Kka Fase D (Jenjang SMP)
Kka Fase D (Jenjang SMP)
Pengembang Teknologi
Pembelajaran (PTP) Balai Guru dan
Tenaga Kependidikan (BGTK)
Provinsi Kalimantan Selatan
Google Master Trainer
Asesor BAN-PDM Kalsel
Kurator video aksi nyata di PMM
Fasilitator Sekolah Penggerak
Angkatan 2
DAHLIANI, S.PD., M.PD
Pengajar Nasional Pembelajaran
Mendalam WA : 0857 5261 5261
Page 2 Tujuan Kegiatan
Peserta pelatihan mampu
mendefinisikan konsep dasar
koding dan kecerdasan artifisial
(KA)
Peserta pelatihan mampu
menerapkan konsep koding dan KA
dalam proses pembelajaran,
Peserta pelatihan mampu menyusun pembelajaran koding dan
kecerdasan artifisial yang berkontribusi dalam pencapaian
dimensi profil lulusan.
Peserta pelatihan mampu mengembangkan nilai-nilai etik
dalam koding dan KA
Page 3
Materi Pelatihan
Pengantar Mapel Koding dan Kecerdasan Artifisial
(Pendahuluan, Rasional, Tujuan, Karakteristik dan Elemen
Mapel (Sesi 1)
Materi Kompetensi
Literasi Digital Peserta didik mampu memproduksi dan
mendiseminasi konten digital berupa audio,
video, slide, dan infografis.
Pengenalan pola proses identifikasi pola atau kesamaan yang berulang dalam data atau
di berbagai masalah. Mengenali pola-pola ini dapat mengarah pada
penerapan solusi yang serupa dalam berbagai konteks.
Abstraksi proses menyaring informasi yang tidak perlu dan fokus pada detail
yang relevan yang penting untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Ini memungkinkan pendekatan yang lebih efisien dan terarah.
Jika saya mengerjakan PR sekarang, maka saya akan punya waktu untuk
bermain
Jika ingin tubuh tetap sehat, maka harus memperhatikan apa yang
dimakan
Jika saya ingin lulus ujian maka saya harus rajin belajar.
Page 24
Bagaimana membelajarkan koding ?
Pada fase C dan Awal D, koding yang dimaksud sejatinya bukan pada text programming,
tapi melatih kemampuan bepikir logis dan sistematis dalam balutan Computational
Thingking umumnya, jikapun menggunakan lingkungan pemorgraman akan masuk pada
kelompok blok programming (Blocky, Scrath), seperti yang dicontohkan pada
https://blockly.games/
Page 25 Berpikir Komputasional dengan melakukan
Pengelolaan Data
Proses dekomposisi merupakan proses pemecahan masalah besar menjadi sub
masalah yang lebih kecil sehingga data lebih mudah dikelola.
Pengelolaan data yaitu mengidentifikasi pola bertujuan untuk menemukan tren data
yang dapat memberikan informasi berharga dengan cara mengelompokkan data,
pembersihan data, dan klasifikasi data.
Abstraksi yaitu menyederhanakan informasi yang berfokus pada data penting dan
mengabaikan data yang tidak relevan dalam pengelolaan data tersebut, yang kita
lakukan adalah mengekstraksi fitur-fitur penting dari data mentah yang dapat
digunakan untuk analisis lebih lanjut.
Algoritma yaitu mengurutkan dengan pendekatan terstruktur dan metodis dalam
memecahkan masalah
Page 26 Penerapan Pembelajaran Koding Metode Plugged
berpikir Komputasional dengan Dekomposisi
Page 27 Penerapan Pembelajaran Koding Metode Plugged
berpikir Komputasional dengan Dekomposisi
Proses dekomposisi merupakan proses pemecahan masalah besar
menjadi sub masalah yang lebih kecil sehingga data lebih mudah dikelola.
Aktivitas 1
Mengidentifikasi data yang diperlukan
Tujuan: Peserta pelatihan belajar memecah masalah dari data yang
ada menjadi bagian data yang mudah diolah / kecil yang lebih
sehingga mudah diselesaikan.
Plugged: Aplikasi spreadsheets (Google spreadsheets, Ms. Excel, dll)
Unplugged: Kertas, pensil, atau papan tulis.
Page 28 Penerapan Pembelajaran Koding Metode Plugged
berpikir Komputasional dengan Dekomposisi
Langkah-langkah:
Identifikasi data yang diperlukan. Contoh: tanggal, waktu
keberangkatan, jarak (km:m:cm), waktu tempuh (jam:menit:detik),
jenis jalan, kondisi lalu lintas, cuaca.
Sumber data yang dapat kita gunakan adalah, gps tracking,
aplikasi navigasi (google maps, waze), data historis perjalanan,
survei waktu tempuh, sensor lalu lintas dan periode pengumpulan
data yaitu hari kerja vs akhir pekan, jam sibuk non-sibuk,
musim/kondisi cuaca tertentu.
Page 29 Penerapan Pembelajaran Koding Metode Plugged
berpikir Komputasional dengan Pengenalan Pola
Mengidentifikasi pola bertujuan untuk menemukan tren data
yang dapat memberikan informasi berharga dengan cara
mengelompokkan data, pembersihan data, dan klasifikasi
data. Pembersihan data perlu dilakukan untuk memeriksa data
guna menghindari adanya kesalahan seperti duplikasi dan nilai
yang hilang, serta data yang tidak valid. Data yang telah diperiksa
kemudian diklasifikasikan berdasarkan kategori tertentu
berdasarkan faktor yang relevan.
Page 30 Teknik Pengenalan Pola
Missing
Standardisasi Outlier Deduplikasi Validasi
values
Ketidakkonsistenan muncul Outlier adalah titik Deduplikasi data Missing values Tinjauan di akhir
ketika data
data yang adalah proses muncul ketika proses
direpresentasikan dalam
menyimpang secara perampingan di pembersihan data
format atau struktur yang
titik data tidak
berbeda dalam kumpulan signifikan dari yang mana data yang sangat penting
data yang sama. Sebagai ada karena
lain dalam
berlebihan dalam
contoh, ketidaksesuaian
kumpulan data,
pengumpulan
yang umum terjadi adalah dikurangi dengan memverifikasi
format tanggal, seperti yang disebabkan data yang tidak
menghilangkan bahwa data sudah
"MM-DD-YYYY" dangan "DD- oleh kesalahan, lengkap,
MM-YYYY." Menstandarkan salinan ekstra bersih, akurat, dan
kejadian langka, kesalahan input,
format dan struktur dapat dari informasi siap untuk
atau anomali yang
membantu memastikan atau kegagalan
keseragaman dan sebenarnya
yang sama dianalisis atau
sistem.
kompatibilitas untuk analisis divisualisasikan.
yang akurat
Page 31 Aktivitas 2 : Pengelompokan, Pembersihan dan
Validasi Data
Tujuan : Peserta pelatihan belajar pengelompokan data dan
pembersihan data.
Plugged : Aplikasi spreadsheets (Google spreadsheets, Ms. Excel, dll)
Unplugged : Kertas, pensil, atau papan tulis.
Langkah-langkah :
1. Periksa kelengkapan data dengan mengidentifikasi data yang hilang, validasi data untuk memastikan semua
variabel tercatat dengan benar.
2. Selanjutnya, kita harus melakukan deteksi dan penanganan outlier dengan cara mengidentifikasi nilai yang tidak
masuk akal (contoh: waktu tempuh, terlalu cepat atau terlalu lambat), pemeriksaan kesalahan pencatatan jarak,
dll.
3. Tahap terakhir adalah menyamakan satuan pengukuran, di mana kita perlu mengkonversi semua jarak ke satuan
yang sama (misalnya dalam satuan kilometer), menyeragamkan format waktu (misalnya dalam satuan menit), dan
menyeragamkan satuan kecepatan (misalnya dalam satuan kilometer per jam) dengan memberikan label
kecepatan valid atau tidak, serta mengevaluasi apakah outlier tersebut merupakan anomali nyata atau hanya
kesalahan data.
Page 32 Aktivitas 3 : Klasifikasi dan Pengelompokan
1. Kelompokan data berdasarkan rentang jarak (berikan label pendek untuk jarak kurang
dari 10 km, menengah untuk jarak 10-30 km, jauh lebih dari 30 km),
2. Kelompokan data berdasarkan waktu perjalanan (berikan label pagi, siang, sore, dan
malam),
3. Kelompokan data berdasarkan hari dalam seminggu ( (berikan label hari kerja, hari libur )
4. Kelompokan data berdasarkan jenis jalan (berikan label jalan raya, jalan tol )
5. Kelompokan data berdasarkan kondisi lalu lintas. (berikan label tinggi, sedang, rendah)
6. Membuat variabel turunan yang akan memperkaya analisis,
kecepatan rata-rata per segmen jalan,
kepadatan lalu lintas yang dapat dikategorikan dengan label rendah, sedang, atau
tinggi,
indek hambatan yang menunjukkan rasio antara waktu tempuh nyata dibandingkan
dengan waktu tempuh ideal.
Page 33 Abstraksi Data
Contoh jika jarak adalah 100 km dan kecepatan rata-rata 60 km/jam, maka:
Waktu Tempuh = 100 / 60
= 1.67 jam
Page 37 Aktivitas 5 : Penyusunan Instruksi
Langkah 4: Tambahkan waktu ekstra sebagai faktor eksternal
Mempertimbangkan faktor seperti kemacetan atau cuaca buruk. Misalnya, jika perjalanan diperkirakan melalui daerah yang
padat pada jam sibuk, tambah waktu tempuh sebesar 30 menit.
Contoh:
5.1. Perhitungan dengan Formula Dasar
Waktu Tempuh (jam) = Jarak (km) ÷ Kecepatan Rata-rata (km/jam)
Waktu Tempuh = 100 / 60 = 1.67 jam
https://www.programiz.com/python-
programming/online-compiler/
Page 43 Tugas : Jurnal Makanan Kesukaanku
Makanan Warna Jenis Dimakan (per
Nama
Kesukaan Makanan Makanan minggu)
Alat: Gambar bahan-bahan (roti, selai, pisang, apel, blender, gelas), kartu instruksi aksi (Ambil,
Oleskan, Potong, Masukkan, Tekan Tombol, Tuang).
Aktivitas: Satu siswa berperan sebagai "robot" yang hanya bisa melakukan persis apa yang
diperintahkan. Siswa lain (atau kelompok) berperan sebagai "programmer" yang menuliskan atau
menyusun kartu instruksi langkah demi langkah untuk membuat sandwich atau jus buah. Jika ada
langkah yang salah atau terlewat, "robot" tidak bisa menyelesaikannya, dan siswa harus "debug"
(mencari dan memperbaiki kesalahan) algoritmanya.
Manfaat: Melatih pemikiran logis, ketelitian, dan pentingnya urutan dalam menyelesaikan masalah.
Siswa memahami bahwa komputer membutuhkan instruksi yang sangat spesifik.
Page 46 Penerapan Pembelajaran Koding Metode unplugged
Page 47 Penerapan Pembelajaran Koding Metode unplugged
Sekuensing (Urutan)
Konsep: Sekuensing adalah kemampuan untuk
menempatkan peristiwa, objek, atau instruksi dalam
urutan yang benar. Ini sangat terkait dengan algoritma.
Topik : Rute Harta Karun/Maze
Alat: Peta sederhana (bisa digambar di lantai dengan lakban, di kertas besar, atau
menggunakan karpet kotak-kotak) dengan titik awal, titik akhir (harta karun), dan beberapa
rintangan. Kartu arah (maju, belok kiri, belok kanan).
Aktivitas: Siswa secara bergantian membuat "kode" (urutan kartu arah) untuk memandu teman
mereka (yang berperan sebagai "robot") dari titik awal ke harta karun, menghindari rintangan. Jika
robot menabrak rintangan, "kode" harus diperbaiki.
Alat: Kartu gambar gerakan tari sederhana (misal: tepuk tangan, melompat, putar badan).
Alat: Kartu warna merah, kuning, hijau. Gambar orang dan mobil.
Contoh-contoh penggunaan KA
dalam kehidupan sehari-hari ?
Page 53 Difinisi Kecerdasan Artifisial (KA)
https://studio.code.org/s/oceans
Page 56 Contoh Materi Pada KA
Kreasi konten mengunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial
(Manfaat Kreasi Konten dengan KA, Tahapan Kreasi Konten dengan KA,
Teknik Prompt Untuk Produksi Konten Kreatif)
Kolaborasi melalui perangkat/tools Kecerdasan Artifisial --Human to AI
Collaboration– (Desain Kreatif, Penelitian dan Analisis Data,
Penyuntingan Tulisan, Kolaborasi dalam Pemograman dan dalam bidang
khusus lainnya)
Mengenali unsur pembentuk Prompt untuk KA generatif (Fondasi, Teknik,
Implementasi, Karir dan Etika)
Pengoperasian dan pengaplikasian perangkat AI Kecerdasan Artifisial
Pada bidang Umum dan pada bidang tertentu/khusus.
Page 57 Contoh sistem dengan teknologi KA
Sistem
Masukan Keluaran
dengan Contoh Penggunaan
(Input) (Output)
Teknologi KA
https://quickdraw.withgoogle. Gim ini berisi dataset coretan gambar tangan skala besar yang dapat
com/. digunakan untuk melatih model KA.
https://remaker.ai/face-swap-
Aplikasi pengubah wajah.
free/
Teknik ini melibatkan sinkronisasi gerakan bibir, mulut, wajah, atau bahkan
https://www.vozo.ai/ tubuh subjek dalam foto atau video seseorang dengan suara orang lain atau
dengan trek audio tertentu.
https://detectfakes.kellogg.no
Deepfake mengidentifikasi mana yang palsu dan mana yang asli.
rthwestern.edu/
Prompt menyediakan Instruksi yang jelas Sebuah Prompt dapat pula Dengan memberikan elemen
konteks yang dan spesifik akan mencakup instruksi kreatif dalam prompt, seperti
diperlukan bagi model membantu model KA mengenai pemformatan metafora, analogi,
KA untuk memahami untuk memfokuskan (misalnya: daftar poin, esai atau skenario, model KA
naratif, atau dialog)
topik, gaya, dan output pada area dapat menghasilkan output
sehingga hasil yang
tujuan output yang tertentu atau yang tidak hanya akurat
dihasilkan
diharapkan. spesifik. secara teknis, tetapi juga
oleh model KA bisa sesuai
memiliki nilai estetika.
dengan struktur format
yang diinginkan.
Page 65 Contoh Penerapan Prompt
“Tuliskan sebuah artikel sepanjang 1000 kata mengenai dampak teknologi
digital terhadap transformasi pendidikan, dengan mengedepankan studi kasus di
Indonesia dan rekomendasi untuk kebijakan pemerintah.“
Ayoo Tonton
Page 74 Etika dalam Penggunaan KA Generatif
Etika Keterangan
Transparansi dalam penggunaan KA berarti bahwa
pengguna harus mengetahui cara kerja sistem, bagaimana
Transparansi dan data digunakan, dan bagaimana hasilnya dihasilkan.
Keadilan Keadilan dalam KA berarti bahwa teknologi ini harus
digunakan secara setara, tanpa memihak atau merugikan
kelompok tertentu.
Teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari hiburan dan seni
hingga penipuan dan disinformasi. Misalnya, deepfake dapat digunakan untuk
membuat film dimana aktor yang sudah meninggal "hidup kembali" atau untuk
membuat parodi yang lucu.
Deepfake juga memiliki potensi untuk digunakan dalam pembuatan berita palsu yang
tampak realistis, pemerasan, atau bahkan sabotase politik.
Page 78 Teknik dalam Deepfake
Face Swapping
Teknik ini melibatkan pertukaran wajah antara dua individu dalam sebuah gambar
atau video. Teknologi ini sering digunakan dalam aplikasi hiburan seperti aplikasi
pengubah wajah. Aplikasi yang di gunakan https://remaker.ai/face-swap-free/
Lip Syncing
Mengunjungi laman https://www.vozo.ai/ dengan cara menyiapkan sebuah gambar
atau video. Selanjutnya membuat teks kalimat yang akan digunakan sebagai bahan
subjek berbicara.
Puppet Master
Teknik ini melibatkan penggunaan wajah seseorang untuk mengontrol ekspresi dan
gerakan wajah orang lain dalam video. Dalam teknik ini, gerakan wajah seseorang
diambil dan diterapkan pada wajah orang lain.
Page 79 Teknik dalam Deepfake
Voice Cloning
Selain manipulasi video, teknologi deepfake juga dapat digunakan
untuk meniru suara seseorang. Dengan menggunakan data suara
dari individu, model deep learning dapat menghasilkan rekaman
audio yang terdengar sangat mirip dengan suara asli individu
tersebut.
Akses Materi
https://bit.ly/MATERI-KKA-SMP
Terima kasih atas
Perhatiannya