Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN TIDUR PADA ANAK



AktiIitas tidur merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia khususnya
usia anak. Bila dicermati tampaknya gangguan tidur pada anak adalah keluhan yang cukup
sering dikeluhkan oleh orang tua pada dokter. namun seringkali keluhan ini tidak ditangani
secara baik dan benar. Banyak pendapat baik dari masyarakat awam dan sebagian klinisi
atau dokter yang masih mengatakan bahwa gangguan tidur adalah hal yang biasa pada
anak yang nantinya pada usia tertentu akan membaik dengan sendirinya. Pendapat seperti
itu timbul karena sampai sekarang gangguan tidur pada anak masih belum terungkap
dengan jelas. Padahal gangguan ini bila tidak tertangani dengan baik dapat mengganggun
tumbuh dan berkembangnya anak.
Lama tidur tergantung dari usia, semakin bertambah usia seseorang kebutuhan
untuk tidurnya semakin berkurang. Pada bayi dan anak kecil sebagian besar waktu
digunakan untuk tidur, sedang pada lanjut usia sebaliknya. Gelombang otak (EEG)
seseorang pada waktu terjaga berbentuk gelombang alpha dengan volage rendah dalam
berbagai Irekuensi, sedang pada waktu tertidur gelombang alpha menghilang.

A. PENGERTIAN ISTIRAHAT TIDUR
Kata Istirahat mempunyai arti yang sanngat luas meliputi bersantai,
menyegarkan diri, diam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta melepaskan
diri dari apapun yang membosankan,menyulitkan dan menjengkelkan, dengan
demikian, apat dikatakan bahwa istirahat merupakan ledakan yang tenang , rileks tanpa
tekanan emosional dan bebes dari kecemasasn, (Ansietas).
Terdapat beberapa karakteristik dari istirahat , misalnyan, Narrow (1967) yang
di kutip oleh Perri an Potter 1993 Mengemukakan beberapa karakteristik yang
berhubungan dengan istirahat diantaranya :
1. Merasa segala sesuatu dapat di atasi
2. Merasa diterima
3. Mengetahui apa yang terjadi
4. Bebas dari ganguan ketidak nyamanan
5. Mempunyai sejumlah kepuasasn terhadap aktivitas yang memepunyai tujuan.
6. Mengetahui adanya bantuan sewaktu mememrlukan

Tidur merupakan kondisi tidak sadar di mana presepsi reaksi individu


terhadap lingkungan menurun atau hilang dan dapat di bangukan kembali dengan
stimulus dan sensori yang cukup (Guyton 1986) dapat juga di katakan sebagai
keadaan tidak sadarkan diri yang relatiI, bukan hanya keadaan penuh ketenangan
tanpa kegiatan, namun lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang dengan
ciri adanya aktivitas yang minim memiliki kesadaran yang bervariasi terdapat
perubahan proses Iisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsangan dari
luar.
Sekarang dapat di kategorikan sedang tidur jika terdapat tanda-tanda sebagai
berikut :
1. Aktivitas Iisik minimal
2. Tingkat kesadaran yang bervariasi
3. Terjadi berbagai perubahan Iisiologis tubuh
4. Penurunan respon terhadap rangsaan dari luar.
Selama tidur maka dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses
Iisiologis,antara lain :
1. Penurunan tekanan darah dan denyut nadi
2. Diatasi pembuluh darah periIer
3. Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktusgastrointestinal.
4. Relaksasi otot-oto rangka
5. Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30

B. JENIS TIDUR
Terdapat dua jenis tidur yaitu :
1. Tidur NREM(Norapid Eye Movemen)/ Tidur gelombang lambat
Tidur NREM merupakan yang nyaman dan dalam. Dalam tidur ini gelombanng otak
lebih lebih lambat di bandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Dengan
tanda : mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan
pernaIasan turun, metabolisme turun dan gerakan bola mata lambat.
a. Tahap I
Merupakann tahap transmisi antara bangun dan tidur dengn ciri: Rileks, masih
sadar dengan lingkungan,merasa mengantuk,bola mata bergerak dari samping ke
samping, Irekueansi nadi dan naIas seadikit menurun, dapat bangun segera
selama tahap ini berlangsung selama lima meanit.

b. Tahap II
Merupakann tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun berciri : Mata
umumnya menetap, denyut jantung dan Ireakuensi naIas menurun, temperature
tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung pendek dan berakhir 5-10
menit
c. Tahap III
Merupakann tahap tidur berciri : denyut nadi dan Irekuensi naIas dan proses
tubuh lainnya lambat, di sebabkan oleh dominasi system saraI parasimpatis dan
sulit banngun.
d. Tahap IV
Merupakan tahap tidur berciri : Kecepatan jantung dan pernaIasan turun, jaranng
bergerak dan sulit di bangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambunng turun,
tonus otot turun.

2. Tidur REM(Rapid Eye Movemen)
Berlangsung pada tidur malam selama 5-20 menit, rata-rata 90 menit. Periode
pertam terjadi selama 80-100 menit, namun bila kondisi oranng sangt lelah maka
awal tidur sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada.
Bercirikan :
- Biasanya di sertai dengan mimpi aktiI
- Lebih sulit di bangunkan dari pada selama tidyr nyeyak gelombang lambat.
- Tonus oto selama tidur nyenyak sangat tertentu.
- Frekuensi jantung dan pernaIasan menjadi tidak teratur.
- Pada oto periIer terjadi bebrapa gerakan otot yang tidak teratur.
- Mata cepat tertutup dan cepat terbuka, nadi cepat dan inregular, tekanan darah
meningkat dan Iluktuasi, sekresi gaster meningkat,Metabolisme meningkat.
- Pada tidur ini sanngat penting untuk keseimbangan mental, emosi dan berperan
dalam belajar, memori dan adaptasi.

C. FUNGSI TIDUR
EIek Fisiologis :
a) EIek pada sistem saraI yang di perkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan
keseimbangan di antara berbagai susunan saraI.

b) EIek struktur tubuh dengn memulihkan kesegaran dan Iungsi dalam organ tubuh
karena selama tidur terjadi penurunan.

D. POLA TIDUR NORMAL
Bayi baru lahir biasanya tidur selama 16-20 jam yang dibagi menjadi 4-5
periode. Pola tidur bayi masih belum teratur, hal ini bisa disebabkan karena banyak
Iaktor. Tetapi perlahan-lahan akan bergeser sehingga lebih banyak waktu tidur di
malam hari dibandingkan dengan siang hari. Kebutuhan tidur normal pada anak:
1. Bayi baru lahir 16-20 jam/hari 1-4 jam tidur tidur diikuti waktu bangun 1-2 jam,
jumlah waktu tidur siang tidur malam
2. 0-1 bulan Masa Neonatus 14-18 jam/hari PernaIasan teratur gerak tubuh sedikit,
50 tidur NREM., banyak waktu tidurnya di lewatkan pada tahap II dan IV tidur
NREM.setiap siklus sekitar 45-60 menit
3. 1 bulan-18bulan Masa Bayi 12-14 jam/hari 20-30 tidur REM, tidur lebih lama
pada malam hari, punya pola terbangun sebentar.
4. 18 bulan-3 tahun Masa Anak 11-12 Jam/Hari 25 tidur REM banyak tidur pada
mala hari,terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap
pada umur 2-3 tahun
5. 3-6 tahun Masa prasekolah 11 jam/hari 20 tidur REM ,periode terangun kedua
hilang pada umur 3 tahun, umur 5 tahun tidur tidak ada kecuali kebiasaan tidur sore
hari.
6. 6-12 Tahun Masa sekolah 10 jam/hari 18,5 tidur REM, sisa waktu tidur relative
kostan.
7. 12-18 Tahun Masa Remaja 8,5jam/hari 20 tidur REM
Jam tidur bayi yang berlainan ini sering dinterpretasikan berbagai macam.
Dikatakan bahwa orang tua kekurangan tidur 2 jam setiap harinya hingga si bayi
berusia 5 bulan. Sedangkan mulai usia 5 bulan sampai 2 tahun, oran tua kehilangan 1
jam waktu tidur setiap malamnya. Sehingga orang tua pun perlu menyiasati waktu
tidurnya sesuai dengan pola tidur bayi. Sebagian kelompok bayi mulai usia 3 bulan
bayi mulai lebih banyak tidur malam dibanding siang. Di usia 3-6 bulan jumlah tidur
siang pun semakin berkurang, kira-kira 3 kali dan terus berkurang hingga 2 kali pada
bayi usia 6-12 bulan. Menjelang usia 1 tahun biasanya ia hanya perlu tidur siang satu
kali saja dengan total jumlah waktu tidur berkisar antara 12-14 jam.

E. FISIOLOGI TIDUR
Fisiologi tidur merupakan peangaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan
mekanisme screablea yang secara bergantian untuk mengaktiIkan dan menekan pusat
otak agar dapat tidur dan bangun, Tidur merupakan aktiIitas yang melibatkan susunan
saraI pusat, saraI periIer Endokrin kardiosvakuler, respirasi muskuloskeletal (Robinson
1993,dalam potter). Tiap kejadian tersebut dapat di identiIikasi atau di rekam dengan
electreoencephalogram (EEG) untuk aktiIitas listrik otak, pengukran tonus otot dengan
meggunakan elektromiogram(EMG) dan elektroculogram (EOG) untuk mengukur
pergeraka mata.
Pengaturan dan kontrol tidur tergantung dari hubungan antara dua mekanisme
selebral yang secara bergantian mengaktiIkan dan menekan pusat oak untuk tidur dan
bangun. Recticular activating system (RAS) di bagian batang otak atas di yakini
mampunyai sel-sel khusus dalam mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran. RAS
memberikan stimulus visual,audiotori,nyeri dan ensori raba. Juga menerima stimulus
dari korteks serebri. (emosi,proses,pikir).
Pada keadaan sadar mengkibtkan neuron-neuron dalam RAS melepakan
katekolamin misalnya norepineprine. Saat tidur mungkin di sebabkan oleh pelpasa
serum serotinin dari sel-sel spesiIikdi pons dan batang otak tengah yaitu
Bulbarsyncronizing regional (BSR) bangun dan tidurnya seseorang tergantung dari
keseimbangan implus yang di terima dari pusst otak, reseptor sensori periIer misalnya
bunyi, stimulus cahaya dan system limbiks seperti emosi.
Seseoranng yang mencoba untuk tidur, mereka menutup matanya dan berusaha
dalam posisi rileks, jika ruangan gelap dan tenang aktiIitas RAS menurun, pada saat itu
BSR mengeluarkan serum serotonin.
GANGGUAN TIDUR PADA BAYI DAN ANAK-ANAK
Gangguan / deskripsi Manajemen
Pemberian makanan dimalam hari
Anak mempunyai kebutuhan yang
berkepanjangan untuk menyusu di tengah
malam baik dari ASI maupun dari susu botol.
Anak pergi tidur pda saat menyusu ASI atau
dengan botol.
Anak sering terbangun (mungkin setiap jam).
Anak kembali tidur setelah menyusu; tindakan
kenyamanan lain (mis., menimang atau
menggendong ) biasanya tidak eIektiI

Tingkatkan interval waktu makan siang
hari sampai 4 jam atau lebih (mungkin
perlu dilakukan secara bertahap).
Berikan makan terakhir selambat mungkin
pada malam hari; mungkin perlu untuk
menurunkan jumlah Iormula atau lamanya
menyusu ASI.
Jangan memberikan botol di tempat tidur.
Jika anak menangis, periksa pada interval







PERKEMBANGAN MENANGIS
DIMALAM HARI
Anak usia 6 sampai 12 bulan yang pada
awalnya tidak mengalami gangguan tidur
malam sekarang terbangun dengan tiba-tiba;
mungkin disertai mimpi buruk.






MENANGIS DI MALAM HARI YANG
TERLATIH (ASOSIASI TIDUR YANG
TIDAK TEPAT)
Anak secara khas terlelap di tempat lain selain
di tempat tidurnya, mis., kursi goyang atau
tempat tidur orangtua, dan dibawa ke tempat
tidurnya sendiri dalam keadaan tidur;
terbangun, menangis sampai rutinitas yang
biasa dilakukan, mis., menimang.



MENOLAK UNTUK TIDUR
Anak menolak waktu tidur dan keluar ruangan
berulang kali.
Tidur malam hari menjadi berlanjut, tetapi
sering terbangun dan menlak untuk kembali
tidur dapat terjadi dan menjadi masalah bila
orangtua membiarkan anak menyimpang dari
pola tidur biasanya.




RASA TAKUT MALAM HARI
Anak menolak pergi tidur atau terbaangun
selama malam hari karena takut.
Anak mencari kehadiran Iisik orangtua dan
dengan keberadaan orangtua di dekatnya, ia
yang progresiI lebih lama di setiap malam;
tenangkan anak tetapi jangan
menggendong, menimang, membawa ke
tempat tidur orangtua, atau memberikan
botol atau empeng.



Yakinkan orangtua bahwa hal ini adalah
Iase sementara.
Masuki ruangan dengan segera untuk
memeriksa anak tetapi tetap tenangkan
dengan singkat.
Hindari memberi makan, menimang anak,
membawanya ke tempat orangtua, atau
rutinitas lain yang dapat memulai
menangis di malam hari yang terlatih.




Tempatkan anak di pada tempat tidurnya
sendiri bila terbangun.
Bila mungkin, atur area tidur yang
terpisah dari anggota keluarga lain.
Bila anak tersebut menangis, periksa pada
interval yang progresiI lebih lama setiap
malamnya; tenangkan anak tetapi jangan
melakukan rutinitas biasa.


Evaluasi bila jam tidur terlalu dini (anak
dapat menlak tidur bila tidak lelah)
Bantu orangtua dalam menetapkan
rutinitas sebelum tidur yang konsisten dan
dorong pembatasan yang konsisten pada
perilaku waktu tidur anak.
Bila anak tetap meninggalkan kamar tidur,
tutup pintu untuk periode lama.
Gunakan sistem penghargaan pada anak
untuk memberikan motivasi.


Evaluasi bila jam tidur terlalu dini (anak
dapat berIantasi bila tidak ada yang
dilakukan kecuali berpikir di ruang gelap)
Tenangkan dengan lembut anak yang

mudah terlelap, kecuali rasa takut tersebut


berlebihan
ketakutan; membiarkan lampu tetap
menyala dapat sangat membantu.
Gunakan sistem penghargaan pada anak
untuk memberikan motivasi menghadapi
rasa takut.
Hindari pola yang dapat menimbulkan
masalah tambahan mis., tidur dengan anak
atau membawa anak ke kamar orangtua.
Bila rasa takut anak berlebihan,
pertimbangkan desensitisasi mis., secara
progresiI memberikan waktu lebih lama
untuk sendiri, konsultasikan ke bantuan
proIesional bila rasa takut ini
berkepanjangan.
Bedakan antara mimpi buruk dan rasa
takut tidur (lihat tabel); pendekatan yang
terbaik pada teror tidur adalah tetap tidak
terlibat dan membiarkan anak tetap tidur.

PERBANDINGAN MIMPI BURUK VS TEROR TIDUR
Mimpi buruk Teror tidur
DESKRIPSI
Mimpi yang menakutkan; berada pada tidur
REM dan diikuti dengan terbangun total


WAKTU DISTRES
Setelah mimpi berakhir dan anak terbangun
serta menganis atau memanggil; bukan ketika
mimpi buruk itu sendiri


WAKTU KAMBUH
Pada tengah malam kedua, ketika mimpi
paling hebat terjadi.

PERILAKU ANAK
Menangis pada anak yang lebih kecil, takut
pada semua; hal ini menetap bahkan selama
anak terjaga





RESPONSIF PADA ORANG LAIN
Anak sadar dan ditenangkan oleh kebradaan
orang lain




Terbangun sebagian dari tidur yang sangat
dalam (tahap IV, bukan REM), bukan tidur
bermimpi


Selama teror itu sendiri, pada saat anak
berteriak dan mengamuk; setelah itu
tenang.



Biasanya 1-4 jam setelah terlelap, ketika
tidur tanpa mimpi terjadi paling dalam


Pada awalnya anak duduk, mengamuk,
atau lari dengan perilaku aneh, mata
terbelalak, denyut jantung cepat, dan
berkeringat; mengangis, berteriak, bicara,
atau merintih; tampak ketakutan, marah
dan/ atau konIusi, yang akan menghilang
bila anak sudah sepenuhnya terbangun.


Anak tidak begitu sadar tentang
keberadaan orang lain, tidak nyaman, dan
meminta orang lain menjauh dan berteriak
serta lebih memberontak bila digendong
atau direstrein.

KEMBALI TIDUR
Dianggap sangat lambat karena rasa takut
yang menetap.

DESKRPSI MIMPI
Ya (bila cukup besar)


INTERVENSI
Menerima mimpi sebagai rasa takut yang
nyata
Duduk bersama anak; beri kenyamanan,
ketenangan, dan perlindungan berbaring
dengan anak/ membawanyake tempat tidur
sendiri hanya jika anak tidak tenang dengan
tindakan lain dan memahami kejadian khusus
ini
Pertimbangkan konseling proIessional untuk
mimpi buruk yang berulang yang tidak
responsiI terhadap pendekatan di atas

Biasanya cepat; sering sulit menjaga anak
agar tetap terjaga


Tidak ada memori mimpi atau berteriak
atau mengamuk


Observasi anak selam beberapa menit,
tanpa mengganggu, sampai anak menjadi
tenang atau terbangun sepenuhnya
Intervensi hanya bila perlu untuk
melindung anak dari cedera
Bimbing anak kembali tidur bila perlu
Tanyakan pada orangtua bahwa ketakutan
tidur adalah hal yang normal, Ienomena
umum pada anak praseklah yang relatiI
tidak memerlukan intervensi.
F. GANGGUAN TIDUR PADA ANAK
Gangguan tidur pada anak ternyata cukup sering dialami oleh orangtua tetapi
sayangnya kondisi ini jarang ditangani secara serius dan dianggap biasa. Diduuga
sekitar 20-40 anak usia di bawah 3 bulan mengalami ganggan tidur. Dalam usia 6
bulan sampai 2 tahun sekitar 30 anak diduga mengalami gangguan tidur dan sekitar
20 anak usia 2-5 tahun mengalaminya. Bi;a gangguan ini tidak tertangani serius
ternyata dapat disertai berbagai gangguan perilaku dan gangguan belajar di sekolah
Membedakan apakah pola tidur anak normal atau merupakan ganggan tidur
dapat ditentukan oleh berbagai hal. Untuk mengetahui tidur pada anak sudah bukan
merupakan keadaan yang normal apabila :
O Anak bangun selama 3 kali atau lebih dalam satu malam atau beberapa malam.
Atau sedikitnya empat kali dalam seminggu gangguan tersebut ada.
O Dalam aktiIitas tidurnya diluar biasanya, dimana anak berpindah tidur ke tempat
tidur orang tua
O Anak menolak tidur sedikitnya 30 menit saat waktu tidur, untuk memulai tidur
diawali sedikitv tantrum, marah atau gelisah. .
O Dalam memulai tidur harus dibutuhkan bantuan orangtua padahal sebelumnya bisa
tidur sendiri.
Gangguan tidur yang sering terjadi adalah insomia adalah gangguan untuk
memulai tidur dan mempertahankan tidur yang baik. Gangguan tidur tersebut
menimbulkan penderitaan dan gangguan dalam berbagai Iungsi sosial, pertumbuhan

dan perkembangan anak, maupun gangguan pada Iungsi lainnya. Terdapat berbagai
jenis insomnia tergantung beberapa kondisi dan penyakit yang melatarbelakangi
gangguan tidur tersebut.
Gangguan tidur pada anak seperti malam gelisah, tidur bolak-balik dari ujung
ke ujung, sering terbangun, rewel dan mengigau lebih sering terjadi pada usia 6 bulan
sampai dengan 2 tahun. Di atas usia 3 hingga 5 tahun semkian berkurang. Sedangkan
diatas usia 7 tahun semakin jarang. Pada beberapa kasus gangguan tidur ini menetap
hingga dewasa. Parasomnia seperti ini disebut night terror, sleep terror, pavor
nocturnus atau teror malam. Penderitanya berusia antara 2 5 tahun, dan biasanya
hilang dengan sendirinya saat berusia 7 tahun. Insomnia adalah gangguan untuk
memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan berbagai Iaktor.
Gejala Insomnia pada anak
O Sulit untuk memulai tidur :
4 Sebelum tidur posisi anak bolak-balik mencari posisi yang nyaman
4 Tidak bisa memejamkan mata
4 Menolak untuk tidur
4 Rewel atau tantrum sebelum tidur
4 Gangguan mempertahankan kualitas tidur
O Saat tengah malam terbangun duduk kemudian tidur lagi (seringkali dikira minta
minum atau haus)
O Mengigau, menangis atau berteriak saat tidur
O Bolak balik tidur dari ujung kasur ke ujung yang lain (lasak)
O Mimpi buruk pada malam hari (nightmare)
O Berjalan saat tidur
Penyebab gangguan tidur
Ilmu pengetehauan dan penelitian tentang tidur berkembang cukup pesat.
Meski demikian penelitian tentang masalah tidur pada anak, masih belum banyak
terungkap. Sehingga masih belum jelas terungkap penyebab gangguan tidur pada
anak. Berbagai dugaan dan asumsi berkembang dalam menyikapi gangguan tidur pada
anak. Berbagai penyebab sering disebut adalah gangguan keadaan emosial-psikologi,
demam yang tinggi, stres atau posisi tidur yang terganggu.

Insomnia Alergi makanan


Menurut penelitian penulis gangguan tidur pada anak seringkali disebabkan
karena insomnia Alergi makanan. Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk
memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat maniIestasi
atau respon karena alergi makanan. The International ClassiIication oI Sleep Disorders
mencamtukan Food Allergy Insomnia dengan klasiIikasi ICSD : 780.52-2, sedangkan
ICD 10 menggolongkan dalam G47.0T78.4 sebagai Disorders oI Initiating and
Maintaining Sleep (Insomnias), sedangkan DSM IV menggolongkan dalam kelompok
780.52 sebagai Sleep Disorder Due to a General Medical Condition: Insomnia Type
Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi
tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak dibawah usia 5 tahun
terutama usia 2 tahun ManiIestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan,
masih belum terungkap jelas. Beberapa penelitian mengatakan beberapa gangguan
tidur lainnya ternyata sering dikaitkan dengan insomnia alergi makanan.
Penelitian yang telah dilakukan Widodo Judarwanto tahun 2004 yang telah
diajukan dalam acara ilmiah internasional 24th International Congress oI Pediatric
Cancun Mexico August 15
th
-20
th
2004, menunjukkan bahwa dari 64 anak dengan
gangguan alergi makanan dan gangguan tidur, setelah dilakukan eliminasi makanan
penyebab alergi selama 3 minggu didapatkan perbaikan. Didapatkan 97 anak
perbaikkan dari pola tidurnya. Didapatkan 42 (66) anak mengalami insomnia Iood
allergy, 12 (19) anak dengan somnambulisme, 8 (13) anak dengan night terror,
32(50) anak dengan nocturnal myoclonus.
Penyebab gangguan tidur lain yang selama ini diyakini banyak orang sebagai
penyebab gangguan tidur banyak masih diragukan. Kondisi tersebut adalah karena
siang terlalu lelah bermain, terlalu keras tertawa atau bersendau gurau, karena
kehausan atau seiring minta minum. Ternyata setelah dilakukan penghindaran
makanan yang beresiko alergi maka gangguan tersebut menghilang meskipun berbagai
penyebabb tersebut tidak dilakukan intervensi.
Sejauh ini belum ada penelitian yang memastikan sebab akibat gangguan tidur
bisa menimbulkan berbagai hal yang berbahaya. Berbagai penelitian menunjukkan
anak dengan ganggan tidur sering disertai peningkatan perilaku seperti agresiI,
gangguan prestasi sekolah, emosi meningkat dan ganggua belajar. Sedangkan berbagai
laporan ilmiah menunjukkan bahwa penderita alergi makanan juga sering disertai
disertai dengan gangguan perilaku meningkat.

Berbagai perilaku meningkat yang sering dilaporkan adalah


O AgresiIitas anak
O Emosi meningkat
O Anak sangat aktiI tidak bisa diam
O Gangguan konsentrasi
O Gangguan belajar
O Pada penderita Autism dan ADHD, saat terjadi gangguan tidur ternyata membuat
gangguan perilaku juga meningkat
Tetapi banyak penelitian menunjukkan bahwa gangguan tersebut terutama
bukan karena akibat langsung gangguan tidur itu sendiri tetapi lebih disebabkan
karena pengaruh alergi makanan yang terjadi.
Mengapa penderita alergi sering mengalami gangguan tidur, sampai sekarang
belum terungkap jelas. Tetapi diduga pada penderita alergi sering mengganggu
berbagai organ tubuh termasuk otak yang dapat mengganggu. Yang lebih menguatkan
hubuhngan alergi dengan gangguan tidur adalah kejadiannya paling sering terjadi
malam hari. Gejala alergi seringkali terjadi pada amalam demikian pula gangguan
tidur malam sering terjadi pada malam hari juga.

Gangguan pada organ tubuh penderita alergi yang diduga dapat mengganggu
tidur pada anak adalah :
O Gangguan saluran cerna. Nyeri perut pada anak yang mengalami gangguan saluran
cerna karena alergi diduga sebagai penyebabnya. Namun sayangnya pada usia di
bawah 2 tahun keluhan ini tidak bisa diungkapkan anak. Tetapi petunjuk klinis
yang bisa diungkapkan sebagai nyeri perut, biasanya anak dengan gangguan perut
tidak nyaman sering disertai posisi tyidur yang nungging (seperti orang sujud) atau
tengkurap. Gejala saluran cerna biasanya berupa kembung, sering buang angina,
muntah, sulit BAB(ngeden, tidak tiap hari) berak hitam, hijau, bau dan bulat.
O Gangguan saluran napas : hidung buntu, napas tersumbat, batuk dan sesak.
Keadaan ini terjadi pada anak dengan rhinitis alergi dan asma.
O Gangguan kulit. Penderita dermatitis alergi sering timbul keluhan gatal pada
malam hari.
O Nyeri otot, tulang dan Iibromyalgia. Pada penderita alergi makanan sering
mengalami nyeri otot dan tulang.

O Gangguan aliran listrik di otak. Pada pemeriksaan EEG pada penderita alergi dan
asma didapatka aktiIitas gelombang tertentu yang meningkat saat malam hari.
G. JENIS GANGGUAN TIDUR LAIN
1. Somnambulisme adalah suatu keadaan perubahan kesadaran, Ienomena tidur-
bangun terjadi pada saat bersamaan. Sewaktu tidur penderita kadang melakukan
aktivitas motorik yang biasa dilakukan seperti berjalan, berpakaian atau pergi ke
kamar mandi, berbicara, menjerit, bahkan mengendarai mobil. Akhir kegiatan
tersebut kadang penderita terjaga, kemudian sejenak kebingungan dan tertidur
kembali. Ia tidak ingat kejadian tersebut.
2. Night terror biasanya terjadi pada sepertiga awal tidur, dengan gejala tiba-tiba
terbangun tengah malam disertai teriakan, kepanikan atau menangis disertai
ketakutan dan kecemasan dengan menangis histeris dan pandangan yang mengarah
ke satu titik seolah-olah takut akan sesuatu yang tak terlihat, pada kejadian seperti
ini banyak sekali yang menghubungkan dengan hal-hal mistis. Penderita kadang
terjaga tetapi mengalami kebingungan dan disorientasi. Pada saat serangan sulit
dibangunkan atau ditenangkan.
3. Sedang nightmare adalah tidur dengan mimpi yang menakutkan. Akibat mimpinya
yang menakutkan itu penderita akan terbangun dalam keadaan ketakutan. Mereka
yang sering mengalami episode nightmare dalam hidupnya mempunyai risiko yang
lebih besar untuk mengalami gangguan skizoIrenia, namun juga mereka ini adalah
orang yang kreatiI dan artistik.
4. Mudah Tertidur (Hipersomnia) Gangguan akibat tidur yang berlebihan disebut
hipersomnia. Yang termasuk kelompok ini antara lain sleep apnea, narkolepsi,
nocturnal myoclonus, OSA, dan sebagainya. Jika seseorang tidak dapat tidur
dalam, tahap REM pun tidak akan terjadi, ketika bangun merasa lelah. Gejala
utamanya mengantuk di siang hari.
5. Narkolepsi merupakan keinginan tidur yang tidak tertahankan pada siang hari,
meski tidur malamnya cukup.Bisa menyerang laki-laki maupun perempuan dewasa
dan muda.
6. Nocturnal myoclonus adalah keadaan dimana terdapat pergerakan periodik dari
tungkai ke bawah ketika tidur

H. PENATALAKSANAAN
Penanganan gangguan tidur pada anak , harus dilakukan pendekatan pencarian
penyebab dan mengatasi penyebabnya
Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan
secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus
bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal
adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut.
Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar,
karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus
diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya
dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi
dapat diganti dengan susu soya, Iormula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey.,
meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30 diantaranya alergi terhadap susu soya.
Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging
kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan
jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau
membaca label makanan.
Obat-obatan simtomatis anti histamin dapat digunakan dalam keadaan yang tidak
ringan dan sulit untuk diatasi dengan pendekatan biasa. Penggunaan obat sebaiknya
digunakan hanya sementara dan bila sangat perlu bukan untuk digunakan jangka
panjang
Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu Iormula yang mengklaim bisa membuat
nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat
tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur
pada anak karena alergi makanan tidak diperbaiki.
Orang tua secara psikologis harus memberi perhatian dan dorongan baik langsung
maupun dari sikap kita seperti menciptakan keharmonisan, menjaga hubungan
antara anggota keluarga yang baik.
Bagi orangtua hal penting lainnya adalah memperhatikan jadwal tidurnya.
Untuk mencegah dari bahaya yang dapat terjadi sebaiknya di kamar penderita
sleepwalking dihindarkan dari barang-barang yang mudah pecah dan
tajam. Usahakan untuk mengunci rapat semua pintu dan jendela saat hendak tidur,
dan sebaiknya menaruh kunci-kunci yang sedikit susah untuk dijangkau. Karena
biasanya penderita dapat mengenali pintu dan jalan-jalan dalam rumah.

Secara medis, parasomnia tidak memiliki standar cara pengobatan yang baku.
Namun ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari oleh penderita, seperti porsi tidur
yang kurang. Seorang anak karena asyik bermain akan melupakan tidurnya.
Berbagai terapi non medis dan alternative yang biasa dilakukan adalah terapi yang
dapat dilakukan seperti psikoterapi, relaksasi, hipnotis dan meditasi.






















KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN



1. Pengkajian
RIWAYAT UMUM KELUHAN UTAMA
Minta orang tua / anak untuk menggambarkan masalah tidur; catat dalam kata-kata
mereka.
Tanyakan tentang awitan, durasi, karakter, Irekuesnsi, dan konsistensi masalah tidur:
Suasana di sekitar awitan (kelahiran saudara kandung, mulainya toilet training,
kematian orang terdekat, pergantian dari boks bayi ke tempat tidur)
Suasana yang meningkatkan masalah mis., terlalu lelah, konIlik keluarga, atau
gangguan rutinitas (pengunjung)
Tindakan tradisinal yang digunakan untuk mengatasi masalah dan hasil intervensi.

RIWAYAT TIDUR 1AM
Waktu dan regularitas makan
Adanya anggota keluarga
Aktivitas lanjut, terutama setelah makan malam
Periode tidur siang dan tidur malam
Jam tidur dan bangun
Jam naik dan turun ke tempat tidur
Bagaimana waktu tidur diputuskan (bila anak terlihat lelah atau pada waktu
diputuskan oleh orang tua; apakah kedua orangtua setuju dengan waktu tidur?)
Ritual sebelum tidur atau istirahat (mandi, susu btl atau asi, kudapan, televisi,
bermain aktiI atau diam, cerita)
Alam perasaan sebelum tidur atau istirahat (sangat sadar, mengantuk, gembira, mudah
marah)
Orang tua mana yang berpartisipasi dalam ritual istirahat atau tidur?
Ritual istirahat dan waktu tidur
Dimana anak diizinkan untuk jatuh tertidur? (tempat tidur atau boks bayi sendir, soIa,
tempat tidur orangtua, pangkuan seseorang, lain-lain)
Apakah anak dibantu untuk jatuh tertidur? (memanjat, berjalan, ditepuk-tepuk, diberi
dot atau empeng, ditempatkan diruang gelap, televisi, radio, atau radio tip menyala,
lain-lain)
Apakah pola tersebut konsisten atau bervariasi di setiap waktu?

Apakah anak terbangun jika alat bantu tidur diganti atau diambil? (ditempatkan di
tempat tidur sendiri, televisi dimatikan, lain-lain)
Apakah secara verbal meminta orangtu tinggal dalam ruangan?
Perilaku anak bila menolah untuk pergi tidur atau tetap dalam ruangan
Bila anak mengeluh takut, bagaimana meyakinkan rasa takut tersebut?
Lingkungan tidur
Jumlah kamar tidur
Lokasi kamar tidur, khususnya yang berhubungan dengan kamar tidur orangtua
Gambaran sensoris (lampu menyala, pintu terbuka atau tertutup, tingkat kebisingan,
suhu)
Terbangun di malam hari
Waktu, Irekuensi, dan durasi
Perilaku anak (memanggil, menangis, keluar ruanga, tampak ketakutan, bingung, atau
marah)
Respn orantua (membiarkan anak menangis, segera menghampiri, membawanya ke
tempat tidur sendiri, memberi makan, menggendong, mengangkat, memberi empeng,
bicara, mengomel, mengancam, lain-lain)
Kondisi yang membuatnya kembali tidur
Apakah cara ini selalu berhasil?
Berapa lama intervensi ini berhasil?
Orantua mana yang mengintervensi?
Apakah kedua orangtua menggunakan pendekatan yang sama?
Tidur siang
Terlelap pada waktu yang tidak tepat (suasana, terkejut dan awitan takterhindarkan,
lama tidur, alam perasaan pada saat bangun)
Tanda kelelahan (menguap, berbaring, aktivitas berlebihan, impulsiI, distraksibilitas,
peka rangsang, temper tantrum)

Riwayat tidur sebelumnya
Pola tidur sejak masih bayi, khususnya pada usia dimulainya tidur sepanjang malam,
berhenti tidur siang, mulainya tidur larut malam
Respons terhadap perubahan dalam pengaturan tidur (boks untuk tidur, ruang atau
rumah yang berbeda, dan lain-lain)

Perilaku tidur (gelisah, mendengkur, berjalan dalam tidur, mimpi buruk, terbangun
sebagian |anak kecil dapat mengalami bangun dengan konIusi, menangis, dan
mengamuk, tetapi tidak berespons terhadap orantua; terlelap tanpa intervensi bila tidak
terganggu|)
Persepsi orangtua tentang kebiasaan tidur anak (baik atau buruk, tidur dengan sinar
atau gelap, perlu ringan)
Riwayat keluarga tentang masalah tidur (perilaku saudara yang ditiru oleh anak;
beberapa gangguan tidur mis., narkolepsi dan enuresis, cenderung terjadi dalam
keluarga).

A. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan tidur berhubungan dengan hidung buntu, napas tersumbat, batuk dan
sesak.
2. Cemas berhubungan dengan ketidak mampuan untuk. tidur, henti naIas saat tidur,
(sleep apnea) dan ketidak mampuan mengawasi prilaku.
3. Gangguan tidur berhubungan dengan terror tidur ditandai dengan sering terbangun
pada 1/3 malam
4. Gangguan ukuran gas berhubungan henti naIas saat tidur.
5. Potensial cidera berhubungan dengan Somnabolisme.

C. Perencanaan Keperawatan
Tujuan :
Perencanan keperawatan berhubungan dengan cara untuk mempertahan kan kebutuhan
istirahat dan tidur dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
a) Lakukan identiIikasi Iaktor yang mempengaruhi masalah tidur.
b) Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat mengganggu tidur.
c) Tingkatkan aktivitas pada siang hari
d) Coba untuk memicu tidur
e) Kurangi potensial cedera selama tidur
I) Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika di perlukan.


D. Pelaksanaan keperawatan
Tindakan Keperawatan Pada Anak
1. Masa Neonatus Dan bayi
Memberi sprai kering dan tebal untuk menutupi perlak.
Menghindarkan pemberian bantal yang terlalu banyak.
Mengatur suhu ruangan menjadi 18o-21o C pada malam dan 15,5o-18o C pada
siang.
Memberikan cahaya lampu yang lembut
Meyakinkan bayi merasa nyaman dan kering.
Memberikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi.
2. Masa Anak
Memberikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
Menempel jadwal tidur
Memberikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
Mendukung aktivitas pereda ketegangan seperti bercerita.
3. Masa Sebelum Sekolah
Memberikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
Menempel jadwal tidur
Memberikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
Mendukung aktivitas pereda ketegangan seperti bercerita
Sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur.
Memberikan rasa aman dan nyaman
Menyalakan lampu agak terang
4. Masa Sekolah
Mengingatkan waktu istirahat dan tidur karena umumnya banyak beraktivitas.
5. Masa remaja
Usia ini sering memerlukan waktu sebelum tidur cukup lama untuk berias dan
membersihkan diri.

E. Evaluasi Keperawatan.
a. Klien menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur
dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
b. Klien melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta
klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.

c. Klien melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu


dengan mengobservasi ekspresi dan prilaku nonverbal pada saat klien terjaga.
d. Pola tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah
10 jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

http://khoirulhadi.blogspot.com/2010/09/askep-kebutuhan-istirahat-dan-tidur23.html\
http://sleepclinic.wordpress.com/2009/05/01/gangguan-tidur-pada-anak/