Anda di halaman 1dari 2

Nama : Heny Kurnia Sari

Npm :09401811016
Fakultas : Kedokteran
Semester :3
BERPIKIR KEMBALI DEMOKRASI PANCASILA
Pancasila sebagai anak kandung dari proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia telah
melewati berbagai proses konseptualisasi yang dimulai dari sidang pertama BPUPKI sampai
disusunnya Piagam Jakarta oleh panitia sembilan yang kemudian dirubah lagi tujuh kata pada
sila pertama setelah kata “Ke-Tuhanan” oleh beberapa tokoh bangsa dalam sebuah rapat kecil
sebelum pengesahan teks finalnya. Semua perjalanan itu merupakan satu kesatuan dari sejarah
proses perumusan Pancasila.

Dalam menanggapi permintaan ketua BPUPKI, K.R.T. Radjiman Widiodiningrat,


mengenai dasar negara pada masa persidangan pertama BPUPKI tanggal 29 Mei sampai 1 Juni
1945, Soekarno memberikan pidato tentang yang dimaksud oleh bapak ketua BPUPKI yang
sebenarnya ialah yang dalam bahasa Belanda disebut dengan Philosofische Grondslag dari
negara Indonesia. Dari sinilah cikal bakal lahirnya Pancasila melalui dasar pemikirannya
Soekarno dalam pidatonya tersebut dan kemudian kita kenal di masa sekarang dengan Hari Lahir
Pancasila.

Walaupun begitu, Pancasila bukanlah buatan atau ciptaan Soekarno karena Pancasila
sudah dari dulu ada dan hidup dalam qalbunya bangsa Indonesia. Pancasila mengakar dalam jati
diri bangsa Indonesia sebagai fundamen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Soekarno
memperhatikan hal itu sehingga merumuskan dalam pikirannya dengan beberapa kata-kata yang
dia namakan “Pancasila” (Pidato Bung Karno 1 Juni 1946 dalam Rangka Peringatan Hari
Pancasila).

Jadi Pancasila merupakan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap warga
bangsa Indonesia sebagai pandangan dalam kehidupannya. Pancasila ada dalam diri setiap dari
kita sebagai manusia yang hidup di lingkungan yang majemuk ini.

Tetapi sangat disayangkan karena melihat fakta bahwa pandangan hidup berbangsa dari
nenek moyang bangsa Indonesia ini semakin hari semakin diabaikan. Nilai-nilai dasar ini tidak
lagi diterapkan dalam setiap perilaku dan sikap bangsa Indonesia. Parahnya lagi jika Pancasila
itu dihubungkan dengan sebuah sistem pemerintahan Demokrasi. Karena sejatinya Demokrasi itu
memiliki kelemahan yang fatal.

Berbeda dengan Demokrasi Terpimpin yang segala putusan dan kebijakan terpusat
kepada pemimpin negara, dalam Demokrasi Pancasila setiap sistem pengorganisasian negara
dilakukan oleh rakyat sendiri. Dengan melihat kondisi negara sekarang ini yang semakin jauh
dari nilai-nilai Pancasila menyebabkan Demokrasi Pancasila tidak lagi efisien dalam
penyelenggaraan sistem pemerintahan di Indonesia. Kenyataannya bahwa semakin hari semakin
banyak orang-orang yang tidak terpelajar mengenai hakikat Pancasila membuat semakin banyak
pula orang-orang yang tidak terpelajar tersebut untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan
sistem pemerintahan. Hal ini tentunya akan membawa dampak yang serius di dalam negara
dalam berbagai bidang seperti ekonomi, budaya, politik, dan hukum.

Untuk mengatasi hal ini negara perlu merombak kembali pemikiran setiap warga negara
untuk bagaimana mempelajari dan mengkaji kembali Pancasila sedalam-dalamnya agar dapat
menjunjung nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila. Demokrasi Pancasila berlandaskan pada
nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila. Untuk itu sebelumnya setiap orang
haruslah sadar akan pentingnya kualitas diri mereka masing-masing sebelum campur tangan
dalam penyelenggaran sistem pemerintahan negara. Karena kemampuannya untuk menalar
berbagai masalah yang akan datang sangatlah penting dalam intervensinya di pemerintahan suatu
negara.