Anda di halaman 1dari 12

Langkah VII

Menganalisis Tujuan Pembelajaran

1. Komunikasi dokter dengan pasien, keluarga, masyarakat dan profesi lain.

• Komunikasi efektif dokter-pasien, berlangsung secara efisien dan


dilakukan melalui komunikasi verbal maupun non verbal yg diikuti empat prinsip
komunikasi, yaitu:
1. Nyaman (pleasurable) : dokter harus nyaman membicarakan hal-
hal yg melibatkan emosi seperti kematian dan seksualitas pasiennya
2. Penerimaan (acceptence) : dokter menerima setiap keadaan
pasiennya meski mungkin sakitnya akibat perilaku pasien sendiri yg tidak
bertanggung jawab terhadap kesehatannya
3. Tanggap (responssive) : dokter harus tanggap dengan pasien yg
sulit untuk menyampaikan masalah kesehatannya
4. Empati : dokter mau mengerti perasaan, pikiran dan keinginan
serta ketakutan pasiennya
• Sedangkan komunikasi efektif dokter-keluarga pasien,
dalam hal ini keluarga pasien berperan dalam proses dialog antara dokter dan
pasien, seperti memberikan masukan informasi, dorongan dan kerjasama dengan
dokter untuk membantu kondisi pasien yang diharapkan
• Komunikasi efektif dokter-masyarakat, dokte rdisini
berlaku sebagai komunikator yg melakukan persuasi kepada masyarakat dengan
cara melaksanakan upaya promosi kesehatan
• Komunikasi efektif dokter-profesi lain,
1. Dokter harus memahami sampai dimana tanggung
jawab dan wewenang profesinya
2. Dokter harus memahami sejauh mana
pendelegasian dapat dilakukan
3. Dokter tetap bertanggung jawab dan
memperhatikan aspek medikolegal, dalam menjalankan kolaborasi dan kerja
sama dengan profesi lain sesuai kewenangan profesi masing-masing

Model komunikasi dokter pasien


a. Model of activity- passivity relationship, seperti kmunikasi antra orang
tua dengan anak kecil. Dokter aktif memerintah ini dan itu sedangkan pasien
hanya menurut seperti anak kecil sehingga tidak mampu memberikan keluhan.
b. Model of guidence-cooperatantion relatioship, seperti komunikasi antara
orang tua dengan anak yang beranjak dewasa. Dokter memebuat kebijakan awal
tetai bersifat aman dan bukan perintah.
c. Model of mutual-partisopation relationship, sseperti komunikasi dua orang
yang bekerja sama. Dokter bukan satu-satunya pihak yang aktif karena pasien
juga turut aktif dalam menyampaikan keluhan-keluhannya.
Langkah-langkah komunikasi:
• Salam
Salam dan sapa menunjukan bahwa dokter dapat meluangkan waktu berbicara
dengan pasien.
• Ajak
Ajak bicara dan dorong pasien agar mau berkomunikasi mengemukakan pikiran
dan perasaan.
• Jelaskan
Beritahu mengenai hal-hal yang menjadi perhatian pasien, yang ingin diketahui
dan yang akan dihadapi agar tidak terjebak dalam pikiran pasien itu sendiri.
• Ingatkan
Ingatkan pasien atas apa yang dijelaskan.
Hasil komunikasi tidak efektif:
a. Pasien merasa dokter telah menjelaskan keadaan sesuai tujuannya berobat. Pasien
mengerti anjuran-anjuran dokter.
b. Pasien memahami dampak yang menjadi konsekensi dari penyakit yang
dideritanya sesuai penjelasan dokter.
c. Pasien merasa doker mendengarkan keluhannya dan mau memahami keterbatasan
kemampuan, selalu bersama mencari alternative sesuai kondisi dan situasi
d. Pasien mau bekerjasama dengan dokter dalam mejalankan semua upaya
pengobatan.
Hasil komunikasi tidak efektif:
a. Pasien tetap tidak mengerti keadaannya karena dokter tidak menjelaskan, hanya
mengambil anammnesis atau sesekali bertanya, melakukan pemeriksaan, menulis
resep, disuruh untuk kembali/ memeriksa ke laboratorium.
b. Pasien merasa dokter tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
c. Pasien merasa hanya dilakukan sebagai objek, bukan subjek yang memiliki tubuh
yang sakit.
d. Pasien ragu apakah ia harus melakukan anjuran dokter atau tidak
e. Pasien memutuskan pergi ke dokter lain.
f. Pasien memutuskan untuk pergi ke pengobatan alterntive/ komplementer/ metode
penyembuhan diri sendiri

Dalam berkomunikasi antara dokter dan pasien, seorang dokter harus menjaga
rahasia pasiennya. Dokter tidak diperbolehkan memberitahu rahasia pasien kepada
siapapun, termasuk keluarga, ataupun dokter sejawat tanpa seizin pasien.

Teknik komunikasi efektif dokter pasien (Agus Rusmana dosen FILKOM Unpad) teori
De Vito
1. Positiviness
Jangan sanggah perkataan pasien, walau pesan yang disampaikan pasien aneh dan
sederhana
2. Emphaty (merasakan perasaan orang lain)
Kecendrungan pasien yang ditangani dokter memiliki rasa takut yang besar,
terutama terhadap alat yang digunakan.
3. Suppportiviness
Dokter seharusnya mendukung, jika pasien ragu terhadap sebuah tindakan
4. Equallity(keseimbangan antar pelaku komunikasi)
5. Openness (sikap dan keinginan untuk terbuka)
Dengan menerapkan keempat tahap di atas, diharapkan akan terbuntuk
keterbukaan satu sama lainnya dan akan terbangun kepercayaan pasien pada
dokter

2. Sikap empati dalam komunikasi

EMPATI merupakan rasa peduli kita terhadap orang lain. Kita merasakan apa
yang di rasakan orang lain.Untuk mencaoai sifat empati, kita harus memiliki 2
kemampuan:
1. Listning skills (kemampuan mendengar) --> mendengarkan dengan
aktif,tatap muka pasien,dan berikan respon balik.
2. Talking skills ( kemampuan mendengar) --> manggunakan bahasa yang
baik dan intonasi yang jelas.

Keterampilan empati
1. mendengarkan dengan aktif
2. responsif pada kebutuhan pasien
3. menghargai pendapat pasien
4. manginfokan kepada pasien
5. berbagi perasaan dan pengalaman dengan pasien

Tingkatan Empati yang dikodekan dalam suatu sistem :


(Bylund dan Makoul, 2002)

 Level 0 : Dokter menolak sudut pandang pasien (mengacuhkan pendapat


yang pasien ungkapkan)
 Level 1 : Dokter mengenali sudut pandang pasien secara sambil lalu
 Level 2 : Dokter mengenali sudut pandang pasien secara implicit
 Level 3 : Dokter menghargai pendapat pasien
 Level 4 : Dokter mengkonfirmasi kepada pasien
 Level 5 : Dokter berbagi perasaan dan pengalaman dengan pasien

Langkah-langkah/ kunci dari empati:


1. Mengakui adanya perasaan-perasaan kuat dalam situasi klinis, rasa takut, marah,
terpendam, kesedihan atau kekecewaan.
2. Behenti sejenak atas apa yang dibayangkan pasien
3. Mengekspresikan dalam suatu persepsi tentang perasaan tersebut.
4. Melegitimasi perasaan-perasaan tersebut
5. Menghargai usaha pasien untuk bekerja sama dalam proses pengobatan.
6. Menawarkan suatu dukungan atau kerjasama.

3. Cara komunikasi verbal dan non verbal

Komunikasi verbal
Mempunyai tata bahasa ( pengetahuannya):
• Fisiologi; pengetahuan tentang bunyi-bunyi dalam bahasa
• Sintaksis; pengetahuan tentang pembentukan kalimat
• Sementik; pengtahuan tentang arti kata atau gabungn kata.

Aspek-aspek dari komunikasi verbal:


1. Perbendaharaan kata-kata
2. Kecepatan dalam berbicara
3. Intonasi suara
4. Humor
5. Waktu yang tepat

Komunikasi non verbal


Tampil dalam bentuk nada suara, ekspresi wajah dan anggota tubuh tertentu.
Daya serap informasi dalam kata-kata (7%) nada suara (38%) bahasa tubuh (55%).
Salah satu komunikasi non verbal yang memungkinkan untuk sembuh adalh
sentuhan. Menurut penelitian ( Knap & Hall) pijitan dan sentuhan dokter memberikan
atau menghasilkan efek positif pada pasien yang dirawat di rumah sakit.

Kelompok komunikasi non verbal


1. Pesan Kinesik

Adalah suatu pesan komunikasi non verbal yang menggunakan gerak tubuh.
Pesan kinesik dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

a) Pesan fasial

Adalah suatu pesan kinesik yang dapat dilihat dari air muka atau raut wajah.

b) Pesan gastural

Adalah suatu pesan kinesik yang dapat dilihat dari gerakan sebagian anggota
badan.

c) Pesan postural

Adalah pesan kinesik yang dapat dilihat dari gerakan seluruh anggota badan.

2. Pesan Proksemik
Adalah suatu pesan komunikasi non verbal yang dapat dilihat melalui pengaturan
jarak dan ruang.

3. Pesan Artifaktual

Adalah suatu pesan komunikasi non verbal yang dapat dilihat dari penampilan
tubuh dan pakaian.

4. Pesan Paralinguistik

Adalah suatu pesan komunikasi non verbal melalui pengucapan pesan verbal.

5. Pesan sentuhan dan bau-bauan.

Fungsi komunikasi non verbal

1. Repetisi

Mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal.

2. Substitusi

Menggantikan lambing-lambang verbal.

3. Kontradiksi

Menolak atau memberikan makna lain terhadap pesan verbal.

4. Komplemen

Melengkapi makna pesan non verbal.

5. Aksentuasi

Menegaskan pesan verbal.

Non verbal : Biasa digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi


diluar kata-kata terucap dan tertulis.
Secara teoritis, komunikasi nonverbal dan verbal dapat dipisahkan. Namun
kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling menjalin dan melengkapi dalam
komunikasi yang dilakukan sehari-hari.
Komunikasi non vebal adalah semua jenis komunikasi yang melebihi kata-kata
yang diucapkan (knapp: 1978)
“Pada dasarnya berupa komunikasi tanpa kata-kata yang meliputi pesan yang di
ciptakan melelui gerakan tubuh, penggunaan ruang, dan penggunaan bunyi.
Penggunaan bunyi ini dapat berupa vokal (rintihan) dan non vokal berupa ekspresi
wajah”

Fungsi bahasa non verbal:


• Mencirikan kualitas, sikap dan identitas.
• Mendukung dan membantu bahsa verbal.
• Membantu hubugan interpersonal.

4. Memberikan rujukan dan konsultasi kepada Rumah Sakit dan teman sejawat

Menurut standar kompetensi doketr indonesia, hal-hal yang perlu diperhatikan


seorang dokter dalam berkomunikasi dengan sejawat:

a. Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien pada
saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran.
b. Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar
c. Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas.

Pengertian konsultasi dan rujukan


Konsultasi adalah upaya meminta bantuan profesional penanganan suatu
kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang dokter kepada dokter lainnya
yang lebih ahli. Sedankan rujukan adalah upaya melimpahkan wewenang dan
tanggung jawab pananganan kasus penyakit yang sedang ditangani oleh seorang
dokter kepada dokter yang sesuai.

Bentuk-bentuk rujukan:
1. rujukan vertical : antara sarana pelayanan strata yang berbeda
2. rujukan horizontal : antara sarana pelayanan stara yang sama
Jeni-jenis Rujukan horizontal:
1. Rujukan Medis
Yaitu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab untuk masalah kedokteran
yang bertujuan untuk menyembuhkan atau memulihkan status kesehatan
pasien.

Rujukan medis terdiri atas:

a. Rujukan pasien

b. Rujukan ilmu pengetahuan

c. Rujukan bahan pemeriksaan laboratorium

2. Rujukan Kesehatan

Yaitu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab untuk masalah kesehatan


masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Rujukan medis terdiri atas:

a. Rujukan tenaga medis

b. Rujukan sarana

c. Rujukan operasional

Dalam bekerjasama dengan sejawat, dokter harus:


• Bekerja tanpa membedakan agama, suku, ras, adat, dan tingkat
kemampuan
• Tidak mengkritik teman sejawat melalui dan di depan pasien

Bekerjasama dalam tim dokter harus:


1. Menunjuk ketua tim selaku penanggung jawab
2. Tidak boleh mengubah akuntabilitas pribadi dalam perilaku keprofesian
dan arahan yang diberikan
3. Menghargai kompetensi dan kotribusi peserta
4. Memelihara hubungan profesional dengan pasien
5. Berkomunikasi aktif dengan anggota baik di dalam atau di luar tim
6. Berpartisipasi dalam setiap kegiatan
7. Memastikan agar pasien dan anggota tim mengetahui dan memahami
siapa yang bertanggung jawab pada layanan
8. Menghadapi masalah dengan terbuka dan spotif

Manfaat konsultasi dan rujukan

1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, baik dokter maupun tenaga


kesehatan lainnya yang lebih ahli.

2. Kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien akan terpenuhi.

Isi surat rujukan:


1. Identitas pasien
2. Penyakit yang dierita
3. Tindakan yang telah dilakukan
4. Nama dokter yang dituju
5. Alamat/ tujuan rujukan

5. Komunikasi dokter dengan pasien yang memiliki kelainan kemampuan fisik yang
tidak baik (phisical disability) ataupenyakit yang fatal (fatal illness)

Komunikasi dokter dengan pasien yang memiliki kelainan fisik (phisicall


disabelities) dan kondisi parah (fatal illness)
1. menggunakan mediator, seperti keluarga pasien dan kerabat
terdekat
2. menggunakan bahasa isyarat yang dimengerti oleh pasien, cara ini
dilakukan pada pasien yang memiliki kelainan fungsi fisik. Misalnya tuli
dan bisu.
3. langsung memeriksa tubuh pasien.(bagi pasien yang tidak sadar)
4. menjelaskan terjadinya kejadian tersebut dan menjelaskan prosedur
yang diterapkan kepada semua pasien yang punya pragnosis tanpa harapan.
5. menumbuhkan rasa percaya kepada pasien/keluarga, sehingga
memudahkan dalam pengobatan.

6. Interaksi dokter dengan tenaga kesehatan dan profesi lain.

Tenaga medis
a. Dokter dengan perawat
Dokter tidak mungkin merawat semua pasien dalam waktu yang bersamaan. Oleh
karena itu, dokter membutuhkan perawat untuk menjaga, merawat dan
melindungi pasien.
b. Dokter umum dengan dokter spsialis
Dokter umum membutuhkan dokter spesialis agar pasien mendapatkan perawatan
yang lebih intensif.
Tenaga non medis
a. Dokter degan ahli informasi dan komuikasi
Dalam radiologi seorang dokter membutuhkan ahli informasi dan komunkasi.

Hubungan dokter dengan profesi lain dibidang medis


Dalam pengobatan dokter membutuhkan tenaga medis lainnya, seperti untuk penanganan
diet dokter bekerja sama dengan ahli gizi, maslah perawatan dengan perawat, masalh
obat-obatan dengan apoteker, dan begitu halnya juga dengan masalah radioterapi,
fisioterapi, dan psikoterapi.

Hubungan sesama dokter, yaitu :


• Memelihara hubungan kerjasama
• Memupuk kesetiakawanan
• Menjaga martabat dan nama baik
• Saling menghargai sesama teman sejawat
• Saling mengingatkan teman sejawat

kerjasama dokter dengan non medis harus memperhatikan etika:


1. mengutamakan kejujuran
2. patuh pada etika yang ada
3. mampu mengatasi hambatan komunikasi yang ada

bentuk kerjasama dengan non medis:


1. pemerintah
mengadakan penyuluhan kesehatan dan promosi kesehatan pada masyarakat
dalam rangka peningkatan taraf kesehatan masyarakat
2. guru
mengadakan sosialisasi pada seluruh warga sekolah terutama siswa
3. kepolisian
terlibat dalam pengungkapan masalah kriminal, terutama pada bidang medis.
Seperti pemeriksaan forensic dan autopsy.

7. Komunikasi dalam Masyarakat Minang Kabau.

Dengan cara mempertimbangkan nilai budaya minangkabau seperti:


• Mampu memahami perspektif budaya dalam membina situasi komunikasi
dengan masyarakat minang manapun
• Mayarakat minang pada umumnya apresiasi terhadap orang lain
Hal ini juga erat kaitannya dengan falsafah alam takambang jadi guru

8. Pengambilan keputusan di Minang Kabau

1. OTORITAS
institusi sosial tradisional minang kabau
institusi berperan penting dalam sosialisasi, pusat penyebaran informasi, bahkan
merupakan institusi yg akomodatif dalam proses pengambilan keputusan
berdasarkan prinsip minang kabau
2. MUSYAWARAH ( mufakat)
• semua unsur terlibat
• semua unsur kedudukannya sama(duduk sama rendah, tegak sama tinggi)
• perbedaan pendapat tidak saja di akui dan di terima melainkan menjadi
suatu keharusan (bersilang kayu dalam tumngku, dengan begitu maka api
akan hidup)
• proses musyawarah di anggap sebagai bagian dari proses dialekan, untuk
menghasilkan sintesis
• proses emang memakan waktu yang panjang, namun pengabdian ini akan
berdampak pada kurangnya partisipasi warga dalam mendukung pelaksanaan
keputusan yang di hasilkan
3. PEMIMPIN
• pemimpin mesti kuat seperti pohon beringin, bisa sebagai tempat berlindung,
panutan , tahan kritik, menerima saran dan tidak menggurui
4. EGALITARIAN dan DEMOKRATIS
• interaksi di dasari oleh prinsip egalitarian dan demokrasi
• tidak ada yang di perintah dan memerintah
5. TANAH
merupakan faktor yang sangat penting bagi masyarakat minang kabau, baik dari
segi ekonomis, praktis maupun emosional dan sentrimental

Tungku tigo sajarangan


tungku tigo sajarangan disebut juga rajo tigo selo, yaitu tiga pemimpin yang berpengaruh
dalam pengambilan keputusan di Minangkabau, yang terdiri atas:
a. Pemimpin alam

b. Pemimpin adat
c. Pemimpin ibadat

Rajo tigo selo ini merupakan unsur tri tunggal dalam kepemimpinan masyrakat
Minangkabau.

Dengan cara melalui musyawarah yg dilakukan secara bertahap, yaitu:

1. musyawarah orang seperut


2. musyawarah orang sekaum
3. musyawarah orang sekampung
4. musyawarah orang senagari

Musyawarah tersebut dipimpin oleh anggota kerabat yg laki-laki, yaitu: mamak,


tungganai 9mamak rumah tertua) dan penghulu serta anggota kerabat yg perempuan yaitu
bundo kanduang

Jenis Ikatan Kekerabatan


Ikatan kekerabatan yang terbentuk karena hubungan darah.
Pertalian kekekrabatan mamak dengan kemenakan.
Pertalian kekerabatan suku sako
Ikatan kekerabatan yang terbentuk karenahubungan perkawinan.
Pertalian kekerabatan induak bako anak pisang.
Pertalian kekerabatan andan pasumandan

Musyawarah Untuk Mencapai Mufakat


Di Minangkabau berlaku prinsip musyawarah dalam mencapai suatu kesepakatan.
Musyawarah diperlukan karena kebenaran bukan datang dari individu melainkan dari
kumpulan individu dalam sebuah kelompok.
“Kemenakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu,pangulu barajo ka mufakat,
mufakat barajo ka nan bana,nan bana badiri sandirinyo”
(Kemenakan beraja kepada mamak, mamak beraja kepada penghulu, penghulu beraja
kepada musyawarah, musyawarah beraja ke yang benar, yang benar berdiri sendiri).
Keputusan yang telah melalui tahap musyawarah untuk memperoleh mufakat adalah
kebenaran yang sebenar-benarnya.
Keputusan itu adalah keputusan yang bulat dan didukung penuh oleh semua individu
yang turut dalam bermusyawarah.

Proses pengambilan keputusan dilakukan secara bertahap :


Musyawarah orang seperut (saparuik)
Musyawarah orang sekaum
Musyawarah orang sekampung’
Musyawarah orang senagari

Proses pengambilan keputusan dipimpin oleh anggota kerabat yang laki-laki :


Mamak
Mamak rumah tertua (tungganai)
Penghulu
Anggota kerabat yang perempuan (bundo kanduang)juga dimintai pendapatnya
dalam pertemuanpertemuan tahap awal di lingkaran saparuik (seperut).

Pertemuan untuk melaksanakan musyawarah ini dapat terjadi di tahap yang paling
bawah sampai ke yang paling atas, disesuaikan dengan skala persoalan yang akan
dibahas, yaitu :
Rumah gadang
Rumah gadang kaum/ suku
Balai adat
Dalam musyawarah di minang kabau ada tiga kalangan yang harus terlibat:
1.niniak mamak
Untuk masalah adat. Dan akan menilai dan memberikan kontribusi dalam musyawarah
dari sudut pandang adat
2. cadiak pandai (kaum intelektual)
3. alim ulama
Berkontribusi dalam musyawarah dari sudut pandan agama