelajaran menggunakan model
sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa pembelajaran NHT terjadi karena adanya
kelas X AP 1 SMK N 1 Pemalang meningkat. interaksi multi arah yang terjadi sehingga siswa
Siswa dapat meningkatkan pemahamannya menjadi lebih aktif dan hasil belajar siswa
terhadap materi yang dipelajarinya, Siswa aktif meningkat.
105
Alin Budiani Rizky / Economic Education Analysis Journal 2 (1) (2013)

Berdasarkan temuan tersebut disarankan el-pembelajaran-artikel.html.(8


perlu adanya kesiapan dari guru berupa materi April.2012).
dan model pembelajaran sebelum Satmoko, Retno Sriningsih. 1999. Proses Belajar
menyampaikan pembelajaran, guru hendaknya Mengajar II Penilaian Hasil Belajar.
lebih memusatkan perhatian pada semua Semarang: IKIP Semarang Press.
kelompok dan memotivasi siswa agar siswa Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang
berperan aktif, dan agar siswa melaksanakan Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
tanggung jawabnya dengan benar. Pembagian Subyantoro. 2007. Penelitian Tindakan Kelas.
tugas dalam proses diskusi hendaknya dilakukan Semarang: Rumah Indonesia.
secara adil agar semua siswa mempunyai Suharsimi, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas.
tanggung jawab dan tugas sehingga kerja Jakarta: PT Bumi Aksara.
kelompok tidak hanya didominasi oleh siswa Trianto, S.Pd.,M.Pd. 2007. Model-model
berprestasi tinggi, guru dalam menunjuk siswa Pembelajaran Inovatif Berorientasi
hendaknya memperhatikan siswa mana yang Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
sudah pernah ditunjuk dan yang belum pernah --------. 2010. Mendesain Model Pembelajaran
dan pada pertemuan selanjutnya siswa yang Inovatif Progesif. Jakarta: Kencana.
belum pernah menjawab pertanyaan ditunjuk Wijaya, Agus Purna, dkk. 2010. “Kefektifan
oleh guru tetapi tidak menutup kemungkinan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
siswa yang sudah pernah menjawab ditunjuk Numbered Head Together (NHT) terhadap
kembali oleh guru, model pembelajaran NHT kemampuan pemecahan masalah belajar
memiliki proses diskusi dengan waktu yang siswa”. Dalam Jurnal Pendidikan Teknik
lebih banyak dalam memahami materi karena Mesin, Volume 10 No. 2. Hal 43-49
ada diskusi kelompok dan diskusi kelas jadi Semarang : Universitas Negeri Semarang.
sebaiknya model pembelajaran NHT diterapkan
pada kelas yang mempunyai jumlah siswa yang
tidak terlalu banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Anis. 2011. Macam-macam Model Pembelajaran


Kooperatif Learning. http://anniez-
space.blogspot.com/2011/03/macam-
macam-model-pembelajaran.html. (26
Maret 2012)
Munib, Achmad. 2007. Pengantar Ilmu
Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri
Semarang Press.
Pietersz, Ferry dan Horasdia Saragih. 2010.
“Pengaruh Penggunaan Pembelajaran
Kooperatif Tipe Numbered Head
Together Terhadap Pencapaian
Matematika Siswa di SMP Negeri 1
Cisarua”. Skripsi. Bandung: Universitas
Advent Indonesia.
Rahyu. 2011. Konsep Model pembelajaran.
http://skripsi-tesis-
karyailmiah.blogspot.com/2011/04/mod

106