Anda di halaman 1dari 4

Sesak nafaseditor : Ajeng Asthma , Bronkiolitis , Pneumonia ASMA Inflamasi kronik jalan nafas , hipereaktivitas bronkus , obstruksi jalan

n nafas yang reversible Kombinasi genetic dan faktor lingkungan RSV bronchiolitis ada hubungan dng risiko terjadinya astma Rokok Ekstrinsik ( hipersensivitas ok allergen ) vs intrinsic ( non- imun triggers ) Epidemiology 5 10 % populasi Setengah kasus terjadi pd umur dibawah 10 th Laki-laki lebih banyak dari wanita Riwayat keluarga : asthma , peny. Atopic Angka kematian dapat meningkat oleh karena ketergantungan obat bronkodilator Sign / symptoms Ok saluran nafas yang menyempit : Batuk Wheezing ekspiratoar , fase ekspirataroar lama, pernafasan dangkal Tachycardi / tachypnea Produksi sputum meningkat Gangguan tidur , aktivitas Retraksi dan otot otot pernafasan Diameter AP thorax meningkat , hiperinflasi Defferential Dx Tidak respon terhadap terapi asma : Malacia jalan nafas GERD Anomali vascular , lymphadenopathy , tumors, massa intraluminal , benda asing , disfingsi pita suara Ada rekurent infeksi : Cystic fibrosis Imun defisiensi Primary ciliary dyskinesia Diagnosis Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik Spirometry Foto thorax Analisa gas darah ( respiratory alakalosis , metabolic asidosis ) Kulture sputum : eosinophil , infeksi sekunder Skore derajad asthma (www.nhlbi.nih.gov) Treatment Akut : Inhalasi short acting B agonist Anticholinergic ( ipatropium bromide ) Oral / iv corticosteroid Oksigen Prophylaksis : Long acting B agonist ( salmeterol ) Inhalasi cromolyn / nedocromil Oral leukotriene inhibitors Misc09.wordpress.com | 1

Inhalasi corticosteroid Hindari faktor pencetus ( rokok , allergic rhinitis , otitis media , infeksi sinus , GERD ) Vaksinasi influenza Sedikit /tidak ada cara yang baku untuk menghilangkan allergen Prognosis / perjalanan penyakit Acut eksaserbasi Derajad dan respon pengobatan tergantung dari PEFR Prognosis : derajad asthma , ketaatan pengobatan , co morbiditas Status astmaticus : serangan lama , tidak responsif terhadap terapi inisial , dapat terjadi kegagalan nafas dan kematian Bronchiolitis Ok RSV ( respiratory synctial virus ) Dari nasopharynx menyebar ke jalan nafas bagian bawah merusak sel bronkus produksi mukus meningkat , jalan nafas tersumbat , atelektasis , hiperinflasi Bisa ok pathogen lain : influenza , parainfluenza , adenovirus , rhinovirus , chlamydia , mycoplasma pneumonia Epidemiologi Pada bayi Pada musim dingin Pasien yang dirawat di RS : berumur 1 4 bulan Risiko menjadi berat ok penyakit jantung kongenital , penyakit kronik jalan nafas pada neonatus , premature dan imunodefisiensi Sign/Symptom Batuk , pilek Panas Sesak nafas , nafas cuping hidung , retaraksi Perkusi hyperinflasi , ronchi Wheezing , ekspirasi diperpanjang 10-20% kasus berat : grunting , apneu , cyanosis , kegagalan nafas Differential Dx Asthma Bacterial / viral pneumonia Benda asing Cystic fibrosis Diagnose Gambaran klinik Pulse oxymetry : Hemoglobin desaturasi Ro foto thorax : hyperinflasi , atelectasis , consolidasi Nasopharyngeal swab RSV : Imunoflourescent antibody testing ELISA testing Kultur Treatment Oksigen lebih 92 % Infus cairan , kp peroral sementara stop Nebulizer albuterol ( bronkodilatasi ) tidak efektiv untuk semua pasien Corticosteroid dan neubulizied ipratropium juga tidak efektif Misc09.wordpress.com | 2

Antiviral aerosol pada kasus dengan kelainan jantung / pulmo Ventilasi mekanik Prognosis / perjalanan klinik Baik ( mortality rate 1 4 % ) Kejadian apneu akan berkurang selah beberapa hari Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih 75 % bayi kemudian akan terjadi gejala batuk berulang dan wheezing Pneumonia Infeksi jalan nafas bagian bawah / parenchym paru : inflamasi , eksudat alveolus , dan konsolidasi Pneumonia pada nenonatus , biasanya ok bakteri ( group B strept, E coli , kleibsella , Staphylokokus aureus , Pseudomonas < Haemofilus influenza ) Pada bayi : virus atau bakteri ( S. Pneumonia , S aureus , H influenza , Chlamydia ) Pada usia sekolah / adolescent : viral atau bakterial ( S pneumonia , S aureus , H Influenza , group A strep , Bordetella pertusis , Mycoplasma pneumonia ) Epidemiology Faktor risiko : jalan nafas yang sempit , inflamasi kronik jalan nafas , kelainan fungsional / anatomis predisposisi untuk aspirasi , imunodefisiensi , penyakit sickle cell , alat : tracheostomi , endotracheal tube Pneumocystitis carini dng AIDS P. Aeroginosadng cystic fibrosis Sign / symptoms Acut / sub acut Panas , sesak nafas , batuk produktif Respiratory distress ( tachypneu , nafas cuping hidung , grunting , retraksi , penggunaan otot tambahan , dyspneu ) Cyanosis , sakit dada / pleura , sakit abdominal , apneu , lethargi Auskultasi : ronkhi - krepitasi , tachypneu , suara vesicular menurun , suara bronkial , fremitus , wheezing , pekak pada perkusi

Differensial diagnosis Infeksi jalan nafas bagian atas Keganasan Benda asing Trauma thorax Anomali kongenital Asthma Bronchitis Diagnosis Riwayat penyakit dan pemeriksaan klinik Pulse oximetry : Hemoglobin desaturasi Ro foto thorax : konsolidasi infiltrat pada lobus ( bilateral / unilateral ) , pleural effusi atau cavitasi Sputum / tracheal kultur , pengecatan gram Kultur darah ( S. Pneumonia ) HIV test ( umur muda dng pneumonia berulang ) Treatment Supportive therapy Misc09.wordpress.com | 3

Antibiotik ( spesifik utk organisme penyebab ) Anti viral ( pada immunocompromised pasien ) Anti fungal : pd high risk pasien : neonatus , pasien transplantasi , AIDS , ICU pasien Oksigen , ventilasi , steroids , intubasi , cardiovaskular support ( pd pasien berat ) Cek : resistensi test antimikrobial dan formularium obat di RS

Prognosis / perjalan penyakit Morbiditas dan mortalitas tergantung organisme penyebab dan interaksi host faktor Jika tidak ada komplikasi prognosis baik Pada neonatus dan immunocompromised apabila tidak mendapat pengobatan / pengobatan yang tidak sempurna dapat fatal

Misc09.wordpress.com | 4