Post 6798ef6c583d4
Post 6798ef6c583d4
Chapter 1
“Jadi… Kapan kalian punya anak? Sudah menikah 3 tahun lebih, harta dan uang sudah
punya. Tapi kok masih belum momongan,” kata ibu mertuaku yang menanyakan tentang
kehamilan istriku. Namanya Raline, dia berusia 26 tahun. 3 tahun lebih muda usianya dariku.
“Sabar, Maa. Aku juga gak tau kenapa masih belum dikasih sampai sekarang. Kalo soal
ini kita juga gak bisa nentuin. Kita cuma bisa berusaha aja Maa,” balas Raline yang dia merasa
gak enak dengan perkataan ibunya kepadaku. Banyak orang yang mengira kalo aku ini mandul.
Aku gak bisa punya anak, dan aku gak bisa menghamili istriku. Tapi banyak orang yang
gak tau, termasuk orang tua dan keluarga besar istriku. Kalo Raline dulunya adalah wanita nakal
dan terbilang sangat binal semasa kuliah. Bahkan dia sempat hamil di luar nikah oleh pacarnya.
Namun pacarnya gak mau tanggung jawab. Dan Raline memilih untuk menggugurkan
anaknya. Setelah kejadian itu Raline kapok menjadi wanita binal dan pergaulan bebas. Dan dia
memilih untuk menjalani hidup yang baik-baik. Berhijab dan menjadi wanita yang sangat alim.
Raline pun paham, bahwa penyebab kami sulit memiliki momongan karena dirinya.
Namun aku sebagai suami, memilih untuk diam dan gak membocorkan informasi ini kepada
kelurga besarnya. Sewaktu aku melamar Raline, aku sudah mengetahui semua masa lalunya.
Raline pernah bekerja satu kantor denganku. Namun dia diterima di bagian finance
biasa. Ada banyak teman kantorku yang mengincar dia. Karena Raline memang wanita yang
begitu anggun, lemah lembut, dan sangat cantik. Dan aku pria beruntung yang bisa deketin.
Kami sempat bersahabat dekat selama 1 tahun. Sebelum akhirnya kami memutuskan
menikah, tanpa pacaran sama sekali. Dari persahabatan itu lah, Raline menceritakan semua
tentang masa lalunya. Termasuk kenakalan masa gadisnya itu, yang memang lumayan parah.
Namun aku memilih untuk berpikir baik, semua orang mungkin punya masa lalu yang
buruk. Tapi mereka berhak untuk masa depan yang lebih baik dan cerah. Jadi aku langsung
melamar Raline, dan tak sampai tiga bulan kami langsung menikah. Secepat itu memang ya.
“Ohhh, iyaa. Iyasudah kalo begitu Raline. Jangan dicegah yaa. Jangan pake KB, kalo bisa
mainnya diperbanyak hahaha. Karena Mama udah gak sabar pengen gendong cucu,” jawab ibu
mertuaku dan aku hanya merespon dengan senyuman kecil. Iyaa jawaban itu lebih baik deh.
Hari sudah menjelang malam, ibu mertuaku minta untuk diantar pulang. Istriku saat itu
memilih untuk gak ikut. Karena dia terlihat kelelahan sudah mengurus ibunya selama seharian
penuh. Meski di sini ada beberapa pembantu, namun Raline memegang sendiri pekerjaan itu.
Jadi aku putuskan untuk mengantar ibu mertuaku sendiri tanpa ditemani Raline. Meski
jarak rumah ibu mertuaku memang sangat jauh. Posisi kami tinggal di Jakarta Selatan. Dan ibu
mertuaku tinggal di Bogor. Kalo lancar sebenarnya 2 sampai 3 jam sudah sampai rumah kami.
Tapi tau sendiri lah Bogor itu kan macet parah. Dan sesuai dugaanku, malam itu Bogor
macet lebih parah dari biasanya. Aku berangkat dari rumah jam 6 sore, dan baru sampai di
rumah ibu mertuaku jam 10 malam. Dan aku memutuskan untuk langsung pulang saat itu juga.
Untungnya perjalanan pulang tak selama saat berangkat. Sehingga ketika jam 12 malam
tepat, aku sudah bisa sampai di rumah. Raline sudah duduk di teras menunggu aku pulang. Dia
membuka pagar, membiarkan mobilku masuk ke garasi lalu menutupnya dan mengunci lagi.
Seperti istri sholehah dan juga alim pada umumnya. Ketika aku turun dari mobil, Raline
sudah berdiri di samping pintu mobil menungguku. “Selamat datang, Maas. Maaf yaa ibu aku
ngerepotin kamu. Mau gimana lagi, dia memang ingin datang, main dan juga menginap di sini.”
Aku sambil menutup pintu mobil, aku sama sekali gak merasa masalah. Aku cium bibir
istriku yang tipis dan manis itu dengan lembut. “Gak masalah, sayang. Memang ada kalanya
rumah harus didatangi orang tua. Biar lebih banyak rezeki dan berkahnya juga kan, hahaha.”
Raline pun menggandeng tanganku, dan kami berdua masuk ke dalam rumah bersama.
Sesampainya di kamar, Raline tiba-tiba mendorong tubuhku hingga aku terduduk jatuh di kasur.
Dia langsung bersimpuh di antara kedua kakiku, dia tiba-tiba saja melepas celana panjangku.
Tanpa ragu dengan tetap memakai hijab warna merah muda dan gamis dengan warna
sama. Raline langsung melahap semua penisku dan memasukkan ke dalam mulutnya. “Mass,
aku horny berat. Slurrppp! Slurrrppp! Ayoo kita turutin keinginan kedua orang tua kita, Mas.”
Penisku dilahap sampai habis, aku sejujurnya waktu pertama kali menikah sangat kaget.
Karena ternyata Raline sangat mahir dalam menghisap penis pria. Bahkan aku selalu saja
keteteran dan sulit menahan spermaku. Setiap penisku ini masuk ke dalam mulut kecilnya itu.
Dan sudah tiga tahun menikah, aku sangat menikmati dan menyukai hisapan bibirnya
yang kecil dan manis itu. “Aahhh… Aahhh… Ralinee, hebat sekali. Habis nyetir enam jam penuh.
Pulang-pulang langsung dihisap ganas oleh bibir kecilmu yang manis itu. Aahhh… Aahhh…”
Penisku dikocok dengan kecepatan tinggi oleh Raline. Sambil lidahnya tak berhenti
menjilati lubang kencingku. Rahangnya mampu menyedot habis batangku sampai bikin aku
gemeteran. Kadang aku sesekali sambil membayangkan, saat dia main dengan mantannya.
Kadang aku juga merasa kesal dan cemburu, kenapa aku bukan pria pertama yang
menikmati semua ini. Meski aku juga merasa beruntung, karena Raline bisa dengan mahir
menghisap penis pria. Karena sudah diajari dan berpengalaman blowjob ratusan kali juga kan.
“Aahhh… Aahhh… Ralinee… Ralinee… Mulutmu melumat habis penisku, sayang. Aahhh…
Aahhh… Beneran dilahap habis penisku sampai gak tersisa,” kataku sambil menjambak jilbab
warna pink yang dia kenakan. Dan aku juga berusaha menahan cairan spermaku pada saat itu.
Sayangnya ini mungkin sesuatu hal yang memalukan. Aku tak pernah mampu bertahan
lebih dari 3 menit setiap istriku yang cantik ini menyedot penisku. Kadang terlihat kekecewaan
di raut wajahnya. Namun Raline berusaha menyembunyikan perasaannya itu demi kebaikan.
“Aahhh!! Aahhh!! Ralinee! Ralinee! Aku udah gak kuaat! Aahhh!! Aahhh!! Sayang
maafin suamimu ini yang lemah dan gak mampu bertahan lebih lama! Aahhh!! Aahhh!! Aku
keluaar, Ralinee! Aahhhhh!!!” erangku yang akhirnya aku ejakulasi di dalam mulut istriku ini.
Rasanya memang begitu nikmat, namun kadang aku berpikir bahwa istriku juga kasian.
Masalah selalu muncul setiap kali aku sudah keluar. Penisku langsung loyo dan gak mau berdiri
lagi. Padahal niat awal istriku menghisap penisku, untuk permainan selanjutnya yang lebih gila.
Chapter 2
Aku juga terkadang sering merasa kasihan dengan istriku. Karena aku terlalu lemah dan
gampang banget keluar. Kalo gak pemanasan susah bangunnya, tapi kalo pemanasan malah
keluar pas pemanasan itu. Dan habis itu penisku gak mau bangun dan berdiri lagi sialnya juga.
Berujung akhirnya aku ketiduran, dan istriku malah gak mendapatkan apa yang dia
butuhkan. Iyaa dia gak mendapatkan nafkah batin yang seharusnya aku berikan. Tapi sekali lagi,
istriku sama sekali gak mengeluh. Meski mungkin apa yang aku lakukan terkesan seenaknya.
Sampai keesokan paginya, tepat di hari senin pagi. Aku bersiap untuk berangkat kerja.
Raline saat itu menemani aku sarapan sambil bermain handphone. Sampai tiba-tibaa. “Mass? I-
Ini masa mantan aku ngechat aku di Instagram. Dia nanyain kabar setelah hilang sekian lama.”
Raline menunjukkan bukti chat mantan pacarnya yang pernah menghamili dia itu. Dan
aku membaca semuanya. “Dia kayanya cuma nanyain kabar kamu aja. Yaa bales aja kalo kamu
mau tau kabar dia. Atau kalo kamu masih trauma, langsung blokir dan gak usah dibales deh.”
Aku sendiri sebenernya gak mau Raline chattingan sama mantannya. Tapi aku gak mau
terkesan sebagai suami posesif di depan dia. “E-Enggak aku bales aja deh, Mass. Toh dia udah
ninggalin aku. Di saat kondisi aku lagi lemah dan gak berdaya. Padahal ini perbuatan dia juga.”
Aku memilih mengangguk pelan dan menerima keputusan Raline yang menurutku sudah
sangat bagus. “Iyaa, blokir dan hapus aja chat dia. Kalo aku saranin, kamu gak usah buka
kesempatan apapun yang bisa membuat dia deket lagi sama kamu. Jadi aku minta hapus aja.”
“Siaap, Mass. Aku hapus sekarang yaa. Aku cuekin dan gak aku bales. Aku juga gak mau
sampai Mas berpikiran buruk dan macam-macam sama aku. Jadi lebih baik dihapus aja,” kata
Raline dan setelahnya kami melanjutkan perbincangan yang lain. Raline melupakan chat itu.
Setelahnya aku pun berangkat kerja seperti biasa. Dan entah kenapa saat jam istirahat
makan siang. Aku mencoba mengakses Instagram istriku melalui laptopku. Dan ketika aku cek
pesan chatnya. Iyaa gak ada pesan chat apa-apa. Yang tadi beneran sudah dihapus sama dia.
Aku pun membuka akun Instagram mantan pacar istriku ini. Yang ketika aku cek
profilnya, postingan dia banyak menunjukkan tentang kesulitan hidup yang dia alami. Dari
semua postingan yang dia buat. Aku bisa tau kalo dia sedang kesulitan uang dan jodoh juga.
Nama mantannya Raline ini bernama Rafli. Postingan dia kebanyakan soal cari kerjaan.
Foto dia lagi ngerokok dan ngopi di warkop. Sama ada foto dia lagi main kartu remi di warkop
juga. Dari segi fisik, harus aku akuin Rafli memang lebih tampan dari aku. Dia emang ganteng.
Tapi sayangnya kehidupan yang dia jalani separah itu. Dari semua postingan yang aku
lihat, si Rafli ini gak punya pekerjaan. Dan modal hidup dari kedua orang tuanya yang udah
renta dan juga kesulitan keuangan. Kecil kemungkinan untuk istriku mau hidup bersama dia.
Karena Raline sudah terbiasa hidup enak dengan harta yang cukup. Jadi buat apa aku
khawatirin mantannya lagi. Mendingan aku lanjut fokus kerja dan cari uang seperti biasa. Dan
menurutku si Rafli ini kaya gak tau malu banget. Bisa-bisanya dia ngehubungin Raline lagi yaa.
Sekitar dua hari kemudian, istriku tiba-tiba meminta izin untuk transfer uang senilai 10
juta ke saudaranya. “Mass, aku minta izin kasih saudara aku uang yaa. Soalnya kasian dia butuh
buat anaknya masuk sekolah. Ini saudara jauh aku, dia ponakan dari almarhum papa aku juga.”
Ketika aku mendengar itu, aku langsung mengizinkan Raline untuk membantu saudara
jauhnya. Dan dia juga nunjukin nomor rekening tujuan yang atas nama perempuan. “Ohh, iyaa
kirimin aja. Kalo buat anak sekolah bantu gak masalah. Asal jangan buat gaya hidup aja yaa.”
Raline pun langsung transfer uang 10 juta, dan ini dia kirim dari tabungan pribadinya.
Yang dia kumpulin dari jatah uang bulanan yang setiap bulan aku kasih. Raline sendiri punya
jatah uang pribadi dariku sebesar 15 juta sebulan. Dan sering sisa yang akhirnya dia tabung.
Namun siang harinya saat aku bekerja, aku tiba-tiba menerima notifikasi seperti tag di
Instagram istriku. Yang notifikasinya berasal dari Rafli, namun ketika aku coba buka. Udah gak
ada atau udah dihapus. Aku cek pesan chatnya juga kosong, dan aku bingung itu notif apa ya?
Karena penasaran, aku coba buka Instagram pribadinya Rafli lagi. Dan dia posting habis
beli handphone baru. Yang harganya gak mahal sih, sekitar 2 jutaan doang. “Mantap juga ini
handphone. Harganya cuma 2 jutaan, tapi udah dapet spesifikasi segahar ini. Mantap dah ini.”
“Weeyy, kok bisa lu tiba-tiba punya duit? Katanya semalem lu bokek? Sampe rokok aja
minta ke gua semalem,” tulis salah satu temannya yang memberi komentar. Kok aku malah jadi
curiga sama istriku yaa? Tapi yaa bisa aja sih dia dapet uang dari mana. Dan hpnya juga murah.
“Hahaha… Ada lah dari seseorang di sana. Yaa kagak lah gua dapet gawean kemarin.
Dan baru dibayar sekarang. Kan gua udah ngomong sama lu semalem. Baru banget pagi ini
dibayar,” balas si Rafli dan aku malah tambah jadi curiga. Tapi tadi dia kirim ke rekening cewe.
Malam harinya ketika istriku lagi tidur, aku coba cek mutasi rekening istriku. Dan dia
transfer ke atas nama Mirna Setiaputri. Aku coba buka whatsappnya, dan beneran ada chat
yang berasal dari kontak bernama Mirna. Pas aku buka chattingannya keliatan sesama cewe sih.
“Makasih banyak yaa, Saay. Maaf banget nih aku ngerepotin kamu. Padahal udah lama
gak ketemu, gak kontekan. Sekalinya kontekan malah pinjem duit hehehe,” tulis si Mirna yang
minta maaf karena ngerepotin. Dan ketika aku scroll ke atas, yaa bener chattingannya sesuai.
Emang ada chattingan selama beberapa hari ini. Yang dia mau minjem duit, tapi sama
Raline memilih dikasih. Dan Raline minta izin ke aku dulu, dan setelah aku izinin Raline baru
transfer uangnya. Gak ada yang mencurigakan sama sekali. Dan pas aku coba cek chat lainnya.
Gak ada chat dari cowo siapa-siapa. Chattingan paling atas dari aku yang chat semalem.
Di bawah chattingan ibunya, dan di bawahnya lagi chattingan adiknya. Yang isi chattingannya
pada biasa aja. Dan aku berasa lega, karena ternyata ini hanya pikiran burukku kepada Raline.
Sejak saat itu aku memilih untuk gak mencurigai Raline lagi. Meski aku masih suka
stalking si mantannya itu. Yang mulai posting beberapa barang yang dia beli. Kaya vape elektrik,
jaket, jam tangan, dan sebagainya. Tapi aku menganggap kalo emang dia udah ada kerjaan aja.
Chapter 3
Sampai selang satu bulan, aku gak tau ada apa dan kejadian apa. Istriku tiba-tiba
keliatan kaya badmood dan nangis sendiri. Aku coba tanya ke beberapa pembantuku di rumah.
Dan mereka gak tau apa-apa. Katanya istriku yaa di rumah aja, dan lebih sering di kamar kami.
“Gak tau yaa, Pak. Mbak Raline udah sebulan ini yaa gak pernah kemana-mana. Paling
pergi ke pasar sama saya. Tapi yaa memang keliatan sering telfonan sih. Kalo saya izin bersihin
kamar Bapak,” kata pembantuku yang bernama Mbok Ipah. Gak ada hal yang mencurigakan ya.
“Ohh, lebih sering telfonan yaa? Tapi dari dulu istri saya emang suka telfonan sama
orang tua dan temen-temennya. Udah tiga hari belakangan ini sering nangis. Kalo saya tanya
kenapa juga gak jawab,” balasku yang istriku sering nangis sesenggukan selama 3 hari belakang.
“Iyaa mungkin ada masalah kali, Pak. Tapi dia gak mau cerita ke Bapak. Atau coba Bapak
tanya baik-baik. Siapa tau Mbak Raline mau cerita. Iyaa itu saran saya aja Pak,” jawab Mbok
Ipah. Dan aku memilih untuk menanyakan langsung ke Raline. Saat dia sedang menangis keras.
Aku naik ke lantai dua, dan membuka kamar tempat di mana Raline menangis sambil
tiduran di atas kasur. Kebetulan saat itu adalah hari libur, jadi aku memilih untuk fokus ke
masalah yang dihadapin Raline saat ini. Biar kesedihan yang dia rasain gak berlarut terus yaa.
“Sayang? Heyy? Kamu kenapa kok tiga hari ini keliatan murung dan nangis terus? Aku
coba tanyain kamu diem aja gak jawab. Aku suami loh, coba sini cerita ada apa,” kataku sambil
mengangkat tubuh Raline dan memeluk dia. Raline pun pasrah sama sekali gak melawan aku.
Dan tak lama dia berusaha menyeka air matanya serta menghentikan tangisannya saat
itu. “A-Aku sakit hati, Mass. Saudaraku yang kemarin aku bantuin aku transfer uang 10 juta. Dia
ngatain kamu mandul. Dan malah nyaranin aku untuk berpaling dari kamu. Aku sakit hati, Mas.”
Aku menghela nafas panjang, sambil mengelus jilbab warna hitam yang dia kenakan.
Aku memilih untuk gak mengurusi hal ini. “Iyaudah gak usah didengerin. Toh mereka gak tau
permasalahnya kenapa. Yang penting kan hasil pemeriksaan sperma aku aman dan bagus aja.”
Raline sampai mengerang kesal, dia memukuli tempat tidur kami dengan sangat keras.
“Aku tuh keseel! Keseel! Beneran kesel sama orang kaya dia! Udah dibantu udah ditolong!
Bukannya terima kasih malah ngelunjak! Padahal dia tau uang itu kan asalnya dari kamu juga!”
Aku memilih untuk menenangkan Raline, dan meminta dia untuk gak usah chattingan
lagi sama si Mirna itu. “Iyaudah gak usah kamu chat lagi aja. Hapus dan blokir aja dia, yang
penting kan faktanya gak begitu. Yaa? Udah yaa kamu jangan sedih dan nangis lagi yaa sayang.”
“I-Iyaa, Mass. Udah aku blokir dan aku hapus chatnya. Aku mau ke toilet dulu yaa, Mass.
Mau bersihin wajahku yang penuh air mata ini,” kata Raline dan dia langsung pergi ke kamar
mandi. Aku sampe gak ngerti sebenernya, kenapa keluarga besarnya Raline banyak nuduh aku.
Wajar aja kalo Raline sampe marah dan nangis terus kaya gitu. Apa lagi dia tau yang
bikin kami belum punya momongan karena kesalahan dia di masa lalu. Mungkin itu yang
membuat Raline merasa sakit hati dan bersalah. Hatinya Raline memang sangat lembuh sih ya.
Tapi anehnya setelah hari itu, aku denger dari Mbok Ipah kalo Raline masih suka nangis.
Tapi nangisnya nunggu aku pergi berangkat kerja. Kalo ada aku di rumah dia keliatan ceria dan
biasa aja. Tapi kalo aku udah pergi berangkat kerja, dia langsung nangis histeris kata si Mbok.
Sampai dua minggu berselang, kebetulan banget istriku ulang tahun di usia ke-26. Dan
aku memilih untuk merayakan hari ulang tahunnya. Dengan mengundang kelurga besar istriku
ke rumah. Ada beberapa keluargaku juga yang dateng, tapi gak banyak karena pada sibuk yaa.
Ditambah istriku ulang tahun di hari masuk kerja, dan baru bisa dirayain di malam hari.
Kebetulan banget di sini banyak saudara dan ada orang tua Raline. Jadi aku akan coba
membahas soal Mirna itu. Raline bahkan terlihat murung dan gak senang pada malam itu yaa.
Aku tau dia sedang gak baik-baik aja. Matanya terlihat gelisah meski dia berusaha untuk
bersikap normal dan biasa aja. Tapi aku sebagai suaminya yang udah tiga tahun hidup sama dia.
Tentunya aku tau seperti apa istriku yang sedang gelisah, marah, sedih, atau bahkan bahagia.
“Itu Raline kenapa, Adam? Kok dia keliatan murung, gelisah, dan sedih begitu di hari
ulang tahunnya? Apa dia merasa gak nyaman? Karena banyak ditanyakan soal momongan?”
tanya ibu mertuaku kepadaku. Saat kami berdua duduk di satu sofa yang sama pada malam itu.
“Kayanya itu salah satunya, Maa. Tapi yang jadi pemicunya, katanya Raline kemarin
sempet deket sama saudaranya yang bernama Mirna. Dan Mirna itu sempet dibantu uang buat
anaknya sekolah 10 juta. Tapi Mirna malah menghina saya,” balasku menjelaskan awal mula.
“Mirnaa? Hah? Emang kita punya saudara yang namanya Mirna tah? Perasaan Mama
gak punya saudara yang namanya Mirna. Kata Raline Mirna itu saudara yang dari mana?” tanya
ibu mertuaku yang keliatan bingung? Laah? Kok bisa ibu mertuaku ini malah gak kenal Mirna.
“Katanya sih si Mirna itu keponakan angkat dari almarhum papa. Emang Mama gak
pernah ketemu sama Mirna? Atau ngeliat orangnya seperti apa?” jawabku sekaligus bertanya
balik ke ibu mertuaku. Aku juga sempet kaget, karena ibu mertuaku gak kenal Mirna itu siapa.
Ibu mertuaku langsung paham, dan dia pun membalas dengan perkataan yang agak lega
gitu. “Ohh saudara papanya? Kalo itu yaa Mama juga kurang tau. Karena Mama gak terlalu
mengenal semua keluarga besar almarhum papa. Tapi memang papa punya ponakan angkat.”
Aku pun mengangguk pelan, sambil memperhatikan Raline yang berbincang dengan
saudara-saudara yang berasal dari ibunya. “Jadi ada kemungkinan kalo Raline beneran punya
saudara bernama Mirna yaa? Tapi Mama sama sekali gak kenal dan gak pernah ngeliat Mirna?”
Ibu mertuaku sempet keliatan mikir, sebelum akhirnya dia memilih untuk gak ambil
pusing. “Mungkin pernah ngeliat, pernah ketemu mungkin yaa. Karena keluarga papanya Raline
itu besar dan banyak sekali. Papanya Raline itu kan anak ketiga dari 10 saudara. Mungkin aja.”
Ibu mertuaku meski gak yakin, tapi dia gak menutup kemungkinan kalo Raline punya
saudara bernama Mirna. Apa lagi emang orang zaman dulu anaknya pada banyak. Dan ibu
mertuaku juga wajar kalo gak kenal semua. Karena emang saudaranya terlalu banyak, hahaha.
Chapter 4
Acara ulang tahun Raline yang ke-26 tahun berlangsung meriah. Meski dia terlihat
banyak murung, namun Raline tetap bisa bersikap baik dan mengikuti seluruh acara yang sudah
kami rencanakan. Dari doa bersama, doa agar cepat hamil untuk mendapatkan momongan ya.
Sampai makan dan ngobrol bersama malam itu. Dan karena acara baru dimulai sekitar
jam setengah 8 malam. Akhirnya acara pun selesai cukup larut malam. Jam 11 baru pada
pulang. Termasuk ibu mertuaku, yang akhirnya pulang bareng adiknya Raline yang nomor dua.
Aku pun mengantar dan menemani semua tamu yang berpamitan pulang. Iyaa nungguin
sampai mereka masuk mobil dan jalan. Seperti etika pada umumnya jika menyambut tamu. Dan
juga ibu mertuaku, aku bantu buka pintu mobil. Dan aku perlakukan selayaknya ibuku sendiri.
“Adaam, Mama pulang dulu yaa. Semoga cepet dikasih momongan. Terima kasih sudah
menyenangkan dan membahagiakan anak Mama yaa,” kata ibu mertuaku dan aku hanya
membalas dengan senyuman. Sebelum akhirnya semuanya pergi dan tak ada tamu tersisa lagi.
Saat itu Raline tidak ikut mengantar ibunya. Dia membantu dua pembantuku di rumah
beres-beres dan mencuci perabotan rumah yang dipakai. Mereka bertiga sudah sangat sibuk
malam itu. Jadi aku yang mengurus dan mengantar tamu sampai ke mobil masing-masing ya.
Sampai akhirnya karena ibu mertuaku menjadi tamu terakhir yang pulang. Pada tepat
jam 12 malam itu, aku menutup pintu gerbang. Dan saat aku hendak menggembok pagar, tiba
tiba ada sebuah mobil SUV berhenti di depan pagar rumahku. Aku sempat terdiam bingung.
Dan dengan kejadian yang begitu cepat bagiku. Ada 5 orang keluar dari dalam mobil itu.
Mereka menggunakan senjata api dengan mengenakan penutup wajah yang beragam. Dari
yang pakai topeng sampai pakai penutup wajah maling warna hitam yang banyak digunakan.
“Jangan teriak! Lu diem! Atau ini peluru nembus ke kepala lu! Diem dan turutin semua
omongan gua kalo lu mau selamat!” Mereka berlima menodongkan senjata api ke kepalaku.
Dan aku gak bisa berbuat banyak, selain mengangkat tangan dengan tubuh yang gemeteran.
“A-Ada apa ini? Kalian mau ngapain? Kenapa tiba-tiba nodongin senjata kaya gini! Ada
perlu apa kalian sama saya!” sergahku sambil berjalan mundur. Pagar yang belum sempat aku
gembok oleh mereka langsung dibuka. Dan dengan mudahnya mereka masuk ke dalam garasi.
“Ohh iyaa kita gak punya urusan sama lu! Kita cuma punya urusan sama harta benda
yang lu miliki! Masuk ke dalem! Putar balik! Jalan ikutin perintah kita!” Akhirnya mereka
langsung memutar tubuhku. Hingga posisi tubuhku membelakangi mereka berlima saat itu.
Aku dipaksa jalan masuk ke dalam rumah. Dalam kondisi mereka berlima nodongin
senjata mereka ke kepalaku. “Masih terang nih rumah, kayanya habis ada acara yaa? Vino lu
todong terus nih orang. Biar kita berempat masuk dan ngejarah barang-barang. Tahan aja dia.”
Siaal, di dalem masih ada Raline dan dua pembantuku yang masih belum tau apa yang
sedang terjadi. Sampai mereka berempat masuk ke dalam rumahku. Dan langsung berpencar ke
empat arah yang berbeda. Satu menuju dapur, dua orang naik menuju ke lantai dua rumahku.
Satu orang menuju ruang keluarga, dan satu orang sisanya menyandera aku dengan
terus menodongkan senjata ke kepalaku. “Aaahhh!!! Siapa kamuu! Ngapain kamu ada di sini!
Mass Adaam! Masss! Ada penjahat masuk ke rumah kitaa, Mass! Keluaar dari rumah sayaa!!”
Aku mendengar suara teriakan dan jeritan Raline, namun tak lama Raline digiring dari
dapur menuju ke ruang tamu sama seperti aku. “Lu berdua berlutut! Jangan banyak gerak kalo
kepala gak mau ancur! Dua pembantu di belakang masukin ke kamar mandi! Sekap langsung!”
Mbok Ipah dan Mbok Watun langsung digiring ke dalam kamar mandi. Mereka langsung
diiket tubuhnya pakai tali tambang. Dan mulut mereka ditutup pakai lakban. Sementara mereka
mengobrak abrik rumah kami. Ada yang berusaha melepas tv dari bracket di ruang keluarga.
Ada yang berusaha menjebol pintu kamarku. Ada yang masuk ke kamar ibu mertuaku.
Dan mengambil seluruh perhiasan ibu mertuaku di sana. Ada yang mengambil perabotan
rumah yang mahal di dapur. Mereka semua bergerak dengan begitu cepat dan aku masih kaget.
“Ma—Mass!! Kita harus gimana rumah kita dimasukin penjahat kaya gini, Mass!! Aku
gak mau sampe barang-barangku dibawa mereka! Mas Adam udah berjuang keras beliin
semuanya dan nyenengin akuu!!” teriak Raline yang sampai menangis karena kondisi buruk ini.
“Ra—Ralinee, kamu ikutin dulu aja perkataan mereka. Udah biarin aja, namanya barang
masih bisa dibeli! Tapi kalo kamu sampe dibunuh sama mereka! Nyawa kamu gak ada
gantinya!” balasku yang meminta Raline untuk tetap tenang. Aku juga gak bisa lakuin apa-apa.
“Mass aku takuutt!! Aku takut mereka ngapa-ngapain kitaa, Mass! Aku takut mereka
bakal bunuh kamu, Mass!! Aku juga takut kalo sampe dilukain atau dibunuh sama merekaa!!”
jawab Raline yang sampe nangis histeris. Dia keliatan ketakutan banget pada kejadian saat itu.
“Lu berisik banget lonte! Udah gua suruh diem masih ngoceh gak jelas! Lu ngerti bahasa
manusia gaak! Apa karena lu binatang makanya diomongin gak bisaa!” kata pria yang
menodong senjata ke arah kami. Sekarang dia berpindah menodong kepala belakang Raline.
Sontak Raline saking takutnya sampe gak bisa mengontrol dirinya. Dia gemeteran hebat
dengan wajah yang penuh keringat. “Mass tolong akuu! Mass tolongiin akuu! Aku mau
ditembak sama mereka, Mass! Aku mau dibunuh, Mass!! Mass tolong jangan diem ajaa, Mass!”
Sampe moncong dari pistol itu menempel tepat di kepala Raline. Dan aku berusaha
meminta orang itu untuk jangan menyakiti Raline. “Ja—Jangan istri sayaa!! Apapun itu kalian
boleh ambil apapun asal jangan istri sayaa!! Sudah saya gak akan berontak! Jangan istri sayaa!”
Aku ngeliat mereka berusaha ngambil barang-barang yang bernilai tinggi tapi ringan.
Mereka mengambil laptop, emas, uang, perhiasan, bahkan sampai barang elektronik koleksiku.
Dan mereka masukin ke dalam tas besar yang udah mereka siapin. Sampe semuanya penuh.
Sampe tiba-tiba dari belakang, orang yang menodong Raline berkata seperti ini ke
Raline. “Kamu cantik juga ternyata, wajah kamu begitu putih dan bening. Pasti kamu istri yang
baik dan taat kepada suami. Sampai suami kamu lebih rela kehilangan segalanya malam inii.”
Perampok itu bergerak memutari Raline, sampai sekarang posisi dia berada tepat di
depan Raline. Lalu tersenyum dengan wajah mengerikan. “Kami gak akan membunuhmu. Tapi
sepertinya wanita cantik dan taat sepertimu. Cocok untuk hiburan kami berlima sampai puas.”
Chapter 5
Posisi perampok itu kini berada di depan istriku, dan entah kenapa dia tiba-tiba
penisnya terlihat mengeras dan membesar. “A-Apa maksudnyaa! Kalian cukup ambil harta dan
uang kami aja! Jangan menyentuh dan melukai siapapun di sini! Saya gak akan melapor nanti!”
Sambil terus menodongkan pistolnya ke kepala Raline. Perampok dengan topeng kain
hitam itu mengeluarkan penisnya dari balik celananya. “Siapa yang akan percaya dengan
perkataan lu, goblok! Dan siapa yang bilang setelah ini lu bakal tetep gua biarin hidup? Hah!!”
Raline menangis semakin histeris, saat perampok di depannya ngeluarin penis di depan
wajahnya persis. “Mass tolong aku, Mass!! Mass mereka mau ngelakuin hal buruk sama aku!
Aku gak mauu! Aku istri setia yang gak akan memuaskan orang lain! Tutup penis kamu ituu!!”
Raline sampai marah dan membentak, namun percuma aja. Perampok itu malah tiba-
tiba menembak galon air mineral di ruang tamu. Seketika galonnya pecah dan airnya tumpah
kemana-mana. Dan hal ini membuat Raline semakin gemetar ketakutan, termasuk aku juga.
Perampok itu tersenyum, sambil memberikan ancaman yang begitu nyata kepada Raline
dan aku. “Kalo lu berontak atau ngelawan, kepala lu bakal pecah kaya galon air mineral itu.
Aahh, atau kepala suami lu aja yang gua pecahin? Biar lu putus asa dan gak bisa ngelawan lagi.”
“Enggak, jangan suami aku tolong!! Kenapa kalian ngasih aku pilihan seperti inii!! Aku
gak mau kehilangan suami akuu! Dia yang nafkahin aku dan dia yang berjuang buat akuu!!” kata
Raline yang saat itu perampok akhirnya menodongkan pistolnya tepat di depan kepalaku persis.
“Yaa makanya lu jangan banyak bacot, goblok! Dalam 10 detik, lu gak ngelahap kontol
gua! Gua pecahin kepala suami lu! Cepet masukin kontol gua ke mulut luu! Gak usah banyak
dramaa!!” teriak perampok yang akhirnya membuat Raline ketakutan. Raline mandi keringat.
“Mass, maafin akuu. Aku gak berniat melakukan hal seperti ini, Mass. Aku istri yang
selalu setia dan taat sama kamuu. Tapi aku gak mau kehilangan kamuu, Mass. Aku gak mau
kehilangan cinta sejatikuu,” jawab Raline sambil menangis dan meminta izin kepadaku saat itu.
“Ra—Ralinee! Maafin aku yang lemah dan gak bisa berbuat apa-apa di situasi seperti ini!
Aku sama sekali gak relaa! Aku sama sekali gak bisa nerima inii!” kataku yang aku juga sampai
kena mental. Istriku sudah berniat melahap penis dari perampok itu yang gede banget serius.
Bahkan ukuran penis perampok itu, jauh lebih besar dari penis punyaku. Raline
menangis terisak dan kembali berkata kepadaku. “Tapii ini demii gak ada korban jiwa yang
jatuh, Mass!! Aku juga gak ingin! Aku juga gak mauu! Tapi aku gak mau kehilangan kamu, Mas!”
Perampok itu sampai muak, dan dia kembali menembakkan peluru ke arah atas.
“Banyak bacot lu berdua anjiingg! Sepong tinggal sepong! Isep tinggal isep bangsat! Pake acara
dramatis gak jelas! Sumpah mendingan gua matiin aja suami lu kalo banyak omong kaya gini!”
Dan sontak Raline langsung melahap penis perampok itu ke dalam mulutnya. Aku
sampai gemetar tersentak hebat. Untuk pertama kalinya aku ngeliat istriku melahap penis cowo
lain di depanku. Enggak, aku gak boleh egois dan kaya anak kecil. Dia ngelakuin ini demi aku.
Raline dengan tubuh gemetar ketakutan, dia menggerakkan kepalanya maju mundur
dengan perlahan. Dia keliatan ragu-ragu dan gak ikhlas. “Nyepong apaan kaya gini! Masih kena
gigi! Kocokannya pelan gak berasaa! Masa lu jadi istri gak bisa nyepong! Suami lu gimana hah!”
Perampok itu sontak langsung memegangi kepala istriku. Dan dia langsung menggenjot
habis-habisan mulut istriku dengan penisnya. Raline sampai batuk-batuk. “Uggkhh!! Slurrrppp!
Slurrrppp! Slurrrppp! Mmmhhh!! Mmmhhh!! Uggkhh!! Uggkhh!! Slurrrppp! Slurrrppp! Ugkh!!”
Aku sampai melotot kaget melihat istri tercintaku yang alim dan taat ini menghisap
penis cowo lain di depanku. Aku sampai merasa marah, aku berusaha gak mempedulikan
nyawaku. “Bajingaan!! Persetan mendingan gua mati aja ketimbang ngeliat istri gua diginiin!!”
Sampe tiba-tiba perampok itu beneran mainin kejiwaanku. Dia langsung mindahin
pistolnya tepat ke jilbab warna merah yang dikenakan istriku. Sontak aku langsung gemeteran
ketakutan. Aku sudah merelakan aku mati di sini, tapi dia malah menodongkan kepala istriku.
“Aahhh… Aahhh… Nahh gini baru mantep sepongannya. Lu mau ngapain barusan? Mau
lebih milih mati ketimbang nonton bini lu nyepong kontol gua? Yaa gua tembak mati aja bini lu.
Apa susahnya?” kata perampok itu, seolah dia beneran maksa aku buat nonton kejadian ini.
“Beneran bajingan! Kalian beneran ibliiss! Kalian memaksa perempuan ngelakuin seks
dengan ancaman kematian kaya gini!! Beneran bajingaan!!” balasku yang beneran sampe
marah tapi juga gak bisa berbuat apa-apa. Kepala istriku bisa ditembak hancur sama mereka.
“Hahaha… Sepongan istri lu mantep juga sih. Aahhh… Aahhh… Udah gak kena gigi lagi
waktu digenjot paksa begini. Coba lidahnya digerakin sayang. Jilatin lubang kencing gua yang
bener,” jawab si perampok itu. Dan Raline langsung menurut menjilati lubang kencing orang ini.
Genjotan penisnya di mulut istriku bener-bener brutal. Sampai air liur istriku muncrat
gak karuan kemana-mana. Pipi tembem istriku dan dagunya sampai penuh dengan air liurnya
sendiri. Saking besarnya penis yang masuk ke dalam mulutnya. Istriku sampai kesulitan parah.
Mulut istriku yang biasanya hanya menghisap dan mengulum penisku seorang. Kini dia
melakukannya untuk pria lain. Dan dia bener-bener seolah dijadikan budak dari penis perampok
itu. Karena apapun yang dilakukan perampok itu, Raline sama sekali hanya bisa diam pasrah.
Meski begitu satu-satunya yang menyadarkan aku adalah tangisan Raline. Dia masih
menangis meski dia menghisap penis perampok itu dengan ganas dan leluasa. “Ra—Ralinee?
Ke—Kenapa kamu malah keliatan menikmati begitu? Raline aku harap ini cuma pikiranku aja!”
Raline menggeleng pelan, dia tak bisa menjawab perkataanku karena mulutnya masih
disumpal oleh penis perampok itu. Dan perampok itu pun ketawa. “Hahahaha… Liat bini lu suka
banget ngisep kontol gua anjiing! Hahahaha… Isepannya ganas parah, sampe masuk semua ini.”
Raline beneran masukin seluruh penis perampok itu ke dalam mulutnya. Sampai terlihat
tenggorokan Raline ikut tersodok penis dari perampok itu. Aku merinding setengah mati, aku
gak kuat melihat istriku melayani dan menghisap penis lain. Meski aku tau ini terpaksa sekali.
Chapter 6
Aku merasa mulai frustasi karena gak bisa berbuat apa-apa saat istriku dipaksa
menghisap penis perampok itu di depan mataku. “Hebaat! Isepannya kenceng parah sih ini!
Aahhh! Aahhh! Istri solehah yang taat ternyata jago nyepong juga. Hahaha… Ngagetin sih ini.”
Dan saat itu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kepala Raline yang ikut bergerak
maju mundur mengocok penis perampok itu. “Sudaah! Aku rasa sudah cukup! Sudah 10 menit
lebih kamu memaksa istri sayaa untuk menghisap kemaluan kamu! Sudah cukup jangan lagii!”
Sampai tiba-tiba perampok itu mencabut penisnya dari mulut Raline. Aku pikir dia
beneran mendengarkan perkataanku barusan. “Heyy, kerdus binal. Coba jelaskan ke suami lu
ini. Gua cape dengerin dia ngebacot mulu! Suruh suami lu diem atau kepala lu gua bolongin!”
Raline pun menatap ke arahku dengan mulut yang belepotan penuh air liur saat itu.
“Ma—Mass, tolong ikhlaskan aku Mass. Ini demi keselamatan kita berdua. Aku gak mau sampai
ada salah satu dari kita yang mati. Aku akan melayani kamu, tapi tolong jangan sakiti suamiku.”
“Hah? Hahahaha… Kocaak sumpaah! Ini beneran kocak parah, hahahaha. Dasar laki gak
bergunaa! Istri lu sampe berjuang memohon buat lu tetep hidup tolol! Tapi lu malah dengan
egois ngebacot mulu minta dia buat berhenti!” kata si perampok yang menghina aku saat itu.
“Aku gak mau kehilangan kamu, Mass. Dan juga percuma aja, mereka membunuh kamu
pun. Mereka akan tetep melakukan ini kepada aku, Mass. Dari pada rugi dua kali, aku
kehilangan suami dan harga diri. Lebih baik korbanin salah satu aja,” balas istriku kepada aku.
“Ra—Raline, aku tak sanggup melihat kamu melakukan itu di hadapanku! Aku beneran
marah dengan diriku yang lemah dan gak bisa berbuat apa-apa! Sehingga kamu sampai harus
ngelakuin inii!” jawabku yang aku tau tujuan Raline agar kami berdua tetap bisa lanjut hidup.
Dan juga perkataan Raline benar, kalo kami melawan dan aku dibunuh pun. Mereka
akan tetap menyetubuhi Raline dan berbuat sesukanya kepada Raline. Raline malah akan
tambah hancur karena kehilangan aku dan harga dirinya. Perkataan dia sangat masuk akal sih.
“Tolong ikhlaskan aku, Mass. Hanya untuk mala mini saja. Setelah ini mereka pergi, aku
tetap menjadi istrimu, Mass. Aku tetap menjadi milik kamu sampai kapan pun sayaangku,” kata
Raline yang memintaku untuk mengerti posisi kami. Amarahku saat itu berubah jadi kesedihan.
Aku beneran menyesal aku gak bisa berbuat apa-apa. Karena meski aku gak takut mati
dan memilih melawan. Mereka malah akan memilih membunuh Raline ketimbang aku. Mereka
masih menodongkan senjata api itu ke kepala Raline. Dan aku sungguh takut pelatuk itu ditarik.
Perampok itu kembali menyodorkan penisnya ke mulut Raline. Dan istriku dengan
sendirinya tanpa dipaksa sama sekali. Dia melahap penis perampok itu, bahkan perampok itu
hanya diam. Dan Raline dengan sendirinya menghisap dan mengocok penis itu pakai mulutnya.
“Aahhh!! Aahhh!! Pinteerr cewe berhijab itu emang pengertian banget hahaha. Liaat nih
bini lu nyepong kontol gua dengan sendirinya. Tanpa gua minta dan tanpa gua paksa sama
sekali. Hahahaha,” ungkapnya sambil tertawa keras. Namun aku hanya bisa diam menonton.
Istriku mengocok penis perampok itu semakin ganas. Kepalanya bergerak maju mundur
semakin cepat dan ganas. Suara hisapan mulutnya pun terdengar semakin keras dan buat
batangku jadi ikut ngilu mendengarnya. Ralinee? Kenapa kamu bisa begitu lepas dan mudah?
Apa karena dulu kamu sudah terbiasa menghisap penis pacar kamu? Hanya dalam 10
menit lebih, Raline yang awalnya gemetar ketakutan. Kini dia terlihat begitu tenang seolah
emang doyan sama penis perampok itu. Dia bahkan melakukan beberapa manuver tersendiri.
Di mana dia melahap dan menghisap kedua bola zakar perampok itu. Tanpa diminta dan
diperintah sama sekali. “Aahhh!! Aahhh!! Gilaa gua sampe mau ngecrot anjiing! Aahhh!!
Aahhh!! Jilbab binaal! Gua mau ngecrot di dalem mulut luu! Siapin buat nampung sperma gua!”
Di depan mataku persis, Raline malah mengangguk sebagai tanda isyarat dia
mengiyakan. Kini dia udah gak dipaksa lagi sama perampok itu. “Slurrrppp!!! Slurrrppp!!!
Slurrrppp!!! Keluarin lah, asal kamu tidak menyakiti aku dan suamiku. Keluarin lah semuanya.”
Raline melahap lagi batang penis perampok itu. Dan aku melihat kemampuan blowjob
Raline yang bahkan belum pernah aku lihat. Dia melakukan deepthroat tepat di hadapanku.
“Aahhh!! Aahhh!! Anjiing bikin gua gak bisa nahan sperma gua! Makan nih peju! Aahhhhhh!!!”
Akhirnya si perampok itu ngecrot tepat di dalam mulut istriku. Bahkan sudah bukan di
mulut lagi. Sudah menyentuh tenggorokan atau bahkan kerongkongan Raline. Aku seketika
merinding setengah mati. Melihat istriku menerima dan menelan sperma pria lain di depanku.
Dia menerima dengan pasrah seluruh sperma itu tanpa perlawanan sama sekali. Dia
menerima seluruh sperma yang bukan milik aku suaminya. “Ralinee! Buang dan jangan telan
sperma itu! Aku mohon jangan lakuin ini di depan aku, Ralinee! Lepehin dan buang, Ralinee!”
Aku sampai berteriak memohon kepada Raline untuk membuang sperma perampok itu
dari mulutnya. Karena kita gak pernah tau apakah penis perampok itu sehat atau enggak. Aku
takut istriku nanti malah terkena penyakit. Aku sampai memohon terus menerus ke Raline.
Namun Raline sambil melihat ke arahku, dia menggeleng pelan sebagai tanda
sanggahan. Aku tersentak dan melotot bukan main saat Raline tidak menuruti perkataanku.
Dan di waktu yang bersamaan, aku melihat tenggorokannya bergerak menelan sperma itu.
“Hahahahaha!! Buahahahaha! Bini lu bahkan nelen sperma gua dengan sendirinya tanpa
gua mintaa! Hahahaha!! Kayanya emang dari awal lu berdua udah ada masalah. Sampe bini lu
aja gak mau nurutin perkataan lu!” kata perampok itu yang langsung menertawai sangat keras.
“Maafin aku, Mass. Aku melakukan ini demi membuat dia puas dan gak melukai kitaa.
Mass tolong aku terpaksa melakukan ini. Meski dia gak minta tapi aku tau dia akan memaksa!”
ungkap Raline yang lagi dan lagi meminta aku untuk mengerti. Namun perampok itu nyanggah.
“Kagak ada! Gua cuma bilang mau ngecrot di mulut lu doang! Gua kagak ada niat buat
minta lu nelen sperma gua! Hahahaha! Liaat noh bini lu dengan sendirinya suka dan ketagihan
kontol guaa!” jawab perampok itu dan sontak membuat aku makin frustasi pada malam itu.
“Ralinee, dia bahkan gak meminta kamu! Tapi kamu melakukannya dengan sendirinya!
Apa maksud dari semua ini, Ralinee! Buat apa kamu melakukan sesuatu hal yang bahkan
mereka gak mintaa!!” sergahku yang bahkan sampai membentak istriku saking aku emosinya.
Chapter 7
Raline tersentak kaget, karena ini mungkin pertama kalinya dalam pernikahan kami. Aku
membentak dan emosi kepada Raline. Selama tiga tahun pernikahan, aku memang hampir gak
pernah memarahi Raline. Kalo marah pun biasanya dengan nada dan ucapan yang lembut juga.
Tapi malam itu, aku membentaknya dengan penuh emosional. Dan Raline terlihat
seolah tak terima dengan perkataanku. “Ka—Kamu bentak aku, Mass? Setelah semua yang aku
lakukan berkorban demi kita? Demi nyawa Mas dan nyawaku! Ini bayaran dari Mas Adam?!”
Aku sontak sampai merasa bingung, tapi aku memilih untuk tetap memarahi Raline
karena dia salah. “Aku marahin kamu! Karena kamu bahkan melakukan sesuatu yang mereka
gak mintaa! Kenapa kamu malah terkesan seolah menikmati semua ini! Pahami ini, Ralinee!!”
Perampok itu sampai tertawa puas, terbahak-bahak. Bahkan emosiku dan bentakanku
ini sampai mengundang satu perampok lain ke tempat kami. “Hahahahaha… Udah gua bilangin
itu tandanya bini lu lebih suka kontol gua ketimbang kontol lu. Itu udah jelas banget anjiirr.”
Raline pun menggeleng pelan sambil meneteskan air matanya. Dia menyanggah
perkataan perampok bertopeng kain hitam itu. “Enggak, Mass! Aku ngelakuin ini demi kamu,
Mass! Demi nyawaku jugaa! Aku ngelakuin ini karena terpaksaa! Aku diancam dibunuh, Mass!!”
“Gimana rasanya tadi lu disepong sama dia? Enak kayanya tuh pipi sama dagu sampe
ada sisa sperma lu. Gua juga mau nyobain dah. Mukanya keliatan cantik dan binal banget,” kata
perampok lain yang menggunakan topeng plastik berwarna putih. Dan bentuknya seperti iblis.
“Cobain dah tuh, enak mantep banget sepongan mulutnya. Yaa kaya misi kita pada
umumnya. Bini dari pemilik rumah harus dicobain mulut, toket, memek, sampe anusnya. Dah lu
cobain deh,” balas si perampok topeng hitam itu. Dan temannya langsung ngeluarin penis lagi.
“Udah! Kenapa temen kamu ikutan juga! Harusnya satu aja yang ngelakuin ini ke istri
sayaa! Kenapa malah harus dua orang yang lakuin!” sergahku yang berusaha mencegah agar ini
gak terjadi lagi. Hatiku benar-benar sakit dan mentalku sampai hancur ketika melihat hal ini.
“Lah? Lu siapa ngatur-ngatur? Lu cuma suami gak berguna yang bahkan gak bisa muasin
bini lu, hahahaha. Kasian anjirr bininya sampe doyan sama kontol cowo lain. Kontol perampok
lagii,” jawab perampok topeng hitam itu. Dan penis si perampok putih lebih gede lagi malah.
Yang lebih bikin aku gak terima, Raline matanya malah melotot dan memperhatikan
penis milik perampok topeng putih. Wajahnya memerah seolah dia menyukai dan ingin penis
perampok bertopeng putih itu. Perampok itu hanya menyodorkan penisnya ke wajah istriku.
Dan istriku dengan sendirinya melahap dan menghisap penis itu dengan mulutnya.
Bahkan dia menggenggam penis itu dengan kuatt. “Oohhh… Baby isepan yang mantep banget.
Aahhh… Aahhh… Cewe berhijab syar’i tapi jago nyepong. Mantan cewe binal sih ini fix parah.”
Si perampok hitam itu tertawa sambil menyetujui dengan perkataan temannya itu.
“Nahh makanya gua bilang juga apa. Dari mukanya aja udah keliatan muka cewe haus kontol
bro. Dia kayanya bukan mantan cewe binal. Sampe sekarang pun dia masih cewe binal, haha.”
Mata Raline bahkan sampai terpejam dan kepalanya bergerak maju mundur dengan
sangat cepat. Hisapan demi hisapan yang dia lancarkan begitu kuat. Dengan sambil mata
terpejam seolah menambah kesan kalo dia sangat menikmati menghisap penis mereka saat itu.
Si perampok putih sampai menjambak jilbab warna merah yang dikenakan istriku.
Sebagai bentuk pelampiasan dari rasa nikmat yang dia terima. “Aahhh… Aahhh… Anjiing.
Anjiingg banget isepan mulutnya. Aahhh… Aahhh… Gua demen banget cewe hijab binal gini.”
Sementara itu si perampok hitam tiba-tiba aja jongkok tepat di belakang Raline. Aku gak
tau dia mau melakukan apa kepada istriku ini. “Kamu mau ngapain! Jangan buka baju istri saya!
Udaah cukup pakai mulut aja! Jangan buka dan sentuh tubuh istri saya! Berhenti bajingaan!!”
Istri seolah bener-bener pasrah, gamis warna merah yang dia kenakan. Dari belakang
resletingnya diturunkan dan dilepas. “Apa sih? Lu berisik banget! Orang bini lu aja pasrah gak
ngelawan sama sekali! Liat noh bini lu fokus nyedot kontol temen gua! Banyak bacot bener lu!”
Dan ketika kancing gamisnya terlepas, akhirnya gamis istriku jatuh ke bawah.
Menyisakan bra warna merah dan celana dalam renda warna merah yang dia kenakan. Lekukan
tubuh indah istriku terlihat oleh mereka berdua. Yang putih, mulus, dan begitu lembut sekali.
“Anjiingg! Bening parah nih cewe! Kulitnya mulus parah dan putih bukan main. Kulitnya
masih kenceng semua. Lekukan pinggangnya udah kaya gitar spanyol. Bokongnya gede dan
entotable banget ini mah,” kata si perampok hitam sambil hidungnya mengendus kulit istriku.
“Saya mohon jangan lakuin sejauh ini! Udaahh!! Kenapa kalian gak ambil aja apa yang
kalian butuhkan terus pergi! Saya mohon jangan sentuh istri sayaa!! Tolong lepasin istri
sayaa!!” teriakku yang aku seolah gak terima. Aku bahkan sampai berdiri berusaha melawan.
“Weehh!! Weehhh! Dia berdiri cog! Iket dulu dah, gua kagak mau lagi disepong begini
diganggu sama suaminya yang pecundang! Lu ikut dulu nih orang baru kita nikmatin bininya!”
balas si perampok putih itu. Gak lama ada satu perampok lagi yang dateng ke tempat kami ini.
“Gua udah dapet tali tambang. Lu arahin senjata ke kepalanya, biar gua yang iket tangan
sama kakinya. Anjiing emang nih orang ngeganggu aja. Habis ini gantian gua juga mau genjot
mulut bininya,” jawab perampok lainnya lagi. Dia memakai topeng kain berwarna coklat tua.
Aku berusaha untuk lari, namun perampok putih yang penisnya masih dihisap istriku.
Dia malah mengarahkan pistolnya ke kepala istriku. Kini kami berdua ditodong bersamaan. “Lu
berani banyak gerak, kepala bini lu gua bolongin! Aahhh… Aahhh… Diem dan jangan ngelawan!”
Aku beneran takut Raline disakiti sama mereka. Aku sangat mencintai istriku dan masih
banyak hal yang ingin aku lakukan bersamanya. “Udaah diem aja lu kontol kecil! Bini lu aja
sampe gak puas nikah sama lu! Lu gerak dikit peluru kena ke kaki lu nih! Diem pasrah aja lu!”
Akhirnya kedua tanganku diikat oleh mereka. Aku didorong hingga terduduk jatuh di
atas sofa ruang tamu. Kedua kakiku juga diikat, dan tubuhku pun juga diikat ke sofa tempat aku
duduk. Aku beneran dibuat gak berdaya dan gak bisa melakukan apapun. Kecuali berteriak aja.
Sekarang ada tiga orang perampok, yang berpotensi mereka akan menikmati tubuh
istriku ini. Dan aku gak bisa berbuat apapun kecuali menonton semua yang akan terjadi. Aku
hanya bisa berharap semoga mereka berubah pikiran. Dan tidak menyentuh dia lebih dari ini.
Chapter 8
Setelah mereka mengikat tubuhku, perbuatan mereka sekarang malah makin menjadi-
jadi. Istriku yang sekarang hanya menggunakan bra dan celana dalam berwarna merah. Dia
tanpa henti terus menyedot penis dari perampok bertopeng plastik putih tepat di hadapanku.
Sementara itu perampok bertopeng hitam, dia mulai menciumi punggung istriku yang
begitu mulus dan lembut. Istriku mendesah pelan saat punggungnya diciumi oleh perampok
hitam. “Mmmhhh… Slurrrppp!!! Slurrrppp!!!! Mmmhhh… Mmmhhh… Slurrrppp!!! Slurrrppp!!!”
Seolah dia menikmati setiap ciuman demi ciuman yang dilakukan perampok hitam di
kulit lembutnya. “Aahhh!! Aahhh!! Gilaa isepannya emang brutal bener kata lu, broo! Anjiing!
Gilaa sperma gua berasa kesedot parah banget sama dia. Aahhh!! Aahhh!! Gua mau keluaar!”
Penis si perampok putih sampai basah kuyup penuh dengan air liur istriku. Aku benar
benar merasa sangat cemburu dan gak bisa terima dengan semua ini. “Apa lagi kulitnya, broo.
Gila banget mantep. Mulus dan wangi parah. Gua ciumin dari tadi nih, nagih banget rasanya.”
Sementara perampok putih, dia keliatan udah gak kuat menahan gempuran mulut
istriku di penisnya itu. “Aahhh!! Aahhh!! Dia padahal dipaksa, tapi keliatan kaya doyan nyepong
parah. Uhh gilaa! Aahhh!! Aahhh!! Anjiirr! Gua keluaarr!! Aahhhhh!!! Anjiing keluar banyak!”
“Ralinee! Sudah tolong hentikan! Mau sampai kapan kalian ngelakuin ini ke istri saya!
Raline sudah jangan telan sperma dia lagi! Buang dari mulut kamu, Ralinee! Mereka gak minta
ngelakuin hal itu!” sergahku yang berharap agar Raline tidak mengecewakan aku lagi kali ini.
“Hahahaha… Gua kagak nyuruh loh yaa. Tergantung bini lu sendiri maunya gimana.
Aahhh!! Anjirr masih aja disedot padahal gua udah ngecrot! Gilaa bini lu binal parah ini mah!
Aahhhh!! Aahhhh!! Udaah apaa jilbab binal! Gua udah ngecrot!” kata perampok putih saat itu.
Aku sontak kaget setengah mati, melihat istriku masih menyedot penis perampok itu
meski dia sudah keluar. Ada apa dengan istriku ini? Kenapa dia malah melakukan banyak hal
yang menguntungkan para perampok ini? Kenapa dia seolah suka rela memuaskan mereka?
Di saat yang sama perampok hitam tiba-tiba mengangkat ketiak kanan istriku. Dan dia
kini menciumi ketiak istriku yang aku sukai. Tempat itu paling sering aku ciumin dan aku jilatin
sama foreplay. Tapi kini istriku sambil mulutnya disumpal penis, dia pasrah dan menikmati itu.
“Keteknya mulus banget sumpah gak ada bulunya. Wangi sama sekali gak bau. Enak ini
mah buat dijilatin terkhusus gua yang punya fetish ketek hahaha.” Perampok hitam itu julurin
lidahnya. Dan dia menjilati ketiak kanan istriku dengan begitu ganas. Dan istriku hanya diam.
Sementara itu si perampok putih kini mencabut penisnya dari mulut istriku. Kini mulut
istriku dipenuhi dengan cairan sperma si perampok putih. Perampok putih itu melihat ke
arahku sambil tersenyum tengil. Seolah dia mengajakku bertaruh dengan apa yang akan terjadi.
“Ralinee! Tolong buang! Aku mohon jangan menyakiti aku lebih dari ini, Ralinee! Aku
mencintai kamu sebagai istriku! Ralinee aku mohon buang sperma ituu!” ungkapku yang
sampai berteriak dan hampir mau nangis. Namun istriku memandangi aku dengan wajah sedih.
Dan tepat di hadapanku untuk kedua kalinya, dia memilih untuk menelan cairan sperma
si perampok putih di depanku. “Buahahahaha!! Bener ternyata dia emang binalnya udah gak
ketolong lagi! Bahkan depan suaminya pun, dia nelen sperma gua tanpa ragu! Hebat emang!”
Dan lagi lagi Raline mencoba mencari alasan yang gak logis menurutku. Aku sekarang
mulai kehilangan kepercayaan kepada istriku. “Aaahhh… Maafin aku, Mass. Dengan nyenengin
mereka begini. Bisa dipastikan mereka gak akan menyakiti kita. Ini demi kita berdua juga, Mas.”
Tak berhenti sampai di situ, kini perampok putih itu ikutan jongkok dan mengangkat
ketiak kiri Raline. “Mantep sih ini, lu jilatin yang kanan gua yang kiri. Kita rangsang dulu nih istri
taat yang binal hahaha. Biar kita mainnya lebih mantap, sambil ngerasain nafsu binalnya dia.”
Mereka berdua secara bersamaan menjilati kedua ketiak Raline. Sampai Raline dengan
begitu erotis sedikit menggeliat menikmati jilatan kedua perampok itu. “Mmmhhh…
Mmmhhh… Aaahhh… Tutup mata kamu, Mass. Jangan lihat aku mohon, ini akan menyakitimu.”
Aku bahkan udah mulai gak peduli dengan istriku. Saking aku merasa sangat kecewa
dengan apa yang dia lakukan. Menelan sperma itu adalah keputusan dia sendiri. Dan dia
mengatakan dia ngelakuin ini demi aku! Bajingan! Dia bisa membuangnya dan melepehnya kan!
“Mendesah lah lebih keras, sayang. Tunjukkan kepada suamimu betapa nikmatnya
bercinta dengan kami hahaha. Slrrrppp! Slrrrppp! Gilaa ketiaknya mulus banget. Bikin gak mau
berhenti jilatinnya,” kata perampok hitam yang lidahnya gak berhenti bermain di ketiak istriku.
“Aaahhh… Aaahhh… Sudah hentikan, aku gak mau menyakiti suamiku lebih dari ini.
Aaahhh… Kalian berdua kan udah keluar. Seharusnya kalian sudah puas dan gak menyentuhku
lagi,” balas Raline yang meminta mereka untuk berhenti. Aku sama sekali gak paham sama dia.
“Halaah gak usah pura-pura nolak begitu. Orang tubuh kamu aja keliatan nikmatin
banget kok, hahaha. Dasar jilbab binal munafik! Selain binal dia pinter ngibul juga ternyata
hahaha,” jawab si perampok putih. Dan entah kenapa aku merasa perkataan dia itu benar ya.
“E-Enggak, suamiku sudah sering melakukan ini. Aaahhh… Aaahhh… Dan dia melakukan
ini lebih baik dari kalian. Sudah hentikan, aku gak mau berkhianat dari suamiku lebih dari ini,”
kata Raline yang meski mulutnya menolak. Tapi tubuhnya malah menggeliat ikut menikmati.
Kedua kaki Raline dibuka dan direntangkan oleh mereka berdua. Dan aku makin kaget
ketika ngeliat celana dalam warna merah yang dikenakan Raline sudah basah. “Lah? Memeknya
udah becek anjirr hahaha. Katanya gak mau dan nolak. Tapi memeknya udah banjir begini loh.”
Raline memalingkan wajahnya, bahkan dia mulai berkeringat ketika dirangsang habis
oleh mereka. “Ja—Jangan melihat ke sanaa! Aku becek karena ini alamiah! Setiap wanita yang
dirangsang pasti akan basah! Aaahhh… Aaahhh… Sudah hentikan! Aku gak mau lanjutin lagi!”
Sampai akhirnya jilatan mereka berdua turun dari kedua ketiak. Dan mendarat di kedua
toket istriku yang berukuran 38D itu. Kedua gunung besar yang begitu kencang, padat, dan
sangat aku sukai. Meski usianya sudah 26 tahun, Raline sangat rajin ngegym dan berolahraga.
Dan ini lah yang membuat tubuhnya masih sekel, kencang, dan begitu padat meski
sudah berusia seperempat abad lebih. Mereka berdua menjilati pinggiran kedua toket istriku.
Tepat di bagian samping paling luar, mereka jilati dan mulai mereka hisap secara bersamaan.
Benar-benar pemandangan yang membuatku ingin berontak dan melawan. Apa lagi
istriku terus memohon untuk berhenti. “Enggak! Aku gak mau kedua dadaku disentuh lidah
kalian! Sudah hentikan! Sudah hentikan! Aku menolaak! Aku gak mau tubuhku disentuh gini!”
Chapter 9
Kedua tali bra istriku diturunkan dari kedua lengannya. Sambil mereka berdua terus
menjilati bagian luar kedua toket istriku. Sementara itu perampok bertopeng hitam melepaskan
kancing bra yang dikenakan istriku dari belakang. Yang membuat sontak bra istriku pun jatuh.
Dan membuat kedua toket istriku terpampang jelas di hadapan ketiga perampok yang
berada di dekatku. “Uuhh, tobrut tapi bulet dan kenceng parah ini sih. Bentuk toketnya bulet
kaya melon, gua suka banget bentuk toket begini. Kenceng parah masih padet banget juga nih.”
Si perampok hitam dengan lancangnya menekan nekan toket kanan istriku dengan jari
telunjuknya. “Su—Sudaah, aku mohon sudah. Aku gak mau membuat suamiku sakit hati lebih
dari ini. Aku mohon jangan lakuin hal ini. Ambil saja barang kami dan tolong langsung pergi.”
Raline sifatnya seketika berubah, aku gak tau dia sedang acting atau memang dia gak
mau ngelakuin seks dengan mereka. “Udah laah! Istri saya udah nolak dan gak mau ngelayanin
kalian! Ini jatuhnya bisa pemerkosaan kalo kalian tetep memaksa! Udah lepasin istri sayaa!!”
Namun mereka berdua gak mendengarkan aku dan Raline. Mereka berdua saling
bertatapan langsung mereka menatapku sambil tersenyum licik. “Apakah benar istri lu gak mau
ngelayanin kita? Apa dia cuma berusaha membuat lu percaya lagi sama dia? Hahaha… Kasian.”
Sampai tiba-tiba tangan mereka berdua mencubit kedua puting istriku. Dan kedua
puting istriku ditarik ke depan, sampai kulit toketnya ikut tertarik. Sontak istriku langsung
menjerit dan mendesah keras. Sambil dia memejamkan mata, memasang wajah menikmati itu.
“Aaahhh! Ja—Jangan langsung main kenceng begini. Pu—Puting aku ini sangat sensitif.
Salah satu bagian tubuhku yang paling sensitif. Aku mohon perlakukan lah dengan lemah
lembut,” kata istriku yang malah berkata seperti itu. Bukan menolak lagi seperti barusan tadi.
“Main yang lembut yaa? Mana main kitaa? Hahahaha… Kita ini rampok yaa mainnya
brutal. Kalo gak brutal yaa gak puass. Broo hajar putingnya terus. Kita bikin sampe keras,
tegang, dan membesar ke ukuran maksimalnya,” balas si rampok putih yang ketawa keras.
Mereka berdua sontak terus menerus mencubit dan menarik kedua puting istriku terus
menerus. Dalam setiap kali tarikan, kedua puting istriku beneran langsung membesar dan
menjadi sangat tegang. Bahkan putingnya yang bulat, mulai mengeras dan menjadi mancung.
“Aaahhh! Aaahhh! Sudaah hentikan jangan seperti ini! Mass maafin aku, Mass! Aku gak
berniat memberikan tubuhku kepada mereka! Tapi mereka yang memaksa aku seperti ini,
Mass!” kata Raline yang wajahnya terlihat mau menangis. Aku sampai merasa kasihan ke dia.
“Kalian mau apaa!! Saya bakal kasih apapun asal kalian mau lepasin istri saya! Dia udah
gak mau dan nolak! Kalian mau uang? Kalian mau berapa! Tinggal ngomong aja mau berapa!”
bentakku yang berusaha melindungi istriku. Meski sudah dua kali tadi mengecewakan aku ini.
Mereka berdua malah terus tertawa, sambil puluhan kali kedua tangan mereka
mencubit dan menarik kedua puting istriku. “Aaahhh! Aaahhh! Aku sudah gak tahaan! Aku
sudah gak bisa lagii! Tolong emut puting akuu! Aku mohon tolong hisap dan emut putingku!”
Sontak aku langsung shock setengah mati. Kenapa tiba-tiba istriku bicara kaya gini?
Hanya dalam dua menit berselang? “Ra—Ralinee? Kenapa kamu ngomong kaya gitu barusan!
Kamu tadi memohon agar mereka berhenti! Sekarang kamu malah minta mereka kaya begitu!”
Raline dengan wajah binalnya, dia meminta maaf kepada aku. Dengan wajah yang
penuh keringat saat itu. “Maafin aku, Mass. Tapi aku tak bisa mengendalikan tubuhku lagi.
Rangsangan dari mereka terlalu hebat. Ngebuat aku gak bisa mengontrol nafsu dan pikiranku.”
Mereka sontak langsung ketawa kenceng, setelah mendengar Raline meminta mereka
untuk menghisap kedua toketnya. “Buahahahaha!! Mana yang katanya bini lu nolak? Kuping lu
budek? Tuli kah? Bini lu malah minta ke kami buat ngenyot kedua toketnya bersamaan tadi.”
“Aku sudah gak tahan, Mass. Nafsuku sudah tak terbendung lagi. Mas sudah tau kalo
putingku sangat sensitif. Bahkan hanya dengan nenenin Mas aja. Aku bisa horny beraat,” kata
Raline yang dia meminta aku memaklumi dia. Tapi aku sama sekali gak bisa maklumin hal ini.
“Udah laah, bini lu udah minta toketnya dikenyot sama kita. Broo, lu toket kiri gua toket
kanan. Kita kasih apa yang dia minta barusan ke kita. Sambil kita ajarin ke suaminya. Gimana
cara muasin cewe yang bener,” balas si perampok putih yang bikin aku langsung emosi parah.
Sementara tanpa aku sadari, perampok dengan topeng coklat. Dia merekam semua
kejadian ini. Dia menggunakan ponselnya yang ditaruh di meja ruang tamu. Yang angle yang dia
pilih beneran menangkap semua adegan. Kecuali hanya aku aja yang gak masuk ke kamera.
Mereka berdua sontak langsung menjilati kedua puting istriku secara bersamaan.
Perampok hitam di sisi kanan, dan perampok putih di sisi kiri. Mereka berdua memainkan
kedua puting istriku dengan lidah mereka. Mereka memutar-mutarkan lidah mereka saat itu.
“Hebaat, putingnya keras banget. Makin dijilat masih bisa lebih keras lagi. Kayanya nih
cewe sebelum jadi istri yang taat. Dia dulu binal parah deh. Dan sekarang baru tobat dia,” kata
si perampok hitam sambil lidahnya terus bergerak naik turun menjilati puting kanan istriku ini.
Gilanya lagi, aku sampai gak memahami Raline lagi pada malam itu. Dia malah mengakui
masa lalunya yang kelam. “Aaahhh… Aaahhh… Kalian bener, dulu aku memang cewe binal yang
gak bisa tahan kalo gak digenjot. Ooohhh… Ooohhh… Aku hanya berusaha mengendalikan diri.”
Sementara itu si perampok coklat menaruh hpnya. Dia mendekati Raline, aku kira dia
awalnya mau ikut gabung. Tapi ternyata enggak, dia mengangkat kedua ketiak Raline. Dan
mengikat kedua pergelangan tangan Raline. Agar kedua ketiaknya terus terangkat ke atas juga.
Si perampok coklat kembali ke posisinya yang berada gak jauh di depanku. Sambil dia
memuji pose tubuh istriku yang menggeliat gak karuan. “Nahh kalo kaya gini kan mantap
posisinya. Keliatan seksi dan erotis parah sih. Meski pake hijab, tapi seksinya bukan main ini.”
Kedua toket istriku terus dijilat dan dihisap sambil kedua tangannya terangkat ke atas.
Membuat istriku terlihat begitu indah, seksi dan begitu menawan. “Lebih kerass. Aaahhh…
Aaahhh… Hisap putingku lebih keras lagi. Aku udah lama gak nenenin cowo senikmat inii.”
Chapter 10
Mataku sampai tak berkedip selama beberapa detik. Ketika melihat istriku malah
menggeliat penuh nikmat saat kedua toketnya dijilati oleh kedua rampok itu. Dia mendesah
dan mengerang seolah apa yang mereka lakukan begitu merangsang bagi Raline pada saat itu.
Raline menggeliat erotis dengan kedua tangannya yang terangkat dan terikat tali
tambang warna coklat sepertiku. “Teruss… Teruss… Aaahhh! Aaahhh! Jangan berhenti, tolong
hisap juga putingku! Tolong hisap yang kuat dan gigit putingku. Aaahhh! Aku sudah gak tahan!”
Mendengar permohonan Raline itu, mereka berdua pun menuruti perkataan Raline.
Mulut mereka berdua sontak melahap kedua toket Raline secara bersamaan. Mereka
melakukan hal yang sama persis, seperti yang dilakukan saat mereka merangsang Raline tadi.
Kedua mulut mereka, menjilati dan menghisap kuat kedua puting Raline dengan sangat
brutal. Dan tak hanya sampai di situ, mulut mereka berdua menarik kedua toket Raline secara
bersamaan. “Aaahhh! Nikmaat! Aaahhh! Maafin aku, suamiku! Ini memang terlalu nikmaat!”
Kedua toket istriku itu kini penuh dengan air liur pria lain yang bukan aku. Penuh air liur
pria lain yang bukan suaminya. Dan mereka berdua melakukan itu tanpa ampun. “Gilaa enak
banget nih toket disedotnya. Slurrrppp!!! Baahh! Mantap bener emang toket kerdus satu ini!”
Kedua puting Raline sampai ditarik-tarik oleh kedua mulut mereka. Dan itu membuat
aku semakin shock dan mentalku makin gak karuan. “Sudaah! Raline kenapa kamu malah jadi
seperti ini! Kenapa kamu malah minta mereka terus menghisap kedua dada kamu, Ralinee!”
“Aku gak bisa mengontrol nafsuku, Mass! Mmmhhh!! Mmmhhh!! Aaahhh!! Bahkan
vaginaku sudah becek, Mass! Hanya dengan nenenin mereka berdua! Vaginaku sudah sangat
basah!” kata Raline dan ketika aku melihat celana dalamnya. Vagina Raline sudah banjir parah.
“Ehh iyaa anjiirr, hahaha. Memeknya disentuh aja belum udah ngocor deres begini.
Sampe ngalir ke lantai cairan memeknya. Konyolnya lagi suaminya aja kagak tau bininya bisa
kaya gini. Hahahaha,” ungkap si perampok putih sambil terus menghisap puting kiri istriku ini.
“Mass! Aku mohon maafin dan relakan aku disetubuhi mereka, Mass! Ooohhh!! Aku
sudah tak bisa mengendalikan diriku! Mas Adam sendiri sudah tau dulunya aku wanita binal
yang nakaal!” balas Raline dan aku sama sekali gak bisa menerima hal ini. Aku salah sangka.
“Kamu udah gila, Ralinee! Suami normal mana yang akan rela istrinya dinikmati pria
lain! Ralinee melawan laah!! Raline itu semua hanya masa lalu kamu! Kamu yang sekarang
adalah istri yang baik dan taat!” jawabku yang berusaha menyadarkan kembali Raline saat itu.
Tapi dia sampai gemeteran bukan main, seolah dia sedang kena tremor tingkat tinggi.
Apakah itu gemeteran karena trauma? “Sudaah, Mass. Aaahhh!! Aaahhh!! Aku sampe mau
keluaar, Mass! Cairan vaginaku sampai menumpuk di kantung kemihku! Ini sudah lama sekali!”
Raline kembali melanjutkan perkataannya lagi kepadaku. Dan aku semakin gak percaya.
“Selama tiga tahun pernikahan kita, Maass! Aku gak pernah merasakan kenikmatan sehebat ini!
Aaahhh!! Aaahhh!! Aku tak pernah merasakan klimaks dan orgasme dari batangmu itu, Mass!”
Tak berhenti sampai di situ, Raline benar-benar menyatakan semua perasaan yang
selama ini dia pendam. “Ooohhh!! Ooohhh!! Mass aku tak puas saat bermain denganmu!
Mereka melakukannya dengan benar dan baik! Aaahhh!! Aku keluaar, Mass!! AAAHHHHH!!!”
Raline tiba-tiba berteriak sangat keras, sambil memejamkan mata dengan sangat kuat.
Dan tepat di depan mataku aku bisa melihat, keluar cairan seperti air kencing dari lubang
vagina istriku. A-Apa itu sebenarnya? Kenapa tak pernah terjadi saat dia bersama aku di kasur?
Bahkan jari mereka belum menyentuh vagina istriku, apa lagi penis mereka pun belum
masuk ke dalam vagina istriku. Tapi Raline sudah bereaksi sehebat ini. Kenapa Raline begitu
mudah klimaks saat bersama pria lain? Sedangkan bersamaku, sudah 5 menit pun gak keluar.
Mereka bertiga para perampok ini semakin menertawai aku. Karena istriku bisa dengan
mudah dibuat klimaks oleh mereka. Bahkan tak sampai 5 menit, dari pertama kali punggung
istriku diciumi. Sampai mereka menghisap dan menyedot kedua toket istriku dengan brutalnya.
Tubuhku kini ikut gemetar penuh amarah dan kesedihan. Aku gak percaya istriku bisa
melakukan hal seperti ini kepadaku yang sudah menerima masa lalunya. “Ralinee! Aku sama
sekali gak menyangka sifat aslimu ternyata seperti ini! Aku bener-bener gak nyangkaa, Ralinee!”
“Hahahahaha!! Anjiing ekspresi muka suaminya kocak banget ngeliat istrinya ngocor
deres memeknya. Aduuh, emang udah gila suami satu ini. Dia yang gak bisa muasin istrinya.
Malah dia yang marah,” kata perampok putih yang ketawa keras banget di depanku saat itu.
“Maafin aku, Mass. Aku udah benar-benar malu sudah berbuat seperti ini. Semoga Mas
Adam masih bisa memaafkan aku. Mereka gak akan berhenti hanya sampai di sini, Mass!” balas
Raline yang seketika meneteskan air mata. Dan dia malah menangis ketika baru saja klimaks.
“Aku tak percaya dengan air matamu lagi, Ralinee! Kamu wanita yang pintar sandiwara!
Semuanya aku telah melihatnya! Betapa kamu memohon kepada mereka untuk menghisap
dadamu, Ralinee!!” sergahku yang rasanya aku tak mampu percaya dengan istri sahku lagi ini.
Sampai tiba-tiba mereka berdua menarik celana dalam merah renda istriku. Sampai
celana dalam itu terlepas dari kedua kakinya. Celana dalam itu sudah basah kuyup, terkena
cairan vagina istriku yang menyembur deras keluar. Dan celana dalam itu dibuang jauh-jauh.
Kedua kaki istriku dibuka dan direntangkan lebar-lebar. Dan mereka menunjukkan
lubang vagina istriku yang sangat basah. “Niih, liaatt!! Begini harusnya istri diperlakukan! Bukan
matanya yang dibikin basah tapi memeknya! Dasar suami tolol gak tau diri! Lemah bangsat!!”
Sampai si perampok hitam, dia menyentuh klitoris istriku. Dan sontak istriku yang
sedang menangis. Dia seketika mendesah keras lagi. “Sudaah aku mohon sudaah! Jangan buat
sisi liarku keluar lebih dari ini! Aku mohon jangan hilangkan kewarasanku lagi! Tolong sudahi!”
Namun si perampok hitam gak peduli, klitoris istriku seketika ditekan. Dan tiba-tiba si
perampok putih memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang vagina istriku. “Kamu udah
ngerasa kenikmatan yang besar kan, sayang? Buat apa lagi kamu membohongi dirimu lagi?”