Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN INTENSIF

DENGAN TUBERKOLOSIS PARU

A. Konsep Dasar Penyakit

I. Definisi atau pengertian

 Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobakterium


tuberkulosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh
dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi
infeksi primer 8.

 Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang


parenkin paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh
lainnya, terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe 5.

II. Epidemiologi

Berdasarkan data
dari WHO tahun
1993 didapatkan
fakta bahwa
sepertiga
penduduk Bumi
telah diserang oleh
penyakit TBC. Sekitar 8 juta orang dengan kematian 3 juta orang pertahun.

Gambar 1 : penyebaran TB di dunia 10

Diperkirakan dalam tahun 2002-2020 akan ada 1 miliar manusia terinfeksi,


sekitar 5-10 persen berkembang menjadi penyakit dan 40 persen yang
terkena penyakit berakhir dengan kematian. Diperkirakan 95% penyakit TB
berada dinegara berkembang, 75% diusia produktif ( 15-50 th) 16.

Kasus TBC di dunia sekitar 40% berada di kawasan Asia. Indonesia


menduduki kedudukan ketiga dibawah Cina dan India. Diperkirakan
diantara 100.000 penduduk terdapat 100-300 orang yang terinfeksi TBC.
TBC di kawasan ini menjadi pembunuh nomor satu, kematian akibat TBC
lebih banyak 2-3 kali lipat dari HIV/AIDS yang berada di urutan kedua

Masalah TBC ada di seluruh Indonesia, dengan tingkat prevalensi


(Suskernas 2004): DIY-Bali: 64/100.000 orang, Jawa: 107/100.000 orang,
Sumatera: 160/100.000 orang, dan Wilayah KTI memiliki tingkat prevalensi
yang lebih tinggi (210/100.000 orang) 10, 12.

1
III. Penyebab

Gambar 2: Bakteri Mikobakterium tuberkulosa 1

Penyakit TBC disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis tipe


humanus (sejenis kuman berbentuk batang). Kuman ini ditemukan oleh
Robert Koch pada tahun 1882. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai
sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu
disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati
dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam
ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat
Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun 1,2,3.

Yang tergolong kuman mycobakterium tuberkulosis complex adalah:


Mycobakterium tuberkulosis
 Varian asian
 Varian african I
 Varian asfrican II
 Mycobakterium bovis
Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan mycobakterial othetan
Tb (mott, atipyeal) adalah :
 Mycobacterium cansasli
 Mycobacterium avium
 Mycobacterium intra celulase
 Mycobacterium scrofulaceum
 Mycobacterium malma cerse
 Mycobacterium xenopi 3,7,17.

2
IV. Cara Penularan dan Faktor-faktor Resiko

Gambar 3 : Cara penularan bakteri TBC 13

Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman keudara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan
diudara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi
kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan 1,10.

Individu yang beresiko tinggi untuk tertular tuberculosis adalah :


 Mereka yang kontak dekat dengan seseorang yang mempunyai TB
aktif
 Individu imunosupresif ( Termasuk lansia, pasien dengan kanker,
mereka yang dalam terapi kortikosteroid atau mereka yang terinfeksi
dengan HIV
 Pengguna obat-obatan IV dan alkoholik

 Setiap individu tanpa perawatan kesehatan yang adekuat


(tunawisma,tahanan, etnik dan ras minoritas terutama anak-anak
dibawah usia 15 tahun atau dewasa muda antara yang berusia 15-44
tahun )

 Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya


( misalny diabetes, gagal ginjal kronis, silikosis, penyimpangan gizi,
bypass gasterektomi yeyunoileal )

 Imigran dari negara dengan insiden TB yang tinggi ( Asia tenggara,


Afrika, Amerika latin, karibia )

 Setiap individu yang tinggal di institusi ( misalnya fasilitas perawatan


jangka panjang, institusi psikiatrik, penjara )

3
 Indivudi yang tinggal didaerah perumahan substandart kumu

 Petugas kesehatan 5,10,11.

V. Patofisiologi

Gambar 4 : Penyebaran bakteri TBC 10.

Paru merupakan port d’entrée kasus infeksi TB. Kuman TB dalam droplet
nuclei yang terhirup dapat mencapai alveolus, kuman TB ini akan segera
diatasi oleh mekanisme imunologi nonspesifik. Kuman Tb yang terhirup
dan masuk ke paru akan difagosit oleh makrofag alveolar, akan tetapi pada
sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan kuman TB
dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam makrofag
yang terus berkembang biak, akhirnya akan menyebabkan makrofag
mengalami lisis, dan kuman TB membentuk koloni di tempat tersebut.
Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan parut disebut fokus primer
Ghon.

Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju ke


kelenjar limfe regional. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di
saluran limfe. Pada sebagian besar individu dengan sistem imun yang
berfungsi baik, begitu sistem imun seluler berkembang, proliferasi kuman

4
TB terhenti. Namun, sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam
granuloma.

Setelah imunitas seluler terbentuk, focus primer di jaringan paru biasanya


mengalami resolusi secsra sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi
setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe
regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi
penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan
paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun
dalam kelenjar ini.

Komplek primer dapat juga mengalai komplikasi. Komplikasi yang terjadi


dapat disebabkan oleh fokus di paru atau di kelenjar limfe regional. Jika
terjadi nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan mencair dan
keluar melalui bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru
atau kavitas. Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal
menimbulkan hiperinflasi di segmen distal paru. Obstruksi total dapat
menyebabkan atelektasis. Masa kiju dapat menimbulka obstruksi komplit
pada bronkus sehingga menyebabkan atelektasis dan pneumonitis.

Sebelum terbentuknya imunitas selular, dapat terjadi penyebaran limfogen


dan hematogen. Pada penyebaran hematogen, kuman TB masuk ke dalam
sirkulasi darah yang menyebar ke seluruh tubuh yang sering disebut
penyakit sistemik 18,19,22.

VI. Klasifikasi

Sampai sekarang belum ada kesepakatan diantara para klinikus, ahli


radiologi, ahli pathologi, mikrobiologi, dan ahli kesehatan masyarakat
tentang keseragaman klasifikasi tuberculosis. Dari sistem lama diketahui
beberapa klasifikasi seperti :
a. Pembagian secara patologis :
 Tuberculosis primer ( Child hood tuberculosis )
 Tuberculosis post primer ( Adult tuberculosis )
b. Pembagian secara aktifitas radiologis :
 Tuberculosis paru ( Koch pulmonal ) aktif, non aktif dan quiescent
(batuk aktif yang mulai sembuh )
c. Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
 Tuberculosis minimal
Terdapat sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun
kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
 Moderately advanced tuberculosis
Ada kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. Jumlah infiltrat
bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya
kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
 For advanced tuberculosis

5
Terdapat infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada
moderately advanced tuberculosis.
Pada tahun 1974 American Thoracic Society memberikan klasifikasi baru
yang diambil dari klasifikasi kesehatan masyarakat:

 Kategori O: tidak pernah terpapar, dan tidak terinfeksi. Riwayat kontak


negatif, test tuberculin negatif.
 Kategori I: terpapar tuberculosis, tetapi tidak terbukti terinfeksi. Riwayat
kontak positif, test tuberculin negatif.

 Kategori II: terinfeksi tuberculosis, tapi tidak sakit. Test tuberculin


positif, radiologis dan sputum negatif.

 Kategori III: terinfeksi tuberculosis dan sakit 1,4,8,14,16,18.

Klasifikasi yang sering dipakai di Indonesia adalah berdasarkan kelainan


klinis, radiolis dan mikrobiologis.

a. Tubercolosis paru

b. Bekas tuberculosis paru

c. Tuberculosis paru tersangka

 Tuberculosis paru yang terobati. Disini sputum BTA ( negatif ) tetapi


tanda-tanda lain positif .
 Tuberculosis paru tersangka yang tidak diobati.Disini sputum negatif
dan tanda-tanda lain juga meragukan.

Dalam 2-3 bulan TB tersangka ini sudah harus dipastikan apakah termasuk
TB paru (aktif) atau bekas TB paru. Dalam klasifikasi ini perlu dicantumkan:

1. Status bakteriologi
2. Mikroskopik sputum BTA (langsung)

3. Biakan sputum BTA

4. Status radiologis, kelainan yang relevan untuk tuberculosis paru

5. Status kemoterapi, riwayat pengobatan dengan obat anti


tuberculosis.

Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :

Kategori I  ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan


kasus baru dengan batuk TB berat.
Kategori II  ditujukan terhadap kasus kambuh dan kasus gagal dengan
sputum BTA positf
Kategori III  ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan
paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari
yang disebut dalam kategori I.
Kategori IV  ditujukan terhadap TB kronik 1,4,8,14,16,18.

6
VII. Gejala klinis

1. Gejala respiratorik meliputi:

a. Batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tampa sputum


Batuk dapat terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini
diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Sifat
batuk mulai dari kering (non produktif) kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan
yang lebih lanjut adalah berupa batuk darah (hemoptoe) karena
terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah
pada tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada
ulkus dinding bronchus.
b. Dahak bercampur darah.
Batuk darah berupa garis atau bercak-bercak darah, gumpalan
darah atau darah segar dalam jumlah banyak
c. Sesak nafas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak
nafas. Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah
lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan.
Gejala ini timbul apabila sistem persarafan dipleura terkena.
2. Gejala sistemik meliputi:
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore
dan malam hari mirip dengan demam influenza, hilang timbul dan
makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas
serangan makin pendek
b. Gejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan
berat badan, serta malaise. Timbulnya gejala biasanya gradual
dalam beberapa minggu sampai bulan, akan tetapi penampilan akut
dengan batuk, panas, sesak nafas walaupun jarang dapat juga
timbul menyerupai pneumonia 10,18.

VIII. Pemeriksaan fisik


Inspeksi

 Wajah pucat
 Sianosis
 Nafas tidak teratur
 Tampak sesak
 Batuk berdahak
 Malaise
 Batuk darah
Palpasi

7
 Nyeri dada
 Denyut nadi meningkat
Aukskultasi

 Detak jantung meningkat (takikardi)


 Suara nafas mengi
 Suara nafas ronkhi
Perkusi

 suara pekak pada dada 6.

IX. Pemeriksaan diagnostik atau penunjang


a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap  LED normal atau meningkat,
limfositosis
2) Pemeriksaan sputum BTA  memastikan diagnosis TB paru
pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30-70% yang dapat
terdiagnosis.
3) Pemeriksaan PAP (peroksida Anti Peroksidase)  untuk
menentukan adanya IgG spesifik terhadap hasil TB
4) Uji tuberculin
Pemeriksaan imuno-serologis dilakukan bisanya pada anak,
dilakukan uji kulit dengan tuberkulin (tes Mantoux) dikatakan
positif bila terdapat kemerahan disekitar kulit yang diuji > 15
mm. 

Gambar 5 : Hasil uji kulit tuberkulin (mantoux) 16.

Setelah 2-3 hari di tempat suntikan akan timbul benjolan. Benjolan


tersebut akan diukur, jika diameter benjolan lebih dari 10 mm maka
hasilnya positif. Positif berarti kita terkena infeksi TBC.

b. Radiology
1) Foto thoraks PA dan lateral
untuk mengetahui bendungan eksudat pada alveoli
2) Bronchografi
untuk memantau gerakan bronkiolus 8,14,15,16,18.

X. Diagnosis atau Kriteria diagnosis

8
Diagnosis tuberculosis cukup mudah ditegakkan mulai dari keluhan-
keluhan klinis, gejala-gejala kelainan fisis, kelainan radiologis sampai
kelainan bakteriologis. Tetapi dalam prakteknya tidak mudah menegakkan
diagnosisnya menurut American Thoracic society diagnosis pasti
tuberculosis paru adalah dengan menemukan kuman Mycobacterium
tuberculosis dalam sputum atau cairan paru secara biakan 16.

XI. Prognosis
 Jika berobat teratur sembuh total (95%).

 Jika dalam 2 tahun penyakit tidak aktif, hanya sekitar 1 % yang


mungkin relapse 16.

XII. Komplikasi
Komplikasi berikut sering terjadi pada penderita stadium lanjut :
o Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya
jalan napas.
o Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
o Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
o Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan
paru 14.
o Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal
dan sebagainya.
o Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
o Penderita yang mengalami komplikasi berat perlu dirawat inap di rumah
sakit 14.

XIII. Theraphy atau tindakan penanggulangan

Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak,


tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak
menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan
bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 5–10
mg/kgbb/hari.

1. Pencegahan (profilaksis) primer


Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+).
INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-).
Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-)
atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada.
2. Pencegahan (profilaksis) sekunder
Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala
sakit TBC.
Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan.

Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :

9
o Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,
Pirazinamid.
Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih
dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan
obat-obat ini.
o Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,
Kapreomisin dan Kanamisin.

Dosis obat antituberkulosis (OAT)

Obat Dosis harian Dosis 2x/minggu Dosis 3x/minggu


(mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari) (mg/kgbb/hari)

15-40 (maks. 900


INH 5-15 (maks 300 mg) 15-40 (maks. 900 mg)
mg)

10-20 (maks. 600 10-20 (maks. 600


Rifampisin 15-20 (maks. 600 mg)
mg) mg)

Pirazinamid 15-40 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g) 15-30 (maks. 3 g)

Etambutol 15-25 (maks. 2,5 g) 50 (maks. 2,5 g) 15-25 (maks. 2,5 g)

Streptomisin 15-40 (maks. 1 g) 25-40 (maks. 1,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)

Tabel 1 : Dosis obat Tuberculosis 17.

 Pengobatan Tbc Pada Orang Dewasa

a. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum
obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan).
Diberikan kepada:
o Penderita baru TBC paru BTA positif.
o Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat.

b. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
Diberikan kepada:
o Penderita kambuh.
o Penderita gagal terapi.

o Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.


c. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
Diberikan kepada:
o Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.

10
 Pengobatan TBC Pada Anak

Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9


bulan, yaitu:
1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama,
kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7
bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap
INH).
2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan
pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu
selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi
terhadap INH).

Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan


bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15
mg/kgbb.

Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus:

TB tidak berat

INH : 5 mg/kgbb/hari
Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari

TB berat (milier dan meningitis TBC)

INH : 10 mg/kgbb/hari

Rifampisin : 15 mg/kgbb/hari
: 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg)
Dosis prednison
(medicastore,2009)
DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) adalah strategi
penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan secara langsung.
Strategi DOTS memberikan angka kesembuhan yang tinggi, bisa mencapai
95%.

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen, yaitu:

 Adanya komitment politis dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh


menanggulangi TBC, sehingga dengan adanya peran serta berbagai
unsur pemerintah dan masyarakat diharapkan program ini berjalan
sukses.
Meningkatkan deteksi dini dan kemampuan diagnosis penyakit TBC di
pusat pelayanan kesehatan perifier (Puskesmas)
 Pengobatan TBC dengan Obat Anti TBC (OAT) jangka pendek dengan
diawasi secara langsung oleh PMO (Pengawas Minum Obat)
 Tersedianya OAT yang terjangkau penderita secara konsisten
 Pencatatan dan pelaporan penderita TBC 17,18.

11
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

I. Pengkajian

Pengkajian Awal

 Airway

Subjektif  px mengatakan batuk berdahak bercampur darah dan sulit


bernafas

Objektif  px tampak sesak

RR> 20x/ menit

Terdengar suara ronkhi

Nafas takipnea/dipnea

Menggunakan otot bantu pernafasan

Px tampak batuk produktif

 Breathing

Subjektif  Px mengatakan sesak

Objektif  Px tampak sesak

Suara nafas ronkhi

Nafas takipnea/dipnea

Menggunakan otot bantu pernafasan

Gerakan dada asimetris

Pernafasan cuping hidung

Px tampak batuk produktif

RR> 20x/menit

 Circulation

Subjektif  Px mengatakan badannya panas

Objektif  Nadi takikardi

Px tampak berkeringat di malam hari

Suhu tubuh meningkat > 37,5 o C

Pengkajian Dasar

12
 Identitas
Nama Alamat
Umur Jenis kelamin
Agama Status Perkawanan
Pendidikan Sumber Informasi
Pekerjaan Hubungan
Suku/Bangsa

 Riwayat Sakit dan Sekarang


Keluhan utama saat MRS
Keluhan utama saat pengkajian
Riwayat penyakit saat ini
Riwayat alergi
Riwayat pengobatan
Riwayat penyakit sebelumnya dan riwayat penyakit keluarga

 Breathing
Subjektif  px mengatakan sesak nafas dan sulit untuk bernafas
Objektif  jalan nafas tidak paten
RR > 20 x/mnt
Menggunakan otot bantu pernafasan
Suara nafas ronkhi dan wheezing
Jenis pernafasan takipnea
Gerakan dinding dada asimetris
Pernafasan cuping hidung
Px tampak batuk produktif bercampur darah

Masalah : - Bersihan jalan nafas tidak efektif


- Kerusakan pertukaran gas

 Blood
Subjektif  px mengatakan badannya panas
Objektif  nadi takikardi
Sianosis
Konjunctiva pucat
CRT > 2 detik
Suhu tubuh meningkat > 37, 2OC

Masalah : - Gangguan perfusi jaringan


- Hipertermia

 Brain
Subjektif  -
Objektif  kesadaran composmentis
GCS E4V5M6
Pupil isokor, reflek cahaya +/+

Masalah : -

13
 Bladder
Subjektif  -
Objektif  BAK lancar
Tidak ada nyeri saat BAK

Masalah : -

 Bowel
Subjektif  px mengatakan tidak nafsu makan
Objektif  nafsu makan menurun (anoreksia)
Berat badan menurun (di bawah ideal lebih dari 20 %)
Peristaltik hiperaktif
Masalah : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

 Bone
Subjektif  Px mengatakan lemah dan letih
Objektif  px tampak lemah
Nafas dipnea
Masalah : Intoleransi aktivitas

II. Diagnosa Keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungn dengan terjadinya proses


pencairan : bahan cair lepas kedalam bronkus yang berhubungan
ditandai dengan terbentuknya massa seperti keju
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan atelektasis ditandai
dengan dispnea
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan kurangnya suplai O2 ke
jaringan ditandai dengan sianosis
4. Hipertermia berhubungan dengan terjadinya inflamasi ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh lebih dari normal
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia ditandai dengan peristaltic hiperaktif dan berat badan
menurun (di bawah ideal >20%)
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan
pasien tampak lemah

14
15

Anda mungkin juga menyukai