Anda di halaman 1dari 3

Analisis Bidang Gelincir Tiap Lintasan Bidang Gelincir ditandai dengan adanya lapisan konduktif (resitivitas kecil) yang

menumpang pada lapisan yang resistif (resistivitas besar). Besarnya resistivitas pada lapisan ini mengakibatkan lapisan ini bersifat massif (keras) dan kedap air sehingga lapisan ini kering. Sedangkan lapisan di atasnya merupakan lapisan yang konduktif, dimana dicirikan dengan warna hijau, dan biru yang mengindikasikan bahwa lapisan tersebut mempunyai nilai resistivitas yang rendah. Karena terlihat jelas bahwa lapisan ini bersifat basah karena pasir merupakan lapisan yang dapat menyimpan air. Maka jelas, jika lapisan dengan nilai resistivitas yang besar (andesit) ditumpangi dengan lapisan yang mempunyai nilai resistivitas yang kecil (pasir) maka akan memungkinkan terjadinya longsor. Hal ini disebabkan karena : 1. Lapisan atas (pasir) mempunyai beban yang lebih berat dibandingkan dengan lapisan bawahnya (andesit) karena pasir menyimpan air yang sangat memungkinkan mempunyai beban yang lebih berat. 2. Air yang masuk tidak dapat menembus lapisan bawah (andesit) sehingga air tersebut akan terkumpul pada permukaan lapisan bawah yang menyebabkan lapisan tersebut menjadi licin 3. Akibat licinnya permukaan lapisan bawah (andesit) menyebabkan gaya gesek berkurang dan sangat memungkinkan terjadinya longsor.

Dalam buku Panduan Penataan Ruang dan Pengembangan Kawasan yang diterbitkan Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (2001), Kondisi lahan atau kawasan yang rawan longsor dibedakan atas kondisi alamiah dan kondisi non alamiah. a. Kondisi alamiah Karakteristik kondisi alamiah adalah: 1. Kondisi lereng yang biasanya mempunyai kemiringan lebih dari dua puluh derajat. 2. Kondisi tanah atau batuan penyusun lereng, umumnya lereng yang tersusun oleh: a. tumpukan massa tanah gembur atau lepas-lepas yang menumpang di atas tanah atau batuan yang lebih kedap dan kompak b. perlapisan tanah atau batuan yang miring searah dengan kemiringan lereng. 3. Adanya struktur geologi yang miring searah dengan kemiringan lereng. Struktur geologi ini dapat merupakan bidang-bidang lemah dan massa tanah sensitif bergerak di sepanjang bidang- bidang lemah tersebut. 4. Kondisi hidrologi lereng, terutama kondisi aquifer dan kedudukan muka air tanah dalam lereng. b. Kondisi non alamiah Sedangkan kondisi non alamiah ini umumnya mempengaruhi dinamika gaya-gaya dalam lereng dan merupakan pemicu terjadinya longsoran. Kondisikondisi ini dapat berupa: 1. Getaran-getaran misalnya getaran kendaraan atau getaran akibat penggalian pada lereng. 2. Bertambahnya pembebanan pada lereng, misal karena adanya konstruksi bangunan atau meresapnya air dan permukaan. 3. Hilangnya penahan pada lereng karena penggalian di bagian bawah lereng.

4. Perubahan lahan di atas lereng, misal karena penebangan pohon secara Sembarangan Dalam buku Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor yang diterbitkan Direktorat Jenderal Penataan Ruang (2003), Peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor dibedakan menjadi gangguan luar dan gangguan dalam. a. Gangguan Luar 1. Getaran yang ditimbulkan oleh antara lain: gempa bumi, peledakan, kereta api, dapat mengakibatkan tanah longsor 2. Pembebanan tambahan, terutama disebabkan oleh aktivitas manusia, misalnya adanya bangunan atau timbunan di atas tebing. 3. Hilangnya penahan lateral, dapat disebabkan antara lain oleh pengikisan (erosi sungai, pantai), aktivitas manusia (penggalian). 4. Hilangnya tumbuhan penutup, dapat menyebabkan timbulnya alur pada beberapa daerah tertentu. Erosi semakin meningkat dan akhirnya tejadi tanah longsor. b. Gangguan Dalam 1. Hilangnya rentangan permukaan: selaput air yang terdapat diantara butir tanah memberikan tegangan tarik yang tidak kecil. Sebaliknya jika air merupakan lapisan tebal, maka akibatnya akan berlawanan. Karena itu makin banyak air masuk ke dalam tanah, parameter kuat gesemya makin berkurang. 2. Naiknya berat massa tanah batuan: masuknya air ke dalam tanah menyebabkan terisinya rongga antar butir sehingga massa tanah bertambah. 3. Pelindian bahan perekat, air mampu melarutkan bahan pengikat butir yang membentuk batuan sedimen. Misalnya perekat dalam batu pasir yang dilarutkan air sehingga ikatannya hilang. 4. Naiknya muka air tanah: muka air dapat naik karena rembesan yang masuk pada pori antar butir tanah. Tekanan air pori naik sehingga kekuatan gesernya turun. 5. Pengembangan tanah: rembesan air dapat menyebabkan tanah mengembang terutama untuk tanah lempung tertentu,jika lempung semacam itu terdapat di bawah lapisan lain. 6. Surut cepat; jika air dalam sungai atau waduk menurun terlalu cepat, maka muka air tanah tidak dapat mengikuti kecepatan menurunnya muka air.