Anda di halaman 1dari 27

SISTEM KEGAWATDARURATAN

TRAUMA MUSKULOSKELETAL

RAUKA HILLIAH

161211198

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG

2019
RANGKUMAN KONSEP KEGAWATDARURATAN PADA TRAUMA
MUSKULOSKLETAL

A. Pengertian Trauma Muskulosletal

Trauma muskuloskletal biasanya menyebabkan disfungsi struktur disekitarnya dan


struktur pada bagian yang dilindungi atau disangganya. Gangguan yang paling sering terjadi
akibat trauma muskuloskletal adalah kontusio, strain, sprain dan dislokasi.
Trauma muskuloskeletal adalah suatu keadaan ketika seseorang mengalami cedera pada
tulang, sendi dan otot karena salah satu sebab. Kecelakaan lalu lintas, olahraga dan kecelakaan
industri merupakan penyebab utama dari trauma muskuloskeletal.
Kontusio merupakan suatu istilah yang digunakan untuk cedera pada jaringan lunak yang
diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang langsung mengenai jaringan, seperti
pukulan, tendangan, atau jatuh. Sprain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan
pada ligament (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi, yang
memberikan stabilitas sendi. Strain adalah bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada
struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon) sedangkan Dislokasi adalah terlepasnya kompresi
jaringan tulang dari kesatuan sendi.

B. Mekanisme Trauma

Menentukan mekanisme terjadinya trauma merupakan hal yang penting karena dapat
membantu kita dalam menduga kemungkinan trauma yang mungkin saja tidak segera timbul
setelah kejadian. Trauma musculoskeletal bisa saja dikarenakan oleh berbagai mekanisme.

Ada beberapa macam mekanisme trauma diantaranya:

a. Direct injury
Dimana terjadi fraktur pada saat tulang berbenturan langsung dengan benda keras
seperti dashboard atau bumper mobil.
b. Indirect injury
Terjadi fraktur atau dislokasi karena tulang mengalami benturan yang tidak langsung
seperti frkatur pelpis yang disebabkan oleh lutut membentur dashboard mobil pada
saat terjadi tabrakan.
c. Twisting injury
Menyebabkan fraktur, sprain, dan dislokasi, biasa terjadi pada pemain sepak bola dan
pemain sky, yaitu bagian distal kaki tertinggal ketika seseorang menahan kaki ke
tanah sementara kekuatan bagian proksimal kaki meningkat sehingga kekuatan yang
dihasilkan menyebabkan fraktur.
d. Powerfull muscle contraction
Seperti terjadinya kejang pada tetanus yang mungkin bisa merobek otot dari tulang
atau bisa juga membuat fraktur.
e. Fatique fracture
Disebabkan oleh penekanan yang berulang-ulang dan umumnya terjadi pada telapak
kaki setelah berjalan terlalu lama atau berjalan dengan jarak yang sangat jauh.
f. Pathologic fracture
Dapat dilihat pada pasien dengan penyakit kelemahan pada tulang seperti kanker
yang sudah metastase.
C. Trauma Muskulosletal
1. Sindrom Kompartemen
a) Definisi
Syndrome kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan
interstitial dalam sebuah ruangan terbatas yakni kompartemen osteofasial yang tertutup.
Sehingga mengakibatkan berkurangnya perfusi jaringan dan tekanan oksigen jaringan.
Syndrome kompartemen yang paling sering terjadi adalah pada daerah tungkai bawah
(yaitu kompartemen anterior, lateral, posterior superficial, dan posterior profundus) serta lengan
atas (kompartemen volar dan dorsal)
Sindroma kompartemen merupakan suatu kondisi dimana terjadi penekanan terhadap
syaraf, pembuluh darah dan otot didalam kompatement osteofasial yang tertutup. Hal ini
mengawali terjadinya peningkatan tekanan interstisial, kurangnya oksigen dari penekanan
pembuluh darah, dan diikuti dengan kematian jaringan. Dapat dibagi menjadi akut, subakut dan
kronik.
b) Penyebab
Terdapat berbagai penyebab dapat meningkatkan tekanan jaringan lokal yang kemudian
memicu timbullny sindrom kompartemen, yaitu antara lain:
1. Penurunan volume kompartemen
Kondisi ini disebabkan oleh:
a. Penutupan defek fascia
b. Traksi internal berlebihan pada fraktur ekstremitas
2. Peningkatan tekanan eksternal
a. Balutan yang terlalu ketat
b. Berbaring di atas lengan
c. Gips
3. Peningkatan tekanan pada struktur komparteman
Beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini antara lain:
a. Pendarahan atau Trauma vaskuler
b. Peningkatan permeabilitas kapiler
c. Penggunaan otot yang berlebihan
d. Luka bakar
e. Operasi
f. Gigitan ular
g. Obstruksi vena
Sejauh ini penyebab sindroma kompartemen yang paling sering adalah cedera, dimana 45
% kasus terjadi akibat fraktur, dan 80% darinya terjadi di anggota gerak bawah.
c) Penatalaksanaan
Penanganan kompartemen secara umum meliputi:
1. Terapi Medikal/non bedah
Pemilihan terapi ini adalah jika diagnosa kompartemen masih dalam bentuk dugaan
sementara. Berbagai bentuk terapi ini meliputi:
a. Menempatkan kaki setinggi jantung, untuk mempertahankan ketinggian kompartemen yang
minimal, elevasi dihindari karena dapat menurunkan aliran darah dan akan lebih
memperberat iskemia.
b. Pada kasus penurunan ukuran kompartemen, gips harus di buka dan pembalut kontriksi
dilepas.
c. Pada kasus gigitan ular berbisa, pemberian anti racun dapat menghambat perkembangan
sindroma kompartemen.
d. Mengoreksi hipoperfusi dengan cairan kristaloid dan produk darah.
e. Pada peningkatan isi kompartemen, diuretik dan pemakainan manitol dapat mengurangi
tekanan kompartemen. Manitol mereduksi edema seluler, dengan memproduksi kembali
energi seluler yang normal dan mereduksi sel otot yang nekrosis melalui kemampuan dari
radikal bebas.
2. Terapi Bedah

Fasciotomi dilakukan jika tekanan intrakompartemen mencapai > 30 mmHg. Tujuan


dilakukan tindakan ini adalah menurunkan tekanan dengan memperbaiki perfusi otot.

Jika tekanannya < 30 mm Hg maka tungkai cukup diobservasi dengan cermat dan
diperiksa lagi pada jam-jam berikutnya. Kalau keadaan tungkai membaik, evaluasi terus
dilakukan hingga fase berbahaya terlewati. Akan tetapi jika memburuk maka segera lakukan
fasciotomi. Keberhasilan dekompresi untuk perbaikan perfusi adalah 6 jam.

Terdapat dua teknik dalam fasciotomi yaitu teknik insisi tunggal dan insisi ganda.Insisi
ganda pada tungkai bawah paling sering digunakan karena lebih aman dan lebih efektif,
sedangkan insisi tunggal membutuhkan diseksi yang lebih luas dan resiko kerusakan arteri dan
vena peroneal.
2. Fraktur

a) Definisi

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas korteks tulang menjadi dua bagian atau lebih
sehingga menimbulkan gerakan yang abnormal disertai krepitasi dan nyeri. Apabila terjadi
fraktur maka tulang harus diimobilisasi untuk mengurangi terjadinya cedera berkelanjutan dan
untuk mengurangi rasa sakit pasien.

Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Kebanyakan fraktur
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang, baik berupa
trauma langsung dan trauma tidak langsung (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Fraktur lebih sering
terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering
berhubungan dengan olah-raga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan
bermotor. Sedangkan pada orang tua, wanita lebih sering mengalami fraktur daripada lakilaki
yang berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan perubahan
hormon pada monopouse (Reeves, Roux, Lockhart, 2001).

Fraktur merupakan ancaman potensial atau aktual kepada integritas seseorang akan
mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis yang dapat menimbulkan respon berupa
nyeri. Nyeri tersebut adalah keadaan subjektif dimana seseorang memperlihatkan ketidak
nyamanan secara verbal maupun non verbal. Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh
emosi, tingkat kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan
pengertian nyeri. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk beristirahat, konsentrasi, dan
kegiatan yang biasa dilakukan (Engram, 1999)

b) Etiologi

a. Fraktur terjadi karena tekanan yang menimpa tulang kebih besar daripada daya tulang akibar
trauma

b. Fraktur karena penyakit tulang seperti Tumor Osteoporosis yang disebut Fraktur Patologis.

c. Fraktur Stress/ Fatique (akibat dari penggunaan tulang yang berulang-ulang).

c) Tanda dan Gejala Fraktur


Gejala yang paling umum pada fraktur adalah rasa nyeri yang terlokalisir pada bagian
fraktur. Biasanya pasien mengatakan ada yang menggigitnya atau merasakan ada tulang yang
patah. Apa yang dikatakan pasien merupakan sumber informasi yang akurat.

Pada pasien dengan multiple trauma, fraktur adalah trauma yang paling nyata dan
dramatis juga hal yang paling serius. Oleh karena itu lakukan primary survey dan lakukan
tindakan penanganan trauma dan lakukan stabilisasi jika memungkinkan.

a. Swelling
Terjadi karena kebocoran cairan ekstra seluler dan darah dari pembuluh darah yang telah
rupture pada fraktur pangkal tulang.
b. Deformitas
Pada kaki dapat menandakan adanya trauma skeletal.
c. Tenderness
Sampai palpitasi biasanya terlokalisir diatasbare trauma skeletal yang dapat dirasakan dengan
penekanan secara halus di sepanjang tulang.
d. Krepitasi
Terjadi bila bagian tulang yang patah bergesekan dengan tulang yang lainnya. Hal ini dapat
dikaji selama pemasangan splin. Jangan berusaha untuk mereposisi karena dapat
menyebabkan nyeri trauma lebih lanjut.
e. Disability
Juga termasuk karakteristik dari kebanyakan trauma skeletal pasien dengan fraktur akan
berusaha menahan lokasi trauma tetap pada posisi yang nyaman dan akan menolak
menggerakannya. Bahkan pada pasien dengan dislokasi akan menolak untuk menggerakkan
ekstremitas yang mengalami dislokasi.
f. Exposed bone ends
Didiagnosa sebagai trauma terbuka atau compound fraktur. Periksa pulsasi, gerakan dan
sensori di bagian distal pada setiap pasien dengan trauma musculoskeletal.

d) Jenis Fraktur
a. Fraktur Tertutup (Simple Fracture)
Fraktur tertutup adalah keadaan patah tulang tanpa disertai hilangnya integritas kulit.
Fraktur tertutup dapat menjadi salah satu pencetus terjadinya perdarahan internal
kekompartemen jaringan dan dapat menyebabkan kehilangan darah sekitar 500 cc tiap fraktur.
Setiap sisi patahan memiliki potensi untuk menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah besar
akibat laserasi pembuluh darah di dekat sisi patahan.
Fraktur tertutup biasanya disertai dengan pembengkakan dan hematom. Strain dan sprain
mungkin akan memberikan gejala seperti fraktur tertutup. Dan karena diagnosis pasti terjadinya
fraktur hanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan radiologi, maka berilah penanganan strain
dan sprain seperti penanganan tehadap fraktur tertutup.
b. Fraktur Terbuka (Compound Fracture)
Fraktur terbuka adalah keadaan patah tulang yang disertai gangguan integritas kulit. Hal
ini biasanya disebabkan oleh ujung tulang yang menembus kulit atau akibat laserasi kulit yang
terkena benda-benda dari luar pada saat cedera.
Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur terbuka adalah perdarahan eksternal,
kerusakan lebih lanjut pada otot-otot dan saraf serta terjadinya kontaminasi. Sangat penting
untuk mengenal adanya luka didekat fraktur karena bisa menjadi pintu masuk dari kontaminasi
kuman.
Fraktur terbuka dapat ditemukan dengan mudah pada penderita trauma. Adanya luka
terbuka didekat daerah yang diduga terjadi fraktur, harus dipertimbangkan sebagai fraktur
terbuka dan harus diberikan penanganan seperti fraktur terbuka. Denyut nadi, pergerakan, sensasi
dan warna kulit harus segera dinilai dan terus dilakukan penilaian ulang secara berkala.
e) Tipe Fraktur
a. Fraktur Trasversal
Garis frakturnya memotong melintang dari arah luar sampai menembus bagian tengah secara
tegak lurus dari tulang biasanya disebabkan oleh kecelakaan langsung.
b. Fraktur Greenstick
Terjadi pada anak dimana tulang masih bisa dibengkokan seperti dahan yang masih muda dan
garis frakturnya melintang lurus pada bagian luar dari tulang perpendicular sampai batas
tengah tulang.
c. Fraktur Spiral
Biasanya terjadi karena kecelakaan memutar (terpelintir) dan garis frakturnya tidak rata
d. Fraktur Oblique
Garis fraktur melintang pada tulang tegak lurus dan oblik.
e. Fraktur Comminuted
Dimana tulang terbagi menjadi lebih dari dua bagian.

f) Prinsip Penatalaksanaan Fraktur


a. Penatalaksanaan Fraktur
 Stabilkan jalan napas.
 Kontrol perdarahan.
 Tutup sucking chest wound (luka terbuka pada dada).
 Resusitasi cairan.
 Jika ada fraktur terbuka, balut luka sebelum melakukan pembidaian dan jangan mendorong
kembali tulang yang terlihat.
 Jangan pernah berusaha untuk meluruskan fraktur termasuk sendi-sendi, meskipun ada
beberapa tulang pada fraktur yang dapat diluruskan.
 Tourniket tidak dianjurkan pada fraktur terbuka kecuali pada trauma amputasi atau anggota
gerak yang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
 Imobilisasi ekstremitas sebelum memindahkan pasien dan imobilisasi sendi bagian atas dan
bawah dari tulang yang fraktur.

b. Tujuan Imobilisasi
 Untuk menjaga fraktur tertutup agar jangan menjadi fraktur terbuka. Hal ini mungkin terjadi
jika ujung tulang yang fraktur masih dapat bergerak bebas ketika pasien dipindahkan.
 Untuk mencegah kerusakan sekitar nervus, pembuluh darah dan jaringan yang lain dari
ujung tulang yang fraktur.
 Untuk meminimalkan perdarahan dan bengkak.
 Untuk mengurangi nyeri.

3. Dislokasi
a) Definisi

Dislokasi adalah keluarnya pangkal tulang dari permukaan articular, kadang-kadang


disertai dengan robeknya ligament yang seharusnya menahan pangkal tulang agar tetap berada
pada tempatnya. Persendian yang biasanya terkenal adalah bahu, siku, panggul dan pergelangan.
b) Etiologi

Etiologi tidak diketahui dengan jelas tetapi ada beberapa faktor predisposisi, diantaranya :

 Akibat kelainan pertumbuhan sejak lahir.


 Trauma akibat kecelakaan
 Trauma akibat pembedahan ortoped
 Terjadi infeksi di sekitar sendi    
c) Klasifikasi

Dislokasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Dislokasi congenital: terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.


b. Dislokasi patologik: akibat penyakit sendi dan atau jaringan sekitar sendi. Misalnya tumor,
infeksi, atau osteoporosis tulang. Ini disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang.
c. Dislokasi traumatic: kedaruratan ortopedi (pasokan darah, susunan saraf rusak dan
mengalami stress berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat oedema (karena mengalami
pengerasan). Terjadi karena trauma yang kuat sehingga dapat mengeluarkan tulang dari
jaringan disekeilingnya dan mungkin juga merusak struktur sendi, ligamen, syaraf, dan
system vaskular. Kebanyakan terjadi pada orang dewasa. Berdasarkan tipe kliniknya dibagi
menjadi :
 Dislokasi Akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip. Disertai nyeri akut dan
pembengkakan di sekitar sendi.
 Dislokasi Berulang.
Jika suatu trauma Dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi yang
berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi berulang.
Umumnya terjadi pada shoulder joint dan patello femoral joint.Dislokasi biasanya
sering dikaitkan dengan patah tulang / fraktur yang disebabkan oleh berpindahnya
ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus atau kontraksi otot dan
tarikan.
d) Tanda dan gejala
 Nyeri
 Deformitas
 Paralisis
 Hilangnya pulsasi (jika tekan nervus dan pembuluh darah).

Pada kebanyakan kasus pada pasien dengan fraktur atau dislokasi selalu cek nadi,
kekuatan otot dan sensasi (pulsasi, motorik dan sensorik) pada bagian distal daerah yang terluka.
Hilangnya pulsasi berarti ekstremitas dalam keadaan yang membahayakan dan transportasi ke
rumah sakit seharusnya tidak ditunda. Informasikan terlebih dahulu ke rumah sakit yang akan
dituju agar petugas dan dokter bedah tulang telah siap ketika pasien tiba.

e) Patofisiologi

Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan .Humerus terdorong kedepan
,merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.Kadang-kadang bagian posterolateral
kaput hancur.Mesti jarang prosesus akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan
menimbulkan luksasio erekta (dengan tangan mengarah ;lengan ini hampir selalu jatuh
membawa kaput ke posisi dan bawah karakoid).

f) Komplikasi
a. Komplikasi Dini
 Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera ; pasien tidak dapat mengkerutkan otot deltoid
dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot tesebut.
 Cedera pembuluh darah : Arteri aksilla dapat rusak.\
 Fraktur disloksi
b. Komplikasi lanjut.
 Kekakuan sendi bahu:Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi
bahu, terutama pada pasien yang berumur 40 tahun.Terjadinya kehilangan rotasi lateral,
yang secara otomatis membatasi abduksi.
 Dislokasi yang berulang:terjadi kalau labrum glenoid robek atau
 Kapsul terlepas dari bagian depan leher glenoid
 Kelemahan otot

g) Penatalaksanaan Dislokasi

Penatalaksanaan pada pasien dengan dislokasi adalah imobilisasi pasien pada posisinya
saat pertama kali ditemukan. Jangan coba meluruskan atau mengurangi dislokasi kecuali jika ada
seorang ahli. Lakukan imobilisasi pada bagian atas dan bawah sendi yang dislokasi untuk
menjaga kestabilan waktu transport.

Mungkin satu-satunya dislokasi yang paling berbahaya pada ektremitas bawah adalah
dislokasi pada lutut, sedangkan dislokasi pada pergelangan, siku, bahu, panggul an pergelangan
kaki masih dapat ditoleransi 2 atau 3 jam tanpa adanya bahaya kerusakan permanen.
Bagaimanapun juga ketika menolong pasien dengan dislokasi lutut dan tidak ada pulsasi
pada bagian distal. Maka harus dikoreksi dalam waktu 1 atau 2 jam setelah terjadi trauma. Dan
seharusnya waktu sejak terjadinya kecelakaan hingga sampai ke rumah sakit tidak lebih dari 1
jam.

4. Sprain
a) Definisi

Sprain adalah injuri dimana sebagian ligament robek, biasanya disebabkan memutar
secara mendadak dimana sendi bergerak melebihi batas normal. Organ yang sering terkena
biasanya lutut, dan pergelangan kaki, cirri utamanya adalah nyeri, bengkak dan kebiruan pada
daerah injuri.

Untuk membedakan fraktur dan dislokasi, sprain biasanya tidak disertai deformitas.
Bagaimanapun juga lebih bail lakukan penanganan sprain seperti penanganan fraktur lalu
imobilisasi. Biarkan sendi yang mengalami sprain pada posisi elevasi dan berikan kompres
dingin jika mungkin.

b) Etiologi
 Sprain terjadi ketika sendi dipaksa melebihi lingkup gerak sendi yang normal, seperti
melingkar atau memutar pergelangan kaki.
 Sprain dapat terjadi di saat persendian anda terpaksa bergeser dari posisi normalnya karena
anda terjatuh, terpukul atau terkilir.
c) Manifestasi klinis
 Nyeri
 Inflamasi/peradangan
 Ketidakmampuan menggerakkan tungkai.

d) Tanda Dan Gejala


 Sama dengan strain (kram) tetapi lebih parah.
 Edema, perdarahan dan perubahan warna yang lebih nyata.
 Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
 Tidak dapat menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan

e) Patofisiologi
Kekoyakan ( avulsion ) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling sendi, yang
disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, pemelintiran atau mendorong / mendesak pada saat
berolah raga atau aktivitas kerja. Kebanyakan keseleo terjadi pada pergelangan tangan dan kaki,
jari-jari tangan dan kaki. Pada trauma olah raga (sepak bola) sering terjadi robekan ligament
pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga dapat terkilir jika diterapkan daya tekanan atau tarikan
yang tidak semestinya tanpa diselingi peredaan (Brunner & Suddart,2001: 2357).

f) Penatalaksanaan
a.  Pembedahan.
Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya; pengurangan-pengurangan
perbaikan terbuka terhadap jaringan yang terkoyak.
b. Kemotherapi
Dengan analgetik Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk meredakan nyeri dan
peradangan. Kadang diperlukan Narkotik (codeine 30-60 mg peroral setiap 4 jam) untuk
nyeri hebat.
c. Elektromekanis.
 Penerapan dingin dengan kantong es 24 0C
 Pembalutan / wrapping eksternal. Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung)
 Posisi ditinggikan. Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.
 Latihan ROM. Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan perdarahan. Latihan
pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari tergantung jaringan yang sakit.
 Penyangga beban. Menghentikan penyangga beban dengan penggunaan kruk selama 7 hari
atau lebih tergantung jaringan yang sakit.

5. Strain
a) Definisi

Strain adalah “tarikan otot” akibat penggunaan berlabihan, peregangan berlebihan, atay
stres yang berlebihan. Strain adalah robekan mikroskopis tidak komplet dengan perdarahan
kedalam jaringan (Brunner & Suddart, 2001: 2355 ).

Strain adalah trauma pada jaringan yang halus atau spasme otot di sekitar sendi dan nyeri
pada waktu digerakkan, pada strain tidak ada deformitas atau bengkak. Strain lebih baik
ditangani dengan menghilangkan beban pada daerah yang mengalami injuri.

Jika tidak ada keraguan pada injuri diatas, imobilisasi ekstremitas dan evaluasi
dilanjutkan di ruang gawat darurat.

b) Etiologi
 Strain terjadi ketika otot terulur dan berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau
pelompat.
 Pada strain akut : Ketika otot keluar dan berkontraksi secara mendadak.
 Pada strain kronis : Terjadi secara berkala oleh karena penggunaaan yang berlebihan/tekanan
berulang-ulang,menghasilkan tendonitis (peradangan pada tendon).
c) Manifestasi Klinis
Gejala pada strain otot yang akut bisa berupa:
 Nyeri
 Spasme otot
 Kehilangan kekuatan
 Keterbatasan lingkup gerak sendi.
 Strain kronis adalah cidera yang terjadi secara berkala oleh karena penggunaan
berlebihan atau tekakan berulang-ulang, menghasilkan :
 Tendonitis (peradangan pada tendon). Sebagai contoh, pemain tennis bisa mendapatkan
tendonitis pada bahunya sebagai hasil tekanan yang terus-menerus dari servis yang berulang-
ulang.

d) Patofisiologi
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau tidak
langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada arah yang salah,kontraksi otot
yang berlebihan atau ketika terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles
(otot pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot guadriceps. Fleksibilitas otot
yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera kontusio dan membengkak (Chairudin
Rasjad,1998).
e) Manifestasi Klinis
 Biasanya perdarahan dalam otot, bengkak, nyeri ketika kontraksi otot
 Nyeri mendadak
 Edema
 Spasme otot
 Haematoma

f) Komplikasi
 Strain yang berulang
 Tendonitis
g) Penatalaksanaan
 Istirahat. Akan mencegah cidera tambah dan mempercepat penyembuhan
 Meninggikan bagian yang sakit,tujuannya peninggian akan mengontrol pembengkakan.
 Pemberian kompres dingin. Kompres dingin basah atau kering diberikan secara intermioten
20-48 jam pertama yang akan mengurangi perdarahan edema dan ketidaknyamanan.
 Kelemahan biasanya berakhir sekitar 24 – 72 jam sedangkan mati rasa biasanya menghilang
dalam 1 jam. Perdarahan biasanya berlangsung selama 30 menit atau lebih kecuali jika
diterapkan tekanan atau dingin untuk menghentikannya. Otot, ligament atau tendon yang
kram akan memperoleh kembali fungsinya secara penuh setelah diberikan perawatan
konservatif.

6. Kontusio
a) Definisi
Kontusio adalah cedera jaringan lunak, akibat kekerasan tumpul,mis : pukulan, tendangan
atau jatuh (Brunner & Suddart,2001: 2355).
Kontusio adalah cedera yang disebabkan oleh benturan atau pukulan pada kulit. Jaringan
di bawah permukaan kulit rusak dan pembuluh darah kecil pecah, sehingga darah dan cairan
seluler merembes ke jaringan sekitarnya (Morgan, 1993: 63)

b) Etiologi
 Benturan benda keras.
 Pukulan.
 Tendangan/jatuh

c) Manifestasi Klinis
 Perdarahan pada daerah injury (ecchymosis) karena rupture pembuluh darah kecil, juga
berhubungan dengan fraktur.
 Nyeri, bengkak dan perubahan warna.
 Hiperkalemia mungkin terjadi pada kerusakan jaringan yang luas dan kehilangan darah
yang banyak (Brunner & Suddart,2001: 2355).
\
d) Gejala
 Nyeri
 Bengkak
 Perubahan warna
 Kompres dingin intermitten kulit berubah menjadi hijau/kuning, sekitar satu minggu
kemudian, begkak yang merata, sakit, nyeri dan pergerakan terbatas.
 Kontusio kecil mudah dikenali karena karakteristik warna biru atau ungunya beberapa hari
setelah terjadinya cedera.
 Kontusio ini menimbulkan daerah kebiru-biruan atau kehitaman pada kulit. \
 Bila terjadi pendarahan yang cukup, timbulnya pendarahan didaerah yang terbatas disebut
hematoma.
 Nyeri pada kontusio biasanya ringan sampai sedang dan pembengkakan yang menyertai
sedang sampai berat (Hartono Satmoko, 1993:191)

e) Patofisiologi
Kontusio terjadi akibat perdarahan di dalam jaringan kulit, tanpa ada kerusakan
kulit. Kontusio dapat juga terjadi di mana pembuluh darah lebih rentan rusak dibanding orang
lain. Saat pembuluh darah pecah maka darah akan keluar dari pembuluhnya ke jaringan,
kemudian menggumpal, menjadi Kontusio atau biru. Kontusio memang dapat terjadi jika sedang
stres, atau terlalu lelah. Faktor usia juga bisa membuat darah mudah menggumpal. Semakin tua,
fungsi pembuluh darah ikut menurun (Hartono Satmoko, 1993: 192).
Endapan sel darah pada jaringan kemudian mengalami fagositosis dan didaur ulang
oleh makrofag. Warna biru atau unguyang terdapat pada kontusio merupakan hasil reaksi
konversi dari hemoglobin menjadi bilirubin. Lebih lanjut bilirubin akan dikonversi
menjadi hemosiderin yang berwarna kecoklatan.
Tubuh harus mempertahankan agar darah tetap berbentuk cairan dan tetap mengalir
dalam sirkulasi darah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi pembuluh darah, jumlah dan kondisi
sel darah trombosit, serta mekanisme pembekuan darah yang harus baik. Pada purpura simplex,
penggumpalan darah atau pendarahan akan terjadi bila fungsi salah satu atau lebih dari ketiga hal
tersebut terganggu (Hartono Satmoko, 1993: 192).

f) Penatalaksanaan
 Mengurangi/menghilangkan rasa tidak nyaman.
 Tinggikan daerah injury.
 Berikan kompres dingin selama 24 jam pertama (20-30 menit setiap pemberian) untuk 
vasokonstriksi, menurunkan edema, dan menurunkan rasa tidak nyaman.
   Berikan kompres hangat disekitar area injury setelah 24 jam prtama (20-30 menit) 4 kali
sehari untuk melancarkan sirkulasi dan absorpsi.
 Lakukan pembalutan untuk mengontrol perdarahan dan bengkak.
 Kaji status neurovaskuler pada daerah extremitas setiap 4 jam bila ada indikasi (Brunner &
Suddart,2001: 2355).
 Menurut Agung Nugroho (1995: 53) penatalaksanaan pada cedera kontusio adalah sebagai
berikut:
  Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk menghentikan pendarahan kapiler.
  Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan mempercepat pemulihan jaringan-jaringan
lunak yang rusak.
 Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan maupun pertandingan berikutnya.
D. Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Pada Klien Trauma Muskuloskeletal
Penilaian awal meliputi:

1. Persiapan
2. Triase
3. Primary survey (ABCDE)
4. Resusitasi
5. Secondary survey

Urutan kejadian diatas diterapkan seolah-seolah berurutan namun dalam praktek sehari-hari
dapat dilakukan secara bersamaan dan terus menerus.

1. Persiapan
a. Fase Pra-Rumah Sakit
1) Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dan petugas lapangan
2) Sebaiknya terdapat pemberitahuan terhadap rumah sakit sebelum penderita
mulai diangkut dari tempat kejadian.
3) Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah sakit seperti
waktu kejadian, sebab kejadian, mekanisme kejadian dan riwayat
penderita.
b. Fase Rumah Sakit
1) Perencanaan sebelum penderita tiba
2) Perlengkapan airway sudah dipersiapkan, dicoba dan diletakkan di tempat
yang mudah dijangkau
3) Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan, disiapkan dan diletakkan pada
tempat yang mudah dijangkau
4) Pemberitahuan terhadap tenaga laboratorium dan radiologi apabila
sewaktu-waktu dibutuhkan.
5) Pemakaian alat-alat proteksi diri
2. Triage
Triage adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya
yang tersedia. Dua jenis triase :
a. Multiple Casualties
Jumlah penderita dan beratnya trauma tidak melampaui kemampuan
rumah sakit. Penderita dengan masalah yang mengancam jiwa dan multi trauma
akan mendapatkan prioritas penanganan lebih dahulu.
b. Mass Casualties
Jumlah penderita dan beratnya trauma melampaui kemampuan rumah
sakit. Penderita dengan kemungkinan survival yang terbesar dan membutuhkan
waktu, perlengkapan dan tenaga yang paling sedikit akan mendapatkan prioritas
penanganan lebih dahulu.
3. Primary Survey
a. Airway dengan kontrol servikal
1) Penilaian
a) Mengenal patensi airway ( inspeksi, auskultasi, palpasi)
b) Penilaian secara cepat dan tepat akan adanya obstruksi
2) Pengelolaan airway
a) Lakukan chin lift dan atau jaw thrust dengan kontrol servikal in-
line immobilisasi
b) Bersihkan airway dari benda asing bila perlu suctioning dengan
alat yang rigid
c) Pasang pipa nasofaringeal atau orofaringeal
d) Pasang airway definitif sesuai indikasi.
3) Fiksasi leher
4) Anggaplah bahwa terdapat kemungkinan fraktur servikal pada setiap
penderita multi trauma, terlebih bila ada gangguan kesadaran atau
perlukaan diatas klavikula.
5) Evaluasi
b. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi
1) Penilaian
a) Buka leher dan dada penderita, dengan tetap memperhatikan
kontrol servikal in-line immobilisasi
b) Tentukan laju dan dalamnya pernapasan
c) Inspeksi dan palpasi leher dan thoraks untuk mengenali
kemungkinan terdapat deviasi trakhea, ekspansi thoraks simetris
atau tidak, pemakaian otot-otot tambahan dan tanda-tanda cedera
lainnya.
d) Perkusi thoraks untuk menentukan redup atau hipersonor
e) Auskultasi thoraks bilateral
2) Pengelolaan
a) Pemberian oksigen konsentrasi tinggi ( nonrebreather mask 11-12
liter/menit)
b) Ventilasi dengan Bag Valve Mask
c) Menghilangkan tension pneumothorax
d) Menutup open pneumothorax
e) Memasang pulse oxymeter
3) Evaluasi
c. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan
1) Penilaian
a) Mengetahui sumber perdarahan eksternal yang fatal
b) Mengetahui sumber perdarahan internal
c) Periksa nadi : kecepatan, kualitas, keteraturan, pulsus paradoksus.
Tidak diketemukannya pulsasi dari arteri besar merupakan
pertanda diperlukannya resusitasi masif segera.
d) Periksa warna kulit, kenali tanda-tanda sianosis.
e) Periksa tekanan darah
2) Pengelolaan
a) Penekanan langsung pada sumber perdarahan eksternal
b) Kenali perdarahan internal, kebutuhan untuk intervensi bedah serta
konsultasi pada ahli bedah.
c) Pasang kateter IV 2 jalur ukuran besar sekaligus mengambil
sampel darah untuk pemeriksaan rutin, kimia darah, tes kehamilan
(pada wanita usia subur), golongan darah dan cross-match serta
Analisis Gas Darah (BGA).
d) Beri cairan kristaloid yang sudah dihangatkan dengan tetesan
cepat.
e) Pasang PSAG/bidai pneumatik untuk kontrol perdarahan pada
pasien-pasien fraktur pelvis yang mengancam nyawa.
f) Cegah hipotermia
3) Evaluasi
d. Disability
1) Tentukan tingkat kesadaran memakai skor GCS/PTS
2) Nilai pupil : besarnya, isokor atau tidak, reflek cahaya dan awasi tanda-
tanda lateralisasi
3) Evaluasi dan Re-evaluasi aiway, oksigenasi, ventilasi dan circulation.
e. Exposure/Environment
1) Buka pakaian penderita
2) Cegah hipotermia : beri selimut hangat dan tempatkan pada ruangan yang
cukup hangat.
4. Resusitasi
a. Re-evaluasi ABCDE
b. Dosis awal pemberian cairan kristaloid adalah 1000-2000 ml pada dewasa dan 20
mL/kg pada anak dengan tetesan cepat (lihat tabel 2)
c. Evaluasi resusitasi cairan
1) Nilailah respon penderita terhadap pemberian cairan awal ( lihat gambar 3,
tabel 3 dan tabel 4 )
2) Nilai perfusi organ ( nadi, warna kulit, kesadaran dan produksi urin ) serta
awasi tanda-tanda syok
3) Pemberian cairan selanjutnya berdasarkan respon terhadap pemberian
cairan awal.
4) Respon cepat
a) Pemberian cairan diperlambat sampai kecepatan maintenance
b) Tidak ada indikasi bolus cairan tambahan yang lain atau pemberian
darah
c) Pemeriksaan darah dan cross-match tetap dikerjakan
d) Konsultasikan pada ahli bedah karena intervensi operatif mungkin
masih diperlukan
5) Respon Sementara
a) Pemberian cairan tetap dilanjutkan, ditambah dengan pemberian
darah
b) Respon terhadap pemberian darah menentukan tindakan operatif
c) Konsultasikan pada ahli bedah ( lihat tabel 5 ).
6) Tanpa respon
a) Konsultasikan pada ahli bedah
b) Perlu tindakan operatif sangat segera
c) Waspadai kemungkinan syok non hemoragik seperti tamponade
jantung atau kontusio miokard
d) Pemasangan CVP dapat membedakan keduanya

Diagnosa keperawatan primey survey :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik


( peregangan atau kekoyakan pada otot, ligament atau tendon ditandai dengan kelemahan,
mati rasa, perdarahan, edema, nyeri).
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan ada bendang asing
c. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskletal
d. Kerusakan integritas kulit berhubungandengan faktor mekanik
e. resiko syok berhubungan dengan perdarahan pada ekstremitas
f. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan prosedur invasif

5. Secondary Survey
1. Identitas pasien.
2. Keluhan Utama.
Nyeri, kelemahan, mati rasa, edema, perdarahan, perubahan mobilitas / ketidakmampuan untuk
menggunakan sendi, otot dan tendon
3. Riwayat Kesehatan
4. Riwayat penyakit sekarang
 Kapan keluhan dirasakan, apakah sesudah beraktivitas kerja atau setelah berolah raga.
 Daerah mana yang mengalami trauma.
 Bagaimana karakteristik nyeri yang dirasakan.
5. Riwayat Penyakit Dahulu.
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau mengalami trauma pada sistem
muskuloskeletal lainnya
6. Riwayat Penyakit Keluarga.\
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
7. Pemeriksaan Fisik.
 Inspeksi : Kelemahan, Edema, Perdarahan  perubahan warna kulit, Ketidakmampuan
menggunakan sendi.
 Palpasi : Mati rasa
 Auskultasi
 Perkusi
8. Pemeriksaan Penunjang
Pada sprain untuk diagnosis perlu dilaksanakan rontgen untuk membedakan dengan patah tulang.

Diagnosa Keperawatan secondary Survey :


a. Intoleransi aktivitas
b. defisit perawatan diri berhubungan dengan ketidakmampuan dalam melaksanakan
aktivitas ditandai dengan gerakan yang minim (imobilisasi)
c. Ansietas berhubungan dengan ancaman status terkini
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi  mengenai penyakit dan
program pengobatan .
DAFTAR PUSTAKA

Andri Andreas.Dr. 2012. Basic Trauma Cardiac Life Support. Jakarta: AGD Dinkes Provinsi
DKI Jakarta.

Brunner & Suddart. 2011. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.

Diagnosa Keperawatan NANDA, 2015

http://zillyannurse.blogspot.com/2011/11/askep-trauma-muskuloskeletal.html

Junaidi, Iskandar. 2011. Pedoman Pertolongan Pertama Yang Harus Dilakukan Saat Gawat
Dan Darurat Medis. Yogyakarta: Andi Yogyakarta

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius