Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Butadiena atau juga disebut sebagai vinylethylene, erythrene, bivinyl atau
divinyl adalah produk petrokimia yang mempunyai rumus kimia H2C:CHHC:CH2
serta memiliki dua isomer yaitu 1,2 Butadiena, dan 1,3 Butadiena. Butadiena
merupakan senyawa kimia turunan olefin dengan bentuk fisik adalah gas (dalam
temperature ruang dan tekanan atmosfir) yang tidak korosif, tidak berwarna,
gampang mencair, dan mudah terbakar. Gas dengan aroma lembut ini tidak
terlampau larut dalam air, tidak terlalu larut dalam metanol dan etanol, dan larut
dalam pelarut organic seperti dietil eter, benzene dan karbon tetraklorida.
Di Indonesia, butadiena dikonsumsi oleh Industri Styrene butadiene Latex
(SBL), Industri Acrylonitrile Butadiena Styrene (ABS) dan Industri Styrene
Butadiene Rubber (SBR). Sehingga peningkatan konsumsi butadiena di Indonesia
baru terlihat setelah muncul pabrik – pabrik baru di ketiga sector industri
pengkomsumsi butadiene tersebut di atas. Namun dari ketiga industry tersebut,
penyerapan butadiena pada tahun 2008 oleh industry SBR adalah yang paling
besar yakni mencapai 29.027 ton. Sedangkan penyerapan butadiena oleh industri
SBL 9.510 ton dan ABS 3.703 ton.
Pada tahun 2008 konsumsi butadiena di Indonesia adalah 43.799 ton
sedangkan produksinya belum ada. Dari Diagram 1.1, kebutuhan Butadiena
nasional sepanjang tahun 2003 – 2008 rata-rata meningkat dengan laju sebesar 5,0
% setiap tahunnya. (Indochemical, 2008)

Gambar 1.1 Diagram komsumsi butadiene di Indonesia (Indochemical, 1


Oktober 2009
Pada tahun 2011 dan 2012, permintaan butadiene di Indonesia akan terus
meningkat dengan besar peningkatannya sebesar 3.85 % dan 4.89 % dan
permintaan ini akan melonjak pada tahun 2013 menjadi 6.625 %. Peningkatan ini
akan terus bertambah seiring dengan semakin berkembangnya industri serta
semakin meningkat dan membaiknya perekonomian di Indonesia. (Indochemical,
1 Oktober 2009).

Gambar : 1.2 Proyeksi Komsumsi Butena (Indochemical, 1 Oktober


2009
Berdasarkan data – data yang ada di atas, kebutuhan industri terhadap
butadiene dari tahun ke tahun akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya
perekonomian Indonesia sedangkan pemenuhan akan kebutuhan tersebut 100 %
berasal dari impor, maka pabrik butadiena harus didirikan di Indonesia

1.2. Prospek Pasar


1.2.1. Prospek Pasar Indonesia
Indonesia sampai saat ini masih mengandalkan pasokan impor untuk
memenuhi kebutuhan industri terhadap butadiene. Menurut sumber Badan Pusat
Statistik, sepanjang tahun 2003 sampai 2008 impor butadiene Indonesia secara
keseluruhan meningkat dengan laju sebesar 5,0 % untuk volumnya, sedangkan
nilai impornya meningkat lebih tinggi lagi yakni mencapai 32,9 % per tahun,
menyusul meningkatnya harga butadiene di pasaran. Walaupun dari segi
volumnya pada tahun 2007 hingga 2008 terjadi penurunan, tetapi dari segi
nilainya, impor Indonesia meningakat sangat tajam, dari US$ 52.612 naik menjadi
US$ 97.763 (Indochemical, 1 oktober 2009)
Jika ditinjau dari Gross Margin Proit (GMP), dari hasi perhitungan
diperoleh nilai GMP sebesar ± US$ 2.254 /kg jika di rupiahkan dengan perkiraan
kurs rupiah sebesar Rp 8,915.00, maka GMP yang didapat sebesar Rp. 20209, /kg.
Dengan belum adanya produksi butadiena di dalam negeri hingga saat ini
serta peningkatan kebutuhan akan karet sintetis seiring dengan semakin
berkurangnya lahan dan meningkatnya harga karet alam, maka, peluang investasi
butadiena masih sangat menjanjikan.

1.2.2. Prospek Pasar Dunia


Pada tahun 2008 kebutuhan butadiena dunia adalah 10,07 juta ton, dengan
peningkatan kebutuhan pasar 2,5% - 3% pertahunnya. Maka pada tahun 2013
diperkerikan kebutuhan dunia adalah 11.67 juta ton. Perkeriaan konsumsi
butadiene dapat dilihat dari diagram berikut :

Gambar 1.3 Proyeksi kebutuhan butadiene dunia


(Diolah dari Indochemical 2009)

Kapasitasi produksi butadiena terpasang pada tahun 2008 adalah 11,52


juta ton/pertahun. Dengan tingkat operasi wilayah Asia adalah 80% -90%, Eropa
90 % dan kawasan amarika utara adalah 70 %, maka diperkirakan kapasitas
operasi butadiena dunia adalah 9,45 juta ton/tahun.
Pada tahun 2013, kapasitas produksi butadiena terpasang diperkirakan
sebesar 12,58 juta ton/tahun. Penambahan kapasitas ini terjadi karena China akan
meningkatkan kapasitas produksinya sebesar 60 %, Taiwan 10 % dan Korea 10
%. Tetapi kapasitas operasinya diperkirakan sebesar 10,05 juta ton/tahun, dengan
asumsi tingkat operasi wilayah Asia adalah 80% -90%, Eropa 90 % dan kawasan
amarika utara adalah 70 %, maka masih terdapat kekurangan butadiene sebesar
1,62 juta ton. Berikut ini adalah Tabel kapasitas terpasang dan operasi pabrik
butadiene di dunia
Table 1.1 Produksi Butadiena
Kapasitas x 106 (ton)
No Kawasan
Terpasang Operasi
1. Amerika Utara 3,285 2,3
2. Amerika Selatan 3,13 2,8
3. Eropa Barat dan Tengah 3,13 2,8
4. Asia Pasific 5,01 4,08

1.3 Kapasitas Produksi


Pabrik butadiena ini akan didirikan dengan kapasitas produksi sebesar
50.000 ton/tahun dengan lama waktu pengerjaan 3 tahun. Pemilihan kapasita
produksi ini didasarkan kepada permintaan dari perusahaan Sumitomo asal Jepang
yang akan mendirikan pabrik Styrene Butadiene Rubber (SBR) di Singapura.
Pabrik tersebut akan selesai dibangun pada tahun 2013 dengan kapasitas produksi
40.000 ton/tahun.
Pabrik Styrene Butadiene Rubber (SBR) membutuhkan butadiena sebesar
75 % dari berat produk, jadi kebutuhan butadiena pabrik Styrene Butadiene
Rubber (SBR) Sumitomo adalah 30000 ton/pertahun.
Kelebihan dari pabrik butadiena ini sebesar 20.000 ton akan diekspor ke
luar negeri untuk memenuhi kekurangan kebutuhan butadiena di dunia sebesar
1,62 juta ton (diolah dari Indochemical)

1.4. Lokasi Pabrik


Pabrik Butadien direncanakan akan didirikan di Kota Dumai, Provinsi
Riau, Pemilihan lokasi tersebut dengan mempertimbangkan :

➢ Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku utama untuk pembuatan butadien adalah n-butane, yang diperoleh
dari LPG. Dumai Merupakan Penghasil minyak bumi dan gas Alam yang besar di
Indonesia. Dua industri yang turut serta memajukan Dumai secara tidak langsung
adalah PT. CPI (dahulu Caltex Pacific Indonesia sekarang Chevron Pacific
Indonesia) yang bergerak mayoritas dalam bidang pertambangan dan ekspor
minyak dan gas bumi, kemudian PT. Pertamina yang bergerak dalam bidang
pengolahan dan pendistribusian minyak dan gas bumi dalam negeri. Dari
pertimbangan terse

➢ Ketersediaan Utilitas

Pabrik didirikan di daerah yang memiliki sistem utilitas yang bagus.


Sumber air diperoleh dari fasilitas sumber air di kawasan industri yang berasal
dari air tanah sebanyak 600 liter/ detik [Regional Investmen, 2010]. Pada kawasan
industri tersebut juga tersedia listrik sebesar 3 MW.

➢ Pemasaran Produk
Kota Dumai memiliki keunggulan sebagai salah satu Kota di Provinsi Riau
yang berpeluang untuk memanfaatkan potensi pengembangan pelabuhan laut,
dimana Dumai berada pada posisi lintas perdagangan internasional Selat Melaka
yang dikelola oleh PELINDO dan beberapa pelabuhan rakyat. Pelabuhan di
Dumai telah dibangun sebagai pelabuhan penghubung untuk kegiatan ekspor
impor, begitu juga para penumpang yang ingin menuju ke Malaka – Malaysia.
Pelabuhan Dumai terdiri dari 9 unit, 4 unit dimilki Chevron dan 5 unit milik
pemerintah. Dengan kondisi seperti ini dapat membantu dalam pemasaran produk.

➢ Tenaga Kerja
Riau memiliki berbagai Universitas atau yang setara dengannya baik yang
negeri maupun swasta. Menggunakan mahasiswa/i yang berasal dari instansi
tersebut sangat membantu dalam pengoperasian suatu pabrik. Terutama tamatan
yang memiliki latar belakang pendidikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

➢ Keadaan Iklim dan Bencana Alam


Kota Dumai memiliki iklim yang stabil sepanjang tahun. Sesuai dengan
garis khatulistiwa yang berada pada iklim tropis. Selain itu, bencana alam seperti
gempa, longsor, badai dan lain-lain bisa dikatakan tidak pernah terjadi.

peta lokasi pabrik Butadien yang didirikan dapat dilihat pada Gambar 1.3 berikut.

Gambar 1.3. Peta Lokasi Pabrik [www.riauprovince.com]