Anda di halaman 1dari 42

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial


Tutor : dr. RA. Tanzila
Moderator : Adawiyah Simanjuntak
Sekretaris meja : Novita Intan Adiningsih
Sekretaris papan : Afif Naufal Akbarsyah
Waktu : Senin, 17 Maret 2014
Pukul 13.00 – selesai
Rabu, 19 Maret 2014
Pukul 08.00 – 10.00 WIB.
The Rule of Tutorial : 1. Menonaktifkan ponsel atau mengkondisikan ponsel dalam
keadaan diam.
2. Mengacungkan tangan saat akan mengajukan argumen.
3. Izin saat akan keluar ruangan.

2.2 Skenario Kasus


Tn. Rudi, 40 tahun, buruh, tinggal di rumah susun, datang berobat ke rumah sakit
dengan keluhan batuk berdahak yang semakin bertambah sejak 1 bulan yang lalu, batuk
mula-mula kering kemudian menjadi produktif. Keluhan tersebut disertai demam dan
berkeringat terutama pada malam hari, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan,
badan terasa lemah dan mudah lelah. Tn. Rudi tinggal dirumah bersama istri dan dua
orang anak yang berusia 15 tahun dan 6 tahun. Teman kerja Tn. Rudi ada yang
mengalami keluhan yang sama.
Pemeriksaan fisik
Kesadaran : Composmentis
Berat Badan: 45 kg, tinggi badan 164 cm.
Tanda vital : TD100/60 mmHg, Nadi 104x/menit, pernafasan 24x/menit, suhu 37,7º C
Keadaan Spesifik :
Kepala: konjungtiva palpebra pucat
Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.
Thoraks :

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


1
Inspeksi : statis, dinamis, simetris kanan dan kiri.
Palpasi : stem fremitus simetris kanan dan kiri
Perkusi : sonor kedua lapangan paru
Auskultasi : vesikuler meningkat dan ronkhi basah sedang pada lapangan
atas kedua paru.
Abdomen : datar, lemas, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak teraba.
Ekstremitas : dalam batas normal.
Pemeriksaan Penunjang :
Hb: 9 g%, WBC: 6500/uL, LED 80 mm/hr, Hitung jenis 0/2/2/76/14/6. Hasil
pemeriksaan sputum BTA I : (++), BTA II (-), BTA III: (+)
Radiologi :
Gambaran infiltrat pada lapangan atas kedua paru

2.3.2 Analisis Masalah


1. Tn. Rudi, 40 tahun, buruh, tinggal di rumah susun, datang berobat ke rumah
sakit dengan keluhan batuk berdahak yang semakin bertambah sejak 1 bulan
yang lalu, batuk mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
a. Bagaimana anatomi, fisiologi,histologi pada sisem yang terlibat?
Jawab :
Anatomi

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


2
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung,
farinx, larinx, trachea, bronkus, dan bronkiolus. Saluran pernapasan dari
hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Ketika
udara masuk melalui rongga hidung, maka udara disaring, dihangatkan dan
dilembabkan.
Laring terdiri dari satu cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot-
otot dan mengandung pita suara. Diantara pita suara terdapat ruang
berbentuk segitiga yang bermuara ke dalam trakea, disebut glotis yang
merupakan pemisah antara saluran pernapasan atas dan bawah.
Trakea disokong oleh cincin tulang bronkus trakeobronkhial. Tempat
percabangan trakea menjadi cabang utamabronkus kiri dan kanan dinamakan
karina yang banyak mengandung saraf dan dapat menyebabkan
bronkhospasme bila saraf tersebut rusak.
Bronkus terdiri dari dua, yaitu bronkus kanan dan kiri. Bronkus kanan
lebih pendek, lebih besar dan merupakan lanjutan trakea yang arahnya
hampir vertikal. Sebaliknya bronkus kiri lebih panjang, lebih sempit dan
merupakan lanjutan trakea dengan sudut yang lebih lancip.
Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi segmen
lobus, kemudian menjadi segmen bronkus. Percabangan ini terus menerus
sampai cabang terkecil yang disebut bronkhiolus terminalis yang merupakan
cabang saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveolus.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


3
Di luar bronkhiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit
fungsional paru-paru, tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari bronkhiolus
rerpiratorius yang memiliki kantong udara kecil atau alveoli yang berasal
dari dinding mereka. Duktus alveolaris yang seluruhnya dibatasi oleh
alveolus dan sakus alveolaris terminalis merupakan struktur akhir paru.
Paru-paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut yang terdapat
dalam rongga dada. Kedua paru-paru saling terpisah oleh mediastinum
sentral yang mengandung jantung dan pembuluh darah besar. Setiap paru
mempunyai apeks dan basis. Arteri pulmonalis dan darah arteria
bronkhiolus, bronkus, saraf dan pembuluh limphe masuk pada setiap paru
pada bagian hilus dan membentuk akar paru. Paru kanan lebih besar dari
pada paru kiri, dibagi menjadi tiga lobus oleh fisura interlobaris; paru kiri
dibagi menjadi dua lobus, yang terbagi lagi atas beberapa segmen sesuai
dengan segmen bronkhus. Suplai darah ke paru-paru bersumber dari arteria
bronkhialis dan arteria pulmonalis. Sirkulasi bronkhial menyediakan darah
teroksigenasi dari sirkulasi sistemik dan berfungsi memenuhi kebutuhan
metabolisme jaringan paru. Arteria pulmonalis yang berasal dari ventrikel
kanan mengalirkan darah vena campuran ke paru-paru di mana darah
tersebut mengambil bagian dalarn pertukaran gas. Jalinan kapiler paru halus
yang mengitari dan menutupi alveolus merupakan kontak yang diperlukan
untuk proses pertukaran gas antara alveolus dan darah. Darah yang
teroksigenasi kemudian dikembalikan melalui vena pulmonalis ke ventrikel
kiri yang kemudian membagikannya kepada sel-sel melalui sirkulasi
sistemik. (Snell, Richard S. 2006)

FISIOLOGI PARU
Paru merupakan organ respirasi yang berfungsi menyediakan O2 dan
mengeluarkan CO2. Selain itu paru juga membantu fungsi nonrespirasi,
yaitu:
1. Pembuangan air dan eliminasi panas
2. Membantu venus return
3. Keseimbangan asam basa
4. Vokalisasi

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


4
5. Penghidu
Terdapat dua jenis respirasi, yaitu:
1. Respirasi internal (seluler), merupakan proses metabolisme
intraseluler, menggunakan O2 dan memproduksi CO2 dalam rangka
membentuk energi dari nutrien.
2. Respirasi eksternal, merupakan serangkaian proses yang
melibatkan pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan luar dan sel tubuh.
Tahap respirasi ekstrenal:
a. Pertukaran udara atmosfir dan alveoli dengan
mekanisme ventilasi.
b. Pertukaran O2 dan CO2 alveoli dan kapiler pulmonal
melalui mekanisme difusi.
c. O2 dan CO2 ditranspor oleh darah dari paru ke jaringan.
d. Pertukaran O2 dan CO2 antara jaringan dan darah
dengan proses difusi melintasi kapiler sistemik
Tahap a & b oleh sistem respirasi, sedangkan tahap c & d oleh sistem
sirkulasi.

Ventilasi paru
Gerakan nafas dengan 2 cara:
1. Turun-naik diafragma yang merubah diameter superoinferior rongga
toraks:
a. inspirasi: kontraksi diafragma
b. ekspirasi: relaksasi diafragma
2. Depresi-elevasi iga, merubah diameter anteroposterior rongga toraks:
a. inspirasi: elevasi iga
b. ekspirasi: depresi iga

Difusi paru
Faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi gas pada membran respirasi:
1. Tebal membran
2. Luas permukaan membran
3. Koefisien difusi gas

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


5
4. Perbedaan tekanan pada kedua sisi membran
Pada radang jaringan paru dapat terjadi penurunan kapasitas difusi paru
karena penebalan membran alveoli dan berkurangnya jumlah jaringan paru
yang dapat berfungsi pada proses difusi gas.

Transportasi gas
1. Transpor O2 dalam darah. 97% O2 ditranspor dalam bentuk HbO2, 3%
terlarut dalam cairan plasma dan sel. Rata-rata Hb dalam 100 ml darah
dapat berikatan dengan 20 ml O2. 5 ml O2 dilepaskan ke jaringan oleh
100 ml darah.
2. CO2 ditranspor dalam bentuk terlarut dalam darah 7 %, ion bikarbonat
70%, gabungan CO2, Hb, dan protein plasma 20 %.
Sirkulasi paru terdiri dari sirkulasi pulmoner dan sirkulasi bronkial.
1. Sirkulasi bronkial :
a. nutrisi pada paru dan saluran napas
b. tekanan pembuluh darah sistemik
c. cenderung terjadi perdarahan lebih hebat
2. Sirkulasi pulmonar
a. mengatur pertukaran gas
b. tekanan rendah

Fungsi paru
1. Terdapat permukaan gas-gas yaitu mengalirkan Oksigen dari udara
atmosfer kedarah vena dan mengeluarkan gas carbondioksida dari
alveoli keudara atmosfer.
2. menyaring bahan beracun dari sirkulasi
3. reservoir darah
4. fungsi utamanya adalah pertukaran gas-gas

(Guyton,Arthur, John E.Hall. 2007)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


6
HISTOLOGI SISTEM PERNAFASAN

Saluran pernapasan, secara umum dibagi menjadi pars konduksi dan


pars respirasi. Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu
epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet. Dengan
menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat ada 5 macam sel epitel
respirasi yaitu sel silindris bersilia, sel goblet mukosa, sel sikat (brush cells),
sel basal, dan sel granul kecil.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


7
epitel respiratorik, berupa epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet

Rongga hidung
Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada
vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu
hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi sebelum
memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh
septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media, inferior)
pada masing-masing dinding lateralnya. Konka media dan inferior ditutupi
oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel
olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghidu/membaui. Epitel
olfaktorius tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel
olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan
epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson
yang bersinaps dengan neuron olfaktorius otak),  sel basal (berbentuk
piramid) dan kelenjar Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman
menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga
memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka
dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara yang
masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum
masuk lebih jauh.
LAPORAN TUTORIAL BLOK XI
8
epitel olfaktori, khas pada konka superior

Sinus paranasalis
Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan
sinus sphenoid yang dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih tipis dan
mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria yang
mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang menyatu dengan
periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke rongga hidung.

Faring
Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak
dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe
skuamosa/gepeng.

Laring
Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea.
Epiglotis merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan
memiliki permukaan lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal
epiglotis ditutupi oleh epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan
laringeal ditutupi oleh epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di
bawah epitel terdapat kelenjar campuran mukosa dan serosa. Di bawah
epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen
LAPORAN TUTORIAL BLOK XI
9
laring: pasangan lipatan atas membentuk pita suara palsu (plika
vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar serosa, serta di
lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri dari epitel berlapis
gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan muskulus vokalis (otot
rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu terbentuknya suara dengan
frekuensi yang berbeda-beda.

Trakea
Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Terdapat kelenjar
serosa pada lamina propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal
kuda), yang mana ujung bebasnya berada di bagian posterior trakea. Cairan
mukosa yang dihasilkan oleh sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan
yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong partikel asing.
Sedangkan tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap
terbuka. Pada ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin yang
berbentuk tapal kuda tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan berkas
otot polos yang memungkinkan pengaturan lumen dan mencegah distensi
berlebihan.

Bronkus
Mukosa bronkus secara struktural mirip dengan mukosa trakea,
dengan lamina propria yang mengandung kelenjar serosa , serat elastin,
limfosit dan sel otot polos. Tulang rawan pada bronkus lebih tidak teratur
dibandingkan pada trakea; pada bagian bronkus yang lebih besar, cincin
tulang rawan mengelilingi seluruh lumen, dan sejalan dengan mengecilnya
garis tengah bronkus, cincin tulang rawan digantikan oleh pulau-pulau
tulang rawan hialin.

Bronkiolus
Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan dan kelenjar pada
mukosanya. Lamina propria mengandung otot polos dan serat elastin.
Pada segmen awal hanya terdapat sebaran sel goblet dalam epitel. Pada
bronkiolus yang lebih besar, epitelnya adalah epitel bertingkat silindris

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


10
bersilia, yang makin memendek dan makin sederhana sampai menjadi epitel
selapis silindris bersilia atau selapis kuboid pada bronkiolus terminalis
yang lebih kecil. Terdapat sel Clara pada epitel bronkiolus terminalis, yaitu
sel tidak bersilia yang  memiliki granul sekretori dan mensekresikan protein
yang bersifat protektif. Terdapat juga badan neuroepitel yang kemungkinan
berfungsi sebagai kemoreseptor.

Bronkiolus respiratorius
Mukosa bronkiolus respiratorius secara struktural identik dengan
mukosa bronkiolus terminalis, kecuali dindingnya yang diselingi dengan
banyak alveolus. Bagian bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kuboid
bersilia dan sel Clara, tetapi pada tepi muara alveolus, epitel bronkiolus
menyatu dengan sel alveolus tipe 1. Semakin ke distal alveolusnya semakin
bertambah banyak dan silia semakin jarang/tidak dijumpai. Terdapat
otot polos dan jaringan ikat elastis di bawah epitel bronkiolus
respiratorius.

Duktus alveolaris
Semakin ke distal dari bronkiolus respiratorius maka semakin banyak
terdapat muara alveolus, hingga seluruhnya berupa muara alveolus yang
disebut sebagai duktus alveolaris. Terdapat anyaman sel otot polos pada
lamina proprianya, yang semakin sedikit pada segmen distal duktus
alveolaris dan digantikan oleh serat elastin dan kolagen. Duktus alveolaris
bermuara ke atrium yang berhubungan dengan sakus alveolaris. Adanya
serat elastin dan retikulin yang mengelilingi muara atrium, sakus
alveolaris dan alveoli memungkinkan alveolus mengembang sewaktu
inspirasi, berkontraksi secara pasif pada waktu ekspirasi secara normal,
mencegah terjadinya pengembangan secara berlebihan dan pengrusakan
pada kapiler-kapiler halus dan septa alveolar yang tipis.

Alveolus
Alveolus merupakan struktur berongga tempat pertukaran gas oksigen
dan karbondioksida antara udara dan darah. Septum interalveolar

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


11
memisahkan dua alveolus yang berdekatan, septum tersebut terdiri atas 2
lapis epitel gepeng tipis dengan kapiler, fibroblas, serat elastin, retikulin,
matriks dan sel jaringan ikat. 
Terdapat sel alveolus tipe 1 yang melapisi 97% permukaan alveolus,
fungsinya untuk membentuk sawar dengan ketebalan yang dapat dilalui gas
dengan mudah. Sitoplasmanya mengandung banyak vesikel pinositotik yang
berperan dalam penggantian surfaktan (yang dihasilkan oleh sel alveolus tipe
2) dan pembuangan partikel kontaminan kecil. Antara sel alveolus tipe 1
dihubungkan oleh desmosom dan taut kedap yang mencegah perembesan
cairan dari jaringan ke ruang udara.
Sel alveolus tipe 2 tersebar di antara sel alveolus tipe 1, keduanya saling
melekat melalui taut kedap dan desmosom. Sel tipe 2 tersebut berada di atas
membran basal, berbentuk kuboid dan dapat bermitosis untuk mengganti
dirinya sendiri dan sel tipe 1. Sel tipe 2 ini memiliki ciri mengandung badan
lamela yang berfungsi menghasilkan surfaktan paru yang menurunkan
tegangan alveolus paru.
Septum interalveolar mengandung pori-pori yang menghubungkan
alveoli yang bersebelahan, fungsinya untuk menyeimbangkan tekanan udara
dalam alveoli dan memudahkan sirkulasi kolateral udara bila sebuah
bronkiolus tersumbat.

Pleura
Pleura merupakan lapisan yang memisahkan antara paru dan dinding
toraks. Pleura terdiri atas dua lapisan: pars parietal dan pars viseral. Kedua
lapisan terdiri dari sel-sel mesotel yang berada di atas serat kolagen dan
elastin.( Junquereira LC, Carneiro J. 1982)

b. Apa hubungan jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan tempat tinggal pada
kasus?
Jawab :
Keluhan Tn. Rudi yaitu batuk berdahak yang semakin bertambah sejak
1 bulan yang lalu, batuk mula – mula kering kemudian menjadi produktif.
Hal tersebut berhubungan dengan jenis kelamin, dan umurnya. Yang mana

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


12
seorang laki-laki lebih sering terpapar hal tersebut akibat dari pola hidupnya
yang tidak sehat seperti merokok. Sedangkan umur 40 tahun merupakan
masa produktif yang mana usia tersebut sibuk dengan pekerjaannya sehingga
pola makannya kurang teratur. Pekerjaan dan tempat tinggal Tn. Rudi juga
berhubungan dengan keluhan yang dialaminya. Pekerjaan buruh merupakan
pekerjaan yang mana lingkungannya kurang bersih dan rata-rata seorang
buruh asupan gizi dan nutrisinya kurang. Hal ini dapat menyebabkan system
imunnya menurun. Sedangkan lingkungan tempat tinggalnya juga kurang
menjamin kesehatan tubuhnya, yang mana daerah tempat tinggalnya itu
kurang bersih dan lembab sehingga kuman-kuman bersarang disana serta
mudah untuk terserang penyakit. (WHO, 2012)

c. Apa saja klasifikasi batuk ?


Jawab :
Berdasarkan Durasi
- Akut, yaitu batuk yang terjadi kurang dari 3 minggu. Penyebab tersering
adalah:
o ISPA (especially the common cold, acute bacterial sinusitis, dan
pertussis),
o Namun bisa juga karena pneumonia, pulmonary embolus, atau
congestive heart failure
- Sub akut, batuk yang terjadi selama 3-8 minggu
o Jika batuk terjadi setelah kejadian ISPA yang tidak terkomplikasi
pneumonia (chest X-ray normal) postinfectius cough
o Jika pasien melaporkan adanya post-nasal drip, diatasi dengan obat
common cold, tetapi batuk masih bertahan dugaan sinusitis bakterial
o Jika ada wheezes, ronchi cough variant asthma
- Kronis, batuk yang berlangsung lebih dari 8 minggu
o Pada perokok : mungkin disebabkan oleh COPD atau bronchogenic
carcinoma
o Pada non-perokok yang hasil foto thorax-nya normal dan tidak
sedang menggunakan ACE inhibitor, penyebab yang mungkin :
postnasal drip, asthma, dan gastroesophageal reflux.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


13
BerdasarkanTanda Klinis
- Batuk Kering
o Batuk kering → seringkali sangat menganggu, tidak dimaksudkan
untuk membersihkan saluran nafas dan pada kondisi tertentu
berbahaya (pasca operasi) → perlu ditekan
o Batuk kering terjadi apabila tidak ada sekresi saluran nafas, iritasi
pada tenggorokan, sehingga timbul rasa sakit.
- Batuk Berdahak
o Batuk Berdahak → Yaitu batuk yang terjadi karena adanya dahak
pada tenggorokan.
o Batuk berdahak lebih sering terjadi pada saluran nafas yang peka
terhadap paparan debu, lembab berlebih dan sebagainya.
Batuk berdahak → mekanisme pengeluaran sekret atau benda asing
disaluran nafas → Sebaiknya tidak ditekan
Klasifikasi batuk dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Batuk berdasarkan durasi :
a. Batuk akut (<3 minggu) paling sering karena infeksi saluran napas
atas ( khususnya common cold, sinusitis bakterial akut, dan pertusis),
tetapi kelainan yang lebih serius seperti pneumonia, emboli paru, dan
congestive heart failure, juga dapat terjadi.
b. Batuk kronik (>3 minggu) pada perokok meningkatkan
kemungkinan PPOK atau kanker bronkogenik. Pada bukan perokok
dengan foto toraks normal dan tidak menggunakan ACE inhibitor,
penyebab batuk paling sering adalah postnasal drip, asma, dan
gastroesophageal reflux.

2) Batuk berdasarkan tanda klinis :


a. Batuk rejan. Batuk yang kerap diakhiri dengan suara seperti ingin
muntah ketika kita mengambil nafas. Batuk seperti ini disebabkan
oleh bakteri pertussis, yang dapat menular melalui droplet dari
hidung atau mulut orang yang terinfeksi, yang dapat keluar karena
bersin, batuk, atau tertawa. 

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


14
b. Batuk sesak (croup). Batuk dengan suara nafas yang keras, seperti
ada lendir di dalam dada. Suara yang timbul adalah akibat dari
pembengkakan di sekitar pita suara (pangkal tenggorokan) dan
batang tenggorokan disebabkan oleh virus.
c. Batuk kering. Batuk dengan suara nyaring dan membuat perut ikut
sakit, biasanya makin parah saat malam hari disebabkan karena
masuk angin, bronchiolitis, atau asma.
d. Batuk produktif/ batuk basah. Batuk yang sering diiringi dengan
riak atau lendir, yang biasanya disebabkan oleh infeksi atau asma.
e. Batuk bronchiolitis. Batuk yangdiikuti suara nyaring seperti
bersiul saat bernafas. Batuk seperti ini biasanya disebabkan infeksi
virus yang terjadi pada saluran udara kecil pada paru-paru yang
disebut bronchioles. Penyebab lainnya adalah asma.
(Davey, Patrick. 2005)

d. Apasaja faktor penyebab batuk berdahak?


Jawab :
Akibat terpapar oleh alergen / bakteri / virus, maka terjadi Infiltrasi sel
radang ( eosinophil, netrophil ),yang menyebabkan kerusakan epitel saluran
napas, sehingga dikeluarkannya mediator Inflamasi yang berakibat
terjadinya edema mukosa & submukosa, hiperplasi kelenjar sel goblet ,
sehingga terkumpulnya mucous plug di saluran napas (disamping produksi
dahak meningkat disertai pula dengan penyempitan saluran napas, yang
berakibat sesak napas). (Davey, Patrick. 2005)

e. Bagaimana mekanisme mekanisme batuk berdahak?


Jawab :
Batuk berdahak merupakan upaya pertahanan fungsi pernapasan yang
melibatkan mekanisme pembersihan mukosiliaris dan refleks batuk.
Pembersihan mukosiliaris berada di bawah laring, eskalator
mukosiliaris akan menjebak partikel-partikel debu yang terinhalasi dan
berukuran lebih kecil serta bakteri yang melewati hidung; mucus akan terus
menerus membawa partikel dan bakteri tersebut ke arah atas sehingga bias

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


15
tertelan atau dibatukkan; produksi mucus normal kira-kira 100 ml/hari.
Gerakan siliaris dihalangi oleh keadaan dehidrasi, konsentrasi O2 yang
tinggi, merokok, infeksi, obat anastesi, dan meminum etil alcohol. Jika
produksi mucus berlebihan, proses normal pembersihan mungkin tidak
efektif lagi, misalnya dalam keadaan infeksi, maka mucus akan tertimbun.
Bila hal ini terjadi, membrane mukosa akan terangsang dan mucus
dibatukkan dan keluar sebagai sputum. (Price, 2005)
Batuk merupakan rangkaian refleks dari reseptor batuk, saraf aferen,
pusat batuk, saraf eferen dan efektor batuk.
Adanya rangsangan pada reseptor batuk yaitu faring, laring, trakea,
bronkus, hidung, telinga, lambung dan pericardium akan dibawa oleh saraf
aferen ke pusat batuk yaitu di medulla oblongata untuk diteruskan ke efektor
yaitu otot-otot pada laring, faring, diafragma, interkostal, dll melalui saraf
eferen.

Gambar. Fase Batuk

Pada dasarnya batuk terdiri dari tiga fase, yaitu fase inspirasi, kompresi
dan ekspirasi. Namun ada juga yang membagi mekanisme batuk menjadi
empat fase, yaitu fase inhalasi, inspirasi, kompresi dan ekspirasi. Pada fase
inhalasi dan inspirasi terjadi inspirasi maksimal, hal ini diperlukan untuk
mendapatkan volume udara sebanyak-banyaknya sehingga terjadi
peningkatan tekanan intratorakal. Pada fase kompresi terjadi penutupan
glottis hal ini bertujuan untuk mempertahankan volume paru pada saat

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


16
tekanan intratorakal meningkat, hal ini menyebabkan terjadi kontraksi otot
ekspirasi dan terjadi peningkatan tekanan abdomen. Pada fase ekspirasi
glottis akan terbuka sehingga terjadi ekspirasi cepat, singkat, dan kuat,
akibatnya benda-benda asing yang ada di saluran respiratorik dikeluarkan,
dapat berupa sputum. (Supriyatno, 2010)

f. Bagaimana mekanisme terjadinya batuk berdahak yang semakin bertambah


sejak 1 bulan yang lalu, batuk mula-mula kering kemudian menjadi
produktif?
Jawab :
Adanya infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis melalui udara →
bakteri masuk kedalam saluran pernapasan → menginfeksi bronkus dalam
waktu yang lama → radang dalam bronkus → mengaktifkan sel goblet yang
mengandung silia untuk menghasilkan mukosa sebagai perlawanan →
produksi mukos berlebihan → proses pembersihan tidak efektif → mukosa
tertimbun didalam bronkus → merangsang membrane mukosa →
dibatukkan sputum atau batuk produktif
Zat iritan merangsang daerah glottis, trakea, dan bronkus (membran
mukosa)  memacu reseptor untuk mengirimkan sinyal melalu saraf afferen
ke medulla spinalis  saraf efferen dikirimkan ke otot-otot pernapasan dan
pita suara  otot pernapasan berkontraksi  efek inspirasi maksimal  pita
suara menutup  peningkatan tekanan intratorakal  pita suara membuka
secara tiba-tiba  udara keluar dari kavum toraks dengan pengeluaran
sekret  batuk berdahak
(Suyono, Slamet ,dkk. 1996)

g. Apasaja macam-macam warna dahak dan intepretasi ?


Jawab :
1) Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan,
kemungkinan berasal dari sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari
saluran napas bagian bawah.
2) Sputum banyak sekali & purulen → proses supuratif (eg. Abses paru)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


17
3) Sputum yg terbentuk perlahan&terus meningkat → taanda bronkhitis/
bronkhiektasis.
4) Sputum kekuning-kuningan → proses infeksi.
5) Sputum hijau → proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan
adanya verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dlm sputum. Sputum
hijau ini sering ditemukanpada penderita bronkhiektasis karena
penimbunan sputum dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi.
6) Sputum merah muda&berbusa → tanda edema paru akut.
7) Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih → tanda bronkitis kronik.
8) Sputum berbau busuk → tanda abses paru/ bronkhiektasis.

Dahak (sputum) yang berwarna kekuningan menunjukkan adanya infeki


bakteri.Warna kekuningan disebabkan sel leukosit yang mati setelah
melawan benda asing yang masuk ke saluran nafas. (Silbernagl,2007)

2. Keluhan tersebut disertai demam dan berkeringat terutama pada malam hari,
penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, badan terasa lemah dan mudah
lelah.
a. Bagaimana patofisiologi dan apa penyebab dari :
- Demam, bekeringat terutama pada malam hari
Jawab :
Bakteri masuk tubuh melalui sistem pernapasan à zat pirogen eksogen
à mengaktifkan zat pirogen endogen (IL1, IL6, TNFα) à as. Arakidonat à
menaikkan termostat di hipotalamus à suhu di set point baru à demam.
Tubuh terinfeksi mikroorganisme à sekresi mediator inflamasi
sebagai suatu bentuk respon umum à monosit, makrofag, sel endotel, dan
lain-lain à merasang keluarnya sitokin pirogen IL-1, IL-6, TNF dan IFN
sebagai regulator imun --- regulator imun merangsang endotelium
hipotalamus àá terjadi sekresi PGE 2 dan cAMP àá termoregulator set
point oleh cAMP à konservasi demam produksi demam à demam
(Kumar, V., et al., 2007)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


18
- Penurunan nafsu makan, penurunan berat badan
Jawab :

Inhalasi droplet nuclei mycobacterium tuberculosis ke saluran


pernapasan atas dan bawah → kuman bertahan (dormant) didalam saluran
pernapasan → daya tahan tubuh menurun → pertahanan dihidung dan
bronkus terhadap bakteri berkurang→antigen menetap karena proses
inflamasi akut gagal dan terjadilah inflamasi kronis → aktivasi dan
akumulasi makrofag yang terus menerus → makrofag memproduksi
sitokin TNF-, IL-1 dan IL-6 sebagai proses imunitas tubuh →sitokin
tersebut mengirimkan sinyal ke hipotalamus sehingga menaikkan kadar
leptin → nafsu makan berkurang
(Kumar, V., et al., 2007)

- Badan terasa lemah dan mudah lelah


Jawab :

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


19
Adanya infeksi M. Tuberculosis → inhalasi droplet → bakteri mencapai
alveolus → terjadi reaksi antigen- antibody → muncul reaksi radang →
terjadi pengeluaran sekret / mukus → akumulasi sekret dijalan nafas →
menghalangi proses difusi oksigenasi → kompensasi tubuh meningkatkan
gerakan pernafasan → sesak → pola nafas tidak efektif → transportasi O2
terganggu → lelah
(Kumar, V., et al., 2007)

3. Tn. Rudi tinggal dirumah bersama istri dan dua orang anak yang berusia 15
tahun dan 6 tahun. Teman kerja Tn. Rudi ada yang mengalami keluhan yang
sama
a. Bagaimana hubungan interaksi lingkungan tempat tinggal Tn. Rudi dengan
kasus?
Jawab :
Mycobacterium tuberculosis ditularkan melalui jalan pernafasan.
Basilus tuberkel di sekret pernafasan membentuk nuklei droplet cairan yang
dikeluarkan lewat batuk, bersin, dan bicara. Basilus yang dikeluarkan tadi
tetap berada di udara dalam waktu yang lama terutama pada lingkungan
yang padat penduduk dalam kasus ini tuan Rudi tinggal di daerah yang padat
penduduk yakni di rumah susun. Mycobacterium tuberculosis rentan
terhadap penyinaran ultraviolet dan penularan infeksi di luar rumah akan
akan jarang terjadi pada siang hari. Bakteri ini akan lebih lama beratahan di
dalam ruangan dan lingkungan yang padat penduduk. Bakteri ini bisa
bertahan 1 hingga 2 jam bahkan berhari hari di udara sampai akhirnya
tertiup oleh angin. (Isselbacher, 1999)

b. Bagaimana hubungan interaksi lingkungan kerja Tn. Rudi dengan kasus?


Jawab :
Penyakit tuberkulosis ditularkan melalui udara secara langsung dari
penderita TB kepada orang lain. Dengan demikian penularan TB terjadi
melalui hubungan dekat dengan penderita dan orang yang tertularmisalnya
berada di dalam ruangan tidur atau ruang kerja yang sama. Droplet yang
mengandung basil TB yang dihasilkan dari batuk dapat melayang di udara

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


20
hingga kurang lebih 2 jam tergantung pada kualitas ventilasi ruangan. Jika
droplet tadi terhirup oleh orang lain yang sehat droplet akan terdampar pada
dinding sistem pernapasan. Basil TB yang masuk tadi akan mendapatkan
perlawanan dari tubuh, jenis perlawanan tergantung kepada imunitas tubuh.
(Djojodibroto,2007)

c. Bagaimana cara penularan pada kasus?


Jawab :
Lingkungan hidup yang padat dan pemungkimanan di wilayah
perkotaan (dalam kasus rumah susun) kemungkinan besar telah
mempermudah proses penularan. proses terjadinya infeksi oleh
M.Tuberculosis sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung
droplet nuclei. Dapat juga disebabkan oleh susu yang kurang disterilkan
dengan baik atau terkontaminasi.
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau
dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar. Partikel ini
akan menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada
tidaknya sinar ultraviolet,ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam
suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari sampai berbulan-
bulan. Bila partikel ini terhisap ,ia akan menempel pada saluran nafas atau
jaringan paru. Partikel yang dapat masuk ke alveolar jika berukuran <5
mikrometer. (Sudoyo, 2009)
Kandungan droplet
 bicara : 0 – 210 partikel
 batuk : 0 – 3500 partikel
 bersin : 4500 – 1 juta partikel
(Sudoyo, Aru W, dkk. 2009)

d. Bagaimana pencegahan kepada keluarganya agar tidak tertular ?


Jawab :
1. Saat batuk seharusnya menutupi mulutnya, dan apabila batuk lebih dari 3
minggu, merasa sakit di dada dan kesukaran bernafas segera dibawa
kepuskesmas atau ke rumah sakit.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


21
2. Saat batuk memalingkan muka agar tidak mengenai orang lain.
3. Membuang ludah di tempat yang tertutup, dan apabila ludahnya
bercampur darah segera dibawa kepuskesmas atau ke rumah sakit.
4. Mencuci peralatan makan dan minum sampai bersih setelah digunakan
oleh penderita.
5. Bayi yang baru lahir dan anak-anak kecil harus diimunisasi dengan
vaksin BCG. Karena vaksin tersebut akan memberikan perlindungan
yang amat bagus.
(Sudoyo, 2009)

4. Pemeriksaan fisik
Kesadaran : Composmentis
Berat Badan: 45 kg, tinggi badan 164 cm.
Tanda vital : TD100/60 mmHg, Nadi 104x/menit, pernafasan 24x/menit, suhu
37,7º C.
a. Bagaimana interpretasi :
Berat Badan: 45 kg, tinggi badan 164 cm, Nadi 104x/menit, suhu 37,7 º C.
Jawab :
IMT : 16,731 (BB kurang)/ under weight
Nadi: 104x/menit (Takikardi)
Suhu : 37,7 ° C (subfebris)

b. Bagaimana mekanisme Berat Badan: 45 kg, tinggi badan 164 cm, Nadi
104x/menit, suhu 37,7 º C.
Jawab :
Mekanisme (BB kurang)/ under weight :

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


22
Peningkatan suhu
Infeksi Mycobacterium Tuberculosis → mengeluarkan pirogen eksogen
→ tubuh mengeluarkan pirogen endogen→merangsang otak untuk
melepaskan asam arakhidonat dan prostaglandin E2 → peningkatan suhu
(Waspadji, Sarwono, et al. 1996)

5. Keadaan Spesifik :
Kepala: konjungtiva palpebra pucat
Thoraks :
Auskultasi: vesikuler meningkat dan ronkhi basah sedang pada lapangan atas
kedua paru.
a. Bagaimana interpretasi :
Kepala: konjungtiva palpebra pucat
Thoraks :
Auskultasi: vesikuler meningkat dan ronkhi basah sedang pada lapangan atas
kedua paru.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


23
Jawab :
 Konjungtiva palpebra pucat = Anemia
 Vesikuler meningkat = suara nafas meningkat
 Ronkhi basah sedang = suara gelembung kecil yang pecah, terdengar bila
adanya sekret pada saluran pada saluran napas kecil dan sedang.

b. Bagaimana mekanisme :
Kepala: konjungtiva palpebra pucat
Thoraks :
Auskultasi: vesikuler meningkat dan ronkhi basah sedang pada lapangan atas
kedua paru.
Jawab :
 Konjungtiva palpebra pucat = Anemia
Mekanisme:
Dormant  diproses oleh APC  dibawa ke KGB terdekat (T-
helper)  diferensiasi menjadi Th1 yang mengeluarkan IL-2 (sitokin) 
sitokin dapat bersirkulasi menembus hematoencephalic barrier  efek
sitokin terhadap SSP (hipotalamus  produksi prostaglandin  implus
ke korteks serebral  leptin meningkat  penekanan nafsu makan 
nafsu makan menurun  suplai nutrisi (terutama Fe) menurun 
anemia.
(Waspadji, Sarwono, et al. 1996)
 Vesikuler meningkat = suara nafas meningkat
Dormant  diproses oleh APC  dibawa ke KGB terdekat ( T-
helper)  diferensiasi menjadi Th1 yang mengeluarkan IL-2  aktivasi
sel T sitotoksik (reseptor IL-2)  dikeluarkan sitotoksin untuk
membunuh dormant  daerah sekitar mengalami kerusakan  nekrosis
pengkijuan  (auskultasi)  vesikuler meningkat.
 Ronkhi basah sedang = suara gelembung kecil yang pecah, terdengar bila
adanya sekret pada saluran pada saluran napas kecil dan sedang.
Dormant  diproses oleh APC  dibawa ke KGB terdekat (T-
helper)  diferensiasi menjadi Th1 yang mengeluarkan IL-2  aktivasi
sel T sitotoksik (reseptor IL-2)  dikeluarkan sitotoksin untuk

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


24
membunuh dormant  daerah sekitar mengalami kerusakan  nekrosi
pengkijuan  sebagian secret dari pengkijuan berada di bronkiolus
(saluran napas kecil atau sedang)  (auskultasi)  ronkhi basah sedang.
(Harrison. 2000)

6. Pemeriksaan Penunjang :
Hb: 9 g%, WBC: 6500/uL, LED 80 mm/hr, Hitung jenis 0/2/2/76/14/6. Hasil
pemeriksaan sputum BTA I : (++), BTA II (-), BTA III: (+)
a. Bagaimana interpretasi :
Hb: 9 g%, WBC: 6500/uL, LED 80 mm/hr, Hitung jenis 0/2/2/76/14/6. Hasil
pemeriksaan sputum BTA I : (++), BTA II (-), BTA III: (+)
Jawab :
Hb 9g%
Inrepetasi : Penurunan kadar
Normal : ♂ :13,5 – 17 g%
♀ :12 – 15 g%
Anak-anak :
- Bayi baru lahir : 14 – 24 g%
- Bayi : 10 – 17 g%
- Anak : 11 – 16 g%
Masalah Klinis :
Anemia, perdarahan hebat, sirosis hati, leukimia.

WBC 6.500/mm3
Normal, dimana :
Normal : 5.000 – 9.000/mm3
Leukositosis : > 9.000/mm3
Leukopenia : < 5.000/mm3

LED 80 mm/hr
Peningkatan kadar

Normal : ♂ : 0 – 9 mm/hr

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


25
♀ : 0 – 15 mm/hr
Anak :
- Bayi baru lahir : 0 – 2 mm/hr
- 4 – 14 tahun : 0 – 10 mm/hr
Masalah klinis :
Anemia, infeksi, infark, radang akut lokal dan sistemik

Diff Count 0/3/2/75/15/5 : Shift to the right yang menunjukkan adanya


radang kronik.
0 : basofil normal : rentang 0 – 1 %
2 : eusinofil normal : rentang 2 - 4 %
2 : neutrofil batang kurang : rentang 3 – 5 %
76 : neutrofil segmen berlebih : rentang 50 -70 %
14 : limfosit kurang : rentang 20 – 40 %
6 : monosit normal : rentang 2 -10 %

Basil Tahan Asam (BTAI) : (+)


Basil Tahan Asam (BTAII) : (-)
Basil Tahan Asam (BTAIII) : (+)
Intrepetasi hasil menunjukan bahwa Tn. Anas terinfeksi oleh M.
Tuberkolusis.
Laju Endap Darah
Intrepetasi terjadi peningkatan

 Metode Westergreen :
– Pria : 0 - 15 mm/jam
– Wanita : 0 - 20 mm/jam
 Metode Wintrobe :
– Pria : 0 - 9 mm/jam
– Wanita : 0 - 15 mm/jam
Laju endap darah pasien meningkat menunjukkan adanya infeksi chronic.
(Kumar, Vinay, dkk. 2007)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


26
b. Bagaimana mekanisme :
Hb: 9 g%, WBC: 6500/uL, LED 80 mm/hr, Hitung jenis 0/2/2/76/14/6. Hasil
pemeriksaan sputum BTA I : (++), BTA II (-), BTA III: (+)
Jawab :
 Anemia
Dormant  diproses oleh APC  dibawa ke KGB terdekat (T-
helper)  diferensiasi menjadi Th1 yang mengeluarkan IL-2 (sitokin) 
sitokin dapat bersirkulasi menembus hematoencephalic barrier  efek
sitokin terhadap SSP (hipotalamus)  produksi prostaglandin - impuls
ke korteks serebral  leptin meningkat  penekanan nafsu makan 
penekanan nafsu makan  nafsu makan menurun  suplai nutrisi
(terutama Fe) menurun  anemia.
 LED meningkat
Droplet nuclei (Mycobacterium tuberculosis)  masuk kesaluran
napas  terjadi pertahanan paru (fisik, humoral, seluler)  proses
inflamasi  LED meningkat.
 BTA positif
Droplet nuclei (Mycobacterium tuberculosis)  masuk ke saluran
napas  terjadi pertahanan melalui netrofil , makrofag dan sel goblet
menghasilkan mucus berlebihan  transfer mukosilier  batuk
berdahak, sebagian menjadi dormant  dormant diproses oleh APC 
dibawa ke KGB terdekat (T-helper)  diferensiasi menjadi Th1 yang
mengeluarkan IL-2  aktivasi sel T sitotoksik (reseptor IL-2) 
dikeluarkan sitotoksin untuk membunuh dormant  daerah sekitar
mengalami kerusakan  nekrosis pengkijuan  sebagian secret dari
pengkijuan berada di saluran napas  transfor mukosilier  dahak
bertambah banyak  (pemeriksaan sputum)  BTA positif.
(Kumar, Vinay, dkk. 2007)

c. Bagaimana cara pemeriksaan sputum BTA?


Jawab :
1. Pemeriksaan Bakteriologik
a. Bahan pemeriksasan

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


27
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis.
Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak,
cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces
dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)

b. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan


Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut-turut
atau dengan cara:
• Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
• Dahak Pagi ( keesokan harinya )
• Sewaktu/spot ( pada saatmengantarkan dahak pagi)
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan /
ditampung dalam pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm atau lebih
dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan tidak bocor. Apabila ada
fasiliti, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan apus pada gelas objek
(difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium.Spesimen dahak yang ada
dalam pot (jika pada gelas objek dimasukkan ke dalam kotak sediaan)
yang akan dikirim ke laboratorium, harus dipastikan telah tertulis
identitas penderita yang sesuai dengan formulir permohonan pemeriksaan
laboratorium.
Bila lokasi fasiliti laboratoriumberada jauh dari klinik/tempat
pelayanan penderita, spesimen dahak dapat dikirim dengan kertas saring
melalui jasa pos.
Cara pembuatan dan pengiriman dahak dengan kertas saring:
 Kertas saring dengan ukuran 10 x 10 cm, dilipat empat agar terlihat
bagian tengahnya
 Dahak yang representatif diambil dengan lidi, diletakkan di bagian
tengah dari kertas saring sebanyak +1 ml
 Kertas saring dilipat kembali dan digantung dengan melubangi pada
satu ujung yang tidak mengandung bahan dahak

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


28
 Dibiarkan tergantung selama 24 jam dalam suhu kamar di tempat
yang aman, misal di dalam dus
 Bahan dahak dalam kertas saring yang kering dimasukkan dalam
kantong plastik kecil
 Kantong plastik kemudian ditutup rapat (kedap udara) dengan
melidahapikan sisi kantong yang terbuka dengan menggunakan lidi
 Di atas kantong plastik dituliskan nama penderita dan tanggal
pengambilan dahak
 Dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui jasa pos ke alamat
laboratorium
Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dan bahan lain
(cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung,
kurasan bronkoalveolar (BAL), urin, faeces dan jaringan biopsi, termasuk
(BJH) dapat dilakukan dengan cara:
 Mikroskopik
 Biakan

2 Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen
pewarnaan Kinyoun Gabbett
Mikroskopik fluoresens: pewarnaan auramin-rhodamin
(khususnya untuk screening)
Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, dahak dipekatkan lebih dahulu
dengan cara sebagai berikut :
 Masukkan dahak sebanyak 2 – 4 ml ke dalam tabung sentrifuge dan
tambahkan sama banyaknya larutan NaOH 4%
 Kocoklah tabung tersebut selam 5 – 10 menit atau sampai dahak
mencair sempurna
 Pusinglah tabung tersebut selama 15 – 30 menit pada 3000 rpm
 Buanglah cairan atasnya dan tambahkan 1 tetes indicator fenol-
merahpada sediment yang ada dalam tabung tersebut, warnanya
menjadi merah

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


29
 Netralkan reaksi sedimen itu dengan berhati-hati meneteskan larutan
HCl 2n ke dalam tabung sampai tercapainya warna merah jambu ke
kuning-kuningan
 Sedimen ini selanjutnya dipakai untuk membuat sediaan pulasan
(boleh juga dipakai untuk biakan M.tuberculosis)
lnterpretasi hasil pemeriksaan mikroskopik dari 3 kali pemeriksaan
ialah bila :
 2 kali positif, 1 kali negatif → Mikroskopik positif
 1 kali positif, 2 kali negatif → ulang BTA 3 kali , kemudian
 bila 1 kali positif, 2 kali negatif → Mikroskopik positif
 bila 3 kali negatf → Mikroskopik negatif
(PDPI,2011)

d. Bagaimana cara pengambilan spesimen sputum yang benar?


Jawab :
Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut-turut atau dengan
cara:
 Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
 Dahak Pagi (keesokan harinya)
 Sewaktu/spot (pada saat mengantarkan dahak pagi)
(PDPI,2011)

7. Radiologi :
Gambaran infiltrat pada lapangan atas kedua paru
a. Bagaimana interpretasi : Gambaran infiltrat pada lapangan atas kedua paru ?
Jawab :
Gambaran radiodensitas paru yang abnormal yang umumnya berbentuk
bercak-bercak atau titik-titik kecil dengan densitas sedang dan batas tegas.
Merupakan gambaran suatu proses aktif paru. Infiltrat biasanya disebabkan
karena adanya proses inflamasi.
(Price, 2005)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


30
b. Bagaimana mekanisme : Gambaran infiltrat pada lapangan atas kedua paru ?
Jawab :
Dalam hal ini infiltrat terjadi karena adanya penginfeksian oleh bakteri
M. tuberkulosis yang dimana bakteri ini umumnya menyerang paru karena
bersifat aerob, pada setelah terjadinya dorman pada bakteri ini dimana daya
tahan tubuh menurun proses dorman ini terjadi 3-8 bulan, menyerang
umumnya di lobus apeks pada paru. (Rasad, Sjahriar. 2005)
Proses inflamasi yang dilakukan bakteri Tb ini membentuk sarang
(nekrosis jaringan alveolus pada paru) hal ini yang mengakibatkan adanya
gambaran bercak-bercak atau titik-titik kecil pada paru.(Price, 2005)

8. Bagaimana cara mendiagnosis pada kasus ini ?


Jawab :
I. Anamnesis :
- Batuk berdahak mula-mula kering kemudian menjadi produktif
- Demam pada malam hari
- Penurunan nafsu makan
- Penurunan berat badan
- Badan terasa lemah dan mudah lelah
II. Pemeriksaan fisik : - TD 100/60 mmHg, nadi 104x/menit, RR 24x/menit,
suhu 37,7 º C
III. Keadaan spesifik :
- Kepala : konjungtiva palpebra pucat
- Auskultasi : vesikuler meningkat dan ronkhi basah sedang pada lapangan
atas kedua paru
IV. Pemeriksaan penunjang :
Laboratorium:
Hb: 9 g%, WBC: 6500/uL, LED 80 mm/hr, Hitung jenis 0/2/2/76/14/6.
Hasil pemeriksaan sputum BTA I : (++), BTA II: (-), BTA III: (+)
Radiologi :
Gambaran infiltrat pada lapangan atas kedua paru
(Hood alsagaff ,2010)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


31
9. Apa deferensial diagnosis pada kasus ini ?
Jawab :

Keluhan Tb paru Pneumonia Bronkitis


Tn.Anas kronik
Batuk + + +
produktif
Penurunan + + +
nafsu makan
Penurunan BB + - -
Badan terasa + - -
lemah
Badan terasa + - -
lelah
Demam malam + + -
hari
Rontgen Infiltrat Infiltrat dan -
konsolidasi
Ronkhi basah + + +
sedang

10. Bagaimana pemeriksaan penunjang pada kasus ini ?


Jawab :
a. Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis)
b. Foto toraks PA dan lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB
adalah:
 Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
 Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
 Adanya kavitas, tunggal atau ganda
 Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru
 Adanya kalsifikasi
 Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
 Bayangan milier
c. Pemeriksaan sputum BTA
d. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase)

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


32
e. Tes Mantoux/ Tuberculin
f. Teknik PCR/ Pollymerase Chain Reaction
g. Becton Dickinson Diagnostic Instrument System
Pemeriksaan Penunjang lain    
1. Analisis Cairan Pleura
2. Pemeriksaan histopatologi jaringan
3. Pemeriksaan darah
(Suyono, Slamet ,dkk. 1996)

11. Apa working diagnosis pada kasus ini ?


Jawab :
Tuberculosis Paru

12. Bagaimana etiologi pada kasus ini ?


Jawab:
Penyebab tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 mikrometer dan tebal 0,3-0,6
mikrometer. Yang tergolong dalam kuman Mycobacterium tuberculosae
complex berdasarkan perbedaan secara epidemiologi adalah:
1) M. Tuberculosae
2) Varian Asian
3) Varian African I
4) Varian African II
5) M. Bovis.
Sebagian besar dinding kuman terdiri dari asam lemak (lipid), kemudian
peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih
tahan terhadap asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan juga lebih
tahan terhadap gangguan kimia dan fisik. Kuman dapat bertahan hidup pada
udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam
lemari es). Hal ini terjadi karena kuman tersebut bersifat dormant. Dari sifat
dormant ini kuman dapat bangkit dan menjadikan penyakit TB aktif lagi.
Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraselular yakni dalam
sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian
disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


33
aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang
tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apical
paru-paru lebih tinggi dibandingkan bagian yang lain, sehingga daerah apical ini
merupakan tempat predileksi penyakit TB. (Sudoyo, 2009)

13. Bagaimana epidemiologi pada kasus ini ?


Jawab:
Tuberculosis berlanjut sebagai penyebab kematian yang penting. Pada
tahun 1991, di Amerika Serikat dilaporkan 26.283 kasus tuberculosis, dengan
angka kasus 10,4 per 100.000 per tahun. Angka kasus telah menurun hingga
setingkat 5-6 persen per tahun, namun sejak tahun 1985 arahnya berbalik, yaitu
angka kasus menaik sampai 15,8% selama 5 tahun. Diperkirakan bahwa 10 juta
orang Amerika mempunyai hasil test tuberculin yang positif, tetapi kurang dari
1% anak-anak Amerika yang menunjukan reaksi terhadap tuberculin. Penyakit
tuberculosis di Amerika Utara cenderung menjadi penyakit pada orang tua,
penduduk kota yang miskin, dari golongan kecil dan penderita AIDS Pada
segala umur, rata-rata kasus di antara orang-orang kulit hitam cenderung dua
kali lebih besar dari pada orang kulit putih. Orang-orang hispanik, Haiti dan
imigran Asia Tenggara mempunyai rata-rata kasus yang sama tingginya dengan
individu dari negara asal mereka dan pada individu-individu ini frekuensi
penyakit yang terjadi di antara individu mudanya menunjukan kejadian penyakit
ini pada anak-anak muda di negara mereka.
Pada banyak tempat didunia, penyebaran penyakit tuberculosis menurun,
namun pada banyak negara miskin tidaklah demikian. Pada beberapa negara,
perkiraan angka kasus baru adalah sampai setinggi 400 per 100.000 per tahun.
Sebagaimana di Amerika Utara dan Eropa, kemiskinan berjalanan seiringan
dengan tuberkulosis. Pada daerah yang prevalensinya tinggi, prevalensi
tuberculosis tampak setara pada lingkungan pedesaan dan perkotaan dan
terutama menyerang orang dewasa muda. Pada negara dengan infeksi HIV
endemik, tuberculosis merupakan penyebab tunggal morbiditas dan mortalitas
yang terpenting pada pasien AIDS. Perkiraan yang beralasan tentang besarnya
angka tuberculosis di dunia adalah sepertiga populasi dunia terinfeksi dengan
M. tuberculosis, bahwa 30 juta kasus tuberculosis aktif di dunia, dengan 10 juta

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


34
kasus baru terjadi setiap tahun, dan bahwa 3 juta orang meninggal akibat
tuberculosis setiap tahun. Tuberculosis mungkin menyebabkan 6 % dari seluruh
kematian di seluruh dunia.( Kumar, V., et al., 2007)

14. Bagaimana manifestasi klinik pada kasus ini ?


Jawab :
1. Gejala akibat TB paru adalah Batuk produktif yang berkepanjangan (lebih
dari 3 minggu), nyeri dada, hemoptisis.
2. Gejala sistemik termasuk demam, menggigil, keringat malam, hilangnya
nafsu makan dan penurunan berat badan.
(Price, 2005)

15. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini ?


Jawab :
Stategi Penanggulangan TB
Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS)
Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama untuk suatu
strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk
mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB. Strategi ini terdiri dari 5 komponen,
yaitu:
1) Dukungan para pimpinan wilayah di setiap jenjang sehingga program ini
menjadi salah satu prioritas dan pendanaan pun akan tersedia.
2) Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosa TB melalui
pemeriksaan sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara
pasif.
3) Pengawas Minum Obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya baik
oleh pasien maupun petugas kesehatan yang akan ikut mengawasi pasien
minum seluruh obatnya sehingga dapat dipastikan bahwa pasien betul
minum obatnya dan diharapkan sembuh pada akhir masa pengobatannya.
4) Pencatatan dan pelaporan sengan baik dan benar sebagai bagian dari system
surveilans penyakit ini sehingga pemantauan pasien dapat berjalan.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


35
5) Paduan obat anti TB janka pendek yang benar, termasuk dosis dan jangka
waktu yang tepat, sangat penting untuk keberhasilan pengobatan. Termasuk
terjaminnya kelangsungan pesediaan paduan obat ini. (Mansjoer, 2000)

1. Pengobatan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan
mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT TB.

Tabel 1 Jenis, sifat dan dosis OAT


(Depkes RI, , 2004)

2. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip – prinsip TB:
1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat,
dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan.
Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-
Kombinasi Dosis Tetap (OAT – KDT) lebih menguntungkan dan sangat
dianjurkan.
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung DOTS oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).
3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan
lanjutan.
Tahap awal (intensif)
a. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


36
b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
c. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan TB.

Tahap Lanjutan
a. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama.
b. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan TB.
(Bertram G. Katzung. (ed).2010)

16. Apa saja komplikasi pada kasus ini ?


Jawab :
Komplikasi dibagi menjadi 2 yaitu :
- Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, emplema, laringitis
- Komplikasi lanjutan : obstruksi jalan nafas, SOPT (Sindrom Obstruksi Pasca
Tuberculosis), kerusakan parenkim berat, Fibrosis paru, kor pulmonal.
(Kumar, V., et al., 2007)

17. Bagaimana prognosis pada kasus ?


Jawab :
Dubia ad bonam

18. Bagaimana KDU pada kasus ?


Jawab :
Kemampuan 4 yaitu, mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan
pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh
dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter
dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga
tuntas. (SKDI 2012)

19. Bagaimana pandangan islam ?

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


37
Jawab :
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104)
Menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf) dalam konteks ini dapat
diwujudkan dengan mengkampanyekan hidup sehat, sedangkan nahi munkar
dilakukan dengan mencegah penularan penyakit TB.
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (bergizi) dari apa yang
terdapat di bumi….”. (QS. Al-Baqarah: 168)
Makanan yang halal dan bergizi akan membuat tubuh kuat dan tahan
terhadap serangan penyakit. Dengan tubuh yang sehat dan kuat ini maka
kemungkinan tertular penyakit TB menjadi kecil. Orang yang mudah terserang
penyakit adalah orang-orang yang tidak memiliki antibody yang kuat yang
biasanya disebabkan kondisi fisik yang tidak sehat. Karena itu, kesehatan tubuh
harus benar-benar diperhatikan dengan mengonsumsi makanan-makanan yang
halal dan bergizi. Makanan yang halal dalam Islam adalah makanan-makanan
yang terpilih tidak saja dari segi substansi makanannya tetapi juga dari segi asal
makanan diperoleh. Sehingga konsep kesehatan dalam Islam tidak hanya
mengutamakan kesehatan fisik tetapi juga psikis. Sedangkan makanan yang
bergizi adalah makanan-makanan yang lebih spesifik lagi dari sekian banyak
makanan yang halal. Sehingga dengan kriteria makanan yang halal dan bergizi
ini, makanan yang masuk ke dalam perut manusia benar-benar makanan yang
terpilih. Islam menyadari betul bahwa perut adalah sumber munculnya berbagai
macam penyakit, karena itu agar tubuh sehat, makanan yang akan masuk ke
dalam perut harus disaring terlebih dahulu. (Nafis, 2007)

2.3.3 Kesimpulan
Tn. Rudi, 40 tahun mengalami keluhan batuk berdahak yang semakin produktif
sejak 1 bulan yang lalu karena mengalami penyakit kronis TB paru .
LAPORAN TUTORIAL BLOK XI
38
2.3.4 Kerangka Konsep

Teman kerja menderita TB

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


39
Terinfeksi M. TB

Masuk ke paru

Dorman

Aktivasi M. TB Sistem imun turun

TBC paru

demam dan berkeringat


Nafsu makan BTA + batuk berdahak
infiltrat paru terutama pada malam
dan BB
hari

Daftar Pustaka

Al-Quran dan Al-Hadist

Bertram G. Katzung. (ed).2010. Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta:EGC

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


40
Davey, Patrick. 2005. At Glance Medicine. Jakarta: Erlangga

Depkes RI, Petunjuk Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Fixed Dose Combination
(OATKDT), Jakarta, 2004

Djojodibroto, darmanto. 2007. Respirologi (respiratory medicine) . Jakarta: EGC

Guyton,Arthur, John E.Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Harrison. 2000. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume 4. Jakarta: Penerbit
Buku. Kedokteran EGC.

Hood alsagaff. 2010.Dasar-dasar ilmu penyakit paru. pusat penerbitan dan percetakan
UNAIR.cetakan ke tujuh.

Isselbacher, dkk. 1999. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC

Jawetz, Melnick. 2012. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 25. Jakarta: EGC.

Junquereira LC, Carneiro J. 1982. Histologi Dasar. Ed ke-3. Dharma A, penerjemah. Jakarta:
EGC

KDU (Standar Kompetensi Dokter Indonesia). 2012. Jakarta.Konsil Kedokteran Indonesia

Kumar, V., et al., 2007. Paru dan Saluran Napas Atas. In: Hartanto, H., ed. Buku Ajar
Patologi. Jakarta: EGC.

Nafis, Colil. 2007. Penanggulangan TB Perspektif Islam. Malaysia: Universitas Malaya

Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Tuberkulosis Indonesia, 2011, Persatuan Dokter


Paru Indonesia

Price and Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


EGC:Jakarta

Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik. Edisi ke-2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Silbernagl, Stefan dan Florian Lang. 2007. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi.
EGC,Medical Publiser, Jakarta.

Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran edisi 6. Jakarta: EGC.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


41
Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid III, Edisi V. Jakarta:
Interna Publishing.

Supriyatno, Bambang. 2010. Batuk Kronik. Majalah Kedokeran Indonesia, Volum: 60,
Nomor: 6, Juni 2010.

Suyono, Slamet ,dkk. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III edisi ketiga. Jakarta:
Balai penerbit FKUI

Waspadji, Sarwono, et al. 1996. Ilmu Penyakit Dalam. edisi I. Jakarta : FK UI

WHO 2012. “Global Tuberculosis Report 2012”. World Health Organization 20 Avenue
Appia, 1211–Geneva–27, Switzerland.

LAPORAN TUTORIAL BLOK XI


42

Anda mungkin juga menyukai