Anda di halaman 1dari 23

Bayi Prematur dengan gejala mirip RDS

Lion Pamungkas

NIM 102016287

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510

e-mail : lion.pamungkas@gmail.com

Pendahuluan

 Kehamilan merupakan salah satu proses fisiologis yang umum dialami oleh wanita.
Kehamilan yang terjadi pada wanita tidak selalu berjalan dengan baik. Terdapat
beberapa hal yang menyebabkan kehamilan pada wanita menjadi buruk, salah satunya
adalah pendarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa. Pada penderita
plasenta previa penderita dapat mengalami pendarahan pervagina secara tiba-tiba dan
hal tersebut membuat penderita harus segera melahirkan anaknya. Hal ini dapat
menimbulkan beberapa gangguan pada anak tersebut, sehingga setelah bayi lahir
harus segera dinilai skor APGAR yang dimiliki juga menilai keadaan anak
berdasarkan kurva lub-chenko, dan memonitor anak dengan baik. Oleh karena itu
ingin diketahui skor APGAR, indeks maturitas, klasifikasi bayi baru lahir berdasarkan
berat badan, usia kehamilan berdasarkan kurva lub-chenko, perawatan bayi prematur,
dan komplikasi yang dapat terjadi pada bayi prematur. Seorang ibu hamil 34-35
minggu (G2P0A1) berusia 30 tahun datang dengan keluhan perdarahan per vaginam.i
bu telah diketahui menderita placenta previa totalis. bayi dilahirkan via SC dengan
berat 1200gr dan ketuban jernih : bayi dengan berat 1200 gram lahir meringis(1)
dengan ekstremitas sedikit fleksi(1) dan tampak biru(0), denyut jantung 90 x/menit(1)
dan nafas irreguler(1) memiliki skor APGAR 4. Setelah stimulasi: bayi menangis
kuat(2), sedikit fleksi(1), denyut jantung 140x/menit(2), akrosianotik(1).APGAR:6,
Hasil PF setelah satu jam: bayi menangis lemah dengan badan tampak kebiruan,(+)
mendengkur dengan retraksi dada sehingga bayi dirawat di perinatology. merupakan
neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan dan memiliki kemungkinan terkena
respiratory distress syndrome.

Anamnesis

Perdarahan pervaginam merupakan tanda terjadinya suatu bahaya pada kehamilan, oleh
karena itu harus segara ditangani dengan melahirkan bayi. Setelah bayi berhasil dilahirkan
maka segera dilakukan anamnesis pada pasien. Anamnesis terdiri dari identitas pasien,
keluhan utama, keluhan penyerta, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
keadaan lingkungan, keluarga, dan sosial.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan pada pasien, antara lain: 1. Menstruasi pertama
kali usia berapa, teratur atau tidak. 2. Sebelumnya sudah pernah hamil atau belum. 3. Adakah
riwayat aborsi atau perdarahan pada kehamilan sebelumnya. 4. Apakah pasien sedang
terinfeksi suatu penyakit. 5. Mengkonsumsi obat-obatan. 6. Ditanyakan juga mengenai
lingkungan sekitarnya apakah ada yang merokok atau apakah pasien tersebut merokok.7.
Adakah riwayat melahirkan prematur pada pasien teresebut. 8. Apakah dari vaginanya pernah
keluar sekret yang encer. 9. Sebelum pendarahan apakah pasien melakukan aktivitas yang
berat atau terantuk oleh benda yang keras. 10. Apakah selama hamil pasien merasakan nyeri
pada daerah perutnya.1

Pemeriksaan fisik

Tampilan

Pertama-tama, tampilan umum bayi harus dievaluasi. Tanda-tanda seperti sianosis, pelebaran
cuping hidung, retraksi interkostal, dan mendengkur memberi kesan adanya penyakit paru.
Tali pusat, kuku dan kulit yang ternodai oleh mekonium, memberi kesan distress janin dan
kemungkinan pneumonia aspirasi. Tingkat aktivitas spontan, tonus otot pasif, kualitas
menangis, dan apnea merupakan tanda skrinning yang berguna untuk mengevaluasi keadaan
sistem saraf pada mulanya. 2

Keadaan umum

Keadaan umum dimulai dengan penilaian keadaan umum pasien yang mencakup 1. Kesan
keadaan sakit. 2. Kesadaran pasien. 3. Status gizi pasien. Dengan penilaian keadaan umum
maka dapat diperoleh kesan apakah pasien dalam keadaan akut yang memerlukan perolongan
segera atau pasien dalam keadaan relatif stabil sehingga dapat dilakukan anamnesis secara
lengkap baru dilakukan pertolongan.

Kesan keadaan sakit dinilai dengan melihat apakah pasien tampak tidak sakit, sakit ringan,
sakit sedang, atau sakit berat. Kesan tersebut diambil dengan penilaian penampakan pasien
secara keseluruhan. Kesan keadaan sakit tidak selalu identik dengan keparahan penyakit yang
diderita. Wajah pasien harus diperhatikan karena dari wajah tersebut dapat memberikan
informasi tentang keadaan klinis pasien. Selain itu, posisi pasien serta aktivitasnya harus
dinilai dengan baik. Apakah pasien datang berjalan, duduk, tiduran aktif, tiduran pasif, atau
mengambil posisi abnormal tertentu. Melalui posisi dan aktivitas tersebut dapat diketahui
kelainan atau keparahan penyakit yang diderita oleh pasien.

Kesadaran dapat diperiksa jika pasien dalam keadaan sadar. Penilaian kesadaran terdiri dari
1. Komposmentis yaitu pasien sadar sepenuhnya dan memberi respon adekuat terhadap
semua stimulus yang diberikan. 2. Apatik yaitu pasien dalam keadaan sadar, tetapi acuh tak
acuh terhadap keadaan sekitarnya dan baru memberikan respon ketika diberikan stimulus. 3.
Somnolen yaitu pasien tampak mengantuk, selalu ingin tidur, tidak responsif terhadap
stimulus ringan tetapi masih memberikan respon terhadap stimulus yang agak keras tetapi
kemudian tertidur lagi. 4. Sopor yaitu pasien tidak memberikan respon ringan maupun sedang
tetapi masih memberikan sedikit respon terhadap stimulus yang kuat, reflek pupil terhadap
cahaya masih kuat.. 5. Koma yaitu pasien tidak dapat bereaksi terhadap stimulus apapun. 6.
Delirium yaitu kesadaran yang menurun secara kacau, biasanya disertai dengan disorientasi,
iritatif, dan salah persepsi terhadap rangsangan sensorik hingga sering terjadi halusinasi.

Status gizi pasien secara klinis dilakukan terutama dengan inspeksi dan palpasi. Melalui
inspeksi dapat dinilai postur tubuh pasien. Selain status gizi, pasien juga harus diperiksa
tanda-tanda vital yang mencakup nadi, tekanan darah, pernafasan, dan suhu. Dalam
melakukan pemeriksaan terhadap nadi, pemeriksaan mencakup a. Frekuensi atau laju nadi.
Penghitungan nadi harus disertai dengan penghitungan laju jantung untuk menyingkirkan
kemungkinan terdapatnyaa pulsus defisit. Pada orang demam dengan kenaikan suhu badan
1°C diikuti oleh kenaikan denyut nadi sebanyak 15-20x/menit. Akan tetapi, kenaikan denyut
nadi tersebut tergantung pada penyakit yang diderita oleh pasien. b. Irama nadi. Dalam
keadaan normal, irama nadi adalah teratur. Jika terjadi aritmia yaitu ketidakteraturan nadi,
denyut nadi teraba lebih cepat pada waktu inspirasi dan lebih lambat pada waktu ekspirasi.
Akan tetapi, keadaan tersebut merupakan keadaan normal yang menunjukkan adanya
cadangan jantung. Dapat pula dijumpai keadaan yang disebut sebagai ketidakteraturan yang
teratur seperti nadi yanng teraba sepasang-sepasang atau teraba sebagai kelompok tiga. c. Isi
atau kualitas nadi. Dalam pemeriksaan kualitas nadi dapat dijumpai adanya nadi yang teraba
sangat kuat dan turun dengan cepat akibat tekanan nadi yang besar. d. Ekualitas nadi. Dalam
keadaan normal, isi nadi teraba sama pada keempat ekstremitas. Melalui pemeriksaan tanda-
tanda vital, dapat diketahui kelainan-kelainan yang mungkin di derita oleh pasien.

Pengukuran tekanan darah yang dilakukan pada satu ekstremitas, yang umumnya
dipergunakan adalah lengan kanan atas untuk menghindari kesalahan akibat terdapatnya
koarktasio aorta sebelah proksimal dari arteri subklavia kiri yang menyebabkan tekanan
darah pada lengan kanan tinggi dan tempat lain rendah. Ketika melakukan pengukuran
tekanan darah hendaknya dicatat keadaan pasien ketika melakukan pemeriksaan karena
keadaan tersebut dapat mempengaruhi hasil dan penilaiannya. Pernafasan yang harus
diperiksa pada pernafasan pasien mencakup a. Laju pernafasan. b. Irama atau keteraturan. c.
Kedalaman. d. Tipe atau pola pernafasan.

Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan pada aksila, mulut pada bawah lidah, dan rektum.
Jika dari hasil pemeriksaan suhu tubuh di dapatkan hasil diatas normal yaitu diatas 37°C
maka pasien harus ditangani dengan segera begitupun jika didapatkan hasil dibawah 37°C.

Wanita yang datang dengan keadaan perdarahan pervaginam dan riwayat plasenta previa
totalis maka harus segera ditangani dengan melahirkan bayinya. Setelah bayi berhasil
dikeluarkan, maka segera dilakukan penilaian terhadap skor APGAR. Dapat dilihat pada
tabel 1. Skor APGAR merupakan metode praktis yang secara sistematis digunakan untuk
menilai bayi baru lahir segera sesudah lahir, untuk membantu mengidentifikasi bayi yang
memerlukan resusitasi akibat asidosis hipoksik. Skor yang tendah tidak selalu berarti janin
mengalami hipoksia-asidosis, faktor-faktor tambahan dapat mengurangi skor. Skor APGAR
juga tidak meramalkan mortalitas neonatus atau palsi serebral selanjutnya. Skor APGAR
menit pertama mengisyaratkan perlunya tindakan resusitasi dengan segera, sedangkan pada
menit ke-5, 10, 15, dan 20 menunjukkan kemungkinan keberhasilan dalam melakukan
resusitasi bayi. Skor APGAR 0-3 pada menit ke-20 meramalkan tingginya mortalitas dan
morbiditas. Skor APGAR dapat dipengaruhi oleh banyak hal, dan faktor-faktor tersebut
dapat memberikan hasil positif palsu ataupun negatif palsu. Faktor-faktor yang
mempengaruhi skor APGAR dapat dilihat pada tabel ke-2.

Tabel 1. Skor APGAR pada bayi baru lahir


Tanda Skor APGAR
0 1 2
Frekuensi jantung - Dibawah 100 Diatas 100
Upaya pernafasan - Lambat, tidak teratur Baik, menangis
Tonus otot Lemah Fleksi tungkai Gerakan aktif
Respon terhadap kateter - Menyeringai Batuk atau bersin
dalam lubang hidung
Warna Biru, pucat Tubuh merah muda, Seluruhnya merah
tungkai biru muda
Dikutip dari Arvin Behrman Kliegman. Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi ke-15. Volume 1.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2000: 540.

Jika bayi dengan berat 1200 gram lahir meringis(1) dengan ekstremitas sedikit fleksi(1) dan
tampak biru(0), denyut jantung 90 x/menit(1) dan nafas irreguler(1) memiliki skor APGAR 4.
Skor APGAR ini merupakan skor APGAR yang dinilai segera setelah bayi lahir.

Tabel 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi skor APGAR

Positif Palsu Negatif Palsu


Imaturitas Ibu mengalami asidosis
Analgetik, narkotik, sedatif Kadar katekolamin janin tinggi
Magnesium sulfat Beberapa bayi cukup bulan
Trauma serebral akut
Persalinan yang sangat cepat
Neuropati kongenital
Anomali SSP
Miopai kongenital
Trauma medula spinalis
Anomali paru
Obstruksi jalan napas
Pneumonia kongenital
Episode sebelum asfiksia janin
Dikutip dari Arvin Behrman Kliegman. Nelson ilmu kesehatan anak. Edisi ke-15. Volume 1.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2000: 541.

Selain memeriksa skor APGAR, indeks maturitas pun harus diperiksa pada anak yang lahir
secara prematur. Maturitas janin umumnya diperiksa dengan menentukan kandungan
surfaktan cairan amnion. Selain itu dapat juga dilakukan penilaian dengan cara: 1. Penentuan
luas kalsifikasi dengan USG. 2. Pendeteksi suara jantung janin pertama yang dapat didengar
(16-18 minggu). 3. Pengamatan gerakan awal janin (18-20 minggu).

Selain melakukan pemeriksaan dengan APGAR, dapat juga dilakukan penilaian skoring
menggunakan skala Dubowitz. Skala Dubowitz memiliki ketepatan hingga kelahiran 2
minggu dimana skala tersebut menilai keadaan neurologi dan juga organ-organ tubuh secara
keseluruhan. Skala Dubowitz dapat dilihat di gambar 1. Pada saat bayi lahir selain harus
diperhatikan keadaan fisiknya, harus dinilai juga apakah anak mengalami ikterus atau tidak.
Melalui skala kramer dapat dilakukan penilaian kadar bilirubin yang ada pada anak sehingga
menimbulkan ikterus. Skala kramer dapat dilihat pada gambar 2.1, 3-5

Gambar 1. Ballard-Dubowitz Score. Syifa. Diagnosis criteria, scoring, and trias in pediatric.
29 November 2011. Dikutip dari http://armendasyifa.wordpress.com/2011/11/29/criteria-
diagnosis-scoring-and-trias-in-pediatrics/, 25 april 2020.

Derajat Daerah ikterus Perkiraan kadar bilirubin


ikterus
I Kepala dan leher 5,0 mg%
II Sampai badan atas (di atas umbilikus) 9,0 mg%
III Sampai badan bawah (di bawah umbilikus) 11,4 mg/dl
hingga tungkai atas (di atas lutut)
IV Sampai lengan, tungkai bawah lutut 12,4 mg/dl
V Sampai telapak tangan dan kaki 16,0 mg/dl

Gambar 2. Skala Kramer. Syifa. Diagnosis criteria, scoring, and trias in pediatric. 29
November 2011. Dikutip dari http://armendasyifa.wordpress.com/2011/11/29/criteria-
diagnosis-scoring-and-trias-in-pediatrics/, 25 april 2020.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang umumnya dilakukan dengan menggunakan USG pada minggu ke-12.
Akan tetapi penilaian ini juga diperlukan pada minggu ke-18 dan 20. Dalam melakukan
pemeriksaan USG ini dilakukan pengukuran diameter biparietalis, rasio lingkar kepala
terhadap abdoomen. Melalui pemeriksaan USG ini dapat diketahui pola retardasi
pertumbuhan janin, yaitu: 1. Pertumbuhan janin yang terus-menerus berada 2 simpang baku
di bawah umur kehamilan rata-rata. 2. Adanya kurva pertumbuhan janin yang normal pada
suatu kehamilan namin melambat secara mendadak atau mendatar. Melalui pemeriksaan
USG dapat diketahui kelainan-kelainan pertumbuhan janin.

USG real time dapat mengidentifikasi kelainan plasenta dan anomali janin seperti
hidrosefalus, anensefalus, spina bifida, atresia duodenum, dan sebagainya. Selain dengan
melakukan USG, pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kelainan
pada janin adalah dengan amniosentesis. Pengambilan cairan amnion dengan tujuan untuk
mengetahui ada tidaknya kelainan genetik dilakukan pada minggu ke-16 dan 18. Cairan-
cairan amnion dapat langsung digunakan untuk menganalisis asam amino, enzim, dan
kelainan produk-produk metabolik.

Melalui pemeriksaan rongten, paru-paru memiliki kekhasan tetapi tidak patognomonis


meliputi granularitas parenkim retikular halus dan bronkogram udara yang seing menonjol
pada awal di lobus bawah kiri karena penumpangan bayangan jantung. Pada pemeriksaan
awal akan didapatkan hasil yang normal. Gambaran khas akan didapatkan pada 6-12 jam.

Indeks kimia maturitas janin yang paling baik adalah dengan penentuan kreatinin dan lesitin
cairan amnion yang menggambarkan maturitas ginjal dan paru-paru janin. Lesitin dihasilkan
di paru-paru oleh alveolus tipe 2 dan akhirnya mencapai cairan amnion melalui aliran keluar
trakea. Pada pertengahan trimester ke-3 kadarnya hampir sama dengan kadar spingomielin,
dan sesudahnya spingomielin tetap konstan dalam cairan amnion sedangkan lesitin naik. Pada
rata-rata minggu ke-35 rasio antara lesitin dan spingomielin adalah 2:1 dan menunjukkan
bahwa paru-paru janin sudah matang. Maturitas paru yang lebih awal terjadi jika ada
pemisahan plasenta prematur yang berat, ketuban pecah prematur, ketagihan narkotik, atau
penyakit hipertensi dan vaskular ginjal pada ibu. Penundaan maturasi paru dapat menandakan
adanya hidrops fetalis atau diabetes yang tidak disertai penyakit vaskuler. Rasio lesitin dan
spingomielin 2:1 atau lebih dapat menurunkan insiden terjainya penyakit membran hialin.
Pada kehamilan yang berisiko tinggi, dapat dilakukan penentuan fosfatidilkolin jenuh, benda-
benda osmofilik, atau kadar fosfatidilgliserol dalam cairan amnion.

Amniosentesis memliki resiko untuk terjadinya cedera langsung pada janin berupa akibat
pungsi plasenta dan perdarahan denan cedera sekunder pada janin, akibat stimulasi kontraksi
uterus dan persalinan prematur, amnionitis, dan sensitasi darah janin oleh ibu. Jika
amniosentesis dilakukan pada awal kehamilan maka resiko terkena pada janin akan semakin
besar.

Selain melakukan pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, pemeriksaan laboratorium yang dapat


dilakukan meliputi pemeriksaan darah untuk hitung darah lengkap dengan hitung jenis,
elektrolit serum, dan glukosa. Nilai gas darah serta asam basa dapat membantu menegakkan
diagnosis klinis.
Hasil laboratorium akan menunjukkan adanya hipoksemia kemudian hipoksemia prograesif,
hiperkarbia, dan berbagai asidosis metabolik.4

a. Analisa gas darah (AGD):


 Dilakukan untuk menentukan adanya gagal napas akut yang ditandai
dengan PaCo2 > 50 mm Hg, PaO2 < 60 mmHg, atau saturasi oksigen
arterial < 90%.
 Dilakukan pada BBL yang memerlukan suplementasi oksigen lebih dari 20
menit. Darah arterial lebih dipilih dianjurkan.
 Diambil berdasarkan indikasi klinis dengan mengambil sampel darah dari
arteri umbilikalis atau pungsi arteri
 Menggambarkan gambaran asidosis metabolik atau asidosis respiratorik
dan keadaan hipoksia
 Asidosis respiratorik terjadi karena atelektasis alveolar dan/atau
overdistensi saluran napas bawah
 Asidosis metabolik, biasanya diakibatkan asidosis laktat primer yang
merupakan hasil dari perfusi jaringan yang buruk dan metabolisme
anaerobik.
 Hipoksia terjadi akibat pirau dari kanan ke kiri melalui pembuluh darah
pulmonal, PDA dan/atau persisten foramen ovale
 Pulse oxymeter digunakan sebagai cara non invasip untuk memantau
saturasi oksigen yang dipertahankan pada 90-95%.
b. Elektrolit
 Kenaikan kadar serum bikarbonat mungkin karena kompensasi metabolik
dari hiperkapnea kronik
 Kadar glukosa darah untuk menentukan adanya keadaan hipoglikemia
 Kelainan elektrolit ini dapat juga diakibatkan oleh kondisi kehamilan
tubuh; hipokalemia, hipokalsemia dan hipofosfatemia dapat
mengakibatkan gangguan kontraksi otot
c. Pemeriksaan jumlah sel darah: polisetemia mungkin karena hipoksemia
kronik.6

Diagnosis
Berdarkan usia kehamilan neonatus baru lahir dapat dibedakan menjadi 3, yaitu: 1. Cukup
bulan. Dikatakan cukup bulan apabila masa kehamilan berlangsung selama 37-42 minggu. 2.
Kurang bulan jika sebelum 37 minggu bayi sudah dilahirkan. Bayi kurang bulan dapat
disebabkan oleh berbagai macam hal 3. Lebih bulan jika usia kehamilan mencapai lebih dari
42 minggu.

Berdasarkan berat badan dan usia kehamilan, neonatus dibedakan menjadi: 1. Neonatus
cukup bulan sesuai usia kehamilan. 2. Neotnatus cukup bulan kecil untuk masa kehamilan. 3.
Neotanus cukup bulan besar untuk usia kehamilan. 4. Neonatus kurang bulan sesuai masa
kehamilan. 5. Neonatus kurang bulan kecil untuk masa kehamilan. 6. Neonatus kurang bulan
besar untuk masa kehamilan. 7. Neonatus lebih bulan sesuai masa kehamilan. 8. Neonatus
lebih bulan kecil masa untuk masa kehamilan. 9. Neonatus lebih bulan besar untuk masa
kehamilan. Klasifikasi tersebut diukur berdasarkan kurva lub-chenko yang dapat dilihat pada
gambar 3.

Berdasarkan kurva lub-chenko, neonatus kecil untuk masa kehamilan menandakan berat lahir
dibawah persentil 3 untuk jenis kelamin dan masa kehamilan. Neonatus besar untuk masa
kehamilan berarti berat lahir diatas persentil 97 untuk jenis kelamin dan masa kehamilan.
Sedangkan neonatus sesuai masa kehamilan menandakan berat lahir diantara persentil 3 dan
97 untuk jenis kelamin dan masa kehamilan.

Berdasarkan kurva lub-chenko bayi dengan usia kehamilan 35 minggu dan berat 1200 gram
merupakan keadaan dimana neonatus mengalami berat badan rendah dan kecil untuk usia
kehamilan 34-35 minggu. Pada umumnya bayi dengan berat badan lahir rendah merupakan
bayi yang terlahir secara prematur.

Kelahiran prematur merupakan keadaan dimana 1. Kehamilan lebih dari 20 minggu tapi
kurang dari 37 minggu. 2. Kontraksi uterus teratur dan nyeri yang terjadi paling sedikit dua
kali setiap sepuluh menit selama paling sedikit 30 menit. 3. Terjadi penipisan atau dilatasi
serviks. 4. Selaput ketuban utuh.
Gambar 3. Kurva Lub-Chenko. Dikutip dari Widjanarko Bambang. Perumbuhan janin. 31
Agustus 2009. Dikutip dari http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/08/pertumbuhan-
janin.html, 24 april 2020

Bayi dengan kekurangan berat badan mempunyai resiko hipoglikemi. Selain itu, bayi yang
lahir secara prematur memiliki resiko terkena penyakit, diantaranya: 1. Sindrom disstress
pernafasan yang disebabkan oleh defisiensi surfaktan. 2. Apnu berulang. 3. Pengaturan suhu
yang kurang baik. 4. Masalah pada fungsi ginjal, keseimbangan cairan, dan elektrolit. 5.
Nutrisi. 6. Paten duktus arteriosus. 7. Perdarahan intraventrikel dan kerusakan sistem saraf
pusat. 8. Anemia. 9. Enterokolitis nekrotikans. 10. Ikterus.

Respiratory distress syndrome

Respiratory distress syndrome atau sindrom distres pernafasan dikenal juga sebagai penyakit
membran hialin. Merupakan penyakit yang paling sering menyertai bayi prematur dan
bersifat sangat serius. Pada paru-paru terdapat surfaktan yang dapat menurunkan tegangan
permukaan antara gas inspirasi dan cairan yang melalui saluran nafas. Jika tidak terdapat
surfaktan maka paru-paru tidak dapat berkembang dan cenderung mengempis. Belum
matangnya struktur paru dan dinding dada akan memberikan masalah yang lebih serius
kepada bayi. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya ateletaksis yang mengganggu pertukaran
udara. Penderita RDS sering kali akan meningkatkan usaha bernafas yang jika tidak dapat
dipertahankan akan menyebabkan retensi karbon dioksida dan menimbulkan serangan paru.
RDS akan mengalami resolusi setelah 3-7 hari seiring dengan terbentuknya surfaktan.

Neonatus yang mengalami sindrom distress pernafasan, gejala yang ditimbulkan akan
bertambah berat jika kebutuhan oksigen meningkat. Hipotermi merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan terjadinya peningkatan kebutuhan terhadap oksigen, sehingga neonatus
prematur yang mengalami hipotermi akan memperberat sindrom distress pernafasan.

Pada bayi prematur, fungsi ginjal relatif buruk. Jika ditambah dengan kehilangan cairan yang
besar tetapi tidak terasa melalui permukaan kulit yang permeabilitasnya tinggi maka akan
mengakibatkan dehidrasi dan gangguan elektrolit. Dinding ventrikel lateral bayi terdapat
pembuluh-pembuluh kapiler yang rentan sehingga mudah terjadi perdarahan selama hipoksia
atau Respiratory distress syndrome. Pendarahan yang terjadi bisa lokal ataupun meluas.

Gangguan distress pernafasan yang dialami oleh neonatus prematur memiliki kesamaan
dengan takipnea bayi baru lahir sementara yang disebut sebagai sindrom kegawatan
pernapasan tipe 2. Takipnea ini dapat dialami oleh bayi preterm atau bayi cukup bulan pasca-
persalinan pervaginam atau operasi sesar. Jika terjadi sangat dini pada umumnya akan
disertai dengan retraksi atau mendengkur saat ekspirasi dan kadang-kadang sianosis yang
dapat disembuhkan dengan oksigen minimal. Penderita umumnya sembuh dengan cepat
dalam 3 hari meskipun terlihat menderita sakit berat dan memiliki perjalanan yang lama.
Paru-paru umumnya bersih tanpa ronki halus dan rongten dada menunjukan corak vaskular
paru yang jelas, garis-garis cairan dalam fisur, aerasi berlebihan, diafragma datar dan kadang-
kadang ada cairan pleura. Neonatus dengan takipnea tidak ditemukan adanya hipoksemia,
hiperkapnia, dan asidosis. Umumnya takipnea sulit dibedakan dengan penyakit membran
hialin. 4, 7-9

Faktor risiko

Faktor risiko yang dominan adalah

 Prematuritas, karena surfaktan hanya dihasilkan pada akhir trimester kedua dan awal
timester ketiga
Faktor risiko lainnya adalah:

 Diabetes melitus maternal


 Sepsis
 Hipoksemia dan asidemia
 Hipotermia .10

Diagnosis banding

Takipnea sementara bayi baru lahir (TSBBL)

Takipnea sementara bayi baru lahir (TSBBL) merupakan keadaan yang sembuh sendiri yang
ditandai dengan takipnea, retraksi ringan, dan kadang-kadang mendengkur, biasanya tanpa
tanda-tanda distress pernapasan berat. Bila ada sianosis, biasanya memerlukan O2 tidak lebih
dari 30-40%. TSBBL biasanya ditemukan pada bayi cukup bulan yang dilahirkan dengan
seksio sesaria tanpa proses persalinan sebelumnya. Bayi dari ibu diabetes dan bayi dnegan
keinginan napas buruk akibat obat-obatan analgesik yang melewati plasenta, juga berisiko.
Roentgenogram dada menunjukkan corak pembuluh darah sentral menonjol, adanya cairan
dalam fissura paru, aerasi berlebihan, dan kadang-kadang sedikit efusi pleura. Bronkogram
udara dan pola retikulogrnular tidak ditemukan pada TSBBL, dan jika ada memberi kesan
paru lain seperti RDS atau pneumonia. TSBBL dapat disebabkan oleh cairan paru yang
tertahan atau penyerapan cairan paru yang lambat. 2

Patofisiologi

Persalinan preterm dilakukan dengan melihat faktor resiko mayor dan minor. Faktor resiko
minor antara lain: 1. Penyakit yang disertai demam. 2. Perdarahan pervaginam pada
kehamilan lebih dari 12 minggu. 3. Riwayat pielonefritis. 4. Merokok lebih dari 10 batang
perhari. 5. Riwayat abortus pada trimester ke-2. 6. Riwayat abortus pada trimester 1 lebih
dari 2 kali.

Faktor resiko mayor, antara lain: 1. Kehamilan multipel. 2. Hidramnion. 3. Anomali uterus. 4.
Serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu. 5. Serviks mendatar atau
memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu. 6. Riwayat abortus pada trimester
ke-2 lebih dari satu kali. 7. Riwayat persalinan preterm sebelumnya. 8. Operasi abdominal
pada kehamilan preterm. 9. Riwayat operasi konisasi. 10. Iritabilitas uterus. Seseorang
dikatakan mengalami resiko tinggi jika dijumpai satu atau lebih faktor resiko mayor atau bila
ada dua atau lebih faktor resiko minor atau bila ditemukan keduanya.

Kegagalan mengembangkan kapasitas residu fungsional dan kecenderungan paru-paru


terkena atelektasis mempunyai korelasi dengan tegangan permukaan yang tinggi dan tidak
adanya surfaktan. Unsur utama surfaktan adalah dipalmitilfosfatidilkolin atau lesitin,
fosfatidilgliserol, apoprotein, dan kolesterol. Dengan bertambahnya umur kehamilan terjadi
penambahan jumlah fosfolipid yang disintesis, dan disimpan di dalam sel alveolar tipe 2.
Adanya imaturitas, jumlah yang dihasilkan atau dilepaskan mungkin tidak cukup memenuhi
kebutuhan pasca-lahir. Kadar surfaktan tertinggi dalam paru janin yang dihomogenasi pada
umur kehamilan 20 minggu, tetapi belum mencapai permukaan paru sampai saatnya tiba.
Surfaktan tampak dalam cairan amnion antara 28-32 minggu dan kadar surfaktan paru matur
biasanya muncul sesudah 35 minggu.

Sintesis surfaktan sebagian bergantung pada pH, suhu, dan perfusi normal. Asfiksia,
hipoksemia, dan iskemia paru, terutama dalam hubungannya dengan hipovolemia, hipotensi,
dan stres dingin, dapat menekan sintesis surfaktan. Lapisan epitel paru dapat juga terkena
jejas akibat kadar oksigen yang tinggi dan pengaruh manajemen oleh operator respirasi,
mengakibatkan penurangan surfaktan yang lebih lanjut. Atelektasis alveolar, formasi
membran hialin, dan edema interstisial membuat paru-paru kurang lentur, memerlukan
tekanan yang lebih besar untuk mengembangkan alveolus kecil dan jalan nafas.

Pada bayi yang mengalami penyakit distress pernafasan, dada bawah tertarik ke dalam ketika
diafragma turun dan tekanan intratoraks menjadi negatif sehingga jumlah tekanan intratoraks
yang dihasilkan terbatas dan timbul kecenderungan ateletaksis. Dinding dada bayi preterm
sangat lemah memberikan lebih sedikit tekanan daripada dada bayi yang matur terhadap
kecenderungan alamiah paru untuk kolaps. Dengan demikian pada akhir ekspirasi, volume
toraks dan paru cenderung mendekati volume residu sehingga terjadi ateletaksis. Terjadinya
ateletaksis mengakibatkan adanya perfusi pada alveolus tapi tidak ada ventilasi dan
menyebabkan hipoksia. Pengurangan kelenturan paru, volume tidal yang kecil, kenaikan
ruang mati fisiologis, kenaikan kerja pernapasan dan ventilasi alveolar yang tidak cukup
akhirnya mengakibatkan hiperkarbia. Kombinasi hiperkarbia, hipoksia, dan asidosis
menyebabkan vasokonstriksi arteri pulmonalis dengan kenaikan shunt dari kanan ke kiri
melalui foramen ovale, duktus arteriosus, dan dalam paru-paru itu sendiri. Aliran darah paru
berkurang, dan jejas iskemik pada sel menghasilkan surfaktan dan terhadap bantalan vaskular
mengakibatkan efusi dan proteinaseosa ke dalam ruang alveolar. Proses ini dapat dilihat pada
gambar 4. Jika neonatus terlahir dengan keadaan yang gawat, membran hialin akan jarang
terlihat lebih awal dari 6-8 jam setelah lahir.4

Gambar 4. Patofisiologi penyakit membran hialin. Dikutip dari Arvin Behrman Kliegman.
Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2000: 593.

Etiologi

Bayi lahir prematur dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, diantaranya yaitu: 1.
Hipertensi. 2. Perkembangan janin terhambat. 3. Solutio plasenta. 4. Plasenta previa. 5.
Kelainan rhesus. 6. Diabetes. 7 . Kelainan kontraksi uterus. 8. Ketuban pecah dini. 9. Serviks
inkompeten. 10. Kehamilan ganda.11

Epidemiologi

Angka kematian neonatus dengan berat lahir rendah sekitar 40 kali bayi dengan berat badan
normal yang lahir cukup bulan. Bayi kurang bulan yang mengalami serebral palsy 10 kali
lebih tinggi dan defisiensi mental 5 kali lebih tinggi dibanding cukup bulan.

Neonatus yang mengalami penyakit membran hialin terjadi 60%-80% terjadi pada bayi yang
usia kehamilannya kurang dari 28 minggu, 15%-30% pada bayi 32-36 minggu, dan sekitar
5% pada bayi cukup bulan. Insiden tertinggi pada bayi preterm laki-laki atau kulit putih.9
Gejala Klinis

Gejala-gejala yang sering menyertai terjadinya persalinan antepartum, antara lain: 1.


Pendarahan pervaginam. 2. Peningkatan discharge vagina dan tekanan vagina. Bayi-bayi
yang dilahirkan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu dapat mengalami gangguan
pernafasan dikarenakan paru-paru pada usia 24-25 minggu belum mengalami pematangan.
Penderita sindrom distress pernafasan memiliki beberapa gejala, antara lain: 1. Takipnu(>60
kali permenit). 2. Retraksi interkostal. 3. Retraksi subkostal. 4. Grunting. 5. Nafas cuping
hidung. 6. Sianosis.

Neonatus yang mengalami penyakit distress pernafasan akan meterlihat dalam beberapa
menit kelahiran, meskipun tanda-tanda tersebut tidak dapat dikenals elama beberapa jam
sampai pernafasan menjadi lebih cepat, dangkal bertambah sampai 60/menit. Neonatus dapat
mengalami asfiksia intrapartum atau kegawatan pernapasan dini yang berat jika berat badan
urang dari 1000 gram. Hal ini dapat menyebabkan neonatus memerlukan resusitasi.

Gejala khas yang sering ditemukan, antara lain: 1. Takipnea. 2. Mendengkur jelas. 3. Retraksi
interkostal dan subkostal. 4. Pelebaran dan kehitaman pada cuping hidung. 5. Penambahan
sianosis rrelatif sering tidak responsif dengan pemberian oksigen. 6. Suara bisa norma atau
berkurang dengan kualitas tubuler yang kasar. 7. Pada inspirasi dalam terdengar ronki halus
terutama pada dasar paru posterior.

Penderita penyakit membran hialin jika tidak diobati dengan adekuat maka tekanan darah dan
suhu tubuh dapat turun, terjadi kelelahan, sianosis, pucat bertambah, dengkuran berkurang
atau menghilang karena keadaan memburuk. Apnea dan pernapasan yang tidak teratur terjadi
ketika bayi menjadi lelah dan ada tanda-tanda tidak menyenangkan sehingga harus
diintervensi segera. Penderita juga dapat mengalami asidosis respiratorik-metabolik, edema,
ileus, dan oliguria. Dengan adanya apnea maka terlihat tanda-tanda asfiksia.

Pada kasus ringan, gejala-gejala yang ditimbulkan akan mencapai puncak dalam 3 hari
kemudian terjadi perbaikan perlahan-lahan yang ditunjukkan dengan diuresis spontan dan
kemampuan oksigenasi bayi dengan kadar oksigen inspirasi yang lebih rendah. Jika terjadi
kematian umumnya terjadi pada hari ke-2 dan ke-7 yang disertai kebocoran udara alveolar
dan perdarahan paru atau interventrikular. Jika kasus berat dan diventilasi secara mekanis,
mortalitasnya bisa tertunda selama beberapa minggu atau beberapa bulan jika berkembang
displasia bronkopulmonal. 4,7,9
Diagnosis berdasarkan anamnesis, tanda-tanda fisik, rontgen toraks yang khas, dan perjalanan
klinis. Rontgen dada (setelah usia 4 jam) pada RDS menunjukkan:

 Tampilan paru yang granular uniformis dan difus (ground glass) akibat atelektasis
 Bronkogram udara- garis batas jalan napas besar yang terisi udara pada paru yang
opak
 Berkurangnya volume paru
 Batas jantung yang tidak tegas karena lapangan paru yang opak (white out)
Selang trakea terpasang.10

Perawatan suportif terhadap bayi baru lahir prematur dan sakit

Observasi

Frekuensi denyut jantung, frekuensi napas, dan tekanan darah harus diukur pada bayi dengan,
atau berisiko menderita penyakit kardiopulmonal. Asupan serta keluaran cairan harus dicatat
minimal setiap hari, dan lebih sering pada bayi yang sakit berat. Berat badan harus diukur
setiap hari kecuali bayi tersebut tidak dapat mentoleransi tindakan tersebut.

Hipoglikemia adalah hal yang biasa selama hari-hari pertama setelah lahir pada bayi sakit dan
bayi prematur. Sampel darah kapiler harus diuji dengan salah satu metode uji tampis
samping-tidur.

Perlakuan (handling)

Bayi baru lahir yang sakit berat dan bayi prematur yang sangat kecil tidak dapat mentoleransi
perlakuan. Mengubah posisi tubuh mereka dan melakukan tindakan dapat menimbulkan suatu
hipoksia transien tetapi berat.

Suhu lingkungan

Pengontrolan suhu tubuh merupakan masalah utama bayi dengan berat badan lahir rendah.
Permukaan tubuh mereka yang relatif luas terhadap masa tubuh meningkatkan kehilangan
panas. Kehilangan cairan lewat proses evaporasi juga merupakan masalah utama pada bayi-
bayi ini.
Inkubator menghangatkan bayi dnegan menghembuskan udara hangat ke bayi. Sebuah
penghangat radian bekerja dengan membalik proses kehilangan panas yang terjadi secara
memancar, dan secara memancar pula menghangatkan bayi.

Cairan dan elektrolit parenteral

Bayi yang sakit berat sehingga tidak dapat makan melalui mulut atau slang lambung
memerlukan terapi cairan, elektrolit, dan glukosa parenteral.

Terapi oksigen

Pada suatu dalam masa perawatan rumah sakit, banyak bayi baru lahir yang sakit
membutuhkan terapi oksigen untuk mengatasi hipoksemia. Jika konsentrasi oksigen inspirasi
perlu diingatkan, pemberian oksigen harus dilakukan secara hati-hati karena tekanan oksigen
parsial yang tinggi di dalam arteri (PaO2) bayi prematur merupakan faktor penting dalam
menyebabkan retinopati prematuritas, suatu penyakit pembuluh darah retina yang dapat
menimbulkan kebutaan.

Kateterisasi vena umbilikus

Umumnya lokasi terbaik bagi ujung kateter vena umbilikus adalah di dalam vena kava
inferior dekat atrium kanan. Posisi ini menghasilkan pengukuran vena sentral yang
memuaskan. Dilokasi ini terdapat aliran darah yang besar sehingga larutan yang disuntikkan
akan diencerkan dengan cepat dalam darah; tetapi lokasi ini mempunyai risiko. Jika ujung
kateter berada di luar terbuka, bayi menghisap udara dalam atrium kanan atau kiri pada saat
inspirasi dalam. Sepsis dan tromboflebitis vena umbilikus serta sinus portal juga dapat terjadi.

Kateterisasi arteri umbilikalis

Arteri umbilikalis dikateter jika diperlukan pengukuran tekanan arteri, tekanan gas arteri dan
pH.12

Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pada neonatus dengan sindrom distress pernafasan umumnya
disebabkan karena proses terapi. Dalam memberikan terapi harus diperhatikan kadar gas
darah atau homeostasis. Jika pemberian oksigen yang terlalu rendah dapat merusak paru dan
jika diberikan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan retinopati. Selain itu, kadar
karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan terjadinya perdarahan otak, dan jika
kadarnya terlalu rendah dapat menyebabkan terjadinya iskemi otak.

Neonatus yang mengalami sindrom distress pernafasan yang berat dan dilakukan ventilasi
dapat mengalami displasia bronkopulmonal. Displasia bronkopulmonal disebabkan karena
konsentrasi oksigen yang tinggi dan tekanan udara positif yang tinggi. Beberapa neonatus
yang mengalami displasia bronkopulmonal membutuhkan terapi oksigen dalam waktu yang
lama. Adanya alveolar shear stress, volutrauma, saponifikasi hipokapnea, atelektasis
absorpsi, dan radang dapat menyababkan displasia bronkopulmonum. Rongten dada
digambarkan sebgai perubahan perlahan-lahan dari gambaran yang hampir keruh total dengan
bronkogram udara dan emfisema interstisial sampai gambaran daerah lusen, kecil, bundar,
berselang-seling dengan daerah yang densitasnya tidak teratur menyerupai spon.

Neonatus prematur seringkali mengalami kegagalan menutupnya duktus arteriosus dan dapat
menyebabkan terjadinya gagal jantung. Paten duktus arteriosus dapat diatasi dengan
pemberian inhibitor prostaglandin sintesis tetapi terkadang membutuhkan pembedahan.

Komplikasi yang paling serius adalah intubasi trakea berupa asfiksia karena obstruksi pipa,
henti jantung selama intubasi atau pengisapan, dan perkembangan selanjutnya yaitu stenosis
subglotis. Komplikasi lain meliputi perdarah dari trauma selama intubasi, pseudodivertikula
faring posterior, ekstubasi sukar sehingga memerlukan trakeostomi, ulserasi lubang hidung
akibat tekanan pipa, penyempitan permanen pada lubang hidung karena cedera jaringan dan
parut akibat iritasi atau infeksi sekitar pipa, erosi palatum, penarikan plika vokalis, ulkus
laring, papiloma plika vokalis, dan serak persisten, stridor aau edema laring.

Penatalaksanaan

Pencegahan yang paling baik dilakukan adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur.
Pemeriksaan lingkar kepala janin dengan USG dan penentuan kadar lesitin dapat mengurangi
kemungkinan persalinan prematur. Pemantauan intrauteri pada masa antenatal dan
pemantauan intrapartum serupa dapat menurunkan risiko asfiksia janin yang dihubungkan
dengan peningkatan insiden dan keparahan penyakit membran hialin. Pemberian
deksametason atau pun betametason secara intramuskular pada 48-72 jam sebelum persalinan
dengan umur kehamilan 32 minggu atau kurang sangat mengurangi insiden dan mortalitas
serta morbiditas penyakit membran hialin. Terapi glukokortikoid pranatal mengurangi
keparahan RDS dan mengurangi insidens komplikasi prematuritas lainnya dikarenakan
bekerja sinergis dengan terapi surfaktan eksogen pasca lahir. Pemberian satu dosis surfaktan
ke dalam trakea bayi prematur sefera sesudah lahir atau selama umur 24 jam dapat
mengurangi mortilitas RDS tapi tidak mengubak insiden DBP.

Penderita sindrom distress pernafasan akan mengalami resolusi atau perbaikan setelah 3-7
hari, oleh karena itu setelah bayi dilahirkan maka kehidupannya harus dipertahankan dan
harus dihindari dari cedera. Mengendalikan ventilasi udara adalah cara utama dalam menjaga
kehidupan neonatus.

Surfaktan yang belum terbentuk dapat diatasi dengan memberikan pengganti melalui lubang
endotrakeal segera setelah bayi lahir. Hal ini dapat menurunkan mortalitas, mengurangi
resiko pneumotoraks, dan mengurangi resiko kerusakan paru. Selain itu, pada neonatus
dengan Respiratory distress syndrome harus dilakukan monitoring dengan sangat ceramat.

Penggunaan inkubator dan penghangat radian pada bayi yang lahir secara prematur membuat
neonatus menggunakan sedikit energinya dalam mempertahankan suhu tubuhnya. Hal ini
dapat menurunkan resiki bertambah beratnya sindrom distress pernafasan.

Bayi yang terlahir secara prematur membutuhkan nutrisi yang adekuat sehingga pertumbuhan
bayi dapat menyamai keadaannya dengan bayi yang terlahir normal. Jika bayi dalam keadaan
sehat, maka dapat diberikan susu, sebaiknya diberikan ASI karena dapat ditoleransi dengan
baik, mendukung pematangan usus, dan mengurangi risiko enterokolitis nekrotikans. Bayi
dengan berat badan sangat rendah harus ditambahkan protein selain ASI sehingga
pertumbuhan anak dapat berkembang dengan baik.

Perawatan suportif awal bayi BBLR terutama pada pengobatan asidosis, hipoksia, hipotensi,
dan hipotermia tampaknya mengurangi keparahan penyakit membran hialin. Terapi
memerlukan pemantauan terhadap frekuensi jantung dan pernafasan, tekanan oksigen,
tekanan karbondioksida, pH, bikarbonat, elektrolit arteri, glukosa darah, hematorkit, tekanan
darah, dan suhu. Kateterisasi arteri umbilikalis seringkali diperlukan. Kalori dan cairan harus
diberikan secara intravena. Untuk 24 jam pertama, 10% glukosa dan air harus diinfuskan
melalui vena perifer dengan kecepatan 65-75 ml/kg/24 jam. Kemudian elektrolit harus
ditambahkan dan volume cairan ditambah sedikit demi sedikit sampai 120-150 ml/kg/24 jam.
Cairan yang berlebihan turut menyebabkan berkembangnya duktrus arteriosus paten.

Bayi dengan penyakit membran hialin berat atau yang memiliki komplikasi akibat apnea teru-
menerus memerlukan bantuan ventilasi mekanis. Indikasi yang sesuai untuk
menggunakannya adalah: 1. pH darah arteri kuran dari 7,20. 2. PCO2 darah arteri 60mmHg
atau lebih. 3. PO2 darah arteri 50mmHg atau kurang pada kadar oksigen 70-100%. 4. Apneu
menetap. Bantuan ventilisasi dengan tekanan atau respirator konvensional aliran terbatas
melalui pipa endotrakea juga dapat mencakip tekanan akhir respirasi positif. Ventilisasi
mekanis bertujuan memperbaiki oksigen dan mengeliminasi karbondioksida tanpa
menyebabkan barotrauma paru yang berlebihan atau toksisitas oksigen. Kisaran nilai gas
darah yang dapat diterima yang menyeimbangkan risiko hipoksia dan asidosis dengan risiko
ventilasi mekanis adalah PaO2 55-70 mmHG, tekanan karbondioksida 35-55 mmHg dan pH
7,25-7,45. Selama ventilisasi mekanis, oksigenasi diperbaiki dengan menambah FI o2 atau
tekanan rata-rata jalan napas. Eliminasi karbondioksida dicapai dengan menambh tekanan
puncak inspirasi atau frekuensi ventilator.

Kisaran frekuensi ventilator konvensional adalah 10-60 x/menit, ventilasi pancaran frekuensi
tinggi adalah 150-600/menit dan osilator adalah 300-1800/menit. Pemasukan surfaktan
eksogen multidosis ke dalam endotrakea bayi BBLR memerlukan 40% oksigen dan ventilasi
mekanis untuk pengobatan RDS telah memperbaiki ketahan hidup dan mengurangi insidens
kebocoran undara paru tetapi tidak menurunkan insiden displasia bronkopulmonum secara
konsisten. Perngaruh yang terjadi segera meliputi perbaikan perbedaan tekanan oksigen
alveolar arteri, berkurangnya tekanan rata-rata jalan napas oleh ventilator, kelenturan paru
bertambah dan perbaikan gambaran roentgen dada. Surfaktan eksogen yang digunakan adalah
yang berasal dari paru sapi yang dicincang halus dengan ekstraksi lipid dan diperkaya dengan
fosfatidilkolin, asam palmitat, dan trigliserida. Surfaktan tersebut disebut sebagai survanta.
Surfaktan lain yang dapat diguanakan adalah eksosurf yang merupakan surfaktan sintetis
yang mengandung dipalmitoilfosfatidilkolin, heksadekanol, dan tiloksapol. Heksadekanol dan
tiloksapol dapat memperbaiki penyebaran surfaktan sepanjang alveolus .

Pengobatan dimulai pada usia 24 jam pertama, dan diberikan melalui pipa endotrakea setiap
12 jam dengan total 4 dosis.4,7.

Prognosis

Penyediaan awal pengamatan intensif dan perawatan bayi baru lahir yang memiliki risiko
tinggi dapat secara bermakna mengurangi morbiditas dan mortalitas. Akan tetapi hasil yang
baik bergantung dengan fasilitas perawatan rumah sakit, dan tidak adanya komplikasi seperti
asfiksia janin atau asfiksia lhair berat, perdarahan intrakranium atau malformasi kongenital
yang tidak dapat diperbaiki. Terapi surfaktan dapat mengurangi mortalitas RDS hingga 40%.
Secara jangka panjang, penderita RDS yang dapat tercapai fungsi paru yang normal dapat
bertahan hidup, namun dapat mengalami gangguan paru dan perkembangan saraf.4

Kesimpulan

Surfaktan merupakan zat yang dibutuhkan untuk menajaga alveolus baru terbentuk ketika
usia kehamilan 35 minggu. Kehamilan preterm memiliki resiko untuk terkena berbagai
macam penyakit, yang paling sering adalah respiratory distress syndrome atau penyakit
membran hialin yang jika tidak ditangani akan menimbulkan dilatasi bronkopulmonal. Ibu
hamil 33 minggu usia 30 tahun mengalami perdarahan pervagina karena placenta previa, bayi
lahir 1200 gram SC meringis, ekstremitas sedikit fleksi dan tampak biru, nafas ireguler
dengan retraksi dada memiliki skor APGAR 5 dan mengalami respiratory distress syndorme
et causa neonatus kurang bulan kecil masa kehamilan

Daftar Pustaka

1. Gleadle Jonathan. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga.


2007: 90-1.
2. Behrman RE. Esensial pediatri nelson.Edisi 4. Jakarta: EGC, 2010.h. 223, 237
3. Matondang Corry S, Wahidiyat Iskandar, Sastroasmoro Sudigdo. Diagnosis fisik pada
anak. Edisi ke-2. Jakarta. Sagung Seto. 2007: 6-34.
4. Arvin Behrman Kliegman. Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC. 2000: 561-600.
5. Syifa. Diagnosis criteria, scoring, and trias in pediatric. 29 November 2011. Dikutip
dari http://armendasyifa.wordpress.com/2011/11/29/criteria-diagnosis-scoring-and-
trias-in-pediatrics/, 25 april 2020.
6. Kosim MS. Buku ajar neonatologi: gangguan napas pada bayi baru lahir. Edisi 1.
Jakarta: badan penerbit IDAI, 2008.h.132-143
7. Meadow Roy, Newel Simon. Lecture notes pediatrika. Edisi ke-7. Jakarta: Erlangga.
2005: 69-74.
8. Widjanarko Bambang. Perumbuhan janin. 31 Agustus 2009. Dikutip dari
http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/08/pertumbuhan-janin.html, 25 april 2020.
9. Benson Ralph C, Pernoll Martin L. Buku saku obstetri dan ginekologi. Edisi ke-9.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 2009: 343-5.
10. Lisaauer T and Avroy F. At a glance: neonatologi. Jakarta: Penerbit Erlangga,
2008.h.68-73
11. Editor. Kapita selekta kedokteran. Jilid 1. Edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran UI. 2001: 274-5
12. Alpers A. Buku ajar pediatri rudolph. Edisi 20. Jakarta: EGC, 2006.h.265-9, 274-7

Anda mungkin juga menyukai