Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH KLIMATOLOGI

PERAN MINA PADI DALAM MEREDUKSI EMISI GAS METAN (CH4) DI UDARA SEBAGAI HASIL DARI DAYA DUKUNG SAMPAH TERHADAP PEMANASAN GLOBAL

DISUSUN OLEH :

DESTINE PRAVITANINGTYAS PUTRIANTI (H141 10 002)

PROGRAM STUDI BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2011

PERAN MINA PADI DALAM MEREDUKSI EMISI GAS METAN (CH4) DI UDARA SEBAGAI HASIL DARI DAYA DUKUNG SAMPAH TERHADAP PEMANASAN GLOBAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui sawah-sawah yang tergenang, pemanfaatan pupuk urea serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman dan pembusukan sisa-sisa pertanian serta pembusukan kotoran ternak. Dari sektor ini gas rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana (CH4) dan gas dinitro oksida (N20). Gas metan merupakan salah satu faktor memicu berlubangnya ozon yang berdampak terhadap pemanasan global (global warming). Dampak yang ditimbulkan akibat adanya pemanasan global di bidang pertanian antara lain: keterlambatan musim tanam atau panen padi, kegagalan penanaman atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan dan di bidang perikanan yaitu peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan dan kematian terumbu karang. Banyak teknologi yang sudah teruji di lahan pertanian untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup sebagai antisipasi anomali iklim. Salah satu teknologi tersebut adalah mina padi. Mina padi telah dikembangkan di Indonesia sejak satu abad yang lalu. Mina padi adalah budidaya terpadu yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah yaitu meningkatkan pendapatan petani (peningkatan produksi padi 10%), meningkatkan keragaman hasil pertanian (menghasilkan ikan), meningkatkan kesuburan tanah dan air (mengurangi penggunaan pupuk 30%), juga dapat mengurangi hama penyakit (wereng coklat) pada tanaman padi. Selain itu, pendapatan petani juga dapat diselamatkan meskipun padi yang dihasilkan mengalami kegagalan panen akibat serangan hama. Mina padi itu juga dinilai sebagai salah satu solusi dalam menangani rendahnya produktivitas

akibat dari cuaca ekstrim yang merupakan dampak dari perubahan anomali iklim. Mina padi juga dapat menyuburkan lahan melalui kotoran ikan yang membantu percepatan perbaikan lingkungan karena dengan pola mina padi akan mengurangi gas metan yang dibuang dari sisa pemupukan. Berdasarkan akibat dari pemanasan global yang salah satunya ditimbukan dari emisi gas metan ke udara dari sektor pertanian dan perikanan, maka tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui peran mina padi dalam mereduksi emisi gas metan (CH4) di udara. 1.2 Tujuan 1.3 Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Metan (CH4) Metan merupakan gas yang terbentuk dari proses dekomposisi anaerob sampah organik yang juga sebagai salah satu penyumbang gas rumah kaca yang memiliki efek 20 30 kali lipat bila dibandingkan dengan gas CO2. Total produksi tergantung kepada komposisi sampah yang secara teori bahwa setiap kilogram sampah dapat memproduksi 0,5 m3 gas metan, sumbangannya terhadap pemanasan global sebanyak 15%. Menurut L D Dany (2000) bahwa gas metan yang dilepas ke udara (atmosfer) lebih banyak berasal dari aktivitas manusia (antropogenic) dari pada hasil dari proses alami. Termasuk pembakaran biomassa dan beberapa kegiatan yang berasal dari dekomposisi bahan organik dalam keadaan anaerob. Estimasi emisi metan secara global dari kegiatan manusia yang berasal dari beberapa sumber. Menurut USEPA (Unitet State Environmental Protection Agency) Kendra (1997) dalam metan terbentuk sebagai hasil metabolisme jasad renik di dasar rawa, dalam lambung manusia dan hewan serta dalam tumpukan sampah di TPA. Metan diemisikan dari TPA sebagai hasil dekomposisi anaerobik sampah organik. Metan yang terbentuk berpindah secara datar dan tegak yang akhirnya ke atmosfer. TPA adalah sumber metan antropogenik (anthropogenic = kegiatan manusia) dan memberikan sumbangan secara global sebanyak 20 60 Tg metan per tahun. Jumlah metan yang diemisikan oleh negara maju dan berkembang berbeda. Secara global kira-kira 66% emisi metan dari TPA berasal dari negara-negara maju, 15 % dari negara-negara transisi secara ekonomi dan 20% dari negara-negara berkembang. Peningkatan konsentrasi metan disebabkan oleh laju emisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju rosot metan. Metan berada di atmosfer dalam jangka waktu 7 10 tahun dan dapat meningkatkan suhu sekitar 1,30C Emisi metan dapat dinyatakan setara dengan emisi karbondioksida yang direduksi. Jumlah emisi metan yang telah tereduksi dapat dikonversikan menjadi sejumlah

karbondioksida dengan menggunakan nilai Potensi Pemanasan Global (GWP = Global Warming Potensial) sebesar 24,5 atau dengan formula: Emisi CO2 yang direduksi (ton/tahun) = Emisi CH4 yang direduksi (ton/tahun) x 24,5 ton CO2/ton CH4 (Nengsih, 2002)

2.2 Dampak Gas Metan Terhadap Lingkungan Kelompok gas rumah kaca termasuk metan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam skala regional dan global. Perubahan ini meliputi terjadinya deposisi asam (hujan asam), perubahan iklim global, dan penipisan lapisan Ozon atmosfer. Hal ini terjadi pada saat konsentrasi gas rumah kaca menangkap radiasi sinar matahari sehingga mempengaruhi iklim dalam abad-abad yang akan datang. Masing-masing gas rumah kaca memiliki sifat penyerapan radiasi sinar matahari yang berbeda yang disebut spektrum adsorpsi. Gas rumah kaca yang dapat menyerap radiasi sinar infra merah dengan sangat intensif dapat dengan sangat mudah meningkatkan suhu dan berarti memiliki potensi yang sangat besar dalam pemanasan global, serta lamanya waktu tinggal di atmosfer, metan memiliki potensi pemanasan global 21 kali lebih besar dari karbondioksida, namun memiliki waktu tinggal lebih cepat yaitu 10 tahun, sedangkan karbondioksida 50 200 tahun (Kendra, 1997). Akibat dari perubahan iklim yang salah satunya disebabkan oleh konsentrasi gas rumah kaca termasuk metan maka di beberapa tempat atau ekosistem/masyarakat akan sangat renta (vulnerable), mengahadapi perubahan tersebut. Ekosistem alami seperti terumbu karang juga sangat peka terhadap kenaikan suhu, apalagi apabila kenaikan suhu tersebut permanen, misalnya pada peristiwa El Nico tahun 1997 banyak terumbu karang di Asia Tenggara mengalami pemutihan (bleaching), apabila pemanasan suhu air laut terus berlangsung, maka pemulihannya akan sulit terjadi. Keadaan iklim yang berubah akan mengakibatkan besaran dan distribusi air juga akan mengalami perubahan dan dalam jangka panjang kelestarian sumber daya air memerlukan perhatian yang serius. Tempat-tempat yang kering seperti Afrika akan mengalami kekeringan yang lebih hebat, sementara tempat-tempat basah seperti sebagian besar daerah tropis akan mengalami kondisi yang lebih basah. Peningkatan suhu yang besar terjadi pada daerah lintang tinggi, sehingga akan menimbulkan berbagai perubahan lingkungan global yang terkait dengan

pencairan es di kutub, distribusi vegetasi alami, dan keanekaragaman hayati. Sementara itu, daerah tropis atau lintang rendah akan terpengaruh dalam produktivitas tanaman, distribusi hama dan penyakit tanaman dan manusia. Peningkatan suhu pada gilirannya akan mengubah pola dan distribusi curah hujan. Kecenderungan yang terjadi adalah bahwa daerah kering akan menjadi kering dan daerah basah akan menjadi semakin basah (Murdiyarso, 2003). Meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca di atmosfer yang disebabkan oleh kegiatan manusia di berbagai sektor seperi energi, kehutanan, pertanian, peternakan dan sampah. Manusia dalam setiap kegiatannya hampir selalu menghasilkan sampah. Sampah memiliki pengaruh yang besar untuk emisi gas rumah kaca yaitu: gas methane (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat dapat menghasilkan 50 kg gas methane. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, diperkirakan pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan per hari mencapai 500 kg atau 190.000 ton/tahun. Hal ini berarti pada tahun 2020 Indonesia akan mengisikan gas methane sebanyak 9500 ton. Oleh karena itu, maka sampah tersebut perlu dikelola secara efektif agar laju pembentukan CH4 dapat dibuat minimal sehingga laju sumbangannya terhadap pemanasan global yang diikuti dengan perubahan iklim dapat dikendalikan.. Perubahan iklim adalah fenomena global yang dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil, proses alami dan kegiatan alih guna lahan. Proses tersebut dapat menghasilkan gas-gas yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer. Di antara gas-gas tersebut adalah karbondioksida (CO2), metan (CH4) dan nitrous oksida (N2O). Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti rumah kaca yang meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang-panjang yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga suhu di atmosfer bumi makin meningkat. Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan global: 1. Bahan bakar fosil, mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca. 2. Sampah, menghasilkan gas metan yang diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metan.

3. Kerusakan hutan, menurut data dari Yayasan Pelangi (1990), emisi gas CO2 yang dilepaskan oleh sektor kehutanan mencapai 64% dari total emisi CO2 Indonesia yang mencapai 748,61 kt. 4. Pertanian dan peternakan, menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 8,05% dari total gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer. Dampak pada pemanasan global pada sektor perikanan dan pertanian yaitu 1). sektor perikanan, peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu dan kematian terumbu karang, 2). sektor pertanian, pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan sehingga berdampak keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Gas Rumah Kaca (GRK) yang diemisikan dari sektor pertanian berasal dari lima sumber (IPCC, 1994) yaitu: peternakan, budidaya padi, pembakaran padang sabana, pembakaran limbah pertanian, tanah pertanian. Budidaya padi sawah berkontribusi pada peningkatan emisi GRK berupa gas metan (CH4) dan nitrous oksida (N2O). Berdasarkan laporan ADB-GEF-UNDP (1998) padi sawah menyumbang 76% dari total gas metan yang diemisikan sektor pertanian. Pemasukan intensif bahan organik berupa jerami pada keadaan tergenang sangat ideal berlangsungnya dekomposisi anaerobik di lahan sawah yang diperkirakan menghasilkan gas metan dari lahan sawah. Budidaya padi menghasilkan gas metan terbanyak yaitu 2,57 Tg/tahun. Secara geografis gas metan tersebut 21,2% disumbangkan oleh lahan budidaya padi dari Jawa Barat; 20,9% dari Jawa Timur; 15,9% dari Jawa Tengah; dan 8% dari Sulawesi Selatan. Dengan kondisi ini maka 58% emisi gas metan dari budidaya padi sawah berasal dari pulau Jawa (ALGAS, 1997). Selain dekomposisi dari jerami yang tergenang, penggunaan pupuk urea juga berpotensi menyumbang gas rumah kaca berupa CO2 di udara. Penggunaan per ton pupuk urea menghasilkan laju emisi CO2 sebesar 0,20 ton/tahun. Mengingat perubahan iklim sangat besar dampaknya bagi kehidupan manusia dan bumi, maka kita harus mengadakan solusi untuk mengatasinya. Karena besarnya efek gas metan, usaha-usaha penanggulangannya seharusnya diarahkan kepada pengendalian sumber-sumber emisi metana tersebut dalam rangka memperbaiki lingkungan hidup

(antisipasi anomali iklim). Khusus di bidang budidaya padi, ada solusi yang dapat kita lakukan diantaranya melalui budidaya mina padi. Budidaya mina padi merupakan salah satu sistem yang praktis untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan pada areal pertanian padi sawah yang sempit dengan cara memanfaatkan kolom air di areal sawah sebagai media pemeliharaan ikan. Konsep utama dalam mereduksi emisi gas metan dari lahan sawah adalah dengan meningkatkan konsentrasi oksigen pada lapisan anaerobik tanah (rizosfir) dan mengurangi suplai karbon yang mudah terurai. Dengan bertambahnya konsentrasi oksigen, proses produksi gas metan dapat berkurang karena gas metan teroksidasi secara biologi oleh bakteri metanotropik. Beberapa peran mina padi terhadap emisi gas metan: 1. Peningkatan produksi padi dan pengurangan pengaruh serangan wereng coklat. Beberapa hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan produksi padi dan pengendalian hama padi:

Fagi et al. (1992), mina padi-azolla dalam suatu hamparan dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengendalikan gulma dan hama padi serta meningkatkan hasil padi.

Sasa et al. (2003), azolla pada mina padi mempengaruhi hasil ikan dan padi. Makin tinggi takaran azolla makin tinggi hasil ikan dan padi.

Kaimuddin dkk (2008), integrasi ikan nila di lahan sawah meningkatkan produksi padi sebesar 17,05% (30,245 kg/petak). Hal tersebut dikarenakan lahan sawah mengalami peningkatan kesuburan oleh tambahan unsur hara yang berasal dari pakan dan kotoran ikan yang mengandung unsur-unsur dasar (N, P, Ca dan Mg).

2. Pengurangan penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. Sudirman dan Iwan (2003), kesuburan tanah di sawah dapat ditingkatkan karena kotoran ikan dan sisa makanan berfungsi sebagai pupuk. Lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. Ikan dapat juga membatasi tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan unsur

hara, sehingga dapat juga mengurangi biaya penyiangan tanaman liar. Selain itu, mina padi harus didukung dengan pemilihan varietas padi. Penggunaan varietas yang unggul dan adaptif terhadap praktek pertanian terpadu akan mengurangi input pupuk kimia. Aktivitas ini akan mengurangi emisi N2O dari pupuk kimia dengan tetap mempertahankan kualitas produk pertanian. Melalui uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengurangan penggunaan pupuk anorganik sebesar 30% dapat mereduksi emisi gas metan ke udara. Penggunaan pupuk anorganik secara intensif dan penemuan varietas-varietas padi berumur genjah merangsang tingkat kenaikan produksi padi karena bisa menambah periode tanam. Amonium sulfat ((NH4)2SO4) dan urea (CO(NH2)2) dengan kandungan N berturut-turut sebesar 20,5% dan 45% adalah sumber N utama buat tanaman padi. Penggunaan pupuk tersebut ternyata berperan besar terhadap emisi dan mitigasi gas metan dari lahan sawah. Selain itu, sistem mina padi juga meningkatkan O2 di air sehingga berdampak positif terhadap pertumbuhan ikan. Selain sebagai pakan ikan dan sumber N, azolla juga dapat menekan pelepasan gas metan yang berasal dari lahan sawah. Perlakuan padat penebaran ikan mas pada mina padi-azolla sebanyak 2.000 ekor/ha menghasilkan O2 terlarut terbesar dan emisi gas metan terendah, masing- masing 7,4 ppm dan 35 kg CH/ha/musim (Sasa, 2004). Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Sasa dan Syahromi (2006), bahwa perlakuan azolla pada sistem mina padi dapat menurunan emisi gas metan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ikan mas adalah jenis ikan terbaik dalam sistem mina padi dan emisi gas metan mencapai 51,2 kg CH4/ha/musim. Pengembangan budidaya mina padi merupakan program Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Gerakan Sejuta Hektar Mina Padi (GENTANADI) dapat mendatangkan beberapa keuntungan yaitu secara umum menyelamatkan lingkungan dari emisi Gas Rumah kaca (GRK) dan juga terhadap petani dalam proses pemenuhan kebutuhan pupuk organik yang ramah lingkungan serta mendukung pencapaian sasaran produksi perikanan hingga 353%.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Budidaya padi sawah menyumbang 76% dari total gas metan yang diemisikan sektor pertanian. Besarnya efek gas metan, usaha-usaha penanggulangannya seharusnya diarahkan kepada pengendalian sumber-sumber emisi metana tersebut dalam rangka memperbaiki lingkungan hidup (antisipasi anomali iklim) melalui budidaya mina padi. Mina padi mampu mereduksi gas metan (CH4) pengurangan penggunaan pupuk anorganik sebesar 30%. Emisi gas metan yang berasal dari petak mina padi yang menggunakan ikan mas adalah 51,2 kg CH4/ha/musim. Pengembangan budidaya mina padi mendatangkan keuntungan yaitu menyelamatkan lingkungan dari emisi Gas Rumah kaca (GRK) dan juga terhadap petani dalam proses pemenuhan kebutuhan pupuk organik yang ramah lingkungan serta mendukung pencapaian sasaran produksi perikanan 353%. 3.2 Saran

Perlunya sosialisasi peran mina padi selain meningkatkan pendapatan petani, mina padi mampu mereduksi emisi gas metan (CH4) di udara.

Perlunya

dukungan

program

pemerintah

GENTANADI

dalam

upaya

penyelamatan lingkungan khususnya isu pemanasan global.

DAFTAR PUSTAKA Fagi, A.M., S. Suriapermana dan I. Syamsiah. 1992. Rice-fish farming research in low land area: the West Java Case. Rice fish research and development in Asia. ICLARM conf. Proc. P. 273286. Intergovermental Panel on Climate Change. 1994. Greenhouse Gas Inventory Workbook. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories Vol. 2. UNEP-WMO. Kaimuddian, B. Ibrahim, L. Tangko. (2008). Budidaya Padi Sawah Irigasi dengan Aplikasi Azolla dan Ikan Nila. Jurnal Agrivior. Mei-Agustus 2008. 7(3): 242-253. Kendra Themy. 1997. Estimasi dan Prediksi Kecenderungan Emisi Metan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (Studi Kasus di TPA Bantar Gebang Bekasi). Jakarta: Program Pascasarjana Studi Ilmu Ingkungan.

Murdiyarso Daniel. 2003. Sepuluh Tahun Perjalanan Negosiasi Konvensi Perubahan Iklim. Jakarta : Kompas Ningsih Fitria. 2002. Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pengomposa Sampah Padat Perkotaan. (Skripsi Fakultas Pertanian). Bogor: IPB Sasa, J.J., S. Partohardjono dan A.M. Fagi. 2003. Azolla pada Mina Padi dan Pengaruhnya terhadap Produktivitas dan Emisi Gas Metan di Lahan Sawah Irigasi. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 22(2): 8695. Sasa, J.J. 2004. Padat Penebaran Ikan Mas pada Sistem Minapadi-Azolla dan Pengaruhnya terhadap Produktivitas, Emisi Gas Metan, dan Pendapatan Usahatani. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. PP23/03. Sasa, J.J dan O. Syahromi. 2006. Sistem Mina Padi dalam Perspektif Produktivitas

Lahan, Pendapatan dan Lingkungan. Jurnal Pertanian Tanaman Pangan. 25(5) : 19.