Anda di halaman 1dari 17

Potret Penyiksaan dalam Konflik Agraria di Indonesia Esrom Aritonang Kasus-kasus Penyiksaan yang Tak Terselesaikan Masa Orde

Baru Penggulingan Soekarno oleh Orde Baru telah mengubah peta politik di Indonesia. P erubahan kekuasaan dari politik sebagai panglima menjadi ekonomi sebagai jenderal, m embutuhkan prakondisi, yaitu stabilitas keamanan. Menurut Mohtar Masoed (1989:10) , ciri khas rezim Orde Baru sebagai berikut. Pertama, pemerintah dipegang oleh m iliter, tidak sebagai diktator pribadi, melainkan lembaga yang berkolaborasi den gan teknokrat sipil. Kedua, Pemerintah disokong oleh enterpreneur oligopolistik, y ang bersama negara berkolaborasi dengan masyarakat bisnis internasional. Ketiga, Pengambilan keputusan dalam rezim bersifat birokratis-teknokratik, sebagai lawa n pendekatan politik dalam pembuatan kebijakan yang memerlukan suatu proses barg aining yang lama di antara berbagai kelompok kepentingan. Keempat, massa didemob ilisasi. Dan kelima, untuk mengendalikan oposisi, pemerintah melancarkan tindaka n-tindakan yang represif. Tentu saja, hal itu bertentangan dengan kebutuhan dan kepentingan masyarakat Ind onesia yang sarat dengan nilai-nilai humanis dan keanekaragaman hayati. Kebangki tan kaum teknokrat dan militer di panggung kekuasaan nasional menjadi oposisi ba gi kaum progresif, yang dalam tataran praktis berseberangan pandangan dengan sik ap elitis para pemuka masyarakat dan politik. Harapan untuk mengkonsolidasi gera kan progresif selama puluhan tahun buntu dan direspon secara brutal oleh pemerin tah melalui sentralisasi dan modernisasi kebijakan yang mematikan daya hidup mas sa rakyat. Melalui kekuasaannya yang tiranis, Orde Baru menciptakan banyak persoalan bagi m asyarakat. Muncul tindak kekerasan, intimidasi, dan penyiksaan yang terjadi dala m proses penyidikan yang dilakukan aparat negara penegak hukum, demi memperoleh pengakuan atau informasi yang dibutuhkan. Juga proses di luar hukum yang menyang kut kebijakan publik demi memperoleh persetujuan dari anggota masyarakat. Kerap tindak penyiksaan itu akhirnya berbuntut kematian korban. Wilayah dan dimensi penyiksaan, yang jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, cukup luas. Antara lain meliputi bidang-bidang perburuhan, pe rtanahan, organisasi agama sampai yang berdimensi abstrak, misalnya, yang menyan gkut hak dan kebebasan berpendapat. Tindak penyiksaan yang dilakukan khususnya oleh aparat negara penegak hukum seca ra geografis tersebar cukup merata mulai dari Aceh, Medan, Jakarta sampai Timor Timur. Hampir semuanya tidak dapat menyeret pelaku tindak penyiksaan itu ke sida ng pengadilan. Sejauh ini, para pelakunya aman-aman saja dalam melakukan pelangg aran hak asasi manusia, sementara belum tampak suatu upaya yang lebih serius dar i pemerintah Indonesia untuk mencegah terjadinya tindak penyiksaan, meskipun per angkat hukum internasional dalam bentuk konvensi yang juga turut ditandatangani, tetapi belum diratifikasi oleh pemerintah Indonesia sudah tersedia. Persoalanny a, lebih menyangkut masalah kebijakan daripada tidak adanya niat baik semata. Padahal, penyiksaan yang selama ini terjadi ternyata tidak memandang kelas sosia l korban. Penyiksaan dapat menimpa siapa saja, mulai dari buruh, petani, pengusa ha, sampai ke golongan yang bisa disebut sebagai kelas intelektual. Untuk katego ri terakhir, tindak penyiksaan ini pernah dialami oleh para aktivis sebuah kelom pok studi di Yogyakarta yang dituduh subversif karena menjual buku-buku karya Pr amoedya Ananta Toer. Dari segi apapun tindak penyiksaan tak bisa dibenarkan, lebih-lebih dalam masyar akat yang mengaku beradab. Anehnya, masih terdapat suara-suara yang mencoba mema hami terjadinya praktik penyiksaan ini. Realitas ini agak memprihatikan, lebih-l ebih jika dilihat dari jumlah korban penyiksaan yang terus berjatuhan tanpa ada upaya untuk mengadakan pengusutan lebih lanjut terhadap para pelaku tindak penyi ksaan. Dan itu terjadi, baik dalam proses hukum tertentu (dalam rangka penyidika

n), maupun di luar proses hukum (penanganan unjuk rasa). Sementara itu, para kor ban (keluarga atau orang yang hidupnya bergantung kepada si korban), tidak dapat menuntut kompensasi apapun, karena memang tidak tersedia prosedur untuk maksud itu di dalam sistem hukum kita. Dalam suatu proses hukum yang diawali dengan proses penyidikan, penggunaan tinda k penyiksaan sering dilakukan demi mengejar target kebenaran dalam waktu singkat. Atau bisa juga terjadi tindak penyiksaan itu dilakukan demi memaksa korban untuk mengakui skenario peristiwa yang memang sudah disiapkan sebelumnya. Padahal, se cara hukum, pengakuan tersangka bukanlah alat bukti yang utama. Metode penyiksaa n lalu menjadi modus pemaksaan oleh aparat dalam mengambil jalan pintas menuju p enyelesaian suatu perkara. Dalam konteks yang seperti itu, kebenaran lalu menjad i begitu mudah dimanipulasi. Kasus-kasus tindak penyiksaan yang tak pernah terselesaikan yang dikategorisasi oleh Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) Jakarta, antara lain : (1) Ka sus DOM Aceh, 1989-1998; (2) Kasus tanah translok Sei Lapan, Langkat, Medan, 25 Maret 1993; (3) Kasus HKBP Medan, 28 Desember 1992; (4) Kasus unjuk rasa buruh d i Medan April 1994; (5) Kasus terbunuhnya Marsinah, Mei 1993; (6) Kasus terbunuh nya petani Nipah, 24 September 1993; (7) Kasus waduk Kedung Ombo, 1988; (8) Kasu s pembreidelan media massa Tempo, Detik, Editor, 21 Juni 1994; (9) Kasus pembunu han di Liquica, Timor Timur, 21 November 1991. Tindak penyiksaan juga terjadi menjelang lengsernya Soeharto. yang dilakukan ole h aparat negara penegak hukum, bahkan melibatkan kekuatan paramiliter, seperti p reman. Salah satu contohnya adalah penyerbuan kantor PDI (Partai Demokrasi Indon esia) tanggal 27 Juli 1996 yang memakan banyak korban jiwa. Pada tahun yang sama , terjadi kerusuhan di Nabire-Papua sehubungan dengan proses penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS), yang menimbulkan tindak penyiksaan. Tahun 1997 terjadi bent rokan tentara dengan massa di Timika yang menyebabkan 4 orang tertembak mati dan lainnya mengalami tindak penyiksaan. Rangkaian kasus kekerasan dan penyiksaan yang terjadi memberikan gambaran jelas betapa lemahnya posisi warga masyarakat sipil, ketika berhadapan dengan aparat k oersi yang berlindung di balik otoritas negara. Para korban tindak penyiksaan ha mpir-hampir tak mempunyai pembelaan hukum sama sekali. Seluruh dimensi kemanusia an menjadi absurd tatkala yang berbicara hanyalah kekuasaan. Dalam segala aspekn ya, tindak penyiksaan memang selalu berada dalam konteks relasi-relasi kuasa. Ke kuasaan itu tampil dalam wujudnya yang paling primitif. Penyiksaan merupakan man ifestasi jenis kekuasaan yang merusak relasi kemanusiaan antar manusia. Box Teknik Koersi Tujuan dari seluruh teknik koersi adalah melemah mundurkan psikologis tiap orang dengan membawa kekuasaan penekan yang melumpuhkan korban. Kemunduran secara men dasar berarti kehilangan otonomi, kembali ke tahapan perilaku yang paling idiot. Korban yang dilumpuhkan ini merasakan upaya kepribadiannya hancur dalam kurun w aktu tertentu. Korban kehilangan kapasitasnya untuk melakukan sesuatu yang memer lukan kreativitasnya, menghadapi keadaan yang kompleks, tertekan dalam hubungan antar pribadi atau frustasi yang berulang-ulang. Teknik-teknik koersi antara lai n: penangkapan, detensi, penghancuran alat rangsangan, ancaman dan ketakutan, ke sakitan, hipnosis, narkosisi. Kemunduran psikologis akibat teknik koersi antara lain: manipulasi waktu, kekacauan jadwal tidur, disorientasi berkaitan dengan si ang dan malam, pertanyaan yang tak terpolakan, jadwal makan yang kacau, kelamban an merespon waktu, kerja sama setengah hati, menghargai nonkoperasi.

Pengertian Penyiksaan dalam konteks Konvensi Anti Penyiksaan Pada 9 Desember 1975, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menetapkan d eklarasi tentang perlindungan terhadap penganiayaan dan perlakuan lain yang keja

m, tidak manusiawi atau hukuman yang menghinakan dalam resolusi 3452 (XXX). Diba ndingkan dengan ketentuan-ketentuan terdahulu, deklarasi yang terdiri dari 12 pa sal ini merupakan langkah maju. Pasal deklarasi tersebut secara tegas mendefinis ikan penyiksaan sebagai: ....tiap tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk menyebabkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat baik secara fisik maupun mental terhadap seseorang oleh atau atas anjuran seorang pejabat publik, dengan maksud untuk mendapatkan inform asi atau pengakuan darinya atau dari orang ketiga, untuk menghukumnya atas tinda kan yang sudah dilakukan atau yang dicurigai sudah dilakukannnya, atau untuk men gintimidasinya atau orang lain. Deklarasi tersebut merupakan cikal bakal dari Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia selanju tnya disebut Konvensi Anti Penyiksaan, yang ditetapkan oleh PBB pada 10 Desember 1984. Konvensi yang terdiri dari 33 pasal itu mulai berlaku pada 26 Juni 1987. Muncul harapan yang besar di kalangan masyarakat internasional, konvensi tersebu t akan memberi perlindungan yang lebih kukuh bagi tiap orang terhadap penyiksaan . Berbeda dengan deklarasi, konvensi mengikat secara hukum negara-negara yang te lah menandatanganinya. Dengan demikian berbagai aturan di negara-negara yang ber sangkutan harus mencerminkan semangat konvensi. Dari batasan tersebut, tindak penyiksaan jelas merupakan perbuatan yang dilakuka n secara sengaja oleh aparat pemerintahan pemegang kekuasaan formal. Dan siapaka h aparat pemerintahan yang paling dekat dengan praktik penyiksaan tersebut? Dari kasus-kasus yang tak terselesaikan di masa Soeharto berkuasa, terungkap bahwa a parat keamanan baik polisi maupun tentara sering bertindak sebagai pelaku tindak penyiksaan. Sementara yang berkedudukan sebagai korban adalah warga sipil yang dianggap dan disangka sebagai pengganggu stabilitas keamanan. Menyimak kasus-kas us yang ada, tindak penyiksaan itu tak selalu berkait dengan proses penyidikan y ang berakhir di ruang pengadilan. Sebagian di antaranya malah sama sekali tak ad a kaitannya dengan proses peradilan, karena yang terjadi adalah pengadilan jalan an. Sebuah kecurigaan saja sudah cukup untuk mengantarkan seseorang pada pengala man kekerasan yang barangkali tak pernah terbayangkan selama hidupnya. Dalam konteks politik, penyiksaan telah digunakan terutama sebagai mekanisme unt uk menekan para pembangkang politik dan ideologis. Secara berangsur-angsur penyi ksaan telah menjadi bentuk pertarungan yang paling tidak manusiawi dalam menenta ng musuh politik, menentang orang-orang yang tidak seideologi dengan kelompok ya ng berkuasa, seperti untuk memperoleh informasi atau pengakuan keterlibatan; men gkhianati teman atau sejawat; atau untuk menyebarluaskan rasa takut dengan berti ndak sebagai suatu kekuatan yang hebat untuk mencegah meluasnya oposisi politik. Hakikatnya, adalah wajah otoriterisme yang paling tidak wajar dan paling kejam, cara yang paling cepat dan paling mendesak untuk menangani orang-orang yang tidak patuh. Dengan penyiksaan itu, otoritarianisme terbuka kedoknya dan memperlihatkan dirinya dalam segala perlawanannya yang kasar terhadap yang lain, terhadap pembang kangan. Penyiksaan merupakan aspek patologis dari penolakan terhadap demokrasi. Bagaimanapun, penyiksaan adalah pelanggaran hak asasi manusia yang sangat serius , dan oleh karenanya secara tegas dikutuk oleh hukum internasional, dan khususny a oleh Pasal 5 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang menyatakan bahwa Tidak seorang pun dapat dijadikan sasaran penyiksaan atau perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat. Untuk menjamin perlindungan yang memadai bagi semua orang terhadap perlakuan buruk seperti itu, Perserikata n Bangsa-bangsa (PBB) selama bertahun-tahun telah berusaha untuk mengembangkan s tandar-standar yang dapat diterapkan secara universal. Konvensi, deklarasi, dan resolusi yang ditetapkan masyarakat internasional secara tegas menyatakan, bahwa tidak boleh ada pengecualian bagi larangan terhadap penyiksaan. Ragam, Pola, dan Teknik Penyiksaan Secara umum ada dua jenis tindak penyiksaan, yaitu tindak penyiksaan fisikal dan ti

ndak penyiksaan psikologis. Pertama, tindak penyiksaan fisikal ditujukan kepada segenap tubuh korban baik ba gian luar tubuh maupun bagian dalam tubuh. Tindak penyiksaan fisikal bertujuan m elukai, menyakiti, menghancurkan bentuk awal struktur tubuh, dan puncaknya ialah mematikan denyut kehidupan tubuh. Tindak penyiksaan fisikal misalnya pemukulan, pembakaran, pemenggalan, melaparkan, menggantung, menendang, menyiramkan air pa nas ke tubuh korban, memotong kecil-kecil, menulikan telinga, membutakan mata, m ematahkan bagian tubuh tertentu, mengejut tubuh dengan setrum atau asam cuka, me nenggakkan obat keras atau racun, membenamkan tubuh korban kedalam air hingga ke habisan nafas, mematahkan tulang punggung, mencabut kuku kaki dan tangan dengan capitan, menyundut dengan api rokok, membiarkan korban terkena hawa dingin atau panas, meninju dan menampar muka, membeset daging atau kulit tubuh dengan silet, melempari dengan batu, memasukkan kepala orang kedalam tong yang dipukul keraskeras, menggantung korban di tiang gantungan, tubuh digantung di kincir angin se hingga ikut berputar-putar, rollet Rusia, dimasukkan ke penjara Gandi , dan seba gainya. Kedua, tindak penyiksaan psikologis merupakan dimensi atau konsekuensi penyiksaa n fisikal. Dan ragam penyiksaan pada hakikatnya berdimensi psikologis. Contohnya , orang akan sangat tertekan melihat keluarga atau kawannya disiksa, lalu member ikan laporan keliru mengenai penyiksaan, kematian, atau pun pengkhianatan seseor ang. Korban penyiksaan mengatakan bahwa tak seorang pun memperhatikan dan mengin gat penderitaannya, dan bila korban mampu bertahan dari siksa derita itu, maka o rang takkan pernah percaya. Tindak penyiksaan psikologis tampak melalui tekanan selama interogasi setiap saa t hingga ke persoalan ketidaksanggupan korban mengantisipasi apa yang bakal terj adi. Teknik penyiksaan psikologis yang paling ampuh yang kerap dipergunakan yait u menghadapkan si korban dengan anggota keluarga atau teman dekatnya yang didera di depan matanya hingga tewas. Anggota keluarga atau teman dekatnya itu biasany a ditelanjangi dan disiksa dengan menggunakan alat-alat sadis. Si korban dipaksa menyatakan informasi, nama, atau lokasi dan sebagainya. Apabila salah dalam mem berikan informasi, maka anggota keluarga atau teman dekatnya segera dizalimi. Ta k jarang si pelaku tindak penyiksaan meminta si korban menunjukkan bagian tubuh mana yang harus disakiti atau teknik apa yang ia sukai. Korban yang menjadi targ et penyiksaan tak hanya orang dewasa, melainkan anak-anak dan perempuan. Mereka menjadi sasaran tindak penyiksaan fisikal, psikologis, maupun seksual. Meskipun tindak penyiksaan dalam praktiknya cukup luas dipergunakan banyak neger a di dunia, penyiksaan itu sendiri bukanlah sebuah gejala yang unik dalam sejara h. Bedanya, jika pada masa lampau penggunaan penyiksaan diawasi dan diatur ketat , maka pada masa modern tindak penyiksaan justru digunakan sebagai alat dari rez im yang memerintah dengan kekuasaan teror. Lebih dari itu, tidak ada satu rezim pun yang berani mengakui adanya penggunaan penyiksaan. Tindak penyiksaan pada um umnya tetap dirahasiakan dan tidak diatur. Dari segi pola penyiksaan, setiap periode sejarah selalu mengalami perkembangan. Jika pada masa-masa lalu tindak penyiksaan dilakukan dengan cara-cara yang brut al, dengan mendera dan menyakiti fisik korban secara keras, maka seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang seharusnya membuat kebudayaan manusia kian b eradab teknik penyiksaan justru berkembang semakin canggih. Berbagai teknik baru untuk mendera dan menimbulkan rasa sakit sering dirancang s ecara ilmiah. Para pekerja medik dan ahli jiwa turut dilibatkan untuk menemukan, merekomendasi dan memfasilitasi penyiksaan. Dalam konteks ini, tindak penyiksaa n diupayakan agar tidak meninggalkan bekas untuk menghindari kemungkinan tuntuta n pada masa mendatang. Dengan kemajuan dalam bidang sains dan teknologi, tindak penyiksaan tanpa meninggalkan bekas memang bukan suatu hal yang sulit. Dengan de mikian, tindak penyiksaan lalu bergeser ke arah teror yang lebih bersifat psikol ogis. Meskipun begitu, tidak berarti teknik penyiksaan yang kasar dan brutal lal u ditinggalkan. Dalam keadaan tertentu ketika peralatan teknis yang digunakan ti dak tersedia teknik penyiksaan primitif pun bukanlah hal yang tabu untuk dilakuk an. Di samping penggunaan teknologi canggih, faktor-faktor kesejarahaan lain ikut me mberikan penjelasan terhadap peranan baru tindak penyiksaan sekarang. Yang perta

ma dan paling menonjol adalah makin meluasnya model negara otokrasi yang sangat di ideologikan. Dalam model negara yang demikian, pertentangan ideologi dan politik sama sekali tidak ditolerir. Selain itu, faktor lainnya ialah berubahnya negara modern menjadi tataran birokrasi yang besar. Dikonsolidasikannya aparat-aparat birokrasi yang tidak bernama (tiap aktivitas dipisah-pisahkan dan pertanggungjaw aban pribadi dibagi-bagi, diperlunak atau dihilangkan sama sekali, termasuk toko h pemimpin yang bertanggung jawab atas segala tugas dan pertanggungjawaban) memu dahkan tersebar luasnya penyiksaan. Dengan pemisahan tugas seperti itu, peranan masing-masing orang di kantor polisi atau angkatan bersenjata dibagi-bagi lagi: ada yang bertugas menculik atau meng hilangkan tertuduh; ada yang mengurus penahanan; yang lain lagi memberi perintah untuk menyiksa; ada yang bertugas melakukan interogasi untuk mengorek pengakuan atau informasi dari si korban; ada yang menjalankan alat-alat yang benar-benar menyiksa; ada yang bertugas menghilangkan mayat korban dengan melemparkan ke lau t dari pesawat terbang, menguburkannya di lokasi tidak bernama; atau menghancurk annya dengan menggunakan seribu satu cara yang dimungkinkan oleh teknologi moder n bagi penyiksa itu. Di Indonesia, pola umum yang terjadi sebelum dilakukan tindak penyiksaan adalah penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai terlibat kasus tindak pidana (ba ik perkara politik maupun kriminal) tertentu. Sering penangkapan-penangkapan itu dilakukan tanpa menunjukkan surat perintah apapun sebagaimana layaknya penangka pan yang sesuai dengan KUHAP. Dengan demikian, polanya adalah penculikan. Teknik penyiksaan paling standar selama proses interogasi adalah intimidasi yang diser tai dengan kekerasan fisikal. Yang paling kejam ialah penembakan langsung di tem pat, apabila korban tidak memberikan jawaban atau informasi atau pengakuan sesua i dengan skenario si penyiksa. Dari kasus-kasus penyiksaan yang tak pernah terselesaikan pada masa Soeharto ber kuasa tersebut, kita dapat mengindentifikasi beberapa pola penyiksaan: (1) Kasus Aceh. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi, kekera san fisikal dan pencabutan nyawa. Peralatan yang dipakai yaitu api rokok, setrum , balok kayu, senjata api. Alasan penyiksaan ialah korban merupakan anggota GPK; (2) Kasus Sei Lapan. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi d engan cap PKI dan kekerasan fisikal yang mematikan. Peralatan yang dipakai api r okok, balok kayu, pecahan kaca, dan senjata api. Alasan penyiksaan ialah korban melawan pemerintah; (3) Kasus HKBP. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi dan kek erasan fisikal yang mematikan. Peralatan yang dipakai balok kayu, air kotor, sen jata api. Alasan penyiksaan ialah korban melawan aparat negara; (4) Kasus buruh Medan. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi dan kekerasan fisikal yang mematikan. Peralatan yang dipergunakan ialah balok k ayu, air panas, senjata api. Alasan penyiksaan korban ialah melawan pemerintah ( pengusaha); (5) Kasus Marsinah. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi, k ekerasan fisikal, dan pembunuhan. Peralatan yang dipakai ialah api rokok, clurit , obat bius, dan senjata api. Alasan penyiksaan korban ialah melawan pemerintah (pengusaha); (6) Kasus Nipah. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi dengan cap PKI, kekerasan fisikal dan penembakan langsung di tempat. Peralatan yang di pakai ialah senjata api. Alasan penyiksaan korban ialah melawan pemerintah (peng usaha); (7) Kasus Kedung Ombo. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah intimidasi dengan cap PKI, kekerasan fisikal yang mematikan dan penenggelaman tempat tingg al. Peralatan yang dipergunakan ialah senjata api. Alasan penyiksaan korban iala h melawan pemerintah (pemodal asing); (8) Kasus Pembreidelan. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah kekerasan fisikal yang mematikan. Peralatan yang dipakai ialah gas air mata, tongkat kayu, tameng fiberglass. Alasan penyiksaan korban ialah melawan aparat negara; (9) Kasus Liquica. Teknik penyiksaan yang dipergunakan ialah penawanan dan p enembakan langsung di tempat. Peralatan yang dipakai ialah senjata api. Alasan p enyiksaan korban ialah melawan NKRI.

Pola penyiksaan yang tidak sesuai prosedur telah menjadi penyakit kronis yang me rusak sendi-sendi hukum dan demokrasi di Indonesia. Tekanan-tekanan politik dan intervensi pemegang kekuasaan, yang membuat penyidik tidak mampu berbuat lain. P ameran kekuasaan karena kepentingan politik tertentu itu demikian mencolok sehin gga memberi kesan para petugas penegak hukum tersebut berfungsi sebagai alat kek uasaan belaka. Box Penyidikan Segera dan Adil atas Tindak Penyiksaan UU No. 8 tahun 1981 mengenai KUHAP menjelaskan bahwa semua kasus termasuk tindak penyiksaan, prinsip dasar penyidikan sebagaimana tercantum dalam Penjelasan UU No.8 tahun 1981 bagian e dan UU No.35 tahun 1999 menggantikan UU No.14 tahun 197 0 harus diterapkan antara lain proses pengadilan harus dilakukan dengan segera, tak berbelit-belit dan murah, bebas, jujur, dan adil pada semua tingkat pengadil an. Selanjutnya UU No.28 tahun 1997 mengenai Polisi Indonesia, UU No. 2 tahun 1986 m engenai Pengadilan Negeri, UU No. 14 tahun 1985 mengenai Mahkamah Agung, dan UU No. 31 tahun 1997 mengenai Pengadilan Militer, juga sesuai dengan prinsip-prinsi p penyidikan segera dan adil dalam tiap kasus pidana atau pun atas tindak penyik saan. Penyiksaan Dalam Masa Transisi: Latar Belakang Pergantian Rezim dan Konstalasi I mperialisme Mundurnya Soeharto dari panggung kekuasaan pada pertengahan Mei 1998 melahirkan kekerasan sosial yang terjadi antara negara dan masyarakat. Hal ini merupakan ma nifestasi dari ketidakpuasan masyarakat terhadap proses dan cara-cara penyelengg araan negara. Konflik ini bisa berupa konflik antara masyarakat melawan aparat n egara (sipil atau militer) maupun konflik dengan institusi formal negara. Konfli k ini dapat berbentuk aksi massa karena ketidaksenangan terhadap militer dan sim bol-simbolnya, aksi-aksi mahasiswa karena kekecewaan terhadap korupsi, kolusi, d an nepotisme dalam penyelenggaraan negara, kekerasan aparat dalam menangani aksi -aksi tersebut dan lainnya. Di tahun reformasi 1998, setidaknya tujuh insiden de ngan minimal satu korban tewas terjadi, seperti peristiwa penembakan empat mahas iswa Universitas Trisakti dan Tragedi Semanggi I. Legitimasi rezim Soeharto ialah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan sokongan kek uatan militer yang represif, meskipun akhirnya diterpa badai krisis sejak Juli 1 997, yang meluluhlantakkan seluruh kerja kerasnya selama 30 tahun. Pelanggaran h ak asasi manusia oleh militer menjadi fakta publik yang tidak terbantahkan. Masy arakat menuntut agar dwifungsi ABRI dihapuskan. Sepanjang tahun 1998, tampak ada nya mata rantai yang sistematis antara penguasa dan militer melalui tindak perko saan massal atas perempuan Tionghoa, penculikan aktivis, penyiksaan dan penembak an. Soeharto mempromosikan pertumbuhan ekonomi melalui eksploitasi sumber-sumber daya alam dan sistem upah pekerja yang begitu murah. Kebijakan politik, sosial, dan ekonomi dilaksanakan melalui sentralisasi kekuasaan dan kontrol militer mul ai dari tingkat desa sampai tingkat nasional. Rezim ini menciptakan migrasi inte rnal penduduk dan kekerasan antar-etnik dan antar-agama. Pada tahun 1997, Bank Dunia melaporkan bahwa hampir 20-30 persen dana pembanguna n yang digulirkan untuk Indonesia jatuh ke tangan pejabat negara dan para politi si. Kebijakan dan program pemerintah yang didukung oleh donatur internasional te lah menghancurkan keswadayaan dan keamanan sosial komunitas; menciptakan jutaan orang kelaparan, terserang penyakit, dan tak bermilik. Tindakan pemerintah tidak menjamin keamanan pangan, penggunaan lahan yang berkelanjutan, peningkatan kese hatan penduduk dan pengembangan pendidikan rakyat, menolak prinsip hak asasi man usia, menolak pemerintahan yang bersih dan layak, pengadilan yang merdeka, dan b erbagai indikator pemerintahan yang demokratis lainnya. Pada pemerintahan Presiden B.J. Habibie yang akhirnya menggantikan Soeharto seju

mlah langkah penting diambil berkaitan dengan penegakan hak asasi manusia, yaitu pembebasan napol dan tapol, kebebasan media masssa, pembebasan institusi negara dari bentuk-bentuk diskriminasi seperti agama, etnik, dan lainnya. Pembaharuan sistem pemilu juga dilakukan sehingga pemilu yang jurdil dapat berlangsung pada tahun 1999. Meskipun demikian, Habibie kehilangan kredibilitas publik di dalam n egeri dan internasional yang konsekuensinya ialah, keguncangan pemerintahan dan krisis ekonomi yang berlarut-larut. Demonstrasi populer tergelar kembali di Jaka rta. Peristiwa Semanggi II terjadi dan korban jiwa berjatuhan. Saat ini IMF dan Amerika Serikat mendukung pemulihan ekonomi Indonesia dengan me mberikan paket bantuan dana sebesar US$ 42,3 milyar untuk memperbaharui kondisi sosial dan lingkungan hidup yang rusak. Namun dana sebesar itu disalahgunakan un tuk kepentingan penguasa. Pejabat Bank Dunia menyadari bahwa tidak ada jaminan d ana yang dikucurkan tidak akan menguap ke kantong-kantong pribadi aparatur negar a. Perkebunan dan pertanian, pertambangan, kehutanan dan projek kelautan menjadi su mber pemasukan menggiurkan pemerintah, militer dan pengusaha yang menghancurkan ekonomi komunitas lokal. Militer terlibat dalam banyak konflik tanah. Perampasan hak milik rakyat atas tanah telah menghancurkan jaringan pengaman sosial masyar akat secara alami. Konflik tersebut penuh dengan intimidasi dan pelanggaran hak asasi manusia seperti penyiksaan, penculikan, penembakan, dan perkosaan. Insiden kekerasan negara-masyarakat terjadi di banyak daerah. Jumlah insiden antara tah un 1998 sampai 2001 yaitu 83 kali, tersebar di 67 kota dengan menelan korban min imal 46 orang. Insiden yang meningkat tajam itu mengindikasikan bangkitnya kebe ranian masyarakat dalam menyalurkan ketidakpuasannya dalam bentuk kekerasan yang seiring dengan melemahnya peran militer. Hal ini menjadi kecenderungan baru set elah reformasi. Perubahan politik ke arah yang lebih demokratis mendapatkan momentum yang tepat ketika Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarno Putri terpilih secara demokratis sebagai Presiden dan Wakil Presiden pada Agustus 1999. Kedua tokoh ini memiliki sumber dukungan dan basis politik yang kuat untuk memulai proses transisi ke dem okrasi di Indonesia. Fajar perubahan tampak mulai menyingsing di Indonesia. Di bawah pemerintahan yang baru, pemerintahan Gus Dur dan Megawati, langkah-lang kah untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab serta membangu n kembali dan meletakkan kerangka hukum yang kokoh bagi usaha-usaha pemajuan, pe negakan dan pemenuhan hak asasi manusia, yang selama pemerintahan Orde Baru (Soe harto) terabaikan. Langkah-langkah ini telah dirintis oleh pemerintahan transisi onal B.J. Habibie antara lain dengan mendorong disahkannya TAP MPR No. XVII/MPR/ 1998 tentang Hak Asasi Manusia, kemudian diikuti dengan pengesahan serangkaian U U di bidang hak asasi manusia, seperti UU No. 39/1998 tentang HAM, UU No. 5/1998 tentang Ratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan, UU No. 29/1999 tentang Ratifi kasi Konvensi Diskriminasi Rasial, dan pengajuan Peraturan Pengganti Undang-unda ng mengenai Peradilan Hak Asasi Manusia, yang dibawah pemerintahan Gus Dur-Megaw ati diubah menjadi UU No.26/2001 tentang Pengadilan HAM. Box Ratifikasi 6 Konvensi Hingga kini pemerintah Indonesia hanya meratifikasi 6 konvensi internasional hak asasi manusia dari 25 konvensi pokok internasional. Dari 6 konvensi yang sudah diratifikasi itu belum termasuk di dalamnya ratifikasi terhadap 2 kovenan terpen ting, yang sering disebut sebagai International Bill of Human Rights, yaitu Kove nan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan Internasional Hak-hak Ek onomi, Sosial, dan Budaya. Ke 6 konvensi yang sudah diratifikasi itu adalah: (1) Konvensi mengenai Hak-hak Politik Perempuan; (2) Konvensi mengenai Penghapusan Apartheid di bidang Olah Ra ga; (3) Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan ; (4) Konvensi mengenai Hak Anak; (5) Konvensi mengenai Anti Penyiksaan; dan (6) Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial. Di tengah arus pembaharuan yang sedang dilakukan, terjadi ledakan konflik dan ke

kerasan sosial yang merupakan bagian inheren dari krisis dan transisi Indonesia saat ini. Pertanyaannya, apakah kekerasan sosial merupakan instrumen yang diperl ukan untuk memicu suatu transisi, atau merupakan biaya sosial yang tak terelakka n dari suatu transisi? Indonesia tengah berada dalam suatu transisi yang historis. Transisi Indonesia s etidak-tidaknya terdiri atas tiga perubahan besar. Pertama, transisi dari suatu sistem politik dan pemerintahan yang otokratis menuju suatu sistem yang demokrat is. Kedua, transisi dari sistem ekonomi yang bersifat kapitalisme kronistik dan patron-klien menuju suatu sistem ekonomi pasar yang berdasarkan pada suatu atura n permainan yang jelas. Ketiga, transisi dari sistem sosial, politik dan ekonomi yang sentralistik menuju sistem yang terdesentralisasi. Proses transisi ini sed ang berlangsung dan tidak ada yang dapat memastikan apakah transisi itu akan ber hasil mencapai keadaan yang diinginkan dan berlangsung mulus. Tidak ada pula yan g dapat memastikan berapa lama waktu yang akan dibutuhkan untuk mencapai suatu k eadaan keseimbangan sosial politik yang baru. Perubahan di tingkat nasional Indonesia berkaitan erat dengan konstalasi imperia lisme. Proses globalisasi (sosial, ekonomi, politik, budaya) yang diciptakan ole h kekuatan dominan dipaksakan melalui serangkaian krisis yang menumpuk dan berke lanjutan dalam distribusi ekonomi dan politik, keuangan, fungsi pemerintahan dan kemunduran negara kemakmuran. Dalam kaca mata penganut liberalisme, terjadinya krisis dianggap sebagai kegagalan negara dalam menjalankan peran pembangunan eko nomi. Oleh karena itu, langkah yang tepat untuk memulihkan ekonomi justru melalu i liberalisasi ekonomi. Terdapat enam poin utama liberalisme masa kini, yaitu: (1) pengaturan pasar seca ra bebas oleh korporasi dan perusahaan dari campur tangan pemerintah mana pun da n tanpa mempedulikan kehancuran sosial; (2) memangkas semua pelayanan sosial (pe ndidikan, kesehatan); (3) melakukan regulasi untuk membatasi peran negara yang m engurangi tingkat keuntungan korporasi (peran negara dalam melindungi lingkungan dan keselamatan kerja); (4) privatisasi (negara harus menjual semua perusahaan kepada investor); dan (5) menghilangkan konsep kepemilikan bersama dan komunitas . Oleh korporasi transnasional, batas-batas wilayah, kehormatan dan kedaulatan sua tu negara ditembus dan dikuasai secara tidak langsung, menciptakan ketergantunga n ekonomi nasional pada modal asing, monopoli ekonomi-politik melalui institusi internasional seperti IMF, Bank Dunia, WTO. Gambaran Umum Penyiksaan Masa Pemerintahan Megawati Sepanjang tahun-tahun pemerintahan Megawati Soekarnoputri, kasus-kasus penyiksaa n berskala nasional tampaknya kurang menonjol. Di beberapa daerah konflik sepert i Aceh, Papua, Maluku, dan Poso, yang terjadi justru tindak kekerasan bersenjata , meskipun di Aceh dan Papua kasus penyiksaan masih menyisakan kisah penderitaan para korban. Tetapi dari aspek korban dan pelaku, serta kelas dan posisi sosial korban maupun kekerasan, maka ragam-jenis penyiksaan yang menonjol sepanjang ma sa pemerintahan Megawati dapat disebutkan antara lain. (1) Kasus penyiksaan di lembaga pemasyarakatan atau kantor polisi, seperti kasus penganiayaan terhadap penghuni lembaga pemasyarakatan perempuan di Tangerang. E ndah (bukan nama sebenarnya), selama dua tahun harus mendekam dalam penjara, kar ena kasus penganiayaan yang dilakukannya. Endah dan beberapa temannya mengalami perlakuan kasar petugas Lembaga Pemasyarakatan. Semua petugas di lembaga pemasya rakatan perempuan ini adalah laki-laki. Endah dan teman-temannya dicabuli petuga s LP. Tina, seorang napi cilik, pernah mendapatkan perlakuan kejam petugas penja ra. Sekujur badannya biru lebam karena dipukuli petugas. Sementara itu, Ayu, tem an Tina, dipaksa mencabuti rumput berjam-jam lamanya kemudian disetrap, disuruh berdiri dengan satu kaki dibawah terik matahari. Ayu yang tak mampu tegak berdir i disetrum kakinya hingga gadis kecil itu meraung-raung kesakitan. Di Yogyakarta, seorang tahanan bernama Aan Yulianto disiksa di dalam selnya oleh empat orang anggota Brimob. Dua orang temannya, yang kerap mengunjunginya, juga diciduk dan dijadikan tersangka. Kasus yang bermula dari perkelahian antar kelo

mpok pemuda di suatu diskotek di Jalan Magelang, Yogyakarta itu memakan korban s eorang anggota brimob, Totok Sugiarto, yang berlumuran darah tertusuk. Keadaan i ni memicu anggota brimob lainnya mengamuk. Aan tertangkap dan dijebloskan ke dal am penjara, kemudian disiksa beramai-ramai. Setelah diperiksa di rumah sakit, te rnyata 2 tulang rusuknya patah, serta bagian dalam tubuhnya dan hatinya robek. (2) Kasus penyiksaan terhadap Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Tindak penyiksaan di alami oleh TKI yang akan dipulangkan paksa oleh pemeritah Malaysia. Mereka yang mencoba bertahan, dengan tuduhan pekerja ilegal atau pendatang haram, bila ketah uan oleh petugas keamanan Malaysia (pasukan khusus pemburu pendatang haram) akan diadili dan menerima hukuman siksa berupa cambukan di badan lima kali, serta hu kuman penjara selama 5 tahun, dan membayar denda sebesar 10 ribu ringgit (Rp 24 juta). Pekerja ilegal Indonesia yang ada di Malaysia berjumlah 250 ribu orang da ri 1,6 juta tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sana. Kasus penyiksaan juga dialami pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia. Juli 2 002, seorang penduduk Singapura, Ng Hua Chye (47) dijatuhi hukuman penjara 18,5 tahun, karena membunuh dan menyiksa berbulan-bulan seorang PRT asal Indonesia. H ua Chye dinyatakan bersalah, karena membiarkan korban kelaparan, memukul dengan palu, dan menyiram korban dengan air panas. Banyak agen PRT yang merekrut wanita muda tak berpendidikan dari Indonesia dan Filipina tidak memperhatikan etika pr ofesional. Agen-agen itu merekrut pekerja di bawah umur. Wanita-wanita miskin da ri Indonesia sering diharuskan bekerja keras dan tak memiliki kebebasan. Kadang mereka disiksa secara fisik. KBRI di Singapura menerima sekitar seratus keluhan setiap bulan dari PRT, karena gaji mereka tidak dibayar. Menurut Renvyannis Gaza li, konsultan KBRI urusan PRT, setidaknya 18 PRT berlindung di KBRI, karena mend apat siksaan fisik dari majikan mereka. (3) Kasus penyiksaan antar-aparat keamanan. Dua anggota Batalyon Infantri 753 Ar ga Vira Tama Nabire, Papua, menganiaya anggota Polres Nabire. Prada Marthinus Ma nggo dan Serda Umar Bariwijaya menganiaya anggota Polres Nabire Frangky D.K hing ga tewas. Penganiayaan yang dilakukan kedua terhukum terjadi pada 11 Agustus 200 1 di Jalan Pemuda Nabire. Aksi itu dilatarbelakangi balas dendam terhadap pemuku lan rekan mereka saat mabuk. Hakim menilai, Marthinus tak layak menjadi militer karena melakukan tindak pidana berat. (4) Kasus penyiksaan keluarga (domestic violence). Sejak 27 Juli 2002, Andres An driyanto (7) melarikan diri dari rumah dan belum diketahui keberadaannya. Andres adalah anak kandung Ny Maria Margaretaha (32) dan anak tiri Paulus Poppe Mbulu (43). Andres minggat, karena sering mendapat perlakuan tidak sewajarnya dari aya h tirinya. Para tetangganya sering memergoki Andres dipukuli Paulus. Perbuatan i tu sering juga dilakukan di depan istrinya, Maria. Menurut sejumlah warga, Maria tidak berani berbuat apa-apa karena takut dengan Paulus. Andres tercatat sebagai siswa kelas 2 SDN Kendangsari II. Karena itu, minggatnya bocah laki-laki itu tidak hanya membuat ibu dan para tetangganya bingung, tetap i juga para guru yang selama ini mendidiknya ikut prihatin. "Dia itu anak pintar dibandingkan teman-temannya. Itulah sebabnya, begitu kami mendapat laporan dia kabur dari rumah, karena sering dipukuli ayahnya, maka para guru di sini langsun g ikut mencari, namun belum membuahkan hasil," kata Kepala Sekolah Suwartinah. (5) Kasus penyiksaan dalam penggusuran warga. Tidak terima tanah dan rumahnya di gusur, warga RT 01 dan 02, di Jalan Inspeksi Kali Sunter, Kelapa Gading (Jakut), bentrok dengan aparat Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib). Akibatnya, puluhan orang luka-luka. Bentrokan diwarnai aksi lempar batu dan pemukulan. Pemicunya, a parat Tramtib yang dibantu beberapa preman, melakukan kekerasan terhadap warga y ang mempertahankan rumahnya. Menurut salah seorang warga, Abdul Rasyid (60), sek itar 500 aparat Tramtib dibantu dengan puluhan preman, membongkar paksa bangunan warga dengan tiga buldozer. Mereka meratakan 300 bangunan. Warga terpaksa melawan. Mereka bertarung untuk mempertahankan tempat tinggalnya. Bentrokan fisik akhirnya tidak terhindarkan. Aparat Tramtib dari Satpol, Banpol dan Linmas dibantu satu satuan setingkat kompi aparat kepolisian dan puluhan pr eman. Mereka menggunakan senjata berupa tongkat kayu, besi bahkan tombak dan pan ah. Akibatnya, warga lari kocar-kacir ke arah pinggiran Kali Sunter di Jalan Ins peksi dan Jalan Yos Sudarso. Sementara itu, tiga buldozer membongkar rumah warga . Dua warga tertangkap. Keduanya lalu dihajar Tramtib beramai-ramai. Yadi dan An

to, nama dua warga itu babak belur. Selain dua warga yang luka dihajar aparat Tramtib, tujuh warga lainnya pun menga lami luka parah. Mereka adalah Kusman yang mengalami luka di punggung belakang a kibat terkena panah, Bopo luka di sekujur tubuh, Jiyo luka memar di pipi, Niat m engalami luka punggung terkena panah, dan Rasum luka pada paha kanan. Mereka lal u dibawa ke Rumah Sakit Persahabatan. "Pembongkaran ini inisiatif PT Sari Kebun Jeruk Permai. Mereka menganggap tanah seluas 20 hektar ini miliknya. Padahal ratusan kepala keluarga tinggal di tempat ini sudah lama. Surat-surat mereka aspal (asli tapi palsu) dari Orde Baru," kat a Abdul, juru bicara warga. Di atas tanah itu akan didirikan pusat perkantoran d an pertokoan Mediterania Square. Saat ini, dari 20 hektar tanah tersebut, sudah 17 hektar di antaranya yang ditimbuni, sedangkan sisanya yang masih ditempati wa rga, mulai diratakan dengan tanah. Jumlah warga yang menempati lahan itu sekitar 700 KK atau 1500 jiwa. Aksi pembon gkaran paksa ini bertentangan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri No.15/1955 y ang mengatakan, harus ada ganti rugi bila terjadi pembongkaran rumah warga. "Sam pai saat ini, kami nggak dapat ganti rugi. Kami pun tidak pernah diajak berundin g," tandas Abdul. Ia mengakui bila selama ini warga sudah mendapatkan surat peri ngatan dari Camat Kelapa Gading, Sri Jumiati, sejak 15 Oktober 2002. Isinya, war ga diminta secara sukarela membongkar rumahnya sendiri dalam waktu 3 x 24 jam. L antas, pada tanggal 19 dan 22 Oktober turun surat perintah pembongkaran dari wal i kota Jakarta Utara. (6) Kasus penyiksaan masyarakat sipil oleh preman politik (Premanisme Politik). Tindak kekerasan pun dialami oleh anggota Konsorsium Miskin Kota (UPC) ketika me lakukan aksi-aksi menentang kebijakan gubernur DKI Jaya, Sutiyoso. Penyiksaan te rhadap anak-anak dan perempuan dilakukan oleh gerombolan preman yang tergabung d alam Forum Betawi Rembug (FBR). Bahkan seorang anggota Komnas Perempuan, kepalan ya terluka akibat pukulan benda keras di kepalanya. Beberapa orang anggota FBR s empat merusak dan melempari kaca-kaca kantor Komnas Perempuan, yang berdekatan d engan Komnas HAM. Kasus Penyiksaan dalam Konflik Agraria 1. Latar Belakang Ekonomi-Politik Watak politik rezim Orde Baru yang menindas hak asasi manusia merupakan konsekue nsi sejarah, yaitu: lemahnya kekuatan borjuasi domestik, dihancurkannya gagasan dan gerakan politik radikal, relasi dan struktur ketergantungan terhadap modal a sing. Racikan faktor-faktor tersebut melahirkan negara otoritarian dan rezim pol itik yang militeristik, teknokratis namun bergantung penuh pada modal asing. Wat ak seperti itulah yang memberikan keleluasaan bagi rezim Orde Baru untuk membang un struktur ekonomi yang memapankan kalangan birokrat, militer dan kroni penguas a, serta mengabaikan pembangunan masyarakat yang berbasiskan perikemanusiaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendekatan yang represif dan mil iteristik membuahkan pelanggaran dan kekerasan terhadap hak asasi manusia. Pergeseran-pergeseran politik yang terjadi pasca rezim Soeharto tidak serta mert a merombak dan menegasikan watak dan titik-tolak rezim Orde Baru. Secara mendasa r, watak dan titik-tolak tersebut terus dipertahakan dalam pemerintahan transisi mulai B.J. Habibie, Gus Dur, dan kini dalam pemerintahan Megawati Soekarnoputri . Konservatisme menguat kembali, ketergantungan pada modal asing kian akut bahka n memuluskan jalan bagi berbiaknya neo-liberalisme di Indonesia. Terjerumusnya p emerintahan transisional ini ke dalam perangkap kepentingan lembaga-lembaga dana internasional tampak dari penghapusan kebijakan sosial dalam perusahaan dan lem baga negara, seperti subsidi pendidikan, kesehatan, perumahan, listrik, pangan, air minum, dan lainnya. Rezim Mega-Hamzah melepaskan seluruh aset dan pranata so sial yang ada ke tangan mekanisme pasar dan logika modal neo-liberalisme. Dengan demikian, negara tidak lagi bertanggung jawab atas perikehidupan seluruh rakyat Indonesia alias homo homini lupus. Belum berubahnya watak rezim transisional dan relasinya dengan Orde Baru itulah,

yang menyebabkan status pemilikan, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya ala m menjadi problem tersendiri saat ini. Nasib si miskin; kaum tani, kaum miskin k ota, buruh, nelayan, bergantung sepenuhnya pada kemurahan hati sang penguasa. Me reka menjadi korban ketidakpedulian negara dan tiadanya perspektif pembangunan s osial, ekonomi, politik dan budaya yang menjamin keadilan sosial. Terabaikannya hak-hak sosial, ekonomi dan budaya dapat dilihat dari pemenuhan aspek-aspek: pen didikan, kesehatan, perumahan, pekerjaan, pangan dan lainnya. Hak atas standar hidup yang layak berkaitan dengan hak-hak lainnya. Dalam pemenu han hak-hak ini, pemerintah Indonesia harus mampu memproteksi hak-hak masyarakat nya. Pemerintah Indonesia harus melakukan koreksi terhadap sistem perdagangan du nia dan Asia yang merugikan rakyat. Begitu pun terhadap lembaga-lembaga dunia se perti IMF dan Bank Dunia. Peran pemerintah untuk melakukan proteksi bagi masyara kat telah gagal. Fasilitas subsidi di sektor-sektor pelayanan publik dihapuskan atas permintaan lembaga-lembaga ekonomi dunia tersebut. Penghapusan dan penghent ian subsidi tersebut tidak diiikuti oleh peningkatan kualitas pelayanan publik o leh negara. Partisipasi masyarakat dalam mengawasi aliran dana bagi kepentingan hidupnya terbatasi oleh intervensi birokrasi pemerintahan yang menghambat dan ko rupstif. Negara juga tidak mencegah kerusakan lingkungan yang mayoritas dilakuka n oleh para pengusaha real estate, pertambangan, perkebunan, dan HPH. Di perkotaan, penyediaan fasilitas hunian dan sanitasi lingkungan masih sangat j auh dari kelayakan. Pendidikan dasar bagi anak-anak usia sekolah tak dapat dinik mati sebagian besar anak-anak di Indonesia. Fenomena anak jalanan adalah indikas i ke arah itu. Hanya golongan tertentu yang dapat mengenyam pendidikan dengan ba ik. Kemiskinan menciptakan kebodohan. Kebodohan mengakibatkan ketertindasan. Ket ertindasan melahirkan ketidakadilan dan kemelaratan baru. Hal ini merupakan ling karan setan. Dalam persoalan perburuhan, berkaitan erat dengan keadaan ekonomi dan politik di tingkat nasional dan internasional. Ekonomi politik Indonesia berada dalam masa transisional, yaitu dari rezim otoritarian menuju rezim demokratis. Lemahnya keku atan buruh dalam menghadapi para pemodal asing dan negara merujuk kepada faktor lemahnya kesadaran berorganisasi dan politik organisasi buruh yang ada. Di sampi ng itu, badai globalisasi dan agenda neo-liberal telah menciptakan standar kesej ahteraan dunia dan kemanusiaan kian menurun. Negara mengalami kegagalan ketika melansir RUU tentang Perkebunan yang tidak men jamin hak-hak petani. Upaya pemanfaatan lahan pertanian dan reclaiming hak atas tanah dalam RUU tersebut diklasifikasikan sebagai tindak kejahatan (kriminal). P engklasifikasian ini akan memotong kerja-kerja pemenuhan hak atas standar hidup yang layak atas inisiatif masyarakat sendiri. Tanpa tanah, sebagai alat produksi , petani akan sulit memenuhi kebutuhan dasarnya, terlebih meningkatkan taraf hid up keluarganya. Eksploitasi berkelanjutan juga dialami kaum nelayan. Sektor ekonomi kelautan mas ih jauh tertinggal dibandingkan sektor industri lainnya yang mengandalkan pemanf aatan sumber daya alam. Kerusakan lingkungan di kawasan pesisir dan laut tidak h anya diakibatkan oleh industri yang berkaitan dengan perikanan. Hampir semua lim bah industri bermuara ke pantai. Sementara itu, industri pembalakan hutan dan pertanian intensif yang menggunakan asupan kimia membawa akibat besar di kawasan pesisir. Degradasi ekosistem menja di penyebab menurunnya tingkat produktivitas sumber daya pesisir dan laut Indone sia. Persaingan yang tidak sehat dan adil antara pengusaha perikanan skala besar dengan nelayan tradisional terjadi di seluruh Indonesia. Masyarakat nelayan tra disional tidak mendapatkan dukungan atas haknya untuk mengakses dan mengontrol s umber daya laut. Infrastruktur dan rendahnya tingkat kesejahteraan sosial tidak membantu nelayan dalam mengatasi berbagai persoalannya. Sering nelayan tradision al dipersalahkan atas kerusakan lingkungan yang terjadi. 2. Sejarah Konflik Pertanahan Konflik pertanahan di Indonesia terjadi sejak masa feodalisme, kolonialisme hing ga kini. Konflik ini tidak pernah usai. Pada masa kerajaan-kerajaan, telah terja di berbagai kerusuhan sosial yang dilancarkan kalangan rakyat kecil terhadap ari stokrat kerajaan berkaitan dengan penguasaan wilayah (tanah dan manusia). Sejara

h penguasaan tanah di Jawa, penuh dengan kisah-kisah perseteruan menyangkut konf lik pertanahan. Masuknya kolonialisme Belanda dengan membuka lahan-lahan perkebu nan di Sumatera dan Jawa semakin melestarikan eksploitasi dan konflik tersebut. Pola perkebunan lokal yang tradisional dihancurkan dengan masuknya kolonialisme Belanda pada abad 17. Pemerintah kolonial Belanda menggunakan pendekatan yang berbeda dalam pengelolaa n tanah, yaitu dengan sistem tanam homogen (monokultur); ekspansi wilayah untuk penanaman komoditi, pengolahan, pemukiman buruh perkebunan; serta mobilisasi ten aga kerja dan diskriminasi rasial. Sedangkan secara historis, konflik pertanaha n di Indonesia dapat diringkas sebagai berikut: (1) Pada masa pemerintahan V.O.C di Indonesia (1602-1800), diterapkan eksploitas i komoditi ekspor dengan menggunakan sistem tanam paksa, yaitu berupa penyerahan wajib dan kontingensi berdasarkan kuota yang ditentukan. Sistem tersebut dikena kan pada suatu daerah atas berbagai alasan, seperti penaklukan, perjanjian, dan kontrak antara kedua belah pihak. Di masa pendudukan Inggris dibawah kekuasaan Raffles (1812-1816) diterapkan sist em land rent atau sistem pemungutan pajak tanah yang merupakan bagian dari siste m sewa tanah. Sistem tersebut adalah kebijakan ekonomi dan perkebunan yang dicip takan Raffles, sebagai penganut paham liberalisme. Raflles menginginkan sistem p erkebunan yang bebas dari segala unsur paksaan dan ikatan feodalis. Juga disusun kebijakan dengan mengubah tiga asas, yaitu penggunaan sumber daya t anah, tenaga, dan ikatan birokrasi tradisional yang mendasarinya. Pertama, mengh apuskan segala bentuk penyerahan wajib dan rodi. Rakyat bebas menanam dan menjua l hasil tanaman. Kedua, pengawasan atas tanah secara terpusat dan langsung, pena rikan pungutan dan sewa dilakukan tanpa perantara Bupati. Ketiga, dengan asumsi bahwa pemerintah kolonial adalah pemilik tanah, maka petani penggarap tanah dika tegorikan sebagai penyewa tanah pemerintah kolonial, yang berkewajiban membayar sewa tanah yang ditetapkan berdasarkan keputusan pemerintah kolonial. (2) Pada masa pemerintahan Belanda (1830-1870), kebijakan perkebunan yang dikemb angkan adalah sistem tanam paksa. Pemberlakuan sistem ini diberlakukan karena pe merintah Belanda mengalami kebangkrutan ekonomi dan dilanda hutang yang besar. S istem tanam paksa merupakan kombinasi sistem penyerahan wajib ala V.O.C dengan s istem pajak tanah ala Raffles. Pada tahun 1870, pemerintah kolonial menerapkan A grarische Wet atau Undang-undang Agraria. Melalui penerapan undang-undang ini pe milik modal asing (Belanda maupun Eropa) mendapat kesempatan luas berusaha di bi dang perkebunan. Undang-undang ini melahirkan beberapa peraturan agraria untuk p erkebunan swasta sehingga para pengusaha dapat memperoleh tanah melalui erfpacht , sewa, dan konsesi. (3) Pada masa kemerdekaan (1945-1948), terjadi pendudukan lahan perkebunan oleh petani dengan semangat revolusi yang dihembuskan oleh Soekarno. Kaum tani melaku kan penggarapan lahan-lahan perkebunan eks hak erfpacht milik pengusaha Belanda, Eropa dan Asia. (4) Pada periode tahun 1948-1955, Belanda dengan dukungan sekutunya berupaya men gembalikan kekuasaannya atas wilayah Indonesia melalui Agresi Militer I dan II. Aksi militer tersebut tidak berhasil, sehingga Belanda mengubah siasatnya dengan cara perundingan dan negosiasi atau diplomasi. Melalui perundingan Konferensi M eja Bundar (KMB) Belanda masuk kembali ke Indonesia untuk menguasai aset mereka termasuk perkebunan. (5) Pada periode tahun 1955-1957 terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan asi ng oleh pemerintahan Soekarno, dan berbarengan dengan Pemilu pertama tahun 1955 dibawah sistem Demokrasi Parlementer menjelang pelaksanaan Demokrasi Terpimpin t ahun 1959. Tahun 1960, pemerintahan Demokrasi Terpimpin mengeluarkan Undang-unda ng No. 5 tahun 1960 mengenai Pokok-pokok Agraria. UUPA 1960 mengedepankan janji memerdekakan petani dalam penguasaan dan pemilikan lahan pertanian dan menghapus kan pemberlakuan hukum agraria Barat. (6) Pada masa pemerintahan Orde Baru, Angkatan Darat mengambil-alih lahan-lahan perkebunan yang dikuasai oleh orang-orang yang dituduh komunis. Inilah awal peng uasaan lahan-lahan perkebunan oleh yayasan-yayasan yang dibentuk oleh Penguasa D arurat Perang di wilayah-wilayah Kodam, yang terus dipertahankan hingga kini. Ma

suknya militer dalam bisnis perkebunan berbenturan dengan logika pengembangan ko moditi yang menuntut kecukupan modal dan teknologi tinggi. Akibatnya, militer me n-subkontrak usaha perkebunan. Masalah-masalah yang penuh kontradiksi inilah yan g menjadi salah satu sebab terjadinya konflik agraria di atas lahan perkebunan h ingga kini. Pada akhirnya, Orde Baru menghapuskan landreform dan menggantikannya dengan program tata guna lahan dan transmigrasi. Program ini dikenal dengan seb utan Perkebunan Inti Rakyat (PIR-bun), yang kemudian memperluas wilayah dan inte nsitas konflik agraria. (7) Pada masa pemerintahan transisional mulai Habibie, Gus Dur, sampai Megawati. Kebijakan perkebunan masih bertahan dengan modelnya yang sangat kapitalistik. D ibawah pemerintahan Gus Dur sempat mencuat gagasan populis untuk memenuhi harapa n kaum tani, yaitu dengan kebijakan penyerahan 40% saham kepada rakyat dan 60% k epada PTP. Namun, gagasan populis tersebut mendapat tantangan keras pengusaha ya ng mengerahkan ribuan buruhnya ke DPR. Sementara itu, DPR sendiri tidak pernah j elas sikap keberpihakannya terhadap nasib kaum tani yang dirampas tanah-tanahnya . Militerisasi dalam sektor perkebunan terus bercokol hingga pemerintahan Megawa ti. Secara singkat, pola penguasaan lahan perkebunan dari masa ke masa dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 Sejarah Pola Penguasaan Perkebunan No. Penguasa/ Tahun Sistem/ Kebijakan Perkebunan 1 Pra Kolonial (1200-1600) -Kebun campuran -Kebun permanen 2 VOC Belanda (1600-1800) -Penyerahan wajib -Penyerahan produksi komoditi berdasarkan kuota yang ditentukan 3 Pemerintahan Inggris/ Raffles (1812-1816) -Land rent -Penghapusan segala bentuk penyerahan wajib dan rodi -Rakyat bebas menanam dan menjual hasil tanaman -Pengawasan atas tanah secara terpusat dan langsung -Penarikan pungutan dan sewa dilakukan tanpa perantara/Bupati -Petani membayar sewa tanah yang ditetapkan 4 Pemerintahan Belanda/ Van Den Bosch (1830-1870) -Tanam paksa -Penyerahan wajib dan pajak tanah -Rakyat wajib membayar pajak dalam bentuk hasil tanaman pertanian -Terbentuknya UU Agraria 5 Pemerintahan Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin (1945-1966) -Nasionalisasi aset-aset milik asing -UUPA No.5/1960 -Landreform -Unit-unit perusahaan perkebunan digabung menjadi BPU-PPN 6 Pemerintahan Orde Soeharto (1967-1998) -Pengambil-alihan lahan-lahan pe rkebunan oleh militer dengan menggunakan stigmatisasi PKI -Subkontrak pengelolaan perkebunan -Program tata guna lahan dan transmigrasi -Proyek PIR-Bun -Pembentukan PTP -Kebijakan PMA-PMDN 7 Pemerintahan Transisional (1998-sekarang) -Model kemitraan Tebu Ra kyat Intensifikasi -Program kawasan Industri Masyarakat Perkebunan Dalam bingkai sejarah penindasan yang sangat panjang itulah, konflik agraria mer ebak di mana-mana. Kantong-kantong kemiskinan tercipta di basis-basis perkebunan sebagai konsekuensi logis dipertahankannya sistem nilai, struktur, dan relasi s osial-ekonomi agraria oleh rezim Soeharto hingga rezim Megawati. Ketimpangan str uktur dan penguasaan lahan adalah realitas sosial yang menyedihkan dan memiskink an petani. Pemerintah terus menyetujui pembangunan perkebunan yang harus merampa

s tanah-tanah hak ulayat rakyat di berbagai daerah. Pasca rezim Soeharto, lahir perlawanan-perlawanan petani dan masyarakat perkebun an untuk merebut kembali (reclaiming) tanah-tanah yang dirampas pengusaha, pengu asa, birokrat, dan militer. Usaha reklaim terjadi sebagai akibat dari kebijakan agraria yang tidak berpihak kepada rakyat khususnya petani. Respon pemerintah dalam menghadapi upaya pemulihan hak sosial ekonomi dan budaya oleh petani adalah mengedepankan kekerasan. Pola kekerasan yang dilakukan melip uti pembumihangusan wilayah perkampungan petani, penculikan, pembunuhan, penemba kan, penyiksaan, dan kriminalisasi. Penyiksaan terhadap petani dilakukan oleh pr eman dan militer yang disewa pengusaha. Dalam perspektif hak asasi manusia, keke rasan yang dilakukan dalam bentuk penyiksaan terhadap petani merupakan bukti bah wa pemerintah tidak berkeinginan menuntaskan persoalan agraria, bahkan membungka m perjuangan petani yang hendak mencari keadilan. Tabel 2 Rekapitulasi Sengketa Agraria di Indonesia Masa Orde Baru Wilayah Jumlah kasus Luas lahan Bersengketa (ha) enjadi korban Sumatera 382 360.712,62 69.783 Jawa 907 449.656,99 146.713 Bali 12 1.019,07 2.438 Nusa Tenggara 42 15.849,08 674 Kalimantan 64 18.769,59 4.055 Sulawesi 70 38.329,63 8.363 Maluku 4 120.000,14 n.a. Papua 16 48.177,25 151 Jumlah 1.497 1.052.514,37 232.177 Sumber: Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam)

Jumlah KK yang m

Perubahan politik menyusul jatuhnya Soeharto bukan berarti turut terselesaikanny a kasus-kasus penyiksaan menyusul konflik agraria yang terjadi. Berikut ini kasu s-kasus penyiksaan yang terjadi pada masa pemerintahan-pemerintahan di era refor masi, termasuk pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri. (1) Kasus Perampasan Tanah di Labuhan Batu, Sumatera Utara. Sebanyak 70 warga da ri berbagai desa di Labuhan Batu berunjuk rasa di Kantor DPRD Medan menuntut pen gembalian lahan garapan mereka seluas 3.020 ha. Sebelumnya, sebanyak 1.085 kelua rga menggarap lahan yang dipersengketakan tersebut. Dalam unjuk rasa, warga desa tersebut menuntut ketiga perusahaan (PT Rantau Sinar Karsa, PT Binanga Mandala, dan PT Indo Sepadan Jaya) untuk mengembalikan lahan garapan mereka di lima loka si yang berbeda. Juga memprotes tindak pengrusakan yang dilakukan terhadap permu kiman warga. PT Binanga Mandala bersama aparat keamanan setempat mengusir warga setempat yang bermukim di Dusun Aek Kulim, Desa Mandala Sena. Dalam pengusiran i tu sebanyak 143 keluarga menderita kerugian sekitar Rp 250 juta karena kehilanga n harta benda mereka saat pengusiran yang disertai pembakaran dan pengrusakan it u. Beberapa warga mengalami luka-luka ketika pengusiran terjadi, karena mencoba melawan aparat keamanan setempat. Banyak warga yang diamankan ke kantor polisi y ang juga mengalami tindak penyiksaan. Sekarang warga terpaksa membangun permukiman baru di sekitar lokasi. Warga sudah tiga kali mengadukan kasus ini ke Polres Labuhan Batu, tapi tidak ada tanggapan. Polisi menganggap tidak ada tersangka yang jelas, padahal warga tahu persis pel akunya adalah manajer perusahaan tersebut, ujar Lamtagon, salah seorang wakil war ga. Lahan yang dituntut warga tersebut antara lain 1.250 ha di Desa Pematang Seleng (PT Indo Sepadan Jaya) dan 800 ha di Desa Pangkatan (PT Rantau Sinar Karsa). Sis anya 370 ha di Dusun Aek Kulim Desa Mandala Sena (PT Binanga Mandala), 400 ha di Dusun Bamban Bidang Seberang Desa Sennah (PT Rantau Sinar Karsa), dan 200 ha di Dusun Teluk Lesung Desa si Pare-pare (PT Rantau Sinar Karsa). (2) Kasus Reklaim Tanah di Ladongi, Kolaka, Sulawesi Tenggara. Tiga warga Ladong i menjadi korban penembakan polisi di areal perkebunan PT Perkebunan Ladongi. Ke

tiga mayat korban tersebut dinyatakan hilang, dan tidak diketahui nasibnya. Keti ga warga yang diculik itu masing-masing Hafid (29); Ridwan Tuke (30); dan Ismail (35). Mereka hilang ketika bersama 400 warga lainnya menduduki areal perkebunan di atas lahan yang dikuasai oleh PT Perkebunan Ladongi. Aksi tersebut dibubarka n polisi dengan menembaki warga. Polisi harus bertanggung jawab atas hilangnya ketiga warga itu, karena mereka tib a-tiba menghilang saat polisi menghujani ratusan warga dengan tembakan, kata Ihsa n, Koordinator Lapangan Front Solidaritas Aksi untuk Masyarakat Ladongi. Penembakan di areal perkebunan kakao milik PT Perkebunan Ladongi (anak perusahaa n PT Hasfarm Niaga Nusantara) dilakukan oleh pasukan Brimob Polda Sulawesi Tengg ara. Penembakan itu dilakukan karena ratusan warga yang menuntut pengembalian la han perkebunan tak mengindahkan perintah polisi untuk segera keluar dari areal t ersebut. (3) Kasus Penggarapan Lahan di Desa Darmakradenan, Banyumas, Jawa Tengah. Gara-g ara menggarap lahan sengketa, 11 petani warga Desa Darmakradenan divonis 15 hari kurungan oleh Pengadilan Negeri Purwokerto. Ketua Majelis Hakim PN Purwokerto, M. Daru, menyatakan bahwa para petani bersalah karena menguasai tanah tanpa seiz in pemiliknya. Namun, para petani menyatakan tidak bersalah karena tanah itu mil ik mereka yang dikelola turun-temurun. Para petani disidang tanpa didampingi pen asihat hukum. Mereka juga mendapat perlakukan kasar aparat keamanan ketika dikur ung dalam tahanan. Kalau kita menerima keputusan itu, berarti kita berada di pihak yang salah. Kenya taannya, tanah yang dikelola petani adalah benar-benar tanah milik warga Darmakr adenan, ujar Sarno (34), salah seorang petani yang terhukum kurungan. Menurut dia , tanah para petani di Darmakradenan diambil alih tentara saat Peristiwa G30S/19 65, dan kemudian disewakan kepada PT Rumpun Sari Antan. Setelah reformasi 1998, para petani mengambil kembali tanah tersebut. (4) Kasus Sengketa Lahan di Sukabumi, Jawa Barat. Petani mengajukan hak atas tan ahnya ke Komisi A DPRD Tingkat II Kabupaten Sukabumi. Pengajuan hak atas tanah m eliputi Desa Cikangkung, dan lokasi lahan yang diajukan berada di Cibanteng dan Cijoko. Juga di Desa Sumber Jaya, Desa Bumi Asih, Desa Tegal Buleud, Desa Caling cing. Lokasi lahan yang diajukan berada pada 4 desa seluas 800 Ha. Lahan ini mer upakan tanah KAS Desa yang letaknya berbatasan dengan lahan Kehutanan. Wilayah C ibabi masuk dalam wilayah Kecamatan Ciracap dan Kecamatan Ciemas. Lahan ini asal mulanya merupakan lahan bekas erpach Maskapai Cibenda dan bekas peternakan Tuan Gede. Lahan tersebut di tanami kelapa sawit tegal alang-alang. Luas areal Cibab i 1200 Ha. Lahan tersebut diolah oleh penduduk yang berjumlah lebih 10.000 KK. 5 00 KK diantaranya adalah anggota Himpunan Petani dan Nelayan Pakidulan (HPNP). D i lokasi ini, banyak anggota HPNP yang sudah mendirikan bangunan rumah dan mengo lah lahan pertanian. April 2002, ketenangan petani di wilayah Cibabi dan Cikangkung mulai diusik. Mas yarakat yang menduduki dan mengolah lahan di wilayah Cibabi diperintahkan oleh p ihak Perhutani untuk segera mengosongkan lokasi. Menurut pihak Perhutani, lahan di wilayah Cibabi tersebut termasuk cagar alam atau hutan lindung. Dalam peristi wa ini, terjadi perdebatan antara petugas PPA dan warga masyarakat. Petugas PPA beranggapan bahwa lahan tersebut merupakan hutan lindung, kenapa warga masyaraka t menggunakannya untuk pertanian dan pemukiman (rumah sudah pakai kayu dan mengg unakan genteng), membangun mesjid besar untuk jumatan dan sudah membuat rencana dirikan sekolah rakyat di lokasi tersebut. Pertengahan April 2002, terjadi operasi militer. Operasi ini merupakan operasi g abungan dari Brimob, PPA, POL PP, dan Koramil dari tiap kecamatan, serta para pr eman bayaran. Dalam operasi militer ini, rumah masyarakat di wilayah Cibabi diba kar, harta kekayaannya dijarah, dan warga terpaksa mengungsi ke desa-desa. Denga n didampingi mahasiswa Jakarta, dam aktivis Bina Desa, anggota HPNP mengadu ke K omnas HAM. Setelah pulang dari Komnas HAM, masalah bukannya mereda, tetapi aparat makin bru tal. Petani yang berangkat ke Jakarta dikejar-kejar oleh aparat. Surat perlindun gan yang diberikan oleh Komnas HAM, di robek oleh petugas. Hadi, ketua organisas i tani Calingcing, dituduh sebagai dukun santet dan provokator penggarap tanah. Ia ditangkap oleh Polsek Tegal Buleud. Kepada tiap petani yang menggarap lahan d

i wilayah Cibabi, pihak Aparat minta uang keamanan sebesar Rp 800.000. Jika tidak membayar uang keamanan, para petani diteror akan dibunuh secara massal. Selain di Cibabi, kasus yang sama terjadi di Kecamatan Tegal Buleud yang meliput i 4 desa, yaitu desa Sumber Jaya, desa Bumi Asih, desa Tegal Buleud, dan desa Ca lingcing. Brimob dibantu Satgas kehutanan dan preman bayaran dikerahkan ke Kecam atan Tegal Buleud. Ancaman dan teror yang disebarkan adalah, agar para petani se gera mengosongkan lokasi, karena lokasi tersebut akan menjadi proyek PHBM (Penge lolaan Hutan Bersama Masyarakat). Warga masyarakat, khususnya anggota HPNP berus aha untuk bertahan dan sepakat tidak akan keluar dari wilayah tersebut. Pada 3 Juni 2002, di Tegal Buleud, Jamal dan Herman ditangkap oleh pasukan Brimo b. Mereka dibawa Polres Sukabumi. Pada 5 Juni 2002, sebanyak dua jip Brimob dan Intel Kapolres Sukabumi memasuki kampung untuk menangkap dan menculik Ispada dan Karmidi. Petugas intel dan Brimob juga mencari ketua HPNP. Peristiwa ini menyeb abkan anggota HPNP mengalami kekalutan dan kekacauan, sehingga para anggota HPNP kemudian menyelamatkan diri ke Sukabumi. Pada 17 Juni 2002, terjadi lagi penangkapan terhadap anggota HPNP. Kali ini angg ota HPNP yang ditangkap adalah Enoh, Gagay dan Eloy di wilayah Cikangkung. Penan gkapan dilakukan dengan tuduhan pidana, yaitu melakukan penganiayaan terhadap pe tugas pengusaha. Awal kejadian yang sebenarnya adalah, adanya pemungutan pancen (cukai) sebesar 10 kg per patok gabah. Pancen tersebut ditolak oleh petani. Peno lakan petani tersebut, ditanggapi oleh pihak aparat dengan melakukan penghinaan dan penganiayaan massal kepada 300 orang petani. Para petani tidak menyerah begi tu saja. Tetapi melakukan perlawanan. Akibatnya dipihak petugas 3 orang babak be lur. Pada 19 Juni 2002, kembali terjadi pembakaran rumah petani oleh kelompok preman bersama aparat Brimob. Akibatnya rumah dan harta benda masyarakat habis terbakar . Pembakaran ini dilakukan ketika warga masyarakat tidak di rumah, karena berada di masjid sedang melakukan ibadah Jumat.

Box Korban Sengketa Lahan Penganiayaan dalam konflik agraria sebagai berikut: (1) Sekitar 479 petani dan a ktivis petani dianiaya dalam 41 kasus konflik; (2) 12 petani terbunuh dalam 14 k asus; (3) 134 petani ditembak ditempat dalam 21 kasus; (4) 25 petani diculik dal am 7 kasus; (5) 936 petani ditahan dalam 77 kasus; (6) 284 rumah atau gubuk diba kar dalam 25 kasus; (7) Kurang lebih 307,954 ha lahan garapan siap panen dihancu rkan; (8) 1.901 petani dan aktivis diteror dalam 157 kasus; (9) 1.809 petani dii ntimidasi dalam 202 kasus; (10) Kekerasan dan perkosaan 1 orang; penculikan dan penganiayaan petani dan aktivis terjadi dalam 88 kasus.

Tabel 3 Lahan Hasil Reclaiming Petani di Sukabumi No. Lokasi Reclaiming Tahun Awal Reclaiming Luas Lahan Reclaiming An ggota Organisasi Tani Yang Mereclaiming Jumlah Anggota Keterangan Penti ng Lainnya Menurut FO 2001 2002 LK PR JML 1 Desa Kerta jaya 1993 150 ha 187 ha HPNP 123 225 Aman bertani 2 Mekar jaya 1994 60 ha 160 ha HPNP 115 140 255 Masyarakat giat bertani dan membuka sampai ke wilayah kehutanan 3 Langkap jaya 1994 50 ha 30 ha HPNP 40 49 89

Aman bertani 4 U. Genteng 1989 31 ha 80 ha HPNP 100 150 250 Nelayan sedang kosong tidak ada ikan di gelombang besar 5 Ciburial 1989 40 ha 150 ha HPNP 30 37 67 Aman bertani 6 Cikangkung 1999 100 ha 100 ha HPNP 200 315 515 Tanah dikuasai rakyat semakin sadar akan OR 7 Sumber jaya 1999 150 ha 200 ha HPNP 250 300 550 Lokasi ditanami dan diduduki 8 Bumi Asih 1999 200 ha 300 ha HPNP 200 302 502 Pemimpinnya sedang diadili di pengadilan 9 Tegal Buleud 1999 200 ha 200 ha HPNP 260 281 541 Rakyat kompak menggarap 10 Calingcing 1999 150 ha HPNP HPNP 107 121 291 Rakyat menggarap lahan sebagian 11 Sinar laut 1998 50 ha 30 ha HPNP 300 350 650 Ketua OTl dikejar preman bayaran, tanah dikuasai oleh PIR-BUN 12 Cibabi 1999 500 ha 10.000 ha HPNP 10.000 10.050 20.050 Cibabi hancur diusir oleh PPAO Perhutani dengan menggunakan brimob, satgas, prem an 13 Jampang Kulon 1984 300 ha 300 ha Tokoh gabung ke HPNP 250 300 550 Konflik dengan HGU Marca Buana 14 Baros 2002 100 ha HPNP 100 112 212 Penguasa an tanah