Anda di halaman 1dari 2

Tema: Narapidana Dibebaskan karena Pandemi COVID-19

Keputusan Pembebasan Narapidana Mendatangkan Protes dari


Masyarakat

COVID-19 atau dikenal sebagai virus Corona sedang menjadi permasalahan


besar bagi beberapa negara di dunia, khususnya Indonesia. Semakin hari, semakin
banyak korban yang terinfeksi oleh virus ini, sehingga pemerintah mengeluarkan
aturan social distancing, dimana masyarakat tidak di ijinkan untuk melakukan
aktivitas terlalu banyak diluar rumah, seperti misalnya Work From Home. Rencana
lockdown yang pada awalnya tidak ingin dilakukan, sekarang pemerintah sudah
mulai melaksanakannya di beberapa kota.

Terdapat satu keputusan pemerintah yang menimbulkan polemic pada


masyarakat, yaitu membebaskan para narapidana untuk mencegahnya peningkatan
virus Corona di dalam sel. Kementerian Hukum dan HAM akan membebaskan
sekitar 30 ribu narapidana dan anak dari lembaga pemasyarakatan, rumah tahanan
negara, serta lembaga pembinaan khusus anak (LPKA). Hal ini sudah di setujui
oleh Presiden Joki Widodo.

"Kita juga minggu lalu saya sudah menyetujui agar ada juga pembebasan
napi karena lapas kita yang over kapasitas sehingga sangat berisiko mempercepat
penyebaran COVID-19 di lapas-lapas kita," kata Jokowi.

Mayoritas masyarakat tidak setuju dengan keputusan pemerintah yang satu


ini, mereka menganggap ada kepentingan lain di balik gagasan membebaskan napi
dengan mengkaitkan kondisi lapas dan pandemi Corona, terkesan mencari
kesempatan untuk meringankan hukuman para koruptor. Masyarakat pun takut
dengan napi karena bisa melakukan tindak pidana.
Tindakkan ini sudah dilakukan dan memiliki hasil yang buruk. Dua
narapidana yang belum genap seminggu bebas dari penjara, harus kembali di tahan
karena melakukan tindak pidana. Bahri (25) dan Yayan (23) melakukan aksi
penjambretan, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada beberapa
kasus lain di daerah yang berbeda dengan kasus kurir narkoba, pencurian, dan
membuat kerusuhan di rumah makan.

Beberapa minggu pun berlalu dan semakin banyak kejahatan yang dilakukan
napi untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya, karena dengan adanya COVID-19
masyarakat susah untuk mencari pekerjaan dan banyak perusahaan pun yang di
tutup.

Pemerintah sepertinya sedang mempertontonkan kegagalannya dalam


mengurusi negara ini. Di tengah wabah ia mengambil langkah yang cepat namun
tidak tepat. Bagaimana tidak, bahkan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), Nurul Ghufron mengatakan, alasan COVID-19 untuk membebaskan napi
itu ditolak oleh lembaganya, namun pemerintah tetap melakukannya,