Anda di halaman 1dari 2

LEMBAR TUGAS MANDIRI (LTM) PEMICU 3 - BLOK VI ILMU KEDOKTERAN GIGI KLINIK II Nama NPM Kelompok : Winanda Annisa

Maulitasari : 0806325301 :4 KAITAN PENYAKIT SISTEMIK TERHADAP PERAWATAN ENDODONTIK Hubungan Penyakit Hipertensi terhadap Keberhasilan Perawatan Endodontik Penyakit Hipertensi merupakan kelainan di mana tekanan arteri lebih tinggi dibandingkan tekanan normal, sehingga volume darah yang mengalir lebih banyak. Hal ini merupakan salah satu pertimbangan pada perencanaan perawatan endodontik, karena dalam tindakan perawatan endodontik rentan sekali mengakibatkan terjadinya bleeding. Sehingga jika terdapat pasien dengan kelainan hipertensi yang tidak ditanggulangi sebelumnya, dokter gigi akan lebih sulit mengontrol pendarahan yang berlebih dan akan menyulitkan perawatan. Oleh karena itu, sebelum dilakukan perawatan pasien hendaknya tetap mengkonsumsi obat anti-hipertensi yang dimilikinya, atau jika pasien baru diketahui memiliki kelainan hipertensi sebaiknya pasien dirujuk terlebih dahulu ke dokter umum. Pada saat dilakukan perawatan Jika pasien telah mengkonsumsi obat anti-hipertensi, obat koagulan tidak diperlukan saat perawatan (karena obat anti-hipertensi telah menormalkan tekanan darah pasien, sehingga pembekuan darah dapat terjadi secara normal). Namun, jika terjadi bleeding berlebihan, maka obat koagulan yang aman dengan hipertensi (Adona AC atau Transamin) diperlukan untuk menghentikan pendarahan. Obat sedatif pulpa tidak diperlukan Hubungan Kehamilan terhadap Perawatan Endodontik Walaupun kehamilan bukan merupakan kontraindikasi dari perawatan endodontik, namun mempengaruhi perawatannya. Terutama dalam pemberian obat-obatan dan radiasi yang dihasilkan dari pembuatan radiograf. Perlindungan pada fetus menjadi perhatian utama. Pada saat pembuatan radiograf, harus dengan alat bantu pengaman yang berhubungan dengan radiografi gigi, seperti film high-speed film, dental imaging, filtration and collimation, dan penggunaan proteksi berupa apron dengan thyroid collar. Pemberian obat juga harus dilakukan dengan hati-hati karena obat tersebut dapat menjadi toksik bagi plasenta. Seperti obat respiratory depressant dapat menyebabkan hipoksia maternal yang menyebabkan hipoksia fetal, cacat, atau kematian. Pemberian obat pada pasien yang sedang hamil sebaiknya diberikan dosis yang minimal. Untuk pasien yang sedang menyusui, pemberian ASI dapat diberikan sebelum perawatan endodontik diberikan. Sebaiknya perawatan endodontik dilakukan pada pasien yang sedang mengandung pada trimester karena merupakan periode teraman untuk diberikan perawatan gigi. Hubungan Penyakit Kardiovaskular terhadap Perawatan Endodontik Pasien dengan penyakit kardiovaskular sangat rentan terhadap stress fisik atau stress emosional yang mungkin dihadapi selama perawatan gigi, terutama endodontik. Pada situasi ini, konsultasi dengan dokter pasien adalah wajib sebelum dimulainya perawatan endodontik. Pasien yang memiliki myocardial infarction (heart attack) dalam waktu 6 bulan terakhir sebaiknya tidak dilakukan perawatan. Hal ini karena pasien sedang mengalami kerentanan yang tinggi terjadinya infarction lagi dan komplikasi kardiovaskular lainnya dan mungkin mengkonsumsi obat yang berpotensial untuk interaksi dengan vasokonstriktor yang ada dalam anestesi lokal. Vasokonstriksi tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, refractory arythmias, myocardial infarctions, stroke, coronary bypass graft, kegagalan hati, dan hyperthyroidism. Anestesi lokal dengan jumlah vasokonstriksi minimal atau tidak ada sama sekali biasanya boleh digunakan untuk prosedur perawatan endodontik non-bedah. Pasien dengan heart murmur, rheumatic fever, atau congenital heart defect harus diberikan terapi antibiotik secara profilaktik sebelum perawatan endodontik untuk meminimalisasikan risiko bakteri endocarditis. Jika pasien tidak mengkonsumsi antibiotik

sebelum perawatan, maka prosedur harus ditunda. Normalnya, pasien tidak membutuhkan profilaksis antibiotik beberapa bulan setelah proses penyembuhan kecuali saat terjadi komplikasi.

Hubungan AIDS terhadap Perawatan Endodontik Sangat penting untuk seorang dokter menangani pasien AIDS memahami tingkat immunosuppression, terapi obat, dan kemungkinan terjadinya infeksi. Penelitian menunjukkan, pasien pengidap HIV tidak mengalami peningkatan risiko postoperative pain atau inflamasi setelah perawatan endodontik. Seorang dokter harus mengurangi kemungkinan transmisi HIV dari pasien terinfeksi. Darah yang terinfeksi dapat mentransmisikan HIV, dan selama prosedur kemungkinan dapat bercampur dengan saliva. Latex gloves dan proteksi mata penting digunakan untuk dokter. HIV dapat ditransmisikan melalui jarum suntik atau luka akibat instrumen, namun frekuensi transmisinya rendah. Hubungan Penyakit Diabetes dengan Perawatan Endodontik Pasien pengidap diabetes membutuhkan perawatan endodontik dengan pertimbangan khusus. Pasien diabetes yang terkontrol secara medis dan bebas dari komplikasi yang serius dapat dilakukan perawatan endodontik. Pasien yang tidak mengontrol insulin membutuhkan insulin atau menaikkan dosis insulin. Infeksi akut pada pasien diabetes harus sesuai standar: insisi dan drainase, pulpektomi, antibiotik, dan warm rinses. Diabetes biasanya menyebabkan penurunan tingkat kesuksesan perawatan endodontik terutama pada preoperative periradicular lessions.