Anda di halaman 1dari 3

Nama : Fahtur Widiyanto

Kelas :2BA05
NPM : 21928088
Tugas : V-Class
Dosen : Bonar S Panjatan, SE., MM
Mata Kuliah :Teknik Lobby dan Negosiasi

SOAL :
Berikan contoh kasus dan realisasinya berkenaan dengan materi pertemuan 5
"LANGKAH DAN STRATEGI LOBI"

JAWAB :
Ritel merupakan sektor industri yang sangat populer dan sudah mendominasi
kehidupan masyarakat Indonesia turun-temurun sejak dahulu kala. Ditandai dengan
tersebarnya warung dan toko kelontong di hampir tiap daerah, mulai dari pelosok
hingga kota besar. Industri ini tumbuh dan berkembang sedemikian cepat seiring
dengan pertambahan laju penduduk. . Industri ini juga semakin populer sejak
masuknya peritel modern dan milik investor asing di Indonesia. Para peritel tersebut
berlomba-lomba untuk masuk. Dari yang ingin membuka cabang (ekspansi),
mendirikan pabrik baru di luar negara asal, mencari mitra strategis, hingga
mendirikan perusahaan baru.

Fenomena tersebut secara perlahan mengakibatkan pelaku usaha domestik


satupersatu kolaps tidak berdaya, terlebih lagi pelaku usaha domestik dengan skala
yang kecil. Tidak mengherankan jika industri ini mendapat sorotan yang cukup serius
dan banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan, mulai dari instansi pemerintah,
pelaku usaha, hingga para akademisi. Banyak kalangan yang menghendaki
pemerintah untuk turun tangan mengatasi permasalahan tersebut. Kondisi ini
kemudian menggelitik pemerintah untuk mengatur permasalahan ini dalam suatu
bentuk ketentuan dengan maksud melindungi kepentingan usaha kecil secara
nasional.

Namun, ketika pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Presiden Nomor


112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat
Perbelanjaan dan Toko Modern (“Perpres 112/2007”) pada tanggal 27 Desember
2007, peraturan ini tidak kalah mengundang kontroversi.

Perpres 112/2007 mengatur secara teknis mengenai pembagian usaha antara


pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern. Pada beberapa ketentuan
pasal, Perpres 112/2007 terlalu mengatur dengan sangat rigid. Misalnya, terdapat
pengaturan mengenai lokasi dan syarat-syarat pendirian, luas bangunan, jam operasi,
ketentuan pemasokan barang, perizinan, serta pembinaan dan pengawasan untuk
pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern. Peraturan ini dibuat dengan
maksud untuk melindungi dan mengembangkan usaha kecil serta sebagai suatu upaya
pembinaan terhadap usaha kecil supaya bisa maju dan berkembang. (Sumber:
http://www.kppu.go.id diakses pada 19 oktober 2013 pukul 21:22 WIB).

Karena dalam proses pengimplementasiannya Perpres yang bersifat sangat


teknis sering mengalami benturan-benturan kepentingan maka perlu pengawasan
yang ketat oleh pemerintah sebagai pihak yang “berkuasa” dalam area kompetisi
usaha ini. Pembinaan dari pemerintah baik pusat maupun daerah serta pengawasan
terhadap Pasar tradisional, Pusat perbelanjaan dan Toko modern harus segera
dilakukan sebagai bagian pengimplementasian Perpres tersebut.

Dalam kasus ini saya dan tim saya akan bertindak sebagai Lobbyist dari
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) akan melakukan upaya-upaya lobby
agar pemerintah benar-benar mengimplementasikan isi Perpres 111/2007 sehingga
usaha ritel Indonesia tetap mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Disamping
itu, sebagai persiapan menghadapi ASEAN Community 2015 pemerintah perlu
membuat pengaturan khusus untuk menjamin persaingan usaha yang sehat antara
bisnis ritel Indonesia dan ritel asing, mulai dari pengaturan jarak tempat usaha, dan
perizinan usaha.

Demikian juga dengan kebijakan baru dari pemerintah yakni mengenai Upah
Minimum Sektoral Provinsi (UMSP). Upah ini berlaku untuk 11 bidang usaha. Di
sektor ritel, bersama dengan sektor tekstil, sandang, dan kulit, besar UMSP adalah 5
persen di atas UMP tahun berjalan. Pemberlakuan upah ini dinilai sangat
memberatkan bisnis ritel saat ini dan kedepannya. Oleh karena itu pengaturan UMSP
ini agar dapat dipertimbangkan dan ditinjau kembali oleh pemerintah mengingat
persaingan yang akan semakin segit pada 2015.