Anda di halaman 1dari 10

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Mindi (Melia azedarach Linn.)

Mindi termasuk tanaman tahunan tergolong kedalam famili Meliaceae,

berwarna hitam, baunya tidak sedap serta rasanya pahit sekali. Biji dan daun

mindi mengandung senyawa glokosida flavonoid dengan aglikon quersetin yang

bersifat sebagai insektisida botanis. Pada umumnya bahan aktif yang terkandung

pada tumbuhan mindi berfungsi sebagai antifedan terhadap serangga dan

menghambat perkembangan serangga. Daun dan biji mindi telah dilaporkan dapat

digunakan sebagai pestisida nabati. Ekstrak daun mindi dapat digunakan pula

sebagai bahan untuk mengendalikan hama termasuk belalang. Cara pemanfaatan

tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan sebagai berikut yaitu daun

mindi dikupas, ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25-50 g/L

selama 24 jam. Larutan yang dihasilkan disaring agar didapat larutan yang siap

diaplikasikan dengan cara disemprotkan (Kartasapoetra, 1987).

Daunnya majemuk, menyirip ganda, tumbuh berseling dengan panjang

20-80 cm. Anak daun bentuknya bulat telur sampai lanset, tepi bergerigi, ujung

runcing, pangkal membulat atau tumpul, permukaan atas daun berwarna hijau tua,

bagian bawah hijau muda, panjang 3-7 cm, lebar 1,5-3 cm. Bunga majemuk dalam

malai yang panjangnya 10-20 cm, keluar dari ketiak daun. Daun mahkota

berjumlah 5, panjangnya sekitar 1 cm, warnanya ungu pucat, dan berbau harum.

Buahnya buah batu, bulat, diameter sekitar 1,5 cm. Jika masak warnanya cokelat

kekuningan, dan berbiji satu. Pebanyakan dengan biji. Biji sangat beracun dan

biasa digunakan untuk meracuni ikan atau serangga (Kartasapoetra, 1987).

Universitas Sumatera Utara


Gambar 1. Daun mindi

Tanaman mindi merupakan tanaman serbaguna karena dapat digunakan

untuk berbagai keperluan. Seluruh bagian tanaman mulai dari akar, batang yang

berkayu, kulit batang, daun, buah dan bijinya dapat dimanfaatkan. Kayu mindi

dapat digunakan dalam bentuk kayu utuh misalnya sebagi komponen rumah,

komponen mebel dan barang kerajinan. Kayu mindi dapat juga digunakan dalam

bentuk panel misalnya sebagai kayu lapis indah dan vinir lamina indah. Daun dan

biji mindi digunakan sebagi pestisida alami dan kulitnya digunakan sebagai obat

(Martawijaya et al, 1989).

Mindi merupakan pohon berumah dua yang tingginya mencapai 45 m,

garis tengah batang dapat berukuran 60 (-120) cm. Kulit batang coklat keabuan,

bertekstur halus, berlentisel, semakin tua kulit akan pecah atau bersisik. Daun

majemuk menyirip ganda dua namun terkadang melingkar atau sebagian daun

menyirip ganda tiga, berhadapan, berlentisel, berbentuk bulat telur hingga jorong,

pangkal daun berbentuk runcing hingga membulat, tepi daun rata sampai

bergerigi. Perbungaan muncul dari bagian aksiler daun-daun, daun penumpu

berbentuk benang; bunga-bunga berwarna keunguan, berbau harum. Buah berupa

buah batu, berbentuk jorong-bundar, berwarna kuning kecoklatan ketika ranum,

permukaannya halus, mengandung 5 biji. Biji berbentuk memanjang, berukuran

panjang 3.5 mm dan lebar 1.6 mm, berwarna coklat (Wardiyono, 2008).

Universitas Sumatera Utara


Mindi memiliki adaptasi tinggi dan toleran dengan berbagai kondisi

lingkungan yang beragam. Jenis ini tumbuh pada tempat-tempat dengan rata-rata

suhu maksimum dan minimum per tahun, berturut-turut 39°C dan -5°C.

Umumnya tumbuhan ini tumbuh dari ketinggian 0-1200 mdpl, dan di pegunungan

Himalaya tumbuh pada ketinggian 1800 (sampai 2200) m. Curah hujan tahunan di

habitat alaminya berkisar antara 600-2000 mm. Di Afrika, jenis tumbuhan ini

ditanam sebagai pohon pelindung yang toleran terhadap kekeringan. Mindi

tersebar luas di daerah-daerah kering di bagian selatan dan barat daya Amerika

Serikat, yang memiliki curah hujan kurang dari 600 mm. Mindi dapat tumbuh

pada tanah-tanah berkadar garam, tanah dengan pH basa kuat, tapi tidak terlalu

asam. Jenis ini juga tumbuh pada tanah-tanah miskin, tanah marjinal, tanah

miring, dan tanah berbatu atau pada tebing curam berbatu (Wardiyono, 2008).

Kandungan bahan aktif mindi sama dengan mimba (Azadirachta indica)

yaitu azadirachtin, selanin dan meliantriol. Namun kandungan bahan aktifnya

lebih rendah dibandingkan dengan mimba sehingga efektivitasnya lebih rendah

pula. Ekstrak daun mindi dapat digunakan pula sebagai bahan untuk

mengendalikan hama termasuk belalang. Kulit mindi dipakai sebagai penghasil

obat untuk mengeluarkan cacing usus. Kulit daun dan akar mindi telah digunakan

sebagai obat rematik, demam, bengkak dan radang (Qitanonq, 2006).

Zat Ekstraktif

Beranekaragam komponen kayu, meskipun biasanya merupakan bagian

kecil, larut dalam pelarut-pelarut organik netral atau air, yang disebut ekstraktif.

Ekstraktif terdiri atas jumlah yang sangat besar dari senyawa-senyawa tunggal

Universitas Sumatera Utara


tipe lipofil maupun hidrofil. Ekstraktif dapat dipandang sebagai konstiotuen kayu

yang tidak struktural, hampir seluruhnya terbentuk dari senyawa-senyawa

ekstraseluler dan berat molekul rendah. Tipe konstituen yang mirip disebut

eksudat, yang dibentuk oleh pohon melalui metabolisme sekunder setelah

kerusakan mekanik atau penyerangan oleh serangga atau fungi. Meskipun ada

kesamaan terdapatnya ekstraktif kayu di dalam famili, ada perbedaan-perbedaan

yang jelas dalam komposisi bahkan diantara spesies-spesies kayu yang sangat

dekat (Sjöström, 1998).

Ekstraktif-ekstraktif menempati tempat-tempat morfologi tertentu dalam

struktur kayu. Sebagai contoh; asam-asam resin terdapat dalam saluran resin,

sedangkan lemak dan lilin terdapat dalam sel parenkim jari-jari. Ekstraktif-

ekstraktif fenol terdapat terutama dalam kayu teras dan dalam kulit

(Sjöström, 1998).

Menurut Achmadi (1990) bahwa zat ekstraktif berwarna atau tidak, dapat

mempengaruhi keefektifan kayu atau proses pengolahan, seperti pengecetan,

pengawetan, perekatan dan pembuatan komposit kayu polimer. Ekstraktif tidak

hanya penting untuk mengerti taksonomi dan biokimia pohon-pohon, tetapi

penting juga bila dikaitkan dengan aspek-aspek teknologi. Ekstraktif merupakan

bahan dasar yang berharga untuk pembuatan bahan kimia organik dan mereka

memainkan peranan penting dalam proses pembuatan pulp dan kertas

(Sjöström, 1998).

Menurut Achmadi (1990) umumnya ekstraktif berada dalam sel parenkim

jari-jari yang berhubungan dengan pembuluh. Selain resin ada juga lemak, lilin

dan sterol, yang susunannya beragam.

Universitas Sumatera Utara


Penggolongan Zat Ekstraktif

Achmadi (1990) mengelompokkan zat ekstraktif menjadi fraksi lipofilik

dan hidrofilik, walaupun batasnya kurang jelas. Yang termasuk fraksi lipofilik

adalah: lemak, waxes, terpene, terpenoid dan alkohol alifatik tinggi. Cara

pemisahaannya dapat dilakukan dengan pelarut non polar, seperti etil eter atau

diklorometana.

Sedangkan fraksi hidrofilik meliputi senyawa fenolik (tannin, lignin),

karbohidrat terlarut, protein, vitamin dan garam anorganik. Bahan jenis kayu yang

mempunyai kadar resin tinggi, misalnya resin (damar) yang banyak terdapat pada

famili Dipterocarpaceae. Resin ini berfungsi patologis (melindungi terhadap

kerusakan, tedapat pada saluran resin) dan fungsi fisiologis (sebagai cadangan

energi, terdapat dalam sel-sel jari dan sering ditemukan pada daun)

(Achmadi, 1990).

Peranan Zat Ekstraktif

Nicholas (1987) menyatakan bahwa zat-zat ekstraktif yang dikenal

menghambat pelapukan adalah senyawa-senyawa fenolik, dengan keefektifan

yang ditentukan oleh macam dan jumlah zat ekstraktif yang ada. Zat ekstraktif

yang bersifat racun memberikan karakteristik terhadap pelapukan pada kayu. Hal

ini dibuktikan bahwa ekstrak dari kayu teras lebih bersifat racun daripada bagian

kayu gubal pada pohon yang sama dan ketahanan terhadap pelapukan kayu teras

akan berkurang jika diekstraksi dengan air panas atau dengan pelarut organik

(Syafi’i, 2001).

Universitas Sumatera Utara


Fungi Sebagai Organisme Perusak Kayu

Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel

tunggal, eukariotik, berdinding sel dari kitin atau selulosa, bereproduksi seksual

dan aseksual. Dalam dunia kehidupan fungi merupakan kingdom tersendiri,

karena cara mendapatkan makanannya berbeda dari organism eukariotik lainnya,

yaitu melalui absorpsi. Sebagian besar tubuh fungi terdiri atas benang-benang

yang disebut hifa, yang saling berhubungan menjalin semacam jala, yaitu

miselium. Miselium dapat dibedakan atas miselium vegetatif yang berfungsi

menyerap nutrisi dari lingkungan, dan miselium fertil yang berfungsi dalam

reproduksi. Fungi dapat ditemukan pada aneka substrat, baik di lingkungan darat,

pereairan, maupun udara. Tidaklah sulit menemukan fungi di alam, karena bagian

vegetatifnya yang umumnya berupa miselium berwarna putih mudah terlihat pada

substrat yang membusuk (kayu lapuk, buah-buahan yang terlalu masak, makanan

yang membusuk), konidia atau tubuh buahnya dapat mempunyai aneka warna

(merah, hitam, jingga, kuning, krem, putih, abu-abu, coklat, kebiru-biruan dan

sebagainya) pada daun, batang, kertas, tetkstil, kulit dan lain-lain. Tubuh buah

fungi lebih mencolok karena langsung dapat dilihat dengan mata kasat, sedangkan

miselium vegetatif yang menyerap makanan hanya dapat dilihat dengan

menggunakan mikroskop (Gandjar et al, 1999).

Peran fungi dalam kehidupan kita sehari-hari antara lain dapat disebutkan:

di bidang pertanian dan perkebunan menyebabkan penyakit pada tanaman bernilai

ekonomi seperti padi, jagung, kentang, kopi, teh, coklat, kelapa, dan karet; di

bidang kehutanan merusak kayu dan hasil olahannya (tripleks, papan, dan lain

sebagainya), akan tetapi fungi justru diperlukan untuk penyuburan lahan, di

Universitas Sumatera Utara


bidang farmasi fungi dimanfaatkan untuk menghasilkan anti biotik, di industri

kimia untuk proses-proses biotransformasi tertentu untuk menghasilkan aneka

enzim dan senyawa-senyawa asam organik tertentu, di bidang kedokteran

sejumlah fungi memang patogen bagi manusia, antara lain menyebabkan alergi, di

bidang kesehatan masyarakat spora fungi di udara menyebabkan pengotoran udara

yang bila dihirup menyebabkan batuk-batuk dan alergi, disamping itu diketahui

pula bahwa fungi dapat merusak lukisan cat, minyak bumi, kertas dan tekstil

(Gandjar et al, 1999).

Fungi Pelapuk S. commune

Fungi ini termasuk famili Schizophyllaceae. S.commune tersebar luas di

dunia (kosmopolitan). Fungi ini termasuk jenis white-rot fungi. Fungi ini dikenal

dengan tanda buah tidak berangkai, bagian bawah meyempit hingga berbentuk

kipas, bagian atas berwarna putih keabu-abuan pada waktu muda dan setelah tua

berwarna abu-abu, ujung tubuh buah kadang-kadang pecah pada arah memanjang,

ujung pecah ini melengkung pada waktu segar. S. commune liat dan kenyal dan

setelah kering menjadi kaku (Martawijaya, 1962 dalam Batubara, 2006).

Panshine dan Zew (1964) diacu oleh Nandika dan Tambunan (1989)

menjelaskan bahwa fungi yang menyerang kayu dapat dipisahkan menjadi dua

kelompok, yaitu fungi perusak kayu sering juga disebut fungi pelapuk kayu dan

fungi pewarna kayu. Fungi pelapuk kayu serangannya bersifat membusukkan dan

menghancurkan bahan organik kayu, karena sebagian masa kayu dirombak secara

biokimia. Fungi pewarna serangannya hanya menimbulkan perubahan warna

Universitas Sumatera Utara


kayu. Perubahan warna kayu tersebut disebabkan oleh reaksi yang terjadi dengan

enzim yang dikeluarkan oleh miselium fungi.

Menurut Alexopoulos dan Mims (1979) dalam Dirgantara (1998)

S. commune diklasifikasikan sebagai beikut :

Ragnum = Meceteae

Divisi = Amastigomycota

Sub. Divisi = Basidiomycotina

Kelas = Basidiomycetes

Sub. Kelas = Holobasidiomycetes I.

Ordo = Aphyllophorales

Famili = Schizophyllaceae

Genus = Schizophylum

Spesies = Schizophylum commune

Ciri-ciri morfologi lainnya adalah tubuh buah fungi biasanya berdempetan

secara lateral dan lebarnya dapat mencapai 3 cm. Tubuh buah berbentuk secara

tunggal atau berkelompok. Lamelanya terdiri atas fasciculi, antara fasciculi yang

lebih panjang dipisahkan oleh 3-5 fasciculi yang lebih pendek, lapisan bagian atas

tudung terdapat suatu bagian yang berwarna gelap dan tersusun oleh hifa yang

membelit memanjang ke bawah. Dinding luar antar lamela menonjol keluar.

Dinding tersebut merupakan daerah pertumbuhan. Lamela yang lebih tua

memanjang diikuti oleh lamela yang baru (Buller, 1989 dalam Dirgantara, 1998).

Universitas Sumatera Utara


Menurut Kollman (1968) diacu oleh Nandika dan Tambunan (1989) pada

garis besarnya ada tiga jenis fungi pelapuk kayu, yaitu :

1. Brown-rot fungi, yaitu fungi tingkat tinggi dari kelas Basidiomycetes. Golongan

fungi ini menyerang holosellulosa kayu.

2. White-rot fungi, yaitu fungi dari kelas Basidiomycetes yang menyerang

holosellulosa dan lignin pada kayu.

3. Soft-rot fungi, fungi ini berasal dari kelas Ascomycetes yang menyerang

holosellulosa dan lignin pada kayu.

Menurut Nandika dan Tambunan (1989) fungi pewarna pada umumnya

tidak mempengaruhi keteguhan kayu, sebaliknya fungi pelapuk kayu berpengaruh

terhadap sift-sifat keteguhan, terutama keteguhan banting. Pada umunya serangan

fungi pelapuk kayu terhadap sifat-sifat kayu dapat mempengaruhi sifat-sifat kayu

berupa pengurangan bobot, pengurangan kekuatan, peningkatan kadar air,

penurunan nilai kalori, perubahan warna, perubahan bau, dan perubahan struktur

mikroskopis. Beberapa faktor biologis yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi

pelapuk kayu adalah temperatur yang cocok, persediaan oksigen yang cukup,

kadar air kayu diatas titik jenuh serat, kelembaban, pH dan nutrisi yang cocok.

Pelapukan yang mengakibatkan terjadinya penurunan kekuatan kayu pada

umumnya disebabkan oleh fungi yang disebut sebagai fungi pelapuk kayu. Fungi

yang menyebabkan pelapukan atau pewarnaan kayu dan bahan-bahan selulosa lain

adalah tumbuhan sederhana yang tidak mengandung klorofil sehingga tidak dapat

memproduksi makanannya sendiri. Fungi harus memperoleh makanan dari pohon

hidup sebagai parasit (Duljapar, 2001).

Universitas Sumatera Utara


Manion (1981) dalam Satmoko (1995) membagi penyebaran pelapukan

kayu berdasarkan letak fungi pada bagian pohon menjadi 5 macam yaitu :

1. Pelapukan kayu teras yang terdapat pada bagian atas pohon (Top rot)

2. Pelapukan kayu pada akar (Root rot)

3. Pelapukan kayu pada bagian pangkal batang pohon (Butt rot)

4. Pelapukan kayu gubal pada bagian pohon yang sudah mati pada pohon hidup

(Slash rot)

5. Pelapukan kayu teras pada pohon yang sudah tumbang (Product rot).

Pengujian pada 25 jenis kayu yang berasal dari komplek Gunung Bunder

memberikan kesimpulan bahwa fungi ini merupakan fungi perusak kayu yang

ganas (Martawijaya, 1962) dalam (Batubara, 2006). Sumarni dan Jasni (1989)

dalam (Batubara, 2006) melakukan penelitian tentang resistensi kayu plastik

terhadap tiga jenis fungi perusak kayu yaitu S.commune, Pycnoporus sanguineus,

Dacryopynax spatularia Marst. Dari penelitian ini diperoleh keterangan bahwa

fungi S. commune merupakan fungi yang paling ganas menyerang kayu

dibandigkan dua jenis lainnya. Rata-rata persentase penurunan berat kayu yang

disebabkan oleh fungi ini adalah tertinggi dibandingkan dua yang lainnya yaitu

sebesar 19,19%.

Universitas Sumatera Utara