SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BLIMBING KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2009

Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijasah S1 Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh: ANJAR PURWIDIANA WULANDARI J 410050008

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

i

SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BLIMBING KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2009

Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijasah S1 Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh: ANJAR PURWIDIANA WULANDARI J 410050008

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

i

ABSTRAK ANJAR PURWIDIANA WULANDARI. J410050008 HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BLIMBING KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2009 xvii + 58 + 19 Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, hal ini dikarenakan masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan kematian terutama pada balita. Kejadian diare pada balita di Desa Blimbing tahun 2008 sebanyak 20,1%, dari total 347 balita. Faktor lingkungan yang buruk dapat menyebabkan seorang balita terkena diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. Metode penelitian menggunakan rancangan observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mempunyai balita yang menderita diare yaitu sebanyak 70 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan exhaustive sampling. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor sosiodemografi yang meliputi tingkat pendidikan ibu (p=0,080), jenis pekerjaan ibu (p=0,623), dan umur ibu (p=0,114). Ada hubungan antara faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum (p=0,001), jenis tempat pembuangan tinja (p=0,001), dan jenis lantai rumah (p=0,001) dengan kejadian diare pada balita dengan kejadian diare pada balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen. Disarankan pada petugas kesehatan agar memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang penggunaan sumber air minum yang terlindung, penggunaan lantai yang kedap air, penggunaan jamban dengan benar dan menjaga kebersihan jamban. Kata kunci : Diare, Balita, Faktor lingkungan, Faktor sosiodemografi. Surakarta, Oktober 2009 Pembimbing I Pembimbing II

Ambarwati, S.Pd, M.Si NIK. 757

Dwi Astuti, S.Pd, M.Kes NIK. 756

Mengetahui, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid) NIK. 863 ii

iii . diarrhea. kind of job (p = 0. the kind of floor (p = 0.001). Key word : Environment factors. Sambirejo.1%. the kind of latrine (p = 0. sociodemography factors. The sample of this research were 70 mothers who have children under five years old to suffer diarrhea. Sragen. The aim of this research was to know the relationship between the environment factors and sociodemography factors with diarrhea case at children under five years old in Blimbing.623) and age of mother (p = 0. The method of this research was observation with cross sectional approach. Case of diarrhea at the children under five years old in Blimbing village in 2008 was 20. Statistic analyzed used chi square test. this problem is caused the level of this sickness still high to cause death especially at the children under five years old. Based on the result is suggested to health official to give a counseling to public. and keep cleaning of latrine. with case of diarrhea at children under five years old in Blimbing.114). Sragen. The technique of sampling was exhaustive sampling. children under five years old. The result of this research showed there was not relationship between sociodemograpy factors such as the education level of mother (p = 0.Anjar Purwidiana Wulandari. ABSTRACT The diarrhea disease is one of health problem in Indonesian. The worse of environment factors can make a children under five years old has diarrhea. about using of sourcing of covert water. There was a relationship between environment factors such as the water resources (p = 0. from amounts 347 balita.001) with case of diarrhea at children under five years old. J410050008 THE CORRELATION BETWEEN ENVIRONMENT FACTORS AND SOCIODEMOGRAPHY FACTORS WITH DIARRHEA HAPPEN AT CHILDREN UNDER FIVE YEARS OLD IN BLIMBING. SRAGEN IN 2009.001). using of floor waterproof. using latrine correctly. Sambirejo.080). SAMBIREJO.

@ 2009 Hak Cipta Pada Penulis iv .

M. 757 Dwi Astuti. M. Oktober 2009 Pembimbing I Pembimbing II Ambarwati.Pd.Kes NIK.Pd. Surakarta. S. 756 v .HALAMAN PERSETUJUAN Skripsi dengan judul : HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BLIMBING KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2009 Disusun Oleh NIM : Anjar Purwidiana Wulandari : J 410 050 008 Telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.Si NIK. S.

Kep. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta ( Arif Widodo.Pd.HALAMAN PENGESAHAN Skripsi dengan judul : HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BLIMBING KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2009 Disusun Oleh NIM : Anjar Purwidiana Wulandari : J 410 050 008 Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 31 Oktober 2009 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukan Tim Penguji. M. M. A.Si ( ) Anggota Penguji I : Dwi Astuti. Oktober 2009 Ketua Penguji : Ambarwati.Kes ( ) Anggota Penguji II : Sri Darnoto.Kes ) NIK. M. S. Surakarta. 630 vi . SKM ( ) Mengesahkan. S.Pd.

seringkali tampak mustahil. tapi bekerja memberi kepuasan (Penulis) vii .MOTTO Allah telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu dan Bapakmu. Dan bukan kurang cerdasnya pemikiran yang melambatkan perubahan hidup ini. tetapi kurangnya penggunaan dari pikiran dan kecerdasan (Mario Teguh) Kemalasan memang tampak menggoda. semua usaha dan juga kemenangan hari ini bukanlah kemenangan esok hari. Tak ada yang jatuh dengan cuma-cuma. tetapi tidak cukupnya tindakan. kegagalan hari ini bukanlah kegagalan esok hari (Kahlil Gibran) Sesuatu yang belum dikerjakan. kita baru yakin kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik (Evelyn Underhill) Bukan kurangnya pengetahuan yang menghalangi keberhasilan. Janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah perkataan yang mulia kepada mereka (Al-Isra: 23) Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti.

terimakasih atas kebersamaannya selama ini.  Buat diriku sendiri. dan dorongan semangat yang tak pernah berhenti.  Almamaterku UMS. pengorbanan. sebagai wujud rasa hormat dan tanda baktiku.  Teman-teman seperjuangan Kesehatan Masyarakat angkatan 2005. kasih sayang. karya kecil yang sederhana ini kupersembahkan untuk :  Papa dan Mama. semoga ridho Yang Maha Esa menyertai titian ini dalam meraih kemuliaan.  For my future imamku kelak. semoga ini menjadi awal yang baik buat menggapai semua impian. viii .PERSEMBAHAN Dengan mengucap rasa syukur kepada Allah SWT. serta terimakasih atas doa yang terus mengalir.

Kotaraja Dalam. 2 Agustus 1987 : Perempuan : Islam : Perumahan Griya Muria No. Lulus SMP Negeri 1 Jayapura tahun 2002 3. Abepura. Menempuh pendidikan di Program Studi Kesehatan Masyarakat FIK UMS sejak tahun 2005 ix . Lulus SD Kartika VIII-1 Jayapura tahun 1999 2.13. Papua Riwayat Pendidikan : 1. Lulus SMA Negeri 2 Jayapura tahun 2005 4.RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Alamat : Anjar Purwidiana Wulandari : Jayapura.

Ibu Ambarwati. wb. Untuk itu. S.Si selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan. M.Pd. A. Bapak Arif Widodo.Kes selaku Pembimbing II yang telah memberikan masukan dan kritikan sehingga tersusunlah skripsi ini. M. 3. 2. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan antara Faktor Sosiodemografi dan Faktor Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen Tahun 2009”. SKM. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam pembuatan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada : 1. M. Alhamdulillahhirobbil’alamin selalu penulis panjatkan atas nikmat dan berkah yang senantiasa Allah SWT limpahkan.KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr.Kes selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.Pd. M. 4.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi ini disusun guna memenuhi persyaratan dalam menempuh derajat S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan. x . pengarahan dan saran dalam menyelesaikan skripsi ini. S.Kep. Ibu Dwi Astuti. Ibu Yuli Kusumawati.

Irma. Orang tuaku tersayang. Amin. 6. Bapak Sunarto selaku kepala Desa Sambirejo yang telah memberikan ijin penulis untuk melakukan penelitian. Farid) dan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Irfan. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. 8. Widia. Yayik. Harapan penulis. Oktober 2009 Penulis xi . 10. terima kasih atas dukungan. Surakarta. 12.5. Sahabatku (Fhebry. yang telah membantu sehingga dapat terselesaikannya skripsi ini. Keny. Agnes. 9. wb. 11. 7. Mba Dhewa) walaupun terpisah dan jauh. Bapak H. Ibu Sri Herawati selaku kepala Puskesmas Sambirejo dan seluruh karyawan yang telah membantu dalam mencari data. semangat dan saransarannya yang diberikan pada penulis yang tiada henti-hentinya. semoga karya sederhana ini dapat memberikan sumbangan dan manfaat bagi ilmu pengetahuan dan peneliti selanjutnya. terima kasih telah memberikan warna dan cerita bahagia selama perkuliahan. Joko Imugroho selaku kepala DKK Sragen yang telah membantu dalam mencari data yang dibutuhkan untuk skripsi ini. Wassalamu’alaikum wr. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat FIK UMS terimakasih atas ilmu yang telah diberikan. Teman-teman Kesehatan Masyarakat angkatan 2005 (Aput. semoga kebersamaan ini akan tetap berlanjut.

... xvii BAB I PENDAHULUAN A.................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN .. xiv DAFTAR GAMBAR ...................................................................................................................................................................................................................................................... 3.............................. Epidemiologi penyakit diare ..................................................................................................... v HALAMAN PENGESAHAN ............................. Manfaat Penelitian ............. 3................................................................................................................................................................................................................ Etiologi .......................................... 5................................................................................................................................................................................... C...................... vii PERSEMBAHAN ......................................................... Penyakit Diare ......................... Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Diare ............................................................. 1.... ix KATA PENGANTAR .............................................. i ABSTRAK .............................. Kerangka Teori .... 2............................................................................ iii HAK CIPTA ................................................................................ ii ABSTRACT .......................................................................................................................................... vi MOTTO ............................ C...................... Perumusan Masalah .... 1 4 5 6 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A............................................................................................................................ B.. Faktor perilaku .................................... Jenis diare ..... E...... 4......................................................................................................................... Faktor sosiodemografi . Latar Belakang ........ Gejala diare ............................... D................ iv HALAMAN PERSETUJUAN ....DAFTARI ISI Halaman HALAMAN JUDUL ...................................................................................................................................... viii DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................... 2....... 1. Ruang Lingkup Penelitian .................................................................................................. Definisi penyakit diare ......... xii DAFTAR TABEL ........................... x DAFTAR ISI .................. Tujuan Penelitian ......................... Faktor lingkungan ..................................................................... xvi DAFTAR SINGKATAN ....................................... xii 8 8 8 10 11 11 13 13 15 21 24 ... B..............................................

........................................ Analisis Data ............ E...................................... Faktor Lingkungan ................................. Hipotesis ....... Faktor Sosiodemografi ..................... 2.................... G...................................................... 1........................................................................................ C.... Keadaan Geografi............................ D...... B...................................... BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A... B........................................................................ Hasil Analisis Univariat ..................... D............................................ Kesimpulan ................................................... B................................................................. 2............................................................ Hubungan Faktor antara Lingkungan dengan Kejadian Diare ........ Lokasi dan Waktu Penelitian...... Saran ................................................................ Ringkasan Hasil Uji Bivariat ....... Hasil Analisis Bivariat ................... B......................................... Keterbatasan Penelitian .......................... Faktor Lingkungan ................. Definisi Operasional Variabel .................................................................................. C.................. Jenis dan Rancangan Penelitian ................... Faktor Sosiodemografi .............. Subjek Penelitian ..... Kerangka Konsep ................ E............................. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................................................................... H........................ Variabel Penelitian ............................................................................... 1...................................................D........... 2.................................... F................................... BAB III METODE PENELITIAN A.... Keadaan Demografi ................................. Populasi dan Sampel ............................. Pengolahan Data ... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 25 25 26 26 27 27 28 28 32 35 36 37 37 37 38 38 40 41 42 44 46 49 56 57 57 xiii . I...................... BAB IV HASIL A........................... BAB V PEMBAHASAN A................................. Pengumpulan Data .......................................................... 1........

............ 12.................. Hasil Hubungan Antara Jenis Tempat Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Diare ........................ 4................................... Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan Variabel Y ....... 8..... Distribusi Responden Berdasarkan Umur.......DAFTAR TABEL Tabel Halaman 1.................. 2........................... 5........................ Hasil Hubungan Antara Umur Ibu Dengan Kejadian Diare ................................................................................................... 13....... Hasil Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Kejadian Diare ............... Distribusi Jawaban Responden Menurut Faktor Lingkungan ..... 11..... Hasil Hubungan Antara Sumber Air Minum Dengan Kejadian Diare .... 10.......................... Tingkat Pendidikan Penduduk di Desa Blimbing Tahun 2008 ........................................ Hasil Hubungan Antara Jenis Pekerjaan Ibu Dengan Kejadian Diare ...................... Distribusi Jawaban Responden Tentang Kejadian Diare ... 9............... 6....... Hasil Hubungan Antara Jenis Lantai Rumah Dengan Kejadian Diare. Ringkasan Hasil Uji Bivariat .... 3...................... Mata Pencaharian Penduduk di Desa Blimbing Tahun 2008 .... 34 38 38 39 41 41 42 43 43 44 45 46 46 xiv ........ 7................... Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan .................................

..DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 24 25 1.......................................................... Kerangka Konsep Penelitian ......................... Kerangka Teori Penelitian .............................................................. 2... xv .

Surat Ijin Penelitian 4. Kuesioner Pengumpulan Data 3. Dokumentasi Penelitian xvi . Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden 2.DAFTAR LAMPIRAN 1. Hasil Analisis Statistik 5.

DAFTAR SINGKATAN ASI Depkes RI : Air Susu Ibu : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Dinkes Jateng : Dinas Kesehatan Jawa Tengah DOV IR OR PAM PNS P2MPL SD SMP SMA WC : Definisi Operasional Variabel : Incidence Rate : Odd Ratio : Perusahaan Air Minum : Pegawai Negeri Sipil : Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan : Sekolah Dasar : Sekolah Menengah Pertama : Sekolah Menengah Atas : Water Closet xvii .

hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita. Latar Belakang Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia bisa diserang oleh diare. Angka kesakitan diare pada tahun 2006 yaitu 423 per 1000 penduduk. Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Penyakit diare di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama. 2004 dalam Zubir et al. 2008). anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4 kali kejadian diare per tahun tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari 9 kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20% waktu hidup anak dihabiskan untuk diare (Soebagyo. tetapi penyakit berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita. Di Indonesia dilaporkan terdapat 1.000 balita.980 penderita dengan jumlah kematian 277 (CFR 2. Di negara berkembang. sehingga secara keseluruhan diperkirakan kejadian diare pada balita berkisar antara 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.6 sampai 2 kejadian diare per tahun pada balita.000-400.1 BAB I PENDAHULUAN A. 2006). dengan jumlah kasus 10. Di negara berkembang. anak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian (Aman. Pada 1 .52%).

Diare dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani secara serius karena tubuh balita sebagian besar terdiri dari air dan daging. Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare. sehingga bila terjadi diare sangat mudah terkena dehidrasi (Irianto.2 survei tahun 2000 yang dilakukan oleh Ditjen P2MPL Depkes di 10 provinsi. 2008). kurang gizi. maka penularan diare dengan mudah dapat terjadi (Depkes. kebersihan perorangan dan lingkungan yang jelek. Faktor lingkungan yang paling dominan yaitu sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja. 2005). air tercemar oleh tinja. diantaranya tidak memberikan ASI selama 2 tahun. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula.440 balita. pembuangan tinja yang tidak higienis. serta penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya (Sander. kekurangan sarana kebersihan. didapatkan hasil bahwa dari 18. . Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak memadainya penyediaan air bersih. Faktor penjamu yang menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap diare. penyakit campak. dan imunodefisiensi. Hal yang menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit diare pada balita adalah perilaku hidup masyarakat yang kurang baik dan sanitasi lingkungan yang buruk. 1996). 2005). penjamu. terdiri dari faktor agent. kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia. lingkungan dan perilaku.000 rumah tangga yang disurvei diambil sampel sebanyak 13.3 episode kejadian diare pertahun (Soebagyo. dan kejadian diare pada balita yaitu 1.

1% (Puskesmas Sambirejo.149 penderita dan diare pada balita sebanyak 552 penderita. Jumlah kasus diare pada balita setiap tahunnya ratarata di atas 40%.93%. sedangkan jumlah kasus diare pada balita yaitu sebanyak 269.162 penderita dengan jumlah diare pada balita sebanyak 480 penderita. Jumlah balita di Desa Blimbing sebanyak 347 balita dan jumlah kasus diare pada balita sebanyak 70 penderita dengan IR 20.3 Jumlah kasus diare di Jawa Tengah tahun 2007 yaitu sebanyak 625. Sedangkan data penyakit diare di Puskesmas Kabupaten Sragen tahun 2007 sebanyak 16. dengan jumlah kasus pada tahun 2008 sebanyak 127 penderita.98% dari seluruh kasus sebanyak 9. Kabupaten Sragen terbagi menjadi 20 kecamatan dan salah satunya adalah Kecamatan Sambirejo.483 penderita. dari 10 penyakit terbanyak di Puskesmas (DKK Sragen.9%.538 kasus.09%). hal ini menunjukkan bahwa kasus diare pada balita masih tetap tinggi dibandingkan golongan umur lainnya (Dinkes Jateng. Pada tahun 2007 sebanyak 1. untuk kasus diare pada balita sebesar 41. . Berdasarkan data dari Puskesmas Sambirejo penderita diare pada tahun 2006 sebanyak 1. 2007). Diare di Kabupaten Sragen berada di posisi kelima. Pada tahun 2008 sebanyak 1040 penderita.022 penderita dengan IR 1. Penyakit diare seluruhnya yang tercatat ada 23. Kejadian diare di Kabupaten Sragen pada tahun 2007 cukup tinggi yaitu sebanyak 2. Kabupaten Sragen merupakan salah satu dari 35 Kabupaten atau kota di Provinsi Jawa Tengah. 2007).709 penderita (6.71% dari total jumlah penduduk. Daerah dengan penderita diare paling banyak adalah Desa Blimbing. jumlah penderita diare balita tahun 2008 sebanyak 517 penderita dengan IR 18.883 penderita. 2008).

Sragen ? . Masalah khusus a. Kecamatan Sambirejo. Sragen ? 2. sumber air minum. pekerjaan ibu dan umur anak balita merupakan faktor yang dominan dalam mempengaruhi kejadian diare pada balita. Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. diketahui bahwa faktor sosiodemografi yang mempengaruhi kejadian diare pada balita yaitu pendidikan orang tua.4 Berdasarkan hasil penelitian Yulisa (2008). Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. diketahui bahwa ada pengaruh tingkat pendidikan. Apakah ada hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Perumusan Masalah 1. Kabupaten Sragen. kualitas fisik air minum. Sragen ? b. Kecamatan Sambirejo. B. Kecamatan Sambirejo. jenis jamban keluarga. Masalah umum Apakah ada hubungan antara faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. dkk (1996). jenis lantai rumah serta tidak ada pengaruh jenis pekerjaan dengan kejadian diare pada anak balita. Sedangkan hasil penelitian Irianto. sedangkan umur ibu tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita. Kecamatan Sambirejo.

Mengetahui hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. b. Tujuan umum Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi yang dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. c. Sragen. Kecamatan Sambirejo. Apakah ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen. Tujuan 1. Apakah ada hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja keluarga dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen ? d. 2. Tujuan khusus a. Kecamatan Sambirejo. Kecamatan Sambirejo. Apakah ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen ? f. Kecamatan Sambirejo. Apakah ada hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing.5 c. Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. . Sragen. Sragen. Sragen ? C. Kecamatan Sambirejo. Kecamatan Sambirejo. Kecamatan Sambirejo. Mengetahui hubungan antara umur ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Kecamatan Sambirejo. Sragen ? e.

Mengetahui hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen. Kecamatan Sambirejo. Bagi instansi terkait Memberikan informasi bagi instansi terkait khususnya Puskesmas Sambirejo tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kejadian diare pada anak balita sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan dan penanggulangan diare di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. e.6 d. Kecamatan Sambirejo. Mengetahui hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Bagi masyarakat Memberikan informasi tentang faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi yang mempengaruhi kejadian diare pada balita sehingga masyarakat dapat melakukan upaya pencegahan kasus diare di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. Sragen. Mengetahui hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen. D. Manfaat 1. f. Kecamatan Sambirejo. . 2.

Kecamatan Sambirejo. pekerjaan ibu.7 3. Ruang Lingkup Ruang lingkup materi ini dibatasi pada faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum. misalnya tentang pengaruh perilaku ibu terhadap kejadian diare pada anak balita. Bagi peneliti lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan data dasar dan acuan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lain. jenis lantai rumah dan faktor sosiodemografi yang meliputi pendidikan ibu. tempat pembuangan tinja. E. Kabupaten Sragen. . dan umur ibu yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing.

Etiologi Menurut Widjaja (2002). Faktor infeksi Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. a. Semua kelompok usia diserang oleh diare. makanan dan faktor psikologis. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain: 1) Infeksi oleh bakteri : Escherichia coli. malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi). Tetapi penyakit diare berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita (Zubir. Penyakit Diare 1. Sedangkan. 2000). diare diartikan sebagai buang air encer lebih dari empat kali sehari. diare disebabkan oleh faktor infeksi. 2. Definisi penyakit diare Diare adalah buang air besar lembek atau cair dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) (Depkes RI. menurut Widjaja (2002). 8 . 2006). Vibrio cholerae (kolera). anak-anak dan orang dewasa. baik balita. baik disertai lendir dan darah maupun tidak. Salmonella thyposa. Hingga kini diare masih menjadi child killer (pembunuh anak-anak) peringkat pertama di Indonesia.8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas.

dan 7) Keracunan makanan. bronchitis.9 2) 3) 4) 5) 6) Infeksi basil (disentri). dan radang tenggorokan. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus. b. pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Infeksi akibat organ lain. basi. mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Infeksi jamur (Candida albicans). dan sakit di daerah perut. . Triglyserida. c. diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. dengan bantuan kelenjar lipase. beracun. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak-anak balita. Gejalanya berupa diare berat. seperti radang tonsil. Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris lumbricoides). Infeksi virus rotavirus. Sedangkan malabsorpsi lemak. terlalu banyak lemak. Malabsorpsi karbohidrat. Faktor malabsorpsi Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. Faktor makanan Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar. tinja berbau sangat asam. mentah (sayuran) dan kurang matang. terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida.

Disentri Disentri yaitu. Akibat disentri adalah anoreksia. cemas. dan tegang. . Tetapi jarang terjadi pada anak balita. Diare Akut Diare akut yaitu. gangguan gizi atau penyakit lainnya. b. diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme. dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa. Diare dengan masalah lain Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain. c.10 d. jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. d. Diare persisten Diare persisten. Faktor psikologis Rasa takut. seperti demam. berdasarkan jenisnya diare dibagi empat yaitu : a. Jenis diare Menurut Depkes RI (2000). penurunan berat badan dengan cepat. diare yang disertai darah dalam tinjanya. sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare. yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibatnya adalah dehidrasi. 3. umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.

e. Hipoglikemia (penurunan kadar gula darah). Bayi atau anak menjadi cengeng dan gelisah. f. d. Dehidrasi (kekurangan cairan). penderita lemah. volume darah berkurang. Muntah sebelum dan sesudah diare. gejala-gejala diare adalah sebagai berikut : a. g. Dehidarsi dibagi menjadi tiga macam. tekanan darah merendah. Warna tinja kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu. Lecet pada anus. c. Jika cairan yang hilang lebih dari 10% disebut dehidrasi berat. Gejala diare Menurut Widjaja (2000). Gangguan gizi akibat intake (asupan) makanan yang kurang. yaitu dehidrasi ringan.11 4. 2000). Pada dehidrasi berat. epidemiologi penyakit diare adalah sebagai berikut : a. 5. denyut nadi dan jantung bertambah cepat tetapi melemah. Epidemiologi penyakit diare Menurut Depkes RI (2005). Disebut dehidrasi ringan jika cairan tubuh yang hilang 5%. berlendir atau berdarah. dehidrasi sedang dan dehidarsi berat. Suhu badannya pun meninggi. Penyebaran kuman yang menyebabkan diare Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang tercemar tinja dan atau . dan h. kesadaran menurun dan penderita sangat pucat (Widjaja. Tinja bayi encer. b.

c. b. beberapa penyakit dan lamanya diare. . Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat pula. dan tidak membuang tinja dengan benar. antara lain tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan. menggunakan botol susu. imunodefisiensi atau imunosupresi dan secara proposional diare lebih banyak terjadi pada golongan balita. tidak mencuci tangan sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan atau menyuapi anak. maka dapat menimbulkan kejadian diare. Faktor-faktor tersebut adalah tidak memberikan ASI sampai umur 2 tahun. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare. Faktor pejamu yang meningkatkan kerentanan terhadap diare Faktor pada pejamu yang dapat meningkatkan insiden.12 kontak langsung dengan tinja penderita. kurang gizi. Dua faktor yang dominan. yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. campak. Faktor lingkungan dan perilaku Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan. menggunakan air minum yang tercemar. menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Kedua faktor ini akan berinteraksi dengan perilaku manusia. yaitu melalui makanan dan minuman.

jenis pekerjaan ibu. dan agama. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Diare 1. menyebabkan mereka tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit menular (Sander. . status perkawinan. diantaranya diare. 2000). a. 2005). demografi juga memperhatikan berbagai karakteristik individu maupun kelompok yang meliputi karakteristik sosial dan demografi. kematian. migrasi sehingga menghasilkan suatu keadaan dan komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin tertentu (Lembaga Demografi FE UI. umur. Dengan sulitnya mereka menerima penyuluhan. Faktor sosiodemografi meliputi tingkat pendidikan ibu. status ekonomi dan pendapatan (Mantra. Tingkat pendidikan Jenjang pendidikan memegang peranan cukup penting dalam kesehatan masyarakat. Karakteristik sosial dan demografi meliputi: jenis kelamin. karakteristik pendidikan dan karakteristik ekonomi.13 B. Karakteristik ekonomi meliputi jenis pekerjaan. 2000). Faktor Sosiodemografi Demografi adalah ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaan perubahan-perubahan penduduk yang berhubungan dengan komponenkomponen perubahan tersebut seperti kelahiran. Karakteristik pendidikan meliputi: tingkat pendidikan. dan umur ibu. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu mengenai pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Dalam pengertian yang lebih luas.

penyakit kronis. b. semakin rendah angka kematian bayi dan kematian ibu (Widyastuti. dan penyakit lain yang dapat menyengsarakan manusia. Pekerjaan juga merupakan suatu determinan risiko dan determinan terpapar yang khusus dalam bidang pekerjaan tertentu serta merupakan prediktor status kesehatan dan kondisi tempat suatu populasi bekerja (Widyastuti. kondisi cidera. Umur ibu Sifat manusia yang dapat membawa perbedaan pada hasil suatu penelitian atau yang dapat membantu memastikan hubungan sebab akibat dalam hal hubungan penyakit. 2005). 2005). umur merupakan karakter yang memiliki pengaruh paling besar. status sosial ekonomi. kondisi. dan peristiwa kesehatan. c. semakin tinggi tingkat pendidikan. Pada perempuan. 2005).14 Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif. pendidikan. status sosial. . Jenis pekerjaan Karakteristik pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan. dan karena saling diperbandingkan maka kekuatan variabel umur menjadi mudah dilihat (Widyastuti. mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik. Umur merupakan salah satu variabel terkuat yang dipakai untuk memprediksi perbedaan dalam hal penyakit. Umur mempunyai lebih banyak efek pengganggu daripada yang dimiliki karakter tunggal lain. risiko cedera atau masalah kesehatan dalam suatu kelompok populasi.

jari-jari . yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. mandi. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut. cairan atau benda yang tercemar dengan tinja. untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Faktor lingkungan a.15 Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. mencuci dan sebagainya. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur (Notoatmodjo. 2003). Di dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Oleh karena itu. masak. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. misalnya air minum. untuk keperluan minum dan masak air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut. 2003). Di negaranegara berkembang. Tubuh orang dewasa sekitar 5560% berat badan terdiri dari air. termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum. 2. Sumber air minum Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare.

2. Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah. air dari mata air. Mengunakan air yang direbus. 3.16 tangan. 2. Air dalam tanah adalah air yang diperoleh pengumpulan air pada lapisan tanah yang dalam. tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter. Mengambil air dari sumber air yang bersih. dan sumber pengotoran. Menurut Slamet (2002) macam-macam sumber air minum antara lain : 1. Air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam. Jarak antara sumber air minum dengan sumber pengotoran seperti septictank. Misalnya air sumur. Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir. 4. 3. Menurut Depkes RI (2000).hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah : 1. Misalnya air sungai. dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Depkes RI. anak-anak. Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang. Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air. seperti hujan dan salju. . hal . 2000). air rawa dan danau.

6. 4. Mudah digunakan dan dipelihara. Menurut Entjang (2000). Jamban . 3. Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya. Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya. Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare. antara lain: 1. Jamban ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80 – 120 cm sedalam 2. Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.5 sampai 8 meter.17 5. dan 7. b. Jenis tempat pembuangan tinja Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Menurut Notoatmodjo (2003). 5. Pembuatannya murah. Tidak menimbulkan bau. syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah : 1. 2. Jamban cemplung (Pit latrine) Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan. macam-macam tempat pembuangan tinja. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya.

tetapi di . baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya. misalnya untuk penderita yang tak dapat meninggalkan tempat tidur. tinjanya tertampung sebentar dan bila disiram air. 2. Jarak dari sumber minum sekurang-kurangnya 15 meter. 4. tidak di lokasi jambannya. karena akan mengotori air tanah dibawahnya. Bila dipakai. Jamban keranjang (Bucket latrine) Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di tempat lain. 3. misalnya untuk perkampungan sementara. Jamban leher angsa (Angsa latrine) Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan tinja. Kerugiannya bila air permukaan banyak mudah terjadi pengotoran tanah permukaan (meluap). Sistem jamban keranjang biasanya menarik lalat dalam jumlah besar.18 cemplung tidak boleh terlalu dalam. Jamban bor (Bored hole latrine) Tipe ini sama dengan jamban cemplung hanya ukurannya lebih kecil karena untuk pemakaian yang tidak lama. Proses pembusukkanya sama seperti pembusukan tinja dalam air kali. Jamban air (Water latrine) Jamban ini terdiri dari bak yang kedap air. Fungsi air ini sebagai sumbat sehingga bau busuk dari kakus tidak tercium. 5.

Jamban kimia (Chemical toilet) Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi. dan pencegahan pencapaian tinja oleh hewan. Jamban parit (Trench latrine) Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30 . Biasanya dipergunakan dalam kendaraan umum misalnya dalam pesawat udara. . Jamban empang / gantung (Overhung latrine) Jamban ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam. Penggunaan jamban parit sering mengakibatkan pelanggaran standar dasar sanitasi. selokan.19 sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. 6. yang dapat menimbulkan wabah. Kerugiannya mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat didalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air. terutama yang berhubungan dengan pencegahan pencemaran tanah. Tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi akan meningkatkan risiko terjadinya diare berdarah pada anak balita sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai kebiasaan membuang tinjanya yang memenuhi syarat sanitasi (Wibowo. 7. kali.40 cm untuk tempat defaecatie. 8. dapat pula digunakan dalam rumah. Tanah galiannya dipakai untuk menimbunnya. Penggunaan jenis jamban ini biasanya menimbulkan bau. rawa dan sebagainya. pemberantasan lalat.

7 di desa. anak balita yang berasal dari keluarga yang menggunakan jamban yang dilengkapi dengan tangki septik. Sedangkan keluarga yang menggunakan kakus tanpa tangki septik 12. dan tanah yang disiram kemudian dipadatkan. oleh karena itu perlu dilapisi dengan lapisan . Jenis lantai rumah tinggal mempunyai hubungan yang bermakna pula dengan kejadian diare pada anak balita. prevalensi diare 7. Jenis lantai rumah Menurut Notoatmodjo (2003) syarat rumah yang sehat jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan.9% di desa. yaitu 17% di kota dan 12.4% terjadi di kota dan 7. 2002). Lantai rumah dapat terbuat dari: ubin atau semen. kayu. Hal ini ditinjau dari jenis alas atau bahan dasar penutup bagian bawah. Lantai dari tanah lebih baik tidak digunakan lagi.1% diare terjadi di kota dan 8. sebab bila musim hujan akan lembab sehingga dapat menimbulkan gangguan atau penyakit pada penghuninya. paling tidak perlu diplester dan akan lebih baik kalau dilapisi ubin atau keramik yang mudah dibersihkan (Depkes.2% di desa. Lantai yang baik adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Lantai yang basah dan berdebu dapat menimbulkan sarang penyakit. Kejadian diare tertinggi terdapat pada keluarga yang mempergunakan sungai sebagai tempat pembuangan tinja. Bahan lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan. c. Menurut hasil penelitian Irianto (1996). dinilai dari segi bahan dan kedap air.20 2004).

21

yang kedap air (disemen, dipasang keramik, dan teraso). Lantai dinaikkan kira-kira 20 cm dari permukaan tanah untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah (Sanropie, 1989).

3. Faktor perilaku Menurut Depkes RI (2005), faktor perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare adalah sebagai berikut : a. Pemberian ASI Eksklusif ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Tidak memberikan ASI Eksklusif secara penuh selama 4 sampai 6 bulan. Pada bayi yang tidak diberi ASI risiko untuk menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu formula. b. Penggunaan botol susu Penggunaan botol susu memudahkan pencemaran oleh kuman, karena botol susu susah dibersihkan. Penggunaan botol untuk susu formula, biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk. c. Kebiasaan cuci tangan Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci

22

tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyuapi makan anak dan sesudah makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare. d. Kebiasaan membuang tinja Membuang tinja (termasuk tinja bayi) harus dilakukan secara bersih dan benar. Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya. e. Menggunakan air minum yang tercemar Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan dirumah. Pencemaran dirumah dapat terjadi kalau tempat peyimpanan tidak tertutup atau tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan. Untuk mengurangi risiko terhadap diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi. f. Menggunakan jamban Penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penularan risiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban sebaiknya membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban. Bila tidak mempunyai jamban, jangan biarkan anak-anak pergi ke tempat buang air besar hendaknya jauh dari rumah, jalan setapak,

23

tempat anak-anak bermain dan harus berjarak kurang lebih 10 meter dari sumber air, serta hindari buang air besar tanpa alas kaki. g. Pemberian imunisasi campak Diare sering timbul menyertai campak, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu segera memberikan anak imunisasi campak setelah berumur 9 bulan. Diare sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak, hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita.

Kerangka Teori Diare Diare dewasa Diare anak Diare balita Epidemiologi penyakit diare Faktor lingkungan Faktor sosiodemografi Faktor perilaku a.24 C. Kerangka Teori . Tingkat pendidikan ibu b. Jenis tempat pembuangan tinja c. Pemberian ASI eksklusif Penggunaan botol susu Kebiasaan cuci tangan Kebiasaan membuang tinja e. Jenis lantai rumah a. Umur ibu a. Sumber air minum b. b. Menggunakan jamban Keterangan : = Variabel diteliti = Variabel tidak diteliti Gambar 1. Menggunakan air yang tercemar f. d. c. Jenis pekerjaan ibu c.

6. 3.25 D. Faktor sosiodemografi : a. Ada hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. Kerangka Konsep Penelitian Variabel terikat Kejadian diare (anak balita) E. Faktor lingkungan : a. 5. Ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. sumber air minum b. Ada hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja keluarga dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. Kerangka Konsep Variabel bebas 1. jenis lantai rumah c. Ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. pekerjaan ibu c. Ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. 4. pendidikan ibu b. jenis tempat pembuangan tinja Gambar 2. umur ibu 2. 2. Ada hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Sragen. . Hipotesis 1.

Dapat berkomunikasi dengan baik 3. 1997). Ibu yang memiliki balita yang bertempat tinggal dan tercatat sebagai penduduk di Desa Blimbing 2. Bersedia menjadi responden Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah : 1. Ibu yang tidak memiliki balita yang bertempat tinggal dan tercatat sebagai penduduk di Desa Blimbing 2. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional yaitu rancangan suatu studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian) dengan cara mengamati status paparan dan penyakit. Subjek Penelitian Subjek pada penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang memiliki balita berumur 1-5 tahun yang memenuhi kriteria inklusi sebagai berikut : 1.26 BAB III METODE PENELITIAN A. B. pada suatu saat atau periode (Murti. Tidak dapat berkomunikasi dengan baik 3. secara serentak pada individu-individu dari populasi tunggal. Tidak bersedia menjadi responden 26 .

Teknik atau cara pengambilan sampel Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode exhaustive sampling yaitu metode dimana mengambil seluruh populasi sebagai sampel. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang memiliki balita (berumur 1-5 tahun) yang menderita diare yang bertempat tinggal di Desa Blimbing. Sampel a. D. . Sragen yaitu sebanyak 70 orang. sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan September 2009. Kecamatan Sambirejo. Lokasi dan Waktu Lokasi penelitian ini di Desa Blimbing. Kecamatan Sambirejo. Kabupaten Sragen. 2. Kecamatan Sambirejo. 2006).27 C. Populasi dan Sampel 1. b. karena jika tidak mengambil semuanya menimbulkan persepsi diskriminasi (Murti. Jumlah sampel Besar sampelnya adalah jumlah seluruh populasi yaitu sebanyak 70 ibu-ibu yang mempunyai balita yang menderita diare di Desa Blimbing. Sragen.

28 E. Skala data : Nominal d. Variabel terikat Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah kejadian diare pada balita di Desa Blimbing. Kecamatan Sambirejo. pekerjaan ibu. Hasil ukur : 1) Diare 2) Tidak diare . dan jenis lantai rumah. 2. Variabel bebas Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah faktor sosiodemografi yang meliputi pendidikan ibu. Alat ukur : Kuisioner c. b. Definisi : Suatu keadaan dimana terjadi buang air besar cair atau mencret dengan frekuensi lebih dari 3 kali sehari dalam kurun waktu 3 bulan terakhir yang dialami oleh balita yang terpilih sebagai sampel. Sragen. F. Definisi Operasional Variabel (DOV) 1. umur ibu dan faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum. jenis tempat pembuangan tinja. Kejadian diare a. Variabel Penelitian 1.

Skala data : Ordinal d. Definisi : Kegiatan pokok ibu yang dilakukan setiap hari memperoleh upah/gaji. sedang (3 dan 4) dan tinggi (5). Dengan kriteria : 1) Tidak sekolah 2) SD 3) SMP 4) SMA 5) Perguruan Tinggi Dikelompokkan menjadi rendah (1 dan 2). Hasil ukur : 1) Rendah 2) Sedang 3) Tinggi 3.29 2. Definisi : Pendidikan formal terakhir yang sedang atau pernah dicapai oleh subjek. Alat ukur : Kuisioner c. b. 3) Buruh. Tingkat pendidikan ibu a. 4) Wiraswasta/pedagang untuk 5) PNS. 2) Petani. Dengan kriteria: 1) Ibu rumah tangga. Pekerjaan Ibu a. .

Definisi : Sumber air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari untuk kebutuhan minum dan memasak. Skala data : Nominal d.3. Skala data : Nominal d. Sumber air minum a. Alat ukur : Kuisioner c.30 Dikelompokkan menjadi tidak bekerja (1) dan bekerja (2. Hasil ukur : 1) Bekerja 2) Tidak bekerja 4. Definisi : Usia ibu dalam satuan tahun. Umur Ibu a. Alat ukur : Kuisioner c. Dengan kriteria : 1) < 20 tahun 2) 20-35 tahun 3) > 35 tahun Dikelompokkan menjadi umur risiko tinggi (1 dan 3) dan umur risiko rendah (2) b. Hasil ukur : 1) Umur risiko tinggi 2) Umur risiko rendah 5.4. dan 5) b. Dengan kriteria : 1) Sungai .

Hasil ukur : 1) Sumber air tidak terlindung 2) Sumber air terlindung 6. Skala data : Nominal d. Jenis tempat pembuangan tinja a. Alat ukur : Kuisioner c. b. Skala data : Nominal d.31 2) Sumur 3) PAM Dikelompokkan menjadi air tidak terlindung (1 dan 2) dan air terlindung (3). Hasil ukur : 1) Jamban tidak sehat 2) Jamban sehat . Definisi : Macam tempat buang air besar yang digunakan keluarga termasuk balita untuk membuang tinja. Alat ukur : Kuisioner c. b. Dengan kriteria : 1) Tidak mempunyai kakus (ke sungai) 2) Jamban tanpa tangki septic atau kakus di atas sungai 3) Jamban dengan tangki septic atau jamban leher angsa Dikelompokkan menjadi jamban tidak sehat (1 dan 2) dan jamban sehat (3).

sumber air minum. Alat ukur : Kuisioner c. dan jenis lantai rumah tentang faktor sosiodemografi dan faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian diare pada balita. Jenis lantai rumah a. jenis pekerjaan ibu. . Skala data : Nominal d. jenis tempat pembuangan tinja. Sumber Data a. Jenis Data Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yaitu umur ibu dan data kualitatif yang meliputi tingkat pendidikan ibu. b. Hasil ukur : 1) Lantai tidak kedap air 2) Lantai kedap air G. Pengumpulan Data 1. Definisi : Bahan utama pembuat lantai rumah. 2.32 7. Data Primer Data primer diperoleh melalui wawancara secara langsung terhadap responden yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Dengan kriteria : 1) Tanah 2) Semen 3) Porselin atau ubin Dikelompokkan menjadi lantai tidak kedap air (1) dan lantai kedap air (2 dan 3).

Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi kesehatan seperti dinas kesehatan Kabupaten Sragen. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi kesehatan yang bersangkutan yaitu hasil rekapan puskesmas. sehingga responden tinggal memberikan tanda-tanda yang ada pada petunjuk pengisian kuisioner. Cara Pengumpulan Data Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara secara langsung kepada responden dan pengamatan secara langsung pada jenis tempat pembuangan tinja. sumber air minum. 4. a.33 b. puskesmas Sambirejo serta kantor kepala Desa Blimbing yang meliputi data jumlah kasus. dan jenis lantai rumah di rumah responden. 3. gambaran umum lokasi penelitian dan data demografi. Uji validitas Sifat valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang digunakan mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari nilai yang . Instrumen Penelitian Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuisioner. dan data demografi yang didapat dari kantor kepala desa. Kuisioner adalah alat pengumpul data yang berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada responden dan sudah tersusun dengan baik. Kuisioner diuji dengan uji validitas dan reliabilitas.

Instrumen uji validitas menggunakan uji korelasi product moment person (Muhidin dan Abdurahman. Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan Variabel Y Besar rxy 0.998. .< 0.20 > 0. Suatu item dinyatakan valid jika nilai korelasi product moment yang dihasilkan lebih besar dari nilai r tabel 0.90 .40 .20 .70 > 0. 2007).40 > 0.34 diinginkan. selanjutnya uji validitasnya menggunakan uji korelasi product moment.< 0.444 maka kuisioner tersebut dikatakan valid. dianggap tidak ada) Hubungan rendah Hubungan sedang Hubungan kuat Hubungan sangat kuat Hasil uji kuisioner dilaksanakan diluar sampel penelitian.90 > 0.< 1. Hasil uji validitas menyatakan bahwa nilai rata-rata rxy = 0.70 .00 Keterangan Hubungan sangat lemah (diabaikan.00 .444 dengan jumlah sampel N = 20 dan signifikannya 5%. karena nilai rxy > 0.< 0. Rumus korelasi product moment person rxy = N XY N X2 ( X ) ( Y) ( Y )2 ( X )2 N Y 2 Dimana : rxy X dan Y N : korelasi antara variabel x dan y : Skor masing-masing skala : Banyaknya subjek Table 1.< 0.

Editing. 2007).35 b. Reliabilitas Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya dengan menunjukkan hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan alat ukur yang sama. Pengolahan Data Pengolahan data pada penelitian ini meliputi tahapan sebagai berikut : 1.722 (0.722 > 0. Hasil uji reliabilitas kuisioner menunjukkan r11 = 0. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Alfa Cronbach Rumus Alfa Cronbach : r11 = k k 1 1 2 i 2 t Keterangan : r11 k 2 i : reliabilitas instrumen : banyaknya bulir soal : jumlah varians bulir : Varians total Standar reliabilitas adalah jika nilai hitung r lebih besar (>) dari 2 t nilai tabel r (0.444). H. maka instrumen dinyatakan reliabel (Muhidin dan Abdurahman. yaitu mengkaji dan meneliti data yang telah terkumpul pada kuisioner.444). . sehingga kuisioner dinyatakan reliabel dan dapat dipergunakan sebagai alat pengumpulan data.

2001). I. Tabulating. Analisis bivariat Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square. 2. Analisis Data Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program SPSS 15. Entry.36 2. yaitu setelah data tersebut masuk kemudian direkap dan disusun dalam bentuk tabel agar dapat dibaca dengan mudah. pengamatan harus bersifat independen. yaitu memasukkan data dalam program komputer untuk dilakukan analisis lanjut. b. dan hanya dapat digunakan pada data deskrit atau data kontinu yang telah dikelompokkan menjadi kategori (Budiarto. jika nilai p ≤ α (0. 3. Coding. Analisis data meliputi : 1. Analisis univariat Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing variabel.05) maka hipotesis penelitian (Ha) diterima. 4. baik variabel bebas. Dasar pengambilan keputusan penerimaan hipotesis berdasarkan tingkat signifikan (nilai α) sebesar 95% : a.05) maka hipotesis penelitian (Ha) ditolak. Syarat uji chi square antara lain jumlah sampel harus cukup besar. variabel terikat maupun deskripsi karakteristik responden. yaitu memberikan kode pada data untuk memudahkan dalam memasukkan data ke program komputer. . jika nilai p > α (0.

Kecamatan Sambirejo. Kecamatan Sambirejo. dengan perincian jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2. b. Desa Blimbing memiliki luas wilayah 419. Keadaan demografi Desa Blimbing terdiri dari 1.000 Ha dan pekarangan atau perumahan 141.502 jiwa. Data mengenai tingkat pendidikan dan jenis mata pencaharaian penduduk Desa Blimbing dapat dilihat pada Tabel 2. ladang atau tegalan 20. d.1400 Ha.262 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 4. Adapun batas wilayah administrasi Desa Blimbing adalah sebagai berikut : a.036 Ha. Kecamatan Karangmalang.480 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 2. Keadaan geografi Desa Blimbing merupakan satu dari 208 desa atau kelurahan yang ada di wilayah Kabupaten Sragen dan termasuk satu dari sembilan desa di Kecamatan Sambirejo. Sebelah selatan : Desa Sambirejo. Sebelah utara : Desa Srimulyo. 37 . Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1.4470 Ha dengan penggunaan lahan untuk persawahan yaitu 261.982 jiwa. Kecamatan Gondang. Sebelah timur : Desa Dawung.BAB IV HASIL PENELITIAN A. 2. c. Sebelah barat : Desa Mojorejo.

Buruh Industri 179 8. Pegawai Negeri / ABRI 172 4. Tingkat pendidikan % 4. Jenis Mata Pencaharaian Penduduk di Desa Blimbing Tahun 2008 Jumlah (orang) 1. Hasil Analisis Univariat 1. Tamat SLTP/Sederajat 1.88 3.0 19.5 20. Umur responden Umur responden dibagi menjadi dua yaitu kategori umur risiko tinggi (< 20 tahun dan > 35 tahun) dan umur risiko rendah (20 – 35 . Petani 232 2. Tamat SD/Sederajat 1.723 Jumlah 4.48 74. Pengusaha / Industri 24 7. Tamat SLTA/Sederajat 953 6.45 0. dapat dilihat pada Tabel 3.38 Tabel 2. Pengangkutan / Transportasi 24 9. Pedagang 201 6. Tamat Perguruan Tinggi/Akademi 227 Jumlah 4.55 100 Sedangkan data mengenai mata pencaharian penduduk di Desa Blimbing.7 100 B.48 3. Pensiunan 34 5.59 0.03 0.1 4. Faktor sosiodemografi a.4 30. Buruh Bangunan 393 3.65 7. (2008) No.523 4. Belum Sekolah 214 2.982 Sumber : Data Demografi Kelurahan Blimbing.069 3. Mata Pencaharian % 4. Lain-lain 3.29 21.68 4. Belum Tamat SD 1.001 5.982 Sumber : Data Demografi Kelurahan Blimbing. Tabel 3. (2008) No. Tingkat Pendidikan Penduduk di Desa Blimbing Tahun 2008 Jumlah (orang) 1.

6 21.6%. c. b. Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan Karakteristik Umur Ibu Risiko rendah Risiko tinggi Jumlah Tingkat Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Jumlah Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Jumlah Frekuensi 48 22 70 41 19 10 70 24 46 70 Persen (%) 68. Jenis pekerjaan ibu Pekerjaan responden dibagi menjadi dua kategori yaitu bekerja dan tidak bekerja.7 100 .3 100 34.7 14. sedang (tamat SMP dan tamat SMA). Sebagian besar responden adalah berpendidikan rendah sebesar 58.4 100 58.7%. Tabel 4. sedangkan pada kategori tidak bekerja sebanyak 34.3 %. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Responden sebagian besar masuk pada kategori umur risiko rendah sebesar 68. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 4. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 4.39 tahun). dan tinggi (Perguruan Tinggi/Akademi).3 65.6%. Jenis pekerjaan yang terbanyak yaitu pada responden yang bekerja sebesar 65. Distribusi Responden Berdasarkan Umur.6 31. Tingkat pendidikan ibu Pendidikan responden dibagi tiga kategori yaitu rendah (tidak sekolah/ tidak tamat SD dan tamat SD).

40 2. Sumber air minum dibagi menjadi dua kategori yaitu sumber air minum terlindung dan sumber air minum tidak terlindung. .3%. c. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 5.4% dan jenis lantai kedap air 38.7%. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 5.3% dan sumber air terlindung sebanyak 45. Hasil penelitian mengenai jenis tempat pembuangan tinja diperoleh dari hasil kuisioner. Jenis lantai rumah Jenis lantai rumah dibagi menjadi dua yaitu lantai kedap air dan lantai tidak kedap air. Jenis lantai tidak kedap air sebanyak 61. b. Hasil penelitian mengenai jenis lantai rumah diperoleh dari hasil kuisioner.6%.7% dan jamban sehat sebanyak 64. Jenis tempat pembuangan tinja Jenis tempat pembuangan tinja dibagi menjadi dua yaitu jamban tidak sehat dan jamban sehat. Sumber air minum tidak terlindung sebanyak 54. Faktor Lingkungan a. Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 5. Sumber air minum Hasil penelitian mengenai sumber air minum diperoleh dari hasil kuisioner. Jenis jamban tidak sehat sebanyak 35.

Hasil selengkapnya disajikan pada Tabel 6.3 45. Hasil Analisis Bivariat Penelitian ini menguji hubungan faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak balita di .7 100 C. Dalam variabel ini responden yang diambil dibatasi pada ibu-ibu yang memiliki balita yang mengalami diare dalam kurun waktu 3 bulan (Juni – Agustus 2009). Distribusi Jawaban Responden tentang Kejadian Diare Karakteristik Kejadian diare Tidak diare Diare Jumlah Frekuensi 38 32 70 Persen (%) 54.41 Tabel 5. Tabel 6.3 100 61.4 38.6 100 3. Distribusi Jawaban Responden Menurut Faktor Lingkungan Karakteristik Sumber air minum Terlindung Tidak terlindung Jumlah Jenis tempat pembuangan tinja Jamban tidak sehat Jamban sehat Jumlah Jenis lantai rumah Lantai tidak kedap air Lantai kedap air Jumlah Frekuensi 23 47 70 25 45 70 43 27 70 Persen (%) 32. Kejadian diare Hasil penelitian mengenai kejadian diare diperoleh dari hasil kuisioner yang diberikan kepada responden.7 64.9 67.1 100 35.

Umur ibu Hubungan antara umur ibu dengan kejadian diare pada balita disajikan pada Tabel 7.05). Sragen. berikut ini. . Sragen.9) (54.7) (45.4) (32. 1.42 Desa Blimbing. Kecamatan Sambirejo. Tabel 7. Faktor sosiodemografi a.7) Umur ibu Risiko tinggi Risiko rendah Jumlah Berdasarkan Tabel 7 di atas dapat diketahui bahwa umur Ibu dengan risiko rendah balitanya lebih banyak mengalami diare dari pada balita dengan ibu yang umur risiko tinggi. artinya tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. dengan bantuan program SPSS diperoleh hasil sebagi berikut. b. Hasil uji statistik chi square menunjukkan bahwa p = 0. Tingkat pendidikan Hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada balita.3) 7 25 32 (10) (35. Analisis data secara statistik dilakukan dengan uji chi square. disajikan pada Tabel 8 berikut ini. Kecamatan Sambirejo. Hubungan antara Umur Ibu dengan Kejadian Diare Kejadian diare Tidak diare Diare Frek Persen Frek Persen (Balita) (%) (Balita) (%) 15 23 38 (21.114 (p > 0.

05) artinya tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Hubungan antara Jenis Pekerjaan Ibu dengan Kejadian Diare Kejadian diare Tidak diare Diare Frek Persen Frek Persen (Balita) (%) (Balita) (%) 14 (20) 10 (14.3 32 45. Hasil uji statistik chi square menunjukkan bahwa p = 0.9) Tinggi Jumlah 38 54.3) 22 32 (31.7) Rendah 7 (10) 12 (17. Hubungan antara Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Diare Kejadian diare Tidak diare Diare Pendidikan Ibu Frek Persen Frek Persen (Balita) (%) (Balita) (%) 23 (32.7 Berdasarkan Tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa Ibu dengan tingkat pendidikan rendah balitanya lebih banyak terkena diare dari pada balita dengan Ibu yang berpendidikan sedang dan berpendidikan tinggi.43 Tabel 8. Sragen.4) 2 (2. c.3) 24 38 (34.1) Sedang 8 (11.4) (45. (p> 0. Kecamatan Sambirejo.080.7) Pekerjaan Ibu Tidak bekerja Berkerja Jumlah .9) 18 (25. Tabel 9. Jenis pekerjaan Ibu Hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada balita disajikan pada Tabel 9.4) (54.

623. Hubungan Sumber Air Minum dengan Kejadian Diare Kejadian diare Tidak diare Diare Frek Persen Frek Persen (Balita) (%) (Balita) (%) 18 (38. Sumber air minum Hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada balita. 2.001.05) artinya terdapat hubungan antara sumber air minum dengan .4) 20 38 (28.6) (54.05) artinya tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing.3) 29 (41.7) Sumber air minum Tidak Terlindung Terlindung Jumlah Berdasarkan Tabel 10 di atas dapat diketahui bahwa rumah dengan sumber air minum tidak terlindung lebih banyak balita yang mengalami diare dari pada rumah yang jenis sumber air minumnya terlindung.3) 3 32 (4. Faktor Lingkungan a. Kecamatan Sambirejo. Tabel 10. disajikan pada Tabel 10 berikut ini. (p> 0. Hasil uji statistik chi square menunjukkan bahwa p = 0.3) (45.44 Berdasarkan tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa balita yang lebih banyak mengalami diare pada ibu yang bekerja daripada ibu yang tidak bekerja. (p < 0. Sragen. Hasil uji statistik chi square menunjukkan bahwa p = 0.

Hasil uji statistik chi square menunjukkan bahwa p = 0. c.05) artinya terdapat hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. disajikan pada Tabel 12 berikut ini.6) (17. Hubungan Jenis Tempat Pembuangan Tinja dengan Kejadian Diare Jenis tempat pembuangan tinja Kejadian diare Tidak diare Diare Frek Persen Frek Persen (Balita) (%) (Balita) (%) 5 33 38 (7.45 kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing.1) (54. Kecamatan Sambirejo.001. Jenis tempat pembuangan tinja Hubungan antara jenis tempat pembungan tinja dengan kejadian diare pada balita.1) (45.1) (47. b. Kecamatan Sambirejo. Jenis lantai rumah Hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita.7) Jamban tidak sehat Jamban sehat Jumlah Berdasarkan Tabel 11 di atas dapat diketahui bahwa jenis jamban tidak sehat balitanya lebih banyak terkena diare daripada jenis jamban yang sehat. Tabel 11. disajikan pada Tabel 11 berikut ini. Sragen. (p < 0. . Sragen.3) 20 12 32 (28.

734 18.241 14.46 Tabel 12.1) 12 38 (17. Ringkasan Hasil Uji Bivariat Kejadian diare No. 2.3) (45. Hubungan Jenis Lantai Rumah dengan Kejadian Diare Kejadian diare Jenis lantai rumah Kedap air Tidak kedap air Jumlah Tidak diare Frek Persen (Balita) (%) 26 (37.259 Keputusan Ho diterima Ho diterima Ho diterima Ho ditolak Ho ditolak Ho ditolak 1.080 0. D.7) Berdasarkan Tabel 12 di atas dapat diketahui bahwa balita yang terkena diare lebih banyak pada rumah dengan jenis lantai tidak kedap air dari pada rumah dengan jenis lantai yang kedap air.001 0. Kecamatan Sambirejo. (p < 0. 5. Ringkasan Hasil Uji Bivariat Ringkasan hasil uji bivariat faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi dengan kejadian diare pada balita. Hasil uji statistik chi square menunjukkan bahwa p = 0.05) artinya terdapat hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing.496 5.001 0.001.114 0. 4.048 0. disajikan pada Tabel 13.4) (44. Umur ibu Tingkat pendidikan ibu Jenis pekerjaan ibu Sumber air minum Jenis tempat pembuangan tinja Jenis lantai rumah 0.421 31. Tabel 13.623 0.1) (54. Variabel Nilai p 2 2. Sragen.3) Diare Frek (Balita) 1 31 32 Persen (%) (1. 6.001 . 3.

47 .

6%. 2005). mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik. Kecamatan Sambirejo. Menurut Widyastuti (2005). Pendidikan masyarakat penting dalam yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu mengenai pentingnya kebersihan perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular. Namun pada hasil pengujian pada penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita dengan nilai p = 0. Menurut Notoatmodjo (2003). tingkat pendidikan seseorang dapat meningkatkan pengetahuannya tentang kesehatan. tentang 47 . Pendidikan merupakan hal yang mempengaruhi pikiran seseorang. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Sander (2005). Pendidikan akan memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilaku positif yang meningkat. Sragen. Salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang adalah tingkat pendidikan.08. Kategori pendidikan rendah yaitu tidak sekolah atau tidak tamat SD dan tamat SD. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan responden masih banyak yang berpendidikan rendah yaitu sebesar 58.BAB V PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan antara faktor lingkungan dan faktor sosiodemografi dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. yang salah satunya diare (Sander. orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif.

Sragen dengan nilai p = 0. Kecamatan Sambirejo. menjadikan kegiatan untuk mengasuh dan merawat balita terbatas. et al. Hal ini mungkin disebabkan di Desa Blimbing walaupun ibu-ibu banyak yang bekerja tetapi pekerjaan tersebut adalah .48 hubungan faktor sosio budaya dengan kejadian diare di Kecamatan Sidoarjo. juga menunjukkan faktor status ibu bekerja atau tidak bekerja tidak memiliki hubungan dengan kejadian diare pada balita.7%. Dengan adanya aktivitas di luar rumah. sehingga pemahaman terhadap diare dan penanganannya pun juga berbeda.001.05. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Pitono. dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil pengujian menunjukkan tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada balita di Desa Blimbing. Pada hasil penelitian Mansyah (2005). Hal ini mungkin karena karakteristik responden disuatu daerah dengan daerah lain berbeda-beda.623. responden kemungkinan dibantu oleh keluarganya. yang menunjukkan tidak ada hubungan status pekerjaan ibu dengan lamanya diare yang dialami balita dengan nilai p > 0. Pola asuh yang dilakukan kepada balita selain dari ibu (responden) juga dari keluarganya sehingga kemungkinan terjadi perubahan pola pengasuhan. yang menunjukkan ada pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap kejadian diare pada balita dengan nilai p = 0. Tetapi hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Yulisa (2008). (2006). Hal tersebut memberi arti bahwa tingkat pendidikan seseorang belum menjamin dimilikinya pengetahuan tentang diare dan pencegahannya. Jenis pekerjaan responden sebagian besar bekerja yaitu sebesar 65. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian diare.

Umur merupakan salah satu variabel yang dipakai untuk memprediksi perbedaan dalam hal penyakit. 1. karena jenis pekerjaan tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama untuk meninggalkan balita dirumah. Umur responden terbanyak tergolong risiko rendah yaitu sebesar 68.7%).4%). Sehingga walaupun bekerja ibu-ibu juga masih memiliki waktu untuk mengasuh balita mereka. Hubungan antara Faktor Lingkungan dengan Kejadian Diare Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor lingkungan yang meliputi sumber air minum.05. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Irianto (1996). Hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang menggunakan sumber air minum yang tidak terlindung yang tidak terkena diare sebanyak 18 responden (25. sedangkan responden yang menggunakan . Kecamatan Sambirejo. Jika dilihat dari hubungannya dengan kejadian diare pada anak balita. Kategori umur risiko rendah adalah umur 20 . yang menunjukkan umur ibu tidak berhubungan dengan kejadian diare pada balita dengan nilai p > 0. 2005).49 sebagai petani dan pedagang. merupakan usia subur seorang ibu. umur ibu tidak berhubungan dengan kejadian diare.114. Hal ini dapat dimengerti karena umur 20 – 35 tahun. dengan nilai p = 0.6%.35 tahun. dapat dilihat pada tabel 4. kondisi dan peristiwa kesehatan (Widyastuti. A. jenis tempat pembuangan tinja dan jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita di Desa Blimbing. sementara yang terkena diare sebanyak 29 responden (41. Sragen.

Sumber air minum merupakan salah satu sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian diare.50 sumber air minum terlindung yang tidak terkena diare sebanyak 20 responden (28. Sumber air minum mempunyai peranan dalam penyebaran beberapa penyakit menular. Kecamatan Sambirejo. Kecamatan Sambirejo.6%). 2000). Dari hasil uji bivariat didapatkan nilai p = 0. sebagai sumber air utama keluarga. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut. Kondisi yang berlangsung secara lama dan berulang-ulang mengakibatkan kejadian diare pada balita dapat dikatakan tinggi. Air yang diperoleh warga dijadikan sebagai air minum.01). Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Sragen. sehingga ada hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada balita di Desa Blimbing. sebagai sumber air utama keluarga dan sebagian masih menggunakan sumber air minum tidak terlindung yaitu sumur. seperti sumur masih banyak digunakan sebagai sumber air utama bagi masyarakat di Desa Blimbing. cairan atau benda yang tercemar dengan tinja (Depkes RI.01 (p < 0. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. . Sragen. dan mencuci.3%). sementara yang terkena diare sebanyak 3 responden (4. Sumber air tidak terlindung. sebagian masyarakat telah menggunakan sarana PAM yaitu sumber air minum yang terlindung. Berdasarkan hasil kuisioner.

(OR) = 3. tetapi air tersebut masih dapat tercemar oleh tangan ibu yang menyentuh air saat . Meskipun air minum tersebut ditampung di tempat penampungan air dan tertutup. untuk keperluan minum keluarga. dan hasil penelitian Yulisa (2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber air minum yang digunakan mempengaruhi terjadinya diare akut dengan nilai p < 0. ibu terlebih dahulu memasak air minum sampai mendidih. Jarak sumur dengan tempat pembuangan tinja lebih baik 10 meter atau lebih. sumber air minum tidak terlindung seperti sumur. serta sumber-sumber pengotor lainnya. tentang faktor-faktor risiko kejadian diare akut pada anak 0-35 bulan (Batita) di Kabupaten Bantul. jarak sumur dengan lubang kakus.10. tetapi ada sebagian ibu yang langsung mengambilnya dari kran air. Untuk keperluan minum dan memasak sebagian ibu-ibu menampung air tersebut di tempat penampungan air. Menurut Sukarni (2002). jarak sumur dengan lubang galian sampah. harus memenuhi syarat kesehatan sebagai air bagi rumah tangga.0001 dan OR = 17. yang menunjukkan bahwa ada pengaruh sumber air minum dengan kejadian diare pada balita dengan nilai p = 0. saluran pembuangan air limbah. Sumur yang baik harus memenuhi syarat kesehatan antara lain. Air minum yang telah direbus sampai mendidih. akan mematikan mikroorganisme yang ada dalam air tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. maka air harus dilindungi dari pencemaran.7.51 Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Zubir (2006). sehingga tidak menimbulkan penyakit.05 .

Sragen. tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya. sehingga terdapat hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen masih banyak yang belum memiliki jamban sehat. Dari hasil uji bivariat didapatkan nilai p = 0. 2. Jenis tempat pembuangan tinja yang tidak sehat dilihat dari yang terkena diare sebanyak 20 responden (28. jenis tempat pembuangan tinja juga merupakan sarana sanitasi yang berkaitan dengan kejadian diare.6%). Kecamatan Sambirejo. Kecamatan Sambirejo. dan kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya. Hubungan antara jenis tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare Selain sumber air minum. dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya diare pada balita. seperti ditampung pada tempat penampungan air (Depkes. Jenis tempat pembuangan tinja yang tidak saniter akan memperpendek rantai penularan penyakit diare.52 mengambil air. Menggunakan air minum yang tercemar. Namun pada kenyataanya masyarakat di Desa Blimbing.05). Dengan demikian dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha diterima. Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat penyimpanan di rumah. 2005). syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya. tidak mengotori air permukaan di sekitarnya. (p < 0.001. Kondisi ini . Menurut Notoatmodjo (2003).

55 kali lipat dibandingkan dengan keluarga yang membuang tinjanya secara saniter. yang berfungsi sebagai sumbat . Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tempat pembuangan tinja mempengaruhi terjadinya diare akut dengan nilai p<0. (OR) = 1. Jenis jamban tidak sehat yaitu jenis jamban tanpa tangki septik atau jamban cemplung dan rumah yang tidak memiliki jamban sehingga bila buang air besar mereka pergi ke sungai. Sedangkan jenis jamban sehat yaitu jamban yang memiliki tangki septik atau lebih dikenal dengan jamban leher angsa. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Zubir (2006) tentang faktor-faktor risiko kejadian diare akut pada anak 0-35 bulan (Batita) di Kabupaten Bantul. Menurut Entjang (2000). Kecamatan Sambirejo. Sragen. Hasil penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Wibowo. Jenis tempat pembuangan tinja tersebut termasuk jenis tempat pembuangan tinja yang tidak saniter. jamban leher angsa (angsa latrine) merupakan jenis jamban yang memenuhi syarat kesehatan. Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air.24. Jenis tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Pada penelitian ini jenis tempat pembuangan tinja dibedakan menjadi jenis jamban sehat dan jenis jamban tidak sehat. bahwa tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi akan meningkatkan risiko terjadinya diare berdarah pada anak balita sebesar 2. akan berdampak pada banyaknya lalat.05. et al (2004).53 memperparah terjadinya diare pada anak balita di Desa Blimbing.

memiliki keuntungan antara lain aman untuk anak-anak dan dapat dibuat di dalam rumah karena tidak menimbulkan bau. ke kebun atau pekarangan. Padahal menurut Depkes (2000). sehingga apabila mereka buang air besar mereka menumpang di jamban tetangga. tinja balita juga berbahaya karena mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. buang air besar di sungai dekat rumah atau buang air besar di jamban cemplung yang ada di kebun dekat rumah. lalat senang menempatkan telurnya pada kotoran manusia yang terbuka. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden diketahui masih ada sebagian masyarakat yang belum memiliki jamban pribadi. Lalat berperan dalam penularan penyakit melalui tinja (faecal borne disease). kemudian lalat tersebut hinggap di kotoran manusia dan hinggap pada makanan manusia (Soeparman dan Suparmin. Tinja balita juga dapat menularkan penyakit pada balita itu sendiri dan juga pada orang tuanya.54 sehingga bau dari jamban tidak tercium dan mencegah masuknya lalat ke dalam lubang. Bila dilihat dari perilaku ibu. . Selain itu tinja binatang dapat pula menyebabkan infeksi pada manusia. mereka membuang tinja balita ke sungai. Jamban leher angsa menurut Sukarni (2002). masih ada sebagian ibu yang tidak membuang tinja balita dengan benar. Mereka beranggapan bahwa tinja balita tidak berbahaya. 2003). Tinja yang dibuang di tempat terbuka dapat digunakan oleh lalat untuk bertelur dan berkembang biak.

01). Sragen.0001. yang menunjukkan ada pengaruh jenis lantai rumah terhadap kejadian diare pada balita dengan nilai p = 0. Kecamatan Sambirejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang jenis lantainya tidak kedap air yang terkena diare sebanyak 31 responden (44. dan jenis lantai rumah yang kedap air yaitu jenis lantai yang terbuat dari semen dan ubin atau porselen. Menurut Notoatmodjo (2003). Dengan demikian Ho ditolak dan Ha diterima.005 dan OR = 0.55 3.001 (p < 0. Dengan banyaknya responden yang memiliki lantai rumah yang masih tidak kedap air sangat memungkinkan lantai menjadi sarang kuman. Lantai tidak kedap air yang berupa lantai tanah akan menyebabkan ruangan kotor dan menjadi sarang mikroorganisme serta mudah menyerap air yang mungkin air tersebut juga mengandung mikroorganisme. debu yang dapat menjadi pencetus terjadinya diare pada balita. Jenis lantai tidak kedap air yaitu jenis lantai rumah yang masih dari tanah. syarat rumah yang sehat memiliki jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan. Hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare Berdasarkan hasil uji bivariat didapatkan nilai p = 0.3%). Aktivitas balita responden yang bermain di lantai rumah dapat menyebabkan kontak antara lantai rumah yang tidak . Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Yulisa (2008). sehingga ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita di Desa Blimbing.

56 kedap air dengan tubuh balita. sumber air minum yang tidak memenuhi syarat fisik berdasarkan kesehatan dapat menyebabkan terjadinya diare. Apabila jarak pembuangan air limbah < 10 meter dan tidak terbuat dari bahan yang kedap air maka air limbah tersebut akan meresap kembali menembus kedalam tanah. B. 2. Keadaan ini memunculkan berbagai kuman penyakit yang menempel pada tubuh balita. Pada penelitian ini kualitas fisik sumber air minum tidak diteliti. Pada umumnya bila penghasilan tinggi sarana atau fasilitas jamban keluarga tersedia dan memadai. . Sumber pembuangan air limbah (SPAL) juga tidak diteliti dalam penelitian ini. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Pada penelitian ini faktor sosiodemografi yang tidak diteliti adalah tingkat pendapatan keluarga. 3.

dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Sragen. Tidak ada hubungan antara jenis pekerjaan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. 2. Kecamatan Sambirejo.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kecamatan Sambirejo. Bagi instansi terkait (Puskesmas Sambirejo) Hendaknya petugas kesehatan melakukan penyuluhan untuk memotivasi masyarakat dalam pengadaan dan penggunaan sumber air minum 57 . B. Kecamatan Sambirejo. Sragen. 4. Saran 1. Sragen. Kecamatan Sambirejo. 3. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan. 5. Tidak ada hubungan antara umur ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen. Sragen. Ada hubungan antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Ada hubungan antara sumber air minum dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Kecamatan Sambirejo. Ada hubungan antara tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare pada anak balita di Desa Blimbing. Sragen. 6. Kecamatan Sambirejo.

terutama melakukan tindakan pencegahan terjadinya diare seperti mencuci tangan sebelum makan dengan sabun. pengunaan lantai yang kedap air dan pemakaian jamban yang sehat. Penelitian selanjutnya dapat menambah jumlah sampel yang lebih banyak dan menggunakan metode penelitian yang berbeda. pemakaian lantai yang tidak kedap air dan jamban tidak sehat. faktor perilaku dan status gizi balita. 58 . Diharapkan lebih meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Bagi masyarakat a. terutama bagi masyarakat yang belum memiliki jamban. serta tidak membiasakan buang air besar di sembarang tempat. c. Penelitian ini dapat ditindak lanjuti dengan menambah faktor-faktor lain di luar penelitian ini seperti faktor sosial ekonomi. Mengupayakan jamban yang memenuhi syarat sanitasi antara lain dengan model leher angsa dan memelihara kebersihan tempat pembuangan tinja. b.yang terlindungi. 2. Mengupayakan pembuatan WC umum yang dapat dipakai secara bersamasama. b. 3. Bagi peneliti lain a. Upaya penyuluhan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas hendaknya dilakukan secara terus menerus sampai masyarakat betul-betul mamahami akibat dari pemakaian sumber air yang tidak terlindung.

DAFTAR PUSTAKA Budiarto. Lembaga Demografi FE UI. Soesanto. A. Dinkes Jawa Tengah. Supraptini. Mansyah. Universitas Diponegoro. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2001. E.. J. Jakarta : Ditjen PPM dan PL. I. 1996.. 2005. Jakarta : Lembaga Penerbit FE UI. R. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.. B.. 2007. 2000. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Irianti. 2007. Sragen : DKK Sragen. DKK Sragen... Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. cetakan ke XIII. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare Balita di Desa Sigayam Wilayah Kerja Puskesmas Wonotunggal Kabupaten Batang. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. dan Anwar. Vol 24 (2 dan 3) 1996 : 77-96.. Jakarta : EGC Depkes. S. Dasar-Dasar Demografi.. Jakarta : Ditjen PPM dan PL __________ 2005. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Anak Balita (Analisis Lanjut Data SDKI 1994). I. Jakarta : Ditjen PPM dan PL. 2000. Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat. (Skirpsi) Fakultas Kesehatan Masyarakat. Entjang. Jawa Tengah : Dinkes Jawa Tengah. Irianto. S. 2000. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen 2007. Profil Dinas Kesehatan Jawa Tengah 2007. . __________ 2002. Buletin Penelitian Kesehatan. Inswiasri.

dan Jalur dalam Penelitian. Vol.. 2008... Pitono. Demografi Umum. maret 2006 : 7-14. S. A. 1989. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Dasuki.. D. Soemirat. Sambirejo Sander. M.. Juli-Desember 2005 : 163-193. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2005. 2006.. Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2003. Muhidin. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. M. B. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. A. A. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. 22. 2002.2. ________ 2006. Jakarta : PUSDIKNAKES. J. Notoatmodjo.. 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. A. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Press.. Sukarni. B. Vol 2. J. Soebagyo. Regresi. 2008.. I. 2007. Penatalaksanaan Diare Di Rumah Pada Balita. Bandung : Kanisius . Bandung : Pustaka Setia. D. Pengawasan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat.Mantra. Diare Akut pada Anak. 2000. S. Murti. Analisis Korelasi. cetakan kelima. Ismail. Jakarta : Pustaka Pelajar.. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat.. Puskesmas Sambirejo. Kesehatan Lingkungan.. 2002. Sanropie. Profil Puskesmas Sambirejo 2008. Hubungan Faktor Sosio Budaya dengan Kejadian Diare di Desa Candinegoro Kecamatan Wonoayu Sidoarjo. Jurnal Medika. No. dan Abdurahman.1. No. M. Jakarta : Rineka Cipta.

Yulisa. 2002. S.. Soenarto. 20. edisi 2. Vol 19. Mengatasi Diare dan Keracunan pada Balita. Zubir. D.. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Anak Balita (Studi pada Masyarakat Etnis Dayak Kelurahan Kasongan Baru Kecamatan Kentingan Hilir Kabupaten Kentingan Kalimantan Tengah). 2008.. Jakarta : Kawan Pustaka. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Berdarah pada Balita di Kabupaten Sleman. Widyastuti.. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat. 2006.. T. Epidemiologi Suatu Pengantar. .1. No. 2005. Widjaja. Universitas Diponegoro. Vol. (Skripsi) Fakultas Kesehatan Masyarakat. (ed). maret 2004 : 41-48. dan Wibowo. Sains Kesehatan. Jakarta : EGC. Juli 2006. M. 2004.. dan Pramono. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Diare Akut pada Anak 0-35 Bulan (BATITA) di Kabupaten Bantul. ISSN 1411-6197 : 319-332.. P. Juffrie.Wibowo. No 3. T.

Yang bertanda tangan dibawah ini. Surakarta.050.008 Mahasiswa S1 dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saya : Nama Umur Alamat : : : Dengan ini menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang dilakukan oleh Nama : Anjar Purwidiana Wulandari.Lampiran 1 PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN DAN FAKTOR SOSIODEMOGRAFI DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA BLIMBING KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN TAHUN 2009 PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN TENTANG : Hubungan antara Faktor Lingkungan dan Faktor Sosiodemografi dengan Kejadian Diare pada Balita Di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen Tahun 2009. NIM : J.410. ………………2009 Responden (____________________) .

Umur Ibu 4. Saya sedang melaksanakan penelitian untuk skripsi saya tentang kesehatan. PNS : : : : : : : . Nama Ibu 3. No Responden 2. Apakah pekerjaan Ibu ? a. Tamat SMP d. Faktor Sosiodemografi 1. Tamat SMA e. Saya ucapkan terima kasih atas partisipasi ibu dalam pelaksanaan penelitian ini. Pedagang/Wiraswasta e. Saya ingin berbicang-bincang dengan Ibu tentang kesehatan khususnya tentang diare yang terjadi pada balita. Petani c.Lampiran 2 KUISIONER Penjelasan sebelum wawancara Selamat pagi/siang/sore. Alamat A. Perguruan Tinggi/Akademi 2. Tidak Sekolah/tidak tamat SD b. Identitas Responden 1. Ibu Rumah Tangga b. BB / TB Balita 7. Umur Balita 6. Saya mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan dari UMS. Apakah pendidikan terakhir Ibu ? a. Tamat SD c. Nama Balita 5. Buruh d.

Apakah anak balita Ibu menderita diare dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ? a. Diobati sendiri c. Untuk keperluan memasak Ibu menggunakan air yang berasal dari mana ? a. Apa yang ibu lakukan bila balita anda terkena diare ? a. Ya b. Tidak 2. Dibiarkan saja b. Apakah Ibu menampung air yang digunakan untuk keperluan minum dan memasak di wadah tertutup ? a. Sungai b. Diare 1. Sumber Air Minum 1. Sumur c. Apakah Ibu menguras tempat penampungan air yang digunakan untuk keperluan minum dan memasak ? a.B. Ya b. Lebih dari seminggu sekali b. Sumur c. Dari mana sumber air minum yang digunakan keluarga sehari-hari ? a. Sungai b. Ya b. berapa kali Ibu menguras tempat penampungan air yang digunakan untuk keperluan minum dan memasak ? a. Tidak 5. Tidak 4. Bila ya. Untuk keperluan minum apakah Ibu memasak air sampai mendidih ? a. Tidak 6. 1-2 kali dalam seminggu . PAM 3. Di bawa ke Puskesmas/Dokter/Bidan C. Ya b. PAM 2.

Ya b. Apakah kondisi jamban selalu bersih dan bebas vektor (lalat) ? . Pribadi b. Tidak 5.7. Apakah di jamban selalu tersedia air yang cukup ? a. Jenis Tempat Pembuangan Tinja 1. Jamban dengan tangki septic / leher angsa 3. Ya b. Tidak 8. Lain-lain ________________________________ (Sebutkan) 7. Lain-lain ___________________________(Sebutkan) 4. Jamban tanpa tangki septic / jamban cemplung b. Bila tidak. Ya b. Tetangga D. ≥ 10 m 8. Sungai/kali b. Dari manakah Ibu memperoleh sumber air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari ? a. Sungai/kali b. Apakah Ibu membuang tinja balita ke jamban ? a. 6. Bila tidak. Apakah di rumah Ibu mempunyai jamban keluarga (kakus) ? a. Tidak 2. Bila ya. < 10 m b. apa jenis jamban di rumah Ibu ? a. Ya b. ke mana Ibu membuang tinja balita ? a. Berapa jarak antara sumur dengan tempat pembuangan tinja ? a. ke mana Ibu dan keluarga buang air besar (BAB) ? a. Apakah Ibu dan keluarga selalu menggunakan jamban keluarga untuk buang air besar (BAB) ? a. Tidak b. Kebun/pekarangan c. Kebun/pekarangan c.

Lembap. Semen c. Apakah balita Ibu sering bermain di lantai ? a. kotor dan sulit dibersihkan b. Tanah b. ≥ 2 kali . Tidak 3. Tidak E. Berapa kali Ibu membersihkan lantai rumah dalam sehari ? a.a. Ya b. Jenis Lantai Rumah 1. Porselin/keramik 2. rapat dan mudah dibersihkan 4. Ya b. Kering. Bagaimana kondisi lantai rumah Ibu ? a. < 2 kali b. Apa jenis bahan utama lantai rumah Ibu ? a.

7 100.3 100.1 32.0 Cumulative Percent 31.6 27.0 Valid Tidak terlindung Terlindung Total Frequency 47 23 70 Percent 67.4 100.0 Valid Tidak bekerja Bekerja Total Frequency 24 46 70 Percent 34.Lampiran 4 Frequencies Pendidikan Cumulative Percent 58.0 Umur Ibu Frequency Valid Risiko Tinggi Risiko Rendah Total 22 48 70 Percent 31.0 Sumber air Cumulative Percent 67.7 100.6 100.9 100.3 65.0 .0 Pekerjaan Cumulative Percent 34.3 100.1 14.1 14.0 Valid Rendah Sedang Tinggi Total Frequency 41 19 10 70 Percent 58.6 27.9 100.0 Valid Percent 34.6 85.1 100.7 100.3 65.4 68.1 32.0 Valid Percent 67.4 68.3 100.0 Valid Percent 58.0 Valid Percent 31.6 100.

0 Valid Tidak sehat Sehat Total Frequency 25 45 70 Percent 35.7 64.0 Valid Tidak kedap air Kedap air Total Frequency 43 27 70 Percent 61.3 100.6 100.3 100.0 Kejadian diare Cumulative Percent 54.0 Valid Tidak kejadian Kejadian Total Frequency 38 32 70 Percent 54.3 100.7 100.0 Jenis lantai Cumulative Percent 61.3 45.3 45.4 100.0 Valid Percent 54.Jenis tempat pembuangan tinja Cumulative Percent 35.0 Valid Percent 35.4 38.0 .4 38.7 64.0 Valid Percent 61.6 100.7 100.7 100.

186 70 Approx.3% 45.4% 31.7% Total 22 100.0% 100.6% 68.496b 1.093 a.0% 31.117 .0% 68.186 .5% 78.06.0% Umur Ibu * Kejadian diare Valid N Percent 70 100. .4% 48 100. The minimum expected count is 10.9% 52. .461 70 1 .545 df 1 1 1 .7% 38 32 54. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.9% 21. (2-sided) Exact Sig. Symmetric Meas ures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .0% Umur Ibu * Kejadian diare Crosstabulation Kejadian diare Tidak kejadian Kejadian 15 7 68. Not assuming the null hypothesis. b. 0 cells (.0% Total N 70 Percent 100.2% 31.4% 10.0% Umur Ibu Risiko tinggi Risiko rendah Total Count % within Umur Ibu % within Kejadian diare % of Total Count % within Umur Ibu % within Kejadian diare % of Total Count % within Umur Ibu % within Kejadian diare % of Total Chi-Square Tests Asymp.0% 54.8% 39.111 Exact Sig.6% 70 100. (2-sided) .Umur ibu – kejadian diare Crosstabs Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 . Sig.0% 23 25 47.0% 100.9% 35.114 a.7% 100. Sig.130 2.1% 32.5% 21.1% 60. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 2.0% 100.747 2. Computed only for a 2x2 table b.3% 45.0%) have expected count less than 5.114 .

1 cells (16. b.0% Total N 70 Percent 100.0% Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Total Count % within Pendidikan % within Kejadian diare % of Total Count % within Pendidikan % within Kejadian diare % of Total Count % within Pendidikan % within Kejadian diare % of Total Count % within Pendidikan % within Kejadian diare % of Total Chi-Square Tests Asymp.1% 27.0% N Pendidikan * Kejadian diare Valid Percent 70 100.7%) have expected count less than 5.4% 2.Pendidikan – kejadian diare Crosstabs Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 .048a 5.3% 45.0% 100. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.0% 58.3% 70 100.6% 19 100.551 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 5.0% 14.5% 10.356 70 df 2 2 1 a.3% 32.0% 17.3% 11.0% 27.7% 100. The minimum expected count is 4. Sig.0% 100.0% 54.080 .6% 58. Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .9% 25.9% 60. (2-sided) . .1% 10 100.5% 56.8% 63.7% 7 12 36.0% 20.1% 43.4% 37.9% 38 32 54. Sig.071 .1% 8 2 80.039 70 Approx.0% 21.57.947 a.3% 45.0% Pendidikan * Kejadian diare Crosstabulation Kejadian diare Tidak kejadian Kejadian 23 18 56.0% 100.283 . . Not assuming the null hypothesis.7% Total 41 100.1% 6.2% 18.3% 14.

3% 45. Sig.2% 68.Pekerjaan – kejadian diare Crosstabs Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 . Sig.0% 34.0% Pekerjaan Tidak bekerja Bekerja Total Count % within Pekerjaan % within Kejadian diare % of Total Count % within Pekerjaan % within Kejadian diare % of Total Count % within Pekerjaan % within Kejadian diare % of Total Chi-Square Tests Asymp.812 . Not assuming the null hypothesis.3% 31. 0 cells (.7% 36.623 a.0% 100.3% 20.623 .7% 65.8% 63.7% Total 24 100. (2-sided) .238 70 1 .0% 100.8% 31. The minimum expected count is e 10.057 . (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value .0% N Pekerjaan * Kejadian diare Valid Percent 70 100. Computed only for a 2x2 table b.3% 34.97.7% 70 100.0% 100. (2-sided) Exact Sig. .0%) hav expected count less than 5.3% 41.3% 45.0% 65.3% 24 22 52.2% 47.242 df 1 1 1 .626 .8% 34. b.623 Exact Sig. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.3% 46 100.801 . .0% Pekerjaan * Kejadian diare Crosstabulation Kejadian diare Tidak kejadian Kejadian 14 10 58.4% 38 32 54.0% 14.059 70 Approx.0% Total N 70 Percent 100.7% 100. Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .0% 54.407 a.241b .

417 70 Approx. (2-sided) Exact Sig.3% 38 32 54.000 . Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.734b 12.6% 4.0% Sumber air Tidak terlindung Terlindung Total Count % within Sumber air % within Kejadian diare % of Total Count % within Sumber air % within Kejadian diare % of Total Count % within Sumber air % within Kejadian diare % of Total Chi-Square Tes ts Asymp.1% 67.157 df 1 1 1 . Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value . (2-sided) . Not assuming the null hypothesis.0% 54. The minimum expected count is e 10.7% 100.3% 45.000 14.6% 25.9% 70 100. Sig. b. 0 cells (.0% 32.3% 45.0% 52.0% Total N 70 Percent 100. Computed only for a 2x2 table b.0% 67.0% 100.0% 13.4% 28.51.0% 100.000 a.1% 23 100.7% 47.Sumber air – kejadian diare Crosstabs Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 .000 . (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 14.3% 61.0% N Sumber air * Kejadian diare Valid Percent 70 100.000 a.7% 41. .000 .838 16.0% 100.000 Exact Sig.4% 20 3 87.4% 90.0% Sumber air * Kejadian diare Crosstabulation Kejadian diare Tidak kejadian Kejadian 18 29 38.7% Total 47 100.0%) hav expected count less than 5. . Sig.9% 32.523 70 1 .6% 9.

0 cells (.6% 12 26.Jenis tempat pembuangan tinja– kejadian diare Crosstabs Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 .0% 13.000 Exact Sig.7% 35.3% 70 100.0% Jenis tempat pembuangan tinja Tidak sehat Sehat Total Count % within Jenis tempat pembuangan tinja % within Kejadian diare % of Total Count % within Jenis tempat pembuangan tinja % within Kejadian diare % of Total Count % within Jenis tempat pembuangan tinja % within Kejadian diare % of Total Chi-Square Tes ts Asymp. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.1% 32 45.000 a. Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .000 a.0% 64.43. Computed only for a 2x2 table b.313 df 1 1 1 .5% 17.335 19. b.7% 37.3% 64.158 70 1 . The minimum expected count is e 11.0%) hav expected count less than 5.421b 16. .000 . Sig.1% 38 54.7% Total 25 100.7% 45 100. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 18. (2-sided) Exact Sig.0% N Jenis tempat pembuangan tinja * Kejadian diare Valid Percent 70 100.0% 100.5% 28.000 .0% 100.456 70 Approx.0% 54.0% Total N 70 Percent 100.000 . Not assuming the null hypothesis.2% 7. (2-sided) . Sig.0% 62. .7% 100.3% 80.1% 33 73.0% Jenis tempat pembuangan tinja * Kejadian diare Crosstabulation Kejadian diare Tidak kejadian Kejadian 5 20 20.8% 47.0% 35.3% 86.0% 45.000 18.3% 100.

000 .0% 100.0% N Jenis lantai * Kejadian diare Valid Percent 70 100. Computed only for a 2x2 table b. .9% 72. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 31.4% 3.0% Total N 70 Percent 100. 0 cells (.7% Total 43 100.6% 70 100.4% 27 100. (2-sided) .4% 61.000 Exact Sig.0%) have expected count less than 5.053 df 1 1 1 .7% 100.556 70 Approx.0% Jenis lantai * Kejadian diare Crosstabulation Kejadian diare Tidak kejadian Kejadian 12 31 27.3% 45.000 a.7% 68. b.812 70 1 .0% 61. .000 .1% 37. Sig.1% 1. Not assuming the null hypothesis.000 .6% 96.0% Jenis lantai Tidak kedap air Kedap air Total Count % within Jenis lantai % within Kejadian diare % of Total Count % within Jenis lantai % within Kejadian diare % of Total Count % within Jenis lantai % within Kejadian diare % of Total Chi-Square Tests Asymp.34.000 30.564 37. (2-sided) Exact Sig.0% 38.6% 38.Jenis lantai– kejadian diare Crosstabs Case Processing Summary Cases Missing N Percent 0 .3% 26 1 96. The minimum expected count is 12.0% 100. Symmetric Measures Nominal by Nominal N of Valid Cases Contingency Coefficient Value .4% 38 32 54.1% 31.000 a.0% 100. Using the asymptotic standard error assuming the null hypothesis.3% 45.1% 44.9% 17. Sig.3% 3.0% 54.259b 28.

Lampiran 5 Dokumentasi Penelitian

Gambar. Peneliti melakukan wawancara dengan responden

Gambar. Responden mengisi kuisioner

Gambar. Jenis sumber air minum PAM

Gambar. Jenis sumber air minum sumur

Gambar. Jenis lantai rumah dari tanah

Gambar. Jenis lantai rumah dari keramik

Gambar. Balita yang buang air besar di sungai . Jenis jamban cemplung (jamban tidak sehat) Gambar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful