Anda di halaman 1dari 22

KEGIATAN BELAJAR 3

Meluaskan Semangat Integritas

“Kita tidak bisa mengajarkan yang kita mau. Kita hanya bisa menga-
jarkan yang kita punya”
Anonim

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 65


I. PENDAHULUAN
Sebagai sosok guru berintegritas, anda sudah menunjukkan kesungguhan dengan me­
nyusun rencana penguatan integritas yang sesuai. Kini saatnya beraksi dan meluaskan
semangat berintegritas kepada peserta didik dan lingkungan sekolah. Pada tahap ini,
tantangan yang akan dihadapi sangat berat. Perlu keyakinan yang sangat kuat dan kerja
keras. Namun dengan keteladanan dan inspirasi yang anda jalani, ada harapan untuk
mengubah keadaan. Bagaimanapun juga anda adalah murid pertama dari setiap kebaik­
an yang anda sebarkan.
Melalui kegiatan pembelajajaran ketiga ini, diharapkan mahasiswa mampu meluaskan
semangat integritas kepada peserta didik dan lingkungan sekitarnya, melalui kegiatan
pembelajaran yang utuh dalam semua aspek kehidupan. Untuk mengembangkan ke-
mampuan ini, mahasiswa dituntut untuk menempatkan integritas sebagai perilaku
pribadinya, sehingga menjadi teladan, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Tahapan pembelajaran yang dilakukan mahasiswa pada bagian ini adalah:
1. Memahami faktor-faktor penentu keberhasilan dalam penguatan integritas, khusus-
nya dalam hal membangun komitmen bersama, serta teknik membangun komitmen
bersama;
2. Melakukan upaya dan langkah-langkah untuk menciptakan suasana belajar dalam
rangka menciptakan iklim penguatan integritas. Suasana berintegritas dibangun di
kelas, sekolah, dan koneksi ke masyarakat, yang dapat dikendalikan guru;
3. Memastikan aktivitas penguatan integritas terjaga keterlaksanaannya secara konsis­
ten melalui evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

II. INTI

A. CAPAIAN PEMBELAJARAN:

1. Mahasiswa mampu menumbuhkan komitmen diri secara bersama dengan peserta


didik dalam mengaktualisasi perilaku berintegritas dalam kehidupan;
2. Mahasiswa mampu mewujudkan suasana berintegritas di semua aktivitas pembela-
jaran, di kelas, sekolah, dan masyarakat;
3. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi secara terus menerus terhadap capaian pe­
nguatan perilaku dan komitmen berintegritas di kalangan peserta didik.

66 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


B. POKOK – POKOK MATERI

1. Bersama membangun komitmen diri


2. Situasi untuk menggerakkan suasana berintegritas
3. Konsistensi penguatan integritas

C. URAIAN MATERI

P ada bagian ini, kita akan mendalami langkah-langkah bagaimana implementasi


penguatan integritas dilakukan. Hal mendasar yang harus dilakukan adalah meng-
galang komitmen pribadi untuk bersama-sama menguatkan integritas. Komitmen ini
sebuah langkah penting dalam proses pembelajaran berintegritas. Melalui komitmen
bersama kita dapat menciptakan suasana belajar yang berintegritas dan melakukan pro­
ses pembalajaran dalam berbagai materi, baik berupa tema, maupun mata pelajaran
yang bermuara pada penguatan integritas. Hal yang perlu dipahami adalah (1) Bersama
membangun komitmen diri; (2) Mewujudkan suasana berintegritas, dan (3) Menjaga
konsistensi dalam berbagai aktivitas.

1. Bersama Membangun Komitmen Diri


Menghadapi maraknya praktek dan perilaku tidak berintegritas, tugas guru adalah
menjadi motor penggerak perubahan ke arah yang lebih baik. Ini keyakinan yang
harus menjadi prinsip bagi seorang guru. Tanpa keyakinan itu, tak ada jalan untuk
memperbaiki diri dan mengubah keadaan. Berbekal keyakinan tersebut, maka setiap
guru selayaknya adalah murid pertama dari kebaikan yang ia ajarkan. Selanjutnya,
ia menjadi teladan bagi seluruh peserta didiknya.
Tantangan yang dihadapi pasti berat, dan belum tentu berhasil mengubah keadaan.
Tapi yang pasti, dengan menerapkan perilaku berintegritas akan memberi manfaat
pada diri pribadi. Demikian pula ikhtiar untuk menguatkan integritas akan memberi
manfaat baik bagi diri pribadi.

a. Energi untuk Mendorong Komitmen Diri


Membangun komitmen bersama adalah sebuah seni untuk meyakinkan peser-
ta didik atau kolega agar tergerak melakukan langkah bersama. Terdapat hal-
hal prinsip yang harus diyakinkan untuk mendorong energi dalam diri untuk
berkomitmen. Berikut empat hal yang perlu diyakinkan dalam membangun
komitmen diri.

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 67


1) Kebaikan bermanfaat untuk diri sendiri
Perilaku berintegritas adalah proses memperbaiki diri sendiri. Semua man-
faat kebaikan itu akan kita nikmati sendiri. Yakinkan peserta didik atau ko-
lega bahwa kebaikan merupakan cara untuk meraih hidup yang bermakna
sesuai perintah agama. Bukan karena tuntutan kerja atau lingkungan, atau
karena keinginan untuk mendapat nilai atau untuk memperbaiki sesuatu.

2) Tak perlu menunggu orang lain melakukannya


Jangan pernah menunggu orang lain terlebih dahulu untuk melakukan ke-
baikan. Kalau anda menunggu orang lain terlebih dahulu (pimpinan atau
orang lain yang menjadi tokoh) untuk berbuat baik, tak tentu kapan terja-
di. Karena kendalinya bukan pada anda. Jangan pernah melakukan sesuatu
yang kendalinya pada orang lain. Jangan menari dengan genderang orang
lain. Sejarah selalu mencatat orang berintegritas.

3) Akan banyak hambatan dan lingkungan kerap tak mendukung


Ketika anda melakukan kebaikan dan mengajak peserta didik atau sejawat
melakukan hal yang sama, seringkali lingkungan tidak mendukung bahkan
kerapkali menghambat. Jangan hanya mengharapkan Tuhan menghilangkan
persoalan itu, tapi mintalah kekuatan diri untuk menyelesaikan persoalan
yang dihadapi. Nelayan tangguh tidak lahir dari laut yang tenang.

4) Kuatkan prinsip hidup pribadi


Jadikan hidup berintegritas sebagai prinsip hidup diri pribadi, di manapun,
kapanpun dan dalam suasana bagaimanapun. Kendali pada diri anda. Pilihan
hidup di tangan anda sendiri. Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban
hidup secara individual.

b. Pelibatan peserta didik


Penguatan integritas harus bersumber dari keikhlasan diri, bukan dengan pak-
saan. Oleh karena itu peserta didik harus dilibatkan secara luas dalam berbagai
aktivitas. Bahkan, semua kegiatan dilakukan oleh mereka. Misalnya dalam
sebuah kompetisi olahraga sekolah, semua dikelola oleh peserta didik. Jadwal
pertandingan, petugas, wasit, penyelenggara pertandingan, bagian publikasi dan
semuanya harus dilakukan dengan jujur, bertanggung jawab, disiplin. Guru se­
nantiasa mendampingi, mengarahkan dan menjaga agar semua berjalan dengan

68 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


prinsip integritas.
Untuk mendorong peserta didik terlibat aktif, mulai dari kegiatan yang diusul-
kan mereka sendiri. Jangan diiming-imingi dengan reward dan punishment
yang tidak relevan.

c. Langkah Membangun Komitmen Diri


Untuk membangun komitmen, tidak berangkat dari aturan yang bersifat me-
maksa, mulailah dengan melibatkan semua peserta didik. Contoh tahapan se-
bagai berikut:
• Komunikasikan kepada peserta didik tentang persoalan yang dihadapi, mi­
salnya banyaknya yang menyontek dalam ulangan;
• Diskusikan secara rileks, bebas, terbuka, mengapa itu terjadi, serta gagasan
menghindarinya. Kuatkan bahwa nilai angka tidak mencerminkan kesuk-
sesan anak. Kejujuran lebih utama. Usulkan beberapa gagasan, misalnya
soal yang berbeda tiap siswa, soal berbentuk proyek, atau esai yang berbe-
da-beda. nilai utama adalah orisinalitas;
• Terus kembangkan ke semua anak, dalam suasana yang secara rileks seh-
ingga semua anak mengetahui ada masalah yang harus dicarikan solusinya;
• Ujicobakan berulang kali dengan berbagai variasi sesuai kondisi. Beri peng-
hargaan bagi yang jujur dengan pujian, tepukan di bahu, atau menunjukkan
jempol. Yang belum bisa mempraktekkan kejujuran bisa didampingi diajak
bicara empat mata, tanpa menyalahkan apalagi menghukum;
• Setelah semua peserta didik memahami, barulah diajak untuk membuat
deklarasi komitmen bersama. Komitmen dimaksud adalah komitmen ter­
hadap diri sendiri.
• Komitmen dibangun tanpa sanksi, pastikan bahwa Tuhan Maha Tahu, dan
perilaku tak berintegritas merugikan diri sendiri.
Banyak langkah yang dapat dilakukan dalam membangun komitmen, sangat
bergantung pada kondisi peserta didik dan lingkungan. Sesuaikan dengan kon-
disi, yang pasti target akhir semua menyadari perlunya komitmen diri.

2. Situasi untuk menggerakkan suasana berintegritas


Bagi peserta didik, aktivitas di kelas dan lingkungan sekolah harus menjadi tempat
di mana mereka mengenal dan menyaksikan perilaku berintegritas dipraktekkan dan

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 69


dijalankan dengan konsisten. Maka dari itu, harus dapat dipastikan suasana kelas
dan sekolah merupakan suasana yang berintegritas dalam segala aspeknya.
Aspek penting dalam upaya mewujudkan suasana berintegritas di antaranya sebagai
berikut:

a. Guru sebagai figur contoh (Role Model)


Untuk menampilkan suasana belajar, guru adalah orang dewasa pertama yang
harus menjadi fi­gur contoh. Guru harus menampilkan diri sebagai sosok yang
jujur, bertanggungjawab, disiplin, peduli, dan menunjukkannya dalam bentuk
etos kerja yang baik, sehingga dikenali dengan jelas oleh peserta didik.
Peran figur contoh ini harus melekat kuat dalam diri individu guru sebagai pot­
ret utuh diri, bukan hanya sekedar tampilan di depan peserta didik. Oleh karena
itu, guru harus memerankan figur contoh atas dasar ketaatan pribadi sesuai aja-
ran agama masing-masing. Bukan karena semata tugas pekerjaan.
Peran figur contoh ini sangat erat kaitannya de­ngan kompetensi pribadi dan so-
sial sebagai pendidik. Manakala dua kompetensi ini tidak tampak dalam diri
guru, maka perlu upaya penguatan kapasitas pribadi dan sosial. Bukan ha­nya
kompetensi pedagogik dan profesional.
Perlu dua hal utama dalam kaitan figur contoh, yakni, pertama, guru harus
memiliki konsep diri berintegritas dan mengamalkan nilai pembentuk perilaku
berintegritas dalam kehidupan pribadinya. Perilaku berintegritas menjadi prin-
sip hidup, sehingga ia bisa menjadi contoh bagi seluruh peserta didik. Kedua,
meluaskan prinsip hidup untuk mengamalkan nilai integritas kepada sesama,
khususnya kepada peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya.
Kehadiran figur contoh merupakan prasyarat utama terlaksana­nya penguatan
integritas. Untuk menjadi fi­gur contoh, tidak memerlukan keterampilan khusus,
cukup memiliki keyakinan yang kokoh terhadap prinsip hidup berintegritas dan
kemauan yang keras untuk berperilaku sesuai prinsip tersebut.

b. Pengkondisian di Kelas
Setiap pengamalan nilai pembentuk perilaku berintegritas harus bersifat sub-
stantif, bukan sekadar istilah, melainkan dipraktekkan secara nyata dalam sikap
dan perilaku individu. Oleh karena itu, guru harus melakukan pengkondisian
agar nilai-nilai tersebut diamalkan seluruh peserta didik.

70 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


Pengkondisian di kelas dapat dilakukan melalui ber­bagai jenis kegiatan, antara
lain:
• Menghadirkan simbol integritas di Kelas. Simbol-simbol integritas di
ruang kelas dapat berbentuk teks, gambar, audio, audio visual, dan simbol
lain yang dikenali secara terus menerus oleh peserta didik di kelas. Misalnya
dipasang pos­ter “Jujur itu Hebat”, Foto Bung Hatta dengan tulisan “Pah­
lawan yang sederhana”, membuat jingle lagu, yel-yel, dan simbol lainnya
yang mudah dikenali;
• Membangun komitmen bersama dengan peserta didik. Komitmen ber-
sama dengan peserta didik merupakan energi untuk pengamalan nilai yang
diyakini bersama. Misalnya bersepakat untuk selalu mengutamakan keju-
juran dalam ulangan ketimbang nilai tinggi, bersepakat tidak menyontek,
datang tepat waktu, dan lain sebagainya;
• Senantiasa menampilkan contoh perilaku berintegritas. Pengamalan
nilai-nilai integritas perlu ditampilkan secara konsisten dalam setiap pem-
belajaran, baik dalam bentuk tema, cerita tentang tokoh, renungan, dalam
berbagai bentuk. Misalnya menyelipkan kisah keteladanan pahlawan setiap
akhir sesi pembelajaran, membahas studi kasus tentang pejabat yang korup-
si, dan lain sebagainya. Contoh perilaku disesuaikan dengan usia anak.
• Konsisten sepanjang waktu di kelas. Penerapan nilai dilakukan dalam be-
ragam kegiatan sepanjang waktu di kelas. Dimulai sejak peserta didik masuk
kelas, melakukan proses pembelajaran, hingga pembelajaran berakhir. Jujur
itu bukan hanya dalam ulangan, tapi juga dalam menyampaikan informasi
lain dalam setiap kegiatan;
• Perbanyak kegiatan yang dapat digunakan untuk mempraktikkan in-
tegritas. Mengadakan berbagai kegiatan, permainan, cerita, film, atau ben-
tuk lainnya yang mendorong anak mengenali penerapan nilai-nilai integritas
yang dapat ditiru atau diikuti.
• Beri dorongan yang menguatkan. Memberikan dorongan pada peserta
didik secara terus menerus dan konsisten dan meyakinkan manfaatnya baik
untuk dirinya dan sesama. Memberikan kesempatan pada anak untuk men-
erapkan nilai-nilai dalam segala kegiatan, misalnya membuat karya audio,
visual atau gerakan dan memberikan apresiasi. Beri kesempatan memper-
baiki bagi anak yang melakukan kesalahan atau belum bisa mempraktekkan

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 71


perilaku berintegritas;
• Beri apresiasi. Memberikan apresiasi terhadap peserta didik yang berperi-
laku se­suai nilai integritas dan mencegah temannya dari perilaku tidak ber-
integritas. Apresiasi diberikan dalam bentuk penguatan diri misalnya pujian,
sapaan ramah, tepuk bahu, dan lain sebagainya. Tidak mengaitkan dengan
nilai angka.
• Alat evaluasi yang kreatif. Melakukan evaluasi pencapaian kompetensi
dengan cara kreatif dan inovatif sehingga peserta didik menganggap tidak
ada gunanya berperilaku tidak berintegritas seperti berbohong, menyontek,
bolos, tidak disiplin dan lain-lain. Misalnya: untuk mengetahui kemampuan
berhitung, alat evaluasinya: hitung jumlah kakakmu? Dengan cara ini peser-
ta didik menganggap tidak ada gunanya menyontek.

c. Pengkondisian di Sekolah
Pengkondisian yang dilakukan di tiap kelas, harus diikuti de­ngan hal yang sama
di sekolah. Dengan demikian, pengkondisian yang dilakukan di sekolah sejalan
dengan yang dilakukan di kelas, antara lain:
• Luaskan simbol integritas. Selain di kelas, simbol-simbol integritas juga
ditampilkan di sekolah, baik berupa simbol-simbol, teks, gambar, lagu, yel-
yel, dan lain sebagainya;
• Bangun komitmen dengan warga sekolah. Membangun komitmen ber-
sama dengan warga sekolah dan peserta didik dalam lingkup sekolah yang
konsisten di semua kelas. Misal­nya komitmen untuk jujur, peduli, menjaga
kebersihan, ramah pada sesama dan lainnya.
• Lakukan sepanjang waktu di sekolah. Penerapan nilai dilakukan dalam
beragam kegiatan sepanjang waktu di sekolah. Di­mulai sejak peserta didik
datang ke sekolah, melakukan proses pembelajaran, hingga pulang;
• Perbanyak kegiatan. Mengadakan berbagai kegiatan, permainan, cerita,
film, atau bentuk lainnya yang mendorong anak membiasakan perilaku se­
suai dengan nilai-nilai integritas yang telah dipelajari di kelas;
• Beri dorongan. Memberikan dorongan pada peserta didik dalam lingkup
sekolah secara terus menerus dan konsisten dan meyakinkan manfaatnya
baik untuk dirinya dan sesama. Mi­salnya ucapan selamat datang tiap pagi,
ajakan untuk senantiasa jujur, dan lain sebagainya.

72 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


• Beri apresiasi. Memberikan apresiasi terhadap anak berintegritas. Apresiasi
diberikan dalam bentuk penghargaan diberikan setiap upacara, pengumum­
an, informasi yang ditempel, dan lain sebagainya.

d. Koneksi Antarkomponen Tripusat Pendidikan


Pada prinsipnya pendidikan dimulai dari keluarga. Akan tetapi dalam konteks
upaya pemerintah untuk mendorong penguatan integritas, intervensi dapat di­
mulai dari Guru. Oleh karena itu, pengkondisian dapat dimulai dari kelas oleh
para pendidik, lalu guru membuat koneksi ke sekolah, keluarga, teman bermain
dan masyarakat. Secara skematis dapat digambarkan pada Gambar 3.1.

LANGKAH GURU DI KONEKSI


PRIBADI GURU
KELAS DAN SEKOLAH KE MASYARAKAT

Pendidik menun- Buat komitmen bersama peserta Dorong peserta didik untuk
jukkan perilaku didik untuk membiasakan peri- membuat komitmen serupa di
berintegritas dalam laku berintegritas dalam semua rumah atau lingkungannya.
kehidupan sebagai aktivitas di kelas. Kesepakatan
potret utuh dirinya, berlaku untuk semua.
sehingga peserta
didik dapat mene- Perbanyak simbol integritas dalam Dorong peserta didik membuat
ladani. pembelajaran, baik berbentuk karya terkait simbol dalam
teks, gambar, audio, audio visual, bentuk teks, audio, visual,
atau gerakan (Contoh: slogan dan lain-lain dalam kegiatan
Jujur itu Hebat, film-film tentang dengan teman bermain dan
kejujuran, kepedulian, empati dll). masyarakat.

Perbanyak kegiatan pembelajaran Dorong peserta didik


di kelas yang dapat menjadi media melakukan aktivitas seperti
yang relevan dan konsisten dalam di sekolah dalam kegiatan
pengamalan perilaku berintegritas, dengan teman bermain dan
dan ciptakan momentum (event) di masyarakat
untuk me­nguatkan.

Berilah apresiasi kepada peserta


didik yang secara alamiah Ajak orang tua untuk
mengamalkan perilaku berin- memberikan apresiasi se-
tegritas secara konsisten dalam rupa dengan yang dilaku-
segala aspek kehidupan. kan di kelas/sekolah.

Dorong peserta didik untuk


Dorong peserta didik
meng­ajak teman atau orang lain
untuk berperilaku berin-
untuk mengamalkan perilaku
tegritas dalam permainan
berintegritas yang sama dan
dengan teman.
mencegah perilaku koruptif
dalam kehidupannya.

Gambar 3.1. Upaya Pengkondisian oleh Pendidik

Secara lebih terinci pengkondisian pada setiap titik pusat pendidikan dapat disa-
jikan sebagai berikut:

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 73


1) Koneksi ke keluarga
Guru kelas atau guru mata pelajaran serta pihak sekolah harus melakukan
koneksi pembiasaan perilaku di sekolah de­ngan pembiasaan yang sama di ru-
mah. Peker­jaan Rumah yang semula bersifat penyelesaian soal digeser ke ak-
tivitas yang dapat menjadi koneksi antara sekolah dan keluarga. Secara lengkap
bagaimana koneksi ke keluarga dapat dilihat pada Gambar 3.2

2) Koneksi ke teman bermain


Teman bermain memiliki pengaruh kuat bagi penguatan integritas anak. Oleh
karena itu, guru dapat membekali anak dengan hal-hal yang dapat menjadi ba-
han bagi anak dalam bermain. Hal demikian akan meningkatkan kualitas ber-
main anak yang mengarah pada integritas. Secara lengkap bagaimana koneksi
ke teman bermain dapat dilihat pada Gambar 3.2

3) Koneksi ke masyarakat
Pada akhirnya semua anak akan kembali ke masyarakat. Guru dapat memberi
bekal pembiasaan hidup berintegritas di masyarakat sejak mereka masih berse-
kolah, bahkan sejak tingkat dasar. Caranya dengan melakukan koneksi kegiatan
penguatan di sekolah dengan keseharian anak di masyarakat. Secara lengkap
bagaimana koneksi ke teman bermain dapat dilihat pada Gambar 3.2

e. Konsistensi pada seluruh aktivitas


Pembelajaran dilakukan melalui pengondisian di segala aspek. Pada satu sisi
keyakinan akan nilai-nilai Integritas sudah ada dalam diri setiap anak sebagai
fitrah. Pada sisi lain, setiap mata pelajaran, meng­andung nilai-nilai tersebut.
Dengan demikian proses pembelajaran pada intinya adalah mengolah yang su-
dah ada yaitu melalui olah pi­kir, olah rasa, olah hati, olah karsa, dan olah raga.
Penguatan integritas dilakukan melalui pengkondisian yang di­mulai dari kelas
oleh para pendidik yang berintegritas dan menyadari bahwa yang dilakukannya
adalah membangun pondasi karakter bangsa.

f. Proses Penguatan dalam Pembelajaran


Dalam proses pembelajaran, penguatan perilaku berintegritas dilakukan dengan
tahap­an yang terstruktur baik pada pembelajaran berbasis tema, maupun mata
pelajaran. Akan tetapi, bukan tahapan yang terpisah dari proses pembelajaran
secara umum. Jadi, tahapan yang dilakukan adalah tahapan yang menjadi stan-

74 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


dar baku yang harus dilakukan oleh para guru. Tahapan tersebut adalah sebagai
berikut:

1) Susun RPP
RPP dalam konteks penguatan integritas tidak memiliki format khusus dan
tidak meng­ubah format RPP yang sudah ada dan digunakan oleh guru. Yang
menjadi fokus perhatian dalam kaitan RPP Penguatan Integritas adalah RPP
dibuat sendiri oleh guru, bukan menjiplak. Prinsip lainnya sesuai dengan
uraian di Pembelajaran 2.

2) Tahapan Penguatan
Penguatan integritas dilakukan sesuai rencana yang disusun, dengan
penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan sesuai kondisi. Bagaimana tahap­
annya mulai dari pemahaman, penyadaran dan memperkuat keyakinan,
pengamalan hingga deklarasi, telah dibahas di Pembelajaran 2. Akan tetapi,
guru senantiasa menjaga konsistensi dalam setiap kegiatan pembelajaran,
dan melakukan penyesuaian manakala muncul hal-hal yang tidak terduga.

3) Pastikan terkoneksi dengan semua aktivitas


Manfaatkan seoptimal mungkin aktivitas di kelas dan sekolah sebagai wa-
hana penguatan perilaku berintegritas. Misal­ nya kejujuran, kepedulian,
tanggungjawab, kedisiplinan, kepedulian, diterapkan dalam semua kegiatan
di sekolah dan dilakukan secara konsisten kepada semua warga sekolah. Bu-
kan hanya dalam pembelajaran di kelas, mela­inkan juga dalam kegiatan pe-
serta didik, event sekolah, keseharian di kantin sekolah, dan lain sebagainya.

4) Pastikan terkoneksi dengan semua pusat pendidikan


Penguatan integritas tidak berhenti di kelas atau sekolah, luaskan ke kelu-
arga, teman bermain, dan masyarakat. Jika prinsip kejujuran dalam ulang­an
menjadi yang utama ketimbang nilai angka yang dihasilkan, sebarkan hal ini
ke keluarga dan pusat pendidikan lain.
Demikian pula dalam hal disiplin. Yang berdisiplin mendapat penguatan
dan yang tidak berdisiplin akan mendapat bimbingan. Prinsip demikian
di­sampaikan kepada ke­luarga. Pemberian hukum­an bagi yang tidak ber­
disiplin umumnya tidak memberi pengaruh positif pada jiwa anak. Terlebih
manakala anak tidak melihat ada konsistensi antara kedisiplinan pada anak
dan pendidik.

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 75


PENGON-
DISIAN DI
SEKOLAH
2 TEMAN BERMAIN
Sekolah mengondisikan suasana lingkung­
an sekolah sehingga peserta didik makin
memahami dan meyakini perilaku berinteg-
ritas dibutuhkan dalam kehidupan. Langkah
yang dilakukan antara lain:
• Membangun komitmen diri pada semua
orang dewasa yang berada di sekolah se- KELUARGA
bagai figur contoh;
• Menyediakan simbol-simbol, audio,
visual, serta gerakan yang terkait dengan
penguatan pemahaman dan perilaku ber-
integritas; KELAS

• Mengadakan berbagai kegiatan, permain-


an, cerita, film, atau bentuk lainnya yang SEKOLAH
mendorong peserta didik membiasakan
perilaku berintegritas yang telah dipela-
jari di kelas; MASYARAKAT

• Memberikan apresiasi dalam berba­ gai


bentuk untuk merangsang penerapan peri­
laku berintegritas.

PENGONDISIAN DI KELAS 1
Guru mengondisikan proses pembelajaran di kelas sehingga peserta didik terbiasa mempraktek-
kan perilaku berintegritas, melalui:
• Guru secara konsisten menampilkan diri sebagai sosok berintegritas;
• Menampilkan contoh perilaku berintegritas secara konsisten melalui cerita tentang tokoh,
pe­ristiwa dan simbol-simbol, audio, visual, serta gerakan yang bisa membuat peserta didik
memahami dan meyakini perlunya perilaku berintegritas;
• Mengadakan berbagai kegiatan, permainan, cerita, film, atau bentuk lainnya yang mendo­rong
peserta didik mengenali penerapan nilai-nilai karakter penguat integritas sehingga makin me­
nguatkan keyakinan;
• Menguatkan peserta didik untuk menerapkan perilaku berintegritas di manapun, kapanpun dan
dalam suasana bagaimanapun.
• Melakukan evaluasi pencapaian kompetensi dengan cara kreatif dan inovatif sehingga peserta
didik menganggap tidak ada gunanya berperilaku tak berintegritas. Misalnya evaluasi dengan
ceklis indikator oleh guru pada setiap siswa, ulangan dengan soal berbeda, teknis ulangan lain
yang tidak memungkinkan menyontek.

76 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


5 KONEKSI KE MASYARAKAT
Guru, Orang tua, dan semua orang dewasa / remaja secara bersama-sama men-
ciptakan suasana lingkungan yang sehat. Dalam hal ini, guru lah yang meran-
cang koneksi ke masya­rakat dengan cara:

• Guru mendorong anak untuk menjadi contoh bagi teman-teman sebayanya di lingkungan tempat
tinggal dalam menerapkan perilaku berintegritas yang sudah dia pahami melalui berbagai cara;
• Guru mendorong anak untuk menolak ajakan siapapun untuk melakukan hal-hal yang melanggar
perilaku berintegritas;
• Guru memberikan apresiasi dan dorongan agar anak selalu menceritakan pengalaman di
lingkung­annya kepada orang tua/guru.

4 KONEKSI KE TEMAN BERMAIN


Guru menjalin kesepakatan dengan Orang tua bersama-sama mengkondisikan suasa-
na bermain anak yang sehat dan baik dengan cara:
• Guru menjalin komunikasi, menyamakan persepsi, serta menyepakati kegiatan bersama, tentang lang-
kah-langkah pembiasaan perilaku Integritas di rumah dan dalam kegiatan bermain anak;
• Mendorong dan mengapresiasi anak untuk konsisten menerapkan perilaku berintegritas dalam ke-
giatan bermain de­ngan teman-temannya se­hingga menjadi contoh bagi teman-temannya;
• Mendorong dan mengapresiasi anak untuk menolak ajak­an temannya untuk berperilaku yang melang-
gar perilaku berintegritas, ketika bersama teman bermain;
• Mendorong dan mengapresiasi agar anak selalu mence­ritakan pengalaman bermainnya dengan teman
kepada orang tua/guru.

KONEKSI KE KELUARGA
3 Orang tua didorong untuk melakukan kegiatan yang secara prinsip sejalan de­ngan yang
dilakukan di sekolah, dan mengkondisikan suasana keluarga yang mendukung semua
aktivitas anak dalam pembiasaan perilaku berintegritas. Jika di sekolah lebih mengutam-
akan kejujuran ketimbang nilai tinggi, maka orang tua harus menguatkan hal yang sama.
Jika kebersihan dibiasakan di sekolah, maka di rumah melakukan hal serupa. Adapun
target koneksi antara lain:
• Guru menjalin komunikasi, menyamakan persepsi, serta menyepakati kegiatan bersama, tentang lang-
kah-langkah pembiasaan perilaku berntegritas di rumah dan dalam kegiatan bermain anak;
• Anak mendorong orang tua dan seluruh anggota keluarganya untuk menerapkan perilaku berintegritas
se­hingga orang dewasa menjadi figur contoh bagi anak;
• Di rumah, anak didorong untuk menghadirkan simbol-simbol baik berupa teks, audio, audio visual
yang terkait de­ngan pengenalan dan pemahaman perilaku berintegritas;
• Di rumah, anak didorong untuk membuat kesepakatan aturan untuk menerapkan perilaku berintegritas,
sehingga dapat diikuti seluruh anggota keluarga;
• Secara terjadwal membuat kegiatan bersama anak dan orang tua di sekolah untuk menguatkan pembi-
asaan perilaku berintegritas. Secara rutin sekolah juga melakukan komunikasi dengan keluarga terkait
perkembangan pengamalan perilaku berintegritas pada peserta didik.

Gambar 3.2. Penguatan pendidikan dari Kelas dan Tripusat Pendidikan

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 77


5) Evaluasi Keterlaksanaan Proses
Secara periodik, pastikan apakah proses penguatan integritas berlangsung
konsisten dalam hal-hal berikut:
; Berjalan sesuai rencana atau tidak;
; Berlangsung konsisten atau tidak;
; Terjadi di semua aktivitas, tema, dan mapel atau tidak;
; Terjadi di semua lini yakni kelas, sekolah, keluarga, teman bermain, dan
masyarakat atau tidak;
; Indikator keterlaksanaan proses tampak atau tidak;

6) Evaluasi Ketercapaian Hasil Perilaku Berintegritas


Capaian perilaku berintegritas pada tiap anak tentu akan berbeda satu den-
gan yang lain. Sangat tergantung pada kondisi awalnya. Oleh karena itu per-
lu pengukuran apakah:
; capaian perilaku berintegritas meningkat atau tidak;
; pemetaan capaian perilaku integritas tiap peserta didik;
; pemetaan capaian perilaku integritas tiap kelas;
; hal-hal yang harus diperbaiki;
; tindak lanjut dari evaluasi capaian hasil perilaku berintegritas.

3. Konsistensi Penguatan Integritas


Budaya integritas akan lahir dari individu-individu berintegritas. Oleh karena itu,
yang dimaksud dengan penguatan integritas adalah menjalani hidup sesuai dengan
prinsip-prinsip integritas. Terutama guru. Langkah guru dalam penguatan integritas
adalah menjalani hidup berintegritas secara pribadi. Dengan konsep diri seperti itu,
peserta didik akan memiliki figur contoh yang dapat ditiru. Tanpa guru berintegritas,
tidak akan ada bangsa berintegritas.
Adapun terkait pembentukan budaya integritas, merupakan proses yang akumulatif.
Budaya itu dianut dan diyakini bersama, diwariskan dan dipelajari, serta dijadikan
miliknya sebagai acuan dalam setiap perilaku. Proses mempelajari budaya (enkul-
turasi) dilakukan melalui semua aspek kehidupan keseharian manusia dalam satu
komunitas. Pendidikan merupakan salah satu proses pembentukan budaya. Untuk
itu harus dilakukan aktivitas konsisten di berbagai tempat.

78 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


Atas dasar itulah, penguatan integritas adalah pembangunan budaya yang ha­
rus meli­batkan semua elemen masyarakat. Sekolah, adalah lokomotif penggerak.
Setelah diri pribadi guru mengamalkan, lalu mengkondisikan suasana kelas dan se-
kolah berintegritas, mulailah meluaskan ke sekolah lain dan wilayah lain.
Para pendidik yang berintegritas dan telah mengondisikan kelas dan sekolahnya
didorong untuk terus membuat koneksi antara pembelajaran di kelas dan di sekolah
dengan aktivitas peserta didik di luar sekolah. Apa yang dilakukan di sekolah semes-
tinya menjadi daya do­rong untuk pembangunan budaya baru di masya­rakat.

a. Sosok Penggerak Integritas


Individu berintegritas memiliki peluang menjadi sosok pelopor budaya integri-
tas sebagai upaya untuk melahirkan masyarakat berintegritas. Sosok pelopor ini
memiliki posisi menentukan dalam pembangunan budaya. Mereka bukan figur
formal struktural, melainkan berupa pribadi yang mampu menginspirasi orang
lain dari keteladanan diri dan upayanya yang senantiasa meluaskan gerakan
hidup berintegritas. Sosok penggerak integritas mandiri yang dicirikan dengan:
• Bekerja atas dasar kerelaan hati dan ketulusan. Guru berintegritas akan
menampilkan perilaku berintegritas bukan hanya di kelas dan sekolah, me­
lainkan juga ke masyarakat;
• Lebih karena kepuasan batin dan dorongan ibadah;
• Menjadi aktivitas yang melekat pada profesi guru;
• Perilaku yang berintegritas membuat dirinya sebagai panutan di wilayahnya;
• Para guru berintegritas dapat menggerakkan sosok lainnya seperti tokoh
aga­ma/tokoh adat/orang yang dihormati, dan orang dewasa lainnya sebagai
sosok penggerak integritas;
• Memahami perilaku masyarakatnya;
• Secara konsisten memanfaatkan waktunya untuk menggerakkan simpul
penguatan integritas di semua lini.

b. Kompetensi Penggerak Integritas


Seorang penggerak integritas adalah sosok guru berintegritas yang dicirikan
dengan empat ciri yakni berintegritas, terpercaya, berpengetahuan luas, dan se­
nantiasa menebar kebaikan. Secara terurai dapat dilihat pada profil guru di Pem-
belajaran 1.

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 79


c. Kegiatan Penggerak Integritas
Secara pribadi, menjadi sosok berintegritas adalah tujuan manusia. Tapi jangan
berhenti sampai di situ. Luaskan ke masyarakat agar terbentuk peradaban berin-
tegritas. Lakukan gerakan perilaku berintegritas dalam berbagai kegiatan yang
mudah.

1) Mulailah dari Hal Kecil yang Mudah dilakukan


Mulailah dari hal kecil yang sederhana dan mudah dilakukan. Contoh:
; memastikan diri tidak pernah terlambat masuk ke kelas. Mulailah dari
kedisiplinan diri;
; Tidak pernah terlambat dalam acara apapun, dan selalu meminta maaf
secara tulus ketika --karena satu dan lain hal-- tidak tepat waktu;
; Selalu menulis kata “Kejujuran itu menenteramkan” di kertas soal;
; Menunjukkan kepedulian pada anak yang kesulitan belajar.

2) Jaga konsistensi penerapan dalam setiap aktivitas


Sesuatu yang diyakini sebagai penerapan nilai integritas, jaga konsistensi­
nya di kelas. Jangan sampai terkesan diskrimi­natif, tidak konsisten atau
membuat anak kecewa.

3) Aktifkan Anak untuk melakukan hal yang sama


Kondisikan setiap anak aktif melakukan hal yang sama dengan apa yang
telah rutin kita lakukan. Contohnya:
; menginspirasi anak tidak terlambat, dan melakukan pendekatan pribadi
dengan yang terlambat;
; mendorong anak menulis kata motivasi di setiap lembar kegiatan;
; mendorong siswa untuk peduli pada anak lain yang kesulitan.

4) Luaskan ke hal lain yang lebih besar


Luaskan secara konsisten pe­nerapan dari lingkup kelas ke lingkup sekolah,
dengan teman bermain anak, atau ke keluarga dan masyarakat.
Kegiatan yang dilakukan oleh sosok pelopor budaya integritas di tiap wilayah
memiliki langkah yang berbeda-beda. Namun dengan fokus yang sama, yakni
meluaskan sikap hidup berintegritas di wilayahnya. Berikut beberapa langkah

80 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


contohnya.
• Memastikan proses pengkondisian perilaku integritas di kelas berjalan baik.
Bagi guru kelas, pastikan kelas anda terkondisi untuk tumbuh kembangnya
budaya integritas;
• Memastikan proses pengkondisian perilaku integritas di sekolah berjalan
baik dan konsisten dengan yang dilakukan di kelas;
• Memastikan terjadi koneksi antara pengkondisian perilaku integritas di
kelas dan sekolah dengan keluarga dan masyarakat;
• Memastikan pengkondisian perilaku integritas di keluarga dan masyarakat
(instansi pemerintah dan organisasi masyarakat) berjalan dalam keseharian
kehidupan;
• Mendorong konsistensi perilaku berintegritas diamalkan di semua unsur
masyarakat.

d. Prinsip Perluasan Budaya Integritas


Budaya integritas diawali dengan guru berintegritas, kelas berbudaya integritas,
kemudian sekolah berbudaya integritas. Setiap sekolah yang telah berbudaya
integritas meluaskan ke sekolah lain dengan prinsip;
• Dilakukan pendekatan personal antara guru dengan orang tua peserta didik;
• Dilakukan pendekatan kelembagaan antara sekolah, komite sekolah, orang
tua peserta didik, dan pelibatan publik secara luas;
• Dilakukan dengan pendekatan wilayah secara lintas jenjang jalur serta sta-
tus satuan pendidikan dan melibatkan semua masyarakat/elemen di wilayah
terkecil.
• Dilakukan secara berkesinambungan, terus menerus;
• Melibatkan seluas mungkin partisipasi publik;
• Dimulai dari daerah pinggiran;
• Proses penguatan bisa berbeda untuk nilai yang sama.

e. Pendekatan Kewilayahan
Penguatan integritas harus dilakukan dengan pendekatan kewilayahan (zonasi)
yang bergerak seperti bola salju. Dilakukan te­rus me­nerus, konsisten, pelibatan

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 81


publik secara aktif, dan akan lebih optimal dimulai dari daerah pinggiran yang
memiliki karakteristik masyarakat yang cenderung homogen. Perlu penggerak
budaya integritas di tiap wilayah. Mari, bersama-sama kita mulai. Jadilah pe-
lopor.
Satuan pendidikan menerapkan pendidikan karakter sesuai model ini secara
optimal di sekolah dan mengaitkan kegiatan pembelajarannya dengan keluarga
dan masyarakat. Kegiatan itu didukung oleh para pelopor budaya integritas yang
menjaga konsistensi pengamalan­nya di masyarakat. n

D. FORUM DISKUSI

Diskusikan kasus-kasus berikut dan buat rumusan bagaimana semestinya menurut


keyakinan anda:
1. Komitmen bersama dengan peserta didik diperlukan untuk bersama-sama mengak-
tualisasi perilaku berintegritas dalam kehidupan. Namun, sangat tidak mudah mem-
bangun kesepakatan bersama. Faktor apa saja yang menjadi hambatan? Bagaimana
langkah yang dapat dilakukan?
2. Dalam kelas yang anda ampu, anak menunjukkan perilaku berintegritas. Namun
ketika berada di lingkungan sekolah atau di luar sekolah, anak menampilkan pe­
rilaku yang berbeda. Langkah apa yang dilakukan untuk membuat anak konsisten
berintegritas di kelas, di sekolah dan di masyarakat?
3. Bagaimana melakukan pendataan terhadap perkembangan perilaku berintegritas
pada anak yang benar-benar otentik?
4. Bagaimana upaya anda membangun komitmen di saat banyak sekali keterbatasan,
baik sarana dan daya dukung dari lingkungan sekolah termasuk kepala sekolah?

III. PENUTUP

A. RANGKUMAN

• Penguatan integritas dimulai dengan komitmen diri yang dilakukan secara bersa-
ma-sama;
• Perlu upaya kreatif untuk membangun komitmen diri yang sesuai dengan kondisi
peserta didik dan lingkungan;
• Komitmen diri secara bersama-sama ini diperlukan untuk mewujudkan suasana ber-
integritas yang konsisten;

82 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


• Mewujudkan suasana berintegritas diawali dengan guru sebagai role model;
• Membangun budaya berintegritas melalui tripusat pendidikan, diawali dari kelas,
sekolah, keluarga dan lingkungan.

B. TES FORMATIF

Tuliskan jawaban anda yang menggambarkan solusi dari kasus berikut:


Kasus: Sudah satu bulan anda melakukan penguatan integritas di kelas/mapel yang anda
ampu. Kenyataannya sangat tidak mudah. Anda hampir frustrasi. Peserta didik hanya
berkomitmen di mulut saja. Tidak diikuti dengan perilaku yang sesuai. Upaya anda pun
tak banyak memberi kemajuan karena tidak mendapat dukungan dari pimpinan dan
teman-teman lain. Juga tidak sejalan dengan kebiasaan masyarakat. Komunikasi dengan
orang tua juga tidak lancar.
Pertanyaan/Aktivitas:
1. Buat laporan singkat tentang upaya yang telah anda lakukan dalam membangun
komitmen diri bersama anak untuk hidup berintegritas di manapun (di rumah, atau
di kelas) serta buat daftar persoalan yang dihadapi dan langkah menanggulanginya.
2. Susun langkah-langkah perbaikan jangka pendek berdasarkan persoalan di atas yang
perlu anda lakukan.
3. Berdasarkan evaluasi yang anda lakukan, buat rancangan aktivitas penguatan integ-
ritas khas yang sesuai untuk kondisi di tempat anda. Format bebas.

C. DAFTAR PUSTAKA

Adler, M. 2009. Program Paedia: Silabus Pendidikan Humanistik (Terj.). Indonesia Pub-
lishing. Bandung
Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2015). Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,
Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Anas, Z. 2019. Guru untuk Kehidupan. Jakarta: AMP Press.
Dewey, J. 2009. Pendidikan Dasar Berbasis Pengalaman (Terj.). Indonesia Publishing.
Bandung
Joyce, A., Weil, M., Calhoun, E. 2009. Model of Teaching: Model-Model Pengajaran.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta.
Kohn, A. 2009. Memilih Sekolah terbaik untuk Anak, Mendobrak Cara Ajar Tradidion-
al. Buah Hati: Tangerang.
Komisi Pemberantasan Korupsi. 2017. Pendidikan Antikorupsi untuk Pendidikan Dasar
dan Menengah. . KPK, Jakarta.

Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 83


Komisi Pemberantasan Korupsi. 2018. Insersi Pendidikan Antikorupsi untuk Pendidi-
kan Dasar dan Menengah melalui Mata Pelajaran PPKN. KPK, Jakarta.
Komisi Pemberantasan Korupsi. 2019. Panduan Praktis Implementasi Pendidikan An-
tikorupsi bagi Guru Kelas dan Guru PPKn Pendidikan Dasar dan Menengah
KPK, Jakarta.
Ki Hadjar Dewantara. 1977. Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Yog­
yakarta.
Lickona, A. 2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah Dapat
Memberikan Pendidikaan Tentang Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab. Bumi
Aksara. Jakarta.
Nafis, A.A.1996. Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei Ruang Pendidik INS Kayu-
tanam. Grasindo: Jakarta.
Samani, M., Hariyanto. 2012. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Remaja Rosda-
karya. Bandung.
Soedarsono,S. (2008). Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Peran Penting Karakter
dan Hasrat untuk Berubah. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Sjafei, M. 2010. Arah Aktif: Sebuah Seni Mendidik Berkreativitas dan Berakhlak Mulia.
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Solo.
Supriyatna, A dan Eka, N.A. 2019. Cara Mudah Merumuskan Indikator Pembelajaran.
Serang: Pustaka Bina Putera.

84 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG


Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG 85
Halaman ini Sengaja dikosongkan

86 Penguatan Integritas: Modul Belajar Mandiri bagi Program PPG