Anda di halaman 1dari 7

Pengertian Evakuasi medis darat adalah suatu teknik pemindahan korban dari tempat kejadian dengan atau tanpa

sarana pengankutan ke tempat yang lebih aman guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut,namun sebelumnya telah mendapatkan pertolongan pertama. Syarat syarat Evakuasi medis darat 1.Korban tenang dan keadaan umumnya baik(stabil) 2.Tidak ada gangguan pernafasan 3.Perdarahan telah di atasi 4.Luka luka telah di balut 5.Patah tulang telah di bidai Ada tiga hal yang harus dilakukan bila kita menemukan korban Yaitu: 1.Segera memberikan pertolongan bila di perlukan 2.Memberikan keyakinan pada sang korban bahwa ia akan selamat ,karena berhasil di 3 Melaporkan keposko tentang komdisi korban dan lokasi di temikannya temukan

Sebelum melakukan Evakuasi ,kita harus menyiapkan : 1.Peralatan pendukung Peralatan yang di butuhkan dalam proses evakuasi harus di sesuikan dengan kondisi korban dan keadan medan sekitar korban.bila kita hanya melewati jalan setapak yang tidak begitu terjal atau hutan yang tidak begitu rapat dan kemiringan medan yang bias di lewati dengan jalan biasa maka peralatan yang di butuhkan: 1. Tandu 2. Tali c . Pengaman

Namun bila melewati medan medan yg sulit maka di butuhkan peralatan khusus :

1. Helikopter b . Tali 1. Tandu d . Peralatan pendukung tali(carabiner webbing pulley,dll) e . Peralatan medis yang ringan yang di bawah 2. Personil Personil pendukung dalam kegiatan evakuasi haris di sesuikan dengan kebutuhan dan ketrampilan untuk melintasi medan yang akan di lalui dengan kelengkapan tim maka penaganan evakuasi akan berjlan dengan lebih baik 3. Memilih lintasan Bila kita melakukan kegiatan evakuasi didaerah yang sulit akan di lalui kita harus memilih lintsan yang paling ringan dengan memperhitungkan peralatn dan personil yng tersedia .sebelum evakusi di mulai.harus di lakukan penelitian dan pembersihan jalur yang akan di lalui oleh timSurvey. Teknik Evakuasi 1. 1. Evakuasi tanpa menggunakan tandu 1. Membawa seorang bayi atau anak

Pengangkatan Cradle : penolong jongkok atau melutut disamping anak/korban . Satu lengan ditempatkan di bawah paha korban dan lengan lainnya melingkari punggung. Korban dipegang dengan mantap dan didekapkan ke tubuh, penolong berdiri dengan meluruskan lutut dan pinggul. Pick a back (menggendong) : Penolong pertama jongkok atau melutut perintahkan anak/korban untuk meletakkan lengannya dengan longgar di atas pundak penolong. Genggam masing-masing tungkai korban. Berdiri dengan meluruskan lutut dan pinggul.

1. Membawa orang dewasa b.1.Teknik satu orang

Piggyback Carry (berjalan dengan bantuan) : merupakan tindakan standar yang aman bagi korban baik dalam keadaan sadar, dapat berdiri dan tidak ada fraktur pada ekstremitas.

Fireman lift :merupakan tindakan yang aman bagi korban baik dalam keadaan sadar ataupun tidak sadar tetapi tidak terjadi fraktur padaekstremitas atas atau vertebra.. Biasanya digunakan pada korban dengan berat badan ringan. One rescuer assist : tindakan yang aman untuk korban yang adar dan dapat dengan jalan memapahnya. Caranya dengan berdiri disampingnya pada bagian yang sakit ( kecuali pada cederaekstremitas atas) dengan melingkarkan tangan pada pinggang korban dan memegang pakaiannya pada bagian pinggul dan lingkarkan tangan korban di leher penolong dan memegangnya dengan tangan yang lain. One rescuer drags : Dapat digunakan untuk korban yang sadar maupun tidak sadar, pada jalan yang licin (aman dari benda yang membahayakan) seperti lantai rumah, semak padang rumput, dlla. Caranya dengan mengangkangi korban dengan wajah menghadap ke wajah korban dan tautkan (ikatkan bila korban tidak sadar) kedua pergelangan korban dan lingkarkan di leher. Merangkak secara perlahan-lahan. Kontraindaksinya adalah patah atau cedera ekstemitas atas dan pundak (scapula).

b.2.Teknik dua orang :

Pengangkutan dengan bantuan pundak : teknik pengangkutan yang teraman dari semua teknik yang ada baik bagi korban maupun penolong. Teknik ini tidak dapat digunakan untuk korban yang tidak dapat membengkokkan tulang belakang (cedera cervicaL) dan cedera dinding dada. Caranya : Penolong jongkok/melutut di kedua sisi korban dengan pinggul menghadap korban. Korban diangkat dalam posisi duduk dan instruksikan untuk meletakkan lengan-lengannya di atas pundak para penolong, para penolong menggenggam tangan kuat-kuat di bawah paha korban sedangkan tangan yang bebas digunakan untuk menopang tubuh korban dan diletakkan di punggung korban. Pengangkutan melalui lengan dengan menopang tungkai : Teknik ini digunakan jika penolong pertama tidak dapat menempatkan diri di kedua sisi korban. Salah satu penolong segera berdiri di belakang korban. Pengangkutan melalui kedua lengan korban. Penolong kedua berdiri di sepanjang sisi korban, membengkokkan lutut dan pinggulnya kemudian menopang paha dan tungkai korban. Kedua penolong harus mengangkat bersamaan. Pengangkutan dengan selimut/sleeping bag : Sedikitnya dibutuhkan empat penolong dan satu selimut yang kuat. Teknik ini dapat digunakan jika korban tidak sadar dan mengalami cedera berat serta korban tidak dapat menggerakkan dirinya (memperparah cedera). Tarikan : Tarikan dilakukan karena korban sendiri tidak mampu menolong dan tidak ada bantuan lain yang tersedia, kemudian korban harus ditarik keluar. Yakinkan jalur yang akan dilewati bebas dari penghambat dan benda-benda tajam. Aplikasikan aturanaturan pengangkatan. usahakan sedekat mungkin dengan korban. Selalu tarik berat badan ke arah dada/badan penolong. Gunakan tarikan pendek, hindari tarikan panjang dengan sentakan.

Jika mungkin jongkok atau berlutut dibelakang korban. Tempatkan korban dalam posisi datar Gunakan genggaman lengan atau genggaman baju pada pada pundak korban. Jika tersedia, tempatkan sebuah selimut untuk membantu menggeser korban.

Evakuasi tanpa menggunakan tandu dilakukan untuk memindahkan korban dalam jarak dekat atau menghindarkan korban dari bahaya yang mengancam. Untuk evakuasi dengan jarak jauh seringan apapun cedera korban usahakan untuk mengangkutnya dengan menggunakan tandu.

2. Evakuasi dengan menggunakan tandu Dalam mengangkut korban dengan menggunakan tandu, biasanya 1 regu penolong terdiri dari enam sampai tujuh orang, dengan tugas masing-masing :

1. Pimpinan/ Komandan Regu : memberi komando, mengatur pembagian kerja pada saat mengangkat berhadapan dengan wakil dan anggotanya, tempat waktu mengusung : kanan depan tandu 2. Wakil pimpinan regu : membantu pimpinan dan mengobati pasien, waktu mengangkat : bagian bawah kaki, tempat mengusung : kiri depan tandu. 3. Anggota A : Mengobati dan membalut, waktu mengangkat : bagian badan dan punggung, tempat waktu mengusung : kanan belakang tandu. 4. Anggota B : Membantu anggota C mengatur tandu dan membalut, waktu mengangkat : bagian kepala dan dada, tempat waktu mengusung : kiri belakang tandu. 5. Anggota C : Mengatur tandu dan menyiapkan obat dan alat yang digunakan, waktu mengangkat : mengumpulkan alat-alat P3K dan barang milik pasien, memantau kondisi pasien selama proses evakuasi. 6. Angggota D : Menjadi Pemandu atau pembuka jalur dan memeriksa situasi dan kondisi jalur yang akan atau sedang dilewati, mencatat hal-hal penting.

Cara membawa tandu melewati rintangan 1. Melewati Gua, celah yang sempit atau gorong-gorong Regu penolong berhenti, tandu diletakkan/diturunkan dalam posisi membujur tidak kurang dari 2 m di depan pintu gua.

Pemandu masuk terlebih dahulu untuk memantau keadaan keamanan gua. Kemudian memberitahukan kepada pimpinan regu bahwa keadaaan aman. Pimpinan regu menugaskan penolong yang paling kuat (bisa dirinya sendiri) untuk membawa korban dalam posisi telungkup. Tiga petugas lainnya kemudian meletakkan korban di atas punggung penolong kemudian difiksasi dengan ikatan-ikatan pada bagian tertentu dengan posisi korban dapat telungkup atau telentang tergantung kondisi cederanya. Pemandu memasuki gua sebelum petugas pembawa korban dengan senter hingga kepintu seberang gua atau ruang gua yang lebih luas, dengan tetap memberi petunjuk kepada petugas pembawa korban. Penolong yang membawa korban memasuki gua dengan merayap disusul oleh penolong lainnya.

Melewati lorong/jalan yang sempit. regu berhenti kira-kira 2 m di depan pintu lorong dan tandu diturunkan.

Pemandu memeriksa keadaan jalan serta keamanannya, untuk jembatan/titian, pemandu memeriksa kekuatannya untuk menahan beban, kemudian memberitahukannya kepada pimpinan regu. Pimpinan regu kemudian menyiapkan 3 orang untuk mengangkat korban melalui lorong dengan cara berjalan menyamping, posisi koprban miring, didekapkan kepada petugas yang berjalan paling depan. Pemandu berjaalan di depan sambil memberi aba-aba, pembawa pasien mengikutinya dibelakang kemudian disusul oleh penolong lainnya. Untuk jembatan/titian bisa ditambahkan tali pengaman.

Bila celah masih dapat dilalui oleh tandu, korban tiddak perlu diturunkan dari tandu, para pengangkat tandu mengambil posisi sedemikian rupa untuk melewati jalan tersebut.

1. Melewati kayu besar yang melintang atau pagar/tembok. regu berhenti kira-kira 2 m di depan rintangan kemudian tandu diturunkan.

Setelah mendapat laporan dari pemandu tentang keadaan keamanan bagian seberang, pimpinan kemudian menginstruksikan untuk menyeberang. Ujung bagian depan tandu diletakkan di atas batang pohon/pagar, pengangkat tandu bagian depan segera menyeberang. Pengengkat tandu bagian belakang menjaga agar posisi tandu tetap sejajar tandu kemudian di geser ke arah depan hingga pngangkat tandu bagian depan menempati posisinya dan menjaga posisi tandu tetap sejajar. Pengangkat tandu bagian belakang menyeberang kemudian mengangkat tandu bagian belakang. Penolong yang lain kemudian menyusul di belakang.

Menyeberangi sungai (dangkal). Tandu diturunkan kira-kira 3 meter dari pinggir sungai

Pemandu mencari tempat yang paling aman untuk penyeberangan, mengukur kedalaman dan kecepatan arus sungai. Bila memungkinkan, pemandu memberikan isyarat sekaligus merintis jalur untuk menyeberang. Pasien diikatkan ke tandu dengan baik sebelum penyeberangan. Usahakan melangkah dengan menelusurkan kaki, jangan melangkah tinggi-tinggi.

Saat menyeberangi sungai tandu boleh dipikul di bahu atau diangkat tergantung kedalaman sungai. Setelah tiba di seberang tandu diturunkan.

Naik turun Tebing. Tandu/korban harus tetap dalam posisi horizontal baik pada saat naik atau turun tebing.

Pemandu harus mengetahui terlebih dahulu jalur yang akan dilalui baik itu keamanannya maupun peralatan yang harus disiapkan. Ketika turun tebing, posisi kepala pasien harus di belakang dan ketika naik tebing, posisi kepala pasien harus di depan kecuali pada keadaan tertentu.

Bila ada tebing yang curam, tandu diturunkan dan para pengangkat tandu mengambil posisi pada bagian bawah tebing sehingga tandu tetap berada dalam posisi yang benar. Berlaku baik pada pendakian ataupun penurunan tebing. Setelah melewati tebing periksa kondisi pasien.

Hal yang penting dan harus selalu diingat dalam membawa tandu/korban melewati rintangan adalah pemeriksaan kedaan pasien sebelum, selama dan setelah melewati rintangan tersebut. Karena sangat mungkin terjadi cedera tambahan atau cedera yang dialami oleh korban menjadi lebih parah.