Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jalan merupakan akses yang menghubungkan satu tempat dengan tempat
lainnya dalam satu daratan. Dalam Undang-Undang No.38 Tahun 2004
tentang Jalan, ditetapkan pengertian jalan adalah suatu prasarana transportasi
darat yang meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan
perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada
permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan/atau air serta diatas
permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori dan jalan kabel. Yang
selanjutnya ditetapkan pula pengertian jalan umum yaitu jalan yang
diperuntukkan bagi lalu lintas umum..
Perkerasan jalan adalah bagian utama dari konstruksi jalan raya, kelancaran
lalu lintas tergantung dari kondisi perkerasan jalan tersebut. Bila
perkerasannya bermasalah (rusak, berlubang, bergelombang, licin, retak, dsb.)
maka kelancaran lalu lintas akan terganggu baik dari segi waktu maupun
biaya. Oleh karena itu, perkerasan jalan harus direncanakan sesuai kebutuhan
serta kelas jalan berdasarkan jenis moda yang akan melalui.
Perancangan perkerasan jalan yang berhasil harus dilakukan dengan
pertimbangan seoptimal mungkin sesuai dengan kebutuhan lalu lintas dan
perkembangannya. Agar mencapai kebutuhan yang sesuai, tidak lebih
maupun tidak kurang. Dalam perancangannya, perkerasan terbagi atas 3 jenis
perkerasan yang digunakna sesuai dengan kebutuhan, biaya dan waktu.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 1


B. Tujuan Praktikum

Praktikum ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai


perancangan perkerasan jalan lentur (aspal) serta keterampilan dalam proses
pembuatannyayang meliputi:
1. Melakukan pengujian berat jenis
2. Melakukan pengujian penetrasi aspal
3. Melakukan pengujian berat jenis
4. Melakukan pengujian titik nyala dan titik bakar
5. Melakukan pengujian titik lembek aspal
6. Melakukan pengujian daktilias
7. Melakukan pemeriksaan kehilangan berat aspal
8. Melakukan pengujian material agregat
9. Membuat job mix : pembuatan benda ujidan melakukan marshall test

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 2


BAB II

PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada,
Waktu : 29 Maret 2018 sampai dengan 28 Mei 2018
Tempat : Laboratorium Pengujian Teknik Sipil Universitas Bandar
Lampung. Jl. ZA Pagar Alam No.89 Kedaton – Bandar Lampung

B. Metodologi Praktikum

Materi pengujian praktikum perancangan perkerasan jalan


Persiapan alat dan bahan

Pengujian aspal
Berat jenis aspal
Penetrasi aspal
Titik nyala dan titik bakar aspal
Titik lembek aspal
Daktilitas
Kehilangan berat aspal

Persiapan job mix


Pengujian material agregat
Pembuatan benda uji

Marshall test

BAB III

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 3


PEMBAHASAN PADA PEMBUATAN DAN PENGUJIAN SAMPEL
PERKERASAN LENTUR (ASPAL)

A. Pengujian Berat Jenis Aspal


 Tujuan
Menentukan berat jenis aspal

 Dasar teori
Berat jenis aspal adalah perbandingan berat jenis aspal terhadap berat
jenis air dengan isi yang sama pada suhu tertentu yaitu dilakukan dengan
cara menggantikan berat air dengan berat aspal dalam udara yang sama.
Berat jenis dari aspal sangat tergantung pada nilai penetrasi dan suhu dari
aspal itu sendiri.

 Peralatan dan bahan


1. Timbangan / neraca 2. Piknoometer

Gambar 4.A.1 Timbangan / neraca Gambar 4.A.2 Piknometer


3. Bak perendam 4. Bejana

Gambar 4.A.3 Bak perendam Gambar 4.A.4 Bejana


 Prosedur pemeriksaan

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 4


1. Menyiapkan semua peralatan dan bahan yang diperlukan
2. Memanaskan aspal sampai mencair ± 50 gr dan diaduk.
3. Tuangkan contoh bitumen /aspal tersebut ke dalam picnometer yang
telah kering. Hingga terisi 3/4 dan didiamkan sampai dingin.
4. Mengisi bejana dengan air bagian atas piknometer yang terendam
adalah 40 mm, lalu rendam bejana tersebut dan atur suhunya 25°C.
5. Mengangkat piknometer dari bak perendam. Bersihkan dan keringkan
dan timbang picnometer (A)
6. Meletakkan picnometer kedalam bak perendam. Biarkan selama ± 30
menit
7. Angkat piknometer dan keringkan dengan lap
8. Menuangkan benda uji yang telah dipanaskan kedalam picnometer
yang telah dikeringkan hingga terisi ¾ bagian dan dinginkan 40 menit
9. Timbang benda uji dengan penutupnya (C)
10. Isilah picnometer yang berisi benda uji dengan air dan tutup tanpa
tekan, agar gelembung udara keluar
11. Mengangkat bejana dari waterbath dan letakkan picnometer
didalamnya, tekanlah penutup hingga rapat, masukkan dan diamkan
bejana kedalam waterbath selama ± 30 menit
12. Mengangkat, keringkan dan timbang picnometer
13. Menghitung data yang diperoleh dari pengujian tersebut.

 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum


Tabel 4.A.1 Persiapan berat jenis aspal

Tabel 4.A.2 Pengujian berat jenis aspal

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 5


Sampel 1
Berat piknometer (A) = 30,50 gram
Berat piknometer + air (B) = 55,40 gram
Berat piknometer + contoh (C) = 47,00 gram
Berat piknometer + air+ contoh (D) = 56,10 gram
Berat jenis aspal = C-A
(B-A)-(D-C)
= 47,00– 30,50
(55,40 - 30,50) – (56,10 - 47,00)
= 1,04
Sampel 2
Berat piknometer (A) = 30,60 gram
Berat piknometer + air (B) = 55,50 gram
Berat piknometer + contoh (C) = 47,10 gram
Berat piknometer + air+ contoh (D) = 56,20 gram
Berat jenis aspal = C-A
(B-A)-(D-C)
= 47,10 – 30,60
(55,50- 30,60) – (56,20- 47,10)
= 1,04

Maka berat jenis aspal rata-rata = (1,04 + 1,04) / 2 = 1,04

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 6


 Kesimpulan

Standar pengujian untuk berat jenis aspal menurut SK SNI m 30 –


1990 – f, berkisar antara 1,015 – 1,035. Dan dari hasil pengujian diatas
didapat berat jenis aspal rata-rata yaitu 1,04. Maka aspal tersebut telah
memenuhi standar, dan bisa dinyatakan layak sebagai bahan percobaan
praktikum. Berat jenis aspal 1,04 telah memenuhi standar dan layak
digunakan untuk percobaan praktikum, maupun digunakan untuk
konstruksi jalan perkerasan lentur dengan menggunakan aspal.

B. Penetrasi Aspal
 Tujuan
Menentukan nilai kekerasan aspal dengan melakukan pengujian penetrasi
menggunakan alat penetrometer, dimana pengujian ini akan menjadi acuan
penggunaan aspal dilapangan.

 Dasar teori
Aspal adalah material termoplastis yang mencair apabila di panaskan dan
akan membeku/mengental apabila didinginkan, namun demikian prinsip
material tersebut terhadap suhu prinsipnya membentuk sautu
sprektum/beragam tergantung komposisi unsur unsur penyusunnya.
Dari sudut pandang rekayasa, ragam dari komposisi unsur aspal biasanya
tidak ditnjau lebih lanjut, untuk menggambarkan karakteristik ragam
respon aspal tersebut diperkenalkan beberapa parameter, salah satunya
adalah Pen (penetrasi). Nilai ini menggambarkan kekerasan asapl pada
suhu standar yaitu 25° C , yang diambil dari pengukur kedalaman
penetrasi jarum standar (5 gr/100 gr) dalam rentang waktu standar (5
detik)
BRITISH standar membagi nilai penetrasi tersebut menjadi 10 macam ,
dengan rentang nialai penetrasi 15 s/d 40 , Sedangkan AASTHO
mendefinisikan nilai pen 40 – 50 sebagai nialai pen untuk material
sebagai bahan aspal terlembek/terlunak.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 7


Penetrasi sangat sensitiv terhadap suhu, pengukuran di atas suhu kamar
menghasilkan nilai yang berbeda variasi suhu terhadap nilai penetrasi
dapat disusun sedemikian rupa hingga dihasilakan nilai grafik antara suhu
dan penetrasi.
 Peralatan dan bahan
1. Stopwatch 2. Penetrometer

Gambar 4.B.1 Stopwatch Gambar 4.B.2 Penetrometer

3.Cawan

Gambar 4.B.3 Cawan


 Prosedur pemeriksaan
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Panaskan aspal.
3. Tuangkan aspal ke dalam cawan silinder sebanyak 2/3 bagian, pada
suhu ruang 250 C (tutup sampel agar bebas dari debu)
4. Apabila aspal tersebut sudah dingin, masukkan dua sampel ke dalam
bak perendam selama 30 menit.
5. Setelah 30 menit dalam bak perendam, angkat sampel dan letakkan
pada alat penetrasi.
6. Turunkan jarum penetrasi hingga menyentuh permukaan sampel.
7. Aturlah parameter penetrometer, lepaskan memegang jarum.
8. Baca arloji penetrometer.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 8


9. Ulangi langkah 5-8 untuk sampel yang tidak dimasukkan ke dalam
waterbath.
10. Masukkan data ke dalam tabel.
 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum
Tabel 4.B.1 Pengujian penetrasi aspal

Penetrasi Aspal (0,1mm) Penetrasi Aspal


Bacaan Ke
Sampel 1 Sampel 2 (0,1mm)
1 68 67
2 58 69
3 61 63
4 63 61  
Rata-rata 62,5 65 63,75

Sampel 1
Bacaan penetrasi ke- = ke-1, ke-2, ke-3, ke-4
Total bacaan
Rata-rata = 68 + 58 + 61+ 63
4
= 62,5 mm
Sampel 2
Bacaan penetrasi ke- = ke-1, ke-2, ke-3, ke-4
Total bacaan
Rata-rata = 67 + 69 + 63 + 61
4
= 65 mm
Maka penetrasi aspal adalah = (sampel 1+sampel 2) / 2 =
63,75 mm

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 9


 Kesimpulan
Penetrasi aspal adalah salah satu cara yang digunakan dalam
pengelompokan aspal, yang mana bila nilai penetrasi aspal besar maka
aspal itu akan semakin lembek, sebaliknya semakin kecil nilai penetrasi
aspal, maka semakin rendah /keras. Dalam penggunaan dilapangan. Nilai
penetrasi ini disesuaikan dengan suhu lingkungan. Apakah suhunya rendah
atau tinggi dan nilai penetrasi berapa yang cocok digunakan untuk daerah
tersebut.
Dari hasil pengujian yang dilakukan, didapat kesimpulan bahwa nilai
penetrasi rata-rata aspal adalah 63,75 mm. Aspal ini terlalu lembek, karena
memiliki besaran < 70 mm. Sedangkan standar aspal yang umum
digunakan untuk dilapangan adalah berkisar antara 60 – 70 mm

C. Pengujian Titik Nyala dan Titik Bakar Aspal


 Tujuan
Mendapatkan besaran titik nyala dan titik bakar bahan aspal.
 Dasar teori
Untuk titik nyala dan titik bakar aspal terdapat dua metode pratikum yang
umum dipakai untuk menentukan titik nyala dari bahan aspal. Pratikum
untuk Aspal Cair (Cutback) biasanya dilakukan dengan menggunakan alat
Tagliabue Open Cup, sementara untuk bahan aspal dalam bentuk padat
biasanya digunakan alat Cleveland Open Cup. Kedua metode tersebut
pada prinsipnya adalah sama, walau pada metode Cleveland Open Cup,
bahan aspal dipanaskan di dalam tempat besi yang direndam di dalam
bejana air, sedangkan pada metode Tagliabue Open Cup, pemanasan
dilakukan pada tabung kaca yang juga diletakkan di dalam air.Pada kedua
metode tersebut, suhu dari material aspal ditingkatkan secara bertahap
pada jenjang yang tetap. Seiring kenaikan suhu, titik api kecil dilewatkan
di atas permukaan benda uji yang dipanaskan tersebut. Titik nyala
ditentukan sebagai suhu terendah dimana percikan api pertama kali terjadi
sedangkan titik bakar ditentukan sebagai suhu dimana benda uji terbakar.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 10


 Peralatan dan bahan
1. Termometer 2. Stopwatch

Gambar 4.C.1 Termometer Gambar 4C.2 Stopwatch

3.Alat penguji

Gambar 4.C.3 Alat nyala penguji


 Prosedur pemeriksaan
1. Persiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan untuk pengujian ini.
2. Panaskan aspal dengan suhu antara 148.9 ºC sampai 176 ºC sampai
cukup cair.
3. Kemudian isikan Cleveland cup sampai garis yang ditentukan dan
hilangkan (pecahkan) gelembung udara yang ada pada permukaan
cairan
4. Letakkan cawan di atas kompor pemanas yang tepat di bawah titik
tengah.
5. Kemudian letakkan nyala api diatas benda uji.
6. Setelah itu pasanglah termometer tegak lurus di dalam benda uji
dengan jarak 6.4 mm di atas dasar Cleveland cup dan terletak satu
garis yang menghubungkan titik tengah cawan dan titik poros nyala
penguji, kemudian aturlah titik poros termometer sehingga terletak
pada jarak ¼ diameter cawan dari tepi.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 11


7. Nyalakan kompor dan atur pemanasan sehingga kenaikkan suhu 15 ºC
tiap menit sampai mencapai suhu 56ºC di bawah titik nyala yang
diperkirakan untuk selanjutnya kenaikkan suhu 5ºC sampai 6 ºC/menit.
8. Setelah dinyalakan kompor dan diaturnya pemanasan kemudian
tepatkan penahan angin di depan nyala penguji.
9. Lalu nyalakan sumber pemanasan dan aturlah pemanasan sehingga
kenaikan suhu menjadi (15 ± 1) permenit sampai benda uji mencapai
56ºC di bawah titik nyala perkiraan.
10. Kemudian aturlah kecepatan pemanasan 5 ºC sampai 6 ºC/menit pada
suhu antara 56ºC dan 28 ºC di bawah titik perkiraan.
11. Lanjutkan pekerjaan di atas sampai terlihat nyala singkat pada suatu
titik di atas permukaan benda uji.
12. Kemudian bacalah suhu pada thermometer dan catat kenaikan
suhunya.
13. Lanjutkan pekerjaan pembacaan suhu sampai terlihat nyala yang agak
lama sekurang-kurangnya 5 detik di atas permukaan benda uji, bacalah
suhu pada thermometer dan catat kenaikan suhunya.
 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum
Tabel l 4.C.1 Pengujian titik nyala dan titik bakar aspal

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 12


 Kesimpulan
Dari pengujian titik nyala dan titik bakar dengan hasil data-
datanya yaitu bahwa titik nyala nya didapatkan pada suhu 325°C dengan
waktu 305menit dan 324°C dengan waktu 300 menit.
Dari data didapat, aspal cair tersebut jika suhunya ditambah terus, aspal
dalam keadaan diam juga akan terbakar, tetapi sebelum terbakar aspal
tersebut akan menyala atau mencapai titik nyalanya.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
Titik nyala terjadi pada suhu 325°C dalam waktu 305 menit dan,
Titik bakar terjadi pada suhu 324°C dalam waktu 300 menit.
Dengan demikian maka hasil yang duperoleh dari pengujian titik nyala dan
titik bakar aspal yang diuji telah memenuhi persyaratan.

D. Pengujian Titik Lembek Aspal


 Tujuan
Mendapatkan besaran titik lembek bahan aspal.

 Dasar teori

Dalam percobaan titik lembek ditujukan dengan suhu pada bola baja
dengan berat tertentu mendesak turun suatu lapisan aspal atau ter yang
tertahan dalam cincin dengan ukuran tertentu sehingga plat tersebut
menyentuh plat dasar yang terletak pada tinggi tertentu sebagai kecepatan
pemanasan.Titik lembek menjadi suatu batasan dalam penggolongan aspal
dan ter. Titik lembek haruslah diperhatikan dalam membangun kontruksi
jalan. Titik lembek hendaknya lebih tinggi dari suhu permukaaan jalan .
titik lembek aspal dan ter adalah 30 ° C - 200° C yang artinya masih ada
nilai titik lembek yang hampir sama dengan suhu permukaan jalan. Pada
umumnya cara ini diatasi dengan menguakkan filler terhadap campuran
aspal.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 13


 Peralatan dan bahan
1. Bola baja 2. Termometer

Gambar 4.D.1 Bola baja Gambar 4.D.2 Termometer

3.Stopwatch 4. Kompor

Gambar 4.D.3 Stopwatch Gambar 4.D.4 Kompor

5.Alat uji titik lembek

Gambar 4.D.5 Alat uji titik lembek


 Prosedur pemeriksaan
1. Letakkan termometer yang sesuai dengan praktikum di antara kedua
benda uji.
2. Letakkan bola baja tersebut ditengah - tengah posisi benda uji dengan
menggunkan penjepit.
3. Letakkan bejana gelas di atas pemanas setelah suhu bejana gelas
tersebut emncapai ± 1°C

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 14


4. Panas bejana gelas dan catat penambahan/ kenaikan suhu. per 5°C
beserta waktu pada suhu tersebut dengan stopwatch terhitung awal
pemanasan.
5. Perhatikan dengan teliti dari penambahan / kenaikan suhu . pada suhu
waktu beberapa aspal bemda uji yang di timpa bola baha meleleh dan
menyentuh plat dasar kedudukan.
6. Catat hasil pengujian dalam formulir pengamatan

 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum


Tabel 4.D.1 Persiapan Ttitik Lembek Aspal

Tabel 4.D.2Pengujian Ttitik Lembek Aspal

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 15


 Kesimpulan
Pengujian titik lembek ini merupakan salah satu cara untuk mengetahui
kapan aspal mulai melembek dan digunakan dalam mengelompokan aspal
yang nantinya akan digunakan dalam medesign perkerasan jalan/ aspal
suhu berapa yang cocok digunakan dalam campuran dan dengan suhu
lingkungan semakin besar titik lembek, semakin besar nilai penetrasinya
maka semakin tinggi nilai daktalitas / atau titik lembek.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan sbb:
Sampel 1 meleleh pada suhu 65°C yaitu pada menit ke 36 detik berselang
Sampel 2 meleleh pada suhu 65°C yaitu pada menit ke 35
Maka nilai rata-rata titik lembeknya adalah pada suhu 65°C.

E. Pengujian Daktilitas
 Tujuan
Bertujuan untuk mengetahui kekenyalan atau kelastisan aspal yang
dinyatakan dengan panjang pelumasan aspal yang dicapai aspal sebelum
putus, pada suhu dan kecepatan tertentu.

 Dasar teori
Pengujian daktilitas aspal yaitu untuk menentukan keplastisan suatu aspal,
apabila digunakan nantinya aspal tidak retak. Percobaan ini dilakukan
dengan cara menarik benda uji berupa aspal dengan kecepatan 50
mm/menit pada suhu 25˚C dengan dengaa toleransi ± 5 %.
Sifat reologis daktilitas digunakan untuk mengetahui ketahanan aspal
terhadap retak dalam penggunaannya sebagai lapis perkerasan. Aspal
dengan daktilitas yang rendah akan mengalami retak-retak dalam
penggunaannya karena lapisan perkerasan mengalami perubahan suhu
yang agak tinggi. Oleh karena itu aspal perlu memiliki daktilitas yang
cukup tinggi.
Sifat daktilitas dipengaruhi oleh sifat kimia aspal, yaitu susunan senyawa
hidrokarbon yang dikandung oleh aspal tersebut. Standar regangan yang
dipakai adalah 100 – 200 cm.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 16


Pada pengujian daktilitas disyaratkan jarak terpanjang yang dapat ditarik
antara cetakan yang berisi bitumen minimum 100 cm.
Adapun tingkat kekenyalan dari aspal adalah :
· < 100 cm = getas
· 100 - 200 cm = plastis
· > 200 cm = sangat plastis liat
Sifat daklitas ini sangat dipengaruhi oleh kimia aspal yaitu akibat susunan
senyawa karbon yang dikandungnya. Bila aspal banyak mengandung
senyawa prakin dengfan senyawa panjang, maka daktalitas rendah.
Demikian aspal didapatkan dari blowing, dimana gugusan aspal
hidrokarbon tak jenuh yang mudah menyusut sedangkan yang banyak
mengandung parakin karena susunan rantai hidrokarbonya dan kekuatan
strukturnya kurang plastis.

 Peralatan dan bahan


1. Cetakan daktilitas 2. Alat uji daktilitas

Gambar 4.E.1 Cetakan Daktilitas Gambar 4.E.2 Alat uji daktilitas


 Prosedur pemeriksaan
1. Panaskan aspal hingga mencair
2. Susun bagian cetakan kuningan
3. Lapisi bagian atas dan bawah cetakan serta permukaannya plat atas
cetakannserta permukaan plat atas cetakan dengan bahan campuran
gliserin. Gliserinakan berfungsi sebagai agar aspal jika telah dingin
dan akan di buka tidak melekat pada kuningan tersebut
4. Pasang alat cetakan diatas plat dasar

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 17


5. Tuangkan aspal yang telah mencair dari ke dalam cetakan, lakukan
dengan hati – hati dan pemanasan dilakukan sampai 50 – 100 ºC
diatas titik lembek lalu tuangkan hingga penuh
6. Ratakan aspal pad acetakan
7. Persiapkan alat tarik
8. Sampel didiamkan pada suhu ruang 25°Ckemudian lepaskan cetakan
sampel dari alasnya dan lepaskan cetakan kecuali bagian ujungnya
9. Sambil menunggu perendaman persiapakan tempat alat tarik nya
10. Mesin Uji diisi air hingga setengah bak cukup dan gliserin untuk
menyamakan berat jenis air dan aspal agar aspal tidak melayang.
11. Pasang cetakan dicincin yang telah diisi sampel pada alat mesin uji
dan jalankan mesin uji sehingga menarik sampel secara teratur dengan
kecepatan 5cm/menit sampai sampel putus, perbedaan kecepatan ± 5
% mesin diizinkan
12. Bacalah jarak penampang cetakan pada saat sampel putus (dalam cm),
selama percobaan berlangsung sampai harus terendam 2,5 cm
dibawah permukaan air (melayang) dengan suhu 25 ± 5ºc .

 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum


Tabel 4.E.1 Pengujian Daktilitas

pembacaan
Daktilitas pada 25oC, 3 cm per menit
pengukuran
Pengamatan I 31,5
Pengamatan II 32,7
Rata-rata 32,1

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 18


 Kesimpulan

Daktalitas adalah salah satu cara dalam pengujian aspal dalam


pengelompokan aspal yang mana semakin tinggi nilai daktalitas maka
aspal akan terbilang semakin plastis maka semakin tinggi nilai
penetrasinya dan sedikit suhu yang dibutuhkan untuk melembekan aspal
tersebut / semakin rendaj titik lembeknya. Jadi dalam mendesign
perkerasan jalan lentur setiap pengujian akan saling terkait satu sama
lainnya begitu pula sebaliknya.

Dari pengujian yang dilakukan, maka didapat hasil pengujian sebagai


berikut:

Pengamatan I =< 100 cm ; yaitu 31,50 cm

Pengamatan II =< 100 cm ; yaitu 32,70 cm

Kecil 100 cm = Getas

100 – 200 cm = Plastis

Besar 200 cm = Sangat plastis

Berdasarkan pengujian yang dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa


benda uji masuk dalam kategori getas (< 100 cm).

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 19


F. Pemeriksaan Kehilangan Berat Aspal
 Tujuan
Mengetahui kehilangan minyak pada aspal akibat pemanasan berulang dan
untuk perubahan kinerja aspal akibat kehilangan berat.
 Dasar teori
Cahaya diketahui memiliki efek yang merusak pada aspal. Kerusakan yang
timbul sering berasal dari sinar mata hari , yang akna merusak aspal,
dengan di bantu oleh Factor air dan cairan pelarut lainnya.
Kerusakan molekul dengan cara ini disebut factor oksidasi, untungnya
sinar yang merusak ini hanya dapat mempengaruhi beberapa lapisan
molekul lapisan atas aspal. Oleh karena itu , foto oksidasi dianggap kecil
pengaruhnya apabila dilihat dari table aspal keseluruhan. Namun proses di
atas tidak dapat di abaikan dalam konstribusinya terhadap proses
pengrusakan akibat cuaca pada pad alapisan permukaan tipis aspal.
Karakteristik campuran aspal khususnya mengenai durabilitas sangat
tergantungPada karakteristik yang tersedia pada lapisan tipis aspal. Untuk
mengevaluasi durabitas material aspal tersedia prosedur yang disebut Thin
film Oven Test (TFOT) dengan melakukan pembatasan evaluasinya hanya
pada karakteristik aspal, seperti kehilangan berat.
Padapengujian ini kita menggnakan metoda TFOT , dimana suatu sampel
tipis di panaskan dalam oven selama periode tertentu, dan karakteristik
sampel sesudah dipanaskan kemudian diperiksa untuk meneliti indikasi
adanya proses pengerasan dari material aspal.
Pengujian TFOT bertujuan mengetahui kehilangan minyak pada aspal
akibat pemanasan berulang, pengujian ini mengukur perubahan kenerja
aspal akibat kehilangan berat. Cahaya diketahui mempunyai efek yang
merusak pada aspal karena kerusakan yang ditimbulkan sering berasal dari
matahari dan dibantu oleh aspek air dan cairan pelarut lainnya.
Kerusakan molekul aspal ini dinamakan oksidasi. Ini dianggap kecil
pengaruhnya apabila dari tebak aspal keseluruhannya, namun proses diatas
akibat cuaca pada lapisan permukaan agregat.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 20


Karakteristik campuran khususnya durabilitas aspal sangat tergantung
pada karakteristik lapis tipis aspal. Pada Pengujian ini, suatu sampel tipis
dipanaskan. Kemudian diperiksa untuk meneliti adanya proses pengerasan
atau proses pelapukan atau proses pelapukan material aspal.
Pengujian kehilangan berat ini, umumnya tidak terpisah dengan evaluasi
karhakteristik sebelum dan sesudah kehilangan berat yang dilihat adalah
nilai penetrasi titik lembek dan daktalitas. Untuk itu sangat dianjurkan saat
penyiapan sampel dibuat 2 buah sampel.
Untuk mendapatkan material aspal yang akan dipakai untuk campuran,
diharapkan pengujian TFOT dan penurunan berat ini tidak terlalu besar,
besarnya nilai penurunan berat ini tidak terlalu besar , selisih dari nilai
penetrasi sebelum dan sesudah menunjukkan bahwa aspal tersebut peka
terhadap cuaca dan suhu.Untuk menentukan nilai kehilangan berat akibat
pemanasan dapat menggunakan rumus penurunan berat
Dimana :
A = Berat sampel + cawan sebelum pemanasan
B = Berat sampel + cawan sesudah pemanasan
 Peralatan dan bahan
1. Cawan 2. Oven TFOT (Thin film Oven
Test)

Gambar 4.F.1 Cawan Gambar 4.F.2 Oven TFOT


3.Termometer

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 21


Gambar 4.F.3 Termometer
 Prosedur pemeriksaan
1. Panaskan aspal sampai cair untuk campuran merata
2. Kemudian tuangkan\ benda uji ¾ bagian dari tinggi cawan tersebut,
lalu dinginkan benda uji pada suhu ruang. (cawan kosongsudah
ditimbang terlebih dahulu )
3. Setelah itu benda uji dingin timbang beratnya
4. Kemudian letakkan beda uji kedalam Oven TFOTyang mana suhunya
sudah menunjukkan 163°C oven benda uji selam 5 jam lalu keluarkan
benda uji
5. Setelah dingin timbang kembali berat benda uji dan catat sebagai (B)
6. Catat hasil pengamatan pada formulir yang telah disiapkan.
7. tentukan nilai kehilangan berat aspal setelah di panaskan berdasarkan
rumus yang telah ditentukan.
 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum
Tabel 4.F.1 Pemeriksaan Kehilangan Berat Aspal

Benda Uji (gram)


Uraian Kegiatan Perhitungan Satuan
Sampel A Sampel B
Berat Cawan A gram 8,10 8,05
Berat Cawan + Aspal B gram 59,10 58,75
Berat Benda Uji C=B-A gram 51,00 50,79
Berat Wadah Benda Uji Setelah
D gram
Kehilangan 58,60 58,54
Selisih Berat E=B-D gram 0,50 0,48
Kehilangan Berat F = (E/C)*100 % 0,98 0,96
Rata-rata Kehilangan berat (%) 0,97

Sampel A
Berat cawan (A) = 8,10 gram
Berat cawan + aspal (B) = 59,10 gram
Berat benda uji (C) = B–A
= 59,10 – 8,10
= 51,00 gram

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 22


Berat wadah benda uji setelah kehilangan berat (D) = 58,60 gram
Selisih berat (E) = B–D
= 59,10 – 58,60
= 0,50 gram
Kehilangan berat (F) = E/C x 100%
= 0,50/51,00 x 100%
= 0,98%
Sampel B
Berat cawan (A) = 8,05 gram
Berat cawan + aspal (B) = 58,75 gram
Berat benda uji (C) = B–A
= 58,75 – 8,05
= 50,70 gram

Berat wadah benda uji setelah kehilangan berat (D) = 58,54 gram
Selisih berat (E) = B–D
= 58,75 – 58,54
= 0,21 gram
Kehilangan berat (F) = E/C x 100%
= 0,21/50,700 x 100%
= 0,41%
 Kesimpulan
Nilai kehilangan berat ini tidak boleh terlalu besar, karena dalam
pemakaian akan berdampak pada kehilangan berat yang berakibat pada
hilangnya berat minyak yang minyak pada aspal ini sangat penting karena
sebagai pelapis nantinya. Apabila pada jalan yang sudah dipakai lama
maka zat minyaknya sudah hilang dan mengakibatkan jalan tersebut
menjadi getas/ pecah-pecah dan berlubang. Zat minyak pada aspal ini
berfungsi sebagai pelapis pekerasan jalan dari suhu yang berubah-ubah.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 23


Berdasarkan hasil pemeriksaan dan perhitunggan dari pengujian yang
telah dilakukan hasil pengujain kehilangan berat adalah 0,70 %.
G. Pengujian Material Agregat

1. Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Agregat (kasar & halus)


 Tujuan
Menentukan berat jenis kering oven (bulk), berat jenis kering permukaan
jenuh (saturated surface dry=SSD), berat jenis semu (apparent), dan
penyerapan agregat
 Dasar teori
Berat jenis suatu agregat adalah perbandingan berat dari suatu satuan
volume bahan terhadap berat air dengan volume yang sama pada
temperatur 20˚-25˚C (68˚-77˚F). Berat jenis agregat berbeda satu sama
lainnya tergantung dari jenis batuan, susunan, mineral, struktur butiran,
dan porositas batuannya.
Terdapat 3 jenis berat jenis (spesifik gravity) yaitu :
a. Berat Jenis Bulk (Bulk Spesifik Gravity)
Berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalam keadaan
kering dan seluruh volume agregat. (Vs + Vi + Vp + Vc)
b. Berat Jenis Kering Permukaan (Saturated Surface Dry)
Berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalm keadaan
kering permukaan. Jadi merupakan berat agregat kering + berat air
yang dapat meresap kedalam pori agregat dan seluruh volume agregat.
(Vc + Vi + Vp + Vc)
c. Berat Jenis Semu (Apperent Spesifik Gravity)
Berat jenis dengan memperhitungkanberat agregat dalamkeadaaan
kering, dan volume agregat yang tidak dapat diresapi oleh air. (Vs +
Vi)
d. Berat Jenis Efektif (Efective Spesifik Gravity)
Berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalam
keadaankering, jadi merupakan berat agregat kering, dan volume
agregat yang tidak dapat diresapi aspal.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 24


Nilai penyerapan adalah perbandingan perubahan berat agregat karena
penyerapan air oleh pori – pori dengan berat agregat pada kondisi kering.
Standart laboratorium untuk penyerapan akan diperoleh setelah merendam
agregat yang kering ke dalam air selama ± 24 jam. Untuk agregat yang
telah kontak dengan air dan terdapat air bebas pada permukaan
partikelnya, persentase air bebasnya dapat ditentukan dengan mengurangi
penyerapan dari kadar air total yang ditentukan dengan cara uji AASTHO
T 255

 Peralatan dan bahan

1. Timbangan 2. Wadah / cawan

Gambar 4.G.1 Timbangan / neraca Gambar 4.G.2 Wadah /


cawan

3.Kain Lap 4. Oven

Gambar 4.G.3 Kain Lap Gambar 4.G.4 Oven


 Prosedur pemeriksaan
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Persiapkan benda uji
a. Rendam benda uji ke dalam air selama ± 24 jam sampai menjadi
dalam keadaan jenuh

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 25


b. Tiriskan, lalu saring dengan saringan 4,75 mm (SP & SC) dan 2,36
mm (AB)
c. Untuk split dan screen yang tertahan saringan 4,75 mm lakukan
pengu jian berat jenis dan penyerapan untuk agregat kasar,
sedangkan yang lolos saringan 4,75 mmlakukan pengujian berat
jenis dan penyerapa air untuk agregat halus
d. Untuk AB yang tertahan saringan 2,36 mm, lakukan pengujian
berat jenis dan penyerapan air untuk agregat kasar, sedangkan
untuk yang lolos saringan 2,36 mm lakukan pengujian berat jenis
dan penyerapan air untuk agegat halus
3. Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat kasar
a. Berat jenis agregat kasar
a) Mengukur berat benda uji kering oven (BK)
b) Mengukur berat benda uji kering permukaanjenuh (BJ)
c) Mengukur berat sampel dalam air (BA)
b. Penyerapan agregat kasar
a) Menimbang berat sampel kondisi SSD (gram)
b) Menimbang berat sampel dalam air (gram)
c) Menimbang berat sampel kering (gram)
d) Menimbang berat jenis semu
e) Menimbang berat jenis kering permukaan jenuh (SSD)
f) Menimbang berat jenis bulk (dry)
4. Pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus
a. Berat jenis agregat halus
a) Mengukur berat jenis keing permukaan SSD (500)
b) Mengukur berat abu batu + pikno + air (Bt)
c) Mengukur berat pikno + air (B)
d) Mengukur berat abu batu setelah di oven atau berat kering
oven (BK)
b. Penyerapan agregat halus
a) Menimbang berat sampel kondisi SSD (gram)
b) Menimbang berat pikno + sampel + air (gram)

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 26


c) Menimbang berat pikno + air (gram)
d) Menimbang berat sampel kering (gram)
e) Menimbang berat jenis semu
f) Menimbang berat jenis kering permukaan jenuh (SSD)
g) Menimbang berat jenis bulk (dry)
 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum
Tabel 4.G.1.1 Berat jenis dan Perhitungan agregat kasar

Tabel 4.G.1.2 Berat jenis dan Perhitungan agregat halus

 Kesimpulan

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 27


Maka nilai dari berat jenis dan penyerapan agregat kasar maupun nilai
berat jenis dan penyerapan agregat halus sudah diketahui pada poin
sebelumnya dan pada tabel di atas.

H. Job Mix : Pembuatan Benda Uji


 Tujuan
Mempersiapkan sampel kegiatan praktikum selanjutnya (Uji Marshall) ,
dengan mencampurkan semua agregat dan aspal yang disediakan
berdasarkan persentase kadar aspal masing-masing.
 Peralatan dan bahan
1. Aspal 2. Agregat kasar

Gambar 4.H.1 Aspal Gambar 4.H.2 Agregat


kasar

3.Agregat halus 4. Filler (abu batu)

Gambar 4.H.3 Agregat halus Gambar 4.H.4 Filler (abu


batu)
5.Kompor 6. Penggorengan

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 28


Gambar 4.H.5 Kompor Gambar 4.H.6Penggorengan

7.Spatula 8. Cetakan benda uji

Gambar 4.H.7Spatula Gambar 4.H.8Cetakan benda uji

9.Alat penumbuk benda uji

Gambar 4.H.9 Alat penumbuk benda uji

 Prosedur pemeriksaan
1. Siapkan seluruh peralatan dan bahan yang digunakan. Pastikan alat-
alat berfungsi dengan baik.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 29


2. Siapkan dua buah cawan kecil dan aspal yang telah terlebih dahulu
dipanaskan.
3. Masukkan semua agregat ke dalam wajan yang telah dipanaskan.
Panaskan cawan yang berisi aspal dan thermometer di atas wajan yang
berisi agregat.
4. Setelah suhu thermometer pada campuran menunjukkan 190°C maka
tuangkan aspal sedikit demi sedikit bersamaan dengan diaduknya
agregat agar aspal dan agregat tercampur rata.
5. Setelah tercampur rata, masukkan campuran hingga berada pada suhu
145°C lalu masukkan campuran tersebut kedalam cetakan. Untuk
mendapatkan campuran yang merata masukkan campuran aspal secara
perlahan-lahan pada cetakan.
6. Tumbuk cetakan yang berisi campuran aspal tersebut ebanyak 150kali
menggunakan penumbuk. Sisi atas ditumbuk sebanyak 75 kali, lalu
balikan cetakan yang berisi aspal , tumbuk kembali sebanyak 75 kali
agar mendapatkan aspal yang benar-benar padat.
7. Diamkan selama satu hari untuk proses pengeringan, lalu buka cetakan
dan ukurlah tinggi, diameter dan berat aspal.
 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum
Tabel 4.H.1 Propertis agregat

lolos Tertahan
ASTM % % Akumulasi % % Min Maks
1 1/2 " 100 0   100 100
1" 100 0   100 100
3/4 " 100 0   100 100
1/2 " 97 3 3 50 90 100
3/8 " 81 16 19 77 90
#4 61 20 39 53 69
#8 50 11 50 33 53
# 16 36 14 64 21 40
# 30 25 11 75 14 30
# 50 18 7 82 43.5 9 22
# 100 12 6 88 6 15
# 200 6.5 5.5 93.5 4 9
Pan 0 6.5 100 6.5 0 0

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 30


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
; ; ; ; ; ; ; ; 3/8 ; 3/4 ; 1
1/2

Grafik 4.H.1 Kurva Persentase Agregat


Kadar aspal perkiraan 5,5%
Berat sampel 1134 gram

Tabel 4.H.2 Persentase dan Berat dari Aspal serta Agregat

% Aspal 5 5,5 6
Berat Aspal 60 66 72
Berat Agregat 1140 1134 1128

Tabel 4.H.3 Persentase Agregat Pembuatan Benda Uji

Berat Agregat (gr)


Ukuran Ayakan
1 1/2 " 0 0 0
1" 0 0 0
3/4 " 0 0 0
1/2 " 34,2 34,0 33,8
3/8 " 182,4 181,4 180,5
#4 228,0 226,8 225,6
#8 125,4 124,7 124,1
# 16 159,6 158,8 157,9
# 30 125,4 124,7 124,1
# 50 79,8 79,4 79,0
# 100 68,4 68,0 67,7
# 200 62,7 62,4 62,0
Pan 74,1 73,7 73,3
Total 1140,0 1134,0 1128,0

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 31


 Kesimpulan
Maka persentase agregat yang digunakan untuk kelompok kami pada
pembuatan benda uji pada tahap selanjutnya adalah dengan persentase
agregat 5,5% dengan berat aspal 66gr dan berat agregat 1134gr.
Pemadatan aspal dilakukan sebanyak 75 kali tumbukan dikali 2 sisi sampel
aspal maka dilakukan sebanyak 150 kali. Proses pengeringan dilakukan
dengan cara didiamkan selama satu hari.

I. Pengujian Benda Uji


1. Pengukuran Benda Uji
 Tujuan
Untuk mengetahui ketebalan rata-rata tebal / tinggi benda uji.

 Dasat teori
Pengukuran benda uji dilakukan adalah untuk mengetahui informasi
tentang ketebalan dari benda uji tersebut. Hasil rata-rata dari pengukuran
benda uji tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai informasi ke tahap
selanjutnya.

 Peralatan dan bahan


1. Jangka sorong

Gambar 4.I.1.1 Jangka sorong

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 32


 Prosedur pemeriksaan
1. Mengukur benda uji, pengukuran pertama
2. Mengukur benda uji, pengukuran kedua
3. Mengukur benda uji, pengukuran ketiga
4. Mengambil nilai rata-rata pengukuran benda uji
5. Menulis hasil pengukuran pada data hasil pengukuran

 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum


Tabel 4.I.1.1 Ketebalan benda Uji

Tinggi (cm)
Kadar Aspal Rata-Rata
1 2 3
5,5 6,72 7,10 6,80 6,87

 Analisa data
Pengukuran ketebalan benda uji:
Pengukuran pertama = 6,72 cm
Pengukuran kedua = 7,10 cm
Pengukuran ketiga = 6,80 cm
Pengukuran rata-rata benda uji adalah 6,87 cm

 Kesimpulan
Didapat pengukuran benda uji rata-rata adalah sebesar 6,87 cm.

2. Density
 Tujuan
Untuk menunjukan besar nya kerapatan suatu campuran yang sudah di
padatkan.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 33


 Dasat teori
Nilai desnity besarnya kerapatan pada suatu campuran , yang sudah di
padatkan, campuran yang mempunyai kepadatan yang lebih tinggi akan
ebih mampu menahan beban yang lebih besar. Density juga saying
bergantung pada gradasi, suatu pemadatan , pola pemadatan bentuk
butiran dan agregat halus. Pada nenelitian ini gradasi yang mendekati ideal
spesikfikasi nya .sehingah interlocking antara batuan cukup baik.

 Peralatan dan bahan


1.Timbangan / neraca di air 2. Kain Lap

Gambar 4.I.2.1 Timbangan / neraca Gambar 4.I.1.2 Kain Lap


 Prosedur pemeriksaan

1. Menimbang berat benda uji kering di udara


2. Lalu merendam sampel selama 5 menit didalam air
3. Selanjutnya menimbang benda uji di dalam air menggunakan timbangan
khusus dalam air
4. Lap benda uji menggunakan kain lap
5. Menimbang berat benda uji SSD
6. Menghitung volume benda uji
7. Mencari nilai density sesuai data yang didapat
 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum
Tabel 4.I.2.1 Pengujian density

Tinggi (cm) Rata-Rata


Kadar Aspal
1 2 3
Kelompok 10 Praktikum Perkerasan
5,5 Jalan Raya
6,72 7,10 6,80 6,87 34
Volume benda uji = SSD – Berat di air
= 1146,9 – 611,0
= 535,9 gram
Density = berat benda uji diudara / volume benda uji
= 1142,8 / 535,9
= 2,13 gr/cm³
 Kesimpulan
Nilai density yang diperoleh adlah sebesar 2,13 gr/cm³.

3. Marshall Test
 Tujuan
Menentukan ketahanan (stabilitas) dan kelelehan plastis (flow) dari suatu
campuran aspal. Ketahan (stabilitas) merupakan kemampuan suatu
campuran aspal untuk menerima beban sampai terjadi kelelehan plastis.
Sedangkan lelelehan plastis (flow) merupakan keadaan perubahan bentuk
suatu campuran aspal yang terjadi akibat suatu beban sampai batas runtuh.
 Dasar teori
Pengujian dengan alat Marshall dilakukan sesuai dengan prosedur Bina
Marga. Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik
campuran, menentukan ketahanan atau stabilitas terhadap kelelehan plastis
(flow) dari campuran aspal.
Hubungan antara ketahanan (stabilitas) dan kelelehan plastisitas (flow)
adalah berbanding lurus, semakin besar stabilitas, semakin besar pula
flownya, dan begitu juga sebaliknya. Jadi semakin besar stabilitasnya
maka aspal akan semakin mampu menahan beban, demikian juga
sebaliknya. Dan jika flow semakin tinggi maka aspal semakin mampu
menahan beban.
Dari hasil pengamatan pada pengujian Marshall keudian dibuat grafik
hubungan antara presentase kadar aspal dengan presentase rongga terisi
aspal (VFA), presentase rongga dalam campuran (VIM), kelelehan (flow),

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 35


stabilitas, dan perbandingan antara stabilitas dan kelelehan (MQ). Berikut
ini penjelasan dari kata-kata di atas :
o Void Filled With Asphalt (VFA). VFA adalah rongga terisi aspal oada
campuran setelahmengalami proses pemadatan yang dinyatakan dalam
persen terhadap rongga antar butiran agregat (VMA), sehingga antara
nilai VMA dan VFA mempunyai kaitan yang sangat erat. Faktor –
faktor yang mempengaruhi VFA antara lain kadar aspal, gradasi
agregat, energy pemadat (jumlah dan temperatur pemadatan), dan
absorpsi agregat. Mengecilnya nilai VMA pada kadar aspal yang
tetap, berakibat memperbesar presentase rongga terisi aspal
o Void in the Mix (VIM). VIM menunjukkan presentase rongga dalam
ucampuran. Nilai VIM berpengaruh terhadap keawetan dari campuran
aspal agregat, semakin tinggi nilai VIM menunjukkan semakin besar
rongga dalam campuran sehingga campuran bersifat porrus.
o Kelelehan (flow) adalah deformasi vertikal yang terjadi mulai awal
pembebanan sampai kondisi stabilitas menurun, yang menunjukkan
besarnya deformasi yang terjadi pada lapis perkerasan akibat menahan
beban yang diterimanya. Besarnya nilai flow dinyatakan dalam mm
atau 0,01”. Nilai flow dipengaruhi oleh kadar aspal, viskositas aspal,
gradasi agregat, jumlah dan temperatur pemadatan.
o Stabilitas merupakan kemampuan lapis perkerasan menerima beban
lalu-lintas tanpa mengalami perubahan bentuk tetap (deformasi
permanen) seperti gelombang, alur (rutting), maupun mengalami
bleeding. Nilai stabilitas dipengaruhi oleh kohesi atau penetrasi aspal,
kadar aspal, gesekan (internal friction), sifat saling mengunci
(interlocking) dari partikel-partikel agregat, bentuk dan tekstur
permukaan, serta gradasi agregat.
o Marshall Quotient (MQ). Nilai MQ menyatakan sifat kekakuan suatu
campuran. Bila nilai MQ terlalu tinggi, maka campuran akan
cenderung terlalu kaku dan mudah retak. Sebaliknya bila nilai MQ
terlalu rendah, maka perkerasan menjadi terlalu lentur dan cenderung
kurang stabil.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 36


Dari hasil yang telah didapatkan tersebut dapat diperoleh kadar aspal
optimum berdasarkan kriteria di batas, untuk kemampuan campuran yang
sesuai dengan Standar Bina Marga.
Persyaratan campuran lapis aspal untuk lalu lintas berat berdasarkan buku
petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton (LASTON) Tabel IV halaman
10, untuk jalan raya adalah sebagai berikut :
Rongga terisi aspal : > 75%
Rongga dalam campuran : 3% - 5%
Kelelehan : 2mm – 4mm
Stabilitas + kelelehan : 200 kg/mm – 350 kg/mm
Dalam perencanaan campuran aspal yang ideal maka harus memenuhi
syarat antara stabilitas yang tinggi, fleksibilitas yang rendah, rongga pori
yang kecil, dan rongga dalam campuran yang kecil.

 Peralatan dan bahan


1. Timbangan / neraca 2. Mesin uji Marshall

Gambar 4.I.3.1 Timbangan / neraca Gambar 4.I.3.2 Mesin uji Marshall

3.Waterbath

Gambar 4.I.3.3 Waterbath


 Prosedur pemeriksaan

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 37


1. Masukan sampel ke dalam water bath yang sudah dinyalakan.
Pastikam sampel aspal tereendam seluruhnya, nyalakan stopwatch,
rendam selama 30 menit, lalu angkat sampel tersebut.
2. Siapkan alat uji Marshall (menggunakan UTM Tester). Siapkan kertas
untuk menyangga keliling sample aspal pada alat penjepit sample. Lalu
pasangkan kembali alat penjepit ke alat uji Marshall. Uji marshall siap
dilaksanakan.
3. Lakukan percobaan marshall dan didapat nilai kekuatan maksimal dan
nilai penurunannya.

 Perhitungan dan pembahasan hasil praktikum

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 38


Grafik 4.I.1 Kurva Pengujian Marshall
Dari grafik tersebut, didapat informasi bahwa,
nilai stabilitas sebesar 1047,9 Kg
nilai flow (kelelehan) sebesar 6,7 mm

Diketahui:
% Agregat kasar 50%
% Agregat halus 43,5%
% Filler 6,5%
Berat jenis bulk kasar (rata-rata) = 2,50
Berat jenis bulk halus (rata-rata) = 2,40
Berat jenis bulk filler (rata-rata) = 2,50
Berat jenis semu kasar = 2,80
Berat jenis semu halus = 2,70
Berat jenis semu filler = 2,80
Maka,
Berat jenis efektif kasar = (bj bulk + bj semu) / 2

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 39


= (2,50 + 2,80) / 2
= 2,65

Berat jenis efektif halus = (bj bulk + bj semu) / 2


= (2,40 + 2,70) / 2
= 2,55

Berat jenis efektif filler = (bj bulk + bj semu) / 2


= (2,50 + 2,80) / 2
= 2,65

Berat jenis bulk total agregat =


100
(%ag.kasar / bj.bulk kasar) + (%ag.halus / bj.bulk halus) + (%filler / bj.bulk filler)
100
(50% / 2,5) + (43,5% / 2,4) + (6,5% / 2,5)
= 2,45(Gsb)

Berat jenis efektif total agregat =


100
(%ag.kasar / bj.efk kasar) + (%ag.halus / bj.efk halus) + (%filler / bj.efk filler)
100
(50% / 2,65) + (43,5% / 2,55) + (6.5% / 2,65)
= 2,6(Gse)

Berat jenis aspal = 1,04(Gb)

Berat jenis maksimum campuran, rongga udara : 0


GMM = 100
(Ps / Gse) + (Pb / Gb)

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 40


= 100
(93,5/ 2,6) + (5,5 / 1,04)
= 2,41

Rongga didalam campuran


VIM = 100 x GMM - GMB
GMM
= 100 x 2,41 – 2,13
2,5
= 11,20

Rongga diantara mineral agregat


VMA = 100 - GMB x Ps
Gsb
= 100 - 2,13 x 93,5
2,45
= 18,7

Rongga terisi aspal


VFA = 100 x VMA - VIM
VMA
= 100 x 18,7 – 11,2
18,7
= 40,11

Nilai stabilitas didapat dari nilai max force pembacaan pada pengujian
marshall yaitu 391,11 kg atau 3832,9 N
Nilai flow didapat dari nilai puncak optimum grafik pengujian marshall
yaitu 6,21 mm
Marshall quotient
MQ = stabilitas / flow

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 41


= 1047,9 / 6,70
= 156,4 kg/mm

 Kesimpulan
Nilai stabilitas marshall yang didapat yaitu 1047,kg
Nilai flow / kelelehan yang didapat yaitu 6,70 mm
Nilai MQ (Marshall Qoutient) yang didapat yaitu 156,4 kg/mm, semakin
tinggi nilai MQ, maka akan semakin tinggi kekakuan suatu campuran dan
semakin rentan campuran tersebut terhadap keretakan.

BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
Nilai pengujian berat jenis aspal rata-rata sebesar 1,04
Nilai pengujian penetrasi aspal rata-rata sebesar 63,75 mm
Nilai pengujian titik nyala aspal sebesar 325°C pada menit ke 305
Nilai pengujian titik bakar aspal sebesar 324°C pada menit ke 300
Nilai pengujian titik lembek rata-rata aspal sebesar 65°C
Nilai pengujian daktilitas rata-rata sebesar 31,70 cm (getas)
Nilai pemeriksaan kehilangan berat aspal rata-rata sebesar 0,97 gram
Nilai density core (kepadatan benda uji) sebesar 2,13 gr/cm³

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 42


Berat jenis bulk kasar (rata-rata) = 2,50
Berat jenis bulk halus (rata-rata) = 2,40
Berat jenis bulk filler (rata-rata) = 2,50
Berat jenis semu kasar = 2,80
Berat jenis semu halus = 2,70
Berat jenis semu filler = 2,80
Berat jenis efektif kasar = 2,65
Berat jenis efektif halus = 2,55
Berat jenis efektif filler = 2,65
Berat jenis bulk total agregat = 2,45 (Gsb)
Berat jenis efektif total agregat = 2,60(Gse)
Berat jenis aspal = 1,04(Gb)
Berat jenis maksimum campuran,
Rongga udara GMM = 2,41
Rongga didalam campuran, VIM = 11,20
Rongga diantara mineral agregat, VMA = 18,70
Rongga terisi aspal, VFA = 40,11

Nilai stabilitas marshall yang didapat yaitu 1047,9 kg


Nilai flow / kelelehan yang didapat yaitu 6,70 mm
Nilai MQ (Marshall Qoutient) yang didapat yaitu 156,4 kg/mm
Semakin tinggi nilai MQ, maka akan semakin tinggi kekakuan suatu
campuran dan semakin rentan campuran tersebut terhadap keretakan

B. Saran
Sebaiknya seluruh agregat dicek dengan lebih baik lagi, karena kualitas
material sangat menentukan kualitas campuran aspal yang dihasilkan.
Kesalahan praktikan atau human error bisa menjadi salah satu sebab utama
kurang maksimalnya hasil praktikum, alangkah lebih baiknya jika pada saat

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 43


proses penimbangan agregat, pengujian maupun dalam proses pembuatan
dilakukan secara lebih teliti dan cermat.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Bina Marga. 2010


(Revisi kedua).Karakteristik Campuran Marshall AC-BC

Sukirman, Silvia. 1922. Perkerasan Lentur Jalan Raya. Bandung: Nova

Suryawan, Ari 2005. Perkerasan Jalan Beton Semen Portland (Rigid Pavement).

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 44


Beta Offset.
[Abstract]
Senja Rum Haernani, Isyak Bayu M. Karakteristik Marshall Asphat Concrete-
Binder Course Dengan Menggunakan Limbah Beton Sebagai Pengganti Sebagian
Agregat Kasar. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kelompok 10 Praktikum Perkerasan Jalan Raya 45