Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP

KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIV/


AIDS

OLEH:
MUHAMMAD LATTIIFUR ROOFII

AKADEMI KEPERAWATAN PERINTAH


KABUPATEN PONOROGO
2009

AIDS PADA IBU HAMIL/KEHAMILAN


Infeksi pada kehamilan adalah penyebab morbiditas ibu dan neonatal yang
sudah diketahui. Banyak kasus dapat dicegah, dan dalam makalah ini akan
dibahas mengenai penyakit infeksi yang sering ditemukan yang dapat terjadi
dalam kehamilan.

1. Human Immunodeficiency (HIV) dan Acquired Immuno

Defficiency Syndrome (AIDS)


Penyebaran HIV, terjadi terutama melalui pertukaran cairan tubuh (darah,
semen, peristiwa- peristiwa perinatal) ( friedland, klein, 1987; Hecht, 1987;
Landesman et al, 1987). Penurunan system kekebalan selular yang parah
meprupakan cirri dari AIDS. Walaupun populasi yang berisiko tinggi telah
didokumentasikan dengan baik. Seluruh wanita sebaiknya diperiksa terhadap
kemungkinan HIV. Infeksi HIV pada wanita biasanya dilaporkan pada saat
penyakit tersebut sudah berada pada tingkat tinggi, dan biasanya mereka masuk
rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan awal padahal penyakit itu sudah
semakin parah. Penundaan mungkin disebabkan karena terjadiya gejala yang
berbeda- beda pada setiap orang ( Shaw, 1986 ). Vaginitis dan candidiasis kronis
biasanya mendatangkan masalah.
Ketika HIV masuk ke tubuh, terjadi konversi serum terhadap kepositifan
HIV dalam 10 minggu pertama (beberapa sumber mencatat masa inkubasi yang
lama, walaupun masa inkubasi yang memanjang biasanya merupakan
pengecualian). Walaupun konversi serum mungkin seluruhnya tanpa gejala,
namun biasanya diiringi oleh respon influenza viremik yang mengawali infeksi
HIV. Gejala-gejala seperti demam, tidak enak badan, myalgia, mual, diare, radang
tenggorokan, dan ruam dapat terjadi selama 2 atau 3 minggu.
Pemeriksaan laboratorium mungkin menyatakan leucopenia,
thrombocytopenia, anemia dan tingkat sedimentasi eritrosit yang tinggi. Lagi pula,
HIV mempunyai afinitas yang kuat pada protein suface maker pada limposit T.
Afinitas HIV pada limposit T ini membawa pada pengrusakan sel T yang penting.
Penundaan diagnosis harus dihindari ketika wanita sedang hamil.
Kehamilan tidak mendorong status HIV positif; konsultasi prekonsepsional sangat
dianjurkan. Masuknya virus ini mempunyai pengaruh kuat terhadap kehamilan
dan metode pemberian makan bayi dan terhadap keadaan kesehatan bayi (Klug,
1986). Diperkirakan bahwa HIV dari wanita yang terinfeksi ditularkan ke janin
dan bayi melalui tiga cara (Fredland,. Klein, 1987, Landesman et al, 1987):
Terhadap janin seawal trimester pertama melalui sirkulasi maternal.
Terhadap bayi selama proses kelahiran melalui inokulasi atau ingestion
darah ibu dan cairan yang terinfeksi lainnya.
Terhadap bayi melalui ASI.
Frekuensi dalam transmisi utero, intrapartum dan postpartum tidak tentu.
Angka penularan paling rendah 10% dan paling tinggi 70%, angka yang paling
sering dilaporkan adalah 30%. Bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang positif
terinfeksi menanggung resiko AIDS lebih tinggi daripada bayi-bayi yang lahir
dari ibu yang negative serum dan yang kemudian menunnjukkan konversi serum.
Tanpa memperhatikan apakah infeksi terdiagnosa, proses perawatan
dilakukan berdasarkan kebiasaan manusia dan budayanya.”Infeksi HIV
merupakan suatu peristiwa biologis, bukan suatu komentar moral penting untuk
diingat, untuk contoh, dan untuk mengajarkan bahwa reaksi (pribadi) terhadap
gaya hidup, praktek-praktek atau perilaku khusus tidak boleh mempengaruhi
kemampuan perawat untuk memberikan perawatan kesehatan yang efektif,
obyektif dan melas asih untuk semua penderita” (Keeling, 1987).

2. Periode-periode penjangkitan HIV pada ibu hamil


a. Periode PRENATAL
Timbulnya HIV pada wanita hamil diperkirakan meningkat
(Minkoff, 1987). Sejarah kesehatan, uji fisik dan tes laboratorium harus
merefleksikan pengharapan ini jika wanita dan bayinya menerima
perawatan yang tepat. Para wanita yang termasuk dalam kategori beresiko
tinggi terhadap infeksi HIV mencakup:
1) Wanita dan atau pasangannya yang berasal dari wilayah geografis
dimana HIV merupakan sesuatu yang umum.
2) Wanita dan atau pasangannya yang menggunakan obat-obatan yang
disuntikkan melalui pembuluh darah.
3) Wanita yang menderita STD tetap dan kambuhan.
4) Wanita yang menerima tranfusi darah dari pengidap HIV.
5) Wanita yang yakin bahwa dirinya mungkin terjangkit HIV.
Tes HIV sebaiknya ditawarkan kepada wanita beresiko tinggi pada
awal mereka memasuki perawatan prenatal. Namun, soronegativitas pada
uji prenatal pertama bukan jaminan untuk titer negative yang berlangsung.
Misalnya, seorang wanita berusia 24 tahun yang mendapatkan perawatan
prenatal selama 8 minggu mempunyai hasil tes western blot yang negative.
Namun, setelah terinveksi HIV, serum antibody membutuhkan waktu
sampai 12 minggu untuk berkembang. Tes western blot harus diulangi
dalam 1 atau 2 bulan dan pada trimester ketiga.
Tes prenatal rutin dapat membantu mengidentifikasi wanita yang
terinfeksi HIV (Foster, 1987; Kaplan et al, 1987; Minkoff, 1987; Rhoads et
al, 1987). Tes ini juga dapat mengungkap Gonhorhea, Siphilis, Herpes
yang tetap dan menjadi lebih lama, C.Trakomatis, Hepatic B,
Micobacterium tuberculosis, Candidiasis (oropharingeal atau infeksi
Vagian Chronic), Cytomegalo Virus (CMV), dan Toxophlasmosis. Sekitar
separuh penderita AIDS mengalami peningkatan titer CMV. Karena
masuknya penyakit CMV memiliki bahaya yang serius terhadap janin,
para wanita hamil dianjurkan dengan yang terinfeksi HIV.
Sejarah vaksinasi dan kekebalan telah didokumentasikan. Titer untuk
cacar dan rubella ditentukan dan tes kulit tuberkulosa (Derivasi protein
yang dimurnikan/puriviet protein derivatif (PPD)) telah dilakukan
vaksinasi sebelumnya dengan vaksin rekonbivak Hb dicatat karena vaksin
tersebut berisi produk darah manusia (Vaksin ini sekarang bebas dari darah
manusia dan produk-produk darah).
Wanita dapat menjadi calon yang menerima Rho D Imunoglobulin.
Penjangkitan HIV belum ditemukan adanya vaksin Rh. Proses persiapan
melibatkan alcohol ethyl yang membuat virus tidak aktif. Vaksin ini dibuat
dari darah yang diambil dari kelompok donor regular yang tidak dikenali.
Darah yang digunakan untuk memproduksi vaksin menjalani tes darah
yang dapat mendeteksi darah adanya HIV (Francis, Chin, 1987, MMWR,
1987).
Beberapa ketidaknyamanan yang dihadapi pada masa prenatal
(seperti kelelahan, anoreksia, dan penurunan berat badan) menyiratkan
tanda-tanda dan gejal-gejala infeksi HIV. Diagnosa yang berbeda-beda
terhadap seluruh keluhan dan gejala infeksi yang disebabkan kehamilan
dibenarkan. Tanda-tanda utama infeksi HIV yang semakin memburuk
mencakup turunnya berat badan lebih dari 10% dari berat badab sebelum
kehamilan, diare kronis lebih dari 1bulan dan demam (kambuhan atau
konstan) selama lebih dari 1 bulan.
Untuk mendukung system wanita hamil, konsultasi yang tepat
disediakan mengetahui nutrisi yang optimal = tidur, istiraht, latihan, dan
reduksi stress. Jika infeksi HIV telah didiagnosa, wanita tersebut
diberitahukan mengenai konsekuensi yang mungkin terjadi pada bayi.
Wanita tersebut didukung keputusannya. Haruskah dia meneruskan
kehamilannya, ia bias berkonsultasi mengenai teknik “Seks yang lebih
aman”. Menggunakan kondom dan nonoxsinol 9 spermicide dianjurkan
untuk memperkecil penjangkitan HIV yang lebih jauh jika pasangannya
yang menjadi sumber. Seks urogenital dilarang. Jika perlu, siwanita
diarahkan untuk menjalani rehabilitasi obat untuk menghalangi substance
abose, alcohol,methamethamine(Kecepatan, engkol,es), mariyuana,
kokain, nitrit(poper, amyl) atau obat-obat lainnya yang membahayakan
system kekebalan dan meningkatkan resiko AIDS dan kondisi yang
menyertainya :
1) HIV menyebabkan hadirnya system kekebalan tubuh yang sudah
rusak sebelum virus tersebut dapat menyebabkan penyakit
2) alcohol dan obat-obatan diikutsertakan dalam banyak terapi medis
dan alternative untuk pengobatan AIDS.
3) alcohol dan obat-obatan mempengaruhi penilaian terhadap
pemakai yang mungkin menjadi lebih mudah terlibat dalam kegiatan
yang menempatkan orang dalam resiko tinggi terhadap AIDS atau
meningkatkan timbulnya HIV
4) alcohol dan obat-obatan dapat menyebabakan stress, termasuk
masalah-masalah tidur, yang membahayakan fungsi sistam kekebalan.
Perawatan secara farmsi terhadap inveksi HIV telah maju sedemikian
pesatnya semenjak ditemukannya virus tersebut. Obat utama yang
digunakan untuk pengobatan infeksi adalah 3” azido -3”
deoxythimidine(zidozodine, AZT, retrovir). Walaupun pengobatan ini
cukup menjanjikan untuk pengobatan inveksi HIV, penggunaan terhadap
wanita hamil tetap dibatasi. Racun yang potensial atau efek mutagenic pada
janin tidak diketahui. Azidotimidhine sedang diuji pada beberapa penelitian
terhadap para wanita hamil yang memiliki jumlah sel pembantu T kurang
dari 400 sel/mm3. Infeksi lain yang menyertai HIV diobati dengan
perawatan khusus.
b. PERIODE INTRAPARTUM. Perawatan wanita yang sakit saat
melahirkan tadak diubah secara substansial untuk infeksi tanpa gejala
dengan HIV (Minkoff,1987). Cara kelahiran didasarkan hanya pada
pertimbangan obstetric karena virus melalui plasenta pada awal
kehamilan.
Fokus utama pencegahn penyebaran HIV nosocomial (Infeksi yang
terjadi selam opname) dan perlindungan terhadap pelaku perawatan.
Rwsiko penjangkitan HIV dianggap rendah selama kelahiaran vaginal
meskipun terbuka karena darah wanita yang terinveksi, cairan amniotic
dan sekresi vaginal.
EPM (Elektrinic Fetal Monitoring) eksternal dilakukan jika EPM
diperlukan. Terdapat kemungkinan inokulasi virus ke dalam neonate jika
pengambilan sempel darah jangat kepala bayi dilakukan atau jika elektroda
jangat kepala bayi diterapkan. Disamping itu, seseorang yang melakukan
prosedur ini berada pada resiko melekatnya darah tersebut pada jari secara
tidak sengaja.
c. PERIODE POSTPARTUM.
Hanya sedikit yang diketahui tentang tindakan klinis selama
periode postpartum yang dapat dilakukan pada wanita yang terinfeksi
HIV. Walaupun periode postpartum pertengahan tercatat signifikan
(update, 1987), tindak lanjut yang lebih lama telah mengumgkap frekuensi
penyakit kilinis yang tinggi pada ibu-ibu yang anaknya menderita penyakit
(Skott, 1985; Minkoff et al, 1987; a,b)
Bayi yang baru lahir dapat bersama-sama dengan ibunya, namun
pemberian ASI merupakan kontra indikasi. Tindakan pencegahan universal
dilakukan terhadap ibu dan bayi, seperti yang dilakukan terhadap semua
pasien. Wanita dan bayinya diarahkan pada dokter yang berpengalamn
dalam pengobatan AIDS dan keadaan-keadaan yang menyertainya.
Pengaruh infeksi pada bayi dan neonatal mungkin tidak jelas. Karena
virus yang melalui plasenta, darah di talio pusat akan menunjukkan antibody
HIV baik apabila bayi terinfeksi ataupun tidak. Selama itu antibody yang
melalui palang plasenta mungkin tidak terdapat pada bayi yang tidak
terinfeksi sampai usia 15 bulan. Karena itu sebelum sampai sebelum waktu
tersebut infeksi HIV pada bayi tidak dapat ditentukan. Ketika infeksi HIV
menjadi aktif banyak infeksi sampingan yang biasa ada pada orang dewasa
terjadi pada bayi.
Bayi-bayi yang terinfeksi HIV lebih dari 90% tersebut mengalami
perkembangan dan neurologist. Komplikasi lain yang menyertai infeksi HIV
pada bayi mencakup Enchephalopati, Microchephalli, Defisit Kognitif,
system saraf pusat (CNS/central nervous system) Lhympoma, Cerebro
Vaskuler Accident, gagal pernapasan dan Lhympaclenophaty.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun.
Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun
sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya
kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan
terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya
fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit
yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor
penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan
hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :
- Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )
Terapi radiasi,defisiensi nutrisi,penuaan,aplasia
timik,limpoma,kortikosteroid,globulin anti limfosit,disfungsi timik congenital.
- Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)
Limfositik leukemia kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein –
liosing enteropati (peradangan usus)
b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)
- Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas
( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).
- Sirkulasi
Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.
Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis,
perpanjangan pengisian kapiler.
- Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan,
mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.
- Eliminasi
Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram
abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi
Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering,
nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan
karakteristik urine.
- Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia
Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang
buruk, edema
- Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
- Neurosensoro
Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status
indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.
Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak
normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.
- Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.
Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan
gerak,pincang.
- Pernafasan
Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.
Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.
- Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi
imun, demam berulang,berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul,
pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.
-Seksualitas
Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan
pil pencegah kehamilan.
Tanda : Kehamilan,herpes genetalia
- Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma
AIDS
Tanda : Perubahan interaksi
- Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan
obat-obatan IV,merokok,alkoholik.
c. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat
penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis
Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit
serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
1. Serologis
- Tes antibody serum
Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif,
tapi bukan merupakan diagnosa
- Tes blot western
Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)
- Sel T limfosit
Penurunan jumlah total
- Sel T4 helper
Indikator system imun (jumlah <200>
- T8 ( sel supresor sitopatik )
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke
T4 ) mengindikasikan supresi imun.
- P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi
- Kadar Ig
Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal
- Reaksi rantai polimerase
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
- Tes PHS
Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif
2. Budaya
Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum,
dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur,
bakteri, viral.
3. Neurologis
EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)
Tes Lainnya
Sinar X dada
Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya
komplikasi lain
Tes Fungsi Pulmonal
Deteksi awal pneumonia interstisial
Skan Gallium
Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.
Biopsis
Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi
Brankoskopi / pencucian trakeobronkial
Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru
b. Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system
imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut.
Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12
bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak
memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan
mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah
memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.
Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang
uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah
atau plasma. Tes tersebut, yaitu :
1. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)
Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human
Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi
hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody
Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.
2. Western Blot Assay
Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan
seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
3. Indirect Immunoflouresence
Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.
4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )
Mendeteksi protein dari pada antibody.
c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV)
untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein
virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1.
tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar
dari menjadi AIDS.
Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus.
Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma
kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban
virus ( viral burden )
AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah
melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-
sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang
infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak
berarti. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita,
melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.
HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap
virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan
cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet
pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada
genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk
terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak
langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik
suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan.
Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan,
mencium, gelas bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum,
karena virus ini sangat rapuh.
Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-
masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan
gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin
menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.
Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang
mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.