0 penilaian0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara) 168 tayangan99 halamanBinawana
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda,
ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
IL PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sumber daya alam hutan memegang peran penting bagi kelangsungan makhluk hidup,
karena disamping mempunyai fungsi produksi (kayu dan non kayu) juga berfungsi
sebagai pengatur tata air, pencegah kerusakan tanah, pengatur sirkulasi oksigen, dan
sumber daya genetika.
Program pokok dari misi Rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial sebagai salah satu
upaya memberdayakan fungsi hutan tersebut di atas adalah:
Penyelamatan hutan, tanah dan air.
Rehabilitasi lahan kritis di dalam dan di luar kawasan hutan.
Pengembangan hutan tanaman baru.
Pembinaan daerah pantai.
Pengarahan dan pembinaan transmigran dan perambah hutan.
Pemberdayaan masyarakat di dalam dan di luar/sekitar kawasan hutan.
AwVPYN>S
Berdasarkan kondisi, keadaan sekarang yaitu:
Lahan kritis di dalam kawasan hutan+ 2.800.000 Ha.
Lahan kritis di luar kawasan hutan + 6.100.000 Ha.
Tambahan lahan kritis setiap tahun antara 500.000 - 700.000 Hektar.
Kondisi masyarakat di dalam/sekitar hutan yaitu pendidikan rendah, pendapatan
rendah, sulit dijangkau, dan eenmpigee
Hal-hal tersebut menimbulkan permasalahan untuk niemulihkan, mempertahankan dan
meningkatkan produktivitas sumber daya alam hutan, tanah, dan air sesuai fungsinya
disertai dengan tumbuhnya rasa tanggung jawab masyarakat untuk melestarikan hutan,
tanah, dan air.
Untuk membantu memecahkan masalah dimaksud, Satuan Karya Pramuka (Saka)
‘Wanabakti sebagai mitra sejajar Departemen Kehutanan mempunyai salah satu program
yaitu Krida Binawana.
eer
B. Pengertian
Krida Binawana adalah salah satu program dari Saka Wanabakti yang melaksanakan
kegiatan pembinaan kawasan dan masyarekanya yang berhubungan dengan salah satu
organisasi fungsional Departemen Kehutanan dan Perkebunan, yaitu Direktorat Jenderal
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.
Materi Pelengkap Krida Binawana = -1-C. Ruang Lingkup
Pelaksanaan operasional Krida Binawana ditentukan melalui upaya pokok dan langkah-
langkah yang dijabarkan ke dalam Syarat Kecakapan Khusus (SKK) dan Tanda
Kecakapan Khusus (TKK) yang terdiri dari:
Konservasi tanah dan air
Perbenihan
Pembibitan
Penanaman dan Pemeliharaan
Perlebahan
Budidaya Jamur
Persuteraan alam.
Nayvsenye
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -2-I. MATERI PEMAHAMAN SKK/TKK KRIDA BINA WANA
A. KONSERVASI TANAH DAN AIR
Umum
a
Pengertian
1) Konservasi tanah adalah upaya untuk memelihara, meningkatkan dan atau
memperbaiki kondisi tanah agar berdaya guna secara optimum sesuai
peruntukannya.
2) Tanah adalah tubuh alam bebas sebagai hasil pelapukan batuan, yang
menduduki sebagian besar permukaan bumi_ dan berfungsi sebagai habitat
tumbuh-tumbuhan, pengatur tata air, serta tempat melangsungkan kehidupan
bagi makhluk lainnya.
3) Erosi adalah peristiwa pindah atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah
dari satu tempat ke tempat yang lain oleh media alami terutama air.
4) Tanah rusak atau tanah kritis adalah tanah yang keadaan fisik mavipun
kimiawinya telah rusak sehingga tidak mampu lagi berfungsi optimal baik
sebagai unsur produksi maupun pengatur tata air.
5) Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu dengan bentuk dan
sifat alamnya, sehingga merupakan kesatuan dengan singai yang melalui
daerah tersebut dalam fungsi untuk menampung air yang berasal dari curah
hujan dan sumber air lainnya, penyimpanan serta pengalirannya dihimpun dan
ditata berdasarkan hukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah
tersebut.
6) Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkan- nya
melalui anak sungai ke sungai utama.
7) DAS bagian hulu adalah bagian DAS yang mempunyai fungsi perlindungan
terhadap DAS bagian hilir atau daerah yang terancam kerusakan oleh bahaya
erosi, yaitu areal yang mempunyai kelerengan 8% atau lebih.
Tanah dan Proses Pembentukannya
Pembentukan tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu :
1) Iktim
Komponen iklim yang utama dalam pembentukan tanah adalah curah hujan dan
temperatur (suhu). Curah hujan akan menyebabkan unsur-ungur kimia tercuci
dan terlarut, kemudian terbawa ke dalam lapisan tanah. g temperatur
akan memperbesar gerakan air dalam tanah. Di sampi temperatur juga
akan mempercepat reaksi kimia dalam tanah.
2) Bahan induk
Sifat-sifat bahan induk yang berpengaruh terhadap pembentukan tanah antara
lain tekstur bahan induk, permeabilitas (daya serap) bahan induk, dan jenis
mineral yang dikandungnya. Adanya perbedaan sifat bahan induk tersebut
menyebabkan tanah yang terbentuk berlainan (misalnya berwama merah, abu-
abu dan lainnya).
Materi Pelengkap Krida Binawana — -3-3)
4)
Makhluk hidup
Semua makhluk hidup baik pada waktu hidupnya maupun sesudah mati
mempunyai pengaruh terhadap pembentukan tanah: Diantara makhluk yang
paling berpengaruh adalah vegetasi (tanaman) karena vegetasi berkedudukan
tetap untuk jangka waktu lama, Di samping itu jasad renik (mikro orgenisme)
dalam nah juga mempunyai peranan yang sangat penting terutama dalam
proses pelapukan, pembentukan humus dan perubahan bentuk unsur-unsur
kimia.
Topografi
Topografi dapat mempercepat atau memperlambat kegiatan iklim. Pada tanah
datar kecepatan aliran lebih kecil dibanding ‘pada tanah berlereng, sehingga
pada tanah yang berlereng sering terérosi.
Waktu
Lamanya bahan induk mengalami pelapukan dan perkembangan tanah
berperanan dalam menentukan jenis tanah yang terbentuk. Di daerah tropis
seperti Indonesia, pembentukan tanah dari bahan induk berupa abu gunung
berlangsung lebih cepat, sehingga dalam waktu 14 tahun sudah terbentuk tanah
yang subur.
Dalam pembentukan tanah maka kelima faktor pembentuk tanah tersebut di atas
bekerja secara bersama-sama melalui proses pelapukan dan perkembangan tanah.
‘Secara sederhana proses pembentukan tanah dapat diterangkan sebagai berikut:
)
2
3)
4)
)
Batuan induk belum mengalami pelapukan.
Batuan induk mulai mengalami pelapukan baik secara fisika’ maupun secara
kimia.
Pelapukan fisika atau desintegrasi yaitu penghancuran batuan induk tanpa
perubahan kimia.
Batuan induk yang tersusun atas mineral-mineral yang berlainan, mempunyai
kemampuan mengembang dan mengkerut berlainan yang apabila terkena panas
sinar matahari pada siang hari akan memuai dan pada malam hari akan
mengkerut, sehingga lambat laun batuan akan peceh.
Pelapukan kimia atau dekomposisi yaitu perubahan susunan kimia dari batuan
induknya yang disebabkan oleh proses susunan kimia seperti senyawa organik
hasil metabolisme akar, aktivitas mikroba tanah. Dalam kenyataannya proses
pelapukan fisika dan kimia bekerja secara bersamaan dan sukar dibedakan.
roses pelapukan dalam taraf optimal.
Proses pelapukan dalam taraf lanjut’ sehingga kecepatannya sudah mulai
berkurang.
Proses perkembangan tanah, yakni antara lain berlangsung sangat lambat sekali
berkisar 0,2 - 1 mm dalam setahun.
Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah merupakan hal yang penting sebagai salah satu syarat pertumbuhan
‘tanaman dan salah satu unsur penentuan kualitas (mutu) tanah.
Materi Pelengkap Krida Binawana 4Standar hidup manusia sering ditentukan oleh kualitas tanah dan tumbub-tumbuhan
serta hewan yang hidup diatasnya.
Kesuburan tanah dibedakan atas :
1) Kesuburan fisika yang ditentukan oleh sifat-sifat antara lain tekstur, struktur,
permeabilitas, aerasi, pori-pori tanah dll.
2) Kesuburan kimia yang ditentuken oleh keadaan kimia tanah seperti unsur hara,
bahan organik, PH dll.
Kedua macam kesuburan tersebut tidak boleh dipisahkan karena saling
mempengaruhi dan dibutuhkan bagi persyaratan pertumbuhan tanaman.
Kesuburan fisika memungkinkan akar-akar tanaman bergerak dengan leluasa,
sedang kesuburan kimia berperan sebagai penyedia unsur hara yang dibutuhkan
tanaman.
Kesuburan tanah di lapangan dapat diamati dengan tanda-tanda sebagai berikut :
1) Tanah subur biasanya permukean atasnya berwama gelap/kelam karena banyak
mengandung bahan organik, tanaman yang ada kelihatan subur.
2) Tanah yang tidak subur biasanya permukaannya berwarna terang (muda),
berbatu-batu, kering, tanaman yang ada kelihatan merana (tidak segar ).
Kerusakan Tanah
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran terutama masyarakat petani mengenai
Konservasi tanah, menyebabkan pemanfaatan tanah dilakukan dengan cara-cara
yang kurang bijaksana, seperti usaha tani pada tempat terjal, dll.
Terjadinya kerusakan tanah (dikenal dengan tanah kritis) tersebut menyebabkan
turunnya produktivitas tanah, juga sewaktu-waktu dapat menimbulkan banjir di
musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau.
‘Untuk memudahkan pemahaman hubungan antara tanah kritis dan bencana alam
seperti banjir, sedimentasi dan kekeringan, digambarkan_ siklus hidrologi sebagai
berikut :
Dalam keadaan alami yang tidak terganggu maka dalam satu Sub DAS/DAS
(Daerah Aliran Sungai), dapat diperkirakan tidak akan muncul adanya bencana,
Karena umumnya DAS di bagian hulu masih mempunyai butan yang lebat yang
mempunyai fungsi perlindungan untuk DAS bagian hilir, disamping itu saluran
alami_ seperti sungai dan alur-alur masih mampu menampung jumlah air hujan.
Sehingga apabila hujan turun, butir-butir air hujan yang mempunyai tenaga yang
sangat besar terlebih dahulu tertahan oleh daun, kemudian sebagian turun melalui
ranting-ranting dan secara aman diresapkan ke dalam tanah sebagai air infiltrasi,
selanjutnya masuk terus ke lapisan tanah sebagai air perkolasi yang akhimya akan
membentuk air tanah. Air tanah inilah yang akan membentuk mata air. Air yang
tidak dapat diresapkan ke dalam tanah akan mengalir sebagai aliran permukaan
kemudian ditampung oleh saluran-saluran alami dai akhimya mengalir secara aman
ke laut.
NS
Materi Pelengkap Krida Binawana -5-‘Namun epotila kessimbangan ekosistem terganggu, misalnya karena hutan-hutan
ditebangi sehingga menjadi gundul, maka apabila turun hujan, butir-butir air hujan
akan fangsung’jatuh kepermukaan tanah. Akibatnya butir-butir tanah akan pecah
dan mudah hanyut bersama aliran permukaan, sehingga air yang dapat diresapkan ke
dalam tanah berkurang karena permukaan tanah menjadi tersumbat oleh partikel-
partiker tanah. Aliran permukaan yang mengandving banyak butir-butir tanah tadi
akan mengalir melalui saluran-saluran alami yang mengakibatkan fungsi saluran
alami tersebut semakin berkurang karena terjadi sedimentasi.
Keadaan yang demikian inilah yang berbahaya, Apabila suatu’ saat terjadi hujan
terutama hujan lebat, karena jumlah air hujan tidak mampo lagi tertampung oleh
saluran alami yang sudah berkurang kapasitasnya akhimya terjadilah banjir di
daerah hilit.
Disamping itu-aliran permukaan akan mengakibatkan tanah menjadi gersang dan
kurus karena banyak kehilangan bahan organik atau humus. Keadaan demikian
apabila berlangsung terus menerus akan menyebabkan terjadinya alur-alur, parit-
parit dan kemudian berkembang menjadi jurang,
Erosi dan Pencegahannya
1) Erosi
Erosi adalah peristiwa pindah atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah
dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami, yaitu oleh air atau angin.
Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air
ditimbulkan oleh air. Indonesia yang terletak di daerah yang beriklim tropika
basah, erosi oleh air merupakan faktor. penyebab utama terjadinya kerusakan
tanah. Oleh sebab itu maka pembahasan selanjutnya akan berpusat pada
masalah erosi oleh air.
Dua macam erosi yang utama yaitu erosi normal dan erosi dipercepat. Erosi
normal disebut juga erosi geologi atau erosi alami merupakan proses-proses
pengangkutan tanah yang terjadi di bawah keadaan vegetasi alami. Biasanya
terjadi dengan laju yang lambat schingga memungkinkan terbentuknya tanah
yang tebal yang mendukung pertumbuhan vegetasi secara normal. Erosi
dipercepat adalah peiindahan/pengangkutan tanah yang menimbutkan
kerusakan tanah “sebagai akibat perbuatan manusia yang mengganggu
‘keseimbangan antara proses pembentukan dan pengangkutan tanah. Meskipun
kedua macam erosi tersebut dikenal, tetapi hanya erosi dipercepat yang menjadi
perhatian konservasi tanah dan dalam pembahasan selanjutnya dipergunakan
istilah erosi.
Materi Pelengkap Krida Binawara ” -6.‘Menurut bentuknya erosi dibedakan menjadi :
a)
b)
9
a)
Erosi’ percikan (splash erosion) yaitu apabila butir air hujan jatuh dan
merusak agregat tanah schingga menjadi partikel-partikel tanah tunggal.
Erosi permukaan (sheet erosion) yaitu perkembangan lebih lanjut erosi
percikan. Dalam taraf ini lapisan tanah atas sudah mulai terkikis, yang
apabila terjadi secara terus menerus akan menurunkan kesuburan tanah.
Erosi alur (riil erosion), terjadi karena air terkonsentrasi dan mengalir pada
tempat-tempat tertentu di permukaan tanah sehingga pemindahan tanah
lebih banyak terjadi pada tempat tersebut. Alur-alur yang terbentuk masih
dangkal dan dapat dihilangkan dengan pengolahan tanah biasa.
Erosi parit (gully erosion) yaitu perkembangan dari erosi alur. Dalam taraf
ini telah terbentuk parit-parit erosi yang cukup dalam dengan bentuk V dan
UL
Untuk mengetahui besamnya kehilangan tanah akibat terjadinya erosi dapat
dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :
a)
b)
Cara visual, dengan pengamatan langsung di lapangan. Besarnya erdsi
dinyatakan dalam ringan, sedang dan berat, yang ditunjukkan dengan ciri-
ciri sebagai berikut :
(1) Ringan, dengan tanda-tanda tanaman yang tumbuh tampak kurang
segar dengan warna daun agak pucat karena mengalami kekurangan
unsur hara, produksi (hasil) pertanian semakin menurun, dan wama
tanah agak cerah karena mulai kehilangan bahan organik atau humus.
Sedang, dengan tanda-tanda tanaman yang tumbuh kerdil karena bahan
organik atau humus telah banyak hilang, produksi (hasil) pertanian
. sangat sedikit, warna tanah cerah. atau pucat dan dijumpai alur-alur
erosi.
(3) Berat, dengan tanda-tanda lapisan tanah tipis, banyak dijumpai batu-
batuan di permukaan tanah, hanya tumbuhan tertentu yang mampu
tumbuh di daerah tersebut misalnya tumbuhan paku-pakuan.
Cara perhitungan/perkiraan besarnya erosi secara sederhana dilakukan
dengan pendekatan perkiraan melalui tanaman/pohon atau bangunan-
bangunan permanen, yaitu dengan tahapan sebagai berikut:
(1) Carilah tanaman keras atau pohon yang sudah besar, usahakan di
daerah yang banyak mengalami erosi.
(2) Amati keadaan akar yang berada di atas permukaan tanah, kemudian
ukur tinggi mulai dari pangkal akar sampai permukaan tanah, misalnya
10cm.
(3) Perkirakan umur tanaman atau pohon tersebut atau tanyakan kepada
masyarakat setempat, misalnya 20 tahun, maka erosi yang terjadi
adalah 10 cm dalam 20 tahun = Smm/tahun.
Q)
Materi Pelengkap Krida Binawana -7-10CM
iL. Perkiraan eros? per tahun.
2) Cara pencegahan erosi pada lahian usaha tani.
Dalam usaha tani di lahan kering yang berlereng, maka cara-cara mencegah
erosi harus dilaksanakan secara terpadu, yang meliputi kombinasi beberapa
teknik konservasi tanah dengan cara :
a) Melaksanakan usaha tani sesuai dengan kondisi lahannya, yaitu :
(1) Pada lahan dengan kemiringan > 45%, ditanami dengan tanaman
keras/tanaman perlindungan.
(2) Pada lahan dengan kemiringan 45% - 25%, usaha tani dengan sistem
agroforestry disertai pembuatan teras gulud/kredit (pada usaha tani
tanaman keras), teras bangku (pada usaha tani tanaman semusim).
G) Pada lahan dengan kemiringan < 25%, usaha tani tanaman semusim
disertai usaha konservasi tanah, yaitu pembuatan teras bangku, saluran
pembuangan air dan bangunan terjunan.
b) Mengatur sistem penanamannya, yaitu :
(1) Pola tanam tumpang gilir dengan berbagai jenis tanaman untuk
mencegah kegagalan dan dapat menutup lahan.
(2)Penanaman sepanjang tahun.
(3) Pengaturan tata letak yang baik, sehingga tanaman dapat tumbuh
dengan baik dan menutup tanah serapat mungkin, dan tanah terhindar
dari pukulan air hujan.
(4) Pengaturan tata waktu tanam, sehingga tanaman memperoleh air yang
cukup dan dapat menutup tanah sepanjang tahun.
2. Metode Konservasi Tanah dan Air
Upaya konservasi tanah sering dikenal dengan konservasi tanah dan air karena apabila
tanah kritis telah dilakukan Konservasi sehingga kondisinya menjadi baik maka tanah
tersebut akan mampu berfungsi sebagai penyimpan ait/pengatur tata air. Upaya
‘Materi Pelengkap Krida Binawana - -8-konservasi
tanah dapat dilakukan dengan berbagai metode, namun dalam
pelaksanaannya dibedakan menjadi 3 metode sebagai berikut :
a. Metode vegetatif
Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan dan sisa-sisanya
untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan daya rusak
Mame vegetatif antara lain :
1) Kebur rakyat,
a)
b)
°)
d)
Pengertian
Kebun rakyat ialah penanaman pohon kayu-kayuan atau campuran antara
kayu-kayuan, pohon buah-buahan, dan ‘tanaman industri di lahan kritis
sebagai upaya untuk perbaikan, perlindungan dan pemanfaatan: lahan
tersebut,
‘Sasaran
(1) Lahan kritis dengan kemiringan 0-50% yang digunakan untuk
pertanian tanaman semusim.
(2) {ahan kritis yang memerlukan konservasi tanah.
Manfaat
Dapat menghasilkan kaye (pertukangan atau kayu bakar), hijauan makanan
temak, buah-buahan, Komoditi perdagangan, pupuk hijau dan menunjang
konservasi tanah dan air.
Syarat jenis tanaman
(1) Jenis kayu, jenis buah-buahan serta jenis tanaman keras lainnya yang
ditanam sebagai tanaman pokok, i utamakan jenis pionir yang
mempunyai sifat :
(@) Persyaratan tumbuh tanaman yang sesuai dengan keadaan
lokasinya baik iklim maupun tanahnya.
(b) Mempunyai nilai ekonomis yang baik di masa mendatang serta
disukai oleh masyarakat setempat.
(c) Dalam waktu yang tidak terlaly lama dapat diperoleh hasilnya.
(2) Jenis tanaman pokok yang dipilih antara lain :
(@) Kayu-kayuan seperti : akasia, albizia, mahoni, bambu, pinus,
sungkai, suren.
(b) Buah-buahan seperti : mangga, mlinjo, nangka, durian, rambut-
an, petai, jambu mete, jengkol, kluwih.
2) Hutan rakyat.
a)
»)
Pengertian
Adalah usaha pembuatan hutan di areal kritis milik sakyat yang
ditelantarkan, atau tanah desa.
Sasaran
(2) Lahan milik/marga dengan kemiringan lereng > 50%.
(2) Lahan milik/marga yang ditelantarkan.
Materi Pelengkap Krida Binawana -9-3)
°)
4)
@) Lahan milik/marga yang secara ekonomis lebih menguntungkan jika
diusahakan sebagai hutan.
(4) Laban milik/marga yang karena pertimbangan khusus (misalnya untuk,
perlindungan mata air, bangunan air) perlu dijadikan hutan.
Manfaat
Dapat menghasilkan kayu pertukangan, kayu bakar, bahan baku industri
dan menunjang konservasi tanah dan air.
Syarat jenis tanaman.
(1) Jenis kayu-kayuan diutamakan jenis pionir yang mempunyai sifat sama
untuk kebun rakyat.
(2) Jenis kayu-kayuan yang dipilih antara lain :
(a) Jenis kayu perkakas seperti : jati, mahoni, suren, sungkai, albizia.
(b) Jenis kayu industri seperti : pinus, eucalyptus, agathis, albizia.
(©) Jenis kayu bakar seperti : akasia, kaliandra, glyrisidea, lamtoro.
Penghijauan lingkungan.
a)
b)
°)
Pengertian
Adalah kegiatan khusus penghijauan yang bertujuan mengelola
vegetasi_kayu (pohon) bagi Kepentingan Kesejahteraan masyarakat,
Kegiatan penghijauan lingkungan dapat berupa jalur hijau, tamen hutan
atau penanaman pohon-pohon di pekarangan.
Sasaran
(1) Menciptakan keserasian tata ruang lingkungan pusat industri,
perdagangan dan pemukiman.
(2) Menciptakan paru-paru kota, sebagai penghasil udara segar.
(3) Menciptakan keindahan lingkungan yang sehat dan nyaman.
(4) Menciptakan Iahan konservasi yang mempunyai manfeat serba guna
antara lain :
(@) Pengawetan air tanah.
(b) Memperbaiki kondisi lingkungan yang diakibatkan faktor iklim.
(©) Merupakan habitat bagi kehidupan, terutama satwa burung.
(5) Menciptakan tempat pendidikan, penelitian dan rekreasi yang beraspek
lingkungan.
Lokasi
(1) Jalur hijau merupakan taman hutan konservasi yang fungsi pokoknya
melindungi lahan dan pengendali kelestarian tanah dan tata air.
Lokasi jalur hijau antara lain :
(@) Lahan yang terletak di sepanjang sungai utama dan Jahan dengan
kemiringan tertentu.
(b) Tanggul atau talud waduk atau empang buatan, saluran banjir
(kanal) dan anak sungai utama,
(©) Jalur penyangga pantai:
@) Jalur jalan umum dan jalan kereta api.
(2) Hutan kota.
(@) Hutan kota pemukiman,
Materi Pelengkap Krida Binawana = -10-4
5)
Peranan hutan ini ialah membantu menciptakan lingkungan udara
segar dan sehat serta menambah keindahan lingkungan
pemukiman. .
‘Hutan kota kawasan industri.
Peranan hutan ini ialah menghadang polutan-polutan yang
dilepaskan oleh kompleks industri ke udara agar tidak
mengganggu lingkungan sekitarnya, serta menyegarkan udara.
(c) Hutan kota wisata.
Peranan hutan ini ialah untuk sarana penduduk kota dalam
memenuhi kebutuhannya akan rekreasi dan berbagai bentuk
wisata.
(4) Hutan kota lainnya.
d) Jenis tanaman.
Persyaratan yang perlu diperhatikan antara lain :
(1) Syarat umum adalah tidak gugur daun, estetis, cukup rimbun.
(2) Syarat khusus :
(@) Berbunga.
(b) Tahan pangkas.
(©) Buah/biji pakan burung.
(3) Jenis tanaman :
(a) Tanaman pelindung untuk jalur hijau, antara lain angsana,
cemara, kenanga, tanjung, kemuning, cempaka dan lain-lain.
(b) Jenis tanaman pekarangan, antara lain mangga, rambutan, pala,
kelapa, cengkeh dan lain-lain.
(© Jenis tanaman hutan bukan daerah rawa, antara lain pinus,
mahoni, eboni, keben, sonokeling.
(@) Jenis tanaman hutan di daerah air payau, antara lain kayu bakar,
kayu api-api, cemara laut, ketapang, bruguera dan lain-lain.
Penanaman saluran-saluran pembuangan air dengan rumput dan penanaman
tanaman penguat teras.
Jenis tanaman penguat teras yang dipilih adalah jenis tanaman tahunan yang
memenuhi persyaratan :
a) Mempunyai perakaran kuat, dalam dan intensif.
b) Taban pangkas.
©) Bemilai ekonomis.
d) Memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.
Jenis tanaman penguat teras antara lain : kaliandra, lamtoro, acacia villosa,
glyricidea, murbei, rumput.
Pergiliran tanaman dengan tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah.
Adalah sistem penanaman dengan berbagai tanaman secara bergilir dalam
urutan waktu tertentu pada suatu bidang tanah.
Penanaman dalam strip/alur. .
Adalah suatu sistem bercocok tanam dengan beberapa jenis tanaman ditanam
dalam strip-strip yang berselang seling pada sebidang tanah dan disusun
memotong lereng atau menurut garis kontur.
)
Materi Pelengkap Krida Binawana -11-7) +Pemanfaatan sisa-sisa tanaman.
Penggunaan sisa-sisa tanaman konservasi tanah dalam bentuk mulsa atau pupuk
hijau. Dengan mulsa yaitu daun atau batang tumbuhan disebarkan diatas
permukean tanah, sedang dengan pupuk hijau yaitu sisa-sisa tanaman
dipendamkan ke dalam tanah.
b. Metode teknik sipil.
Cara ini dilakukan dengan membuat bangunan-bangunan sipil teknis antara lain:
1) Terasering.
Teras ialah bangunan konservasi yang dibuat dengan penggalian dan
pengurugan tanah, membentuk bangunan utama berupa bidang olah, guludan
dan saluran air yang mengikuti kontur, serta dapat pula dilengkapi dengan
bangunan pelengkapnya seperti saluran pembuangan air (SPA) dan terjunan air
yang tegak lurus kontur.
Sasaran fisik pembuatan teras adalah lahan. yang dimanfaatkan secara
intensif/terus menerus untuk penanaman tanaman semusim dan/atau tanaman
tahunan, dengan kemiringan lahan yang bervariasi menurut sifat fisika tanah
dan kondisi iklim setempat.
Manfaat teras adalah :
a) Mengurangi kecepatan aliran permukaan schingga daya kikis terhadap
tanah dan erosi diperkecil.
b) Memperbesar peresapan air ke dalam tanah.
©) Menampung dan mengendalikan kecepatan dan arah aliran permukaan
menuju ke tempat yang lebih rendah secara aman.
Jenis-jenis teras
a) Teras Datar
Teras datar merupakan bangunan konservasi tanah berupa tanggul tanah
sejajar kontur, dilengkapi saluran di atas dan di bawah tanggul. Dibuat pada
Jahan dengan kemiringan kurang dari 3%. Bidang olah tidak diubah dari
kelerengan permukaan tanah asli.
|
ceca A SATIS
Gambar 2, Penampang melintang teras datar
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -12-b)
°)
Pembuatani Teras Datar :
(1) Tanah digali menurut garis kontur dan tanah galiannya ditimbunkan ke
tepi luar.
(2) Guludan yang terjadi ditanami rumput.
‘Teras Kredit
Teras kredit merupakan bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah
atau batu sejajar kontur, bidang olah tidak diubah dari kelerangan
permukaann tanah asli. Dibuat pada lahan dengan topografi landai sampai
bergelombang, dengan kemiringan lereng 3 - 10%. Kedalaman lapisan olah
tanah kurang dari 30 cm.
can ign
is TE
ne fete
Gambar 3. Penampang melintang teras kredit
Pembuatan Teras Kredit :
(1) Persiapan: di lapangan dilakukan dengan memancangkan patok-patok
menurut garis kontur dengan menggunakan waterpas sederhana. Jarak
patok dalam baris 5 m dan jarak antar baris 5 - 12 m.
(2) Pembuatan bangunan teras berupa guludan tanah atau batu yang
arahnya sejajar garis kontur.
(3) Penanaman tanaman penguat teras secara rapat disepanjang guludan
tersebut di atas. Jenis tanaman penguat teras sebaiknya jenis kayu-
kayuan yang ditanam dengan benih/biji secara merata.
Pemeliharaan Teras Kredit
Untuk mempercepat terbentuknya teras kredit; maka pada setiap saat
pengolahan tanah dilakukan :
(1) Menarik tanah dari sebelah atas larikan ke arah larikan tanaman
penguat teras dan memperbaiki guludan sepanjang larikan tanaman
dengan tanah, serasah atau batu.
(2) Memelihara tanaman penguat teras (menyulam, memupuk,
memangkas).
Teras Gulud
Teras gulud merupakan bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah
dani selokan/saluran air, di bagian atas guludan besar terdapat satu atau
beberapa guludan kecil yang dibuat sejajar kontur, bidang olah tidak diubah
dari kelerangan permukaan tanah asli, yang dilengkapi dengan pembuatan
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -13-4)
‘SPA dan bangunan terjunan tegak lurus kontur. Dibuat pada lahan dengan
kemiringan lereng 10-15% dengan kedalaman Japisan olah tanah bisa
dalam atau dangkal.
aun teot ,
fate +
eens heh sani"
x ulin a
ren
eh 2
rq.
ue
Gambar 4. Penampang melintang teras gulud
Pembuatan Teras Gulud :
(1) Persiapan di lapangan dilakukan dengan memancangkan ptok-patok
menurut garis kontur dengan menggunakan ondol-ondol dan atau
waterpas sederhana. jarak patok dalam baris 5 m dan jarak antar baris
rata-rata 10 m (sama dengan jarak antara dua guludan).
(2) Pembuatan selokan teras dilakukan dengan menggali tanah mengikuti
arah larikan patok. Ukuran selokan teras : dalam 30 cm, lebar bawah
20 cm dan lebar atas 50 cm.
(3) Tanah hasil galian pada pembuatan selokan teras'ditimbunkan di tepi
Iuar (baigan bawah saluran) schingga membentuk guludan dengan
ukuran : lebar atas 20 cm, lebar bawah 50 cm dan tinggi 30 cm.
Guludan dan selokan dibuat tegak Iurus garis kontur. Pembuatan teras
dimulai dari bagian atas lereng,
(4) Penanaman tanaman penguat teras pada guludan. Jenis tanaman
penguat teras dapat berupa :
(a) Jenis kayu-kayuan yang ditanam dengan jarak 50 cm apabila
digunakan . stek/stumps, atau ditabur merata jika digunakan
benih/biji.
(b) Jenis rumput dengan jarak tanam 30-50cm, tergantung pada jenis
Tumput.
Pemeliharaan Teras Gulud :
(1) Mengeruk tanah akibat erosi yang menimbun selokan teras untuk
digunakan memperbaiki guludan,
(2) Memperbaiki guiudan dan memelihara tanaman penguat teras.
Teras Bangku
Teras bangku merupakan bangunan konservasi tanah yang dibuat
sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang dan dilengkapi
bangunan teras lainnya berupa selokan/saluran air, SPA dan bangunan
terjunan, untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman
dan terkendali.
Materi Pelengkap Krida Binawana-14-Faktor yang diperhatikan dalam membuat Teras Bangku
1. Kelerengan 15% atau lebih
Toras dibuat sejajar kontour
Tinggiteras (interval tinggi) berdasarkan alas kelerengan
Bidang olah dibuat miring ke dalam (1-3 %)
‘Tinggi guiudan teres » 20 cm dan lebar dasar 20 em,
Tampingan teras ditonami rumput, sebagai penguat teros
(Rumput Gajah, Brachirla Brizantha, Setria, Voliwec/Akar wang! cl
arene
Gambar 5, Teras Bangku dan Saluran Pengendali Air.
Dibuat pada lahan yang digarap intensif untuk tanaman semusim dengan
kemiringan Jahan 10-30% dan tebal tanah lapisan olah lebih dari 30 cm,
terutama pada lahan yang tererosi berat dan berlangsung terus menerus.
Pembuatan teras bangku tidak disarankan pada jenis tanah pasir yang
porous (misalnya regosol muda).
Pembuatan bangunan teras :
(1) Membuat arah teras dengan menggali tanah sepanjang larikan patok
pembantu.
(2) Memisahkan lapisan tanah bagian atas yang subur (lapisan olah)
dengan jalan mengeruk dan menimbunkannya sementara di sebelah
kir/kanan di tempat tertentu,
(B) Menggali tanah yang lapisan olahnya sudah dikerak mulai dari deretan
patok pembantu sebelah atas sampai kepada deretan patok as, dengan
bentuk galian seperti pada gambar 7. di atas. Tanah galian ditimbun ke
lereng sebelah bawah patok as sampai ke deretan patok pembantu di
sebelah bawah.
Materi Pelengkap Krida Binawana -15-°)
(4) Tanah timbunan (urugan) dipadatkan dengan cara diinjak-injak.Per-
mukaan bidang olah teras dibuat miring ke arah dalam sebesar + 1%.
(5) Tanah lapisan olah yang semula ditempatkan di tempat tertentu,
ditaburkan kembali secara merata di atas bidang olah yang telah
terbentuk.
(6 Pada ujung teras bagian luar (bibir teras) dibuat guludan setinggi 20cm
dan lebar 20 cm. Dibagian dalam teras dibuat selokan selebar 20 cm
dan dalam 10 cm. Dasar selokan teras harus lebih tinggi 50 cm dari
tinggi dasar saluran pembuangan air.
(7) Talud teras dibuat dengan kemiringan 2 : | atau 1 : 1 tergantung pad
kondisi tanah. Talud bagian ates (bagian urugan) ditanami rumput
makanan ternak atau jenis tanaman penguat teras yang lain.
Pemeliharaan Teras Bangku :
(1) Mengeruk tanah yang menimbun (menutup) selokan teras.
(2) Memelihara guludan dan talud dengan cara memperbaiki bagian yang
k
longsor.
(3) Menyulam dan memangkas tanaman penguat teras dan tanaman talud.
Teras Kebun
Teras kebun merupakan bangunan konservasi tanalt berupa teras yang
dibuat hanya pada bagian lahan yang akan ditanami tanaman tertentu,
dibuat sejajar kontur dan membiarkan bagian lainnya tetap seperti keadaan
semula yang biasanya ditanami tanaman penutup tanah.
Dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 10 - 30%, tetapi dapat
dilakukan sampai kemiringan 50% pada kondisi tanah.cukup stabil/tidak
mudah longsor. Kedalaman lapisan olah tanah > 30%.
Pembuatan Teras Kebun
Cara pembuatan teras kebun pada dasarmya sama dengan pembuatan teras
‘bangku dengan lebar seperlunya. Pengolahan tanah pada bidang olah teras
hanya dilakukan pada tempat-tempat dengan jarak tertentu yaitu tempat
Tubang tanaman, Talud teras ditanami tanaman penutup tanah atau ramput.
Persiapan di lapangan :
(1) Patok induk dipasang mengikuti lereng (tegak lurus kontur) dengan
nomor kode 1, 2, 3, dst. Jarak antara 2 patok induk disesuaikan dengan
rencana jarak tanam, pemasangan dimulai dari bagian atas lereng.
(2) Patok pembantu merupakan patok batas galian tanah, dengan nomor
kode IA, IB, IC dst, masing-masing dipasang di kanan - Kiri patok
induk, demikian seterusnya. Untuk menentukan letak patok pembantu
digunakan waterpas sederhana agar arahnya sejajar garis kontur. Jarak
_ antara 2 patok dianjurkan 5 m atau sesuai dengan rencana jarak tanam
© dalam lajur.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana-16-TsaaKebwn
1. Teras kebun dibuat pads tahan dengan kembingan 30-50% yong
‘peda umurmnya dltzkukan pads lahah yang belum ads terasnya
dn drancanakan untuk areal pensnaman bush-bushen,
2, Pembuatan ters hanya dlakukan pads ahr tenamen,sthkigge
‘pods areal tersebultfetdapalLanah yng Udak teres dan dllutup,
dengan Yegelas! penctup tanah,
3. Lebar bidang olsh 1.5m. «
4Cdarok terds satu dengan atonya $9 {0m,
Teras int batk untuk mete dan tanamian bush-bushabn yang isin
ago tanah tidak everest, Mete membuluhken nah yang lenggar
{selatudloah) sehingga mudch erefoat
{target
2 Ugur tor
“2. Setanta
ne) 4: Teeven plop tpogsa
4: Letong naman
Gatun task
Gambar 6, Penampang melintang teras kebun.
(3) Di bawah patok pembantu dipasang patok batas timbunan dengan
nomor kode 1a, 1b, 1c dst yang sejajar patok pembantu nomor kode
TA, IB, IC dst, demikian pula nomor-nomor kode berikutnya. Jarak
antara patok pembantu dan patok batas timbunan + 1,5 m dan jarak
antara 2 batas timbunan 5 m.
Pembuatan bangunan teras :
(1) Buat batas galian dengan menghubungkan patok-patok pembantu
melalui pencangkulan tanah.
(2) Gali tanah di bagian bawah batas galian dan timbunkan ke bagian
bawah sampai patok batas timbunan.
(3) Tanah urugan dipadatkan dan permukaan tanah dibuat miring ke arah
dalam + 1%. .
(4) Talud teras ditanami tanaman penutup tanah atau rumput.
(5) Di bawah talud dibuat selokan teras atau saluran buntu dengan panjang
2m, lebar 20 cm dan dalam 10 cm.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -17-Pemetiharaan Teras Kebun
Memperbaiki bangunan teras yang rusak/longsor, mengeruk timbunan
tanah di selokan teras atau rorak dan membersihkan jalur teras dari
tumbuhan pengganggu.
Teras Individu
Teras individu merupakan bangunan konservasi tanah berupa teras yang
dibuat hanya pada tempat-tempat yang akan ditanami tanaman pokok,
dibuat sejajar kontur dan membiarkan bagian lainnya tetap seperti keadaan
semula yang biasanya ditanami tanaman penutup tanah. Dibuat pada lahan~
dengan kemiringan 10-50% dengan curah hujan rendah. Cocok
direncanakan untuk tanaman tahunan/perkebunan.
leans 7
Kalter:
1. Dibwat pada daerah dengan kemitgan 90-50% yang
‘lrencanskan untuk areal penanaman tanaman bush-buahan
aloukaywkayuan.
2. Teras yang dibual beedit untuk individu tanaman (poker)
sebagallempat pembuatan lubang fanaman,
1. Ukuran teas Indlvidu panjang 2 mlebar 1,5 m lergantung
amasing-masig ends lanaman,
1 Leteng eat
2. Ungan taaah
23 Tanaenan pemlup tenpingen
4. Lubang tanamen
4 alten tana
Gambar 7. Teras Individu.
Materi Pelengkap Krida Binawana -18-Pembuatan Teras Individu
Persiapan di lapangan :
(1) Patok induk dipasang mengikuti lereng (tegak lurus kontur). Jarak
antara 2 patok induk disesuaikan dengan rencana jarak tanam,
pemasangan dimulai dari bagian atas lereng.
(2) Patok pembantu menghubungkan dua patok induk yang berdampingan
pada ketinggian yang sama, masing-masing dipasang di kanan-kiri
patok induk. Untuk menentukan letak patok pembantu digunakan
waterpas sederhana agar arahnya sejajar garis kontur. Jarak antara 2
patok pembantu sesuai dengan rencana jarak tanam dalam lajur.
Pembuatan bangunan teras :
(1) Buat batas galian dengan mencangkul tanah mulai dari bagian bawah
patok pembantu melalui pencangkulan tanah, panjang 2 m.
(2) Gali tanah di bagian bawah batas galian dan timbunkan ke bagian
bawah sehingga membuat bidang datar dengan panjang 2 m dan lebar
+1 matau disesuaikan dengan keperluan tiap jenis tanaman.
(3) Tanah urugan dipadatkan dan di bagian tepi khususnya di bawah
Jereng (bagian timbunan) diberi patok-patok penguat (trucuk).
(4) Tanah di sekeliling teras individu tidak diolah atau ditanami
rumput/tanaman penutup tanah.
Pemeliharaan Teras Individu.
Pemeliharaan teras individu sama seperti pada teras kebun,
2) Saluran Pembuangan Air (SPA)
SPA adalah saluran air yang dibuat tegak lurus arah kontur dengan ukuran
tertentu (sesuai keadaan curah hujan, kemiringan lahan, kecapatan air meresap
ke dalam tanah/jenis tanah) yan diperkuat dengan gebalan rumput.
Bangunan Terjunan Air adalah bangunan terjunan yang dibuat pada tiap jarak
tertentu pada SPA (tergantung kepentingan lahan) yang dapat dibuat dari batu,
kayu atau bam
a
Saluran Diversi adalah saluran pembelok yang dibuat untuk mencegah aliran air
pada permukean tanah dari suatu daerah tangkapan air yang langsung masuk ke
jurang untuk menghindarkan hanyutnya tanah pada tanah-tanah yang mudah
Jongsor.
Sasaran pembuatan diversi yaitu pada lahan-lahan kering.di hulu Daerah Aliran
Sungai (DAS) yang kondisi tanahnya mudah longsor dan karena keadaan curah
hujan dan.iklim setempat memungkinkan petani untuk mengolah sawah tadah
hujan.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana = -19-Kegunaan :
a) SPA untuk mengarahkan aliran air ke tempat yang aman dari erosi jurang
sekaligus meresapkan air ke dalam tanah.
b) Bangunan terjunan air merupakan kelengkapan SPA agar air yang jatuh
pada SPA tidak menyebabkan ecrosi.
) Manfaat saluran diversi adalah untuk mencegah terjadinya tanah longsor
dan untuk pengairan pada areal di bawahnya, misalnya untuk sawah tadah
hujan.
a) Saluran Pembuangan Air (SPA) }
Pembuatan SPA.
Ukuran SPA tergantung dari jumlah curah hujan dan j porositas tanah. Untuk
daerah dengan curah hujan tinggi dan tanahnya kurang porus (sarang),
ukuran SPA : lebar atas 100 cm, lebar bawah 50 cm dan dalam 50 cm.
Saluran air yang dibuat tegak lurus arah
kontur dengan ukuran tertentu (sesuai
keadaan curah hujan, kemiringan, lahan,
kecepatan air meresap ke dalam tanah/jenis
tanah yang diperkuat dengan gebalan
rumput.
Gambar 8. Penampang ‘melintang SPA.
Pembuatan Bangunan SPA
(a) Penggalian tanah sesuai profil yang terbentuk dari patok-patok
pembantu sedalam minimal 50 cm dari bidang olah teras dan lebar ©
dasar 50 cm sesuai rancangan.
(b) Dasar SPA pada teras bangku dibuat dengan kemiringan 0,1 - 0,5 % ke
arah luar sehingga perbedaan tinggi dasar saluran yang berjarak 5 m
adalah 0,5 - 2,5 em.
(c) Setiap jarak 1 m sepanjang SPA ditanami gebalan rumput selebar
20 cm melintang SPA seperti pada Gambar 15.
b) Bangunan Terjunan Air
Pembuatan Bangunan Terjunan Air dan Saluran SPA.
(1) Pemancangan patok-patok disepanjang SPA untuk menentukan letak
terjunan, jarak antara 2 patok disesuaikan dengan lebar bidang olah
teras, Letak bangunan terjunan harus lebih ke dalam dari pada talud
teras dan pada tanah asli (bukan tanah urugan)
Maieri Petengkap Krida Binawana -20-(2) Penggalian tanah menurut patok yang telah dipancang dengan arah
tegak lurus ke bawah sedalam 0,5 - 1, »5.m diukur dari bidang olah.
(3) Pemasangan batu kosong untuk memperkuat bangunan terjunan.
@ bam yang digunakan ‘adalah bate belah dengan diameter rat-rata
&) oat = dipasang mendatar dan masuk ke dalam tanah
(©) struktur pasangan batu kosong kompak.
(4) Pemasangan bambu diatur sebagai berikut :
(@) 2 atau-3 potong bambu bulat ditanam ke dalam tanah 0,5 m,
sedang yang berada dipermukaan saluran dipasang setinggi
bangunan terjunan.
(b) bambu belah dipasang melintang terjunan, Kulit bagian luar bambu
diletakkan di bagian luar.
(©) Pemasangan bambu disusun mulai dari bawah dengan kedua
ujungnya dimasukkan ke dalam bagian kanan-kiri dinding SPA
dan diikatkan pada bambu bulat.
Untuk lebih jelasnya bentuk bangunan tersebut padat dilihat pada
Gambar-gambar di bawah ini.
Gambar 10. Bangunan terjunan dari bambu.
Materi Pelengkap Kride Binawana -21-3»
c) Saluran Diversi.
Pembuatan Saluran Diversi.
Bentuk dan ukuran saluran diversi dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
?
\
Saluran pembclok yang dibuat untuk
mencegah aliran air pada permukaan tanah
dari suatu dacrah tangkapan air yang
longsung = masuk ke jurang untuk
monghindarkan hanyutnya tanah pada tanah-
tanah yang mudah longsor.
Lujuan
© SPA untuk mengarahkan aliran air ke
tempat yang aman dari erosi jurang
sekaligus meresapkan air ke dalam — °™¥K daw ukuran Saluran Diversi
tanah,
. Bangunan terjunan air merupakan
kelengkapan SPA agar air yang jatuh
pada SPA tidak menycbabkan crosi.
Gambar 11. Bentuk dan ukuran Saluran Diversi.
Dam Pengendali/Dam Penahan.
Adalah bangunan berupa bendungan kecil yang dibuat pada alur-alur sungai
kecil. ; .
Beda Dam Pengendali dan Dam Penahan :
a) Dam Pengendali :
(1) bendungan kedap air schingga dapat berfungsi sebagai pengendali
sedimen dan penyimpan air.
(2) dibuat dari urugan tanah.
Materi Pelengkap Krida Binawana | -22-Gambar 12. Dam Pengendali.
b) Dam Penahan :
(1) bendungan lolos air, schingga hanya dapat berfungsi sebagai
penampung lumpur.
(2) dibuat dari susunan batu kosong.
4) Gully control.
Gully control atau pengendali jurang adalah baggunan berupa bendungan kecil
yang dibuat melintang jurang.
5). Perataan (grading)
Biasanya cara ini dilakukan dengan bantuan alat-alahynekanis. Tetapi dapat pula
dilaksanakan secara manual dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti
cangkul, sekop dan lain-lain.
Materi Pelengkap Krida Binawana -23-6) Sumur Resapan Air.
Bangunan sumur resapan air adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air
berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk
sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat
manampung air hujan yang jatuh di atas rumeh atau daerah kedap air dan
meresapkannya ke dalam tanah.
‘Sumur reasapan berfungsi memberikan imbuhan air secara buatan dengan cara
menginjeksikan air bujan ke dalam tanah, dan sasaran lokasinya yaitu daerah
peresapan air di kawasan budi daya, pemukiman, pertokoan, industri, saran dan
prasarana olah raga serta fasilitas umum lainnya.
Manfaat Sumur Resapan Air :
a) Mengurangi aliran permukaan sehingga dapat mencegah/mengurangi
terjadinya banjir dan genangan air.
bd) Mempertahankan dan meningkatkan tinggi permukaan air tanah.
c) Mengurangi erosi dan sedimentasi.
d) Mengurangi/menahan intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan
wilayah pantai.
e) Mencegah penurunan tanah (Land subsidance).
f) Mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah,
Bentuk dan Jenis Bangunan Sumur Resapan Air :
Bangunan Sumur Resapan Air dapat dibuat segi empat atau silinder dengan
kedalaman tertentu dan dasar sumur terletak di atas permukean air tanah.
Berbagai Jenis Konstruksi :
a) Sumur Resapan Air tanpa pasangan didinding sumur, dasar sumur tanpa
diisi batu belah maupun ijuk (kosong).
b) Sumor Resapan Air tanpa pasangan didinding sumur, dasar sumur diisi batu
belah dan ijuk.
c) Sumur Resapan Air dengan susunan batu bata, batu kali atau batako
didinding sumur, dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk atau -
kosong.
4) Sumur Resapan Air menggunakan buis beton didinding sumur.
) Sumur Resapan Air menggunakan blawong (bata cadas yang dibentuk
khusus untuk dinding sumur).
Beberapa macam konstruksi tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan
masing-masing, bergantung pada keadaan batuan/tanah (formasi batuan dan
tekstur tanah).
Pada tanah atau batuan yang relatif stabil, maka konstruksi tanpa diperkuat
dinding sumur dengan dasar sumur diisi batu belah dan ijuk tidak akan .
membahayakan bahkan akan memperlancar meresapnya air melalui celah-celah
bahan isian tersebut.
Materi Petengkap Krida Binswana 24Pada tanah atau batuan yang relatif labil, maka konstruksi dengan susunan batu-
batu/batu kali/batako. untuk memperkuat dinding sumur dengan dasar sumur
diisi batu belah dan ijuk akan lebih baik dan dapat direkomendasikan.
Pada tanah atau batuan yang sangat labil konstruksi dengan menggunakan buis
beton atau blawong dianjurkan meskipun resapan air hanya berlangsung pada
dasar sumur saja, Selain memperhatikan jenis konstruksi yang akan digunakan,
pembuatan bangunan sumur resapan air tergantung pula pada biaya yang
tersedia.
Bangunan pelengkap lainnya yang diperlukan adalah bak kontrol, tutup sumur
resapan dan tutup bak kontrol, saluran masukan dan keluaran/pembuangan
(terbuka atau tertutup) dan talang air (untuk rumah yang bertalang air).
Skema Sumur Resapan.
Atap bertalang.
yt
Bak Kontrol
Keri —¥
uk ——4
Batu Betah$
70
Gann
‘Sumur resapan aur dan atap runah bertalang, tanpa penguat
sumur, dasar sumur diisi bane belah, ijuk dan
Materi Pelengkap Krida Binawana -25-2Sunmur resspem air dari atap numah bertalang dengan penguat
i dinding stmmur, dsr sumur kosong.
Penguat dinding semur
dapat dari bahan
‘Summur resapan air dari atsp rumah tanpa talang. dinding
SSumur tanpa penguct. dasar sumur kosong,
™~c. Metode kimiawi.
Cara ini dilakukan dengan menambahkan bahan organik kedalam tanah sehingga
akan memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah baik kesuburan fisika
maupun kimianya.
Bahan organik ada dua macam yaitu ;
a, Bahan organik alami (humus, seresah dan lain-lain)
b. Bahan organik buatan, Bahan ini dikenal pula dengan istilah soil conditioner
(pembenah tanah) seperti bitunen, lateks dll.
Pengaruh bahan organik dalam tanah sangat besar, terutama dalam pembentukan
agregat dan kemantapan- agregat tanah, juga sebagai penyedia tenaga maupun
Komponen pembentuk tubuh jasad mikrobia tanah.
C. Pembuatan Bangunan Konservasi Tanah dan Air.
1.
Bangunan Konservasi Tanah.
Dari berbagai kegiatan konservasi tanah, kegiatan yang mungkin dapat dilaksanakan
adalah pembuatan bangunan teras bangku mengingat pertimbangan teknik
yang sederhana, bahan dan peralatan yang mudah diperoleh dan efektif dalam
penanggulangan tanah kritis.
a. Perencanaan
1) Pengukuran lapangan
a) Bahan-bahan yang perlu disiapkan :
(1) peta topografi skala 1 : 50.000
(2) peta tata guna tanah skala 1 : 50.000
@G) _ peta administrasi/pemilikan tanah skala 1: 50.000-1: 10.000
(4) alat-alat tulis
(5) patok bambu, cat, tali dan lain-lain.
b) Peralatan yang diperlukan :
(1) alat ukur (Theodolit, Waterpass, Kompas dil)
(2) _ alat pengukur jarak (Range finder, Roli meter dll)
(3) alat pengukur kemiringan tanah (Abney level, clinometer dan
lain-lain)
(4) alat pemetaan dan penggambaran
(5) _alat pengukur Juas (Planimeter dll)
2) Pemilihan lokasi/orientasi lapangan
a) Dengan menggunakan data informasi dan peta-peta, dapat ditentukan
hasil rencana pembuatan bangunan teras.
b) Kemndian dilakukan pemeliharaan/orientasi lapangan (dengan bantuan
aparat desa setempat).
‘Materi Pelengkap Krida Binawana = -27-°)
4)
Identifikasi dan pencatatan lapangan meliputi :
(1) kemiringan tanah (%)
2) status tanah
(3) __ tebal tanah
(4) _ panjang dan kedalaman jurang
(5) formasi batuan
Pemberitahuan kepada aparat pemerintah setempat beserta
penduduknya tentang rencana pembuatan bangunan teras pada lokasi
yang telah ditentukan.
3) Pengukuran dan pemetaan.
Setelah dilakukan pengukuran lapangan yang dicatat dalam buku ukur
kemudian dilakukan penggambaran peta pada kertas milimeter dengan
skala 1 : 1.000 dan kontur interval 1 meter untuk calon lokasi bangunan
teras.
b. Teknik perancangan.
1) Bangunan utama teras
a)
b)
Persyaratan teknis yaitu :
(1) Kelerengan lahan 10-30%, bila keadaan memaksa maksimun 50%.
(2) jeluk tanah 30 cm
(3) type tanah, tanah bukan pasir yang poreus
(4) kerusakan mulai berat
(5) penggunaan tanah untuk tanaman semusim
Kriteria lapangan :
(1) tinggi teras (vertikal interval), ditentukan oleh kemiringan tanah
(%) dan kedalaman lapisan olah tanah (cm).
(2) kedalaman lapisan tanah dipilih dengan kedalaman minimum 0,30
m atau 1,5 vertikal interval (V.1).
(3) lebar bidang olch teras, ditentukan oleh kemiringan tanah, jarak
tanaman yang diusahakan dan cara mé tanah.
(4) kemiringan tampingan teras (talud), didasarkan atas sifat tanah,
terhadap kestabilan timbunan.
(5) kemiringan bervariasi dengan perbandingan vertikal interval dan
horisontal adalah 1:1; 1:0,75; 1:0,5; 3:
(6) ukuran saluran peresapan teras dengan lebar dasar dan dalam
tergantung jenis tanah setempat (20 cm lebar dasar dan dalam 0
cm). Panjang saluran maksimum 50 cm dengan kemiringan 0,1%
kearah SPA.
(7) guludan dengan ukuran lebar dan tinggi 20 cm dan 10 cm.
(8) panjang teras tergantung pada bentuk konfigurasi (topografi) tanah
dan luas pemilikan tanah.
(9)rumus untuk menghitung dimensi teras diambil dari FAO
(Conservation Guide-1) sbb. :
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -28-dimana : V.1._: tinggi teras (m)
S —: kemiringan tanah (%)
Wb: lebar bidang olah teras (m)
1
Ur aneetnnennnanenrnnnnnnnnnnnnanaanenens = Coty
Kemiringan talud
c) Tata letak :
(1) Pada peta detail skala 1 : 1.000, dapat ditentukan bagian
(garis)punggung dan alur (curah) bukit mulai dari hulu ke arah
hilir. Kemudian salah satu garis tersebut dipilih sebagai garis
induk teras.
(2) Sesuai dengan jarak VJ. yang telah dihitung, diukur dan
ditempatkan titik titik induk teras mulai dari titik tertinggi dibagian
hulu ke arah hilir pada garis induk teras.
(3) Mulai dari titik-titik induk teras dapat ditentukan titik-titik
pembantu dengan beda tinggi 0,1% kearah rencana SPA.
(4) Hubungkan titik pembantu dan titik induk teras dengan anak panah
yang menunjukkan arah saluran peresapan.
(5) Tata letak teras kemudian digambarkan pada peta situasi detail 1 :
1.000 dilengkapi dengan penampung terasnya.
2) Saluran Pembuangan Air (SPA)
a) Kriteria rancangan :
(1) Saluran harus dapat menampung dan mengalirkan (run off) yang
berasal dari daerah tangkapan teras.
(2) Saluran dibuat sedemikian rupa schingga terletak dibawah
ketinggian saluran peresapan agar aliran air dari teras dapat masuk
dengan fancar.
(3) Dasar saluran dibuat = agar _aliran tidak =menimbulkan
erosi/gerusan pada bawah saluran. Kemudian pada tempat-tempat
tertentu dibuat bangunan terjunan dengan tinggi teras (V.1.).
(4) Saluran dibuat pada tanah asli dengan cara penggalian (bukan dari
bahan timbunan) kemudian ditutup dengan gabal rumput. Sedang
pada bangunan terjunan perlu dibuat dengan batu atau bahan Iain
yang mudah didapat.
(5) Penampang saluran dibuat berbentuk trapisium terbuka.
(6) Rumus yang digunakan untuk menghitung dimensi saluran-saluran
adalan :
‘Materi Pelengkep Krida Binawana -29-«
dimana Q = debit limpasan(m3/detik)
C= koefisien limpasan, ter-
ganitung jenis tanah, ke-
miringan, penutup tanah
b) Tata letak :
(1) Pada peta detail yang ditinjau ditentukan tempat SPA pada
bagian/garis alur bukit atau batas pemilikan tanah.
(2) Jarak antara saluran satu dengan lainnya tidak boleh lebih dari 100
meter (tergantung topografi dan batas pemilikan tanah).
(3) Tempat terjunan diusahakan antara tampingan dan tengah-tangah
bidang olah teras.
(4) Saluran pembuangan alam (parit, anak-anak sungai) yang aman.
(3) Tata letak saluran digambar pada peta situasi detail skala 1 : 5.000
dilengkapi dengan gambar penampang saluran dan terjunan.
3) Saluran Pengelak
a) Kriteria rancangan :
(1) Saluran ini dibuat untuk mengalirkan sejumlah limpasan di Iuar
daerah teras, agar tidak melimpas dan merusak bangunan teras.
‘Oleh karena itu harus disebelah atas areal teras.
b) Tata letak :
(1) Tempat saluran pengelak ditentukan pada batas bagian atas dari
rencana kegiatan penggarapan tanah untuk keperluan lain.
(2) Arah saluran pengelak mengikut garis tinggi dengan kemiringan
1% kemudian dilanjutkan sampai saluran pembuangan alam.
(3) Tata letak saluran ini digambarkan pada peta situasi detail skala 1 :
1.000 dilengkapi dengan penampang saluran.
Pelaksanaan Pembuatan Teras Bangku
Pembuatan bangunan utama dan bangunan pelengkap sebaiknya dilaksanakan
pada musim kemarau agar pada musim hujan bangunan tersebut dapat berfungsi
dan siap ditanami.
1) Persiapan.
Pengukuran kembali (uitzeetting)
Pengukuran ini diperlukan untuk mencocokkan letak bangunan yang akan
dibuat sesuai rancangan dengan cara mengadakan pematokan kembali :
a) Lokasi penteraan.
b) Batas saluran pembuangan air.
c) Batas saluran pengelak.
d) Batas pemilikan/penggarapan tanah.
2) ~Pemancangan patok-patok teras.
‘Sesuai dengan gambar rancangan, dilakukan pekerjaan :
Materi Pelengkap Krida Binawana -30-3)
4)
a) Memasang patok-patok induk teras mulai dari atas mengikuti lereng
tanah ke bawah dengan beda tinggi (V.L) tertentu yang ditentukan
dengan alat ukur.
Patok-patok ini diberi kode nomor urut I (angka romawi).
b) ~Memasang patok-patok pembantu dengan jarak satu sama lain 5 - 10 m
mengikuti garis kontur mulai dari patok-patok induk teras dengan beda
tinggi berkurang sebesar 0,1% ke arah saluran pembuangan air.
Patok-patok ini diberi kode nomor sama dengan patok induk teras
kemudian diberi nomor induk. Misalnya : II sampai n adalah patok
pembantu dari I sampai n untuk teras ke J. Patok induk dan patok-
Patok pembantu untuk masing-masing teras supaya diberi cat dengan
warna yang sama.
¢) Memasang patok-patok as mengikuti garis kontur dengan jarak satu
sama lain 5-10 m terletak di tengah-tengah antara dua barisan patok-
patok pembantu.
Pemancangan patok-patok saluran.
a) Aluran pembuangan air.
(1) Memasang patok-patok induk sebagai as saluran mengikuti patok
atas uitzeeting mulai dari bagian tanah dan bawah serta pada setiap
tikungan/belokan rencana saluran. Kemudiah pada tempat-tempat
ini dipasang patok profil dari bambu yang dapat menunjukkan
ukuran kedalaman, lebar dan tampingan saluran.
(2) Memasang patok-patok induk dan profil pada rencana terjunan
sepanjang saluran yang akan dibuat.
b) Saluran pengelak:
(1) Memasang patok-patok induk sebagai as saluran mengikuti patok
uitzzeting mulai dari bagian awal sampai pada bagian pertemuan
saluran pembuangan alam dengan jarak 5 - 10 m.
(2) Memasang patok-patok profil dari bambu pada patok-patok induk
dan setiap tikungan/belokan yang dapat menunjukkan ukuran
kedalaman, lebar dan tampungan.
Pelaksanaan :
Pembuatan bangunan utama (teras bangku).
a) Bidang olah teras :
(1) Membatas bidang olah teras dengan cara memasang tali, antara
patok induk dengan patok-patok pembanty. Kemudian dibuat
garis plantiran mengikuti as di tengah-tengan bidang olah.
(2) Pemisahan lapisan tanah bagian atas yang subur dengan cara
mengeruk dan memindahkan ke tempat tertentu.
(3) Penggalian tanah mulai batas atas bidang olah sampai pada
plantiran dengan bentuk galian seperti gambar rancangan.
Materi Pelengkap Krida Binawana = -3t-(4) Penimbunan dan pemadatan tanah mulai dari plantiran sampai
batas bawah bidang olah dengan bentuk timbunan seperti gambar
rancangan.
(5) Perataan bidang olah dengan kemiringan ke dalam (reverse back
slope) sebesar 1%.
(6) Untuk menjaga kemungkinan penurunan tanah, peninggian
penimbunan sebesar 10%.
(7) Pengembalian dan perataan lapisan tanah bagian atas yang subur
pada bidang olah teras.
b) Saluran peresapan :
(1) Pembuatan saluran peresapan pada ujung sebelah dalam bidang
olah teras dengan ukuran sesuai dengan rancangan (lebar dasar 20
cm dan dalam 10 cm).
(2) Pembuatan ambang pada hilir saluran peresapan dari batu setinggi
+5 cm untuk menahan erosi tanah.
c) Tampingan teras (talud) :
(1) Pemadatan dan perataan tampingan teras sesuai dengan gambar
raficangan.
(2) Penanaman tanaman penutup tanah pada tampingan dengan jenis
romput unggul dan pada guludan dengan jenis tanaman penguat
teras. Kemnudian di sela-sela tanaman penutup tanah tersebut dapat
ditutup dengan gebalan rumput lokal untuk memperkuat dan
melindungi tampingan dari erosi.
d) Gutudan:
Pembuatan guludan teras pada ujung sebelah luar bidang olah teras
dengan ukuran sesuai rancangan (tinggi + 10 cm lebar atas + 20. cm).
5) Pembuatan bangunan pelengkap.
a) Salusan pembuangan air (SPA) :
(1) Pembuatan garis tarikan pada rencana saluran dengan cara
memasang tali antara patok-patok batas saluran dan patok-patok
profil saluran.
(2) Penggalian tanah pada rencana saluran dan rencana terjunan
mengikuti bentuk profil rancangan.
(3) Penimbunan tanah galian pada sebelah kiri dan kanan saluran
untuk memperkuat tampingan teras.
(4) Pemasangan batu Kosong atau bambu- untuk memperkuat
bangunan terjunan.
Pemasangan batu kosong pada terjunan di bagian badan, sisi, alas
dan bibir terjunan yang diatur sebagai berikut :
(a) batu yang dipergunakan adalah batu belah dengan ukuran
tebal +20 cm.
(b) batu dipasang mendatar dan masuk ke dalam tanah.
(6) Struktur pasangan batu kosong dibuat kompak.
(5) Pemasangan bambu pada terjunan diatur sebagai berikut:
MoteriPelengkap Kride Binawana-32-(a) 2 atau 3 potongan bambu bulat ditanam sedalam + 0,5 m,
sedangkan yang ada di permukaan saluran dipasang setinggi
bangunan terjunan.
(b) Bambu belah dipasang melintang diantara badan terjunan dan
bambu bulat, kulit bagian luar bambu diletakkan di sebelah
luar. Pemasangan bambu belahan disusun mulai dari bawah
dengan kedua ujungnya dimasukkan ke dalam bagian
kanar/kiri SPA kemudian bambu tersebut diikatkan pada
bambu bulat.
(6) Penanaman gebalan rumput pada permukaan basah saluran.
b) Saluran pengelak :
(1) Pembuatan garis larikan pada rencana saluran, dengan cara
memasang tali antara patok-patok profil.
(2) Penggalian tanah disesuaikan dengan profil rancangan, kemudian
hasil galian ditmbun pada bagian sisi bawah saluran dan
dipadatkan supaya membentuk tanggul saluran.
(3) Penyempurnaan profil saluran hingga kemiringan dasar saluran
sebesar 1% ke arah saluran alam.
(4) Penanaman gebatan rumput pada permukaan basah saluran dan
tanggul saluran, untuk perkuat dan pengamanan dari bahaya erosi.
2. Bangunan Konservasi Air.
Bangunan konservasi air yang dapat dibuat adalah pembuatan bangunan sumur
resapan air.
a. Kriteria lapangan :
1) Kemiringan lereng lebih kecil dari 25%.
2) Formasi batuan atau tanah harus mampu meloloskan air (mudah
meresapkan air) dan tidak labil (tidak mudah longsor),
3) Kondisi permukaan lahan telah berubah fungsi dari lolos air menjadi kedap
air, seperti menjadi bangunan gedung, lapangan parkir, dsb.
4) Ketinggian permukaan air tanah cukup dalam dari permukaan tanah,
sehingga permukaan air tanah berada di bawah dasar sumur resapan.
b. Tata letak :
1) Jarak antara bangunan sumur resapan dengan tangki septik dan sumur gali
(sumur air bersih) minimum 5 m.
2) Jarak antara bangunan sumur resapan air yang satu dengan lainnya
minimum 2m.
cc, Pelaksanaan pembuatan sumur resapan air.
Bangunan sumur resapan air dapat dibuat dengan bentuk segi empat atau
silinder dengan kedalaman tertentu dan dasar sumur dapat terletak di atas atau
menembus permukaan air tanah, Berbagai alternatif jenis konstruksi dapat
dipilih tergantung pada keadaan batuan/tanah (formasi batuan dan tekstur
tanah).
Pada tanah atau bantuan yang’ relatif stabil, maka konstruksi sumur tanpa
Materi Pelengkap Krida Binawana -33-batuan yang labil, maka konstruksi sumur dapat diperkuat dengan dinding dan
dasar sumur diisi batu kosong dan ijuk.
Bangunan sumur resapan air dilengkapi dengan bak kontrol dan penutupnya,
penutup sumur, saluran pembuangan dan pembuangan air serta talang air.
Saluran Pembyangan Air
TPs ‘
LA
Y
Gambar 15 : Pembuatan Sumur Resapan Air.
Materi Pelengkap Krida Binawana -34-1
B. PERBENIHAN
Pengertian
Pengadaan benih adalah proses kegiatan mulai pengumpulan benih, ekstraksi benih,
pengujian termasuk seleksi dan penyimpanan benih.
Ekstraksi adalah proses memisahkan biji dari buah.
Benih yang berwatak ortodoks adalah benih tahan lama yang dalam
penyimpanannya agar tetap memiliki daya kecambah yang relatif tinggi, harus
disimpan dalam kondisi kadar air yang relatif rendah (4 - 8%), suhu relatif rendah (4
- 8%) dan kelembaban relatif rendah (40 - 60%).
Pemurnian benih adalah proses memisahkan benih dari benda ikutan atau kotoran
atau benih yang tidak diinginkan.
Seleksi benih adalah proses memisahkan benih yang berkualitas baik dari populasi
benih yang telah dibersihkan dari kotoran (pemurnian benih). —
Kebun benih adalah suatu pertanaman yang terdiri dari pohon-pohon yang memiliki
sifat-sifat unggul yang sengaja ditanam untuk menghasilkan benih yang berkualitas
unggul secara genetik.
Kebun Benih Semai adalah kebun benih yang terdiri dari pohon-pohon unggul yang
bibitnya dari semai.
Kebun benih klonal adalah kebun benih yang terdiri dari pohon-pohon unggul yang
bibitnya berasal dari pembiakan vegetatif.
Zona pengumpulan benih adalah suatu wilayah atau kelompok wilayah di dalam
hutan yang memiliki keadaan ekologis (ketinggian tempat, arah kemiringan, dan
iklim) yang seragam. Dalam wilayah ini terdapat tegakan yang asli setempat dan
merupakan suatu sumber benih geografis.
Pohon induk adalah pohon hasil seleksi.yang memiliki fenotip sangat baik (superior)
yang ditunjuk sebagai pohon yang menghasilkan benih berkualitas.
. Tegakan benih terseleksi adalah tegakan yang berasal dari hutan alam atau dan hutan
tanaman dengan pohon tenotipe superior untuk sebat-sebat penting (pohon kurus,
percabangan ringan) untuk menmghasilkan benih.
Materi Pelangkap Krida Binawana -35-2. Maksud dan Tujuan
3.
Maksud dari pengadaan benih adalah menyediakan benih yang bermutu baik, dalam
jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan setiap tahun dan tepat waktu. Tujuannya
adalah untuk menunjang kelancaran pengadaan- bibit yang bermutu baik dalam jumlah
yang cukup, sesuai dengan kebutuhan setiap tahun dan tepat waktu,
Pelaksanaan Kegiatan
a. Pengumpulan benih.
1) Benih dapat dikumpulkan dari penyalur benih atau dikumpulkan sendiri dari
hutan. Benih yang dikumpulkan harus memiliki kriteria sebagai berikut :
a) Diketahui asal-usulnya.
b) Dikumpulkan dari Kebun benih atau tegakan benih atau pohon induk yang
gudah di seleksi dalam tegekan (berbatang lurus dan pertumbuhannya sehat).
c) Benih bermutu baik (sehat dan berdaya kecambah tinggi).
2) Teknik pengumpulan benih dapat dilakukan dengan cara memetik buah dari
pohon atau mengumpulkan buah yang jatuh di atas tana.
Hol-hal yang harus diperhatikan adalah :
a) Musim berbunga dan berbuah harus sudah diketahui. Untuk itu pertu
pengamatan secara periodik, Karena musim berbunga dan berbuah tiap
daerah beragam. Sekedar untuk acuan buku yang ditulis oleh M. Soetarmo
Hardjosuwamo 1942 yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Hutan
(Pengumuman pendek No.20) yang memuat musim berbuah dan berbunga
untuk beberapa jenis pohon di berbagai daerah dapat dipergunakan,
b) Buah yang dikumpulkan sudah masak fisiologis.
Tanda-tandanya harus diketahui dan umumnya buah tua, warna kulit buah
sudah berubah sepesti pada jenis Pinus Merkusii, Buah tua berwama kuning
kecoklatan dengan bintik-bintik coklat tua dan pada buah meranti yang tua’
ditandai dengan warna sayap buah coklat, buahnya keras dan beratnya lebih
ringan dibandingkan buah muda.
) Untuk pengumpulan di atas tanah maka sebelum buah jatuh, pelataran hutan
di bawah pohon induk harus dibersihkan untuk memudahkan pengambilan
‘bah. Buah yang jatuh pertama dan terakhit jangan dikumpulkan karena
kualitasnya kurang baik.
3) Buah yang sudah terkumpul dimasukkan ke dalam kerung goni dan jangan
dimasukkan dalam kantong plastik, karena terlalu panas dan mudah kena jamur.
Pengolahan Benih
Buah atau kerucut yang telah sampai di tempat pengumpulan benih akan dilanjutkan
dengan kegiatan pengolahan. Kegiatan pengolahan benih adelah sebogai berikut :
‘Materi Pelangkap Krida Binawana -36-1) Pengeringan buah/kerucut.
Maksud dari pengeringan buab/kerucut adalah untuk menurunkan kadar air
buah, sehingga buah/kerucut tersebut akan terbuka, Pada umumnya
buab/kerucut segar mempunyai kedar air yang relatif tinggi. Buab/kerucut
masih muda tidak cepat atau sama sekali terbuka selama proses pengeringan.
Pengeringan dapat dilaksanakan dengan beberapa cara, yaitu :
a) Pengeringan udara (suhu kamar),
Beberapa jenis tanaman, cukup memerlukan suhu kamar untuk menurunkan
kadar air buahnya, misalnya jenis Agathis spp, Shorea pp, dan Diospyros
celebica, caranya dengan meletakkan buah/kerucut pada ruangan yang
mempunyai sirkulasi udara yang baik.
b) Pengeringan matahari
Benih leucaena leucocephala (kemelandingan) dan dalbergia latifolia
(sonokeling) cukup dikeringkan di panas matahari.
c) Pengeringan dengan menggunakan mesin pengering (Dry Storage).
Proses pengeringan ini umumnya diberikan untuk bual/kerucut yang sukar
misalnya Pinus merkusii yang memerlukan panas tertentu
untuk dapat membuka sisik kerucut dengan segera.
d) Pengeringan dengan pemanasan buatan, diperlukan untuk daerah-daerah
yang kurang mendapat sinar matahari atau jauh dari kota.
Alat yang digunakan berupa alat pemanas dengan bahan bakar seperti
minyak tanah, kayu bakar, atau pemanas listrik (oven).
2) Ekstraksi
Yang dimaksud dengan ekstraksi benih adalah kegiatan pengeluaran atau
pemisahan biji dari buah.
Caranya dapat berbeda-beda disesuaikan dengan macamnya buah. Beberapa
jenis tidak memerlukan ekstraksi dan langsung dapat ditanam. setelah
pengumpulan, namun jenis lain harus melalui proses yang panjang.
Ekstraksi dapat dilakukan secara sederhana (manual) atau dapat pula dengan
bantuan alat(secara mekanik). Cara ekstraksi sederhana hanya dipergunakan
untuk jumlah benih yang tidak terlalu besar, sedangkan cara mekanik
dipergunakan untuk menghasilkan benih dalam jumlah yang besar. Proses
ekstraksi harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari terjadinya
kerusakan fisik.
3) Pembersihan Benih.
Setelah benih keluar dari buah atau bahan pembungkus lainnya, benih
dibersihkan dari sayap, debu dan kotoran lainnya. Kotoran-kotoran tersebut
dapat mempengaruhi mutu, daya kecambah dan daya simpan benih.
Materi Pelangkap Krida Binawana -37-c.
Pembersihan dapat dilakukan secara manual atau mekanik. Pembersihan secara
manual dilakukan dengan menggunakan tangan, yaitu dengan jalan menggosok-
gosok benih yang diikuti dengan penampian. Cara ini mudah dilaksanakan
namun memerlukan waktu lama. Sedangkan pembersihan secara mekanik
dilakukan dengan menggunakan alat peniup (blower) sentrifuge dan mesin
pembersih. Peralatan tersebut dapat memisahkan benih dari kotorannya dan
juga memisahkan benih menurut ukurannya,
4) Pemilihan Benih/Seleksi
Maksud kegiatan ini adalah watuk dapat memisahkan antara benih berisi/sehat,
tanpa cacat/penyakit dan tidak sempurna bentuknya/terpotong.
Cara paling sederhana untuk pemisahan/seleksi benih dalam jumlah besar dapat
dilakukan dengan menggunakan bantuan air, yaita merendam benih. Benih
berisi akan tenggelam sedangkan benih hampa atau tidak sehat akan terapung.
Akan tetapi dari benih berisi, benih cacat yang berisipun akan turut tenggelam,
sehingga masih diperlukan pengamatan secara visual untuk dapat memisahkan
antara keduanya.
5) Pengeringan Benih.
Sebelum benih disimpan, kadar air benih harus diturunkan terlebih dahulu
sampai kira-kira $-8% untuk kebanyakan jenis, Kegiatan ini hanya
diperuntukan bagi jenis benih yang berwatek ortodoks.
6) Penyimpanan Benih.
Idealnya, benih yang terkumpul hasil suatu panen harus segera diatur di
Japangan. Mengingat panen tanaman hutan tidak terjadi setiap saat (tidak
beraturan), maka kebijaksanaan yang telah diambil adalah perlu diadakan
penyimpanan benih sehingga pada tahun-tahun tidak terjadi panen (panen tidak
mencukupi kebutuhan), masih tersedia benih. Benih lebih aman disimpan pada
suhu rendah dari pada subu tinggi.
Untuk menghindari kemunduran/kerusakan benih selama proses penyimpanan,
maka diperiukan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a) Kadar air benih yang akan disimpan harus disesuaikan dengan watak benih
yang dimiliki.
b) Suhu penyimpanan hatus tetap dijaga.
¢) Apabila selama proses penyimpanan akan diambil sebagian benihnya, maka
sebelum wadah tersebut dibuka harus ditcmpatkan pada suhu kamas terlebih
dahulu.
d) Mengembalikan wadah tersebut ke tempat penyimpanan semula secepatnya.
Pengujian Benih.
Pengujian benih sangat diperlukan baik oleh produsen, konsumen maupun oleh
pengawas mutu benih untuk mengetahui kualitasnya. Pada dasarnya urutan kegiatan
pengujian mutu benih terdiri dari pengambilan contoh uji, pengujian viabilitas (daya
berkecambah) benih dan pengukuran kadar air benih.
Materi Pelangkap Krida Binawana "-38-»
2)
Pengambilan Contoh Uji
Untuk dapat memberikan informasi yang tepat sebagai hasil pengujian, maka
contoh benih yang akan diuji terlebih dahulu harus mewakili seluruh populasi
yang ada. Contoh uji tersebut harus diambil secara acak, berulang dan
sebanding/proporsional.
Banyak contoh uji yang harus diambil disesuaiken dengan banyaknya
kumpulan/stock benih yang ada, dengan prosedur sebagai berikut :
a) Apabila hanya terdapat 1 wadah kumpulan benih, maka contoh uji harus
diambil dari seluruh lapisan dalam wadah tersebut.
b) Apabila terdapat 5 wadah kumpulan benih, maka contoh uji harus diambil
dari setiap wadah.
c) Apabila terdapat 6-30 wadah kumpulan benih, maka contoh uji sekurang-
kurangnya harus diambil untuk setiap 3 wadah. Banyaknya contoh uji tidak
kurang dari 5 contoh uji.
d) Apabila jumlah wadah kumpulan benih lebih besar dari 30, maka banyaknya
contoh uji sekurang-kurangnya 1 untuk setiap 5 wadah dan tidak kurang dari
10. Atau dapat pula mengikuti ramus : 5 + 10% jumlah wadah kumpulan
benih.
Pengujian Persen Kemurnian Benih
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menentukan komposisi benih berdasarkan
berat. Contoh uji yang akan digunakan harus mencukupi sehingga dapat
menjamin ketelitian dari pengujian tersebut.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara memisahkan benih mumi dari
komponen-komponen non benih lainnya. Yang dimaksud dengan benih murni
adalah semua benih yang mempunyai identitas sama dengan benih yang diuji
yang meliputi benih sehat dan tidak sehat, masak dan belum masak, normal dan
abnormal. Sedangkan yang dimaksud dengan komponen non benih lainnya,
dapat berupa benih tanaman lain, sayap benih, kulit benih, tanah, potongan-
potongan ranting dan kotoran lainnya.
Prosentase benih murni dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Berat benih murni
X 100%
% Kemumian =~
Berat semua contoh uji
Alat-alat yang diperlukan dalam kegiatan ini antara lain : pinset, kaca pembesar,
timbangan analitik dan wadah penampung.
Benih dari jenis yang berukuran besar pada umumnya mempunyai persen
kemurnian yang tinggi, sedangkan benih yang berukuran kecil mempunyai
persen kemurnian yang rendah, karena pada benih kecil sukar diadakan
pemisahan antara benih murni dan komponen non benih lainnya.
Materi Pelangkap Krida Binawana -39-3) Pengujian Viabilitas Benih.
Viabilitas (daya kecambah) benih adalah kemampuan benih untuk berkecambah
di bawah kondisi lingkungan yang optimal. Hal ini dapat dilaksanakan secara
Jangsung maupun tidak langsung (yang sudah lazim dilaksanakan adalah
dengan menggunakan sinar X dan uji tetrazolium).
Dalam kesempatan ini hanya akan diuraikan mengenai uji perkecambahan
secara langsung, Cara ini dapat dilaksanakan di dalam ruangan atau di luar
Tuangan.
Uji perkecambahan di dalam ruangan biasanya diperuntukkan bagi jumlah dan
ukuran benih yang tidak besar dan hanya memerlukan peralatan sedethana
seperti
a) Petridish (cawan petri) dapat terbuat dari plastik atau kaca.
b) Kertas saring atau kertas merang sebagai media perkecambahan.
c) Hand sprayer plastik yang kecil.
: Uji perkecambahan di luar ruangan biasanya mempunyai hasil yang lebih
mendekati hasil perkecambahan di persemaian. Peralatan yang diperlukan
seperti :
a) Bak kecambah, dapat terbuat dari plastik, kayu atau papan.
b) Media kecambah dapat berupa pasir halus, tanah halus atau campuran dari
keduanya.
¢) Knapsack sprayer (sprayer punggung).
Baik uji perkecambahan di dalam atau di tuar, peralatan yang akan digunakan
seperti petridish kertas saring/kertas merang, bak kecambah dan pasir atau tanah
halus terlebih dahulu harus disucihamakan (disterilkan).
Prosedur untuk masing-masing uji perkecambahan tersebut adalah sebagai
berikut :
a) Uji di dalam ruangan.
Petridish dilapisi dengan 2-3 lembar kertas saring/kertas merang lembab.
Kemudian benih-benih diatur di atasnya. Apabila tersedia germinator, maka
petridish tersebut ditempatkan ke dalamnya, tetapi apabila tidak tersedia,
cukup diletakkan di atas meja yang mendapat cukup cahaya.
b) Uji di luar ruangan.
Setelah bak kecambah dan medianya siap, disiram dengan air sampai jenuh.
Benih akan ditanam dalam larikan dengan kedalaman setebal benih itu
sendiri. Untuk menjaga agar media kecambah tetap lembab, maka bak-bak
kecambah tersebut ditutup dengan plastik transparan.
Banyaknya ulangan untuk masing-masing pengujian sckurang-kurangnya 2
kali sejumlah 100 butir, Sedangkan saat benih mulai berkecambah untuk
masing-masing jenis tidak sama.
Materi Pelangkap Krida Binawana -40-4) Pengukuran Kadar Air Benih
Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu benih disamping suhu adalah kadar
air benih. Kadar air untuk tiap jenis akan berbeda tergantung dari watak yang
dimilikinya. Untuk jenis yang berwatak ortodoks, maka kadar air yang dipunyai
relatif lebih rendah dibandingkan dengan jenis yang berwatak rekalsi
Perubahan kadar air dapat mempengaruhi perubahan mutu yang dimiliki. Untuk
itu selain diadakan pengujian daya kecambah, juga diadakan pengukuran kadar
air benih. Pengukuran kadar air benih dihitung berdasarkan berat kering oven
pada temperatur 105% selama 24 jam.
Perhitungan kadar air benih dapat mengikuti rumus sebagai berikut :
Berat basah-berat kering
Kadar air =
d. Peredaran Benih
Peredaran benih dapat terjadi antara pengada/pengedar dan pemakai di dalam negeri
maupun aniar negara (luar negeri).
Peredaran Benih Dalam Negeri.
1) Ketentuan-ketentuan.
Untuk menjadi pengada benih ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi
serta dilaksanakan. Benih yang akan beredar harus jelas asal-usulnya dan sesuai
dengan persyaratan-persyaratan mutunya.
a) Persyaratan untuk Pengadaan Benil
(1) Memiliki ijin usaha dan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.
(2) Memiliki dan menguasai Sumber Benih.
(3) Memiliki sarana dan prasarana.
(4) Memiliki tenaga ahli dan tenaga terampil khususnya bidang perbenihan.
(5) Persyaratan lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Reboisasi dan
Rehabilitasi hutan.
b) Persyaratan Mutu Benih
Setiap benih yang akan diedarkan harus mempunyai mutu fisiologis dan fisik
benih yang baik dengan syarat-syarat sebagai berikut :
(1) Benih mempunyai kemurnian yang tinggi.
Bila benih yang dikirim masih banyak. kotorannya, maka akan
menyebabkan pengurangan berat/jumlah benihnya sehingga ini bisa
merugikan pemakai. Oleh karena itu setiap pengiriman benih harus
bersih dari segala kotoran dan tidak tercampur dengan jenis lainnya.
(2) Benih mempunyai daya berkecambah yang tinggi.
(3) Benih yang sehat adalah benih yang bebas dari hama dan penyakit yang
berbahaya, mempunyai fisik yang baik.
Benih dengan fisik yang baik adalah benih mempunyai bentuk berisi,
padat, tidak keriput, tidak ada cacad dan luka.
Materi Pelangkap Krida Binawana -41-(4) Kadar air yang cukup.
Kadar air yang terkandung dalam benih tergantung kepada jenis
tanaman dan watak benihnya.
2) Prosedur Pengiriman Benih.
Proses atau prosedur peredaran benih mulai dari pemesanan, pengiriman dan
penerimaan benih.
a) Pemesanan Benih.
Pemesanan benih dapat diajukan langsung kepada Pengada ataupun
Pengedar dengan mengisi daftar pemesanan benih. Tembusan dari daftar
pemesanan benih tersebut disampaikan kepada Ditjen RLPS, Kanwil. Dep.
Kehutanan, Dinas Kehutanan, Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH)
serta Balai RLKT.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ;
(1) Benih yang diminta jumlahnya harus sesuai dengan kebutuhan. Apabila
jumlah yang diminta sesuai rencana penanaman/penaburan, maka
penanaman akan berjalan baik, sebaliknya bila jumlah yang diminta
melebihi dari target/rencana, maka benih akan terbuang percuma.
(2) Tata waktu pemesanan benih sangat penting dan harus jauh-jauh
diajukan sebelum benih terebut dibutuhkan Hal ini dimaksudkan agar
benih dikirim tepat pada waktunya.
‘Tata waktu ini harus sinkron dengan tata waktu pengadaan bibit dan
penanaman. Apabila benih dipesan terlalu lambat sedangkan persemaian
sudah siap, maka pemeliharaan persemaian (bedeng, media dil) terlalu
Jama sebelum dimanfaatkan.
b) Pengiriman Benih.
Pengiriman benih dilakukan oleh Pengada/Pengedar ke Pemakai.
Pengada/Pengedar diwajibkan memberikan tembusan Daftar Pengiriman.
benih kepada Ditjen RLPS, Kanwil Dep. Kehutanan, Dinas Kehutanan,
BPTH dan BRLKT.
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
(1) Label Benih
Benih yang dikirim harus mempunyai label karena dari label ini pemakai
dapat mengetahui identitas benih tersebut.
(2) Kemasan Benih
Cara atau teknik pengemasan sebaiknya disesuaikan dengan jenis
tanaman dan watak benihnya. Ada benih yang harus dikemas dengan
kadar air yang tinggi misalnya seperti Dipteroacarpaceae, dan ada yang
harus dikemas dengan kadar air yang rendah, misalnya Pinus Merkusii.
Disamping itu wadah yang dipergunakan harus memenuhi persyaratan
diantaranya ukuran wadah harus disesuaikan dengan banyaknya benih
yang akan dikirim, kedap udara, ringan,kuat dan dapat mempertahankan
benih dari serangan hama dan penyakit.
Materi Pelangkap Krida Binawana | -42-(3) Transportasi
Agar benih yang dikirim tetap baik sampai tujuan, maka alat angkut
yang digunakan harus memenuhi persyaratan yaitu cepat dan aman.
Benih tidak boleh bercampur dengan barang-barang lain yang
berbahaya. Pesawat terbang merupakan pilihan utama yang disarankan
dan benih disimpan di dalam ruangan ber AC.
Apabila lokasi yang dituju tidak ada pesawat terbang maka dapat pula
dipakai kendaraan darat atau laut dan diusahakan yang ada AC.
Sertifikat Kesehatan Benih.
Untuk memberikan jaminan kepada Pemakai bahwa benih yang dikirim
betui-betul bebas dari hama dan penyakit, maka setiap pengiriman benih
harus disertai sertifikat kesehatan benih yang dikeluarkan oleh Dinas
Karantina tumbuh-tumbuhan setempat
4
c) Penerimaan Benih.
(1) Pencatatan Data Benih.
Benih yang diterima dari Pengada/Pengedar hendaknya dilakukan
pemeriksaan kembali oleh Pemakai tentang jumlah/banyaknya benih
yang diterima (penimbangan kembali), dan dilakukan pencatatan
tethadap keadaan wadah benih, keadaan fisik benih, tanggal pengiriman
dan tanggal penerimaan. Selanjutnya Pemakai memberikan laporan
kepada Pengada/Pengedar tentang benih yang telah diterima dan
memberi tembusannya kepada Ditjen RLPS, Kanwil Dep. Kehutanan,
Dinas Kehutanan, BRLKT dan Balai Perbenihan Tanaman Hutan
(BPTH).
@
Pengujian Mutu Benih.
Benih-benih yang diterima tersebut hendaknya segera diuji mutunya
yang mencakup kemurnian, kadar air dan daya berkecambah. Apabila
benih yang diterima tersebut setelah diuji mutunya ternyata terdapat
ketidakcocokan dengan label, maka pemakai dapat mengajukan klaim ke
Pengada.
(3) Penyimpanan Sementara.
Benih yang diterima tidak selamanya dapat langsung didistribusikan ke
lokasi (daerah), karena beberapa hal antara lain persiapan lapangan yang
belum selesai ataupun musim yang kurang menguntungkan, schingga
benih perlu disimpan. Agar penurunan mutu tidak terlalu besar, maka
benih tersebut disimpan dalam " Condition room ", ruang AC atau dalam
lemari es. Jika semua ini tidak tersedi, maka dapat dipergunakan
ruangan lain yang keadaannya bersih, sejuk, tidak tercampur dengan
bahan-bahan lain yang bisa merusak benih.
Materi Pelangkap Krida Binawana -43-(4) Pengiriman ke Lokasi Persemaian
Pengiriman benih ke lokasi persemaian dilakukan apabila sudah ada
laporan siapnya lapangan. Hal ini dimaksudkan agar benih tidak
disimpan lama di lokasi persemaian, sehingga penurunan mutu dapat
dikurangi. Jumlah benih yang dikirim ke persemaian harus disesuaikan
dengan kebutuhan,
Ekspor dan Impor Benih.
Ketentuan-ketentuan peredaran benih di dalam negeri berlaku juga untuk ekspor dan
Impor beni dengan prosedur yang berbeda,
Prosedur ekspor dan Impor benih dimulai dari permohonan, pemberian izin, pemasukan
dan pengiriman.
1)
2)
3)
Permohonan. .
Pengada/Pengedat/Pemakai dapat mengajukan permohonan tentang rencana ekspor
dan Impor benih kepada Menteri Kehutanan dan memberikan tembusannya kepada
Dirjen RLPS dan Badan Benih Nasional.
Data yang tercantum untuk keperluan ini antara lain : jenis tanaman, jumlah benih
yang diperlukan, peruntukan, tata waktu pemakaian dan negara asal.
Pemberian Izin.
Setiap pemasukan ataupun pengeluaran benih tanaman hutan ke dan dari Negara
Republik Indonesia harus ada izin dari Menteri Kehutanan cq. Dirjen RLPS untuk
kegiatan reboisasi dan HTI dan Kepala Badan Litbang untuk kegiatan uji coba dan
penelitian.
Pemasukan dan Pengeluaran Benih.
Setiap pemasukan dan pengiriman harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Sertifikat Kesehatan,
Setiap benih yang diekspor dan dilmpor harus dilengkapi dengan sertifikat
kesehatan benih yang dikeluarkan oleh Dinas Karantina Tumbuh-tumbuhan,
b) Labelisasi.
Label benih dikeluarkan oleh Pengada. Data yang tercantum dalam label
mencakup daya berkecambah (DB), kemurnian, kadar air, curah hujan, jenis
tanaman, asal benih, ketinggian tempat dpl, tanggal panen, tanggal ekstraksi,
penyalur, tangeal penyimpanan dan nama penguji.
Dengan adanya label pada benih, memberikan jaminan kepada pemakai bahwa
benih yang dipakai/diterima mempunyai mutu baik dan jelas asal-usulnya.
©) Sertifikat Benih.
Sesuai dengan tugasnya sertifikat diatur oleh Ditjen RLPS dan Badan Litbang.
Hasil sertifikasi ini disampaikan kepada Pengada, Pengedar, Pemakai dan
tembusannya untuk Ditjen RLPS dan Badan Benih Nasional (BBN)
Materi Pelangkap Krida Binawana ”-44-A
2.
C. PEMBIBITAN
Pengertian
a. Bibit adalah bahan tanaman yang dapat berupa benih sehat atau seedling/anakan baik
berupa stek, anakan siap tanam, cangkokan maupun anakan cabutan yang dapat
ditanam.
b. Pembibitan adalah proses menumbuhkan benih menjadi bibit siap tanam, sebanyak
yang direncanakan (sesuai luas areal tanaman) bermutu baik, dan tersedia tepat pada
musim tanam.
c. Persemaian adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyemaikan dan merawat
bibit yang digunakan untuk menyemai dan merawat bibit jenis tertentu dengan
perlakuan teknis tertentu sehingga dalam waktu yang telah direncanakan diharapkan
dapat dihasilkan bibit yang memenuhi persyaratan baik dari segi kuantitas dan
kualitas (umur, ukuran dan keadaan pertumbuhan).
Kegiatan Pembibitan
a. Macam Persemaian
Ada 3 macam persemaian yaitu persemaian sementara, semi permanen, dan
permanen. Persemaian sementara digunakan selama 1 tahun (1 s/d 2 kali periode
penyemaian), sedangkan persemaian semi permanen dapat digunakan lebih dari 1
s/d5 tahun, dan persemaian permanen dapat digunakan lebih dari 5 s/d 20 tahun.
b. Pemilihan Lokasi
Lokasi persemaian harus dipilih yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Keadaan lapangan datar (kemiringan 1 - 5%).
2) Mudah mendapatkan air sepanjang tahun.
3) Tanahnya subur, dengan textur ringan, tidak liat dan bebas dari batu dan kerikil.
4) Drainase tanahnya baik.
5) Tersedia jalan angkutan.
6) Relatif dekat dengan lokasi penanaman, khususnya untuk persemaian
sementara.
7) Mudah mendapatkan tenaga kerja.
¢. Bibit yang dihasilkan adalah berupa :
1) Bibit dalam pot atau kontainer, seperti kantong plastik, pot trays, poly tube.
2) Bibit akar telanjang, cabutan.
3) Bibit stump, stek, cangkok dan lain-lain.
4. Lama bibit di persemaian
Setiap jenis bibit membutuhkan waktu perawatan yang berbeda di persemaian
sampai bibit bersebut dapat dikategorikan siap tanam di lapangan. Antara lain :
Materi Pelengkap Krida Binawana -45_‘Acasia sp, Eucalyptus sp, Albizia falcataria, Calliandra sp, Leucaena leucocephata,
Anthoephalus cadamba, Leucaena glauca, Pterocarpus indica, membutuhkan waktu
3-6 bulan sedangkan Pinus merkusii, Tectona grandis, Melaleuca leucadendron,
Toona seruni, Santalum album, Swietenia macro phylla dapat memerlukan waktu 6 -
12 bulan.
3 Perencanaan Kegiatan
a. Penataan Ruang Persemaian -
Setelah lokasi persemaian ditentukan, selanjutnya dapat dilakukan penataan ruangan.
Tiga puluh persen dari luas lokasi diperuntukkan untuk sarana dan prasarana, seperti
pondok kerja, rumah perkecambahan, jalan pemeriksaan, kolam air dil. Sedangkan
selebihnya yaitu sekitar 70% digunakan untuk ruang produksi bibit.
b. Rencana/Jadual Kegiatan
Maksud dibuatnya jadual adalah agar semua pekerjaan dapat berlangsung sesuai
dengan waktu yang diharapkan, disamping juga untuk memudahkan pengawasan,
oleh karena kegiatan persemaian terikat dengan waktu,
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan rencana kegiatan adalah :
1) Waktu penanaman bibit di lapangan.
2) Lamanya bibit harus dirawat/dipelihara.
3) Jumlah bibit yang akan dihasilkan,
4. Pelaksanaan Kegiatan
a, Pembersihan Lapangan
Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan lapangan dari rumput, semak belukar
dan alang-alang sekaligus untuk mengumpulkan lapisan tanah (top soil) yang akan
digunakan sebagai bahan media.
Pembersihan lapangan dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan parang,
cangkul, atau secara mekanis menggunakan traktor, serta secara kimia menggunakan_
berbagai herbisida. Namun cara yang terakhir ini tidak dianjurkan.
b. Persiapan Lapangan
Kegiatan persiapan lapangan meliputi pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :
1) Pemagaran.
Pemagaran perlu dilakukan untuk menghindari adanya gangguan
penggembalaan temnak serta hewan liar lainnya.
2) Pembuatan jalan pemeriksaan.
Jalan pemeriksaan sebaiknya dibuat lebar agar dapat juga berfungsi sebagai
jalan pengangkutan bibit.
Materi Pelengkap Krida Binawana -46_3) Penanaman pohon pelindung.
Sebagai pohon pelindung harus dipilih jenis-jenis tanaman yang cepat tumbuh,
tahan pemangkasan, tahan api/tidak mengalami, tahan hama dan penyakit.
‘Untuk keperluan tersebut dapat ditanam Acacia mangium, Lamtorogung,
Flamboyan, Pinus merkusi dan \ain-lain.
c. Pengadaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang perlu dibuat/diadakan adalah sebagai berikut :
1) Pondok kerja
Pondok kerja dibuat berdasarkan standart yang telah ditetapkan. Di dalam
pondok kerja perlu dilengkapi dengan papan visualisasi kegiatan, papan mutasi
bibit, daftar inventarisasi peralatan dan lain-lain.
2) Kolam air
‘Agar penyediaan air dapat berlangsung terus menerus perlu disediakan kolam
air. Pembuatannya disesuaikan dengan biaya yang tersedia,
3) Rumah kecambah
Beberapa jenis benih dari biji,:utamanya benih-benih berukuran kecil seperti
Eucalitpus sp, Pinus sp, Acasia sp dan lain-lain perlu dikecambahkan terlebih
dahulu sebelum dipindahkan ke bedeng sapih. Untuk itu diperlukan rumah
kecambah.
4) Bedeng pertumbuhan
Bedeng pertumbuhan yang dimaksud adalah bedeng semai untuk produksi bibit
akar telanjang dan stump maupun bedeng sapih untuk produksi bibit dalam
kantong plastik (pada umumnya untuk persemaian sementara).
Secara garis besar pembuatan bedengan dapat dilakukan sebagai berikut :
a) Bedengan dibuat membujur dari arah utara ke selatan dengan ukuran 1 x 10
matau 1 x Sm.
b) Permukaan bedengan ditinggikan 15 cm, dipinggimya diperkuat dengan
menggunakan kayu, bata merah atau batako dan bedengan tersebut dibuat
miring, ke arah timur. Khusus bagi bedengan sapih, dasar bedengan
sebaiknya diperkeras dan pada bagian yang lebih rendah dibuat lubang-
Tubang saluran air.
c) Antar bedeng dibuat jalan pemeriksaan dan pada setiap bedengan disiapkan
sarana untuk naungan.
Catatan : untuk persemaian permanen biasanya terdapat seeding area dan
open area dengan standar teknis tertentu.
d.Penyediaan Media
1) Media perkecambahan
Sebagai bahan media perkecambahan dapat digunakan pasir atau tanah halus.
‘Agar bahan media yang digunakan bebas dari hama dan penyakit maka perlu
digoreng sangan (sangrai) terlebih dahulu,
Materi Pelengkap Krida Binawana -47_2)
Media pertumbuhan dapat menggunakan campuran taneh, pasir dan kompos
dengan perbandingan 7:2:1.
Untuk memperkaya mineral yang terdapat pada bahan media dapat ditambahkan
pupuk TSP sebanyak 1 gram setiap kantong plastik.
Media semai alternatif lainnya (bahkan yang dianjurkan) adalah seperti gambut,
akar pakis, ampas tebu, ampas singkong, daun acasia mangium, jerami, dan
lain-lain yang dapat dicampur dengan sckam padi dan atau kapur sesuai
kebutuhan. -
Penyiapan bahan dan peralatan persemaian
Bahan-bahan dan peralatan persemaian yang perlu disiapkan antara lain :
1
Pe
1)
2
3)
Kantong plastik.
Pupuk kandang, TSP, NPK, pupuk daun.
Fungisida, insektisida.
Bak kecambah,
Papan-papan pengenal.
Benih, jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan,
Pada lampitan 1 disajikan kebutuhan biji/benih tiap jenis tanaman.
in
Seleksi benih (dari biji).
Untuk mendapatkan benih yang berkualitas tinggi perlu dilakukan seleksi benih.
Cara yang sederhana adalah dengan mengapungkan di dalam air. Benih yang
baik adalah benih yang tenggelam.
Perlakuan pendahuluan
Beberapa jenis benih (dari biji) memerlukan perlakuan khusus sebelum
disemaikan. Pada umumnya benih mulai berkecambah bila 80-90% air telah
masuk ke dalam benih. Karenanya perlu diberi perlakuan terhadap kandungan
air ini misalnya dengan melakukan perendaman dalam air dingin dan atau
dengan penyiraman dengan air panas. (untuk lebih lengkapnya periksa Jampiran —~
2).
Penaburan benih (dari biji)
Untuk produksi bibit dalam pot/wadah dilakukan di dalam bak tabur atau
Jangsung di dalam pot/wadah, sedangkan untuk produksi bibit akar telanjang
dan stump, penaburan langsung di dalam bedeng semai.
Teknik penaburan dilakukan dengan dua cara yaitu : “menabur daiam larik dan
menabur lebar”
Cara. penaburan dalam larik misalnya untuk jenis pinus (dalam bak tabur).
Kaliandra, Lamtorogung (dalam bedeng semai) digunakan jarak antar larik 5
Materi Pelengkap Krida Binawana -48_em. Selanjutnya benih ditutup dengan tanah halus atau pasir halus yang tebalnya
kira-kira sama dengan tebalnya benih yang ditabur.
Cara menabur lebar, misalnya untuk jenis Acacia mangium, Acacia
auriculiformis, Eucalyptus urophylla, Eucalyptus deglupta, dan jenis benih
Jembut lainnya, agar merata maka dicampur dengan tepung arang kira-kira
sebanyak 10 kali banyaknya benih yang ditabur.
Sebelum benih ditabur, bahan media terlebih dahulu disiram air sampai jenuh.
Setelah benih ditabur sebaiknya disemprot dengan fungisida (Dithane M-45)
dan dilanjutkan setiap 3 - 5 hari sekali.
Penyiraman harus menggunakan sprayer dengan nozle menghadap ke atas dan
tidak boleh terlalu banyak (dengan cara pengabutan).
g. Penyapihan Bibit
Penyapihan bibit dilakukan hanya apabila bibit melewati proses perkecambahan di
bak-bak kecambah kemudian dipindahkan ke pot seperti kantong plastik, pot-trays,
atau poly tube.
Penyapihan dilakukan bila umur semai telah dianggap cukup. Untuk Pinus telah
mencapai sebesar korek api, untuk jenis Acacia dan Eucalyptus telah berdaun
sepasang atau dua pasang. Pengambilan semai dilakukan dengan sendok kayu,
hanya semai yang kelihatan sehat dan subur tumbuhnya saja yang dipindahkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit
1) Waktu penyapihan pada pagi hari jam 06.00 - 09.00 dan atau sora harinya dari
jam 16.00 sore sampai malam.
2) Akar tidak boleh terlipat.
3) Semai berdiri tegak.
4) Tidak terjadi ruang kosong disekeliling akar.
5) Untuk menghindari terjadinya kekeringan setelah pengambilan dari bak
kecambah maka semai harus ditempatkan dalam wadah yang berisi air.
6) Semai tidak boleh terlalu sering dipegang agar tidak luka.
h. Pemeliharaan Semai
1) Naungan
Beberapa jenis bibit memerlukan naungan dipersemaian, namun ada juga yang
tidak, Untuk lebih jelasnya berbagai jenis bibit yang membutuhkan naungan
dapat dilihat pada lampiran 2.
2) Penyiraman
Penyiraman dilakukan tiap pagi (pukul 06.00 s.d. 09.00) dan atau sore hari
(pukul 15.00 s.d. 18.00).
Materi Pelengkap Krida Binawana -49_4)
5)
Penyiangan
Penyiangan diJakukan bila banyak rumput tumbuh di persemaian.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan bila unzur semai telah 1 bulan, Frekuens} pemupukan
adalah 2 minggu sekali dengan menggunakan NPK/Urea dan pupuk daun (bila
aun kurang subur tumbuhnya),
Dosis NPK adalah 2 kg NPK 14 : 14; 14 atau 1,5 kg NPK 15 :-15 = 15 yang
dilarutkan dalam 200 liter air (untuk 50.000 - 75.000 batang semai).
Setelah pemupukan sebaiknya semai disemprot dengan air.
Pemberantasan hama dan penyakit
Untuk mencegah serangan hama sebaiknya setiap seminggu sekali disemprot
dengan insektisida, sedangkan untuk pemberantasan penyakit seperti jamur
disemprot dengan fungisida.
Dosis serta cara pemakaiannya dapat mengikuti petunjuk yang tertera pada
Label kemasan yang bersangkutan.
Pengangkutan bibit
Sebelum bibit diangkut ke lokasj tanaman perlu dilakukan seleksi, yaity untuk
memilih bibit yang memenuhi syarat ukuran tinggi (30 em - up) dan syarat
kualitas (sehat dan baik pertumbuhannya denga kriteria sebagai berikut : daun
segar, batang kokoh dan tegar, perakaran banyak dan tidak ada tanda-tanda
terserang penyakit).
Dalam pengangkutan bibit kekompakan medianya harus tetap dipertahankan.
Oleh karena itu pengangkutan bibit dalam kantong plastik harus. ditempatkan
pada kotak angkut bibit dan bagi bibit dari pot-trays/poly tube menggunakan
kantong belanja yang ditempatkan pada rak-rak, Sedangkan bagi bibit akar
telanjang dan stump dapat menggunakan karung goni basah. Selama
pengangkutan bak kendaraan yang digunakan harus ditutup untuk mengurangi
penguapan.
Banyaknya bibit yang diangkut disesuaikan dengan kemampuan penanaman
pada hari itu. Pengangkutan sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau
sore/malam hari.
Sebelum bibit didistribusikan ke lubang-lubang tanaman perlu diseleksi ulang,
agar bibit yang ditanam benar-benat bibit berkualitas.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana * -50_
pabbibalitas ioF aa RTRIS [FE
08, aap saw | "EE
08 worpuT nam | TE
oe aR uE wg [TE
08 Ystowou sng | OF
os
oa 8
8 ae
oe 3
a8 Se
a ¥
08 (a
oF ee
08 iz
of i
08 Talenz weisonoers | Gr
08 unease eNTaRTORTE | Fi
08 Siysear smdeongs [UT
08, ado rateora | IT
oe ‘eqn antenna | st
of +i
08 a
OF, tr
of 1
oF Or
a 6
8 =
co ~
08, TuBaaa eam [>
oe. “equTepes smieydasoinny =
of, oi TuassAyoA saDRATY |
08 96. BHORTUETOT SHREBY_ ©
08 06 sraopue estoy |
08 06 “onan wey | —T
= = z 7
" @ %
af Suormm HE (pug
uvdaede, ers) | (@q0o yoepeys) | Bue Bueg apy rosnwmwy | Syed. | yoru marron 09 oN
sH wedi | eEuEmpodip | wf uossyey | hep osruDsiog ssnazsieg | the 1a
ont quod voy | Som yroog we 1
(y) uoreuesieg BH / SueIeq ODO OOF deRas yaIUN UEUTEUEY 1fiq WEYTANGEy FEE]: | wEsICurey j>qe,“7S PoEMeUg epLDY dexSuajod HOI,
‘0607005 oF 8 08 Fa 00 er Spas eons, |e
‘007005 08 $8 $8. $6, 0005 quae rues murs | 8
‘0007005 8 $6. 56 96 ‘00% Tae ‘yrsondsy anus | Ue
000005" 08 Sat "SL 6 0007 Ou Birudanew eos | 9e
(900'005 08 56 56 06, 00% i ‘wopipuERt eawes9s | Se
6 £ ¥. £ t TLampiran2 _: Daftar Perlakuan Penyemaian dan Permulean Berkecambah
Untuk setiap Jenis Tanaman
No. | Namalenis Tanaman | Perlekuan Pendahuluan | Tempat Permufaan Keterangan
: (Daerah) sebelum disemaikan | Penyemsian _|_Perkecambshan
i 2 3 4 5 6
T. | Acasia aurieutiformis Disiram air mendidin | Dipanas _~ | 6—1Ohari =
A.Cunn ddan direndam selama 24 | matahari
Jam dalam air siraman
itu
2, | Agathis lorantifolia salisb | Biji direndam 24jam | Di bawah Fhe =
(damar) dalam air dingin naungen
3. _ | Albizia falcata backer Disiram air mendigin | Di bawah 2= Shank =
(leungjing, Seagon laut) | dan direndam selama 24 | neungen
: jam
| Albizia procera Buh ~ ‘Di panas >
(kihgjong, Weru)_ ‘matahari
5. | Aleurises motuccana wid [= Di bawah = :
(Kemiri, Muncang) naungan atau
persemaian
ditutup alang-
alang tebal 5 cm
%& | Altingia exceisa noronha | = Di panas > >
(Rasamala) ~ matahari
7. —| Anthosephalus cadamba | - Di bawah Ti 12 hari >
Gabon) naungan
% | Cassia fistula L (Trengguli) | - Di panas > Dapat distamp
matahati
9. _ | Dalbergia latifolia Roxb. ‘Di bawah = Dapat distump
(Sonokeling) naungan
10. | Dalbergia sisso Roxb. ‘Di bawah Dapat distump
(Sono sisso) raungen sesudah ber-
kecambah
diberi sinar
rmataheri
© PIL] Casuarina equisetifolia L | Biji diambil dari buah, | Di panas -
: (Cemara) disiram air 60°C, matehari
= °
> L 4 iKering) Aaungan _ ~
13. | Eucalyptus dogiupia Bh. | - Di bawah 4- Ghar =
(Heda) aungen
14 | Eucalyptus plaxyphyla | - Di panas a= Thert Box perse-
F.vM (Hue) matahari ‘maian ditutup
‘untuk mena-
Jan bujen
15. | Gonpphyleum faleatumn BI. ~ °
(Mangir)
16 | instia biyuga D. Kez > Dapat distump
(Merbau)
¥7._| Lagerstromia speciosa Pers > Dapat distump
(Bungur, Wungu)
Leucaena glauce Benth, 3-1 her Dapat distump
‘(Kemlandingan)
irendam panas mataheri
Materi Pelengkap Kride Binawana -53-WS.) Mlateusa tevcadendron L | Bijidirendam dalam air | Di panas Chart TO gram bi
(Seyu putib) dingin selama 24 jam) matahari dicampur 1
Keg orang yang
|_ | citumbat
720._| Pinus meskust jungleet DI | Biji direndam air dingin | Di panas 3-17 hast -
VR CTusam, Pinus) selama 24 jem, matahar |
2I,_| Plerocapus indica Willa | Biji diambit dari i panas : Dapat disump
{Sono kembang) fnatahari_|
22] Santalum afbura © - Di bawah 26 hart :
(Cendena) naungan
23. | Seima noronhae Rein W. | Di bawal > :
-Puspa Jnaungan
2A | Schleichera oleosamer Di panas 10-13 ber >
(Kosambi)
25. Swietenia macrophyiia 14 hari Dapat diswmp
King (Mahoni daun besar)
26, | Tectona grandis LF. Gat) apat distomp
27._| Toone sareni Wierr (1) 7 -
Suren) ‘nasingan
‘Materi Pelengkap Krida Binawaia -54-D. PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN
A. Pengertian
Penghijauan adalah upaya memulihkan atau memperbaiki kembali lahan kritis di luar
kawasan hutan melalui kegiatan tanam menanam agar dapat berfungsi sebagai media
produksi dan media pengatur tata air yang baik, serta upaya mempertahankan dan
meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan peruntukannya.
Hutan_rakyat adalah tanaman yang didominasi oleh jenis kayu-kayuan di lahan milik
petani di luar kawasan hutan.
Kebun rakyat adalah areal tanaman yang didominasi oleh jenis tanaman buah-buahan
dan atau tanaman industri, di lahan petani di luar kawasan hutan.
Reboisasi adalah upaya rehabilitasi lahan kritis di dalam kawasan hutan melalui
penanaman kayu-kayuan termasuk di dalamnya pembuatan sarana dan prasarana.
Rencana Teknik Reboisasi (RTR) adalah rencana jangka pendek (tahunan) reboisasi
secara detail operasional yang memuat tentang lokasi, jenis dan volume kegiatan, jenis
tanaman, kebutuhan bibit, pola tanam, sarana dan prasarana, peta serta rancangan untuk
setiap jenis kegiatan.
Persemaian adalah suatu tempat yang dipergunakan untuk penyemaian benih dan
pemeliharaan bibit untuk dapat menghasilkan bibit tanaman yang berkualitas baik dan
dalam jumlah yang cukup.
Sistim__Tumpangsari adalah sistim pembuatan tanaman kayu-kayuan yang
dikombinasikan dengan penanaman tanaman semusim yang dilaksanakan oleh peserta
tumpangsari berdasarkan perjanjian kerja selama jangka waktu 1's/d 3 tahun.
Tanaman serausim pada kegiatan Reboisasi adalah merupakan tanaman sementara pada
kegiatan reboisasi yang perlu diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu
pertumbuhan tanaman pokok maupun tanaman sela.
Tanaman Pokok adalah tanaman pada kegiatan Reboisasi yang diarahkan menjadi
tegakan pokok dikemudian hari.
‘Tanaman jenis MPTS(Multi Purpose Trees Species) adalah tanaman bermanfast ganda,
disamping menghasilkan kayu juga menghasilkan hasil hutan non kayu (hasil hutan)
seperti buah, biji, getah serta mampu memberikan perbaikan lingkungan.
Banjarharian adalah pembuatan tanaman yang dilakukan dengan upah harian.
Materi pelengkap krida Binawana -55-Banjarharian_dengan cara cemplongan adalh penanaman tanaman pokok dalam
jubang-lubang tanaman yang sudeh disiapkan sebelumnya. Pembersihan tanaman
terbatas pada piringan tanaman masing-masing lubang,
Banjarharian dengan cara jalur adalah penanaman tanaman pokok dalam lubang yang
disiapkan pada jalur-jalur yang telah dibersihkan sclebar + 1 meter. Pembersihan
lapangan dapat menggunakan herbisida atau dengan alat manual.
Banjarharian dengan cara pembersihan total adalah pembuatan tanaman pada lapangan
yang telah dibersihkan secara keseluruhan. Pembersihan lapangan dapat menggunakan
herbisida atau alat manual lainnya.
Reboisasi_mekanis adalah sistem pembuatan tanaman yang sebagian atau keseluruhan
tahapan Kegiatannya dilaksanakan secara mekanis. Pada dasarnya dalam sistem ini,
Kegiatan pembersihan lapangan dan pengolahan tanah _dilaksanakan dengan
menggunakan mesin-mesin antara lain buldozer, wheel tractor berikut perlengkapannya,
‘Suksesi_Alami adalah upaya rchabilitasi lahan atau regenerasi areal hutan yang
diserahkan kepada alam dengan disertai campur tangan pengelola hutan terutama dalam
menanggulangi faktor pengganggu dan mempercepat terhadap terjadinya proses suksesi
alami. Kegiatan suksesi alami terdiri dari kegiatan pengamanan, pembuatan tanaman dan
penyuluhan.
Pemeliharaan Tanaman adalah upaya untuk memelihara sejumlah tanaman dalam luasan
dan kurun waktu tertentu guna mendapatkan tanaman yang berkualitas baik dengan
jumlah persatuan yang luas, dan cukup serta sesuai dengan standar hasil yang ditentukan.
Upaya ini meliputi penyulaman, penyiangan, pendangitan dan pemangkasan tanaman.
Penyulaman adalah upaya penanaman kembali untuk mengganti tanaman pokok yang
mati atau diperkirakan tidak mampu tumbuh.
Penyiangan adalah upaya pembebasan tanaman pokok dan tanaman sela dari jenis-jenis
pengganggw/gulma antara lain rumput lide, semak-semak dan liana,
Pendangiran adalah upaya penggemburan tanah disekeliling tanaman pokok dengan
maksud memperbaiki kondisi fisik tanah.
Pemangkasan Tanaman Sela adalah upaya pembebasan tanaman pokok dari tajuk
tanaman sela yang mengganggu tanaman pokok.
Jalan Hutan adalah jalan yang dibuat untuk keperluan angkutan benib/bibit, pekerja dan
alat-alat reboisasi, pengawasan , pencegahan kebakaran dan keperluan lainnya.
Haran Api(sekat bakar) adalah jalur untuk mencegah/membatasi kebakaran hutan.
Materi petengkap krida Binawana -56-3.
Pondok Kerja adalah bangunan semi permanen yang dipergunakan untuk tempat kerja
selama dan setelah selesai-sehubungan dengan pemeliharaan dan pengamanan tanaman
reboisasi.
Pos Ronda adalah bangunan semi permanen yang dipergunakan untuk pos
jaga/pengawasan polisi hutan/petugas lapangan yang menjaga hutan dan hasil reboisasi.
Kantor Air adalah bangunan penampungan air yang akan digunakan pada waktu musim
kemarau bila terjadi kebakaran hutan/tanaman, dibuat terutama pada lokasi-lokasi yang
tidak terdapat sumber air.
Pengendalian hama dan penyakit adalah pencegahan dari gangguan-gangguan pada
tanaman baik dari gangguan hama maupun penyakit sehingga terjadi keseimbangan yang.
tidak saling merusak.
Ajir adalah patok yang terbuat dari bambu atau kayu untuk menandsi jarak tanam dan
setelah penanaman ajir ditancapkan disamping tanaman,
Kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik pada ketinggian yang sama.
‘Arah larikan adalah jalur tanam dengan jarak tanam yang telah ditentukan, arah larikan
sejajar kontur. *
Perkayaan adalah suatu penanaman pada areal bekas tebangan dimaksud untuk
memperbaiki komposisi jenis, penyebaran pobon dan nilai tegakan.
Penjarangan adalah tindakan pemeliharaan untuk mengatur ruang tumbuh dengan cara
mengurangi kerapatan tegakan dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan pohon
dan kualitas batang.
Maksud dan Tujuan
a. Maksud dari penanaman adalah untuk meningkatkan produktivitas Iahan melalui
penanaman kayu-kayuan atau buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Sedangkan maksud dari pemeliharaan tanaman adalah agar tanaman muda mampu
menjadi pohon dengan pertumbuhan sesuai dengan yang diharapkan.
b. Tujuan dari penanaman dan pemeliharaan kayu-kayuan dan buah-buahan adalah
untuk mendapatkan tegakan/tanaman. yang subur dengan Iuasan dan jenis yang
diinginkan dan dapat memberikan hasil yang menguntungkan secara optimal.
Perencanaan Lapangan
Perencanaan lapangan terdiri dari risalah lapangan, pengukuran dan pemetaan lapangan.
Materi pelengkap krida Binawana -57-a. Risalah Lapangan
Kegiatan risalah lapangan adalah Areal yang akan ditanami dipelajari melalui peta
dan dilakukan risalah lapangan untuk mengetahui topografi, vegetasi, iklim, tanah,
tata guna tanah, sumber kebakaran, sumber tenaga kerja dan lain-lain.
b. Pengukuran dan Pemetaan
1). Areal yang akan ditanami dibagi-bagi ke dalam blok-blok tanaman dengan luas
rata-rata 200 ha, Batas blok berupa jalan, sungai dan batas alam lainnya. -
2) Bagian-bagian areal yang dapat ditanami di dalam blok yang direncanakan
untuk ditanami tahun berjalan dipancang pada sudut dengan patok kayu lalu
diukur dan dipetakan dengan skala 1 : 10.000 (peta kerja). Tiap bagian blok
diberi kode nomor.
3) Satuan blok tanaman dibagi menjadi petak-petak dengan Iuas antara 20-25 ha
batas petak dapat menggunakan batas alam seperti alur, anak sungai, jalan
pemeriksaan dan lain-lain.
4) Masing-masing petak dicatat Iuasnya, jenis tanaman dan teknik penanaman
yang digunakan.
5) Untuk memudahkan pengawasan sebaiknya pemetaan dilakukan dengan sistim
grid.
c. Penyusunan Rencana Teknis
Data yang diperoich dari risalah lapangan dan pengukuran digunakan untuk
menetapkan tujuan penanaman, jenis tanaman, teknik penanaman, teknik penyiapan
Jahan, ukuran lubang tanaman, dan lain-lain. Selanjutnya dituangkan dalam bentuk
rencana teknik atau rancangan.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan penanaman meliputi kegiatan persiapan lapangan dan penanaman.
a. Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan terdiri dari kegiatan pembersihan lapangan dan pengolahan tanah.
Berdasarkan hasil analisa data vegetasi penutup lahan dan kemiringan Jahan
dilakukan pengkajian untuk menentukan. cara pembersihan’lahan (manual atau
herbicida), demikian juga dengan cara pengolaban tanah, terlebih dahulu dilakukan
pengkajian terhadap sifat tanah (kepekaan terhadap erosi) dan kemiringan lahan
untuk menentukan apakah pengolahan dilakukan secara manual/cemplongan atau
mekanis.
Materi pelengkap krida Binawana -58-1) Pembersihan Lahan
Pembersihan lahan dilakukan untuk memperoleh lahan siap tanam, terbebas dari
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman seperti gulma, semak
belukar dan tumbuhan lain. Untuk jenis tanaman toleran (tahan naungan)
pembersihan dilakukan secara jalur sedang untuk jenis intoleran dilakukan
secara total.
Persyaratan teknis pemilihan cara pembersihan lahan
2
a)
b)
°)
@)
Pembersihan lahan secara mekanis
(1) Kondisi fisik lapangan cukup keras atau dapat dilalui alat berat, tidak
mudah erosi.
(2) Prosentasi lereng < 15%.
(3) Terdapat iklim kering 6 bulan dan 6 bulan iklim basah.
(4) Kondisi vegetasi awal berupa belukar, berdiameter kecil, jumlah dan
penyebaran tanggul cukup sedikit.
(5) Jenis tanaman yang akan ditanam jenis intoleran.
(© Waktu pelaksanaan pada musim kemarau.
Pembersihan lahan secara kimia
(1) Kondisi fisik lapangan tidak dapat dilalui peralatan berat (tingkat erosi
tinggi).
(2) Prosentase lereng lebih besar dari 15%.
(3) Mempunyai iklim kering 6 bulan dan 6 bulan iklim basah.
(4) Vegetasi awal ditumbuhi alang-alang mumi.
(5) Jenis tanaman yang ditanam jenis tanaman intoleran.
(6) Waktu pelaksanaan pada musim kemarau.
Pembersihan lahan secara manual
(1) Kondisi fisik lapangan tidak dapat dilalui peralatan berat (tingkat erosi
tinggi
(2). Prosentase lereng lebih besar dari 15%,
(3) Vegetasi awal hutan rawang, alang-alang dan semak belukar.
(4) Jenis tanaman yang ditanam jenis tanaman intoleran.
Pembersihan lahan dengan cara mengkombinasikan cara-cara tersebut
seperti manual dengan herbisida atau manual dengan mekanis.
Pengolahan Tanah.
a)
b)
Pengolahan tanah pada cemplongan manual dilaksanakan secara
menyeluruh (penuh) dengan tujuan untuk memperbaiki sifat tanah,
membersihkan lahan dari akan dan alang-alang, dengan jalan melakukan
paling sedikit | kali bajak dan 1 kali garu.
Pengolahan tanah pada tahapan pengisian petak tidak dilakukan secara
penuh (hanya 50% dari luas petak). Lahan yang diolah berbentuk jalur,
dan pengolahan tanah dilakukan sedikitnya satu kali bajak dan satu kali
garu.
‘Materi pelengkap krida Binawana -59-b. Penanaman
‘Tahapan palaksanaan penanaman meliputi pengaturan arah larikan, pemasangan ajir,
distribusi bibit, pembuatan lubang tanam dan penanaman.
dy
2)
3)
4)
Pengaturan Arah Larikan
Teknik penentuan arab larikan pada persiapan lahan secara manual dan kimiawi
(berbisida) dilakukan sebelum. kegiatan pembersihan lahan. Arah larikan
tanaman pada areal yang datar atau landai dapat dibuat arah utara - selatan atau
timur - barat, sedangkan pada areal yang bertopografi agak curam sampai-
dengan sangat curam arah larikan tanaman sejajar kontur.
‘Untuk lahan yang dikerjakan secara mekanis pembuatan arah larikan dilakukan
setelah pengolahan tanah/lahan siap tanam.
Pemasangan Ajir
Pemasangan ajir mengikuti arah larikan tanaman. Pemasangan ajir pada areal
penyiapan lahan secara manual/herbisida dilakukan setelah pembersihan lahan.
Cara pemasangannya dengan cara menarik tali dari ajir arah larikan pertama
dengan arah yang sejajar. Sedangkan pada areal lahan yang dikerjakan secara
mekanis pemasangan ajit dapat dilakukan bersamaan dengan pembuatan arah
larikan. Pemasangan ajir tanaman mengikuti jarak tanam yang telah ditetapkan
pada rancangan tanaman,
Distribusi Bibit
Pada pembersihan lahan secara manual dan herbisida, distribusi dilakukan
setelah kegiatan pembuatan lubang tanam, sedangkan pada persiapan sistim
mekanis distribusi bibit dilakukan setelah pemasangan ajir.
Penanaman
a) Bibit dalam kantong plastik
Sebelum melakukan penanaman perlu memperhatikan langkah-langkah
berikut +
Pertama
Pethatikan ondisi lubang tanam apakah lubang tanam telah
dibuat/dipersiapkan dengan baik dan benar, kalau belum memenuhi syarat,
perlu dipesbaiki, baik lebar maupun dalam: Ukuran yang ideal + 30 cm x
30 cm x 30 cm, diusahakan jangan ada air yang tergenang pada lubang
tanam. Pastikan lubang tanaman tidak terendam air, apabila terendam air
terlebih dahulu air tersebut dikeluarkan atau sedikit ditutup tanah.
Materi pelengkap krida Binawana -60-»)
Kedua
Lihatlah dan amati kondisi bibit, apakah bibit yang dikirim adalah
bibit yang sehat dan memenubi standar untuk ditanam (ukuran
tinggi + 30 cm).
Ketiga
Kepal-kepal bumbung tanaman (media tanaman) dengan kedua telapak
tangan, sampai media tanaman kompak (tidak pecah), dan media tanaman
longgar dari bumbung plastik, sehingga memudahkan melepas bumbung
plastiknya.
Keempat
Lepaskan bumbung plastik dari media dengan cara menarik ujung bawah
plastik, apabila masih sulit robek plastik dengan hati-hati jangan sampai
media pecah (akan merusak akar tanaman/akar tanaman putus).
Kelima
Letakkan bibit tersebut di lubang tanam dengan tegak lurus, diusahakan
jangan sampai terlalu dalam, diperkirakan 1/4 dari tinggi tanaman.
Timbunlah lubang tanaman sampai lebih tinggi dari permukaan tanah di
sekitamya, dan terus dipadatkan dengan jalan diinjak-injak dekat tanaman,
sampai dipastikan tanaman berdiri kokoh/tidak mudah roboh.
Keenam
Kantong plastik tancapkan pada ajir tanaman sebagai tanda telah diadakan
penanaman.
Penanaman Stek
Penanaman dengan stek lebih sederhana dari pada penanaman dengan
‘sistem bumbung antara lain :
Pertama
Penanaman dengan stek tidak memerlukan persyaratan lubang tanam
seperti bibit bumbung.
Kedua
Perhatikan bakal tanaman/stek, apakah cukup baik (tidak kering, terdapat
bakal tunas dan panjang yang cukup).
Ketiga
Tanamkan stek ke lubang tanam dengan posisi agak miring, hal ini
dimaksudkan agar tidak terjadi pelepasan air dalam tanaman terlalu cepat.
Materi pelengkap krida Binawana -61-c) Penanaman Stum
Penanaman dengan stum hampir sama dengan penanaman dengan stek.
Penanaman di lapangan dilakukan pada waktu musim hujan, utamanya
apabila hujan telah merataa dan tanah sudah cukup lembab, Waktu
penanaman paling baik adalah pagi hari atau pada cuaca mendung/berawan.
Dalam penanaman perlu diperhatikan yaitu kecepatan/kemampuan
distribusi bibit dengan tenaga penanaman harus seimbang dan ketelitian
pekerja dalam memperhatikan kondisi bibit dan teknis penanaman.
¢. Pemupukan
Penggunaan pupuk sebaiknya menggunakan pupuk organik atau pupuk anorganik.
Pemupukan pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur 1 bulan dengan dosis
tidak lebih dari 100 gram NPK (15 : 15 : 15) untuk setiap batang tanaman atau
sesuai dengan apa yang direkomendasi dalam rancangan.
5. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman
1) Penyulaman dilakukan terhadap semua tanaman yang akan rusak atau telah
mati.
2) Bibit untuk penyulaman, dapat digunakan berupa anakan atau stek dari jenis
tanaman yang sama dengan jenis yang disulam.
3) Waktu penyulaman, dilakukan pada awal musim penghujan.dengan hujan yang
tmerata dan cukup teratur pada tanaman yang telah berumur satu bulan.
b. Penyiangan dan Pendangiran
Penyiangan dan pendangiran dilakukan setiap tahun menjelang musim kemarau
sampai dengan tahun ketiga dan identitas pelaksanaan minimal dua kali setahun.
Penyiangan dan pendangiran adalah usaha untuk membebaskan tanaman pokok,
tanaman sela dari jenis tanaman pengganggwguilma, serta memberikan kondisi
tanaman pokok/tanaman sela untuk hidup yang lebih baik.
1) Penyiangan
a) Penyiangan tanaman sela pada sistim Banjarharian cara jalur dilakukan
- pembersihan pada seluruh jalur tanaman.
b) Penyiangan tanaman pada sistim Banjarharian cara camplongan dilakukan
pembersihan hanya pada piringan tanaman dengan radius 50 cm, yang
dalam pelaksanaannya dilakukan dengan cara menghilangkan/ mematikan
tanaman pengganggu yang merupakan saingan bagi tanaman
pokok/tanaman sela dalam hal persaingan hara dan mineral.
c) Penyiangan tanaman dengan sistim mekanis dilakukan pembersihan pada
seluruh jalur tanaman baik secara manual maupun mekanis.
Materi pelengkap krida Binawana -62-e.
2) Pendangiran
Pendangiran dilakukan pada sekitar tanaman pokok tanaman sela dengan radius
25 om. Dengan cara menggemburkan tanah pada sekitar batang agar tanah lebih
gembur dan acrasi udara cukup baik.
Pada sistim tumpangsari selain pendaringan dilakukan pula pemeliharaan
tanaman sela melalui pemangkasan dengan ketentuan sebagai berikut :
a) Pemangkasan tanaman sela dilakukan bila tajuk tanaman sela mengganggu
tanaman pokok.
b) Tanaman sela dipangkas kurang lebih 10 cm dari pangkal akar. Hasil
pemangkasan disimpan di kiri kanan larikan tanaman pokok dan ditimbun
dengan tanah agar dapat berfungsi sebagai pupuk hijau.
c) Setiap jarak 1 meter ditinggalkan satu pohon tanaman sela yang tidak
dipangkas untuk dijadikan sebagai induk penghasil biji.
Pengendalian hama dan penyakit
Pada umumnya tanaman murni (monokultur) yang terdiri dari satu jenis dan
berumur amat muda diserang berbagai jenis hama dan penyakit.
Beberapa cara pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit adalah sebagai
berikut :
1) Secara Biologis
Pengendalian hama dan penyakit dengan cara biologis dapat dilakukan antara
Jain dengan cara memberikan serangga pemakan (predator) pada areal tanaman
yang terkena serangan hama. Cara yang lain dengan membuat penanaman jenis
secara campuran.
2) Secara Kimia
Pengendalian hama dan penyakit secara kimia dapat dilakukan dengan cara
penyemprotan insektisida dan fungisida. Tetapi dalam pemakaiannya harus
mompertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan makhluk hidup yang lain.
3) Secara Mekanis
Pengendalian hama dan penyakit secara mekanis dapat dilakukan dengan cara
pemotongan tanaman yang terkena serangan.
Pengendalian penggembalaan tak terkendali dan binatang liar.
Apabila lokasi penanaman berdekatan dengan perkampungan penduduk, ternak-
temak yang digembalakan secara tidak terkendali sering mengganggu tanaman
hutan, misalnya memakan pucuk tunas muda. Cara. pencegahan yang dapat
dilakukan antara lain membuat pagar disekeliling tanaman. Akan tetapi tidak
ekonomis karena biayanya mahal. Cara lain dengan membangun padang
penggembalaan secara khusus.
Binatang liar seperti babi hutan, rusa, tikus, kera dan sebagainya sering merusak
tanaman hutan. Cara untuk pemberantasannya dapat dilakukan dengan memasang
Materi pelengkap krida Binawana -63-perangkap dan mengadakan pemburuan dan sebagainya. Di samping itu
penggembalaan tak terkendali sering kali menyebabkan kebakaran hutan, oleh
Karena suatu kebiasaan pengembalaan membakar alang-alang tua untuk
mendapatkan alang-alang/rumput muda.
Pengendalian Api (kebakaran hutan)
Api merupakan permasalahan yang paling serius mengancam tanaman lebih-lebih
bila tanaman berlokasi di !ahan alang-alang. Asal atau sumber api biasanya dari
pembakaran alang-alang. (perladangan berpindah) penggembalaan tak terkendali,
puntung rokok dan sebagainya.
Aspek-aspek dalam pengendalian api yang perlu diketahui antara lain :
1) Pencegahan
Tindakan pencegahan timbulnya api merupakan hal yang penting dalam
kegiatan pengendalian api, dan dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
a) Penyuluhan bahaya api terhadap masyarakat di sekitar lokasi tanaman yang
dilaksanakan baik secara langsung misalnya dengan kunjungan dari rumah
ke rumah, pemutaran film slide di pertemuan maupun sekolah dan
sebagainya, gambar-gambar tentang bahaya api terutama dimusim kemarau.
b) Pembangunan sarana prasarana, seperti antara lain :
(1) Pembangunan sekat bakar.
(2) Pembangunan jalan hutan.
(3) Pembuatan kantong-kantong air.
2) Deteksi Api
Deteksi api adalah kegiatan penemuan api sedini mungkin.
Deteksi api dilakukan dengan cara :
a) Pembuatan menara pengawas api
Menara pengawas api adalah merupakan salah satu cara efektif untuk
mengetahui adanya api secara dini dan didesain serta dibangun secara baik
di lapangan. .
Menara api tersebut perlu dilengkapi dengan radio komunikasi, teropong,
peta dan sebagainya dan dipergunakan sepanjang hari, terutama pada
musim kemarau.
b) Patroli dan perondaan pada musim kemarau perlu dilakukan secara intensif,
guna mengetahui kemunculan api sedini mungkin. Patroli dapat dilakukan
dengan jalan kaki, sepeda motor, kendaraan roda empat maupun dari udara
{helikopter).
3) Pemadaman Api
Tindakan terakhir dalam pengendalian api adalah pemadaman. Pekerjaan
pemadaman api merupakan pekerjaan yang banyak memerlukan pikiran dan
tenaga.
Materi pelengkap krida Binawana -64-Hal-bal yang perlu dipikirkan antara lain :
a) Peralatan pemadaman api
‘Agar pemadaman api dapat dilakukan secara efektif perlu disediakan
peralatan seperti mesin pompa air, pemukul api, alat semprot, punggung
kendaraan bermotor, peralatan berat (buldozer, Wheel Traktor, radio
komunikasi (SSB,CB) dan VHP transcelver).
>) Organisasi regu pemadam api.
Regu pemadam api yang telah terlatih dan terorganisir dengan baik amat
mendukung tindakan pemadam api. Untuk itu dalam alokasi penanaman,
perlu disusun regu pemadaman api dengan melibatkan seluruh staf/pekerja.
Cara pemadaman api dapat dilakukan sebagai berikut :
(1) Pemadaman api secara biasa
Apabila api terjadi pada blok tanaman hutan agar tidak meluas ke blok
yang lain secepatnya dibuat sekat bakar/ilaran api yang dibuat dengan
buldozer atau wheel traktor berjarak 100 meter dari sumber api. Bila
tidak tersedia buldozer dan sebagainya api dapat digiring ke sungai,
lembah-lembah yang bervegetasi belukar. Dengan penggiringan api
tersebut regu pemadam api dapat secara mudah mematikan api.
Sebaiknya apabila telah mempunyai alat pemadam kebakaran hutan
yang lengkap, pemadaman api dengan menggunakan alat. pompa
penyemprotan air, pemukul api dapat secara langsung dilakukan setelah
pembuatan sekat bakar. Komandan regu dipegang satu orang.
(2) Pemadaman api secara pembakaran terbalik
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan pembakaran terbalik,
dengan maksud menghabiskan bahan-bahan seperti tumbuhan yang
mudah menyala.
6. Jadwal Pelaksanaan Penanaman
Jadwal pelaksanaan penanaman harus diusahakan dapat dilakukan pada awal sampai
periode musim hujan setempat. Untuk memberi késempatan tumbuh bagi
bibit yang ditanam selama hujan yang tersisa sekurang-kurangnya 2 bulan. Dengan
demikian penyiapan bibit siap tanam dan pengolahan tanah harus diatur sedemikian rupa
agar jadwal penanaman dimaksud dapat berjalan sesuai dengan musim.
Materi pelengkap krida Binawana -65-1
2.
E. PERLEBAHAN
Pengertian
b,
Perlebahan adalah suatu rangkaian kegiatan pemanfaatan lebah dan produk-
produknya serta vegetasi penunjang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-
‘besamya bagi kepentingan masyarakat dengan memperhatikan aspek kelestariannya.
Lebah madu adalah serangga sosial, yang hidup bergerombol dalam keluarga lebah
(koloni).
Lebah ratu adalah lebah madu berkelamin betina sempurna yang merupakan induk
dari suatu koloni lebah.
Lebah jantan adalah lebah madu berkelamin jantan yang bertugas mengawini ratu.
Lebah pekerja adalah lebah madu berkelamin betina tidak sempurna yang
mempunyai tugas merawat ratu, jantan dan larva, membersihkan sarang,
membangun sarang, menjaga temperatur sarang, menjaga keamanan, mencari air,
nektar dan pollen.
Madu adalah substansi manis yang dihasilkan oleh lebah madu berasal dari nektar
bunga atau sekresi tumbuh-tumbuhan yang dikumpulkan, ditransformasikan dan
disimpan dalam sisiran sarang oleh lebah madu (menurut FAO).
Royal Jelly adalah makanan larva lebah ratu yang terdapat di dalam sel calon ratu
dihasilkan oleh kelenjar hipopharing dan kelenjar mandibula lebah pekerja muda;
mengandung gula, air, vitamin-vitamin, asam pantothenat, biopterin dan neopterin.
Lilin lebah adalah parafin yang dihasilkan oleh kelenjar lilin di bagian ventral
abdomen lebah pekerja.
Propolis adalah substansi resin berwarna jingga kecoklatan sampai dengan merah
yang dihasilkan oleh lebah madu berasal dari bagian tanaman atau bagian luka
tanaman berkayu.
Polinasi adalah perpindahan pollen/tepung sari dari organ bunga jantan ke bagian
organ bunga betina pada suatu bunga yang sama atau bunga lain dari species
tumbuh-tumbuhan yang sama,
Manfaat Lebah Madu
Bagi kehidupan manusia budidaya lebah madu dapat memberikan manfaat baik secara
Jangsung maupun tidak langsing.
Materi Pelengkap Krida Binawana -66-a. Manfaat langsung.
Manfaat langsung budidaya perlebahan, yaitu meningkatkan pendapatan masya-
rakat dari hasil perlebahan berupa madu, tepungsari, royal jelly, propolis, Tin lebab lebah,
racun lebah dan lain-lain,
b. Manfaat tidak langsung budidaya perlebahan, yaitu :
1) Peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat.
2) Peningkatan produksi pertanian, perkebunan, dan kehutanan melalui
penyerbukan (polinasi).
3) Menciptakan kesempatan kerja dan beruseha.
4) Mendukung perhutanan sosial dan rehabilitasi lahan melalui kegiatan tanam
menanam
3. Biologi Lebah
‘a, Sistematika.
Secara lengkap klasifikasi lebah, sebagai berikut :
Phylum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Hymenoptera
Familia : Apidae
Genus : Apis
Species i+ Apis andreniformis
- Apis florea
+ Apis dorsata
- Apis cerana
- Apis koschevnikovi
- Apis mellifera
- Apis nigrocincta
- Apis nuluensis
Berdasarkan cara membangun sarangnya lebah madu dapat dibedakan menjadi 2
jenis, yaitu:
1) Jenis lebah yang membangun sarang secara tunggal, yaity :
a) Apis andreniformis (lebah kecil/klanceng berwarna putih).
b) Apis florea (lebah kecil/klanceng berwarna hitam).
¢) Apis dorsata (lebah hutan/tawon gung/odeng).
2) Jenis lebah yang membangun sarang secara berganda, yaitu :
a) Apis cerana (lebah madu likal, tawon gelodok/jawa, nyiruan/sunda).
b) Apis koschevnikovi (lebah merah asli Kalimantan).
¢) Apis mellifera (lebah Eropa).
d) Apis nigrocincta (lebah asli Sulawesi, mirip Apis cerana).
Materi Pelengkap Krida Binawana = -67-©) Apis nuluensis (Jebah asli Kalimantan berwarna kehitam-hitaman yang
hidup di dataran tinggi).
Dari beberapa jenis lebah tersebut Apis cerana dan Apis mellifera paling lazim
dibudidayakan oleh para peternak lebah, sedangkan Apis dorsata pemanfaatannya
dengan jalan memburu sarangnya di hutan yang biasanya dilaksanakan oleh
masyarakat sekitar hutan di luar Jawa.
Kehidupan koloni.
Lebah madu hidupnya bergerombol membentuk koloni, setiap koloni terdiri atas :
1) Lebah ratu, dengan ciri-ciri :
a) Dalam satu koloni hanya terdapat satu ekor ratu.
b) Bentuk badan bulat panjang, berbentuk oval, lebih besar dari lebah jantan
maupun lebah pekerja.
©) Berkelamin betina sempuma.
Peranannya, yaitu :
Bertugas mengembangkan keturunan terus-menerus (dalam keadaan sehat Apis
cerana mampu bertelur 500-900 butir dan Apis mellifera mampu bertelur
sampai 1.500 butir dalam schari, kemampuan bertelur berlangsung 3-5 tahun
dan masa produktif sampai 2 tahun.
2) Lebah jantan, dengan ciri-ciri :
a) Dalam satu koloni terdapat beberapa puluh ekor lebah jantan.
b) Ukuran badan lebih besar dari lebah pekerja, tetapi lebih kecil dari
lebah ratu.
c) Berkelamin jantan sempuma, tidak mempunyai sengat.
Peranannya, yaitu :
Tugas utama mengawini lebah ratu, apabila sempat kawin lalu mati.
3) Lebah pekerja, dengan ciri-ciri :
a) Dalam satu koloni terdapat beberapa ribu Iebah pekerja.
b) Ukuran badan paling kecil.
¢) Berkelamin betina sempurna, mempunyai sengat.
Peranannya, yaitu :
a) memberi makan lebah ratu dan larva.
b)_membangun dan membersihkan sarang.
c) menjaga temperatur sarang.
d)_ menjaga keamanan.
e) mencari air, madu dan tepungsari.
f) Memproses dan menyimpan madu serta menjaga sarang.
Materi Pelengkap Krida Binawana -68-4, Tanaman Pakan Lebah
Lebah madu sebagaimana makhluk hidup lainnya memerlukan makan untuk
mempertahankan hidupnya. Sumber pakan bagi lebah madu sebagian besar dihasilkan
oleh tanaman yaitu berupa polen (tepungsari), nektar (cairan manis yang dihasilkan oleh
bagian tanaman baik berupa bunga maupun kuncup-kuncup daun muda).
Jenis-jenis tanaman yang merupakan sumber pakan bagi lebah dinamakan tanaman
pakan lebah. Beberapa jenis tanaman pakan lebah yang sudah banyak dikenal, antara
lain.
No. | Nama daerah /lokal | Nama latin Kandungan
1 | Kelapa Cocos nucifera Nektar (N)
Polen (P)
2 | Kaliandra Calliandra calothyrsus N
3. | Kapuk randu Ceiba pentandra NP
4 | Mangga Mangifera indica N
5 | Rambutan Nephelium lappaceum N
6 | Lengkeng Euphorbia longan N,P
7 ‘| Sonobrit Dalbergia sisso N,P
8 | Akasia Acacia mangium N
9 | Durian Durio zibethinus N
10 | Semangka Citrullus lanatus NP
11 | Krokot Portulaca oleracea P
12 | Jeruk Citrus sp N,P
13. | Kopi Coffea sp NP
14 | Karet - Hevea brasiliensis N
15. | Kedele Glycine soja N,P
16 | Bunga matahari Helianthus anuus N,P
17 | Lamtoro Leucaena leucocephala P
18 | Apel Pyrus malus N,P
19 | Alpuket Persea americana N,P
20 | Asam Tamarindus indica N
21 | Aren Arenga pinnata P
22 | Blimbing Averroa belimbi N,P
23 | Jagung Zea mays P
24 | Pisang Musa paradisiaca N,P
25 | Putri Malu Mimosa pudica P
26_| Rumput-rumputan Gramineae P
5. Teknik Budidaya
a. Menentukan lokasi
Keberhasilan budidaya-lebah madu sangat tergantung pada langkah awal, yaitu
penentuan lokasi sebagai berikut :
Materi Pelengkap Krida Binawana = -69-1) Terdapat pakan lebah dalam jumlah yang memadai pada radius terbang antara
400 - 700 meter,
2) Tanaman pakan lebah tersedia sepanjang tahun, satu atau kombinasi’ dari
beberapa jenis tanaman,
3) ‘Terdapat air bersih.
4) Tinggi tempat sampai dengan kurang lebih 1.200 meter dpl, dengan suhu rata-
rata antara 20-30%C dan kelembaban kurang dari 80%.
5) Tidak ada polusi udara dan suara.
6) Tidak ada angin kencang.
7) Bukan daerah pertanian intensif yang penggunaan kadar insektisidanya tinggi.
Berburu lebah madu.
Untuk mendapatkan koloni lebah madu (Apis cerana) dapat dilakukan dengan cara
berburu lebah, yaita menangkap koloni lebah yang hidup liar di alam, di rumah,
Pohon-pohon atau di gua. Untuk memudahkan penangkapan biasanya dilakukan
‘pemasangan perangkap berupa glodok. Glodok yang digunakan adalah yang sudah
siap ditempati lebah, atau bi!a glodok baru hendaknya dilumuri terlebih dahulu
dengan iilin lebah. Tempatkan glodok perangkap di lokasi yang ada Iebahnya dan
biarkan sampai dihuni lebah tangkapan, kemudian setelah cukup lama lebah
tangkapan tersebut dipindahkan ke dalam kotak lebah (stup).
Apabila berburu lebah dilakukan pada tempat yang jauh maka diperlukan peralatan
seperti : kurungan ratu, kotak buru, kain kasa hitam betbentuk kerucut dan masker.
Cara berbura, yaitu :
1) Apabila ditemukan koloni maka segera dicari lebah ratunya, dan rat diaman-
kan dalam kurungan ratu.
2) Tempatkan kurungan ratu pada ujung kain kasa bagian dalam.
3) Kain kasa diatur dalam posisi terbalik di atas koloni Iebah, selanjutnya koloni
Jebah diusik agar lebah terbang semuanya masuk ke dalam kain kasa.
4) Apabila lebah sudah masuk dalam kain kasa, kain kasa ditutup dan diikat,
kemudian siap di bawa pulang.
5) Pilih sarang yang utuh (ada madu, polen dan anakan).
6) Potong sarang secara hati-hati dan tempelkan pada sisiran (bingkai) serta diikat.
7) Simpan bingkai dalam kotak lebah. ;
8) Koloni lebah hasil buruan beserta bingkainya tersebut ditertibkan dalam kotak
eram.
Penempatan koloni
1) Koloni ditempatkan dekat dengan jalan pemeriksaan.
2) Terlindung dari sinar matahari langsung dan curahan air hujan.
3) Kotak lebah disusun berderet dengan jarak 1 - 1,5 m.
4) Kotak lebah diletakkan di atas standar kurang lebih 0,5 m di atas permukaan
tanah, Kaki standar diolesi minyak/oli agar semut tidak naik.
5) Posisi kotak menghadap matahari terbit dan membelakangi jalan pemeriksaan
Materi Pelengkap Krida Binawane -70-6
d. Cara memperbanyak koloni lebah
Koloni lebah yang akan dipecah harus dalam keadaan kuat/prima, dalam kotak
terdapat 8 sisiran yang penuh lebah, ratu lebah aktif bertelur, koloni bebas dari hama
dan penyakit serta cukup 'tersedia pakan lebah. Apabila syarat tersebut terpenuhi,
maka koloni lebah dapat dipecah dengan cara : koloni dibagi 2, diletakkan berjauhan
agar lebah tidak kembali ke sarang semnula. Koloni baru yang belum ada ratunya
akan membentuk ratu sendiri bilamana di dalam koloni tersebut terdapat telm atau
larva lebah pekerja yang berumur kurang dari 3 (tiga) hari.
Peralatan Budidaya
Dalam budidaya lebah madu yang sudah maju (modern) dikenal peralatan, seperti :
petalatan utama berupa kotak lebah beserta sisiran/bingkai sarang, peralatan pelengkap
dan peralatan petugas.
a. Kotak lebah. .
Kotak lebah sangat dianjurkan penggunaannya, karena lebih menguntungkan bila
dibandingkan dengan glodok. Keuntungan tersebut, yaitu :
1) Kita dapat memeriksa keadaan koloni lebah tanpa merusak sarang.
2) Pemanenan madu dapat dilakukan dengan selektif dan tidak merusakkan sarang
yang tidak perlu (misal sarang yang berisi anakan lebah).
b. Peralatan pelengkap.
Peralatan pelengkap, digunakan untuk tertibnya pemeliharaan lebah, antara lain
berupa :
1) Fondasi sarang (comb fondation), berguna untuk mempercepat pembangunan
sarang.
2) -Sekat ratu (queen excluder), berguna untuk menahan gerakan lebah ratu agar
tidak naik ke kotak super.
3) Kurungan ratu (queen cage), berguna untuk mengamankan yatu atau
mengadaptasikan ratu.
4) Mangkok ratu (queen cell), berguna untuk membuat calon ratu.
5) Bingkai stintulasi (feeder), berguna untuk wadah pakan tambahan yang berupa
sirop.
¢. Perlengkapan petugas
1) Pengasap (smoker), berguna untuk menjinakkan lebah.
2). Penutup muka (masker), berguna untuk melindungi muka dari serangan lebah
3) Pengungkit (hive tool), berguna untuk membantu mengangkat sisiran yang
melekat pada kotak.
4) Sarung tangan (glove), berguna untuk melindungi tangan dari sengatan lebah.
5) Sikat lebalh (bee brush), berguna untuk menghalau lebah dari sisiran.
Materi Pelengkap Krida Binawana -71-7. Penanggulangan Hama dan Penyakit
a. Hama lebah
Hama lebah madu cukup banyak baik yang mengganggu ketenangan koloni lebah
maupun yang memangsanya. Hama lebah sebagai berikut :
1) Ngengat filin.
Sejenis larva kupu-kupu, dapat memakan lilin lebah sehingga merusak sisiran
yang belum ditempati.
Cara penanggulangan :
a) Usahakan kotak selalu bersih.
b) Pintu masuk diperkecil.
c) Pasang lampu perangkap pada malam hari.
d) Bila dijumpai telur ulat/ngengat segera dimusnahkan.
e) Kuatkan koloni.
2) Tungau
Jenis hama ini sangat berbahaya bagi kehidupan lebah apis mellifera, karena
menyebabkan pertumbuhan Jebah tidak sempurna atau mati. Tungau mengisap
cairan tubuh lebah dari tingkat larva sampai dewasa. Dua jenis Tungau yang
penting, yaitu Varroa jacobsoni dan Tropilaelaps clarae.
Cara penanggulangan :
a) Gunakan akarisida, dosis 1 CC/1 liter air. Aplikasi 2-3 kali, selang waktu 4
‘hari dengan penyemprotan pada pagi hari.
b) Gunakan campuran serbuk kapur barus dan belerang dengan perbandingan
3:1, Tebarkan di atas karton dan masukkan ke dalam kotak lebah, lakukan
sore hari kurang lebih selama 3 jam. Aplikasi 2-3 kali selang waktu 4 hari.
©) Gunakan strip pemberantas kutu, misalnya Apistan, Folbex VA.
3) Semut
Serangga ini mengganggu koloni dengan memakan anakan polen atau madu.
Cara penanggulangan :
a) Olesi kaki standar kotak lebah dengan oli/minyak.
6) Musnahkan sarang semut.
4) Tabuhan (Vespa spp)
Scrangga ini sejenis kumbang pemangsa lebah.
Cara penanggulangan :
a) Tangkap dengan jaring dan dibunuh.
b) Musnahkan sarang tabuhan Vespa spp.
Materi Petengkap Krida Binawana -72-c). Bila menangkapnya, ikatkan kapas yang telah dicelupkan kedalam
insektisida dan dilepas, racun yang menempel pada tabuhan akan dapat
membunuh tabuhan lain yang berasal dari sarang tabuhan yang sama.
b. Penyakit lebah yang penting
1) Busuk larva
Larva lebah membusuk, disebabkan adanya serangan bakteri.
Cara penanggulangan :
a) Kuatkan koloni lebah.
b) Berikan stimulasi polen.
©) Berikan stimulasi gula yang dicampur dengan terramycin.
d) Musnahkan sisitan yang terserang.
2) Keracunan
Lebah madu teracuni insektisida akibat penggunaan di sekitar lokasi kegiatan
perlebahan.
Cara penanggulangan :
a) Dalam penentuan lokasi pemeliharaan lebah terutama pada saat
penggembalaan, sedapat mungkin dihindari adanya lokasi pertanian
disckitarnya yang sering diadakan penyemprotan insektisida secara intensif.
b) Tutup pint kotak lebah saat petani menggunakan insektisida, biarkan
selama 2.3 hari setelah aplikasi insektisida.
©) Berikan stimulasi gula sebelum pintu kotak lebah ditutup.
8. Panenan Madu
Bila dalam koloni lebah sudah banyak terdapat madu, dilakukan pengambilan/panen
madu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam panen madu, sebagai berikut :
a. Panen dilakukan pada pagi dan sore hari.
b. Dipilih sisiran yang baik, yaitu 2/3 bagian dari sel-sel madunya tertutup.
c. Menggunakan sikat lebah, lebah yang menempel pada bingkai/sisiran madu dihalau
agar terbang kembali ke kotak lebah.
d. Madu diambil dengan cara dipres atau dengan menggunakan alat ekstraktor
(pemanen madu), setelah sisiran lebah dilepas dari bingkainya dengan menggunakan
pisau panen.
e. Setelah madu diambil, dilakukan penyaringan agar didapat hasil madu yang bersih
dari kotoran.
‘Agar madu hasil panen dapat lebih tahan lama, maka dalam penyimpanannya perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Materi Pelengkap Krida Binawana -73-a, Tempat penyimpanan terbust dari bahan yang tidak mudah bereaksi (gelas, botol dan
lastik.
b. Suh penyimpanan adalah suhu kamar, maksimum 37 Derajat Celsius, jangan
disimpan di lemari es.
c. Kadar air paling tinggi 20%.
d. Penyimpanan madu sebaiknya tertutup rapat, untuk menghindari kontaminasi dari
juar (sifat madu Higroskopis).
9. Komposisi dan Mutu Madu
Bobot jenis 1,4225
‘Nilai kalori 100 gram = 303 kal
Daya pemanis dan kesetaraan gula :
a. 1 volume madu = 1,67 volume gula pasir.
b. 0,453 kg madu = 0,430 kg gula pasir.
b. Mutu madu
Berdasarkan standar muta madu yang telah ditetapkan oleh pemerintah yaitu dengan
Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3545-1994), madu Indonesia harus memenuhi
bbeberapa persyaratan sebagai berikut :
Materi Pelengkap Krida Binawana’ -74-1.
2.
3.
4,
5.
6.
7
8.
9
9.1 Timbal (Pb)
9.2 Tembaga (Cu)
9.3 Arsen (As) _
Materi Pelengkap Krida Binawana -75-F. BUDIDAYA JAMUR
Umum
a. Pengertian Jamur
Jamur termasuk golongan fungi atau cendawan. Menurut masyarakat awam, jamur
jalah tubuh buah yang dapat dimakan. Sedangkan menurut ahli mikrobiologi, jamur
atau mushroom ialah fungi yang mempunyai bentuk tubuh buah seperti payung.
Struktur reproduksi berbentuk bilah yang terletak pada permukaan bawah dari
Payung/tudung. Jamur adalah organisme yang tidak berklorofil termasuk ordo
Agaricales kelas Basidiomicetes,
Sebagai organisme yang tidak berklorofil, jamur tidak dapat melakukan proses
fotosintesa seperti halnya tumbuh-tumbuhan. Jamur mendapat makanan dalam
bentuk jadi seperti selulose, glukose, protein dan senyawa pati.
Secara alami jamur dapat tumbuh pada musim tertentu dalam satu tahun, karena
jamur dalam hidupnya tergantung temperatur dan kelembaban.
b. Penentuan Jamur Beracun
Seperti kita ketahui tidak semua jamur dapat dimakan, dan beberapa jamur diketahui
sebagai jamur beracun. Cara yang baik untuk’ membedakan jenis jamur adalah
mengidentifikasi dengan bantuan kunci identifikasi,
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membantu dalam menghindarkan
keracunan jamur, ialah :
1) Hindari pengumpulan jamur dalam stadia kancing, karena pada stadia tersebut
sulit untuk membedakan jenis yang satu dengan yang lain (pertumbuhan awal).
2) Hindari jamur yang tumbuh pada kotoran binatang yang bilahnya berwama
‘coklat dan kehitaman,
3) Hindari jamur yang bila dipotong mengeluarkan cairan putih seperti susu.
4) Jangan memakan jamur dalam stadia lanjut/hampir busuk.
5) Jamur yang menampakkan bekas gigitan kelinci/binatang tidak merupakan
jaminan bahwa jamur tersebut dapat dimakan.
6) Jangan memakan jamur mentah/belum dimasak.
¢. Jenis Jamur
Berdasarkan hasil penelitian, jamur dapat tumbuh pada media yang mengandung
selulosa dan lignin seperti jerami, daun pisang, ampas tebu, tongkol jagung, sekam
padi, dedak, kapas, Kulit kacang tanah, dan serbuk gergajian kayu.
Berdasarkan jenis media tumbuh dikenal jenis-jenis jamur yang dapat dimakan
antara lain jamur merang dan jamur kayu.
Materi Pelengkap Krida Binawana -76-a.
1) Jamur Kayu, terdiri dari :
a) Jamur Tiram
(1)Pleurotus ostreatus (Jamur Tiram Putih/White Oyster/Hiratake).
(2)Pleurotus sayor caju (Jamur Tiram Abu-abu).
)Pleurotus cystidiosus/P. abalonus (Tiram coklat/ Tedokihiratake /
Jamur abalon).
(4)Pleurotus flabellatus (Jamur Tiram Pink/Pink oyster/Amyhiratake/
Sakura-shimeji).
(6)Tricholoma (Jamur Tiram Putih Lebat).
b) Jamur Kuping
(1) Auricularia polytrica (Jamur Kuping Hitam/Black Jelly/Arageki-
kurage).
(2)Auricularia yudae (Jamur Kuping Merah/Red Jelly/Kikurage).
(3)Tremella fuciformis (Jamur Kuping Agar/White Jelly/
Sirokikurage).
c) Jamur Payung
Lentinus edodes (Jamur payung, Jamur Jengkol, Shiitake).
2) Jamur Merang
Nilai Gizi dan Manfaat Jamur
Jamur mempunyai kandungan protein lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan
protein pada tumbuh-tumbuhan lainnya. Jamur juga mengandung macam-macam
vitamin, kalori dan kolesterol rendah serta beberapa jamur. dapat dipakai sebagai
obat-obatan. Kandungan gizi jamur kayu antara lain mengandung Karbohidrat 56%,
Lemak 1,7% dan Protein 29,4%. Jamur kuping (Auricularia) mempunyai khasiat
untuk mengobati sakit tenggorokan dan jamur shiitake dapat mencegah kanker dan
mengobati hipertensi.
2. Persyaratan Tumbuh
Setiap jamur memerlukan persyaratan tumbuh yang berbeda, diantaranya adalah sebagai
berikut :
a
Temperatur dan Kelembaban
1) Jamur Kuping : 20 - 28 derajat celcius, kelembaban 80% - 90%.
2) Jamur Tiram Coklat : 18 - 28 derajat celcius, kelembaban 80% - 90%.
3) Jamur Payung Coklat 15 - 20 derajat celcius, kelembaban 80% - 95%.
4) Jamur Merang 20 - 28 derajat celcius, kelembaban 85% - 95%,
Keasaman (pH)
‘Umumnya berkisar antara 5 - 6,
Tingkat keasaman di bawah dan di atas kisaran tersebut pertumbuhan jamur
terhambat.
Materi Pelengkap Krida Binawana -77-ce.
Zat Asam (02)
Diperiukan dalam kadar yang cukup, kekurangan O2 dan kelebihan CO2 dalam
udara akan menghambat perturnbuhan jamur,
Cahaya
Jamur hanya sedikit memerlukan cehaya.
Badan buah keci] dan panjang mencerminkan bahwa jamur tersebut kekurangan
cahaya.
3, Teknik Budidaya
a.
Persiapan
1) Penentuan Lokasi
Relatif sejuk, terlindung dari sinar matahari langsung, dekat sumber air dan
mudah untuk pembuangan air yang berlebihan.
2) Kubung (tempat menampung media tanam)
3) Ventilasi udara cukup.
b) Suhy dan kelembaban ruangan dapat diatur/dikendalikan.
¢) Dapat dibuat dari bahan yang relatif murah (bambu, kayu, atap alang-
alang).
d) Untuk menghemat ruangan, di dalam kubung dapat dibuat rak-rak
bertingkat.
3) Pembuatan Media
Bahan-bahan terdiri dari :
a) Jamur Kayu
(1) Serbuk gergaji kaya ~ 100 bagian.
(2) Dedak halus - 10 bagian.
(3) Kapur tembok halus - 0,5 bagian.
(4) Gips - 1,5 bagian.
(5) Urea ~ 0,5 bagian.
(6) TSP = 0,5 bagian.
(7) Air secukupnya (ukuran dalam satuan berat).
b) Jamur Merang
(1) Jerami = 100 bagian
(2) Kapur tembok - 1 bagian
G3) Urea - Sbagian
(4) Dedak halus = 10 bagian
(5) Air secukupnya (ukuran dalam satuan berat).
Materi Pelengkap Krida Binawana -78-b. Cara Kerja Pembuatan Media Jamur
1) Jamur Kayu
Serbuk gergaji diayak agar potongan kayu dan bahan lain tidak terbawa.
Kemudian serbuk kayu dicampur dengan dedak halus ditambah air sedikit demi
sedikit dicampur Urea dan TSP. Campuran tersebut digundukkan di atas plastik
Jalu ditutup dengan lembaran plastik agar terjadi pengomposan. Pengomposan
berlangsung 12-14 hari, dengan pembalikan-kompos setiap 3 - 4 hari sekali.
Gundukan tersebut dibongkar kemudian dicampur dengan kapur serta gips
dengan segera pada hari yang sama, campuran tersebut dimasukkan ke dalam
kantong plastik.
2) Jamur Merang
Jerami, kapur, urea direndam dalam air selama 2 - 3 jam kemudian ditiriskan
dan. ditutup dengan plastik dan dibiarkan terjadi fermentasi selama 4 sampai 6
hari. Setiap hari timbunan jerami harus dibalik. Sebelum diletakkan di rak-rak
bedeng, kompos jerami ditambah dedak halus. Untuk meningkatkan hasil
produksi jamur dapat ditambahkan lapisan limbah kapas pemintalan atau eceng
gondok yang telah direndam dan difermentasi.
c. Pasteurisasi
Pasteurisasi media jamur kayu dilakukan sebagai berikut :
1) Media tanam yang telah dimasukkan ke dalam kantong harus segera dilakukan
pasteurisasi dengan maksud agar media tanam bebas dari bakteri dan lain-lain
sehingga pertumbuhan jamur dapat normal.
2) Pasteurisasi dengan memasukkan media tanam dalam langseng pengukus (+ 8
- 10 jam) pada temperatur 95 - 100 derajat Celsius atau menggunakan autoclav
selama 1 - 2 jam.
4. Penyediaan Bibit
Bibit jamur yang siap tanam dapat diperoleh dengan cara membeli dari pengusaha
bibit atau dengan cara membuat sendiri. Cara membuat bibit adalah sebagai berikut :
1) Bahan dan alat yang diperlukan :
a) Jamur segar.
b) Medium (PDA) dapat diperoleh di apotik.
©) Cawan Patri.
d) Tabung gelas.
©) Alkohol.
£) Pisau anti karat.
g) Kompos yang telah disterilkan.
fh) Ruangan steril aseptik untuk mengerjakan inokulasi.
Materi Pelengkap Krida Binawana -79-2»
Cara Kerja
a) Badan jamur segar diolesi dengan alkohol, kemudian dipotong-potong kecil
dengan pisau anti karat.
'b) Masukkan potongan badan jamur ke dalam cawan patri yang telah diisi
dengan medium agar ditutup rapat dan biarkan sampai jamur tumbuh pada
medium tersebut.
¢) Pindahkan jamur yang tumbuh dari media agar_ke media kompos dalam
tabung gelas yang telah disterilkan.
e. Penanaman
)
2)
Jamur Kayu :
a) Kantong media yang telah steril dibiarkan selama + 12 jam.
b) Penanaman/pemasukan pengisian bibit di dalam media dilakukan dengan
hati-hati dan dalam keadaan steril, kemudian disimpan dalam ruangan
pertumbuhan jamur yang steril (sterilisasi-menggunakan formalin atau
alkohol).
c) Penanaman bibit dapat dilakukan di dalam kotak (inkas) yang terbuat dari
kaywtriplek, dengan bagian atas dari kaca diberi engsel agar dapat
dibuka/ditutup atau dilakukan pada ruang khusus (di dalam ruang
pemeliharaan).
Jamur Merang :
a) Bibit diletakkan pada jarak 75 cm dari sisi bedengan, jarak bibit yang satu
dengan yang lain 10 - 15 cm.
b) Sebelum penanaman jerami dibasahi dengan menggunakan sprayer
(semprotan tangan).
f. Masa Pertumbuhan Jamur (inkubasi).
Kondisi pertumbuhan jamur kayu adalah sebagai berikut :
)
2
3)
Berlangsung di ruang inkubasi (steril).
Suhu kamar yang sesuai (+ 25 derajat Celsius).
Masa pertumbuhan berlangsung | - 2 bulan, apabila benang jamur (misilium)
telah memenuhi media tumbuh (kantong plastik) dipindabkan ke ruang
produksi/kubung dan kantong plastik dibuka.
4, Pemeliharaan Jamur
a. Cara Pemeliharaan Jamur
)
2)
Kondisi ruangan tempat penanaman Jamur (Kubung atau Ruang Produksi) agar
dijaga kelembaban serta kadar air tetap dalam kondisi optimal dengan
melakukan penyiraman dengan cara penyemprotan air bersih. Suhu kelembaban
dapat diatur dengan mengatur ventilasi.
Penyemprotan air bersih tersebut dilakukan dua kali sehari pagi dan sore sampai
lantai basah, dihindarkan penyemprotan langsung mengenai badan buah untuk
menghindari kematian/busuk.
‘Materi Pelengkap Krida Rinawana -80-b. Pencegahan Hama dan Penyakit
Jenis hama dan penyakit yang umumnya mengganggu pertumbuhan jamur kayu
adalah lalat dan cendawan liar.
Cara pencegahan dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Lalat:
a) Pencegahannya dengan menutup jendela ventilasi atau tempat-tempaat yang
memungkinkan lalat masuk dengan menggunakan kain kasa/kelambu.
b) Penyemprotan naungan dengan formalin 2%.
2) Cendawan liar :
Pencegahannya dengan penyemprotan atau fumigasi ruangan dengan formalin
2% yang dilakukan 2 hari sebelum penanaman bibit jamur.
S$, Pemungutan Hasil
a. Ciri-ciri Jamur Siap Panen
1) Jamur Kayu
a) Wama lembaran badan buah putih agak kelam (wama yang belum siap
panen lebih putih).
b) Ukuran lembaran badan buah biasanya antara 4 - 10 cm.
¢) Permukaan atas lembaran badan buah relatif rata.
2) Jamur Merang
Badan buah belum mengalami perpanjangan.
b. Cara Pemanenan
1) Jamur Kayu
a) Pemanenan dilakukan pada seluruh kelompok badan buah yang telah
masak.
b) Pemanenan dilakukan dengan tangan atau dengan sebilah bambu yang
bersih untuk mencongkel.
2). Jamur Merang
Pemanenan dilakukan dengan tangan secara hati-hati. Usahakan jangan
mengganggu tubuh buah jamur yang masih sangat muda, karena akan merusak
dan menggagalkan perkembangannya.
c. Pengolahan Hasil
Jamur yang bara dipanen segera dibersihkan dari sisa serbuk gergajian. Jamur
ditaruh di atas nampan yang berlubang-lubang, bila pemanenan cukup banyak,
jangan ditumpuk untuk menghindari terjadinya panas yang dapat mempercepat
pembusukan.
Materi Pelengkap Krida Binawana -81-d. Penyimpanan/Pengawetan Jamur
‘Untuk pemasaran jamur dikemas dalam kantong plastik yang telah dilubangi agar
tidak terjadi fermentasi/pemeraman yang menyebabkan jamur cepat busuk,
Pembusukan jamur ditandai dengan berubahnya warna jamur menjadi kecoklat-
coklatan.
Jamur dapat dicelup dalam air panas yang mengandung 1% garam selama + 5 menit,
baru disimpan dalam lemari es sampai 2 - 3 hari. Supaya jamur tahan Jama dapat
dilakukan dengan pengalengan.
6. Syarat Mutu Jamur Ekspor
Mutu merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar layak ekspor, Untuk
jammur ada beberapa syarat mutu yang meliputi ukuran, bentok dan warnanya,
a. Jamur Kayu |
‘Menurut ukuran diameter payungnya, Jamur Shiitake dibagi menjadi 3 Kelas, yaitu
A, B, dan C. Kelas A dan B diameter 5 - 6 cm dan kelas C di bawah 5 cm. Untuk
ekspor syarat yang diminta adalah kelas A dan B dengan bentuk setengah bole,
tebalnya sekitar 2 - 3 cm dan berwarna coklat kehitaman.
Syarat Jamur Kuping yang layak ekspor adalah yang tidak terlalu keriting berwama
coklat seperti beludru dan di belakangnya agak keputihan (jamur ini
hasil silangan antara jamur kuping putih dan merah), Junak tidak begitu lebar dan
tebal. Jamur Kuping segar yang selama ini dihesilkan para petani yang biasa ditemui
i pasar tradisional maupun swalayan adalah tipis dan sangat keriting.
Jamur Shimeji dan abalon agak sulit diekspor dalam bentuk segar, karena kedua
jamur ini tinggi kadar aimya, sehingga mudah busuk dan hancur. Oleh karena itu
lebih baik jamur diekspor dalam keadaan kering.
b. Jamur Merang,
Untuk konsumen lokal biasanya orang lebih memilih jamur merang yang wamanya
putih bersih atau agak kecoKlatan, berbentuk bujat dan belum mekar, Sedangkan
untuk ekspor jamur merang yang disukai adalah yang memiliki tudung berwama
hitam yang mulus tanpa bercak (black head), terutama oleh negara-negara Eropa dan
Amerika. Untuk ekspor jamur merang dibedakan dalam unpeeled (tidak terkupas
vulvanya), peeled (vulvanya terkupas), dimana masing-masing terdiri dari ukuran S,
M, L. Disamping itu ada pula kelas stem, slice dan broken. Jamur merang unpeeled
L, M, dan § masing-masing berdiameter 29 - 35 mm, 22 - 28 mm dan 15 - 21 mm,
sedang jamur merang peeled berdiameter kurang dari 15 mm. Stem terdiri dari
potongan tangkai jamur yang sangat disukai oleh konsumen dari Korea dan Jepang.
Slice terdiri dari campuran potongan vulva dan tangkainya. Broken terdiri dari
potongan atau kupasan vulva saja.
Mateci Pelengkap Krida Binswana -82-7. Analisis Biaya Budidaya Jamur
Analisis biaya untuk memperkirakan rugi laba usaha budidaya Jamur dapat dihitung
berdasarkan komponen-komponen sebagai berikut :
a
c.
‘Modal Tetap (Mt)
1) Biaya pembuatan Kubung dan penyediaan bahan-bahannya (bambu, kawat,
paku, plastik untuk atap), drum, slang plastik, kompor dan tabung minyak.
2) Satuan Mt dalam Rupiah.
Modal Kerja (Mk)
1) Biaya penyediaan bibit jamur, jerami/serbuk gergaji, kapur tembok, dedak halus
(bekatul), minyak tanah, Urea/TSP.
2) Upah tanam dan panen.
3) Satuan Mk dalam Rupiah.
Pendapatan atau Hasil Penjualan (Hpn)
Pendapatan atau Hasil Penjualan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berkut :
HPn = HP x H
Keterangan :
HPn = Pendapatan atau Hasil Penjualan dalam Rupiah.
HP =Hasil Produksi Jamur dalam Kg.
H_ = Harga dalam Rupiah per Kg.
Keuntungan
Keuntungan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
K =HPn-(Mt+ Mb).
Tingkat pengembalian modal, menggunakan rumus :
Jumlah Modal yang diperlukan
pancte nnn ence —- x 12 bulan
Untung Bersih + Penyusutan
Materi Pelengkap Krida Binawana -83-G. PERSUTERAAN ALAM
1, Pengertian
a. Persuteraan “Alam adalah salah satu kegiatan usaha tani dalam rangka upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan budidaya tanaman murbei
yang dikombinasikan dengan pemeliharaan ulat sutera dan penanganan pasca
panennya. ~
b,. Pertanaman murbei (Morikultur) adalah budidaya menanam dan memelihara tanaman
murbei untuk menghasilkan daun sebagai pakan ulat sutera.
¢. Pemeliharaan ulat sutera (Serikultur) adalah kegiatan pemeliharaan ulat sutera dengan
memberikan pakan daun murbei mulai instar ke 1 s/d ke 5, lalu mengokonkan dan
panen kokon untuk menghasikan kokon sebagai bahan baku benang sutera.
d. Pengolahan kokon (Filatur) adalah memintal kokon yang dihasilkan oleh ulat sutera
menjadi benang sutera, Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya guna dan nilai
ekonomi dari kokon tersebut.
. Pengolahan sutera (Pertenunan sutera) adalah mempersiapkan dan menenun benang
sutera termasuk pencelupan menjadi kain sutera sebagai bahan pakaian atau bahan
kerajinan sutera lainnya.
£ Pengembangan Persuteraan Alam adalah kegiatan dalam upaya mengembang- kan
budidaya ulat sutera kepada masyarakal yang dilakukan atas dasar syarat- syarat
teknik yang dipadukan dengan potensi lokusi/daerah pengembangan persuteraan alam
mulai dari pengembangan tanaman murbei, pemeliharaan ulat sutera, pengolahan
kokon, pertenunan dan pemasaran hasil seria pembiayaan- nya.
g. Pola Pengembangan Persuteraan Alam adalah suatu cara pengembangan usaha tani
persuteraan alam yang dianggap paling sesuai dengan kondisi dan situasi daerah
pengembangan setempat. Pola pengembanyan tersebut dapat berupa pola Kelompok
Tani, Koperasi, BUMS, BUMN dan Kemitraan,
h. Wilayah pengembangan adalah lahan milik atau kawasan hutan yang sesuai dengan
persyaratan tumbuh tanaman murbei serto pemeliharaan ulat sutera serta lingkungan
yang mendukung usaha tani tersebut.
2. Pertanaman Murbei
a, Jenis-jenis tanaman murbei
Tanaman murbei termasuk dalam Famili Moraceae terdiri dari banyak jenis tetapi
yang umum ditanam di Indonesia ada 4 jenis (Morus alba, M. cathayana, M.
Materi Pelengkap Krida Binawana -84-multicaulis dan M. nigra). Sedangkan yang dianjurkan untuk dikembangkan yaitu M.
cathayana, M. multicaulis, M. Kanva II dan jenis lainnya yang produktivitas daunnya
cukup tinggi. Perbanyakan tanaman murbei dapat dilakukan secara generatif (dengan
biji) dan vegetatif (stek, layering dan grafting). Perbanyakan dengan stek adalah yang
paling banyak dipakai karena praktis dan ekonomis,
1) Morus Alba.
Daun berwarma hijau tua, ujung raning muda berwama merah, tangkai daun
muda sedikit merah, batang berumur 1 tahun berwarna coklat. Pertumbuhan
batang lurus, percabangan mulai keluar pada bagian tengah batang utama.
Panjang buku 7-8 cm. Hasil per ha/tabun +30 ton.
2) Morus Cathayana.
Daun berwama hijau tua, ujung ranting muda-sedikit merah, tangkai daun muda
sedikit merah, batang berumur 1 tahun berwama coklat. Pertumbuh- an batang,
Jurus, percabangan mulai-keluar pada bagian tengah batang utama. Panjang buku
7-8 om. Hasil-per haNahun + 35 ton.
3) Morus Multicaulis.
Daun berwarna hijau tua, ujung ranting muda tidak berwama merah, batang
berumur'] tahun berwama kelabu tua kehijauan. Cabang lurus dan jumlahnya
sedikit. Panjang 8-9 cm. Hasil per ha/tahun +35 ton.
4)» Morus Kanva It
Daun berwama hijau tua ujung ranting muda sedikit merah, tangkai daun muda
sedikit merah. Pertumbuhan batang lurus dan jumlahnya banyak, panjang buku 6-
7 cm, Hasil per ha per tahun + 37 ton.
5) Morus Nigra.
‘Ujung ranting muda berwarna sedikit merah, tangkai daun muda sedikit merah,
batang yang sudah berumur satu tahun berwama coklat tua bercampur hijau.
Pertumbuhan batang lurus keatas, cabang mulai tumbuh pada bagian tengah dari
batang utama. Jarak antara mata atav panjang buku 6 em. Daun berwama hijau
tua, Jenis ini tidak dianjurkan untuk dikembangkan karena produktifitas daunnya
sangat rendah.
b. Pembuatan Tanaman Murbei
1) Pemilihan Areal Tanaman Murbei.
Tanaman murbei paling baik tumbuhnya pada tanah yang gembur, subur, dekat
dengan sumber air, dan tidak metupakan daerah yang tergenang air waktu hujan
(drainase baik), datar dan tidak terlalu -niring.
2) Penyiapan lahan. .
Tajuan’ penyiapan Jahan adalal: untuk menggemburkan tanah, agar akar
tanaman yang baru tumbuh dengan mudah menembus lepisan tanah untuk
Materi Pelengkap Krida Binawana -85-menunjang pertumbuhan tanaman selanjutnya. Penyiapan lahan dapat dilakukan
secara mekanis dan manual.
Secara manual dilakukan dengan 2 cara :
a) Pembuatan lubang tarikan tanaman, tanah hanya diolah pada bagian yang
akan ditanami saja. Kedalaman lubang antara 30-40 cm, dengan lebar sekitar
30cm.
b) Pembuatan tanpa lubang yaitu dengan membuat guludan-guludan sesuai
jarak baris tanaman.
Sedangkan secara mekanis dapat dilakukan dengan hand traktor/ traktor.
3) Pengadaan Stek Tanaman
‘Yang perlu diperhatikan dalam pengadaan stek adalah : pemilihan stek,
pengangkutan stek, pengamanan stek dan pemotongan stek.
a) Pemilihan stek : sebaiknya diambil dari tanaman jenis unggul yang berumur
diatas 1 tahun, dari cabang yang sehat, lurus dari cabang yang berumur 4-6
bulan setelah dipangkas. Diametei cabang + 1 cm.
. b) Pengangkutan stek sebaiknya diangkut pada pagi atau sore hari agar tidak
kering dalam perjalanan.
c) Pengamanan stek : penyimpanan stck secara tidak langsung ditanam di
lapangan sebaiknya ditempat yany sejuk dan lembab serta tidak terkena sinar
matahari langsung.
d) Pemotongan stek : bahan stek dipotong sepanjang 20-25 cm (4-5 mata),
dengan alat yang tajam agar tidak pecah.
4) Penanaman
Waktu tanam yang tepat adalah awal atau pertengahan musim hujan. Penentuan
jarak tanam adalah sebagai berikut :
a) Monokultur :
Kebun murbei yang diusahakan secara monokultur, jarak tanamnya 0,4 x
12m.
b) Tumpang sari :
Kebun murbei yang akan diusahakan tumpang sari, jarak tanam
memanjang/baris 0,4 m sedangkan antar baris tergantung jenis tanaman
- tumpang sarinya, namun sebaliknya merupakan kelipatan 1,2 m agar mudah
saat akan ditambah jumiah tanaman murbeinya.
Cara penanaman dilakukan dengan membenamkan 2 mata tunas kedalam tanah
dan 2-3 mata tunas diatas permukaan tanah.
¢, Pemeliharaan Tanaman Murbei
1) Penyiangan
Dilakukan dengan menghilangkan tanaman .pengganggu untuk mencegah
persaingan dengan tanaman murbei.
Materi Pelengkap Krida Binawana -86-2) Pendangiran
Dilakukan dengan menggemburkan tanah disekitar tanaman murbei setiap 3
bulan sekali.
3) Pemupukan
Pemupukan dilakukan bervariasi tergantung jenis, sistem penanaman dan jarak
tanam. Sebagai contoh : untuk monokultur dengan jarak tanam 0,4 x 1,2 m,
memerlukan 300 kg N, 100 kg P, 130 kg K per ha/tahun, Waktu pemberian
setelah pangkas pada awal atau pertengahan musim penghujan.
Cara-cara pemupukan :
a) Menugal : Iubang dibuat 30 cm dari batang tanaman, kemudian pupuk
ditaburkan dan ditutup kembali, baik difakukan untuk tanaman yang berumur
kurang dari | tahun.
b) Cara jalur : Tanah dicangkul sepanjang baris tanaman, jarak 30 em dari
tanaman, pupuk ditaburkan kemudian ditimbun tanah. Cara ini baik
dilakukan untuk tanaman yang suclah tua.
4) Pemangkasan
a) Pemangkasan pembentukan batang
Hal ini dilakukan pada tanaman yang sudah berumur 9-12 bulan setelah
tanam dengan memotong miring ke atas 45. derajat. Pemangkasan ini
bertujuan untuk membentuk batang pokok tanaman murbei.
Cara pemangkasan ini terdiri dari 3 macam yaitu :
(1) Pemangkasan rendah
Tanaman murbei dipangkas setinggi 10-30 cm dari permukaan tanah.
Jenis pangkasan ini menghasilkan jumlah daun yang banyak, daun tidak
cepat mengeras, pemungutan daun dan pengendalian hama dan penyakit
dapat dilakukan dengan mudah.
(2) Pangkasan sedang
Tanaman murbei dipangkas 50-75 cm dari permukaan tanah. Jenis
pangkasan ini memungkinkan untuk perakaran yang dalam.
) Pangkasan tinggi
Tanaman murbei dipotong pada tinggi lebih 75 cm dari muka tanah,
Jenis pangkasan ini serine digunakan pada daerah yang sering
mengalami luapan air.
b) . Pemangkasan pemeliharaan
Hal ini dilakukan secara periodik. setelah_pangkasan pembentukan batang,
bertujuan memelihara pohon murbei dengan memangkas cabang yang
terserang penyakit dan cabang-cabang yang tidak produktif.
d. Pemanenan Daun
Panen daun sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mencegah kelayuan.
Penyediaan daun untuk pakan ulat sutera ada dua macam :
Materi Pelengkap Krida Binawana = -87-y
2)
Penyediaan daun untuk ulat kecil.
Ulat kecil membutuhkan daun yang lunak, yaitu daun muda (umur-pangkas 1
bulan). Untuk pemeliharaan ufat sutera dalam skala besar dibuat kebun khusus
untuk ulat kecil yang letaknya dekat dengan tempat pemeliharaan, Penyediaan
daun untuk ulat kecil dapat diperoleh dengan 2 cara :
a) Daun dari umur pangkasan 1 bulan (kebun khusus).
b) Daun muda pada umur pangkasan 2-3 bulan (3 lembar daun dari ujung atas)
khususnya untuk jenis Morus Multicaulis dan Morus Cathayana.
©) Penyimpanan daun untuk ulat kecil, dilakukan pada ruangan Khusus untuk
penyimpanan, yang biasanya terdapat pada ruangan pemeliharaan ulat kecil
agar tetap terjaga kebersihan dan kesegarannya dengan ditutup kain basah.
Penyediaan daun untuk ulat besar
Jumlah daun yang dibutuhkan lebih banyak dari pada kebutuhan ulat kecil. Daun
untuk ulat besar diperoleh pada umur pangkasan 2-3 bulan dengan: cara
memotong cabang pada batas daun yang terbawah (hijau dan segar).
Penyimpanan daun untuk ulat besar, dilakukan pada ruangan Khusus untuk
penyimpanan, yang biasanya terdapat pada ruangan pemeliharaan ulat besar, agar
terjaga kebersihan dan kesegarannya dengan ditutup kain basah.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Berdasarkan pengamatan ada 4 jenis hama yang sering menyerang tanaman murbei :
yy
2
Hama pucuk Glyphodes pulverulentalis (Hampson).
a) Ciri dan sifat:
(1) Termasuk Famili Pyralidae Ordo Lepidoptera.
(2) Sangst :::eugganggu terhadap penyediaan pakan untuk ulat kecil, kerena
memakan daun muda yang mcrupakan pakan ulat kecil.
(3) Telur menetas 5-6 hari setelah peletakan telur, larva yang baru menetas
memakan daun-daun muda yang masih lunak dan larva tua memakan
seluruh jaringan daun murbei kecuali tulang daunnya, ©
(4) Larva berwarna hijau bening. kepala coklat muda dan setelah dewasa
menjadi coklat kemerahan.
(5) Dalam satu kali siklus hidupnya mengalami 4 kali pergantian periode
(tiap periode 8-10 hari).
b) Usaha Pengendalian : dengan menyemprotkan insektisida kosentrasi 0,5 co
per liter air. Jumlah larutan semprot 1.000 - 1.500 liter larutan per hektar
dengan residual toksisitas 15 hari (Basudin 60 EC),
Kutu Daun (Mealy bug), Mconellicoccus hirsutus (Green).
a) Ciri dan sifat:
(1) Termasuk Famili Coccidae, Ordo Hemiptera.
Materi Pelengkap Krida Binawana. -88-(2) Menyerang daun tanaman murbei, schingga menyebabkan timbulnya
bercak- it
-bercak hitam dan kemudian terhentinya pertumbuhan kuncup
daun muda. Daun mengerut kunoup daun membengkak.
b) Cara pengendalian:
(1) Dengan melakukan pemangkasan 3-5 cm dari cabang pokok dan
membuang semua daur/tunas-tunas sisa yang terserang.
(2) Rerumputan disekitar tanaman harus dibersihkan, karena sebagian
merupakan tanaman inang bagi hama tersebut. Tunas/cabang hasih
pangkasan harus segera dibuang.
3) Penggerek Batang (stem borer) Epepctes plarator (Newman)
a) Ciri dan sifat:
(J) Cir serangga dewasa betina panjangnya 25 mm, sedang yang jantan 20
mm. .
(2) Memakan tunas-tunas muda atau kulit batang. Batang yang terserang
menjadi lemah, patah dan mati.
>) Usaha penanggulangan dengan cara pangkasan rendah dan membatasi ruang
lingkup penggerek batang.
4). -Kutu Batang (Scale insect), Pseudeulacapsis pentagona (Targioni Tozzetti)
a) Ciri dan sifat:
(1) Termasuk famili Coccidae, Ordo Hemiptera,
(2) Hidup parasit pada permukaan batang,
(3) Menghisap cairan pada kulit batang, pada serangan cukup berat akan
menyebabkan kernatian.
b) Usaha pencegahan dengan cara mengurangi kelombaban di lingkungan
kebun, antara lain dengan pengaturan jarak tanam dan mengurangi naungan.
f Penyakit Tanaman Murbei
Faktor penycbab timbulnya penyakit adalah
1) Tanaman inang, patogen dan lingkuiigan yang mendukung merupakan faktor-
faktor yang dapat menimbulkan adanya penyakit.
2) Untuk mencegah timbulnya penyakit yaitu dengan memelihara kebersihan kebun
murbei secara baik.
Penyakit Tanaman Murbei adalah :
1) Penyakit Tepung.
a) Ciri dan sifat:
Menyerang lapisan bawah dan menimbulkan spot-spot berapa tepung putih
kemudian menyebar ke tempat lain hingga daun-daun memutih.
Materi Pelengkap Krida Binawana -89-2
3)
4)
b) Pengendalian dengan cara :
(1) Dengan penyemprotan fungisida secara serentak pada semua daerah
sekitar serangan dengan frekuensi yang tinggi.
(2) Pengelolaan kebun murbei yang baik.
(3) Pemilihan varietas yang resisten.
Penyakit bintik daun
a) Ciri dan sifat:
(1) Menyerang permukaan lapisan bawah daun sehingga daun menjadi
kotor, hitam seperti kena asap api.
(2) Intensitas serangan tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim
hujan.
b) Pengendalian dengan cara :
(1) Dengan penyemprotan fungisida secara serentak pada semua daerah
sekitar serangan dengan frekuensi yang tinggi.
(2) Pengelolaan kebun murbei yang baik.
(3) Pemilihan varietas yang resisten.
Penyakit bercak daun
a) Ciri dan sifat :
(1) Menyerang lapisan bawah daun, mengakibatkan daun berwama coklat
gelap kemudian menjadi coklat hitam.
(2) Bercak-bercak bentuknya bulat atau tidak berbentuk (diameter 3 - 5
mm).
b) Usaha Pengendalian :
(1) Menghilangkan tanaman pengganggu.
(2) Memperbaiki sirkulasi udara.
(3) Pemeliharaan kebun dengan baik.
Penyakit Karat
a) Ciri dan sifat :
(1) Terjadi pada daerah subu rendah, banyak hujan dan kelembaban tinggi.
(2) Menyerang kuncup, tunas schingga pertumbuhan daun tidak baik dan
warnanya menjadi kuning pucat.
Dapat menyebabkan bercak pada bagian atas dan bawah daun sehingga
daun menjadi gemuk. Kerusakan pada urat daun mengakibatkan daun
tersebut membengkak. :
b) Usaha pengendalian :
(1) Bagian tanaman yang terserang dibuang.
(2) Mengurangi kelembaban pada lingkungan kebun dengan mengatur jarak
tanam.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -90-5) Penyakit Bakteri (Bacterial blight)
a) Ciri dan sifat :
(2) Disebarkan oleh angin dan masuk mielalui stomata.
(2) Serangan banyak pada waktu dingin dan suhu rendah.
(3) Daun yang terserang menyebabkan adanya bercak-bercak kemudian
berlubang. Daun mengerut, kuncup menjadi hitam kemudian mati.
b) Usaha pengendalian :
(1) Memilih varietas yang resisten.
(2) Menghindari pemupukan N yang berlebihan.
(3) Menghindari serangan hama.
(4). Membuang tanaman yang terserang.
6) Penyakit Plasta
a) Ciri dan sifat :
(1) Menyerang bagian. batang atau cabang murbei dan biasanya muncul
bersama kutu batang. Bila serangan berat akan menimbulkan penyakit
plasta.
(2) Akibat penyakit tersebut akan menimbulkan miselium (bentukan dari
cendawan semacam spora) pada permukaan cabang dari batang, lalu
disebarkan ke seluruh cabang dan batang.
(3) Bentuk miselium bulat atau bulat panjang.
b) Usaha pengendalian :
(1) Memberantas serangan kutu batang.
(2) Pangkasan rendah.
3. Pemeliharaan Ulat Sutera
a, Siklus Hidup dan Morphologi
Ulat sutera (Bombyx mori L) adalah serangga yang berguna sebagai penghasil benang
sutera. Dalam siklus hidupnya mempunyai meta morfosa sempuma mulai dari telur,
larva (ulat), pupa dan kupu-kupu.
1) Telur
a) Berbentuk bulat lonjong, panjang 1,3.mm_, lebar Imm dan tebal 0,5mm,
-wamanya putih kekuningan.
b). Telur biasanya menetas 10 - 12 hari sejak dilakukan perlakuan khusus
(treatmeat telur). Inkubasi pada suhu 25 derajat dan kelembaban udara 80% -
85%.
2) Ulat sutera dalam pertumbuhannya mengalami lima tingkat pertumbuhan/instar
yaitu :
a) Instar 2,2 dan 3 disebut ulat kecil dengan masa tumbuh sekitar 12 hari.
b) Instar 4 dan 5 disebut ulat besar dengan masa tumbuh sckitar 13 hari,
Materi Pelengkap Krida Binawana -91-3)
4)
c) Setiap menjelang pindah instar didahului oleh masa istirahat/tidur selama 1-
2 hari.
Ulat kecil (instar 1, 2, dan 3) membutuhkan suhu agak tinggi (28 - 30 derajat
celcius) dan kelembaban udara 90% - 95%.
Ulat besar (instar 4 dan 5) :
a) Membutuhkan subu antara 23 derajat - 25 derajat celsius dengan kelembaban
udara antara 70%-75%.
b) Setelah instar 5 betakhir ulat akan mengokon.
Pupa
a) Terjadi setelah ulat selesai mengeluarkan serat sutera (mengokon).
b) Lama masa pupa + 12 hari.
Kupu-kupu
a) Kupu-kupu ulat sutera berwarna coklat muda, mempunyai sayap yang kecil
dan tidak dapat terbang.
b) Kupu-kupu jantan lebih aktif bergerak daripada betina. Jumlah telur yang
dapat dihasilkan oleh kupu-kupu betina + 500 butir.
b. Persiapan pemeliharaan ulat kecil (nistar 1 s.d. 3)
y
2»
3)
4
Persyaratan bangunan pemeliharaan terbagi tiga ruangan : ruang peralatan 3 x 2
m2, ruang pemeliharaan 12 x 6 m2 dan ruang daun 3 x 2m2.
Bangunan tersebut dapat menampung + 30 boks. Setiap 1 boks terdiri dari 20.000
butir telur. Posisi bangunan memanjang arah timur - barat, dekat dengan sumber
air dan ada tempat pencucian alat-alat pemeliharaan.
Alat-alat
a) Rak dan sasag kayu/besi dengan ukuran 110 x 80 cm2 (8 sasag untuk I boks
ulat).
b) Termometer, timbangan daun, keranjang daun, gunting stek, pisau daun,
ember dan baskom.
Tempat sekitar bangunan
Lingkungan barus bersih, shu ruangan 28 - 30 derajat celsius, kelembaban udara
80%-90% dengan cahaya dan sirkulasi udara cukup.
Densifeksi ruangan pemeliharaan dilakukan + 3 hari sebelum pemeliharaan ulat
mulai. Penyemprotan ruangan dilakukan dengan campuran air dan kaporit 5
griliter air.
Inkubasi telur
a) Telur disebarkan merata pada kotak penetasan, ditutup dengan kertas tipis
dan disimpan dalam ruangan sejuk atau subu 25 derajat celsius dan
kelembaban udara 75-80%.
Materi Pelengkap Krida Binawena -92-b) Tidak terkena cahaya matahari langsung. .
c) Setelah telur mencapai titik. biru, dibungkus Kain hitam dan pada saat
menetas Kain hitam dibuka pada pagi hari.diberi cahaya lampu agar telur
menetas serentak.
c. Pemeliharaan ulat kecil
)
2
3)
4)
5)
6)
Pengambilan daun
a) Daun untuk ulat kecil, umur pangkasan 25-30 hari, waktu pengambilan pagi
atau sore hari dengan ani-ani atau gunting stek.
b) Cara pengambilan daun untuk tiap instar :
(1) Instar ke 1 lembar 3 - 5 dari pucuk.
(2) Instar ke 2 lembar 5 - 7 dari pucuk.
G) Instar ke 3 lembar 8 - 12 dari pucuk.
Desinfeksi tubuh ulat
Desinfeksi untuk tubuh ulat kecil (instar ke 1 s/d ke 3) menggunakan campuran 5
gram kaporit dan 95 gram kapur diaduk merata.
Caranya dengan menaburkan bahan desinfeksi tipis dan merata pada tubuh ulat
dengan ayakan plastik sebelum hakitate pada awal instrar 2 dan awal instar 3.
‘Hakitate (memberi makan pertama pada ulat yang baru menetas)
a) Waktu pukul 08.00 - 10.00 pagi
b) Kotak penetasan diletakkan pada sasag yang telah diberi kertas alas dan
kertas parafin (kertas roti), ulat yang melekat pada kertas dipindahkan ke
kotak penetasan.
¢) Dilakukan desinfeksi tubuh ulat.
d) Diberi jaring, kemudian diberi makan dan terakhir ditutup kertas parafin.
Pemberian pakan
a) Keadaan daun baik, tidak basah, segar dan bersih.
b) 2 jam setelah hakikate, lat dipindahkan ke sasag, dibiarkan terbuka selama 1
jam, kemudian diberi makan dan ditutup kembali.
©) Selanjutnya diberi makan sehari 3 kali.
d) Satu jam sebelum pemberian makan, kertas penutup dibuka.
Luas tempat ulat disesuaikan dengan pertumbuhan ulat :
a) Instar | : 1 sasag/boks
¢) Instar 3 : 8 sasag/boks
dengan ukuran sasag 110 x 80 cm.
Pembersihan tempat ulat
a) Dilakukan seperlunya sebelum pemberian pakan.
b) Pembersihan dilakukan apabila sisa pakan sudah banyak. Selama instar 1
tidak perlu dibersihkan.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -93-©) Cara pembersihan, mula-mula jaring dipasang di atas tempat ulat, daun
diletakkan diatas jaring. Sebelum pemberian pakan berikutnya jaring
diangkat dan dipindahkan ke sasag lain.
4) Kotoran dan sisa pakan dibuang, ulat yang sakit dan mati dimasukkan ke
dalam tempat tertatup berisi bahan desinfektan (larutan kaporit).
7) Perlakuan selama ulat-tidur (ganti kulit)
Kertas penutup dibuka, jendela dibuka agar udara masuk kemudian tempat ulat
diperluas dan ulat ditaburi kapur.
8) Perlakuan setelah ulat bangun
Tempat ulat dipersempit, jendela ditutup, dilakukan disinfeksi tubuh ulat, jaring
dipasang dan kemudian diberi makan.
9) Penyaluran ulat kepada pemelihara ulat besar (petani)
a) Dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat tidur instar ke 3.
b) Ulat dibungkus dengan kertas alas (digulung) kedua sisi dan tengahnya
diikat, disimpan berdiri agar ulat tidak tertekan.
|. Pemeliharaan Ulat Besar (instar ke 4 dan ke 5)
1) Bangunan
a) Harus khusus dengan pembagian ruang terdiri dari tempat daun dan tempat
pemeliharaan,
b) Suhu muangan 22-25 derajat celcius kelembaban 70-75%.
©) Cahaya dan aliran udara baik.
2) Alat dan bahan
Rak bersusun dua, alas karung plastik, tali plastik.
3) Desinfeksi Ruangan
Dengan kaporit 5 gram/I liter air diaduk merata, kemudian disemprotkan secara
merata keseluruh ruangan dengan dosis 1 liter/m2.
4) Pengambilan daun
a) Umur pangkas 2,5 - 3 bulan.
b) Pengambilan pada pagi hari dan sore hari.
¢) Daun dipangkas bersama cabangnya.
5) Pemberian pakan
a) Daun harus baik, tidak basah, segar dan bersih.
b) Daun diberikan sehari 3 kali ( pk-7.00 : 25%, pk.12.00 : 25% dan pk.17.00 :
50%).
6) Membersihkan tempat ulat
a) Dilakukan sebelum pemberian makan.
Materi Pelengkap Krida Binawana -94-b) Instar 4 ; dilakukon setolah wlat ganti kulit, pertengahan instar dan menjelang
ulat tidur.
©) _Insfar 5 : dilakukan setelah ulat ganti kulit setiap dua hari atau kotoran sudah
terlalu banyak.
4) Terakhis menjelang ulat mengokon.
7) Desinfekti tubuh ulat
a) Kapur dicampur dengan kaporit perbandingan berat 9 : 1, kemudian
ditaburkan tipis dan merata pada tubuh ulat dengan menggunakan dengan
ayakan plastik atau kain kasa,
b) Dilakukan sebelum pemberian pakan.
8) Pengokonan Ulat
Ulat dikokonkan setelah matang dengan menggunakan alat pengokonan yang
terbuat dari bambu, rotan atau plastik.
e. Panen Kokon
1) Pemanenan kokon dilakukan 5-6 hari setelah mengokon, dengan mengambil
kokon dari tempat pengokonan.
2) Pemanenan kokon sebaiknya dilakukan tidak terlalu cepat atau tetlalu lambat.
Kalau terlalu cepat, pupa mudah pecah yang mengakibatkan kokon kotor
didalam, tetapi kalau terlalu lambat, pupa akan berubah menjadi kupu-kupu.
» Pada wakiw panen, kokon segera dibersihkan dari “ floss “ nya. Kemudian
diadakan seleksi kokon sehingga kokon yang baik terpisah dari kokon yang tidak
baik.
4) Kokon disimpan pada tempat yang baik, aman dari gangguan hama seperti semut,
tikus, dan sebagainya. :
£ Pengendalian Hama dan Penyakit
1) Hama ulat sutera
Hama yang sering mengganggu adalah tikus, semut, cccak, tokek, burung dan
lain-lain. Usaha pengendalian dengan cara :
a) Bangunan pemeliharaan ulat harus diusahakan agar terhindar dari masuknya
hama tersebut.
b) Lingkungan tempat pemeliharaan dibersihkan dari hama tersebut.
2) Penyakit ulat sutera
a) Protozoa
(1) Protozoa yang menyerang lat sutera, menyebabkan timbulnya penyakit
pebrine.
(2) Dapat ditularkan melalui induk kupu-kupu betina ke telumya sehingga
penggunaan telur mutlak harus melalui pemeriksaan induk | secara
mikroskopis yang diproduksi oleh produsen telur yang mempunyai ijin.
‘Materi Pelengkap Krida Binawana -95-4.
b) Fungi/jamur
Tumbuh dan berkembang mengeluarkan spora di atas tubuh ulat, kemudian
membuat micelium dan micelium masuk sampai ke dalam pori-pori ulat.
Terlihat adanya bintik-bintik berminyak, warna putih, coklat atau hitam pada
permukaan kulit tubuh ulat. Kemudian menyerang bagian tubuh ulat lainnya
dan akhirnya mengeluarkan fibre yang halus dalam jumlah banyak,
selanjutnya membentuk spora sehingga tampak adanya wama. Spora yang
telah dibentuk ini merupakan sumber pathogen yang menimbulkan infkesi
terhadap ulat sutera.
©) Bakteri
Ulat sutera mudah terserang bakteri pada saat kondisi buruk atau terserang
penyakit lain.
4) Virus
Timbulnya penyakit virus pada ulat sutera dimulai dengan hadimya spora-
spora virus yang terdapat pada daun murbei, kemudian termakan dan
masuk/berkembang dalam tubuh ulat.
Cara penanggulangan penyakit.
Terdapat 2 tahap penanggulangan penyakit ulat sutera, yaitu :
1) Pembersihan, pencucian tempat/ruangan pemeliharaan dan peralatan :
a) Alat-alat yang terdapat dalam ruangan pemeliharaan dikeluarkan, kemudian
dibersihkan/dicuci dengan air menggunakan sikat kemudian dijemur disinar
matahari.
b) Ruang tempat pemeliharaan dibersihkan/dicuci pakai ijuk dan diguyur air.
¢) Alat-alat yang sudah kering dimasukkan ke ruangan pemeliharaan.
2) Desinfeksi.
a) Bertujuan untuk memberantas patogen yang terdapat pada ruang
pemeliharaan dan peralatan yang digunakan agar ulat yang dipelihara
terhindar dari serangan penyakit,
b) Jenis obat desinfeksi adalah formalin atau kaporit.
Penanganan Kokon
Kokon adalah bahan dasar untuk pembuatan benang sutera melalui proses pernintalan.
Sebutir kokon normal mempunyai berat 1,5 - 2,2 gr. Kokon betina lebih berat dari
kokon jantan. Kulit kokon yang merupakan bahan baku benang sutera mempunyai
persentase sebesar 20 - 23% dari berat kokon. Persentase kulit kokon jantan biasanya
lebih tinggi dari pada kulit kokon betina.
Rata-rata panjang filamen dari sebutir kokon + 1.200 m (kira-kira 80% dari berat kulit
kokon). Rata-rata ukuran filamen kokon adalah 2,5 - 3 denier (1 denier) = filamen yang
mempunayi panjang 9.000 m dengan berat 1 gram.
Materi Pelengkap Krida Binawana -96-Menurut kondisinya kokon dibedakan menjadi 2 yaitu kokon baik (kokon yang dapat
dipintal) dan kokon tidak baik (tidak dapat dipintal).
Kokon yang tidak baik, terdiri dari :
a. Kokon dobel
b. Kokon menempel pada alat pengokonan
¢. Kokon berbentuk aneh.
4d. Kokon berujung tipis
e. Kokon tipis/jelek
f. Kokon berlubang.
a.. Pengolahan kokon
1) Pengeringan kokon
2)
a)
b)
9
4)
Pengeringan kokon bertujuan untuk mematikan pupa yang ada didalam
kokon agar tidak berubah menjadi kupu-kupu sehingga kokon dapat
disimpan lama. Pengeringan kokon dapat dilakukan dengan dijemur atau
dioven.
Penjemuran dilakukan dengan menempatkan kokon diatas seng atau lantai
jemur dengan ketebalan 1 lapis di bawah terik matahari selama 3 hari. Bila
berat kokon menyusut 10% menandakan bahwa pupa telah mati. Dari hasil
pengeringan ini kokon dapat disimpan selama satu minggu.
Pengeringan menggunakan oven dilakukan dengan menempatkan kokon
maksimum 3 lapis pada setiap sasag dalam oven. Udara didalam oven harus
bersih dari sisa pembakaran. Pengeringan dilakukan dengan mengatur suhu
100 - 150 derajat celcius selama 5 jam dan diusahakan oven selalu tertutup
rapat. Hasil pengeringan yang baik berat kokon keting mencapai 45% dari
berat asal. Dari hasil pengeringan ini kokon dapat disimpan sampai 3 bulan.
Kokon-kokon yang telah dikeringkan perlu diseleksi untuk memisahkan
kokon yang berkualitas baik dan kurang baik, selanjutnya disimpan pada
tempat yang khusus untuk mencegah gangguan hama dan penyakit yang
menurunkan kualitas kokon.
Pemintalan
Pemintalan bertujuan untuk menghasilkan benang sutera kasar.
a)
b)
Alat pemintalan
Pemintalan dapat menggunakan alat pintal tradisional maupun alat
pemintalan mesin atau mesin otomatis (Automatic Reeling Machine).
Alat-alat pintal yang dipakai oleh petani di Sulawesi Selatan adalah alat
pemintalan model Bili-bili type IV sedangkan alat pemintal mesin, seperti
yang dipakai oleh Perum Perhutani.
Proses pemintalan
(1) Perebusan kokon.
(@) Menggunakan air bersih dan jemi
Materi Pelengkap Krida Binawana -97-3)
(&) Kokon dimasukkan dalam ir dingin, kemudian dipindahkan
kedalam air panas sambil ditekan sampai tenggelam.
(c) Kokon dipindahkan ke alat pintal.
(2) Mencari ujung Filamen
(@) Menggunakan kuas yang terbuat dari batang padi disapukan: pada
petmukean kokon sehingga ujung filamen terkait.
(b) Tarik ujung filamen masuk ke alat pintal.
c) Memintal
(1) Setiap 1 lembar benang terdiri dari 10 - 12 filamen.
(2) Masukan ujung-ujung filamen tersebut kedalam penyaring benang terus
ke peluncur.
(3) Lilitkan benang antara peluncur 1 dan 2, panjang lilitan minimal 4 cm,
selanjutnya ke haspel (penggulang benang).
(4) Penambahan kokon disesuaikan dengan banyaknya kokon yang habis.
(5) Filamen yang putus harus disambung dengan sisa potongan + 0,2 cm.
(6) Pemintalan dilakukan sampai habis filamennya.
Pengemasan Benang
a) Satukan ujung pangkal benang kemudian diberi tanda dengan benang lain.
») Pada tiga tempat diberi anyaman dengan benang wama lain.
©) Benang dikeluarkan dari haspel dengan hati-hati dan dikering anginkan
4) Benang digulung (digintir) dengan melilitkan beberapa kali dilipat dua
kemudian diikat dengan benang lain.
" e) - Ditimbang satu kilogram kemudian ikat dan masukan dalam kantong plastik.
5. Analisa Biaya Persuteraan Alam (bulan Oktober 1994)
a. Untuk perawatan tanaman murbei 1 ha per tahun.
1) Perawatan tanaman, 4 periods a Rp. 150.000,- Rp. 600,000,-
2) Pupuk organik dan NPK “Rp. 180.000,-
3) Pestisida 8 It Rp. 80.000,-
4) Peralatan Rp.__40,000,-
Jumlah 1 Rp. 900.000,-
Jumlah yang diperlukan tiap periode Rp. 225.000,-
‘b. Pemeliharaan wlat besar | ha tanaman murbei/periode
(isi tanaman minimal 10,000 pohon murbei/hektar).
1)
2)
3
Bibit ulat instar 3 10 boks Rp. 250.000,-
@Rp. 25.000,- berasel dari Unit pemeliharaan
ulat keeil.
Bahan penolong Rp. 2.000,-/boks Rp. - 20.000,-
Peralatan Rp. 20.000,-
Materi Pelengkap Krida Binawana -98-4) Pemeliharaan bangunan Rp. 40.000,-
Jumlah 2 Rp. 330.000,-
atau Rp. 1.320.000,-/ th.
Biaya pemeliharaan tanaman dan pemeliharaan ulat besar :
Rp. 225.000,- + Rp. 330.000,- = Rp. 555.000,- / periode atau
Rp. 2.200.000,- per tahun,
c. Perhitungan hasil.
1) Produksi kokon 1 periode 10x24kg = 240kg
Produksikokon I tahun 4x240kg = 960kg
2) Harga 1 kg kokon Rp. 5.500,-
Hasil 1 periode 240 x Rp. 5.500,- = Rp. 1.320.000,-
Hasil 1 tahun 4x Rp. 1.320.000,- = Rp. 5.280.000,-
d. Hasil bersih petani per hektar per periode :
Rp. 1.320,000,- - Rp. 555.000, = Rp. 765.000,-, atau
Rp. 3.060.000,- per tahun,
Materi Pelengkap Krida Binawana -99-
Anda mungkin juga menyukai