Anda di halaman 1dari 11

KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN

TRIMESTER I DAN II

DI SUSUN

OLEH

1. MEILIA EFRIANI B.11.12.038


2. MAYA SEPTA ANGGRAINI B.11.12.037

STIKES MITRA ADIGUNA PALEMBANG

PROGRAM D III KEBIDANAN

TAHUN 2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, atas karunia, taufik dan

hidayahNya kami dapat menyelesaikan makalah dengan tema “Komplikasi dan

penyulit kehamilan Trimester I dan II”. Kami berupaya menyajikan materi yang

dapat membantu pembaca supaya dapat mengerti bagaimana hukum-hukum nifas

menurut Islam.

Kami mengetahui makalah kami ini jauh dari sempurna, karena di dunia ini

tidak ada yang sempurna, maka dari itu, kritik dan saran dari para dosen dan teman-

teman sangat kami harapkan, agar terciptanya makalah yang lebih baik.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat

dalam penyelesaian makalah ini. Harapan kami agar makalah ini dapat membantu

para mahasiswa untuk lebih mengetahui tentang komplikasi dan penyulit kehamilan

trimester I dan II dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, September 2013

Penulis
KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN

TRIMESTER I DAN II

Kehamilan Ektopik

Patofisiologi

·    Ovum yang telah dibuahi berimplantasi di tempat lain selain di endometrium

kavum uteri

·    Gangguan interferensi mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam

perjalanannya menuju kavum uteri

·    Kemungkinan implantasi : paling sering di tuba falopii (90-95 %, dengan 70-80%

di ampula), serviks, ovarium, abdomen dan sebagainya.

Etiologi

·    Kelainan tuba adalah karena adanya riwayat penyakit tuba, seperti salpingitis

·    Riwayat operasi tuba, sterilisasi

·    Riwayat penyakit radang panggul

·    IUD

·   Ovulasi yang multipel akibat induksi obat-obatan, usaha fertilisasi in vitro dan

sebagainya
Gejala

·     Amenorhea

·     Nyeri perut bagian bawah yang snagat dan berawal dari satu sisi, tengah, seluruh

perut bagian bawah akibat robeknya tuba

·     Penderita bisa sampai pingsan dan syok

·     Perdarahan pervaginam biasanya berwarna hitamPusing, perdarahan, berkeringat,

pembesaran payudara, perubahan warna pada vagina dan serviks, perlunakan serviks,

pembesaran uterus, frekuensi BAK meningkat

Diagnosis

·     Pemeriksaan panggul, tentukan lokasi sakit

·     Lakukan tes B-hCG

·     Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui konsentrasi hormon progesteron

·     Pemeriksaan USG

·     Diagnosis banding : usus buntu (apendisitis akut), radang panggul

·     Penanganan : methotrexate

·     Prognosis : HCG (kuantitatif) untuk melihat sisa jaringan

·     Kesempatan hamil tergantung dari kerusakan tuba (1x operasi tuba : 55-60%, jika

slauran satunya tidak ada atau rusak : 45%, >2x pembedahan ektopik dan

komservatif : 30%)
1.   KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU (KET)

Gejala :

·   Kolaps dan kelelahan

·   Nadi cepat dan lemah (110x/menit atau lebih)

·   Hipotensi

·   Hipovolemia

·   Abdomen akut dan nyeri pelvis

·   Distensi abdomen dengan shifting dullness merupakan petunjuk adanya darah

bebas

·   Nyeri lepas

·   Pucat

Diagnosis

·   Anamnesis : riwayat terlambat haid atau amenorhea, gejala dan tanda kehamilan

muda dapat ada atau tidak ada, perdarahan pervaginam, nyeri perut pada kanan/kiri

bawah

·   Pemeriksaan fisis : KU dan TTV dapat baik sampai buruk, ada tnada akut

abdomen, saat pemeriksaan adnexa ada nyeri goyang portio

·   Pemeriksaan penunjang : tes urine B-hCG (+), kuldosentesis (ditemukan darah di

kavum douglasi), USG


Penatalaksanaan KE dengan ruptur tuba

·   Optimalisasi KU ibu dengan transfusi, infus oksigen atau kalau dicurigai adanya

infeksi diberikan juga antibiotika

·   Hentikan sumber perdarahan segera dengan laparatomi dan salpingektomi

(memotong bagian tuba yang terganggu)

Sebelum pulang

·   Konseling prognosis kesuburannya

·   Konsleing metode kontrasepsi dan penyediaan metode kontrasepsi

·   Perbaiki anemia dengan sulfas ferrosus 600 mg/hari per oral selama 2 minggu

·   Kontrol ulang 4 minggu

Kehamilan Servikal

·   Jarang terjadi

·   Perdarahan pervaginam tanpa disertai rasa nyeri

·   Terjadi abortus spontan sangat besar

·   Jika kehamilan tumbuh sampai besar, perdarahan atau ruptur yang terjadu sangat

besar dan bisa dilakukan histerektomi lokal.

Kehamilan Ovarial

Ditegakkan atas dasar kriteria Spiegelberg :

·   Tuba pada sisi kehamilan harus normal

·   Kantung janin harus terletak di ovarium

·    Jaringan ovarium yang nyata harus ditemuka dalam dinding kantung janin
2.  MOLA HIDATIDOSA

·    Hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari vili

korialis disertai dengan degenerasi hidropik

·    Uterus melunak dan berkembang lebih cepat dari usia gestasi yang normal, tidak

dijumpai adanya janin, kavum uteri hanya terisi oleh jaringan sperti rangkaian buah

anggur

·    Resiko terjadi keganasan (koriokarsinoma)

Pembagian

1.  Mola hidatidosa klasik/komplet

·     Janin atau bagian tubuh janin tidak ada

·     Sering disertai pembentukan kista lutein (25-30%)

2.   Mola hidatidosa parsial/inkomplet

· Janin atau bagian tubuh janin ada

·   Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati

pada trimester pertama

Gejala

·     Hiperemesis

·     Hipertiroid

·     Preeklampsia

·     Anemia

·     Uterus lebih besar dari umur kehamilan

·     Tanda pasti kehamilan tidak ditemukan


·   Perdarahan

·   Bisa juga disertai preeklampsia/ eklampsia

Diagnosa

·    Ditegakkan dengan USG

·    Pengosongan jaringan mola dengan vakum kuret

·    Pemeriksaan tindak lanjut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan keganasan

·    Kadar hCG dipantau hingga minimal 1 tahun pasca kuretase

·    Bila >8 minggu pasca kuretase hCG tinggi berarti trofoblast masih aktif

·    Anamnesis : hamil disertai gejala dan tanda hamil muda yang berlebihan,

perdarahan pervaginam berulang berwarna coklat, gelembung seperti busa

·    Pemeriksaan fisik : pada mola klasik ukuran uterus > besar dari usia kehamilan

yang sesuai, tidak teraba bagian janin, DJJ tidak ada. Uji batang sonde tidak ada

tahanan massa konsepsi. Pada mola parsial, gejala seperti missed abortion, uterus <

gestasi

·     Pemeriksaan penunjang : periksa kadar B-hCG kuantitatif dan USG. Pada USG

gambaran seperti badai salju (snowflake/snowstorm-like appearance)

Penatalaksanaan

·     Perhatikan sindroma yang mengancam fungsi vital (depresi nafas,

hipertiroid/tirotoksikosis dan sebagainya). Resusitasi bila KU buruk


·   Evakuasi jaringan mola : dengan AVM dan kuret tajam. Suction dapat

mengeluarkan sebagian besar massa mola, sisanya bersihkan dengan kuret. Dapat

juga dilakukan induksi, pada waktu evakuasi berikan oksitosin untuk merangsang

kontraksi uterus dan mencegah refluks cairan mola ke arah tuba

·    Pada wanita yang tidak mengharapkan anak lagi dapat dianjurkan histerektomi

Follow up

·    Profilaksis terhadap keganasan dengan sitostatika terutama pada kelompok resiko

keganasan tinggi

·    Pemeriksaan ginekologik dan B-hCG kuantitatif rutin tiap 2 minggu teratur tiap 3

bulan-1 tahun

·    Foto toraks pada awal terapi, ulang bila kadar B-hCG menetap atau meningkat

·    Kontrasepsi hormonal 1 tahun pasca kuretase, sebaiknya preparat progesteron oral

selama 2 tahun

·    Penyuluhan pada pasien akan kemungkinan keganasan


PENUTUP

KESIMPULAN

Komplikasi dan penyulit kehamilan trimester I dan II terdiri dari :

1. Kehamilan ektopik

Ovum yang telah dibuahi berimplantasi di tempat lain selain di endometrium


kavum uteri

Penyebab kelainan tuba adalah karena adanya riwayat penyakit tuba, seperti

salpingitis

- Riwayat operasi tuba, sterilisasi

- Riwayat penyakit radang panggul

- IUD

- Ovulasi yang multipel akibat induksi obat-obatan, usaha fertilisasi in vitro dan

sebagainya

2. Mola Hidatidosa

Hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio tetapi terjadi proliferasi dari vili
korialis disertai dengan degenerasi hidropik

Gejala

- Hiperemesis

- Hipertiroid

- Preeklampsia

- Anemia

- Uterus lebih besar dari umur kehamilan


- Tanda pasti kehamilan tidak ditemukan

- Perdarahan

- Bisa juga disertai preeklampsia/ eklampsia

Anda mungkin juga menyukai