0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan14 halaman

Pengaruh PAD dan DAK Terhadap Belanja Modal

Teks ini membahas pengaruh PAD, DAU, DAK, dan SiLPA terhadap belanja modal di provinsi Jawa Tengah antara tahun 2014-2016. Populasi penelitian ini adalah 35 kota/kabupaten di Jawa Tengah dan menggunakan analisis regresi linier berganda untuk menganalisis data."

Diunggah oleh

Putri Minangsary
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
53 tayangan14 halaman

Pengaruh PAD dan DAK Terhadap Belanja Modal

Teks ini membahas pengaruh PAD, DAU, DAK, dan SiLPA terhadap belanja modal di provinsi Jawa Tengah antara tahun 2014-2016. Populasi penelitian ini adalah 35 kota/kabupaten di Jawa Tengah dan menggunakan analisis regresi linier berganda untuk menganalisis data."

Diunggah oleh

Putri Minangsary
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PAD DAU DAK DAN SILPA TERHADAP

PENGALOKASIAN BELANJA MODAL PADA KOTA/


KABUPATEN PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2014-2016

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada
Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Oleh:
HANIF MUFTIANDI
B 200150019

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2020
HALAMAN PERSTUJUAN

PENGARUH PAD DAU DAK DAN SILPA


TERHADAP PENGALOKASIAN BELANJA
MODAL PADA KOTA/KABUPATEN
PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2014-2016

PUBLIKASIH ILMIAH

oleh:
HANIF MUFTIANDI
B 200150019

Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji oleh :


Pembimbing

(Drs. Suyatmin Waskito Adi, M.Si)

1
HALAMAN PENGESAHAN

PENGARUH PAD DAU DAK DAN SILPA


TERHADAP PENGALOKASIAN BELANJA
MODAL PADA KOTA/KABUPATEN
PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2014-2016

Oleh :
HANIF MUFTIANDI
B 200150019

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari Rabu, 12 Februari 2020
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Dewan Penguji :

1. Drs. Suyatmin Waskito Adi, M.Si ( )


(Ketua Dewan Penguji)
2. Dr. Triyono, S.E., M.Si. ( )
(Anggota I Dewan Penguji)
3. Drs. Atwal Arifin, Akt., M.Si. ( )
(Anggota II Dewan Penguji)
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Surakarta

2
( Dr. H. Syamsudin, S.E., M.M.)
PERNYATAAN

ii

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah publikasi ini tidak
sepenuhnya terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak
sepenuhnya terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan
orang lain, kecuali secara tertulis yang diacu dalam naskah dan disebutkan dalam
daftar pustaka.
Apabila kelak terbukti ada ketidak benaran dalam pernyataan saya diatas,
maka akan saya pertanggungjawabkan sepenuhnya sesuai kemampuan.

Surakarta, 12 Februari 2020

Penulis

Hanif Muftiandi

3
PENGARUH PAD DAU DAK DAN SILPA TERHADAP
PENGALOKASIAN BELANJA MODAL PADA KOTA/KABUPATEN
PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2014-2016

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh Pendapatan Asli Daerah
terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah periode
2014-2016. (2) Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Belanja Modal pada
Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah periode 2014-2016. (3) Pengaruh Dana
Alokasi Khusus terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Provinsi Jawa
Tengah periode 2014-2016. (4) Pengaruh Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah periode
2014-2016. (5) Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana
Alokasi Khusus dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran secara bersama-sama
terhadap Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah periode
2014-2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Kota/Kabupaten di
Provinsi Jawa Tengah periode 2014-2016 yang berjumlah 35 Kota/Kabupaten.
Data dalam penelitian ini berjumlah 105 dan menggunakan software SPSS untuk
melakukan analisis. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam
penelitian adalah purposive sampling. Alat analisis yang digunakan adalah
analisis regresi linear berganda dengan terlebih dahulu melakukan uji asumsi
klasik yang meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas,
dan uji autokorelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial
pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan terhadap belanja modal, dana
alokasi umum berpengaruh signifikan terhadap belanja modal, dana alokasi
khusus berpengaruh signifikan terhadap belanja modal, sisa lebih perhitungan
anggaran tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Sedangkan secara
simultan pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dana alokasi khusus, sisa
lebih perhitungan anggaran berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.

Kata Kunci: Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi
Khusus, Sisa Lebih Perhitungan Anggaran, Belanja Modal.

Abstract
This study aims to determine: (1) The Effect of Local Revenue on Capital
Expenditures in the City / Regency of Central Java Province in the 2014-2016
period. (2) Effect of General Allocation Funds on Capital Expenditures in the City
/ Regency of Central Java Province for the period 2014-2016. (3) Effect of Special
Allocation Funds on Capital Expenditures in the City / Regency of Central Java
Province for the period 2014-2016. (4) The Effect of More Budget Calculation on
Capital Expenditures in the City / Regency of Central Java Province in the 2014-
2016 period. (5) Effect of Regional Original Revenue, General Allocation Fund,
Special Allocation Fund and Over Time Budget Calculation together for Capital
Expenditures in the City / Regency of Central Java Province for the period 2014-

1
2016. The population in this study were all cities / regencies in Central Java
Province in the 2014-2016 period, amounting to 35 cities / regencies. The data in
this study amounted to 105 and used SPSS software to do the analysis. The
sampling method used in the study was purposive sampling. The analytical tool
used is multiple linear regression analysis by first conducting a classic assumption
test which includes a normality test, a multicollinearity test, a heteroscedasticity
test, and an autocorrelation test. The results showed that partially original regional
income had a significant effect on capital expenditure, general allocation funds
had a significant effect on capital expenditure, special allocation funds had a
significant effect on capital expenditure, the rest of the budget calculation did not
significantly influence capital expenditure. Whereas simultaneously local revenue,
general allocation funds, special allocation funds, the rest of the budget
calculation has a significant effect on capital expenditure.

Keywords : Local Revenue, General Allocation Funds, Special Allocation Funds,


Remaining Budget Calculation, Capital Expenditures

1. PENDAHULUAN
Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi di Indonesia yang telah merasakan
dampak diberlakukannya kebijakan otonomi daerah. Sistem otonomi daerah
menyebabkan pemerintah daerah diberikan wewenang untuk mengatur rumah
tangganya sendiri dan mengurangi campur tangan pemerintah pusat.
Desentralisasi fiskal akan memberikan kewenangan yang lebih besar dalam
pengelolaan daerah, sedangkan disisi lain memunculkan persoalan baru. Hal
tersebut dikarenakan tingkat kesiapan fiskal daerah yang berbeda-beda
(Harianto dan Adi, 2007).
Sumber-sumber pendapatan daerah pada dasarnya dikategorikan
menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pertama merupakan Pendapatan Asli
Daerah yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan
daerah, dan lain-lain pendapatan yang sah. Sedangkan, kelompok kedua yaitu
pendapatan yang merupakan pemberian pemerintah termasuk sumbangan
pemerintah pusat dan daerah tingkat I serta sumbangan lainnya yang telah
diatur dalam undang-undang. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan
sumber pembelanjaan daerah. Jika PAD meningkat, maka dana yang dimiliki
oleh pemerintah daerah akan lebih tinggi dan tingkat kemandirian daerah akan
meningkat pula, sehingga pemerintah daerah akan berinisiatif untuk lebih

2
menggali potensi-potensi daerah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi
(Tambunan, 2006). Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 Tentang
Dana Perimbangan pada Pasal 1 angka 24 menyebutkan bahwa “Dana Alokasi
Khusus selanjutnya disingkat DAK adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan
untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah
dan sesuai dengan prioritas nasional”.
Desentralisasi fiskal bertujuan untuk terciptanya peningkatan
pelayanan di berbagai sektor terutama sektor publik, dengan adanya
peningkatan dalam layanan di sektor publik dapat meningkatkan daya tarik
bagi investor untuk menanamkan investasinya di daerah. Oleh karana itu,
pergeseran komposisi belanja merupakan upaya logis yang dilakukan Pemda
dalam rangka meningkatkan tingkat kepercayaan publik yang dapat dilakukan
dengan peningkatan investasi modal dalam bentuk aset tetap, yakni peralatan,
bangunan, infrastruktur dan harta tetap lainnya. Dengan meningkatnya
pengeluaran modal diharapkan dapat meningkatkan pelayanan publik karena
hasil dari pengeluaran belanja modal adalah meningkatnya aset tetap daerah
yang merupakan prasyarat dalam memberikan pelayanan publik oleh
Pemerintah daerah.
Belanja modal dibiayai dari dana PAD, DAU, DAK, dan SiLPA.
Namun dari dana tersebut tidak semuanya terealisasi dengan benar dan tepat.
Hal itu dapat dilihat dari banyaknya infrastruktur yang belum memenuhi
standar atau bisa dikatakan belum memenuhi pelayanan kepada publik secara
maksimal. Masalah yang riil terjadi yaitu jalan raya yang disana sini masih
banyak yang berlubang, jika dibiarkan seperti itu maka pengguna jalan akan
merasakan ketidaknyamanan. Masalah lain yaitu masih kurang memadainya
infrastruktur yang terdapat di terminal serta masih banyak masalah lainnya
yang perlu dperhatikan. Ini menunjukkan ada indikasi bahwa ada hubungan
antara PAD, DAU, DAK dan SiLPA dengan belanja modal. Kaitan antara
PAD dengan belanja modal merupakan sumber pembiayaan untuk anggaran
belanja modal. PAD berasal dari iuran langsung atas masyarakat seperti pajak,

3
retribusi, dan lain-lain sebagainya. Kaitan DAU dengan belanja modal
merupakan sumber pembiayaan untuk prasarana untuk pelayanan publik yang
lebih baik. Kaitan DAK dengan belanja modal merupakan untuk membiayai
kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat yang belum
mencapai standar tertentu.
Penelitian ini bertujuan :1) Untuk menganalisis pengaruh Pendapatan
Asli Daerah (PAD) terhadap Pengalokasian Belanja Modal pada
Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2016; 2) Untuk
menganalisis pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Pengalokasian
Belanja Modal pada Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2016;
3) Untuk menganalisis pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap
Pengalokasian Belanja Modal pada Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah
tahun 2014-2016; dan 4) Untuk menganalisis Sisa Lebih Pembiayaan
Anggaran (SiLPA) terhadap Pengalokasian Belanja Modal pada
Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Tengah tahun 2014-2016.

2. METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif, yaitu penelitian dengan
pengolahan data hasil penelitian menggunakan pendekatan statistik. Populasi
dalam penelitian ini berupa laporan realisasi APBD kabupaten/kota Provinsi
Jawa Tengah pada tahun 2014-2016. Sampel yang digunakan berupa
kabupaten/kota provinsi Jawa Tengah yang terpilih berdasarkan kriteria.
Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. . Adapun
kriteria pemilihan sampel pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
DAERAH kabupaten/kota provinsi Jawa Tengah yang mempublikasikan
laporan keuangan, dan mempublikasikan laporan keuangan secara lengkap
pada tahun 2014-2016. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data yang digunakan bersumber pada Laporan Realisasi APBD
tahun 2014-2016 Provinsi Jawa Tengah yang diperoleh dari website resmi
bpk.go.id. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, yaitu
dengan mengumpulkan data dan dicatat, sedangkan untuk studi pustaka

4
diperoleh dari penelitian terdahulu dan ditunjang dengan literatur lain yang
menunjang. Data diperoleh dari website resmi bpk.go.id. Analisis data dalam
penelitian ini menggunakan antara lain : 1) uji penyimpangan asumsi klasik
dilakukan untuk mengetahui beberapa penyimpangan yang terjadi pada data
yang digunakan untuk penelitian. Asumsi klasik yang digunakan pada
penelitian ini, yaitu: uji normalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasi, uji
heterokedastisitas; 2) analisis regresi linier berganda, Analisis regresi linier
berganda digunakan untuk mengetahui atau memperoleh gambaran mengenai
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen baik secara
simultan maupun parsial. Persamaan regresi dalam penelitian ini adalah: BM
=α+ PAD+ DAU+ DAK + SiLPA +e; 3) uji hipotesis meliputi : uji
t (uji parsial), uji F (uji simultan), koefisien determinasi (R 2).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Diskripsi Statistik
Diskripsi penelitian ini menggunakan diskripsi statistik yang meliputi
minimal, maksimal, mean, dan standar.deviasi. Hasil analisisnya adalah:
Tabel 1 Hasil Diskripsi Statistik
Variabel Minimum Maximum Mean Std. Deviasi
Pendapatan
144.065.424 1.491.645.900 2.843.787.825 18.782.315.402
Asli Daerah
Dana Alokasi
390.732.536 1.398.539.653 9.031.381.326 24.334.373.553
Umum
Dana Alokasi
3.750.100.000 483.813.446 1.331.158.840 11.129.916.265
Khusus
Sisa Lebih
Pembiayaan 43.648.225.790 1.194.348.650 2.694.360.460 17.131.507.573
Anggaran
Belanja Modal 51.980.727.019 1.026.716.904 3.215.473.481 17.000.642.227
Sumber: Data LKPD Jawa Tengah 2014-2016

3.1.1 Hasil Analisis Data


Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak.
Dalam penelitian ini, uji normalitas menggunakan uji CLT (Central Limit
Theorem) yaitu jika jumlah observasi cukup besar (n>30) maka asumsi

5
normalitas dapat diabaikan (Gujarati, 2003). Penelitian ini jumlah n sebesar
105 > 30. Hal ini menunjukkan bahwa data dapat dikatakan berdistribusi
normal dan data disebut sebagai sampel besar.
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Tabel 2. Hasil Uji Multikolinieritas


Variabel Tolerance VIF Keterangan
Pendapatan Asli Daerah Tidak Terjadi
0,351 2,846
(PAD) Multikolinieritas
Dana Alokasi Umum (DAU) Tidak Terjadi
0,553 1,809
Multikolinieritas
Dana Alokasi Khusus (DAK) Tidak Terjadi
0,512 1,955
Multikolinieritas
Sisa Lebih Perhitungan Tidak Terjadi
0,288 3,471
Anggaran (SiLPA) Multikolinieritas
Sumber: Data LKPD Jawa Tengah 2014 – 2016
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada
korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan
penganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi dapat diketahui
melalui uji Durbin-Watson (DW test).

Tabel 3. Hasil Uji Autokorelasi


Keterangan Nilai
Durbin Watson 1,676
Kriteria -2 – 2
Tidak Terjadi
Pernyataan
Autokorelasi
Sumber: Data LKPD Jawa Tengah 2014 – 2016
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Pendeteksian ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan
dengan metode rank Spearmen.

6
Tabel 4. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel Correlation Sig. Keterangan
coefficient
Pendapatan Asli Daerah Tidak Terjadi
-0,157 0,111
(PAD) Heteroskedastisitas
Dana Alokasi Umum (DAU) Tidak Terjadi
-0,043 0,667
Heteroskedastisitas
Dana Alokasi Khusus (DAK) Tidak Terjadi
-0,024 0,805
Heteroskedastisitas
Sisa Lebih Perhitungan Tidak Terjadi
-0,071 0,471
Anggaran (SiLPA) Heteroskedastisitas
Sumber: Data LKPD Jawa Tengah 2014 – 2016

3.1.2 Analisis Regresi Linier Berganda


Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Variabel Koefisien ß
Konstanta -1,9E+10
Pendapatan Asli Daerah
0,600
(PAD)
Dana Alokasi Umum (DAU) 0,198
Dana Alokasi Khusus (DAK) 0,308
Sisa Lebih Perhitungan
-0,184
Anggaran (SiLPA)
Sumber: Data LKPD Jawa Tengah 2014 – 2016
3.1.3 Uji Hipotesis
Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis
Variabel t Sig. Keterangan
Pendapatan Asli Daerah
6,404 0,000 Signifikan
(PAD)
Dana Alokasi Umum (DAU) 3,429 0,001 Signifikan
Dana Alokasi Khusus (DAK) 2,355 0,020 Signifikan
Sisa Lebih Perhitungan
-1,624 0,108 Tidak Signifikan
Anggaran (SiLPA)
F 41,446
Sig. 0,000
R 0,790
R Square 0,624
Sumber: Data LKPD Jawa Tengah 2014 – 2016

7
3.2. Pembahasan
3.2.1. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Belanja
Modal (BM)
Hasil analisis ini mengungkapkan bahwa dilihat dari nilai koefisien 0,600
memiliki arah positif dan nilai sig. 0,000 menunjukkan pendapatan asli daerah
(PAD) berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal. Hal ini
mengindikasikan semakin tinggi pendapatan asli daerah (PAD) yang mampu
dihasilkan kota/kabupaten di Jawa Tengah maka akan menghasilkan belanja
modal yang semakin tinggi pula.
3.2.2. Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) Terhadap Belanja Modal
(BM).
Hasil analisis ini mengungkapkan bahwa dilihat dari nilai koefisien 0,198
memiliki arah positif dan nilai sig. 0,001 menunjukkan dana alokasi umum
(DAU) berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal. Hal ini
mengindikasikan semakin tinggi dana alokasi umum (DAU) yang mampu
dihasilkan kota/kabupaten di Jawa Tengah maka akan menghasilkan belanja
modal yang semakin tinggi pula. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kosim
(2017) hasil penelitiannya mengemukakan bahwa DAU berpengaruh
signifikan terhadap belanja modal.
3.2.3. Pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) Terhadap Belanja Modal
(BM).
Hasil analisis ini mengungkapkan bahwa dilihat dari nilai koefisien 0,308
memiliki arah positif dan nilai sig. 0,020 menunjukkan dana alokasi khusus
(DAK) berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal. Hal ini
mengindikasikan semakin tinggi dana alokasi khusus (DAK) yang mampu
dihasilkan kota/kabupaten di Jawa Tengah maka akan menghasilkan belanja
modal yang semakin tinggi pula. Dalam penelitian ini hasil dana alokasi
khusus (DAK) berpengaruh signifikan terhadap belanja modal sehingga
mampu meningkatkan belanja modal Pemerintah kota Surakarta yang sudah
dapat memenuhi kebutuhan Belanja Modalnya dengan menggunakan Dana
Alokasi Umum (DAU) dari pemerintah pusat dan pendapatan asli daerah yang

8
dihasilkan dari pengelolaan sumber daya daerah kota Surakarta sendiri dalam
pembangunan sarana dan prasarana
3.2.4. Pengaruh Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Terhadap
Belanja Modal (BM)
Hasil analisis ini mengungkapkan bahwa dilihat dari nilai koefisien -0,184
memiliki arah negatif dan nilai sig. 0,108 menunjukkan Sisa Lebih
Perhitungan Anggaran (SiLPA) berpengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap belanja modal. Hal ini mengindikasikan semakin rendah Sisa Lebih
Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang diperoleh kota/kabupaten berarti bahwa
belanja modal kota/kabupaten di Jawa Tengah semakin meningkat. Dari hasil
penelitian ini dinyatakan berpengaruh negatif dikarenakan tingkat belanja dari
kota / kabupaten Se Provinsi Jawa tengah lebih besar yang memungkinkan
untuk memperoleh sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) mengalami
penurunan bahkan bisa menjadii defisit anggaran.

4. PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis yang diuraikan pada bab sebelumnya peneliti dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :
a) Variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdapat pengaruh positif dan
signifikan terhadap Belanja Modal di Kota/Kabupaten Se Provinsi Jawa
Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil nilai t hitung 6,404 dan
signifikansi 0,000 maka nilai sig 0,000 < 0,05.
b) Variabel Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh positif dan dan
signifikan terhadap Belanja Modal di Kota/Kabupaten Se Provinsi Jawa
Tengah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil nilai t hitung 3,429 dan
signifikansi 0,001 maka nilai signifikansi 0,001 < 0,05.
c) Variabel Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Belanja Modal di Kota/Kabupaten Se Provinsi Jawa Tengah. Hal
ini ditunjukkan dengan hasil nilai t hitung 2,355 dan signifikansi 0,020
maka nilai signifikansi 0,020 < 0,05.

9
d) Variabel Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran ( SILPA ) berpengaruh
negative dan tidak signifikan terhadap belanja modal. Hal ini ditunjukkan
dengan hasil nilai t hitung -1,624 dan signifikansi 0,108 maka 0,108 >
0,05.
e) Secara Simultan Variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi
Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SiLPA) berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal di
Kota/Kabupaten Se Provinsi Jawa Tengah.
f) Model variabel Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum
(DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Sisa Lebih Perhitungan
Anggaran (SiLPA) dapat menjelaskan belanja modal sebesar 62,4%.

DAFTAR PUSTAKA
Aprizay, Yudi Satrya, Darwanis & Muhammad Arfan.2014. Pengaruh Pendapatan
Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran
terhadap Pengalokasian Belanja Daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi
Aceh. Jurnal Akuntansi. Universitas Syiah Kuala. Vol: 3 No. 1 Februari
2014 pp.140-149.

Arwati Dini, Novita Hadiati.2013. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Pendapatan


Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum Terhadap Pengalokasian Anggaran
Belanja Modal pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa
Barat. Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan
2013 (Semantik 2013). ISBN: 979-26-0266-6.

Kosim, Engkos.2017. “Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (Pad), Dana Alokasi


Umum (Dau) Dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) Terhadap
Anggaran Belanja Modal Pada Pemerintah Kota Banjar”. Graduate
Program Universitas Galuh Master Manajemen Studies Program.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Daerah. Jakarta.

Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

10

Anda mungkin juga menyukai