Anda di halaman 1dari 3

1.

Aliran Maturidiyah dan aliran Asy’ariyah adalah 2 kelompok moderat yang berusaha
mengkompromikan persoalan dan pertentangan tentang aqidah diantara para sahabat setelah
meninggalnya Rasulullah SAW. Kelompok ini kemudian dinamakan Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah
(Aswaja). Dua kelompok itu adalah Asy'ariyah yang didirikan oleh Imam Abul Hasan al-Asy'ari (lahir di
Basrah, 260 H/873 M, wafat di Baghdad 324 H/935 M) dan Maturidiyah yang didirikan oleh Imam
Abu Manshur al-Maturidi (lahir di Maturid-Samarkand, wafat 333 H / Lahir tahun 270 H. Wafat tahun
333 H (khilaf)- Penulis sejarah tidak dapat memastikan kelahiran Imam al-Maturidy, mereka
memperkirakan kelahiran Maturidy lebih dahulu daripada kelahiran Imam al-Asy'ary, selisih dua
puluh tahunan lebih. Kelahiran Imam al-Maturidy di masa Khalifah al-Mutawakkil dari Abbasiyah,

Aqidah Asy'ariyah merupakan jalan tengah (tawasuth) di antara kelompokkelompok keagamaan


yang berkembang pada masa itu. Yaitu kelompok Jabariyah dan Qadariyah yang dikembangkan oleh
Mu'tazilah. Dalam membicarakan perbuatan manusia, keduanya saling berseberangan. Kelompok
Jabariyah berpendapat bahwa seluruh perbuatan manusia diciptakan oleh Allah dan manusia tidak
memiliki peranan apa pun. Sedang kelompok Qadariyah memandang bahwa perbuatan manusia
diciptakan oleh manusia itu sendiri terlepas dari Allah. Dengan begitu, bagi Jabariyah kekuasaan
Allah adalah mutlak dan bagi Qadariyah kekuasaan Allah terbatas. Sikap tawasuth ditunjukkan oleh
Asy'ariyah dengan konsep al-kasb (upaya). Menurut Asy'ari, perbuatan manusia diciptakan oleh
Allah, namun manusia memiliki peranan dalam perbuatannya. Kasb memiliki makna kebersamaan
kekuasaan manusia dengan perbuatan Tuhan. Kasb juga memiliki makna keaktifan dan bahwa
manusia bertanggung jawab atas perbuatannya. Dengan konsep kasb tersebut, aqidah Asy'ariyah
menjadikan manusia selalu berusaha secara kreatif dalam kehidupannya, akan tetapi tidak
melupakan bahwa Tuhan-lah yang menentukan semuanya. Dalam konteks kehidupan sekarang,
aqidah Asy'ariyah, paling memungkinkan dijadikan landasan memajukan bangsa. Dari persoalan
ekonomi, budaya, kebangsaan sampai memecahkan persoalan-persoalan kemanusiaan kekinian,
seperti HAM, kesehatan, gender, otonomi daerah dan sebagainya.

Aqidah Maturidiyah memiliki keselarasan dengan aqidah Asy'ariyah. Itu ditunjukkan oleh cara
memahami agama yang tidak secara ekstrem sebagaimana dalam kelompok Mu'tazilah. Yang sedikit
membedakan keduanya, bahwa Asy'ariyah fiqhnya menggunakan mazhab Imam Syafi'i dan Imam
Maliki, sedang Maturidiyah menggunakan mazhab Imam Hanafi. Sikap tawasuth yang ditunjukkan
oleh Maturidiyah adalah upaya pendamaian antara al-naqli dan al-'aqh (nash dan akal). Maturidiyah
berpendapat bahwa suatu kesalahan apabila kita berhenti berbuat pada saat tidak terdapat nash
(naql), sama juga salah apabila kita lalui tidak terkendali dalam menggunakan rasio ('aql).
Menggunakan 'aql sama pentingnya dengan menggunakar naql. Sebab akal yang dimiliki oleh
manusia juga berasal dari Allah, karena itu dalam al-Quran Allah memerintahkan umat Islam untuk
menggunakan akal dalam memahami tanda-tanda (al-ayat) kekuasaan Allah yang terdapat di alam
raya.

2. Aqidah ahlus sunnahwal jamaah adalah Faham Islam standar yang harus dikembangkan untuk
menjadi panutan manusia di mana saja dan kapan saja. Pintu pengembangan itu adalah Ijtihad yang
terkendali dan kendali itu adalah Haluan Bermadzhab.

Nahdlatul Ulama berpendirian bahwa Faham Ahlussunnah Waljamaah harus diterapkan dalam tata
kehidupan nyata di masyarakat dengan serangkaian sikap yang bertumpu pada karakter

a. tawassuth dan i'tidal


b. Sikap tasamuh

c. Sikap tawazun

d. Amar ma'ruf nahi munkar

3. Pandangan saya tentang hukum tahlilan,pembacaan sholawat dan segala kegiatan yang biasa
dilakukan oleh kaum nahdliyyin adalah sesuatu kebaikan yang tidak ada salahnya karena dengan
membaca kalimat tahlil, tasbih, tahmit dan takbir serta ayat-ayat AlQur'an dan istighfar merupakan
cara untuk mengingat Allah SWT. Adapun cara mengingatnya bisa bermacam-macam. Dan tingkat
efektivitas dzikirnya juga berbeda-beda, sejalan dengan wawasan dan tujuan untuk apa dia berdzikir.

4. Mu’tazilah Qodariyah adalah Aliran ini mempunyai pendapat bahwa manusia berkuasa atas
perbuatan-perbuatan baik ataupun jahat. Selain itu, menurut aliran ini manusia mempunyai
kemerdekaan atas tingkah lakunya. Ia berbuat baik ataupun jahat atas kehendaknya sendiri. Degan
demikian, menurut aliran ini manusia diciptakan Allah mempunyai kebebasan untuk mengatur jalan
hidupnyatanpa campur tangan Allah. Oleh karena itu, jika manusia diberi ganjaran yang baik berupa
surga atau disiksa di neraka, semua itu adalah pilihan mereka sendiri. Pendiri aliran ini adalah
Ma’bad al-Juhani dan Gailan ad-Dimasyqi

Mu’tazilah jabariyah Dalam sejarah tercatat bahwa orang yang pertama kali mengemukakan paham
Jabariyah di kalangan umat Islam adalh al-Ja’ad Ibnu Dirham. Pandangan-pandangan Ja’ad ini,
kemudian disebarluaskan oleh para pngikutnya, seperti Jahm bin Safwan. Manusia menurut aliran
Jabariyah adalah sangat lemah, tidak berdaya, serta terikat dengan kekuasaan dan kehendak mutlak
Tuhan. Manusia tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas, sebagaimana dimiliki soleh paham
qadariyah. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas dari aturan, scenario, dan
kehendak Allah. Segala akibat baik baik dan buruk yang diterima oleh manusia dalam perjalanan
hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah. Akan tetapi, ada kecendrungan bahwa Tuhan bahwa
Tuhan lebih memperlihatkan sikap-Nya yang mutlak, absolute, dan berbuat sekehenak-Nya. Hal ini
dapat menimbulkan paham seolah-olah Tuhan tidak adil. Misalnya, Tuhan menyiksa orang yang
berbuat dosa yang dilakukan orang itu terjadi atas kehendak-Nya.

5. Tawasul berarti perantara atau penghubung, sebagaimana Allah memiliki Ruhul Amiin, Jibril AS,
untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW. Demikianlah pencapaian makrifat kepada
Allah, yakni terungkapnya hijab dengan Allah melalui rantai-rantai wasilah, yakni perantara yang
sampai kepada Rasulullah. Demikian karena si hamba dhaif lagi faqir, maka perlulah bertawassul
kepada Balatentara Allah yang suci agar hajatnya mudah sampai hadhirat Allah Yang Agung lagi Suci
daripada gambaran hamba yang hina.

6. Menjamu orang yang hadir dalam tahlilan menurut saya adalah sesuatu yang bernilai pahala
karena kita bertujuan baik dengan memuliakan orang yang akan mengumandangkan kalimat tahlil,
tasbih, tahmit dan takbir serta ayat-ayat AlQur'an dan istighfar

7. Nahdlatul Ulama adalah organisasi massa Islam di Indonesia yang didirikan oleh Kyai Haji
Mohammad Hasjim Asy'arie bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari (lahir
di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, 10 April 1875 – meninggal di Jombang, Jawa Timur, 25
Juli 1947 pada umur 72 tahun; 4 Jumadil Awwal 1292 H- 6 Ramadhan 1366 H; dimakamkan
di Tebu Ireng, Jombang)
Sebagai organisasi berwatak keagamaan Ahlussunnah Wal Jama'ah, maka NU menampilkan sikap
akomodatif terhadap berbagai madzhab keagamaan yang ada di sekitarnya. NU tidak pernah berfikir
menyatukan apalagi menghilangkan mazdhab-mazdhab keagamaan yang ada. Dan sebagai
organisasi kemasyarakatan, NU menampilkan sikap toleransi terhadap nilai-nilai lokal. NU
berakulturasi dan berinteraksi positif dengan tradisi dan budaya masyarakat lokal. Dengan demikian
NU memiliki wawasan multikultural, dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau
budaya setempat, tetapi mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup
di Republik Indonesia tercinta ini. Sikap ini sesuai dengan inti faham keislaman NU yang sejalan
dengan hadis Nabi Muhammad SAW : Al-hikmatu dlaallatul mu'min, fahaitsu wajadaha fahuwa
ahaqqu biha. Hikmah atau nilai-nilai positif untuk umat Islam, darimanapun asalnya ambillah karena
itu miliknya umat Islam. Proses akulturasi tersebut telah menampilkan wajah Islam yang
berkeindonesiaan, wajah yang ramah terhadap nilai budaya lokal dan terbuka dengan nilai-nilai
universal yang positif. NU juga menghargai perbedaan agama, tradisi, dan kepercayaan, yang
merupakan yang merupakan warisan budaya Nusantara. Sikap yang demikian inilah yang
memudahkan NU diterima di semua lapisan masyarakat di seluruh kepulauan Nusantara.