Anda di halaman 1dari 4

c c  c

 
c c 

Sebagaimana kita tahu bahwa banyak sekali perusahaan-perusahaan yang sudah


berkembang pesat tetapi tidak dapat mempertahankan keberadaan/operasinya. Hal
tersebut diakibatkan oleh banyak factor, antara lain factor ekonomi dan industry, serta
yang lebih penting lagi oleh system tata kelola perusahanan itu sendiri.

Terminologi Good Governance (GG) dalarn bahasa dan pemahaman masyarakat


termasuk disebagian elite politik, sering rancu. Setidaknya ada tiga terminologi yang
sering rancu yaitu Good Governance (tata pemerintahan yang balk), Good Goverment
(Pemerintahan yang balk), dan clean governance (pernerintahan yang bersih).

Good Governance menurut Bank Dunia (World Bank) adalah cara kekuasaan
digunakan dalam mengelola berbagai sumberdaya sosial dan ekonomi untuk
pengembangan masyarakat (The way state power is used in managing economic and
social resources for development of society).

Latar belakang munculnya Good Corporate Governance Good Corporate


Governance atau dikenal dengan nama Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
(selanjutnya disebut ³GCG´) muncul tidak semata- mata karena adanya kesadaran
akan pentingnya konsep GCG namun dilatar belakangi oleh maraknya skandal
perusahaan yang menimpa perusahaan-perusahaan besar. Joel Balkan (2002)
mengatakan bahwa perusahaan (korporasi) saat ini telah berkembang dari sesuatu
yang relatif tidak jelas menjadi institusi ekonomi dunia yang amat dominan.
Kekuatan tersebut terkadang mampu mendikte hingga ke dalam pemerintahan
suatu negara, sehingga mejadi tidak berdaya dalam menghadapi penyimpangan
perilaku yang dilakukan oleh para pelaku bisnis yang berpengaruh tersebut. Semua
itu terjadi karena perilaku tidak etis dan bahkan cenderung kriminal-yang dilakukan
oleh para pelaku bisnis yang memang dimungkinkan karena kekuatan mereka yang
sangat besar disatu sisi, dan ketidakberdayaan aparat pemerintah dalam
menegakkan hukum dan pengawasan atas perilaku para pelaku bisnis tersebut;
disamping berbagai praktik tata kelola perusahaan dan pemerintahan yang buruk.
Salah satu dampak signifikan yang terjadi adalah krisis ekonomi di suatu negara,
dan timbulnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Sebagai akibat adanya
tata kelola perusahaan yang buruk oleh perusahan- perusahaan besar yangmana
mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi dan krisis kepercayaan para investor,
seperti yang terjadi di Amerika pada
awal tahun 2000 dan tahun 2008 yang mengakibatkan runtuhnya beberapa
perusahan besar dan ternama dunia; disamping juga menyebabkan krisis global
dibeberapa belahan negara dunia. Sebagai contoh, untuk mengatasi krisis tersebut,
pemerintah amerika mengeluarkan Sarbanes-Oxley Act tahun 2002; undang-
undang dimaksud berisikan penataan kembali akuntansi perusahaan publik, tata
kelola perusahaan dan perlindungan terhadap investor. Oleh karena itu, undang-
undang ini menjadi acuan awal dalam penjabaran dan penciptaan GCG di berbagai
negara. Konsep GCG belakangan ini makin mendapat perhatian masyarakat
dikarenakan GCG memperjelas dan mempertegas mekanisme hubungan antar para
pemangku kepentingan di dalam suatu organisasi yang mencakup (a) hak-hak para
pemegang saham (shareholders) dan perlindungannya, (b) peran para karyawan
dan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) lainnya, (c) pengungkapan
(disclosure) yang akurat dan tepat waktu, (d) transparansi terkait dengan struktur
danoperasi perusahaan, (e) tanggungjawab dewan komisaris dan direksi terhadp
perusahaan itu sendiri, kepada para pemegang saham dan pihak lain yang
berkrpentingan.
Pada awalnya, istilah ³Corporate Governance´ pertama kali dikenalkan oleh
Cadbury Committee di Inggris tahun 1922 yang menggunakan istilah dimaksud
dalam laporannya yang dikenal dengan adbury Report (dalam sukrisno Agoes,
2006). Berikut disajikan beberapa definisi ³Corporate overnance´ dari beberapa
sumber, diantaranya: Cadbury Committee of United Kingdom A set of rules that
define the relationship between shareholders, managers, creditors, the goverment,
employees, and other internal and external stakeholders in respect to their right and
responsibilities, or the system by which companies are directed and controlled.
h       

Good Corporate Governance merupakan gabungan prinsip-prinsip dasar dalam
membangun suatu tatanan etika kerja dan kerjasama agar tercapai rasa
kebersamaan, keadilan, optimasi dan harmonisasi hubungan sehingga dapat
menuju kepada tingkat perkembangan yang penuh dalam suatu organisasi atau
badan usaha. Prinsip-prinsip dasar tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
1 Vision
Pengembangan suatu organisasi atau badan usaha harus didasarkan pada adanya
visi & strategi yang jelas dan didukung oleh adanya partisipasi dari seluruh anggota
dalam proses pengambilan keputusan, pelaksanaan dan pengembangan supaya
semua pihak akan merasa memiliki dan tanggungjawab dalam kemajuan organisasi
atau usahanya.
2 Participation
Dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan hasil keputusan suatu
organisasi atau badan usaha sedapat-dapatnya melibatkan pihak-pihak terkait dan
relevan melalui sistem yang terbuka dan dengan jaminan adanya hak berasosiasi
dan penyampaian pendapat.
3 Equality
Suatu badan usaha atau organisasi yang baik selalu akan memberi dan
menyediakan peluang yang sama bagi semua anggota atau pihak terkait bagi
peningkatan kesejahteraan melalui usaha bersama di dalam etika usaha yang baik.
4 Professional
Dalam bahasa sehari-hari professional diartikan ³One who engaged in a learned
vocation (Seseorang yang terikat dalam suatu lapangan pekerjaan)´. Dalam konteks
ini professional lebih dikaitkan dengan peningkatan kapasitas kompetensi dan juga
moral sehingga pelayanan dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan akurat.
5 Supervision
Meningkatkan usaha-usaha supervisi terhadap semua aktivitas usaha atau
organisasi sehingga tujuan bersama dapat dicapai secara optimal, efektif dan
efisien, serta untuk meminimalkan potensi kesalahan atau penyimpangan yang
mungkin timbul.
6 Effective & Efficient
Effective berarti ³do the things right´, lebih berorientasi pada hasil, sedangkan
efficient berarti ³do the right things´, lebih berorientasi pada proses. Apapun yang
direncanakan dan dijalankan oleh suatu organisasi atau badan usaha harus bersifat
efektif dan efisien.
7 Transparent
Dalam konteks good governance, transparency lebih diartikan membangun
kepercayaan yang saling menguntungkan antara pemerintah atau pengelola dengan
masyarakat atau anggotanya melalui ketersediaan informasi yang mudah diakses,
lengkap dan up to date.
8 Accountability/Accountable
Dalam konteks pembicaraan ini accountability lebih difokuskan dalam meningkatkan
tanggungjawab dari pembuat keputusan yang lebih diarahkan dalam menjawab
kepentingan publik atau anggota.

9 Fairness
Dalam konteks good governance maka fairness lebih diartikan sebagai aturan
hukum harus ditegakan secara adil dan tidak memihak bagi apapun, untuk siapapun
dan oleh pihak manapun.
1 0 Honest
Policy, strategi, program, aktivitas dan pelaporan suatu organisasi atau badan
usaha harus dapat dijalankan secara jujur. Segala jenis ketidak-jujuran pada
akhirnya akan selalu terbongkar dan merusak.