Anda di halaman 1dari 11

EKSTRAKSI AGAR

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Saefullah Habibi Z.A : B1J008010 : II :7 : Nita Wahyu Suwardani

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya kelautan yang saat ini telah banyak dikembangkan dan merupakan komoditi penting dalam dunia perdagangan khususnya perdagangan hasil-hasil kelautan disamping ikan. Pengolahan rumput laut saat ini menuntun adanya peningkatan hasil penanganan pasca panen baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Rumput laut banyak diproduksi karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, salah satunya adalah dapat menghasilkan agar. Agar merupakan polisakarida yang tersusun dari dua fraksi utama, yaitu agaropektin dan agarosa. Agar memiliki sifat yang khas yaitu sifat gelasi (kemampuan membentuk gel), viskositas (kekentalan), dan melting poin (suhu mencairnya gel) yang sangat menguntungkan untuk dipakai dalam dunia industria pangan dan non pangan. Fungsi utama agar adalah sebagai bahan pemantap, bahan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel. Agar banyak dimanfaatkan dalam beberapa bidang industria, misalnya industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kulit, dan sebagai media pertumbuhan mikroba. Pemanfaatan dalam industria farmasi, agar digunakan sebagai pencahar atau peluntur dan media kultur bakteri. Pemanfaatan dalam industria kosmetika digunakan dalam industria salep, cream, sabun, dan pembersih muka (lotion). B. Tujuan Tujuan dari praktikum ekstraksi agar ini adalah untuk mengetahui proses ekstraksi agar. C. Tinjauan Pustaka Indonesia merupakan negara maritim yang berada di wilayaah Asia Tenggara. Arti dari negara maritim yaitu suatu Negara yang memiliki banyak pulau yang saling dipisahkan oleh laut antar pulau, sehingga mempunyai luas lautan yang lebih luas dibanding luas daratannya. Luas perairan Indonesia yang mencapai 70% dari luas seluruh wilayahnya membuat Indonesia kaya akan biota laut sehingga membuat Indonesia masuk ke dalm daftar 10 besar Negara terkaya akan keragaman hayatinya dan mendapat julukan sebagai mega-biodiversitas (Anonymous, 2007).

Rumput laut merupakan golongan makro alga yaitu kelompok tumbuhan berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel, berbentuk koloni. Hidup bersifat bentik di tempat-tempat yang perairannya dangkal dan dasar perairannya berpasir, berlumpur atau berpasir berlumpur. Rumput laut menyenangi daerah pasang surut yang perairannya jernih dan menempel pada karang yang mati, potongan karang maupun substrat keras lainnya, baik yang dibentuk secara alamaiah maupun buatan (Afrianto dan Liviawati, 1993). Spesies-spesies rumput laut yang dewasa ini bernilai ekonomi penting di Indonesia salah satunya adalah anggota rumput laut merah (Rhodophyta) yang berperan dalam dunia perdagangan dan industri. Spesies-spesies komersial dari rumput laut merah ini kebanyakan berasal dari marga Eucheuma, Gelidium, Gelidiella, Gracilaria dan Hypnea. Enteromorpha intestinalis merupakan jenis Rhodophyta yang berfungsi sebagai obat anti jamur, bakteri, sumber asam folat, sumber focoferol, vitamin E, sumber protein dan sebagai obat penurun tekanan darah tinggi / hipertensi (Handayani, 2006). Beberapa rumput laut merah penghasil hidrokoloid, antara lain: agar (dihasilkan dari jenis-jenis agarofit) dan karaginan (dihasilkan dari jenis-jenis karaginofit). Rumput laut yang mengandung karaginan berasal dari marga Eucheuma. Karaginan ada tiga macam, yaitu iota karaginan dikenal dengan tipe spinosum, kappa karaginan dikenal dengan tipe cottonii dan lambda karaginan. Ketiga macam karaginan ini dibedakan karena sifat jeli yang terbentuk. Iota karaginan berupa jeli lembut dan fleksibel atau lunak. Kappa karaginan jeli bersifat kaku dan getas serta keras. Sedangkan lambda karaginan tidak dapat membentuk jeli, tetapi berbentuk cair yang viscsous/kental (Anonymous, 2006). Agarofit adalah rumput laut penghasil agar. Spesies-spesies rumput laut merah penghasil agar adalah Gracilaria, Gelidium, dan Gelidiella. Agar-agar merupakan senyawa kompleks polisakarida yang dapat membentuk jeli. Kualitas agar-agar dapat ditingkatkan dengan suatu proses pemurnian yaitu membuang kandungan sulfatnya. Produk ini dikenal dengan nama agarose. Kualitas agar-agar yang berasal dari Gelidium dan Gelidiella lebih tinggi dibanding dari Gracilaria. Dalam skala industri agar-agar dari Gelidium mutunya dapat ditingkatkan menjadi agarose, tetapi Gracilaria masih dalam skala laboratorium (Atmadja dan kadi, 1996).

II. MATERI DAN METODE A. Materi Bahan - bahan yang digunakan yaitu rumput laut Eucheuma cottonii, Gracillaria verrucosa, Eucheuma spinosum, soda asden, kaporit 0,25% dan H2O2. Alat-alat yang digunakan yaitu neraca analitik, nampan, oven, erlenmeyer, beaker glass 1 liter, gelas ukur, kertas pH, pipet, pengaduk, saringan (kain belacu), blender, kompor. . B. Metode Diagram alir proses pengolahan rumput laut menjadi agar:

1. Rumput laut Gracilaria verrucosa 200 gr, Eucheuma cottonii 20 gr, E. spinosum
20 gr disiapkan dan dibersihkan.

2. Rumput laut direndam dalam air selama 1 jam. 3. Rumput laut direndam kembali ke dalam larutan kaporit 0,25 % atau CaCO 3
selama 1 jam, kemudian rendam dalam air selama 1 jam. 4. Diekstraksi dengan direbus selama 30 menit lalu diblender, kemudian direbus kembali selama 2 jam.

5. Ditambah soda asden sebanyak 6,6 gr dan H2O2 sebanyak 3 tetes (0,06 gr).
6. Hasil ekstraksi disaring, lalu didinginkan selama 30 menit. 7. Setelah dingin ditambahkan KOH 3,3 gram. 8. Dicetak lalu dipress dan dikeringkan di dalam oven. 9. Dihitung rendemennya.

Diagram alir proses pengolahan rumput laut menjadi agar.


PERENDAMAN

PEMUCATAN

PERENDAMAN

PELEMBUTAN

PENCUCIAN EKSTRAKSI

PENGEPRESAN DAN PENCETAKAN

PENDINGINAN

PENGERINGAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut: Berat senyawa Agar : 3,16 gram Rendemen Agar (%) =

Bobot lembaran agar - agar X 100% Bobot rumput laut kering 3,16 gram X 100% = 15,8 % 20 gram B. Pembahasan

Rendemen Agar (%) =

Berdasakan hasil yang diperoleh pada praktikum esktraksi agar dengan bobot kering rumput laut sebesar 20 gram diperoleh rendemen agar sebesar 15,8% atau hanya diperoleh senyawa agar seberat 3,16. Hasil ekstraksi yang minimal ini terjadi karena proses ekstraksi agar tidak dilakukan secara sempurna (adanya pengurangan waktu pada tiap tahapnya) (Winarno, 1990). Sifat yang paling menonjol dari agar-agar adalah memiliki daya gelasi (kemampuan membentuk gel), viskositas (kekentalan), setting point (suhu pembentukan gel), dan melting point (suhu mencairnya gel) yang sangat menguntungkan untuk dipakai pada dunia industri pangan maupun nonpangan. Rumput laut mempunyai kandungan kimia seperti protein, mineral, trace elements, karbohidrat (Manivannan et al., 2008). Pertumbuhan adalah perubahan ukuran suatu organisme yang dapat berupa berat atau panjang dalam waktu tertentu. Pertumbuhan rumput laut sangat berpengaruh terhadap kandungan karaginan dari rumput laut tersebut. Pertumbuhan rumput laut ini dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain jenis, galur, bagian thalus dan umur. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh antara lain keadaan fisik dan kimiawi perairan. Namun demikian selain faktor-faktor tersebut ada faktor lain yang sangat menentukan keberhasilan pertumbuhan dari rumput laut yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh manusia. Faktor pengelolaan yang harus diperhatikan seperti substrat perairan dan juga jarak tanam bibit dalam satu rakit apung (Luning, 1990). Dari pembahasan tersebut dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan hasil yang karaginan yang optimal perlu adanya suatu system budidaya rumput laut yang baik.

Menurut Handayani (2006), bahwa Tahapan proses produksi agar-agar adalah a. Pemanenan dan pengeringan rumput laut. Setelah dipanen, rumput laut dibersihkan dari pasir, batu, dan kotoran lainnya. Selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari sampai kering (kadar airnya sekitar 20 persen). b. Pemotongan dan pengasaman. Rumput laut yang sudah kering dimasukkan ke dalam bak pencuci yang berisi air dan dipotong-potong secara mekanis. Selanjutnya dimasukkan ke dalam bak pencuci yang berisi asam sulfat 5-10 persen selama 15 menit dan dibilas dengan air sampai bersih. Jenis asam lain yang dapat dipakai adalah asam asetat atau asam sitrat. Tujuan pengasaman untuk memecahkan dinding sel, sehingga agar-agar mudah diekstrak serta menghancurkan dan melarutkan kotoran sehingga rumput laut menjadi lebih bersih. c. Pemasakan dan ekstraksi. Pemasakan rumput laut dilakukan dalam sebuah bejana besar dengan menggunakan air bersih sebanyak 40 kali berat rumput laut kering yang digunakan. Pemasakan dilakukan dengan penambahan asam cuka 0,5 persen dan dilakukan pada suhu 90-1000 C selama 2-4 jam. Pada saat mulai mendidih, ditambahkan basa (misalnya natrium hidroksida) untuk menetralkan pH menjadi 6-8. d. Pemadatan. Setelah pemasakan selesai, ekstrak rumput laut disaring dengan kain blacu dan diperas perlahan-lahan. Ekstrak yang diperoleh ditampung dalam bejana dan ditambahkan basa hingga pH-nya mencapai 7-7,5. Larutan agar-agar yang telah dinetralkan, dipanaskan lagi sambil diaduk dan dituangkan ke dalam cetakan menurut ukuran yang telah ditentukan. Larutan agar-agar tersebut dibiarkan memadat pada suhu kamar atau menggunakan suhu dingin untuk mempercepat pemadatan. e. Pengeringan. Agar-agar yang sudah memadat, dipotong-potong tipis dalam bentuk lembaran setebal 0,5 cm dengan menggunakan kawat baja halus. Lembaran yang diperoleh dibungkus dengan kain blacu, disusun, dan dimasukkan ke dalam alat pengepres dan dipres perlahan-lahan agar airnya keluar. Padatan agar yang tersisa di kain blacu kemudian dijemur di atas rak-rak bambu sampai kering dan dikemas dengan kantong plastik. Klasifikasi Gracillaria menurut Atmadja et al (1996 )adalah sebagai berikut :

Divisio Class Subclass Ordo Famili Genus Spesies

: Rhodophyta : Rhodophyceae : Floridiophycidae : Gigartinales : Gracillariceae : Gracillaria : Gracillaria verucossa Gracillaria verrucosa memiliki ciri-ciri thalus berbentuk silindris dan

permukaannya licin. Thalus tersusun oleh jaringan yang kuat, bercabang-cabang dengan panjang kurang lebih 250 mm, garis tengah cabang antara 0,5 2,0 mm. percabangan alternate yaitu posisi tegak percabangan berbeda dengan tingginya, bersebelahan, atau pada jarak tertentu berbeda satu dengan yang lain, kadangkadang hamper dichotomous dengan pertulangan lateral yang memanjang menyerupai rumput. Bentuk cabang silindris dan meruncing di ujung cabang (Sinulingga, 2006). Kandungan agar dari Gracilaria ini sangat bervariasi tergantung dari spesies dan lokasi pertumbuhannya yang umumnya berkisar antara 16%-45% (Aslan, 1991). Hasil praktikum didapati kandungan agar pada Gracilaria gigas adalah 47,4 %. Standar mutu agar-agar di Indonesia menurut FAO dalam Indriani dan Suminarsih (1999) adalah kadar air sebesar 15-21%, kadar abu maksimal 4%, kadar karbohidrat sebagai galakton minimal 30%, logam berbahaya (arsen) tidak ada, zat warna tambahan sesuai yang diinginkan untuk makanan dan minuman. Randemen agar dari Gracilaria sangat tergantung dari jenis, lama perendaman, lama ekstraksi, konsentrasi zat yang digunakan dalam perendaman dan pelembutan, metode ekstraksi yang digunakan dan faktor lingkungan tempat rumput laut tersebut tumbuh. Randemen juga dipengaruhi oleh skala produksi dimana skala produksi yang besar akan menghasilkan rendemen yang besar pula (Chapman dan Chapman, 1980). Istini et al., (2004) menyatakan bahwa penambahan asam cuka berfungsi untuk mempertahankan pH dan sebagai stabilizer sehingga diperoleh tekstur molekul yang konsisten. Perendaman rumput laut dalam kaporit 0,25% berfungsi untuk merubah warna rumput laut menjadi putih dan menjadi lebih bersih. Penambahan NaOH untuk membuat larutan lebih asam dan penambahan KCl 0,3% untuk menetralkan pH. Menurut Zatnika dan Istini (2007), kualitas agar ditentukan oleh 3,6 anhydro galactose, gel strength, dan sedikitnya kandungan sulfat, sedangkan kualitas rumput laut ditentukan selain oleh kualitas agar tersebut juga rendemennya. Artinya rumput laut berkualitas baik bila rendemen agarnya tinggi

dengan kualitas agar seperti 3,6 AG, gel strength tinggi sedangkan sulfatnya rendah. Selain parameter-parameter tersebut masih terdapat parameter kualitas agar lainnya seperti viskositas, melting point dan gelling point tergantung kebutuhan dalam aplikasi agar tersebut. Akan tetapi tiga parameter terakhir ini kurang diperlukan dalam industri memanfaatkan agar. Peristiwa pelarutan gel agar-agar ke dalam pelarut didekati dengan model matematis yang mengambil asumsi (Distantina dkk., 2007) : 1. Difusi gel agar-agar ke permukaan padatan diabaikan 2. Rasio berat rumput laut (M) dan pelarut (V) tetap 3. Proses isotermal 4. Kadar agar-agar dalam bahan seragam Berdasarkan neraca massa total agaragar dalam larutan, maka dapat disusun model matematis yang mewakili peristiwa ekstraksi rumput laut dengan pelarut seperti berikut :

dengan

H = konstanta keseimbangan, g rumput laut/ mL air. kca= koefisien transfer massa antar fase volumetris, 1/menit. Co = kadar agar-agar dalam rumput laut sebelum ekstraksi, g agar-agar/g rumput Cs= kadar agar-agar dalam rumput waktu selama ekstraksi, g agar-agar/g rumput Cl= kadar agar-agar dalam pelarut selama ekstraksi, g agar-agar/mL pelarut M= berat rumput laut, g V=volum air, mL. t= waktu ekstraksi, menit

IV. KESIMPULAN Dari hasil dan pembahasan praktikum ekstraksi karaginan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1.

Agar memiliki sifat tidak larut dalam air dingin, namun larut dalam air panas. Untuk agar-agar dengan kemurnian tinggi tidak akan larut pada air bersuhu 25 0 C, tetapi larut di dalam air panas pada suhu 32-390 C, agar-agar akan berbentuk padatan yang tidak akan mencair lagi pada suhu di bawah 800 C.

2.

Rendemen agar yang diperoleh dari rumput laut kering Gracilaria gigas 20 gram sebesar 15,8 %

DAFTAR REFERENSI

Afrianto, A. dan E. Liviawati . 1993 . Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya . Bhatara, Jakarta. Anonymous. 2006. Hidrokoloid dan Gum. www.ebookpangan. Diakses tanggal 10 Mei 2011. Anonymous. 2007. Budi Daya Rumput Laut. www.naturalnusantara.co.id. Diakses tanggal 10 Mei 2011. Atmadja, W.S., A. Kadi, dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanografi-LIPI, Jakarta. Distantina, Sperisa, Fadilah, Endah R. Dyartanti, dan Enny K. Artati. 2007. Pengaruh Rasio Berat Rumput Laut-Pelarut Terhadap Ekstraksi AgarAgar. E k u i l i b r i u m Vol. 6 (2) : 53-58. Handayani, T. 2006. Protein pada Rumput Laut. Oseania, Bidang Sumberdaya Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta, 4: 23-30. Luning, K. 1990. Seaweed ; Their Environment, Biogeography, and Ecophysiology. John Willey & Sons, Inc. New York. 527 p. Manivannan, K., Thirumanan, G., Devi, G. Karthikai., Hemalatha, A., Anantharaman, P. 2008. Biochemical Composition of Seaweeds from Mandapam Coastal Regions along Southeast Coast of India. American-Eurasian Journal of Botani, 1 (2) : 32-37. Murdinah, D. Fransiska, dan Subaryono. 2008. Pembuatan Bakto dari Rumput Laut Gelidium rigidum untuk Media Tumbuh Bagi Mikrooganisme. Jurnal Pasca panen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan. Vol.3 No.1, Juni 2008 Sinulingga. M., dan Sri Darmanti. 2006. Kemampuan Mengikat Air oleh Tanah Pasir yang Diperlakukan dengan Tepung Rumput Laut Gracilaria verrucosa. Kemampuan Mengikat Air oleh Tanah Pasir : 32-38. Winarno, F.G . 1990 . Teknologi Pengolahan Rumput Laut . Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Zatnika, A, dan S. Istini. 2006. Optimasi Perlakuan Alkali dalam Upaya Peningkatan Kualitas agar dari Rumput Laut (Gracillaria spp). Optimasi Perlakuan Alkali dalam Upaya peningkatan Kualitas Agar.