Anda di halaman 1dari 17

Pengertian IUD Adalah kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk

lain (Cu T 380A atau ML Cu 250) yang dipasang didalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih (Buku Petugas Fasilitas Pelayanan KB Depkes, RI 1999). IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus, lembut dan lentur yang diletakkan dalam rongga rahim. IUD (Intra Uterine Device) adalah rangka plastik kecil yang dipasang kedalam rahim lewat vagina Jenis IUD Macam-macam IUD menurut Hartanto (2003) yang dikategorikan menjadi 2 yaitu: 1. Un Medicated IUD a. Lippes Loop Diperkenalkan pada awal 1960an dan dianggap sebagai IUD standar, terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik) ditambah Barium Sulfat. Ada empat macam IUD Lippes Loop yaitu Lippes Loop A, B, C, D 2. Medicated IUD a. Cooper IUD Yang paling dikenal sampai saat ini adalah CuT-380 A b. IUD yang Mengandung Hormon Progestasert T = Alza T. Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam. Mengandung 38 mg Progesterone, dan Barium Sulfat melepaskan 65 mcg Progesterone per hari. Tabung inserternya berbentuk lengkung. Daya kerja 18 bulan. Daya Guna Daya guna IUD biasa (non medicated IUD) seperti Lippes Loop (ukuran D) dan cincin anti karat mempunyai angka kegagalan tinggi. Yaitu 2 sampai 6 untuk 100 wanita. Sebaliknya IUD tembaga ( Tcu 380 dan MLCu 375) yang mempunyai luas permakaian tembaga yang besar adalah IUD yang sangat efektif karena kegagalan tahun pertamanya hanya atau kurang dari 1. Angka kehamilan tahun pertama dan kumulatif dalam 8 tahun adalah 0,6 dan 2,3 untuk Copper T 380A. IUD dengan luas permukaan tembaga yang lebih kecil ( Tcu 200, Tcu 220, dan Tcu7) dan progestase ( IUD yang melepaskan progesterone) mempunyai angka kegagalan pertama 1 sampai 3 per 100 wanita (Hartanto, 2003) Daya Tahan Daya tahan IUD sekitar 3,5 sampai 8 tahun. Untuk jenis IUD yang mengandung hormon (progestasen- T) mempinyai daya tahan selama 18 bulan. Untuk IUD jenis Lippes Loop mempunyai daya kerja untuk selama- lamanya sampai menopause selama tidak menimbulkan masalah atau leluhan pemakaianya (Hartanto, 2003) Cara Kerja IUD IUD adalah suatu alat yang terbuat dari plastik yang biasa mengandung tembaga hormon steroid. IUD akan berada dalam uterus, bekerja terutama mencegah terjadinya pembuahan (fertilasi) dengan

memblok bersatunya ovum dengan sperma, mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopi dan menginaktifkan sperma. Mekanisme cara kerja yang pasti dari IUD belum diketahui. Ada beberapa mekanisme cara kerja IUD yang telah diajukan yaitu: a. Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik didalam cavum uterik sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. Disamping itu, dengan munculnya leokosit, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst. b. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi. c. Gangguan atau terlepasnya blastocyst telah berimplantasi didalam endrometrium d. Pergerakan ovum yang bertambah cepat didalam tuba fallopii e. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri f. Dari penelitian- penelitian terakhir, disangka bahwa IUD juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur. g. Untuk IUD yang mengandung Cu : 1. Antogonisme kationic yang spesifik terhadap Zn yang terhadap dalam enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genetalia wanita diman Cu menghambat reaksi carbonic anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktifitas alkali phosphatase. 2. Menganggu pengambilan esterogen endogenouse oleh mokosa uterus 3. Menganggu jumlah DNA (Deoksiribo Nukleat Acid) dalam endometrium 4. Menganggu metabolisme endogen h. Untuk IUD yang mengandung hormon progesterone 1. Gangguan proses pematangan proliferatif-sekretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi. 2. Lendir selvik yang menjadi lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin (Hartanto, 2003) Melihat urian diatas dapat disimpulkan bahwa mekanisme kerja IUD tidak mencegah ovulasi dan tidak mengganggu corpus luteum. Efektifitas 1. Efektifitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate) yaitu beberapa lama IUD tetap tinggal in-utero tanpa: a. Ekspulsi spontan. b. Terjadinya kehamilan. c. Pengangkatan/ pengeluaran karena alasan- alasan medis atau pribadi. 2. Efektifitas dari bermacam- macam IUD tergantung pada: a. IUD-nya yaitu ukuran, bentuk, mengandung Cu atau Progesterone. b. Akseptor yaitu umur, paritas, frekuensi seggama 3. Dari faktor- faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui : a. Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran IUD. b. Makin muda usia, teritama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan/

pengeluaran IUD. 4. Dari uraian diatas, maka use- beffectiveness dari IUD tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi dan kemudahan aksepror untuk mendapatkan pertolongan medis. (Hartanto, 2003) Keuntungan Keuntungan- keuntungan IUD adalah sebagai berikut: a. Sangat nefektif 0,6- 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun pertam (1 kegagalan dalam 125 170 kehamilan). b. Efektif dengan potensi jangka panjang (sampai 8 tahun atau lebih) untuk Copper T 380 A. c. IUD dapat efektif segera setelah pemasangan. d. Tidak menganggu hubungan seksual suami istri. e. Tidak dapat efek samping hormonal dengan Cu IUD. f. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus. g. Cocok untuk ibu- ibu yang sedang menyusui. h. Dapat digunakan sampai masa menopouse. i. Tidak ada interaksi dengan obat- obat. j. Membantu mencegah kehamilan ektopik( Saifudin, 2003). Kerugian IUD bukanlah alat kontarsepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian, antara lain: a. Pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi saluran genetalia diperlukan sebelum pemasangan IUD. b. Dapat meningkatkan resiko penyakit radang panggul (RPP) c. Memerlukan prosedur pencegahan infeksi sewaktu memasang dan mencabutnya d. Bertambah darah haid dan rasa sakit selama beberapa bulan pertama pemakaian IUD. e. Klien tidak dapat mencabut sendiri IUDnya. f. Tidak dapat melindungi klien terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual), AIDS/HIV. g. IUD dapat keluar rahim melalui kanalis hingga keluar vagina. h. Bertambahnya resiko mendapat penyakit radang panggul pada pemakaian IUD (Saifudin, 2003) Kontra Indikasi Kontra indikasi menurut Hartanto(2003) Kontra indikasi IUD terbagi menjadi 2 yaitu : a. Kontra-indikasi absolut: 1. Infeksi pelvis akut, termasuk persangkaan Gonorrhoe atau Chlamyda. 2. Kehamilan atau persangkaan kehamilan. b. Kontra-indikasi relatif kuat ; 1. Partner seksual yang banyak 2. Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi komplikasi 3. Pernah mengalami infeksi pelvis atau infeksi pelvis yang rekuren, post-partum endometritis atau

abortus febrilis dalam tiga bulan terakhir. 4. Cervicitis akut atau purulent. 5. Kelainan darah yang tidak diketahui sebabnya 6. Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik. 7. Pernah mengalami infeksi pelvis satu kali dan masih memungkinkan kehamilan selanjutnya. 8. Gangguan respon tubuh terhadap infeksi (AIDS, Diabetes Melitus, pengobatan dengan kortikosteroid dan lain-lain) 9. Kelainan pembekuaan darah. c. Keadaan- keadaan lain yang dapat menyebabkan kontra indikasi untuk insersi IUD : Penyakit katup jantung (Kemungkinan terjadi sub-akut bakterial endokarditis), keganasan endometrium atau serviks, stenosis servik yang sehat, uterus yang kecil sekali, endometriosis, myoma uteri, polip endometrium, kelainan kongenital uterus, dismenore yang hebat, darah haid yang banyak, haid yang ireguler, atau perdarahan bercak atau (spotting), alergi terhadap Cu atau penyakit Wilson yaitu penyakit gangguan Cu yang turun menurun,anemia, ketidakmampuan untuk mengetahui tanda-tanda bahaya IUD, ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri ekor IUD, riwayat Gonorge, Chlaimyda, Syphilis, atau Herpes, Actinomycosis genetalia, riwayat reaksi vaso-vagal yang berat atau pingsan, Inkompatibilitas golongan darah misalnya Rh negatif, pernah mengalami problem ekspulsi IUD, leukore atau infeksi vagina, riwayat infeksi pelvis, riwayat operasi pelvis, keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau pertimbangan kesuburan dimasa yang akan datang. Sedangkan menurut (Wiknjosastro, 2002) terdapat beberapa kontra indikasi IUD antara lain : Indikasi-kontra mutlak pemakaian IUD ialah kehamilan, penyakit radang panggul aktif atau rekuren, karsinoma servik, karsinoma korporis uteri Indikasi-kontra relatif lain ialah tumor ovarium, kelainan utrerus 9mioma, kanalis servikalis, dan sebagainya), Gonorgea, servisitis, kelainan haid, dismenore, stenosis kanalis servikalis. Waktu Pemasangan IUD Waktu pemasangan IUD menurut (Manuaba, 1998) menyatakan IUD dapat dipasang pada:bersamaan dengan menstruasi, segera setelah bersih menstruasi, pada masa akhir puerperium, tiga bulan pasca persalinan, bersamaan dengan seksio sesarea, bersamaan dengan abortus dan kuretage, hari keduaketiga pasva persalinan. Periksa Ulang IUD Pemerisaan ulang IUD menurut (Manuaba, 1998) menyatakan jadwal pemeriksaan ulang IUD sebagai berikut : 2 minggu setelah pemasangan, 1 bulan setelah pemeriksaan pertama, 3 bulan setelah pemeriksaan kedua, setiap 6 bulan sampai 1 tahun Efek Samping Kemungkinan terjadinya kehamilan, ekspulsi, dan beberapa efek samping hendaknya dijelaskan kepada pasien. Ekspulsi biasanya terjadi pada 3-6 bulan pertama, yang dapat sebagian atau seluruh IUD. Ekspulsi dapat diketahui oleh pasien pada waktu memperhatikan darah haidnya. Pasien dapat pula diberi petunjuk cara

meraba filamen sendiri sebelum senggama dan sesudah haid selesai. Beberapa efek samping yang ringan ialah sebagai berikut: 1. Nyeri pada waktu pemasangan. Kalau nyeri sekali, dapat dilakukan anestesia paraservikal. 2. Kejang rahim, terutama pada bulan-bulan pertama. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan spasmolitikum atau pemakaian IUD lebih kecil ukurannya. 3. Nyeri pelvik. Pemberian spasmolitikum dapat mengurangi keluhan ini. 4. Semaput dapat terjadi pada pasien dengan prediposisi untuk keadaan ini. Dapat diberikan atropin sulfas sebelum pemasangan, untuk mengurangi frekuensi bradikardia dan refleks vasovagal. 5. Perdarahan diluar haid (spotting) 6. Darah haid lebih banyak (menoragia) 7. Sekret vagina lebih banyak. Disamping itu pula terjadi efek samping yang lebih serius, walaupun jarang dan biasanya segera dikenal, yaitu sebagai berikut: 1. Perforasi uterus. Dalam keadaan ini IUD harus dikeluarkan melalui laparoskopi, atau laparotomi. Hal ini lebig-lebih harus dilakukan kalau terjadi perforasi pada IUD tembaga, karena dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan dengan usus. 2. Infeksi Pelvik. Infeksi yang ringan umumnya dapat diobati dengan antibiotika. Jika infeksinya berat, hendaknya dibuat biakan dan uji kepekaan dari daerah endoservuks. IUD itu harus dikeluarkan, dan antibiotika yang sesuai diberikan. 3. Endrometritis Gejala dini endometritis denagn IUD ini ialah keputihan yang berbau, disparenia, metroragia, dan menoragia. Lebih lanjut dapat menjadi parametritis, pembentukan abses pelvik, dan peritonitis. Pemeriksaan bakteriologik dari endoserviks dan uterus harus dilakukan, dan IUD dikeluarkan. ( Wikjnjosastro, 2002) Pencabutan IUD IUD ( Intra Uterine Devices) dapat dibuka sebelum waktunya bila dijumpai : - Ingin hamil kembali - Leokorea, sulit diobati dan peserta menjadi kurus - Terjadi Infeksi - Terjadi Perdarahan - Terjadi kehamilan mengandung bahan aktif dengan IUD. 2.2 JENIS IUD telah dikembangkan dari generasi pertama yang terbuat dari benang sutera dan logam (besi baja, stainlessteel, perak, dan tembaga), sampai pada generasi plastik baik yang ditambahi obat (medicated), maupun yang tidak ditambahi obat (unmedicated).

Menurut bentuknya IUD dibagi menjadi: a. Bentuk terbuka (open device) misalnya: Lippes Loop, CU-T, CU-7, Marquiles, Spring coil Multiload, NOVA-T,dan lainnya. b. Bentuk tertutup (closed device) misalnya Otaring, Antigon, Gravenbergring, Hall-Stone ring, dll. Menurut tambahan obat: a. Medicated IUD, misalnya: CU-T 200, 220, 300, 380-A, CU-T, NOVA-T, ML-CU 250, 375. b. Unmedicated IUD, misalnya: Lippes loop, Marquiles, Saf-T Coil, Antigon, dll.

2.3 CARA KERJA Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi. Mempengaruhi fertilitas sebelum ovum mencapai cavum uteri. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi. Kemungkinan untuk mencegah implantasi telur dan uterus.

2.4 KEUNTUNGAN IUD 1. Sebagai kontrasepsi efektivitasnya tinggi. 2. AKDR dapat efektiv segera setelah pemasangan. 3. Metode jangka panjang (10 tahun prediksi dari CUT-380 A dan tidak perlu diganti). 4. Sangat efektiv karena tidak perlu lagi mengingat-ingat. 5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual. 6. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil. 7. Tidak ada efek samping hormonal dengan CU AKDR (CUT-380 A). 8. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI. 9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi). 10. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid berakhir). 11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat. 12. membantu mencegah KET.

2.2 KERUGIAN Efek samping yang mungkin terjadi: Perubahan siklus haid (umunya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang segera setelah 3 bulan). Haid lebih lama dan banyak. Perdarahan (spotting). Saat haid lebih sakit. Komplikasi lain: Merasakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan. Perdarahan hebat pada saat haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia. Perforasi dinding uterus Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS. Tidak baik digunakan pada wanita dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas. Prosedur medis termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR, seringkali perempuan takut selama pemasangan. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR, biasanya menghilang dalam 1-2 hari. AKDR tidak dapat dilepas sendiri oleh klien, harus petugas kesehatan terlatih yang melepaskan AKDR. Kemungkinan AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR dipasang segera setelah melahirkan). Tidak mencegah terjadinya KET karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal. Klien harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu, untuk melakukan ini klien harus memasukkan jarinya kedalam vagina (sebagian wanita tidak mau melakukan ini).

2.6 PERSYARATAN PEMAKAIAN Yang dapat menggunakan AKDR adalah:

Usia produktif. Keadan nulipara. Memungkinkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang. Wanita menyusui yang ingin menggunakan kontrasepsi. Setelah melahirkan dan sedang menyusui. Pasca abortus dan tidak ditemukan tanda-tanda PRP. Resiko rendah IMS. Tidak menghendaki metode hormonal. Tidak suka untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama.

Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR: Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil). Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi). Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servicitis). 3 bulan terakhir sedang mengalami atau sedang menderita PRP atau abortus septic. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak yang dapat mempengaruhi kavum uteri. Penyakit trofoblas yang ganas. Diketahui menderita TBC pelvic. Kanker alat genital. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.

2.7 EFEKTIFITAS Efektifitas IUD sangat tinggi untuk mencegah kehamilan dengan jangka waktu yang lama. Angka kehamilan IUD berkisar 1,5-3/100 wanita pada tahun pertama, dan angka ini akan menjadi rendah untuk tahun-tahun berikutnya.

2.8 EFEK SAMPING PEMAKAIN IUD

Amenorea. Kejang. Perdarahan vagina yang hebat dan tidak teratur. Benang yang hilang. Adanya pengeluaran cairan dari vagina/dicurigai adanya PRP.

2.9 WAKTU PENGGUNAAN Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil. Hari ke-1 sampai ke-7 siklus haid. Segera setelah melahirkan selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL). Perlu diingat angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segara atau selama 48 jam pasca persalinan. Setelah abortus (segera atau daalm waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi. Selama 1-5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

2.10 CARA PEMAKAIAN Mengeluarkan AKDR biasanya di keluarkan dengan jalan menarik AKDR yang keluar dari OUE dengan 2 jari, dengan pinset, atau dengan cunam. Kadang-kadang benang AKDR tidak di OUE. Tidak terlihatnya benang AKDR ini dapat disebabkan oleh: 1. Akseptor menjadi hamil. 2. Perforasi uterus. 3. Ekspulsi yang tidak disadari oleh akseptor. 4. Perubahan letak AKDR tertarik kedalam ronnga uterus seperti ada mioma uteri. (Ilmu Kandungan 1999)

IUD (Intra Uterine Device) atau Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Posted on 16 October, 2008. Filed under: Kep. Maternitas | Tags: kontrasepsi | adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukkan ke dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan selama periode tertentu. IUD merupakan cara kontrasepsi jangka panjang. Nama populernya adalah spiral.

Jenis-jenis IUD di Indonesia a. Copper-T IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang baru IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea. b. Copper-7 IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini

mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T. c. Multi Load IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini. d. Lippes Loop IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis ini. Cara Kerja
Menghambat

kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun IUD membuat sperma

Mempengaruhi

IUD bekerja terutama

sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi Efektifitas
IUD sangat efektif,

(efektivitasnya 92-94%) dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Tipe

Multiload dapat dipakai sampai 4 tahun; Nova T dan Copper T 200 (CuT-200) dapat dipakai 3-5 tahun; Cu T 380A dapat untuk 8 tahun . Kegagalan rata-rata 0.8 kehamilan per 100 pemakai wanita pada tahun pertama pemakaian.

Indikasi

Prinsip pemasangan adalah menempatkan IUD setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Yang boleh menggunakan IUD adalah:
Usia reproduktif Keadaan

nulipara menggunakan kontrasepsi jangka panjang

Menginginkan Perempuan Setelah Setelah Risiko

menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi

melahirkan dan tidak menyusui mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

rendah dari IMS metoda hormonal

Tidak menghendaki Tidak menyukai

mengingat-ingat minum pil setiap hari kehamilan setelah 1 5 hari senggama

Tidak menghendaki Perokok Gemuk

ataupun kurus

Pemasangan IUD dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap enam bulan sekali. Kontraindikasi

Yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah Belum pernah melahirkan Adanya perkiraan hamil Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak normal dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim. Perdarahan vagina yang tidak diketahui Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat mempengaruhi kavum uteri Penyakit trofoblas yang ganas Diketahui menderita TBC pelvik Kanker alat genital Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm Keuntungan Menurut Dr David Grimes dari Family Health International di Chapel Hill, Carolina Utara, seperti dikutip News yahoo, dokter sering kali melupakan manfaat IUD dalam pengobatan endometriosis. Laporan tersebut diungkapkan dalam pertemuan di The American College of Obstetricians and Gynecologist, New Orleans. David mengatakan, IUD mampu mengurangi risiko kanker endometrium hingga 40 persen. Perlindungan terhadap kanker ini setara dengan menggunakan alat kontrasepsi secara oral.

Sangat

efektif. 0,6 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam

125 170 kehamilan). Pencegah kehamilan jangka panjang yang AMPUH, paling tidak 10 tahun
IUD dapat

efektif segera setelah pemasangan (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)

Metode jangka panjang Tidak mempengaruhi

hubungan seksual. Hubungan intim jadi lebih nyaman karena rasa aman

terhadap risiko kehamilan


Tidak ada

efek samping hormonal dengan CuT-380A kualitas dan volume ASI. Aman untuk ibu menyusui tidak mengganggu

Tidak mempengaruhi

kualitas dan kuantitas ASI


Dapat Dapat

dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi) digunakan sampai menopause dengan obat-obat

Tidak ada interaksi Membantu Setelah

mencegah kehamilan ektopik

IUD dikeluarkan, bisa langsung subur

Kerugian Setelah pemasangan, beberapa ibu mungkin mengeluh merasa nyeri dibagian perut dan pendarahan sedikit-sedikit (spoting). Ini bisa berjalan selama 3 bulan setelah pemasangan. Tapi tidak perlu dirisaukan benar, karena biasanya setelah itu keluhan akan hilang dengan sendrinya. Tetapi apabila setelah 3 bulan keluhan masih berlanjut, dianjurkan untuk memeriksanya ke dokter. Pada saat pemasangan, sebaiknya ibu tidak terlalu tegang, karena ini juga bisa menimbulkan rasa nyeri dibagian perut. Dan harus segera ke klinik jika: 1. Mengalami keterlambatan haid yang disertai tanda-tanda kehamilan: mual, pusing, muntahmuntah.

2. Terjadi pendarahan yang lebih banyak (lebih hebat) dari haid biasa. 3. Terdapat tanda-tanda infeksi, semisal keputihan, suhu badan meningkat, mengigil, dan lain sebagainya. Pendeknya jika ibu merasa tidak sehat. 4. Sakit, misalnya diperut, pada saat melakukan senggama. Segeralah pergi kedokter jika anda menemukan gejala-gejala diatas. Efek Samping dan Komplikasi
Efek

samping umum terjadi:

perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar mensturasi, saat haid lebih sakit
Komplikasi

lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan,

perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)
Tidak mencegah Tidak baik Penyakit

IMS termasuk HIV/AIDS

digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti pasangan

radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai IUD, PRP dapat

memicu infertilitas
Prosedur Sedikit

medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan IUD

nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan IUD. Biasanya

menghilang dalam 1 2 hari


Klien

tidak dapat melepas IUD oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih yang dapat melepas IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila IUD dipasang segera

Mungkin

setelah melahirkan)
Tidak mencegah Perempuan

terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD mencegah kehamilan normal

harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu.

Waktu Pemasangan Pemasangan IUD sebaiknya dilakukan pada saat :

2 sampai 4 hari setelah melahirkan 40 hari setelah melahirkan setelah terjadinya keguguran hari ke 3 haid sampai hari ke 10 dihitung dari hari pertama haid menggantika metode KB lainnya Waktu Pemakai Memeriksakan Diri

1 bulan pasca pemasangan 3 bulan kemudian setiap 6 bulan berikutnya bila terlambat haid 1 minggu perdarahan banyak atau keluhan istimewa lainnya
Keluhan-keluhan pemakai IUD Keluhan yang dijumpai pada penggunaan IUD adalah terjadinya sedikit perdarahan, bisa juga disertai dengan mules yang biasanya hanya berlangsung tiga hari. Tetapi, jika perdarahan berlangsung terus-menerus dalam jumlah banyak, pemakaian IUD harus dihentikan. Pengaruh lainnya terjadi pada perangai haid. Misalnya, pada permulaan haid darah yang keluar jumlahnya lebih sedikit daripada biasa, kemudian secara mendadak jumlahnya menjadi banyak selama 1-2 hari. Selanjutnya kembali sedikit selama beberapa hari. Kemungkinan lain yang terjadi adalah kejang rahim (uterine cramp), serta rasa tidak enak pada perut bagian bawah. Hal ini karena terjadi kontraksi rahim sebagai reaksi terhadap IUD yang merupakan benda asing dalam rahim. Dengan pemberian obat analgetik keluhan ini akan segera teratasi. Selain hal di atas, keputihan dan infeksi juga dapat timbul selama pemakaian IUD.

Daftar Pustaka

EPO. (2008). Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau Intra Uterine Device (IUD). Diambil pada tanggal 20 Mei 2008 dari http://pikas.bkkbn.go.id/jabar/program_detail.php?prgid=2
Krisnadi, S. R. (2002). Mei 2008 dari

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Intra Uterine Device (IUD). Diambil pada tanggal 20