Anda di halaman 1dari 33

1

BAB I. PENDAHULUAN


1.1. Definisi Pantai dan Teknik Pantai
Secara umum pantai dikenal sebagai batas antara daratan dan lautan. Istilah pantai
juga digunakan untuk batas antara daratan dan danau yang sangat besar. Namun
demikian jika ditinjau lebih terinci, maka ada beberapa permasalahan yang membuat
istilah pantai tidak semudah itu. Hal ini karena yang disebut sebagai batas tidak dapat
dibuat sangat tegas. Dengan demikian dalam daerah pantai sendiri dikenal istilah-
istilah yang membedakan daerah tersebut secara fisik.Batas antara daratan dan lautan
yang berupa garis air ini berubah setiap waktu karena:
a. Gelombang pasang surut yang kadang mendorong garis batas naik ke daratan
dan kadang menyurutkan garis batas tersebut ke laut tiap-tiap hari.
b. Gelombang angin (gelombang yang tampak) di laut yang jelas terlihat
membuat garis batas ini maju mundur. perubahan garis batas ini maju mundur
karena pengaruh musim angin.
Dengan demikian garis batas tersebut sangat dinamik dan membuat daerah di
sekitarnya berbeda sifatnya. Ada yang selalu basah atau tenggelam, ada yang kadang
basah kadang kering dalam kurun waktu yang pendek maupun panjang dan ada yang
tidak pernah basah atau tenggelam. Istilah istilah untuk tiap tiap daerah di daerah
pantai tersebut, perlu didifinisikan agar pengertiannya dapat disepakati bersama.
Salah satu definisi pantai dikemukakan oleh CERC (1984) dalam bentuk gambar dan
dikutip kembali seperti pada Gambar 1.1.

Coastal area (daerah pantai)
surf zone (daerah gelombang pecah)
Beach atau Shore Near Shore
Coast
Back shore
Foreshore
inshore
gelombang pecah
Berm
Berm
puncak berm
Offshore
Dasa
r laut
muka air pasang
muka air surut

Gambar 1. 1. Definisi daerah pantai (CERC,1984)
2

Teknik Pantai tidak akan pernah terlepas dengan Teknik Sipil Hidro lainnya misalnya
sungai dan muara sungai. Bagaimanapun juga sungai akan bermuara dipantai yang
memberikan pengaruh pada dinamika pantai. Pengaruh sungai pada dinamika pantai
tergantung pada besaran debit air dan sedimen sungai tersebut. Gambar 1.2.
menunjukkan sebuah sungai kecil yang bermuara di pantai. Walaupun kecil
(bandingkan dengan manusia dan kambing yang menyeberang), namun sungai ini
memasok sedimen yang cukup signifikan. Pasir dan kerikil yang ditemui di pantai ini
dipasok oleh sungai kecil tersebut.


Gambar 1. 2. Sungai Kecil yang bermuara di Pantai

Pantai dapat ditemukan dalam berbagai jenis yaitu pantai pasir, pantai lumpur dan
pantai karang (batu). Kondisi pantai yang berbeda beda ini sangat ditentukan oleh
jenis batuan yang berada di tempat tersebut, pengaruh daerah hulu (sungai) serta
pengaruh gelombang dan arus laut. Daerah dengan pengaruh sungai yang besar dan
yang memasok sedimen lumpur yang sangat besar, maka pantai akan cenderung
banyak mengandung lumpur. Walaupun demikian gelombang pantai akan
memberikan pengaruhnya. Sungai yang banyak mengadung pasir (dari daerah
volkanik), akan memberikan pasokan sedimen pasir di pantai dan membentuk pantai
pasir. Daerah yang tidak banyak dipengaruhi oleh sungai berpasir atau lumpur, akan
cenderung berupa pantai sesuai dengan material yang tersedia di tempat tersebut.
Gambar 1.3 dan 1.4 memperlihatkan contoh pantai karang dan lumpur.

3


Gambar 1. 3. Pantai Karang



Gambar 1. 4. Pantai lumpur
4
1.2. Ruang lingkup teknik pantai
Pada saat ini ilmu teknik pantai sudah sangat berkembang. Hal-hal yang dikerjakan
dalam teknik pantai mencakup:
a. Perlindungan pantai (protection) : pembuatan struktur pantai seperti
revetment, groin, pemecah gelombang, penanaman pohon pelindung pantai,
pembuatan jetti untuk stabilisasi muara,
b. Pemanfaatan dan pengembangan (development) pantai misalnya pekerjaan
pengembangan pelabuhan (berkaitan dengan pekerjaan pengerukan,
penimbunan, pembuatan dermaga, pemecah gelombang), reklamasi,
pembuatan bangunan penangkap energi gelombang, serta wisata pantai.
Struktur pantai seringkali merupakan bagian dalam perlindungan maupun
pengembangan pantai tersebut. Sebagian struktur bangunan pantai dibuat di daerah
kering dan sebagian lainnya dibangun di perairan. Dengan demikian interaksi antara
bangunan, perairan dan dasar perairan sangat dinamik. Oleh karenanya ilmu yang
mendukung manajemen daerah pantai datang dari banyak pihak selain Teknik Sipil.
Untuk dapat mengerti karakteristik dinamika air laut seseorang dihadapkan pada ilmu
hidrodinamika yang mencakup: teori gelombang secara umum, gelombang angin,
pasang surut, tsunami, gelombang kapal, dan gelombang surge. Pengetahuan tentang
interaksi gelombang dengan bangunan, juga merupakan dasar pengetahuan bagi
perancangan struktur yang kuat, efisien dan berdaya guna. Pengetahuan interaksi
antara gelombang dengan aliran atau transport sedimen merupakan hal yang sangat
penting dalam rangka manajemen pantai.
Masih banyak hal lain yang mendukung kegiatan perlindungan, pemanfaatan dan
pengembangan pantai yang secara rinci tidak tercakup dalam buku ini. Pengetahuan
dalam buku ini menghantarkan pembaca untuk mengetahui dasar-dasar Teknik Pantai
yang diharapkan memberikan horison yang luas dan membangkitkan keinginan untuk
mempelajari secara lebih dalam dan terinci. Oleh karena itu beberapa teori sengaja
diberikan tanpa bukti analitis yang tajam, tetapi lebih bersifat given. Hal ini
disebabkan karena bukti analitis yang tajam tersebut memerlukan pengetahuan dasar
lain yang tidak tertampung dalam buku ini. Dasar teori tersebut selanjutnya
ditunjukkan pemakaiannya dalam permasalahan yang lebih realistis di alam sehingga
para pembaca dapat membayangkan kegunaan setiap teori yang dipelajarinya.








5

Gambar 1. 5. Rencana Lokasi Pembangkit Energi Tenaga Gelombang

Gambar 1. 6. Jetty untuk stabilisasi muara sungai


6


Gambar 1. 7. Pelabuhan Penumpang dan barang



7
BAB II. GELOMBANG LINIER


2.1. Persamaan Laplace dan Penyelesaiannya
Gelombang linier pertama kali diperkenalkan oleh Airy sehingga gelombang ini
sering disebut sebagai gelombang Airy. Teori gelombang ini adalah yang paling
sederhana dari berbagai teori gelombang. Gelombang linier diperoleh dari
penyelesaian persamaan Laplace dengan menggunakan berbagai kondisi batas yang
sederhana. Kondisi batas adalah kondisi yang membatasi domain hitungan (daerah
hitungan) sehingga persamaan-persamaan dalam daerah hitungan dapat diselesaikan.
Persamaan Laplace merupakan persamaan kontinuitas (satu dari dua persamaan
penting dalam hidraulika yaitu kontinuitas dan momentum ) yang dapat ditulis
sebagai berikut :

0 =

y
v
x
u
(persamaan kontinuitas fluida tak termampatkan) (2.1)

0
2
2
2
2
= +
z x


(persamaan Laplace) (2.2)

Pada persamaan 2.2, disebut sebagai potensial kecepatan. Hubungan antara
potensial kecepatan dengan kecepatan (yang dalam matematik ditulis sebagai fungsi
u) sebagai berikut :

x
u

=
(2.3)
dan

z
w

=
(2.4)
Dengan u adalah kecepatan horizontal dan w adalah kecepatan vertikal.

Persamaan Laplace (persamaan kontinuitas) hanya berlaku jika fluida tak
termampatkan (incompressible) dengan massa jenis yang homogin dan kondisi
alirannya irrotasional. Perhatikan bahwa pada persamaan 2.1 dan 2.2. rapat massa
8
fluida (

) tidak muncul dalam persamaan karena dianggap konstan (fluida tak


termampatkan) dan sama di semua tempat (homogen).
Pada aliran irrotasional, partikel air dapat bergerak ber-revolusi terhadap suatu titik
tetapi tidak berrotasi. Perhatikan perbedaaan partikel yang bergerak irrotasional dan
yang bergerak rotasional pada gambar 2.1.



Gambar 2. 1. Gerakan irrotasional dan rotasional (a. irrotasional dan b. rotasional)

Kondisi irrotasional yang disyaratkan untuk gelombang linier tidak perlu
dipusingkan, karena pada aplikasinya syarat tersebut menjadi tidak dominan. Ada tiga
kondisi batas yang digunakan dalam penyelesaian Persamaan 2.1 yang diuraikan
sebagai berikut :

1. Syarat sifat gelombang yang berulang terhadap waktu dan tempat.
Agar memudahkan perumusan gelombang linier, Airy menganggap bahwa
gelombang tersebut pada kondisi berulang terhadap waktu dan tempat (periodik).
Artinya, (dengan sendirinya u dan w) merupakan fungsi waktu dan tempat.
Misalnya di lokasi dan waktu tertentu maka sudah dapat ditentukan. Untuk itu,
salah satu cara yang dapat dipakai adalah dengan menentukan bahwa harus
merupakan fungsi sinusoidal. Parameter berubah dalam fungsi sinus tersebut adalah
parameter tempat (jarak terhadap suatu datum tertentu dan parameter waktu). Dengan
demikian fungsi sinus ini dapat digunakan sebagai kondisi batas pada arah horisontal.
Dalam bahasa matematika anggapan atau asumsi ini dapat ditulis sebagai:

) , ( ) , ( T L x t x + = (2.5a)

atau
) , ( ) , ( T t x t x + = (2.5b)
9

Dengan :
L = Panjang gelombang (m)
T = Periode gelombang (detik)

Apabila permukaan air dianggap sebagai fungsi sinusoidal, maka pada kondisi batas
berlaku Persamaan berikut:

( ) ( ) L x k sin kx sin + =
(2.5a)

( ) ( ) T t sin t sin + =
(2.6a)

2. Syarat kondisi batas dasar rata dan impermiabel.
Untuk lebih memudahkan permasalahan, batas dasar perairan dianggap rata dan tidak
tembus air. Dalam bahasa matematika ditulis sebagai:

0 =

di z = -h dengan h bilangan konstan (2.7)



3.Syarat batas permukaan air dinamis sesuai dengan hukum Bernoulli.
Persamaan Bernoulli merupakan integral dari persamaan momentum Euler.
Persamaan Bernoulli ini disederhanakan atau dilinierkan untuk dipakai sebagai
kondisi batas permukaan dalam persamaan Laplace. Hal ini dilakukan untuk
mempermudah permasalahan. Karena penyederhanaan persamaan Bernoulli inilah
maka hasil persamaan gelombang yang terjadi disebut sebagai gelombang linier.
Syarat lain yang digunakan pada permukaan air agar permasalahan jadi mudah adalah
pada permukaan air tekanan merata. Dengan kata lain tidak ada gangguan apapun di
permukaan seperti misalnya angin.

Persamaan Bernoulli tersebut dapat ditulis sebagai :

( ) t C gz
p
z x t
= + +
(
(

\
|

+ |

\
|


2 2
2
1
(2.8)

dengan p adalah tekanan di z = 0. Dalam teori sering dipakai datum p = 0 di z = 0.
Seluruh bagian persamaan 2.8. mempunyai besaran kecepatan kuadrat (m
2
/det
2
) yang
jika dikalikan dengan massa merupakan energi atau tenaga. Dengan demikian
t


merepresentasikan perubahan energi akibat perubahan kecepatan atau momentum.
10
Nilai dari
(
(

|
|

\
|

+ |

\
|

2
2
2
1
y x

= | |
2 2
2
1
w u + merepresentasikan energi kinetik dan
g mewakili energi potensial. Dengan kata lain persmaan 2.8. menyatakan bahwa
energi yang terkandung pada suatu lokasi terdiri dari energi kinetik ditambah energi
potensial dan ditambah perubahan energi akibat perubahan kecepatan merupakan
fungsi t. Karena C(t) hanya merupakan fungsi t maka persamaan 2.8. menunjukkan
hubungan antara tinggi energi potensial (akibat elevasi yang ditinjau), kinetik (Energi
kinetik dibagai massa) dan energi akibat perubahan kecepatan.

Khusus untuk permukaan air berlaku (dengan expansi Taylor):
{ } { } ( ) t C g w u
z z t
gz w u
t
z
z
=
(

+ +

+
(

+ + +

=
=
0
2 2
2
0
2 2
2 2
1



atau jika kecil maka u dan w juga kecil dan perkalian di antaranya atau terhadap
dirinya sendiri menjadi sangat kecil dan dianggap dapat diabaikan sehingga :

( ) t C g
t
z
= +

=0

(2.9)

Persamaan Laplace kemudian diselesaikan dengan menganggap bahwa merupakan
perkalian fungsi x saja yaitu X(x), fungsi y saja yaitu Y(y) dan fungsi t saja yaitu T(t)
yang dikenal dengan nama metode separasi variabel dan ditulis :

( ) ( ) ( ) ( ) t T z Z x X t , z , x =
(2.10)

Jika persamaan 2.5a disubstitusikan ke dalam persamaan 2.10, diperoleh

( ) ( )( ) t De Ce kx B kx A t z x
kz kz
sin sin cos , ,

+ + =
(2.11)

Untuk memenuhi persamaan 2.5a dan 2.6a maka

L
k
2
=
(2.12)
T

2
=

11
Substitusi persamaan kondisi batas di dasar perairan (persamaan 2.7) dan untuk
sementara menganggap B = 0, diperoleh :

( ) t z h k kx ADe
kh
sin cosh cos 2 + =
(2.13)

Substitusi ke persamaan kondisi batas permukaan air (Bernoulli linier) yaitu
persamaan 2.9 dan mengaggap bahwa h mempunyai rerata nol diperoleh :

t kx
g
kh ADe
kh

cos cos
cosh 2
|
|

\
|
=
(2.14)
Jika :
2
cosh 2 H
g
kh ADe
kh
=

(2.15)
maka persamaan fluktuasi muka air (2.14) dapat ditulis sebagai

t kx
H
cos cos
2
=
(2.16)
dengan H : tinggi gelombang.
Dengan substitusi persamaan 2.15 ke 2.13 diperoleh

( )
t kx
kh
z h k Hg

sin cos
cosh 2
cosh +
=
(2.17)

Sebenarnya hasil yang diperoleh hingga persamaan 2.17 baru sebagian dari seluruh
kemungkinan selesaian yang ada. Dalam hal ini (hingga persamaan 2.17) harga B
pada persamaan 2.11 telah dianggap nol. Jika bagian persamaan tersebut diselesaikan
dengan B tidak sama dengan nol dan digabungkan dengan 2.17 akan diperoleh:

) sin(
cosh
) ( cosh
2
t kx
kh
z h k g H


+
=
(2.18)

Persamaan 2.18 merupakan selesaian persamaan Laplace dengan salah satu kondisi
batasnya merupakan persamaan Bernoulli.





12













Hingga persamaan 2.18, kondisi batas kecepatan partikel di permukaan belum
digunakan. Kecepatan partikel dipermukaan dapat didekati dengan

0 =

=
z
t
w

(2.19)

atau
0 =

z
t z

(2.20)

Substitusi harga dan h dari persamaan 2.18 , yaitu

) sin(
cosh
) ( cosh
2
t kx
kh
z h k g H


+
=
,
cos(k x a =
diperoleh

kh tanh gk =
2

(2.21)

Persamaan 2.21 dikenal sebagai persamaan dispersi. Persamaan dispersi
menunjukkan bahwa kecepatan jalar gelombang tergantung pada T (perioda
gelombang) dan h (kedalaman).


Asumsi pada persamaan gelombang linier
1. air tak termampatkan
2. massa jenis air homogen
3. gerakan partikel air irrotasional
4. dasar perairan horizontal tanpa gesekan
5. dasar perairan tak tembus air
6. tekanan pada permukaan air merata
7. amplitudo gelombang kecil terhadap panjang dan kedalaman air sehingga
8. persamaan Bernoulli linier berlaku
13
2.2. Beberapa sifat pada gelombang linier
2.2.1.Fluktuasi muka air
Persamaan fluktuasi muka air berdasarkan persamaan potensial kecepatan pada
persamaan (2.18) dan persamaan Bernoulli linier (2. 9) adalah:

) t kx cos(
H
=
2
(2.22)

Persamaan 2.22 adalah persamaan fluktuasi muka air sepanjang x dan sepanjang
waktu t pada gelombang berjalan atau progresip
.
Fluktuasi muka air tersebut diberikan pada gambar 2.2.

dasar perairan
MWL
z= -h,
z(+)
z=0

a
H
h
x=0

Gambar 2. 2. Fluktuasi muka air pada gelombang sinusoidal Airy.

Perhatikan gambar 2.2 . Jarak antara suatu puncak dengan puncak lainnya yang
berurutan disebut panjang gelombang (L). Jarak ini sama dengan jarak dari suatu
lembah ke lembah lainnya yang berurutan. Kurva dari puncak ke puncak terulang
kembali di sebelah kanan (x+) maupun di sebelah kiri (x-). Kedalam perairan disebut
sebagai h. Phase gelombang adalah besarnya harga t . Tinggi gelombang adalah
14
jarak vertikal dari puncak ke lembah atau dua kali amplitudo (simpangan terbesar).
Fluktuasi muka air dari air tenang dikenal dengan notasi .










2.2.2. Kecepatan dan percepatan partikel

Dari persamaan 2.18 dapat diperoleh harga u dan v yaitu kecepatan ke arah
horizontal dan vertikal di lokasi (x,z) dengan menderivasikan harga t terhadap x
untuk u dan z untuk v sebagai berikut :

) cos(
sinh
) ( cosh
2
t kx
kh
z h k H
x
u


+
= =
(2.23)
) t kx sin(
kh sinh
) z h ( k sinh H
z
w


+
= =
2
(2.24)

Dari persamaan kecepatan (2.23 dan 2.24) dapat diturunkan persamaan untuk
percepatan partikel air di lokasi (x,z). Percepatan arah x dan arah z masing masing
didapat dengan menurunkan persamaan 2.23 dan persamaan 2.24 ke arah t dan
diperoleh :


) sin(
sinh
) ( cosh
2
2
t kx
kh
z h k H
t
u


+
=
(2.25)
) cos(
sinh
) ( sinh
2
2
t kx
kh
z h k H
t
w


+
=
(2.26)


Dari persamaan 2.23 dan 2.24 dapat diperoleh letak lokasi partikel yang diamati
terhadap titik tertentu dengan mengintegralkan sepanjang t. Integrasi tersebut
menghasilkan jarak partikel terhadap titik pusat gerakan (baik arah x maupun arah z)

z diukur mulai dari permukaan air tenang, bukan dari dasar perairan. Jika di atas
muka air tenang, z bertanda positip sedang ke bawah (di bawah muka air tenang)
z negatip. Pada kebanyakan aplikasi z bertanda negatip. Pada gelombang linier,
sebenarnya z positip harus sangat kecil sesuai dengan asumsi awalnya yaitu
gelombang amplitudo kecil.
15
2.2.3. Perpindahan partikel
Perpindahan partikel air terdiri dari dua, yaitu perpindahan arah horizontal dan
vertical. Perpindahan partikel dari titik (x
1
,z
1
) arah horizontal ditulis seperti berikut.
) t kx sin(
kh sinh
) z h ( k cosh H

+
=
1
1
2
(2.27)
Sedangkan pada arah vertikal, perpindahan partikel dari titik (x
1
,z
1
) ditulis :
) t kx cos(
kh sinh
) z h ( k sinh H

+
=
1
1
2
(2.28)
Perpindahan partikel pada arah x dan z terhadap titik (x
1
,z
1
) digambarkan pada
gambar 2.3.

(x,z)


Gambar 2. 3. Perpindahan partikel air arah x, dan z dihitung dari titik pusat
revolusinya

2.2.4. Tekanan di bawah gelombang

Tekanan di bawah gelombang dapat ditentukan dari persamaan Bernoulli sebagai
berikut :

t
C
t
) w u ( gz
p
= + + +

2 2
2
1
(2.29)

dengan mengabaikan harga u
2
dan w
2
dan pada z = 0 diperoleh :

16
( )
0 =
= +
z
z
t
g
t
gz
p

(2.30)
karena untuk kondisi batas permukaan linier berlaku :

0
1
=
=
z
t g

(2.31)

maka tekanan di bawah gelombang dapat ditulis :

t
gz
p

+ =
(2.32)
dengan mesubtitusi dari persamaan sebelumnya diperoleh tekanan di bawah
gelombang adalah :

) cos(
cosh
) ( cosh
2
t kx
kh
z h k H
g gz p
+
+ =
(2.33)

Persamaan 2.33 menunjukkan bahwa tekanan di bawah gelombang merupakan
penjumlahan dari tekanan hidrostatika (suku pertama ) dan tekanan akibat gelombang
(suku ke dua ). Bagian statis tidak berubah terhadap waktu, tetapi bagian dinamik,
yaitu suku kedua berubah terhadap waktu.

Harga cos (kx- t )memiliki maksimum 1 dan minimum -1. Pada saat k dan t = 0
harga tekanan maksimum. Pada saat tersebut x adalah lokasi puncak gelombang.
Atau dengan kata lain tekanan maksimum dicapai di bawah puncak gelombang.
Pada puncak gelombang tersebut semua titik di dalam air yang masih dipengaruhi
oleh gelombang akan mendapatkan tambahan tekanan, atau dengan kata lain
memperoleh tekanan yang lebih besar dari tekanan hidrostatika. Pada lembah
gelombang terjadi sebaliknya. Hal ini karena bagian dinamis dari tekanan gelombang
berharga negatip. Selanjutnya sketsa tekanan gelombang diberikan pada Gambar 2.4.

17


Gambar 2. 4. Tekanan di bawah gelombang. Perlu diperhatikan bahwa sebenarnya
tekanan hidrostatik mengarah ke segala arah, tetapi hanya yang ke arah kanan yang
digambar (gambar arah gaya menunjukkan positip dan negatip)

Pada gambar 2.4. tersebut tampak bahwa tekanan akibat gelombang (tekanan
hidrodinamika) berangsur angsur mengecil dari muka air ke dasar perairan. Hal ini
tergantung pada harga cosh k(h+z)/ cosh kh yang makin kecil harga -z naik. Di dasar,
cosh k(h+z) = cosh 0 = 1, sehingga harga cosh k(h+z)/ cosh kh = 1/cosh kh yang
menjadi sangat kecil atau 0 pada saat kh sangat besar.
Gaya yang ditunjukkan pada Gambar 2.4. adalah gaya ataupun tekanan pada tembok
imajiner di lokasi tampang yang ditinjau. Pada kenyataannya tembok semacam itu
akan berinteraksi dengan gelombangnya (misalnya memantulkan gelombang)
sehingga memberikan efek yang mengubah bentuk gelombang. Hal ini akan dibahas
pada sub bab refleksi gelombang. Untuk sebuah benda yang bukan tembok vertical,
tekanan atau pun gaya yang bekerja padanya bukan hanya gaya hidrostatika dan
hidrodinamika seperti yang dilihat pada Gambar 2.4. Tekanan hidrostatika
sebenarnya ke segala arah. Dengan demikian pada sebuah benda bebas di dalam air,
gaya netto yang diterimanya adalah selisih gaya hidrodinamik (dari sebelah kiri dan
sebelah kanan), selisih gaya hidrostatika dari bawah dan dari atas benda (gaya
apung), gaya akibat perbedaan kecepatan di bagian atas benda dan bawah benda
(gaya angkat), gaya akibat perubahan kecepatan (gaya inersia).

18
2.3. Gelombang berjalan dan gelombang berdiri
Sampai saat ini, yang di bahas di atas adalah persamaan gelombang berjalan.
Gelombang berjalan dicirikan dengan bergeraknya bentuk gelombang sepanjang
sumbu x.
Perhatikan persamaan 2.6. Persamaan tersebut menunjukkan fluktuasi muka air yang
harmonik tergantung pada harga cos(kx - t ) yang selalu berubah terhadap t untuk x
tertentu dan terhadap x untuk t tertentu. Dengan demikian gelombang tidak
mempunyai simpul.
Selain itu gelombang berjalan ke kanan ke arah x+. Gelombang yang bergerak ke
arah kiri dapat ditulis sebagai

) t kx cos(
H
+ =
2
(2.34)
Jika persamaan 1.6 dan 2.34 dijumlahkan didapat persamaan

t cos kx cos H =
(2.35)

Tinggi gelombang H menjadi dua kali lipat tinggi gelombang semula. Gelombang
dari arah yang berkebalikan mungkin merupakan gelombang refleksi dari gelombang
datang (gelombang dengan arah x+).

Persamaan 2.35 adalah persamaan gelombang berdiri. Pada persamaan tersebut
fluktuasi muka air akan selalu 0 jika x = n. , dengan n ganjil berapapun harga t.
Jadi pada gelombang berdiri selalu terdapat simpul dengan jarak
4
nL
, dengan L
adalah panjang gelombang. Gambar gelombang berdiri akibat refleksi diberikan pada
Gambar 2.5.


19
bangunan pantai
gelombang bila tak
direfleksikan
gelombang berdiri
H
H' = 2H


Gambar 2. 5. Gelombang berdiri yang terbentuk akibat refleksi (pantulan) gelombang
oleh bangunan pantai dengan dinding vertikal.

Tabel 2.1 memperlihatkan perbedaan antara gelombang berjalan dan gelombang
berdiri.

Tabel 2. 1. Perbedaan antara gelombang berjalan dan gelombang berdiri












2.4. Persamaan dispersi
Persamaan dispersi seperti yang diformulasikan pada Persamaan 2.22,
menghubungkan antara kecepatan jalar gelombang dengan perioda (T) dan
kedalaman (h) dan ditulis kembali sebagai berikut:

kh tanh gk =
2



Perbedaan antara gelombang berjalan dan gelombang berdiri

Hal Gelombang berjalan Gelombang berdiri
Simpul
Kecepatan
(horizontal)

Kecepatan
vertikal

Tidak ada
Maksimum di puncak dan di
lembah

Nol di MSL (elevasi air
tengah)
Ada
Maksimum di simpul


nol di puncak dan di lembah
20
Persamaan 2.22 tersebut sangat penting, karena dari sana dapat dihitung panjang
gelombang dan kecepatan jalar gelombang C sebagai berikut :

L
h
tanh
gT
L

2
2
2
=
(2.35)

Dengan mudah harga C yaitu kecepatan rambat gelombang (kecepatan jalar
gelombang) dapat diturunkan dengan mengingat bahwa C = L/T sehingga:

L
h gT
C

2
tanh
2
=
(2.36)

Persamaan 2.35 dan 2.36 merupakan persamaan implisit. Harga L di sebelah kanan
harus di coba-coba agar ditemukan harga L yang sama dengan harga L di sebelah kiri
tersebut. Pada saat harga
L
h 2
> 3 , atau h besar dibanding L, maka harga
1
2
tanh
L
h
. sehingga Persamaan 2.35 menjadi

2
2
0
gT
L =
(2.37)
dan
2
0
gT
C =
(2.38)
Perhatikan bahwa harga L disebut sebagai Lo yaitu panjang gelombang di air dalam
(karena h besar terhadap L). Istilah air dalam muncul berdasarkan perbandingan
harga h terhadap L. Jika dipandang dari sudut lain yaitu harga L terhadap h, maka
jika h besar terhadap L juga berarti L kecil terhadap h atau gelombang disebut
sebagai gelombang pendek. Jadi istilah gelombang air dalam serupa dengan
gelombang pendek.

Kebalikan istilah air dalam adalah air dangkal yaitu apabila h kecil terhadap L yaitu
saat harga
L
h 2
< 0.25. Pada saat tersebut harga
L
h
L
h 2 2
tanh , sehingga
persamaan menjadi

T gh
L
h gT
L = =

2
2
2
= C T (2.39)
21

Dengan demikian pada air dangkal, kecepatan gelombang diformulasikan seperti
berikut :

C =
gh
(2.40)

Dari persamaan 2.38 dan 2.40 terlihat bahwa C di air dalam tidak tergantung pada
kedalaman (h) sedang C di air dangkal tidak tergantung pada periode gelombang (T).
Baik panjang gelombang air dangkal maupun air dalam dapat dihitung secara
langsung (tidak dengan coba-coba). Hanya gelombang diantara keduanya (transisi)
yang memerlukan hitungan coba-coba. Untuk memudahkan hitungan apabila tidak
dengan komputer, disediakan tabel yang menghubungkan antara d/Lo dan d/L pada
Tabel 3.1. Untuk menghitung harga L, dihitung dulu harga Lo (tanpa coba-coba),
kemudian hitung harga d/Lo dan selanjutnya dari tabel diperoleh d/L. Dengan
didapatnya d/L maka L dapat diketahui.



Kecepatan jalar gelombang tidak sama dengan kecepatan partikel air. Kecepatan jalar
gelombang merupakan kecepatan gerakan bentuk gelombang (misalnya bentuk
sinusoidal) dari suatu lokasi ke lokasi lain. Kecepatan jalar atau bentuk gelombang
tadi lebih besar dari kecepatan partikel airnya. Kecepatan jalar gelombang tidak
sinusoidal, jadi mengarah pada satu arah, sedang kecepatan partikel adalah
sinusoidal, jadi arahnya bolak balik.
Gerakan bentuk permukaan air yang bergelombang menandakan gerakan energi atau
perpindahan energi.




2.5. Energi gelombang
Gelombang mempunyai energi dalam bentuk energi potensial (karena posisinya
terhadap datum tertentu) dan energi kinetik karena gerakan partikelnya. Energi
kinetik dan potensial sepanjang gelombang diperoleh dengan mengintegralkannya
sepanjang gelombang. Untuk energi potensial, integrasinya adalah sebagai berikut.
Perhatikan, bidang datar adalah SWL (still water level) yaitu permukaan air saat tidak
ada gelombang. Semua partikel air di atas maupun di bawah bidang ini mempunyai
energi. Untuk satu kolom selebar dx (lihat Gambar,2.6 energinya dapat dihitung dan
selanjutnya diintegralkan sepanjang gelombang.
22


Gambar 2. 6. Sketsa Gelombang sinusoidal untuk menghitung energi potensialnya

Dari Gambar 2.6 energi potensial dan energy kinetic dibawah gelombang
dapat diderivasi seperti berikut ini :

dx g dE
p
2

=
L
p
dx
g
E
0
2
2

\
|
=
L
p
dx
L
x
a
g
E
0
2 2
2
sin
2


L x
x
L x
p
L
x L
x
ga
dx
L
x
a
g
E
=
=
=
|
|
|
|

\
|
|

\
|

=
|
|
|
|

\
|
|

\
|

=

0
2
0
2
2
2
2 sin
4
2 2
2
2 cos 1
2


16 4
2 2
gH ga
E
p

= =


Dengan Ep adalah energi potensial, yaitu energi yang terkandung dalam air karena
bentuknya yang tidak horizontal. Energi kinetik diakibtkan oleh adanya gerakan
partikel air. Tanpa gerakan ini, tidak ada energi kinetic. Jadi dapat disimpulkan
bahwa pada bentuk air bergelombang seperti di atas, kemungkinan terkandung energi
kinetic (jika ada gerakan air) dan tidak ada energi kinetiknya jika tidak ada gerakan
partikel air.
23
Pada gelombang berjalan, kecepatan partikel sama fasenya dengan elevasi muka air.
Yang dimaksud adalah bahwa saat air tinggi (puncak), kecepatan partikel juga
maksimum. Saat air terrendah (negatip maksimum) kecepatan partikel maksimum
dengan arah yang negatip, dan pada saat muka air sama dengan SWL, partikel tidak
bergerak. Dengan demikian, pada satu panjang gelombang, gelombang berjalan
sinusoidal mempunyai energi kinetic dan energi potensial.

Energi tersebut adalah :

L
gH
E
k
16
2

=
(2.41)
L
gH
E
p
16
2

=
(2.42)

dengan Ek adalah energi kinetik dan Ep adalah energi potensial.
Energi total yang dipunyai gelombang sinusoidal berjalan

L
gH
E
t
8
2

=
(2.43)
energi total rerata tiap satuan luas
8
2
gH
E

=
(2.44)

Di atas ditegaskan bahwa energi yang dibahas adalah energi gelombang sinusoidal.
Ini penting karena integrasi yang dilakukan memang untuk bentuk gelombang
sinusoidal. Jika bentuk gelombang tidak sinusoidal, maka energi gelombangnya tidak
akan sama dengan yang dibahas di atas. Misalnya untuk gelombang dengan bentuk
persegi sebagai berikut.










Gambar 2. 7. Gelombang persegi
24
Energi potensial gelombang persegi adalah :

L
ga
E
s
p
2
2

=
L
gH
E
s
p
8
2

=


Tampak bahwa untuk tinggi gelombang yang sama, energi potensial gelombang
persegi 2 kali lipat energi gelombang sinusoidal.

Bagaimana dengan gelombang segitiga ?
Bagaimana dengan gelombang yang mirip sinusoidal tetapi dengan puncak lebih
sempit (lihat Gambar 2.8)?


















Gambar 2. 8. Dua gelombang dengan tinggi yang sama tetapi dengan bentuk yang
berbeda.

2.6. Kecepatan Front dan Kecepatan Grup
Perhatikan dua buah gelombang dengan perioda yang hampir sama berjalan searah.
Bentuk dua gelombang tersebut jika disuperposisikan diperlihatkan pada Gambar
2.9.

Bukan
gelombang Airy
Gelombang
Airy
25
Lg


Gambar 2. 9. Grup gelombang berjalan searah (disederhanakan)

Dari gambar 2.9. tersebut kelompok gelombang tersebut berjalan bersama sama
dengan kedua gelombang tersebut. Kecepatan jalar kelompok gelombang tersebut
tidak sama dengan kecepatan jalar kedua gelombang tersebut. Kecepatan kelompok
gelombang adalah :

k
C
g

=

=
k



C
kh sinh
kh
C
g
|

\
|
+ =
2
2
1
2
1
(2.45)


C . n C
g
=
(2.46)

dengan
|

\
|
+ =
kh
kh
n
2 sinh
2
1
2
1
(2.47)

Harga n berubah tergantung pada k dan h. Pada air dalam harga n = 1/2 dan pada air
dangkal harganya maksimum = 1. Harga n yang kemungkinan besar dijumpai dalam
problema teknik pantai diberikan pada Tabel 3.1.Harga n juga dikenal pada fluk
energi, yaitu usaha yang dilakukan oleh tekanan dinamik gelombang. Untuk tiap
satuan lebar fluk energi gelombang dihitung sebagai berikut:

Fluk =

=

h
udz p F .
(2.48)
untuk rerata satu perioda diperoleh
26
(

\
|
+ |

\
|
=
kh sinh
kh
k
gH F
2
2
1
2
1
8
1
2

(2.49)
atau

ECn F =
(2.50)

Dari persamaan 2.50 dapat disimpulkan bahwa transfer energi (F) tidak bersama sama
dengan C tetapi dengan C.n atau kecepatan grup. Kecepatan grup maksimum sama
dengan kecepatan jalar gelombang C pada perairan dangkal. Selain di perairan
dangkal maka kecepatan grup kurang dari kecepatan jalar gelombang. Dengan
demikian energi gelombang pada air transisi (antara dangkal dan dalam) tertinggal di
belakang kecepatan jalarnya.
Perhatikan kembali kelompok gelombang Gambar 2.9. Pada simpul kelompok
gelombang tinggi gelombang sama dengan nol. Pada simpul ini tidak terjadi fluk
energi atau F= 0 (lihat Persamaan 2.44). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
energi harus berjalan bersama sama dengan kelompok gelombang atau grup
gelombang dengan kecepatan C.n. Ini sesuai dengan Persamaan 2.50 .
Pada ujung gelombang kecepatan jalar harus sama dengan kecepatan energi, karena
perubahan fluktuasi muka air di ujung harus bersama sama dengan kecepatan gerakan
energi. Dengan demikian kecepatan ujung gelombang hanya sama dengan C.n.
















Kecepatan jalar Energi gelombang (Fluks Energi Gelombang)

1. F=E.n.C.b
2. n antara 0.5 (di air dalam) dan 1 (di air dangkal)
3. F = 0,5 E.C.b di air dalam (gelombang pendek) dan F= E.C.b di air
dangkal (gelombang panjang)
4. Pada gelombang pendek, selama proses penjalaran gelombang, selalu
timbul gelombang baru di belakang kelompok gelombang yang
berjalan.
5. Kecepatan front (ujung depan gelombang) sama dengan kecepatan
energi gelombang dan sama dengan kecepatan grup gelombang


27
2.7. Contoh Soal dan Penelesain Soal Terpilih
2.7.1.Fluktuasi muka air

1. Berapa kecepatan dan percepatan maksimum partikel air pada gelombang
dengan H = 1.0m, dengan perioda 12 detik, kedalaman air 10 m. Berapa
kecepatan partikel air 2 m di bawah air tenang dan 20 m di depan puncak
gelombang ?
2. Berapa kecepatan jalar gelombang dengan perioda 10 detik dan kedalaman 10
m ?.
3. Berapa gaya gelombang pada dinding vertikal jika kedalaman air 10 m, tinggi
gelombang datang sebelum refleksi sempurna 1.0 m, perioda gelombang 6
detik.
4. Berapa energi yang ditransfer tiap satuan lebar oleh gelombang setinggi 1.0
m, perioda 10 detik dengan kedalaman 10 m.
5. Hitunglah energi total persatuan luas gelombang berdiri yang tingginya 1m.
6. Hitung energi potensial pada gelombang dengan persamaan sebagai berikut:

) ( 2 cos
2
) cos( t kx
a
t kx a + =

7. Berapa energi yang dibutuhkan untuk membuat gelombang selebar 1m, tinggi
1m dengan panjang masing masing gelombang 20m. Berapa daya terbesar
yang dibutuhkan ?
8. Kapan sebuah partikel di permukaan air yang bergelombang mempunyai
kecepatan maksimum ?. Gambarkan grafik kecepatan total terhadap waktu
untuk gelombang dengan T=10 detik, pada kedalaman 10 m dan partikel di
permukaan.
9. Dari atas sebuah bukit, seseorang dapat melihat jelas gelombang yang
menjalar sehingga dapat dengan tepat memperkirakan panjang gelombangnya.
Dapatkah orang tersebut memperkirakan kedalaman lautnya ? Data apalagi
yang dia perlukan dan bagaimana cara mendapatkannya ?.
10. Hitunglah energi gelombang yang memasuki pantai selatan pulau Jawa, jika
diperkirakan tinggi gelombang yang acak identik dengan tinggi gelombang 1
m, dengan perioda 10 detik, untuk lebar pantai 100 m, pada kedalaman 5m,
selama 24 jam atau satu hari. Bandingkan dengan tenaga listrik yang anda
pakai di rumah!!.
11. Bagaimana kondisi tekanan di dasar perairan jika air tersebut bergelombang ?.
12. Hitung fluks energi gelombang maksimum untuk data soal no 9.
13. Sebuah kapal berlayar kearah utara. Setiap 12 detik haluan kapal tersebut
berada pada puncak gelombang dan 3 detik kemudian buritan kapal pada
lembah gelombang. Gelombang tersebut menjalar dengan arah paralel dengan
badan kapal. Kedalaman perairan 10 m dan panjang kapal 80 m. Kemana
28
arah kapal tersebut (relatif terhadap arah gelombang) dan berapa
kecepatannya ?
14. Gelombang panjang menjalar dari kedalaman 100 m ke pantai dengan
kemiringan dasar laut tetap sebesar 1:100 tanpa terrefraksi. Berapa lama
waktu yang diperlukan oleh gelombang tersebut untuk mencapai kedalaman 5
m.



2.8.1.Penyelesaian soal terpilih

1. Kecepatan partikel air u (horizontal) jauh lebih besar dari w (vertikal) pada
gelombang linier. Jadi kecepatan maksimum dicapai jika u maksimum. Gunakan
persamaan 2.23
) cos(
sinh
) ( cosh
2
t kx
kh
z h k H
x
u


+
= =

Harga u akan maksimum jika cos(kx- t) mencapai maksimum yaitu 1 dan harga
0
sinh
) ( sinh
2
=
+
=
kh
z h k H
z
z
u

atau z = 0
Ini berarti bahwa kecepatan partikel maksimum terjadi di permukaan air. Dengan
demikian
kh
H
kh
kh H
u
tanh 2 sinh
cosh
2
max

= =
(2.51)


T = 12 detik jadi
Lo = 1.56x 122 = 224.64m
h/Lo =10/224.64 = 0.0445, dari Tabel diperoleh :

h/Lo h/L
0.0400 0.0833
0.0450 0.0888

dengan interpolasi diperoleh untuk h/Lo = 0.0445,
L
h
= ( ) 0883 . 0 0833 . 0 0833 . 0 0888 . 0
0400 . 0 0450 . 0
0400 . 0 0445 . 0
= +



jadi L di kedalaman 10 meter = 10/0.0883 = 113.3 meter.
29
kh = 5546 . 0 10
3 . 113
2
=

dan
= 5236 . 0
2
=
T


tanh (kh) = 0.5034

Substitusi ke persamaan 2.51 diperoleh

det / 52 . 0
5034 . 0 2
5236 . 0 0 . 1
max
m
x
x
u = =


Bandingkan dengan kecepatan jalar gelombang c = L/T = 11.33m/det.

Dengan demikian, kecepatan maksimum pada sebuah gelombang yang mendekati
gelombang panjang kecil dibanding kecepatan jalarnya. Dapatkah kecepatan
maksimum u menyamai c ??.

Percepatan maksimum didapat dari :
t
u

= ) sin(
sinh
) ( cosh
2
2
t kx
kh
z h k H


+

max t
u

=
kh
kh H
sinh
cosh
2
2


=
2
2
det / 2723 . 0
0.5034 2
5236 . 0
m
x
=


Pada lokasi 20 m di depan puncak berarti x = 20, pada 5 m di bawah muka air tenang
berarti z = -5, dihitung dengan persamaan berikut :

u = ) 20 cos(
sinh
) 10 ( cosh
2
k
kh
z k H


Substitusi harga H, , h dan k diperoleh :

u20,-5=
4454 . 0
5834 . 0
0387 . 1
5236 . 0
2
1
= 0.208 m/detik


Gaya hidrodinamik mengikuti persamaan 2.33 sebagai berikut
30
) cos(
cosh
) ( cosh
2
t kx
kh
z h k H
g gz p
+
+ =

p mencapai maksimum jika nilai cos ( t kx ) maksimum dan z = 0 sehingga
2
max
H
g gz p + =

Setelah terefleksi sempurna H = 2m sehingga p
max
pada elevasi muka air tenang (z =
0) =
g
kN. Dipermukaan air (pucak) p = 0. Pada saat yang sama tekanan di dasar
dapat dihitung berdasarkan :

kh
H
g gz p
cosh
) 0 cosh(
2
+ =
, sehingga perlu dicari harga kh :
Lo =156m,
h/Lo = 6/156=0.03846 dan dari interpolasi dari Tabel diperoleh :
h/L = 0.0815 Jadi L =6/0.0815=73.606m,
cosh (kh) =1.134 sehingga
134 . 1
g
gh p

+ =
=
g
g
g

882 . 6
134 . 1
6 = +
kN

jika = 1 ton/m
3
dan g = 9.81 m/det
2
maka p
(di dasar)
=
51 . 67
kN, pz = 0 = 9.81kN

Dengan demikian gaya pada dinding vertikal dapat digambarkan sebagai berikut:



31
g
(6+0.882) 6.882 g g=
H=1.0
H=1.0


Gambar 2. 10. Skema gaya yang bekerja pada dinding vertikal (jawaban soal 2.3)





5. Energi total per satuan luas
8
2
gH
E

= = 1.226 kN m/m2
7. Lihat jawaban soal 1

9. Fluks energi
F = E.C.n.b
E = 1.226kN m/m2
C = .?
d/Lo = 5/156=0.03205
d/L = 0.07384 sehingga -----------------L = 67.7m dan C = 6.77m/det
n = (lihat Tabel) = 0.9347
b = 100 m (diketahui)
Jadi :
F = 1.226x6.77x0.9347x100
= 775.80 m
m
m
kNm
det
2

32
= 775.80
det
kNm

F = 775.8 kWatt

Jika rata-rata listrik rumah 1.5 kW maka aliran energi selebar 100 m sama dengan
daya terpasang untuk 517 rumah.

Catatan: tinggi glombang rerata di pantai selatan pulau Jawa memang sekitar 1.0 m
atau lebih. Panjang pantai pulau Jawa lebih dari 1000 km.

11. Fluks energi mengikuti persamaan (2.48)

=

h
udz p F .

Fluks tersebut maksimum jika 0 =

t
F
. Jika dilihat pada x = 0, dari
Persamaan (2.23) dan (2.33) tampak bahwa u dan p merupakan fungsi cos(kx- t ).
Dengan demikian 0 =

t
F
dicapai jika t = 0, sehingga:

+ +
=


h
dz
kh
z h k H
kh
z h k H
g F
sinh
) ( cosh
2
.
cosh
) ( cosh
2
max

atau

+ +
=

h
dz
kh
z h k
kh
z h k H
g F
sinh
) ( cosh
cosh
) ( cosh
4
2
max

atau

+ =

h
dz z h k
kh
H
g F
2
2
max
) ( cosh
2 sinh 4
2

( )

+ + =

h
dz z h k
kh
H
g F ) ( 2 cosh 1
2
1
2 sinh 2
2
max

( )

+ + =


h
dz z h k
gH
kh
F ) ( 2 cosh 1
8 2 sinh
2
2
max

0
max
2
) ( 2 sinh
2
2 sinh
h
k
z h k
z E
kh
F

\
| +
+ =


|

\
|
+ =
kh
kh
Eh
kh
F
2
2 sinh
1 2
2 sinh
max


33
|

\
|
+ =
kh
kh
kh
kh
EC
F
2
2 sinh
1 2
2 sinh
max


|

\
|
+ =
kh
kh
EC F
2 sinh
2
1
max


Jadi Fmax 2 kali lipat F (fluks rerata).



13. Karena gelombangnya dikategorikan gelombang panjang maka berlaku
persamaan gh C = . Tetapi karena h berubah terhadap x maka digunakan persamaan
diferensial :

C
dx
dt = , sehingga :

=
9500
0
C
dx
t
,
dengan mengambil x = 0 pada kedalaman 100, maka C(x) =
( g x 1 0 0
sehingga


( )


=
9500
0
01 . 0 100 g x
dx
t
atau


( )

=
9500
0
4
10 1
10
1
x
dx
g
t
=
( )
9500
0
2
1
4
3
10 1
10 2
x
g
t


=

= -142.78+638.55 =496 detik

atau 8.26 menit.