Anda di halaman 1dari 6

Struktur yang berhubungan dengan pendinginan magma:

• Vesikuler: lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava).


• Amigdaloidal: lubang-lubang bekas gas pada batuan beku (lava), yang telah diisi oleh
mineral sekunder, seperti zeolit, kalsit, kuarsa.
• Kekar kolom: kekar berbentuk tiang dimana sumbunya tegak lurus arah aliran.
• Kekar berlembar: kekar berbentuk lembaran, biasanya pada tepi/atap intrusi besar
akibat hilangnya beban.

KLASIFIKASI BATUAN BEKU SECARA MEGASKOPIS

A. Berdasarkan Klasifikasi IUGS (1973)


Secara megaskopik batuan beku dapat dibagi atas 2 kelompok besar yaitu:

1. Golongan Fanerik
Batuan bertekstur fanerik, dapat teramati secara megaskopik (mata biasa), berbutir sedang-
kasar (lebih besar dari 1 mm).
Golongan fanerik dapat dibagi atas beberapa jenis batuan, seperti terlihat pada diagram
segitiga 4a, 4b, 4c. Dasar pembagiannya adalah kandungan mineral kuarsa (Q), atau
mineral felspatoid (F), Felsfar alkali (A), serta kandungan mineral plagioklas (P).
Cara menentukan nama batuan dihitung dengan menganggap jumlah ketiga mineral utama
(Q+A+P atau F+A+P) adalah 100%. (Gambar 4).

Contoh: suatu batuan beku diketahui Q = 50%, A = 30%, P = 10% dan mineral mika =
10%. Jadi jumlah masing-masing mineral Q, A, dan P yang dihitung kembali untuk diplot
di diagram adalah sebagai berikut:
Jumlah mineral Q + A + P = 50% + 30% + 10% = 100% – 10% (jumlah mineral mika) =
90%, maka:
Mineral Q = 50/90 x 100% = 55,55%
Mineral A = 30/90 x 100% = 33,33%
Mineral P = 100% - (Q + A) = 100% - 88,88% = 11,12%
Bila diplot pada diagram 4(a), hasilnya adalah batuan granitoid.

2. Golongan Afanitik
Batuan beku bertekstur afanitik, mineral-mineralnya tidak dapat dibedakan dengan mata
biasa atau menggunakan loupe, umumnya berbutir halus (< 1 mm), sehingga batuan beku
jenis ini tidak dapat ditentukan prosentase mineraloginya secara megaskopik. Salah satu
cara terbaik untuk memperkirakan komposisi mineralnya adalah didasarkan atas warna
batuan, karena warna batuan umumnya mencerminkan proporsi mineral yang dikandung,
dalam hal ini proporsi mineral felsik (berwarna terang) dan mineral mafik (berwarna
gelap). Semakin banyak mineral mafik, semakin gelap warna batuannya.

Penentuan nama/jenis batuan beku afanitik masih dapat dilakukan bagi batuan yang
bertekstur porfiritik atau vitrofirik, dimana fenokrisnya masih dapat terlihat dan dapat
dibedakan, sehingga dapat ditentukan jenis batuannya. Dengan menghitung prosentase
mineral yang hadir sebagai fenokris, serta didasarkan pada warna batuan /mineral, maka
dapat diperkirakan prosentase masing-masing mineral Q/F,A P, maka nama batuan dapat
ditentukan. (Gambar 5).

7
Gambar 4. Diagram Klasifikasi Batuan Beku Fanerik (IUGS, 1973)
a. Klasifikasi umum, b. Batuan ultramafik, gabroik & anortosit, c. Batuan ultramafik
I. Granitoid; II. Syenitoid; III. Dioritoid; IV. Gabroid; V. Foid Syenitoid; VI. Foid
Dioritoid & Gabroid; VII. Foidolit; VIII. Anortosit; IX. Peridotit; X. Piroksenit;
XI. Hornblendit; II-IV. The Qualifier ‘Foid-Bearing’, digunakan bila feldspatoid hadir;
IX-XI. Batuan Ultramafik.

8
Gambar 5. Diagram Klasifikasi Batuan Beku Afanitik
Q. Kuarsa; A. Alkali Felspar (termasuk ortoklas, sanidin, pertit dan anortoklas);
P. Plagioklas; F. Felspatoid; Mel. Melilit; Ol. Olivin; Px. Piroksen; M. Mineral mafik.
I. Rhyolitoid; II. Dacitoid; III. Trachytoid; IV. Andesitoid, Basaltoid;
V. Phonolitoid; VI. Tephritoid; VII. Foiditoid; VIII. Ultramafitit

B. Klasifikasi umum berdasarkan pada urut-urutan kristalisasi mineral Seri Bowen


(mineralogi) serta komposisi SiO2 batuan beku (Tabel 2 dan 3).
Klasifikasi ini bukan klasifikasi resmi yang dibakukan, tetapi dibuat khusus digunakan
dalam praktikum di Laboratorium Petrologi - Geologi ITB.

9
Tabel 2. Pembagian batuan beku berdasarkan komposisi SiO2 dan mineralogi.

Keterangan : x : selalu hadir;


- : tidak hadir;
x/- : biasanya hadir/kadangkala tidak hadir;
-/x : biasanya tidak hadir/kadangkala hadir.
Catatan : untuk batuan yang mengandung mineral felspatoid (leusit, nefelin, dll.) dapat
dipergunakan nama batuan misalnya : nephelinite, leucitite, phonolite, felspathoid syenite,
leucite basalt, dll.

Tabel 3. Tabel determinasi batuan beku.

10
Hal-hal utama yang perlu dicatat dalam deskripsi batuan beku:
1. Warna, sebagai petunjuk awal untuk memperkirakan komposisi kimia dan mineral dari
batuan.
2. Tekstur, besar butir, prosentase kehadiran butir (Gambar 6), dan kemas, yang mana
berhubungan dengan sejarah dan cara kejadian batuan, serta kecepatan dan urutan
pertumbuhan kristal.
3. Mineralogi, sebagai petunjuk untuk identifikasi batuan, biasanya di dalam batuan beku
terdapat antara 2 dan 4 mineral utama.
4. Inklusi material asing (sebagai tambahan dalam membantu indentifikasi batuan).
Inklusi ini kadang ditemukan dalam batuan beku dan harus dideskripsikan terpisah,
inklusi penting ketika kita ingin menilai cara kejadian dan asal tubuh batuan beku.

Gambar 6. Prosentase kehadiran butir

11
DIAGRAM ALIR DESKRIPSI BATUAN BEKU

No. Batuan:
BB-01/BB-02, dll.

Warna:
Hitam bintik-bintik putih/putih kemerahan, dll (warna yang representatif)

Struktur:
Masif/vesikuler/amigdaloidal/kekar akibat pendinginan, dll.

Tekstur

Granulitas/Besar butir

Sangat kasar > 3 cm, Kasar 5 mm - 3 cm, Sedang 1 - 5 mm Halus < 1 mm

Fanerik Afanitik

Derajat Kristalisasi

Holokristalin Hipokristalin / Hipohyalin Holohyalin

Keseragaman Butir/Kristal

Equigranular Inequigranular Porfiritik/Vitrofirik

Panidiomorfik Granular Hipidiomorfik Granular Alotriomorfik Granular Fenokris


(Euhedral) (Subhedral) (Anhedral)

Komposisi Mineral:
Kuarsa (%), ciri-cirinya, dll. (untuk % digunakan diagram perbandingan secara visual)

Nama Batuan:
Granitoid/Syenitoid/ Dioritoid, dll. (Gunakan diagram dari IUSGS)

12